Author Archives: editor

Hakikat Islam

HAKIKAT ISLAM

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Sungguh saya bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang luar biasa ini ; kesempatan bertemu dan bertatap muka dengan saudara-saudaraku seagama di Perguruan Tinggi yang baik ini, Insya Allah. Kesempatan untuk berdialog, saling berwasiat dan saling memberi nasihat. Ini semua manakala kita mengetahui bahwa yang hadir di sini adalah para penuntut ilmu dan para mahasiswa yang mana kondisinya mengatakan “Ya, Allah. Tambahkanlah ilmu kepadaku”. Saya mohon kepada Allah tambahan ilmu untuk mereka.

Saya tidak ingin pertemuan ini hanya basa-basi, akan tetapi sebuah pertemuan serius yang jelas-jelas memfokuskan pada beberapa poin ilmiah yang dapat mencerahkan akal dan mengokohkan naql (wahyu) dengan pemahaman yang benar. Dengan harapan agar syubhat-syubhat (kerancuan pikiran) yang mengacaukan cara mencari ilmu di Perguruan Tinggi maupun di lembaga pendidikan lainnya dapat dilenyapkan.

Imam Adz Dzahabi (w. 748 H) mengatakan: “Hati ini lemah, sedang syubhat-syubhat ganas merajalela”. Apabila imam ini mengatakan demikian pada ratusan tahun yang lalu sementara para ulama masih banyak dan lingkungan global masih religius Islami, maka bagaimana lagi dengan kita pada hari ini, dengan kondisi kebodohan merajalela, ulama telah langka dan metodologi keilmuan menjadi tidak karuan, maka tentunya hati kita lebih lemah dan syubhat sangat kuat dan berkuasa.

Oleh karena itu, pembahasan ini akan kita tekankan pada masalah-masalah ilmiah yang amat mendasar.

HAKIKAT ISLAM
Tentang hakikat agama Islam, agama yang dengan bangga kita menisbatkan diri kepadanya, berdakwah kepadanya dan berkumpul karenanya. Dialah agama Islam yang difirmankan oleh Allah:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imran/3 : 19].

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imran/3 : 85].

Ayat ini merupakan dustur (undang-undang dasar) bagi setiap muslim dan merupakan syari’at yang paling agung. Islam adalah agama Allah, agama yang haq, agama yang diterima dan agama penutup. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada Nabi lagi sesudahku”.

Islam memiliki dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Pengertian khusus adalah apabila Islam digunakan secara mutlak atau lepas maka maksudnya adalah agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan makna umumnya, yaitu agama semua nabi yang mengajarkan tauhid, tunduk patuh hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”[Al An’am/6 : 162-163].

Pasrah, menyerahkan diri kepada Allah melalui ajaran masing-masing nabi adalah makna Islam secara umum. Sedangkan makna Islam secara khusus, yang karenanya Al Qur’an diturunkan, yaitu tunduk patuh kepada Allah dan taat kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.

Di dalam Al Qur’an, Al Fatihah, surat terbesar dalam Al Qur’an, yang menjadi rukun shalat, dan tidak sah shalat tanpanya, sebagaimana hadits: “Tidak ada shalat tanpa Fatihah”; surat yang dihapal oleh anak-anak kecil apalagi oleh orang dewasa, di dalamnya Allah berfirman: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. Jalan yang lurus di sini, ialah agama yang dianut oleh para nabi, para shiddiq, syuhada dan kaum shalih, seperti firman Allah.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.[An Nisa/4: 69].

Telah shahih di dalam As Sunnah, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut ayat ini “bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”, Beliau mengatakan, yang dimurkai adalah Yahudi dan yang sesat adalah Nasrani.

Seandainya ada orang yang merubah-rubah makna Islam dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah nama agama yang diterima, tetapi sifat agama, maka ini tertolak dan batil. Yang Pertama, ia tertolak oleh Al Qur’an surat Ali Imran ayat 85:

« وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ »

Dalam ayat ini, kata Islam terkait dengan nama dan sebutan, bukan dengan sifat dan sikap. Yang Kedua, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafsiri surat Al Fatihah tadi.

Seandainya kita katakan bahwa setiap agama yang mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan adalah diterima, tentu tidak ada bedanya antara agama Islam, Yahudi, Nasraniyah dan agama keberhalaan, sebab para penyembah berhala itupun berniat menyembah Allah. Bukankah mereka mengatakan.

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. [Az Zumar/39 : 3].

Jadi, mereka mengaku bertaqarrub (mendekatkan) kepada Allah. Tetapi ucapan mereka ini batil dan rusak, kesesatan yang nyata yang sangat jelas di depan mata, dan tidak memerlukan bantahan. Namun demikian kami telah membantahnya.

Guna menguatkan yang haq dan menumbangkan yang batil, Allah telah berfirman.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya).[Al Anbiya/21 : 18].

Maka berikut ini kami sebutkan satu ayat dan dua hadits.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.[Al Baqarah/2: 120].

Jika Islam hanya diartikan pasrah kepada Tuhan melalui agama apapun, maka apa artinya ayat yang telah membedakan satu agama dari yang lain ini?!

Adapun haditsnya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tidak ada bayi yang lahir, melainkan dia dilahirkan di atas fitrah (tauhid, Islam). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Majusi”. [HR Bukhari Muslim].

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani yang mendengar tentang aku kemudian ia mati dan tidak beriman kepada agama yang aku bawa, melainkan ia menjadi penghuni neraka”. [HR Muslim].

Lalu bagaimana ucapan mereka yang mengatakan bahwa semua agama sama saja? Bagaimana mereka menyamakan antara yang haq dengan yang batil?

SUMBER ISLAM BUKAN PRODUK BUDAYA
Apabila kita telah mengenal Islam, makna, sifat dan hakikatnya, bahwa ia merupakan agama yang diterima oleh Allah dan tidak ada lagi sesudahnya atau bersamanya agama lain yang diterima, maka kita harus mengetahui sumber-sumber agama Islam ini berikut penjelasannya. Sumber agama ini ialah Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman.

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. [Al Isra/17: 9].

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad’47: 24].

Inilah Al Qur’an yang telah dinyatakan oleh Allah.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [Fushshilat/41:42].

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [At Taubah/9: 6].

Sungguh kalam (firman Allah) seluruhnya sempurna, tidak ada cela, cacat atau kurang. Kalam Allah adalah sifat Allah. Bila Allah Yang Pemilik sifat adalah Maha sempurna, maka sifatnya adalah sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun di dalamnya.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat Al Qur’an itu, entah karena bodohnya atau sikap sok pintarnya mengatakan bahwa Al Qur’an adalah muntaj tsaqafi (produk budaya). Sungguh, yang muncul dari mulut mereka adalah kebohongan besar. Bagaimana mungkin Al Qur’an disamakan dengan buku-buku lain yang dikarang oleh manusia, sedangkan Allah berfirman.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al Mulk/67: 14].

Al Qur’an diturunkan Allah melalui Jibril Alaihissallam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan Kami turunkan Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. [Al Isra/17: 105].

Bagaimana mungkin Al Qur’an yang sempurna keseluruhannya sejajar dengan produk manusia yang penuh dengan kekurangan? Seandainya ucapan ini keluar dari orang yang telah ditegakkan hujjah atasnya, tentu ia menjadi kafir; akan tetapi kita memakluminya, yang dikarenakan kebodohannya. Kami nasihatkan kepada orang-orang seperti ini agar bertaqwa kepada Allah, ingat kematian, kebangkitan, pertemuannya dengan Allah Penguasa alam semesta, hisab, pahala dan siksa.

Maka wajib mengimani bahwa Al Qur’an adalah Kalam Allah (bukan makhluk dan bukan produk budaya), tidak mengandung kebatilan dan kekurangan, semuanya merupakan kebaikan, agama dan kebenaran, dan selainnya adalah batil dan rusak. Sehingga, selama-lamanya tidak boleh mengatakan bila Al Qur’an sebagai produk budaya. Ucapan seperti ini sesat menyesatkan.

Al Qur’an, sebagaimana saya katakan tadi, adalah sempurna keseluruhannya, sebagaimana firman Allah tentang ucapan jin yang mendengarkan Al Qur’an.

فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا(1)يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami. [Al Jin/72 : 1-2].

Al Qur’an adalah kitab hidayah, petunjuk kepada jalan yang benar. Semua bagian Al Qur’an menunjukkan kepada jalan yang benar. Anggapan ayat-ayat Makkiyyah bersifat universal, sedangkan ayat-ayat Madaniyyah adalah tipikal dan lokal adalah batil dan rusak. (Mengapa?) Pertama : Karena nash Al Qur’an dalam ayat tadi –misalnya- bersifat umum menyeluruh: “Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang lurus” mencakup ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. Kedua : Ucapan ini merupakan tafsir yang semena-mena, pendapat belaka, dugaan dan nafsu, tidak ada dasar rasional dan tidak pula dasar syar’i: “Datangkanlah bukti-buktimu jika kamu benar”. Ketiga : seluruh ulama telah bersepakat bahwa pelajaran itu didasarkan pada keumuman lafazh, bukan pada kekhususan sebab.

Bila ayat itu jelas makna dan petunjuknya, maka ia mencakup semuanya. Sebab nuzulnya ayat tidak membatasi berlakunya ayat, (tetapi memperjelas dan mempertegas makna yang dimaksud oleh ayat). Jadi ucapan mereka ini batil dan rusak, dan dimaksudkan untuk meragukan Al Qur’an dan mengingkarinya.

AS SUNNAH SEBAGAI SUMBER KEDUA
Al Qur’an ini adalah firman Allah yang telah menunjukkan agar kita berhujjah dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. [Al Hasyr : 7].

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang
. [An Nur/24: 54].

Seandainya yang diterima di sini hanya Al Qur’an, tentu ayat-ayat Al Qur’an ini tidak ada maknanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dikatakan oleh Allah sebagai orang yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَ

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya [An Najm/53 : 3]

(Beliau) bersabda : Ingatlah, sesungguhnya aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya. Yang semisal dengan Al Qur’an adalah As Sunnah. Permisalan di sini bukanlah dalam kedudukan dan kesucian. Kalam Allah sesuai dengan kesucian Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kalam RasulNya sesuai dengan diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kesamaannya di sini adalah dalam bidang hukum; hukum-hukum As Sunnah sama dengan hukum-hukum Al Qur’an, karena ia adalah wahyu seperti Al Qur’an.

Abdullah Ibn Umar Ibn Al Ash Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Ya, Rasulullah! Engkau berbicara pada waktu ridha dan pada waktu marah. Maka apakah aku menulisnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada yang keluar dari lisanku, melainkan kebenaran, maka tulislah!”

Barangsiapa mencela Sunnah, sebenarnya pukulan itu mengenai Al Qur’an sebelum As Sunnah itu sendiri. Maka hendaklah ia bertaubat, kembali kepada akal sehatnya dan kembali kepada kebenaran. Sebelum datang waktu penyesalan; penyesalan yang tidak lagi berguna dan tidak pula didengar.

Kondisi mereka benar-benar mengingatkan pada sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari dada para ulama, akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut nyawa para ulama hingga tidak tersisa satu orang alimpun. Maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu (satu riwayat: dengan ra’yu mereka), maka mereka sesat dan menyesatkan”. Ini adalah berkata dusta atas Allah. Satu dosa besar yang terbesar, karena Allah berfirman tentang beberapa dosa besar, dan yang terakhir adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [Al A’raf /7: 33].

SYUBHAT PENOLAK HADITS
Orang-orang yang mencela hadits, logika mereka sangat rendah dan rapuh. Syubhat-syubhat mereka yang paling penting ada dua macam.

Syubhat Pertama. Mengandalkan akal untuk membatalkan naql (wahyu Al Qur’an dan Sunnah). Mereka menjadikan akal sebagai asas (pondasi). Hal ini lemah, karena akal itu berbeda-beda; ada akal orang awam, ada akal orang terpelajar, ada akal sarjana, ada akal bukan sarjana, ada akal orang kota, ada akal orang desa, dan seterusnya. Lalu akal siapakah yang harus kita ikuti? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An Nisa/4 : 59].

Allah mengajarkan, jika akal kalian berselisih dan pemahaman berbeda-beda dan jika terdapat sengketa, maka kembalikanlah kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Inilah solusi bagi perselisihan. Bagaimana mungkin mengembalikan perselisihan kepada akal, yang ia menjadi penyebabnya, lalu kita jadikan sebagai hukum atas Al Qur’an dan As Sunnah?!

Kemudian, akal itu sendiri berkembang, sedangkan agama Islam ini tetap. Karena ia (Islam) menjadi timbangan yang berfungsi untuk memperbaiki keadaan. Dinamika kehidupan dan kemajuan dapat bertemu dengan agama, bukan agama yang harus berjalan di belakang perkembangan jaman. Agama adalah guru dan pengawal bagi kebudayaan. Kebudayaan itu ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang bermanfaat dan ada pula yang membayakan, ada yang lurus dan ada pula yang sesat. Untuk memilah-milah ini semua, (maka) harus kembali kepada agama.

