Category Archives: A3. Aqidah Iman dan Tauhid

Menuju Kesempurnaan Iman Kepada Allâh

MA’RIFATULLAHGERBANG UTAMA MENUJU KESEMPURNAAN IMAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni Lc MA.

Barangkali tidak salah kalau dikatakan bahwa istilah ma’rifatullâh, yang secara bahasa berarti mengenal Allâh Azza wa Jalla , termasuk istilah yang cukup populer di kalangan kaum Muslimin. Karena semua yang beriman sepakat meyakini bahwa mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mencintai-Nya merupakan kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam. Bahkan istilah ma’rifatullâh selalu diidentikkan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dengan kesempurnaan iman dan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )” [Fâthir/35:28].

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allâh, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya…, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.”[1]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Semakin banyak pengetahuan seseorang tentang Allâh, maka rasa takutnya kepada Allâh pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauh dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang ditakutinya (yaitu Allâh Azza wa Jalla).”[2]

Namun ironisnya, istilah ma’rifatullâh yang agung ini sering disalahartikan dan disalahgunakan oleh sebagian kaum Muslimin. Lebih parah dari itu, sebagian kalangan justru membawa pengertian istilah ini kepada pemahaman yang sangat menyimpang dan berseberangan dengan syariat Islam yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang-orang ahli tasawuf yang mengklaim bahwa metode pemahaman merekalah yang paling dekat dan mudah untuk mencapai ma’rifatullâh. Akan tetapi, kalau kita amati dengan seksama, ternyata ma’rifatullâh yang mereka maksud bukanlah cara mengenal Allâh Azza wa Jalla melalui wahyu yang diturunkan-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ma’rifatullâh yang dikenal di kalangan mereka adalah cara mengenal Allâh Azza wa Jalla yang bersumber dari pertimbangan akal dan perasaan, atau ciptaan pimpinan-pimpinan kelompok mereka, bahkan berdasarkan khayalan atau mimpi yang kemudian mereka namakan mukassyafah (tersingkapnya tabir)[3].

Bahkan sebagian dari para penganut pemahaman sesat ini berani mengklaim bahwa metode yang mereka tempuh dalam mencapai ma’rifatullâh lebih baik dan lebih mudah daripada metode dalam al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini jelas merupakan tipu daya Iblis yang terlaknat untuk menyesatkan manusia dari jalan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ

Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya [Fâthir/35:8].

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Termasuk tipu daya setan adalah apa yang dilontarkannya kepada orang-orang ahli tasawuf yang bodoh, berupa asy-syathahât (ucapan-ucapan tanpa sadar/igauan) dan penyimpangan besar, yang ditampakkannya kepada mereka sebagai bentuk mukâsyafah (tersingkapnya tabir hakikat) dari khayalan-khayalan. Maka setanpun menjerumuskan mereka dalam berbagai macam kerusakan dan kebohongan, serta membukakan bagi mereka pintu pengakuan (dusta) yang sangat besar. Setan membisikan kepada mereka bahwa sesungguhnya di luar ilmu (syariat yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunnah) ada sebuah jalan (lain) yang jika mereka menempuhnya maka jalan itu akan membawa mereka kepada tersingkapnya (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas dan membuat mereka tidak butuh lagi untuk terikat dengan (hukum dalam) al Qur’ân dan Sunnah (?!!)…maka ketika (mereka menempuh jalan yang) jauh dari bimbingan ilmu yang dibawa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setanpun menampakkan kepada mereka berbagai macam kesesatan sesuai dengan keadaan mereka, dan membisikkan khayalan-khayalan ke (dalam) jiwa mereka, kemudian menjadikan khayalan tersebut seperti benar-benar nyata sebagai penyingkapan (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas…(?!!).”[4]

Memahami Ma’rifatullâh yang Benar
Ahlus sunnah wal jama’ah meyakini dan menetapkan bahwa ma’rifatullâh yang benar adalah mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah, sifat-sifat-Nya yang maha sempurna dan perbuatan-perbuatan-Nya yang maha terpuji, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa at-tahrîf (menyelewengkan maknanya yang benar), at-ta’thîl (menolak/mengingkarinya), at-takyîf (membagaimanakannya) dan at-tamtsîl (menyerupakannya dengan makhluk).[5]

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Kita tidak boleh menyifati Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan sifat yang Dia Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya (dalam al-Qur’ân) dan yang ditetapkan oleh rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits-hadits yang shahih), kita tidak boleh melampaui al-Qur’ân dan hadits.”[6]

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ma’rifatullâh (yang benar) adalah mengenal zat-Nya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.”[7]

Demikian pula memperhatikan dan merenungi keadaan alam semesta beserta semua makhluk Allâh Azza wa Jalla di dalamnya yang merupakan tanda-tanda kemahakuasaan-Nya dan bukti kesempurnaan ciptaan-Nya[8]. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ ٢٠ وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ 

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh Azza wa Jalla ) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [adz-Dzâriyât/51:20-21][9]

Jadi memahami nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya pintu untuk bisa mengenal Allâh (ma’rifatullâh) dengan pengenalan yang benar, yang ini merupakan landasan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah (kecintaan) kepada Allâh Azza wa Jalla , yang ini tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allâh Azza wa Jalla [10] dengan pengenalan yang benar melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka orang yang tidak memiliki ma’rifatullah (mengenal Allâh) yang benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya.[11]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya maka dia pasti akan mencintai-Nya.”[12]

Oleh karena itulah, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan keterkaitan antara ibadah kepada-Nya dan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam dua ayat al-Qur’ân. Ayat pertama :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku [adz-Dzâriyât/51:56].

Ayat kedua :

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allâh berlaku padanya, agar kamu mengetahui (memahami) bahwasannya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allâh, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu [ath-Thalâq/65:12].

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla tidak akan mugkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allâh dengan pemahaman yang benar.[13]

Di sini juga perlu diingatkan bahwa ma’rifatullâh ada dua macam.

Pertama: mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan hanya menetapkan keberadaan-Nya dan sifat-sifat Rububiyah-Nya. inilah jenis ma’rifatullâh yang dimiliki oleh semua manusia, yang beriman maupun kafir dan yang taat maupun durhaka kepada-Nya.

Kedua: mengenal Allâh Azza wa Jalla yang menimbulkan rasa malu, cinta, rindu, ketergantungan hati, takut, selalu kembali, merasa bahagia dan selalu bersandar kepada-Nya[14]. Inilah ma’rifatullâh yang sempurna dan merupakan pembahasan dalam tulisan ini.

Ilmu yang Paling Agung Dalam Islam
Memahami nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan benar untuk mencapai ma’rifatullâh adalah ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsung dengan Allâh Azza wa Jalla , Dzat yang maha sempurna.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan obyek yang dipelajarinya, karena keyakinan jiwa akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya, juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Maka tidak diragukan lagi, bahwa ilmu tentang Allâh, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan (kemahasempurnaan) Allâh Azza wa Jalla dengan semua obyek yang dipelajari (dalam) ilmu-ilmu lainnya.”[15]

Jadi seorang hamba tidak akan mungkin meraih kebaikan yang hakiki dalam agamanya kecuali setelah dia memahami ilmu yang mulia ini. Karena mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah landasan utama agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan semua agama yang dibawa oleh para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam [16]. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kunci dakwah (semua agama) yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah ma’rifatullâh (mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya).[17]

Oleh karena itu, di dalam al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik pedoman hidup bagi manusia, petunjuk terbesar dan paling utama adalah penjelasan tentang nama-nama Allâh yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan (tentang) nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allâh yang lebih banyak dari penjelasan (tentang) makanan, minuman dan pernikahan di surga. Ayat-ayat yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala lebih utama kedudukannya daripada ayat-ayat (tentang) hari kemudian. Maka ayat yang paling agung dalam al-Qur’ân adalah ayat kursi yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat imam Muslim dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau n bersabda kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, “Apakah kamu mengetahui ayat apakah yang paling agung dalam kitabullâh (al-Qur’ân) ?”, Ubay Radhiyallahu anhu  menjawab : (Firman Allâh) :

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ 

Allâh yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya [al-Baqarah/2:255]

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dada Ubay Radhiyallahu anhu dengan tangan beliau dan bersabda, “Ilmu akan menjadi kesenangan bagimu, wahai Abul Mundzir (Ubay bin Ka’ab Radhiya’llahu anhu )”[18].

Demikian pula surat yang paling utama (dalam al-Qur’an) adalah Ummul Qur’ân (surat al-Fâtihah), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, dari Abu Sa’id Ibnul Mu’alla Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya (tentang keutamaan surat al-Fâtihah), “Sesungguhnya belum pernah diturunkan dalam (kitab) Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’ân yang seperti surat al-Fâtihah, ). Inilah tujuh ayat yang (dibaca) berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung yang diberikan (oleh Allâh Azza wa Jalla) kepadaku.”[19]

Dalam surat ini terdapat penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allâh yang lebih agung dari penjelasan (tentang) hari kemudian di dalamnya.

Dan disebutkan dalam hadits shahih dari berbagai jalur periwayatan bahwa surat:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah: Dialah Allâh Yang Maha Esa [al-Ikhlas/112:1]

Surat ini sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an.[20]

Dalam hadits shahih (lainnya), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada seorang shahabat Radhiyallahu anhu yang selalu membaca surat al-Ikhlâs ini dan dia berkata, “Aku mencintai surat ini karena surat ini (menjelaskan tentang) sifat ar-Rahman (Allah Azza wa Jalla), (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Sesungguhnya Allâh mencintainya.”[21] (Dalam hadits ini), Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjelaskan bahwa Allâh mencintai orang yang senang menyebut sifat-sifat-Nya Azza wa Jalla, dan ini adalah pembahasan yang luas”[22].

Semua keterangan di atas dengan jelas menunjukkan keutamaan dan keagungan kedudukan ilmu yang mulia ini. Ilmu ini merupakan landasan utama iman sekaligus pondasi agama Islam yang dibangun di atasnya semua kedudukan mulia dan tingkatan tinggi dalam agama. Maka tidak akan mungkin bagi seorang hamba untuk mencapai kebaikan yang hakiki dalam kehidupannya tanpa mengenal Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai macam nikmat kepadanya, baik yang lahir dan batin.

Tidak akan mungkin seorang hamba bisa beribadah kepada-Nya dengan rasa cinta, mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya tanpa dia mengenal kemahaindahan nama-nama-Nya dan kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya yang semua ini menunjukkan betapa Allâh maha agung dan maha tinggi. Dia satu-satunya yang berhak dibadahi dan tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Azza wa Jalla.[23]

Salah seorang Ulama salaf mengungkapkan makna ini dalam ucapannya, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” Lalu ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini ?” Ulama itu menjawab, “Cinta kepada Allâh, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”[24]

Ma’rifatullah Yang Benar Jalan Utama Untuk Meraih Kesempurnaan Iman
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )” [Fâthir/35:28]

Dalam hadits yang shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allâh dan orang yang paling mengenal-Nya diantara kamu sekalian[25]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Arti (ayat di atas), ‘Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allâh-lah yang memiliki rasa takut yang benar kepada Allâh. Karena semakin sempurna pemahaman dan penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allâh, Dzat yang maha mulia, maha kuasa dan maha mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula.”[26]

Inilah jalan utama bahkan jalan pintas untuk menyempurnakan keimanan dan penghambaan diri seorang mukmin kepada Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkapkan hal ini dalam ucapan beliau, “Perjalanan menuju Allâh melalui jalur (memahami) nama-nama dan sifat-sifat-Nya keadaannya (sungguh) sangat menakjubkan dan (pintu hidayah) yang dibukakan (melalui jalur ini) sangat agung. Seorang hamba (yang menempuh jalur ini) sungguh telah dibawakan kepadanya kebahagiaan sejati (kesempurnaan iman) saat dia tidur terlentang di atas tempat tidurnya, tanpa merasa lelah dan bersusah payah …”[27]

Ini bukan suatu yang mengherankan, terutama kalau kita memahami bahwa semua kedudukan mulia dan agung dalam Islam tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan menyempurnakan pemahaman dan penghayatan kita terhadap kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Karena masing-masing dari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla memiliki pengaruh yang kuat dalam menumbuhsuburkan keimanan dan penghambaan diri kepada-Nya secara totalitas. Atau dengan kata lain, penghambaan diri yang sempurna kepada Allâh Azza wa Jalla dalam semua bentuknya kembali kepada pemahaman dan penghayatan makna yang terkandung dalam nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla [28].

Sebagai contoh, sifat Murâqabatullah (selalu merasa dalam pengawasan Allâh Azza wa Jalla ). Ini adalah sifat mulia dan kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan termasuk tahapan utama dalam menempuh perjalanan menuju ridha Allâh Azza wa Jalla .

Hakikat murâqabatullâh adalah seorang hamba selalu merasakan dan meyakini pengawasan Allâh Azza wa Jalla terhadap (semua keadaannya) lahir dan batin. Dia merasakan pengawasan-Nya ketika berhadapan dengan perintah-Nya, untuk kemudian dia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dan ketika berhadapan dengan larangan-Nya, untuk kemudian dia berusaha keras menjauhinya dan menghindarinya.[29]

Inilah yang diungkapkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tingkatan tertinggi dalam Islam, yaitu kedudukan al-Ihsan. Dalam hadits Jibril Alaihissallam yang terkenal, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

 (al-Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu[30]

Kedudukan tinggi ini hanya akan dicapai oleh seorang hamba dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla , kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , khususnya yang berhubungan dengan pengawasan, persaksian, penglihatan, pendengaran dan pengetahuan-Nya yang maha sempurna. Misalnya nama Allâh Azza wa Jalla ar-Raqîb (Yang Maha Mengawasi), asy-Syahîd (Yang Maha Menyaksikan), al-Bashîr (Yang Maha Melihat) dan al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui)[31].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memaparkan pembahasan penting ini dalam ucapan beliau, “Murâqabatullâh adalah termasuk amalan hati yang paling tinggi (keutamaannya dalam Islam), yaitu menghambakan diri kepada Allâh dengan (memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam) nama-Nya ar-Raqîb (Yang Maha Mengawasi) dan asy-Syahîd (Yang Maha Menyaksikan). Maka ketika seorang hamba mengetahui atau meyakini bahwa semua gerakan (aktifitas)nya, tidak ada (satupun) yang luput dari pengatahuan-Nya, dan dia (senantiasa) menghadirkan keyakinan ini dalam semua keadaannya, ini (semua) akan menjadikannya (selalu berusaha) menjaga batin (hati)nya dari (semua) pikiran (buruk) dan angan-angan yang dibenci Allâh, serta menjaga lahir (anggota badan)nya dari (semua) ucapan dan perbuatan yang dimurkai Allâh, serta dia akan beribadah atau mendekatkan diri (kepada Allâh) dengan kedudukan al-ihsan, maka dia akan beribadah kepada Allâh seakan-akan dia melihat-Nya, kalau dia tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allâh melihatnya.”[32]

Demikian pula sifat Tawakkal (selalu bersandar dan berserah diri) kepada Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah sifat yang agung dan memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman :

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيْلًا

 (Dia-lah) Rabb masyrik (wilayah timur) dan maghrib (wilayah barat), tiada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung [al-Muzzammil/73:9][33].

Merealisasikan tawakkal dengan benar adalah sebab utama yang mengundang pertolongan Allâh Azza wa Jalla bagi hamba-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (segala keperluan)nya [ath-Thalâq/65: 2-3].

Kedudukan yang mulia ini juga hanya akan dicapai dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , misalnya: al-Hasîb (Yang Maha Memberi Kecukupan), al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat), al-Matîn (Yang Maha Kokoh), dan az-‘Azîz (Yang Maha Perkasa)[34], juga kekhususan-Nya dalam sifat-sifat rububiyah, seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezki, memberi manfaat dan mencegah keburukan.[35]

Kedudukan Mahabbatullah (mencintai Allâh Azza wa Jalla ) dan menjadikan-Nya lebih dicintai dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Ini merupakan ciri utama orang yang merasakan manisnya iman dan kesempurnaannya, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman): menjadikan Allâh dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allâh, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allâh sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api[36].

Kedudukan tertinggi dalam Islam ini hanya akan diraih dengan taufik dari Allâh Azza wa Jalla kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa yang mengenal Allâh dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya maka dia pasti akan mencintai-Nya”[37]

Juga kedudukan Ridha billahi rabban (ridha kepada Allâh sebagai Rabb), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya.[38] Ini adalah kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Akan merasakan kelezatan atau kemanisan iman (yaitu) orang yang ridha dengan Allâh Azza wa Jalla sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya[39]

Kedudukan agung ini hanya akan dicapai dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kemudian dengan pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap sifat-sifat rububiyah dan bahwa Dia-lah satu-satunya yang maha mampu melakukan semua itu, seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezki, mengatur alam semesta, memberi manfaat dan mencegah keburukan.[40]

Demikianlah, maka semua sifat dan kedudukan tinggi dalam Islam hanya akan diraih dengan sempurna melalui pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap keindahan nama-nama Allâh Azza wa Jalla dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Sehingga hamba yang paling sempurna dalam keimanan dan penghambaan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dialah yang paling mengenal kandungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allâh Azza wa Jalla ) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia.”[41]

Cara Untuk Meraih Ma’rifatullah Yang Benar
Cara yang paling pertama dan utama adalah berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla , karena di tangan-Nyalah segala kebaikan dan hanya Dialah yang mampu menganugerahkan semua sifat-sifat yang agung kepada hamba-Nya.

