Author Archives: editor

Rukun-Rukun Iman

RUKUN-RUKUN IMAN

Rukun iman ada enam yaitu yang disebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihissalam tatkala bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang iman, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ». متفق عليه

Kamu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada ketentuan baik dan buruk-Nya. Muttafaqun ‘alaih.[1]

IMAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengandung empat perkara:

1. Beriman dengan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan fithrah kepada setiap makhluk untuk beriman kepada Penciptanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ [الروم/30]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah Subhanahu wa Ta’ala); (tetaplah atas) fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Ar-Rumm/30 :30]

Akal sehat manusia menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya,  harus ada sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai pencipta. Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ  [الطور/35- 36]

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). [Ath-Thur/ :35-36]

Perasaan manusia menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya kita melihat silih bergantinya malam dan siang, rizqi manusia dan hewan, pengaturan urusan semua makhluk, memberikan indikasi yang pasti terhadap adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ  [النور/44]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. [An-Nur/24:44]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkuat para rasul dan Nabi-Nya dengan tanda-tanda dan mukjizat yang dapat dilihat atau didengar manusia. Ia merupakan perkara-perkara yang berada di luar batas kemampuan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkuat dan menolong para rasul-Nya dengan mukjizat tersebut. Ini merupakan tanda yang pasti terhadap adanya yang mengutus mereka, Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat api menjadi dingin dan memberikan keselamatan  terhadap Ibrahim Alaihissallam, membelah laut bagi Musa Alaihissallam, menghidupkan orang mati bagi Isa Alaihissallam, dan membelah bulan bagi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sudah sekian banyak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan orang-orang yang berdoa, memberi kepada orang-orang yang meminta, menolong orang-orang yang kesusahan, yang menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, ilmu dan kekuasaan-Nya.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال تعالى: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ  [الأنفال /9]

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu :”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [Al-Anfaal/8 :9]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال تعالى: وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ  [الأنبياء/83- 84].

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Al-Anbiya/21`:83-84]

Syariat menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hukum-hukum yang mencakup segala kepentingan makhluk, dan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-kitab-Nya terhadap para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rasul-Nya merupakan bukti bahwa hal itu berasal dari Rabb Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Mengetahui terhadap segala kepentingan hamba-Nya.

2. Beriman bahwa Allah adalah Rabb satu-satunya

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 50 dan Muslim no. 8 dan ini adalah lafazhnya.

Beriman Bahwa Allah Adalah Rabb Satu-satunya

IMAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

2. Beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya:
Rabb adalah yang memiliki ciptaan, kerajaan, dan perkara. Maka, tiada yang menciptakan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada yang menjadi raja selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semua perkara adalah milik-Nya. Makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah kerajaan-Nya, dan perkara adalah perkara-Nya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Mengasihi apabila diminta kasih sayang-Nya, mengampuni apabila diminta ampunan-Nya, memberi apabila diminta, dan mengabulkan bila dimohon. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ  [الأعراف/54]

Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. [Al-A’raaf/7:54]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [المائدة/ 120]

Kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Maidah/5:120]

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala makhluk, mengadakan semua yang ada, membentuk segala sesuatu yang ada di jagad raya, menciptakan langit dan bumi, matahari dan bulan, malam dan siang, air dan tumbuhan, manusia dan hewan, gunung dan lautan.

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا  [الفرقان/2].

Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. [Al-Furqan/25:2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya. Dia tidak mempunyai menteri, tidak memiliki pemberi saran, dan tidak ada penolong. Maha Suci Dia Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Beristiwa di atas arsy dengan kekuasaan-Nya, membentangkan bumi dengan kehendak-Nya, menciptakan segala makhluk dengan keinginan-Nya, menguasai makhluk dengan kekuatan-Nya, Rabb timur dan barat, tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, Maha Meliputi atas segala sesuatu, Raja segala sesuatu, Maha Mengetahui dengan segala sesuatu, Maha Berkuasa di atas segala sesuatu. Semua leher (jiwa) tunduk bagi keagungan-Nya, segala suara khusyu’ bagi kehebatan-Nya (pengaruh-Nya). Orang-orang yang kuat menjadi lemah karena kekuatan-Nya. Semua pandangan tidak bisa melihat-Nya dan Dia melihat segala pandangan. Dia-lah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui/ Mengenal. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia mau.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  [يس/82]

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah!” maka terjadilah ia. [Yasin/36:82]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan nyata, Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, mengetahui beratnya gunung, mengetahui timbangan laut, mengetahui bilangan/jumlah titik hujan, mengetahui bilangan daun-daun di pepohonan, mengetahui biji-biji pasir, dan mengetahui yang digelapi malam dan diterangi siang:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ  [الأنعام/59]

Dan pada sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). [Al-An’aam/6:59]

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap hari berada dalam setiap urusan. Tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang samar atas-Nya. Mengatur perkara, mengirim angin, menurunkan hujan, menghidupkan bumi setelah matinya, memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendakinya, menghidupkan dan mematikan, memberi dan menegah (menolak dan memberi), merendahkan dan mengangkat.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [الحديد/3]

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Hadid/57 :3]

Kita mengetahui dan meyakini bahwa perbendaharaan langit dan bumi, semuanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan segala sesuatu yang ada, maka khazanahnya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Khazanah air, khazanah tumbuhan, khazanah udara, khazanah barang tambang, khazanah kesehatan, khazanah keamanan, khazanah nikmat, khazanah siksa, khazanah kasih sayang, khazanah petunjuk, khazanah kekuatan, khazanah kemuliaan, semua khazanah ini dan yang lainnya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di Tangan-Nya.

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ  [الحجر/21]

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya ; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. [Al-Hijr/15:21].

Apabila kita telah mengetahui hal tersebut dan yakin  terhadap kekuasaan, keagungan, kekuatan, kebesaran, pengetahuan, khazanah, kasih sayang, dan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya hati pasti menghadap kepada-Nya, terbukalah dada untuk menyembah-Nya, seluruh anggota tubuh tunduk karena taat kepada-Nya, lisan mengucapkan zikir kepada-Nya karena mengagungkan dan membesarkan, bertasbih (mensucikan) dan bertahmid (memuji), maka janganlah kamu meminta kecuali kepada-Nya, jangan meminta tolong kecuali kepada-Nya, jangan bertawakkal selain kepada-Nya, jangan takut kecuali dari-Nya, jangan menyembah selain kepada-Nya.

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ  [الأنعام /102]

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [Al-An’aam/6:102]

3. Beriman kepada Uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Beriman Kepada Uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala

IMAN KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

3. Beriman kepada Uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja ilah yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah. Dia-lah Rabb (Tuhan) semesta alam, ilah alam jagad raya. Kita menyembah-Nya dengan cara yang Dia syari’atkan, disertai kesempurnaan hina kepada-Nya, kesempurnaan cinta dan kesempurnaan pengagungan.

Kita mengetahui dan meyakini bahwa sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Esa dalam rububiyah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, demikian pula Dia Maha Esa pada uluhiyah-Nya, tiada ada sekutu bagi-Nya. Maka, kita hanya menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dan kita menjauhi penyembahan kepada selain-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ  [البقرة/163]

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Tuhan (Yang hak di sembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.  [Al-Baqarah/2:163]

Setiap yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka uluhiyahnya adalah batil dan penyembahan kepadanya adalah batil.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ  [الحج/62]

(Kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Al-Hajj/22 :62]

4. Beriman kepada Asma` dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pengertiannya: memahaminya, menghapalnya, mengakuinya, menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengannya, dan mengamalkan tuntutannya. Maka, mengenal sifat-sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengisi hati semua hamba karena membesarkan dan mengagungkan-Nya.

Dan, mengenal sifat kemuliaan, kemampuan, kekuasaan mengisi hati sifat hina, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Rabb-nya.

Dan, mengenal sifat-sifat kasih sayang, kebaikan, pemurah, dan pemberi mengisi hari rasa ingin dan berharap pada karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan, mengenal sifat ilmu dan meliputi, mengharuskan bagi hamba sifat muraqabah kepada Rabb-nya dalam segala gerak geriknya.

Gabungan semua sifat ini mengharuskan seorang hamba untuk memiliki sifat mahabbah (cinta), rindu, bahagia dekat dengan-Nya, tawakkal, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kita menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala asma` dan sifat (Nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia) yang ditetapkan-Nya untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi-Nya. Kita beriman kepada-Nya dan kepada yang diindikasikan atasnya berupa ma’na dan pengaruh. Maka, kita beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala  رَحِيْمٌ(Maha Pengasih) dan pengertiannya adalah bahwa Dia mempunyai sifat kasih sayang. Dan di antara pengaruh dari nama ini: bahwa Dia memberikan kasih sayang kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan, seperti inilah penjelasan pada nama-nama yang lain. Kita menetapkan hal itu berdasarkan atas sifat dan asma` yang pantas bagi kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ada tahrif (mengubah lafazh dan membelokkan makna sebenarnya), ta’thil (pengingkaran seluruh atau sebagian asma` dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala), takyif (menanyakan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan tamtsil (menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  [الشورى/11]

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Syura/42:11]

Kita mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi dan kita berdoa kepada-Nya dengannya:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  [الأعراف/180].

Hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [Al-A’raaf/7 :180]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi waa sallam bersabda.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اسْماً، مِائَةً إلَّا وَاحِداً، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang dapat menghitungnya niscaya ia masuk surga.” Muttafqun ‘alaih.[1]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
________
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari no.7392 dan Muslim no. 2677.

Asmaul Husna

ASMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG MAHA INDAH

Asma` Allah Subhanahu wa Ta’ala mengindikasikan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Ia (asma`) diambil dari sifat. Maka, ia adalah asma` dan sifat, karena itulah ia menjadi indah. Dan, mengetahui Allah Subhanahu wa Ta’ala, asma dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling agung dan paling wajib. Di antara asma` Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah:

  1. Allah (الله ): yaitu yang disembah, dicintai, diagungkan oleh semua makhluk, tunduk bagi-Nya dan kembali kepada-Nya dalam segala kebutuhan.
  2. Ar-Rahman ar-Rahim (الرحمن الرحيم):Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.
  3. Al-Malik (الملك):Dia Yang Maha Memiliki: yang memiliki semua makhluk.
    • Al-Maalik (المالك): Dia Raja: yang merajai semua pemilik, raja-raja dan hamba.
    • Al-Maliik (المليك): Pemilik Kerajaan:  yang terlaksana perintah-Nya di dalam kerajaan-Nya. Di Tangan-Nya kerajaan. Dia memberikan kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambil kerajaan dari orang yang Dia kehendaki.
  4. Al-Quddus (القدوس Yang Maha Suci): yang Maha Suci dari kekurangan dan cela, yang diberikan sifat dengan sifat kesempurnaan.
  5. As-Salaam (السلام Yang Memberi Keselamatan, Yang Melimpahkan kesejahteraan, Yang Terhindar dari segala kekurangan): yang terhindar dari segala cela, penyakit, dan kekurangan.
  6. Al-Mukmin (المؤمن Yang Memberi Keamanan): yang makhluk-Nya aman dari perbuatan zhalim-Nya. Dia menciptakan keamanan dan memberikan nikmat dengannya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
  7. Al-Muhaimin (المهيمن Yang Maha Memelihara), Yang Maha Menyaksikan apa saja dari makhluk-Nya, tiada suatu pun yang gaib dari-Nya.
  8. Al-‘Aziz (العزيز Yang Maha Perkasa): Yang milik-Nya semua keperkasaan. Dia-lah yang maha perkasa yang tidak ada tandingannya. Yang Maha Perkasa yang tidak bisa dikalahkan, Yang Maha Kuat lagi keras, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya.
  9. Al-Jabbar (الجبار Yang Maha Kuasa memaksakan semua kehendak-Nya kepada semua makhluk-Nya): Yang Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, yang berkuasa terhadap mereka menurut yang Dia kehendaki, yang memiliki alam jagat raya dan kebesaran yang memaksa hamba-Nya dan memperbaiki kondisi mereka.
  10. Al-Mutakabbir (المتكبر Yang Mempunyai segala kebesaran dan keagungan): yang mempunyai kebesaran dari sifat, maka tidak ada sesuatu yang seumpama-Nya, yang mempunyai keagungan dari setiap yang buruk dan zalim.
  11. Al-Kabir (الكبير Yang Maha Besar): Yang segala sesuatu adalah kecil di bawah-Nya. Milik-Nya kebesaran di langit dan bumi.
  12. Al-Khaliq (الخالق Yang Maha Pencipta): Yang menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya.
  13. Al-Khallaaq (الخلاق): Yang telah menciptakan dan terus menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya.
  14. Al-Baari` (البارئ Yang Mengadakan): Yang mengadakan makhluk, maka Dia mengadakan mereka dengan kekuasaan, dan membedakan sebagian makhluk-Nya dari yang lain serta menjadikan mereka bebas.
  15. Al-Mushawwir (المصور Yang Membentuk rupa): Yang memunculkan makhluk-Nya berdasarkan rupa yang berbeda-beda, berupa panjang dan pendek, besar dan kecil.
  16. Al-Wahhab (الوهاب Yang Maha Pemberi): Yang bermurah hati dengan pemberian dan nikmat secara terus menerus.
  17. Ar-Razzaq (الرزاق Yang Maha Pemberi Rizqi): yang rizqi-Nya meluasi semua makhluk.
  18. Ar-Raziiq (الرازق Yang Memberi Rizqi): Yang menciptakan segala rizqi dan menyampaikannya kepada makhluk-Nya.
  19. Al-Ghafur al-Ghaffar (الغفور الغفار Yang Maha pengampun): yang dikenal dengan pengampunan dan maaf.
  20. Al-Ghaafir (الغافر ): Yang menutupi dosa hamba-Nya.
  21. Al-Qaahir (القاهر Yang mempunyai kekuasaan tertinggi): Yang maha tinggi, yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya. Yang tunduk bagi-Nya semua jiwa dan menghinakan diri kepada-Nya orang-orang yang kuat.
  22. Al-Qahhar (القهار Yang Maha Mengalahkan): Yang mengalahkan semua makhluk menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dia-lah Yang Maha Mengalahkan dan apa yang selain-Nya dikalahkan.
  23. Al-Fattah (الفتاح Yang Maha Pemberi Keputusan): Yang memutuskan di antara hamba-Nya dengan benar dan adil, dan Dia membuka untuk mereka pintu-pintu rahmat dan rizqi, Yang Maha Penolong bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, Yang menyendiri mengetahui kunci-kunci yang gaib.
  24. Al-‘Aliim (العليم Yang Maha Mengetahui): Yang tidak ada sesuatu yang samar atasnya. Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang samar, segala yang nampak dan yang tersembunyi, ucapan dan perbuatan, yang gaib dan nyata, Dia Maha Mengetahui yang gaib.
  25. Al-Majiid (المجيد Yang Maha Mulia/Yang Maha Terpuji): Yang dipuji dengan perbuatan-Nya. Makhluk-Nya memuji-Nya karena keagungan-Nya. Dia-lah yang dipuji di atas kemuliaan, keagungan, dan kebaikan-Nya.
  26. Ar-Rabb (الرب):Yang Maha Memiliki lagi Mengatur (semua makhluk), Rabb segala yang memiliki, Yang memiliki segala makhluk, yang mengatur makhluk-Nya dan mengatur perkara mereka di dunia dan akhirat. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain-Nya. Dan tidak ada Rabb selain-Nya.
  27. Al-‘Azhim (العظيم Yang Maha Agung): Yang memiliki keagungan dan kebesaran dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya.
  28. Al-Waasi’ (الواسع Yang Maha Luas karunia-Nya): Yang rahmat-Nya meluasi segala sesuatu, rizqi-Nya meluasi semua makhluk, Maha luas keagungan, kerajaan, dan kekuasaan, Maha luas karunia dan kebaikan.
  29. Al-Karim (الكريم Yang Maha Pemurah/Mulia): Yang memiliki kemampuan yang besar, Yang mempunyai kebaikan yang banyak secara terus menerus. Maha suci dari kekurangan dan aib.
  30. Al-Akram (الأكرم Yang Paling Pemurah): Yang meliputi semua dengan pemberian dan karunia-Nya.
  31. Al-Waduud (الودود Yang Maha Pengasih): Yang mencintai bagi orang yang taat dan kembali kepada-Nya. Yang memuji mereka. Yang berbuat baik kepada mereka dan selain mereka.
  32. Al-Muqit (المقيت Yang berkuasa memberi rizqi kepada setiap makhluk, Yang menjaga dan melindungi): Yang menjaga segala sesuatu, Yang mengurus segala sesuatu, Yang memberikan rizqi kepada semua makhluk.
  33. As-Syakuur (الشكور Yang Maha Mensyukuri): Yang melipat gandakan segala kebaikan dan menghapus segala kesalahan.
  34. Asy-Syaakir (الشاكر Yang Mensyukuri amal kebaikan hamba-Nya): Yang mensyukuri perbuatan taat yang sedikit, lalu Dia memberikan pahala yang besar, memberikan nikmat yang banyak, ridha terhadap syukur yang sedikit.
  35. Al-Lathiif (اللطيف Yang Maha Halus, Yang Maha lembut terhadap hamba-Nya): Yang tidak ada sesuatu yang samar atas-Nya, Yang berbuat kebaikan kepada hamba-Nya, Yang bersikap lembut kepada mereka dari tempat yang tidak mereka ketahui, Maha Halus yang tidak ditemukan penglihatan.
  36. Al-Halim (الحليم Yang Maha penyantun): Yang tidak segera menyiksa hamba-hamba-Nya karena perbuatan dosa mereka, bahkan Dia memberikan tempo agar mereka bertaubat.
  37. Al-Khabiir (الخبير Yang Maha Mengenal, Yang Maha Mengetahui): Yang tidak ada sesuatu yang samar atas-Nya dari urusan makhluk-Nya, dari yang bergerak dan berdiam diri, berbicara dan membisu, dan yang kecil dan besar.
  38. Al-Hafiizh (الحفيظ Yang Maha Pemelihara): Yang memelihara apa yang telah Dia ciptakan. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
  39. Al-Haafizh (الحافظ ):Yang memelihara amal perbuatan hamba dan menjaga kekasih-kekasih-Nya dari terjatuh di dalam dosa.
  40. Ar-Raqiib (الرقيب Yang Maha Mengawasi): Yang mengawasi hamba-Nya di dalam semua kondisi mereka. Yang Maha Memelihara, Yang tidak pernah gaib dari apa yang dipeliharanya.
  41. As-Samii’ (السميع Yang Maha Mendengar): Yang mendengar semua suara. Pendengaran-Nya meluasi segala suara. Mendengar sesuatu tidak mengganggu-Nya dari mendengar yang lain, kendati berbeda lisan, bahasa, dan kebutuhan. Tidak ada perbedaan di sisi-Nya yang rahasia dan terang-terangan, yang dekat dan yang jauh.
  42. Al-Bashir (البصير Yang Maha Melihat): Yang melihat segala sesuatu. Yang Maha Mengetahui segala kebutuhan dan perbuatan hamba. Siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan. Tidak ada sesuatu yang terlupakan/hilang dari-Nya. Tidak ada sesuatu yang gaib dari-Nya.
  43. Al-‘Ali, al-A’la, al-Muta’aal (العلي الأعلى المتعال Yang Maha Tinggi, Yang Paling Tinggi) : Yang memiliki ketinggian dan terangkat. Yang segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Dia  Yang Maha Agung, Yang tidak ada yang lebih agung dari-Nya. Yang Maha Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Yang Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya.
