Salafiyah Dan Solidaritas Muslim

SALAFIYAH DAN SOLIDARITAS MUSLIM

Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi

Loyalitas, persaudaraan dan solidaritas muslim harus dilandasi dan ditegakkan di atas aqidah dan manhaj yang shahih; sehingga loyalitas dan solidaritas tersebut tidak menyimpang. Persaudaraan tidak mungkin terjadi, kecuali berlandaskan iman. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara; karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. [Al Hujurat:10].

Ayat yang mulia ini menjelaskan, betapa Allah menjadikan iman sebagai perekat persaudaraan. Iman tidak dapat tegak di dalam aqidah yang rusak. Sehingga hal ini menuntut adanya perbaikan aqidah setiap muslim, agar menjadi mukmin yang penuh persaudaraan. Dan hal ini dapat terwujud, dengan kembali kepada agama yang telah dibersihkan dari ajaran asing, dan mentarbiyah jiwa muslim berlandaskan agama yang suci dan mulia ini. Yaitu Islam. Lalu bagaimanakah mewujudkannya?

DAKWAH SALAFIYAH DALAM MEMPERBAIKI MASYARAKAT
Memperbaiki masyarakat muslim dari penyimpangan dan kerusakan beragama, merupakan wujud solidaritas muslim yang terbesar dan terpenting. Ini merupakan loyalitas (wala’) yang mestinya diberikan kepada sesama muslim. Semua usaha memperbaiki masyarakat ini, dikategorikan sebagai solidaritas muslim.

Adapun dakwah Salafiyah, juga mewujudkan solidaritas kepada kaum muslimin dengan upaya memperbaiki masyarakat dengan cara bertahap, dimulai dengan yang paling penting dan mendesak, kemudian yang setelahnya; sehingga dapat membentuk masyarakat yang baik dan terjauh dari penyimpangan agama. Dakwah Salafiyah memulai dengan mengajak kepada perbaikan aqidah, mengajak bertauhid dan melarang kesyirikan. Kemudian mengajak untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauhi segala larangan.[1]

Demikianlah salah satu ketentuan manhaj Salaf dalam berdakwah. Yaitu dengan mencontoh dakwah para rasul, mengajak menusia memperbaiki aqidah mereka. Bahkan dakwah kepada tauhid merupakan asas dan inti dakwah para rasul. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu,” maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). [An Nahl:36]

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tugas para rasul, asas dakwah dan inti risalah kerasulan mereka, yaitu berdakwah kepada tauhid, mengikhlaskan ibadah semata untuk Allah serta menjauhi sesembahan selain Allah [2]. Demikian juga firman Allah:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [Al Anbiya:25].

Begitulah dakwah para rasul. Mereka berjalan di atas satu pijakan, yaitu tauhid yang menjadi bagian terbesar yang mereka sampaikan kepada seluruh manusia di setiap tempat dan zaman. Oleh karena itu, setiap da’i wajib mengetahui, mendakwahkan dan mengajarkan asas pijakan dakwah para rasul ini; karena amalan manusia tidak akan diterima, kecuali dengannya.

Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Sungguh, seluruh dakwah yang tidak ditegakkan di atas asas ini (tauhid), dan manhajnya tidak tegak di atas manhaj para rasul, maka akan menuai kerugian dan kehancuran serta lelah tanpa faidah. (Sebagai) bukti nyatanya, yaitu para jama’ah dakwah (pergerakan) sekarang ini, yang mengambil manhaj dakwahnya berbeda dengan manhaj dakwah para rasul. Mereka semua -kecuali sedikit- melalaikan sisi aqidah dan mengajak kepada perkara sampingan. Ada jama’ah yang berdakwah mengajak perbaikan hokum dan politik, serta menuntut penegakkan hudud (hukum Islam dalam masalah pidana) dan penerapan syari’at dalam menghukum manusia. Ini memang perkara penting, namun bukan yang terpenting. Sebab, bagaimana (mungkin) menuntut penerapan hukum Allah terhadap pencuri dan pezina sebelum menuntut penerapan hukum Allah terhadap orang musyrik? Bagaimana menuntut penerapan hukum Allah pada dua orang yang bertengkar karena kambing dan onta, sebelum menuntut penerapan hukum Allah pada para penyembah berhala dan kubur, dan orang yang menyimpang dalam masalah nama dan sifat Allah dengan menghapus penunjukkan maknanya dan menyimpangkannya?” [3]

