Sihir Membawa Kebinasaan

SIHIR MEMBAWA KEBINASAAN

Terkadang perubahan nama, perubahan fisik atau  perubahan penampilan membuat sebagian orang terpedaya dan melupakan hakikat sesuatu. Padahal perubahan-perubahan itu bila tidak dibarengi dengan perubahan hakikat, maka hukumnya tidak akan berubah. Dukun misalnya, dari penampilan yang terkesan seram menakutkan menjadi berpenampilan menarik dan elegan; Dari tempat praktik yang berupa gubuk atau tempat yang terkesan angker kini beralih ke gedung modern nan mewah; Dulu disebut dukun sekarang paranormal atau orang pintar. Perubahan ini telah membuat sebagian orang melupakan hakikat perdukunan. Sehingga tidak mengherankan  jika kemudian status paranormal dan dukun dalam kacamata masyarakat awam Indonesia, dipandang sebagai sebuah status sosial terhormat dan bergengsi serta profesi yang menjanjikan. Terbukti, mulai dari kalangan pejabat, pengusaha kecil, konglomerat, pedagang asongan, petani, nelayan, kaum pelajar, bahkan politikus, untuk melancarkan “usahanya”, mereka ramai-ramai datang ke paranormal, dukun atau kyai yang dianggap memiliki “karomah”. Inilah sebuah fakta yang sangat memprihatinkan.

Mereka mungkin tidak tahu salah satu keputusan Allâh Azza wa Jalla bagi para penyihir atau dukun dalam firman-Nya :

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

“Dan tidak akan beruntung seorang penyihir dari mana pun ia datang” [Thaha/20:69].

Inilah ketetapan Allâh Azza wa Jalla bagi para penyihir itu dan Allâh Azza wa Jalla tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Namun ironisnya, tetap saja orang-orang yang lemah imannya atau yang tidak memiliki iman berduyun mendatangi mereka untuk mengharapkan suatu yang tidak miliki oleh para penyihir. Berdalih dengan kebenaran berita para penyihir, mereka tetap mendatangi penyihir untuk meminta tolong. Mengenai hal ini, Imam Bukhâri dalam shahîhnya meriwayatkan dari Aisyah, beliau Radhiyallahu anha berkata, ”Orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para dukun. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak punya pengaruh apa-apa,” maka mereka berkata, “Ya Rasûlullâh, mereka terkadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami,” maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

 تِلْكَ الْكَلِمَةُ الـْحَقُّ, يَخْطَفُهَا الْـجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ, فَيَخْلِطُوْنَ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ.

Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri dari Jin, kemudian dilemparkan ke dalam telinga walinya (dukun), maka mereka mencampurkan kalimat yang berisi satu kebenaran tersebut dengan seratus kebohongan. [HR. al-Bukhâri, no. 5762]

Cukuplah peringatan keras Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap praktik sihir sebagai ancaman agar manusia berhenti dari praktik yang hanya membawa kebinasaan untuk dirinya dan orang lain. Dalam sebuah hadits dijelaskan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang bias membinasakan!’ Para Shahabat bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Apa saja itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Syirik (menyekutukan) Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan alasan yang haq, …. [Muttfaqun ‘alaih]

Dalam hadits yang lain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ n عَنِ النَّبِىِّ n قَالَ « مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ». رواه مسلم

Diriwayatkan lagi oleh sebagian isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa mendatangi tukang tenung untuk bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama empat puluh malam”. [HR Muslim, 7/37 (5957)]

Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita dan seluruh kaum Muslimin dari semua hal yang bisa menyebabkan kebisanaan dan kesengsaraan dunia dan akhirat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]