  44. Al-Hakim (الحكيم Yang Maha Bijaksana): Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan hikmah dan keadilan-Nya. Yang Maha Bijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya.
  45. Al-Hakam al-Hakim (الحكم الحاكم):Yang diserahkan hukum kepada-Nya, maka Dia tidak berbuat aniaya dan tidak berbuat zalim kepada seseorang.
  46. Al-Qayyum (القيوم Yang Tegak dan terus menerus mengurus makhluk-Nya): Yang berdiri dengan diri-Nya sendiri, maka Dia tidak membutuhkan seseorang. Yang menegakkan/mengurus selain-Nya. Yang tegak mengurus semua makhluk, tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur.
  47. Al-Wahid, al-Ahad (الواحد الأحد Yang Satu, Yang Tunggal): Yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, tidak ada sesuatupun yang menyekutui-Nya padanya.
  48. Al-Hayy (الحي Yang Maha Hidup): Yang Kekal, tidak akan pernah mati dan tidak pula binasa.
  49. Al-Haasib, al-Hasiib (الحاسب الحسيب Yang memberi kecukupan dengan kadar yang tepat): Yang memberi kecukupan kepada hamba-Nya yang selalu mereka butuhkan darinya, yang menghisab hamba-Nya.
  50. Asy-Syahid (الشهيد Yang Maha Menyaksikan): Yang menyaksikan segala sesuatu. Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Yang menyaksikan untuk dan atas hamba-Nya dengan apa yang mereka perbuat.
  51. Al-Qawiyy, al-Matiin (القوي المتين Yang Maha Kuat, Yang Maha Kokoh): Yang Memiliki kekuatan sempurna. Tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Yang lari tidak bisa lepas dari-Nya. Yang Maha Kuat yang tidak terputus kekuatan-Nya.
  52. Al-Waliyy (الولي Yang Melindungi): Yang memiliki pengaturan.
  53. Al-Maula (المولى)Yang mencintai, menolong, membantu hamba-hamba-Nya yang beriman.
  54. Al-Hamidالحميد Yang Maha Terpuji): Yang berhak mendapat pujian. Yang dipuji atas asma` dan sifat-Nya, perbuatan dan ucapan-Nya, kebaikan-Nya, syari’at dan kekuasaan-Nya.
  55. As-Shamad (الصمد Yang Maha Sempurna, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu): Yang mencapai kesempurnaan dalam kepemimpinan-Nya, keagungan, dan kemurahan-Nya, yang digantungkan kepada-Nya dalam segala kebutuhan.
  56. Al-Qadiir, al-Qaadir, al-Muqtadir (القدير القادر المقتدر Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa): Yang sempurna kekuasaan. Tidak ada sesuatu yang melemahkan-Nya. Tidak ada sesuatu yang luput darinya. Yang memiliki kekuasaan yang sempurna, kekal dan mencakup/meliputi.
  57. Al-Wakiil (الوكيل Pemelihara, Pelindung): Yang melaksanakan semua urusan hamba.
  58. Al-Kafiil (الكفيل):Yang memelihara segala sesuatu, Yang tegak di atas semua jiwa, Yang menjamin rizqi semua hamba, dan memelihara kemashlahatan mereka.
  59. Al-Ghaniyy (الغني Yang Maha Kaya): Yang Maha Kaya dari makhluk, Dia tidak membutuhkan pada seseorang secara absolut.
  60. Al-Haqq, al-Mubiin (الحق المبين Yang Benar): Yang tidak ada keraguan akan keberadaan-Nya, Yang tidak samar atas makhluk-Nya.
  61. Al-Mubiin (الْمُبِينُ Yang menjelaskan segala sesuatu menurut hakikat sebenarnya): Yang menjelaskan kepada makhluk-Nya jalan-jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
  62. An-Nuur (النور Pemberi Cahaya):Yang menerangi langit dan bumi. Menerangi hati orang-orang yang beriman dengan mengenal dan beriman kepada-Nya.
  63. Dzul Jalaali wal Ikraam (ذو الجلال والإكرام Yang memiliki kebesaran dan karunia): Yang berhak ditakuti dan dipuji atasnya sendirian-Nya. Yang memiliki keagungan dan kebesaran. Yang memiliki rahmat dan kebaikan.
  64. Al-Barr (البَرُّ Yang Melimpahkan kebaikan): Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, Yang Mengasihi mereka, Yang Melimpahkan kebaikan kepada mereka.
  65. At-Tawwab (التواب Yang Maha Penerima taubat): Yang menerima taubat orang-orang yang bertaubat, mengampuni dosa orang-orang yang kembali, menciptakan taubat dan menerimanya dari hamba-hamba-Nya.
  66. Al-‘Afuww (العفو Yang Maha Pemaaf): Yang maaf-Nya meluasi semua dosa yang berasal dari hamba-hamba-Nya, terutama bila disertai taubat dan istighfar.
  67. Ar-Rau`uf (الرؤوف):Yang memiliki belas kasih. Ar-Ra`fah: kasih sayang yang tertinggi.
  68. Al-Awwaal (الأول):Yang telah ada sebelum segala sesuatu.
  69. Al-Akhir (الأخر )Yang tidak ada sesuatu sesudah-Nya.
  70. Azh-Zhahir (الظاهر):Yang tidak ada sesuatupun di atas-Nya.
  71. Al-Bathin (الباطن) :Yang tidak ada sesuatupun di bawah-Nya.
  72. Al-Warits (الوارث) : Yang tetap ada setelah punahnya semua makhluk-Nya. Kepada-Nya kembali segala sesuatu, Yang hidup tidak pernah mati.
  73. Al-Muhith (المحيط Yang meliputi terhadap segala sesuatu): Yang kekuasaan-Nya mencakup semua makhluk-Nya, mereka tidak pernah mampu melepaskan diri atau lari dari-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Menghitung segala sesuatu.
  74. Al-Qariib (القريب Yang Maha Dekat): dari setiap orang. Yang dekat dari yang berdoa dan yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam perbuatan taat dan kebaikan.
  75. Al-Haadi (الهادي Yang Maha Pemberi petunjuk): Yang memberi petunjuk kepada semua makhluk menuju kebaikan mereka. Yang memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Yang menjelaskan kepada mereka jalan yang haq dari yang batil.
  76. Al-Badii’ (البديع Yang Maha Pencipta): Yang tidak ada yang serupa dan sebanding bagi-Nya. Yang menciptakan semua makhluk tanpa contoh sebelumnya.
  77. Al-Faathir (الفاطر )Yang menciptakan semua makhluk. Menciptakan langit dan bumi yang sebelumnya tidak ada.
  78. Al-Kaafi (الكافي Yang Melindungi hamba-hamba-Nya): Yang memberi kecukupan kepada semua hamba-Nya apa yang mereka perlukan dan butuhkan.
  79. Al-Ghalib (الغالب):Yang mengalahkan selamanya. Yang mengalahkan semua yang meminta. Tidak ada seseorang yang bisa menolak keputusan-Nya, atau menghalangi apa yang telah berlalu. Tidak ada yang menolak qadha-Nya. Tidak ada yang mengkritik hukum-Nya.
  80. An-Naashir, an-Nashir (الناصر النصير): Yang menolong para rasul dan para pengikut mereka atas musuh-musuh mereka. Di Tangan-Nya pertolongan, tidak ada sekutu bagi-Nya.
  81. Al-Musta’aan (المستعان Yang diminta pertolongan): Yang tidak meminta pertolongan, bahkan dimohon pertolongan dari-Nya. Kekasih-kekasih dan musuh-musuh-Nya meminta pertolongan kepada-Nya. Dia Subhnahu wa Ta’ala memberi pertolongan kepada mereka dan mereka?.
  82. Dzul Ma’arij (ذو المعارج):Yang naik kepada-Nya para malaikat dan ar-Ruh (Jibril Alaihisallam), dan naik kepada-Nya segala amal perbuatan dan ucapan yang Shaleh dan baik.
  83. Dzuth-Thaul (ذو الطَّول): Yang menguraikan karunia, nikmat, dan pemberian kepada hamba-Nya.
  84. Dzul Fadhl (الفضل): Yang memiliki segala sesuatu, memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ni’mat.
  85. Ar-Rafiiq (الرفيق Yang Maha Lembut, Maha Halus): Yang menyukai kelembutan dan pelakunya. Maha belas kasih kepada hamba-hamba-Nya lagi Maha Penyayang kepada mereka.
  86. Al-Jamiil (الجميل Yang Maha Indah): pada dzat, asma`, sifat, dan perbuatan-Nya.
  87. Ath-Thayyib (الطيب ):Yang Maha Suci dari kekurangan dan cacat.
  88. Asy-Syafi (الشافي Yang Menyembuhkan): bagi setiap penyakit sendirian-Nya ?, tidak ada sekutu bagi-Nya.
  89. As-Subbuh (السبوح):Yang Maha Suci dari cacat dan kekurangan, Yang bertasbih bagi-Nya tujuh lapis langit dan bumi serta yang ada di atasnya, bertasbih dengan pujian-Nya segala sesuatu.
  90. Al-Witr (الوتر Yang Maha Esa, Tunggal, Ganjil): Yang tidak ada sekutu baginya, tidak ada yang serupa dan sebanding. Ganjil yang menyukai ganjil dari amal dan taat.
  91. Ad-Dayyan (الديان Yang Maha Kuasa): Yang menghisab hamba dan membalas mereka, dan memutuskan di antara mereka pada hari pembalasan.
  92. Al-Muqaddim, al-Mu`akhkhir (المقدِّم والمؤخِّر Yang Mendahulukan, Yang Mengakhirkan): mendahulukan dan mengakhirkan siapa dikehendakinya, mengangkat dan merendahkan siapa dikehendaki-Nya.
  93. Al-Hannan (الحَنَّانُ):Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, memuliakan orang-orang yang berbuat baik dan mengampuni yang bersalah.
  94. Al-Mannan (المَنَّان Yang Maha Pemberi, Yang Maha Pemurah): Yang memulai pemberian sebelum diminta, banyak memberi, memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam kebaikan, nikmat, rizqi dan pemberian.
  95. Al-Qaabidh (القابض Yang Menyempitkan rizqi): Yang menyempitkan kebaktian dan ma’rufnya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
  96. Al-Baasith (الباسط Yang Melapangkan rizqi): Yang menyebarkan karunia-Nya dan meluaskan riqzi-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.
  97. Al-Hayii, as-Sittiir (الحيي السِّتِّير): Yang menyukai orang yang pemalu dan menutupi (aib, cela) dari hamba-hamba-Nya. Menutupi atas hamba-Nya kebanyakan dari dosa dan cela.
  98. As-Sayyid (السيد): Yang sempurna dalam kepemimpinan, keagungan, kekuatan, dan semua sifat-Nya.
  99. Al-Muhsin (المحسن): Yang meliputi semua makhluk dengan kebaikan dan karunia-Nya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Bertambahnya Iman

