Hadits Palsu Tentang Celaan Kepada Imam Asy-Syâfi’i Dan Pujian Kepada Imam Abu Hanifah

Hadits Palsu Untuk Imam Syafii

HADITS PALSU TENTANG CELAAN KEPADA IMAM ASY-SYAFI’I DAN PUJIAN KEPADA IMAM ABU HANIFAH

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

 

 رُوِيَ عن أنس بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يَكونُ في أُمَّتي رجلٌ يقال له محمدُ بنُ إدريسَ أَضَرُّ على أُمَّتي مِنْ إبليس، ويكون في أُمَّتي رجلٌ يقال له أبو حَنِيْفَةَ هو سِراجُ أُمَّتي » حديث موضوع

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan ada di umatku (nanti) seorang laki-laki yang bernama Muhammad bin Idris (asy-Syafi’i), dia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis dan akan ada di umatku (nanti) seorang laki-laki yang bernama Abu Hanifah, dialah pelita bagi umatku”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhû’ât (2/48) dan dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Ahâdîtsu Mukhtârah  (hlm 112), dari jalur Ma’mun bin Ahmad as-Sulami, dari Ahmad bin ‘Abdillah al-Juwaibari, dari ‘Abdullah bin Ma’dan al-Azdi, dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam .

Hadits ini adalah hadits palsu yang didustakan atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam , sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama Ahli hadits, karena dalam sanadnya ada dua rawi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu Ma’mun bin Ahmad as-Sulami dan Ahmad bin ‘Abdillah al-Juwaibari[1].

Tidak diragukan lagi bahwa hadits-hadits seperti ini yang selalu dijadikan sandaran untuk berfanatik kepada Imam madzhab tertentu, meskipun dengan mencela para Imam Ahlus sunnah lainnya, wallahul musta’an[2].

PERKATAAN PARA IMAM TENTANG HADITS INI

  1. Imam al-Hakim berkata: “Hadits-hadits seperti ini dipersaksikan oleh orang yang punya pengetahuan agama sedikit saja bahwa ini dipalsukan atas (nama) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam ”[3].
  2. Imam Ibnul Jauzi berkata: “Ini adalah hadits palsu, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang memalsukannya. Dan laknat ini tidak akan meleset dari salah satu dari dua orang (rawi hadits ini) yaitu Ma’mun dan al-Juwaibari, keduanya tidak memiliki agama (agamanya rusak) dan tidak memiliki kebaikan, keduanya suka memalsukan hadits”[4].
  3. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Ma’mun dan gurunya (al-Juwaibari) adalah dua dajjal (pendusta dan pemalsu hadits)”[5].
  4. Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Ini adalah hadits palsu, dalam sanadnya ada dua rawi pemalsu hadits, yaitu Ma’mun bin Ahmad as-Sulami dan Ahmad bin ‘Abdillah al-Juwaibari, salah satu dari keduanya yang memalsukan hadits ini”[6].
  5. Hadits ini juga dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam as-Suyuthi, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan Syaikh al-Albani[7].

JALUR LAIN PERIWATAN HADITS INI
Hadits ini juga diriwayatkan dari beberapa jalur lain dan dari Shahabat lain, yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , di antaranya ada beberapa riwayat yang lafazh haditsnya hanya tentang pujian kepada Imam Abu hanifah.

Akan tetapi semua jalur dan riwayat tersebut lemah dan palsu, karena dalam sanad-sanadnya ada rawi pemalsu hadits atau rawi yang majhul (tidak dikenal)[8], sebagaimana yang dijelaskan secara rinci oleh Imam Ibnul Jauzi dan Syaikh ‘Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi[9].

Demikian risalah singkat ini, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari sikap fanatik buta kepada para Imam Madzhab. Wallâhu ‘alam bish shawâb

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat celaan para ulama Ahli hadits terhadap kedua rawi ini dalam kitab Lisânul mîzân (5/7) dan (1/193),
[2] Lihat penjelasan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati Wal Maudhû’ah (2/42, no. 570).
[3] Dinukil oleh Imam Ibnu hajar dalam kitab Lisânul mîzân (5/7).
[4] Kitab al-Maudhû’ât (2/48).
[5] Kitab Ahadîtsu mukhtârah (hlm 112).
[6] Kitab al-Fawâidul majmû’ah (hlm 420).
[7] Lihat al-La-â-liul Mashnû’ah (1/417), Lisânul mîzân (5/7) dan Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati Wal Maudhû’ah (2/42, no. 570).
[8] Lihat penjelasan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati Wal Maudhû’ah (2/42, no. 570).
[9] Lihat kitab al-Maudhû’ât (2/48-49) dan at-Tankîl bima fii ta’nîbil Kautsari minal abâthîl (1/446-448).