Oleh karena itu, imam Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhîr rahimahullah berkata, “Aku mengingat-ingat (merenung-red) apakah yang bisa menghimpun segala kebaikan ? Karena kebaikan itu banyak ; puasa, shalat (dan lain-lain). Semua kebaikan itu ada di tangan Allâh Azza wa Jalla, maka jika kamu tidak mampu (memiliki) apa yang ada di tangan Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan memohon kepada-Nya agar Dia memberikan semua itu kepadamu, berarti yang bisa menghimpun (semua) kebaikan adalah berdoa (kepada Allâh Azza wa Jalla )”[42]

Kemudian berusaha memahami dan menghayati ayat-ayat al-Qur’an yang mayoritas isinya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla , serta penjabaran dari semua itu.

Secara ringkas, syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah memaparkan cara untuk meraih ilmu yang agung ini melalui penghayatan terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur’an, yaitu dengan menghadirkan makna yang terkandung dalam nama-nama Allâh yang maha indah dan berusaha meresapinya ke dalam hati, agar hati dapat merasakan pengaruh baik dari kandungan nama-nama tersebut dan dipenuhi dengan ilmu yang paling agung ini. Sebagai contoh :

  • Nama-nama Allâh Azza wa Jalla yang mengandung sifat-sifat maha agung, maha besar, maha mulia dan maha tinggi. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan rasa pengagungan dan pemuliaan terhadap Allâh.
  • Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha indah, maha baik, maha penyayang dan maha dermawan. Kandungan sifat-sifat ini akan memenuhi hati manusia dengan kecintaan, kerinduan, selalu memuji dan bersyukur kepada-Nya.
  • Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha mulia, maha memiliki hikmah[43] atau bijaksana, maha mengetahui dan maha kuasa atas segala sesuatu. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan rasa tunduk, tawaddhu’ dan selalu mengakui kelemahan diri di hadapan-Nya.
  • Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha mengetahui segala sesuatu dengan terperinci, maha meliputi, maha mengawasi dan maha menyaksikan. Kandungan sifat-sifat ini akan menghadirkan di hati manusia perasaan selalu dalam pengawasan Allâh Azza wa Jalla dalam semua gerakan maupun diamnya, selalu menjaga bisikan hatinya dari semua pikiran buruk dan keinginan rusak.
  • Nama-nama-Nya yang mengandung sifat-sifat maha kaya dan maha lembut. Kandungan sifat-sifat ini akan mengisi hati manusia dengan selalu merasa butuh, tergantung dan menghadapkan diri kepada-Nya dalam setiap saat dan dalam semua keadaan.

Ilmu yang agung ini ketika meresap ke dalam hati dengan sebab pemahaman (yang mendalam) terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla kemudian penghambaan diri kepada-Nya dengan kandungan nama-nama dan sifat-sifat tersebut, maka itu menjadi perkara yang paling agung dan mulia bagi seorang hamba di dunia. Bahkan inilah anugerah terbesar yang Allâh Azza wa Jalla limpahkan kepada hamba-Nya dan inilah inti serta ruh dari tauhid. Barangsiapa yang telah dibukakan baginya pintu yang agung ini maka sungguh ia telah dibukakan pintu (menuju) tauhid yang murni dan iman yang sempurna.”[44]

Penutup
Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha meraih kedudukan yang paling agung dalam Islam ini dengan taufik dan hidayah-Nya.

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan doa dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Ya Allâh, aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia), tanpa adanya bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan.[45]

(Ya Allâh) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada (semua) amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-mu [46].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kitab Raudhatul Muhibbîn, hlm. 406
[2] Kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 502
[3] Maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan    perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan al Qur-an dan Sunnah.
[4] Kitab Ighâtsatul Lahfân, hlm. 193 – Mawaaridul amaan).
[5] Lihat kitab Majmû’ul Fatâwâ (5/26) dan Taisîrul Wushûl, hlm. 11
[6] Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (5/26).
[7] Dinukil oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ul Fatâwâ (17/104).
[8] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 24
[9] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab Syarhu Tsalâtsatil Ushûl, hlm. 13
[10] Lihat kitab Majmû’ul Fatâwâ (10/84).
[11] Lihat kitab Sabîlul Huda war Rasyâd, hlm. 401 dan  al Qawâ’idul Mutslâ , hlm. 17
[12] Kitab Madârijus Sâlikîn (3/17).
[13] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim tentang pembahasan penting ini dalam kitab beliau Miftâhu Dâris Sa’âdah (1/178).
[14] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab al-Fawâid, hlm. 170
[15] Kitab Miftâhu Dâris Sa’âdah (1/86).
[16] Lihat kitab Taisîrul Wushûl, hlm. 12
[17] Kitab ash-Shawâ’iqul Mursalah (1/151).
[18] HSR Muslim (no. 810).
[19] HR Ahmad (2/357) dari Abu Hurairah z dengan sanad yang shahih.
[20] HSR al-Bukhari (no. 5013) dan Muslim (no. 811 dan 812).
[21] HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).
[22] Kitab Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli (3/61).
[23] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 10
[24] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul Lahfân (1/72).
[25] HSR al-Bukhari (no. 20) dari ‘Aisyah x .
[26] Tafsir Ibnu Katsir (3/729).
[27] Kitab Tharîqul Hijratain, hlm. 334
[28] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 24 dan 28
[29] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 160
[30] HSR Muslim (no. 8).
[31] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 26
[32] Tafsîru Asma-illâhil Husnâ, hlm. 55
[33] Lihat kitab al-Irsyâd ila Shahîhil I’tiqâd, hlm. 59).
[34] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 157
[35] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 26
[36] HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).
[37] Kitab Madârijus Sâlikîn (3/17).
[38] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 81
[39] HSR Muslim, no. 34
[40] Lihat kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 81
[41] Kitab Madârijus Sâlikîn (1/420).
[42] Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd, no. 1346).
[43] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari  kesempurnaan ilmu Allah k , lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 131 dan 946
[44] Lihat kitab al-Qaulus Sadîd melalui perantaraan kitab Fiqhul Asmâ-il Husnâ, hlm. 16-17)
[45] HR an-Nasa-i dalam as-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/264), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 1971) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani dalam Zhilâlul Jannah fî Takhrîjis Sunnah (no. 424).
[46] HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

Iman Bertambah Sempurna dan Berkurang?

IMAN BERTAMBAH SEMPURNA DAN BERKURANG?

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang Muslim, sebab iman menentukan nasib seorang di dunia dan akhirat. Bahkan kebaikan dunia dan akhirat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman, seorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah Azza wa Jalla . Dengan iman, seorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Kuasa, sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak. Dengan demikian, permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua. Imam Ibnu al-Qayyim t menuturkan, “Hasil usaha jiwa dan kalbu yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian (derajat mulia) di dunia dan akhirat adalah ilmu dan iman. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menggabung keduanya dalam firman-Nya:

وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَالْاِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ فَهٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلٰكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan berkata (kepada orang-orang yang kafir), “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.” [ar-Rûm/30:56]

Dan firman Allah Azza wa Jalla :

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. [al-Mujâdilah/58:11]

Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun, kebanyakan manusia keliru dalam (memahami) hakekat ilmu dan iman ini, sehingga setiap kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinya satu-satunya hal yang dapat mengantarkan kepada kebahagian, padahal tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi dakwah beliau kepada umat. Sedangkan yang berada di atas iman dan ilmu (yang benar) adalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj dan petunjuk mereka….” (Al-Fawâid hlm. 191)

Demikian pula apabila kita melihat pemahaman kaum Muslimin tentang iman, maka kita dapatkan banyak kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai contoh, banyak kalangan kaum Muslimin ketika berbuat dosa dia menyatakan: “Yang penting kan hatinya”. Ini semua tentunya membutuhkan pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar tersebut.

Iman Bertambah dan Berkurang.
Sudah dimaklumi, banyak dalil dari nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah yang menjelaskan bertambah dan berkurangannya iman. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih semurna imannya dari yang lainnya, ada di antara mereka yang disebut as-Sâbiq bil khairât, al-Muqtashid dan zhâlim linafsihi. Ada juga al-Muhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Semua ini menunjukkan bahwa mereka tidak berada dalam satu martabat dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Di antara dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangan iman adalah:
1. Firman Allah Azza wa Jalla :

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. [Ali Imrân/ 3:173]

Para Ulama Ahlussunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar mengenai bertambah dan berkurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan kepada Imam Sufyân bin ‘Uyainah rahimahullah, “Apakah iman itu bertambah atau berkurang? Beliau rahimahullah menjawab, “Tidakkah kalian mendengar firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, ‘Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka’”. (Ali Imrân/3:173) dan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, ‘Dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk’.(al-Kahfi/19:13) dan dalam beberapa ayat lainnya?”. Ada yang bertanya, “Bagaimana bisa berkurang?”. Beliau rahimahullah menjawab, “Tidak ada sesuatu yang bisa bertambah kecuali ia juga bisa berkurang”[1]

2. Firman Allah Azza wa Jalla :

وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal shaleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya.  [Maryam/19:76]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan, “Terdapat dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangannya iman, sebagaimana pendapat para Salafush-Shâlih. Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah Azza wa Jalla :

وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا

Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya [al-Mudatstsir/74:31]

Dan firman Allah Azza wa Jalla :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). [al-Anfâl/8:2]

Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan kalbu dan lisan, amalan kalbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum Mukminin sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini.[2]

3. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ يَزْنِيْ الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan Mukmin dan tidaklah peminum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan Mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan Mukmin [Muttafaq ‘alaihi]

Ishâq bin Ibrâhîm an-Naisâburi rahimahullah berkata, “Abu `Abdillâh (Imam Ahmad rahimahullah) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau rahimahullah menjawab, “Berkurangnya iman ada pada sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan Mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan Mukmin. [3]

4. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنْ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ اْلإِ يْمَانِ

Iman itu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan, “Lâ Ilâha Illallâh” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan. Dan rasa malu itu  adalah satu cabang dari iman. [Muttafaq ‘alaihi]

Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena itu, Imam at-Tirmidzi memuat bab dalam sunannya, “Bab Penyempurnaan Iman, bertambah dan berkurangannya”.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah dalam menjelaskan hadits ini menyatakan, “Ini jelas sekali menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan bertambahnya aturan syariat dan cabang-cabang iman, serta amalan hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah dimaklumi bersama bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam hal ini. Siapa yang berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, maka telah menyelisihi realita yang nyata di samping menyelisihi nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui.[4]

Sedangkan pendapat dan atsar Salafush-Shâlih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, di antaranya:

1. Dari kalangan Sahabat  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:
Suatu ketika Khalîfah ar-Rasyîd Umar bin al-Khathâb Radhiyallahu anhu pernah berkata kepada para Sahabatnya:

هَلُمُّوْا نَزْدَادُ إِيْمَانًا

Marilah kita menambah iman kita.[5]

Sahabat Abu ad-Dardâ` Uwaimir al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata:

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu bertambah dan berkurang.[6]

2. Dari kalangan Tâbi’in, di antaranya:
Abu al-Hajjâj Mujâhid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.[7]

Abu Syibl ‘Alqamah bin Qais an-Nakhâ’i (wafat setelah tahun 60 H) berkata kepada para sahabatnya:

امْشُوْا بِنَا نَزْدَدُ إِيْمَانًا

Berangkat kita menambah iman.[8]

3. Kalangan tabi’ut Tâbi’in, di antaranya:
`Abdurrahmân bin ‘Amru al-‘Auzâ’i (wafat tahun 157 H) menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ

Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang menyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.[9]

Beliau juga ditanya tentang iman, apakah akan bertambah? Beliau  menjawab, “Ya, hingga menjadi seperti gunung”. Beliau ditanya lagi, “Apakah akan berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Ya hingga tidak sisa sedikit pun darinya.”[10]

4. Imam Fikih yang empat (Aimmah arba’ah), di antaranya:
Muhammad bin Idris asy-Syâfi’i rahimahullah menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang[11]

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyatakan, “Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambah dengan beramal dan berkurang dengan meninggalkan beramal, karena perkataan adalah yang mengakuinya.[12]

Demikianlah pernyataan dan pendapat para Ulama Ahlussunnah seluruhnya, sebagaimana dijelaskan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam pernyataan beliau, “Para Salaf telah berijmâ bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”.

Dari sini jelaslah kesalahan orang yang menganggap masalah bertambah dan berkurangnya iman sebagai masalah khilâfiyah di antara Ulama Ahlussunnah. Wallâhu a’lam.

Sebab-sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman.
Setelah mengetahui bahwa iman itu bertambah dan berkurang, maka mengenal sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman memiliki manfaat dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya seorang Muslim mengenal, kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk menjauhkan diri dari lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman, sehingga dapat menjaga diri dan selamat di dunia dan akhirat.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufik dari Allah Azza wa Jalla selalu berusaha melakukan dua perkara:

  1. Merealisasikan iman dan cabang-cabangnya dan menerapkannya, baik secara ilmu dan amal secara bersama.
  2. Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau menguranginya berupa fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan setelahnya dengan taubat nasuha serta mengetahui satu perkara sebelum hilang.[13]

Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambahnya iman kemudian melaksanakannya. Sedangkan cara menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman serta berhati-hati dari terjerumus padanya.

Di antara sebab-sebab bertambahnya iman yang disampaikan para Ulama adalah:

1. Belajar ilmu yang manfaat yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah. Ini merupakan sebab bertambahnya iman yang terpenting dan bermanfaat, karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan mewujudkan tauhid dengan benar dan pas. Bertambahnya iman yang didapatkan dari ilmu biasa terjadi dari beraneka ragam sisi, di antaranya:

  • Sisi keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu
  • Duduknya mereka dalam halaqah ilmu
  • Mudzâkarah (diskusi) di antara mereka dalam masalah ilmu
  • Penambahan pengetahuan terhadap Allah Azza wa Jalla dan syariat-Nya
  • Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari
  • Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka

2. Merenungi ayat-ayat Allah Azza wa Jalla kauniyah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Di antara sebab dan faktor pendorong keimanan adalah tafakur kepada alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhuk penghuninya dan meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki. Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat bagi iman”.[14]

3. Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan melaksanakannya secara rutin. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman, sebab iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya ibadah. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah pernah menuturkan bahwa di antara sebab bertambahnya iman adalah melakukan ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis amalan dan banyaknya. Semakin baik amalan, semakin besar pula bertambah iman, dan bagusnya pelaksanaan diperoleh dengan cara ikhlas dan mutâba’ah (mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sedangkan jenis amalannya, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan lebih utama dari yang lainnya. Semakin utama suatu ketaatan, maka semakin besar juga penambahan imannya. Adapun banyak (kuantitas) amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman, sehingga pasti iman itu bertambah dengan bertambahnya amalan”[15]

Adapun sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri manusia sendiri (intern) dan ada yang berupa faktor luar (ekstern).

Di antara faktor internal manusia sendiri yang memiliki pengaruh besar dalam melemahkan iman adalah:

  1. Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar berkurang iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman.
  2. Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.
  3. Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas, kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla bisa menambah keimanan, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Azza wa Jalla , bisa mengurangi keimanan. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkat-tingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam ungkapan beliau, “Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman dan amal shaleh pun berderajat-derajat”.[16]
  4. Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammarat bissu’). Inilah nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah Azza wa Jalla jelaskan dalam menceritakan istri al-Azîz :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Yûsuf/13:53]

Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla darinya dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.

Sedangkan di antara faktor eksternal adalah :

  1. Setan, musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab eksternal penting yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.
  2. Dunia dan fitnahnya. Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi keimanan, sebab semakin besar semangat manusia memiliki dunia dan keridhaannya terhadap dunia, maka semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian akhirat, sebagaimana dituturkan Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah.
  3. Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi keimanan, akhlak dan agamanya. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seorang itu berada di atas agama kekasihnya, maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.[17]

Demikianlah perkara yang harus diperhatikan dalam keimanan, mudah-mudahan hal ini dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman dan menyempurnakannya.

Wabillâhi taufîq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kisah ini Diriwayatkan oleh al-Ajûri dalam kitab Asy-Syari’at hlm. 117
[2] Tafsir As-Sa’di 5/33
[3] Diriwayatkan oleh al-Khalâl dalam kitab As-Sunnah no. 1045
[4] At-Taudhîh Wal-Bayân Lis Syajarât al-Imân hlm. 14
[5] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al- Mushannaf 11/26 dengan sanad shahîh
[6] Diriwayatkan oleh `Abdullâh bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah 1/314
[7] Diriwayatkan oleh `Abdullâh bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah 1/335
[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 11/25 dan dinilai hasan oleh al-Albâni rahimahullah dalam komentar beliau terhadap kitab Al-Imân karya Ibnu Abi Syaibah.
[9]  Diriwayatkan oleh al-Ajûri rahimahullah dalam kitab Asy-Syarî’at hlm. 117.
[10] Diriwayatkan oleh al-Lâlikâi dalam Ushûl I’tiqâd 5/959.
[11] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 10/115
[12] Diriwayatkan oleh al-Khalâl dalam kitab As-Sunnah 2/678
[13] At-Taudhîh Wal-Bayân Lis Syajarât al-Imân hlm. 38
[14] Ibid hlm. 31
[15] Fathu Rabbil-Bariyyah hlm. 65
[16] Ighâtsatul-Lahafân 2/142
[17] HR at-Tirmidzi 4/589 dan dinilai hasan oleh Iman al-Albâni rahimahullah.

