Al-Barâ bin ‘Âzib Al-Anshâri Radhiyallahu Anhu

AL-BARA BIN AZIB AL-ANSHARI RADHIYALLAHU ANHU

Oleh

Ustadz Abu Minhal Lc.

Sungguh merupakan sebuah kemuliaan saat anak-anak tumbuh dan berkembang serta mengarungi masa remaja mereka di masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Sebuah kemuliaan dan kebahagiaan yang tidak hanya dirasa oleh mereka, akan tetapi juga oleh para orang tua mereka.

Anak-anak yang akan menjadi generasi penerus umat itu telah melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beriman kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla dan menikmati tarbiyah imaniyah dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung. Dan tak lupa, mereka pun dapat mendengarkan sabda-sabda Beliau yang haq dan merekamnya, untuk disampaikannya ke umat di kemudian hari. Betapa indahnya hidup mereka!.

Nama Al-Barâ bin ‘Âzib Radhiyallahu Anhu

Al-Barâ` bin ‘Âzib bin al-Harits Abu Umârah al-Anshâri Radhiyallahu anhu salah satu Sahabat Nabi yang masuk kategori shighârus Shahabah. Hal ini dapat diketahui bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak keikutsertaannya di Perang Badr yang terjadi pada tahun ke-2 H. Ini sudah cukup menunjukkan masih belia usia beliau, belum mencapai usia 15 tahun. Tentang itu, Al-Barâ` bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memandangku dan Ibnu ‘Umar belum cukup umur pada Perang Badar. Beliau pun menolak kami. Maka, kami tidak ikut serta dalam Perang Badar. Waktu itu, aku dan Ibnu ‘Umar sepantaran”.

Secara lengkap, nama tokoh kita sekarang ialah Al-Barâ` bin ‘Âzib bin al-Harits bin ‘Adi bin Majda’ah bin Hâritsah bin al-Hârits bin al-Khazraj bin ‘Amr bin Mâlik bin Aus al-Madani al-Hâritsi al-Ausi. Berkunyah Abu ‘Umârah atau Abu ‘Amr.  Ayah beliau ‘Âzib bin al-Hârits termasuk salah satu orang Anshar yang telah memeluk Islam sejak lama. Dan al-Barâ Radhiyallahu anhu memeluk Islam bersama sang ayah. Tidak banyak infomarsi tentang ayahnya.

Sedangkan sang ibu bernama Habîbah binti Abi Habiibah bin al-Hubâb bin Anas bin Zaid dari Bani Mâlik bin an-Najjâr. Pendapat lain menyatakan bahwa ibunya adalah Ummu Khâlid bin Tsâbit bin Sinân bin ‘Abîd bin Tsa’labah bin ‘Ubaid bin al-Abjar Khudrah bin ‘Auf bin al-Hârits bin al-Khazraj. Dengan demikian, ibunya ini masih memiliki hubungan darah dengan Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu karena merupakan putri dari paman Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Sinân bin ‘Abid al-Khudri.

Sedangkan al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah meringkas biografi Al-Barâ` bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu dalam Taqrîbu at-Tahdzîb dengan berkata, “Al-Barâ` bin ‘Âzib bin al-Hârits bin ‘Adi al-Anshâri al-Ausi. Seorang Sahabat Nabi putra seorang Sahabat Nabi. Hidup di Kufah. Dipandang masih beliau pada Perang Badar. Ia dan Ibnu Umar sepantaran. Wafat tahun 72 H”. [1]

Pujian Terhadap Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu Anhu

Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengawali penulisan biografi al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu dengan menyebutnya sebagai al-faqîhul kabîr (ahli fiqih yang besar) dan termasuk sahabat-sahabat yang terpandang. [2]

Hal ini bertolak dari kesempatannya yang luas untuk mendapatkan ilmu dari sumber-sumbernya. Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu meriwatkan ilmu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ‘Umar Radhiyallahu anhu dan Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior lainnya. Sedangkan beberapa orang yang berguru dan mereguk ilmu darinya adalah ‘Abdullâh bin Yazîd al-Khathmi Radhiyallahu anhu , Abu Juhaifah as-Suwâi Radhiyallahu anhu , ‘Adi bin Tsâbit rahimahullah , Sa’d bin ‘Ubaidah rahimahullah, Abu ‘Umar Zâdân, Abu Ishâq as-Sabii’i rahimahullah serta lainnya.

Meriwayatkan 305 hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam Shahihain terdapat 22 hadits yang diriwayatkan oleh al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu . Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al-Jamâ’ah.

Kesan-Kesan Manis Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu Anhu

Sebuah masyarakat yang hidup bersama seorang utusan Allâh Azza wa Jalla , pemimpin para nabi dan rasul,  Muhammad bin ‘Abdillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menggapai berbagai kesempatan manis dan merasakan saat-saat yang indah. Ini pula yang diungkapkan oleh al-Barâ` bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu yang menceritakan kebersamaannya dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa momen, dalam rangka mentransfer ilmu yang ia lihat dari Rasûlullâh dan tahadduts bin ni’mah (mensyukuri nikmat).

Abu Ishâq menceritakan bahwa al-Barâ` bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Aku ikut serta berperang bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam 15 peperangan”. [3]

Dalam pengakuannya yang lain, “Aku bepergian bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam 18 kali”.

Bantahan Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu Anhu Terhadap Orang Yang Mengingkari Siksa Kubur.

Al-Qur`ân telah menyinggung pembahasan siksa kubur, tidak seperti pandangan sebagian kelompok yang menyimpang. Hal itu telah dipahami oleh seorang Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu. Beliau menyatakan siksa kubur disinggung dalam firman Allâh Azza wa Jalla  berikut:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ 

Allâh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat [Ibrâhîm/14:27]

Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu berkata, “Ayat ini berbicara tentang siksa kubur”.[4]

Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu Anhu Wafat

Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu yang merupakan penduduk asli kota Madinah wafat di kota Kufah setelah membangun tempat tinggal di sana dan melepaskan jabatan. Beliau wafat pada masa pemerintahan Mush’ab bin Zubair . Sebagian ahli sejarah menyebutkan wafatnya pada tahun 72 H dalam usia 80-an tahun. Radhiyallâhu ‘anhu.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]Taqrîbu at-Tahdzîb hlm.60.

[2]Siyaru A’lâmin Nubalâ` 3/194.

[3]  Isnadnya shahih.

[4] Diriwayatkan Muslim dalam Shahîhnya kitab al-Jannah bab ditampakkannya tempat tinggal mayyit di surga atau neraka kepadanya dan penetapan adanya siksa kubur dan berlindung darinya.