Syaikh Dr Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata: “Kita wajib meyakini, seandainya disana ada manhaj yang lebih utama dan baik dari manhaj ini, tentulah Allah akan memilihkan dan mendahulukannya untuk para rasulNya. Lalu apakah pantas seorang mukmin membencinya dan memilih selainnya sebagai manhaj, serta melecehkan manhaj Rabbani ini dan para da’inya?’ [4]

Dewasa ini bermunculan opini maupun tuduhan, bahwa dakwah Salafiyah adalah dakwah yang jumud, parsial, tidak memiliki solidaritas terhadap kaum muslimin. Dakwahnya, hanya dakwah tauhid saja, tidak ada yang lainnya. Penilaian miring ini, nampaknya disebabkan ketidaktahuan terhadap hakikat dakwah Salafiyah yang menyeluruh di setiap aspek kehidupan. Atau disebabkan fanatisme buta terhadap golongan (pergerakan dakwah) yang menyelisihi manhaj Salaf, yang saat ini berkembang. Padahal dakwah Salafiyah merupakan dakwah Islam bersifat menyeluruh, meliputi setiap aspek kehidupan. Dakwah Salaf ini datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju tauhid, dari kerancuan dan bid’ah menuju kesatuan sunnah dan aqidah, serta dari adzab kemaksiatan kepada kelezatan dan cahaya ketaatan.[5]

Dakwah Salafiyah berjalan mengikuti dakwah para salafush shalih. Yakni tiga generasi terbaik umat ini. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Dakwah inilah yang telah menjadikan mereka sebagai generasi terbaik, dan teladan bagi generasi sesudahnya. Hanya berpegang dengan dakwah inilah, kaum muslimin dapat mengembalikan kemuliaan dan kejayaan yang telah lama hilang.

Konsep kebenaran dalam dakwah, tidaklah berdasarkan pemikiran dan hawa nafsu. Namun, ia harus sesuai dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketaatan yang paling penting dan utama dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah adalah tauhid. Adapun dosa dan kemungkaran yang paling besar dan berbahaya adalah syirik.

Seorang da’i yang berdakwah secara bertahap dari yang terpenting, kemudian yang setelahnya, tentu mengerti apa yang dianggap terpenting dalam Al Qur’an dan Sunnah. Konsep dakwah secara bertahap ini, bukan berarti tidak perduli dengan kejadian atau kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Tetapi, dengan tetap menjalankan konsep bertahap ini (tadarruj), iapun memperhatikan perkembangan kemaksiatan dan kemungkaran yang terjadi di masyarakatnya, dan mendakwahi mereka untuk meninggalkannya. Inilah yang disampaikan Rasulullah dalam sabdanya:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman. [6]

Demikianlah Rasulullah l diutus untuk memperbaiki alam semesta dan mewujudkan kemaslahatan para hamba Allah, dengan mengajak kepada kebajikan dan melarang dari kemungkaran. Dijelaskan dalam sabda Beliau :

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى مَا يَعْلَمُهُ خَيْرًا لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ مَا يَعْلَمُهُ شَرًّا لَهُمْ

Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui. [7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Perintah yang dibebankan kepada RasulNya adalah amar ma’ruf (mengajak kepada kebajikan). Dan larangan yang diemban Beliau adalah nahi ‘anil munkar (larangan dari kemungkaran)”. [8]

Dengan demikian, dakwah Salafiyah mengajak manusia kepada ajaran agama secara menyeluruh, tidak parsial, dan tidak sebagaimana tuduhan sebagian kalangan. Sebab, adanya syari’at adalah untuk mewujudkan dan menyempurnakan kemaslahatan dan kemanfaatan. Dan (juga) untuk menghapus atau memperkecil kerusakan dan kemudharatan.

Oleh karena itu, seorang da’i dalam berdakwah adalah mewujudkan kemaslahatan dan –sedapat mungkin (mampu) menghilangkan kerusakan. Sehingga ia memulai dengan yang besar dan mendasar, baru kemudian yang setelahnya. Dan jika di tengah masyarakat berkembang kemungkaran dan perkara yang menyelisihi agama, maka ia harus menjelaskan kebenaran dalam perkara tersebut, serta mengajak masyarakat untuk meninggalkan dan menjauhi kemungkaran tersebut.