Mahsyar, Sebuah Penantian yang Panjang

MAHSYAR, SEBUAH PENANTIAN YANG PANJANG

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Diantara perkara besar yang akan terjadi pada hari kiamat ialah berkumpulnya seluruh makhluk di padang Mahsyar untuk menunggu diputuskan perkara yang dulu pernah terjadi diantara mereka, dengan waktu begitu lama dan dalam kondisi yang mencekam. Allah ta’ala mensifati hari tersebut dengan hari berkumpulnya manusia, seperti yang ada dalam firman -Nya:

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [المطففين]

“(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”.  [al-Muthafifin/83: 6].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan kondisi berdirinya mereka pada waktu itu: “Mereka berdiri dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan, pada tempat yang sulit, cemas, serta sempit bagi pendosa, seluruhnya meliputi mereka dengan perintah Allah, dan semuanya tidak mampu menolaknya, baik yang kuat maupun yang lemah”.[1]

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam tafsir firman Allah:

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [المطففين]

“(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”.  [al-Muthafifin/83: 6].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُومُ أَحَدُهُمْ فِى رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Salah seorang diantara mereka berdiri dengan keringatnya yang sampai separoh telinganya“. HR Bukhari no: 6531. Muslim no: 2862.

Dalam hadits lain, masih riwayat Bukhari dan Muslim dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Kelak pada hari kiamat manusia akan berkeringat sampai kiranya kalau dikumpulkan dimuka bumi, keringatnya sampai tujuh puluh hasta. Dan menenggelamkan mereka sampai ke telinganya“. HR Bukhari no: 6532. Muslim no: 2863.

Adapun keringat masing-masing orang itu sesuai dengan tingkat amal mereka ketika didunia. Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: “Aku pernah mendengar langsung dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ ». قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا يَعْنِى بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِى تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ. قَالَ « فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Matahari akan didekatkan kelak pada hari kiamat kepada makhluk sampai ada diantara mereka yang seukuran satu mil”. Berkata Sulaim bin Amir -salah seorang rawi hadits ini-: “Demi Allah, aku tidak tahu satu mil yang dimaksud, apakah ukuran yang ada didunia, atau mil sejauh mata memandang”. Dalam lanjutan hadits, Nabi bersabda: “Dan manusia pada saat itu sesuai dengan kadar amalannya dalam berkeringat. Diantara mereka ada yang sampai (menutupi) mata kaki, ada yang keringatnya sampai kebetis, dan ada diantara mereka yang keringatnya sampai menutupi leher, dan ada yang tenggelam oleh keringatnya sendiri”. Kata salah seorang rawinya: ‘Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah mulut’.  HR Muslim no: 2863.

Ibnu Abi Jamrah menjelaskan: ‘Diantara mereka yang paling banyak keringatnya ialah orang-orang kafir lalu setelahnya para pelaku dosa besar dan yang berada dibawahnya. Adapun orang muslim maka mereka jumlahnya sedikit dibanding dengan orang kafir”.[2]

Didalam syarah hadits diatas al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan: ‘Bagi siapa yang memperhatikan keadaan yang disebutkan dalam hadits tadi maka dirinya mengetahui betapa besar kondisi yang akan terjadi pada hari kiamat. Sebab api neraka akan menyelimuti negeri mauqif. Matahari akan didekat kan diatas kepala-kepala mereka sejauh satu mil. Lantas bagaimana panasnya kondisi tempat tersebut. ditambah dengan hadits yang menjelaskan masing-masing orang akan berkeringat sampai ada yang keringatnya sampai tujuh puluh hasta, bersamaan dengan itu dirinya tidak menjumpai tempatnya melainkan hanya sebatas tempat berdirinya. Terus bagaimana dengan keadaan mereka bersama keringatnya yang berbeda-beda kondisinya. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang menerangi akal, dan menunjukkan betapa agungnya kondisi pada saat itu, yang mengandung keimanan pada hari akhir, sedangkan akal tidak boleh ikut andil dalam menghukumi, baik dengan menabrakkan pada perumpamaan, akal-akalan dan kejadian yang biasa dia lihat.

Namun, hal itu hanya butuh satu kata ‘menerima’ karena masuk dalam lingkup keimanan dengan perkara ghaib, dan bagi siapa yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini maka hal itu menunjukkan tentang kerugian serta diharamkan ilmu baginya. Karena salah satu faidah dari hadits seperti ini ialah supaya orang yang mendengarnya untuk berhati-hati lalu mengambil sebab yang bisa menyelamatkan dirinya dari kondisi tersebut. Bersegera untuk bertaubat dari dosa, dan kembali kepada Dzat Yang Maha Pemurah didalam pertolongan-Nya sebagai sebab yang bisa menyelamatkan, merendah kepada-Nya agar selamat dari negeri kesulitan dan dimasukkan kedalam negeri kemulian dengan sebab karunia dan anugerah-Nya”. [3]

Dan berdiri dalam kondisi seperti ini yang sangat mencekam serta susah bagi manusia, hal ini masih ditambah dengan kondisi waktu yang sangat lama yaitu selama lima puluh ribu tahun.

Al-Hafidh Ibnu Katsir mengatakan: “Didalam sebuah hadits dijelaskan bahwa mereka kelak akan berdiri selama tujuh puluh tahun dalam keadaan tidak berbicara sedikitpun. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada lagi yang mengatakan mereka berdiri selama empat ribu tahun, setelah itu baru diputuskan perkara mereka seukuran sepuluh ribu tahun. Allah ta’ala menjelaskan akan hal itu melalui firman -Nya:

يَوۡمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ صَفّٗاۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَقَالَ صَوَابٗا ٣٨ ذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مََٔابًا [النبأ: 38-39]

“Pada hari, ketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”. [an-Naba’/78: 38-39].

Diriwayatkan oleh Thabarani dalam Mu’jamul Kabir sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَجْمَعُ اللهُ الأولِينَ والآخِرِينَ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلومٍ قِيامًا أربعينَ سَنَةً ، شَاخِصَةً أَبْصارُهُمْ إلى السَّماءِ يَنْتَظِرُونَ فَصْلَ القَضَاءِ » [أخرجه الطبراني]

“Allah akan mengumpulkan dari makhluk pertama hingga terakhir pada hari yang telah ditentukan, mereka berdiri selama empat puluh tahun seraya pandangannya tegak melihat ke langit menunggu Allah untuk memutuskan perkara..”. HR ath-Thabarani 9/357 no: 9763. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 3/418 no: 3591.

Dalam hadits lain juga dijelaskan durasi zaman yang pada waktu itu, disebutkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى مِنْهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ » [أخرجه  مسلم]

Tidaklah seorang yang punya emas dan perak lalu tidak menunaikan hak keduanya, melainkan kelak pada hari kiamat akan diberikan padanya lempengan logam dari api neraka, lantas dicelupkan kedalam neraka Jahanam, selanjutnya digosokkan pada tulang rusuk, kening serta punggungnya, dan tiap kali menjadi dingin maka dicelupkan lagi, pada hari yang sama dengan lima puluh ribu tahun, (itu terjadi) hingga diputuskan perkara hamba, maka dirinya sudah melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka“. HR Muslim no: 987.

Ibnu  Abi Hatim membawakan sebuah hadits yang sanadnya sampai pada Ibnu Abbas, tentang makna firman Allah ta’ala:

فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٖ [المعارج : 4]

“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. [al-Ma’aarij/70: 4].

Beliau mengatakan: ‘Yaitu pada hari kiamat”. Sanadnya shahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafidh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 14/127.

Adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari sempit serta susahnya pada hari tersebut. sebagaimana yang tertera dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari haditsnya Rabi’ah al-Jarasy radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

« سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ وَبِمَ كَانَ يَسْتَفْتِحُ قَالَتْ كَانَ يُكَبِّرُ عَشْرًا وَيُسَبِّحُ عَشْرًا وَيُهَلِّلُ عَشْرًا وَيَسْتَغْفِرُ عَشْرًا وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي عَشْرًا وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ عَشْرًا » [أخرجه أحمد]

“Aku pernah bertanya kepada Aisyah: ‘Do’a Apakah yang biasa Rasulallah panjatkan pada saat sholat malam? Dan dengan bacaan seperti apa biasa beliau membuka do’anya? Maka Aisyah menjawab: “Adalah beliau biasa mengucapkan takbir (Allahu akbar) sepuluh kali, tasbih (Subhanallah) sepuluh kali, tahlil (La ilaha ilallah) sepuluh kali, istighfar sepuluh kali. Kemudian beliau berdo’a: “Ya Allah ampunilah diriku, berilah aku petunjuk dan rizki”. Sebanyak sepuluh kali, lalu ditutup dengan do’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sempitnya pada hari pembalasan”. Sebanyak sepuluh kali”.  HR Ahmad 42/37-38 no: 25102.

Pelajaran yang bisa kita petik:

  • Seorang mukmin hendaknya sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabbnya, jangan sampai dirinya lalai akan hal tersebut. sesungguhnya dihadapan dia ada masa dan situasi sulit yang begitu besar. Dimulai dari kematian beserta sakaratnya, ruang kubur dengan kegelapannya, tiupan sangkakala, dibangkitkan dari kematian, menunggu pada hari penghitungan, mizan (timbangan), titian dan neraka. Allah ta’ala menyinggung hal tersebut supaya kita tidak lalai dalam firman -Nya:

ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ [الأنبياء: 1]

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)”.   [al-Anbiyaa’: 1].

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ » [أخرجه الترمذي]

“Kalau sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, enggan untuk (terus) bersenang-senang dengan istrinya, dan akan keluar untuk mendaki memohon pertolongan kepada Allah”. HR at-Tirmidzi no: 2312. beliau berkata hasan ghorib. Dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/268 no: 1882.

Dalam riwayat lain dari Imam Tirmidzi disebutkan sebuah hadits, dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كيف أنعم وصاحب القرن وقد التقم القرن واستمع الإذن متى يؤمر بالنفخ فينفخ فكأن ذلك ثقل على أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم فقال لهم قولوا حسبنا الله ونعم الوكيل على الله توكلنا » [أخرجه الترمذي]

“Bagaimana bisa aku merasa tenang sedangkan pemilik sangkakala (malaikat) sudah memegangnya dan siap-siap menunggu perintah kapan dibolehkan untuk ditiup”. Mendengar hal tersebut, para sahabat merasa khawatir, maka Nabi berkata: “Ucapkanlah oleh kalian; Cukup bagi kami Allah sebaik-baik tempat kami bersandar, dan kepadaNya kami bersandar”. HR at-Tirmidzi no: 2431. Beliau mengatakan hadits hasan.

  • Orang kafir dan ahli maksiat akan mendapat bagian yang lebih besar lagi pada hari mencekam tersebut. Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam firman -Nya:

وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا [الفرقان : 26]

“Dan adalah (hari itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-orang kafir”. [al-Furqaan: 26].

Dan telah lewat penjelasannya seperti yang ada dalam haditsnya Imam Muslim kalau orang yang enggan mengeluarkan zakat kelak akan diadzab. Dijelaskan dalam riwayat lain bahwa hartanya berubah menjadi binatang yang akan menginjak, menggigit serta menanduk dengan tanduknya.  

  • Termasuk kabar gembira walaupun keadaan hari kiamat yang digambarkan oleh berbagai ayat dan hadits begitu mencekam, penuh kesulitan, mulai dari ruang kubur yang begitu gelap, ditiup sangkakala, menanti hari penghitungan, titian serta yang lainnya, namun Allah ta’ala melimpahkan karunia -Nya dengan meringankan hal tersebut bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana jelas, seperti dalam banyak ayat dan hadits, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا مُبۡعَدُونَ ١٠١ لَا يَسۡمَعُونَ حَسِيسَهَاۖ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ ١٠٢ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ [الأنبياء: 101-103]

“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh Para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”.  [al-Anbiyaa’: 101-103].

Para ulama tafsir mengartikan makna al-Faza’ul akbar dengan hari ditiup sangkakala.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban didalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يقوم الناس لرب العالمين مقدار نصف يوم من خمسين ألفسنة يهون ذلك على المؤمنين كتدلي الشمس للغروب إلى أن تغرب » [أخرجه ابن حبان]

“Manusia kelak pada hari kiamat akan berdiri yang ukuran setengah harinya sama dengan lima puluh ribu tahun. (Hal itu) akan dimudahkan bagi orang-orang beriman, (bagi mereka waktu) tak ubahnya seperti matahari yang akan tenggelam sampai benar-benar tenggelam”.  HR Ibnu Hibban no: 7289. Dinilai shahih oleh al-Albani shahih Targhib wa Tarhib 3/417 no: 3589.

Salah satu bentuk kabar gembira bagi orang beriman juga, seperti apa yang telah disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا [الفرقان: 24]

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya”. [al-Furqaan: 24].

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang dijuluki sebagai penerjemah al-Qur’an mengatakan tentang maksud ayat diatas: “Hal itu terjadi pada waktu dhuha, kemudian para kekasih Allah istirahat bersama keluarga dan bidadarinya. Adapun musuh-musuh Allah maka mereka istirahat bersama setan yang menemaninya”.

Ucapan senada juga dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dalam salah satu qiro’ah ayat ini berbunyi:  ثُمَّ إِنَ مَقِيْلَهم لِإلى الجَحِيْم “.

Sedangkan Sa’id bin Jubair beliau mengatakan: “Allah Shubhanahu wa ta’alla menyelesaikan penghitungan pada tengah hari, kemudian penduduk surga istirahat didalam surga sedangkan penghuni neraka juga istirahat didalam neraka. Lalu beliau membaca firman Allah ta’ala diatas tadi”. [4]

  • Sesungguhnya pada saat itu manusia dalam keadaan dibawah terik matahari yang sangat panas, dan ujian besar yang tidak sanggup lagi ditanggung, maka Allah Shubhanahuw ata’alla menaungi tujuh golongan dari para hamba -Nya yang tidak ada naungan kecuali naungan – Hal itu dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi kelak pada hari kiamat, pada hari yang tidak ada naungan kecuali nauanganNya: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh didalam ketaatan kepada Allah, seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid, dua orang yang mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak oleh wanita cantik lagi kaya untuk berzina, lalu dia mengatakan: ‘Aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sampai kiranya tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang menyebut nama Allah sendirian menangis karena takut“.  HR Bukhari no: 660. Muslin no: 1031.

  • Hendaknya seorang mukmin memperbanyak bekal dengan amal sholeh dan menyembunyikan dihadapan orang lain.

Abdullah bin Mubarak pernah dihadirkan padanya air zam-zam lalu beliau berkata aku pernah mendengar Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ » [أخرجه ابن ماجه]

Air zam-zam (berkhasiat) sesuai dengan niat peminumnya“. HR Ibnu Majah no: 3062. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/320 no: 1123.

Maka aku minum sekarang dengan niat untuk menghilangkan kehausan pada hari kiamat kelak. Kemudian beliau meminumnya.

Akhirnya kita akhiri kajian kita dengan mengucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi  wa sallam, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  من أهوال يوم القيامة Penulis  Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/281.
[2] Fathul Bari 11/394-395.
[3] Fathul Bari 11/394-495.
[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir 10/298. Tafsir al-Qurthubi 15/398.

