Category Archives: A8. Ringkasan Fiqih Islam 10 Dakwah

Ringkasan Fiqih Islam Bab Dakwah Kepada Allah

KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

Islam adalah agama yang sempurna, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan manusia. Dan dengan Islam pula terwujudnya kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla telah menciptakan alam ini, dan menjadikan setiap makhluk yang ada di dalamnya tunduk kepada sunnatullah (hukum Allah) atau tabiat yang berlaku atasnya. Melalui Islam Allah mewujudkan kehendak-Nya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang telah ditetapkan atasnya hukum Allah tersebut, maka ketetapan itu tidak bisa dirubah kecuali dengan perintah Allah semata.

سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلُۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗا [الفتح: ٢٣]

Sebagai suatu sunnatullah (hukum Allah) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” [Al-Fath/48: 23].

Matahari memiliki sunnatullah, malam memiliki sunnatullah, siang memiliki sunnatullah, tumbuh-tumbuhan memiliki sunnatullah, hewan-hewan memiliki sunnatullah, begitu juga angin, air, bintang-bintang, lautan dan gunung-gunung; setiap mereka memiliki sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku atas mereka. Dan begitulah seterusnya:

لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ [يس: ٤٠] 

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yasin/36: 40].

Dan manusia adalah salah satu makhluk Allah yang juga membutuhkan jalan (hidup) yang mesti dilalui pada setiap keadaan; demi menggapai kesuksesan dunia dan akherat. Jalan tersebut adalah agama (Islam) yang Allah memuliakan manusia dengannya serta meridhainya. Tidak diterima agama apa pun selain Islam, maka kebahagiaan dan kesengsaraan tergantung kepada sejauh mana manusia berpegang teguh dengan Islam atau mengingkarinya. Manusia bebas memilih apakah  menerima Islam atau menolaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ [الكهف: ٢٩] 

Dan katakanlah bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir“. [Al-Kahfi/18: 29].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [البقرة: ٣٨،  ٣٩] 

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” [Al-Baqarah/2: 38-39].

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia, ditundukkan bagi manusia segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan Allah menurunkan kepada manusia kitab-kitab, para rasul diutus, serta Allah membekali manusia dengan pengetahuan dan panca indera; berupa pendengaran, penglihatan dan akal, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan manusia dengan (memerintahkkannya untuk) menyembah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya (dengan sesuatu apapun).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ [لقمان: ٢٠] 

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin.” [Luqman/31: 20].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ [النحل: ٧٨] 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl/16: 78].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ [النحل: ٣٦] 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu“. [An-Nahl: 36].

Nikmat yang Paling Agung

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Nikmat yang Paling Agung

KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

Nikmat yang Paling Agung
Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi kepada para hamba-Nya dengan nikmat yang sangat banyak, tidak terhitung, nikmat yang terpenting adalah nikmat diciptakannya kita, diberi umur panjang dan nikmat hidayah, dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat seluruh manusia, inilah agama yang sempurna, menyeluruh dan kekal.

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya dengan menyembah,  mengesakan dan bersyukur hanya kepada-Nya, mengadu kepada-Nya setiap permasalahan, takut dan bertawakkal hanya kepada-Nya, merendahkan diri, mencintai, mendekatkan diri hanya kepada-Nya, meminta pertolongan-Nya, memohon keridhaan dan (berdo’a agar diberikan) petunjuk yang bisa mengantarkan ke dalam surga-Nya serta bagaimana agar selamat dari kemarahan dan siksaan-Nya.

Mengatur hubungan antara manusia dengan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menta’ati, mencintai, dan mengikuti sunnahnya, membenarkan ajaran yang dibawa olehnya, menjadikannya sebagai suri teladan dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti dengan ibu dan bapak, dengan isteri dan anak, dengan sanak famili dan tetangga, dengan orang ‘alim dan orang awam, dengan orang muslim dan kafir, dengan penguasa dan masyarakat, dan dengan yang lainnya.

Mengatur muamalah manusia dengan hartanya, mencari nafkah yang halal, menghindari penipuan, bersikap ramah dalam berjual beli, berinfaq untuk kebaikan, berusaha jujur, menghindari riba dan dusta, dan juga mengatur bagaimana membagikan harta shodaqoh, pembagian warisan dan lain sebagainya.

Islam mengatur kehidupan manusia dalam berkeluarga, mendidik anak-anak, menjaga keluarga agar jauh dari kerusakan, mengatur kehidupan pria dan wanita baik dalam keadaan senang ataupun susah, keadaan kaya atau miskin, keadaan sehat atau sakit, keadaan aman atau takut, keadaan bermuqim atau safar.

