Category Archives: A7. Kenapa Takut Kepada Islam?

Hindari Tolok Ukur Kebenaran Ala Jahiliyah

HINDARI TOLOK UKUR KEBENARAN ALA JAHILIYAH

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Setiap kali mendengar kata-kata jahiliyah, maka tergambarlah di benak kita dengan berbagai kebiasaan buruk yang dilakukan manusia sebelum kedatangan Islam. Dan memang, semua yang dikaitkan dengan kata-kata jahiliyah, semuanya memiliki konotasi buruk dan kita dilarang mengikutinya.

Alhamdulillah, secara umum masa Jahiliyah itu sudah berakhir[1] seiring dengan diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul dengan membawa Al Qur`an sebagai pedoman hidup. Namun, ini bukan berarti semua tradisi jahiliyah juga sudah terkikis habis. Tradisi atau tabiat jahiliyah masih ditemukan pada diri seseorang atau satu kelompok tertentu, atau bahkan pada satu wilayah negara. Sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada seseorang menghina kawannya dengan ucapan “Hai anak wanita hitam!” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya dengan bersabda: “Apakah engkau menghinanya karena ibunya?” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

Sesungguhnya engkau manusia yang masih terjerat tabiat jahiliyah [HR Muslim].

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ

Ada empat perkara jahiliyah yang ada pada umatku, mereka tidak meninggalkannya ; yaitu mencaci keturunan, membanggakan kedudukan, meratapi orang meninggal dunia, serta mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang.[2]

Juga ketika terjadi pertengkaran antara seorang Anshar dan Muhajirin, lalu masing-masing mencari pendukung. Seseorang yang dari Anshar memanggil orang Anshar “hai, orang Anshar!” dan dari Muhajirin memanggil orang Muhajirin, dia berkata “wahai kaum Muhajirin”. Menanggapi kejadian tersebut, Rasulullah bersabda,”Apakah kalian masih bangga dengan semboyan jahiliyah, sementara aku masih berada di tengah kalian? Tinggalkanlah fanatisme itu, karena itu berbau busuk!”

Dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, para ulama berpendapat, masih adanya tradisi jahiliyah yang melekat di tengah masyarakat. Sehingga para ulama bangkit menjelaskannya, agar masyarakat menjauhinya dan tetap istiqamah menempuh jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena tradisi jahiliyah bertentangan dengan syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara tradisi jahiliyah yang diperingatkan oleh para ulama agar dijauhi, yaitu tradisi jahiliyah dalam menilai sebuah kebenaran dan sumber nilai itu sendiri. Islam mengajarkan kepada penganutnya agar meyakini dan mengamalkan semua yang diperintahkan dalam Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush Shalih. Begitu juga dalam menilai sesuatu itu benar atau tidak, Islam mengajarkan agar mejadikan Al Qur’an dan Sunnah tolok ukurnya. Berbeda dengan tradisi jahiliyah, mereka menjadikan pendapat nenek moyang serta pendapat mayoritas orang sebagai tolok ukur. Yang sejalan dianggap benar dan yang bertentangan dinilai salah.

Beralasan Dengan Kebiasaan Mayoritas Manusia, Tanpa Melihat Dalilnya
Diantara kebiasaan jahiliyah, yaitu terpedaya dengan pendapat mayoritas, menjadikannya sebagai standar menilai kebenaran. Suatu kebenaran didasarkan kepada pendapat mayoritas. Sebaliknya, pendapat minoritas dianggapnya sebagai kebathilan tanpa melihat dalil-dalilnya. Penilaian yang didasarkan dengan argumen seperti di atas tanpa melihat dalil yang mendukungnya, merupakan cara pandang bathil dan bertentangan dengan Islam. Allah berfirman.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalanNya [Al An’am/6:116].

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Al A’raf/7:187].

وَمَاوَجَدْنَا لأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ وَإِن وَجَدْنَآ أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik. [Al A’raf/7:102].

Dan masih banyak lagi ayat lain yang menjelaskan hal itu.

Jadi, yang menjadi tolok ukur kebenaran bukanlah mayoritas ataupun minoritas, akan tetapi, seharusnya adalah kebenaran itu sendiri, meskipun pendapat ini dianut oleh satu orang saja. Jika mayoritas manusia berjalan di atas pendapat yang bathil, maka harus ditolak. Oleh sebab itu, para ulama berkata “kebenaran itu tidak bisa dikenali dengan manusia, tetapi justru manusia itu dikenali dengan kebenaran”. Siapapun yang berjalan di atas kebenaran, maka ia harus diikuti.

Ketika menceritakan umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa minoritas sering berada dalam kebenaran. Sebagaimana firman Allah :

وَمَآءَامَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. [Hud/11:40].

Dalam sebuah hadits terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan tentang pengikut para nabi terdahulu. Ada nabi yang diikuti oleh beberapa orang saja. Ada yang hanya disertai oleh seorang saja, bahkan ada nabi yang tanpa pengikut.

Jadi tolok ukur kebenaran bukan karena jumlah pengikutnya yang besar, tetapi tolok ukurnya adalah kebenaran atau kebathilan yang menyertainya. Setiap yang benar meskipun pengikutnya sedikit, maka harus dipegang teguh. Itulah jalan keselamatan. Dan semua kebathilan, tidak bisa berubah menjadi benar hanya karena jumlah pengikutnya yang banyak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ

Islam itu muncul sebagai agama yang asing dan suatu saat akan kembali asing sebagaimana pertama kali muncul.[3]

Maksudnya ketika kejahatan, fitnah dan kesesatan melanda manusia, yang tersisa berpegang teguh dengan kebenaran hanyalah segelintir orang yang dianggap asing, hanya beberapa gelintir orang dari suku-suku yang ada, sehingga menjadi asing di tengah masyarakat. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, umat manusia berada dalam kekufuran dan kesesatan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampil mengajak manusia, namun hanya diterima oleh beberapa orang saja, yang kemudian terus bertambah banyak. Suku Quraisy, seluruh tanah Arab, juga seluruh dunia berada dalam kesesatan. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajak umat manusia kepada kebenaran, tetapi yang menerima dakwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah manusia di seluruh dunia. Allah berfirman :

وَمَآأَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. [Yusuf/12:103].

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalanNya.[Al An’am/6:116].

Berargumentasi dengan Pendapat Leluhur (Nenek Moyang) Tanpa Meneliti Sumber Pendapat Itu.
Ketika para rasul datang membawa kebenaran dari Allah Azza wa Jalla, kaum jahiliyah membantahnya dengan menggunakan pendapat nenek moyang mereka. Ketika Nabi Musa Alaihissallam mengajak Fir’aun agar beriman, Fir’aun berdalih dengan pendapat orang-orang kafir terdahulu. Ini merupakan argumen yang bathil dan alasan ala jahiliyah. Begitu pula jawaban kaum Nabi Nuh Alaihissallam ketika diajak untuk beriman kepada Allah Azza wa Jalla, mereka justru berkata sebagaimana tersebut di dalam Al Qur`an :

مَاهَذَآ إِلاَّبَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَآءَ اللهُ لأَنزَلَ مَلاَئِكَةً مَّاسَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَآئِنَا اْلأَوَّلِينَ

Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. [Al Mukminun/23:24]

Mereka menolak dakwah Nabi Nuh Alaihissallam dengan pendapat nenek moyang mereka yang disangka benar. Adapun ajaran yang dibawa Nabi Nuh Alaihissallam dianggap salah, juga karena bertentangan dengan pendapat nenek moyang mereka. Begitu juga orang-orang kafir Quraisy ketika menyanggah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan:

مَاسَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ اْلأَخِرَةِ إِنْ هَذَآ إِلاَّ اخْتِلاَقٌ

Kami tidak pernah mendengar hal ini (mengesakan Allah) dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah(dusta) yang diada-adakan. [Shad/38:7].

Maksud dari agama yang terakhir ialah, ajaran nenek moyang mereka. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap merupakan dusta. Mengapa? Tidak lain karena bertentangan dengan ajaran nenek moyang orang-orang Quraisy yang menyembah berhala. Mereka tidak kembali kepada agama kakeknya, yaitu Ibrahim Alaihissallam dan Ismail Alaihissallam. Tetapi justru menyanggahnya dengan merujuk kepada nenek moyang mereka yang lebih muda. Maksudnya bapak-bapak dan kakek-kakek mereka di Mekkah, yaitu orang-orang kafir Quraisy. Itulah kebiasaan orang-orang kafir jahiliyah, yaitu beralasan dengan orang-orang terdahulu, tanpa melihat sumber pengambilannya.

Padahal, semestinya orang yang berakal memperhatikan ajaran para rasul, lalu membandingkannnya dengan ajaran nenek moyangnya, agar tampak jelas antara yang haq dan yang bathil. Menutup diri sembari mengatakan “kami hanya menerima pendapat nenek moyang kami saja dan tidak menerima pendapat yang bertentangan dengannya” ini, bukanlah tradisi orang-orang yang berakal, lebih-lebih bagi yang menginginkan kesalamatan.

Sekarang ini, bila penyembah kubur dilarang melakukannya, biasanya mereka mengatakan, “ini merupakan tradisi di negeri fulan”, “ini kebiasaan anggota jama’ah fulan”, atau “inilah kebiasaan orang-orang terdahulu”. Begitu juga orang-orang yang terbiasa merayakan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila dilarang, mereka akan membantah “ini sudah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami, kalau memang perayaan ini bathil, tentu tidak akan mereka lakukan”.

Inilah di antara hujjah ala jahiliyah. Menjadi jelaslah bagi kita, bahwa yang boleh dijadikan sebagai ukuran hanyalah Al Qur`an, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mendapat bimbingan langsung dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah tolok ukur kebenaran yang benar. Yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti benar. Allah tidak pernah menyuruh manusia mengikuti nenek moyangnya. Kalaulah tradisi nenek moyang sudah cukup bagi kita, tentu Allah Azza wa Jalla tidak akan mengutus seorang rasul ke dunia.

(Diangkat dari kitab Syarh Masail Jahiliyah, Karya Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Syarh Masail Jahiliyah, hlm. 14.
[2] HR Bukhari dengan ringkas dan Muslim, dan lafazh dari Muslim no. 934.
[3] Dikeluarkan oleh Imam Muslim, no. 146.