Haudh (Telaga) Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

HAUDH (TELAGA) NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM 

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Amma Ba’du:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. [Al-Kautsar/108 : 1-3].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 الْكَوْثَرُ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ الَّذِي أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ قَالَ أَبُو بِشْرٍ قُلْتُ لِسَعِيدٍ إِنَّ أُنَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّهُ نَهَرٌ فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ سَعِيدٌ النَّهَرُ الَّذِي فِي الْجَنَّةِ مِنْ الْخَيْرِ الَّذِي أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang telah dianugrahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bisr berkata: Aku berkata kepada Abu Bisyar, sesungguhnya banyak orang yang mengatakan bahwa Al-Kautsar adalah sebuah sungai di dalam surga?. Abu Sa’id berkata: Sungai yang terdapat di dalam surga itu termsuk salah satu bagian dari kebaikan yang berikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[1]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بيْنَما أنا أسِيرُ في الجَنَّةِ، إذا أنا بنَهَرٍ، حافَتاهُ قِبابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلتُ: ما هذا يا جِبْرِيلُ؟ قالَ: الكَوْثَرُ، الذي أعْطاكَ رَبُّكَ، فإذا طِينُهُ  مِسْكٌ أذْفَرُ 

Pada saat aku berjalan di dalam surga dan tiba-tiba aku berada di sisi sebuah sungai yang kedua sisinya adalah kubah-kubah permata yang melengkung. Aku bertanya: Apakah ini wahai Jibril? Dia menjawab: Ini adalah al-kautsar yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu dan ternyata tanahnya adalah minyak kasturi yang sangat wangi.[2]

Dan Al-Kautsar ini memiliki dua pancuran yang mengalirkan air menuju haudh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Dzar Radhiyallahu anhu bahwa pada saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang Al-Haudh beliau bersabda: Mengalir padanya dua pancuran dari surga dan barangsiapa yang meminum nya maka dia tidak akan lagi kehausan”.[3]

Di dalam riwayat yang lain Muslim menyebutkan: Terdapat di dalamnya dua pancuran air yang mengalir dari surga salah satunya pancuran yang terbuat dari emas dan yang lain dari perak”.[4]

Dan ketentuan tentang sifat haudh ini disebutkan dalam berbagai riwayat dari banyak shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, riwayat-riwayat tersebut sangat masyhur dan banyak bahkan disebutkan dalam berbagai kitab hadits baik riwayat-riwayat yang shahih, hasan, dan pada kitab hadits yang ditulis berdasarkan sanad-sanad dan kitab-kitab sunan. Haudh adalah tempat berkumpulnya air. Imam Nawawi rahimhullah berkata: Ini adalah penegasan bahwa haudh itu benar-benar ada seperti yang tersebut secara zahir (riwayat) sebagaimana ditegaskan sebelumnya dan pada saat sekarang ini dia telah diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala”.[5]

Syekh Utsaimin rahimahullah berakata: (Dan Haudh itu ada pada saat sekarang ini)[6] berdasarkan riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Uqbah bin Amir bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar lalu shalat untuk mereka yang mati syahid pada perang Uhud, yaitu shalat seperti shalat mayit kemudian beliau mendatangi mimbar dan bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kalian, dan aku adalah saksi bagi kalian serta sungguh aku sedang melihat kepada haudhku sekarang ini”.[7]

Dan diriwiyatkan oleh Al-Bikhari dan Muslim dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan mimbarku di atas haudhku”.[8]

Oleh karena itulah bisa jadi haudh itu berada di tempat ini namun kita tidak menyaksikannya sebab dia termasuk perkara gaib dan bisa jadi mimbar tersebut akan diletakkan di atas haudh tersebut pada hari kiamat kelak.[9]

Adapun tentang airnya, warnanya lebih putih dari air susu dan rasanya lebih manis dari madu dan baunya lebih harum dari minyak kasturi.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Dzar bahwa pada saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang al-haudh beliau bersabda: Airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu”.[10] Di dalam Ashahihaini disebutkan: dan baunya lebih harum dari minyak kasturi”.[11]

Adapun bejana-bejana yang ada padanya bagikan bintang-bintang di langit, dan penjelasan ini didasarkan pada beberapa hadits yang disebutkan di dalam kitab ashahihaini[12] dan di dalam riwayat yang lain disebutkan: “Bejana-bejananya seperti bintang-bintang di langit”.[13]

Ini adalah lafaz yang paling global sebab maskudnya adalah bejana-bejananya seperti bintang-bintang di langit dari sisi jumlahnya, dan dari sisi sifatnya yang bercahaya dan mengkilap. Maka bejana-bejana yang ada padanya sebanyak dan bercahaya seperti bintang-bintang di langit, dan disebutkan di dalam sebagian riwayat yang shahih bahwa ceret-ceret minuman yang terdapat padanya terbuat dari emas dan perak.[14]

Dan luas haudh ini adalah, sepanjang perjalanan satu bulan dan selebar perjalanan satu bulan. Syekh Ibnu Utsaimin berkata: Hal ini menunjukkan bahwa bentuknya adalah bundar, sebab tidak mungkin dijelaskan dengan penyebutan sisinya seperti yang disebutkan di atas, kecuali jika bentuknya bundar, dan jarak ini seperti yang telah diketahui pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu jarak yang diukur dengan kecepatan biasa perjalanan seekor onta[15]disebutkan di dalam ashahihaini bahwa sesungguhnya lebarnya sama dengan jarak antara Amman dan Ailah. Amman adalah sebuah kota di Balqo’ di negeri Syam dan Ailah adalah sebuah negeri di ujung laut Qalzum di ujung negeri Syam, negeri itu telah punah dan selalu dilewati oleh para jama’ah haji dari Mesir[16] Di dalam sebuah riwayat disebutkan: (Jaraknya adalah antara Jarba’ dan Adzrah). Keduanya adalah dua kampung di negeri Syam yang bisa dilalui dengan perjalanan tiga hari[17]. Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan: Ukuran haudhku adalah sama seperti ukuran antara kota Ailah dan Shan’a dari Yaman”.[18] Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan: Dan jarak antara kedua ujung haudhku adalah sebagaimana jarak antara shan’a dan Madinah”.[19]

Para ualma telah menyebutkan penafsiran tentang perbedaan-perbedaan riwayat yang menjelaskan tentang luas  dan panjang haudh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahukan tantang jarak yang pendek kemudian diberitahukan kembali tentang jarak yang panjang. Beliau memberitahukan hal itu seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan anugrah kepada beliau bahwa haudh tersebut meluas sedikit demi sedikit, maka yang menjadi patokan dalam penjelasan ini adalah riwayat yang menjelaskan tentang sifat haudh yang paling panjang dan di dalam penjelasan yang lain disebutkan selain ini.[20]

Dan masa mendatangi haudh adalah sebelum melewati shirat sebab keadaan menuntut hal itu, sebab manusia sangat membutuhkan air minum di hari kiamat sebelum mereka melewati shirat, sebagian ahlul ilmi telah menguatkan penjelasan yang disebutkan ini, dan barangsiapa yang meminum dari haudh maka dia tidak akan pernah kehausan selamanya, berdsarkan apa yang diriwayatkan oleh  Abdullah bin Amru di dalam Ashahihaini:  Dan barangsiapa yang meminum darinya maka dia tidak akan kehausan selamanya”.[21]

Perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kita boleh meminum dari haudh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Pertama: Berpegang teguh kepada kitab dan sunnah serta konsisten dengannya, menjauhi semua bid’ah dan dosa-dosa besar. Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian dua perkara yang mana kalian tidak akan tersesesat, yaitu kitab Allah dan sunnahku, dan dia tidak akan berpisah sehingga dia datang menuju haudh”.[22]

Diriwayatkan oleh Al-Bukahri dan Muslim dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku akan mendahului kalian di haudh dan barangsiapa yang mendatangiku maka dia akan meminumnya, dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan pernah haus selamanya, akan datang kepadaku sekelomopok kaum di mana mareka mengenalku dan aku pun mengenal mereka namun aku dihalangi dari mereka, lalu aku mengatakan: Sesungguhnya mereka ini dari golonganku, maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui perbuatan-perbuatan bid’ah yang mereka lakukan setelah dirimu meninggal, maka aku berkata:  menjauhlah, menjauhlah orang yang telah merubah din ini setelah kematianku”. Maka Ibnu Abi Mulaikah berkata: Ya Allah aku berlindung kepada -Mu jika kami terusir hina atau terfitnah sehingga jauh dari agama kami”.[23]

Ibnu Abdil Barr berkata: Setiap orang yang membuat-buat perkara baru di dalam agama maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari Al-Haudh, seperti kelompok Khawarij, Rafidhah dan seluruh kelompok yang mengikuti hawa nafsu. Dan dia juga berkata: demikian juga orang-orang zalim, yang melampaui batas dalam berbuat kezaliman dan menghapus kebenaran, orang-orang yang dilaknat karena berbuat dosa-dosa besar. Dia berkata: Orang-orang yang seperti ini dikhawatirkan jika merekalah yang dimaksud dengan hadits ini. Allah A’alm.[24]

Kedua: Bersabar terhadap apa yang dialami oleh seorang mu’min berupa kekurangan dari harta dunia, dan dia mendahulukan orang lain dengannya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para shahabatnya dari kalangan Al-Anshor: Kalian akan mendapatkan sepeninggalku orang-orang yang lebih mementingkan duniawi, maka bersabarlah sehingga kalian menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya di saat berada pada Al-Haudh”.[25]

Ketiga: Menjaga wudhu’. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwa pada saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang Al-Haudh beliau bersabda: Sungguh yang jiwaku berada di tangan -Nya, aku pasti akan menghalau sekolompok orang dari haudhku sebagaimana seorang lelaki menghalau onta yang bukan miliknya dari kolam tempat ontanya minum. Para shahabat bertanya:  Apakah engkau mengetahui kami pada saat itu?. Maka beliau menjawab: Ya, kalian akan mendatangi aku dengan penuh cahaya di kening kalian karena bekas air wudhu’ dan cahaya itu tidak terdapat pada orang selain dari kalian”.[26]

Ya Allah berikanlah kami minum dari haudh Nabi -Mu, dan jadikanlah kami sebagai pengikut sunnah beliau, ya Allah cucurkanlah kepada kami air minum dari tangan beliau yang mulia, yaitu minuman yang dengannya kami tidak merasakan kehausan selamanya, ya Allah kumpulkankanlah kami dalam kelompok beliau Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jadikanlah kami sebagai pengikut beliau bersama para nabi-nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang shaleh, merekalah sebaik-baik teman bergaul.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari  حوض النبي صلى الله عليه وسلم Penulis  Syaikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Muzaffar Sahidu. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari: no: 6578
[2] Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya: no: 6581
[3] Shahih Muslim: no: 2300
[4] Shahih Muslim: no: 2301
[5] Syarah shahih Muslim: 5/59
[6] Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah: 2/157
[7] Al-Bukhari: 6590 dan Muslim: 2296
[8] Al-Bukhari: 6588 dan Muslim: 1391
[9] Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah: 2/157
[10] Muslim: no: 2301
[11] Al-Bukhari: 6579 dan Muslim: 2292
[12] Al-Bukhari: 6580 dan Muslim: 2303
[13]  Al-Bukhari: 6579 dan Muslim: 2292
[14] Shahih Muslim: 2303
[15] Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah: 2/159
[16] Shahih Muslim: 2300
[17] Al-Bukhari: 6577 dan Muslim: 2299
[18] Al-Bukhari: 6580 dan Muslim: 2303
[19]  Al-Bukhari: 6591 dan Muslim: 2298
[20] Lihat: Fathul Bari: 11/472
[21] Al-Bukhari: 6579 dan Muslim: 2292
[22] Al-Mustadrok: 1/172 no: 319 dan dishahihkan oleh Al-Hakim
[23]  Al-Bukhari: 6593,6583-6584 dan Muslim: 2290
[24] Syarah shahih Muslim: 1/137
[25] Al-Bukhari: 3792 dan Muslim: 1854
[26] Muslim: no: 248

Hakekat Iman dan Tanda-tandanya

HAKEKAT IMAN DAN TANDA-TANDANYA

Wahai kaum Muslimin, marilah kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla , menolong agama-Nya dan selalu berbuat taat kepada-Nya agar Dia memberikan pertolongan dan pahala-Nya kepada kita. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. [al-Hajj/22:40-41]

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya iman itu tidak diperoleh hanya dengan berangan-angan, tidak pula dengan berhias secara fisik, akan tetapi iman adalah apa yang terukir dan tertanam di dalam hati. Dan bukti kejujuran iman itu adalah dengan mengerjakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai maksiat. Setiap orang bisa mengaku seorang Muslim, bahkan lebih dari itu yaitu mengaku Mukmin. Setiap orang bisa mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muhammadar rasûlullâh. Orang-orang munafik juga menyebut Allah Azza wa Jalla , padahal mereka berada di neraka yang paling dasar. Mereka datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Mereka bersumpah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya bahwa mereka beriman kepada beliau, padahal sebenarnya mereka tidaklah demikian. Akan tetapi syahadat dan iman mereka tidaklah bermanfaat bagi mereka dan mereka berada di neraka yang paling bawah, di bawah orang-orang Musyrik, Atheis, Yahudi dan Nasrani. Karena syahadat dan iman mereka tidak bersumber dari keyakinan dan keimanan, tidak pula karena sikap menerima dan tunduk.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. [al-Baqarah/2:8]

Iman adalah akidah yang kokoh sebelum segala sesuatu. Iman itu membuahkan perkataan yang baik dan amal shaleh. Iman juga menghasilkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, serta ikhlas dalam mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Rasul-Nya. Iman adalah kesungguhan, amalan, ketekunan, kesabaran, menahan dan mencegah diri dari sesuatu disukai maupun yang tidak disukai semata-mata karena Allah Azza wa Jalla . Sesungguhnya iman memiliki tanda-tanda yang banyak. Allah Azza wa Jalla banyak menyebutkannya dalam al-Qur`ân dan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkannya dalam haditsnya.

Diantara contohnya adalah firman Allah Azza wa Jalla,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakal. (yaitu) Orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” [al-Anfâl/8:2-4]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” [at-Taubah/9:124-126]

Wahai kaum Muslimin, demi Allah Azza wa Jalla , adakah di antara kita yang menyandang kedudukan ini? Adakah dari kita, ketika nama Allah Azza wa Jalla disebut, hatinya menjadi takut kemudian mengagungkan-Nya. Adakah dari kita, ketika ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dibacakan, imannya menjadi bertambah dan mereka merasa gembira karena telah merasakan manisnya bisa membenarkan dan mengamalkan hukum-hukumnya? Adakah dari kita yang mewujudkan tawakalnya kepada Allah Azza wa Jalla ? hanya bersandar kepada-Nya serta tidak menggantungkan diri kepada selain-Nya? Adakah dari kita yang mengerjakan shalat sesuai yang tuntutan agama, dengan cara menjaga shalat itu dan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya? Adakah dari kita yang menginfakkan sebagian rezekinya yang telah diberikan oleh Allah Azza wa Jalla dengan cara membayar zakat dan menutup kekurangan kaum kerabat dan orang-orang fakir miskin?

Wahai kaum Muslimin, marilah sejenak kita memikirkan keadaan saudara kita sesama Muslim. Jika kita perhatikan keadaan mereka saat ini – tidak hanya di negeri ini saja- akan tetapi di seluruh negara Islam, kita akan dapati mereka bukanlah Muslim dan Mukmin sejati, kecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla. Mulai yang kaya hingga yang miskin, mereka meremehkan (agama) dan tidak menunaikan hak-hak Allah Azza wa Jalla yang menjadi kewajiban mereka sebagai hamba-Nya. Penyepelean dalam perkara keimanan maupun keyakinan dan penyepelean dalam akhlak dan pemeliharaanya. banyak umat Islam yang meremehkan masalah keimanan dan keyakinan sebagaimana mereka juga meremehkan masalah akhlak dan penjagaannya serta meremehkan amalan. Mereka menyepelekan keimanan dan keyakinan karena sebagian umat Islam, terlebih bagi orang yang pernah tinggal beberapa waktu di negeri kafir dan meneguk pemikiran mereka yang telah terkontaminasi dan peradaban mereka yang palsu; kita dapati dalam hati mereka ada keraguan terhadap berita dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa perkara-perkara ghaib. Mereka ragu-ragu dengan keberadaan malaikat, keberadaan jin, dan kebenaran risalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan sebagian mereka ragu dengan keberadaan Allah Azza wa Jalla, keberadaan penciptanya sendiri. Subhânallâh, mereka ragu dengan keberadaan Allah Azza wa Jalla dan tidak merasa ragu dengan keberadaan diri mereka. Padahal, orang yang ragu dengan keberadaan Allah Azza wa Jalla , seharusnya dia ragu dengan keberadaan dirinya dengan alasan karena tidak satu pencipta pun selain Allah Azza wa Jalla. Sebagian kaum Muslimin sekarang ini jika nama Allah Azza wa Jalla disebut di sisinya, hatinya tidak bergetar sedikit pun, seolah-olah sesuatu yang disebut di sisinya itu tidak lebih hanya sesuatu yang membuat hati mereka takut. Apabila ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dibacakan kepada mereka, iman mereka tidak bertambah, bahkan hatinya bertambah semakin kotor. Mereka mengolok-olok ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadap hukum-hukumnya.

