Tafsir Surat Az-Zalzalah

TAFSIR SURAT AZ-ZALZALAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ ١وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ ٢ وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ  ٣  يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ ٤  بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ ٥ يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ ٦  فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ  ٨

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”pada hari itu bumi menceritakan beritanya,Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[Az-Zalzalah/99:1-8]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

Yang dimaksud dengan firman Allâh Azza wa Jalla tersebut adalah seperti yang disebutkan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ  ١ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ 

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allâh itu sangat kerasnya. [Al-Hajj/ 22:1- 2]  

Kata: (zilzâlahâ) artinya goncangan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya sama sekali. Karena itulah Allâh berfirman: [dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk]; artinya dikarenakan mereka sangat terperangah dan terkejut dengan apa yang menimpa mereka, maka engkau dapati mereka seakan-akan tengah mabuk; padahal mereka tidaklah mabuk. Mereka dalam keadaan sadar. Akan tetapi dikarenakan keadaan yang mencekam, maka manusia seakan menjadi mabuk, tidak tahu bagaimana harus berlaku dan berbuat.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ

dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

Yang dimaksudkan adalah para penghuni kubur. Yakni apabila telah ditiup sangkakala, lalu matilah semua yang ada di langit dan di bumi –kecuali yang Allâh kehendaki- kemudian ditiup lagi sekali lagi, lalu tiba-tiba mereka pun berdiri menunggu putusan masing-masing. Mereka keluar dari kubur mereka untuk menghadap Rabb semesta alam l . Ini seperti yang Allâh firmankan:

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ 

(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?  [Al-Muthaffifin/ 83: 6]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ

dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”

Yang dimaksud dengan manusia di sini adalah jenis manusia; artinya manusia berkata: ada apa dengan bumi? Ada apa dengan bumi ini sehingga terjadi goncangan dahsyat?! Ini karena mereka keluar dari kubur, seakan-akan seperti yang Allâh firmankan: [dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk] sehingga iapun berkata: apakah gerangan yang terjadi dengan bumi, ada apa dengannya? Ini karena saking terperangah dan terkejutnya mereka.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ

pada hari itu bumi menceritakan beritanya

Pada hari itu –yaitu pada hari tersebut di mana bumi digoncangkan dengan dahsyat; [bumi menceritakan beritanya] artinya bumi memberitahukan apa yang telah diperbuat manusia di atas permukaan bumi, menceritakan perbuatan mereka yang baik ataupun yang buruk. Dan telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa bila seorang Muadzdzin mengumandangkan adzan, maka tidaklah pepohonan, tanah liat, bebatuan, tidak pula sesuatu lainnya yang mendengar adzan tersebut, melainkan itu semua akan bersaksi baginya pada hari Kiamat.[1] Maka bumi akan bersaksi terhadap apa yang telah diperbuat di atas permukaannya, apakah itu perbuatan baik ataupun buruk. Persaksian ini adalah untuk menjelaskan keadilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; dan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menghukum manusia kecuali disebabkan apa yang telah mereka perbuat. Dan walau bagaimana, Allâh tetap saja Dia Maha meliputi segala sesuatu; tidak memerlukan persaksian bumi. Cukup bagi-Nya untuk mengatakan kepada hamba-Nya: kalian telah melakukan ini dan ini… Persaksian  ini adalah untuk menegakkan keadilan, dan agar si pendosa tidak mengingkarinya. Sebab kaum pendosa mengingkari kalau mereka adalah orang-orang yang telah menyekutukan Allâh. Allâh berfirman:

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا وَاللّٰهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ 

Kemudian tiadalah fitnah mereka (jawaban dusta mereka kala diuji dan ditanya), kecuali mengatakan: “Demi Allâh, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allâh.”  [Al-An’am/ 6: 23]

Sebab ketika mereka melihat para pemegang tauhid telah selamat dari adzab, merekapun mengingkari kesyirikan, mudah-mudahan saja mereka selamat. Akan tetapi mulut mereka telah dibungkam dan disegel; yang berbicara adalah tangan-tangan mereka. Bersaksilah kaki mereka, kulit, lidah dan semuanya, bersaksi atas manusia tentang apa yang telah diperbuat. Ketika itu ia tidak mampu untuk tetap mengingkari. Ia pun mengakui. Hanya saja pada saat itu penyesalan sudah tak berguna lagi.

