Keadaan dan Kondisi Juru Dakwah

KEADAAN DAN KONDISI JURU DAKWAH

Barangsiapa yang menggeluti dakwah ilallah, maka Allah akan membimbing dan mengujinya dengan kesenangan dan kesulitan. Dan ia akan mengahadapi adanya sebagian orang yang mendukung dan menolongnya dan dia juga akan menemui orang-orang yang  mengejek dan mencelanya.

Dua situasi bagi juru dakwah.

  1. Adanya sambutan dari masyarakat terhadap dakwahnya, sebagaimana keadaan yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di madinah.
  2. Adanya penolakan dari masyarakat, sebagimana keadaan (yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) di Thoif, (di mana penenduduknya) menolak dakwah dan menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keadaan diterimanya dakwah lebih berbahaya karena bisa jadi dengannya seseorang da’i terjangkiti sifat ghurur (bangga karena tertipu), ditawarkan kepadanya jabatan, lalu tatkala dia menerima (tawaran tersebut) maka binasalah dirinya, itulah tipu daya syetan yang telah merampas juru dakwah dari agama ini, akhirnya ia disibukkan dengan perkara dunia dan hal-hal lain.

Adanya penolakan dan pengingkaran terhadap dakwah itu lebih baik bagi seorang da’i, sebab dalam kondisi itulah bertambahnya harapan, pasrah dan bergantungnya seorang da’i  kepada Allah Sibhanahu wa Ta’ala, dan itulah yang menjadi sebab datangnya pertolongann dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat pertolongan dari Allah ketika penduduk Thoif menolak dan menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang datang mendakwahi. Ketika itu, beliau berdo’a kepada Allah dan akhirnya Allah pun memberikan pertolongan baginya dengan mengutus malaikat Jibril dan malaikat Gunung, dan Allah memudahkan kepada beliau untuk memasuki kota Mekkah, kemudian  menjalani peristiwa Isro Mi’raj lalu berhijrah ke Madinah, akhirnya, Islam menyebar.

Baca Juga  Dunia dan Akherat

Klasifikasi juru Dakwah pada masa sekarang.
Di antara mereka ada yang terkesan dengan akhlak para juru dakwah, sehingga dirinyapun ikut bergabung dalam berdakwah bersama mereka, namun pada saat suatu permasalahan terjadi pada salah seorang da’i, dia meninggalkan dakwah bahkan memusuhi para da’i. Allah I memalingkannya karena tujuannya yang jelek.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena dia merasa dan menemukan bahwa berdakwah bisa memecahkan probrlamatikanya, bisa mewujudkan apa yang diinginkan dan disenanginya, ketika kondisi (keduaniaannya) meningkat lebih baik, maka meningkat pula ambisi keduniaannya, akhirnya dia lebih sibuk mengurusi urusan duniawi daripada dakwah. Allah memalingkannya karena tujuannya yang kurang dan tidak sempurna.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena didorong banyaknya pahala pada dakwah tersebut, dan dia hanya mengharap pahala, tidak peduli dengan orang lain, dan tujuannya hanya bagi dirinya. Orang seperti ini ketika mendapat atau mendengar suatu amalan yang leibh besar pahalanya dari dakwah, atau lebih banyak dan lebih mudah; maka dia akan meninggalkan berdakwah.

Di antara mereka ada yang berdakwah karena perintah dari Allah, ia beribadah dengannya karena dia perintah Allah, dan diia berdakwah juga karena Allah. Inilah tujuan yang sempurna. Dengan sebab inilah Allah meneguhkan dan menolongnya demi terlaksananya syariat Allah dan berdakwah kepada Allah. Inilah keududukan yang paling mulia

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Baca Juga  Dakwah Kepada Jalan Allah
  1. Home
  2. /
  3. A8. Ringkasan Fiqih Islam...
  4. /
  5. Keadaan dan Kondisi Juru...