Kalian Akan Dipimpin Oleh Orang yang Seperti Kalian

KALIAN AKAN DIPIMPIN OLEH ORANG YANG SEPERTI KALIAN

Oleh
Syaikh Abdulmalik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani

Ungkapan ini bukan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meski sangat terkenal di tengah masyarakat[1]. Ungkapan ini adalah sebuah kata hikmah yang sering diungkapkan oleh para sejarawan dan ahli sosial. Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kepemimpinan dan didukung oleh penelitian terhadap sejarah. Faktanya, hampir semua jama’ah atau kelompok masyarakat itu dipimpin oleh orang yang sesuai dengan kwalitas kebaikan masyarakatnya. Jadi, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebagaimana ketika Allâh Azza wa Jalla menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena mereka sama seperti Fir’aun. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik [Az-Zukhruf/43:54]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menegaskan bahwa kaum Fir’aun adalah orang-orang fasik, oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjadikan orang yang seperti mereka sebagai penguasa mereka. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “al-khafîf[2] berarti orang dungu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan ia selalu mengikuti hawa nafsunya.”[3]

Jadi sejatinya ungkapan “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian” adalah kata hikmah zaman dulu kala. Al-Ajlauni berkata, “Imam Thabrani rahimahullah meriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa ia mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk al-Hajjâj (salah seorang pemimpin yang kejam), lantas ia berkata, “Janganlah kamu lakukan itu! Kalian diberikan pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjâj digulingkan atau meninggal, maka monyet dan babi yang akan menjadi penguasa kalian, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.[4]

Perkataan beliau rahimahullah “telah diriwayatkan …” menunjukkan bahwa kaidah ini sudah ada sejak dahulu, bahkan ada beberapa pernyataan dari kalangan assalafusshâlih tentang penisbatan kalimat ini kepada sebagian para Nabi terdahulu. Tentu ini sudah cukup menjadi bukti nyata akan keberadaan kaidah ini di zaman dahulu. Namun kaidah ini diketahui awal mulanya meskipun ia sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kerakyatan dan kepemimpinan.

Telah dijelaskan didepan bahwa individu adalah sebab pertama munculnya bencana, juga telah dijelaskan bahwa semua orang itu akan merasakan buah dari amal perbuatannya. Diantara wujud dari buah amalannya itu adalah kondisi para pemimpin mereka. Karena kondisi mereka sesuai dengan prilaku masyarakat, sebagaimana peribahasa bahasa arab yang artinya kezhaliman penguasa itu disebabkan oleh kezhaliman yang dilakukan rakyat.

Dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah serta pemahaman para salaf menyangkut kaidah ini :
Diantara dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta pemahaman salaf mengenai kaidah ini adalah dalil-dalil yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang (hukuman disebabkan oleh dosa), misalnya :

  1. Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [As-Syûra/42:30]

Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Dan Allâh sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah adalah kesalahan umat.

  1. Dalil lain untuk kaidah ini adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.

Sebagai tambahan, saya sebutkan dalil-dalil lain dibawah ini :

  1. Diriwayatkan oleh Abu as-syeikh dari Manshûr bin Abi al-Aswad, ia berkata, “Aku bertanya kepada al-A’masy tentang firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan [Al-An’âm/6:129]

Apa yang kau dengar dari perkataan mereka tentang ayat ini? Ia menjawab, “Aku mendengar mereka berkata, ‘Jika manusia sudah rusak maka mereka akan dipimpin oleh orang-orang jahat mereka”[5]

  1. Thurthusyi berkata[6], “Aku masih mendengar orang-orang senantiasa menyuarakan, “Amal perbuatan kalian adalah pemimpin kalian” juga “Sebagaimana kalian begitulah pemimpin kalian” sampai akhirnya saya menemukan ayat yang senada dengan dua perkataan ini, yaitu firman Allâh Azza wa Jalla

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan [al-An’âm/6:129]

Orang dahulu juga mengatakan, “Kerusakan atau keburukan yang engkau ingkari pada zamanmu, itu sesungguhnya akibat dari tindakan dan perbuatanmu sendiri.” Abdul Mâlik bin Marwan rahimahullah juga pernah berkata, ‘Wahai rakyatku! Sungguh kalian tidak berlaku adil pada kami. Kalian menuntut kami berlaku seperti Abu Bakr dan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhuma akan tetapi kalian tidak berlaku seperti keduanya. Kami memohon kepada Allâh agar setiap individu saling membantu.’

  1. Qatâdah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’
  2. ‘Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu anhuma, kenapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yang semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka? Lalu saat engkau dan Utsman menggantikannya posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian? Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu menjawab, “Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu.”
  3. Seorang laki-laki menulis sepucuk surat kepada Muhammad bin Yû Ia mengadukan perihal kekejaman para pemimpinnya. Muhammab bin Yusuf membalas surat itu dengan mengatakan, “Suratmu telah saya terima, dimana kau menceritakan tentang keadaan kalian saat ini, padahal tidak sepantasnya pelaku maksiat mengingkari akibat perbuatannya. Menurut hemat saya, keadaan kalian seperti ini tidak lain karena disebabkan oleh dosa-dosa kalian, wassalam.’
  4. Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26]

Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”

Yang semakna dengan ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allâh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [al-Isrâ/17: 16]

Allâh memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang melampaui batas dalam kefasikan mereka untuk rakyat yang layak mendapatkan kehancuran. Dan tidak diragukan lagi bahwa mereka yang berhak mendapatkan kehancuran dan kebinasaan itu adalah mereka yang zhalim, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا

Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka” [Al-Kahfi/18:59]

Dengan pengertian seperti inilah sebagian Ulama salaf memahami ayat di atas. Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ka’ab al-Ahbar bahwa ia berkata[7] , “Sungguh pada setiap masa pasti ada raja atau pemimpin yang dijadikan oleh Allâh sesuai dengan (keadaan) hati rakyatnya. Jika Allâh Azza wa Jalla menghendaki kebaikan untuk kaum tersebut, niscaya Dia akan mengutus yang melakukan perbaikan. Jika Allâh menghendaki kehancuran atas mereka niscaya Allâh akan mengutus mutrafa, ” Kemudian beliau rahimahullah membaca ayat al-Qur’an yang terdapat dalam surat al-Isra’ ayat ke-16 di atas.

  1. Sebagian Ulama berdalil dengan hadits riwayat Imam Muslim, no. 1819 dari Jâbir Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ

Umat manusia itu mengikuti Quraisy dalam hal kebaikan dan keburukan[8]

Ali al-Qâri mengatakan, “Dikatakan, maknanya adalah jika mereka baik niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memberikan kekuasaan kepada orang baik, jika mereka jahat niscaya Allâh akan memberikan kekuasan kepada orang jahat dari kalangan mereka, sebagaimana ungkapan “Perbuatan kalian adalah pemimpin kalianjuga “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian.”[9] Pemahaman ini disampaikan oleh al-Munâwi dalam tafsir Faidhu al-Qadîr.[10]

Allâh telah memberikan kekuasaan kepada al-Hajjâj bin Yusuf dengan segala kezhalimannya. Ketika imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah melihat masyarakat membenci dan marah terhadap terhadap kekuasaan al-Hajjâj, beliau rahimahullah berusaha menasihati mereka dengan berdalilkan kaidah ini, “Al-Hajjâj adalah hukuman dari Allâh atas kalian yang belum pernah ada sebelumnya. Janganlah kalian merespon hukuman Allâh ini dengan pedang! Namun sambutlah hukuman ini dengan bertaubat kepada Allâh dan tunduk kepada-Nya! Bertaubatlah kalian, niscaya kalian akan terpelihara darinya!”[11]dalam riwayat lain dengan sanad yang shahih bahwa beliau Imam al-Hasan al-Bashri menyampaikan kalimat ini ketika mendapati seseorang yang sedang memprofokasi masyarkat umum untuk melakukan pemberontakan dan penentangan terhadap kuasa kepemimpinan dan kepemerintahan.[12]

Perhatikanlah! Bagaimana para assalafusshalih mengaitkan kaidah ini dengan larangan memberontak dan menentang serta keluar dari pemerintah!

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan ini juga kepada rakyat yang berusaha melawan al-Hajjâj yang haus darah, sebagaimana telah dinukil oleh Hisyâm bin Hassan, beliau mengatakan, “Coba kalian hitung jumlah mayat yang dibunuh oleh al-Hajjâj secara zhalim. Jumlahnya mencapai 120.000 mayat.”[13]

Inilah yang disampaikan oleh Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar, “Dia adalah seorang yang zhalim, bengis, nâshibi (pembenci Ahlul Bait), keji dan haus darah…”[14] bahkan sebagian salaf sampai berani menjatuhkan vonis kafir kepada dia.[15]

Kesimpulannya, tujuan dari penjelasan ini adalah ingin menjelaskan gelar paling ringan disematkan untuk al-Hajjâj adalah ia seorang muslim yang suka membantai dan membunuh rakyat. Namun meski demikian, para Ulama tetap melarang rakyatnya untuk memberontak. Karena pada hakikatnya, naiknya dia sebagai penguasa adalah sebagai hukuman dari Allâh Azza wa Jalla akibat dari dosa-dosa rakyat. Diharapkan, rakyat segera menyadari dan segera bertaubat, bukan sebaliknya menyambut buah dari dosanya dengan mengangkat pedang (atau melakukan tindakan anarkis).

Hendaklah ini menjadi perhatian kita, jika kita ingin mengikuti jejak as-salafus shalih.

Seorang Tabi’in dan seorang ahli ibadah bernama Abi al-Jalad al-Asdi rahimahullah mengatakan, “Kelak di hari kiamat para pemimpin akan dibangkitkan di hadapan halayak manusia dengan memikul dosa-dosa mereka”[16]

Dahulu seorang penasihat bernama Ibrahim ibn Hamsy berkata, “Ya Allâh, karena perbuatan tangan-tangan kami ini, Engkau berikan kekuasaan kepada seorang yang tidak mengenal dan tidak menyayangi kami.”[17]

Imam ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,[18] : “Ada sebagian para Nabi bani Israel menyaksikan apa yang diperbuat oleh raja Bukhtanashar, lantas iapun berkata, ‘Karena perbutan tangan-tangan kami ini, Engkau berikan kekuasaan kepada seorang yang tidak mengenal-Mu dan tidak menyayangi kami.”