Sebagai ilustrasi bahwa akal itu berkembang, saya sebutkan satu contoh sederhana. Lima tahun yang lalu, tidak lebih dari itu, kalau ada orang yang mengatakan di sakuku ada kitab Shahih Bukhari, ada Tafsir Ibn Katsir dan ada Majmu’ Nawawi. Tentu seorang akan mengatakan: “Kamu sudah gila. Mana mungkin Shahih Bukhari yang 4 jilid, Tafsir Ibn Katsir yang 4 jilid dan Majmu’ Nawawi yang 20 jilid itu masuk dalam saku yang kecil? Sekarang, akal yang sama akan mempercayainya, sebab CD yang beratnya sekitar 5 gram itu dapat memuat kitab-kitab tadi, bahkan lebih. Oleh karena itu, jangkauan akal amat terbatas. Dia tidak akan memahami apa yang belum dijangkaunya.

Sementara syara’ (Al Qur’an dan Sunnah) adalah sempurna dan terjaga dari kesalahan, berada di atas akal. Dan akal, tidak disebut mukmin sebelum (ia) tunduk patuh kepada ketentuan syara’. Allah berfirman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An Nisa/4: 65].

Dengan demikian jika akal berseberangan dengan syara’, maka tuduhlah akal, karena akallah yang belum dapat memahami kebenaran wahyu. Kitab Allah adalah wahyu yang sempurna, sementara akal selalu memerlukan bimbingan wahyu untuk menyempurnakan dan menutupi kekurangannya. Menjadikan akal sejajar dengan wahyu atau setingkat di atas wahyu, demikian ini merupakan pemahaman yang batil. Mereka adalah orang-orang yang lancang, angkuh dan sombong. Lalu dengan akal siapakah dan yang manakah kita harus menghukumi dan berhukum?!

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al-Ahzab/33 : 36].

Anda tidak memiliki pilihan lain di hadapan Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali menerima, mengimani, mengikuti, ridha dan istiqamah di atasnya. Inilah sifat orang yang cerdas, bijak, mendapat petunjuk di dunia dan bahagia di akhirat.

Syubhat logika yang rusak tadi, akal sendiripun memvonisnya sebagai cara berpikir yang tidak logis.

Syubhat Kedua : Kemudian syubhat kedua sama dengan yang pertama, jauh dari nilai ilmiah, yaitu mencela para rawi hadits. Di antaranya dengan membuat keragu-raguan seputar sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan ini, sepertinya tidak mengetahui semua hadits atau sebagian besar hadits. Sebab, sebagian besar hadits itu diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Cukuplah keutamaan Abu Hurairah dalam dua riwayat berikut ini; yang pertama dari Abu Hurairah dan yang kedua tentang Abu Hurairah.

Riwayat dari Abu Hurairah, dia berkata: “Saya menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengisi perut seadanya. Aku tidak menginginkan harta dan dunia. Aku hanya ingin menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Jadi Abu Hurairah meninggalkan dunia seisinya dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sinilah letak kekayaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Melaporkan perihal hafalannya. Maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Angkat pakaianmu”. Abu Hurairah lalu mengangkatnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup pada pakaiannya. Abu Hurairah lalu berkata: “Semenjak itu, aku tidak pernah lupa satu haditspun yang telah aku hafal dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Riwayat yang kedua, Abu Hurairah datang kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Begitulah kecintaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada Rasul dan kecintaan Rasul kepada Abu Hurairah. Kemudian tiba-tiba mereka datang lalu mencela dan mencaci maki Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Sungguh mereka adalah orang-orang yang jauh dari kitab Allah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PENUTUP
Akhirnya, saya akan menutup (muhadharah ini) dengan dua perkara. Yang satu bersifat umum, (yaitu) berkaitan dengan ceramah kita. Dan yang kedua bersifat khusus, berkaitan dengan Perguruan Tinggi Sunan Ampel.

Setelah kami menjelaskan hakikat Islam –tidak ada satu agama yang diterima setelahnya dan bersamaan dengannya- setelah kami jelaskan sumber-sumber agama Islam, yaitu kitab Allah yang berisi hukum, hidayah dan syari’at. Kemudian kami jelaskan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan wahyu yang sama dengan Al Qur’an, lalu kami jelaskan tentang akal dan kedudukannya yang amat tinggi dalam Islam untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah, bukan untuk menghakimi dan menolak Al Qur’an dan Sunnah. Berikutnya menjelaskan tentang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, kedudukan dan keutamaannya. Dia adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. (maka setelah saya jelasakan hal-hal di atas), saya katakan: “Di antara manhaj ilmi yang benar yang wajib diketahui, bahwa Al Qur’an dan Sunnah harus kita pahami sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih. Secara ringkas saya sebutkan dua dalil berikut ini.

Allah berfirman.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[An Nisa/4: 115].

Ini sebagai isyarat kepada pemahaman lurus yang terdapat pada diri para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Karena itu, wajib memahami Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para salafush shalih, dan tidak boleh memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari pemahaman mereka.

(Yang) kedua, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya.”

Tidak mungkin khairiyyah (nilai kebaikan) di sini dikaitkan dengan jaman, tempat, orang atau fisik. Akan tetapi, kebaikan yang dimaksud ialah kebaikan iman, kepatuhan, pemahaman, ilmu dan amal. Dan kebaikan ini terdapat pada tiga kurun yang utama tersebut agar menjadi pelita bagi generasi sesudahnya.

Terakhir, perkara yang khusus, bahwa saya memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memudahkan adanya muhadharah ini. Namun saya sangat terheran-heran dan tidak habis pikir, Perguruan Tinggi yang dengan bangga menyematkan label Islam di belakangnya ini, yaitu Al Jami’ah Al Islamiyyah (Universitas Islam) bukan Al Jami’ah Al Mukhalifah Lil Islam (Universitas Penolak Islam), tetapi saya menemukan di dalamnya tiga fenomena yang memprihatinkan:

Pertama. Banyak akhwat, Mahasiswi yang tidak mengenakan pakaian syar’i atau hijab Islami. Hijab yang dimaksud bukan hanya menutup kepala, tetapi menutup seluruh tubuh dan seluruh badan, tidak menampakkan bentuk tubuh dan perhiasan.

Kedua. Banyak pemuda, Mahasiswa yang duduk-duduk dengan fatayat (mahasiswi). Tidak mungkin pemuda itu ayahnya, saudaranya, atau suaminya. Kalaupun ada, paling satu di antara seratus, sedangkan sisanya apa yang mereka lakukan di Perguruan Tinggi Islam ini?!

Ketiga. Kita sekarang berada di rumah Allah, berdzikir kepada Allah menuntut ilmu Allah. Saya sendiri datang dari jauh, dari balik Samudra Hindia, sementara saudara-saudara kita dengan santai ada yang duduk-duduk di pinggir jalan, ada yang di atas tangga, ada yang di halaman, ada yang di pojok sana dan pojok sini; mengapa tidak berkumpul di sini, di rumah Allah ini, mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu, sesuai dengan do’a: “Ya Rabb, tambahkan ilmu kepadaku”?

Harapan saya pada Perguruan Tinggi Sunan Ampel ini, semoga pada kunjungan saya yang akan datang, fenomena yang “menakjubkan” ini dapat dihilangkan atau dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Al Ashr : 1-3].

(Ceramah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari di Masjid IAIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis tanggal 9 Desember 2004)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Fitnah Syubhat Dan Sebab-Sebabnya

FITNAH SYUBHAT DAN SEBAB-SEBABNYA

Oleh
Ustadz Fariq Gasim Anuz

Al Imam Muhammad bin Aslam At-Thusi rahimahullah (242 H) berkata : “Dan barangsiapa mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam hal wahyu dan dengan apa-apa yang ahli syirik dan ahli bid’ah berada di atasnya pada hari ini, maka dia mengetahui perbedaan yang sangat jauh antara orang-orang salaf dan orang-orang khalaf, lebih jauh antara jarak timur dan barat, mereka berdiri di atas sesuatu dan orang-orang salaf berdiri di atas sesuatu yang lain, sebagaimana dikatakan :

Dia pergi ke timur dan engkau pergi ke barat
Jauh sekali perbedaannya antara timur dan barat

Dan perkara ini -demi Allah- lebih dahsyat dari apa yang telah kami sebutkan.

Imam Al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya (2/115)[1] dari Ummi Darda Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Abu Darda masuk ke rumah dengan keadaan marah, maka aku tanyakan kepadanya, “Ada apa engkau?” Maka ia berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun pada diri mereka tentang urusan (Nabi) Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, kecuali mereka semuanya shalat”.

Dan Imam Az-Zuhri berkata, “Saya masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus yang sedang dalam keadaan menangis, maka aku tanyakan kepadanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Maka ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sesuatu pun dari apa-apa yang aku ketahui, kecuali shalat ini, dan shalat pun sekarang telah disia-siakan”. Disebutkan oleh Al-Bukhari no. 530.[2]

Dan ini adalah fitnah yang terbesar di mana Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berbicara mengenainya, “Bagaimana keadaan kalian apabila fitnah menyelimuti kalian, orang-orang dewasa menjadi tua di dalamnya, anak-anak kecil tumbuh dewasa di dalamnya pula, bid’ah telah memasyarakat, mereka telah menjadikannya sebagai sunnah, apabila (bid’ah) itu dirubah, maka dikatakannya ‘sunnah (Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam) telah dirubah’ atau ‘ini adalah perbuatan mungkar’.”[3]

Dan hal ini merupakan sebagian bukti yang menunjukkan bahwa suatu amalan jika dilakukan bertentangan dengan As-Sunnah maka janganlah dianggap, dan janganlah ditoleh karena amalan yang bertentangan dengan As-Sunnah tersebut telah dilakukan sejak zaman Abu Darda dan Anas.”[4]

Imam Syathibi rahimahullah (wafat tahun 790 H) berkata : “Dan pada waktu itu saya telah tampil di masyarakat dengan berkhutbah, menjadi imam dan yang semisalnya, maka ketika saya menginginkan istiqamah di jalan yang lurus, saya dapatkan diri saya asing di tengah masyarakat pada waktu itu, dikarenakan gerak langkah mereka banyak dilandasi oleh adat istiadat[5] dan tata cara mereka telah dimasuki bid`ah-bid`ah dan tambahan-tambahan (dalam dien ini ), di mana di zaman dahulu hal ini bukan merupakan barang yang aneh,lebih-lebih di zaman sekarang ini!!”[6] sampai beliau berkata, “Maka ada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan pertama mengikuti As Sunnah dengan syarat menyalahi kebiasaan masyarakat, maka haruslah menerima resiko yang biasa diterima oleh orang-orang yang menyalahi adat, terlebih lagi jika masyarakat mengakui bahwa kebiasaan mereka itu satu-satunya sunnah, tetapi meskipun memikul beban yang berat terdapat pahala yang besar padanya dan pertimbangan kedua mengikuti mereka dengan syarat menyalahi As Sunnah dan As-Salafus Shalih, maka kalau begitu saya menjadi orang-orang yang sesat – saya berlindung kepada Allah dari hal yang demikian – hanya saja saya sesuai dengan kebiasaan masyarakat, dan saya dianggap sebagai pendukung, bukan sebagai oposan.

Maka saya berpendapat bahwa binasa dalam mengikuti As-Sunnah itulah sukses namanya, sedangkan manusia tidaklah dapat menguntungkanku sedikitpun di sisi Allah, maka keputusan itu saya terapkan meskipun secara bertahap dalam beberapa perkara, maka kiamatlah menimpa saya, bertubi-tubi celaan datang kepada saya, caci makian dialamatkan kepada saya bagaikan anak panah, saya dicap sebagai ahli bid`ah dan orang sesat, dan kedudukan saya diturunkan sejajar dengan orang tolol dan bodoh.”[7] Sekarang ini pun kita hidup di zaman fitnah, fitnah syubhat dan syahwat.

Al Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan[8] : “Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.”[9]

Apalagi kalau dibarengi rusaknya niat, dan berperannya hawa nafsu maka akan timbul fitnah yang lebih besar dan musibah yang lebih berat, maka katakanlah sekehendakmu mengenai kesesatan yang ditimbulkan buruknya niat, pengendalinya hawa nafsu bukannya hidayah, disertai bashirahnya yang lemah dan sedikit ilmunya mengenai apa-apa yang Allah utus RasulNya dengannya, maka dia itu termasuk orang-orang yang Allah sebut mengenai mereka:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” [An-Najm/53 : 23]

Sampai beliau berkata : “Fitnah syubhat ini, nanti ujungnya sampai kepada kekufuran dan kemunafikan, dan ini merupakan fitnahnya orang-orang munafik dan fitnahnya ahli bid’ah menurut tingkatan kebid’ahan mereka masing- masing, semuanya berbuat bid’ah disebabkan syubhat-syubhat yang meracuni mereka sehingga menjadi kabur tidak dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang petunjuk dan mana yang sesat.”[10]

Sampai beliau berkata : “Fitnah syubhat ini kadang timbul disebabkan pemahaman yang rusak, atau nukilan yang dusta, atau dari kebenaran yang tegak, tetapi tidak nampak oleh orang tersebut sehingga ia belum mencapainya, dan kadang dari tujuan yang buruk dan mengikuti hawa nafsu maka syubhat tersebut dari kebutaan dalam bashirah dan kerusakan dalam hal keinginan.”[11]

Dalam halaman lain, beliau berkata : “Dan pokok dari segala fitnah hanya terjadi dengan jalan mengutamakan ra’yu (pikiran) atas syariat, dan mengutamakan hawa nafsu dari pada mengikuti akal sehat. Maka yang pertama merupakan pokok fitnah syubhat, dan yang kedua pokok fitnah syahwat.”[12]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyyah rahimahullah berkata : “Sedangkan ahli bid’ah, mereka itu ahli hawa dan syubhat, mereka mengikuti hawa nafunya dalam hal yang mereka sukai dan yang mereka benci, mereka memutuskan perkara dengan dzan (persangkaan) dan syubhat-syubhat, maka sesungguhnya mereka itu mengikuti persangkaan dan hawa nafsu, padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.

