Menyiapkan Generasi Yang Mempercayai Berita Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Bicara Tentang Allah Salat

MENYIAPKAN GENERASI YANG MEMPERCAYAI BERITA NABI SHALLALAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

 Jika seluruh anak kaum Muslimin semenjak usia dini sudah terdidik memahami dan mengimani Allâh Azza wa Jalla sebagai satu-satunya sesembahan yang tidak boleh disekutukan dengan sesuatu apapun, niscaya dikemudian hari akan lahir generasi idaman di semua lapisan,  yang hanya beribadah kepada Allâh saja.

Jika seluruh anak kaum Muslimin semenjak usia dini sudah terdidik untuk mengenali, memahami, mengimani dan memenuhi hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta terlatih sikapnya untuk mengikuti petunjuk-petunjuk beliau dalam mengarungi kehidupan, niscaya kelak terlahir generasi Rabbani di semua lapisan yang hidup berdasarkan bimbingan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terwujudlah secara riil, dengan taufiq Allâh Azza wa Jalla , masyarakat ideal yang menjadi dambaan semua orang.

Apabila pada hari-hari sebelumnya para orang tua kurang perhatian atau bahkan mengabaikan pendidikan anak tentang bagaimana memenuhi hak Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya, maka hendaknya sejak sekarang hal ini tidak terulang lagi, betapapun sulitnya mengarahkan anak pada pendidikan yang benar. Namun itulah tantangan. Tidak ada perjuangan tanpa tantangan. Insya Allâh dengan landasan taqwa, ikhlas, semangat dan senantiasa memohon pertolongan Allâh, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memberikan jalan keluar.

Pada tulisan terdahulu sudah dipaparkan secara garis besar beberapa hak Allâh dan hak Rasûl-Nya. Berikut ini adalah tentang hak Rasûl Allâh lainnya yang juga amat penting ditanamkan ke dalam jiwa anak semenjak usia dini. Hak tersebut adalah : Mentaati segala apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan; Mempercayai segala apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan; Menjauhi segala apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam larang, dan hanya beribadah kepada Allâh menurut apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam syari’atkan.[1]

Tulisan berikut ini akan dimulai dengan uraian ringkas tentang kewajiban mengimani dan mempercayai segenap berita yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Banyak berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum diketahui oleh sebagian kaum Muslimin. Maka memahamkan masalah-masalah ini kepada anak-anak kaum Muslimin di usia dini menjadi sangat penting, supaya pemahaman serta keimanan secara benar kepada Allâh Azza wa Jalla , Nabi-Nya dan ajaran-Nya bisa lebih mengakar ke dalam sanubari. Sehingga kelak terbentuklah masyarakat yang betul-betul beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla sesuai tuntunan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara berita itu ialah berita tentang Allâh Azza wa Jalla, Asmaʹ-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum-Nya, apa saja yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala cintai, apa saja yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala benci dan lain-lain sebagainya yang harus dimengerti oleh setiap Muslim untuk kemudian diimani dan diamalkan konsekuensinya.

Contohnya berita bahwa Allâh Azza wa Jalla sangat gembira dengan taubatnya seorang hamba, bahkan lebih gembira dibanding seseorang yang menemukan kembali onta dan segala perbekalannya yang hilang di tengah gurun pasir tandus yang kondisinya sangat mematikan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ، مِنْ رَجُلٍ فِي أَرْضٍ دَوِّيَّةٍ مَهْلِكَةٍ، مَعَهُ رَاحِلَتُهُ، عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ، فَطَلَبَهَا حَتَّى أَدْرَكَهُ الْعَطَشُ، ثُمَّ قَالَ: أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِيَ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ، فَأَنَامُ حَتَّى أَمُوتَ، فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ لِيَمُوتَ، فَاسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ رَاحِلَتُهُ وَعَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَاللهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَتِهِ وَزَادِهِ “رواه مسلم

Sungguh Allâh lebih bergembira dengan taubat seorang hamba yang mu’min daripada seseorang yang berada di padang tandus yang amat luas dan mematikan, ia membawa onta beserta makanan dan minumannya. Lalu ia tertidur. Ketika bangun, onta dengan segala perbekalannya lenyap, maka ia cari (tanpa hasil) hingga ia didera kehausan. Kemudian ia  berkata: Aku akan kembali ke tempatku semula, aku akan tidur sampai mati. Ia letakkan kepalanya pada lengannya menunggu kematian. Ketika ia terbangun, tiba-tiba ia dapatkan ontanya kembali beserta perbekalan, makanan dan minumannya. (Maka betapa gembiranya orang ini-pen.) Namun Allâh lebih besar kegembiraan-Nya dengan taubat seorang hamba yang mu’min dibandingkan orang ini yang menemukan onta dan perbekalannya kembali. [HR. Muslim][2]

Keyakinan tentang betapa gembiranya Allâh Azza wa Jalla ketika mendapati hamba-Nya bertaubat, akan mendorong semangat seseorang untuk menjadi orang yang selalu bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla agar apabila sewaktu-waktu ia dipanggil menghadap, ia sudah siap bersih dari noda dosa. Pintu taubat Allâh Azza wa Jalla senantiasa terbuka bagi siapapun, bahkan Dia sangat gembira jika melihat hamba-Nya bertaubat.