Bukhtanashar menyampaikan pertanyaan kepada Nabi Daniel, “Gerangan apa yang menjadikanku berkuasa penuh terhadap kaummu? Ia menjawab, “Karena besarnya kesalahanmu dan kezhaliman kaumku terhadap diri mereka.”

Ibnu al-Azrâq mengatakan, “Sudah menjadi keharusan bagi setiap masyarakat untuk selalu mencatat bahwa kekejaman para pemimpin dan pejabat disebabkan oleh tindakan dan perbuatan rakyat yang jauh dari jalan kebenaran, sebagaimana kandungan kaidah, “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah penguasa kalian.” Dengan kaidah ini pula Ibnu al-Jazzâr as-Sirqisthi mejawab pertanyaan al-Musta’in bin Hud mengenai perihal keluhan rakyatnya dengan puisinya :

 Kalian nisbatkan kezhaliman kepada para penguasa kalian
Sementara kalian tertidur (lupa) terhadap buruknya perbuatan kalian
Janganlah kalian nisbatkan kezhaliman kepada para penguasa kalian
Karena penguasa kalian akibat dari perbuatan kalian
Demi Allâh, seandainya kalian berkuasa walau sejenak
Tidak akan terbetik dalam benak kalian untuk berlaku adil[19]

Setelah menyampaikan kisah Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan pesan, “Beginilah dahulu kondisi para khalifah di masa-masa awal umat ini, ketika rakyatnya selalu menegakkan perintah Allâh Azza wa Jalla , takut terhadap siksa-Nya dan senantiasa berharap limpahan pahala-Nya. Namun ketika rakyat berubah dan mulai menzhalimi diri mereka, maka berubahlah pula sikap dan karakter permimpin-pemimpin mereka, Sebagaimana keadaan kalian, begitulah penguasa kalian.”[20]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyapaikan sebuah pesan yang sangat menyentuh, seakan belum pernah ada pesan ahli ilmu yang lebih menyentuh dari itu. Beliau t mengatakan, “Renungilah hikmah Allâh Azza wa Jalla yang telah memilih para raja, penguasa dan pelindung umat manusia berdasarkan perbuatan rakyatnya, bahkan seakan perbuatan rakyat tergambar dalam prilaku pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat istiqamah dan lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka juga akan berbuat zalim pula. Jika menyebar tindakan penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula pemimpin mereka. Jika rakyat bakhil dan tidak menunaikan hak-hak Allâh Azza wa Jalla yang ada pada mereka, maka para pemimpin juga akan bakhil dan tidak menunaikan hak-hak rakyat yang ada pada mereka. Jika dalam bermuamalah, rakyat mengambil sesuatu yang bukan haknya dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka juga akan mengambil sesuatu yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan berbagai beban tugas yang berat. Semua yang diambil oleh rakyat dari orang-orang lemah maka akan diambil paksa oleh para pemimpin dari mereka. Jadi (karakter) para penguasa itu tampak jelas pada prilaku rakyatnya.

Jelas bukan hikmah ilahiyah, mengangkat penguasa bagi orang jahat dan buruk perangainya kecuali dari orang yang sama dengan mereka.

Ketika masa-masa awal Islam berisi generasi terbaik, maka demikian pula pemimpin-pemimpin kala itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga mulai rusak. Jelas tidak sejalan dengan hikmah Allâh, (jika) pada zaman ini kita dipimpin oleh pemimpin yang seperti Mu’âwiyah dan Umar bin Abdul Azis rahimahullah, apalagi dipimpin oleh pemimpin sekelas Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu. Akan tetapi pemimpin kita itu sesuai dengan kondisi kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan sebab akibat dan tuntunan hikmah Allâh Azza wa Jalla .

Orang yang punya kecerdasan, apabila merenungkan masalah ini, maka dia akan menemukan bahwa hikmah ilahiyah itu senantiasa berjalan seiring dengan qadha’ dan qadar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, begitulah pula dalam masalah penciptaan dan perintah agama. Jangan sampai Anda menduga dan menyangka bahwa ada diantara qadha dan taqdir Allâh yang tidak mengandung hikmah. Bahkan semua qadha dan qadar Allâh itu terjadi sesuai dengan hikmah dan kebenaran yang paling sempurna. Tetapi, karena keterbatasan dan kelemahan akal manusia, sehingga mereka tidak sanggup memahaminya, sebagaimana mata kelelawar karena lemahnya ia tidak sanggup melihat sinar matahari. Akal-akal yang lemah ini, apabila berjumpa dengan kebatilan, akan menerima dan menyebarkannya, sebagaimana kelelawar yang terbang dan pergi saat kegelapan malam telah datang.

Cahaya siang menyilaukan pandang kelelawar
Pantas jika ia ditemani oleh gelap malam yang gulita[21].

Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan jika kezhaliman penguasa Muslim di atasi dengan cara pemberotakan dan perlawanan, bahkan agama Islam yang mulia ini senantiasa menyerukan untuk taat selama ia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika ia memerintahkan kepada kemaksiatan maka rakyat tidak disyari’atkan untuk mentaatinya, sebagaimana tidak disyari’atkan untuk memberontak dan melawannya meskipun penguasa tersebut tergolong orang jahat.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمِانِ إِنْسِ قَالَ : قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ – يَارَسُوْلَ اللهِ- إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ ، وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ، وَأَخَذَ مَالَكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِع

Nanti setelahku, akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan berbadan manusia.” Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkan zaman seperti itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dengarlah dan ta’atlah kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu.Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.[22]

Muhammad Haqqiy mengatakan ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. [An-Nisa’/4:59]

Dia mengatakan, “Ketahuilah bahwa para pemimpin itu sesuai dengan perbuatan para rakyatnya, baik dan buruknya. Diriwayatkan bahwa ada yang mengatakan kepada al-Hajjâj bin Yûsuf, “Kenapa kamu tidak berbuat adil sebagaimana Umar padahal engkau mendapati pemerintahan beliau Radhiyallahu anhu? Apakah engkau tidak melihat keadilan dan kebaikannya?’ Ia menjawab, ‘Jadilah kalian seperti Abu Dzar Radhiyallahu anhu , maka aku akan seperti Umar.”

Jika dalam kondisi seperti di atas tidak disyari’atkan memberontak lalu bagaimana dengan keadaan kita?

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Silsilah ad-Dhâ’ifah karya Syaikh Al-Albâni (320)
[2] Majmû’al-Fatâwâ (16/337)
[3]Majmû’al-Fatâwâ (16/337)
[4] Kasyfu al-Khafâ 1/148)
[5] Ad-Durru al-Mantsûr milik as-Suyuthi (3/358)
[6] Sirâjul Mulûk (2/467)
[7] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim (6/30), dan Baihaqi dalam Syu’abul Imân (7389), dan Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Wârid fil Fitan (299)
[8] HR Muslim (1819)
[9] Mirqatul Mafâtih Syarh Misykâtul Misbâh (11/131
[10] Faidhul Qadîr (1/265)
[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Uqûbât, no. 52 dengan sanad shahih dan dalam satu riwayat dalam Thabaqât Ibnu Sa’ad, 7/164 dan dalam kitab Jumal min Ansâbil Asyrâf, Bilâdzri (7/394) dengan sanad yang shahih
[12] Dinukilkan dalam kitab Thabaqât Ibnu Sa’ad (7/164), dan dalam kita Jumal min Ansâbil Asyrâf karya Bilâdzri (7/394) dengan sanad yang shahih
[13] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad yang shahih
[14] Terdapat dalam kitab as-Siyar karya ad-Dzahabi (4/343), dishahihkan oleh Imam al-Albâni.
[15] Lihatlah tentang ini dengan sanad shahih dari Thâwus pada kitab al-Amâli fi Atsâri Shahâbah, Abdurrazaq; kitab al-Imân, karya Ibnu Abi Syaibah; at-Thabaqat, ibnu Sa’ad; Syarhu Ushul I’tiqad, al-Lalika’i.
[16] Dinukilkan oleh ad-Dani dalam as-Sunanul Wâridah fil Fitan (300),dan Ibnu ‘Asakir dalam Târîkh Dimasyqa (39/477)
[17] Dinukilkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab (7390)
[18] Ad-Dâ’ wad Dawâ (75)
[19] Badâ’ius Sulûk Fi Thabâ’iul Mulûk (1/235)
[20] Khutbah yang kesepuluh dalam Kitab Dhiyâ’ul Lâmi’
[21] Miftâh Dâris Sa’âdah (1/253)
[22] HR. Muslim  (1847)

Kenapa Takut Kepada Islam

KENAPA TAKUT KEPADA ISLAM

Oleh
Syaikh Shalih bin Muhammad Aalu Thalib

Marilah kita benar-benar bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan berpegang-teguh sekuat-kuatnya dengan agama Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya takwa; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam [Ali Imrân/3:102]

Marilah kita bertakwa kepada-Nya; Kita gantungkan harapan kita kepada-Nya; hendaklah kita benar-benar merasa takut kepada-Nya. Orang yang takut kepada Allâh Azza wa Jalla bukanlah orang yang memeras air matanya, namun sejatinya orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang meninggalkan syahwat dan perbuatan yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla, padahal dia mampu melakukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua syurga. [ar-Rahman/55:46]

Wahai hamba-hamba Allah!
Dalam sebuah hadits yang mengisahkan tentang baiat Aqabah, saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiat orang-orang Anshar agar membantu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terdapat kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Orang yang pertama kali berbaiat kepada Rasûlullâh adalah Bara’ bin Ma’rûr Radhiyallahu anhu , kemudian diikuti oleh orang-orang Anshar lainnya. Ketika kami berbaiat kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami mendengar teriakan syaitan di bukit Aqabah dengan suara yang sangat keras sekali. Syaitan berkata, ‘Wahai para penghuni tenda! Apakah tindakan yang akan kalian lakukan terhadap orang tercela (maksudnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan orang-orang murtad yang bersamanya, mereka telah sepakat untuk memerangi kalian!”[HR. Ahmad dan lainnya]

Inilah teriakan pertama yang disuarakan oleh syaitan dari kalangan jin untuk menakuti-nakuti manusia dari Islam. Dia menggambarkan bahwa kelahiran Islam ini adalah untuk memerangi umat manusia. Tindakan provokatif syaitan yang dilakukan berabad-abad tahun yang silam ini rupanya masih diwarisi oleh orang-orang yang tidak tahu tentang Islam atau memang pura-pura tidak tahu.