BERTAMBAHNYA IMAN

 Dasar agama adalah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakin atas-Nya, dan yakin terhadap asma`, sifat, segala perbuatan, dan khazanah-Nya, janji dan ancaman-Nya. Semua amal dan segala macam ibadah dasarnya dan diterimanya dibangun di atas pondasi yang agung ini. apabila iman ini lemah dan berkurang niscaya lemahlah amal perbuatan dan segala macam ibadah, lalu buruklah keadaan.

Agar iman datang di dalam kehidupan kita dan terus bertambah, harus diketahui beberapa perkara.
1. Kita mengetahui dan meyakini bahwa Sang Pencipta segala sesuatu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, nampak atau tersembunyi, kecil atau besar. Maka, yang menciptakan langit adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang menciptakan bumi adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang menciptakan arsy adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang menciptakan bintang-bintang dan planet-planet adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang menciptakan laut dan gunung-gunung adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang menciptakan manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang menciptakan surga dan neraka adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ [الزمر/62]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [Az-Zumar/39 :62]

Kita membicarakan hal tersebut, mendengarkannya, memikirkannya. Kita melihat pada ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat al-Qur`an dengan pandangan mengambil pelajaran dan berpikir, sehingga iman tertanam di dalam hati kita, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita dengan hal tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال الله تعالى: قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ [يونس/101]

Katakanlah:”Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. [Yunus/10:101]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ  [التوبة/124]

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : “Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. [At-Taubah/9:124]

2. Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan semua makhluk dan menciptakan pengaruhnya. Dia menciptakan mata dan menciptakan pengaruhnya, yaitu melihat. Menciptakan telinga dan menciptakan pengaruhnya, yaitu mendengar. Menciptakan lisan dan menciptakan pengaruhnya, yaitu berbicara. Menciptakan matahari dan menciptakan tandanya yaitu nur (cahaya, energi panas). Menciptakan api dan menciptakan tandanya, yaitu membakar. Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pohon dan menciptakan tandanya, yaitu buah dan seterusnya.

3. Kita mengetahui dan meyakini bahwa yang memiliki semua  makhluk, mendayagunakan padanya (?) dan mengaturnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, semua yang ada di langit dan di bumi dari segala makhluk, besar dan kecilnya, semuanya hamba dan faqir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak memiliki untuk diri mereka manfaat, tidak pula bahaya dan tidak pula pertolongan, tidak memiliki kematian, kehidupan, dan tidak memiliki kebangkitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang memiliki mereka. Mereka membutuhkan-Nya, dan Dia Maha Kaya dari mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengubah alam dan mengatur semua urusan makhluk-Nya. Maka, yang mengatur langit dan bumi, air dan laut, api dan angin, jiwa dan tumbuhan, planet dan benda-benda mati, para pemimpin dan menteri-menteri, orang-orang kaya dan orang-orang fakir, orang-orang kuat dan lemah, dan selain mereka adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tiada sekutu bagi-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur dengan qudrat-Nya (kemampuan/kekuasaan-Nya), hikmah-Nya, dan ilmu-Nya bagaimana Dia menghendaki. Terkadang Dia menciptakan sesuatu dan mengambil pengaruhnya dengan kekuasaan-Nya. Terkadang Dia menciptakan mata dan tidak bisa melihat, menciptakan telinga tetapi tidak bisa mendengar, menciptakan lisan tetapi tidak bisa berbicara, menciptakan laut tetapi tidak menenggelamkan, menciptakan api tetapi tidak bisa membakar. Terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan hal tersebut; karena Dia Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur perubahan makhluk bagaimana Dia menghendaki. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Dia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sebagian hati terpengaruh dengan sesuatu melebihi pengaruh dari Sang Pencipta sesuatu. Bergantung kepada sesuatu dan lupa Sang Pencipta sesuatu Yang Maha Suci. Yang wajib adalah dengan ilmu dan pengamatan terhadap makhluk ini agar kita mencapai kepada Penciptanya yang telah menciptakan dan membentuk rupanya. Kita hanya menyembah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31) فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ  [يونس/31- 32]

Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) [Yunus/10:31-32]

4. Kita mengetahui dan meyakini bahwa khazanah segala sesuatu hanya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada di sisi yang selain-Nya. Segala sesuatu yang ada, maka khazanahnya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Khazanah makanan dan minuman,  biji-bijian dan buah-buahan, air dan angin, harta dan lautan, gunung dan yang lainnya, semuanya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua yang kita butuhkan, kita memohon dan memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memperbanyak ibadah dan taat. Dia Subhanahu wa Ta’ala yang menunaikan hajat, mengabulkan segala doa. Dia Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baik yang diminta dan sebaik-baik yang memberi. Tidak ada yang bisa menghalangi bagi apa yang Dia berikan dan tidak ada yang memberi bagi apa yang Dia halangi.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ  [الحجر/21].

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. [Al-Hijr/15:21]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ  [المنافقون/7]

Padahal kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. [Al-Munafiqun/63:7]

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

BERTAMBAHNYA IMAN

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai kekuasaan yang mutlak (absolut, tanpa batas), terkadang Dia memberi dan melimpahkan rizqi dengan berbagai sebab seperti Dia menjadikan air menjadi sebab adanya tumbuhan, dan seperti menjadikan jima’ dengan istri menjadi sebab adanya kelahiran. Kita berada di alam sebab, maka kita mengambil sebab-sebab yang disyari’atkan dan tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terkadang Dia memberi dan melimpahkan rizqi tanpa adanya sebab. Dia berfirman ‘Jadilah’ maka terjadilah, sebagaimana Dia memberi rizqi makanan kepada Maryam tanpa ada pohon dan memberi anak kepadanya tanpa suami.

