Author Archives: editor

Memandang Wajah Allah Azza wa Jalla Anugrah Terbesar di Surga

MEMANDANG WAJAH ALLAH AZZA WA JALLA ANUGERAH TERBESAR DI SURGA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Salah satu prinsip dasar Ahlus sunnah wal jamâ’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para Ulama salaf adalah kewajiban mengimani bahwa kaum Mukminin akan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla yang maha mulia di akhirat nanti. Ini adalah balasan terhadap keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla semasa hidup di dunia.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,, salah seorang imam Ahlus sunnah wal jamâ’ah di zamannya, menegaskan prinsip dasar Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau rahimahullah, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum Mukminin) akan melihat (wajah Allâh Azza wa Jalla yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1]
Imam Ismail bin Yahya al-Muzani rahimahullah berkata[2], “Pada hari kimat, para penghuni surga akan melihat (wajah) Rabb mereka (Allâh Azza wa Jalla), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allâh Azza wa Jalla, sehingga wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan dengan karunia-Nya mata-mata mereka akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3].

Demikian pula imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah[4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allâh Azza wa Jalla bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tidak menyeluruh (artinya, tidak melihat secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an) :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat [al-Qiyâmah/75:22-23]

Penafsiran ayat ini haruslah sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].

DASAR PENETAPAN AQIDAH INI
1. Firman Allâh Azza wa Jalla:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat [al-Qiyâmah/75:22-23]

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla dengan mata mereka di akhirat nanti. Karena dalam ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilâ” yang berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka. Artinya mereka melihat wajah Allâh Azza wa Jalladengan indera penglihatan mereka.[6]
Bahkan firman Allâh Azza wa Jalla ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allâh Azza wa Jalla. Dan waktu mereka melihat wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan[7].

2. Firman Allâh Azza wa Jalla:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allâh Azza wa Jalla). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya [Yûnus/10:26]

Kata “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu dengan kenikmatan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allâh Azza wa Jalla[8]. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Jika penghuni surga telah masuk surga, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (yang artinya) “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga) ?” Maka mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka ?” Maka (pada waktu itu) Allâh membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allâh Azza wa Jalla”. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas.[9]
Dalam hadits ini dengan gamblang, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allâh Azza wa Jallaadalah kenikmatan paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan lainnya di surga.[10]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allâh yang maha mulia. Karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allâh berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allâh”[11].

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab beliau Ighâtsatul Lahafân[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (yaitu melihat wajah Allâh Azza wa Jalla) merupakan balasan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau rahimahullah menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih, “Aku meminta kepada-Mu (ya Allâh) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13]
3. Firman Allâh Azza wa Jalla:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Mereka di dalam surga memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (yaitu melihat wajah Allâh Azza wa Jalla). [Qâf/50:35]

4. Firman Allâh Azza wa Jalla:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka [al-Muthaffifin/83:15]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini, beliau rahimahullah berkata, “Ketika Allâh Azza wa Jalla menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka).”[14]
Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allâh Subhanahu wa Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].

Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah z bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16]

KERANCUAN DAN JAWABANNYA
Demikian jelas dan gamblang keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Namun, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].

Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:
1. Mereka berdalih dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allâh Azza wa Jallaberfirman, “Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman [al-A’râf/7:143]

Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menolak permintaan nabi Musa Alaihissallam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jallatidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].

Jawaban Terhadap Syubhat Ini :
1. Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para Ulama ahli bahasa arab.

Ibnu Malik, salah seorang Ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya :

Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya
Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]
Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allâh Azza wa Jalla menolak permintaan nabi Musa Alaihissallam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allâh) Azza wa Jalla sampai dia mati (di akhirat nanti).[21]
Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Abu Dzar Radhiyallahu anhu :

هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allâh Azza wa Jalla) ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya ?[22]

Oleh karena itulah, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allâh Azza wa Jalla) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allâh”[23]

2. Permintaan nabi Musa Alaihissallam dalam ayat ini untuk melihat Allâh Azza wa Jalla justru menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mungkin untuk dilihat. Karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa Alaihissallam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allâh Azza wa Jalla. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allâh Azza wa Jalla hanya dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya. Sementara nabi Musa Alaihissallam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau Alaihisallam adalah termasuk nabi Allâh Azza wa Jalla yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24].

Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

3. Mereka berdalih dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui [al-An’âm/6:103]

Jawaban Atas Syubhat Ini:
1. Sebagian dari Ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini dengan, “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya.”[25]

2. Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla hanya menafikan al-idrâk yang berarti al-ihâthah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa mengetahuinya secara keseluruhan?[27]

3. al-Idrâk (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus (spesifik) dibandingkan dengan kata ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-idrâk menunjukkan adanya ar-ru’yah (melihat Allâh Azza wa Jalla), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan keberadaan sesuatu yang lebih umum[28].

Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

PENUTUP
Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut.”[29]
Akhirnya kami berdoa kepada Allâh Azza wa Jalladengan doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

Aku meminta kepada-Mu (ya Allâh) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Kitab Ushûlus Sunnah (hlm. 23, cet. Dârul Manâr, Arab Saudi).
[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syâfi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab Siyaru a’lâmin Nubalâ (12/493).
[3] Kitab Syarhus Sunnah, al-Muzani (hlm. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah)
[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salâmah, imam besar dan penghafal hadits Rasûlullâh n (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab Siyaru A’lâmin Nubalâ’” (27/15).
[5] Kitab Syarhul Aqîdatith Thahâwiyyah (hlm. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).
[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/448).
[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 899).
[8] Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/452).
[9] HSR Muslim dalam Shahîh Muslim (no. 181).
[10] Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/453).
[11] Kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/262).
[12] Mawâridul Amân, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H, hlm. 70-71 dan 79
[13] HR an Nasa-i dalam as-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/264), Ibnu Hibbân dalam Shahîhnya (no. 1971) dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibbân, al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani dalam Zhilâlul Jannah fii Takhrîjis Sunnah (no. 424).
[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).
[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).
[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).
[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[18] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/469) dan Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/455).
[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/456).
[20] Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 302) dan Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/456).
[21] HSR Muslim (no. 169).
[22] HSR Muslim (no. 291).
[23] HSR Muslim (no. 177).
[24] Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[26] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[27] Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[28] Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab an-Nihâyah fiil Fitani wal Malâhim (hlm. 127).

Kekhususan (Karakteristik) Al-Arsy

KEKHUSUSAN (KARAKTERISTIK) AL-ARSY

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan Al-Arsy dengan beberapa kekhususan yang membedakanya dari sekalian makhluk yang lain karena Al-Arsy memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kata Al-Arsy sebanyak dua puluh satu kali didalam Al Quran dan hal ini menunjukkan ketinggian kedudukan dan martabat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji dirinya dalam banyak ayat dengan mengatakan dialah pemilik Al-Arsy yang agung dan besar lagi mulia, seperti dalam firmanNya.

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.[At-Taubah/9:129]

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Katakanlah:”Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” [Al-Mu’minuun/23:86]

ذُوالْعَرْشِ الْمَجِيدُ

Yang mempunyai singgasana, lagi Maha Mulia.[Al-Buruuj/85:15]

فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.[Al-Mu’minun/23:116]

Dalam ayat-ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifatkan kepada kita bahwa Al-Arsy itu agung dan mulia, agung karena dia adalah makhluk yang paling besar dan paling tinggi sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikanya sebagai tempat bersemayamNya dan mulia karena dia memiliki kedudukan yang berbeda dari makhluk-makhluk yang lainnya dan dia memiliki sifat-sifat yang tinggi dan mulia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلاَقِ

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). [Al-Mu’min/40:15]

Juga menunjukkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketinggian ArsyNya yang berada diatas seluruh makhluqnya apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak menghubungkannya dengan namanya “Arrohman” yang tentunya mengandung satu keistimewaan yang tidak dimiliki selainnya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.[Thaahaa/20:5]

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَسْئَلْ بِهِ خَبِيرًا

Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. [Al-Furqaan/25:59]

Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada diatas makhluk yang paling luas dan paling besar yang dapat melingkupi seluruh makhluk yang lainnya.

Oleh karena itu perlulah kita mengetahui kekhususan-kekhususan Al-Arsy yang diberikan Allah Subahnahu wa Ta’ala kepadanya.

DIANTARA KEKHUSUSANNYA.
1. Tempat Bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini merupakan kekhususan yang paling besar dan agung yang dimiliki Al Arsy dimana karena inilah Al Arsy memiliki kekhususan-kekhususan yang lainnya.

Masalah bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Al Arsy telah ditunjukkan oleh Alkitab dan Assunnah, disebutkan dalam Al Quran sebanyak tujuh tempat dan tentunya penyebutan yang berulang-ulang ini menegaskan keagungan dan arti pentingnya Al Arsy ditambah dengan banyaknya hadits-hadits yang menunjukkan dengan tegas kebenaran hal tersebut.

Sesungguhnya madzhab salaf dari para sahabat, tabiin dan yang lainnya berpendapat bahwa Allah Subhanhu wa Ta’ala bersemayam diatas Al Arsy dengan tanpa takyif (membagaimanakannya), tamtsil (menyerupainya dengan makhluk), tahrif (menyelewengkan makna yang sebenarnya) dan ta’thil (menolaknya)[1], karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam diatas ArsyNya dengan persemayaman yang sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Adapun hakikat bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diketahui oleh kita dan bertanya tentang hal itu satu kebidahan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memperlihatkan kepada kita hakikat dzatNya, maka bagaimana kita dapat mengetahui bagaimana bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia yang berfirman:

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang
dikehendaki-Nya
. [Al-Baqarah/2:255]

2. Al-Arsy Adalah Makhluk Yang Tertinggi Dan Menjadi Atapnya Para Makhluk Yang Lain.
Diantar kekhususan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Al Arsy adalah menjadikannya sebagai makhluk paling dekat denganNya dan yang paling tinggi lebih tinggi dari langit, bumi dan syurga dan dia merupakan atapnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia adalah tengah-tengah surga dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.[2]
Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamaniin dalam kitabnya Ushulus-Sunnah: Dan dari pendapat Ahlus Sunnah adalah Allah telah menciptakan Al-Arsy dan mengkhususkannya dengan berada diatas dan ketinggian diatas semua makhluqNya kemudian bersemayam diatasnya.[3]
Ketinggian Al Arsy sebagai makhluk yang paling tinggi menunjukkan secara langsung bahwa dia adalah makhluk yang paling dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hal ini sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu.

بَيْنَ السَمَاء السَابِعَةِ و الكُرْسِي خَمْسَمِائَةِ عَامٍ وَبَيْنَ الكُرْسِي والمَاء خَمْسَمِائَةِ عَامٍ وَالْعَرْشُ فَوْقَ الْمَاءِ وَاللهُ فَوْقَ الْعَرْشِ

Antara langit ketujuh dan kursi lima ratus tahun dan antara kursi dan air lima ratus tahun dan Al Arsy diatas air dan Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas Al Arsy.[4]
Dan berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah : Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata : Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rob dan berkata : Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai berkata Rasulullah `

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.[5]
Dan tentang ketinggiannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jika kalian meminta, mintalah Al Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai surga.[6]
Dan jelaslah dengan hadits-hadits ini bahwa Al Arsy adalah makhluq yang paling tinggi dan dia seperti kubah…[7]

3. Al Arsy Adalah Makhluk Yang Terbesar Dan Teragung Serta Terberat
Al Arsy merupakan makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar dan luas serta agung dan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan agar sesuai dan pantas sebagai tempat bersemayamnya Dia Subhanahu wa Ta’ala.

Al Quran dan As Sunnah telah menunjukkan Kebesaran dan keluasan Al Arsy seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.[At-Taubah/9:129]

Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini: bermakna Dialah pemilik dan pencipta segala sesuatu; karena Dia Rabb yang memiliki Al Arsy yang agung yang merupakan atapnya para makhluk dan semua makhluk dari langit dan bumi dan yang ada pada keduanya dibawah Al Arsy[8]. Dan dari hadits-hadits Nabi adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.[9]
Disini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan Al Arsy seperti kubah atas alam ini yang terdiri dari langit-langit dan bumi serta isinya dan seperti atap untuk keduanya, disini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan Al Arsy, bukan hanya lebih besar dari langit-langit dan bumi akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu.

يَاأَبَا ذَرٍّ مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ

Wahai Abu Dzar tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali seperti lingkaran (gelang) yang dilemparkan ke tanah lapang, dan besarnya Al Arsy dibandingkan dengan kursi seperti lebih besarnya tanah lapang dari lingkaran (gelang).

Dan dalam riwayat yang lain.

مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ وَالأَرْضُوْنَ السَبْعُ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَمَا فَيْهِنَّ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة وَإِنَّ الكُرْسِي بِمَا فِيْهِ بِالنِسْبَةِ إلَىالْعَرْشِ عَلَى كتِلْكَ الحَلَقَةِ عَلَىتِلْكَ الفلاَةِ

Tidak langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dan apa yang ada diantara dan di dalamnya dibandingkan dengan kursi kecuali seperti lingkaran (gelang) yang dilempar ke tanah lapang, dan kursi dengan apa yang ada didalamnya dibandingkan dengan Al Arsy seperti lingkaran (gelang) tersebut pada tanah lapang tersebut.[10]
Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

الكُرْسِي مَوْضِعُ القَدَمَيْنِ وَ الْعَرْشُ لاَيَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلاَ اللهُ

Kursi tempat kedua telapak kaki dan Al Arsy tidak mampu mengukurnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.[11]
Disamping Al Arsy ini adalah makhluk terbesar dan terluas, diapun terberat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihai wa sallam kepada Juwairiyah.

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَاتٍ لَوْ وَزَنْتِ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ اليَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ الله و بِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ و رِضِا نَفْسِهِ و زِنَةَ عَرْشِهِ ومِدَدَ كَلِمَاتِهِ

Sungguh aku katakan setelah kamu empat kalimat tiga kali, seandainya ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan sejak hari ini maka sungguh dia dapat menyamainya, Subhanallah wa bihamdihi, ‘adada kholqihi wa ridho nafsihi wa zinata Arsyihi wa midada kalimatihi.[12]
Berkata Ibnu Taimiyah : Maka ini menjelaskan bahwa berat Al Arsy paling berat timbangannya.[13]

4. Al Arsy Tidak Termasuk Yang Digenggam Dan Digulung Ketika Hari Kiamat.
Ini merupakan kekhususan yang juga dimiliki oleh selainnya dan telah kita ketahui bahwa Al Arsy diciptakan sebelum diciptakannya langit dan bumi sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاء

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan taqdir-taqdir seluruh makhluk sebelum diciptakannya langit dan bumi lima puluh ribu tahun, beliau bersabda: dan Arsy Nya ada diatas air.[14]
Dan telah kita ketahui bahwa langit dan bumi serta isinya akan di genggam dan digulung serta diganti seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَاقَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [Az-Zumar/39:67]

Dan firmanNya yang lain.