Islam mengatur seluruh hubungan  tersebut di atas ikatan yang kuat berupa kecintaan karena Allah dan benci karena Allah, mengajak kepada sifat-sifat dan akhlaq terpuji, seperti dermawan, murah hari, rasa malu, pemaaf, jujur, berbuat baik, adil, menolong orang, kasih sayang, simpati dan semisalnya.

Islam melarang segala keburukan dan kerusakan, kezholiman dan tindakan melampaui batas; seperti menyekutukan Allah, membunuh jiwa tanpa alasan yang benar, berzina, berdusta, sombong, kemunafikan, mencuri, ghibah, memakan harta orang dengan cara yang bathil, riba, minum khamer, sihir, riya dan yang lainnya.

Setelah itu; Islam memberitakan tentang keadaan manusia di alam akherat. Dan sesungguhnya kehidupan di akherat itu dibangun berdasarkan kehidupannya di dunia. Maka barangsiapa yang datang dengan membawa keimanan dan amal shaleh ; niscaya dia masuk surga, di dalam surga dirinya akan sangat bahagia karena bisa melihat wajah Allah, dia bersenang-senang dengan kenikmatan yang terdapat di dalam surga, yang mana syurga itu belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh telinga dan tidak pula terbersit dalam hati manusia. Dia kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Sedangkan orang yang datang dengan membawa kekafiran dan kemaksiatan maka ia masuk neraka dan kekal di dalamnya. Adapun orang muslim yang bermaksiat kepada Allah jika dosanya tidak diampuni maka akan diazab di dalam neraka sebatas kadar dosanya, atau diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak disiksa.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ [المائ‍دة: ٣] 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Ma’idah/5: 3]

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ [ال عمران: ١٦٤] 

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Ali Imran/3: 164].

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ ١٥ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ [المائ‍دة: ١٥،  ١٦] 

Sesungguhna telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan  dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [Al-Ma’idah/5: 15-16].

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٣ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَٰلِدٗا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَابٞ مُّهِينٞ [النساء : ١٣،  ١٤] 

Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” [An-Nisa’/4: 13-14].

Agama ini akan tersebar dan disampaikan dengan jelas, sebagaimana jelasnya malam dan siang, kemudian (agama Islam) akan kembali asing seperti semula.

Dari Tsauban Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زَوَى لِيَ مِنْهَا

Sesungguhnya Allah telah menghamparkan bumi bagiku, maka aku melihat belahan bumi bagian timur dan bagian barat dan kekuasaan umatku akan meliputi bagian bumi yang telah dihamparkan bagiku“. (HR. Muslim).

لَيَبْلُغَنَّ هذَا ْالأَمْرُ مَا َبلَغَ الَّليْلُ وَالنَّهَار وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ الله هذَا الدَّيْنَ بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذِلِّ ذَلِيْلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ اْلإِسْلاَمَ وَذلاًّ يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ

Perkara Islam pasti akan sampai kepada apa-apa yang liputi oleh siang dan malam, dan Allah tidak akan meninggalkan rumah baik di kota atau di desa kecuali Dia akan menyampaikan kepada mereka perkara agama ini, dengan memuliakan orang yang mulia atau menghinakan orang yang terhina, yaitu sebuah kemuliaan di mana Allah akan meniggikan Islam dengannya dan kehinaan di mana Allah akan menghinakan kekafiran dengannya“.

إِنَّ اْلإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ وَهُوِ يَأرز بَيْنَ اْلَمسْجِدَيْنِ كَمَا تأرز الْحَيَّةُ إِلَى جِحْرِهَا

Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Ia berkeliling di antara dua masjid; seperti ular yang berlindung ke dalam sarangnya” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Ahmad disebutkan:  فَطُوْبَى  لِلْغُرَبَاءِ setelah kalimat (كما بدأ) : yang artinya beruntunglah bagi mereka yang asing. Ketika Nabi ditanya: “Siapakah orang yang asing itu?”, Rasul menjawab: “Mereka yang dijauhi/asing dari suku dan kaum mereka“.

Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita, dan menyempurnakan nikmat ini dengannya, serta ridha terhadap Islam sebagai agama kita; maka barangsiapa yang menerima agama ini, niscaya dia bahagia di dunia dan di akherat akan masuk syurga. Dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia hidup sengsara di dunia, dan di akherat akan masuk neraka. Allah tidak akan pernah menerima agama dari seorangpun selain agama Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ [المائ‍دة: ٣] 

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Ma’idah/5: 3].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ [ال عمران: ٨٥] 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran/3: 85].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ ِمنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani yang mendengar tentang aku, kemudian ia mati sementara dirinya tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, maka ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim).

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Hikmah Diciptakannya Manusia

HIKMAH DICIPTAKANNYA MANUSIA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya, dan seluruh makhluk di alam ini bertasbih dan memuji keagungan Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا [الطلاق : ١٢] 

Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”[At-Thalaq/65: 12].

