Membaca Al-Qur’an

SYIAR-SYIAR TAABBUDIYYAH PADA BULAN RAMADHAN DAN PENGARUHNYA

Pembahasan 5
MEMBACA AL-QUR-AN
Sangat ditekankan kepada setiap muslim untuk memperbanyak bacaan al-Qur-an pada bulan Ramadhan dalam rangka mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Jibril melakukan pengajaran kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan pada setiap tahunnya. Selain itu, karena Ramadhan merupakan bulan al-Qur-an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

 “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an.” [Al-Baqarah/2: 185]

Allah جل وعلا telah menjamin bagi orang yang membaca al-Qur-an sekaligus mengamalkan kandungannya, bahwa dia tidak akan disesatkan di dunia dan tidak disengsarakan di akhirat.

Dia berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” [Thaahaa/20: 123]

Sebagaimana Dia juga telah menjanjikan bagi orang yang menolak membaca dan mencermati serta mengamalkannya melalui firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

 “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa/20: 124]

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim di setiap saat, khususnya pada bulan Ramadhan, untuk memperbanyak bacaan al-Qur-an, mencermati apa yang dikandungnya, mempelajari makna-maknanya serta mengamalkannya. Hal itu dilakukan agar memperoleh apa yang dijanjikan oleh Allah kepada ahli al-Qur-an, yaitu berupa karunia yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi, serta kenikmatan yang abadi. Benarlah apa yang telah disabdakan oleh Nabi al-Mushthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur-an dan mengajarkannya…”[1]

Diturunkannya al-Qur-an pada bulan Ramadhan memberikan inspirasi agar kaum muslimin memberikan perhatian yang besar terhadapnya pada bulan tersebut, melakukan pengkajian terhadap al-Qur-an di antara mereka serta mengadakan halaqah-halaqah untuknya di masjid-masjid, di mana sebagian mereka menjelaskan kepada sebagian lainnya. Betapa bagusnya orang berpuasa, yang menghabiskan waktunya di masjid untuk membaca Kitabullah, menghafal, sekaligus mempelajari makna dan hukum-hukumnya, serta menanyakan hal-hal yang tidak dia mengerti. Dia duduk bersama orang-orang shalih dan para ulama untuk mempelajari ilmu dan adab. Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ﴿٢٩﴾ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitabullah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Al-Faathir/35: 29-30][2]

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”,  Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
_______
Footnote
[1]Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (VI/236))
[2] Lihat mengenai syi’ar-syi’ar taabbudiyyah pada bulan Ramadhan dalam kitab Badaa-i’ush Shanaa-i (hal. 108), al-Mabsuuth (II/114), Bidaayatul Mujtahid (I/302), Hilyatul ‘Ulamaa (III/216), Nihaayatul Muhtaaj (III/213), al-Mubdi (III/63), as-Sailul Jaraar (II/134).