Para politikus dan awak media yang anti Islam tak pernah berhenti menyuarakan dan memberikan gambaran bahwa Islam adalah ajaran permusuhan, sementara Barat adalah budaya yang penuh toleran.

Seandainya mereka mau melihat dengan adil dan obyektif, pasti mereka akan melihat nilai-nilai yang paling sempurna dan contoh-contoh terbaik dalam penegakan keadilan dan perwujudan toleransi ada di dalam pokok-pokok ajaran Islam.

Sesungguhnya kebohongan ini, yaitu ketakutan terhadap Islam ini, memiliki dampak negatif bagi kaum Muslim dan non Muslim. Kebohongan ini merusak hubungan kepercayaan dan tolong-menolong, menghancurkan hubungan antar negara, menyuburkan benih-benih permusuhan dan terorisme, mengancam hak-hak persamaan dan berbagai dampak buruk lainnya, yang pada akhirnya dapat mengaburkan kebenaran yang datang dari Allâh Azza wa Jalla.

Bahkan pengaruh buruk dari upaya menakuti-nakuti masyarakat dari Islam sampai bisa membangkitkan kebencian-kebencian berbau agama dan mendorong sebagian orang untuk berani mengotori dan melecehkan hal-hal yang disucikan dalam Islam, seperti kehormatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’an. Bahkan sampai terdorong untuk membuat peraturan-peraturan untuk menentang jilbab, serta memanfaatkan media informasi untuk menjelekkan kaum Muslimin sebagai pelaku teror. Sampai sekarang masih terjadi, penisbatan seseorang atau suatu bangsa kepada Islam menjadi penyebab kegagalan urusannya, tersia-siakan hak-haknya, dan tertolak keinginanya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Ketika kami menetapkan hal-hal di atas tidaklah kami memutuskan untuk mengerahkan pasukan atau menambah luka semakin menganga. Akan tetapi ini kami lakukan tidak lain adalah agar masyarakat dunia mengetahui ketidak sadaran mereka tentang hakikat sejarah dan peristiwa yang terjadi. Sungguh kebanyakan mereka mengambil sikap yang salah, sikap yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang mereka banggakan.

Kenapa takut kepada Islam?
Orang-orang Muslim tidak dituntut tanggung jawab tentang terjadinya perang dunia pertama yang menewaskan tujuh belas juta orang, dan perang dunia kedua yang menewaskan lima-puluh juta orang selain orang-orang yang terluka.

Orang-orang Muslim tidak pernah menjajah dunia, tidak pernah memperbudak bangsa-bangsa di dunia untuk menghisap kekayaan mereka demi kesenangan penjajah.

Dalam sejarah yang sangat panjang, Islam tidak pernah membuat lembaga pengadilan untuk memeriksa lalu memaksa orang memeluk agama Islam. Sebaliknya, sejak lima belas abad yang lalu sejak Islam berkuasa, senantiasa ada di dalam wilayahnya orang-orang non Muslim, senantiasa ada tempat-tempat peribadahan mereka, yang tidak pernah diganggu oleh seorangpun. Orang-orang yang minoritas itu masih hidup bersama dengan orang-orang Muslim di negara Islam sampai detik ini.

Lihatlah sikap-sikap dunia saat ini, mereka lebih mementingkan kemaslahatan yang sempit dari pada pondasi-pondasi dan nilai-nilai kehidupan yang sangat prinsip. Bagaimana mereka melegalkan tindakan berutal mereka untuk menghabisi rakyat sendiri dengan alasan karena agama mereka Islam, atau karena takut kaum Muslimin memperoleh hak-hak kemanusiaan. Sungguh sikap itu adalah sikap yang memalukan, menghabisi rakyat karena mereka adalah umat Islam atau karena mereka ahlus sunnah ! Sementara dunia tidak melaksanakan kewajibannya yang berkaitan dengan negara-negara lain dan berkaitan dengan akhlaq (norma).

Apakah ini nilai-nilai kehidupan ? Apakah ini prinsip-prinsip kehidupan yang baik ? Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan petunjukNya kepada kita semua.

Kenapa takut kepada Islam?
Padahal Islam telah menghapuskan sistem kasta dan rasialisme di masyarakat. Sementara negara Barat paling besar dan paling kuat di zaman ini, usia penghapusan sistem kasta dan rasialisme belum mencapai lima puluh tahun. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allâh Azza wa Jalla ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. [al-Hujurat/49: 13]

Kenapa takut kepada Islam?
Padahal hak-hak manusia pertama kali diperhatikan ketika manusia berada di bawah bendara Islam. Islam adalah aturan yang paling kuat dengan jelas dan tegas membasmi kezhaliman dan sikap melampaui batas.

Kenapa takut kepada Islam?
Padahal Islam menjaga hak hewan ; tidak membebani di atas kemampuannya, tidak membiarkannya kelaparan, tidak memisahkan kambing dengan anaknya, dan tidak membolehkan mengambil anak burung dari sarangnya.

Kenapa Islam digambarkan sebagai agama yang membawa benih-benih kekerasan dan kefanatikan. Sementara Islam mengajarkan toleransi dan akhlak yang terpuji. Bahkan di dalam al-Quran terdapat penyebutan rahmat, kasih-sayang, pemaafan, pengampunan, dan kesabaran lebih dari tujuh ratus kali, selain hadit-hadits Nabi yang menyebutkan hal-hal tersebut.

Wahai hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla !
Sesungguhnya perbuatan menakuti-nakuti orang dari agama Islam adalah perbuatan orang-orang yang sengaja ingin menghalangi manusia dari agama Islam, mempermainkan hakikat, nilai, syiar, dan syariat Islam ; dengan tujuan politik dan kefanatikan dan hawa nafsu yang menjerumuskan.

Seandainya manusia dibiarkan tanpa diprovokasi untuk takut kepada Islam pastilah fitrah, hati, dan akal mereka tidak akan takut kepada Islam.

Sesungguhnya Islam bukanlah agama bangsa Arab saja, dan kebaikannya tidaklah khusus dan tidak terbatas hanya bagi orang-orang Muslim. Akan tetapi Islam adalah agama rahmat bagi seluruh manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-Anbiya/21: 107]

Orang-orang Muslim wajib berpegang-teguh dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama Islam. Mereka harus menjelaskan kepada manusia hakikat agama Islam dengan penampilan dan perbuatan mereka dengan ikhlas, tidak hanya dengan slogan dan dakwaan semata. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan terhadap keselamatan agama Islam; karena Allâh Azza wa Jalla yang menjaga agama-Nya. Tetapi yang dikhawatirkan adalah orang yang menyia-nyiakan, meremehkan, menghalangi, dan berpaling dari agama Islam.

(Diringkas dari khutbah Jum’ah dengan judul Limadza al-Khauf minal Islam? Oleh syaikh Shalih bin Muhammad Aalu Thalib, Imam dan Khathib Masjidil Haram)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Islam Adalah Agama yang Mudah

ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH[1]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” [Al-Anbiyaa’/21:107]

Allah menurunkan Al-Qur-an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi” [Thaahaa/20:2-4]

Sebagai contoh tentang kemudahan Islam:

  1. Menuntut ilmu syar’i, belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf adalah mudah. Kita dapat belajar setiap hari atau sepekan dua kali, di sela-sela waktu kita yang sangat luang.
  2. Mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya adalah mudah.
  3. Melaksanakan Sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mudah, seperti memanjangkan jenggot, memakai pakaian di atas mata kaki, dan lainnya.
  4. Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang yang khusyu’ dalam shalat, paling lama 10 menit, dalam hitungan hari ia melaksanakan shalatnya dalam sehari hanya 50 menit dalam waktu 24 x 60 menit.
  5. Orang sakit wajib shalat, boleh sambil duduk atau berbaring jika tidak mampu berdiri.
  6. Jika tidak ada air (untuk bersuci), maka dibolehkan tayammum.
  7. Jika terkena najis, hanya dicuci bagian yang terkena najis, (agama lain harus menggunting pakaian tersebut dan dibuang).
  8. Musafir disunnahkan mengqashar (meringkas) shalat dan boleh menjama’ (menggabung) dua shalat apabila dibutuhkan, seperti shalat Zhuhur dengan ‘Ashar, dan Maghrib dengan ‘Isya’.
  9. Seluruh permukaan bumi ini dijadikan untuk tempat shalat dan boleh dipakai untuk bersuci (tayammum).
  10. Puasa hanya wajib selama satu bulan, yaitu pada bulan Ramadlan setahun sekali.
  11. Orang sakit dan musafir boleh tidak berpuasa asal ia mengganti puasa pada hari yang lain, demikian juga orang yang nifas dan haidh.
  12. Orang yang sudah tua renta, perempuan hamil dan menyusui apabila tidak mampu boleh tidak berpuasa, dengan menggantinya dalam bentuk fidyah.[2]
  13. Zakat hanya wajib dikeluarkan sekali setahun, bila sudah sampai nishab dan haul.
  14. Haji hanya wajib sekali seumur hidup. Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh al-Aqra’ bin Habis tentang berapa kali haji harus ditunaikan, apakah harus setiap tahun ataukah hanya cukup sekali seumur hidup? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

بَلْ مَرَّةً وَاحِدَةً فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ.

Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah.”[3]

  1. Memakai jilbab mudah dan tidak berat bagi muslimah sesuai dengan syari’at Islam. Untuk masalah jilbab silahkan lihat kitab Jilbab Mar’ah Muslimah oleh Syaikh Imam Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah.
  2. Qishash (balas bunuh) hanya untuk orang yang membunuh orang lain dengan sengaja[4]

Allah Azza wa Jalla menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [Al-Baqarah/2:185]

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah/5:6]

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama …” [Al-Hajj/22:78]

Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah Azza wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [Ar-Ruum/30:30]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَامِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi[5]

Tidak mungkin, Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan, Mahasuci Allah dari sifat yang demikian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” [Al-Baqarah/2:286]

Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”[6]

Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena:

  1. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pema-haman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.
  2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
  3. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
  4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah Azza wa Jalla akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.

Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan beban dan belenggu-belenggu yang ada pada manusia, sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur-an:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil yang ada di pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membebaskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur-an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-A’raaf/7:157]

Dalam syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi beban-beban berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Di antara beban berat itu ialah:

  1. Saling membunuh penyembah sapi.[7]
  2. Mewajibkan qishas pada pembunuhan baik yang disengaja ataupun tidak, tanpa memperbolehkan membayar diyat.
  3. Memotong anggota badan yang melakukan kesalahan.
  4. Melarang makan dan tidur bersama istrinya yang sedang haidh.
  5. Membuang atau menggunting kain yang terkena najis.

Kemudian Islam datang menjelaskan dengan mudah, seperti pakaian yang terkena najis wajib dicuci namun tidak digunting[8]

Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), baik tentang ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.

Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua larangan dalam Islam mengandung banyak kemudharatan di dalamnya. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا.

Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.[9]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
_______
Footnote
[1] Pembahasan ini diambil dari Kamaluddin al-Islami oleh Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim (hal. 42) dan Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh DR. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah, cet. Darul Mathbu’aat al-Haditsah, Jeddah th. 1406H, dan kitab-kitab lainnya.
[2] Lihat Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabiil (IV/17-25) juga Shifat Shaumin Nabiy (hal. 80-85) oleh Syaikh Salim al-Hilaly dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, cet. Maktabah al-Islamiyyah, th. 1412H.
[3] HR. Abu Dawud (no. 1721), al-Hakim (II/293), an-Nasa-i (V/111), dan Ibnu Majah (no. 2886), lafazh ini milik Abu Dawud
[4] Lihat QS. Al-Baqarah/2:178-179.
[5] HR. Al-Bukhari (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[6] Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[7] Lihat surat al-Baqarah ayat 54.
[8] Lihat Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah.
[9] HR. Al-Bukhari (no. 69, 6125), Muslim (no. 1734) dan Ahmad (III/131) dari Shahabat Anas z. Lafazh ini milik al-Bukhari

Balasan Serupa Dengan Amalan

BALASAN SERUPA DENGAN AMALAN[1]

Perlu kita tahu, bahwa balasan adalah sejenis dan setipe dengan amalan. Bila kita beramal shalih, maka balasannya pun juga setipe dengannya; yaitu kebaikan dunia, juga akhirat. Allâh berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/ 16: 97]

Juga firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.[Thaha/ 20: 124]

Allâh membalas amal shalih dengan kehidupan yang baik. Sedangkan orang yang berpaling dari mengingat-Nya, maka iapun mendapatkan kehidupan yang sempit. Ia akan merasa terhimpit sebesar ia berpaling dari-Nya. Meski ia bergelimang nikmat di dunia, namun hatinya terasa gersang, penuh siksa mendera. Karena itulah ia mencari jalan untuk meringankan derita batinnya. Maka khamr pun menjadi pelariannya; narkoba menjadi pelampiasannya, atau nyanyian, dan sejenisnya. Ia tidak merasa nyaman dan tenang; tidak dengan hartanya, anak, atau keluarganya. Ini semua adalah siksa yang disegerakan di dunia. Bila ia tidak bertaubat, siksa akhirat yang lebih dahsyat pun menunggunya.

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras, dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allâh. [Ar-Rad/13: 34]

Allâh berfirman:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ﴿١٣﴾ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [Al-Infithâr/82: 13-14]

Mengenai firman di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: Janganlah engkau sangka, bahwa firman tersebut khusus untuk hari akhirat saja. Bahkan kaum Muttaqin berada dalam kenikmatan di tiga fase negeri kehidupan; yakni negeri dunia, di alam kubur, dan hari akhirat; sedangkan para pendosa berada dalam siksa di tiga negeri tersebut.

Maksiat memang menorehkan dampak dan pengaruh buruk. Di antara efek maksiat adalah bahwa itu menyebabkan berbagai kerusakan dalam banyak hal; termasuk merusak air, udara, tanaman, pemukiman dan lain sebagainya. Setiap kali manusia melakukan dosa, Allâh pun memberikan balasan kepada mereka.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh menimpakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Rum/ 30: 41]

Sekiranya Allâh menimpakan kepada mereka akibat dari semua dosa mereka, pastilah Allâh tidak akan menyisakan apapun di muka bumi ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Di antara efek dari maksiat adalah bahwa maksiat memperpendek umur dan menghilangkan keberakahan umur. Sebagaimana umur bisa bertambah dengan perbuatan kebaikan, iapun berkurang karena dosa. Beliau menyebutkan bahwa ulama berselisih tentang penafsirannya dalam dua pendapat:

  1. Bahwa maksiat mengurangi umur dalam artian menghilangkan keberkahannya.
  2. Artinya bahwa maksiat mengurangi jatah waktu umurnya. Sebagaimana usia bisa bertambah karena sebab tertentu, demikian pula ia berkurang karena sebab tertentu.

Efek dan pengaruh dari maksiat banyaklah ragamnya. Bisa menimpa alam sekitar, atau melayangnya banyak nyawa, atau terusirnya mereka dari negeri, juga munculnya penyakit yang membuat para ahli medis tak berdaya. Padahal tidaklah Allâh menurunkan penyakit, melainkan Dia pun menurunkan penawarnya. Akan tetapi ketika manusia membangkang terhadap Allâh, mereka pun tidak bisa mengetahui obatnya; sebagai siksaan terhadap mereka.

Dan di antara hukuman atas maksiat adalah bahwa mereka ditindas dan dihinakan oleh kaum lalim lagi sewenang-wenang. Berbagai tekanan melanda mereka; dan hidup mereka pun menjadi sengsara penuh hina; atau dengan terjadinya berbagai gejolak dan kekacauan, sehingga stabilitas dan keamanan pun hilang. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh; karena itu Allâh merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. [An-Nahl/ 16: 112]

Sungguh, betapa merebak dan menyeruak maksiat dan dosa dewasa ini. Di pasar-pasar, di perkantoran, bahkan di rumah. Berbagai hal yang wajib, ditinggalkan; yang haram, diterjang, kemungkaran pun merajalela. Banyak rumah yang lengang dari shalat. Padahal shalat adalah tiang penyangga Islam; yang membedakan antara kekufuran dan keimanan. Atau sebagian penghuni rumah melakukan shalat, namun yang lain tidak. Yang shalat pun tidak mengingkari yang tidak shalat. Para kaum wanita bertabarruj; mengumbar perhiasan dan auratnya di luar rumah. Mereka berikhtilath bercampur baur dengan kaum lelaki; tanpa ada rasa malu. Ada pula yang bermudah-mudah, sehingga membiarkan lelaki asing bersama istrinya. Atau membiarkan keluarganya mengkonsumsi tontonan cabul, yang merusak akhlak dan mengundang perbuaan keji. Atau membiarkan keluarganya menikmati kaset-kaset nyanyian cabul, atau percintaan, dan yang semacamnya. Ini semua adalah hal yang memporak-porandakan akhlak, sekaligus mengundang kehinaan.

Bila kita layangkan pandang pada hal lain, kita dapati hal-hal yang memiriskan hati. Berbagai tindakan penipuan, makar, khianat, memakan riba, suap, perjudian, mengkhianati amanat; ini semua dan hal lain yang tidak bisa disebut satu-satu, semuanya begitu menjamur di tengah kita. Ini semua adalah peringatan akan datangnya bahaya, bila kaum Muslimin tidak tanggap dalam mengupayakan perbaikan-perbaikan. Masing-masing melakukan perbaikan sesuai kapasitasnya dan kemampuannya. Bila tidak begitu, maka sekedar mendeteksi tindakan maksiat dan saling melempar cela atas hal tersebut, itu tidaklah bermanfaat apapun. Dan ketahuilah, bila siksa telah menimpa, maka itu akan menimpa semuanya; termasuk mereka yang tidak mencegah kemungkaran, meski mereka tidak melanggarnya.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. [Al-A’raf/ 7: 165]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Disarikan dari Al-Khuthab al-Minbariyyah fi al-Munasabat al-Ashriyyah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah hlm. 131.

Syariat Allâh Azza Wa Jalla Wajib Dicintai, Tidak Dibenci

SYARIAT ALLAH AZZA WA JALLA WAJIB DICINTAI, TIDAK DIBENCI

Diantara syarat diterimanya syahadat seseorang adalah dia siap menerima dan mencintai yang menjadi konesekuensi dari syahadat yang diikrarkan.

Oleh karena itu, seorang Mukmin wajib mencintai semua yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [An-Nûr/24:51]

Mereka tidak ada rasa berat hati dalam menerima hukum Allâh Azza wa Jalla dan hukum yang datang dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu! Mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An-Nisâ’/4:65]

Mereka tidak hanya patuh secara zhahir saja akan tetapi juga tunduk patuh secara bathin. Mereka mencintai hukum Allâh Azza wa Jalla dan hukum rasul-Nya, lahir ataupun bathin.

Mereka tidak menentang hukum Allâh Azza wa Jalla dan hukum rasul-Nya karena mereka tahu dan yakin bahwa itu adalah haq (benar) dan adil serta pasti akan membuahkan hasil yang baik, di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak lebih mengutamakan ataupun mendahulukan sesuatu apapun di atas hukum Allâh Azza wa Jalla dan rasul-Nya, walaupun hukum itu tidak sejalan dengan hawa nafsu dan keinginan mereka.

Itulah diantara sikap orang-orang beriman terhadap semua yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Mereka menerima dan mencintainya dengan sepenuh hati, meskipun belum mampu menunaikannya dengan alasan-alasan yang dibenarkan dalam syariat. Tidak ada rasa benci dalam hati mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dan senantiasa menjaga hati agar tidak dihinggapi rasa benci terhadap syariat Allâh Azza wa Jalla . Karena mereka tahu, orang yang membenci apa yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya terancam bahaya yang sangat besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allâh (al-Qur’an) lalu Allâh  menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.[Muhammad/47:9]

Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam ayat di atas, bahwa amalan mereka dihapus oleh Allâh Azza wa Jalla sebagai akibat dari kebencian mereka terhadap apa yang Allâh Azza wa Jalla turunkan.