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا  ini adalah jawab syarth dari firman-Nya:

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ ١وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ ٢وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ  

Firman Allâh Azza wa Jalla :

بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ

karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya

Artinya bahwa penyebabnya adalah bahwa Allâh telah mengizinkan bumi untuk menceritakan beritanya. Dan Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Bila Dia memerintahkan sesuatu, maka pasti terjadi. Allâh mengajak bicara benda mati, lalu benda mati pun berbicara. Seperti yang Allâh firmankan:

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”  [Fushshilat/ 41: 11]

Allâh juga berfirman kepada Qalam (pena): “Tulislah!” Pena bertanya: “Ya Rabbi, apa yang aku catat?” Allâh berfirman: “Tulislah apa yang terjadi hingga hari Kiamat!”[2]

Allâh juga berfirman:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. [Yasin/ 36: 65]

Bila Allâh berbicara kepada sesuatu, meskipun benda mati, maka iapun akan berbicara kepada Allâh. Karena itulah Allâh berfirman yang artinya: [pada hari itu bumi menceritakan beritanya; karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu].

Baca Juga  Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala Kepada Para Istri Nabi

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ 

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

[pada hari itu] artinya pada hari itu di mana bumi digoncangkan dengan sehebat-hebatnya; [manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam,] artinya berkelompok-kelompok berpencar-pencar. Mereka keluar dari kubur, masing-masing menuju ke tempat tinggalnya. Para penghuni surga –semoga Allâh menjadikan kita termasuk di antara mereka- bertolak menuju ke sana; sedangkan penghuni neraka –semoga Allâh melindungi kita darinya- digiring ke neraka.

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ اِلَى الرَّحْمٰنِ وَفْدًا ٨٥ وَنَسُوْقُ الْمُجْرِمِيْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ وِرْدًا ۘ  ٨٦ لَا يَمْلِكُوْنَ الشَّفَاعَةَ اِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْدًا

(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.  [Maryam/19: 85 – 87]

Maka manusia keluar dari kubur dengan bergelombang dan berkelompok, dalam golongan yang sangat berbeda-beda sekali. Seperti firman Allâh:

اُنْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ وَلَلْاٰخِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلً

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.  [Al-Isra’/ 17: 21]

[supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka] artinya Mereka keluar dari kubur dalam keadaan bermacam-macam, sehingga mereka akan melihat amalan-amalan mereka. Allâh memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka. Bila amalnya baik, maka ia akan melihat kebaikan, namun bila buruk, maka iapun akan melihat keburukan. Hal ini dengan melalui hisab (penghitungan amal) dan catatan amal. Maka manusia akan diberi buku catatannya, ada yang menerimanya dengan tangan kanannya, ada pula yang dengan tangan kirinya. Kemudia ia akan dihisab sesuai dengan apa yang ada dalam buku catatannya. Allâh menghisabnya. Adapun untuk orang Mukmin, maka Allâh akan menghisabnya secara tersendiri dengannya saja. Allâh akan membuatnya mengaku akan dosa-dosanya dengan mengatakan: “engkau telah melakukan ini dan itu…; hingga si hamba pun mengaku. Bila sang hamba  sudah yakin akan binasa, maka Allâh pun berfirman: “Sungguh, aku telah menutupinya atasmu di dunia. Dan aku akan mengampuninya untukmu pada hari ini.”[3]

Adapun orang kafir –kita berlindung dari kekafiran- maka ia tidak diperlakukan seperti perlakuan terhadap orang Mukmin. Akan tetapi ia akan dipanggil di hadapan khalayak para saksi:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ الْاَشْهَادُ هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْۚ اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allâh? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allâh (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, [Hud/ 11: 18]

[supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka] kata [a’mâlahum] adalah bentuk mudhaf; dan mudhaf menghendaki makna umum. Zahirnya adalah bahwa mereka melihat amalan-amalan mereka semuanya, baik yang kecil maupun besar, dan memang seperti itu yang akan terjadi. Kecuali apa yang telah Allâh ampuni  sebelumnya dengan amalan kebaikannya, atau doa, atau yang semacamnya. Maka itu akan dihapuskan oleh Allâh, seperti yang Allâh firmankan:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. [Hud/ 11: 114]

Maka manusia melihat amalannya, yang sedikit ataupun banyak, hingga menjadi jelas baginya, dan diberikan buku catatannya; dan dikatakan kepadanya:

اِقْرَأْ كِتَابَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”  [Al-Isra’/ 17: 14]

Karena itulah, wajib atas manusia agar ia tidak lancang menerjang sesuatu yang Allâh tidak meridhainya. Karena ia tahu bahwa perbuatannya itu akan dicatat dan ditulis; dan ia akan dihisab atas hal tersebut.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya]. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Lafazh Man, ini adalah man syarthiyyah (mengandung makna syarath), mengandung makna umum. Artinya manusia manapun dan siapapun yang beramal, walau seberat biji dzarrah, maka ia akan melihatnya; sama saja apakah itu adalah kebaikan ataupun keburukan. Mitsqala dzarrah artinya seberat dzarrah. Yang dimaksud dengan dzarrah adalah semut kecil seperti yang telah dikenal. Yang dimaksudkan dengan dzarrah di sini bukan yang biasa dipahami dewasa ini, yaitu biji atom; seperti yang didakwakan sebagian orang. Sebab atom yang dikenal sekarang ini tentunya tidak dikenal pada masa itu. Dan Allâh tidaklah mengarahkan pembicaraan kepada manusia kecuali dengan apa yang mereka pahami. Disebutkannya kata dzarrah di sini karena itu menjadi perumpamaan dalam hal sesuatu yang kecil. Seperti yang Allâh firmankan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۚوَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allâh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allâh akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [An-Nisa’/ 4: 40]