يَوْمَ تُبَدَّلُ اْلأَرْضُ غَيْرَ اْلأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارَ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.[Ibrahim/14:48]

Juga firmanNya.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَآءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَآ أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَآ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama baegitulah Kami akan mengulangnya. Itulah janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. [Al-Anbiyaa/21 : 104]

Dan dalam shohihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anh, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَقْبِضُ الهُض تَبَارَكَ وَتَعَالَى اْلأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ اْلأَرْضِ

Allah Subhnahu wa Ta’ala mengenggam bumi pada hari Kiamat dan menggulung langit dengan tangan kananNya kemudian berkata : Aku raja penguasa, mana para raja penguasa dunia.[15]
Dan dalam riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz.

يَطْوِي الهُن عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ المتكبرون

Allah Subhnahu wa Ta’ala menggulung langit-langit pada hari Kiamat kemudian mengambil mereka dengan tangan kananNya kemudian berkata : Aku raja penguasa, mana para penindas, mana orang-orang yang sombong.[16]
Demikianlah keadaan hari Kiamat langit dan bumi dihancurkan dan tersisa beberapa makhluq yang tidak dihancurkan dan dipunahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti Surga, Neraka, Al Arsy menurut kesepakatan Ahlus Sunnah[17], maka Al Arsy di hari Kiamat tidak ikut digulung bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit di gulung dan di hancuran Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana ditunjukkan oleh firmanNya.

وَحُمِلَتِ اْلأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ وَانشَقَّتِ السَّمَآءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah Kiamat, dan tebelahlah langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjungjung Arsy Rabbmu di atas ke kepala mereka.[Al Haaqqah/69 : 14-17]

Demikian juga dalam surat Az Zumar setelah menjelaskan keadaan hari Kiamat, penduduk Neraka dan penduduk Syurga kemudian diakhiri dengan firmanNya.

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan mereka mengucapkan:”Segala puji bagi Allah yangtelah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam jannah di mana saja kami kehendaki”. Maka jannah itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. Dan kamu (Muhammad) akan melihat melaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan:”Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam“.[Az-Zumar/39:74-75]

Berkata Syeikhul Islam : Adapun Al Arsy tidaklah masuk dalam makhlul-makhluk yang diciptakan dalam waktu enam hari dan tidak pula dibelah dan dipecah, bahkan hadits-hadits yang masyhur menegaskan apa yang telah ditunjukkan Al Quran tentang ketidak punahan Al Arsy, sebagimana dalam Ash Shohih bahwa atapnya syurga ‘Adn adalah Al Arsy, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jika kalian meminta, mintalah Alfirdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai surga.[18]
Demikianlah kekhususan (karakteristik) Al Arsy menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga bermanfaat.

(Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari pengantar kitab Al-Arsy karya Ibnu Abu Syaibah oleh Dr Muhammad Khalifah At-Tamimi, penerjemah Kholid Syamhudi)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Mudah-mudahan dapat dibahas masalah ini pada waktu dan edisi yang lain.
[2] HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat fathul Bari 13/404.
[3] Hal. 282.
[4] Atsar yang shohih, dikeluarkan oleh ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tauhid hal.105, Ad-Daarimiy dalam Arrod ‘alal Jahmiyah hal.26-27 dan Alalikaaiy dalam Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah 3/396 dan dibawakan Ibnul Qayim dalam Ijtimaul Juyusy Al Islamiyah hal.100, dan berkata diriwayatakan oleh Sunaid bin Daud dengan sanad yang shohih.
[5] HSR Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 1/252
[6] HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat Fathul Bari 13/404
[7] Al Fatawa 5/151
[8] Tafsir Ibnu Katsir 2/404
[9] HSR Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 1/252
[10] Berkata Syaikh Al Albaniy dalam Silsilah Ahadits Ash Shohihah No.109, dan kesimpulannya hadits ini dengan jalan-jalan periwayatan (yang ada ) shohih
[11] Berkata Syaikh Al Albaniy dalam Mukhtashor ‘Ulu hal.102 : sanadnya shohih
[12] HR Muslim dalam shohihnya, kitab adz-Dzikr 8/83, Abu Daud dalan Sunannya Abwabul witr, bab Attasbih bil Hasho 2/171 dan At-Tirmidziy dalam Jami’nya kitab Ad-Da’aawat 5/556 dan berkata: hadits hasan shohih.
[13] Risalah al-Arsyiyah hal.8.
[14] HR Muslim dalam shohinya kitab Al-Qadar 8/51
[15] Mutafaqun ‘Alaihi
[16] HR Muslim dalam shohihnya, kitab shifatul Qiamat 8/126.
[17] Lihat Alfataawa 18/307
[18] HR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat fathul Bari 13/404.

Aqidah Ahlus Sunnah Seputar Arsy

AQIDAH AHLUS SUNNAH SEPUTAR ARSY

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Mengenal hal-hal yang ghoib dan mengimaninya merupakan salah satu sifat kaum muttaqin sebagaimana firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan di dalamnya ; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. [Al-Baqarah/2:2-3]

Diantara hal-hal yang penting adalah mengenal makhluq-makhluq Allah yang ghoib yang tidak tampak oleh panca indera kita, akan tetapi telah diberitakan oleh Allah melalui Al-Quran dan As-Sunnah keberadaannya, sehingga menuntut kita untuk mengetahui dan mengimaninya agar dapat dikatakan telah beriman kepada yang ghoib.

Diantara mereka adalah Arsy, tempat bersemayamnya Allah Taala sebagaimana disebutkan di 19 surat dalam Al-Quran, di antaranya.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.[Al A’raf /7:54]

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung. [At-Taubah/9:129]

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مَامِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran.[Hud/10:3]

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولُنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَآلَسِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah):”Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata:”Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. [Yunus/11:7]

اللهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ يُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu.[Ar-Rad/13:2]

قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لاَّبْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلاً

Katakanlah:”jikalau ada ilah-ilah di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya ilah-ilah itu mencari jalan kepada (Rabb) Yang mempunyai ‘Arsy“.[Al-Isra/17:42]

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.[Thoha/20:5]

لَوْكَانَ فِيهِمَآ ءَ الِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. [Al-Anbiya/21:22]

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم

Katakanlah:”Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” [Al-Mu’minun/23:86]

فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.[Al-Mu’minun/ 23:116]

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَسْئَلْ بِهِ خَبِيرًا

Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.[Al-Furqan/25:59]

اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar.[An-Naml/27:26]

الله الذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَابَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى اْلعَرْشِ مَالَكُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَلِي وَلاشَفِيْعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُوْنَ

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at.Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [AS-Sajadah/32:4]

وَتَرَى الْمَلاَئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رِبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan:”Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”.[Az-Zumar/39:75]

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al-Mu’min/40:7]

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلاَقِ

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat), [Alm-Mu’min/40:15]

سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Rabb Yang mempunyai langit dan bumi, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. [Az-Zukhruf/43:82]

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَايَلِجُ فِي اْلأَرْضِ وَمَايَخْرُجُ مِنْهَا وَمَايَنزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَايَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَاكُنتُمْ وَاللهُ بِمَاتَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya.Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.[Al-Hadiid/57:4]

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka. [Al-Haaqah/69:17]

ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy.[At-Takwir/81:20]

ذِي الْعَرْشِ اْلمَجِيْدِ

Yang mempunyai singgasana, lagi Mahamulia.[Al-Buruuj/85:15]

Ini semua menunjukkan keberadaan dan keagungannya

Berkata Imam Ath-Thohawy : Al Arsy dan Kursi adalah benar adanya.

Akan tetapi walaupun demikian masih banyak kaum muslimin yang mengaku telah beriman kepada yang ghoib yang belum mengetahui permasalahan ini bahkan mengingkari keberadaannya walaupun mereka telah membaca Alquran dan mengerti maknanya. Oleh karena itu tampaknya perlu dibahas lagi permasalahan ini agar diketahui dan difahami sesuai dengan hakikat kebenaran yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

PENGERTIAN ARSY
Arsy merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yang pada asalnya mengandung makna ketinggian suatu bangunan akan tetapi ia dipakai bangsa Arab untuk menunjukkan beberapa makna, diantaranya:

  1. Singgasana Raja.
    Berkata Al-Khalil : Alarsy adalah singgasana untuk raja[1]
    Berkata Al Azhaary: dan Al Arsy dalam bahasa Arab bermakna singgasana raja , yang menunujukkan hal itu adalah singgasana Raja Saba’ yang telah dinamai Allah dengan Al Arsy, dalam firman Nya:

إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.[An-Naml/ 27:23][2]

  1. Atap Rumah.
    Berkata Al-Khalil : Arsyul Bait yaitu atapnya.[3]
    Berkata Az-Zubaidy: Dan Al Arsy dari rumah adalah atapnya sebagaimana dalam hadits:

أَوْ كَالْقَنْدِيْلِ اْلمُعَلَّقِ بِالْعَرْشِ

atau seperti kendil yang tergantung di Al Arsy, yaitu atap.

Dan dalam hadits lain.

كُنْتُ أَسْمَعُ قِرَاءَةَ رَسُوْلِ الله عَلَى عَرْشِيْ

Aku telah mendengar bacaan Rasulullah dari atas arsy yaitu atap rumahku.

Dan dengan makna ini juga ditafsirkan firman Allah:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.[Al-Baqarah/2: 259][4]

  1. Tiang Dari Sesuatu
    Berkata Az-Zubaidy : Dan Al-Arsy bermakna tiang dari sesuatu. Ini pendapat Az-Zujaaj dan Al-Kisaa’i.[5]
  2. Kerajaan.
    Berkata Al-Azhaary : Dan Al-Arsy adalah kerajaan, dikatakan: Tsulla Arsyuhu bermakna hilang kerajaan dan keperkasaannya.[6]
  3. Bagian Dari Punggung Kaki
    berkata Al-Khalil : Al-Arsy di kaki adalah bagian antara al-himaar dengan jari-jari kaki di bagian atas (punggung) telapak kaki, dan al-himaar adalah tulang yang menonjol di bagian punggung telapak kaki, dan jamaknya Iraasyah dan A’rasy.[7]

Dan berkata Ibnul A’rabi : Punggung telapak kaki dinanakan Arsy dan perut telapak kaki dinamakan Alakhmash.[8]

Inilah sebagian makna Al-Arsy dalam bahasa Arab, akan tetapi makna-makna tersebut akan berubah-ubah sesuai dengan yang disandarinya. Sedangkan yang dimaksud dengan Arsy Allah adalah singgasana, sesuai dengan petunjuk yang telah ditunjukkan oleh nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah.

Adapun syubhat yang dilontarkan orang-orang Jahmiyah bahwa makna Al-Arsy dalam firman Allah :

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.[Thoha/20:5]

Mengandung kemungkinan beberapa makna, sehingga tidak diketahui makna apa yang ditunjukkan ayat ini dari makna-makna tersebut.

Hal ini telah dijawab oleh Ibnu Qayim dengan mengatakan : Ini merupakan perancuan terhadap orang-orang yang bodoh dan merupakan kedustaan yang nyata, karena Arsy Allah yang Dia bersemayam diatasnya tidak memiliki makna kecuali satu makna saja, walaupun Arsy secara umum memiliki beberapa makna. Akan tetapi huruf lam disini adalah untuk menunjukkan sesuatu yang telah diketahui sebelumnya (Al ‘Ahd), maka hal itu membuat makna Arsy menjadi tertentu saja yaitu Arsy Arrobb yang bermakna singgasana kerajaannya yang telah disepakati dan diakui para rasul dan para umat kecuali orang yang menentang para Rasul….[9]

APAKAH ARSY ITU?
Pengertian Al Arsy menurut Ahlu Sunnah wal Jamaah (manhaj Salaf), adalah makhluq Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat.

Berkata Al-Baihaaqy : dan pendapat para ahli tafsir tentang Al-Arsy adalah singgasana, dan dia adalah jasad yang berbentuk yang telah diciptakan Allah dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikilnya dan beribadah dengan mengagungkan dan berthawaf padanya, sebagimana Dia menciptakan satu rumah dibumi dan memerintahkan bani Adam untuk berthawaf padanya dan menghadapkan kepadanya ketika sholat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukkannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar.[10]

Berkata Ibnu Katsir : Dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah yang menutupi alam ini dan dia adalah atapnya para makhluq.[11]

Dan berkata Adz-Dzahabiy – setelah menyebutkan kebahagian ahli syurga- : Apa yang disangka tentang Al-Arsy yang agung yang telah dijadikan Allah untuk diriNya dalam ketinggian, luas, tiang-tiang, bentuk, pemikulnya dan melaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy serta kebagusan dan keindahannya. Sungguh telah diriwayatkan, dia dibuat dari yaquut (jenis permata yang sangat indah (-pen) yang berwarna merah.[12] Berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang telah Allah ciptakan:
Dari Al-Quran

ذَالِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [Al-An’am/6:102]

Maka setiap sesuatu di alam ini adalah makhluq yang Allah ciptakan dan adakan, dan Al Arsy adalah salah satu makhluq dari makhluq-makhluq Allah.

Dan firman Allah :

اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar. [An-Naml/27:26]

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung. [At-Taubah/9:129]

Berkata Al Haafidz Ibnu Hajar, firman Allah :

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.[At-Taubah/9:129]

Memberikan isyarat penunjukkan bahwa Al-Arsy dimiliki, dan setiap yang dimiliki adalah makhluq… dan dalam penetapan tiang-tiang Al-Arsy ada penunjukan yang tegas bahwa Arsy adalah sesuatu yang tersusun dari beberapa bagian dan anggota tubuh, dan sesuatu yang tersusun demikian adalah makhluq yang diciptakan.[13]

Dari As-Sunnah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Raziin Al uqailiy, beliau berkata:

يَارَسُوْلَ الله أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قاَلَ كَانَ فِيْ عَمَاء مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحَْهُ هَوَاءُ ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى اْلمَاءِ

Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluqNya ? Beliau menjawab: Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air.[14]

Ini adalah dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama salaf dalam menetapkan Arsy sebagai makhluq dari makhluq Allah.

2. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang tertinggi dan berbentuk kubah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia adalah tengah-tengah syurga dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.[15]

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamaniin dalam kitabnya Ushulus Sunnah : Dan dari pendapat Ahlus Sunnah adalah Allah telah menciptakan Al-Arsy dan mengkhususkannya dengan berada diatas dan ketinggian diatas semua makhluqNya…[16]

Dan berkata Ibnu Taimiyah : Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata : Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata : Wahai Rasululloh jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai berkata Rasulullah :

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.[17]

Dan tentang ketinggiannya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.[18]

Dan jelaslah dengan hadits-hadits ini bahwa Al-Arsy adalah makhluq yang paling tinggi dan dia seperti kubah…[19]

3. Dalil Al-Arsy adalah Singgasana.
Berkata Ibnu Qutaibah : Mereka mencari-cari makna lain untuk Arsy selain singgasana, sedangkan Ulama bahasa (Arab) tidak mengenal makna untuk Arsy kecuali singgasana dan apa yang digelar dari atap-atap dan yang serupanya.[20]

Berkata Ibnu Katsier : Al-Arsy dalam bahasa Arab artinya dari singgasana untuk seorang raja, sebagaimana firman Allah :

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Adalah dia (ratu Bilqis) mempunyai singgasana yang besar [An-Naml/27 : 23]

Dan bukan galaksi.

