Kemutawatiran Hadits Adzab Kubur dan Berlindung Darinya.

Bab I
‘Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Alam Kubur

15. Adzab Kubur
Mereka mengimani bahwa kuburan itu merupakan taman dari taman-taman Surga atau merupakan lubang dari lubang-lubang Neraka. Dan sesungguhnya siksa kubur itu merupakan siksa alam Barzakh, maka setiap mayit yang berhak mendapatkan siksa, niscaya dia akan mendapatkan siksa tersebut, baik dikubur ataupun tidak, dimakan hewan buas atau terbakar sehingga menjadi debu, ditaburkan di atas udara, disalib atau tenggelam di tengah lautan. Semuanya akan mendapatkan siksaan seperti orang yang dikubur.[1]

Mereka pun meyakini bahwa siksa kubur adalah haq dan yang mengingkarinya ada di dalam kesesatan.[2] Al-Qur-an banyak memberikan isyarat akan adanya adzab kubur di dalam berbagai ayat, di antaranya:

 فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

“… Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” [Thaahaa/20: 124]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maksud dari ayat tersebut adalah siksa kubur.”[3]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” [As-Sajdah/30: 21].

Ibnu ‘Abbas berkata: “Maksud di dalam ayat tersebut adalah adzab kubur.”[4]

16. Kemutawatiran Hadits-hadits Tentang Adzab Kubur dan Berlindung Darinya.
Mereka semua meyakini kemutawatiran hadits tentang adzab kubur dan berlindung darinya.[5] Semuanya adalah riwayat yang shahih yang mendatangkan keyakinan dan menghilangkan keraguan, mereka semua memohon kepada Allah agar dilindungi dari siksa kubur dan menjadikan kuburannya itu sebagai taman hijau yang menyinari mereka.

17. Macam-Macam Adzab Kubur.
Mereka meyakini bahwa adzab kubur itu ber-macam-macam, di antaranya adalah dipukul dengan sebuah palu dari besi atau yang lainnya, dihimpit dengan kuburan sehingga tulang belulangnya remuk, dipenuhi dengan kegelapan, dihamparkan kepadanya hamparan dari api Neraka, dan dibukakan baginya satu pintu Neraka. Sebuah amal buruk menjelma menjadi seseorang dengan muka dan pakaian yang sangat buruk lagi berbau busuk yang duduk di sisinya, juga semua siksa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalan yang shahih.[6]

Baca Juga  Larangan Mendirikan Masjid Di Atas Kuburan

18. Pertanyaan Dua Malaikat dan Fitnah Kubur.
Mereka semua meyakini adanya pertanyaan dua Malaikat dan mempercayai bahwa semua berita yang menjelaskannya adalah berita yang mutawatir[7] yang memberikan sebuah keyakinan, mereka semua berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan ketetapan di dalam kubur ketika pertanyaan itu ditujukan kepadanya dengan ungkapan yang benar di dalam kehidupan dunia dan akhirat.

19. Sifat Dua Malaikat.
Mereka semua meyakini adanya dua Malaikat yang ditugaskan untuk memberikan pertanyaan kepada seorang hamba di dalam kuburnya, mereka itu adalah Munkar dan Nakir yang berwarna hitam dengan kedua matanya yang biru sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ- أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ ِلأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيرُ.