Dan sebagaimana telah diketahui, bahwa orang yang beramal, meskipun lebih lembut dari semut kecil, maka iapun akan mendapatkannya. Akan tetapi karena kata dzarrah ini sudah menjadi bahan perumpamaan dalam menunjukkan hal yang sedikit, maka Allâh pun berfirman demikian.

Firman Allâh: [مِثْقَالَ ذَرَّةٍ  = mitsqâla dzarrah] ini memberikan pengertian bahwa yang ditimbang adalah amalannya. Masalah ini diperselisihkan para ulama:
Sebagian ulama mengatakan: yang ditimbang adalah amalannya.
Ada yang mengatakan: yang ditimbang adalah lembaran-lembaran catatan amal.
Yang lain mengatakan: yang ditimbang adalah orang pemilik amalan tersebut.

Masing-masing dari mereka mempunyai dalil. Adapun kelompok yang mengatakan bahwa yang ditimbang adalah amalnya, mereka berdalil dengan ayat ini: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ. Karena taqdir (susunan lengkap yang diperkirakan dari ayat tersebut) dari ayat ini adalah: faman ya’mal ‘amalan mitsqala dzarrah. Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dua kalimat yang  dicintai Ar-Rahman, ringan di lisan namun berat di timbangan, yaitu: subhanallâh wa bihamdihi, subhanallâhil azhim.[4]

Akan tetapi yang membuat musykil (ganjalan) atas pendapat ini adalah bahwa amalan itu bukanlah fisik yang bisa diletakkan di timbangan. Akan tetapi amalan adalah amalan yang (bila sudah dilakukan) iapun selesai dan berlalu.

Baca Juga  Tafsir Surat An-Naas

Untuk menjawab ganjalan ini bisa dijawab dengan jawaban berikut:

  1. Seseorang haruslah membenarkan apa yang Allâh dan Rasul-Nya beritakan terkait dengan hal-hal ghaib. Ini meskipun akalnya bingung, tidak bisa menalarnya. Maka ia haruslah membenarkannya. Sebab qudrah (kuasa Allâh) di atas apa yang kita bayangkan. Maka wajib atas seorang Muslim untuk menerima dan pasrah, dan tidak mengatakan: mengapa seperti itu? Sebab perkara-perkara ghaib di atas apa yang dibayangkan.
  2. Bahwa Allâh menjadikan amalan-amalan tersebut sebagai bentuk fisik yang bisa diletakkan di atas timbangan, yang bisa berat ataupun ringan. Allâh mampu untuk menjadikan perkara-perkara abstrak menjadi hal yang fisik dan materi. Sebagaimana telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa kematian akan didatangkan dalam bentuk domba dan diberdirikan di antara surga dan neraka, lalu dikatakan: “Wahai penghuni surga! Maka merekapun melongok menjulurkan leher mereka. Dan dikatakan: “Wahai penghuni neraka!” maka merekapun menjulurkan leher mereka untuk  melihat. Lalu dikatakan kepada mereka: “Tahukah kalian, apa ini?” Mereka berkata: “Ya, ini adalah kematian.” Padahal itu ada dalam bentuk domba; dan kematian sendiri adalah hal yang abstrak, bukan hal  yang berbentuk fisik. Akan tetapi Allâh menjadikannya dalam bentuk fisik dan materi pada hari Kiamat. Maka mereka berkata: Ini adalah kematian, lalu disembelihlah kematian di hadapan mereka. Dan dikatakan: “Wahai Penghuni surga, keabadian, tidak ada kematian. Wahai penghuni neraka! keabadian, tidak ada kematian.[5] Dengan jawaban ini, hilanglah kemusykilan yang ada pada pendapat ini.

Adapun yang berpendapat bahwa yang ditimbang adalah lembaran-lembaran catatan amal, mereka berdalil dengan hadits pemilik bithâqah (kartu) yang didatangkan pada hari Kiamat; dan dikatakan: “Lihatlah amalmu!” Lalu dijulurkan kepadanya catatan-catatan di mana tertulis di dalamnya amalannya yang buruk. Buku catatan yang sangat besar. Ketika yakin dirinya binasa, lalu didatangkanlah sebuah kartu kecil, di dalamnya kalimat la ilaha illallâh. Lalu pemilik bithâqah berkata: “Ya Rabbi! Apalah arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan ini?” Lalu dikatakan kepadanya: “Sungguh, engkau tidak akan dizalimi sedikitpun!” Lalu ditimbanglah kartu tersebut di satu lidah neraca, sedangkan catatan-catatan amalnya di lidah neraca satunya lagi. Dan kartu yang berisi la ilaaha illallah pun lebih berat dibandingkan buku-buku catatan tersebut.[6]  Yang berpendapat demikian mengatakan: Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah lembaran-lembaran amalan.