Setiap kelompok dari mereka telah membuat fondasi bagi dirinya fondasi dien yang ia buat sendiri, bisa dengan ra’yunya dan qiyas (analogi)-nya yang ia namakan menggunakan akal, atau bisa juga menggunakan perasaannya dan hawa nafsunya yang ia namakan “wangsit” atau dengan cara memalingkan arti dari Al-Qur’an dan merubah kata- kata dari tempat semestinya dalam Al-Qur’an, dan ia berkata: sesungguhnya ia mengikuti Al-Qur’an, seperti kaum Khawarij, atau dengan mengaku menggunakan dalil hadits padahal hadits tersebut dustaatau dhaif sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Syi’ah rafidhah dalam membawakan nash, dan kebanyakan dari orang-orang yang membuat diennya dengan ra’yunya atau perasaannya berhujjah dengan Al-Qur’an di mana ia mengartikan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, ia menggunakan Al-Qur’an sebagai kedok dan kamuflase belaka, sesungguhnya yang dijadikan asas untuk berpijak adalah ra’yunya.”[13]

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ketika memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad dengan nasehat yang panjang, di awalnya mengenai macam-macam manusia yang terbagi menjadi tiga kelompok : Ulama rabbani, penuntut ilmu yang menuju jalan keselamatan, dan orang yang hina dan rendah, mereka tidak belajar, lalai terhadap diri mereka sendiri. Kemudian setelah itu beliau menjelaskan tentang keutamaan ilmu dibandingkan harta, lalu menjelaskan macam-macam orang yang memiliki ilmu, tetapi mereka itu orang-orang yang tercela, di antaranya adalah orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas di hatinya, tidak memiliki filter untuk menyaring kebenaran, ia merupakan fitnah bagi orang yang terfitnah disebabkan dia. Setelah selesai menceritakan mereka, lalu beliau menjelaskan tentang hilangnya ilmu dengan meninggalnya ulama, namun meskipun demikian ulama yang haq tetap saja ada meskipun sedikit jumlahnya. Setelah itu menyebutkan pujian kepada mereka.[14]

Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam syarah wasiat Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu ketika sedang menjelaskan tipe yang kedua dari orang-orang yang memiliki ilmu, yaitu orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas dihatinya, bingung dalam mencari kebenaran, beliau berkata dalam bukunya Miftah Daaris Sa’adah juz pertama :
“Ia orang yang tunduk kepada ahli kebenaran, tetapi dadanya belum lapang dalam menerimanya, begitu pula hatinya belum tentram, bahkan dia itu lemah bashirah dalam menilai kebenaran, hanya saja dia itu tunduk dan patuh kepada ahli kebenaran.  Ini adalah keadaan pengikut kebenaran dari kalangan muqalliddin, dan mereka ini-meskipun meniti di atas jalan keselamatan-tetapi mereka bukan dari juru da’wah bagi dien ini, mereka itu hanya menambah jumlah tentara, mereka bukan komandannya atau tokohnya.”[15]

Di halaman yang lain, beliau berkata[16]: “(Sedikit saja syubhat datang kepada dia, langsung membekas di hatinya). Hal ini disebabkan sedikit ilmunya dan kelemahan bashirahnya sehingga ketika syubhat yang paling kecil pun masuk kedalam hatinya langsung saja membekas berupa keraguan dan kebimbangan, berbeda dengan orang yang kokoh ilmunya, meskipun syubhat-syubhat sebesar gelombang di lautan menerpanya ia tetap kokoh (bagaikan batu karang) tidak berubah keyakinannya, dan tidak terbersit keraguan sedikit pun, karena telah kokoh ilmu yang ia miliki. Maka syubhat-syubhat tersebut tidak dapat menggoncangkannya, bahkan apabila syubhat datang kepadanya langsung saja para pengawal dan tentaranya berupa ilmu yang ia miliki, menyerangnya sehingga syubhat tersebut langsung jatuh terkapar tidak berkutik sedikit pun.

Dan syubhat yang datang lalu masuk kedalam celah hati sehingga menghalangi dia untuk menyingkapnya agar mengetahui kebenaran, tetapi bila hati telah lekat dengan hakekat ilmu, maka syubhat yang datang tidaklah berdampak apa-apa, bahkan semakin kuat ilmu dan keyakinannya dengan jalan membantah dan menyingkap kebatilannya. Apabila hatinya belum lekat dengan hakekat ilmu yang benar, maka ia akan mudah terpengaruh berupa keraguan sejak dini, bisa jadi ia meralatnya (lalu ruju’ kepada kebenaran) dan apabila tidak berbuat demikian maka syubhat yang semisalnya datang secara berturut-turut, lalu ia menjadi orang yang ragu-ragu dan bimbang. Ada dua jenis tentara dari kebatilan yang selalu masuk kedalam hati manusia, yaitu para tentara syahwat yang durjana dan para tentara syubhat yang batil. Siapa saja yang hatinya condong dan tentram kepada syubhat, maka ia menyerapnya sehingga hati dia penuh berisi syubhat, konsekuensinya yang keluar dari lisannya begitu pula yang diamalkan oleh anggota tubuhnya berupa keraguan, syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan.”[17]

Sampai beliau berkata : “Asy-Syubhat, dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat kesamaran antara yang haq dengan yang batil, karena sesungguhnya syubhat tersebut memakai pakaian yang haq menutupi badan yang batil, dan kebanyakan manusia adalah orang-orang yang baik dari segi zhahir sehingga orang yang melihat pakaian yang ia pakai, meyakininya sebagai kebenaran.

Sedangkan orang-orang yang memilki ilmu dan keyakinan dia tidak tertipu, bahkan pandangannya dapat menembus sampai ke dalam sehingga dia mengetahui apa yang ada di balik pakaiannya, maka dia dapat menyingkap hakikatnya. Analoginya seperti uang dirham yang palsu, maka orang yang bodoh akan tertipu melihat kepada zhahirnya karena memakai pakaian berupa (sepuhan) perak, tetapi orang yang ahli dalam hal ini lagi memiliki pandangan yang tajam dapat menembus apa yang ada di balik itu sehingga ia dapat mengungkapkan kepalsuannya.

Kata-kata yang manis lagi fasih dalam hal syubhat sama kedudukannya dengan pakaian (sepuhan) berupa perak dari uang dirham palsu, padahal isinya mungkin dari tembaga atau dari jenis lain di bawahnya.

Betapa banyaknya manusia menjadi korban dari penipuan dengan cara seperti ini. Hanya Allah saja yang tahu jumlah orang-orang yang tertipu!

Dan orang yang berakal lagi cerdas apabila memperhatikan hal ini secara seksama, dia akan melihat bahwa kebanyakan manusia memegang satu pendapat dan menyampaikannya dengan satu ungkapan, dalam kesempatan yang lain ia membantah pendapat yang dipeganginya tadi dengan ungkapan yang lain[18]. Saya sendiri sering melihat yang seperti ini dalam buku-buku manusia, Masya Allah banyaknya!! Betapa sering kebenaran itu ditolak dengan cara kecaman sehingga tertutup dengan pakaian, yaitu berupa kata-kata yang buruk !

Dalam hal seperti ini, para imam ahli sunnah, seperti Imam Ahmad dan yang lainnya berkata, “Janganlah kita membuang satu sifat pun dari sifat-sifat Allah dikarenakan kecaman yang dilakukan oleh orang lain, mereka kaum Jahmiyyah menuduh bahwa penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah seperti sifat hidup, ilmu, kalam, pendengaran, penglihatan dan segala sifat lainnya yang Allah sifatkan diriNya dengan sifat tersebut mereka katakan sebagai tajsim dan tasybih (penyerupaan) dengan makhluk. Barangsiapa yang menetapkan sifat-sifat tersebut dituduhnya sebagai musyabbih.”[19]

Hanya orang yang berakal picik lagi mempunyai pandangan sempit, jika ia lari dari pemahaman yang benar disebabkan adanya tuduhan dengan penamaan yang batil ini.

Dan setiap pendukung aliran atau ajaran batil menutupi hakekat aliran dan ajaran mereka dengan ungkapan semanis mungkin. Sedangkan untuk menjatuhkan lawan, mereka menggunakan ungkapan seburuk mungkin.

Adapun orang-orang yang diberi karunia oleh Allah berupa bashirah dapat menyingkap hakekat di balik kata-kata tadi, berupa kebenaran atau kebatilan dengan menggunakan bashirah tersebut, dia tidak tertipu dengan ucapan lisan, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

“Engkau katakan ini adalah hasil dari lebah“[20]
Dan apabila engkau menghendaki engkau katakan ini adalah muntahnya zanabir[21]

Ungkapan pertama berupa pujian dan kedua berupa celaan, engkau tidak berlebihan dalam mensifati keduanya Dan kebenaran itu terkadang tertutup oleh buruknya ungkapan.”

Maka dari itu apabila engkau hendak menelaah mengenai hakekat suatu pengertian, apakah dia itu haq atau batil? Maka lepaskanlah semua dari pengaruh ungkapan kata-kata, lepaskan hatimu dari sikap apriori atau simpati, kemudian setelah itu berilah akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang obyektif, janganlah engkau termasuk oarang-orang yang subyektif dalam menilai, yaitu apabila ia melihat tulisan atau ucapan sahabat-sahabatnya atau orang-orang yang ia selalu berprasangka baik kepadanya, ia memandangnya dengan pandangan sempurna dengan sepenuh hati sehingga ditelannya bulat-bulat. Sebaliknya, apabila ia melihat tulisan atau ucapan lawanya atau orang-orang yang yang ia berprasangka buruk kepadanya, maka ia memandangnya dengan memicingkan mata, penuh koreksian. Akibatnya orang yang melihat dengan pandangan permusuhan apabila dia melihat kebaikan, yang terlihat adalah keburukan, sebaliknya orang yang melihat dengan pandangan percintaan apabila dia melihat keburukan, yang terlihat adalah kebaikan .

Dan tidak ada orang yag selamat dari sikap subyektifitas ini, kecuali orang yang Allah kehendaki mendapatkan kemuliaanNya dan Ia ridha kepadanya untuk menerima kebenaran, dan telah dikatakan : “Mata yang penuh ridha akan memejamkan matanya dari segala aib yang ia lihatsebagaimana mata yang penuh kebencian yang ia lihat hanyalah keburukan”

Dan yang lain berkata pula : “Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhaan tentu mereka akan menganggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk.

Apabila yang demikian tadi berkenaan dengan pandangan mata panca indra yang hanya sampai kepada benda-benda fisik, masih saja ia belum bisa menahan dirinya agar tidak sombong, maka bagaimana jadinya dengan pandangan mata hati yang dapat menembus makna-makna yang sangat dalam yang tidak dapat dijangkau oleh mata panca indra, mata hati itu merupakan ujian yang lebih berat lagi, sehingga lebih besar lagi kemungkinannya untuk berbuat sombong.

