Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Allâh Azza Wa Jalla Mengetahui Segalanya

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEGALANYA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Di antara sifat Allâh Azza wa Jalla yang menunjukkan kesempurnaan-Nya adalah sifat ilmu. Dan sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla merupakan sifat dzatiyah tsubutiyah, yaitu sifat yang selalu ada pada Allâh Azza wa Jalla , tidak pernah pisah dengan Dzat Allâh.

DALIL-DALIL NAQLI (WAHYU)
Sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla ditunjukkan oleh akal dan syara’ (agama/wahyu). Adapun dalil naqli atau wahyu, maka banyak sekali ayat dan hadits yang memberitakan ilmu Allâh, dan ini tidak terhitung jumlahnya. Di antara nama-nama Allâh Azza wa Jalla adalah Al-‘Alîm, Al-‘Aalim, dan Al-‘Allâm, yang semuanya memiliki arti Allâh Azza wa Jalla memiliki ilmu.

Allâh Azza wa Jalla  memberitakan nama-Nya Al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) lewat perkataan para malaikat:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) lagi Maha Bijaksana. [Al-Baqarah/2:32]

Allâh Azza wa Jalla memberitakan nama-Nya ‘Aalimul ghaib wasy syahâdah (Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nampak) dengan firman-Nya,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’du/13:9]

Allâh Azza wa Jalla juga memberitakan nama-Nya ‘Allâmul ghuyûb (Yang Maha Mengetahui semua perkara ghaib) dengan firman-Nya,

يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ ۖ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

(Ingatlah), hari di waktu Allâh  mengumpulkan para rasul lalu Allâh  bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?.” Para rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui semua perkara ghaib.” [Al-Mâidah/5:109]

DALIL AKAL
Sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla juga ditunjukkan oleh akal. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bagaimana akal menetapkan sifat ilmu bagi-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allâh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al-Mulk/67:14]

Ayat ini menunjukkan bahwa akal menetapkan Allâh Azza wa Jalla itu Maha Mengetahui. Sisi penetapannya adalah bahwa  Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan makhluk dan itu pasti dengan ilmu. Karena menciptakan sesuatu itu dengan kehendak, dan kehendak itu mengharuskan adanya pemahaman terhadap apa yang dikehendaki, dan pemahaman itu adalah ilmu.

Demikian juga menciptakan makhluk adalah menetapkan dan menyusun bagian-bagiannya makhluk, dan hal itu pasti dengan ilmu. Keberadaan makhluk dengan kesempurnaan, ketelitian, kerapian yang mengagumkan, ini semua tidak akan terjadi tanpa ilmu. Oleh karena itu jika dikatakan, “Si A telah membuat mobil, padahal dia tidak memiliki ilmu tentang mobil, atau dia tidak tahu sama sekali tentang mobil”, maka perkataan ini tidak akan diterima. Bagaimana mungkin dia merangkai dan menyusun bagian-bagian mobil, kemudian menjadikan bentuk mobil seperti ini, padahal dia tidak berilmu sama sekali? Maka seluruh makhluk yang ada ini adalah bukti nyata ilmu Allâh Azza wa Jalla .

Demikian juga orang-orang yang tidak menetapkan  sifat ilmu bagi Allâh, berarti menganggap Allâh k tidak berilmu alias bodoh. Maha Suci Allâh k dari anggapan mereka.

Selain itu di kalangan makhluk, termasuk manusia, ada yang berilmu, dan  ilmu merupakan sifat kesempurnaan, maka mustahil Allâh Azza wa Jalla tidak berilmu, karena berarti makhluk lebih sempurna dari Khaliq, ini mustahil.