Sedangkan yang mengatakan: bahwa yang ditimbang adalah orang  yang beramal, mereka berdalil dengan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa suatu hari ia  bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bertiuplah angin kencang. Abdullah Bin Mas’ud pun berdiri, dan iapun dibuat terhuyung oleh angin tersebut. Dikarenakan Abdullah adalah sosok yang kurus kaki dan betisnya. Orang-orang pun tertawa. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dari hal apakah kalian tertawa? Apa yang kalian herankan? Sungguh, demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya dua betis Abdullah di timbangan mizan hari Kiamat, itu lebih berat daripada gunung Uhud.[7]

Ini menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah si pemilik amal itu sendiri.

Maka di sini bisa kita katakan: kita mengambil pendapat pertama; bahwa yang ditimbang adalah amalannya. Akan tetapi mungkin saja sebagian orang ditimbang lembaran amalannya, sedangkan sebagian lainnya yang ditimbang adalah dirinya sendiri; sang pemilik amalan.

Bila ada yang bertanya: Bila merunut pada pendapat bahwa yang ditimbang adalah orang yang beramal itu sendiri, maka apakah ini didasarkan pada postur tubuh manusia di dunia, sehingga orang yang memiliki badan besar akan berat timbangannya di hari Kiamat?

Jawabannya adalah bahwa itu tidak didasarkan pada postur tubuh manusia di dunia. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ وَقَالَ اقْرَءُوا فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Sesungguhnya datang seseorang yang besar lagi gemuk pada hari Kiamat, namun bobotnya  tidak sebanding dengan sayap nyamuk. Lalu beliau berkata: Bacalah firman-Nya yang artinya: dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [Al-Kahfi/ 18: 105]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda mengenai Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu : “Sesungguhnya dua betisnya di timbangan mizan lebih berat daripada gunung Uhud.” Maka yang menjadi penilaian akan berat tidaknya badan seseorang pada hari Kiamat adalah dengan amal shalih yang dulu ia kerjakan. Allâh berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula).

Surat ini semua ayatnya mengandung peringatan akan goncangan bumi yang dahsyat (pada hari Kiamat); dan di dalamnya terdapat motivasi untuk beramal shalih. Juga bahwa amalan hamba tidak akan hilang sia-sia, meskipun hanya sedikit, walaupun hanya seberat dzarrah sekalipun, ataupun lebih ringan lagi dari dzarrah. Sungguh, pastilah manusia akan melihatnya pada hari Kiamat. Kita memohon kepada Allâh agar kita diberikan kesudahan yang  penuh  dengan kebaikan, kebahagiaan, dan kemenangan. Dan agar Allâh menjadikan kita termasuk golongan yang dikumpulkan kepada Ar-Rahman Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Sesungguhnya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Dari Tafsir Juz ‘Amma oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin cet. Dar at-Tsurayya linnasyr hlm. 284)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhâri kitab al-adzan bab raf’u ash-shaut bi an-nidâ’ 609.
[2] HR. Abu Daud kitab as-sunnah bab fi al-qadr 4700, at-Turmudzi abwab al-qadr bab I’zhâm amril îmân bil qadr 2155, dan at-Turmudzi berkata: hadits gharib.
[3] HR. al-Bukhâri kitab al-mazhalim bab qaul Allâh Ta’ala: alâ la’natullâhi alazh zhâlimîn 2441, Muslim kitab at-taubah bab fi sa’ati rahmatillâh alal mukminin 2768, 52.
[4] HR. al-Bukhari kitab ad-da’awat bab fadhl at-tasbih 6406, 6683; Muslim kitab adz-dzikr wa ad-dua’ bab fadhl at-tahlil wa at-tasbih wa ad-dua’ 2694, 31.
[5] HR. Al-Bukhâri, no. 6548 dan Imam Muslim, no. 2849 (40)
[6] HR. at-Turmudzi abwab al-iman bab ma ja’a fiman yamutu wahuwa yasyhadu an la ilaha illallâh 2639, dan ia berkata: hadits hasan gharib.
[7] HR. Ahmad dalam Al-Musnad 1/ 450.

  1. Home
  2. /
  3. A8. Qur'an Hadits3 Tafsir...
  4. /
  5. Tafsir Surat Az-Zalzalah