Kebencian terhadap wahyu Allâh Azza wa Jalla bisa menyebabkan mereka murtad, keluar dari agama Islam, meskipun mereka masih mengamalkan ajaran yang mereka benci itu, seperti prilaku orang-oang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allâh  telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.[n-Nisâ’/04:61]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasûlullâh memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.[Al-Munâfiqûn/63:5]

Inilah akibat terburuk yang akan menimpa orang-orang yang membenci syariat Allâh Azza wa Jalla .

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memelihara hati kita agar tidak dihinggapi rasa benci sedikitpun terhadap apapun yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Meniti As-Shirât Al-Mustaqîm

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah/1:6-7]

Itulah diantara permohonan yang selalu diucapkan oleh setiap Muslim yang mendirikan shalat. Ucapan itu diulangi dalam setiap raka’at shalatnya. Jika dalam sehari semalam diwajibkan bagi setiap Muslim untuk melakukan shalat sebanyak 17 raka’at, berarti dia juga memanjatkan permohonan itu sebanyak 17 kali sehari semalam. Sebuah permohonan yang tidak bisa dibilang sedikit. Tahukah kita, apa yang disebut as-shirâtul mustaqîm (jalan yang lurus itu)? Bagaimanakah caranya supaya menjadi orang yang berjalan di atas yang lurus tersebut? Apa saja yang bisa menjauhkan atau membelokkan orang dari jalan itu?

Itulah beberapa point yang kita uraikan dalam pembahasan kali ini.

1. Petunjuk Kearah Jalan Yang Lurus Itu Merupakan Anugerah Dari Allâh Azza Wa Jalla Semata
Allâh Azza wa Jalla yang maha pemberi petunjuk akan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya pula. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allâh menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). [Yunus/10:25]

Dalam ayat yang lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka Sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa Karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allâh Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. [Fathir/35:8]

Jadi hidayah itu hanya berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dia memberikannya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dari sini, kita seharusnya sudah menyadari, betapa kita sangat butuh untuk terus-menerus memohon kepada Allâh Azza wa Jalla semata agar Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk bisa berjalan di atas as-shirâtul mustaqîm (jalan yang lurus tersebut).

Dalam doa qunut, kita diajarkan untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ

Wahai Allâh! Berilah petunjuk kepadaku pada orang-orang yangtelah Engkau beri petunjuk[1]

Dalam hadits Ali Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Wahai Allâh! Aku memohon petunjuk dan kebenaran kepada-Mu[2]

Dalam hadits al-Barra’ Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat perang Khandak:

اللَّهُمَّ لَوْلا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا

Wahai Allâh! Kalau bukan karena Engkau, maka pasti kami tidak mendapatkan petunjuk, tidak bersedekah dan juga tidak bisa shalat.[3]

Hidayah itu hanya berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki-Nya menuju jalan yang lurus. Jika Allâh Azza wa Jalla tidak memberikan petunjuk kepada seseorang, maka bisa dipastikan dia akan tersesat dalam kehidupan dunia ini. Karena kehidupan dunia ini penuh dengan fitnah dan berbagai hal yang bisa memalingkan seseorang dari jalan yang lurus. Diantaranya syaitan, teman sejawat yang buruk juga nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Oleh karena itu ada ulama yang mengatakan, “Bukan suatu yang mengherankan tentang orang yang binasa, bagaimana dia bisa binasa?! Akan tetapi yang mengherankan yaitu tentang orang yang selamat, bagaimana dia bisa selamat?” Karena penghalang-penghalang itu banyak dan tidak ada yang bisa menyelamatkan dari ketentuan Allâh kecuali orang dirahmati Allâh Azza wa Jalla. hidayah (petunjuk) adalah karunia dari Allâh Azza wa Jalla . dan hendaknya kita menyadari bahwa kita sangat membutuhkan hidayah Allâh Azza wa Jalla itu agar bisa meniti jalan yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  HR. Abu Daud, no. 1425. hadits ini dinyatakan Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Sunan Abi Daud, 1/392
[2] HR. Muslim, no. 2725
[3] HR. Al-Bukhâri, no. 3034 dan Muslim, no. 1804

Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

2. Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?
As-Shirât al-mustaqîm (jalan lurus) adalah jalan yang tidak berkelok, tidak miring, tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

Saya telah tinggalkan kalian di atas al-baidha’ (agama dan hujjah yang sangat jelas), malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya sepeninggalku kecuali dia akan binasa[1]

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah ditanya, “Apa itu as-shirât al-mustaqîm?” Beliau radhiyallahu anhu menjawab, “Yaitu jalan yang kami ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipangkalnya dan jalan tersebut berujung di surga, disamping kiri dan kanan jalan tersebut terdapat banyak jalan-jalan kecil.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan ini kepada para Shahabatnya dengan menggambarkan garis satu garis lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar dua buah garis dari arah sebelah kanan (garis yang pertama) dan menggambara dua garis lainnya dari arah sebelah kiri (garis yang pertama)

Kemudian setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas garis hitam yang pertama dan mengatakan, “Ini adalah jalan Allâh Azza wa Jalla .” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia! Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. [Al-An’am/6:153][2] [HR. Ibnu Majah]

Karena syaitan selalu duduk menghalangi para hamba agar tidak meniti jalan yang lurus itu lalu menggiring mereka agar menyimpang kekiri atau kekanan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7:16-17]

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sabrah bin Abi Fakih:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

Sesungguhnya syaitan duduk menghalangi semua jalan yang ditempuh bani Adam[3]

Maksudnya, di setiap jalan yang ditempuh oleh bani Adam mesti ada syaitan yang duduk untuk menghalangi dan menyimpangkan mereka dari kebenaran dan petunjuk. Allâh Azza wa Jalla menceritakan sumpah syaitan:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7: 17]

Akhirnya, kebanyakan manusia mati dalam keadaan kufur kepada Allâh Azza wa Jalla  atau tidak bersyukur kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. [Yusuf/12:103]

Ada juga sebuah permisalan menakjubkan laiinya yang dibuat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menjelaskan shiratullah al-mustaqim (jalan Allâh Azza wa Jalla yang lurus) itu.

Dari Nawas bin Sam’an al-Anshâri Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا! وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ

وَالصِّرَاطُ: الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Allâh Azza wa Jalla membuat permisalan sebuah jalan yang lurus, di samping kiri kanannya ada dua pagar dan pada kedua dinding pagar tersebut terdapat banyak pintu yang terbuka, (namun) pada pintu-pintu itu terdapat tirai penutup yang terjulur. Di pintu masuk jalan yang lurus tersebut ada penyeru yang mengatakan, “Wahai manusia! Masuklah kalian semua ke jalan itu dan janganlah kalian menyimpang!” Ada juga penyeru lain di atas jalan tersebut. Jika ada orang yang hendak membuka tirai penutup (salah satu pintu pada dinding tembok) tersebut, sang penyeru itu akan mengatakan, “Celaka kamu! Janganlah kamu membukanya! (karena) jika kamu membukanya, kamu pasti akan masuk ke pintu itu.”

Jalan itu adalah Islam, kedua pagar itu adalah batasan-batasan (aturan-aturan) Allâh, pintu-pintu yang terbuka itu adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , penyeru yang berada dipintu masuk jalan itu adalah kitab Allâh Azza wa Jalla sementara para penyeru yang berada di atas jalan itu adalah peringatan Allâh Azza wa Jalla yang berada di hati setiap kaum Muslim[4]

Pengingat di hati setiap Muslim itu, Allâh jadikan sebagai pengingat yang bisa mencegahnya dari perbuatan haram. Pengingat di hati ini terkadang bisa rusak, jika manusia terus melakukan hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . sehingga akhirnya, dia tidak bisa lagi mengetahui yang ma’ruf dan tidak bisa lagi mengingkari yang mungkar, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Maksudnya, perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang telah mereka lakukan telah menutupi hati-hati mereka.

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ واسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وإِنْ عادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَه وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ الله تَعَالَى : كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Seorang hamba, jika dia melakukan sebuah kesalahan, maka di dalam hatinya diberi satu titik hitam. Jika dia menarik diri (berhenti dari perbuatan salah tersebut), lalu beristighfar dan bertaubat, maka hatinya akan dibuat berkilau lagi. Jika dia kembali berbuat dosa, maka titik hitam akan ditambah sehingga bisa menutup hatinya. Itulah rân yang disebutkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin/83:14]

Ini adalah sebuah permisalan yang mengagumkan dalam rangka menjelaskan maksud dari as-shirât al-mustaqîm, yang dijadikan sebagai gambaran kongkerit tentang Islam. Yaitu (digambarkan sebagai-red) sebuah jalan lurus yang pada kedua sisinya terdapat dua tembok (yang menggambarkan) batasan-batasan Allâh yaitu syari’at-syari’at yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada para hamba-Nya agar istiqamah berjalan di atasnya dan tidak melewati batasan-batasannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

Itulah hukum-hukum Allâh, maka janganlah kamu melanggarnya. [Al-Baqarah/2:229]

Sementara pintu-pintu yang ditutupi tirai itu akan menggiring orang yang memasukinya kearah hal-hal yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Itulah larangan Allâh, maka janganlah kamu mendekatinya! [Al-Baqarah/2:187]

Kata hudud pada ayat di atas maksdunya adalah hal-hal yang diharamkan, sedangkan maksud dari kata hudud pada ayat sebelumnya yaitu segala yang disyari’atkan, yang diizinkan atau yang diperbolehkan oleh Allâh Azza wa Jalla (maka di sini yang diperintahkan adalah) tidak melampaui batasan-batasan tersebut.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ

Pada pintu-pintu itu terdapat penutup yang terjurai

Maksudnya, pada pintu-pintu yang bisa menghantarkan kepada hal-hal yang diharamkan itu terdapat penutup yang terjurai, tidak bergembok dan tidak memiliki anak kunci. Ini mengisyaratkan bahwa untuk memasuki hal-hal yang diharamkan atau untuk melakukan hal-hal yang diharamkan tidak memerlukan waktu lama dan tidak memerlukan usaha besar.