Demikian juga bangsa Arab tidak mengenal hal itu sedangkan Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang…[21]

4. Dalil Bahwa Arsy adalah Singgasana yang Memiliki Tiang-Tiang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَأَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ يَفِيْقُ فَإِذَا أَنَا بِمُوْسَى آَخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ اْلعَرْشِ فَلا أَدْرِيْ أَفَاقَ قَبْلِيْ أَمْ جُوْزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّوْرِ

Sesungguhnya manusia pingsan pada hari kiamat, lalu aku adalah orang yang pertama sadar, seketika itu aku mendapatkan Musa sedang memegang sebuah tiang dari tiang-tiang Al-Arsy, maka aku tidak tahu apakah dia telah sadar sebelumku ataukah dia dibebaskan (dari pingsan tersebut) karena telah pingsan di Bukit Thur.[22]

Berkata Ibnu Abil Izz : Telah tetap dalam syariat bahwa Al-Arsy memiliki tiang-tiang.[23]

5. Dalil Bahwa Arsy Dipikul Dan Para Malaikat MelakuKan Thawaf
Dari Al-Qur’an.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al-Mu’min/40:7]

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka. [Al-Haaqah/69:17]

Dari As-Sunnah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Jabir bin Abdillah : Aku diizinkan untuk membicarakan seorang malaikat dari para malaikat Allah dari pemikul Al-Arsy, sungguh jarak antara daun telinganya sampai bahunya sepanjang perjalanan 700 tahun.[24]

Dari sini jelaslah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang Al-Arsy dan ini merupakan pendapat salaf dalam hal itu.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Kitabul Ain 1/291
[2] Tahdzibul Lughoh 1/413
[3] Kitabul Ain 1/ 291
[4] Taajul Arusy 4/321
[5] Ibid
[6] Tahdzibul Lughoh 1/414
[7] Kitabul Ain 1/293
[8] Lisanul Arab 4/2882
[9] Mukhtashor Shawaiqul Mursalah 1/17-18
[10] Al Asma wa Shifat hal. 497
[11] Al-Bidayah 1/12
[12] Al Ulu hal. 57
[13] Fathul Baary 13/405
[14] HSR Attirmidzi dalam Jami’ Attirmidzi (sunan ) kitab Tafsir, bab surat Hud 5/288 hadits No. 3109, Ibnu Majah dalam sunannya Al Muqadimah bab fimaa Ankarat Aljahmiyah 1/63, Imam Ahmad dalam Musnadnya (4/11-12) Ibnu Abi Ashim, dalam As-Sunnah 1/271 dan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dalam kitabnya Al-Arsy hal.313-314. semuanya dari jalan periwayatan Hamad bin Salamah. Hadits ini dihasankan oleh Attirmidzi dan Adz-Dzahabi dan dilemahkan oleh Al-Albany dalam Mukhtashor Al Ulu hal. 186. dan berkata: dalam penshihihannya tidak benar, karena semuanya bertemu pada waki’ bin hads, dan ada yang mengatakan ‘ads, dan dia seorang majhul (tidak dikenal) yang tidak ada yang meriwayatkan darinya selain ya’la bin atha’ oleh karena itu dikatakan oleh penulis (yaitu Adz Dzahabi): tidak dikenal. Dan berkata di dalam kitab Dzilaalil Jannah 1/271: sanadnya lemah, waki’ bin ‘ads dan dikatakan Hads seorang yang majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Ya’la bin Atha’ dan tidak juga beliau di tsiqahkan kecuali oleh Ibnu hibban
[15] HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat fathul Bari 13/404.
[16] Hal. 282
[17] HSR Ibnu Abi Ashim dalam Assunnah 1/252
[18] HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat Fathul Bari 13/404
[19] Al-Fatawa 5/151
[20] Al-Ikhtilaaf fil lafadz hal. 240
[21] Al-Bidayah 1/11-12
[22] HSR Bukhori No. 2411, 3408, 6517 dan 6518 dan Muslim No. 2373
[23] Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 366
[24] Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya 5/96 No.4727, Alkhothib dalam tarikhnya 10/195 dan Albaihaqy dalam AlAsma wa Shifat hal. 397 dari hadits Ibnul Munkadir dari Jabir. Berkata Adz -Dzahabiy dalam kitabnya Al Ulu : sanadnya shohih dan berkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/414 :Sanadnya baik dan perawi-perawinya tsiqat semua.

Kesamaan Aqidah Imam Empat

KESAMAAN AQIDAH IMAM EMPAT

Oleh
Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais

Segala puji bagi Allah. Kepada-Nya kita memuji, meminta pertolongan, petunjuk, dan ampunan. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ‏

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan jangan sekali-kali mati kecuali sebagai muslim.” (Ali Imran : 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Dia menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan keluarga. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (An-Nisa’: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, maka Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh keberuntungan yang agung.” (Al-Ahzab: 70-71)

Saya telah melakukan penelitian yang cukup luas untuk meraih gelar Doktor tentang aqidah Imam Abu Hanifah. Dalam bagian pendahuluan dari penelitian itu tercakup ringkasan tentang aqidah tiga imam yang lain, yaitu Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Sejumlah orang yang mulia telah meminta saya untuk membuat bahasan tersendiri tentang aqidah imam tiga, sebagai pelengkap dalam menyajikan bahasan aqidah empat imam.

Karenanya ringkasan tentang aqidah Imam Abu Hanifah dalam masalah tauhid, qadar, iman, sahabat, dan sikap beliau tentang ilmu kalam, saya gabungkan dalam pendahuluan penelitian saya tersebut.

Kepada Allah saya bermohon agar pekerjaan ini benar-benar ikhlas untuk memperoleh ridha-Nya, dan semoga Allah menganugrahkan taufiq kepada kita semua, sehingga kita dapat memperoleh bimbingan sesuai dengan kitab-Nya, dan berjalan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya. Karena Allah jualah yang mengetahui niat seseorang. Dia jualah yang mencukupkan kita, dan Dia sebaik-baik Dzat tempat kita berserah diri.

Dan akhir do’a kita adalah alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Aqidah imam empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Adalah yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para sahabat dan tabi’in. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah ushuluddin. Mereka justru sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Allah, bahwa Al-Qur’an itu dalam Kalam Allah, bukan makhluk dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.

Mereka juga mengingkari para ahli kalam, seperti kelompok Jahmiyyah dan lain-lain yang terpengaruh dengan filsafat Yunani dan aliran-aliran kalam. Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah menuturkan, “… Namun rahmat Allah kepada hamba-Nya menghendaki, bahwa para imam yang menjadi panutan umat, seperti imam madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiyyah dalam masalah Al-Qur’an, dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.

Mereka sepakat seperti keyakinan para ulama Salaf, di mana antara lain, bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat, Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.[1]

Imam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan, para imam yang masyhur itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk. Dan bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat. Inilah madzhab para Sahabat dan Tabi’in, baik yang termasuk Ahlul Bait dan yang lain. Dan ini juga madzhab para imam yang banyak penganutnya, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Laits bin Sa’ad, Imam Al-Auza’i, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Ahmad.[2]

Imam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafi’i. Jawab beliau, “Aqidah Imam Syafi’i dan aqidah para ulama Salaf seperti Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Auza’i, Imam Ibnu Al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam Al-Fudhal bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdullah At-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam Ushuluddin (masalah aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qadar dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para imam tersebut di atas. Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan tabi’in, yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah[3].

Aqidah inilah yang dipilih oleh Al-Allamah Shidiq Hasan Khan, dimana beliau berkata : “ Madzhab kami adalaha mazhab ulama Salaf, yaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk dan menjadikan Allah dari sifat-sifat kekurangan, tanpa ta’thil (meniadakannya makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah). Mazdhab tersebut adalah madzhab imam-imam dalam Islam, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Imam Ats-Tsauri, Imam Ibnu Al Mubarak, Imam Ahmad dan, lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai ushuludin. Begitu pula Imam Abu Hanifah, beliau sama aqidahnya dengan para imam diatas, yaitu aqidah yang sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.”[4]

[Disalin dari kitab I’tiqad Al-A’immah Al-Arba’ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad) oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
______
Footnote
[1] Kitab Al-Iman, hal. 350-351, Dar ath-Thiba’ah al-Muhammadiyyah, Ta’liq Muhammad
[2] Manhaj As-Sunah, II/106
[3] Majmu’al-Fatawa, V/256
[4] Qathf Ats-Tsamar, hal. 47-48

Aqidah Imam Empat

AQIDAH IMAM EMPAT

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari

“Bagilah masjid-masjid antara kami dengan Hanafiyah[1] karena Si Fulan, salah seorang ahli fiqih mereka, menganggap kami sebagai ahli dzimmah![2]” Usulan ini disampaikan oleh beberapa tokoh Syafi’iyyah[3] kepada mufti Syam pada akhir abad 13 Hijriyah.

Selain itu, banyak ahli fiqih Hanafiyah memfatwakan batalnya shalat seorang Hanafi di belakang imam seorang Syafi’i. Demikian juga sebaliknya, sebagian ahli fiqih Syafi’iyah memfatwakan batalnya shalat seorang Syafi’i di belakang imam seorang Hanafi.

Ini di antara contoh sekian banyak kasus fanatisme madzhab yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan umat Islam[4]. Realita yang amat disayangkan, bahkan dilarang di dalam agama Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara. [Ali-Imran/3:103].

Mengapa orang-orang yang mengaku sebagi para pengikut Imam Empat itu saling bermusuhan? Apakah mereka memiliki aqidah yang berbeda? Bagaimana dengan aqidah Imam Empat?

Benar, ternyata banyak di antara para pengikut Imam Empat memiliki aqidah yang menyimpang dari aqidah imam mereka. Walaupun secara fiqih mereka mengaku mengikuti imam panutannya. Banyak di antara para pengikut itu memiliki aqidah Asy’ariyah atau Maturidiyah atau Shufiyah atau lainnya, aqidah-aqidah yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Padahal imam-imam mereka memiliki aqidah yang sama, yakni aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, aqidah Ahli Hadits.

IMAM EMPAT
Istilah Imam Empat yang digunakan umat Islam pada zaman ini, mereka ialah:

  1. Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah, dari Kufah, Irak (hidup th 80 H – 150 H).
  2. Imam Malik bin Anas rahimahullah, dari Madinah (hidup th 93 H – 179 H)
  3. Imam Syafi’i Muhammad bin Idris rahimahullah, lahir di Ghazza, ‘Asqalan, kemudian pindah ke Mekkah. Beliau bersafar ke Madinah, Yaman dan Irak, lalu menetap dan wafat di Mesir (hidup th 150 H – 204 H).
  4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dari Baghdad, ‘Irak (hidup th 164 H – 241 H).

Empat ulama ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Kepada empat imam inilah, empat madzhab fiqih dinisbatkan.

AQIDAH IMAM EMPAT
Siapapun yang meneliti aqidah para ulama Salafush Shalih, maka ia akan mendapatkan bahwa aqidah mereka adalah satu, jalan mereka juga satu. Para ulama Salafush Shalih tidak berpaling dari nash-nash Al Kitab dan Sunnah, dan tidak menentangnya dengan akal, perasaan, atau perkataan manusia.

Mereka mempunyai pandangan yang jernih, bahwa aqidah itu tidak diambil dari seorang ‘alim tertentu, bagaimanapun tinggi kedudukannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Adapun i’tiqad (aqidah, keyakinan), maka tidaklah diambil dariku, atau dari orang yang dia lebih besar dariku. Tetapi diambil dari Allah dan RasulNya, dan keyakinan yang disepakati oleh salaful ummah (umat Islam yang telah lalu, para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maka apa yang ada di dalam Al Qur’an wajib diyakini. Demikian juga yang hadits-hadits yang shahih telah pasti, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim”[5]. Imam Al Ashfahani rahimahullah berkata: “Seandainya engkau meneliti seluruh kitab-kitab mereka (Ahlu Sunnah) yang telah ditulis, dari awal mereka sampai yang akhir mereka, yang dahulu dari mereka dan yang sekarang dari mereka, dengan perbedaan kota dan zaman mereka, dan jauhnya negeri-negeri mereka, masing-masing tinggal di suatu daerah dari daerah-daerah (Islam); engkau dapati mereka dalam menjelaskan aqidah di atas jalan yang satu, bentuk yang satu. Pendapat mereka dalam hal itu (aqidah) satu. Penukilan mereka satu. Engkau tidak melihat perselisihan dan perbedaan pada suatu masalah tertentu, walaupun sedikit. Bahkan seandainya engkau kumpulkan seluruh apa yang lewat pada lidah mereka dan apa yang mereka nukilkan dari Salaf (orang-orang dahulu) mereka, engkau mendapatinya seolah-olah itu datang dari satu hati dan melalui satu lidah”[6]

Termasuk Imam Empat, mereka berada di atas satu aqidah. Para ulama terkenal dari berbagai madzhab telah menulis aqidah Imam Empat ini, dan mereka semua memiliki aqidah yang sama.

Secara terperinci, aqidah Imam Empat ini antara lain dapat dilihat di dalam kitab Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari, dosen aqidah Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Qashim dan kitab Mujmal I’tiqad Aimmatis Salaf, karya Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki, Rektor Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud.

IMAM ABU HANIFAH
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Aku berpegang kepada kitab Allah. Kemudian yang tidak aku dapatkan (di dalam kitab Allah, aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak mendapatkannya di dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat Beliau. Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki, dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki di antara mereka. Dan aku tidak akan meninggalkan perkataan mereka (dan) mengambil perkataan selain (dari) mereka”[7].

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (wafat 321 H), salah seorang ulama Hanafiyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah, yang kemudian terkenal dengan nama “Aqidah Ath Thahawiyah”. Beliau membukanya dengan perkataan: “Ini peringatan dan penjelasan aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah di atas jalan ahli fiqih-ahli fiqih agama: Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al Anshari, Abu Abdillah Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani, dan yang mereka yakini, berupa ushuluddin (pokok-pokok agama), dan cara beragamanya mereka (dengannya) kepada Rabbul ‘Alamin”[8].

As Subki rahimahullah memberikan komentar terhadap “Aqidah Ath Thahawiyah” dengan perkataan : “Madzhab yang empat ini –segala puji hanya bagi Allah- satu dalam aqidah, kecuali di antara mereka yang mengikuti orang-orang Mu’tazilah dan orang-orang yang menganggap Allah berjisim[9], Namun mayoritas (pengikut) madzhab empat ini, berada di atas al haq. Mereka mengakui aqidah Abu Ja’far Ath Thahawi yang telah diterima secara utuh oleh para ulama dahulu dan generasi berikutnya”.[10]

Penerimaan para ulama terhadap Aqidah Ath Thahawiyah adalah secara umum. Karena ada beberapa perkara yang perlu dikoreksi, sebagaimana hal itu telah dilakukan oleh pensyarah (pemberi penjelasan) Aqidah Ath Thahawiyah, (yaitu) Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al Hanafi. Demikian juga oleh para ulama belakangan, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam ta’liq (komentar) beliau, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam syarah dan ta’liq beliau, dan Syaikh Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais di dalam Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah Al Muyassar. Namun secara umum, para ulama menerima kebenaran aqidah tersebut.

