Kewajiban Memberi Nafkah Anak Perempuan

Bab I
HAK-HAK ANAK PEREMPUAN ATAS AYAHNYA

Pasal 6
Kewajiban Memberi Nafkah kepada Anak Perempuan
Imam al-Bukhari rahimahullah membuat bab tersendiri (lihat kitab Fat-hul Baari (IX/500)), “Bab Wujuubi an-Nafaqah ‘alal Ahli wal ‘Iyaal (Bab Kewajiban Memberi Nafkah Kepada Keluarga).”

‘Amr bin Hafsh memberitahu kami, dia berkata : Ayahku memberitahu kami, beliau berkata: Al-A’masy memberitahu kami, ia berkata: Abu Shalih memberitahu kami, dia berkata: Abu Hurairah Radhiyallahu anhu memberitahuku, dimana dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْـدَأْ بِمَنْ تَعُولُ.” تَقُولُ الْمَرْأَةُ: إِمَّا أَنْ تُطْعِمَنِي وَإِمَّا أَنْ تُطَلِّقَنِي، وَيَقُولُ الْعَبْدُ أَطْعِمْنِي وَاسْتَعْمِلْنِي، وَيَقُولُ اْلاِبْـنُ: أَطْعِمْنِي إِلَى مَنْ تَدَعُنِي. فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ سَمِعْتَ هَـذَا مِنْ رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: لاَ هَذَا مِنْ كِيسِ أَبِي هُرَيْرَةَ.

Sebaik-baik sedekah adalah yang tidak meninggalkan kekayaan. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan memberi orang yang di bawah tanggunganmu.” Seorang wanita berkata, “Baik engkau beri aku nafkah atau engkau ceraikan aku.” Seorang hamba berkata, “Berilah makan kepadaku dan pekerjakanlah aku.” Seorang anak berkata, “Berilah aku makan dari orang yang engkau tinggalkan diriku padanya?” Mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah. Apakah engkau mendengar hal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Tidak, ini berasal dari diri pribadi kantong Abu Hurairah.”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ.

Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan pada saat kaya (harta yang berlebih) dan mulailah (dengan memberi) orang yang berada di bawah tanggunganmu.” [HR. Al-Bukhari].

Pasal 7
Keutamaan Memberikan Nafkah
Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan: Adam bin Abu Iyas memberitahu kami, Syu’bah memberitahu kami dari ‘Adi bin Tsabit, dia berkata, aku pernah mendengar ‘Abdullah bin Yazid al-Anshari dari Abu Mas’ud al-Anshari. Aku tanyakan, “Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Baca Juga  Membela Wanita-wanita Bani Hasyim

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً.

Jika seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya sedang dia mengharap pahala darinya, maka yang demikian itu sebagai sedekah baginya.’”

Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya Radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjengukku ketika aku tengah terbaring sakit di Makkah. Lalu kukatakan, “Aku memiliki harta, apakah aku harus mewasiatkan (menginfakkan kepada orang lain) semua hartaku itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kukatakan, “Apakah separuh saja?” Beliau menjawab, “Tidak.” “Apakah sepertiga?” tanyaku. Beliau menjawab:

اَلثُّـلُثُ وَالثُّـلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي فِيِّ أَيْدِيهِمْ وَمَهْمَا أَنْفَقْتَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ حَتَّى اللُّقْمَةَ فِي امْرَأَتِكَ وَلَعَلَّ اللهَ يَرْفَعُكَ يَنْتَفِعُ بِكَ نَاسٌ وَيُضَرُّ بِكَ آخَرُونَ.

Sepertiga. Sepertiga itu banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta apa yang ada di tangan orang lain. Apa pun yang engkau nafkahkan, maka ia merupakan sedekah bagimu, bahkan satu suapan ke mulut isterimu. Semoga Allah akan meninggikan dirimu, dimana manusia (kaum muslimin) akan mengambil manfaat darimu dan ada orang lainnya (orang kafir yang pantas diperangi) akan mendapatkan mudharat karenamu.’” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari Tsauban, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِـهِ، وَدِيـنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِيـنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ.

Sebaik-baik dinar yang dinafkahkan seorang laki-laki adalah dinar yang dinafkahkannya kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan seorang laki-laki untuk binatang yang dipergunakannya untuk berjuang di jalan Allah Azza wa Jalla, dan dinar yang dinafkahkan kepada sahabat-sahabatnya di jalan Allah.”

Baca Juga  Syarat Nikah dan Pujian bagi Orang yang Memenuhi Syarat

Abu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.”

Lebih lanjut, Abu Qilabah mengatakan, “Laki-laki mana yang mendapatkan pahala lebih besar daripada seorang laki-laki yang memberi nafkah kepada keluarganya. Semoga Allah menjaga kehormatan mereka atau memberikan manfaat kepada mereka dan mencukupkan mereka melalui dirinya.” [HR. Muslim].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ الله، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَـبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ.

Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” [HR. Muslim].

Dari Khaitsamah, dia berkata, “Kami pernah duduk-duduk bersama ‘Abdullah bin ‘Amr, tiba-tiba dia didatangi oleh wakilnya, lalu dia masuk, maka ‘Abdullah berkata, ‘Apakah engkau telah memberikan makananan (nafkah) kepada para budak?’ Dia menjawab, ‘Belum.’ Maka ‘Abdullah bin ‘Amr pun berkata, ‘Pergi dan berikanlah kepada mereka.’ ‘Abdullah bin ‘Amr berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ.

Cukuplah seseorang berdosa karena menahan diri dari tidak memberikan makanan (nafkah) kepada orang-orang yang harus dinafkahinya.’” [HR. Muslim]

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Umu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

  1. Home
  2. /
  3. A9. Wanita dan Keluarga...
  4. /
  5. Kewajiban Memberi Nafkah Anak...