Dan hanya Allah saja yang diminta pertolonganNya guna mengetahui kebenaran dan agar kita dapat mengikutinya, dan guna menolak kebatilan dan agar kita tidak tertipu dengannya”[22]

Wahai Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk dapat mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya’ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
_______
Footnote
[1] Ilmu Ushulil Bida’, hal.276
[2] Ilmu Ushulil Bida’, hal.276
[3] H.R. Ad-Darimi (1/64), dan Al-Hakim. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hal. 276
[4] Ilmu Ushulil Bida’, hal.275-277
[5] Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan, “Kebanyakan agama-agama manusia hanyalah adat istiadat yang mereka ambil dari bapak-bapak mereka dan nenek moyang mereka, lalu mereka menirunya secara taqlid buta, baik di dalam menetapkan dan menolak, dalam cinta dan benci, dalam loyalitas dan permusuhan “(juz 2 hal 193)
[6] Al-I’tisham, hal.33
[7] Al-I’tisham hal.34-35
[8] Penyusun menukilnya dari buku Mawaridul Amaan
[9] Syaikh Ali Hasan berkata, “Dan dari pintu sedikitnya ilmu, syetan masuk kepada orang- orang yang cetek ilmunya, ia menghiasi ‘kebatilan’ dengan hal yang indah-indah, sehingga mereka terjerumus dalam perangkapnya, maka ilmu yang bermanfaat merupakan kunci bagi segala kebaikan dan penolak segala kejahatan.” (Mawaridul Amaan, hal 412, Catatan kaki no.1)
[10] Mawaridul Amaan, hal. 412
[11] Mawaridul Amaan, hal. 413
[12] Mawaridul Amaan, hal. 414
[13] Syaikh Ali Hasan menukil dari kitab An-Nubuwah hal.95. (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ , hal.292)
[14] Wasiat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad secara lengkapnya dapat dilihat dalam buku-buku berikut ini: (1). Min Washayaa As-Salaf, hal. 11-18 (2). Al-Ifadah min Miftah Daar As-Sa’adah, hal.192-193 dari juz pertama (3). Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal.493-494, dan syarah wasiat ini terdapat pada hal. 405-474
[15] Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal 441
[16] Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1 hal 442
[17] Syaikh Ali Hasan dalam ta’liqnya mengatakan, “Dan ini yang terjadi pada ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang seperti (Muhammad Zahid) Al-Kautsari itu yang telah binasa, begitu pula si pendusta “Al-Khassaaf” dari Balqa (nama tempat di Yordania, pent) orang yang hina dina !. Dan jauh berbeda antara keduanya dari segi ilmu meskipun semuanya ahli bid’ah.” Penyusun mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Syaikh Ali dengan “Al-Khassaf” pendusta dari Balqa adalah Hasan Assaqqaf, seorang ahli bid’ah dari Yordania penulis buku Tanaqudhaat Al- Albani. Buku-bukunya penuh berisi kecaman dan cacian terhadap da’wah salafiyyah dan para ulamanya dahulu dan sekarang, ia seorang yang tolol, ta’ashshub dan penuh dendam. Syaikh Masyhur Hasan Salman menyebutkan dalam sebuah bukunya Kutubu hadzdzara minha Al-Ulama (buku-buku berbahaya yang diperingatkan oleh para ulama), juz 1 hal.300-301, beliau berkata, “Beberapa masyayikh yang terhormat, dalam rangka membela aqidah salafiyyah telah membantah Hasan Assaqqaf ini, banyak peringatan-peringatan keras mereka lontarkan (kepada ahli bid’ah), begitu pula jakan penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu yang masih goyah, yang masih dalam keadaan bingung dan goncang, mudah-mudahan mereka mengetahui hakekat buku-buku Hasan Assaqqaf ini dan bahayanya terhadap manhaj ahlul haq.
Di antara masyayikh tersebut adalah :
1. Al-Akh Syaikh Sulaiman Nashir Al-Ulwan dalam buku-bukunya :
Al-Kasysyaf ‘an dhalalaat Hasan As-Saqqaf, dicetak oleh Daar Al-Manar,Riyadh.
Al-Qaul Mubin fi Itsbati Ash-Shuroh li rabbil ‘Alamin bantahan terhadap tulisan Assaqqaf Aqwaalul Huffadz Al-mantsuroh libayanil wadh’i hadits “roaitu rabbi fi ahsani shuroh.” Buku (Al-Qoul Mubin) ini dicetak oleh Daar Al-Anshar, Buraidah.
Dan dia (Syaikh Sulaiman) juga mempunyai bantahan yang panjang lebar terhadap buku Daf’u syubahi At-Tasybih dan komentar- komentar Assaqqaf terhadap buku itu yang beliau beri nama “Ithafu Ahlil fadhli wal inshafi binaqdhi kitab daf’i syubahit tasybih wa ta’liqaat Assaqqaf.”
2. Al-Akh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dalam dua bukunya :
Al-Anwar Al-Kasyifah litanaqudhaat Al-khassaf Az-Zaaifah wa Kasyfu ma fiiha minaz ziyagh wat tahrif wal Mujazafah, diterbitkan oleh Daar Al-Ashaalah.
Al-Iiqaafu ‘ala abatil qamus syataaim Assaqqaf, Daar Al-Ashaalah.
Berupa bantahan terhadap kitab Assaqqaf Qaamus Alfadz Al-Albani.
3. Syaikh Abdul Karim bin Shalih Al-Humaid dalam bukunya :
Al-Ithafu bi Aqidatil Islam wat Tahdzir min Jahmiyatis Saqqaf
4. Al-Akh Syaikh Kholid Al-‘Anbari dalam bukunya :
Al-Iftiraa”aatus Saqqaf Al-Atsim’alal Albani Syaikhil Muhadditsin
Dan selain mereka masih banyak lagi.
[18] Syaikh Ali mengatakan, “Hal ini bukan metode yang benar dan bukan jalannya ahli kebenaran.” (Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1, hal.443, catatan kaki no.2)
[19] Syaikh Ali mengatakan, “Dan cara seperti ini dilakukan oleh Ahli Bid’ah dan Ahli hawa dahulu dan sekarang.” (Miftah Daar As- Sa’adah, juz 1, hal.444, catatan kaki)
[20] Hasil dari lebah maksudnya adalah madu
[21] Zanabir bentuk jama’ dari zanbur yaitu serangga yang memiliki sengat seperti lebah, hanya badannya lebih besar dari lebah. Zanbur ini suka mencuri madu dari sarang lebah, apabila muntah, maka muntahnya yang keluar mirip madu
[22] Miftahu Daar As Sa’adah, juz1 hal 443-445

Antara Ahlus Sunnah dan Salafiyah

ANTARA AHLUS SUNNAH DAN SALAFIYAH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Di sini, perlu dijelaskan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafiyah. Suatu hal yang perlu dicermati dari tingkah laku sebagian da’i adalah mereka tidak mau menyebut dakwah mereka dengan dakwah salafiyah, walapun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka adalah salafi. Mereka hanya mau mempopulerkan dakwah mereka dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengulang-ulang nama tersebut di berbagai kesempatan, ketika menyampaikan pidato atau ketika menulis buletin. Ini merupakan ketetapan Allah yang agung. Supaya dakwah yang haq nampak beda dengan dakwah-dakwah yang menyerupainya. Agar dakwah yang haq tidak tercampur dari segala hal yang mengaburkannya.

Penjelasan tentang hal itu sebagai berikut: Sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yang meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat Islam yang komitmen dengan sunnah. Nama itu adalah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, karena mereka adalah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yang terpecah dari Ahlus Sunnah dikarenakan bid’ah dan hawa nafsu adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.

Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yang beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yang menyebut jama’ah dan organisasi mereka dengan istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yang sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lainnya mengatakan ‘Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah‘.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dengan Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kepada manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini adalah suatu yang biasa bagi kita, karena termasuk perkara yang sudah maklum di kalangan para da’i yang mengajak kepada Al Qur’an dan as Sunnah dengan pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah adalah tidak menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguhnya mengikuti pemahaman salaf merupakan kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dengan akalnya, yang lain menghukumi dengan dasar pengalamannya, yang lain lagi menghukumi dengan emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yang beriman (yaitu jalan para sahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman itu pada hakikatnya adalah jalan Salafush Shalih, yang kita menisbatkan diri kepadanya dan kita mengambil petunjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus Sunnah adalah mengikuti Salafush Shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzhab Salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar.[1]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekatnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan sifat di antara sifat-sifat Salafiyah), Maka ada keharusan untuk membedakan diri dari orang-orang yang mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dengan menisbatkan diri dengan manhaj yang mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakannya dan tidak merasa terhormat dengan bernisbat kepadanya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Juga perlu dikatakan kepada orang yang mengingkari penisbatan kepada Salafiyah. Sesungguhnya menisbatkan diri kepada salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yang menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pembuatan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satunya dakwah yang benar adalah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah adalah nisbat kepada salaf. Penisbatan ini tidak pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuknya minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yang menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka, dalam metode mendapatkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tidak lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan harus dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah ataupun dengan menguranginya.

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan, seandainya umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yang benar, tanpa tercampur dengan bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana yang terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi sebagai pembeda karena tidak adanya penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara’(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada salaf adalah berdasarkan Islam. Bukan yang lain. Tidak dengan corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kepada salaf adalah nisbat kepada salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yang dibelokkan oleh hawa nafsu, yang mereka adalah generasi yang buruk. Generasi yang menyimpang dari salaf shalih dengan nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yang datang kemudian) dan penisbatannya adalah khalafi.

Jadi Salafiyah tidak memiliki corak yang keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejap-pun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah adalah bagian dari mereka dan merujuk kepada mereka.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi salaf shalih dengan nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dengan mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf harus nampak jelas dan tegar. Sehingga tidak merancukan orang-orang yang ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dengan para pengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu dengan sebuah nisbat yang mereka tidak berani menggunakannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu adalah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yang jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendapatkan petunjuk.

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ

Maka janganlah orang-orang yang tidak mau beriman dan mengikuti hawanya menghalangimu darinya sehingga engkau akan binasa.[Thaha/20 :16]

(Diterjemahkan dari Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah karya Syaikh Ali bin Hasan al Halabi oleh Ibnu Ahmad al Lambunji)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423H/2002M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Majmu Fatawa 4/149

Imam Ahmad Sosok  Ulama yang Teguh Diatas Kebenaran

IMAM AHMAD SOSOK ULAMA YANG TEGUH DIATAS KEBENARAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian dari kisah perjalanan hidupnya seorang ulama besar dari para Imam umat ini, Imamnya para imam pembawa petunjuk, dengan melalui perantara beliau Allah Shubhanahu wa Ta’alla menolong agama ini dan menjaga sunah Nabi -Nya. Beliau lahir pada tahun 164 H, dan tumbuh dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal tatkala dirinya masih kecil, kemudaian beliau mulai menuntut ilmu dikala usianya masih lima belas tahun, bertubuh sedikit jangkung dengan warna kulit sawo matang, dan menikah pada umurnya yang ke empat puluh tahun.

Abu Zur’ah ar-Razi menuturkan, “Beliau memiliki hafalan satu juta hadits”. Tatkala beliau ditanya akan hal itu, beliau mengatakan, “Aku belajar padanya dan mengambil hadits dengan jumlah yang banyak darinya’. Imam adz-Dzahabi menjelaskan, “Dan kisah ini adalah benar, yang menunjukan akan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Abu Abdillah (Imam Ahmad). Dan mereka didalam menghitung jumlah hafalan yang dimiliki oleh beliau, karena ada yang sifatnya berulang-ulang, ada yang hanya atsar dari sahabat, fatwanya para Tabi’in, dan tafsiran beliau dan yang semisal dengan itu semua. Karena kalau dijumlah seluruh matan hadits shahih yang ada, tentu tidak akan sampai pada angka bilangan satu juta hadits”.[1]

Beliau adalah imamnya Ahlu Sunah wal Jama’ah, syaikhul Islam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adz-Dzahli asy-Syaibani al-Marwazi kemudian al-Baghdadi, beliau mempunyai kun’yah Abu Abdillah. Imam Syafi’i menyatakan, “Aku pergi meninggalkan negeri Baghdad dan tidaklah aku tinggalkan disana seorang yang lebih mulia, lebih berilmu dan bertakwa dari pada Ahmad bin Hanbal”. Berkata Ishaq bin Rahawaih tentang beliau, “Ahmad bin Hanbal adalah hujah yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla turunkan kepada hamba dan Diri-Nya”.

Adz-Dzahabi melanjutkan tentang sirahnya, “Adalah Ahmad bin Hanbal sangat agung urusannya, pemimpin dalam ilmu hadits, ilmu fikih, serta ilmu ibadah. Beliau telah mendapat pengakuan dari lawan-lawannya, sehingga tidak bisa di bedakan mana saudara dan kerabatnya? Beliau sangat disegani ketika berbicara tentang Dzat nya Allah azza wa jalla, sampai sekiranya Abu Ubaid mengatakan tentangnya, “Tidak ada seorangpun yang lebih disegani ucapannya dalam masalah Dzat Allah Shubhanahu wa Ta’alla melebihi ucapannya Ahmad bin Hanbal”.

Konon, dikisahkan bahwa para penuntut ilmu yang hadir dimajelisnya Imam Ahmad kurang lebih lima ribu orang, diceritakan sekitar lima ratus orang yang mencatat hadits darinya, sedang sisanya hanya melihat dan mempelajari adab dan etikanya beliau. Pernah suatu ketika sahabatnya bertanya pada beliau, “Sampai kapan engkau akan terus menuntut ilmu, sedangkan sekarang engkau adalah seorang imamnya kaum muslimin? Beliau menjawab, “Mulai dari buaian sampai ke liang lahat”.

Beliau –semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmatinya- adalah seorang yang sangat fakih dan zuhud dalam urusan dunia. Imam an-Nasa’i menuturkan, “Telah terkumpul dalam diri Ahmad bin Hanbal ilmu yang berkaitan tentang hadits, fikih, wara’, zuhud, dan kesabaran”. Sedang Abu Dawud mensifati beliau dengan mengatakan, “Majelisnya Ahmad bin Hanbal adalah majelis yang menggambarkan tentang akhirat, tidak pernah sedikitpun disebut dalam majelis beliau perkara dunia. Aku tidak pernah beliau menyebut-yebut urusan dunia sedikitpun”.

