Kekuasaan Milik Allâh Dan Berasal Dari-Nya

Sesungguhnya manusia akan diperlakukan dengan lembut dalam perkara ini sesuai dengan komitmennya terhadap agama Allâh Azza wa Jalla. Barangsiapa telah menjadi baik dan melakukan perbaikan, maka Allâh Azza wa Jalla akan memperbaiki kekuasaan yang ia kendalikan. Dan barangsiapa rusak dan melakukan kerusakan, maka kekuasaannya akan mengalami kerusakan, meskipun ia seorang penguasa berstatus politikus ulung dan memiliki pengikut yang paling banyak. Masing-masing akan menuai apa yang ditanam dan memakan dari kelakuan pribadinya. Dan Allâh Maha Meliputi seluruh makhluk-Nya. Hal ini perlu diulas kembali untuk menegaskan bahwa perubahan itu berada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Dialah yang mengangkat seorang hamba menjadi pemimpin sesuai dengan kehendak-Nya di atas orang-orang yang dikehendaki-Nya pula.
 

Kefakiran Dan Kekayaan

Adanya perbedaan rezeki ini juga menyebabkan roda kehidupan berjalan normal. Yang kaya bisa mempekerjakan yang miskin dengan upah, sehingga kebutuhan masing-masing bisa terpenuhi dengan baik. Si kaya membantu si miskin dengan hartanya, sementara si miskin membantu dengan keahliannya. Jika Allâh Azza wa Jalla menguji seorang hamba dengan kemiskinan maka sabar merupakan ibadah termulianya. Barangsiapa sempit rezekinya dan kehidupannya susah, maka janganlah ia berkecil hati, karena kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mayoritas para Shahabat yang mulia juga pas-pasan bahkan dalam kekurangan. Perhiasan dunia yang akan sirna ini tidak pantas untuk disedihkan tatkala luput.
 

Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan di Bawah

Potongan kalimat yang pertama yaitu sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, " Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allâh akan menjaganya," merupakan wasîlah (cara) untuk sampai kepada hal ini. Yaitu barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari apa-apa yang ada pada manusia dan apa-apa yang didapat dari mereka, maka itu mendorong dirinya untuk semakin bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , berharap, semakin menguatkan keinginannya dalam (meraih) kebaikan dari Allâh Azza wa Jalla , dan berbaik sangka kepada Allâh serta percaya kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla bersama hamba-Nya yang berprasangka baik kepada-Nya; jika hamba tersebut berprasangka baik, maka itu yang dia dapat. Dan jika ia berprasangka buruk, maka itu yang dia dapat.
 

Sujud Tilawah

Imam Nawawi rahimahullah menulis sebuah Bab yang artinya, “Keutamaan Sujud dan Anjuran untuk melakukannya”. Lalu disampaikan satu hadits dari Tsaubân maula (bekas budak) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditanya oleh Ma’dan bin Abi Thalhah al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allâh Azza wa Jalla . Tsauban Radhiyallahu anhu diam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kali. Kemudian Tsauban Radhiyallahu anhu menjawab bahwa dia pernah menanyakan hal itu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau menjawab: Perbanyaklah sujud kepada Allâh. Sesungguhnya jika engkau bersujud satu kali kepada Allâh, dengan itu Allâh akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”.
 

Hukum Sujud Sajdah Atau Tilawah

Ulama ahli fiqih sepakat bahwa sujud Tilâwah itu masyrû'iyah (disyari'atkan) berdasarkan dalil al-Qur'an dan al-hadits, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukumnya, apakah sunnah atau wajib? Untuk mengetahui hukumnya tentu perlu melihat kepada orang yang disyariatkan melakukannya. Sujud Tilâwah ini berkenaan dengan orang yang membaca atau mendengar dengan penuh perhatian seperti makmûm dalam shalat atau yang hanya mendengarnya saja. Sujud Tilâwah hukumnya wajib bagi orang yang membaca ayat sajdah dalam shalat maupun diluar shalat. Inilah pendapat madzhab Hanafiyah(lihat Badâ'i ash-Shana'i' 1/180) , sebuah riwayat dari Ahmad (Lihat al-Inshâf 2/193) dan dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
 

Radikalisme Sebab Dan Terapinya

“Radikalisme (dari bahasa Latin radix yang berarti "akar") adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu "radikalisme" historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif”. Melalui penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa asal muasal tindakan radikal muncul dari salah satu aliran politik bukan dari ajaran agama tertentu. Dengan kata lain dapat pula kita nyatakan bahwa gerakan radikal tidak bersumber dari ajaran agama. Namun bisa saja terjadi kesalah pahaman dalam agama menimbulkan gerakan radikal.
 
BAHASAN :