Al-Walâ' Wal Barâ’

Termasuk inti wala’ yang syar’i (yang dituntunkan agama) adalah mencintai Sunnah yang shahih, mendakwahkannya, dan mencintai para pengikut Sunnah, yaitu orang-orang yang berusaha mengembalikan semua orang yang berselisih tentang perkara agama menuju al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaf (para pendahulu) umat ini. Dan termasuk inti bara’ syar’i (yang dituntunkan agama) adalah membenci perbuatan bid’ah dalam agama, bersemangat merubah kemungkaran ini, memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah, dari para penyerunya, dan dari orang-orang yang terus menerus melakukannya, walaupun mereka menisbatkan diri kepada Islam, atau pemeluk Islam, menisbatkan diri kepada dakwah atau aktivis dakwah.
 

Kematian Lebih Baik Bagi Orang Mukmin

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Kematian) ini akan menimpa semua jiwa makhluk. Sesungguhnya kematian ini merupakan minuman yang yang harus diminum (dirasakan), walaupun seorang manusia itu sudah hidup lama dan diberi umur (panjang) bertahun-tahun (pasti akan merasakan kematian-pen). Tetapi Allâh Azza wa Jalla menciptakan para hamba-Nya di dunia, memberikan kepada mereka perintah dan larangan, menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan, dengan kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, kehidupan dan kematian, sebagai cobaan dari Allâh Azza wa Jalla untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik perbuataannya ? Siapa yang akan tersesat atau selamat di tempat-tempat ujian?”
 

Bagaimana Seharusnya Kaum Muslimin Menyikapi Praktek Syari'at Islam?

Pelaksanaan amar ma'ruf nahi mungkar dan berdakwah harus mengikuti manhaj para nabi dan rasul dan para salafus sholeh, karena itulah manhaj yang benar dan metoda yang bijak dalam mengajak kepada Islam dan mengembalikan kejayaannya. Suatu yang sangat disayangkan jika ada yang menyeru untuk penerapan syari'at Islam, akan tetapi jalan yang ditempuh bukan jalan yang sesuai dengan syari'at Islam. Mungkinkah syari'at di tegakkan dengan cara yang tidak sesuai dengan syari'at Islam ? Dalam politik dan tatanan negara, hendaklah yang menjadi standar hukum dan landasan perundang-undangan adalah syari'at Allâh Azza wa Jalla , bukan pemikiran manusia. Oleh karena itu, wajib bagi para penguasa untuk menerapkan hukum Allâh Azza wa Jalla (syari'at Islam) dan juga mereka berkewajiban untuk mewajibkan para rakyatnya untuk berhukum dengan hukum Allâh dan Rasul-Nya. Inilah tugas dan tanggug jawab penguasa yang paling utama dan besar.
 

Fungsi Hudud Dalam Syariat Islam

Adapun pernyataan, "Penegakan hudûd ini merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat", maka itu hanyalah tuduhan yang berat sebelah. Kenapa hanya ditujukan kepada syariat hudûd ? Bukankah semua peraturan harus diterapkan pada semua individu yang berada di bawahnya ?! Siapakah yang rela kehilangan nyawa ibu, atau bapak, atau istri, atau suami, atau orang-orang tercinta lainnya tanpa ada balasan setimpal kepada pembunuhnya ?! Bukankah dengan menerapkan hukuman kurungan penjara saja juga merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat ?! Bukankah memaksakan kehendak Allâh Azza wa Jalla - yang sudah pasti benarnya - itu lebih pantas, daripada memaksakan kehendak makhluk -yang sudah pasti salahnya jika menyelisihi keputusan Allâh Azza wa Jalla -?! Sungguh segalanya telah jelas, bagi mereka yang berpikir dengan hati nurani yang jernih.
 

Jual Beli Tanpa Menjelaskan Aib Pada Barang, Jual Beli Dan Sumpah Palsu Untuk Melariskan Dagangan

Maknanya yaitu ada suatu barang yang dijual tanpa menyebutkan aib-aib yang ada padanya. Jika barang itu memang mempunyai aib dan diketahui oleh si penjual, maka jual beli seperti ini tidak boleh dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya dan tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual sesuatu yang ada aibnya kepada orang lain kecuali ia menjelaskan aib tersebut kepadanya.” Menyembunyikan aib pada suatu barang adalah bentuk penipuan dan kecurangan dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa berbuat curang (menipu) kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
 

Tas’ir, Membeli Barang Lalu Menjualnya Dengan Keuntungan Besar, Hukum Barang Yang Harganya Rusak

Contoh yang diperbolehkan misalnya, seseorang membeli barang dengan harga 1000 riyal, lalu ia menjual kembali barang tersebut dengan harga 2000 riyal, baik dilakukan secara kontan ataupun dengan cara ditangguhkan dan diakhirkan pembayarannya. Misalnya seseorang membeli mobil dengan harga 10.000 riyal, lalu ia menjual kembali mobil tersebut dengan harga 20.000 riyal. Keuntungan yang besar ini tidak apa-apa jika selamat dari hal-hal yang membatalkan jual beli. Namun si penjual harus tetap memperhatikan ta’awun (kerja sama/tolong-menolong) dalam hal kebaikan dan ketakwaan, karena yang lebih utama tentu saja ia akan menjadi penolong bagi saudaranya sesama muslim walaupun dalam berjual beli. Ta’awun tersebut menunjukkan adanya rasa persaudaraan yang jujur dan saling menyayangi antara sesama kaum muslimin.
 
BAHASAN :