Ahmad bin Sanan menjelaskan, “Telah sampai berita kepadaku kalau Ahmad bin Hanbal menggadaikan sendalnya kepada tukang roti di Yaman, dan dirinya menangguhkan dengan menambah dua ekor onta tatkala keluar dari negeri Yaman, kemudian Abdurrazaq menawarkan padanya uang dua dirham untuknya, namun dirinya enggan menerimanya”. Berkata al-Marwadzi mengkisahkan beliau, “Adalah Abu Abdillah, apabila disebut tentang kematian disisinya, maka beliau menangis tersedu-sedu khawatir akan hal itu. Dan beliau pernah mengatakan, “Ketakutanku menjadikan diriku segan untuk makan dan minum, jika aku mengingat kematian, menjadiku mudah melupakan semua problematika dunia, makananku hanya cukup untuk menegakkan punggungku, pakaianku sebatas menutup semua auratku. Sungguh dunia adalah bagian dari hari-hari yang sangat pendek, yang aku tidak khawatirkan tentang kefakiran sedikit pun, kalau seandainya ada jalan yang aku bisa keluar dari kesibukan dunia tentu aku sudah keluar darinya sampai kiranya tidak ada lagi yang mengenangku”.

Beliau juga pernah memberi petuah, “Aku ingin kiranya aku berada dilembah Makah sampai kiranya tidak ada orang yang mengenalku, sungguh aku merasa tertimpa musibah dengan ketenaran”. Imam Ahmad adalah seorang yang sangat bertakwa, wara’ dan rendah diri. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Yahya bin Ma’in, “Tidak pernah aku melihat yang semisal dengan Ahmad bin Hanbal, aku telah menjalin persahabatan dengannya selama lebih dari lima puluh tahun, beliau tidak pernah membanggakan diri atas kami dengan sesuatu kebajikan yang beliau lakukan”. Al-Marwadzi menambahkan, “Aku pernah mengatakan pada Abu Abdillah, “Betapa banyak orang yang mendo’akanmu”. Beliau menjawab, “Aku khawatir ini termasuk istidraj (fitnah), apa alasanya? Aku katakan padanya, “Ada seseorang datang dari negeri Thurthus lalu menceritakan, “Kami berada dinegeri Romawi dalam sebuah peperangan. Tatkala malam membawa kesunyian para pasukan mulai mengangkat suaranya dengan do’a, sembari mengingatkan, “Berdo’alah untuk Abu Abdillah”. Lantas kami membentangkan senjata, lalu kami lempar setelahnya kepada musuh yang sedang naik kuda dengan baju perang dan perisainya kemudian diapun mati lalu dipenggallah kepala dan diambil baju perisainya.

Al-Marwadzi melanjutkan, “Maka seketika itu wajah beliau berubah, dan berkata, “Aku berharap semoga ini bukan istidraj”. Aku katakan padanya, “Sungguh sekali-kali tidak”. Lalu ada seorang lagi yang masuk pada beliau, lantas dirinya menyanjung dan memuji beliau sambil mengatakan, “Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi balasan kepadamu atas jasamu terhadap Islam dengan sebaik-baik balasan”. Maka beliau sangat bersedih hati dan mengatakan, “Bahkan, semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi balasan kepada Islam atas kebaikan yang diberikan padaku, siapa saya, apa artinya saya dibanding Islam”.

Berkata anaknya, Sholeh tentang ayahnya, “Ayahku, merupakan tradisi beliau jika dido’akan oleh orang lain beliau menerangkan padanya, “Sesungguhnya amalan tersebut tergantung pada akhir penghidupannya”. Muridnya al-Marwadzi menceritakan, “Pada suatu hari aku bertanya pada beliau, “Bagaimana keadaanmu dipagi hari ini? Beliau berkata, “Bagaimana aku mampu menjawab, dipagi hari yang seseorang dituntut oleh Rabbnya supaya menunaikan kewajiban-kewajibannya. Nabinya menuntut agar mengerjakan sunah-sunahnya, sedang dua malaikat selalu mengawasi agar senantiasa memperbagusi amalannya, dan dirinya merongrong untuk mengikuti hawa nafsunya, iblis mendorong agar berbuat kenistaan, sedang malaikat maut mengintainya untuk mencabut nyawanya, dan keluarganya menuntut untuk dipenuhi nafkahnya”.

Beliau juga bercerita, “Tatkala disebut dihadapan Imam Ahmad tentang akhlaknya orang-orang yang wara’ beliau berkata, “Aku memohon kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla semoga tidak menjadikan kami membencinya. Dimana kami bila dibanding dengan mereka-mereka itu? Ini menunjukan tentang tawadhunya beliau sedang beliau adalah Imamnya ahli wara’. Imam Ahmad adalah seorang ulama yang tegar didalam menjelaskan kebenaran dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya disebabkan hal itu. Sebagaimana diirinya telah diuji oleh karenanya.  Diterangkan oleh adz-Dzahabi, “Penjelas kebenaran sangatlah agung kedudukannya, dirinya butuh ekstra didalam kemauan dan keikhlasan. Beliau melanjutkan, “Seseorang yang bisa ikhlas namun tidak memiliki kekuatan, dirinya akan kandas ditengah perjalanannya. Adapun kekuatan tanpa dibarengi keikhlasan maka akan menyebabkan dirinya jauh dari pertolongan. Sehingga barangsiapa yang mampu memadukan antara keduanya secara sempurna maka dirinya adalah shidiq (jujur). Dan siapa yang lemah maka paling tidak dirinya akan mengeluh dan hatinya mengingkari, dan tidak ada lagi keimanan yang tersisa setelah itu, maka tidak ada kekuatan melainkan dari Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata”.[2]

Berkata Ali bin al-Madini, “Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah memuliakan agama ini dengan dua orang, Abu Bakar Shidiq tatkala beliau memerangi ahli ridah (yang berpaling keluar dari Islam) sedang yang kedua adalah Ahmad bin Hanbal ketika terjadi fitnah pemikiran al-Qur’an adalah makhluk”.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. [al-Ankabuut/29: 1-3].

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulallah, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling berat mendapat ujian? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ  » [أخرجه الترمذي]

Para nabi kemudian yang semisal dan yang semisal dengan mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agama yang dia peluk, jika agama yang dipegang cukup kuat maka ujiannya semakin besar, kalau agamanya sedikit lembek ujian yang diterimanya pun sesuai dengan kadar tingkat agamanya“. [HR at-Tirmidzi no: 2398].

Tatkala meletus fitnah al-Qur’an adalah makhluk pada masanya al-Ma’mun, Sholeh anak Imam Ahmad mengkisahkan, “Kemudian orang-orang (para ulama) pada saat itu mendapat ujian dan dipersiapkan bagi siapa saja yang menolaknya untuk dijebloskan ke dalam penjara. Maka semuanya menuruti kemauan mereka kecuali empat orang, Ayahku, Muhammad bin Nuh, al-Qawariri, dan Hasan bin Hamad. Kemudian diantara empat orang ini dua orang akhirnya menyerah sehingga tinggal dua yang enggan yaitu Ayahku dan Muhammad sehingga keduanya ditahan beberapa waktu. Kemudian datang surat perintah dari Thurthus untuk membawa keduanya dengan tangan terikat. Lantas ditengah perjalanan Muhammad bin Nuh meninggal dunia sehingga tinggal ayahku sendirian yang dibawa menghadap mereka.

Abas ad-Dauri mengatakan, “Aku pernah mendengar Abu Ja’far mengkisahkan, “Tatkala Imam Ahmad digelendang dibawa menghadap al-Ma’mun, aku kabarkan beritanya kepada al-Farat, ketika itu aku dapati dirinya sedang duduk dikedainya lalu aku ucapkan salam padanya. Dia berkata, “Wahai Abu Ja’far, engkau membawa berita duka”. Aku katakan, “Duhai anda, sekarang engkau adalah ulama panutan, banyak manusia mengikutimu. Demi Allah, kalau seandainya engkau menuruti mereka dengan mengatakan al-Qur’an adalah makhluk tentu orang-orang akan menirumu. Dan membuat Ahmad bin Hanbal menangis dan hanya mampu mengucapkan, “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla kehendaki pasti terjadi”.

Kemudian dia berkata, “Wahai Abu Ja’far, ulangi lagi nasehatmu”. Akupun mengulangi lagi, lalu beliau berkata. “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla kehendaki pasti terjadi”. Ibrahim bin Abdillah menuturkan, “Pernah Ahmad bin Hanbal mengucapkan, “Tidak ada sebuah ucapan yang menusuk kalbuku semenjak terjadinya fitnah ini dari pada ucapannya seorang Arab badui yang berkata padaku, “Wahai Ahmad, jika kebenaran yang membunuhmu maka engkau mati syahid, dan jika engkau selamat, engkau akan hidup dalam keadaan terpuji”. Seketika itu kalimat tersebut menguatkan hatiku.

Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Orang-orang menyebut-yebut Abu Abdillah (Imam Ahmad) dengan kehalusan budi pekerti dalam masalah ketakwaan, dan kisah yang berkaitan dengannya. Ada yang bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan dengan haditsnya Khabab? Yaitu hadits yang bunyinya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ » [أخرجه البخاري]

Dahulu ada seorang dari kalangan sebelum kalian yang dibuatkan lubang ditanah untuknya lalu dirinya dimasukan kedalamnya. Lantas didatangkan padanya gergaji lalu diletakan diatas kepalanya sehingga kepalanya terbelah menjadi dua. Namun, lelaki tadi tetap teguh dalam mempertahankan agamanya. Ada lagi seseorang yang disisir dengan menggunakan sisir dari besi sehingga terpisah daging dan tulangnya, atau urat sarafnya, namun, itu semua tidak menjadikan dirinya gentar sehingga dia tetap teguh dalam agamanya“.[HR Bukhari no: 3612].

Maka fitnah itu membikin kami berputus asa. Lantas dia berkata, “Aku tidak peduli dengan tahanan, tidaklah penjara kecuali sama seperti rumah bagiku, bukan tebasan pedang yang kutakuti, namun, fitnah cambuk yang kutakuti. Maka ada sebagian penghuni penjara yang mendengar ucapan beliau, lantas dia berkata, “Tidak mengapa wahai Abu Abdillah, tidak ada cambuk kecuali dua cambukan kemudian engkau tidak lagi merasakan sisanya”. Seakan-akan dirinya lenyap setelah itu.

Sholeh bin Ahmad mengkisahkan, “Ayahku berkata, “Tatkala kami dibawa dan sampai dinegeri perbatasan, kemudian di pertengahan malam kami tinggalkan tempat tersebut, maka ketika pintunya dibukakan untuk kami tiba-tiba ada seseorang datang sambil menyeru, “Kabar gembira, dirinya telah meninggal –Yang dimaksud adalah al-Ma’mun-. Ayahku berkata, “Dan aku berdo’a kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla agar aku tidak dipertemukan dengannya”. Setelah itu Ahmad terus ditahan di Ruqah sampai diba’iatnya Mu’tashim menjadi Khalifah setelah kematian saudaranya. Diapun sama dengan saudarnya, memberi titah supaya menyiksa Imam Ahmad, dengan memberi cambukan sampai dirinya pingsan beberapa kali.

Sholeh melanjutkan, “Kemudian beliau dibebaskan dan dikembalikan pulang kerumahnya. Dan beliau tinggal didalam penjara semenjak mulai dimasukan sampai berlalu, selama dua puluh delapan bulan”. Diantara akhlak mulia beliau, ialah pemaaf dan lapang dada sampai kepada lawan yang paling membenci serta menyiksanya. Diantara ucapan beliau ialah, “Setiap orang yang menyebut tentang diriku maka aku halalkan baginya kecuali bagi ahli bid’ah. Dan telah aku jadikan bagi Abu Ishaq –yakni al-Mu’tashim- halal kehoramatanku. Karena aku mendapati Allah Shubhanahu wa Ta’alla berfirman dalam ayat -Nya:

وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [an-Nuur/24: 22].

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Bakar supaya memaafkan dalam kisahnya Misthah. Abu Abdillah mengatakan, “Apa manfaatmu dengan menyebabkan saudaramu sesama muslim tersiksa? Berilah maaf padanya dan berlapang dadalah maka Allah Shubhanahu wa Ta’alla akan mengampunimu sebagaimana yang -Dia janjikan akan hal itu.

Beliau juga berkata pada ahli bid’ah, “Antara kita dan kalian ada sholat jenazah”. Berkata Abdul Wahab al-Waraq mengkisahkan kematian beliau, “Belum pernah sampai kepada kita sejarah dalam masa Jahilayah tidak pula masa Islam sebelumnya akan banyaknya orang yang berkumpul untuk menyolati jenazah beliau. Sampai kiranya sampai kepada kita, bahwa tidak ada tempat yang bisa untuk sholat melainkan disitu ada sekumpulan orang yang ikut menyolati jenazahnya, sehingga terkumpul pada saat itu satu juta orang. Orang-orang berlomba-lomba membukakan pintu-pintu rumahnya dijalanan dan pintu gerbang sambil mempersilahkan, ‘Siapakah yang ingin berwudhu”.[3] Beliau meninggal dunia pada hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 241 H. semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati beliau dengan rahmat -Nya yang luas. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla membalas beliau akan jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan mengumpulkan kita bersamanya dinegeri kenikmatan bersama para Nabi, Shidiqin, para syuhada serta orang-orang sholeh. Dan mereka adalah sebaik-baik teman.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة الإمام أحمد بن حنبل  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Siyar a’lamu Nubala 11/187.
[2] Siyar a’lamu Nubala 11/234.
[3] Siyar a’lamu Nubala 11/177-356.