IMAM MALIK BIN ANAS
Imam Malik bin Anas rahimahullah dikenal sebagai ulama yang tegas dalam menyikapi bid’ah. Di antara perkataan beliau yang masyhur ialah: “Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam (dan) ia menganggapnya sebagai kebaikan, maka ia telah menyangka bahwa (Nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Karena Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. [Al-Maidah/5:3]

Maka apa-apa yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun tidak menjadi agama”[11]

Imam Ibnu Abi Zaid Al Qairawani rahimahullah, (wafat 386 H), salah seorang ulama Malikiyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah, dan berisi aqidah Ahlu Sunnah, sama dengan aqidah ulama lainnya.

IMAM ASY SYAFI’I
Imam Syafi’i rahimahullah  berkata: “Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka (semua) alasan tertolak atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atau salah satu dari mereka”[12].

Dan telah masyhur perkataan Imam Syafi’i rahimahullah : “Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah (yakni Al Qur’an, Pen), sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Aku beriman kepada utusan Allah dan kepada apa yang datang dari utusan Allah (yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, -pen), sesuai dengan yang dikehendaki utusan Allah”[13]. Imam Abu Bakar Al Isma’ili Al Jurjani rahimahullah, (wafat 371 H), salah seorang ulama Syafi’iyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah. Beliau membukanya dengan perkataan: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan rahmat kepada kami dan kalian, bahwa jalan Ahli Hadits, Ahli Sunnah wal Jama’ah, ialah mengakui kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan menerima apa yang dikatakan oleh kitab Allah Ta’ala, dan apa yang telah shahih riwayatnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”[14]

IMAM AHMAD BIN HANBAL
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Pokok-pokok Sunnah menurut kami ialah, berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya, dan meneladani mereka … “[15]

Imam Abu Muhammad Al Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al Barbahari rahimahullah (wafat 329 H), salah seorang ulama Hanbaliyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah; aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, yang bernama Syarhus Sunnah. Di antara yang beliau katakan di awal kitab ini ialah: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan rahmat kepadamu. Bahwa agama hanyalah yang datang dari Allah Tabaraka wa Ta’ala (Yang Banyak Memberi Berkah dan Maha Tinggi), tidak diletakkan pada akal-akal manusia dan fikiran-fikiran mereka. Dan ilmunya (agama) di sisi Allah dan di sisi RasulNya. Maka janganlah engkau mengikuti sesuatu dengan hawa-nafsumu, sehingga engkau akan lepas dari agama dan keluar dari Islam. Sesungguhnya tidak ada argumen bagimu, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan Sunnah (ajaran agama/aqidah) kepada umatnya, telah menerangkannya kepada para sahabat Beliau, dan mereka adalah Al Jama’ah. Mereka adalah As Sawadul A’zham (golongan mayoritas). Dan As Sawadul A’zham (yang dimaksudkan) adalah al haq dan pengikutnya. Barangsiapa menyelisihi para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sesuatu dari urusan agama, (maka) dia telah kafir”[16]

KESALAHAN YANG WAJIB DILURUSKAN
Ada beberapa kesalahan yang harus dibenarkan seputar kesatuan aqidah para ulama. Di antaranya:

  1. Anggapan bahwa beragamnya madzhab (pendapat yang diikuti) dalam masalah fiqih, berarti beragamnya aqidah para imam.

Anggapan ini batil, sebagaimana telah kami sampaikan tentang kesatuan aqidah para ulama Ahlu Sunnah. Nampaknya, anggapan ini sudah ada semenjak lama. Pada zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau menampakkan aqidah Salafiyah Ahli Sunnah wal Jama’ah, (tetapi) beliau dituduh menyebarkan aqidah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kemudian beliau menjawab: “Ini adalah aqidah seluruh imam-imam dan Salaf (para pendahulu) umat ini, yang mereka mengambilnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah aqidah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam“. Lihat Munazharah Aqidah Al Wasithiyah.

  1. Anggapan bahwa perbedaan Ahlu Sunnah dengan firqah Syi’ah dan semacamnya dari kalangan Ahli Bid’ah, seperti perbedaan di antara madzhab empat.

Bahkan saat sekarang ini, di negara Mesir muncul lembaga yang disebut Darut Taqrib, dengan semboyan mendekatkan antara Madzhab Enam. Yaitu madzhab Hanafiyah, madzhab Malikiyah, madzhab Syafi’iyah, madzhab Hanbaliyah, madzhab (Syi’ah) Zaidiyah, dan madzhab (Syi’ah) Al Itsna ‘Asyariyah. Lembaga ini menganggap, bahwa madzhab empat yang beraqidah Ahlu Sunnah, sama seperti Syi’ah yang sesat. Padahal telah kita ketahui, sebagaimana kami sampaikan di atas, bahwa aqidah seluruh imam itu satu, yaitu aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapun Syi’ah, Rafidhah, maka para ulama telah sepakat bahwa mereka adalah ahli bid’ah.

Setelah kita mengetahui bahwa aqidah Imam Empat sama, yaitu aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, bukan aqidah Asy’ariyah, bukan pula aqidah Maturidiyah, maka sepantasnya orang-orang yang menyatakan mengikuti imam-imam tersebut dalam masalah fiqih, juga mengikuti imam mereka dalam masalah aqidah. Dengan begitu mereka akan bersatu di atas al haq. Wallahul Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 03/Tahun IX/1427/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Hanafiyah, ialah orang-orang yang mengikuti madzhab Imam Abu Hanifah rahimahullah
[2] Ahli dzimmah, ialah orang kafir yang menjadi warga negara di bawah kekuasaan negara Islam
[3] Syafi’iyyah, ialah orang-orang yang mengikuti madzhab Imam Syafi’i rahimahullah
[4] Lihat Tarikh Fiqih Islami, hlm. 171-176, karya Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar.
[5] Lihat Majmu’ Fatawa (3/161).
[6] Lihat Al Hujjah Fi Bayanil Mahajjah (2/224-225). Dinukil dari kitab Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, hlm. 73, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari
[7] Riwayat Ibnu Ma’in di dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim
[8] Kitab Aqidah Ath Thahawiyah
[9] Yakni menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk
[10] Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, hlm. 28, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari]
[11] Al I’tisham (1/64), karya Asy Syatibi
[12] Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm.36
[13] Majmu’ Fatawa (4/2).
[14] I’tiqad Aimmatil Hadits Lil Imam Abi Bakar Al Isma’ili , hlm. 49, karya, tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais.
[15] Riwayat Al Lalikai
[16] Syarhus Sunnah, hlm. 68, no. 5, karya Imam Al Barbahari, tahqiq Abu Yasir Khalid bin Qasim Ar Radadi

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah ‘Aqidah

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I DALAM MASALAH ‘AQIDAH

Mengenal aqidah seorang imam besar Ahlu Sunnah merupakan perkara penting. Khususnya, bila sang imam tersebut memiliki pengikut dan madzhab yang mendunia. Karenanya, mengenal pernyataan Imam Syafi’i yang madzhabnya menjadi madzhab banyak kaum muslimin di negeri ini, menjadi lebih penting dan mendesak, agar kita semua dapat melihat secara nyata aqidah Imam asy-Syafi’i, dan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin di Indonesia.

Untuk itu, kami sampaikan disini beberapa pernyataan beliau seputar permasalahan aqidah, yang diambil dari kitab Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, karya Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-‘Aqîl.

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kubur
1. Hukum Meratakan Kuburan.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُزَادُ فِيْ القَبْرِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَيْسَ بأَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ بَأْسٌ إِذَا زِيْدَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَ إِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ شِبْرًا أَوْ نَحْوِهِ

Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu“. (1/257)

2. Hukum Membangun Kuburan dan Menemboknya.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصُ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَ الْخُيَلاَءَ وَ لِيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهَا زَلَمْ أَرَ قُبُوْرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الأَنْصَارِ مُجَصَّصةً قَالَ الرَّاوِيُ عَنْ طَاوُسٍ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  نَهَى أَنْ تُبْنَى أَوْ تُجَصَّصُ  وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يُعِيْبُوْنَ ذَلِكَ

Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok”.
“Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kuburan dibangun atau ditembok”.
Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. (1/258)

3. Hukum Membangun Masjid di Atas Kuburan.

وَ أَكْرَهُ أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ مَسْجِدٌ وَ أَنْ يُسَوَى أَوْ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ هُوَ غَيْرُ مُسَوَى أَوْ يُصَلََّى إِلَيْهِ  وَ إِنْ صَلَّى إِلَيْهِ أَجْزَأَهُ وَ قَدْ أَسَاءَ

Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa“. (1/261).

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Fitnah Kubur dan Kenikmatannya

وَ أَنَّ عَذَابَ القّبْرِ حَقٌّ وَ مُسَاءَلَةَ أَهْلِ ال قُبُوْرِ حَقٌّ

Sesungguhnya Adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar. (2/420)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kebangkitan, Hisab, Surga dan Neraka

وَ البَعْثُ حَقٌّ وَ الْحِسَابُ حَقٌّ وَ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُ فَظَهَرَتْ عَلَى أَلْسِنَىِ الْعُلَمَاءِ وَ أَتْبَاعِهِمْ مِنْ بِلاَدِ الْمُسلِمِيْنَ حَقٌّ

Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar. (2/426)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Bersumpah Dengan Selain Allah

فَكُلُّ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ كَرِهْتُ لَهُ وَ خَشِيْتُ عَلَيْهِ أََنْ تَكُوْنَ يَمِيْنُهُ مَعْصِيَّةً وَ أَكْرَهُ الأَيْمَانَ بِاللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِلاَّ فِيْمَا كَانَ طَاعَةً للهِ مِثْلُ الْبَيْعَةِ فِيْ الْجِهَادِ وَ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

Semua orang yang bersumpah dengan selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkhawatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allah, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya. (1/271)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Syafa’at

فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَتَهُ الْمُصْطَفَى لِوَحْيِهِ الْمُنْتَخَبَ لِرِسَالَتِهِ الْمُفَضَّلَ عَلَى جَمِيْعِ خَلْقِهِ بِفَتْحِ رَحْمَتِهِ وَ خَتْمِ نُبُوَّتِهِ وَ أَعَمَّ مَا أَرْسَلَ بِهِ مُرْسَلٌ قَبْلَهُ

Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk wahyunya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dari ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat. (1/291).

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:

وَاسْتَنْبَطْتُ الْبَارِحَةَ آيَتَيْنِ فَمَا أَشْتَهِيْ بِاسْتِنْبِاطِهَا الدُّنْيَا وَ مَا قَبْلَهَا (وَهِيَ قِوْلُهُ تَعَالَى) : يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ  وَفِيْ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَثِيْرٌ. (قَالَ تَعَالَى) : مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَعَطَّلَ الشُّفَعَاءَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ

Semalam saya mengambil faidah (istimbâth) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Firman Allah: … Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya …. -Qs. Yunus/10 ayat 3.

Dan dalam kitabullah, hal ini banyak: … Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?…. –Qs. al-Baqarah/2 ayat 256.

Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Alllah. (1/291).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Istiwa’ Bagi Allah

الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَ رَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَ مَالِكٍ وَ غَيْرِهِمَا الإقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ…

Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyaan, Maalik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (Lâ Ilâha illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah), (beriman) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka … (2/354-355)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Nuzul (Turun) Bagi Allah

وَ أَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لِيْلَةٍ إِلَى سَمَاء الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allah turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . (2/358).

وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (2/358).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Tangan Bagi Allah
Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan dengan dasar firman Allah,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Orang-orang Yahudi berkata:”Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. -Qs. al-Maidah/5 ayat 64.

Dan sungguh Dia juga memiliki tangan kanan dengan dasar firman Allah:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. -Qs. az-Zumar/39 ayat 67.

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Melihat Allah Di Akhirat

عَنِ الرَبِيْعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ كُنْتُ ذَاتَ يَوْمٍ عِنْدَ الشَّافِعِيِ رحمه الله زَ جَاءَهُ كِتَابٌ مِنَ الصَّعِيْدِ يَسْأَلُوْنَهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ  لَمَحْجُوبُونَ   فَكَتَبَ فِيْهِ لَمَّا حَجَبَ اللهُ   قَوْمًا بِالسَّخَطِ دَلَّ عَلَى أَنَّ قَوْمًا يَرَوْنَهُ بِالرِّضَا قَالَ الرَّبِيعُ : أَوَتَدِيْنُ بِهَذَا يَا سَيِدِيْ قَألَ : وَ اللهِ لَوْ لَمْ يُقِنَّ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسِ أَنَّهُ يَرَى رَبَّهُ فِيْ الْمَعَادِ لَمَّا عَبَدَهُ فِيْ الدُّنْيَا

Dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata: “Suatu hari saya berada di dekat asy-Syafi’i dan datang surat dari daerah ash-Sha’id. Mereka menanyakan kepada beliau tentang firman Allah, (yang artinya): Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. -Qs. Muthaffifin/83 ayat 15- lalu beliau menulis (jawaban) berisi (pernyataan), ketika Allah menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa orang-orang melihat-Nya dengan sebab keridhaan”.

Ar-Rubayyi’ bertanya: “Apakah engkau beragama dengan hal ini, wahai tuanku?”
Lalu beliau menjawab: “Demi Allah! Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia melihat Rabb-Nya di akhirat, tentu ia tidak menyembah-Nya di dunia”. (2/286).

عَنِ ابْنِ هَرَمٍ الْقَرَشٍيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ قَالَ فَلَمَّا حَجَبَهُمُ فِيْ السَخَطِ كَانَ دَلِيْلاً عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِيْ الرِّضَا

Dari Ibnu Haram al-Qurasyi, beliau berkata: “Saya mendengar  asy-Syafi’i mengatakan pada firman Allah l “ Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. -Qs. Muthaffifin/83 ayat 15-“, ini adalah dalil bahwa para wali-Nya melihat-Nya pada hari Kiamat. (2/287).

Sikap Imam Syafi’i Terhadap Syi’ah

عَنْ يُوْنُسِ بْنِ عَبْد الأَعْلِى يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الشَّافِعِي إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَّدَّ الْعَيْبِ فَيَقُوْلُ شَرَّ عِصَابَةِ

Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek“. (2/486).

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَد بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ

Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah. (2/486).

قَالَ الشَّافَعِيُّ فِيْ الرَّافِضَةِ يَحْضُرُ الْوَقِعَةِ : لاَ يُعْطَى مِنَ الْفَيْءِ شَيْئًا لأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ آيَةَ الْفَيْءِ ثُمَّ قَالَ : جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ  فَمَنْ لَمْ يَقُلْ بِهَا لَمْ يَسْتَحِقَّ

Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allah l menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. -Qs. al-Hasyr/59 ayat 10- maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i). (2/487).

Sikap Imam Syafi’i Terhada Shufiyah (Tashawwuf)

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتُه أَحْمَقُ

Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh. (2/503).

مَا رَأَيْتُ صُوْفِيًّا عَاقِلاً قَطْ إِلاَّ مُسْلِم الْخَوَاص

Saya, sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash. (2/503).

أُسَسُ التَّصَوُّفِ الْكَسَلُ

Asas tasawwuf adalah kemalasan. (2/504).

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيْ صُوْفِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُوْلٌ , أَكُوْلٌ, شُؤُوْمٌ , كَثِيْرُ الفُضُوْلِ

Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia. (2/504).