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya (dengan sesuatu apapun), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ [الذاريات: ٥٦،  ٥٧] 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” [Al-Zariayat/51: 56-57].

Alam dan Fase-fase yang Dilewati Manusia
Allah menciptakan manusia, serta menjadikannya melewati fase-fase waktu, tempat dan keadaan. Kemudian diakhiri dengan keabadian, baik itu abadi di Surga atau di Neraka. Inilah fase-fase perpindahan tersebut:

Dalam perut ibu, inilah fase awal yang dilewati seluruh manusia, tempat tinggal pertama manusia selama kurang lebih sembilan bulan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaturnya dalam kegelapan dengan kekuasaan-Nya, ilmu-Nya dan hikmah-Nya; apa-apa yang dibutuhkan dari makanan, minuman dan tempat untuk berlindung. Pada fase ini tidak ada tugas dan beban kepada manusia. Ada dua hikmah dengan adanya fase ini, yaitu : Menyempurnakan sendi-sendi dan anggota badan sehingga keluar ke alam dunia setelah sempurna penciptaan secara dhohir dan bathin.

Alam dunia, alam yang lebih luas dari alam rahim ibu, dan masa hidup di alam ini lebih panjang dari alam rahim ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur dan menyediakan bagi manusia apa-apa yang dibutuhkannya di alam dunia ini. Juga Allah memberikan kelebihan berupa akal, pendengaran dan penglihatan, kemudian Allah mengutus rasul-rasul bagi manusia, menurunkan kitab-kitab untuk mereka dan memerintahkan supaya ta’at kepada Allah, melarang bermaksiat kepada-Nya. Dia menjanjikan Surga bagi yang taat, dan siksa Neraka bagi yang bermaksiat. Hikmah adanya alam dunia ini adalah : Menyempurnakan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menyempurnakan amal-amal sholeh, yang merupakan sebab dimasukkannya manusia ke dalam Surga. Setelah itu, barulah dia berpindah ke alam berikutnya.

Alam barzah di dalam kubur, inilah tempat awal dari perkampungan akherat. Manusia tinggal di alam ini sampai meninggalnya seluruh makhluk dan terjadinya hari kiamat. Masa tinggal di alam ini lebih panjang dibanding dengan alam dunia, kebahagiaan dan kesengsaraan di alam ini juga lebih besar dan lebih sempurna dibanding dengan alam dunia; tergantung amal kita ketika di alam dunia, (alam ini) bisa menjadi taman dari taman-taman Surga atau menjadi lubang dari lubang-lubang Neraka. Balasan sudah dimulai dari alam ini. Kemudian barulah manusia berpindah lagi dari alam barzah menuju alam abadi, baik surga atau neraka.

Alam akherat, kehidupan di alam ini tidak terbatas, kenikmatan-kenikmatan yang sempurna bagi orang-orang beriman, dilengkapi dan dipenuhi semua keinginan-keinginan orang-orang beriman. Barangsiapa yang ketika di alam dunia menyempurnakan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keimanan, akhlaq dan amal-amal sholeh, maka di akerat ini Allah sempurnakan pula baginya apa yang dia sukai dan harapkan, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbesit dalam hati manusia. Dan apabila ia datang tanpa membawa keimanan dan amal-amal sholeh, maka baginya balasan neraka jahanam di mana dia kekal di dalamnya, sedangkan orang beriman ketika berpindah ke alam ini, maka dia tidak dibebani dengan apa-apa yang telah diwajibkan atas dirinya ketika berada di alam pertama (dunia), dan dia kekal di dalam surga.

Kesempurnaan Nikmat Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan, memuliakannya di atas semua makhluk. Dan Allah menjadikan bentuk tubuh manusia secara sempurna, ketika dia tidak memperoleh kesempurnaan tersebut, maka hal itu akan mengakibatkan terjadinya gangguan, kekacauan, dan rasa sakit. Maka dijadikanlah kesempurnaan mata dengan penglihatannya, kesempurnaan telinga dengan pendengarannya, kesempurnaan lisan dengan kemampuannya untuk berbicara, dan ketika hilang kesempurnaan kekuatan anggota badan tersebut, niscaya dia akan mengalami sakit dan cacat.

Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kesempurnaan hati dan nikmat-nikmatnya, kegembiraannya, ketenangannya, dalam mengenal Rabbnya. Mencintai-Nya, senang dan rindu kepada Nya, beramal dengan apa yang diridhai-Nya. Dan tetkala hilang kesempurnaan hati ini, maka dia akan merasakan azab yang pedih dan kesengsaraan yang perih jika dibanding dengan mata yang kehilangan penglihatannya, telinga yang kehilangan pendengarannya. Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Dunia dan Akherat

UNIVERSALITAS AGAMA ISLAM

Dunia dan Akhirat
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan segala sesuatu mempunyai tujuan dan perhiasan. Tumbuh-tumbuhan memiliki perhiasan, yaitu: dahan, dedaunan dan bunga-bunga, akan tetapi maksud dan tujuan dijadikannya pohon adalah untuk menghasilkan buah-buahan dan kacang-kacangan. Juga pakaian mempunyai perhiasan, sedangkan maksud dan tujuan dari pakaian adalah menutupi aurat. Sama halnya dengan dunia, dia mempunyai perhiasan dan keindahan, segala apa yang ada di dalamnya adalah perhiasan dunia. Sedangkan maksud dan tujuannya adalah memudahkan untuk beriman dan amal sholeh.

