Nu’mân bin Basyîr al-Anshâri Radhiyallahu Anhuma, Bayi Pertama Yang Lahir Dari Kaum Anshâr

NU’MAN BIN BASYIR AL-ANSHARI RADHIYALLAHU ANHUMA, BAYI PERTAMA YANG LAHIR DARI KAUM ANSHAR

Oleh

Ustadz Abu Minhal Lc

Anak-anak yang terlahir di Madinah di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak lepas dari kebiasaan anak-anak pada umumnya, yang gemar bermain dan memiliki karakter kanak-kanak. Akan tetapi, mereka itu, baik dari keturunan Muhâjirin maupun Anshâr, juga telah berpartisipasi dalam merekam ilmu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan menyampaikannya kepada generasi selanjutnya.

Begitu juga yang dilakukan an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu. Sahabat Nabi yang terhitung sebagai shighârus shahâbah ini juga memainkan peran ilmiahnya dengan merekam riwayat-riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebarluaskannya.

Bayi Pertama Yang Terlahir Dari Anshâr Pasca Hijrah

Bila ‘Abdullah bin az-Zubair bin al-‘Awwâm Radhiyallahu anhum[1] adalah anak yang pertama kali terlahir di muka bumi ini dari kalangan Muhâjirin pasca hijrah di Madinah, maka tokoh kita sekarang,  Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhuma merupakan anak yang pertama kali dilahirkan dari kalangan Anshâr setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Ia dilahirkan pada bulan Jumadil awal tahun ke-2 H, 14 bulan setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Maka, saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ia baru berusia 9 tahun. atau menurut ungkapan Imam Ibnul Atsiir rahimahullah, “Ia dilahirkan 8 tahun 7 bulan sebelum wafat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “. [2]

‘Abdullah bin az-Zubair Radhiyallahu anhu pernah berkata, “Nu’mân bin Basyîr lebih tua dariku enam bulan”.

Secara lengkap, nasab Nu’mân bin Basyîr adalah Nu’mân bin Basyîrbin Sa’d bin Tsa’labahbin Julâs bin Zaid bin Maalik al-Agharr al-Anshâri al-Khazraji. Berkunyah Abu ‘Abdillah atau Abu Muhamad.

Nu’mân bin Basyîr dan sang ayah termasuk Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sang ayah, Basyîr bin Sa’d termasuk pasukan Islam yang berjihad fi sabilillah dalam Perang Badar.

Sedangkan ibundanya bernama ‘Amrah binti Rawaahah Radhiyallahu anha, saudara perempuan ‘Abdullah bin Rawâhah Radhiyallahu anhu salah seorang panglima kaum Muslimin di Perang Mu`tah.

Dan nasab Ibu dan ayah Nu’mân bin Basyîrg menyatu pada kakek yang bernama Mâlik al-Agharr.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa ibu Nu’mân Radhiyallahu anhu membawa bayi Nu’mân bin Basyîr ke hadapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mentahniknya dan memberi kabar gembira kepada sang ibu bahwa putranya akan hidup dalam keadaan terpuji. [3]

Jumlah Hadits Yang Diriwayatkan

Seperti sudah diungkapkan di atas, meskipun Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhuma termasuk kalangan yang berusia kanak-kanak saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ia ternyata sudah dapat menangkap apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan bahwa riwayat haditsnya berjumlah 114 hadits.

Imam al-Bukhâri rahimahullah dengan sanadnya membawakan salah satu hadits riwayat Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhuma. Dalam hadits tersebut, Nu’mân bin Basyîr mengatakan, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشَبَّهَاتٌ

Perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar [HR. Al-Bukhâri no.52 dan Muslim no.1599]

Dalam hadits di atas, Nu’mân menunjukkan bahwa dirinya mendengar hadits dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.         Sementara murid-muridnya, putranya sendiri, Muhammad, asy-Sya’bi, Simaak bin Harb, Abu Qilâbah, Abu Ishâq as-Sabî’i dan lain-lain.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengutip dalam Fathul Bâri (1/154, tahqiq  ‘Abdul Qadir Syaibah al-Hamd) dari Abu ‘Awwanah dalam Shahihnya bahwa asy-Sya’bi, salah satu murid Nu’man bin Basyîr Radhiyallahu anhuma,  menyatakan bahwa Nu’mân bin Basyîr menyampaikan hadits di atas dalam khutbah di Kufah dan di Homs.

Nu’mân bin Basyîr Al-Anshâri Radhiyallahu Anhuma Wafat

Pada saat Mu’âwiyah bin Abu Sufyân berkuasa, Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhuma ditunjuk  menjadi gubernur kota Kufah. Dan sempat juga diberi tanggung-jawab memegang kendali mahkamah Qadha di Damaskus setelah Fadhâlah bin Ubaid Radhiyallahu anhu, dan kemudian memimpin kota Homs. Karena itulah, Imam adz-Dzahabi rahimahullah  menjuluki  Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhuma  sebagai al-amîr al-‘âlim (seorang gubernur yang ahli ilmu). [4]

Pada tahun 64 H[5], Nu’mân bin Basyîr meninggal.

Nasehat Dari Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu Anhuma

Nu’mân bin Basyîr al-Anshâri Radhiyallahu anhuma pernah berkata:

إِنَّ الْهَلَكَةَ كُلَّ الْهَلَكَةِ أَنْ تَعْمَلَ السَّيْئَاتِ فِي زَمَنِ الْبَلَاءِ

Sesungguhnya kebinasaan yang paling buruk, engkau melakukan berbagai dosa saat musibah tiba.

Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Siyaru A’lâmin Nubalâ 3/363.

[2] Usdul Ghâbah, hlm.1193.

[3] Al-Bidâyah wan Nihâyah 8/207-208.

[4] Siyaru A’lâmin Nubalâ 3/411-412.

[5] Sebagian referensi menyebutkan tahun 65 H.