Sebagian kaum Muslimin saat ini, tidak bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla , bahkan sebaliknya, mereka bersandar pada sebab-sebab yang bersifat serba materi secara utuh. Karena itulah, kita dapati mereka tidak mengikuti syariat Islam dalam mencari rezeki. Mereka beranggapan bahwa cara-cara syar`i hanya akan mempersempit pintu rezeki. Sehingga, mereka mencari rezeki dengan cara apapun, tidak peduli itu halal atau haram. Sebagian umat Islam ada juga mencari keamanan dan keselamatan dari musuh-musuh Allah Azza wa Jalla , hingga hal itu mengakibatkan mereka loyal kepada mereka pada sebagian perkara yang menyelisihi syariat.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka”. [Muhammad/47 : 25-28]

Mereka adalah orang-orang yang berloyal kepada musuh-musuh Islam pada sebagian perkara yang menyelisihi syariat. Mereka menempuh jalan yang menyimpang ini tiada lain karena lemahnya tawakal mereka kepada Allah Azza wa Jalla dan kuatnya tawakal mereka kepada selain-Nya. Mereka membela musuh-musuh Allah Azza wa Jalla habis-habisan karena mereka kuat dalam hal materi. Mereka mengira segala sesuatu bisa mereka raih. Mereka lupa bahwa yang menciptakan mereka lebih dahsyat kekuatannya dari pada orang-orang yang mereka bela. Sesungguhnya kekuatan yang mereka kagumi dari musuh-musuh Allah Azza wa Jalla tersebut bisa mereka dapatkan jika mereka mau bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla dan mengerjakan sebab-sebab yang menyebabkan datangnya pertolongan Allah Azza wa Jalla dengan cara menegakkan agama-Nya dan menerapkan syariat itu pada diri-diri mereka dan orang-orang yang loyal kepada mereka. Karena, jika mereka mengerjakan yang demikian, maka Allah Azza wa Jalla akan bersama mereka. Dan siapa yang bersama Allah Azza wa Jalla , maka dia akan menang.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. [Fâthir/35:44]

Saat ini ada sebagian kaum Muslimin yang tidak menegakkan shalat dan tidak pula menjaganya. Mereka tidak menunaikannya secara berjamaah, tidak menyempurnakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta kewajiban-kewajibannya. Mereka tidak memperhatikan masalah thaharah, sudahkah mereka telah menyempurnakan thaharah itu ataukah belum. Mereka tidak mengerjakan shalat tepat waktu, tidak pula menunaikannya dengan tuma`ninah, baik ketika duduk, ruku`, maupun sujudnya. Bahkan sebagian mereka yang mengaku Muslim, ada yang tidak melaksanakan shalat sama sekali, bahkan lebih dari itu, mereka mengolok-olok orang-orang yang mengerjakan shalat. Ada juga sebagian kaum Muslimin mereka yang pekerjaannya hanya mengumpulkan harta benda saja dan menahan diri mereka untuk berinfak. Mereka tidak menunaikan zakat, sedekah maupun infak sama sekali kepada orang-orang yang berhak. Mereka membelanjakan sebagian besar hartanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan terkadang untuk sesuatu yang diharamkan Allah Azza wa Jalla .

Sesungguhnya kaum Muslimin saat ini berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Dan hanya kepada Allah Azza wa Jalla -lah kita mengadu. Mereka menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah Azza wa Jalla dan melampaui batas terhadap hukum-hukum-Nya. Mereka juga menyepelekan syariat Allah Azza wa Jalla , melupakan dzikir kepada-Nya serta merasa aman dari siksa-Nya. Mereka menyibukkan diri dengan urusan duniawi dan melalaikan tujuan hidupnya. Karena itulah musuh-musuh Allah Azza wa Jalla dikuasakan atas mereka. Musuh-musuh Allah Azza wa Jalla menganggap mereka rendah dan hina serta mempermainkan mereka, baik secara politik maupun ekonomi, hingga keadaan mereka menjadi seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak bisa mendengar kecuali panggilan dan teriakan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râjiûn.

(Dikutip dari Adl-Dhiyâul Lâmi` Minal Khuthâbil Jawâmi`, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn, 1 6/262-267)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Hisab Pada Hari Pembalasan

HISAB PADA HARI PEMBALASAN

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allah lalu dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada hisab ini[1].

PENGERTIAN HISAB
Pengertian hisab disini adalah, peristiwa Allah menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya[2]. Atau Allah mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan[3].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allah akan menghisab seluruh makhluk dan berkhalwat kepada seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya[4]. Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah (proses hisab)[5]. Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan, muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat[6].

Hisab menurut istilah aqidah memiliki dua pengertian.
Pertama. Al ‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.

  1. Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.
  2. Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir)[7].

Kedua. Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan[8].

Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya[9]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah[10]” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al ‘aradh. Namun barangsiapa yang dimunaqasyah hisabnya, maka ia akan binasa”.[Muttafaqun ‘alaihi].

HISAB PASTI ADA
Kepastian adanya hisab ini telah dijelaskan di dalam al Qur`an dan Sunnah. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ﴿٧﴾ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.[al Insyiqaq/84:7-8].

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ﴿١٠﴾فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).[al Insyiqaq/84:10-12].

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ﴿٢٥﴾ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.[al Ghasyiyah/88:25-26].

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.[al Mu’min/40:17].

Sedangkan dalil dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , di antaranya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau berkata:

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ إِلَّا هَلَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَ ذَاكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكَ

Tidak ada seorangpun yang dihisab kecuali binasa,” Aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman ‘pemeriksaan yang mudah’?” Beliau menjawab,”Itu adalah al aradh, namun barangsiapa yang diperiksa hisabnya, maka binasa”.

Imam Ibnu Abil Izz (wafat tahun 792 H) menjelaskan, makna hadits ini adalah, seandainya Allah memeriksa dengan menghitung amal kebajikan dan keburukan dalam hisab hambaNya, tentulah akan mengadzab mereka dalam keadaan tidak menzhalimi mereka sedikitpun, namun Allah memaafkan dan mengampuninya[11].

Demikian juga umat Islam, sepakat atas hal ini[12]. Sehingga apabila seseorang mengingkari hisab, maka ia telah berbuat kufur, dan pelakunya sama dengan pengingkar hari kebangkitan[13].

HISAB MANUSIA DAN JIN
Syaikhul Islam menyatakan: “Allah akan menghisab seluruh makhlukNya”[14]

Dari pernyataan ini, Syaikhul Islam menjelaskan, bahwa Allah akan menghisab seluruh makhlukNya. Namun ini termasuk menggunakan lafahz bermakna umum tapi yang dimaksudkan adalah tertentu saja. Yaitu khusus yang Allah bebani syariat. Karena pemberlakuan proses hisab itu pada amalan baik dan buruk hamba yang mukallaf, mencakup manusia dan jin[15]. Begitu pula Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan, bahwa hisab ini juga mencakup jin, karena mereka mukallaf. Oleh karena itu, jin kafir masuk ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan menurut nash syariat dan Ijma’. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan :

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ

Allah berfirman:”Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu…[al-A’raaf/7:38]

Yang mukmin masuk syurga, menurut mayoritas ulama dan ini yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah: Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabb-nya ada dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. [ar Rahman/55:46 – 56].

Dikecualikan dalam hal ini, yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab maupun adzab. Begitu pula dengan hewan yang tidak memiliki pahala dan dosa.

Adapun orang kafir, apakah dihisab ataukah tidak? Dalam permasalahan ini, para ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa orang kafir tidak dihisab. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan mereka dihisab.

Syaikhul Islam mendudukkan permasalahan ini dengan pernyataan beliau rahimahullah : “Pemutus perbedaan (dalam masalah ini), yaitu hisab dapat dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan mereka, serta celaan terhadap mereka. Dapat (juga) dimaksudkan dengan pengertian perhitungan antara amal kebajikan dengan amal keburukan. Apabila yang diinginkan dengan kata “hisab” adalah pengertian pertama, maka jelas mereka dihisab. Namun bila dengan pengertian kedua, maka bila dimaksudkan bahwa orang kafir tetap memiliki kebajikan yang menjadikannya pantas masuk surga, maka (pendapat demikian) ini jelas keliru. Tetapi bila yang dimaksudkan mereka memiliki tingkatan-tingkatan dalam (menerima) adzab, maka orang yang banyak dosa kesalahannya, adzabnya lebih besar dari orang yang sedikit dosa kesalahannya, dan orang yang memiliki kebajikan, maka diringankan adzabnya, sebagaimana Abu Thalib lebih ringan adzabnya dari Abu Lahab. Allah berfirman:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَاباً فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.[an-Nahl/16:88].

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ

Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambah kekafiran.[at-Taubah/9:37].

Apabila adzab sebagian orang kafir lebih keras dari sebagian lainnya -karena banyaknya dosa dan sedikitnya amal kebaikan- maka hisab dilakukan untuk menjelaskan tingkatan adzab, bukan untuk masuk syurga[16].

Dengan penjelasan Syaikhul Islam tersebut, maka hisab di atas, maksudnya adalah dalam pengertian menghitung, menulis dan memaparkan amalan-amalan kepada mereka, bukan dalam pengertian penetapan kebaikan yang bermanfaat bagi mereka pada hari Kiamat untuk ditimbang melawan amalan keburukan mereka[17]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.[al Kahfi/18:105].

AMALAN ORANG KAFIR DI DUNIA
Amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia terbagi menjadi dua. Pertama, yang disyaratkan padanya Islam dan niat. Amalan-amalan ini tidak diterima dan tidak bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Kedua, amalan yang tidak disyaratkan Islam padanya, seperti keluhuran budi pekerti, menunda penagihan hutang bagi yang tidak mampu membayar dan lain-lainnya. Amalan-amalan ini akan diberi balasannya di dunia[18].

Syaikh Kholil Haras menyatakan: “Yang benar adalah, semua amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir hanya dibalas di dunia saja. Hingga bila datang hari Kiamat, ia akan mendapati lembaran kebaikannya kosong”[19]. Demikian ini, karena Allah berfirman:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا﴾

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.[al Furqaan/25:23].

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.[Ibrahim/14:18].

Ada pendapat lain yang menyatakan amalan kebaikan mereka di dunia dapat meringankan adzab mereka. Menurut pendapat ini, amalan kebaikan yang tidak disyaratkan Islam padanya, pada hari Kiamat akan mendapat balasan untuk menutupi kezhalimannya terhadap orang lain. Apabila antara kezhalimannya seimbang dengan amalan tersebut, maka ia hanya diadzab disebabkan oleh kekufurannya saja. Namun, bila orang kafir ini tidak memiliki amal kebaikan di dunia, maka ditambahkan adzabnya yang disebabkan kekufurannya[20].

CARA HISAB
Hisab ini dilakukan dalam satu waktu[21], dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang akan melakukannya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya; dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya.

Kemudian diberikan kitab yang telah ditulis malaikat agar dibaca dan diketahui oleh setiap orang. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?” Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang juapun.[al Kahfi/18:49].

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menulis semua amalan hambaNya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴿٧﴾وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[al-Zalzalah/99:7-8].

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.[al Mujaadilah/58:6].

Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا﴿١﴾وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا﴿٢﴾وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini),” pada hari itu bumi menceritakan beritanya. [al Zalzalah/99:1-4].

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.[Yaasin/36:65]

CARA HISAB SEORANG MUKMIN DAN KAFIR
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah, namun mencukupkan dengan al aradh. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua amalan tersebut di hadapan mereka, dan Dia merahasiakannya, tidak ada orang lain yang melihatnya, lalu Allah berseru : “Telah Aku rahasiakan hal itu di dunia, dan sekarang Aku ampuni semuanya”.

Demikian dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mendekati seorang mukmin, lalu meletakkan padanya sitar dan menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berseru : ‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’ Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan munafik, maka Allah berfirman : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”.[HR al Bukhari].

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allah, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّانِيَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّالِثَ فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ آمَنْتُ بِكَ وَبِكِتَابِكَ وَبِرُسُلِكَ وَصَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ وَيُثْنِي بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ فَيَقُولُ هَاهُنَا إِذًا قَالَ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ الْآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ وَيَتَفَكَّرُ فِي نَفْسِهِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْهَدُ عَلَيَّ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ انْطِقِي فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِي يَسْخَطُ اللَّهُ عَلَيْهِ

Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab: “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah,” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: “Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya),” kemudian dikatakan kepadanya: “Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu,” dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: “Bicaralah!” Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafik dan orang yang Allah murkai.[HR Muslim].

Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. Yang pertama seorang mukmin, ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allah. Yang kedua seorang yang kafir dan ketiga orang munafik. Keduanya mendapat laknat dan kemurkaan Allah

Oleh karena itu, bersiaplah menghadapinya dengan mempersiapkan bekal ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang cukup, memperbanyak mengingat hari perhitungan ini dan melihat kepada amalan yang telah kita perbuat. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita untuk memperbanyak bekal, yang nantinya dengan bekal tersebut kita menghadap sang pencipta dan mendapat keridhaanNya.

Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih Alu Syaikh, kaset ke –19 yang telah ditulis ulang di website beliau.
[2] Muqarrar at Tauhid Lishaf ats Tsani al ‘Ali fil Ma’ahid al Islamiyah, tanpa tahun, hlm. 84.
[3] Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, Tahqiq Alwi Abdilqadir as Sagaf, Cetakan Kedua, Tahun 1415H, Dar al Hijrah, hlm. 209.
[4] Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, Tahqiq Alwi Abdilqadir as Sagaf, Cetakan Kedua, Tahun 1415H, Dar al Hijrah, hlm. 208.
[5] Lihat kaset Syarh al Aqidah al Wasithiyah ke-19.
[6] Syarh al ‘Aqidah al Washithiyah, Ibnu ‘Utsaimin, Cetakan ke-2, Tahun 1415 H, Dar Ibnul Jauzi, 2/152
[7] Lihat Mukhtashar Ma’arij al Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413H, hlm. 246.
[8] Lihat Mukhtashar Ma’arij al Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413H, hlm. 246.
[9] Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5/229.
[10] Al Qur`an surat al Insyiqaq / 84 : 8
[11] Syarh al Qaidah ath Thahawiyah, Ibnu Abil Izz al Hanafi, Tahqiq Syuaib al Arnauth, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Muassasah ar Risalah, hlm. 602.
[12] Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Ibnu ‘Utsaimin. Op.cit. 2/152
[13] Lihat kaset Syarh al Aqidah al Wasithiyah ke-19
[14] Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, hlm. 208.
[15] Penjelasan Syaikh Shalih Ali Syaikh pada kaset ke-19, Syarh al Aqidah al Wasithiyah.
[16] Majmu’ Fatawa 4/305-306
[17] Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Op.cit 5/229.
[18] Penjelasan Syaikh Shalih Ali Syaikh pada kaset ke-19, Syarh al Aqidah al Wasithiyah.
[19] Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, hlm. 208.
[20] Lihat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/462.
[21] Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Op.cit. 4/129.

Bantahan Terhadap Penolakan Hari Kebangkitan

BANTAHAN TERHADAP PENOLAKAN HARI KEBANGKITAN

Oleh
Ustadz Arman Amri Lc

Beriman kepada hari kebangkitan telah ditunjukkan dengan jelas oleh al Qur`an, al Hadits, akal sehat, dan fitrah manusia. Seluruh nabi sepakat mengenai keimanan terhadap akhirat. Hampir seluruh manusia mengakui keberadaan Rabb, karena memang sesuai dengan fitrah mereka, kecuali sebagian kecil dari mereka yang melakukan penentangan, seperti Fir’aun. Begitu pula keimanan kepada hari akhirat, banyak di antara manusia yang mengingkarinya, padahal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi telah menjelaskannya secara rinci, yang tidak terdapat di dalam kitab-kitab para nabi lainnya.

Kalangan filosof dan semisalnya menyatakan, tidak ada yang menjelaskan secara rinci tentang hari kebangkitan kecuali Muhammad. Oleh sebab itu, mereka pun berkeyakinan, bahwa keterangan-keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kebangkitan hanyalah khayalan.

BANTAHAN TERHADAP PARA FILOSOF
Untuk membantah orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan tersebut, Allah Ta’ala telah mengabarkan bantahanNya dalam kitabNya yang mulia. Meskipun al Qur`an telah jelas menerangkan tentang kebangkitan jiwa (ruh) pada saat kematian dan kebangkitan fisik pada hari kiamat besar, namun orang-orang filosof tetap mengingkarinya. Di antara mereka berkata: “Tidak ada yang mengabarkan hal tersebut kecuali hanya Muhammad, (dan) itupun dengan jalan khayalan”.

Pernyataan seperti ini merupakan kedustaan, karena sesungguhnya kiamat besar telah diketahui oleh para nabi, sejak dari Nabi Adam sampai Nabi Nuh, kemudian Ibrahim, Musa, Isa, dan selain mereka dari para nabi. Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan keberadaan hari kebangkitan sejak menurunkan Nabi Adam ke bumi dengan firmanNya:

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.[al A’raf/7: 25]

Juga dalam firman Allah ketika menceritakan dan menjawab perkataan Iblis :

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴿٧٩﴾قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ﴿٨٠﴾إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Ya Tuhanku, berilah tangguh aku sampai hari mereka dibangkitkan. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).[Shaad/38:79-81].

Nabi Nuh Alaihissallam, diabadikan perkataannya oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا﴿١٧﴾ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.[Nuh/71:17-18].

Begitu juga perkataan Nabi Ibrahim Alaihissallam, dalam firman Allah Azza wa Jalla:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat. (asy Syu’ara/26:82). Lihat juga firman Allah dalam Ibrahim/14 ayat 41 dan al Baqarah/2 : 260.

Juga Nabi Musa Alaihissallam, Allah Azza wa Jalla berfirman ketika telah menyelamatkannya:

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ﴿١٥﴾فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ

Sesungguhnya hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.[Thaha/20: 15-16]

Bahkan salah seorang dari keluarga kerajaan Fir’aun yang beriman kepada Nabi Musa Alaihissallam mengetahui hari kebangkitan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam firmanNya (Ghafir/40:32-39) sampai pada ayat 46.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melukiskan tentang terjadinya kebangkitan, sebagaimana kisah sapi betina :

فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَاۗ كَذٰلِكَ يُحْيِ اللّٰهُ الْمَوْتٰى وَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti.[al Baqarah/2:73].