Demikian, sebagian pernyataan dan sikap beliau, agar diketahui bagaimana seharusnya mengikuti beliau dengan benar. Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Aqidah Imam Syâfi’i, Allah Subhanahu wa Ta’ala Ada Di Atas

AQIDAH IMAM SYAFI’I,  ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA ADA DI ATAS

Oleh
Syaikh Dr. Muhammad bin Mûsa Alu Nashr

Di antara pokok utama aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, ialah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di langit (di atas langit), Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-makhluk-Nya dan ber-istiwâ` (bersemayam) di atas ‘Arsy sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, tidak seperti bersemayamnya seorang manusia. Akan tetapi, meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy, ilmu-Nya ada di setiap tempat dan Dia lebih dekat dari urat leher seseorang. Tidak pula tersembunyi dari-Nya apa pun yang ada di langit dan di bumi, bahkan Dia mengetahui dan menyaksikan pembicaraan-pembicaraan rahasia.

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

… Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada …. [al-Mujâdilah/58:7].

Tapi kebersamaan ini adalah kebersamaan pendengaran, ilmu, penguasaan dan rahmah, bukan kebersamaan secara fisik sebagaimana dikatakan Jahmiyah[1] dan Huluuliyah[2]. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan.

Sifat ‘Uluw (Tinggi) Allah Subhanahu wa Ta’ala, terbagi menjadi umum dan khusus. Umum ditinjau dari ketinggian-Nya atas seluruh makhluk; dan khusus, jika ditinjau dari bersemayamnya di atas ‘Arsy setelah penciptaan langit dan bumi.

Dari sini Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah, Dzat-Nya yang Maha Suci. Dia ada sebelum penciptaan makhluk, sebelum penciptaan langit dan bumi, serta sebelum adanya waktu dan tempat.

Kemudian, setelah menciptakan ‘Arsy, Dia bersemayam di atasnya. Di sini bisa disimpulkan bahwa ketinggian adalah sifat dzatiyah[3] Allah. Sedangkan bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy adalah sifat fi’liyah ikhtiyariyah,[4] maka Allah bersemayam kapan saja dan dengan cara apa saja yang Dia kehendaki.

Al-istwâ` (bersemayam), al-‘uluw (tinggi) dan al-irtifa’ (ketinggian) mempunyai empat arti. Berarti ‘ala (di atas), irtafa’a (tinggi), sha’ada (naik), dan istaqarra (tetap) tanpa perlu ditanyakan bagaimananya.

Seperti jawaban Imam Mâlik ketika ditanya tentang istiwâ`, beliau berkata: “Al-istiwâ` tidaklah asing (yaitu bisa difahami) dan wujudnya tidak masuk akal (tidak mampu difahami akal), sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah,” kemudian beliau memerintahkan untuk mengeluarkan si penanya dari masjid.

Oleh karena itu, Ahlus-Sunnah menetapkan ketinggian Dzat Allah dan sifat ‘uluw (tinggi) secara umum atas seluruh makhluk sebelum penciptaan serta sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus, yaitu ketinggian dan bersemayam-Nya setelah penciptaan Arsy. Sehingga sifat ‘uluw (tinggi) yang umum melekat dengan Dzat-Nya, sedangkan sifat ‘uluw (tinggi) secara khusus berkenaan dengan kehendak dan pilihan-Nya.

Banyak kelompok telah menyelisihi Ahlus-Sunnah dalam penetapan sifat ‘uluw; di antaranya Jahmiyah, Hulûliyah Ittihadiyah, Mu’tazilah dan selain mereka. Mereka menafsirkan kata istiwâ` dengan istilâ` (menguasai, merebut). Ini merupakan penafsiran baru yang disusupkan ke dalam Islam, yang tidak pernah dikenal oleh generasi pertama umat ini, generasi umat yang terbaik. Kata istiwâ`, jika dibuat aktif dengan kata sambung (على), maka tidak punya arti kecuali ‘uluw (tinggi) dan fauqiyyah (ketinggian).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. [Thaha/20:5].

Sebenarnya, makna lainnya dari istiwâ` masih banyak, tetapi yang menjadi titik perbedaan antara Ahlus-Sunnah dengan kelompok-kelompok lain, ialah dalam bentuk aktif dengan kata sambung (على). Maka dalam firman Allah yang telah disebutkan tadi, makna (على) ialah di atas. Disinilah penyelisihan ahlul bid’ah terghadap Ahlus-Sunnah. Mereka bersikeras, makna istiwâ` ialah istaulâ`. Mereka berhujjah dengan sebuah bait syair palsu yang berbunyi:

 اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَلاَ دَمٍ مِهْرَاقٍ

(Bisyr menguasai/merebut Iraq tanpa pedang dan darah yang mengalir).

Syair ini tidak diketahui siapa yang membuatnya. Ada yang mengatakan syair ini milik Akhtal an-Nashrani (seseorang yang beragama Nashara), tetapi tidak ditemukan dalam kumpulan syair-syairnya. Kalaupun perkataan ini benar, apakah kita akan mengatakan bahwa Akhtal yang beragama Nashrani lebih paham tentang makna-makna Al-Qur`ân dibandingkan para sahabat dan generasi pertama dari umat ini? Padahal perkataan ini sangat jelas ketidakbenarannya. Bagaimana mereka sanggup menolak ayat-ayat Al- Qur`ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian mengambil hujjah dari syair yang dipalsukan, tidak jelas siapa yang mengatakannya? Sehingga Ahlus-Sunnah bisa dengan mudah mematahkan argumen mereka yang lemah ini dengan Al-Qur`ân dan Sunnah, bahkan melalui tinjauan bahasa sekalipun.

Telah banyak kisah dari ahli ilmu tentang bantahan ini, sebagaimana sebuah kisah dari seorang ahli bahasa Imam Ibnul-‘Arâbi. Suatu ketika ada yang bertanya kepada beliau:

“Wahai Imam, apa makna firman Allah الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  ?”

Beliau menjawab: “Maknanya ialah isti’lâ` (tinggi)”.

Si penanya membantah: “Tidak, maknanya ialah istaula (menguasai/merebut)”.

Beliau berkata: “Diam! Orang Arab tidak memaknai istawâ` dengan pengertian istaulâ`, kecuali ketika ada perlawanan dan perselisihan. Siapakah yang mampu melawan kekuasaan Allah dan menentang-Nya?”

Kemudian kalau kita mengatakan istawâ` bermakna istaulâ`, maka kita telah menetapkan kelemahan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena berarti Arsy-Nya pernah dikuasai pihak lain selama beberapa waktu sehingga Allah perlu menguasainya kembali. Sehingga sangat jauh (tidak mungkin) hal ini terjadi terhadap Allah yang Maha Sempurna.

Ayat-ayat Al-Qur’ân yang menerangkan sifat ‘uluw (tinggi) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah banyak. Di antaranya firman Allah Ta’ala:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. [al-Mulk/67:16].

Maksud ‘Dzat yang berada di dalam langit’ ialah Dzat yang berada di atasnya. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit (bukan di dalamnya, pent.). Lantaran jumlah langit adalah tujuh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ke tujuh. Tempat ‘Arsy berada di atas langit tujuh. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy tersebut sesuai dengan kesempurnaan-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala tempat. Ini karena kata sambung (في, fii) pada ayat di atas mempunyai arti “di atas” (fauqiyyah dan ‘uluw), bukan sebagai zharfiyyah (keterangan tempat).

Ketika kita mengatakan الماء في الكوز (air di dalam cangkir), dalam perkataan ini (في) menjadi keterangan tempat (zharfiyyah), sehingga diartikan “di dalam”. Seperti halnya kita mengatakan الطُّلاَّبُ فِيْ الْقَاعَة (murid-murid di dalam kelas). Karena kelas mengelilingi mereka, maka diartikan murid-murid “di dalam” kelas. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah, dimana langit mengelilingi-Nya. Maka kita artikan (في) dengan “di atas”, karena ini juga salah satu makna (في).

Di antara dalil bahwa (في) bermakna “di atas” juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menceritakan perkataan Fir’aun kepada para penyihirnya:

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di atas pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. [Thâhâ/20:71].

Dalam ayat ini Fir’aun mengancam para penyihir yang beriman dengan kenabian Musa. Mereka diancam akan disalib di atas pohon kurma. Apakah mungkin orang yang berakal mengatakan makna (في) dalam ayat tersebut adalah “di dalam”? Lalu apa gunanya ancaman Fir’aun ini kalau para penyihir disalib di dalam pohon kurma? Bukankah Fir’aun melakukan ancaman ini supaya yang lain takut dengan kekejamannya? Bagaimana yang lain akan takut kalau tidak bisa melihat apa yang terjadi?

Ayat lain yang menerangkan (في) bermakana “di atas”, yaitu firman Allah:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di atas bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. [al-An’âm/6:11].

Apakah pengertian “berjalan di dalam bumi” yang termaktub dalam ayat di atas berarti menelusuri goa-goa di perut bumi yang gelap? Apakah mengarungi air bah? Apa yang dapat disaksikan? (Tidak ada, pent.).

Jadi, maksud dari “berjalan di dalam bumi”, ialah berjalan di atasnya untuk merenungi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta ini untuk mengantarkan kepada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian, aqidah Imam Syafi’i rahimahullah yang terangkum dalam pernyataan beliau berikut ini: “Konsep ajaran Islam yang aku pegangi dan dipegangi orang-orang yang aku ketahui, semisal Sufyan (ats-Tsauri), (Imam) Mâlik dan lain-lain, (ialah) pengakuan terhadap persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, mendekati makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan turun ke langit bumi sesuai dengan kehendak-Nya[5].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Golongan menyimpang produk Jahm bin Shafwân. Di antara pokok penyimpangannya, yaitu keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mempunyai sifat-sifat.
[2] Golongan menyimpang yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya atau Allah berada dimana-mana.
[3] Sifat-sifat  yang tidak terpisahkan dengan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala .
[4] Perbuatan-perbuatan (sifat-sifat) yang tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah melakukannya ketika berkehendak saja.
[5] Mukhtashar ‘Uluw

Literatur Islam Tentang Wabah-Pandemik Sepanjang Sejarah

KARYA-KARYA LITERATUR ISLAM TENTANG WABAH-PANDEMIK SEPANJANG SEJARAH

Oleh
Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar MA

Hari ini (tahun 2020), Indonesia dan hampir seluruh Negara-negara di dunia mengalami wabah pandemik bernama Covid-19. Patut dicatat, fenomena wabah sejatinya telah terjadi berulangkali sepanjang sejarah umat manusia. Berbagai catatan sejarah melalui literasi tulis yang ada memberi informasi tentang hal itu.

Dalam sejarah, para dokter mendeskripsikan wabah- wabah yang terjadi dalam tinjauan medis, lalu dicarikan solusi dan penanganannya secara medis pula. Hal ini menginisiasi munculnya teknik-teknik pengobatan dan obat-obatan yang relevan untuk penyakit (wabah) tersebut. Sementara itu para fukaha dan ahli agama juga ikut memberi kontribusi dari sisi hukum dan hikmah wabah itu.

Para fukaha juga berperan menangkis pemahaman- pemahaman yang berkembang bahwa wabah tersebut merupakan konspirasi makhluk halus sehingga memerlukan terapi supranatural.

Selain itu, para ahli agama (fukaha atau ulama) juga berperan mengedukasi masyarakat setiap kali terjadi wabah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak taubat, istigfar, sabar, dan rida, serta menerima dan menyadari sepenuhnya semua adalah ketentuan Allah.

Khusus fenomena Tha’un (penyakit menular global), sejatinya telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah, hal ini sebagaimana telah tercatat dalam buku-buku sejarah yang menginformasikan tentang kapan dan dimana saja wabah Tha’un itu pernah terjadi, berapa jumlah orang yang meninggal dunia disebabkan wabah itu, bagaimana respons masyarakat ketika itu, dan lain-lain.

Bahkan, beberapa literatur tentang wabah adakalanya ditulis karena memang telah terjadi dan menimpa dirinya atau kerabatnya. Misalnya, Ibn Hajar (w. 852 H/1448 M) yang kehilangan 3 putrinya dalam sebuah tragedi pandemi. Lalu Ibn al-Wardy (w. 749 H/1348 M) yang wafat dalam sebuah wabah yang terjadi di Aleppo dan kawasan lainnya (sejak tahun 742 H sampai tahun 749 H/1348 M). Lalu Taj ad-Din as-Subky (w. 771 H/1369 M) yang wafat dalam salah satu peristiwa pandemi, dan lain-lain.

Berikut ini dikemukakan tahun-tahun peristiwa
terjadinya wabah (sejak abad ke-1 H/7 M sampai abad ke-14 H/20 M) yang dikutip dari berbagai sumber. Juga, dikemukakan karya-karya tulis tentang wabah-pandemik sebagai ditulis oleh para dokter dan ulama.

Abad 1 H/7 M

  1. Tha’un Syairawiyah di Mada’in (Persia) pada tahun ke- 6 H/627 M yaitu di zaman Nabi Saw.
  2. Tha’un ‘Amwas (nama desa antara Quds dengan Ramlah) tahun 17 H/638 M atau tahun 18 H/639 M yaitu di Syam, yang merenggut 25 ribu orang (ada yang mengatakan 30 ribu orang), dimana pada pandemi ini juga banyak menewaskan sejumlah sahabat seperti Abu Ubaidah, Mu’adz bin Jabal, Abu Malik al-‘Asy’ary, Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, dan lain-lain.
  3. Tha’un di Kufah tahun 49 H/669 M.
  4. Di Hasanah tahun 53 H/673 M, yang menewaskan Ziyad bin Abihi.
  5. Di Mesir tahun 66 H/686 M.
  6. Di Basrah tahun 69 H/689 M (ada pendapat yang menyatakan tahun 67 H/687 M, 69 H/689 M, 70 H/690 M, dan 72 H/692 M). Dinamakan juga dengan Tha’un ‘al-Jarif’ yang merenggut puluhan ribu nyawa.
  7. Di Mesir tahun 85 H/704 M.
  8. Di Basrah yaitu Tha’un ‘al-fityat’ dan ‘al-‘adzry’ tahun 87 H/706 M (ada pendapat yang menyatakan tahun 82 H/701 M, 84 H/703 M, 85 H/704 M, 86 H/705 M, 87 H/706 M), dinamakan demikian oleh karena sangat banyak orang yang meninggal dunia.
  9. Tahun 86 H/705 M (yaitu tahun wafatnya Abdul Aziz bin Marwan).
  10. Lalu Tha’un ‘al-asyraf’, dinamakan demikian karena banyaknya orang-orang mulia yang wafat, yaitu tahun 100 H/718 M.
  11. Tha’un ‘Ady bin Arthah tahun 100 H/718 M.

Abad ke-2 H/8 M

  1. Tahun 107 H/725 M di Syam.
  2. Tahun 115 H/733 H di Syam.
  3. Tahun 127 H/745 M (dinamakan Tha’un Ghurab).
  4. Tahun 131 H/749 M (dinamakan Tha’un Sullam bin Qutaibah).
  5. Tahun 134 H/751 M (dinamakan Tha’un Rayy).
  6. Tahun 146 H/763 M di Bagdad.