Atas dasar ini, maka manhaj Salaf sangat memperhatikan perbaikan masyarakat dan memperbaiki perkara-perkara yang menyelisihi syari’at, dengan menyebarkan kebaikan dan menghilangkan kerusakan yang ada. Bila saat ini, dakwah Salaf banyak menjelaskan kesalahan yang dilakukan para da’i dan pergerakan yang ada, maka tidak lain ialah untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat. Agar kaum Muslimin terhindar dari kerusakan dan kemungkaran agama. Yang demikian ini tidak bisa difahami sebagai hujatan kepada sesama muslim. Hendaklah suatu nasihat jangan diahami sebagai olok-olok dan cemooh; karena begitulah salah satu bentuk solidarits terhadap sesama kaum muslimin.

Syaikh Fawaz As Suhaimi, penulis kitab Usus Manhaj Salaf Fi Dakwah Ilallah berkata: “Jika manhaj Salaf memberikan perhatian terbesar dalam masalah tauhid dan dakwah kepadanya, bukan berarti manhaj Salaf tidak mau mengerti yang terjadi di masyarakat muslim, (yaitu) berupa perkara-perkara mungkar. Dengan dakwah tauhid, bukanlah berarti tidak berdakwah kepada tuntutan dan syarat-syaratnya. Yang benar, dakwah kepada tauhid adalah dakwah yang menyeluruh untuk mewujudkan kalimat lailaha illallah dalam semua aspek yang terdapat di masyarakat muslimin; seluruhnya sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.[9]

Dengan penjelasan ini, nampaklah tudingan miring terhadap dakwah Salaf tersebut hanyalah isapan jempol dari orang yang tidak faham terhadap hakikat dakwah Salafiyah. Semua ini akan semakin jelas, bila mengenal keistimewaan manhaj Salaf dalam berdakwah.

KEISTIMEWAAN MANHAJ SALAF DALAM BERDAKWAH [10]
Manhaj Salaf dalam berdakwah kepada Allah memiliki banyak keistimewaan. Secara ringkas memiliki tiga keistimewaan sebagai berikut:

Pertama : Bersumber Dari Syari’at.
Diantara keistimewaan manhaj dakwah Salafiyah, adalah karena berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan sumber petunjuk dan keselamatan bagi manusia. Keistimewaan inilah yang telah dijelaskan Al Qur’an dan diserukan para salafush shalih. Ia menjadi sebab kejayaan dan kemenangan, serta bersatunya kaum muslimin.

Kedua : Mewujudkan Kemaslahatan Agama Dan Dunia.
Berdakwah dengan manhaj Salaf akan mewujudkan kemaslahatan yang besar dalam agama dan dunia; baik untuk para da’inya ataupun mad’unya, karena dijalankan di atas syari’at yang akan memberikan rasa aman, jaminan, ketenteraman dan kedamaian. Syari’at Allah diperuntukkan demi kebaikan umat dalam masalah agama dan dunianya. Rasulullah telah menjelaskan dalam sabdanya:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى مَا يَعْلَمُهُ خَيْرًا لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ مَا يَعْلَمُهُ شَرًّا لَهُمْ

Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui. [11]

Ibnul Qayyim berkata,”Syari’at dibangun dan ditegakkan di atas hikmah dan maslahat hamba di dunia dan akhirat. Seluruh syari’at adalah adil, rahmat dan maslahat.[12]” Oleh karenanya, dakwah Salafiyah memiliki cirri-ciri berikut:

1. Keteguhan dan kesempurnaan dalam pemahaman, akal, dan kejelasan tujuan maupun cara mencapainya. Allah berfirman:

مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ

Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al Kitab, [Al An’am :38).

2. Petunjuk kepada yang paling baik dan lurus bagi agama dan dunia. Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, [Al Isra:9].

3. Kebaikan dunia di setiap zaman dan tempat, sebagaimana firman Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. [Al Maidah:3].

4. Komitmen dengan fithrah dan jauh dari hawa nafsu yang merusak, sebagaimana firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Ar Rum:30].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa syari’at, dengan segala masalah dakwah yang terkandung di dalamnya memberikan maslahat dan menghilangkan kerusakan. Beliau t berkata,”Bahkan cukuplah seorang mukmin itu mengetahui, bahwa seluruh perintah Allah adalah untuk kemaslahatan semata, atau kemaslahatan yang lebih besar. Sedangkan seluruh larangan Allah adalah mafsadah (kerusakan) semata, atau kerusakan yang lebih besar.”[13]

5. Mudah, jauh dari sifat memberatkan, sebagaimana firman Allah:

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [Al Baqarah:185].