Oleh sebab itulah Allâh Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bertaubat:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allâh wahai orang-orang beriman, agar kamu semua beruntung. [An-Nûr /24:31]

Begitu pula berita tentang ni’mat dan siksa kubur, berita tentang surga dan neraka, tentang jembatan shirâth yang dipasang di atas Jahannam. Keimanan terhadap semua itu akan mendorong seseorang untuk selalu menjaga ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasûl-Nya, serta menjauhi segala larangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Contoh lainnya adalah berita tentang telaga Haudh-nya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Barang siapa yang kelak di hari kiamat bisa meminum air dari telaga Haudh ini meskipun hanya seteguk, niscaya ia tidak akan kehausan selama-lamanya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونَنِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ؟ فَأَقُولُ: سُحْقًا سحقاً لمن غير بعدِي. مُتَّفق عَلَيْهِ

Sesungguhnya  aku berada paling depan di antara kalian di telaga Haudh, siapa yang bisa datang lewat di hadapanku, niscaya ia akan minum dari telaga itu, dan barangsiapa yang meminum darinya, maka tidak akan kehausan selama-lamanya. Sungguh akan ada sekelompok orang yang datang kepadaku untuk bisa masuk ke telaga Haudh ini, aku mengenali mereka dan merekapun mengenali aku, tetapi kemudian orang-orang itu terhalang dariku. Maka aku berkata (kepada Allâh): “Sesungguhnya mereka itu termasuk golonganku”. Namun kemudian dikatakan (kepadaku): Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka ada-adakan sesudahmu. Akupun lalu berkata: “Betapa jauh, betapa jauh bagi orang yang telah mengganti agamanya sepeninggalku”. [Muttafaq ‘Alaih][3]

Berdasarkan hadits di atas, sesungguhnya siapa saja yang bisa datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kekalutan yang mencekam pasca kebangkitan manusia di hari kiamat, niscaya ia akan bisa meminum air dari telaga Haudh, dan barang siapa yang meminum air dari telaga tersebut, niscaya ia tidak akan kehausan selama-lamanya. Namun juga terdapat orang-orang yang terlihat sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi mereka tertahan, bahkan tertolak tidak bisa memasuki telaga haudh ini. Mereka adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang menggantikan agamanya dengan agama lain. Maka alangkah sengsaranya orang-orang yang demikian.

Kesimpulan, itulah sebagian kecil dari berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang harus diyakini oleh setiap Muslim. Dengan mempercayai serta mengimani berita-berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ini maka seseorang akan terdorong memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadi hamba Allâh yang baik; dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak dan da’wah. Ia tidak ingin kufur, takut menyimpang dari Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , takut menjadi munafik, takut berbicara dusta dan takut terjerumus dalam kesesatan. Karenanya ia akan terus berhati-hati dan berusaha mentelaah semua petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , agar bisa dijadikan pedoman bagi hidupnya. Ia akan takut terjerumus dalam kemurtadan, sebagaimana para Sahabat Radhiyallahu anhum takut terjerumus dalam kemurtadan. Ibnu Abi Mulaikah ketika mendengar Asmâʹ binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma menceritakan adanya orang-orang yang tertolak dan tidak bisa memasuki telaga haudh karena murtad, beliau berdoa:

 اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ أَنْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا

Ya Allâh, kami memohon perlindungan kepadaMu dari kemurtadan, atau dari tertimpa mushibah dalam agama kami.. [HR. Bukhâri dan Muslim][4]

Alangkah indahnya jika para orang tua, guru dan pendidik secara serius memperhatikan masalah ini bagi pendidikan anak-anaknya dan anak-anak kaum Muslimin. Supaya semenjak kecil anak-anak sudah mengenal serta memahami Rabb Sesembahannya dengan benar, sekaligus mengenal serta memahami Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar pula.

Dengan memahami hal ini maka orang tua tidak akan sekali-kali menyerahkan pendidikan  anaknya kepada orang yang tidak beriman dan bukan ahlinya.

Wallâhu Waliyyu at-Taufîq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat Syarh Tsalâtsati al-Ushûl, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Dâr al-‘Aqîdah, cet I, 2004 M/1425 H, hal. 61

[2] Shahîh Muslim, Kitâb at-Taubah, Bâb (1) fi al-Haddhi ‘alâ at-Taubah wal Farah bihâ, no. 2744.

[3] Misykât al-Mashâbîh, karya Muhammad bin Abdullâh Al-Khathîb at-Tibrîzi, tahqîq : Syaikh al-Albâni, al-Maktab  al-Islâmi, cet. III, 1405 H/1985 M. III/1546, Kitâb (28) Ahwâl al-Qiyâmah wa BadʹI al-Khalqi, Bâb 4, no. 5571. Lihat pula Shahîh al-Bukhâri, Kitâb ar-Riqâq, Bâb (53) fi al-Haudh, no. 6583 & 6584, Dan Shahîh Muslim, Kitâb al-Fadhâʹil, Bâb (9) Itsbât Haudhi Nabiyyinâ Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam wa Shifâtihi, no. 2290 & 2291

[4] Shahîh al-Bukhâri, Kitâb ar-Riqâq, Bâb (53) fi al-Haudh, no. 6593, Dan Shahîh Muslim, Kitâb al-Fadhâʹil, Bâb (9) Itsbât Haudhi Nabiyyinâ Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam wa Shifâtihi, no. 2293.