Abad ke-3 H/9 M

  1. Tahun 221 H/836 M di Basrah.
  2. Tahun 249 H/863 M di Irak.

Karya-karya di abad ini:

  • “Fi al-Abkhirah al-Mashlahah li al-Jaww Min al- Waba’” : Al-Kindy (w. 260 H/874 M). Naskahnya sudah tidak ditemukan lagi (hilang), namun sejumlah substansinya telah dikutip oleh At-Tamimy.
  • Risalah fi Idhah al-‘Illah fi as-Sama’im al-Qatilah as- Sama’iyyah wa Huwa Qaul al-Muthlaq fi al-Waba’ : Al-Kindy (w. 260 H/874 M). Naskahnya juga telah hilang.
  • Risalah fi al-Adawiyah al-Musyfiyah Min ar-Rawa:ih al-Mu’dzyiyah : Al-Kindy (w. 260 H/874 M), naskahnya juga sudah hilang.
  • Kitab ath-Thawa’in : Ibn Aby ad-Dunya (w. 281 H/894 M).
  • Kitab fi al-I’da’ : Qustha bin Luqa (w. sekitar tahun 300 H/912 M).

Abad ke-4 H/10 M

  1. Tahun 301 H/913 M.
  2. Tahun 324 H/936 M di Isfahan.
  3. Tahun 346 H/957 M.

Karya-Karya di abad ini:

  • As-Sabab fi Qatl Rih as-Sumum Aktsar al-Hayawan : Ar-Razy (w. 313 H/925 M)
  • Ar-Risalah al-Waba’iyah : Ar-Razy (w. 313 H/925 M)
  • Na’t al-Asbab al-Maulidah li al-Waba’ fi Mishr wa Thariq al-Hailah fi Dzalika wa ‘Ilaj Ma Yatkhawwafu Minhu : Ibn al-Jazzar (w. 369 H/979 M), naskahnya sudah hilang, namun beberapa substansi pembahasannya telah dikutip oleh At-Tamimy dan Ali bin Ridhwan.
  • Maddah al-Baqa’ fi Ishlah Fasad al-Hawa’ wa at- Taharruz Min Dharar al-Auba’ : Muhammad bin Ahmad at-Tamimy al-Maqdisy (ditulis tahun 370 H/980 M). Naskah ini sudah ditahkik oleh Yahya asy- Syi’ar (Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah, 1999 M).
  • Khuthbah fi Dzikr al-Maut wa al-Waba’ : Al-Khathib bin Nabatah (w. 374 H/984 M). Salah satu naskahnya ada di “Khizanah Jami’ al-Qairawan”.

Abad ke-5 H/11 M

  1. Tahun 406 H/1015 M di Basrah.
  2. Tahun 423 H/1032 M di India dan Asia.
  3. Tahun 425 H/1034 M di Syiraz, Wasith, Ahwaz, Basrah, dan Bagdad.
  4. Tahun 433 H/1041 M di Mousil, Aljazera, dan Bagdad.
  5. Tahun 449 H/1057 M di Bukhara, Azerbaijan, Ahwaz, Wasith, Basrah, dan Samarkand.
  6. Tahun 452 H/1060 M di Hijaz dan Yaman.
  7. Tahun 455 H/1063 M di Mesir.
  8. Tahun 469 H/1076 M di Damaskus.
  9. Tahun 478 H/1085 M, bermula di Irak lalu menyebar ke seluruh dunia.

Karya-karya di abad ini:

  • Risalah fi Tahqiq Amr al-Waba’wa al-Ihtiraz Minhu wa Ishlahuhu Idza Waqa’a : Abu Sahl al-Masihy (w. 401 H/1010 M), telah ditahkik oleh Luth Allah Qary
    denagan judul “Risalatan fi al-Jughrafiya ath- Thibbiyyah wa Ta’tsir al-Bi’ah Ma’a Dirasah ‘an Turatsina al-‘Ilmy Haula al-Maudhu’ (Jami’ah al- Kuwait dan al-Jam’iyyah al-Jughrafiyyah al- Kuwaitiyah, 1426 H/2005 M).
  • Daf’ al-Midhmar al-Kulliyyah ‘an al-Abdan al- Insaniyyah : Ibn Sina (w. 428 H/1037 M), telah ditahkik oleh Zuhair al-Baba (Ma’had at-Turats al- ‘Ilmy al-‘Araby Aleppo, 1984 M).
  • Daf’ Midhmar al-Abdan bi Ardh Mishr : Ali bin Ridhwan (w. 460 H/1068 M), telah diterbitkan di Amerika Serikat dan dicetak di Bagdad tahun 1988 M, lalu di Kuwait tahun 1994 M.

Abad ke-6 H/12 M

  1. Tahun 575 H/1179 M di Bagdad.
  2. Tahun 597 H/1200 M di Mesir.

Karya di abad ini:
Al-Ifadah wa al-I’tibar fi al-Umur al-Musyahadah wa al-Hawadits al-Mu’ayanah bi Ardh Mishr : ‘Abd al- Lathif al-Baghdady (w. 629 H/1231 M), telah dicetak di London dan Damaskus. Buku ini ditulis karena Tha’un yang terjadi di Mesir.

Abad ke-7 H/13 M

  1. Tahun 633 H1235 M.

Karya-karya di abad ini:

  • Idza Nazala al-Waba’ bi Ardh Qawm : Muhammad bin Yusuf al-Mazdaghy al-Fasy (w. 655 H/1257 M). Naskah ini saat ini telah hilang. :
  • Jami’ al-Ghardh fi Hifzh ash-Shihhah wa Daf’ al- Maradh : Ibn al-Quf (w. 685 H/1286 M), ditahkik oleh Samy Hamaranah (al-Jami’ah al-Urduniyah, Aman, 1989 M).

Abad ke-8 H/14 M

  1. Tahun 720 H/1320 M di Mesir.
  2. Tahun 749 H/1348 M di Makkah.
  3. Tahun 764 H/1362 M di Cairo dan Damaskus.
  4. Tahun 769 H/1367 M.
  5. Tahun 771 H/1369 M di Damaskus.
  6. Tahun 781 H/1379 M dan 783 H/1381 M di Mesir.
  7. Tahun 791 H/1389 M.

Karya-karya di abad ini:

  • An-Naba’ ‘an al-Waba’ : Zain ad-Din bin al-Wardy (w. 749 H/1348 M).
  • Kitab ath-Tha’un : Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim bin Ahmad bin Shafwan al-Malaqy (w. 763 H/1361 M), salinan naskahnya sudah hilang.
  • Ishlah an-Niyyah fi al-Mas’alah ath-Tha’uniyyah : Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Muhmmad bin Ja’far bin Musytamil al-Aslamy al-Bilyany (w. 764 H/1362 M).
  • Tahshil Ghardh al-Qashid fi Tafshil al-Maradh al- Wafid : Abu Ja’far Ahmad bin Aby al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Khatimah al-Anshary (w. 770 H/1368 M), ditahkik oleh Muhammad Hasan dalam “Tsalatsu Rasa’il Andalusiyyah fi ath-Tha’un al-Jarif”, diterbitkan oleh “al-Majma’ at-Tunisy li al- ‘Ulum wa al-Adab wa al-Funun”, 2013 M.
  • Maqamah al-Khalil bin Aibak ash-Shafady (w. 764 H/1362 M), ditulis tatkala terjadi wabah Tha’un pada tahun 749 H/1348 M. Ini sebagaimana disebutkan Ibn Hajar dalam “Badzl al-Ma’un”.
  • Juz’ fi ath-Tha’un : Taj ad-Din as-Subky (w. 771 H/1369 M), naskahnya saat ini telah hilang.
  • Hall al-Huba li Irtifa’ al-Waba : Waly ad-Din al- Malawy (w. 774 H/1372 M), telah ditahkik oleh Shalih al-Azhary.
  • Muqni’ah as-Sa’il ‘an al-Maradh al-Ha’il : Lisan ad- Din al-Khathib (w. 776 H1374 M). Ditulis saat terjadi wabah Tha’un di Andalusia tahun 749 H/1348 M. Naskah ini telah ditahkik oleh Hayyah Qarah.
  • Syarh Risalah Muqni’ah as-Sa’il ‘an al-Maradh al- Ha’il : Abdullah bin Muhammad al-Khathib al- Salmany al-Gharnathy (sekitar tahun 769 H/1367 M).
  • Dzikr al-Waba’ wa ath-Tha’un : Abu Muzhaffar as- Sarramary Yusuf bin Muhammad al-‘Abbady ad- Dimasyqy al-Hanbaly (w. 776 H/1374 M). Salah satu naskahnya ada di Chester Beatty dan telah ditahkik oleh Syaukat Rifqy Syaukat (ad-Dar al-Atsariyah, Aman, 1425 H/2003 M)
  • Tahqiq an-Naba ‘an Amr al-Waba : Muhammad bin Ali al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M). Naskah ini sudah hilang.
  • Taqyid an-Nashihah : Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M), telah ditahkik oleh Muhammad Hasan dalam “Tsalatsu Rasa’il Andalusiyyah fi ath-Tha’un al-Jarif”.
  • Risalah fi Ijtinab Waba’ ath-Tha’un : Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Lakhmy asy-Syaqury (hidup tahun 776 H/1374 M).
  • Daf’ an-Niqmah fi ash-Shalah ‘ala Nabiyy ar-Rahmah: Ahmad bin Yahya at-Tilmisany (w. 776 H/1374 M).
  • Ath-Thibb al-Masnun fi Daf’ ath-Tha’un : Ahmad bin Yahya at-Tilmisany (w. 776 H/1374 M).
  • Kitab ath-Tha’un wa Ahkamuhu : Syams ad-Din al- Munjiby al-Hanbaly (w. 785 H/1383 M). Ditulis tatkala terjadi wabah Tha’un tahun 764 H. Telah ditahkik oleh Ahmad bin Muhammad Al Tsany (Dar Ibn Hazm).
  • Juz’ fi ath-Tha’un : Badr ad-Din az-Zarkasyi asy- Syafi’iy (w. 794 H/1391 M). Saat ini salinan naskahnya sudah hilang.

Abad ke-9 H/15 M

  1. Tahun 809 H/1406 M di Mesir
  2. Tahun 813 H/1410 M
  3. Tahun 819 H/1416 M
  4. Tahun 821 H/1418 M
  5. Tahun 822 H/1419 M
  6. Tahun 827 H/1423 M di Quds.
  7. Tahun 833 H/1429 M di Mesir. 8. Tahun 841 H/1437 M
  8. Tahun 849 H/1445 M
  9. Tahun 853 H/1449 M
  10. Tahun 859 H/1454 M
  11. Tahun 864 H/1459 M
  12. Tahun 873 H/1468 M
  13. Tahun 886 H/1481 M di Andalusia.
  14. Tahun 897 H/1491 M di Quds.

Karya-karya di abad ini:

  • Al-Maqalah al-Hukmiyah fi al-Amradh al- Waba’iyah : Ali bin Abdillah at-Tadily (w. 816 H/1413 M).
  • Maqamah fi Amr al-Waba’ : Umar bin Ali al-Malaqy (hidup tahun 844 H/1440 M).
  • Badzl al-Ma’un fi Fadhl ath-Tha’un : al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqallany (w. 852 H/1448 M).
  • Du’a’ li Daf’ ath-Tha’un : al-Hafizh Ibn Hajar al- Asqallany (w. 852 H/1448 M).
  • Tasliyah al-Wajim fi ath-Tha’un al-Hajim : Zain ad- Din ash-Shalihy al-Qadiry (w. 856 H/1452 M).
  • Al-Ad’iyah al-Muntakhabah fi al-Adawiyah al- Mujarrabah : al-Busthamy ‘Abd ar-Rahman al- Anthaky (w. 858 H/1454 M).
  • Washf ad-Dawa’ fi Kasyf Afat al-Waba’ : ‘Abd ar- Rahman al-Anthaky al-Hanafy (w. 858 H/1454 M). Naskahnya sudah hilang.
  • Izhhar an-Naba fi Su’al Daf’ al-Waba : ‘Ilm ad-Din Shalih al-Bulqainy (w. 868 H/1463 M).
  • Mukhtashar Badzl al-Ma’un : Yahya bin Makhluf al- Haddady al-Mishry (w. 871 H/1466 M).
  • Washiyyah an-Nashih al-Awadd fi at-Tahaffuzh Min al-Maradh al-Wafid Idza Wafada : Muhammad bin Aby Bakr al-Qisy (w. 888 H atau 889 H/1484 M).
  • Ath-Thibb fi Tadbir al-Musafirin wa Maradh ath- Tha’un : ‘Abd al-Qahir bin Muhammad at-Tunisy (w. 899 H/1493 M).
  • Al-Ajwibah at-Tunisiyyah ‘ala al-As’ilah al- Gharnathiyah : Muhammad bin al-Qasim at-Tunisy (w. 894 H/1488 M).

Abad ke-10

  1. Tahun 969 H/1561 M di Bait al-Maqdis dan sekitarnya.
  2. Tahun 980 H1572 M sampai 982 H/1574 M
  3. Tahun 987 H/1579 M
  4. Tahun 995 H/1586 M

Karya-karya di abad ini:

  • Fatawa fi ath-Tha’un : Muhammad bin Muhammad al-Mary al-Maqdisy (w. 906 H/1500 M).
  • Kitab ath-Thawa’in : Ibn al-Mubarrid al-Hanbaly (w. 909 H/1503 M).
  • Funun al-Manun fi al-Waba’ wa ath-Tha’un : Ibn al- Mubarrid al-Hanbaly (w. 909 H/1503 M).
  • Ma Rawahu al-Wa’un fi Akhbar ath-Tha’un : al- Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Al-Maqamah ad-Durriyyah fi ath-Tha’un : al-Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Radd as-Suyuthy ‘ala Su’al ‘an Sabab al-Waba’ : al- Hafizh Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M).
  • Risalah al-Waba’ wa Jawaz al-Firar Minhu : Shalah ad-Din Mushtafa al-Hanafy (w. 911 H/1505 M).
  • Mijinnah ath-Tha’un wa al-Waba’ : Ilyas al-Yahudy bin Ibrahim al-Asiyany (ditulis tahun 915 H/1509 M).
  • Tuhfah ar-Raghibin fi Bayan Amr ath-Thawaghin : Zakariya bin Muhammad al-Anshary (w. 926 H/1519 M).
  • Al-Iba’ fi Mawaqi’ al-Waba’ : Idris bin Hisam ad-Din al-Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Hushn al-Waba’ : Idris bin Hisam ad-Din al-Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Risalah ath-Tha’un : Idris bin Hisam ad-Din al- Badlisy (w. 930 H/1523 M).
  • Rahah al-Arwah fi Daf’ ‘Ahah al-Asybah : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Risalah fi al-Manafi’ wa al-Khawash li Daf’ ath- Tha’un wa al-Waba’ : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Risalah fi Bayan Du’a’ ath-Tha’un : Ibn Kamal Basya (w. 940 H/1533 M).
  • Du’a’ Yuqra’u wa Yuktabu fi Zaman ath-Tha’un : Ahmad bin Ahmad as-Sanhujy (w. 943 H/1536 M).
  • Manzhumah fi ath-Tha’un wa al-Waba’ : Abu al- Hasan al-Bakry ash-Shadiqy (w. 952 H/1545 M).
  • Su’al fi ath-Tha’un wa Jawabuhu : Abu al-Hasan al- Bakry ash-Shadiqy (w. 952 H/1545 M).
  • Tuhfah an-Nujaba’ bi Ahkam ath-Tha’un wa al- Waba’ : Syams ad-Din bin Thulun ash-Shalihy (w. 953 H/1546 M).
  • ‘Umdah ar-Rawin fi Bayamn Ahkam ath-Thawa’in : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar- Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Al-Bisyarah al-Haniyyah bi Anna ath-Tha’un La Yadkhul Makkah wa al-Madinah : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar-Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Al-Qaul al-Mubin fi Anna ath-Tha’un La Yadkhul al-Balad al-Amin : Syams ad-Din Muhammad bin Muhammad ar-Ra’ainy (w. 954 H/1547 M).
  • Tasliyah al-Mahzun Mimma Waqa’a fi Sanah Tis’u wa Tsamanin Min ath-Tha’un : Ali bin Ahmad al- Anshary al-Qarafy (w. 964 H/1556 M).
  • Risalah asy-Syifa’ fi Adwa’ al-Waba’ : Thasybakry Zadah ‘Isham ad-Din Ahmad bin Khalil ar-Rumy (w. 968 H/1560 M).
  • Risalah fi ath-Tha’n wa ath-Tha’un : Ibn Nujaim Zain ad-Din al-Mishry (w. 970 H/1562 M).
  • Mas’alah ath-Tha’un : Ibn Hajar al-Haitamy (w. 973 H/1565 M).
  • Ma Yajib an Yu’iha al-Wa’un fi Masa’il Tark ath- Thuhur wa Dzikr ath-Tha’un : al-Imam Syarf ad- Din al-Mutawakkil Yahya az-Zaidy (w. 977 H/1569 M).