Tentang terjadinya hari kebangkitan ini, dibebankan kepada para rasul untuk menjelaskan kepada kaumnya, sebagaimana nampak dari pertanyaan para malaikat penjaga neraka terhadap penghuni neraka. Yaitu dalam firman Allah Azza wa Jalla :

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab,”Benar (telah datang),” tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir “.[az Zumar/39:71].

Demikian pengakuan sekelompok orang kafir yang dicampakkan ke dalam neraka Jahannam. Mereka mengakui bahwa para rasul telah memperingatkan mereka ketika di dunia tentang hari kebangkitan yang akan mereka jumpai serta hukuman bagi orang-orang yang telah berbuat dosa di dunia. Begitu pula rasul terakhir, yaitu Muhammad Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Banyak ayat-ayat al Qur`an yang menyebutkan janji dan ancaman itu.

Dengan demikian, terbantahlah pernyataan dusta para ahli filsafat yang menolak keberadaan hari kebangkitan dengan mengatakan hanya khayalan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata, sebab para rasul sebelum beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengingatkan umat mereka tentang hal ini.

BAGAIMANA DIBANGKITKAN SETELAH MENJADI TULANG-BELULANG?
Ada lontaran-lontaran klasik yang dimunculkan untuk membuat rancu atau melemahkan keyakinan orang yang memang sudah lemah. Lontaran ini ini berbentuk pertanyaan, namun bukan untuk mencari tahu, namun sebagai penolakan. Di antara pertanyaan itu, mungkinkah manusia akan dibangkitkan dan hidup kembali setelah menjadi tulang belulang yang berserakan? Siapakah yang akan mampu melakukannya? Dan kapankah akan terjadi ?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab oleh Allah Azza wa Jalla dengan jawaban singkat tapi sangat jelas. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا

Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” [al Isra/17:98].

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا﴿٤٩﴾قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا﴿٥٠﴾ أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا﴿٥١﴾يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”,yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhiNya sambil memujiNya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.[al Isra/17:49-52].

Perhatikanlah jawaban yang ditujukan kepada kaum musyrikin tentang hari kebangkitan. Mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Pertanyaan ini dapat diberi jawaban: “Jika kalian berkeyakinan bahwa tidak ada pencipta bagi kalian, maka hendaklah kalian menjadi makhluk yang tidak akan mungkin mengalami kematian, seperti batu atau besi, atau apa saja yang terbetik di hati kalian”.

Jika mereka mengatakan : “Kami adalah makhluk yang telah memiliki karakteristik seperti ini yang tidak mungkin hidup selamanya di dunia,” Jika, demikian keadaannya, maka apakah yang menghalangi antara diri kalian dengan pencipta? Dan apa pula yang menghalangi kalian untuk dicipta kembali menjadi makhluk yang baru?

Dari ayat di atas terdapat cara penetapan lain bagi keberadaan hari kebangkitan yaitu : jika mereka, para pengingkar tersebut diubah bentuknya menjadi batu atau besi atau yang lebih besar dari keduanya, maka sesungguhnya Allah mampu untuk menghilangkan atau membinasakan semuanya, dan merubahnya dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Allah mampu melakukan apa saja terhadap besi, batu, dan lainnya, yang benda-benda tersebut telah diketahui keras, tetapi semua dapat dihancurkan oleh Allah dan seterusnya. Lalu, jika Allah Maha Mampu melakukan itu terhadap benda-benda yang terkenal keras dan a lot, bagaimana mungkin Allah tidak dapat melakukan sesuatu terhadap makhluk yang lebih kecil dari benda-benda tersebut ?

ALLAH AZZA WA JALLA MAMPU MELAKUKANNYA
Allah mengabarkan, bahwa orang-orang musyrik mengajukan satu pertanyaan lain: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali setelah tubuh-tubuh kami hancur luluh?”

Allah Azza wa Jalla menjawab dengan firmanNya:

قُلِ الَّذِيْ فَطَرَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ

Katakanlah : “Yaitu Dzat yang telah menciptakan kalian pada kali yang pertama“. [al Isra`/17:51].

Ketika orang-orang musyrik tersebut dihadapkan pada dalil yang kuat dan tidak dapat dibantah, maka mereka mengajukan pertanyaan lainnya: “Kapan hal itu akan terjadi?” Maka Allah Azza wa Jalla memberikan jawaban dengan firmanNya :

قُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ قَرِيْبًا

Katakanlah : “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.[al Isra/17:51].

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata : “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (Yasin/36 : 78). Dan selanjutnya sampai akhir surat.

Apabila ada orang yang paling pandai, paling fasih serta paling lihai dalam menjelaskan sesuatu, berkeinginan mendatangkan argumentasi yang lebih baik dari ini atau yang sebanding dengannya, baik dari segi lafazhnya yang singkat maupun dari segi peletakkan dalil serta melemahkan argumentasi lawan, maka ia tidak akan mampu menandingi firman Allah ini.

Allah Azza wa Jalla memulai pemaparan argumentasi ini dengan membawakan sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh para pembangkang, dan pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban. Maka firman Allah : وَنَسِيَ خَلْقَهُ dan dia lupa kepada kejadiannya, merupakan bantahan sangat telak, yang mengandung jawaban sempurna, menegakkan hujjah dan telah menghilangkan syubhat mereka. Meskipun itu sudah cukup menjadi jawaban, namun Allah Azza wa Jalla hendak memberikan jawaban penguat. Allah Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ

Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama” -Yasin/36 ayat 79- dalam ayat ini, Allah menjadikan kemampuanNya untuk menciptakan manusia pertama kali sebagai hujjah dalam menjelaskan kemampuanNya mengembalikan manusia ke wujud aslinya setelah menjadi tulang-belulang yang berantakan. Karena setiap orang yang berakal pasti mengetahui, apabila Allah mampu menciptakan manusia untuk kali yang pertama, maka Dia tentu lebih mampu membangkitkan manusia setelah matinya.

Penciptaan suatu makhluk, harus memenuhi syarat-syarat berikut. Yang pertama, kemampuan pencipta atas makhluknya dan pengetahuan pencipta secara rinci tentang makhluknya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla sebagai sang pencipta menyatakan :

وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Dan Dia Maka mengetahui tentang segala makhluk.[Yasin/36:79].

Apabila ilmu dan kemampuan Allah Maha Sempurna, bagaimana mungkin Allah Azza wa Jalla dinyatakan tidak mampu untuk menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur luluh?!

Kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan dalil yang lebih kuat sebagai jawaban terhadap pertanyaan pembangkang lainnya: “Tulang-belulang yang telah hancur luluh, kembali kepada tabi’at aslinya, yaitu dingin lagi kering. Sedangkan kehidupan itu harus mencakup tabi’at yang panas serta basah, yang menunjukkan adanya tanda-tanda kebangkitan”.

Menjawab pertanyaan tersebut, dapat dibawakan firman Allah Azza wa Jalla, yaitu :

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu tersebut.[Yasin/36:80].

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kemampuanNya mengeluar unsur panas yang sangat dari kayu hijau yang basah. Maka Dzat (yaitu Allah) yang dapat mengeluarkan sesuatu unsur yang kontra dengan asalnya, yang seluruh materi makhluk dan seluruh unsur-unsurnya tunduk kepadaNya, tidak pernah membangkang, Dzat inilah yang melakukan apa yang diingkari oleh para pembangkang tersebut berupa menghidupkan kembali tulang-belulang yang berserakan.

Kemudian Allah Ta’ala lebih menekankan lagi dengan dalil yang sangat kuat, bahwa Allah mampu menciptakan makhluk yang jauh lebih besar, apalagi makhluk yang di bawahnya. Setiap orang yang berakal akan mengetahui, apabila Allah mampu menciptakan makhluk yang sangat besar, maka dengan mudah Dia dapat menciptakan makhluk di bawahnya atau yang lebih kecil. Sebagaimana ditunjukkan oleh firmanNya :

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? [Yasin/36:81].

Langit dan bumi merupakan makhluk yang sangat besar, sangat luas dan pada kedua makhluk ini terdapat berbagai keindahan mengagumkan. Kalau langit dan bumi seperti itu saja mampu diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla , maka untuk menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh, serta mengembalikannya kepada bentuk semula, tentu Allah lebih mampu. Karena itu lebih ringan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam ayat yang lain :

لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[Ghafir/40:57].

Dan firmanNya:

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ۗبَلٰٓى اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.[al-Ahqaf/46:33].

Lalu Allah Azza wa Jalla lebih menekankan lagi, bahwa perbuatanNya tidak sama dengan perbuatan makhlukNya yang memerlukan alat-alat, biaya, tenaga dan tentu tidak mungkin sendirian. Ini semua tidak berlaku bagi Allah. Apabila Allah Azza wa Jalla menginginkan sesuatu, Dia cukup mengucapkan “Kun” (jadilah), maka tercipta dan terjadilah yang diinginkanNya.

Kemudian Allah Azza wa Jalla menutup argumentasi di atas dengan mengabarkan, bahwa seluruh alam semesta ada di tanganNya.

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Dia-lah yang mengatur seluruhnya, karena semuanya kembali kepadaNya [Yasin/36 : 83].

Untuk yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙفَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? [al Qiyamah/75:36-40].

Allah Azza wa Jalla tidak meninggalkan makhluk ciptaanNya begitu saja tanpa perintah dan larangan, tanpa pahala dan hukuman. Hikmah Allah sangat bertolak belakang dengan (penolakan) itu. Allah berfirman:

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ 

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [al Mu’minun/23:115].

Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia dari setetes mani, lalu menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian Allah memberinya panca indera, kekuatan, tulang, persendian dan menyempurnakannya, sehingga keluar dari rahim wanita dalam wujud makhluk yang sempurna bentuknya, lalu bagaimana mungkin Allah Azza wa Jalla dikatakan lemah atau tidak bisa mengembalikan manusia setelah matinya kepada bentuk semula? Atau bagaimana bisa dikatakan Allah Azza wa Jalla membiarkan makhluk begitu saja? Anggapan demikian tidak sesuai dengan hikmah penciptaan manusia, dan tidak sesuai dengan kemampuan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lihatlah argumentasi yang mengagumkan tersebut dengan menggunakan bahasa singkat, penjelasan yang gamblang, sehingga seseorang tidak akan ragu terhadapnya.

Betapa banyak dalil-dalil dalam al Qur`an yang menjelaskan hari kebangkitan seperti argumentasi di atas, sebagaimana Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan sesungguhnya Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.[al Hajj/22:5-7].

Juga firmanNya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَۗ ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۗ ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.[al Mu’minun/23:12-16].

Allah Azza wa Jalla juga menyebutkan tentang adanya kebangkitan ini dalam kisah Ashabul Kahfi (para penghuni gua) yang telah ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Allah berfirman tentangnya: Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata:

فَقَالُوا ابْنُوْا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًاۗ رَبُّهُمْ اَعْلَمُ بِهِمْۗ قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوْا عَلٰٓى اَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَّسْجِدًا

Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya“.[al Kahfi/18:21].

Para ulama salaf dalam memberikan gambaran mengenai hari kebangkitan, mereka menyatakan bahwa tubuh manusia berubah dari suatu keadaan kepada keadaan lainnya, kemudian dikubur dan menjadi tanah, lalu Allah menghidupkannya kembali. Hal ini seperti perubahan pada awal penciptaan manusia, berasal dari setetes mani, kemudian segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian menjadi tulang yang dibungkus oleh daging, maka jadilah makhluk yang sempurna. Begitu pula dengan proses kebangkitan, Allah mengembalikan bentuk manusia setelah semua hancur luluh. Tidak ada yang tersisa kecuali tulang pangkal ekor, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Nabi , bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَبْلَى إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ , مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ

Setiap manusia akan hancur jasadnya, kecuali pangkal ekor. Darinyalah manusia tercipta dan darinyalah tersusun rangkaian jasadnya“.

Wallahu a’lam.

Maraji.
Syarah al Aqidah ath-Thahawiyah, Ibnu Abi al Izz ad-Dimasyqy, Daar ‘Alamil Kutub, Riyadh, Cetakan III, 1997, halaman 589-598

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Bilamana Hari Kebangkitan Tiba?

BILAMANA HARI KEBANGKITAN TIBA?

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Tak terkecuali, semua manusia akan menemui hari kebangkitan (al-ba’ts) setelah kematiannya. Sehingga mengenal dan mengetahui kejadian hari kebangkitan ini, menjadi sangat penting. Karena merupakan salah satu bagian dari iman kepada hari akhir. Juga termasuk iman kepada perkara ghaib, yang menjadi salah satu keistimewaan orang-orang bertakwa. Bagaimanakah hari kebangkitan itu terjadi?

PENIUPAN ASH-SHUR (الصُّوْرُ )
Hari kebangkitan dimulai setelah peniupan ash-Shur (الصُّوْرُ). Yaitu sangkakala, yang Allah tugaskan kepada Malaikat Israfil untuk meniupnya ketika diperintahkan untuk itu[1]. Dijelaskan dalam salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الصُّوْرُ قاَلَ قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيْهِ رواه أبو داود والترمذي وحسنه وابن حبان في صحيحه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al ‘Ash Radhiyallahu anhuma , ia berkata : “Seorang ‘Arab datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seraya bertanya : “Apa (yang dimaksud) ash-Shur?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sangkakala yang ditiup.”[2]

Berapa kali sangkakala itu ditiup? Dalam masalah ini, terjadi adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan al Hafizh al-Hakami menyatakan tiga kali, yaitu tiupan al faz’u (keterkejutan), kemudian tiupan ash-sha’iq, kemudian tiupan kebangkitan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, bahwa al-Qur`an mengabarkan tiga kali tiupan.
Pertama : Ialah tiupan al faz’u (keterkejutan), sebagaimana disebutkan dalam surat an Naml/27 ayat 87 :

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.

Kedua : Yaitu tiupan ash-sha’iq (kematian), dan Ketiga tiupan qiyam (bangkit), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannnya masing-masing).[az Zumar/39:68][3]

Sebagian ulama berpendapat, tiga tiupan sangkakala tersebut menjadi dua. Yaitu, tiupan al faz’u sebagai awalnya dan diakhiri dengan tiupan ash-sha’iq, kemudian yang kedua adalah tiupan al qiyam.

Inilah yang dirajihkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah menyatakan : “Tiupan sangkakala (terjadi) dua kali. Pertama, tiupan al faz’u, ditiup lalu manusia terkejut dan mati kecuali yang Allah kehendaki. Dan kedua, adalah tiupan al qiyam (kebangkitan), yang ditiup lalu manusia bangkit dan bangun dari kubur mereka”[4]

Di antara dalil yang digunakan pendapat kedua ini, ialah hadits ‘Abdullah bin ‘Amru yang panjang. Di dalamnya terdapat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا قَالَ وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ فَيَصْعَقُ وَيَصْعَقُ النَّاسُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللَّهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ نُعْمَانُ [الشَّاكُّ] فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ رواه مسلم

Kemudian ditiup sangkakala, maka tidaklah seorang pun mendengarnya, kecuali menegangkan sisi lehernya dan mengangkat sisi lehernya,” beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Orang pertama yang mendengarnya adalah seorang yang sedang menembok (dengan tanah) kubangan air (untuk minum) ontanya. Lalu ia mati dan manusia pun mati. Kemudian Allah mengirim atau menurunkan hujan, sekan-akan seperti hujan rintik-rintik atau tetesan (perawi ragu), lalu tumbuhlah darinya tubuh manusia. Kemudian ditiupkan tiupan lainnya, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu“. [HR Muslim].

JARAK ANTARA TIUPAN ASH-SHA’IQ DENGAN AL QIYAM
Masa tenggang antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam, telah dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhyallahu anhu yang berbunyi :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُوْنَ قِيْلَ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ :أَبَيْتُ قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا قَالَ أَبَيْتُ قَالُوْا : أَرْبَعُوْنَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ ثُمَّ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ وَلَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ لاَ يُبْلَى إِلاَّ عَظْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ مِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya: “Empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab: “Aku tidak peduli,” lalu mereka bertanya: “Empat puluh bulan?” Beliau menjawab: “Aku tidak peduli,” mereka bertanya lagi: “Empat puluh tahun?” Dia menjawab,”Aku tidak peduli.” Kemudian turunlah hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Semua bagian manusia akan hancur, kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Darinya (tulang ekor, red.) manusia diciptakan pada hari Kiamat. [HR al Bukhari dan Muslim].