Dunia adalah perhiasan, akherat adalah tujuan. Setiap orang yang lupa akan maksud dan tujuannya pasti akan terpesona dengan perhiasan dunia. Para nabi –alaihimus salam– dan para pengikutnya sibuk beramal demi (mengejar) maksud dan tujuan mereka. Dan orang yang lalai (ahli dunia) akan sibuk dengan perhiasan-perhiasan dunia; berhura-hura dan bermain-main. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mengambil bagian dari dunia ini sebatas keperluan saja, dan beramal untuk akherat dengan segala kemampuannya.

Ketika bentrokan terjadi dalam hidup kita, antara perhiasan dan tujuan, yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, menta’ati-Nya dan menta’ati rasul-Nya, maka dahulukanlah apa yang dicintai oleh Allah, yaitu beribadah kepada-Nya, menta’ati-Nya dan menta’ati rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berjihad di jalan Allah dan menyebarkan agama-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا [الكهف: ٧] 

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” [Al-Kahfi/18: 7].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠ سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ [الحديد: ٢٠،  ٢١] 

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antar kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan akherat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupa dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang di kehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Al-Hadid/57: 20-21].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  [التوبة: 24]

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudar-saudar, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“.[At-Ataubah/9: 24].

Nilai dunia di banding dengan akherat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya telah menjelaskan dengan gamblang dan sejelas-jelasnya tentang nilai dunia dibanding akherat sebagaimana yang disebutkan berikut:

  1. Nilai dunia yang sebenarnya telah dijelaskannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firman Nya:

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ [العنكبوت: ٦٤] 

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akherat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” [Al-Ankabut/29: 64].

  1. Nilai dunia yang bersifat sementara, dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ  [التوبة: 38]

 “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akherat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” [At-Taubah/9: 38].

  1. Nilai dunia diukur dengan timbangan.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam hadist beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ

Kalaulah dunia sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka orang kafir tidak akan dikasih minum walau satu teguk air“. (HR. Tirmidzi).

  1. Nilai dunia diukur dengan takaran:

وَاللهِ مَا الُّدنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هذِهِ وَأَشَارَ يحيى بِالسَّباَّبَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Tidaklah dunia ini dibanding dengan akherat keculai seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ini –dan beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk- pada sebuah sungai yang besar, maka hendaklah dia mengamati bagian yang menetes“. (HR. Muslim).

  1. Nilai dunia diukur dengan luasnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya:

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الُّدُنْيَا وَمَا فِيْهَا

Tempat cemeti di dalam syurga, itu lebih baik dari dunia beserta isinya“. (HR. Bukhari).

  1. Nilai dunia diukur dengan uang dirham.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati bangkai seekor anak kambing yang tuli (cacat), maka beliau menghampirinya dan mengangkat telinga bangkai kambing tersebut, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هذَا لَهُ بِدَرْهَمٍ فَقَالُوْا مَا نُحِبّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوْا وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عيَبْاً فِيْهِ ِلأَّنهُ أَسَكَّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلىَ اللهِ مِنْ هذَا عَلَيْكُمْ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pada sebuah pasar, masuk dari sisi pintunya, sementara para shahabat berada pada kedua sisi beliau dan melewati seekor kambing cacat yang telah mati. Lalu beliau mengambilanya dan memegang telinganya kemudian bersabda: “Siapakah yang mau membeli barang ini dengan satu dirham?”, para shahabat berkata: “Kami tidak suka memilikinya walaupun sedikit dan apakah yang bisa kami perbuat dengannya?”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah kalian senang jika memilikinya?. Para shahabat menjawab: “Demi Allah, seandainya dia hidup maka dia hidup dalam keadaan cacat sebab telinganya kecil, tuli dan apalagi kalau dia telah menjadi bangkai (kami tidak mau memilikinya), lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, dunia ini lebih hina kepada Allah dari (bangkai) ini di hadapan kalian“.(HR Muslim)

Kebahagiaan dan Kesengsaraan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kebahagian dan Kesengsaraan

UNIVERSALITAS AGAMA ISLAM

Kebahagiaan dan Kesengsaraan
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kebahagiaan dan kesengsaraan sesuai dengan tingkat keimanan dan amal sholehnya, atau sebaliknya kekufuran dan amal buruknya.