Jika seorang mayit dikubur atau salah seorang di antara kalian (keraguan perawi), maka dua Malaikat yang berwarna hitam dengan matanya yang biru datang kepadanya, salah satunya bernama Munkar sedangkan yang lain adalah Nakir.”[8]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Mereka berdua adalah dua Malaikat yang ditugaskan untuk mem-berikan pertanyaan kepada seorang mayit di dalam kubur, yaitu pertanyaan mengenai Rabb-nya, agamanya, dan Nabinya. Mereka berdua memberikan cobaan kepada orang yang baik dan orang yang berbuat jelek. Mereka berdua berwarna hitam dengan kedua matanya yang biru, mereka berdua memiliki dua taring dan segala macam bentuk dan suara yang menakutkan, semoga kita semua diberikan perlindungan dari siksa kubur dengan dikaruniai jawaban yang benar ketika ditanya.”[9]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ar-Ruuh, hal. 78, Syarh ats-Thahawiyah, hal. 400, karya Ibnu Abil ‘Izz.
[2] Banyak orang yang mengingkari hal ini seperti Khawarij, kebanyakan golongan Mu’tazilah, dan sebagian Murji-ah. Lihat Syarh Muslim (XVII/201), karya an-Nawawi, ar-Radd ‘ala Syathaat man Yunkir ‘Adzaabal Qabri fir Ruuh, hal. 58, 73, karya Ibnul Qayyim dan Syarh ath-Thahawiyah, hal. 450, 451, karya Ibnu Abil ‘Izz.
[3] HR. Al-Hakim (I/381), beliau berkata, “Shahih berdasarkan syarat Muslim.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, al-Bazzar (no. 2233). Al-Haistami berkata di dalam kitab al-Majma’, “Di dalamnya ada seorang perawi yang tidak saya kenal.” Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata (III/169), “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang jayyid.” Diriwayatkan pula secara mauquf dari Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya sebagaimana diungkapkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ‘Adzaabul Qabri, hal. 60 dan Hanad di dalam kitab az-Zuhud (I/214), Ibnu Katsir berkata (III/169), “Pendapat mengenai hadits ini mauquf lebih shahih.”
[4] Tanwiirul Miqbaas (IV/232) dan as-Suyuthi di dalam kitab ad-Durrul Mantsuur (VI/120), beliau berkata, “Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir.”
[5] Hadits tentang adzab kubur dan berlindung darinya adalah hadits-hadits yang mutawatir, sebagaimana yang diungkapkan oleh kebanyakan pembesar para ulama, di antaranya adalah Ibnul Qayyim di dalam kitab Miftaah Daaris Sa’aadah (I/43) dan di dalam kitab ar-Ruuh, hal. 70. Diungkapkan pula oleh Ibnul ‘Izz di dalam kitab Syarh ath-Thahawiyah, hal. 399, as-Suyuthi di dalam kitab Syarhush Shuduur hal. 117, al-Kattani di dalam kitab Nazhmul Mutanaatsir, hadits (no. 113-114). Lihat kitab ‘Adzaabul Qabri wa Su-aalul Malakaini, karya al-Baihaqi.
[6] Lihat kitab kami al-Hayaatul Barzakhiyyah, hal. 47-51, fasal Anwaa’ ‘Adzaabil Qabri.
[7] Hadits-hadits yang menjelaskan adanya pertanyaan dua Malaikat dan fitnah kubur adalah hadits yang mutawatir, sebagaimana diungkapkan oleh para ahli ilmu, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam al-Fataawaa (XVIII/51), Ibnul Qayyim di dalam kitab ar-Ruuh, hal. 70, Ibnu Abil ‘Izz di dalam Syarh ath-Thahaawiyah, hal. 399, as-Suyuthi di dalam Syarhush Shuduur, hal. 177, az-Zubaidi di dalam kitab Luqathul Lai al-Mutanaatsirah, hal. 213/216, dan al-Kattani di dalam Nazhmul Mutanaatsir, hadits no. 111.
[8] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1071), beliau berkata, “Hasan gharib.” Ibnu Hibban (no. 180/Mawaarid) dan Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah (no. 864) dari hadits Abu Hurairah. Al-Albani di dalam kitabnya, ash-Shahiihah (no. 1391) berkata, “Sanadnya jayyid dengan perawi yang tsiqah, semuanya merupakan perawi Muslim.” Dan beliau menghasankan di dalam kitabnya, Takhriijus Sunnah, (no. 864), karya Ibnu Abi ‘Ashim.
[9] Al-Bidaayah wan Nihaayah (I/44).

Baca Juga  Hukum Bacaan Qur’an Di Kuburan Mayit
  1. Home
  2. /
  3. B1. Topik Bahasan3 Ibadah...
  4. /
  5. Kemutawatiran Hadits Adzab Kubur...