Demikianlah jarak antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam adalah empat puluh, tanpa ada penunjukan hari, bulan ataukah tahun. Adapun riwayat yang menyebutkan ada penentuan hari adalah riwayat yang lemah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Alwi Abdulqadir as-Saqaf.[5]

BAGIAN TUBUH MANUSIA YANG TIDAK DIMAKAN TANAH[6]
Seluruh bagian tubuh manusia akan hancur dimakan tanah, kecuali yang Allah kehendaki lain. Di antaranya, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama adalah :

  1. Jasad (tubuh) para nabi, seperti dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para nabi.[7]

  1. Tubuh para syuhada (orang yang meninggal dalam jihad fi sabilillah), sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan Imam al Bukhari dalam Shahih-nya :

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا أُرَانِي إِلَّا مَقْتُولًا فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْرًا فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ وَدُفِنَ مَعَهُ آخَرُ فِي قَبْرٍ ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أَنْ أَتْرُكَهُ مَعَ الْآخَرِ فَاسْتَخْرَجْتُهُ َعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَإِذَا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ هُنَيَّةً غَيْرَ أُذُنِهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Ketika terjadi perang Uhud, bapakku memanggilku pada malam hari dan (dia) berkata: “Aku merasa akan terbunuh sebagai orang pertama yang terbunuh dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan sungguh, aku tidak meninggalkan setelahku yang aku cintai lebih darimu, kecuali diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sungguh aku masih memiliki hutang, maka tunaikanlah dan jagalah baik-baik saudari-saudarimu,” lalu pada pagi harinya beliau menjadi orang pertama yang terbunuh. Dan bersamanya dimakamkan seseorang dalam satu kuburan. Kemudian diriku (merasa) kurang senang membiarkan beliau bersama yang lain dalam satu kuburan, maka aku gali ulang (kuburannya) setelah enam bulan. Ternyata, keadaan beliau masih seperti saat aku kuburkan, kecuali telinganya.[HR al Bukhari].

  1. Tulang ekor manusia, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah di atas, dan riwayat lain dalam Shahih Muslim disebutkan :

إِنَّ فِي الإِنْسَانِ عَظْمًا لاَ تَأْكُلُهُ الأَرْضُ أَبَدًا فِيْهِِ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوْا أَيُّ عَظْمٍ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجْبُ الذَّنَبِ

Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Padanya manusia disusun (kembali) pada hari Kiamat”. Mereka bertanya,”Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulang ekor

  1. Ruh, berkata Imam As-Safarini. Dan sungguh ruh-ruh manusia tidak punah, walaupun ia makhluk Allah, maka fahamilah[8].

PROSESI KEBANGKITAN
Keluar Dari Kubur
Setelah ditiup sangkakala pada tiupan ash-sha’iq, maka manusia pun mati, lalu Allah membangkitkan mereka dari tulang-tulang ekor yang tumbuh disirami hujan, seperti tumbuhnya sayuran, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits di atas. Setelah sempurna susunan dan tubuh mereka, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala lagi, sehingga ruh-ruh kembali kepada jasadnya, dan manusia pun bangkit berdiri menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah hari keluarnya mereka dari kuburnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ ﴿٤١﴾ يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ ﴿٤٢﴾ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ ﴿٤٣﴾ يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ

Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.[Qaaf/50:41-44].

Disinilah orang kafir berkata:”Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Sedangkan mukmin menyatakan : “Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya)”[9]

Digiring Ke Padang Mahsyar
Kemudian manusia digiring ke Padang Mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan penutup kaki maupun pakaian, dan dalam keadaan belum dikhitan, sebagaimana mereka dahulu diciptakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya.[al Anbiya/21:104].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan),” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah : Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (al Anbiya/21:104)]. [HR al Bukhari].

Di dalam shahihain, terdapat hadits ‘Aisyah yang menggambarkan peristiwa ini. Yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

Manusia digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”. Lalu ‘Aisyah berkata: Aku bertanya,”Laki-laki dan perempuan semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian“.[Muttafaqun ‘alaih].

Demikianlah, setiap orang sibuk dengan dirinya masing-masing, sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firmanNya :

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ﴿٣٣﴾ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka, pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. [Abasa/80:33-37].

Namun kemudian, mereka diberi pakaian juga. Dan seseorang yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim[10], sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ.

Orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim.[HR al Bukhari].

Sedangkan pakaian yang dikenakan manusia adalah pakaian yang dikenakan saat ia meninggal. Demikianlah yang difahami dari sahabat yang mulia, Abu Sa’id al Khudri, dalam hadits yang berbunyi:

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ دَعَا بِثِيَابٍ جُدُدٍ فَلَبِسَهَا ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْمَيِّتُ يُبْعَثُ فِيْ ثِيَابِهِ الَّتِيْ يَمُوْتُ فِيْهَا رواه أبو داود وابن حبان في صحيحه

Ketika menjelang kematiannya, beliau meminta diambilkan pakaian baru, lalu dikenakannya, kemudian beliau berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Mayit akan dibangkitkan mengenakan pakaian yang dikenakan ketika mati”.[11]

Demikian juga yang difahami oleh sahabat yang mulia, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu. Disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fat-hul Bari, bahwa Ibnu Abi ad Dunya meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu ‘Amru bin al Aswad, ia berkata :

دَفَنَّا أُمَّ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ, فَأَمَرَ بِهَا فَكُفِنَتْ بِثِيَابٍ جُدُدٍ وَ قَالَ: أَحْسِنُوْا أَكْفَانَ مَوْتَاكُمْ فَإِنَّهُمْ ُحْشَرُوْنَ فِيْهَا

Kami menguburkan jenazah ibu Mu’adz bin Jabal, lalu Mu’adz memintanya dan dikafani dengan pakaiannya yang baru, dan ia berkata: “Perbaguskanlah kafan jenazah kalian, karena sesungguhnya mereka dibangkitkan pada pakaian tersebut”[12].

Cara Menggiringnya
Manusia digiring ke Padang Mahsyar dengan berjalan kaki, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّكُمْ مُلَاقُو اللَّهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلًا رواه البخاري

Kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang, berjalan kaki dan masih berkulup (belum dikhitan).[HR al Bukhari].

Namun juga terdapat riwayat yang menjelaskan adanya sebagian manusia yang berkendaraan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالًا وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّونَ عَلَى وُجُوهِكُمْ رواه الترمذي وقال حديث حسن

Sesungguhnya kalian akan digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan dan berkendaraan, serta diseret di atas wajah-wajah kalian.[13]

Orang-orang yang diseret dan berjalan dengan wajahnya adalah orang-orang kafir. dalam penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap firman Allah dalam surat Al Furqan/25 ayat 34, dalam satu hadits dari Anas bin Malik beliau berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يا رسول الله قال الله ( الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ) أَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَلَيْسَ الَّذِي مَشَّاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمَشِّيَهُ عَلَى وَجْهِهِ ؟ قَالَ قَتَادَةُ حِيْنَ بَلَغَهُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا رواه البخاري ومسلم

Bahwasanya seseorang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Allah berfirman, ‘Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka’ –al Furqan/25 ayat 34- apakah orang kafir digiring di atas wajahnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Bukankah Dzat yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya?” Qatadah berkata ketika hadits ini sampai kepadanya : “Benar, demi kemuliaan Allah”. [HR al Bukhari dan Muslim].

DIKUMPULKAN DI PADANG MAHSYAR
Setelah dibangkitkan dari kubur, kemudian Allah menggiring dan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Tentang hal ini, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskannya.

Keadaan Padang Mahsyar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan tanah di Padang Mahsyar adalah tanah yang rata, belum ditempati seorangpun. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَقِيِّ لَيْسَ فِيْهَا عَلَمٌ لأَحَدٍ رواه مسلم وفي رواية البخاري: قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ: لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

Pada hari Kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah yang rata seperti roti putih yang bundar dan pipih; tidak ada tanda untuk seorangpun.[14]

Matahari Mendekat
Ketika manusia menghadap Rabb sekalian alam semesta, matahari mendekat sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan manusia sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia. Berikut adalah beberapa hadits yang menjelaskan keadaan tersebut.

Hadits al Miqdad bin al Aswad yang diriwayatkan Imam Muslim :

عَنِ الْمِقْدَادِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: تَدْنُو الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ, قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : وَاللَّهِ ! مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ؟ قَالَ: فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ رواه مسلم

Dari al Miqdad Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada hari Kiamat, matahari akan mendekat (kepada) makhluk (manusia) hingga jaraknya dari mereka seperti ukuran satu mil”. Sulaim bin ‘Amir berkata,”Demi Allah! Aku tidak mengerti yang dimaksud dengan satu mil tersebut, apakah ukuran dunia ataukah mil yang digunakan sebagai alat celak mata?” Beliau berkata: “Sehingga manusia berada sesuai dengan ukuran amalannya dalam keringatnya. Ada di antara mereka yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya menenggelamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya ke mulut beliau.[HR Muslim].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata : “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?”[15]

Hingga manusia bercucuran keringat dan keringatnya menenggelamkan mereka. Ada yang hanya mencapai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya menenggelamkan mulutnya. Bahkan sampai ada yang keringatnya melampaui kepalanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Uqbah bin ‘Amir yang berbunyi:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ [إِلَى ] نِصْفَ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إٍلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى الْعَجْزِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى وَسَطِ فِيْهِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ أَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيْرُ هَكَذَا- وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيْهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً وَأَمَرَ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيْبَ الرَّأْسَ , دَوَّرَ رَاحَتَهِ يَمِيْنًا وَشِمَالاً رواه أحمد والطبراني وابن حبان في صحيحه والحاكم وقال صحيح الإسناد

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Matahari mendekat dari bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara manusia ada yang keringatnya mencapai tumitnya, ada yang mencapai setengah betisnya, ada yang mencapai kedua lututnya, ada yang mencapai pantatnya, ada yang mencapai lambungnya, ada juga yang mencapai kedua bahunya, ada yang mencapai lehernya, dan ada yang mencapai tengah mulutnya –beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya memenuhi mulutnya, (dan) aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan demikian- serta ada di antara mereka yang keringatnya menenggelamkannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul dengan tangannya sebagai isyarat dan meletakkan tangannya di atas kepalanya tanpa menyentuh kepala. Beliau memutar telapak tangannya ke kanan dan ke kiri. [HR Ahmad, ath Thabrani, dan Ibnu Hiban dalam Shahih-nya, serta al Hakim dan beliau berkata : “Shahih sanadnya”. Hadits ini dishahihkan al Albani, dan beliau berkata : “Adz Dzahabi menyepakatinya dalam kitab at Talkhish, dan ini lafazh al Hakim”. [Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no 3588].

Di Padang Mahsyar juga ada orang-orang yang mendapat naungan dari, di antaranya, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رواه البخاري ومسلم

Tujuh orang yang Allah naungi dalam naunganNya pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, (yaitu) : Imam yang adil, pemuda yang berkembang dalam ibadah kepada Allah, seorang yang hatinya bergantung kepada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah di atasnya, dan seorang yang diajak seorang wanita pemilik kedudukan dan kecantikan (untuk berzina), lalu (ia) menyatakan “Aku takut kepada Allah”. Juga seorang yang bershadaqah lalu menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan bersendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata. [HR al Bukhari dan Muslim].

Lamanya Dikumpulkan
Seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبراني

Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.[16]

Meskipun rentang waktu tersebut lama, namun terasa sebentar bagi kaum Mukminin, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

(يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ) (المطففين 6 ) مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفِ سَنَةٍ فَيَهُوْنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ رواه أبو يعلى بإسناد صحيح وابن حبان في صحيحه

Tentang firman Allah “(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam” –al Muthaffifin/83 ayat 6- seukuran setengah hari dari lima puluh ribu tahun. Yang demikian itu (sangatlah) mudah (ringan) bagi orang mukmin, seperti matahari menjelang terbit sampai terbit.[17]

Syafa’at Kubra
Peristiwa di Padang Mahsyar sangatlah dahsyat. Sehingga, setelah mencapai puncaknya, manusia mencari orang yang dapat menjadi pemberi syafa’at, agar Allah mempercepat keputusanNya. Setiap umat mengikuti nabinya. Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi:

إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جُثًا كُلُّ أُمَّةٍ تَتْبَعُ نَبِيَّهَا

Sungguh pada hari Kiamat, manusia menjadi berkelompok-kelompok. Setiap umat mengikuti nabi mereka. [HR al Bukhari].

Menusia pun akhirnya berusaha menemui Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa untuk dapat memintakan syafa’at kepada Allah, tetapi mereka semua menolak, hingga akhirnya manusia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Muslim, dalam hadits yang berbunyi :

Pada hari Kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan seluruh makhluknya, yang pertama sampai terakhir di satu tanah luas yang datar, hingga orang yang memanggil dapat memperdengarkan kepada mereka, dan orang dapat melihat mereka seluruhnya, dan matahari mendekat sehingga manusia mengalami kesusahan dan mencapai kekritisan, yang mereka tidak mampu dan tidak bisa menanggungnya.

Maka sebagian manusia berkata kepada yang lainnya: “Tidakkah kalian melihat keadaan kalian sekarang? Tidakkah kalian melihat yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mencari orang yang dapat memintakaan syafa’at untuk kalian kepada Allah?”

Sebagian lainnya berkata : “Mari (kita) datangi Adam!” Lalu mereka menemui beliau, dan berkata: “Wahai Adam! Engkau adalah bapak (seluruh) manusia. Allah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan kepadamu dari ruh-ruhNya, serta memerintah para malaikat untuk sujud, dan malaikat pun sujud kepadamu. Mintalah kepada Rabb-mu syafaat untuk kami! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Adam pun menjawab : “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini, dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Dia telah melarangku dari sebuah pohon, lalu aku langgar. Pergilah kepada Nuh,” maka mereka pun menemui Nuh dan berkata : “Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama (yang Allah utus) di bumi dan Allah menamakanmu hamba yang bersyukur. Maka mintakanlah untuk kami syafa’at kepada Rabb-mu, Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Nuh pun berkata kepada mereka: “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Sungguh dahulu aku memiliki sebuah doa, yang aku gunakan untuk mendoakan keburukan kepada kaumku. Pergilah kalian kepada Ibrahim!”

Kemudian, mereka pun mendatanginya dan berkata : “Engkau adalah nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Ibrahim pun berkata kepada mereka : “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya,” lalu beliau menyampaikan beberapa kedustaannya (dan berkata): “Pergilah menemui selain aku. Pergilah kepada Musa!”

Mereka kemudian mendatangi Musa dan berkata : “Wahai Musa! Engkau adalah rasulullah. Allah memuliakan engkau atas sekalian manusia dengan kerasulan dan pembicaraanNya. Maka mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Musa pun berkata kepada mereka: “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Sungguh aku pernah membunuh jiwa yang tidak diperintahkan membunuhnya. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kepada Isa!”

Mereka pun kemudian menemui Isa dan berkata : Wahai Isa! Engkau adalah rasulullah dan engkau berbicara kepada manusia ketika bayi, dan (engkau adalah) kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam, serta ruh dariNya. Maka mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabb-mu! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

‘Isa pun berkata kepada mereka : Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya”. Beliau tidak menyebut satupun dosanya. (Lalu berkata),”Pergilah kepada selain aku. Pergilah kepada Muhammad!”

Lalu mereka menemuiku dan berkata : “Wahai Muhammad! Engkau adalah rasulullah dan penutup para nabi, serta orang yang telah diampuni dosanya yang lalu dan akan dating. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

“Maka aku pun pergi dan datang di bawah Al ‘Arsy, lalu bersujud kepada Rabb-ku, kemudian Allah membukakan dan mengilhamkan kepadaku sesuatu dari puja dan pujian indah yang tidak diberikan kepada selain diriku sebelumnya. Kemudian ada yang berkata : ‘Wahai Muhammad! Bangunlah! Mintalah, niscaya diberi dan mohonlah syafa’at, niscaya dikabulkan,’ maka akupun bangun dan berkata : “Wahai Rabb-ku! Umatku, umatku!’.” [HR al Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh Muslim].

Setelah itu manusia menghadapi peristiwa lainnya, yaitu berupa pemaparan lembaran amalan, timbangan (mizan) dan lainnya.