Orang yang beriman dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul Nya dengan melakukan amal-amal sholeh, maka dia hidup bahagia di dunia, kemudian kebahagiaannya ditambah pada saat setelah dirinya meninggal, malaikat memberi kabar gembira baginya dengan kemudahan menjelang kematiannya, juga ditambahkan baginya suatu kebahagiaan ketika di dalam qubur, dan kebahagiaannya ditambah kembli ketika seluruh umat manusia berkumpul, lalu kebahagiaannya itu menjadi sempurna ketika dimasukkan ke dalam syurga.

Begitu juga sebliknya, orang yang kafir dan buruk amalnya, dia akan sengsara dan keadaannyapun buruk di dunia, kemudian ditambah lagi dengan kesengsaraannya ketika menjelang kematian, dan kesengsaraannya ditambah kembali ketika berada di dalam qubur, lalu kesengsaraannya ditambah kembali  pada saat berkumpulnya seluruh manusia (dipadang mahsyar) serta kesengsaraannya menjadi sempurna ketika dimasukkan ke dalam neraka.

Barangsiapa di dunia rajin melaksanakan bermacam-macam amal yang diridhai dan dicintai Nya, maka beragam pula pula bagian kenikmatan yang akan diperolehnya di dalam syurga, dan banyaknya kenikmatan tergantung dari banyaknya amal. Dan barangsiapa di dunia melakukan berbagai macam amalan yang dibenci dan dimurkai oleh Allah, maka diapun akan merasakan bermacam-macam siksaan dan kepedihan di dalam neraka, dan beragamnya siksaan juga tergantung kepada banyaknya amalan kejelekan (yang dilakukannya).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ [النحل: ٩٧] 

Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl/16: 97].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا ١٢٥ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ ١٢٦ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي مَنۡ أَسۡرَفَ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبۡقَىٰٓ [طه: ١٢٤،  ١٢٧] 

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari qiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kemu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya, dan sesungguhnya azab di akherat itu lebih berat dan lebih kekal. [Thaha/20: 124-127].

Orang yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya akan dicoba dengan amalan yang bisa merugikannya.

Sunnatullah berjalan atas orang yang meninggalkan sesuatu yang bermanfaat baginya, padahal dia bisa megkerjakannya, akan dicoba dengan kesibukkan yang bisa merugikannya sehingga pekerjaan yang sebelumnya menjadi terhalang untuk dikerjakan. Ketika orang-orang musyrik enggan untuk beribadah kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka mereka diuji dengan beribadah kepada berhala. Ketika mereka menolak serta enggan untuk tunduk kepada rasul-rasul, mereka mendapat cobaan dengan ketundukan mereka terhadap apa-apa yang bisa merusak dan mengacaukan aqal dan agama mereka. Ketika mereka menolak untuk mengikuti kitab-kitab yang telah diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia; maka mereka terjebak mengikuti kitab-kitab yang buruk dan hina serta merusak akal. ketika harta-harta mereka tidak diinfaqkan dalam rangka taat kepada Allah, maka mereka diuji dengan menginfaqkan hartanya demi hawa nafsunya dan syaithon.

Dan orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, ia meninggalkan apa yang dikehendaki oleh hawa nafsu dan syahwat-syahwatnya, maka akan Allah gantikan dengan kecintaannya kepada Allah serta ketenangan dalam beribadah, dan sungguh ia merasakan kebahagiaan dengan ibadah tsb, dan ganti dari Allah itu (yaitu: cinta kepada Allah dan menyembahNya) melebihi kenikmatan dunia dan seluruhnya.

Tiang-Tiang Agama Islam
Islam adalah agama dan sebagai rahmat bagi seluruh alam, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkannya bagi seluruh makhluk, Allah telah mengutus bagindanya para rasul dengan membawa agama Islam ini, sebagai penutup para nabi, dan Allah muliakan umat beliau dengan berdakwah kepada Nya sampai hari qiamat.

  1. Allah adalah Rabb bagi semesta alam, tidak ada Rabb bagi mereka selain Diri Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ [الناس: ١] 

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” [An-Nas/114: 1].

  1. Allah adalah Raja manusia, tidak ada Raja bagi mereka selain Diri Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَلِكِ ٱلنَّاسِ [الناس: ٢]  ِ

Raja manusia.” [An-Nas/114: 2].

  1. dan Allah adalah Tuhan manusia, tidak ada Tuhan bagi mereka kecuali hanya Allah, sebagaimana firman Nya: إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ [الناس: ٣]

Sembahan manusia.” [An-Nas/114: 3].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan quran sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana firman Nya:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ ……. [البقرة: ١٨٥] 

Bulan ramadhan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [Al-Baqarah/2: 185].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Nya bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Nya:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ [سبا: ٢٨] 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’/34: 28].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menghadap ke arah ka’bah, sebagai tempat pertama bagi manusia (yang dibangun untuk beribadah), dimana manusia mendirikan sholat dan berhaji padanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦ فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ [ال عمران: ٩٦،  ٩٧] 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imran/3: 96-97].

  1. Dan Allah menyebutkan bahwa umat ini adalah sebaik-baik umat, yang telah dilahirkan demi umat manusia.

a). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ [ال عمران: ١١٠] 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran/3: 110].

b). Dari Bahzi bin Hakim, dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya; ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((اَلاَ إِنَّكُمْ تُوْفُوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ))

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan menyamai tujupuluh umat, dan kalianlah umat yang terbaik dan termulia di sisi Allah Azza wa Jalla.” (Musnad Imam Ahmad bin Hambal).

  1. Da’wah kepada Allah dan menyampaikan agama ini, baik dibelahan timur ataupun barat; adalah wajib bagi setiap muslim kepada seluruh manusia; sehingga kalimat Allah menjadi tinggi, dan agama semata-mata untuk Allah.

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: ١٠٧] 

Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf/12: 108].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imron

هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ [ال عمران: ١٣٨] 

“(Al quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”[Ali Imron/3:138].

c). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim:

هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ابراهيم: ٥٢] 

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” [Ibarahim/14: 52].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerukan kepada manusia untuk beribadah kepadaNya saja dan tidak menyekutukanNya (dalam beribadah), dan Dia menyerukan (kepada hmabaNya) agar mereka mengetahui nama-namaNya yang Agung, sifat-sifat Nya yang Mulia dan pekerjaan-pekerjaan Nya. Dan Allah memuliakan kita dengan menyeru manusia kepada beribadah kepada Allah. Didalam Al Quran, ajakan pertama yang ditujukan bagi manusia adalah supaya mereka beriman kepada Allah saja dan tidak menyekutukan Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  [البقرة: ٢١،  ٢٢] 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagi atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. ([Al-Baqarah/2: 21-22].

  1. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb seluruh alam, tidak ada bagi mereka Rabb selain dari Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [الفاتحة: ٢] 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”  [Al-Fatihah/1: 2].

  1. Dan Allah telah mengutus nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul untuk memberikan peringatan dan rahmat bagi semesta alam ini

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Furqan:

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا [الفرقان: ١] 

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al furqan (al quran) kepada hamba Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” [Al-Furqan/25: 1].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ [الانبياء: ١٠٧] 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’/21: 107].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Dakwah Kepada Jalan Allah

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Dakwah Kepada Jalan Allah
Kebutuhan umat kepada agama ini seperti butuhnya jasad kepada ruh. Ketika jasad kehilangan ruh, maka jasad  tersebut ikut menjadi rusak dan busuk; begitu pula dengan umat ini, ketika dia kehilangan agamanya maka hancurlah umat ini.

Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu luas meliputi segalanya, dan di antara rahmat (kasih sayang) Allah terhadap para hamba Nya adalah Dia mengutus para rasul, menurunkan kepada mereka kitab-kitab; supaya mengenal siapakah Tuhan mereka, siapakah yang telah menciptakan mereka, siapakah yang menurunkan rezeki kepada mereka, dan dijelaskan pula kepada mereka apa-apa yang diridhai oleh Nya, menyerukan mereka agar menta’atiNya dan beribadah hanya kepada Nya dan tidak menyekutukan Nya (dengan sesuatu apapun). Dan Allah telah menyediakan pahala dan ganjaran bagi mereka yang taat, serta menyediakan siksaan bagi yang bermaksiat kepada-Nya.

فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ [النحل: ٣٦] 

Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatannya.” [An-Nahl’/16: 36].

Ketika keimanan umat manusia telah melemah dan terjerumus melaksanakan kesyirikan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang rasul untuk menyeru mereka kepada tauhid dan mengesakan Nya dalam beribadah. Kemudian diikuti dengan mengutus rasul-rasul setelahnya, dan setiap rasul itu diutus kepada kaum-kaum tertentu, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup nubuwah dan risalahNya (dengan mengutus) baginda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih Muhammad sebagai utusan Nya, dengan membawa petunjuk dan agama yang hak bagi seluruh manusia, menyampaikan risalah, menunaikan amanat yang dibebankan kepadanya, menasehati umat, dan berjihad di jalan Allah, meninggalkan umat Islam dalam keadaan terang, siangnya sebagaimana malamnya, dan tidaklah orang yang berpaling (dari risalahnya) kecuali ia akan binasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang terakhir dan paling mulia dari para nabi dan rasul lainnya, dan umat rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat yang terakhir dan paling unggul dari umat-umat sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tugasnya para nabi dan rasul (yaitu dakwah). Dan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdakwah di kawasan jaziroh arab, dalam jangka duapuluh tiga tahun. Dengan kemampuan yang dimilikinya beliau berdakwah, sehingga pada masa itu, agama Islam merata tersebar. Beliau memulai berdakwah dari keluarganya, kemudian sanak kerabatnya, lalu kaum-kaumnya, kepada penduduk mekkah dan sekitarnya, kemudian kepada bangsa arab secara keseluruhan. Dan kepada manusia semuanya; beliau menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh umat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta alam; lalu manusia berbondong-bondong masuk agama Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ   [سبا: ٢٨] 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’/34: 28].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ [الانبياء: ١٠٧] 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’/21: 107].

Sebab-sebab Hidayah
Di zaman nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak orang yang masuk ke dalam agama Islam karena beberapa sebab, di antaranya:

  1. Ajakan yang dilakukan secara lisan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepada Abu Bakar, Khadijah, Ali bin Abi Thalib dan sahabat yang lainnya untuk masuk Islam, dan mereka pun (menyambut dengan) masuk Islam –semoga Allah meridhai mereka
  2. Dengan mengajarkan Islam (ta’lim), sebagaimana Umar Radhiyallahu anhu yang dikasih hidayah karena terpengaruh oleh bacaan Al-Qur’an yang didengar dan dibaca di rumah saudarinya; Fatimah bersama suaminya Sa’id bin Zaid dan Khabab bin Al-Arat (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka). Di mana pada saat itu, mereka semua sedang belajar Al Quran. Dan sebagaimana masuk Islamnya Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz (semoga Allah meridhai mereka berdua) dalam halaqah ta’lim yang dibimbing oleh Mush’ab bin Umair (semoga Allah meridhai-Nya) di Madinah.
  3. Dengan (pemandangan saat mendirikan) suatu ibadah. Hindun binti Utbah masuk Islam setelah dia melihat orang-orang muslim sholat pada tahun kemenangan yaitu tahun pembukaan Makkah, begitu pula dengan Islamnya Tsumamah bin Atsal al hanafi (semoga Allah meridhainya) yang masuk Islam di Mesjid Nabawi, karena terpengaruh oleh pemandangan ibadah yang dilakukan oleh orang-orang muslim dan lain sebagainya.
  4. Dengan berinfaq dan sikap dermawan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun pembukaan kota Mekah memberikan harta yang sangat banyak kepada Shofwan bin Umayyah, Muawiyah dan yang lainnya, sehingga mereka masuk Islam, sebagaimana masuk Islamnya seorang lelaki yang diberi kambing pada sebuah tempat di antara dua gunung, akhirnya dengan masuk Islamnya lelaki tersebut maka kaumnyapun ikut masuk Islam.

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Berdakwah Atau Menyeru Manusia Adalah Kewajiban Umat
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan dan memuliakan umat ini dengan tugas para nabi yaitu dakwah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun juga menentukan daerah, wilayah dan hamba-hamba Nya yang akan dijadikan sebagai sasaran berdakwahnya umat ini, baik itu di belahan bumi bagian timur atau bagian barat sampai hari kiamat nanti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan kemampuannya dalam membina para shahabat (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka), sehingga tertanam dalam jiwa mereka dua perkara: menjalankan tunutnan agama dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Merekapun paham bahwa semua wilayah dan para hamba Allah yang ada padanya adalah tanggung jawab umat hingga akhir kiamat. Sebab, sungguh seorang muslim akan bertanggung jawab pada saat dirinya tidak menunaikan tugas pribadinya yaitu ibadah, dan akan bertanggung jawab pula ketika dirinya meninggalkan tugas sosialnya yaitu berdakwah, hingga Allah mencabut nyawanya.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ [ال عمران: ١١٠] 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah“. [Ali Imran/3: 110].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [ال عمران: ١٠٤] 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: 108] 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”. [Yusuf/12: 108].

Bashirah mencakup tiga hal, yaitu: berilmu sebelum berdakwah, bersikap bijak dan lemah lembut ketika berdakwah, sabar setelah berdakwah.

Para sahabat telah mendapat pendidikan dan bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sarana dan metode-metode dalam berdakwah. Lalu setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat para shabatlah yang memikul tanggung jawab dakwah ini. Para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) telah mengorbankan saat-saat senang dan mengekang syahwat mereka (demi dakwah), dan mereka tak segan-segan mengorbankan harta, waktu dan jiwa mereka demi tersebarnya agama ini di muka bumi.

Merekalah yang telah menyiarkan dakwah ilallah, mengemban kalimat laa ilaaha illallah sehingga merasuk ke dalam setiap rumah di belahan bumi timur dan barat, di kawasan Syam dan Iraq, Mesir dan Afrika utara, di Rusia dan kawasan di sebarang sungai dan yang lainnya.