Abad ke-11 H/17 M

  1. Tahun 1028 H/1618 M di Quds dan sekitarnya.

Karya-Karya di abad ini:

  • Bayan Ma Yaktafy bihi as-Sa’un fi Fahm Amr ath- Tha’un : Muhammad bin Muhammad al-‘Uqaily (w. 1001 H/1592 M).
  • Ma Yaf’aluhu al-Athibba’ wa ad-Da’un li Daf’ Syarr ath-Tha’un : Mar’iy al-Karmy al-Maqdisy (w. 1033 H/1623 M).
  • Tahqiq azh-Zhunun bi Akhbar ath-Tha’un : Mar’iy al-Karmy al-Maqdisy (w. 1033 H/1623 M).
  • Khulashah Ma Tuhasshal ‘alaihi as-Sa’un fi Adawiyah Daf’ al-Waba’ wa ath-Tha’un : Muhammad bin Fath Allah al-Biluny (w. 1042 H/1632 M).
  • Tahqiq al-Anba’ Fima Yata’allaq bi ath-Tha’un wa al-Waba’ : Abu Hamid al-‘Araby al-Fasy (w. 1052 H/1642 M).
  • Khulashah Ma Rawahu al-Wa’un Min al-Akhbar al- Waridah fi ath-Tha’un : Anonim (diduga Ibn Hajar).
  • Hada’iq al-‘Uyun al-Bashirah fi Akhbar Ahwal ath- Tha’un wa al-Akhirah : Ibrahim bin Aby Bakr al- Hanbaly (w, 1049 H/1639 M).
  • Al-Qanun fi ath-Tha’un : Ahmad al-Hashuny (abad ke-11 H/17 M).

Abad ke-12 H/18 M

  1. Tahun 1156 H/1742 M
  2. Tahun 1174 H/1760 M
  3. Tahun 1200 H/1785 M di Bait al-Maqdis dan sekitarnya.

Karya-Karya di Abad ini:

  • Maskan asy-Syajun fi Hukm al-Firar Min ath-Tha’un: Sayyid Ni’mah al-Jaza’iry (w. 1112 H/1700 M).
  • Minhah ath-Thalibin li Ma’rifah Asrar ath-Thawa’in: Zain ad-Din al-Minawy (w. 1131 H/1718 M).
  • Jawab fi Ahkam ath-Tha’un : Ahmad bin Mubarak al-Lamthy (w. 1155 H/1741 M).
  • Ta’lif fi Ahkam ath-Tha’un al-Waqi’ ‘Am 1156 H/1742 M : Muhammad bin al-Hasan al-Banany (w.?)
  • Sirr as-Sa’un fi Daf’ ath-Tha’un : Quthb ad-Din al- Bakry ash-Shadiqy (w. 1162 H/1748 M).

Abad ke-13 H

  1. Tahun 1228 H/1812 M

Karya-Karya di abad ini:

  • Jihaz al-Ma’jun fi al-Khalash Min ath-Tha’un : Sa’d ad-Din Sulaiman bin ‘Abd ar-Rahim (w. 1202 H/1787 M).
  • Ar-Risalah ath-Tha’uniyah : Muhammad Mahdy Bahr al-‘Ulum (w. 1212 H/1797 M).
  • Ajwibah fi Ahkam ath-Tha’un : Muhammad bin Ahmad ar-Rahuny (w. 1230 H/1814 M).
  • Husn an-Naba fi Jawaz at-Tahaffuzh Min al-Waba : Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Awwal at- Tunisy (w. 1246 H/1847 M).
  • Dirasah fi Ahwal al-Waba’ al-Mubidah : dinisbahkan kepada Al-Khury Isa Bitru (w. 1250 H/1834 M).
  • Ittihaf al-Munshifin wa al-Udaba’ bi Mabahits al- Ihtiraz ‘an al-Waba’ : Al-Khawajah Hamdan bin ‘Utsman al-Jaza’iry (w. 1255 H/1838 M).Tarjamah Ittihaf al-Munshifin wa al-Udaba’ bi Mabahits al-Ihtiraz ‘an al-Waba’ : Al-Khawajah Hamdan bin ‘Utsman al-Jaza’iry (w. 1255 H/1838 M).
  • Fatwa fi Waba’ ath-Tha’un : dinisbahkan kepada Muhammad Birim ar-Rabi’ (w. 1278 H/1861 M).

Abad ke-14 H

Sejauh penelusuran penulis, di abad ini tidak ada tragedi wabah.

Karya-Karya di abad ini:

  • Kitab ash-Shfwah ath-Thibbiyyah wa as-Siyasiyyah ash-Shihhiyyah fi al-Amradh al-Mu’diyah wa al- Waba’iyah wa al-Fawa’id al-‘Ilajiyah adh- Dharuriyyah li Hifzh ash-Shihhah al-Basyariyah wa al-Hayawaniyah : Muhammad Shfawat (w. 1308 H/1890 M).
  • Aqwal al-Mutha’in fi ath-Tha’n wa ath-Thawa’in : Muhammad al-‘Araby bin ‘Abd al-Qadir al-Gharisy (w. 1313 H/1895 M).
  • Jawab al-Wazir fi Hurmah Imtina’ al-Haj ‘an Dukhul Makkah ‘Inda al-Waba’ al-Kabir : ‘Abd al-Hamid bin Umar Nu’aimy ar-Rumy (w. 1320 H/1902 M).

Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar MA, Doktor di bidang Filologi-Astronomi lulusan “Institute of Arab Research and Studies” Cairo, Mesir. Aktivitasnya saat ini adalah dosen tetap Fakultas Agama Islam UMSU, dan saat ini diamanahi menjadi Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU). Disalin dari tajdid

Akidah Salafi, Akhlak Tablighi, Ukhuwah Ikhwani, Ibadah Sufi, Potret Idealkah?

AKIDAH SALAFI, AKHLAK TABLIGHI, UKHUWAH IKHWANI, IBADAH SUFI, POTRET IDEALKAH?

Oleh
Ustadz Abdullah Zaen, M.A

Di suatu pagi, beberapa bulan lalu, penulis terlibat perbincangan dengan sesama da’i seputar perkembangan dakwah salafiyyah di tanah air yang cukup menggembirakan meski masih ada beberapa kekurangan di berbagai lini. Di tengah-tengah perbincangan ringan tersebut, terlontar suatu pertanyaan yang bersumber dari sebuah keprihatinan rekan penulis, “Ustadz, bagaimana cara membuat Salafi memiliki semangat juang dakwah tinggi seperti Ikhwah Tablighiyyun (Jama’ah Tabligh)?” Saat itu penulis hanya diam dan tidak serta-merta menjawab pertanyaan tersebut. Lalu kami tenggelam dalam pembicaraan masalah lainnya. Hingga selesailah majelis tersebut, tanpa membahas jawaban dari pertanyaan tadi.

Permasalahan tersebut ternyata terus menggelayuti pikiran, dan ‘menantang’ untuk menemukan jawaban yang tepat dan berbobot. Apalagi memang sebelumnya penulis beberapa kali pernah dihadapkan kepada pertanyaan serupa. Sampai akhirnya tertuanglah tulisan ini, yang sebenarnya  merupakan jawaban dari pertanyaan di atas.

Antara ajaran Salaf dan Salafiyyun
Statemen ‘Berakidah Salafi, Berakhlak Tablighi, Jalinan Ukhuwah Model  Ikhwani, Ketekun Ibadah Ala Sufi’ sering dilontarkan sebagian kalangan sebagai sebuah impian untuk mewujudkan karakteristik Muslim ideal, menurut mereka tentunya. Tampaknya, salah satu pemicu munculnya ide ini adalah fenomena praktek banyak pengikut beragam kelompok Islam yang cenderung mengkonsentrasikan diri dalam pengamalan sebagian sisi ajaran agama, dan kurang mengindahkan sisi lainnya. Sehingga timbullah ide penggabungan ‘kelebihan’ masing-masing kelompok, guna menciptakan potret sosok ‘Muslim ideal’.

Yang jadi pertanyaan, perlukah melakukan kombinasi seperti di atas? Tidak cukupkah manhaj Salaf membentuk seorang Muslim sejati ? Bukankah manhaj Salaf (ajaran Ahlus Sunnah) adalah ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Imam al-Barbahâri rahimahullah (w. 329 H)?[1] Sehingga jika seorang telah bermanhaj Salaf secara totalitas; maka otomatis ia akan menjadi Muslim ideal!

Tentunya jawaban para pembaca akan amat beragam; tergantung ideologi yang dianut masing-masing. Mungkin akan ada yang menjawab, “Ya, kita memerlukan inovasi tersebut! Untuk menciptakan sosok Muslim ideal, tidak cukup hanya dengan bermanhaj Salaf! Sebab mereka yang menisbatkan dirinya kepada manhaj Salaf tidak mencerminkan gambaran Muslim ideal!”.

Argumentasi yang disampaikan tersebut mungkin bisa dibenarkan, karena yang dijadikan obyek sorotan adalah individu yang menisbatkan diri pada manhaj Salaf, yang belum tentu mencerminkan hakikat manhaj tersebut. Namun jika yang dijadikan obyek sorotan adalah ajaran manhaj Salaf; tentu argumen tersebut keliru. Sebab di antara sekian banyak ideologi yang ada di lapangan, manhaj Salaflah yang haq; karena satu-satunya yang mereprentasikan ajaran Islam yang benar. Saat ini bukan momennya untuk membuktikan hal tersebut, para pembaca budiman yang merasa penasaran bisa merujuk buku-buku yang ditulis khusus membahas permasalahan itu.[2]
Bila ada yang mengkritik dengan berkata, “Kalau memang manhaj Salaf adalah Islam itu sendiri, mengapa banyak di antara mereka yang menisbatkan diri kepada manhaj tersebut tidak bisa dijadikan contoh potret muslim ideal?”.

Maka dapat dijawab dengan pernyataan, “Ya, sebab tidak setiap orang yang menisbatkan diri kepada manhaj Salaf, alias yang menamakan diri dengan Salafi, berarti otomatis telah menerapkan manhaj tersebut secara total. Sebagaimana tidak setiap orang yang menisbatkan diri kepada agama Islam, alias mengaku sebagai seorang Muslim; otomatis sudah mempraktekkan seluruh ajaran Islam. Jadi, yang bermasalah di sini adalah personalnya (orangnya), bukan ajarannya.

Adapun kelompok-kelompok lain, dari sisi ajarannya sudah bermasalah, maka tidak heran jika penganutnya pun juga banyak bermasalah. Sehingga untuk memperbaikinya, minimal harus ada dua fase yang ditempuh:

  1. Meluruskan ajaran kelompok tersebut.
  2. Membenarkan kekeliruan perilaku pengikut kelompok itu.

Sedangkan kekeliruan yang ada pada ‘oknum’ Salafi, maka jalan pelurusannya hanya membutuhkan satu fase saja, yaitu memperbaiki perilaku ‘oknum’ tersebut, tanpa perlu meluruskan ajarannya, sebab ajarannya telah benar”.

Sebagian kalangan mungkin tetap menyanggah, “Namun, bukankah tidak seluruh ajaran kelompok-kelompok non Salafi dianggap salah? Masing-masing juga memiliki kebenaran, meskipun itu hanya bersifat parsial. Apa salahnya kelebihan-kelebihan tersebut diambil? Bukankah dalam hadits telah disebutkan:

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Kalimat hikmah adalah barang temuan seorang Mukmin. Di manapun ditemukan, dialah yang paling berhak untuk mengambilnya.[3]
Maka argumentasi itu dapat dijawab dengan, “Kita bukan sedang mengatakan bahwa seluruh ajaran kelompok-kelompok tersebut salah, dan mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Namun, apakah kebaikan yang mereka miliki tidak ada dalam ajaran Ahlus Sunnah yang mereprentasikan ajaran Islam itu sendiri?

Menarik sekali untuk kita cermati apa yang dipaparkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w.728H) tatkala menjelaskan bahwa Ahlus sunnah memiliki kelebihan-kelebihan yang dimiliki kelompok lain, bahkan tingkatannya lebih sempurna. Dan bukan hanya itu, Ahlus sunnah juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki berbagai kelompok tersebut”.[4]
Dalam makalah singkat ini, insya Allâh akan dipaparkan penjelasan tentang kesempurnaan manhaj Salaf yang meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya hal yang berkaitan dengan akhlak, ukhuwah dan ibadah yang muatannya jauh lebih sempurna dibandingkan konsep yang dimiliki kelompok-kelompok lain.

Manhaj Salaf dan Akhlak
Akhlak menempati kedudukan yang amat urgens di mata Ulama Salaf. Banyak hal yang menunjukkan hal tersebut. Di sini, hanya akan diulas melalui dua sudut tinjauan; teoritis dan praktek.

Dilihat dari tinjauan teoritis, sudah masyhur bahwa para Ulama Salaf telah membukukan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi akhlak dan adab. Sebagian menyelipkannya dalam kitab yang mereka tulis dalam pembahasan hukum-hukum Islam, ada yang menulis buku khusus yang memuat hadits-hadits dan pembahasan tentang akhlak, bahkan ada pula yang memasukkan pembahasan akhlak dalam kitab akidah.

Sekedar contoh jenis pertama, Imam al-Bukhâri (w. 256 H) dalam kitabnya Shahîh al-Bukhâri memuat lebih dari 250 hadits tentang akhlak. Imam Abu Dâwud (w. 275 H) menulis sekitar 500-an hadits akhlak dalam kitab Sunannya. Begitu pula Imam Ibnu Hibbân (w. 354 H) membawakan lebih dari 670 hadits dalam kitab Shahîhnya.