Terkadang Dia Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kekuasaan-Nya menjadikan kebalikan sebab, sebagaimana Dia menjadikan api menjadi dingin dan menjadi keselamatan atas Ibrahim Alaihissallam, dan sebagaimana Dia menyelamatkan Musa Alaihissallam dan menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya di laut Merah, dan sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Yunus Alaihissallam di dalam kegelapan perut ikan (paus) dan kegelapan laut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  [يس/82]

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah!” maka terjadilah ia. [Yasin/36:82]

Ini yang berkaitan bagi segala makhluk, adapun yang berkaitan dengan kondisi.
1. Kita mengetahui dan meyakini bahwa pencipta segala keadaan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dari kaya, miskin, sehat, sakit, bahagia dan duka cita, tertawa dan menangis, mulia dan hina, hidup dan mati, aman dan takut, dingin dan panas, petunjuk dan sesat, bahagia dan celaka … maka ini dan keadaan-keadaan lainnya adalah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Kita mengetahui dan meyakini bahwasanya yang mengatur perkara dan memalingkan semua kondisi ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Tidak berganti fakir menjadi kaya kecuali dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sakit tidak bisa berganti sehat kecuali dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kehinaan tidak bisa berganti kemuliaan kecuali dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tertawa tidak bisa berganti menjadi menangis kecuali dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang masih hidup tidak bisa meninggal dunia kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dingin tidak bisa berganti menjadi panas kecuali dengan adanya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesat tidak berganti menjadi petunjuk kecuali dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan begitulah.

Semua keadaan datang dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertambah dengan perintah-Nya, berkurang dengan perintah-Nya, tetap dengan perintah-Nya, berubah dengan perintah-Nya. Kita harus memohon perubahan kondisi dari yang memiliki (menciptakan)nya dengan cara hanya mendekatkan diri kepada-Nya saja dengan apa yang Dia syari’atkan.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [آل عمران/26].

Katakanlah: “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di Tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Ali Imran/3:26]

3. Kita mengetahui dan meyakini bahwa semua khazanah (perbendaharaan) semua keadaan yang telah lalu dan yang lainnya hanya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kesehatan atau kekayaan atau yang lainnya kepada semua manusia niscaya tidak mengurangi apa yang ada dalam khazanah-Nya Subhanahu wa Ta’ala kecuali seperti menguranginya jarum jahit bila dimasukkan ke dalam laut. Tidak ada Ilah kecuali Dia Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang beliau riwayatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi):

عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- فيما روَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أنَّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِي! إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلا تَظَالَمُوا، يَا عِبَادِي! كُلُّكُمْ ضَالٌّ إلا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أهْدِكُمْ يَا عِبَادِي! كُلُّكُمْ جَائِعٌ إلا مَنْ أطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي! كُلُّكُمْ عَارٍ إلا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أكْسُكُمْ يَا عِبَادِي! إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي! إنَّكُمْ لَنْ تبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي! لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي! لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي! لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَألُونِي، فَأعْطَيْتُ كُلَّ إنْسَانٍ مَسْألَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إلا كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إذَا أُدْخِلَ البَحْرَ يَا عِبَادِي! إنَّمَا هِيَ أعْمَالُكُمْ أحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أوَفِّيكُمْ إيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلا يَلُومَنَّ إلا نَفْسَهُ». أخرجه مسلم

“Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan sifat aniaya atas diri-Ku dan Aku jadikan hal itu diharamkan di antaramu, maka janganlah saling berbuat aniaya.Hai hamba-Ku, kamu semua tersesat kecuali orang yang Kuberi petunjuk, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu.

Hai hamba-Ku, kamu semua kelaparan kecuali orang yang Kuberi makan, mintalah makan kepada-Ku, niscaya aku memberi makan kepadamu.

Hai hamba-Ku, kamu semua bertelanjang kecuali orang yang Ku-beri pakaian, mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian kepadamu.

Hai hamba-Ku, sesungguhnya kamu semua melakukan kesalahan malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.

Hai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak bisa mencelakakan Aku lalu mencelakakan Aku, dan tidak akan pernah bisa memberi manfaat kepada-Ku lalu memberi manfaat kepada-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia, mereka semua seperti orang yang paling taqwa dari kamu, niscaya hal itu tidak bisa menambah sedikitpun dalam kerajaan-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia, mereka semua seperti orang yang paling fasik dari kamu, niscaya hal itu tidak bisa mengurangi sedikitpun dari kerajaan-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia kamu, mereka berdiri di satu tempat, mereka memohon kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap manusia sesuai permintaan-Nya, niscaya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari apa yang ada di sisi-Ku kecuali sebagaimana sebatang jarum bila dimasukkan ke laut.

Hai hamba-Ku, ia hanyalah amal perbuatanmu yang Ku-hitung, kemudian Ku-sempurnakan kepadamu. Barangsiapa menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barangsiapa yang mendapatkan selain hal itu, maka janganlah ia mencela selain kepada dirinya sendiri. HR.Muslim.[1]

Yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjunjung segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepadanya, memberikan kepadanya dari khazanah-Nya kaya atau fakir, memperkuat dan menolongnya, memasukkannya ke dalam surga, menjaganya, dan memuliakannya dengan iman, sama saja ia memiliki sebab-sebab kemuliaan seperti Abu Bakar Radhiyallahu anhu, Umar Radhiyallahu anhu, dan Utsman Radhiyallahu anhu, atau tidak memiliki sebab-sebab kemuliaan seperti Bilal Radhiyallahu anhu, ‘Ammar Radhiyallahu anhu, dan Salman Radhiyallahu anhu, serta selain mereka.

Dan siapa yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika dia mempunyai sebab-sebab kemuliaan dari kerajaan dan harta niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menistakannya dengannya (harta dan kerajaan), seperti Allah Subhanahu wa Ta’ala menistakan Fir’aun, Qarun, Haman dan selain mereka.

Dan jika dia mempunyai sebab-sebab kenistaan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menistakannya dengannya seperti kaum musyrik yang fakir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk beriman dan beramal shaleh, hanya menyembah Rabb-nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia tidak menciptakan untuk memperbanyak harta, segala sesuatu dan syahwat. Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan semua ini hingga meninggalkan ibadah kepada Rabb-nya niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menguasakannya atasnya dan menjadikannya penyebab celaka dan binasa serta meruginya di dunia dan akhirat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ  [التوبة/55]

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. [At-Taubah/9:55]

Sebab-sebab Keberuntungan dan Kesuksesan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
________
Footnote
[1]  HR. Muslim no. 2577.

Sebab-sebab Keberuntungan dan Kesuksesan

BERTAMBAHNYA IMAN

Sebab-sebab Keberuntungan dan Kesuksesan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada setiap manusia sebab-sebab keberuntungan dan kesuksesan, tidak ada bedanya apakah dia seorang yang kaya atau miskin, dan (Dia Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan) sebab-sebab yang tidak mengandung keberuntungan dan kesuksesan seperti harta dan pangkat, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan darinya kepada sebagian manusia dan tidak memberikan kepada yang lain. Iman dan amal shaleh adalah penyebab satu-satunya untuk mencapai keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Ia merupakan hak yang dianugerahkan kepada setiap orang. Demikian pula tempat iman, ia adalah hati yang dimiliki setiap orang, dan tempat amal-amal shaleh, ia adalah anggota-anggota tubuh yang dimiliki setiap orang. Maka, barang siapa yang di hatinya ada iman dan muncul dari anggota-anggota tubuhnya amal-amal shaleh niscaya ia beruntung di dunia dan akhirat, dan yang selainnya termasuk orang-orang yang rugi.

1. Keberuntungan di dunia dan akhirat hanya bisa diperoleh dengan iman dan amal shaleh. Nilai manusia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya sekadar iman yang ada padanya dan amal-amal shaleh yang dilaksanakannya, bukan dengan apa-apa yang dimilikinya yaitu harta, benda, dan pangkat.

Satu kaum meyakini bahwa keberuntungan dan kesuksesan ada pada kerajaan dan negara seperti Namrud dan Fir’aun. Kaum yang lain meyakini bahwa hal itu ada pada kekuatan seperti kaum ‘Aad. Dan kaum yang lain meyakini bahwa keberuntungan ada di perdagangan seperti kaum Syu’aib. Kaum yang lain meyakini bahwa kesuksesan ada di pertanian seperti kaum Saba`. Yang lain meyakini bahwa kesuksesan ada pada perindustrian seperti kaum Tsamud. Dan yang lain meyakini bahwa kebahagiaan ada pada harta seperti Qarun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para nabi dan rasul –‘alaihimush shalatuh was salaam– kepada kaum-kaum tersebut, mengajak mereka kepada menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, menjelaskan bagi mereka bahwa keberuntungan dan kesuksesan tidak terdapat dalam segala perkara ini, bahkan dengan beriman dan beramal shaleh.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ  [النور/52].

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. [An-Nuur/24:52]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وقال الله تعالى: وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ [البقرة/3- 5]

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [Al-Baqarah/2: 3-5]

2. Tatkala kaum-kaum tersebut mendustakan para rasul dan tetap di atas kekufuran, serta terperdaya dengan apa-apa yang mereka miliki, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan mereka dan menyelamatkan para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rasul-Nya serta para pengikut mereka, dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ال الله تعالى: {فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ  [العنكبوت/40]

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al-‘Ankabuut/29:40]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ  [هود/66- 67].

