Ikhlas Ketika Keluar Dari Rumah Menuju Shalat

KEUTAMAAN IKHLAS DALAM BERAMAL(2/5)

8. Ikhlas ketika keluar dari rumah menuju shalat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتىَّ يَدْخُلَ الْمَسْجِِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ، كَانَ فيِ صَلاَةٍ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ، يَقُوْلُوْنَ: اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ.

Shalat seseorang yang dilakukan secara berjama’ah akan dilipatkan daripada shalatnya yang dilakukan di rumah atau di pasar dengan dua puluh lebih derajat, hal itu karena jika dia melakukan wudhu dengan baik, kemudian pergi ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan itu kecuali shalat, maka tidak ada satu langkah pun yang ia lakukan kecuali dia akan diangkat satu derajat dengannya dan dihapus satu kesalahan darinya sehingga dia masuk ke dalam masjid, jika dia telah masuk ke dalam masjid, maka dia senantiasa mendapatkan (pahala) shalat selama shalat tersebut menahannya untuk tidak keluar, dan para Malaikat senantiasa berdo’a kepadanya selama dia berada di tempat shalatnya, mereka berkata, ‘Ya Allah! Berilah dia kasih sayang. Ya Allah! Berilah dia ampunan. Ya Allah! Terimalah taubatnya.’ Hal itu selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak batal (wudhunya).” [Muttafaq ‘alaihi].

9. Ikhlas disaat menunggu shalat di dalam masjid
Sebagaimana yang diungkapkan di dalam hadits yang terdahulu, di dalamnya terdapat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ، كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ.

Jika dia telah masuk ke dalam masjid, maka dia senantiasa mendapatkan (pahala) shalat selama shalat tersebut menahannya untuk tidak keluar.”

10. Ikhlas dalam menjawab seruan adzan sebagaimana yang diungkapkan oleh muadzin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika muadzin mengatakan اَلله أَكْبَر  اَللهُ أَكْبَر maka salah seorang di antara kalian mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Lalu jika muadzin mengatakan: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Lalu apabila muadzin mengatakan: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Lalu muadzin mengatakan : حَيَّ عَلَى الصَّلاَة
Maka salah seorang  di antara kalian mengatakan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله
Lalu jika muadzin mengatakan : حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Maka salah seorang di antara kalian mengatakan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله
Lalu apabila muadzin mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Dia mengatakan: اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَر
Lalu jika muadzin mengatakan: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Dan dia mengatakan: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
Maka orang yang demikian dijamin akan masuk ke dalam Surga, jika ucapannya itu ikhlas keluar dari lubuk hatinya. [Diriwayatkan oleh Muslim].

11. Ikhlas dalam berpuasa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

Barangsiapa yang melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan (hanya mengharapkan ganjaran dari Allah), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ بَاعَدَ اللهُ مِنْهُ جَهَنَّمَ مَسِيْرَةَ مِائَةِ عَامٍ.

Barangsiapa yang berpuasa sehari saja di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan menjauhkan dirinya dari Neraka Jahannam sejauh perjalanan seratus tahun.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ

Barangsiapa yang melakukan puasa satu hari di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan menjadikan sebuah parit di antara dirinya dengan Neraka, sebagaimana jarak antara langit dan bumi.”3

12. Ikhlas dalam menunaikan zakat
Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلاَ نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ. فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ فَقَالَ: لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ، قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ.

Seseorang dari penduduk Najd datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rambut yang tidak beraturan, kami mendengar gema suaranya dan kami tidak memahami apa yang dia katakan sehingga kami mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata dia bertanya tentang Islam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat lima waktu sehari semalam,’ lalu orang tersebut bertanya, ‘Apakah aku wajib melakukan yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan yang sunnah,’ lalu Rasul bersabda, ‘Dan puasa Ramadhan,’ lalu orang tadi bertanya, ‘Apakah aku wajib melakukan puasa yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan puasa yang sunnah,’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan tentang kewajiban zakat, dan orang tersebut bertanya, ‘Apakah aku wajib menunaikan zakat yang lainnya?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak melakukan (shadaqah) yang sunnah,’ (perawi) berkata, ‘Lalu orang tersebut pergi dengan berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya,’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Dia beruntung jika benar (apa yang dikata-kannya).’” [Muttafaq ‘alaihi].

13. Ikhlas dalam bersedekah
Hal ini sebagaimana yang diungkap di dalam hadits terdahulu, yaitu hadits tujuh orang yang diberikan naungan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di dalam hadits tersebut ada ungkapan:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَـمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ.

Dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِي غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فيِ الْعُمْرِ.

Perbuatan yang ma’ruf akan menjaga sumber-sumber kejelekan, shadaqah dengan diam-diam dapat memadamkan kemarahan Rabb, dan silaturahmi dapat menambah umur.”4

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 6201).
2  Shahiihul Jaami’ (no. 6206).
3  HR. at-Tirmidzi, di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 6209).
4  Shahiihul Jaami’ (no. 3691).