Kaum Muslimin Mencintai Shahabat Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam

KAUM MUSLIMIN MENCINTAI SHAHABAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM[1]

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allâh dan keridhaan-Nya …. [al-Fath/48:29]

Penjelasan ayat:
Ayat yang mulia ini memuat keterangan tentang keutamaan para Sahabat Rasûlullâh dan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi mereka yang terdapat dalam kitab Taurat dan Injîl. Allah menyebut mereka sebagai orang yang tekun beribadah dan shalat saat berhubungan dengan Allâh Azza wa Jalla dan bersikap lemah-lembuh dan saling mengasihi di antara mereka serta bersikap tegas dan teguh di hadapan kaum kafir. Apa yang melekat pada mereka berupa ketekunan beribadah, sifat saling menyayangi antara sesama Sahabat dan bersikap keras terhadap kaum kafir, itu mereka lakukan dalam rangka mengharap keridhaan dari Allâh Azza wa Jalla . Sementara sifat keras dan ketegasan Sahabat dalam memerangi kaum kafir merupakan hal yang menjengkelkan hati kaum kafir. Dan Allâh Azza wa Jalla menjanjikan bagi mereka ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan pahala besar yang membiaskan ketinggian dan keluhuran derajat mereka.

Kondisi saling menyayangi antara sesama dan ketegasan terhadap kaum kafir yang dipraktekkan para Sahabat seperti kandungan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allâh akan mendatangkan suatu kaum yang Allâh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allâh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui [al-Mâidah/5: 54]

Syaikh kami, Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi rahimahullah berbicara tentang ayat di surat al-Mâidah tersebut dengan mengatakan, “Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Azza wa Jalla  mengabarkan kepada kaum Mukminin bahwa bila sebagian mereka murtad (keluar dari agama), Allâh Azza wa Jalla akan menggantikan orang-orang yang murtad itu dengan satu kaum yang diantara sifat mereka ialah berkasih sayang, rendah hati dan lembut kepada kaum Mukminin dan bersikap keras dan tegas terhadap kaum kafir. Ini termasuk kesempurnaan sifat kaum Mukminin. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya untuk bersikap lembut kepada kaum Mukminin dalam firman-Nya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman [asy-Syuârâ/26:215]

Dan memerintahkan beliau untuk bersikap keras terhadap selain mereka (kaum kafir) dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya [at-Taubah/9:73]

Allâh Azza wa Jalla menyanjung Nabi-Nya yang memiliki sifat lembut kepada kaum Mukminin dalam firman-Nya

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ 

Maka disebabkan rahmat dari Allâh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu [Ali ‘Imrân/3:159]

Allâh Azza wa Jalla juga menegaskan bahwa sifat lembut dengan kaum Mukminin dan keras terhadap kaum kafir merupakan karakter Nabi dan para Sahabat, seperti yang tercantum dalam firman Allâh yang artinya Muhammad itu adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka [al-Fath/48: 29][2]

Perintah Allâh Azza wa Jalla kepada Nabi-Nya untuk bersikap lembut kepada kaum Mukminin dan keras kepada kaum kafir dalam ayat-ayat ini sekaligus juga merupakan perintah bagi umat beliau. Sebab hukum asal seluruh perintah terarahkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya, kecuali ada dalil yang mengkhususkan peruntukan suatu perintah pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Sementara Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kaum Mukminin untuk memerangi kaum kafir dan bersikap keras kepada mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa [at-Taubah/9:123]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud

Kata  سِيمَا (sîmâ) mengandung pengertian perilaku baik. Juga ditafsirkan dengan kekhusyuan dan tawadhu. Ibnu Katsîr rahimahullah meriwayatkan penafsiran pertama dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dan penafsiran kedua dari Mujâhid dan lainnya. Kemudian beliau mengutip satu riwayat dari Ibnu Abi Hâtim rahimahullah dengan sanad shahîh dari Manshûr rahimahullah dari Mujâhid rahimahullah, ia berkata, “(Maksudnya) yaitu khusyu”. Manshûr rahimahullah berkomentar, “Sebelumnya aku menyangka (makna ayat tersebut adalah) bekas hitam yang ada di wajah”. Mujâhid menampik dengan berkata, “Kalau (bekas hitam) itu bisa saja terdapat di antara dua mata orang yang hatinya lebih keras dari Fir’aun”.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah juga mengutip pendapat as-Suddi rahimahullah yang berkata, “(Itu maksudnya) shalat memperindah wajah mereka. Sebagian Ulama Salaf berkata: “Sesungguhnya kebaikan itu membekaskan cahaya pada hati, wajah menjadi berseri-seri dan keluasan pada rejeki dan kecintaan orang”. Amirul Mukminin Utsmân Radhiyallahu anhu berkata, “Barang siapa menyembunyikan suatu rahasia maka Allâh akan menampakkannya pada raut wajah dan ucapan lidahnya”.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah meneruskan bahwa para Sahabat niat-niat mereka bersih, amal-amal mereka baik, maka setiap orang yang menyaksikan mereka akan takjub terhadap perilaku dan kepribadian mereka. Imam Mâlik rahimahullah berkata, ” Sampai padaku berita bahwa kaum Nasrani -bila mereka menyaksikan para Sahabat yang menaklukkan wilayah Syam- mereka berkata, “Demi Allâh mereka itu betul-betul lebih baik dari kaum Hawâriyûn berdasarkan berita yang kami dengarkan (tentang kaum Hawâriyûn). Mereka berkata tepat.  Sesungguhnya umat ini diagungkan dalam kitab-kitab terdahulu. Generasi yang terbaik dan paling agung umat ini adalah Sahabat Rasûlullâh. Allâh Azza wa Jalla telah mengisyaratkan penyebutkan mereka dalam kitab-kitab yang diturunkan dan berita-berita yang beredar. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla di sini berfirman:

ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ 

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ

dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya

يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)

Demikian juga para Sahabat. Mereka membela Nabi dan mendukung beliau serta menolong beliau. Jadi mereka bak tunas yang menguatkan tanaman”. [3]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)

Ayat ini akan sangat keras terhadap Syiah, kaum yang membenci para Sahabat g dan mencela dan antipati terhadap mereka, terutama kebencian mereka terhadap Khalifah Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsmân g .  Ibnu Katsîr t berkata, “Melalui ayat ini, ada riwayat dari Imam Mâlik  bahwa beliau memetik kesimpulan berupa takfîr (vonis pengkafiran) terhadap kaum Syiah yang membenci Sahabat Radhiyallahu anhum. Sebab para Sahabat g  membuat mereka jengkel. Barang siapa merasa jengkel terhadap Sahabat Radhiyallahu anhum, maka ia menjadi kafir berdasarkan ayat ini. Sejumlah Ulama sejalan dengan pendapat beliau tersebut. Hadits-hadits tentang keutamaan Sahabat dan larangan bicara buruk tentang mereka sangat banyak. Sanjungan dan ridha Allâh sudah cukup bagi mereka”. [4]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Abu Urwah az-Zubairi dari putra az-Zubair: “Kami pernah bersama (Imam) Maalik bin Anas rahimahullah. Orang-orang menceritakan tentang seseorang yang mencela Sahabat Rasûlullâh. (Mendengar itu), lantas Imam Mâlik  rahimahullah membaca ayat yang artinya Muhammad itu adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allâh dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Setelah itu beliau berkata, “Barang siapa dalam hatinya terdapat rasa kejengkelan terhadap Sahabat Rasûlullâh, sungguh ayat ini menyerang dirinya. Riwayat al-Khathîb Abu Bakar”. [5]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar

Ini adalah janji mulia bagi seluruh Sahabat, persis dengan firman Allah Azza wa Jalla berikut:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.  Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik [al-Hadîd/57:10]

Huruf min (di antara mereka) pada firman Allah مِنْكُمْ  mengandung makna bayânul jinsi (penjelasan yang menyangkut sesuatu jenis secara keseluruhan) bukan untuk menjelaskan pengertian sebagian (tab’idh)[6], seperti dalam firman Allâh berikut:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilâh (yang berhak disembah) selain Ilâh Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu,  pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (Qs al-Mâidah/5:73)

Min (di antara mereka) pada firman Allah مِنْهُمْ   (Qs al-Mâidah/5:73) mencakup seluruh orang yang mengatakan bahwasanya Allâh salah satu dari yang tiga, bukan sebagian mereka saja.  Dalam kitab Mughnil Labîb (2/15), Ibnu Hisyâm rahimahullah mengungkap, “Dalam kitab al-Mashâhif karya Ibnul Anbâri rahimahullah , disebutkan bahwa sebagian orang zindîq (hatinya penuh kekufuran) memegangi firman Allâh yang artinya Allâh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar  untuk mencela sebagian Sahabat[7]. Padahal yang benar bahwa huruf min tersebut untuk menjelaskan seluruh individu Sahabat, bukan sebagian individu semata. Artinya orang-orang yang beriman adalah mereka. Hal ini persis dalam firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ

(Yaitu) orang-orang yang menta’ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar ( Ali ‘Imrân/3:172). Mereka semua adalah orang yang telah berbuat baik dan bertakwa

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Mâidah/5:73). Yang dibicarakan dalam ayat-ayat tersebut semuanya adalah orang kafir”.

Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1430H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Dialihbahasakan oleh Muhammad Ashim secara bebas-dengan penambahan beberapa footnote- dari Min Kunûzil Qur`ânil Karîm Tafsîru Ayâtin Minal Kitâbil ‘Azîz, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-Abbâd dari kumpulan makalah beliau yang berjudul Kutub wa Rasâil ‘Abdil Muhsin bin Hamd al-Abbâd al-Badr Dâr at-Tauhîd Cet. I Th1428H.  Hlm. 304-307
[2]  Adhwâul Bayân 2/102
[3] Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 7/361-362 Maktabah Thaibah. Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi rahimahullah berkata, “Demikian pula kondisi Nabi dan para Sahabatnya di permulaan perkembangan Islam, mereka dalam kondisi lemah dan berjumlah sedikit. Kemudian jumlah mereka senantiasa berkembang dan bertambah kuat sampai akhirnya mencapai kekuatan yang besar (Adhwâul Bayân 7/609)
[4] Ibid 7/362
[5]  al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân 
[6] Artinya janji ampunan dan pahala besar yang disebutkan dalam ayat berlaku bagi setiap Sahabat Rasûlullâh.
[7] Karena beranggapan min dalam ayat tersebut menunjukkan pengertian sebagian Sahabat saja. Meskipun ini tampak hanyalah merupakan akal-akalan mereka saja untuk menguatkan keyakinan mereka perihal murtadnya sebagian besar Sahabat Radhiyallahu anhum sepeninggal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam