Imam Asy-Syâfi’i Dan Komitmennya Terhadap Sunnah Rasulullah

Demikian juga telah masyhur pernyataan beliau yang berbunyi: "Apabila hadits itu shahîh, maka ia adalah madzhabku", dan lebih tegas lagi Imam asy- Syâfi’i rahimahullah mengatakan: "Apabila haditsnya shahîh, maka buang jauh-jauh pendapatku" Pernyataan ini menunjukan kehati-hatian beliau dalam beragama, dan menunjukkan kekhawatiran beliau atas masuknya ajaran selain Islam ke dalam agama ini. Apalagi manusia sangat memberikan kepercayaan dan apresiasi tinggi terhadap agama, keshalihan dan ijtihad beliau. Sehingga dengan menyampaikan sikap dan pernyataan ini, beliau memiliki hujjah di hadapan Allâh Azza wa Jalla apabila terdapat fatwa dan pernyataannya yang menyelisihi kebenaran, hingga al-Buwaithi menceritakan bahwa asy- Syâfi’i rahimahullah berkata:
 

Imam Asy-Syâfi’i Seorang Ulama Besar Fikih

Salah satu imam besar dunia dalam fiqih yang dapat menggabungkan antara madrasah al-hadîts dan madrasah ar-ra’yu adalah Imam Abu Abdillâh Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsmân bin Syâfi’ al-Muthalibi al-Qurasyi. Seorang imam yang dilahirkan di Gaza, Palestina dan mengambil ilmu dari para Ulama dua madrasah tersebut. Imam asy-Syâfi’i rahimahullah mengambil dari para Ulama dua madrasah hadits dan mengetahui betul hakikat dan fiqih khilaf mereka, kemudian beliau berijtihad serta membangun pondasi dan kaidah dalm konsep fiqih yang menggabungkan kedua konsep fiqih dua madrasah tersebut. Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah berkata: "Kami terus menyalahkan ahlu ra’yi dan mereka pun menyalahkan kami hingga datang asy-Syafi’i dan menggabungkan kami semua"
 

Dosa Lari Dari Medan Perang

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsamin rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya (yaitu lari dari medan perang) termasuk dosa-dosa yang membinasakan karena hal itu akan melemahkan kaum Muslimin dan semakin menguatkan orang-orang kafir. Orang-orang Mukmin melemah, karena sebagaimana telah diketahui bersama bahwa jika ada satu orang meninggalkan barisan (perang), hati mereka akan menjadi kecewa dan itu melemahkan mereka; Sedangkan kekuatan orang-orang kafir bertambah, karena orang-orang kafir akan mengatakan, ‘Ini adalah awal kekalahan mereka, ayo serang mereka!’, sehingga orang-orang kafir terus menyerang kaum Muslimin. Oleh karena itu lari dari medan perang merupakan dosa besar”.
 

Membunuh Dosa Besar

Dari Abdullâh (bin Mas’ud), ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi Lâ Ilâha illa Allâh dan bahwa aku adalah utusan Allâh, kecuali dengan satu dari tiga (perkara): satu jiwa (halal dibunuh) dengan (sebab membunuh) jiwa yang lain, orang yang sudah menikah yang berzina, orang yang keluar dari agamanya (Islam) dan meninggalkan jama’ah (Muslimin)”. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Pembunuhan dengan satu dari tiga perkara ini disepakati di antara kaum Muslimin”. Akan tetapi yang perlu diketahui bahwa yang berhak dan berkewajiban melaksanakan pembunuhan yang haq ini hanya penguasa kaum Muslimin, bukan hak individu atau masyarakat, karena hal itu akan menyebabkan kekacauan
 

Syirik, Dosa Besar Yang Paling Besar

Inilah yang segera difahami dari istilah syirik jika disebutkan secara umum di dalam al-Qur’ân, as-Sunnah, dan perkataan Salaf (orang-orang zaman dahulu yang shalih). Sehingga barangsiapa menjadikan ilâh (sesuatu yang diibadahi), dia mengibadahinya atau mentaatainya dari selain Allâh, maka dia adalah orang musyrik -menurut bahasa wahyu dan riwayat. Di dalam kitab Muqarrar Tauhid lish-Shaff ats-Tsalits al-‘Ali fil-Ma’ahid al-Islamiyah, juz 3, hlm. 10 disebutkan, syirik (kemusyrikan) adalah menjadikan sekutu atau tandingan bagi Allâh Ta’ala di dalam rububiyah (perbuatan-Nya), uluhiyah (hak-Nya untuk ditaati secara mutlak dengan penuh kecintaan dan pengagungan), dan asma’ wa sifat (nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna). Dan yang umum, terjadinya kemusyrikan adalah di dalam uluhiyah.
 

Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam

Syahadatain (dua kalimat syahadat) adalah kesaksian bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh Azza wa Jalla , dan bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba serta Rasul-Nya. Kedua kesaksian ini merupakan keyakinan mantap yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan orang yang mengikrarkannya dapat menyaksikan keberadaan Allâh Azza wa Jalla. Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang dipersaksikan itu ada dua hal. Hal itu, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allâh Azza wa Jalla . Jadi, kesaksian bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul (utusan) Allâh Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ.
 
BAHASAN :