ISIS Berbuat Jahat Terhadap Islam Dan Kaum Muslimin Dengan Menghidupkan Kembali Perbudakan

ISIS BERBUAT JAHAT TERHADAP ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN DENGAN MENGHIDUPKAN KEMBALI PERBUDAKAN

Wahai para pengikut ISIS, setelah seratus tahun berlalu, setelah seluruh kaum muslimin sepakat untuk menghapus perbudakan dalam praktik nyata, kalian justru merusak kesepakatan ini melalui berbagai petaka yang telah kalian lakukan. Juga melalui tidakan kalian yang menangkap para wanita untuk dijadikan sebagai tawanan.

Melalui perbuatan buruk itu, kalian lebih memilih terjadinya fitnah dan kerusakan di muka bumi dengan memulai sesuatu yang syariat Islam telah upayakan untuk menghapusnya (perbudakan). Disamping karena perbudakan ini sendiri terlarang sesuai kesepakatan internasional sejak seratus tahun silam. Dan berdasarkan tanda tangan seluruh negara Arab-Islam dalam sejumlah perjanjian yang melarang adanya perbudakan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“…Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintakan pertanggungjawabannya” [al-Isra/17 : 34]

Dalam hal ini, kalian akan memikul tanggung jawab atas berbagai tindakan berbahaya yang mungkin di kemudian hari nanti akan menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi kaum muslimin secara keseluruhan.

Bahkan, fikih maslahat dan mafsadat –yang sama sekali tidak mereka ketahui- mengajarkan keapada mereka –andai saja mereka mau berpikir- agar tidak membuka pintu-pintu seperti ini, sekalipun itu benar.[1]  Karena, membuka pintu-pintu seperti ini pada saat ini akan membuka banyak sekali dampak negatif terhadap umat Islam.

Kesimpulan penjelasan terkait perbudakan disampaikan guru kami, Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah : “Perbudakan hukumnya mubah[2], tidak wajib ataupun dianjurkan. Untuk itu, perbudakan boleh diabaikan demi perjanjian antara kaum muslimin dan orang-orang kafir, seperti yang terjadi pada saat ini”[3]

Ini lantaran syariat Islam berasaskan pada hikmah dan kemaslahatan manusia dalam kehidupan dan akhirat. Karena, syari’at secara keseluruhan itu merupakan keadilan, rahmat, maslahat, dan hikmah.[4]

Namun, siapakah di antar pengikut ISIS ini yang mau mempertimbangkan sisi maslahat dan mafsadat, apalagi mengetahui atau menerapkan sisi ini?

[Disalin dari kitab Da’isy al-Iraqi wa asy-Syam fi Mizanis Sunnah wal Islam, edisi Indonesia ISIS Khilafah Islamiyah atau Khawarij, Penulis Syaikh Ali Hasan al-Halabi (1436H/2015M), Penerjemah Umar Mujtahid, Lc. Penerbit Pustaka Imam Asy-Sfai’i, Ramadhan 1436H/Juli 2015M]
______
Footnote
[1] Tindakan mereka ini sama sekali tidak benar

[2] Silahkan anda bandingkan dengan surat terbuka (ar-Risalah al-Maftuhah, hal.17).

[3] Jawaban guru kami ini dinukil Abu Mu’awiyah Ghalib as-Saqi dalam situsnya di internet sebagai jawaban pribadi guru kami untuknya. Lihat juga an-Nuzhum al-Islamiyyah DR Hasan Ibrahim Hasan (hal.301-316). Buku ini sangat penting untuk dibaca.

[4] I’lamul Muwaqqi’in, Imam Ibnul Qayyim (III/11). Salah satu bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh ISIS melalui praktik perbudakan dan penawanan adalah praktik balas dendam yang mereka lakukan terhadap suku Yazidi dengan mengoyak kehormatan banyak wanita muslimah di berbagai wilayah kekuasaan mereka di Irak.