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka. [Hud/11: 66-67]

Tingkatan Orang-orang Beriman.
1. Iman makhluk ada beberapa tingkatan:

  • Iman para malaikat bersifat tetap, tidak bertambah dan tidak berkurang. Mereka tidak pernah durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada mereka dan selalu melakukan apa yang diperintahkan, dan mereka ada beberapa tingkatan.
  • Iman para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rasul –‘alaihimush shalatuh was salaam– selalu bertambah dan tidak berkurang karena sempurnanya ma’rifah mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mereka terdiri dari beberapa tingkatan.
  • Iman seluruh kaum muslimin, bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat, dan mereka terdiri dari beberapa tingkatan dalam iman. Dan iman ada beberapa tingkatan:

Permulaan tingkatan iman adalah menjadikan seorang muslim menunaikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menikmati dan menjaganya. Dan untuk membina hubungan baik terhadap orang yang lebih tinggi derajatnya atau yang sederajat dengannya, ia membutuhkan keimanan yang lebih kuat yang menghalanginya dari berbuat zalim kepada dirinya sendiri dan orang lain. Dan untuk membina hubungan baik terhadap orang yang di bawahnya seperti pemimpin kepada rakyatnya dan laki-laki kepada keluarganya, dia membutuhkan iman yang lebih kuat yang menghalangi berbuat zalim kepada orang yang dibawahnya. Setiap kali iman bertambah niscaya keyakinan bertambah dan bertambah pula amal shaleh. Jadilah seorang hamba menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak hamba-hamba-Nya. Dia berakhlak baik bersama Yang Maha Pencipta (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan bersama yang diciptakan (semua makhluk). Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia dan akhirat.

2. Setiap hamba terus berjalan, tidak berhenti. Bisa ke atas, bisa pula ke bawah, bisa ke depan dan bisa pula ke belakang. Dalam tabiat dan syari’at tidak ada yang berhenti sama sekali. Maka bagi setiap hamba, ini merupakan tahapan yang dilintasi dengan cepat menuju ke surga atau neraka. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Ada yang berada di depan dan ada yang di belakang. Dan sama sekali tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Tetapi mereka berbeda pada arah jalanan, dan pada kecepatan dan lambat. Barang siapa yang tidak bergerak maju ke surga dengan iman dan amal shaleh, maka dia pasti bergerak mundur ke belakang ke neraka dengan kufur dan amal-amal jahat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {نَذِيرًا لِلْبَشَرِ (36) لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ  [المدثر/36- 37]

sebagai ancaman bagi manusia. (yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. [Al-Muddatsir/74:36-37]

3. Orang-orang beriman saling berbeda padanya dengan perbedaan besar. Iman para nabi dan rasul bukan seperti iman selain mereka. Iman para sahabat bukan seperti iman selain mereka. Iman orang-orang beriman yang shaleh tidak seperti iman orang-orang fasik. Perbedaan ini menurut apa yang ada di dalam hati yaitu pengetahuan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, asma`, sifat, perbuatan-Nya, dan apa yang Dia syari’atkan kepada hamba-hamba-Nya, takut dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan perbedaan nuur (cahaya) laa ilaaha illAllah Subhanahu wa Ta’ala (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala)  di hati para pemiliknya, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Makhluk yang paling mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang paling cinta kepada-Nya. Karena inilah para rasul adalah yang paling besar cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling mengagungkan-Nya. Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, zat, ihsan, keindahan, dan kebesaran-Nya adalah dasar ibadah. Setiap kali cinta bertambah kuat, niscaya taat lebih sempurna, pengagungan kepada-Nya lebih besar dan kesenangan dan dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih sempurna.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Janji Allah Untuk Orang-Orang Beriman

JANJI ALLAH SUBHANAHU WA TA’LA UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi janji kepada orang-orang beriman dengan janji-janji yang sangat banyak di dunia dan akhirat.

Janji-janji kepada orang-orang beriman di dunia, di antaranya:
1. Keberuntungan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  [المؤمنون : ١] 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, [Al-Mukminun/23:1]

2. Petunjuk, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ [الحج : ٥٤] 

dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.[Al-Hajj/22:54]

3. Pertolongan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [الروم: ٤٧] 

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [Ar-Ruum/:47]

4. Kemuliaan/kekuatan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ  [المنافقون: ٨] 

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, [Al-Munafiqun/63: 8]

5. Khilafah dan keteguhan di muka bumi, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥ ﴾ [النور : ٥٥]  

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. [An-Nuur/24: 55]

6. Membela mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ  [الحج : ٣٨] 

Sesungguhnya Allah  membela orang-orang yang telah beriman. [Al-Hajj/22:38]

7. Rasa aman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ  [الانعام: ٨٢] 

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’aam/6:82]

8. Keselamatan, sebagaimana firman  Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيۡنَا نُنجِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [يونس : ١٠٣] 

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. [Yunus/10:103]

9. Kehidupan yang baik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  [النحل: ٩٧] 

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16:97]

10. Orang-orang kafir tidak bisa menguasai mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا  [النساء : ١٤١] 

dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.[An-Nisaa/4`:141]

11. Mendapat berkah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ  [الاعراف: ٩6] 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A’raaf/7:96]

12. Kebersamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khusus, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [الانفال: ١٩] 

dan sesungguhnya Allah  beserta orang-orang yang beriman. [Al-Anfaal/8:19]

Adapun yang dijanjikan di akhirat, di antaranya adalah.
1. Masuknya orang-orang beriman ke dalam surga, kekal di dalamnya, dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ   [التوبة: 72]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar. [At-Taubah/9:72]

2. Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ  [القيامة: ٢٢،  ٢٣] 

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. [Al-Qiyamah/75 :22-23]

Sifat-sifat yang dijanjikan di dunia tidak ada dalam kehidupan kaum muslimin pada saat ini. Ini menunjukkan lemahnya iman mereka. Tidak ada jalan untuk mendapatkannya atau melihatnya kecuali dengan memperkuat iman yang ada saat ini dengan iman yang dituntut, agar kita bisa mendapatkan janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan di dunia terhadap iman, yaitu agar iman  dan amal perbuatan kita seperti iman para nabi dan sahabat serta amal perbuatan mereka.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ  [البقرة: ١٣٧] 

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Baqarah/2:137]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا [النساء : ١٣٦] 

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An-Nisaa/4`:136]

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  [البقرة: ٢٠٨] 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. [Al-Baqarah/2:208]

Menjunjung perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya dibangun atas iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa menggambarkan keagungan al-Khaliq (Yang Maha Pencipta) dan Raja Diraja di dalam hati. Hal itu dengan cara memperbanyak berzikir kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Dan untuk menetapkan gambaran ini dan tertanamnya di dalam hati, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan kepada hamba-hamba-Nya dalam hal mengingatkan yang selalu diulang-ulang, amal yang silih berganti, yaitu ibadah. Apabila iman bertambah dan menjadi kuat, niscaya amal ibadah bertambah dan bertambah kuat. Kemudian segala kondisi menjadi baik dengan beruntung mendapatkan kebahagiaan di dua negeri. Dan sebaliknya juga sebaliknya.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا  [الاحزاب : ٤١،  ٤٢] 

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah Subhanahu wa Ta’ala, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. [Al-Ahzaab/33:41-42]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ  [الاعراف: ٩6] 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A’raaf/7:96]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Beriman Kepada Malaikat

BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Beriman (percaya) kepada malaikat yaitu membenarkan dengan pasti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai malaikat-malaikat yang ada. Kita beriman kepada yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala namanya dari mereka seperti Jibril Alaihissallam dan kepada yang tidak kita ketahui namanya dari mereka, maka kita beriman kepada mereka secara umum. Dan kita beriman kepada apa yang kita ketahui dari sifat-sifat dan tugas-tugas mereka.

Malaikat dari sisi martabat/tingkatan: hamba-hamba yang dimuliakan, menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada sedikit pun dari mereka yang mempunyai keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka adalah alam gaib (alam tidak nyata, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang). Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka dari nuur (cahaya).

Malaikat dari sisi pekerjaan: menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertasbih kepada-Nya:

وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ  [الأنبياء/19- 20]

Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. [Al-Anbiyaa/21: 19-20].

Malaikat dari sisi ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka sifat tunduk secara sempurna terhadap perintah-Nya dan kekuatan dalam melaksanakannya. Mereka difitrahkan untuk berbuat taat:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم/6].

yang tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [At-Tahriim/66:6]

Jumlah Malaikat.
Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung jumlah mereka selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara mereka ada para pemikul arasy, penjaga-penjaga surga, penjaga-penjaga neraka, para pemelihara, para penulis dan selain mereka dan 70.000 dari mereka shalat setiap hari di Baitul-Ma’mur. Apabila mereka keluar, niscaya mereka tidak akan pernah kembali kepadanya.

Dalam cerita al-Mi’raaj, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  tatkala mendatangi langit ke tujuh, beliau bersabda:

فَرُفِعَ لِي البَيْتُ المعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ: هَذَا البَيْتُ المعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيهِمْ. متفق عليه.

lalu aku diangkat ke Baitul Ma’mur, aku bertanya kepada Jibril Alaihissallam, ia menjawab: ‘Ini adalah Baitul Ma’mur, setiap hari 70.000 orang malaikat shalat di dalamnya, apabila mereka keluar, niscaya mereka tidak akan pernah kembali kepadanya.‘ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Nama-nama dan Tugas-tugas Para Malaikat
Malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka untuk taat dan beribadah kepada-Nya. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara mereka ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritahukan kepada kita tentang nama-nama dan tugas-tugas mereka dan di antara mereka ada yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui tentang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan tugas kepada mereka, di antara mereka adalah:

  1. Jibril Alaihissallam: Dia yang diwakilkan (ditugaskan) membawa wahyu kepada para Nabi dan rasul.
  2. Mikail Alaihissallam: Dia yang diwakilkan (diberi tugas) untuk menurunkan hujan dan tumbuhan.
  3. Israfil Alaihissallam: Dia yang diwakilkan (diberi tugas) meniup terompet. 
    • Mereka adalah para pembesar malaikat. Mereka diberi tugas dengan sebab-sebab kehidupan. Jibril ditugaskan dengan wahyu yang dengannya hidup semua hati. Mikail ditugaskan dengan hujan yang dengannya terjadi kehidupan bumi setelah matinya. Israfil ditugaskan meniup terompet yang dengannya terjadi kehidupan semua tubuh setelah matinya.
  4. Malik, penjaga neraka: Dia ditugaskan sebagai penjaga neraka.
  5. Ridhwan penjaga surga: Dia diwakilkan sebagai penjaga surga.