Sebagaimana di dunia ini terdapat as-shirât al-mustaqîm yang harus ditapaki oleh para hamba Allâh Azza wa Jalla , maka demikian juga pada hari kiamat. Pada hari itu juga terdapat as-shirâth al-mustaqim yang dibentangkan di atas neraka Jahannam dan akan diminta kepada semua makhluk untuk berjalan di atasnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [Maryam/19:71-72]

Dan jalan menuju surga adalah jalan itu. Sebuah jalan yang lebih halus daripada sehelai rambut, yang terbentang di atas neraka Jahannam.  Api neraka itu berkobar-kobar di bawa jalan yang harus dilalui oleh manusia itu. Allâh Azza wa Jalla telah bersumpah dalam firman-Nya:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan pasti mendatangi neraka itu.[Maryam/19:70]

Jadi, semua orang pasti akan berjalan di atas jalan yang berada di atas neraka itu. Semua orang Islam yakin bahwa mereka akan melalui jalan itu namun mereka masih meragukan keselamatan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُو

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran/3:185]

Dia tidak tahu, apakah dia termasuk orang yang diselamatkan ataukah tidak? Oleh karena, menjadi kharusan bagi seorang hamba untuk terus berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm (jalan yang lurus di dunia-red) yaitu agama Allâh, agama Islam, serta tidak menyimpang kekiri maupun kekanan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allâh”, Kemudian mereka tetap istiqâmah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [Al-Ahqâf/46:13]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Dia tidak menyimpang dari jalan sebagaimana menyimpangnya musang.”

Maksudnya, mereka tetap teguh saat meniti as-shirât al-mustaqîm di dunia, sehingga membuahkan keteguhan buat mereka saat melewati as-shirât al-mustaqîm yang dibentangkan di atas api neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Ibnu Majah, no. 43. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah, no. 41
[2] HR. Ibnu Majah, no. 11. Hadits ini dihukumi shahih oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah, no. 11
[3]  HR. An-Nasa’i, no. 3134. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahîh Sunan an-Nasa’i, 2/381
[4]  HR. Ahmad, 4/182-183. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Zhilâlul Jannah fi Takhrîjis Sunnah, karya Ibnu Abi ‘Ashim, no. 19

Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus)

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

3. Halangan Dan Rintangan Dalam Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus)
Wahai orang yang menempuh jalan lurus ini! Seyogyanya Anda tahu bahwa di hadapan saudara ada rintangan yang siap menghalangi perjalanan saudara dan berupaya menghentikannya. Rintangan tersebut ada tiga yang di dalam surat al-Fâtihah (yang selalu kita baca-red) itu ada petunjuk yang agung dan penuh berkah tentang cara menyelamatkan diri dari ketiga rintangan tersebut. Para ahli ilmu juga sudah sering mengingatkan dan menasehati umat manusia agar berhati-hati supaya tidak terjatuh di dalamnya. Berdasarkan kadar bahayanya, rintangan-rintangan itu bisa diurutkan:

  1. Syirik, menyekutukan Allâh Azza wa Jalla
  2. Bid’ah
  3. Maksiat

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia mengatakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambar satu garis (lurus) untuk kami, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ini adalah jalan Allâh” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggmbar lagi beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya dan mengatakan, “Ini beberapa jalan tercerai berai, di atas setiap jalan ini ada syaitan yang menyeru dan mengajak kepada jalannya,” kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. [Al-An’am/6:153]

Jalan-jalan yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak keluar dari ketiga rintangan di atas. Maksudnya, diantara jalan itu ada yang menggiring umat manusia menuju perbuatan syirik, perbuatan menyekutukan Allâh; Diantara jalan-jalan itu ada yang mengantarkan setiap orang yang memasukinya kearah perbuatan bidah dalam agama Allâh Azza wa Jalla dan ada juga jalan yang mengarahkan setiap orang yang memasukinya kearah perbuatan maksiat dan dosa. Diantara ketiganya, pasti yang paling disukai dan yang paling diutamakan oleh syaitan adalah agar umat manusia memasuki jalan kesyirikan. Apabila syaitan tidak bisa menjerumuskan manusia dalam kesyirikan maka mereka berusaha menjerumuskannya dalam kebid’ahan, bila tidak berhasil bisa juga, maka syaitan akan menjerumuskan manusia dalam maksiat dan begitu selanjutnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan pada sebagian kitabnya bahwa yang sangat ingin dicapai oleh syaitan dalam menyesatkan manusia ada tujuh perkara. Kemudian beliau menyebutkannya secara berurutan satu persatu. Jika syaitan berhasil meraih tujuan yang paling besar (maka, itulah yang diinginkan, namun-red) jika tidak tercapai,  maka syaitan akan turun ketingkat berikutnya.

Pertama yang syaitan inginkan dari manusia adalah agar mereka menyekutukan Allâh. Apabila tidak berhasil, maka mereka ingin manusia melakukan perbuatan bid’ah karena bid’ah lebih dicintai syaitan dibandingkan maksiat. Karena pelaku kebid’ahan menyangka dirinya dalam kebaikan saat melakukan kebid’ahannya. Jika dikatakan kepada pelaku kebid’ahan, “Sungguh apa yang kamu lakukan itu adalah kesalahan, ” Maka dia tidak akan terima, karena dia memandang apa yang dia lakukan itu adalah kebenaran. Berbeda dengan orang yang berbuat maksiat jika dia diberi nasehat agar meninggalkan maksiatnya, dia akan merasa dirinya salah dan merasa berdosa, karena itu (terkadang) dia mengatakan, ‘Doakanlah agar aku diberi hidayah untuk bertaubat dan semoga Allâh  mengampuni dosa-dosaku.’ Ini berbeda dengan pelaku kebid’ahan apalagi ahli bid’ah, kecuali Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah dan melapangkan dadanya untuk menerima kebaikan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

Sesungguhnya Allâh  menutup taubat dari para pelaku kebid’ahan[1]

Perbuatan dosa terbagi menjadi dosa besar dan dosa kecil. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. [Al-Qamar/54:53]

Maksudnya tertulis atas hamba yang melakukannya dan dia akan melihatnya pada catatan amalnya pada hari kiamat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorangpun.[Al-Kahfi/18:49]

Jika syaitan tidak bisa menjerumuskan seorang hamba pada dosa besar, dia akan berupaya maksimal untuk menjerumuskannya dalam perbuatan dosa kecil. Jika tidak bisa menjerumuskannya dalam dosa kecil, dia akan berusaha menyibukkan para hamba dengan perkara-perkara mubah supaya si hamba tadi tidak bisa melakukan berbagai amal ketaatan dan ibadah. Jika ini tidak bisa berhasil juga, dia berpindah ke derajat keenam yaitu menyibukkannya dengan perkara yang tidak utama supaya amalan-amalan yang lebih utama luput darinya. Karena agama Allâh  dan ketaatan yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla bertingkat-tingkat keutamaannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ: أَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

Iman ada tujuh puluh cabang lebih dan yang paling utamanya adalah ucapan “Lâ ilâha illallâh”  dan paling rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan[2]

Jika syaitan tidak berhasil juga menjerumuskan menusia dengan perkara yang keenam, dia akan berpindah kepada perkara yang ketujuh dan ini tidak ada yang bisa selamat darinya dan seandainya ada orang yang bisa selamat tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga selamat darinya, (akan tetapi Beliau pun tetap terkena-red). Urutan ketujuh itu adalah syaitan menggunakan bala tentaranya untuk mengganggu dan menyakiti hamba Allâh. Jika syaitan telah merasa tidak mungkin bisa menyimpangkan hamba dari kebaikan, maka dia akan mendatangkan bala tentaranya untuk menyakiti hamba itu serta menghalanginya dengan berbagai kesulitan di jalan Allâh. Oleh karena itu, kaum Mukminin diperintahkan untuk saling menasehati dalam kesabaran:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.[Al-Ashr/103:3]

dan firman-Nya :

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.[Al-Balad/90:17]

Karena gangguan itu sesuai dengan kadar keimanan, semakin kuat keimanan seseorang, maka ganguannya pun akan semakin besar.

Inilah tahapan-tahapan syaitan dalam menjerat dan menjerumuskan seorang hamba. Bacalah tentang ini dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).[Al-A’raf/7:16-17]

Syaitan itu musuh yang bisa melihat kita sementara kita tidak bisa melihatnya, musuh yang sangat sukar (dihadapi). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ 

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. [Al- A’raf/7:27]

Dia menghadangmu di jalan Allâh yang lurus untuk menyesatkan dan menghalangi serta menjauhkanmu darinya lalu menjerumuskanmu hingga terjatuh pada penyimpangan. -Ya Allâh! Kami mohon perlindungan kepada-Mu dari segala tipu daya syaitan-.

Ketiga rintangn  di atas yaitu syirik, bid’ah dan maksiat, wajib diwaspadai dan dijauhi oleh kaum Muslimin sejauh-jauhnya dan menjaga diri agar tidak terjatuh dalam ketiga rintangan tersebut. Dia juga harus mengambil petunjuk dalam surat al-Fâtihah atau dalam al-Qur’an secara umum atau petunjuk dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada orang yang bertanya kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Beritahulah kami tentang apa itu takwa?” Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Pernahkah kamu melewati jalan yang berduri?” Orang itu menjawab, “Pernah.” Beliau Radhiyallahu anhu berkata tanya lagi, “Apa yang kamu perbuat (saat melewati jalan yang berduri itu-red)?” Dia berkata, “Jika aku melihat ada duri, maka aku akan berjalan ke arah kiri atau kanan dan aku menjauhinya agar aku tidak menginjaknya.” Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Seperti itulah ketakwaan kepada Allâh”

Namun yang harus kita jauhi dalam perkara takwa kepada Allâh Azza wa Jalla bukan sekedar duri di jalanan namun sesuatu yang jauh lebih merusak manusia yaitu perbuatan syirik, bid’ah dan perbuatan maksiat. Jadi, orang yang menempuh jalan Allâh Azza wa Jalla wajib mewaspadai dan menghindarkan diri dari ketiga perkara ini. Sebagian salaf berkata, “Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari sesuatu yang tidak ia ketahui?”

Artinya, jika kita ingin menjaga diri dari ketiga hal tersebut, maka kita wajib mengetahui ketiga hal tersebut. Kita wajib tahu apa itu kesyirikan? Apa itu kebid’ahan? Dan apa itu dosa besar? Tujuannya agar kita menjaga diri darinya.

Banyak orang terjatuh dalam perkara-perkara yang masuk dalam kategori kesyirikan yang jelas serta kekufuran yang nyata, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap agama Allâh ini. Banyak juga yang terjerat dalam kebid’ahan dan menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikarenakan ketidaktahuan mereka terhadap agama ini, seperti itu juga yang terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dan dosa. Oleh karena itu, yang pertama kali dituntut dari seorang manusia dalam masalah agama adalah mereka dituntut untuk mencari ilmu sehingga dia bisa mengetahui agamanya, mengetahui kebenaran dan bisa mengenal petunjuk. Jadi, kita harus berilmu sebelum berkata dan berbuat, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah  selain Allâh dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. [Muhammad/47:19]

Jadi, kita hendaknya mengetahui tiga rintangan atau penghalang ini agar kita bisa mewaspadainya, menjaga diri dan menjaga semua orang yang berada dalam tanggungjawab kita agar tidak terjatuh dan terjerumus dalam ketiga-tiganya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allâh, [Luqman/31:13]

Anggaplah, pada suatu hari jika kita mengatakan kepada anak-anak kita, “Wahai anakku! Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allâh!” Lalu si anak bertanya, “Apakah syirik yang dilarang oleh Allâh itu?” Jika seperti itu kejadiannya, apakah pantas kita tidak mengetahui tentang apa itu ke syirikan?! Dari sini kita tahu bahwa mengetahui perkara-perkara ini sangatlah penting dan merupakan suatu keharusan.

Dan umumnya orang yang terjerumus dalam kesyirikan itu disebabkan ketidaktahuannya, terlebih lagi dengan banyaknya syubhat yang bisa menjebak orang-orang yang tidak berilmu,  maka jelas sangat berpotensi menyimpangkan  manusia dari agama Allâh. Bukankah sebuah musibah dan bencana yang besar, jika didapati diantara orang-orang yang menyatakan dirinya Islam, ada yang mengangkat kedua tangan mereka (untuk berdoa kepada selain Allâh-red), padahal seharusnya berdoa itu hanya kepada Allâh. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan kemudian memanggil, “Wahai fulan! Lalu meminta ini dan itu.

SubhanAllâhu! Dimanakah Allâh? Dimana tauhid?  Mana perbuatan berlepas diri dari kesyirikan? Lantas, apa penyebab terjerumusnya orang-orang yang semisal mereka dalam kesyirikan seperti ini? – Semoga Allâh  menjaga kita dari perbuatan seperti ini-. Penyebabnya adalah kejahilan atau ketidaktahuan terhadap agama Allâh  dan masuknya berbagai subhat yang menyesatkan kepada mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ

Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan pada kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan[3]

Apa yang dilakukan para pemimpin yang menyesatkan itu? Mereka menghiasi kebatilan dan membuatnya samar dalam pandangan manusia. Mereka juga menggambarkan kesesatan itu sebagai sebuah hidayah. Akibatnya, banyak orang yang terjerumus dalam berbagai penyimpangan, misalnya kesyirikan, kebid’ahan dan berbagai perbuatan sia-sia serta mengabaikan (ketaatan).

Tidakkah kita tertarik untuk mengetahui apa itu kesyirikan yang merupakan dosa yang paling ditakuti dan dosa yang paling besar itu? Dalam al-Qur’an, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahaya kesyirikan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [An-Nisâ’/4:48]

juga firman-Nya:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allâh, maka pasti Allâh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.[Al-Mâidah/5:72]

Dan firman-Nya:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ ﴿٦٦﴾ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah hanya kepada Allâh saja kamu beribadah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan. [Az-Zumar/39:65-67]

Apakah orang yang meminta bantuan kepada selain Allâh, atau orang yang memohon kepada selain Allâh  dan orang yang mencari bantuan dan pertolongan dari selain Allâh? dan apakah orang yang memohon kepada selain Allâh Azza wa Jalla agar diangkat kesulitannya dan dihilangkan musibahnya pantas dikatakan mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya?

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya? dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allâh ada sesembahan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). [An- Naml/27:62]

Maksudnya, sedikit sekali kalian ingat. Seandainya kalian ingat dan berfikir serta merenungi perkara ini, maka kalian tidak akan terjerumus kedalamnya.

Jadi, kesyirikan adalah perkara yang paling berbahaya dan kezhaliman yang paling besar.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya mempersekutukan (Allâh) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [Lukman/31:13]

Dan kezhaliman apa yang lebih besar daripada kezhaliman memalingkan ibadah dan doa kepada selain Allâh  yang maha menciptakan? Dia yang menciptakan; Dia yang memberi rezeki; Dia yang memberi semua kenikmatan, kemudian kepada selain-Nya manusia berdoa dan meminta. Na’udzu billah

Dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Mas’ud z dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Dosa apa yang paling besar disisi Allâh?’  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تَجْعَلَ لِلِّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Engkau menjadikan tandingan bagi Allâh  padahal Allâh  yang menciptakanmu[4]

Perhatikanlah dan renungilah sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “padahal Allâh telah menciptakanmu”! Maksudnya, perbuatan Allâh Azza wa Jalla yang menciptakanmu seorang diri, yang menjadikanmu ada dari yang semula tidak ada, itu sudah cukup sebagai dalil atas wajibnya engkau mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam ibadah. Artinya, tidak berdoa kecuali kepada-Nya, tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya dan tidak bertawakal kecuali kepada-Nya juga tidak meminta pertolongan dan bantuan kecuali dari-Nya serta tidak menjadikan tandingan atau sekutu bagi-Nya, baik tandingan yang berasal dari malaikat yang dekat juga tidak nabi yang diutus dan tidak juga wali atau yang lainnya. Karena ibadah adalah hak Allâh  yang menciptakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu Mengetahui.[Al-Baqarah/2:22]

yaitu ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada pencipta bagi kalian kecuali Allâh Azza wa Jalla .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. At-Thabrani dalam al-Ausath, no. 4202. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahîhah, no. 1620
[2]  HR. Al-Bukhari, no. 9 dan Muslim, no. 35
[3] HR. Ahmad, 6/441. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’, no. 1551
[4] HR. Al-Bukhâri, no. 4477 dan Muslim, no. 86

Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM

4. Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?
Orang-orang yang berjalan di atas ash-shirât yang mendapatkan anugerah kenikmatan yaitu orang-orang yang disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allâh dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisa’/4:69]

Jika Allâh Azza wa Jalla telah memberikan anugerah kenikmatan kepada kita untuk meniti jalan yang lurus itu, maka kita tidak akan merasa risau meskipun kita seorang diri. Karena saat itu, kita sedang berjalan di atas jalan yang pernah ditempuh oleh para Nabi, para shiddiqien (ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul) juga orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fatihah/1:7]

Dalam firman Allâh Azza wa Jalla di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa bisa berjalan di atas ash-shirât al-mustaqîm itu adalah anugerah dari Allâh Azza wa Jalla . Artinya, kalau bukan karena nikmat Allâh Azza wa Jalla , tentu mereka tidak akan bisa meniti jalan tersebut.

Untuk diketahui, bahwa seseorang tidak akan menjadi orang-orang yang mendapatkan anugerah kecuali jika terpenuhi dua syarat berikut ini, yaitu mengetahui al-haq dan mengamalkannya.

Ilmu akan membimbing seorang hamba, sedangkan amal shalih yang dilakukannya akan meningkatkan derajat dan kedudukannya di sisi Allâh Azza wa Jalla .

Jika seseorang sudah mendapatkan ilmu yang berguna, maka selanjutnya ia harus memperaktekkan ilmu tersebut. Jika dia sudah berilmu lalu menerapkan ilmunya, berarti ia termasuk orang-orang berjalan di atas ash-shirât al-mustaqîm.

Dari surat al-Fatihah ayat ke-7 itu bisa diketahui juga bahwa manusia itu terbagi menjadi tiga golongan: (pertama), golongan yang mendapatkan anugerah untuk bisa berjalan di atas yang lurus, (kedua) golongan yang mendapatkan murka dan (ketiga) golongan yang sesat.

Golongan yang mendapatkan anugerah kenikmatan adalah orang yang dianugerahi ilmu yang bermanfaat dan juga dianugerahi (kesempatan) untuk bisa melakukan amal shalih.

Golongan yang mendapatkan murka Allâh Azza wa Jalla yaitu golongan yang memiliki ilmu, namun tidak di amalkan. Jadi, amal dan niat beramalnya rusak.

Golongan yang lain yaitu golongan sesat. Golongan ini adalah golongan yang beramal tapi tanpa dasar ilmu. Dia beribadah juga beramal, namun semuanya sesat dan diada-adakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al-Kahfi/18:103-104]

Berdasarkan pernjelasan-penjelasan ini, hendaknya kita menyadari keadaan kita dan menyadari betapa kita sangat butuh dan berharap agar dijadikan termasuk orang-orang yang diberi anugerah kenikmatan sebagai orang-orang yang berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm.

Alangkah indah, jika seorang Mukmin menyadari betapa dia sangat butuh dan perlu untuk selalu berjalan di atas as-shirât al-mustaqîm itu sampai dia menjumpai Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah nikmat teragung dan anugerah paling berharga secara mutlak. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fatihah/1:7]

Akhirnya, dengan penjelasan ini, kita bisa mengetahui bahwa jalan itu lurus, juga bisa mengetahui orang-orang yang mendapatkan nikmat untuk berjalan di atas jalan yang lurus tersebut serta bisa mengetahui orang-orang yang tersesat dari jalan tersebut.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang diberi anugerah untuk berjalan di atas as-shirat al-mustaqim di dunia dan termasuk orang-orang yang diberi keselamatan saat meniti as-shirat yang dibentangkan di atas api neraka jahannam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]