Antara Banyak Dan Sedikit

ANTARA BANYAK DAN SEDIKIT

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al Atsari

Di antara kaidah yang diterapkan ulama adalah, bahwa “merebaknya suatu perbuatan tidak menunjukkan atas kebolehannya, sebagaimana tersembunyinya suatu perbuatan tidak menunjukkan atas dilarangnya.[1]

Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah (I/163) berkata, “Seyogyanya diketahui bahwa hal yang dilakukan banyak manusia adalah bertentangan dengan ketentuan syar’i dan hal tersebut masyhur di antara mereka dan banyak manusia yang melakukannya. Yang wajib bagi orang yang arif adalah tidak mengikuti mereka, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dan janganlah dia terpengaruh oleh hal tersebut setelah tersebar jika dalam kesendirian dan sedikitnya kawan”.

Syaikh Muhyiddin An-Nawawi berkata, “Janganlah manusia terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukan sesuatu yang dilarang melakukannya, yaitu kepadanya oleh orang yang tidak menjaga adab-adab ini. Laksanakanlah apa yang dikatakan Fudhail bin ‘Iyadh, ‘Janganlah kamu menganggap buruk jalan-jalan kebaikan karena sedikitnya orang yang melakukannya, dan janganlah kamu terpedaya dengan banyaknya orang-orang yang binasa’.”[2]

Abu Wafa’ bin ‘Uqail dalam Al-Funun berkata, “Barangsiapa yang keyakinannya lahir dari bukti-bukti dalil, maka akan hilang pada diri sikap ikut arus dan terpengaruh oleh perubahan kondisi orang banyak : أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْApakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?[3]

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang kokoh pendiriannya dalam berbagai keadaan, berbeda-beda berbagai kondisi tidak menjadikannya goyah ketika kaki-kaki jatuh tergelincir.”

Sampai dia berkata, “Dan terkadang seseorang Muslim sampai dipersempit kehidupannya. Dan sesungguhnya agama kami berlandaskan pada mengambil dunia dan kebaikan akhirat, maka siapat yang mencari kehidupan dunia dengan cara meninggalkan kebaikan akhirat maka dia salah jalan.”

Jika kita telah mengetahui hal tersebut maka tampak kebatilan argumen yang dibuat orang banyak yang jatuh ke dalam sebagian bid’ah dan hal-hal yang baru, “Bahwa mayoritas manusia melakukan ini,” atau alasan-alasan lain yang batil dan penakwilan-penakwilan yang tumpul.

Dalam buku saya “Dzam Al-Katsrat wal Mutakatstsirin” terdapat banyak keterangan dari ayat Al-Qur’an dan hadits yang mengecam orang yang terpedaya dengan paham mayoritas dan bangga dengan memperbanyak amal.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam “Ighatsah Al-Lahfan min Masyahid Asy-Syaithan” (hal. 132-135 -Mawarid Al-Aman) berkata :

“Orang yang cermat pandangannya dan benar imannya tidak akan merasa gelisah karena sedikitnya kawan dan bahkan dari tiadanya kawan jika hatinya telah merasa berteman dengan generasi pertama dari orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang membenarkan, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka kesendirian seseorang dalam pencariannya sebagai bukti kesungguhan dia dalam mencari kebenaran”.

Ishaq bin Rahawaih pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu dia menjawab. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya saudaramu Ahmad bin Hanbal mengatakan masalah ini seperti itu.” Maka dia menjawab, “Saya tidak menyangka bahwa seseorang sepakat denganku dalam masalah ini.”

Dia tidak merasa kesepian setelah tampak kebenaran baginya meskipun tidak ada yang sependapat dengannya. Sesungguhnya kebenaran jika telah tampak dengan jelas, maka tidak membutuhkan saksi yang mendukungnya. Sebab hati melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari. Maka, jika seseorang telah melihat matahari, dan berdasarkan keilmuan dan keyakinannya bahwa matahari telah terbit, maka dia tidak membutuhkan saksi untuk itu dan tidak membutuhkan orang untuk menyetujui atas apa yang dilihatnya.

Betapa bagusnya apa yang dikatakan Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma’il yang terkenal dengan Abu Syamah[4] dalam kitabnya tentang hal-hal baru dan bentuk-bentuk bid’ah[5], terdapat perintah memegang teguh jama’ah. Maka yang dimaksud denganya adalah, memegang teguh kebenaran dan mengikutinya, meskipun orang yang berpegang teguh kepadanya sedikit, sedangkan orang yang melanggarnya banyak. Sebab kebenaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh jama’ah pertama pada masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan shahabatnya, dan tidak diukur oleh banyaknya orang yang mengikuti bid’ah mereka.

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata, “Saya telah menyertai Mu’adz di Yaman, dan saya tidak berpisah dengannya hingga saya menguburkannya di Syam. Kemudian setelah itu, saya selalu menyertai orang terpandai dalam ilmu fiqh, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, maka saya mendengar dia berkata, “Hendaklah kalian memegang teguh jama’ah. Sebab tangan Allah di atas jama’ah”. Pada suatu hari saya mendengar dia berkata, ‘Akan memimpin kalian para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya, maka shalatlah kalian tepat pada waktunya, sebab demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama mereka karena shalat itu bagi kalian adalah tambahan (sunnah).’ Saya berkata, ‘Wahai shahabat Muhammad! Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan kepada kami?’ Ia berkata, “Apakah itu?’ Saya berkata, ‘Engkau memerintahkan aku berjama’ah dan menghimbauku kepadanya kemudian kamu berkata, ‘Shalatlah kamu sendirian, dan demikian itu adalah yang wajib, dan shalatlah kalian bersama jama’ah, dan dia sunnah?’ Ia berkata, ‘Wahai ‘Amr bin Maimun. Saya mengira kamu orang yang terpandai tentang fiqh dari penduduk negeri ini. Kamu mengerti, apa jama’ah itu?’ Saya berkata, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya mayoritas masyarakat adalah orang-orang yang berpaling dari jama’ah. Jama’ah adalah sesuatu yang sesuai kebenaran, meskipun kamu hanya sendirian’.”[6]

Dalam riwayat lain disebutkan, “Maka dia memukul pahaku dan berkata, ‘Celakalah kamu! Sesungguhnya mayoritas manusia berpaling dari jama’ah. Sesungguhnya jama’ah adalah apa yang sesuai dengan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.”

Nu’aim bin Hammad berkata, “Yakni, jika jama’ah telah rusak, maka kamu harus memegang teguh apa yang telah dilakukan jama’ah ketika sebelum rusak, meskipun kamu sendirian, maka sesungguhnya ketika itu kamu adalah jama’ah.”

Hasan Al-Bashri berkata, ‘Sunnah itu -demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia- di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang yang meremehkan. Maka bersabarlah kalian di atasnya, semoga Allah merahmati kalian. Sebab Ahlus Sunnah adalah minoritas di antara manusia pada masa lalu dan mereka juga manusia minoritas pada masa sesudahnya. Yaitu orang-orang yang tidak pergi bersama orang-orang yang bermewah-mewahan dalam kemewahan mereka, dan juga tidak besama orang-orang yang mengikuti bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar atas Sunnah hingga bertemu dengan Tuhan mereka. Maka dalam keadaan demikianlah kalian harus berada, insya Allah.’

Muhammad bin Aslam Ath-Thusi[7], seorang imam yang disepakati keimamannya adalah orang yang paling mengikuti sunnah pada masanya, hingga dia berkata, “Tidak sampai kepadaku Sunnah dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melainkan saya mengamalkannya. Dan sungguh saya ingin thawaf di Ka’bah dengan naik unta, namun tidak memungkinkan bagi saya untuk melakukannya. Hingga sebagai ulama pada msanya ditanya tentang As-Sawad Al-‘Azham yang disebutkan dalam hadits.

إذَأ اخْتَلَفَ النَّاسُ فَعَلَيكُمْ بِالسَّوَادِاْلأَعْظَمِ

Jika manusia berselisih maka hendaklah kalian memegang teguh As-Sawad Al-‘Azham.”[8]

Maka dia berkata, “Muhammad bin Aslam Ath-Thusi adalah As-Sawad Al-‘Azham.”[9]

Benar, demi Allah, bahwa di satu masa bila di dalamnya terdapat orang yang mengerti Sunnah dan menda’wahkannya, maka dia adalah hujjah, ijma’, jama’ah, dan jalan orang-orang Mukmin, barangsiapa memisahkandiri darinya dan mengikuti yang lainnya, maka Allah akan memalingkan dia kepada apa yang dia berpaling dan Allah akan memasukkan dia ke Jahannam, seburuk-buruknya tempat kembali.”[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:[11]
“Barangsiapa yang mempunyai pengalaman tentang ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya dan apa yang dilakukan orang-orang musyrik dan Ahli Bid’ah pada hari ini, niscaya dia akan mengetahui bahwa antara salaf dan mereka yang meninggalkannya terdapat jarak yang jauh lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat, dan bahwa mereka pada sesuatu, sedangkan salaf pada sesuatu yang lain, seperti dikatakan.

Ia berjalan ke timur dan kamu berjalan ke barat
Betapa jauhnya antara timur dan barat.

Dan perkaranya -demi Allah- lebih besar dari apa yang telah kami sebutkan.

Sesungguhnya Imam Bukhari dalam Ash-Shahih II/115 menyebutkan riwayat dari Ummu Darda’ Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Abu Darda’ mendatangi saya dengan marah, maka saya berkata kepadanya, ‘Ada apa?’ Ia berkata, “Demi Allah, saya tidak mengetahui pada mereka sesuatu pun dari perkara Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kecuali mereka semua mengerjakan shalat.”

Imam Bukhari[12] juga menyebutkan bahwa Az-Zuhri berkata, “Saya mendatangi Anas bin Malik di Damaskus dan dia sedang menangis. Maka saya berkata kepadanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis?” Ia berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang saya dapatkan kecuali shalat ini, dan shalat ini pun telah disia-siakan.”

“Ini adalah fitnah terbesar yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, “Bagaimana jika kalian telah diliputi fitnah di mana orang menjadi tua dan anak kecil tumbuh berkembang di dalamnya, dia berjalan pada manusia dan mereka menjadikannya sebagai sunnah, ketika hal itu diubah, dikatakan, “Sunnah telah diubah?” atau, “Ini adalah kemungkaran.”[13]

“Ini adalah salah satu dalil bahwa amal jika tidak sesuai Sunnah, maka tidak ada nilainya dan tidak boleh diperhatikan. Juga sebagai bukti bahwa amal tersebut telah berjalan pada arah yang berbeda dengan arah Sunnah sejak masa Abu Darda’ dan Anas.”[14]

Abul Abbas Ahmad bin Yahya[15] berkata, “Muhammad bin Ubaid bin Maimun bercerita kepadaku dari Abdullah bin Ishaq Al-Ja’fari, ia berkata, “Abdullah bin Hassan banyak duduk bersama Rabi’ah. Ia berkata, ‘Lalu pada suatu hari mereka menyebut tentang berbagai sunnah, maka seseorang yang ada di majelis itu berkata, ‘Apa yang dilakukan oleh manusia tidak seperti ini!’ Maka Abdullah berkata, ‘Bagaimana pendapatmu jika banyak orang bodoh berlaku sebagai para hakim, apakah mereka menjadi hujjah atas As-Sunnah?’ Maka Rabi’ah berkata, “Saya bersaksi bahwa ini adalah ucapan anak-anak para Nabi.”[16]

Maka, seorang Muslim yang sejati adalah orang yang tidak terkontaminasi oleh maraknya bentuk-bentuk bid’ah dalam memahami bentuk-bentuk sunnah. Sebab hal-hal yang telah mentradisi sebagaimana dia itu membangun beberapa pokok, dia juga menghancurkan beberapa pokok, dan dia sangat mendominasi. Maka, melepaskan dari cengkramannya membutuhkan latihan jiwa dan memaksakan diri dalam melaksanakan segala bentuk sunnah.[17]

Betapa indahnya riwayat yang disebutkan Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashhab Al-Hadits (hal.7) dengan sanad shahih dari Al-Auza’i rahimahullah:

Hendaklah kamu berpegang dengan riwayat-riwayat dari salaf, meskipun manusia menolak kamu, dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya kepadamu dengan perkataan yang manis.”

Dan Allah adalah yang memberikan petunjuk kepada jalan kebenaran.