Di antara mereka ada Malakul maut yang ditugaskan mencabut ruh saat meninggal dunia.

Di antara mereka ada para pemikul arsy, penjaga-penjaga surga dan penjaga-penjaga neraka.

Di antara mereka adalah para malaikat yang ditugaskan menjaga anak cucu Adam Alaihissallam, menjaga amal perbuatan mereka, dan mencatatnya bagi setiap orang.

Di antara mereka ada yang ditugaskan dengan seorang hamba secara terus menerus.

Di antara mereka ada malaikat yang silih berganti siang dan malam. di antara mereka ada malaikat yang mengikuti majelis-majelis zikir.

Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan dengan janin di dalam kandungan, mereka menulis rizqinya, amalnya, ajalnya, dan celaka atau keberuntungannya dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara mereka ada malaikat yang ditugaskan dengan memberikan pertanyaan kepada mayit di dalam kuburnya tentang Rabb-nya, agamanya, dan Nabinya. Dan selain mereka sangat banyak sekali yang tidak diketahui jumlahnya oleh selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghitung segala sesuatu secara terperinci.

Tugas malaikat al-Kiraam al-Katibiin (Yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang mencatat amal-amal perbuatan manusia):

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan malaikat al-Kiram al-Katibiin dan menjadikan mereka sebagai penjaga terhadap kita. Mereka menulis segala perkataan, perbuatan dan niat. Setiap orang manusia disertai dua orang malaikat, sebelah kanan menulis kebaikan dan sebelah kiri menulis keburukan. Dan dua orang malaikat yang lain bertugas menjaga dan memeliharanya. Satu orang berada di belakangnya dan satunya berada di depannya.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال الله تعالى: وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ  [الانفطار/10- 12]

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Infithaar/82:10-12]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وقال الله تعالى: إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ  [ق/17- 18]

(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qaaf/50:17-18]

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ [الرعد/ 11].

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Ar-Ra’ad/13:11]

4. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- قَالَ: يَقولُ اللهُ: إذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، وَإذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا له بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ». متفق عليه.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Apabila hambaku ingin melakukan kejahatan, maka janganlah kamu menulis kejahatan itu atasnya sampai dia melakukannya. Jika dia melakukannya maka tuliskan seumpamanya. Dan jika dia meninggalkannya karena Aku, maka tulislah untuknya satu kebaikan. Dan jika dia ingin melakukan kebaikan, lalu tidak mengerjakannya, maka tulislah baginya satu kebaikan. Dan jika dia melakukannya maka tulislah baginya dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Besarnya bentuk Malaikat.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلائِكَةِ اللهِ مِنْ حَمَلَةِ العَرْشِ إنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ. أخرجه أبو داود

Aku diberi izin menceritakan tentang satu malaikat dari malaikat-malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari malaikat pemikul arasy. Sesungguhnya (jarak) di antara daun telinga bagian bawahnya sampai ke pundaknya adalah perjalanan tujuh ratus tahun.” HR. Abu Daud.[3]

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أن محمداً- صلى الله عليه وسلم- رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ. متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat Jibril Alaihissallam, ia mempunyai enam ratus sayap. Muttafaqun ‘alaih.[4]

Manfaat beriman kepada Malaikat.
1. Mengetahui kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, kekuasaan, kekuatan, dan hikmah-Nya. Dia telah menciptakan malaikat yang tidak mengetahui jumlah mereka selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan di antara mereka pemikul Arsy, yang salah satu dari mereka jarak di antara daun telinganya bagian bawah sampai pundaknya adalah perjalanan tujuh ratus tahun. Bagaimana dengan besarnya Arsy? Dan bagaimana kebesaran yang berada di atas Arasy. Maha suci yang :

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  [الجاثية/37]

Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Al-Jatsiyah/45:37]

2. Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas perhatian-Nya terhadap anak cucu Adam Alaihissallam dimana Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mewakilkan dari kalangan malaikat untuk bertugas menjaga mereka, menolong, dan mencatat amal perbuatan mereka.

3. Mencintai malaikat atas apa yang mereka lakukan yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdoa, dan meminta ampunan untuk kaum mukminin, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para pemikul Arsy dan yang berada di sekitarnya:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (7) رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [غافر/7- 9]

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. [Ghaafir/40:7-9]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no.3207 dan lafazh ini baginya, dan Muslim no (162).
[2] Muttafaqun  ‘alaih. Al-Bukhari no 7501 dan ini lafazdnya, dan Muslim no. 128
[3] Shahih. HR. Abu Daud no.4727, Shahih Sunan Abi Daud no. 3953. lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 151.
[4] Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no 4857 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 174.

Celaka Bagi Peminum Khomr (Minuman Keras)

CELAKA BAGI PEMINUM KHOMR (MINUMAN KERAS)

Pertanyaan
Seorang wanita meminum khomr (minuman keras) sebelum masuk bulan Ramadhan. Kemudian dia melakukan puasa di permulaan Ramadhan, akan tetapi salah seorang saudarinya mengatakan kepadanya bahwa puasanya tertolak, Allah tidak akan menerimanya karena dia telah minum khomr pada waktu yang dekat, maka dia harus menunggu 40 hari sampai Allah menerima shalat dan puasanya. Apakah hal ini benar?

Jawaban
Alhamdulillah.
Sesungguhnya minum khomr termasuk diantara dosa besar, ia adalah induk dari semua kesalahan. Kunci dari semua kejelekaan, menghilangkan akal. Menghabiskan uang, menjadikan kepala pusing. Ia termasuk rasanya yang tidak disukai, juga termasuk najis dari amalan syetan. Akan terjadi permusuhan dan kemarahan diantara manusia. Menghalangi dari mengingat Allah dan dari menunaikan shalat. Mengajak ke perbuatan zina. Terkadang mengajak untuk menggauli anak perempuan, saudari perempuan dan para wanita mahramnya. Menghilangkan kecemburuan, mewariskan penyesalan dan kebobrokan. Peminumnya diikutkan pada macam manusia terendah sementara mereka dalam kondisi gila. Terbukanya penutup (terbuka aibnya), terlihat rahasianya, menunjukkan pada auratnya, mengampangkan terjerumus pada kejelekan dan dosa-dosa. Mengeluarkan hati dari menghormati mahram-mahramnya. Sementara orang yang kecanduan seperti penyembah berhala.

Berapa banyak yang menjadikan pertempuran? Menjadi fakir dari kaya? Menjadi rendahan setelah tinggi kedudukannya? Hina setelah mulya? Hilang dari kenikmatan? Dan mendatangkan kesengsaraan?

Berapa banyak yang dapat memisahkan antara suami dengan istrinya? Hilang hatinya dan meninggalkan pikirannya. Berapa banyak hal itu mewariskan kerugian atau telah terjadi sehingga bisa dijadikan pelajaran. Berapa banyak tertutup wajah peminumnya dari pintu kebaikan dan dibuka baginya pintu kejelekan?

Berapa banyak terjerumus dalam kesusahan dan mempercepat kematian?

Berapa banyak peminumnya terjerat pada ujian (cobaan)?

Ia adalah induk dari dosa, pembukan kejelekan, menghilangkan kenikmatan dan mendatangkan kemurkaan.

Kalau sekiranya kejelekannya itu dia tidak akan berkumpul padanya dengan khomr di surga di perut seorang  hamba, maka sudah cukup itu sebagai musibah. Dan penyimpangan khomr itu berlipat ganda apa yang telah kami sebutkan. Selesai dari perkataan Ibnu Qoyyim rahimahullah dari kitabnya ‘Khadi Al-Arwakh.

Allah ta’ala telah memperingatkan dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Sallallahu’alaihi wa sallam.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  المائدة/90

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” [Al-Maidah/5: 90]

  1. Allah melaknat peminum khomr. Dalam sunan Abi Dawud, (3189) dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma berkata, Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وصححه الألباني كما في صحيح أبي داود ( 2/700 ) .

Allah melaknat khomr, peminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, dan pembelinya, yang memeras dan yang diperasnya, serta orang yang membawa dan yang dibawakannya. Dishohehkan oleh Al-Albany seperti di ‘Shoheh Abi Dawud, (2/700).

  1. Nabi Sallallahu’alaihi wa sallam menyerupakan orang yang kecanduan khomr seperti penyembah berhala. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alihi wa sallam bersabda:

مُدْمِنُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ وَثَنٍ رواه ابن ماجه 3375 وحسنه الألباني في صحيح ابن ماجه 2720

Pecandu khomr itu seperti penyembah berhala. HR. Ibnu Majah, 3375 di hasankan oleh Al-Albany di Shoheh Ibnu Majah, 2720.