Ketiga : Manhaj Salaf Senantiasa Dimenangkan Allah Sampai Hari Kiamat.
Diantara keistemewaan terbesar dakwah Salafiyah, yaitu karena akan senantiasa dimenangkan Allah sampai hari kiamat. Allah menjadikan manhaj NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup sekalian agama. Sehingga agama selain Islam, tidak akan diterima. Demikian juga Allah menjadikannya sebagai agama untuk seluruh penduduk bumi. Jika agama ini untuk seluruh penduduk bumi, tentunya manhaj yang menjadi bagian dari agama ini, dari generasi demi generasi sampai hari kiamat nanti akan kekal.

Tak dipungkiri, terjadinya pasang surut telah menyebabkan dakwah ini menjadi asing di kebanyakan tempat dan daerah. Terlebih lagi ketika bid’ah, khurafat dan penyimpangan telah menguasai bumi ini. Namun Allah tetap akan membangkitkan orang yang memperbaharui (tajdid) agama ini, guna membongkar habis penyimpangan dan kebobrokan, serta tipu daya musuh Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وتَأْويْلَ الْجَاهِلِيْنَ

Membawa ilmu ini dari setiap generasi orang-orang adilnya yang menghilangkan darinya penyimpangan orang yang sesat dan ajaran orang yang merusak (agama), serta ta’wilnya orang-orang bodoh.

Allah berfirman, yang artinya: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. [Ash Shaffat:171-173].

Juga firmanNya, yang artinya: Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasulKu pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [Al Mujadilah:21]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَال مِنَْ أُمَّتِيْ أُمَّةٌ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Senantiasa akan ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah; tidak merugikannya orang yang menghina dan menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat, dan mereka berada dalam keadaan demikian.[14]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kemenangan dan kejayaan itu akan diraih, sebagaimana firmanNya, yang artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. [An Nur:55].

Ayat yang mulia ini menjelaskan sebab kemenangan dapat diraih, yaitu dengan beribadah kepada Allah, mentauhidkanNya, berjalan di atas manhaj tauhid dan kenabian, menjauhi hawa nafsu dan bid’ah. Bersihnya tauhid dari noda syirik, bid’ah dan hawa nafsu syahwat inilah yang menjadi sebab kemenangan dan kejayaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz berkata,”Ketika para salafush shalih dan generasi awal umat ini berjalan di atas ketentuan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, maka Allah memuliakan, mengangkat nama mereka, dan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi ini, sebagai wujud dari janji Allah kepada mereka.” [15]

Oleh karena itu, marilah wujudkan solidaritas kita kepada kaum muslimin. Yaitu dengan mengamalkan kandungan ayat ini. Mengajak saudara-saudara kita untuk mewujudkan sebab-sebab yang dapat mengantarkan meraih kemenangan. Ingatlah, Allah tidak pernah menyelisihi janjiNya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat muqaddimah Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, dalam kitab Manhajul Anbiya’ Fid Da’wah Ilallah Fihil Hikmah Wal ‘Aql, hlm. 7.
[2]. Usus Manhaj As Salaf Fid Dakwah Ilallah, karya Fawaz bin Hulaiyil bin Rabah As Suhaimi, Cetakan pertama, Tahun 1423 H, Dar Ibnu Affan, Mesir dan Dar Ibnu Al Qayyim, Damam, KSA, hlm. 85.
[3]. Muqaddimah Manhajul Anbiya’, Op.Cit. hlm. 9.
[4]. Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, Manhajul Anbiya Fid Dakwah Ilallah Fihil Hikmatu Wal Aqlu, Cetakan kedua, Tahun 1414 H, Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah, Madinah, KSA, hlm. 43.
[5]. Lihat Usus Manhaj As Salaf, Op. Cit. hlm. 98.
[6]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, no. 49.
[7]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Imarah, Bab Wujub Al Wafa Bi Baiat Al Khalifah Al Awwal Fal Awal, no. 1.844.
[8]. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (28/65).
[9]. Hlm. 100.
[10]. Pembahasan ini kami ringkas dari kitab Usus Manhaj As Salaf Fid Dakwah Ilallah, Op. Cit. hlm. 171-179.
[11]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Imarah, Bab Wujub Al Wafa Bi Baiat Al Khalifah Al Awwal Fal Awal, no. 1.844.
[12]. Ibnul Qayyim, I’lam Al Muwaqqi’in (3/3).
[13]. Majmu’ Fatawa (27/91).
[14]. Mutafaqun’alaihi, dan hadits ini dari Muawiyah memiliki delapan jalan periwayatan yang telah ditakhrij dalam Allaaali al mantsurah bi Aushaafith Thoifatil Manshurah (1).
[15]. Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, Edisi 23/9.

Muslim Itu Bersaudara