Demikian juga semua semua ilmu yang ada pada makhluk adalah pemberian Allâh, maka mustahil pemberi ilmu dan pencipta ilmu bagi makhluk namun Dia tidak berilmu.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEGALA SESUATU
Banyak sekali ayat-ayat yang memberitakan bahwa ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, bahkan hal ini Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam 26 tempat di dalam al-Qur’an. Antara lain firman Allâh Azza wa Jalla.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah/2:29)

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

Sesungguhnya Rabbmu hanyalah Allâh, yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” [Thaha/20:98]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allâh-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allâh berlaku pada semuanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allâh  Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allâh, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. [Ath-Thalaq/65:12]

Ayat-ayat ini dan lainnya semua menunjukkan bahwa ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada apapun yang tersembunyi bagi Allâh Azza wa Jalla , dan tidak ada apapun yang luput dari ilmu Allâh Azza wa Jalla.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI YANG SUDAH TERJADI, YANG SEDANG TERJADI, AKAN TERJADI DAN YANG TIDAK TERJADI
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, ini mencakup perkara yang sudah terjadi, sedang terjadi, belum terjadi, dan yang tidak terjadi. Banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan hal ini.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

Allâh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allâh  melainkan apa yang dikehendaki-Nya. [Al-Baqarah/2: 255]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (wafat 310 H) berkata, “Yaitu ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi semua yang sudah terjadi, dan semua yang sedang terjadi, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya”. [Tafsir ath-Thabari, 5/396]

Allâh Azza wa Jalla banyak memberitahukan peristiwa yang sudah terjadi. Seperti asal muasal penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, dan lainnya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. [Al-Hadid/57:4]

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. [Ar-Rûm/30:20]

Allâh Azza wa Jalla  berfirman memberitahukan peristiwa yang sedang terjadi,

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا

Sesungguhnya Allâh telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). [An-Nûr/24:63]

Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitahukan peristiwa yang akan terjadi,

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu. Allâh telah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut/mengingat mereka. [Al-Baqarah/2:235]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا

Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika akan berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja.” [Thaha/20:104]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengetahui apa yang akan terjadi, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu Allâh Azza wa Jalla memberitakan banyak perkara sebelum terjadinya, kemudian terjadi seperti yang telah Allâh Azza wa Jalla beritakan. Ini menunjukkan secara pasti bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengetahui apa yang akan terjadi. Bahkan ilmu Allâh Azza wa Jalla mencakup perkara yang tidak terjadi seandainya terjadi. Allâh Azza wa Jalla  berfirman,

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. [Al-An’am/6:28]

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad n , dan mereka menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan mereka dari manusia, ketika dihadapkan ke neraka, mereka akan mengatakan karena penyesalan, “Alangkah inginnya kami dikembalikan ke dunia, nanti kami tidak akan mendustakan ayat-ayat-Nya dan kami akan menjadi orang-orang beriman”. Tetapi Allâh Yang Maha Mengetahui menyatakan: seandainya mereka dikembalikan hidup ke dunia dan diberi tangguh, maka mereka pasti akan kembali kepada perbuatan kekafiran mereka yang dahulu. Karena ucapan mereka itu hanya karena takut siksa, bukan karena beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . [Lihat Tafsir Ath-Thabari, 11/321-322]

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEMUA YANG GHAIB DAN YANG NAMPAK
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, termasuk semua perkara  yang syahadah (nampak; yaitu terjangkau panca indra) dan yang ghaib (yaitu tidak terjangkau panca indra). Allâh Azza wa Jalla  berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. [Al-An’am/6:73]

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari t (wafat 310 H) berkata, “Dia mengetahui apa yang kamu lihat dan kamu saksikan wahai manusia, dan (Dia mengetahui) apa yang  tidak terjangkau indra dan pandangan kamu, sehingga kamu tidak merasakannya dan tidak melihatnya”. [Tafsir Ath-Thabari, 11/464]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allâh”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. [An-Naml/27:65]

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI SEMUA SECARA GLOBAL DAN RINCI
Dan ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu secara global dan rinci, karena semuanya adalah ciptaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allâh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. [Al-An’am/6:59]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia berada di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allâh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadîd/57:4]

Ayat ini memberitakan ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu secara rinci yang tidak dijangkau oleh ilmu makhluk-Nya. Dimulai dengan berita bahwa Allâh Azza wa Jalla yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu memberitakan tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas ‘arsy, ini menunjukkan Allâh Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya. Lalu Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, seperti biji, benih, air, serangga, barang tambang, dan lainnya, dan apa yang keluar darinya, seperti tumbuhan, mata air, barang tambang dan lainnya, dan apa yang turun dari langit, seperti salju, hujan, petir, malaikat, dan lainnya, dan apa yang naik kepada-Nya, seperti malaikat, amalan manusia, dan lainnya.  Ini menunjukkan ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu.

