Wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

WASIAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih waktu yang sangat tepat untuk berkhutbah setelah shalat Zhuhur, yaitu setelah para Sahabat cukup istirahat. Dr. Utsman Al-Khamis dalam ceramahnya berkata bahwa kebiasaan para musafir di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berangkat setelah Ashar dan berhenti saat Shubuh, diselingi istirahat sebentar untuk shalat Maghrib dan Isya.

Para Sahabat istirahat sebelum Zhuhur sehingga setelah Zhuhur sudah dalam keadaan segar dan siap mendengarkan khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai khutbahnya dengan menyebut bahwa telah dekat ajal beliau, mengisyaratkan bahwa khutbahnya merupakan khutbah perpisahan dan isinya penting untuk diketahui, sehingga para Sahabat sangat perhatian dan ingin tahu apa wasiat yang akan beliau sampaikan.

Berikut ini khutbah dan wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ghadir Khum yang dikisahkan oleh Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu:

أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ، أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ، وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى.

“Amma ba’du, ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku adalah manusia, sudah dekat masanya utusan Tuhanku (malaikat maut) akan datang (menjemputku) dan aku akan menerimanya. Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang sangat berharga, yang pertama adalah kitabullah (Al-Quran), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, ambillah (isi) kitabullah dan pegang teguhlah. Yang kedua, aku tinggalkan kepada kalian Ahlu Baitku. Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku!”[1]

Setelah selesai khutbah singkat, beliau bertanya, “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukminin melebihi diri mereka sendiri?” Pertanyaan yang membuat para Sahabat lebih memperhatikan beliau lagidan penasaran untuk mendengar apa yang akan disampaikan setelah itu. Lalu beliau menghampiri Ali, mengangkatnya untuk berdiri bersama dan menggandeng tangannya lalu bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيّ مَوْلَاهُ، اللَّهُمّ وَالِ مَن وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka jadikan Ali juga sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintai Ali. Ya Allah musuhilah orang yang memusuhi Ali.”[2]

Ketika Ali menjabat sebagai khalifah, ia pernah mengumpulkan manusia di Rahbah (nama tempat di Iraq), kemudian berkata kepada mereka, “Aku bersumpah dengan nama Allah, setiap muslim yang mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di Ghadir Khum hendaklah berdiri!” Maka berdirilah tiga puluh orang, mereka menjadi saksi ketika beliau memegang tangan Ali lalu beliau bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَامَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَال مَنْ وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Barangsiapa menjadikanku sebagai walinya maka jadikanlah Ali sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah siapapun yang melindungi Ali, dan musuhilah siapapun yang memusuhi Ali.”

Abu Thufail yang hadir saat itu bertutur, “Aku pergi meningalkan forum dengan ganjalan di hati, lalu aku berjumpa Zaid bin Arqam dan kuceritakan apa yang terjadi, “Aku mendengar Ali berkata demikian dan demikian!” Zaid menanggapi, “Jangan kamu ingkari. Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memang berkata begitu kepada Ali.”[3]

Pada kesempatan lain di Kufah, Ali bin Abi Thalib berkata di atas mimbar, “Demi Allah, saya meminta seseorang bersaksi, dan yang saya minta bersaksi hanyalah para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa di antara kalian yang mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari Ghadir Khum,

اللَّهُمَّ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Ya Allah, siapa yang telah menjadikanku walinya maka Ali juga menjadi walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang memusuhi Ali.”

Maka bangkitlah enam orang dari samping mimbar dan bangkit pula enam orang dari samping lainnya, mereka menjadi saksi bahwa mereka mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang demikian.”[4]

Bagaimana perasaan gembira Ali bin Abi Thalib setelah sebelumnya sebagian para Sahabat kesal dan marah kepada beliau. Pernyataan tegas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan ungkapan kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam persahabatan beliau dengan Ali. Ali masuk Islam sejak awal dakwah dan berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh pengorbanan dan loyalitas. Pujian beliau kepada Ali benar-benar mencairkan suasana dan melembutkan hati para Sahabat, sehingga hilanglah perasaan benci dari sebagian Sahabat yang sebelumnya kesal kepada Ali, dan tumbuh perasaan cinta yang mendalam kepada Ali lantaran kecintaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari Buku WASIAT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI GHADIR KHUM, Penulis Fariq Gasim Anuz]
______
Footnote
[1] HR. Muslim No. 2408.
[2] HR. Ahmad No. 18479.Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/330).
[3] HR. Ahmad No. 19302 dan Ibnu Hibban No. 6931. Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/331).
[4] HR. An-Nasai No. 8419. Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/337-340).