  1. Diharamkan masuk ke dalam surga bagi orang yang kecanduan minum khomr. Dari Abu Darda’ dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لا يدخل الجنة مُدمن خمر رواه ابن ماجه 3376 وصححه الألباني في صحيح ابن ماجه 2721

Tidak akan masuk surga pecandu khomri. HR. Ibnu Majah, 3376 dishohehkan Al-Albany di Shoheh Ibnu Majah, 2721.

  1. Dari Utsman Radhiallahu’anhu berkata,

اجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ إِنَّهُ كَانَ رَجُلٌ مِمَّنْ خَلَا قَبْلَكُمْ تَعَبَّدَ ، فَعَلِقَتْهُ ( أَيْ عَشِقْته وَأَحَبَّتْهُ ) امْرَأَةٌ غَوِيَّةٌ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ جَارِيَتَهَا فَقَالَتْ لَهُ إِنَّا نَدْعُوكَ لِلشَّهَادَةِ ، فَانْطَلَقَ مَعَ جَارِيَتِهَا فَطَفِقَتْ كُلَّمَا دَخَلَ بَابًا أَغْلَقَتْهُ دُونَهُ حَتَّى أَفْضَى إِلَى امْرَأَةٍ وَضِيئَةٍ عِنْدَهَا غُلَامٌ وَبَاطِيَةُ خَمْرٍ ( أي إناء ) فَقَالَتْ إِنِّي وَاللَّهِ مَا دَعَوْتُكَ لِلشَّهَادَةِ وَلَكِنْ دَعَوْتُكَ لِتَقَعَ عَلَيَّ أَوْ تَشْرَبَ مِنْ هَذِهِ الْخَمْرَةِ كَأْسًا أَوْ تَقْتُلَ هَذَا الْغُلَامَ قَالَ فَاسْقِينِي مِنْ هَذَا الْخَمْرِ كَأْسًا فَسَقَتْهُ كَأْسًا قَالَ زِيدُونِي فَلَمْ يَرِمْ ( أَيْ فَلَمْ يَبْرَح وَلَمْ يَتْرُك ذَلِكَ ) حَتَّى وَقَعَ عَلَيْهَا وَقَتَلَ النَّفْسَ . فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَإِدْمَانُ الْخَمْرِ إِلا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ ..   رواه النسائي 5666 وصححه الألباني في صحيح النسائي 5236

Jauhilah khomr karena ia adalah induk dari semua kejelekan. Dahulu ada seseorang yang menyendiri beribadah. Kemudian dia terpesona dengan wanita yang menggodanya. Maka wanita itu mengirim pembantunya dan mengatakan kepadanya,”Kami mengundang anda untuk kesaksian. Kemudian dia pergi bersama pembantunya, sehingga dia telah mendapatkannya. Setiap kali masuk satu pintu, ditutupnya setelahnya sampai menuju ke wanita dimana dia menaruh disisinya anak laki-laki dan botol khomr. Maka wanita itu mengatakan,”Sesungguhnya demi Allah saya mengundang anda bukan untuk kesaksian, akan tetapi saya mengundang anda agar bisa berhubungan dengan diriku atau minum khomr ini satu gelas atau membunuh anak kecil ini. Maka dia menjawab,”Maka berikan saya minuman khomr ini satu gelas. Maka wanita itu memberikan satu gelas. Lelaki itu mengatakan,”Tolong ditambahi lagi. Tidak lama setelah itu dia menggauli (wanita) dan membunuh jiwa (anak lelaki tadi). Maka jauhilah khomr karena ia demi Allah tidak akan berkumpul keimanan dengan orang yang kecanduan khomr kecuali akan keluar salah satu dari keduanya dari pemiliknya. HR. Nasa’i, 5666 dishohehkan oleh Al-Albany di Shoheh An-Nasai, 5236.

  1. Dia tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari. Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ وَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا وَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ رَدَغَةِ الْخَبَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رَدَغَةُ الْخَبَالِ قَالَ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ . رواه ابن ماجه 3377 وصححه الألباني في صحيح ابن ماجه 2722 .

Siapa yang minum khorm danmabuk, maka shalatnya tidak diterima selama 40 pagi. Kalau dia mati akan masuk neraka. Kalau dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya. Kalau dia mengulangi lagi minum kemudian mabuk, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 pagi (hari). Kalau dia mati, akan masuk neraka. Kalau dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya. Kalau dia mengulangi lagi minum kemudian mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Kalau dia mati, akan masuk neraka. Kalau dia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya. Kalau dia mengulangi lagi, maka Allah berhak untuk memberikan minuman dari lumpur yang beracun pada hari kiamat. Mereka berkata,”Wahai Rasululah apa itu ‘رَدَغَةُ الْخَبَالِ beliau menjawab,”Air perasan penduduk neraka. HR. Ibnu Majah, 3377 dishohehkan oleh Al-Albany di Shoheh Ibnu Majah, 2722.

Bukan maksudnya tidak diterima shalatnya itu shalatnya tidak benar. Atau dia meninggalkan shalat, akan tetapi maknanya adalah bahwa ia tidak diberi pahala untuknya, sehingga faedah dia melakukan shalat itu hanya sekedar menghilangkan tanggungannya saja. Dan tidak dihukum orang yang meninggalkannya.

Abu Abdillah Muhammad bin Nasr Al-Marwazi mengatakan,”ungkapan ‘Tidak diterima shalatnya’ maksudnya adalah tidak diberi pahala atas shalatnya selama 40 hari sebagai hukuman karena meminum khomr. Sebagaimana mereka mengatakan bagi orang yang berbicara pada hari Jum’ah ketika imam khutbah. Ia menunaikan shalat jum’ah tapi tidak mendapatkan (pahala) Jum’ah. Maksudnya adalah dia tidak diberi pahala jum’ah sebagai hukuman atas dosanya. ‘Ta’dhim Qadri As-Shalat, (2/587, 588).

Nawawi rahimahullah mengatakan,”Sementara tidak diterima shalatnya, maksudnya adalah bahwa dia tidak mendapatkan pahala baginya meskipun (shalatnya) itu diterima dan dapat menggugurkan kewajiban darinya. Sehingga dia tidak butuh untuk mengulanginya.

Sementara apa yang disebutkan oleh penanya bahwa puasanya tertolak tidak diterima. Ini dibangun atas pendapat sebagian para ulama’ bahwa penyebutan shalat dalam hadits tadi bahwa tidak diterima (Shalatnya). Padahal maksudnya itu adalah peringatan untuk semua ibadah bahwa hal itu tidak akan diterima juga.

Al-Mubarokfuri dalam kitab ‘Tuhfatul Akhwadzi’ mengatakan,”Dikatakan,”Dikhususkan shalat dengan penyebutan, karena ia termasuk ibadah badan yang paling bagus. Kalau ia tidak diterima, maka ibadah-ibadah lainnya juga lebih layak untuk tidak diterimanya. (dari ‘Takhfatul Akhwadzi dengan diedit. Begitu juga pendapat Al-Iroqi dan Al-Manawi).

Dari sini, maka pendapat ini bahwa puasanya juga tidak diterima, bukan berarti bahwa orang yang minum khomr itu meninggalkan puasanya. Bahkan harus diperintahkan kepadanya akan tetapi tidak diterima darinya sebagai hukuman atasnya.

Tidak diragukan lagi bagi peminum khomr harus menunaikan shalat pada waktunya, berpuasa bulan Ramadhan, meskipun ada sedikit kekurangan dari shalatnya atau puasanya, maka dia terjerumus pada dosa berat yang agung, itu lebih berat lagi bagi orang yang terjerumus pada minuman khomr.

Perlu diketahui bahwa seorang muslim yang terjerumus kepada kemaksiatan dan dia lemah untuk bertaubat karena lemah imannya, tidak selayaknya diperbolehkan untuk meneruskan kemaksiatan dan kecanduan atasnya. Atau meninggalkan ketaatan dan menyepelekannya, bahkan seharusnya dia menunaikan apa yang mampu dilakukan dari ketaatan dan berusaha untuk meninggalkan apa yang terjerumus padanya dari dosa-dosa besar dan yang mencelakakannya.

Seharusnya bagi orang Islam, bertakwa kepada Allah dan berhati-hati atas godaan syetan serta rayuannya. Jangan menjadikan dirinya sebagai permainan di tangan syetan. Kalau syetan memenangkannya dan menjerumuskannya berbuat kemaksiatan kepada Pencipta (Allah) Jalla wa a’ala, maka bersegerahlah untuk bertaubat.

التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Karena orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa lagi. HR. Ibnu Majah, 2450, dishohehkan oleh Al-Bushoiru seperti yang ada dalam kitab ‘Az-Zawaid / Hasyiyah Ibnu Majah.

Inilah hukuman bagi peminum khomr ketika dia tidak bertaubat. Sementara kalau dia bertaubat dan kembali kepada Alah, maka Allah akan menerima taubatnya dan diterima amalannya.

Kita memohon kepada Allah agar terlindungi dari godaan syetan dan dijauhkan kita dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyai.

Dan segala pujian hanya milik Allah Tuhan seluruh alam

Disalin dari islamqa