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada“, maksudnya adalah kebersamaan Allâh Azza wa Jalla yang umum dengan seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. [An-Najm/53:32]

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan ilmu Allâh Azza wa Jalla yang global dan rinci terhadap segala sesuatu.

ALLAH AZZA WA JALLA MENGETAHUI YANG TERANG, YANG TERSEMBUNYI DAN ISI HATI
Ilmu Allâh Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, termasuk semua perkara yang terang dan yang tersembunyi. Allâh Azza wa Jalla mengetahui pandangan mata yang berkhianat, bahkan Dia mengetahui isi hati seluruh hamba-Nya. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allâh, walaupun sesuatu itu berada di atas langit, di dalam bumi, di puncak gunung yang terjal, dan di kegelapan lautan yang sangat dalam.

Allâh Azza wa Jalla berfirman,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ ﴿٦﴾ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. [Thaha/20:6-7]

Allâh Azza wa Jalla  juga berfirman,

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allâh Maha Mengetahui segala isi hati. [Ath-Thaghâbun/64:4]

GOLONGAN YANG YANG MENYIMPANG DALAM MASALAH ILMU ALLAH AZZA WA JALLA
Banyak golongan yang menyimpang dalam memahami sifat ilmu Allâh, padahal sifat ilmu bagi Allâh Azza wa Jalla ini termasuk yang paling banyak diberitakan dalam al-Qur’an. Di antara golongan-golongan yang menyimpang itu adalah sebagai berikut: [Lihat Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, 4/13, Syaikh Abdurrahim as-Silmi]

Ahli Filsafat
Para ahli filsafat adalah orang-orang yang berusaha mencari kebenaran segala hal hanya dengan akal. Karena akal manusia terbatas, tidak bisa menjangkau hal yang ghaib, tetapi mereka memaksakan akal mereka bukan pada bidangnya, maka akhirnya mereka menjadi sesat dengan menyesatkan. Termasuk kesesatan para ahli filsafat ketika mereka menolak ilmu yang yang rinci terhadap segala sesuatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pokok perkara para ahli filsafat adalah: bahwa mereka tidak menetapkan bagi Sang Pencipta makhluk (sifat) kehendak, pilihan, dan kemampuan. Yang dengan kemampuan itu Dia mampu merubah makhluk dari satu keadaan kepada keadaan lain. Bahkan imam-imam ahli filsafat tidak menetapkan bagi Sang Pencipta (sifat) ilmu terhadap perincian keadaan-keadaan makhluk. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa Sang Pencipta tidak mengetahui sesuatupun. Sebagian mereka mengatakan, bahwa Dia tidak mengetahui kecuali diri-Nya sendiri. Sebagian mereka mengatakan, bahwa Dia mengetahui bagian-bagian makhluk secara global, ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Sina, ini adalah pendapat terbaik dari pendapat-pendapat ahli filsafat, tetapi pendapat inipun kontradiksi dan rusak”. [Shafadiyah, 1/7]

Lihatlah kerusakan pendapat mereka, jelas-jelas bertentangan dengan akal dan wahyu yang menyatakan bahwa Allâh  Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.

Rafidhah
Kita telah mengetahui bahwa ilmu tentang segala sesuatu hanya dimiliki oleh Allâh, sebagaimana diberitakan di dalam kitab suci al-Qur’an dalam banyak tempat. Namun  orang-orang Syi’ah menyelisihi kitab Allâh Azza wa Jalla dan ajaran Rasul-Nya, mereka menetapkan sifat khusus Allâh Azza wa Jalla tersebut bagi imam-imam mereka.

Al-Kûlini membuat bab khusus di dalam kitabnya,  “Sesungguhnya imam-imam ‘alaihimus salam mengetahui ilmu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan bahwa tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi mereka”.

Kemudian Al-Kûlîni berdusta dengan meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, bahwa dia berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi. Aku juga mengetahui semua yang ada di surga dan semua yang ada di neraka. Dan aku mengetahui semua yang yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi”.