Contoh jenis kedua, kitab al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhâri (w. 256 H), Makârimul Akhlâq karya Imam Ibnu Abid Dun-ya (w. 281 H), Akhlâqul -‘Ulamâ’ karya Imam al-Âjurri (w. 360 H), al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Imam Ibn Muflih (w. 803 H) dan masih banyak contoh lainnya.

Contoh jenis ketiga, pembahasan akhlak yang dimasukkan oleh Imam ash-Shâbûni (w. 449 H) dalam kitabnya ‘Aqîdatus Salaf Ash-hâb al-Hadîts, Imam Ibn Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya al-‘Aqîdah al-Wâsithiyyah, juga yang lainnya. Ini menunjukkan betapa tinggi urgensi akhlak di mata ulama Salaf dan adanya keterkaitan erat antara akidah dengan akhlak. Untuk itu, mereka memasukkan pembahasan akhlak dalam kitab-kitab akidah.

Adapun ditinjau dari sisi praktek nyata dalam kehidupan ulama Salaf, maka ini merupakan lautan tak bertepi. Bagi yang ingin mengetahui sebagian dari potret indah tersebut, bisa menelaah kitab-kitab yang ditulis untuk memaparkan biografi para ulama, semisal Hilyatul Auliyâ’ karya Imam Abu Nu’aim al-Ashbahâni (w. 430 H), Shifatus Shafwah karya al-‘Allamah Ibnul Jauzi (w. 597 H), Siyar A’lâmin Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabi (w. 748 H) dan lain-lain. Niscaya kita akan menjumpai keajaiban dan kemuliaan akhlak mereka di dalamnya!

Kelebihan manhaj Salaf dalam masalah akhlak amatlah banyak. Di antaranya, perhatian mereka terhadap akhlak mulia tidak mengakibatkan terkesampingkannya dakwah terhadap inti agama yakni akidah. Bahkan mereka tetap memprioritaskan dakwah tauhid, namun sambil dikemas dan disampaikan dengan akhlak mulia [5]. Dalam hal ini dan yang lainnya, mereka meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Selama belasan tahun, beliau berkonsentrasi mendakwahkan akidah, sambil menghiasinya dengan akhlak mulia.

Dengan mencermati kelebihan manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah akhlak ini, kita bisa membaca kelemahan manhaj akhlak yang diusung teman-teman Jama’ah Tabligh. Perhatian ekstra mereka terhadap pembentukan akhlak mulia, seringkali mengakibatkan terkesampingkannya pembenahan akidah dalam sorotan dakwah mereka. Bahkan terkadang mereka cenderung menghindarkan diri untuk membahas permasalahan akidah dengan alasan khawatir masyarakat menjauh. Tentunya ini merupakan kekeliruan yang tidak bisa dianggap remeh.

Padahal, jika penyampaian akidah dikemas dengan akhlak mulia; tentu akan lebih mudah diterima umat. Andaikan metode ini telah ditempuh lalu dakwah tidak diterima juga dan sang da’i dijauhi sebagian masyarakatnya; maka itu sudah merupakan salah satu resiko para penyeru kebenaran. Lihatlah bagaimana sosok yang paling sempurna akhlaknya; Rasûlullâh n tetap menghadapi tantangan berat dalam berdakwah.

Manhaj Salaf dan Ukhuwah
Ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu poin pembahasan yang mendapatkan perhatian ekstra dalam Manhaj Salaf. Banyak sisi yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya pemaparan urgensi ukhuwah saat para ulama Salaf menafsirkan ayat-ayat al-Qur’ân yang berisikin motivasi untuk merajut dan menjaga tali ukhuwah sesama kaum Muslimin. Juga saat mereka mengupas dan menjabarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan permasalahan serupa. Para pembaca bisa temukan hal itu dalam beragam kitab tafsir semisal Tafsîr ath-Thabari, Tafsîr al-Baghawi, Tafsîr Ibn Katsîr dan yang lainnya. Juga berbagai kitab syurûh al-ahâdîts (kitab penjabar hadits) seperti Syarh as-Sunnah karya Imam al-Baghawi (w. 516 H), Syarh Shahîh Muslim karya Imam an-Nawawi (w. 676 H), Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri karya al-Hâfizh Ibnu  Hajar al-‘Asqalani (w. 857 H) dan lain-lain.

Sisi lain yang mengungkapkan perhatian manhaj Salaf terhadap peretasan ukhuwah di antara kaum Muslimin, pemaparan para ulama Salaf dalam kitab akidah yang mereka tulis tentang faktor-faktor yang dapat mengeratkan ukhuwah, juga peringatan mereka dari berbagai sebab pemicu kerenggangan ukhuwah.

Contoh jenis pertama, motivasi untuk menyolati dan mendoakan kaum Muslimin yang meninggal dunia, walaupun mereka adalah pelaku dosa kecil maupun besar, selama itu bukan kekufuran. Sebagaimana disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 219 H) dalam kitabnya, Ushûl as-Sunnah. Pengamalan adab di atas dan yang lainnya tentu akan berdampak besar bagi terajutnya ukhuwah di antara kaum Muslimin.

Contoh jenis kedua, peringatan dari praktek adu domba, dusta, menggunjing dan perbuatan zhalim lainnya yang bisa merenggangkan (bahkan memutus) ukhuwah antar kaum Muslimin, sebagaimana dipaparkan Imam al-Muzani rahimahullah (w. 264 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah.

Keunggulan manhaj Salaf dalam bab ukhuwah terlihat dari tidak dikesampingkannya sisi ajaran Islam lainnya, seperti praktek amar makruf nahi munkar, saat berupaya membentuk jalinan ukhuwah. Dan ini jelas merupakan keistimewaan dalam pola beragama, dimana penerapan sebagian ajaran syariat tidak mengakibatkan terbengkalainya sebagian ajaran syariat yang lain. Sehingga muncullah keseimbangan dan kesempurnaan dalam beragama.

Adapun konsep ukhuwah yang diusung Ikhwânul Muslimîn (IM), memiliki kelemahan dari sisi ‘dikesampingkannya’ aktifitas amar makruf nahi munkar guna mewujudkan ukhuwah tersebut. Kelemahan tersebut bersumber dari teori ukhuwah yang diciptakan pendiri IM, Hasan al-Banna rahimahullah, yang berbunyi: “Saling bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling bertoleransi dalam perbedaan”.

Teori ini terdiri dari dua bagian; bagian pertama benar, bagian kedua perlu dirinci lebih lanjut. Perbedaan dalam permasalahan ijtihâdiyyah bisa ditolerir. , Adapun perbedaan dalam permasalahan yang tidak ada ruang ijtihâd di dalamnya (semisal akidah, red), maka ini tidak bisa ditolerir. Demikian penjelasan yang disampaikan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah.[6]
Adapun mempraktekkan bagian kedua dari teori ukhuwah di atas secara mutlak; maka beresiko lumpuhnya praktek amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan salah satu pondasi tegaknya agama Islam ini. Di antara indikasi diterapkannya teori ini secara mutlak oleh banyak kalangan IM; kalimat yang diteriakkan salah satu tokoh besar IM saat berorasi di depan massa ketika terjadi ‘peperangan’ antara Hizbullâh dengan Israel; “Musuh Sunni bukan Syi’ah, dan musuh Syi’ah bukan Sunni!”. (Hanya kepada Allâh Azza wa Jalla sajalah kita mengadu…)

Padahal sejatinya, tidaklah ada kontradiksi antara penerapan ukhuwah dengan penegakan amar ma’ruf nahi munkar; sebab keduanya merupakan bagian syariat Islam dan syariat Islam tidak mungkin saling bertentangan. Alangkah baiknya kita cermati susunan ayat 104 dan 105 dari surat an-Nisa. Ayat pertama berisikan perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan ayat kedua berisikan larangan untuk berpecah belah. Diiringinya ayat perintah amar makruf nahi mungkar dengan ayat larangan berpecah belah mengisyaratkan bahwa penerapan amar makruf nahi mungkar tidaklah beresiko menimbulkan perpecahan dan kerenggangan ukhuwah Islamiyyah.[7]
Barangkali ada yang menganggap tidak mungkin penegakan amar ma’ruf nahi mungkar berhasil tanpa menimbulkan kerenggangan ukhuwah. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan bentuk usaha meluruskan kekeliruan yang seringkali tidak diterima oleh pelakunya.

Jawabannya, sangat mungkin tidak menimbulkan gesekan, jika amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan lemah lembut dan memperhatikan skala prioritas dalam pengingkaran[8], juga jika sambil diiringi pemenuhan hak-hak  sesama Muslimin, seperti menebarkan salam, menengok yang sakit, bertakziyah ketika ada musibah dan yang lainnya[9].

Manhaj Salaf dan Ibadah
Ibadah mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam manhaj Salaf. , Bagaimana tidak? Lantaran tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk menegakkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla .

Banyak hal yang menunjukkan hal di atas. Di antaranya: kitab-kitab hadits yang di dalamnya para ulama Salaf menyisipkan pembahasan khusus yang berisikan motivasi untuk rajin beribadah. Contohnya antara lain: kitâb ar-riqâq dalam Shahîh al-Bukhari, kitâb az-zuhd wa ar-raqâ’iq dalam Shahîh Muslim, abwâb az-zuhd dalam Sunan at-Tirmidzi  dan masih banyak lainnya.

Bahkan tidak sedikit ulama Salaf yang menulis buku khusus yang berisikan motivasi untuk beribadah dan peringatan dari melalaiannya, semisal at-Targhîb wa at-Tarhîb karya Imam al-Mundziri (w. 656 H), al-Matjar ar-Râbih fî Tsawâb al-‘Amal ash-Shâlih karya al-Hâfizh ad-Dimyâthi (w. 705 H), dan yang lainnya.

Ini sisi pemaparan teori, adapun sisi prakteknya; maka sejarah kehidupan para Ulama Salaf dipenuhi dengan potret keseriusan dan ketekunan mereka dalam beribadah. Silahkan ditelaah buku-buku biografi para ulama yang telah penulis sebutkan beberapa contohnya di depan.

Keistimewaan manhaj Salaf dalam bab ibadah terlihat, antara lain melalui penggabungan antara unsur ikhlas dan mutâba’ah (meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dalam beribadah, dua perkara yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan. Kelebihan lain juga dapat disaksikan dari keseimbangan dalam memperhatikan tiga pondasi ibadah; rasa takut, rasa harap dan kecintaan terhadap Allah.

Adapun metode ibadah yang diusung kaum Sufi, memiliki berbagai ‘catatan merah’. Antara lain, kurang diperhatikannya faktor mutaâba’ah (meneladani petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah), sehingga mereka kerap hanyut dalam ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (baca: bid’ah). Juga di antara kekurangan metode Sufi dalam beribadah, ketimpangan dalam mempraktekkan pondasi ibadah. Banyak di antara mereka cenderung hanya menekankan sisi kecintaan pada Allâh Azza wa Jalla , lalu ‘mengesampingkan’ rasa takut akan neraka dan harapan memperoleh surga.

Penutup
Semoga makalah singkat ini bisa sedikit menggambarkan kesempurnaan manhaj Salaf beserta kelebihan-kelebihannya. Harapan lain, semoga tulisan ini bisa dijadikan sebagai wahana instrospeksi diri, baik oleh Salafiyyun maupun para pengikut kelompok lain. Bagi Salafiyyun yang belum menerapkan manhaj Salaf secara total hendaknya mereka bergegas memperbaiki diri guna meraih keselamatan dunia dan akhirat, juga agar mereka bisa menjadi contoh dan suri teladan dalam penerapan Islam yang benar, sehingga tidak menjadi pintu penghalang masuknya kaum Muslimin ke dalam manhaj Salaf.

Adapun bagi para pengikut kelompok lain, hendaklah mereka segera membenahi diri dan ajaran kelompoknya. Pemaparkan berbagai sisi kelemahan ajaran kelompok-kelompok tersebut di atas, insya Allâh tidak bertujuan  kecuali sebagai bentuk upaya nasehat.

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mengadakan) perbaikan semampuku. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah”. [Hûd/11: 88].

Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1]  Lihat Syarhus Sunnah dalam Irsyâd as-Sâri fî Syarhis -Sunnah li al-Barbahâri oleh Syaikh Ahmad an-Najmi (hlm. 26)
[2]  Contohnya seperti: Fadhl ‘Ilm as-Salaf ‘alâ al-Khalaf karya Imam Ibn Rajab, Limâdzâ Ikhtartu al-Manhaj as-Salafî karya Syaikh Salîm al-Hilâli dan Irsyâdul Bariyyah ilâ Syar’iyyati -Intisâb ilâs Salafiyyah karya Syaikh Hasan ar-Rîmi
[3]  HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Beliau menyatakan hadits ini “gharîb” dan Syaikh al-Albâni menilainya lemah sekali
[4]  Lihat  Majmû’ al-Fatâwâ (IV/24)
[5]  Lihat berbagai contoh akhlak mulia tersebut beserta dampak positifnya untuk dakwah, dalam makalah kami yang berjudul Berdakwah dengan Akhlak Mulia, materi kajian umum di Masjid at-Ta’awun Klaten pada tanggal 27 Juni 2010.
[6] Lihat: Zajr al-Mutahâwin, Hamd al-‘Utsmân hlm. 129
[7] Silahkan lihat al-Hatstsu ‘alâ al-I’tishâm bi Dînillâh wa Ijtimâ’ al-Kalimah, Syaikh Ibrâhîm ar-Ruhaili hlm. 4
[8] Ash-Shahwah al-Islâmiyyah , Syaikh al-‘Utsaimin hlm. 119
[9] Lihat al-Hatstsu ‘alâ al-I’tishâm bi Dînillah hlm. 3-5

Orang Mukmin Tercipta Penuh Coba

ORANG MUKMIN TERCIPTA PENUH COBA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اْلمُؤْ مِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا تَوَّابًا نَسَّاءً، إِذَا ذُكِرَ ذَكَرَ

Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan مُفَتَّنًا (mufattan= penuh cobaan), تَوَّابًا (tawwab = senang bertaubat), dan نَسَّاءً  (nassaa’ = suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat“.[1]

Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak  pernah terjauhkan dari mereka.

Mufattan (مُفَتَّنًا )
Artinya : “Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa[2].

Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.

Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفِيئُهَا الرِّيحُ تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى حَتَّى يَأتِيَ اَجَلُهُ، وَمَثَلُ المُنَا فِقِ ِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ الَّتِى لَا يُصِيْبُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَ

Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus[3].

Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.

Tawwaab Nasiyy (تَوَّابًا نَسَّاءً )
Artinya : “Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat“.[4]

Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar“. [Thaha/20 : 82].

Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat
Artinya : “Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya“.

Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.

Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka …..”. [Ali Imran/3:159]

Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

(Majalah Al-Ashalah edisi 15, Th III 15 Dzul Qa’dah 1415H)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun III/1419H/1998M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Silsilah Hadits Shahih No. 2276
[2] Faid-Qadir 5/491
[3] Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027
[4] Faid-Al Qadir 5/491