Demikianlah sebagian keterangan seputar yaumul ba’ts, hari kebangkitan yang pasti terjadi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Maraji :

  1. Syarhu Lum’at at I’tiqad, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Tahqiq Asyraf Abdul Maqsud, Cetakan ke-3, Tahun 1415H, Maktabah Thabariyah, Riyadh, KSA.
  2. Mukhtashar Ma’arijul Qabul, Hisyam Ali Uqdah, Cetakan ke-3, Tahun 1413H, Dar ash-Shafwah, Kairo.
  3. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  4. Shahih at Targhib wat-Tarhib, Syaikh al Albani.
  5. Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
  6. Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Khalil Harras.
  7. Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Khalid bin Abdillah al Muslih.
  8. Fat-hul Bari Syarah Shahih al Bukhari, al Hafizh Ibnu Hajar, Cetakan al Maktabah as-Salafiyah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Mukhtashar Ma’arijul Qabul, halaman 231.
[2] HR Abu Dawud, at Tirmidzi dan beliau menghasankan, serta Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya. Hadits ini dishahihkan al Albani dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib, no. 3568
[3] Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (4/260-261), dan inilah yang dirajihkan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam syarah beliau terhadap kitab al Aqidah al Wasithiyah, kaset ke-19 yang telah ditranskrip dalam program Maktabah asy Syaikh Shalih Alu Syaikh, oleh Abu ‘Abdillah Suhail al Jazairiy ([email protected]).
[4] Syarhu Lum’at al I’tiqad, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Tahqiq Asyraf Abdul Maqsud, halaman 114.
[5] Lihat footnote beliau terhadap kitab Syarhu al Aqidah al Wasithiyah, karya al Harras, halaman 206 dengan menjelaskan referensinya dari kitab al Ba’ts, karya Imam Abu Dawud, dengan takhrij Abu Ishaq al Huwaini.
[6] Lihat Mukhtashar Ma’arijul Qabul, halaman 238-239.
[7] HR Abu Dawud no. 1047 dan Ibnu Majah, dan ini lafazh Ibnu Majah no. 1075, dan dishahihkan al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud
[8] Syarah Al-Aqidah Al-Safariniyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Mani, hal. 212
[9] Lihat surat Yasin ayat 52.
[10] Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarhu al Aqidah al Wasithiyah (2/134).
[11] HR Abu Dawud dan Ibnu Hiban dalam Shahih-nya, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no. 3575
[12] Fat-hul Bari Syarah Shahih al Bukhari (11/383).
[13] HR at Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits hasan”. Hadits ini dihasankan al Albani dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib no. 3582
[14] HR Muslim. Dan dalam riwayat al Bukhari: Sahl atau yang lainnya berkata : “Tidak ada tanda bekas bagi seorangpun”
[15] Syarhu al ‘Aqidah al Wasithiyah (2/134).
[16] HR Ibnu Abi ad Dunya dan ath Thabrani, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no.3591
[17] HR Abu Ya’la dengan sanad shahih, dan Ibnu Hibaan dalam Shahih-nya. Dan dishahihkan al Albani. Lihat Shohih Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no.3589

Yaumul Bat’s, Hari Kebangkitan

YAUMUL BAT’S, HARI KEBANGKITAN

Oleh
Abu Isma’il Muslim Atsari

Allah Azza wa Jalla telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Beliau n datang membawa kebenaran sebelum datangnya hari Kiamat. Tidaklah beliau meninggalkan kebaikan apapun, kecuali telah beliau jelaskan kepada umatnya. Dan tidaklah beliau meninggalkan keburukan apapun juga, kecuali telah beliau peringatkan.

Di antara kewajiban yang telah beliau jelaskan, yaitu beriman kepada hari Akhir. Yang merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Dan termasuk pokok-pokok aqidah Islam yang besar. Di dalamnya terkandung pengertian adanya beriman kepada al ba’ts, yaitu hari kebangkitan).

PENGERTIAN AL BA’TS
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”(Yang dimaksud) iman kepada al ba’ts, yaitu dihidupkannya orang-orang yang telah mati pada waktu terompet ditiup pada tiupan yang kedua. Lalu manusia akan berdiri menghadap Rabbul ‘Alamiin dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang tanpa penutup, dan belum dikhitan. Allah Ta’ala berfirman

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. [al Anbiya’/21:104][1]

Syaikh Dr. ‘Umar Sulaiman al Asyqar berkata: “Yang dimaksud dengan al ba’ts adalah, tempat kembalinya badan dan dihidupkannya hamba-hamba pada hari Kiamat. Jika Allah al Haq (Yang Maha Benar) berkehendak mengembalikan dan menghidupkan hamba-hamba kembali, (maka) Dia memerintahkan Malaikat Israfil. Lalu dia (pun) meniup terompet, (yang) kemudian ruh-ruh kembali menuju jasad-jasadnya, dan manusia akan berdiri menghadap Rabbul ‘Alamiin. Allah berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). [az Zumar/39 : 68][2]

KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA AL BA’TS
Al ba’ts merupakan perkara yang pasti, tidak ada keraguan padanya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh al Kitab, as Sunnah, dan Ijma’.

Allah Azza wa Jalla memberitakan, bahwa Dia menciptakan manusia dari sari pati tanah. Kemudian menciptakannya sebagai air mani di dalam tempat yang kokoh. Kemudian Dia memberitakan fase-fase penciptaan manusia di dalam perut ibunya. Maka Dia menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan sebelumnya ketika dilahirkan ke dunia ini. Setelah itu semua, Allah berfirman:

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ﴿١٥﴾ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.[al Mu’minun/23:15-16].

Allah Azza wa Jalla juga memberitakan kebangkitan dari kubur setelah terompet ditiup, sebagai berikut :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ﴿٥١﴾قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya).[Yasin/36:5-52].

إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ ۘ وَالْمَوْتَىٰ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNya-lah mereka dikembalikan.[al An’am/6:36]

Akan tetapi, orang-orang kafir jahiliyah mengingkari adanya al ba’ts. Sehingga Allah Azza wa Jalla memerintahkan RasulNya untuk bersumpah dengan namaNya, bahwa al ba’ts adalah benar :

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [ath Thaghabun/64:7].

Bahkan menciptakan seluruh makhluk dan menghidupkan mereka kembali setelah kematiannya, bagi Allah hanyalah seperti menciptakan dan menghidupkan kembali satu jiwa saja.

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu, melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.[Luqman/31:28].

Jika demikian, maka sesungguhnya al ba’ts merupakan kepastian, dan tidak ada keraguan padanya. Oleh karenanya Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah akan membangkitkan semua orang di dalam kubur.[al Hajj/22:7].

DALIL-DALIL AL BA’TS
Semakin besar dan semakin penting suatu masalah, maka bukti-bukti kebenaran bagi masalah itu juga semakin banyak dan jelas. Begitu juga berkaitan dengan masalah al ba’ts.

Di dalam al Qur`an, Allah Azza wa Jalla banyak menjelaskan masalah ini, sehingga benar-benar memuaskan akal, perasaan, dan fithrah orang-orang yang mau memperhatikannya. Berikut adalah di antara dalil-dalil tentang al ba’ts.

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Penciptaan Manusia
Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dari ketiadaan, maka menghidupkan kembali setelah kematiannya itu lebih mudah bagiNya.

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ﴿٧٧﴾وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴿٧٨﴾قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.[Yasin/36:77-79].

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin t berkata,”Setiap orang tidak mengingkari bahwa dia telah diciptakan dari ketiadaan. Dia ada setelah sebelumnya tidak ada. Maka (Allah) Yang telah menciptakannya dan mewujudkannya setelah sebelumnya tidak ada, Dia lebih utama berkuasa mengembalikannya lagi”[3]

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Penciptaan Langit dan Bumi
Sesungguhnya Allah adalah pencipta langit dan bumi dengan tanpa contoh sebelumnya. Sedangkan penciptaan langit dan bumi itu jauh lebih besar daripada penciptaan manusia. Maka, Dia Yang telah menciptakan langit dan bumi itu, tentu lebih mampu dan berkuasa menciptakan manusia dan menghidupkannya kembali setelah kematiannya.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.[al Ahqaf/46:33].

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Setiap orang tidak mengingkari keagungan penciptaan langit dan bumi, karena besarnya keduanya dan penciptaannya yang mengagumkan. Maka (Allah) Yang telah menciptakan keduanya lebih utama berkuasa menciptakan manusia dan menghidupkannya kembali”[4]

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Muncul dan Berkembangnya Tumbuh-Tumbuhan di Muka Bumi Setelah Turunnya Hujan
Allah menghidupkan bumi dengan air hujan setelah gersangnya. Begitulah Allah akan menghidupkan orang-orang yang telah mati.

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). [az Zukhruf/43:11].

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.[ar Ruum/30 :50].

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan di antara tanda-tandaNya (ialah), bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.[Fushshilat/41:39]

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Setiap orang yang memiliki pandangan melihat bumi yang gersang, mati tumbuh-tumbuhannya. Jika hujan telah turun padanya, bumi itu subur dan tumbuh-tumbuhannya hidup setelah sebelumnya mati. Maka (Allah) Yang berkuasa menghidupkan bumi setelah kematiannya, Dia juga berkuasa menghidupkan dan membangkitkan orang-orang yang telah mati.”

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Hikmah Pembalasan Amal
Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴿١١٥﴾فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. [al Mu`minun/23:115-116].

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ

Segungguhnya hari Kiamat itu akan datang; Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.[Thaha/20:15].

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ﴿٣٥﴾مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? [al Qalam/68:35-36]

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ﴿٢٧﴾أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat? [Shaad/38:27-28].

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Sesungguhnya hikmah menuntut adanya al ba’ts setelah kematian, agar supaya setiap jiwa dibalas dengan apa yang telah dia usahakan. Seandainya (pembalasan, Red.) itu tidak ada, berarti penciptaan manusia sia-sia, tidak ada nilainya, dan tidak ada hikmahnya. Dan (berarti) tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang dalam kehidupan ini”[5]

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Berita-Berita Dari Para Nabi dan Kitab-Kitab Suci
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Sesungguhnya perkara al ba’ts telah mutawatir berita dari para nabi dan rasul di dalam kitab-kitab Allah dan syari’at-syari’at dari langit. Umat mereka telah menerimanya dengan penerimaan yang sebenarnya. Maka bagaimana engkau (orang-orang kafir, Pen.) mengingkari al ba’ts, sedangkan engkau membenarkan apa yang diberitakan kepadamu (yang datang) dari seorang filosof, atau pemilik suatu prinsip (aliran), atau pemilik suatu pemikiran, padahal beritanya tidaklah mencapai apa yang telah dicapai oleh berita tentang al ba’ts, baik di dalam sarana pemberitaan, dan di dalam bukti kenyataan”[6]

Berita tentang al ba’ts disebutkan di dalam kitab-kitab suci zaman dahulu, antara lain disebutkan di dalam ayat-ayat sebagai berikut:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَ﴿١٦﴾وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴿١٧﴾إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ﴿١٨﴾صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.[al A’la/87:16-19].

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ ﴿٣٦﴾ وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ ﴿٣٧﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ﴿٣٨﴾ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿٣٩﴾ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ﴿٤٠﴾ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. [an Najm/53:36-41].

Dalil Al Ba’ts Yang Berupa Kejadian Nyata
Yaitu peristiwa-peristiwa yang telah diperlihatkan Allah secara langsung kepada manusia, sebagaimana Dia beritakan di dalam kitabNya. Berikut di antara peristiwa-peristiwa tersebut.

1. Peristiwa pada zaman Nabi Ibrahim Alaihissallam.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata : “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman,”Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab,”Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman,”(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu,” (Allah berfirman),”Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[al Baqarah/2:260].

2. Peristiwa pada zaman Nabi Musa Alaihissallam.

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ﴿٥٥﴾ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata : “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.[al Baqarah/2:55-56].

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ﴿٧٢﴾فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti.[al Baqarah/2:72-73].

3. Peristiwa pada zaman Nabi Isa Alaihissallam.
Nabi Isa telah berkata kepada umatnya, yaitu Bani Israil:

أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya. Maka, ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. [Ali ‘Imran/3 :49].

4. Peristiwa ribuan orang yang dimatikan oleh Allah, lalu Dia menghidupkan mereka kembali.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.[al Baqarah/2:243].

5. Seorang laki-laki yang telah mati selama seratus tahun, lalu Allah menghidupkannya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata : “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Dia menjawab : “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[al Baqarah/2:259].

6. Peristiwa Ash-habul Kahfi.
Yaitu tujuh pemuda dengan seekor anjing mereka yang masuk ke dalam goa dan tidur selama 309 tahun qomariyah, atau 300 tahun syamsiyah. Allah berfirman:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).[al Kahfi/18:25].

Kemudian Allah membangunkan mereka sebagai tanda kekuasaanNya yang nyata. Dia berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari Kiamat tidak ada keraguan padanya.[al Kahfi/18:21].

Setelah bukti-bukti ini jelas bagi orang-orang yang mengingkari al ba’ts, dan kemudian mereka tetap mengingkarinya, maka mereka adalah orang-orang yang sombong dan membangkang lagi zhalim. Adapun orang-orang yang zhalim itu akan mengetahui ke mana mereka akan kembali setelah kematian dan kebangkitan mereka.

Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Syarh al Ushul ats Tsalatsah, halaman 100, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar ats Tsurayya
[2] Yaumul Akhir (2/51), karya Syaikh Dr. ‘Umar Sualiman al Asyqar, Penerbit Maktabah al Falah.
[3] Syarh al Ushul ats Tsalatsah, halaman 146, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar ats Tsurayya.
[4] Syarh al Ushul ats Tsalatsah, halaman 146, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar ats Tsurayya.
[5] Syarh al Ushul ats Tsalatsah, halaman 146-147, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar ats Tsurayya.
[6] Syarh al Ushul ats Tsalatsah, halaman 147, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Penerbit Dar ats Tsurayya.

Keberadaan Dajjal

KEBERADAAN DAJJAL

Pertanyaan
Apakah benar Dajjal sudah turun di Khurasan India? Syukran.

Jawaban.
Dajjal, secara bahasa artinya pemalsu, sangat pendusta. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah beliau dengan menyebutnya Dajjal, karena mereka adalah para pendusta besar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Tidak akan datang kiamat, sehingga dibangkitkan dajjal-dajjal, pembohong -pembohong besar,  yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang, masing-masing mengaku sebagai utusan Allah. [1]

Tetapi kemudian kata “Dajjal”  menjadi istilah bagi seorang manusia pendusta, buta sebelah matanya, mengaku sebagai Tuhan, yang akan muncul di akhir zaman mendekati hari Kiamat. Karena besarnya ujian dan musibah dengan kedatangan Dajjal ini, maka semua nabi telah memperingatkan tentang kedatangannya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَمَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : Tiada seorang nabi pun, melainkan dia memberi peringatan (yang menakutkan) kepada umatnya tentang pendusta yang buta sebelah matanya. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu tidak buta sebelah mataNya. Dan ditulis di antara dua matanya (Dajjal) Kaf, Fa`  dan Ra (Kafir)”. [HR Bukhari, Muslim, dan laim-lain].

Adapun pertanyaan saudara, apakah Dajjal ini sudah muncul di Khurasan, India? Mungkin yang Anda maksudkan adalah Begawan Sri Baba dari India yang mengaku sebagai tuhan.

Sepanjang pengetahuan kami, Dajjal yang diperingatkan tersebut sekarang ini belum muncul. Karena Dajjal memiliki ciri-ciri yang telah diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebanyakan ciri-ciri tersebut tidak ada pada orang India tersebut. Di antara cirri-ciri Dajjal adalah sebagai berikut : [2]

  1. Seorang laki-laki yang besar tubuhnya, merah (kulitnya), keriting rambutnya, buta sebelah matanya; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Ibnul Qathan seorang laki-laki dari Khuza’ah. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain).
  2. Buta matanya sebelah kanan; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol. [HR Bukhari, Muslim].
  3. Syab (muda usia, 30-50 tahun), sangat keriting rambutnya, matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Abdul ‘Uzza bin Qathan. [HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain].
  4. Seorang laki-laki, pendek, cara berjalannya tidak normal, keriting, buta sebelah matanya, satu matanya rata, tidak menonjol dan tidak masuk. [HR Abu Dawud, Shahihul-Jami’ushShaghir, no. 2455].
  5. Buta sebelah matanya, menonjol dahinya, luas atas dadanya, [HR Ahmad].
  6. Banyak rambutnya. [HR Muslim].
  7. Di antara dua matanya tertulis “kafir”, atau huruf kaf, fa`, ra` yang bisa dibaca oleh semua orang beriman, bisa baca tulis ataupun yang buta huruf. [HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain].
  8. Orangnya sangat besar. [HR Muslim].
  9. Makhluk yang paling besar (fitnahnya). [HR Muslim].
  10. Tidak dilahirkan. [HR Muslim].
  11. Muncul dari arah timur, yaitu Khurasan. [HR Tirmidzi].

Khurasan adalah kota yang luas zaman dahulu, awal batasnya dekat Iraq, akhir batasnya dekat India. Sekarang meliputi beberapa kota dan masuk ke beberapa negara, yaitu Iran Utara (di antaranya terkenal dengan Naisabur), Afghanistan Utara (di antaranya terkenal dengan Harah dan Balkh), daerah-daerah Turkmania (dahulu pernah masuk Uni Soviet, di antaranya terkenal dengan Marw). Dan desa-desa sekitarnya, sebelum sungai Jaihun. [3]

Dari sini kita mengetahui bahwa India tidak masuk Khurasan, bahkan nampak bahwa mayoritas Khurasan masuk wilayah negara Iran. Wallahu a’lam.

  1. Muncul dari tempat bernama Yahudiyah, kota Ashbahan, dengan 70 ribu orang Yahudi. (HR Ahmad, Fathur Rabbani 24/73). Ashbahan adalah kota yang dahulu termasuk Khurasan. Sekarang termasuk wilayah negara Iran.
  2. Dia muncul dan tinggal di bumi selama 40 hari. Sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisanya seperti hari-hari biasa. (HR Muslim). Adapun Sri Baba sekarang umurnya sudah 80 tahun, dan hari-harinya biasa.

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan menjadi jelas bagi kita semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1] HR Bukhari (no. 3609), kitab al Manaqib, Bab ‘Alamatan-Nubuwwah; Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa’ah.
[2] Lihat kitab Asyrathus-Sa’ah, halaman 278-315, karya Syaikh Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf al Wabil t .
[3] Mu’jamul Buldan, Bab : Huruf Kha` dan Ra`; AsyrathusSa’ah, hlm. 308; Kamus al Munjid.