Kemudian Al-Kûlini berdusta lagi dengan meriwayatkan dari bapak Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, yaitu Muhammad al-Baqir t , bahwa dia berkata:“Demi Allah, seorang ‘alim tidak akan menjadi jahil (bodoh) selamanya, tidak akan ‘alim terhadap sesuatu dan menjadi jahil (bodoh) terhadap sesuatu yang lain”. Lalu dia berkata lagi, “Allâh Azza wa Jalla lebih agung, lebih mulia, lebih pemurah, dari mewajibkan mentaati seorang hamba (maksudnya imam Syi’ah-pen) yang Dia menghalangi darinya ilmu tentang langit dan bumi-Nya”. Lalu dia berkata lagi, “Allâh tidak akan menghalangi ilmu itu darinya (imam tersebut-pen)”. [Al-Ushul minal Kaafi, 1/262; dinukil dari Asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 242; karya Syaikh Ihsan Ilâhi Zhahir]

Kedustaan para pendusta atas nama Ja’far ash-Shadiq rahimahullah, telah beliau ketahui dan beliau ingkari juga. Sebagaimana diriwayatkan oleh orang-orang Syi’ah sendiri dalam kitab mereka, bahwa Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata:

“Sungguh mengherankan orang-orang yang mengatakan bahwa kami mengetahui perkara ghaib, padahal tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allâh ‘Azza wa Jalla. Aku ingin memukul budak wanitaku, Si Fulanah, tetapi dia melarikan diri dariku, aku tidak tahu sekarang dia (sembunyi) di rumah yang mana?” [Al-Hujjah minal Kâfi, 1/257; dinukil dari Asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, halm. 242; karya Syaikh Ihsan Ilâhi Zhahir]

Qadariyyah
Golongan ketiga adalah Qadariyyah zaman dahulu, mereka mengingkari ilmu Allâh terhadap perbuatan manusia. Mereka mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak mengetahui perbuatan manusia sebelum dikerjakan. Di antara mereka adalah Ma’bad al-Juhani.

Yahya bin Ya’mar berkata, “Pertama kali orang yang mengingkari qadar di kota Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Kemudian aku dan Hunaid bin Abdurrahman al-Himyari pergi haji atau umrah, kami berkata, “Jika kami bertemu salah seorang dari sahabat Rasûlullâh n kami akan bertanya kepadanya tentang perkataan mereka yang mengingkari qadar itu”.

Kemudian mereka bertemu Abdullah bin Umar, Yahya bin Ya’mar berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, di kalangan kami telah muncul orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mencari ilmu. Namun mereka mengatakan bahwa qadar itu tidak ada, dan bahwa semua urusan itu unuf (yaitu tidak didahului takdir dan ilmu dari Allâh, tetapi Allâh mengetahuinya setelah terjadi-pen)”. Maka Ibnu Umar menjawab,

«فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي»، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

Jika engkau bertemu mereka, beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari-ku. Demi Allâh, Yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, jika seseorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung uhud, lalu dia menginfakkannya, Allâh tidak akan menerima darinya sampai dia beriman kepada qodar”. [HR. Muslim, no. 8]

Ini menunjukkan kesesatan Qadariyyah, dan bahwa Ibnu Umar mengkafirkan mereka.

Mu’tazilah
Golongan berikutnya adalah Mu’tazilah, mereka mengingkari sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan alasan menetapkannya merupakan kemusyrikan! Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Syaikh Abdurrahim as-Silmi berkata, “Golongan Mu’tazilah tidak menetapkan sifat ilmu (bagi Allâh), tetapi mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla itu ‘Aalim”, jika mereka ditanya, “Apakah Allâh ‘Aalim dengan ilmu?” mereka menjawab, “Tidak. Dia ‘Aalim tanpa ilmu” atau mereka mengatakan, “Allâh ‘Aalim dengan ilmu yang merupakan dzat-Nya”. Ini adalah prinsip mereka di dalam menolak semua sifat-sifat Allâh ‘Azza wa Jalla. Mereka menetapkan nama-nama bagi Allâh sekedar nama tanpa sifat”. (Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, 4/13,  Syaikh Abdurrahim as-Silmi)

Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah berkata, “Allâh Subhânah Maha Mengetahui dengan ilmu yang merupakan sifat-Nya, yang ilmu-Nya berada pada dzat-Nya. Ini berbeda dengan golongan Mu’tazilah yang meniadakan sifat-sifat Allâh. Sebagian mereka berkata, “Dia ‘Aalim dengan dzat-Nya, Qâdir (berkuasa) dengan dzat-Nya, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menjelaskan nama-nama Allâh Azza wa Jalla dengan kalimat negatif, dengan mengatakan, “’Alîm maknanya tidak bodoh”, “Qâdir maknanya tidak lemah”,  dan seterusnya”. (Syarah al-Aqidah al-Wasitiyah, hal. 93, Syaikh Muhammad Khalil Harras). Ayat-ayat di atas jelas membantah pendapat golongan Mu’tazilah ini.

PENGARUH BERIMAN KEPADA ILMU ALLAH AZZA WA JALLA
Sesungguhnya beriman kepada sifat ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu akan memiliki dampak dan pengaruh yang agung pada diri manusia.

Dengan meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla Maha Mengetahui, maka hal ini akan melahirkan sifat murâqabah, satu kedudukan yang agung di dalam iman. Yaitu di mana saja, berada seseorang merasakan bahwa Allâh Azza wa Jalla selalu mengetahui dan mengawasinya. Orang yang meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla mengetahui semua perbuatannya, mengetahui isi hatinya, mengetahui rahasia dan yang tersembunyi, mengetahui segala sesuatu, maka dia tahu bagaimanapun dia bersembunyi melakukan kemaksiatan, Allâh Azza wa Jalla selalu melihatnya, selalu mengetahuinya. Maka sudah sepantasnya manusia malu  berbuat maksiat kepada Rabbnya, karena Dia Maha Kuasa. Jika Dia menghendaki membinasakan semua manusia, maka hanya dengan satu kalimat hal itu akan terjadi.

Dengan meyakini sifat ilmu Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu, seorang Mukmin meyakini takdir Allâh. Yaitu bahwa Allâh Azza wa Jalla Mengetahui semua yang akan terjadi. Ini berarti tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, dengan tanpa perencanaan dan ketetapan sebelumnya. Tetapi semua peristiwa terjadi dengan ilmu-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya. Sehingga seorang Mukmin tidak akan mempertanyakan, “Kenapa Allâh  menjadikan Si A itu kaya, Si B itu miskin? Kenapa Allâh  menjadikan Si A itu sakit, Si B itu sehat? Kenapa Allâh menjadikan Si A presiden, gubernur, atau walikota? Kenapa  Allâh  memilih Si B menjadi nabi? Kenapa Allâh mendatangkan banjir, tsunami, gempa, yang menyusahkan manusia?” Karena pertanyaan-pertanyaan ini merupakan penentangan takdir Allâh Azza wa Jalla yang telah Dia tetapkan dengan ilmu-Nya, kehendak-Nya, dan hikmah-Nya.

Demikian juga seorang yang meyakini ilmu Allâh Azza wa Jalla tidak akan mempertanyakan syari’at Allâh. “Kenapa Allâh mengharamkan ini? Kenapa mewajibkan ini? Kenapa memerintahkan ini? Kenapa melarang ini? Kenapa menetapkan potong tangan bagi pencuri?”, dan lainnya. Karena seorang Mukmin meyakini bahwa syari’at Allâh ditetapkan dengan ilmu-Nya yang sempurna, hikmah-Nya yang agung, dan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu. Maka seorang Mukmin akan pasrah menerima syari’at Allâh Azza wa Jalla dan meyakini bahwa itu adalah aturan terbaik bagi manusia.

Tidak pantas manusia yang jahil, bertanya menentang kepada Allâh Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Bijaksana, dan Maha Kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiya’/21:23)

Semoga Allâh Azza wa Jalla selalu membimbing kita meraih ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih, disertai keikhlasan dan keimanan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Mendengar doa hamba-hamba-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09-10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!