I’tikaf Pada Sepuluh Hari Terakhir Dari Bulan Ramadhan

SYI’AR-SYI’AR TA’ABBUDIYYAH PADA BULAN RAMADHAN DAN PENGARUHNYA

Pembahasan 3
ITIKAF PADA SEPULUH HARI TERAKHIR DARI BULAN RAMADHAN
Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan memiliki berbagai keutamaan besar dan keistimewaan yang sangat banyak, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sepuluh hari itu menggiatkan ketaatan, suatu hal yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada hari-hari lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan ikatan kainnya untuk membangunkan keluarganya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada hari-hari tersebut.

Hal itu telah ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat (dalam beribadah) pada sepuluh hari terakhir ini yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.” [1]

Juga hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anha:

كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir, maka beliau mengencangkan ikatan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya…”[2]

Hadits lainnya yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau (tetap) beri’tikaf sepeninggal beliau…[3]

I’tikaf berarti tetap tinggal di dalam masjid untuk berkonsen-trasi dalam beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“… Dan janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian ber-i’tikaf di dalam masjid…” [Al-Baqarah/2: 187]

Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah serta melepaskan diri dari kesibukan hidup. Oleh karena itu, disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah, membaca al-Qur-an, shalat, serta mendalami ilmu. Tidak ada masalah dengan kunjungan keluarganya dan memperbincangkan hal-hal yang mengandung berbagai kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Diharamkan bagi orang yang beri’tikaf untuk melakukan hubungan badan dan hal-hal yang mengarah kepadanya, baik itu berupa ciuman, ataupun sentuhan dengan syahwat. Hal itu sesuai dengan ayat di atas. Tidak dibolehkan pula baginya untuk keluar dari masjid, kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak sekali, seperti wudhu’, mandi, makan dan minum. Jika di dalam masjid terdapat tempat wudhu’ dan mandi serta ada orang yang mengantarkan kepadanya makanan dan minuman, maka tidak dibolehkan baginya keluar dari masjid.

Tidak boleh keluar masjid untuk melakukan suatu ibadah yang tidak wajib baginya, misalnya mengantar jenazah, menjenguk orang sakit, dan lain-lain, kecuali jika hal itu memang dia syaratkan sebelum i’tikaf.

Adapun keluar masjid untuk keperluan selain itu, seperti jual beli dan duduk-duduk bersama keluarga adalah diharamkan (dapat membatalkan i’tikaf), baik hal itu disyaratkan maupun tidak.

Dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf untuk mendirikan kemah (tempat khusus) di dalam masjid, jika di dalam masjid itu tidak terdapat bilik khusus. Sebagaimana dibolehkan baginya membawa tempat tidur dan pakaian serta berbagai hal yang dia butuhkan. Sebagaimana dia juga boleh beri’tikaf bersama keluarga-nya di dalam masjid. Bahkan, dibolehkan bagi seorang wanita untuk beri’tikaf seorang diri dengan syarat aman dari fitnah dan mengandung maslahat yang banyak. Namun, saya kira hal itu belum bisa terwujud pada zaman sekarang ini, kecuali yang dike-hendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, dan sete-lah itu isteri-isteri beliau pun beri’tikaf sepeninggal beliau…”[4]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “…Kebaikan dan keteguhan hati tertambat pada jalan menuju agama Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan bergantung kepada penyatuan kepada ajaran Allah serta pengarahannya secara keseluruhan kepada-Nya… Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, menceburkan diri dalam dosa, serta ucapan yang sia-sia termasuk dari hal-hal yang dapat memotong perjalanannya menuju agama Allah serta melemahkannya, atau bahkan menghentikannya. Maka rahmat Allah Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya menuntut disyari’atkannya puasa bagi mereka yang dapat menghilangkan pengaruh buruk dari makanan dan minuman… Dan disyari’atkan bagi mereka i’tikaf yang maksudnya adalah untuk mengkonsentrasikan hati serta memisahkan diri dari manusia…”[5]

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”,  Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim. (Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (VIII/70))
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/ 41) dan Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (VIII/70))
[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/42))
[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/42))
[5] Zaadul Maaad (II/86-87).