[Dislain dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimah Fi Ilmi Ushul Al-Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah, Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Kautsar, Oktober 2000, hal. 168-173]
_____
Footnote
[1] Al-Hawadits wal Bida’:71 dan lihat Marwiyyat Du’a Khatmi Al-Qur’an : 66
oleh Syaikh Bakr bin Abu Zaid, maka di dalamnya terdapat tambahan
penjelasan
[2] Tasyabbuh Al-Khasisi (hal. 33 dengan tahqiq saya) oleh Adz-Dzahabi
[3] QS Ali ‘Imran/3 : 144
[4] Abu Syamah wafat pada tahun 655 h. Lihat biografinya dalam Tadzkirah Al-Huffadz IV/1460
[5] Yaitu dalam kitabnya Al-Baits ‘ala Inkar Al-Bida’ wal Hawadits 19-20, dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi menukil darinya dalam Syarah Ath-Thahawiyah 362
[6] Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam As-Sunnah nomor 160, dan lihat buku saya Ad-Da’wah Ilallah 89-95 pasal Al-Jama’ah Musthalah wa Bayan
[7] Wafat tahun 242 H. Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala’ XII/195
[8] HR. Ibnu Majah 2950, Ibnu Abi ‘Ashim 84 dan Al-Lalikai 153 dari Anas, dan sanadnya sangat dha’if. Sebab di dalamnya terdapat Abu Khalaf al-Makfuf yang nama aslinya Hazim bin ‘Atha’. Ia ditinggalkan sekelompok ulama dan dinyatakan pendusta oleh Ibnu Ma’in
[9] Hilyah Al-Auliya IX/238-239 dan darinya Adz-Dzahabi meriwayatkannya dalam Siyar An-Nubala’ XII/196
[10] Sebagaimana diisyaratkan dalam surat An-Nisa/4 :115
[11] Ighatsah Al-Lahfan:271-273
[12] Nomor 530 dan lihat An-Nukat Azh-Zhirat I/385
[13] HR. Ad-Darimi I/64 dan Al-Hakim IV/514 dan lihat takhrijnya dalam buku saya Arba’i Asy-Syakhsyiyyah Al-Islamiyyah no. 40
[14] Ini adalah perkataan yang benar, wajib dicatat dengan tinta emas!
[15] Dia adalah Imam Tsa’labi yang masyhur (wafat 291 H). Lihat biografinya dalam Siyar An-Nubala’ XIV/5 oleh Adz-Dzahabi
[16] Al-Ba’its ‘ala A’lam Inkar Al-Bida’ wal Hawadits hal. 51 oleh Abu Syamah.
[17] Lihat Marwiyyat Du’a Khatmi Al-Qur’an hal. 75 oleh Syaikh Bakar bin Abu Zaid

Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum

DAFTAR ISI

  1. Ghadir Khum
  2. Sebelum Berwasiat
  3. Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Al-Qur’an Pedoman Hidup
  5. Memuliakan Ahlu Bait
  6. Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu
  7. Bersama Surat Al-Ma’idah ayat 67
  8. Untuk Ulil Albab yang Jujur
  9. Hikmah Diakhirkannya Ali Sebagai Khalifah
  10. Penutup

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para Sahabatnya serta para pengikutnya yang tetap setia mengikuti jejak beliau sampai akhir zaman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segenap kasih sayang pada umatnya, banyak menyampaikan wasiat untuk menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan. Namun demikian, mungkin masih ada dari kaum muslimin pecinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pecinta keluarga beliau serta pecinta para Sahabat yang belum mengetahui wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ghadîr Khum.

Penulis dengan segala keterbatasan, pada kesempatan ini berusaha untuk saling berbagi ilmu mengenai wasiat tersebut. Dengan ilmu, diharapkan kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.

Ya Rabb, tambahkanlah untukku ilmu, dan karuniakanlah kepadaku pemahaman, âmîn.

Buku yang ada di hadapan pembaca ini akan mengulas tentang kejadian yang melatarbelakangi wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ghadir Khum dan bagaimana memahami kandungan wasiat tersebut.

Penulis merasa terpanggil untuk ikut serta dalam upaya perbaikan, “Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan semampuku. Tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepadaNya lah aku kembali.”

Melihat kenyataan pahit tentang kondisi umat, kita harus tetap optimis dan berusaha untuk menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapatkan hidayah dan menjadi penyebab dan perantara agar saudara-saudara kita juga mendapatkan hidayah.

Ya Allah berilah hidayah dalam hal-hal yang kami perselisihkan berupa kebenaran dengan izinMu, sesungguhnya Engkau memberi hidayah kepada siapa pun yang Engkau kehendaki… âmîn.

Tidak ada gading yang tak retak, penulis meminta kepada para pembaca untuk memberikan saran, masukan dan kritik yang membangun atas tulisan ini. Semoga Allah menjadikan buku ini sebagai ilmu yang bermanfaat sekaligus sebagai amal jariyah yang terus mengalir untuk penulis, keluarga penulis, editor, saudara-saudara yang memberi saran dan kritik yang membangun, serta siapapun yang memiliki andil dalam menyebarluaskan tulisan ini, agar pahala terus mengalir meskipun kita telah wafat dan terbujur di dalam kubur, âmîn.

Terakhir, penulis ucapkan terimakasih kepada kakak-kakak pembimbing, teman-teman, dan adik-adik yang telah memberikan saran, masukan serta kritik atas tulisan ini sebelum dipublikasikan. Semoga Allah membalas kebaikan mereka, menjadikan amalan mereka dalam timbangan kebaikan di hari ketika tidaklah bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menemui Allah dengan hati yang selamat.

Cirebon, 19 Dzulqa’dah 1441 H / 11 Juli 2020M
Fariq Gasim Anuz

[Disalin dari Buku Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum, Penulis Fariq Gasim Anuz]

Ghadir Khum

GHADIR KHUM

Ghadîr Khum adalah nama sebuah tempat di antara Makkah dan Madinah. Jarak ke Ghadir Khum dari Makkah sekitar 159 km dan dari Madinah sekitar 196 km. Ghadir Khum sekarang diberi nama Al-Ghurabah, jaraknya dari Juhfah sekitar 6,5 km dan dari Rabigh sekitar 18 km.[1] Jalan menuju Ghadir Khum bukanlah jalan yang biasa dilalui oleh bus-bus jamaah haji atau umrah dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya. Ghadir Khum merupakan tempat berupa lembah yang banyak ditumbuhi pohon samur yang rindang. Ia merupakan dataran yang terhampar rendah, dahulu di tempat tersebut terdapat mata air atau sumur.

Khum adalah nama seorang laki-laki tukang celup, Ghadir disandarkan kepadanya. Sementara Ghadir sendiri secara bahasa bermakna cekungan atau dataran rendah yang menampung genangan air hujan.[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah singgah di sana bersama sekitar 70 ribu Sahabat pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H (16 Maret 632 M) dalam perjalanan pulang ke Madinah setelah selesai menunaikan haji Wada’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabat berangkat dari Makkah hari Rabu tanggal 14 Dzulhijjah. Hari itu merupakan hari perpisahan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kota Makkah, dengan Ka’bah dan dengan Masjidil Haram. Perjalanan dari Makkah ke Ghadir Khum ditempuh sekitar empat hari dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat 84 hari setelah beliau berwasiat di Ghadir Khum.

[Disalin dari Buku Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum, Penulis Fariq Gasim Anuz]
______
Footnote
[1] Hadîtsul Ghadîr halaman 29-30.
[2] Mu’jam Al-Buldân (2/389).

Sebelum Berwasiat

SEBELUM BERWASIAT

Di Ghadir Khum ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah memberi wasiat dan secara khusus memuji sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Sebelum kita melihat isi wasiat dan pujian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sayyidina Ali Radhiyallahu anhu, ada baiknya kita mengetahui kronologis yang melatarbelakangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat di Ghadir Khum tersebut.

Di tahun 10 H, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Khalid bin Walid Radhiyallahu anhu dan pasukannya ke Yaman untuk berdakwah dan bertempur dengan orang-orang yang menghalangi dakwah. Pasukan Khalid menang dalam suatu pertempuran dan mendapatkan rampasan perang. Khalid mengirim pesan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah agar mengirim utusan untuk mengambil seperlima dari rampasan perang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengutus Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu bersama tiga ratus orang pasukannya ke Yaman untuk berdakwah, menjadi hakim, dan untuk mengambil seperlima dari rampasan perang pasukan Khalid. Ali diutus ke Yaman di bulan Ramadhan tahun 10 H, enam bulan setelah Khalid diutus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Ali membawa rampasan perang ke Makkah dan bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sana untuk bersama-sama menunaikan ibadah haji. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Khalid dan pasukannya agar pulang ke Madinah, kecuali bagi tentara Khalid yang hendak bergabung dengan pasukan Ali maka dipersilakan untuk bergabung.

Dalam aturan jihad, rampasan perang dibagi untuk mujahidin sebanyak empat perlima bagian di luar gaji atau mukafa’ah yang rutin mereka terima sebagai tentara kaum muslimin. Yang seperlima diserahkan kepada Imam (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau khalifah atau pemimpin kaum muslimin). Pembagian seperlima ini sesuai dengan aturan Allah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum kerabat beliau, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu Sabil (para musafir yang kekurangan bekal), sebagaimana tercantum dalam surat Al-Anfal ayat 41. Harta rampasan bisa berupa uang, senjata, hewan, pakaian, termasuk para tawanan. Para tawanan ini statusnya menjadi budak bagi kaum muslimin.[1]

Ali telah menerima seperlima harta rampasan perang dari pasukan Khalid. Di antara seperlima rampasan perang yang diterima Ali di Yaman, ada seorang budak perempuan. Budak perempuan tersebut dibawa masuk ke kemah Ali, kemudian Ali keluar kemah dan mandi. Kejadian ini membuat sebagian sahabat yang ikut berperang marah dan kesal atas sikap Ali. Kebanyakan dari para tentara itu merupakan orang-orang yang baru masuk Islam, seperti Buraidah Al-Aslami Radhiyallahu anhu(masuk Islam tahun 7 H) dan Khalid bin Walid Radhiyallahu anhu (masuk Islam tahun 8 H). Kemungkinan mereka belum tahu bahwa Ali berhak mendapat bagian dari rampasan perang tersebut. Atau mereka beranggapan bahwa Ali telah berbuat lancang menerima harta rampasan perang untuk dirinya sendiri, padahal menurut mereka seharusnya diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu.

Seorang Sahabat sempat menegur Ali tentang apa yang diperbuatnya. Ali menjelaskan bahwa beliau mendapatkan hak untuk memiliki rampasan perang karena beliau termasuk keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Budak perempuan tersebut termasuk bagian miliknya. Ali berijtihad bahwa beliau berhak mendapat bagian dari seperlima rampasan perang yaitu untuk kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan nash Al-Quran. Beliau yakin ketika memanfaatkan sesuatu dari rampasan perang tersebut termasuk menggauli budak yang menjadi miliknya bukanlah merupakan pelanggaran syariat.

#####

Pasukan Khalid pulang ke Madinah, sedangkan Ali dan rombongan masih di Yaman berdakwah dan menjadi hakim di sana. Rampasan perang tidak dibawa oleh pasukan Khalid melainkan akan dibawa oleh Ali dan pasukannya ke Makkah. Ali akan menyerahkan rampasan perang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah saat haji nanti. Ketika pasukan Khalid sampai di Madinah, mereka menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Buraidah yang datang ke Madinah sebelum rombongan pasukan Khalid, melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas sikap Ali dan berbincang berdua dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan sikap Ali dan menasihati Buraidah.

Dari Buraidah ia berkisah, “Aku berperang bersama Ali di Yaman, aku melihat sikap dingin darinya. Ketika aku pulang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menceritakan tentang Ali dan merendahkannya. Aku melihat rona wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah, lalu beliau bersabda, “Wahai Buraidah bukankah aku lebih utama bagi kaum mukminin melebihi diri mereka?” Aku menjawab, “Benar wahai Rasulullah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Barangsiapa menjadikan aku sebagai wali, maka jadikan Ali juga sebagai wali.”[2]

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali untuk menemui Khalid (bin Walid) agar mengambil seperlima harta rampasan perang. Aku adalah orang yang membenci Ali, ketika itu dia telah mandi. Lalu aku berkata kepada Khalid, “Apa kau tidak melihat apa yang dilakukannya?” Tatkala aku datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sampaikan kepada beliau tentang Ali. Beliau bertanya, “Wahai Buraidah! Apakah kamu membenci Ali?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kamu jangan membencinya karena sebenarnya ia berhak mendapatkan harta rampasan perang lebih dari itu (lebih dari sekedar seorang budak perempuan).”[3]

Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur, Buraidah tidak lagi membenci Ali bahkan beliau sangat mencintainya. Buraidah berkata, “Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih aku cintai dari Ali.”[4]

Imran bin Hushain bersama tiga kawannya juga melaporkan sikap Ali tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun marah kepada para pelapor dan membenarkan sikap Ali. Beliau melihat ada benih ketidaksukaan dari sebagian Shahabat kepada Ali, dan beliau khawatir hal itu akan berlanjut sampai setelah beliau wafat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan mereka bahwa Ali adalah wali bagi setiap mukmin dan memerintahkan mereka untuk mencintai Ali.

Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, beliau bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan. Beliau mengutus Ali untuk mengambil harta rampasan perang. Ali menemui pasukan perang dan mengambil seorang tawanan (budak) wanita, kemudian beliau menggaulinya. Para Sahabat mengingkari sikap Ali tersebut. Ada empat Sahabat yang berjanji, jika kita bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kita adukan kepada beliau apa yang dilakukan Ali. Kebiasaan kaum muslimin, sepulang mereka dari safar (yang merupakan tugas dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), mereka memulai dengan menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberi salam (dan laporan) kepada beliau, kemudian baru kembali ke rumah masing-masing. Ketika pasukan perang ini sampai (di Madinah), mereka memberi  salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu salah satu dari empat orang sahabat melaporkan, “Wahai Rasulullah, tahukah anda bahwa Ali telah melakukan demikian dan demikian.” Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dan tidak mengindahkan laporannya. Orang yang kedua bergantian melaporkan hal yang sama, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak mempedulikannya. Orang yang ketiga juga demikian melaporkan hal yang sama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak mempedulikannya, sampai giliran orang yang keempat melaporkan yang sama dengan tiga teman sebelumnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya, wajah marah nampak pada beliau, lalu berkata,

مَاتُرِيدُونَ مِنْ عَلِيٍّ؟ مَاتُرِيدُونَ مِنْ عَلِيٍّ؟ مَاتُرِيدُون مِنْ عَلِيٍّ؟ إِنَّ عَلِيًّامِنِّي وَأَنَامِنْهُ، وَهُوَوَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي

“Apa yang kalian inginkan dari Ali? Apa yang kalian inginkan dari Ali? Apa yang kalian inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali bagian dariku dan aku bagian darinya. Dia menjadi kekasih setiap mukmin sepeninggalku.”[5]

#####

Kejadian lain yang melatarbelakangi adanya khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ghadir Khum, adanya sebagian Sahabat dari rombongan Ali Radhiyallahu anhu yang marah dan kesal kepada Ali atas sikapnya yang memberatkan mereka.

Kisahnya, Ali dan rombongan bertolak dari Yaman menuju Makkah membawa rampasan perang, harta zakat dan hadiah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa unta yang banyak, baju-baju baru, dan lainnya. Dalam perjalanan ke Makkah Ali mendahului rombongan ke Makkah dan mewakilkan kepada seseorang untuk menjadi pimpinan rombongan. Ali berpesan agar rombongan jangan menaiki unta-unta zakat dan jangan mengenakan baju-baju baru.

Ali berjumpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah, ketika rombongan pasukan Ali dari Yaman sampai di Makkah, Ali menemui rombongan dan melihat sebagian pasukannya memakai pakaian baru dan mendapat informasi bahwa unta-unta zakat telah dinaiki oleh sebagian anak buahnya.

Dalam keterangan yang lain, Ali masih ada urusan di Yaman dan meminta wakilnya dan rombongan berangkat terlebih dahulu ke Makkah, beliau akan menyusul. Setelah beliau menyusul di tengah perjalanan, beliau mendapatkan sebagian anak buah melanggar larangannya untuk tidak menaiki unta-unta zakat dan jangn mengenakan baju baru milik Negara.

Ali pun marah besar kepada wakilnya dan juga kepada anak buahnya yang melanggar. Ali marah karena tidak sepantasnya dan tidak boleh mereka memanfaatkan barang yang bukan miliknya. Unta-unta yang dinaiki akan menjadi letih dan lemah, berarti mereka telah merugikan barang milik orang lain. Termasuk juga baju-baju baru, itu bukan milik mereka dan tidak berhak mereka pakai. Ali memerintahkan para anak buahnya untuk turun dari unta-unta zakat dan melepaskan baju baru yang mereka kenakan. Ali sangat menjaga amanat untuk diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian Sahabat marah dan kesal atas sikap Ali yang menurut mereka bersikap kaku dan keras. Alasan mereka menaiki unta-unta zakat karena unta-unta mereka telah letih, sedangkan unta-unta zakat terlihat masih kuat. Ketika mereka sampai di Makkah, mereka mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sikap Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan sikap Ali dan melarang mereka membenci Ali.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan pulang ke Madinah dan sampai di tempat yang bernama Ghadir Khum, beliau berkhutbah di hadapan para Sahabat yang masih menyimpan kekesalan kepada Ali dan kepada mereka yang mungkin telah mendengar desas desus yang mendiskreditkan Ali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan memberikan pembelaan kepada Ali dan berwasiat agar para Sahabat dan kaum muslimin semuanya memuliakan keluarga beliau.[6]

Ibnu Katsir berkata :
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di lembah antara Makkah dan Madinah sepulang dari haji Wada’, di daerah dekat Juhfah yang bernama Ghadir Khum. Di sana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan Ali bin Abi Thalib dan beliau membersihkan nama baik Ali dari setiap komentar miring beberapa Sahabat yang membersamai Ali dari Yaman lantaran kebijakan Ali terhadap mereka yang dianggap sebagai tindakan kezaliman dan bakhil. Padahal yang benar adalah sikap Ali. Karena itu setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan manasik haji, di tengah perjalanan pulang ke Madinah pada tanggal 18 Dzulhijjah bertepatan dengan hari Ahad, beliau singgah di Ghadir Khum lalu beliau berkhutbah di bawah pohon dengan khutbah yang agung. Beliau jelaskan beberapa hal dan menyebutkan keutamaan Ali, amanahnya, keadilannya, dan kedekatannya dengan beliau. Dengan khutbah tersebut hilanglah ganjalan-ganjalan di hati banyak orang terhadap Ali.”[7]

[Disalin dari Buku Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum, Penulis Fariq Gasim Anuz]
_____
Footnote
[1] Lihat Fiqhussunnah (2/675).
[2] HR. Ahmad No. 22945. Syaikh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah berkata, “Isnadnya shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.
[3] HR. Al-Bukhari No. 4093, Ahmad No. 23086.
[4] Syarhu Musykilil Âtsâr No. 3041 (8/58).
[5] HR. At-Tirmidzi No. 4045, An-Nasai di Sunan Al-Kubra No. 8420, Ahmad No. 19928, Ibnu Hibban No. 6929, dan lainnya. At-Tirmidzi berkata: Hasan Gharîb, dan dishahihkan oleh Albani. Syu’aib Al-Arnauth berkata: Sanadnya kuat. (Sumber: Buku “Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu” oleh Abdus Sattar Asy-Syaikh, halaman 88-89)
[6] Dalâilun Nubuwwah (5/398-399).
[7] Al-Bidâyah Wan Nihâyah(7/397).

Wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

WASIAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih waktu yang sangat tepat untuk berkhutbah setelah shalat Zhuhur, yaitu setelah para Sahabat cukup istirahat. Dr. Utsman Al-Khamis dalam ceramahnya berkata bahwa kebiasaan para musafir di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berangkat setelah Ashar dan berhenti saat Shubuh, diselingi istirahat sebentar untuk shalat Maghrib dan Isya.

Para Sahabat istirahat sebelum Zhuhur sehingga setelah Zhuhur sudah dalam keadaan segar dan siap mendengarkan khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai khutbahnya dengan menyebut bahwa telah dekat ajal beliau, mengisyaratkan bahwa khutbahnya merupakan khutbah perpisahan dan isinya penting untuk diketahui, sehingga para Sahabat sangat perhatian dan ingin tahu apa wasiat yang akan beliau sampaikan.

Berikut ini khutbah dan wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ghadir Khum yang dikisahkan oleh Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu:

أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ، أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ، وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى.

“Amma ba’du, ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku adalah manusia, sudah dekat masanya utusan Tuhanku (malaikat maut) akan datang (menjemputku) dan aku akan menerimanya. Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang sangat berharga, yang pertama adalah kitabullah (Al-Quran), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, ambillah (isi) kitabullah dan pegang teguhlah. Yang kedua, aku tinggalkan kepada kalian Ahlu Baitku. Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku! Aku ingatkan kalian (agar bertakwa) kepada Allah dengan (memuliakan dan tidak menzalimi) Ahlu Baitku!”[1]

Setelah selesai khutbah singkat, beliau bertanya, “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukminin melebihi diri mereka sendiri?” Pertanyaan yang membuat para Sahabat lebih memperhatikan beliau lagidan penasaran untuk mendengar apa yang akan disampaikan setelah itu. Lalu beliau menghampiri Ali, mengangkatnya untuk berdiri bersama dan menggandeng tangannya lalu bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيّ مَوْلَاهُ، اللَّهُمّ وَالِ مَن وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka jadikan Ali juga sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintai Ali. Ya Allah musuhilah orang yang memusuhi Ali.”[2]

Ketika Ali menjabat sebagai khalifah, ia pernah mengumpulkan manusia di Rahbah (nama tempat di Iraq), kemudian berkata kepada mereka, “Aku bersumpah dengan nama Allah, setiap muslim yang mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di Ghadir Khum hendaklah berdiri!” Maka berdirilah tiga puluh orang, mereka menjadi saksi ketika beliau memegang tangan Ali lalu beliau bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَامَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَال مَنْ وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Barangsiapa menjadikanku sebagai walinya maka jadikanlah Ali sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah siapapun yang melindungi Ali, dan musuhilah siapapun yang memusuhi Ali.”

Abu Thufail yang hadir saat itu bertutur, “Aku pergi meningalkan forum dengan ganjalan di hati, lalu aku berjumpa Zaid bin Arqam dan kuceritakan apa yang terjadi, “Aku mendengar Ali berkata demikian dan demikian!” Zaid menanggapi, “Jangan kamu ingkari. Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memang berkata begitu kepada Ali.”[3]

Pada kesempatan lain di Kufah, Ali bin Abi Thalib berkata di atas mimbar, “Demi Allah, saya meminta seseorang bersaksi, dan yang saya minta bersaksi hanyalah para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa di antara kalian yang mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari Ghadir Khum,

اللَّهُمَّ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِمَنْ عَادَاهُ

“Ya Allah, siapa yang telah menjadikanku walinya maka Ali juga menjadi walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang memusuhi Ali.”

Maka bangkitlah enam orang dari samping mimbar dan bangkit pula enam orang dari samping lainnya, mereka menjadi saksi bahwa mereka mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang demikian.”[4]

Bagaimana perasaan gembira Ali bin Abi Thalib setelah sebelumnya sebagian para Sahabat kesal dan marah kepada beliau. Pernyataan tegas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan ungkapan kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam persahabatan beliau dengan Ali. Ali masuk Islam sejak awal dakwah dan berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh pengorbanan dan loyalitas. Pujian beliau kepada Ali benar-benar mencairkan suasana dan melembutkan hati para Sahabat, sehingga hilanglah perasaan benci dari sebagian Sahabat yang sebelumnya kesal kepada Ali, dan tumbuh perasaan cinta yang mendalam kepada Ali lantaran kecintaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari Buku Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum, Penulis Fariq Gasim Anuz]
______
Footnote
[1] HR. Muslim No. 2408.
[2] HR. Ahmad No. 18479.Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/330).
[3] HR. Ahmad No. 19302 dan Ibnu Hibban No. 6931. Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/331).
[4] HR. An-Nasai No. 8419. Lihat Silsilah Ash-Shahîhah (4/337-340).

Al-Quran Pedoman Hidup

AL-QURAN PEDOMAN HIDUP

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa ajalnya sudah dekat. Ketika haji beliau pun berkhutbah bahwa mungkin beliau tidak akan berjumpa lagi dengan para Sahabat tahun depan.

Di Ghadir Khum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada para Sahabat dan kepada kita agar berpegang teguh dengan Al-Quran yang merupakan petunjuk dan cahaya bagi manusia. Al-Quran merupakan penjelas atas petunjuk dan pembeda antara hak dan batil. Al-Quran merupakan rahmat dan obat, jangan sampai umat sepeninggal beliau menyia-nyiakan Al-Quran dengan tidak membacanya, tidak mempelajari isinya dan tidak mengamalkannya.

Jika seseorang menjauh dari Al-Quran maka Allah akan menjadikan kehidupannya sempit dan di akhirat menjadi buta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta.” (Surat Thâha: 124)

Orang yang menjauh dari Al-Quran akan disesatkan dan semakin jauh dari kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.”(Surat An-Nisâ’: 60)

Mereka yang menjauh dari Al-Quran akan menjadi teman setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (yaitu Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.” (Surat Az-Zukhrûf: 36)

Mereka yang berpegang teguh dengan Al-Quran akan taat kepada Allah yang memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berpegang teguh dengan Al-Quran dia akan mencintai Sahabat dan memuliakan Ahlu Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik.

Orang yang mengikuti Al-Quran akan bertutur kata yang santun, tidak berdusta, apalagi berdusta atas nama Allah, RasulNya dan Ahlu Baitnya. Orang yang mengikuti Al-Quran tidak memiliki sifat hasad bahkan hatinya bersih dan bening sehingga mudah mendapatkan hidayahNya.

Ya Allah jadikanlah kami sebagai ahli Al-Quran dan rahmatilah kami dengan Al-Quran.

[Disalin dari Buku Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum, Penulis Fariq Gasim Anuz]