Dan negari ini (Kerajaan Arab Saudi) dimenangkan hingga Islam tersiar dan tauhid tersebar sebagai ganti dari kesyirikan, kekufuran diganti dengan keimanan, dan bermunculan pula di negari ini para ulama dan da’i, orang-orang yang suka beribadah dan zuhud, orang-orang sholeh, para mujahid, yang semuanya ini menyenangkan bagi setiap orang muslim.

Merekalah orang-orang yang terbaik, termulia dan merekalah yang telah diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merekapun ridha kepada Allah, merekalah orang-orang yang jujur dan benar dalam menepati janjinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ  [التوبة: 100]

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100].

Apa yang harus didahulukan dan apa yang akhirkan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengedepankan berjuang dan berdakwah dari mencari uang dan sesuatu yang mubah. Oleh karena itulah kehidupan mereka serba kekurangan baik harta atau lainnya. Namun, bersamaan dengan itu keimanan dan amalan-amalan sholeh mereka naik dan bertambah, tampaklah akhlak mulia yang sebenarnya pada diri mereka dan banyak kemenangan (yang diraih) agama Islam. Akan tetapi, banyak orang-orang muslim saat sekarang ini, lebih mengedepankan bekerja mencari usaha dari perjuangan (bagi agama) dan dakwah lalu uang mereka menambah jumlah harta mereka, bersamaan dengan itu keimanan dan amal sholeh mereka menjadi berkurang. Dua sikap yang tertanam dalam kehidupan para shahabat: Orang yang perhatiannya hanya terfokus dalam mengumpulkan harta adalah seperti orang Yahudi, dan orang yang perhatiannya hanya terfokus dalam memuaskan nafsunya adalah seperti Nashrani. Oleh karenanya, ketika tujuan (seseorang yang sebenarnya) berubah akan berakibat menguatnya sisi dunia dan jasmani sehingga melemah sisi agama dan ruh, sementara perhatian dan kesungguhannya hanya tertuju untuk dunia bukan agama, dan agama (diposisikan) seperti orang miskin yang berkeliling menghiba dan mengharap dari manusia, tetapi tidak ada yang memberi dan mengasihinya, karena orang-orang sedang sibuk dengan urusan dunia dan syahwat mereka.

Agama ini akan tetap dan terus eksisis sampai hari qiamat, akan tetap ada sekelompok dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu dan terus menjalankan syariat agama ini, hingga datang ketentuan dari Allah dan mereka tetap seperti itu.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائَمَة ًبِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرّهُمْ مَنَ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُالله ِوَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak memadhoratkan mereka orang yang menyelisihinya sampai datang ketentuan Allah dan mereka tetap tampak seperti itu di tengah-tengah manusia“. (Muttafaq alaihi).

Fadhilah Dakwah Ilallah

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Fadhilah Dakwah Ilallah

BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Fadhilah Dakwah Ilallah
Setiap orang yang beriman dan menjalankan ibadah serta berdakwah ilallah, memuliakan oleh Allah dengan memberikan beberapa karomah, di antaranya: Sesungguhnya Allah akan memuliakannya, meskipun ia tidak mempunyai sebab-sebab kemuliaan. Seperti Bilal dan Salman (semoga Allah meridhai mereka berdua). Allah akan menanamkan pada dirinya cinta kepada semua tunutnan agama dan dia cinta dalam melaksanakan serta menyeru kepadanya. Allah menjadikan baginya kecintaan dihati para makhluk Nya, dan Allah akan menghilangkan bentangan kebathilan di sekitarnya, Allah menguatkan dan membantunya dengan pertolongan yang ghaib dari sisi Nya, Allah mengabulkan setiap do’anya, Allah menjadikannya mulia dan dihormati, Allah memberikan baginya pahala dan pahala orang-orang yang diserunya serta orang yang telah mendapat hidayah karena dakwahnya.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [فصلت: ٣٣] 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang sholeh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“. [Fushilat/41: 33].

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyalahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلىَ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذِلكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آَثاَمِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلكَ مِنْ آثَاِمهِمْ شَيْئًا

‘Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun“. (HR. Muslim).

  1. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu di hari khaibar.

اُنْفُذْ عَلىَ رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلىَ اْلإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ ِمنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمُرُ النِّعَمِ

Berjalanlah dengan tenang kemudian serulah mereka untuk masuk Islam, dan beritahukan kepada mereka beberapa kewajiban atas mereka, demi Allah seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan perantaraan kamu, itu lebih baik bagimu daripada onta merah’ (Bukhori dan Muslim).

Manusia Dalam Beramal Terbagi Menjadi Dua Golongan
Di antara mereka, ada yang bersungguh-sungguh beramal dan bekerja untuk kehidupan duniawi sehingga larut di dalamnya, lalu pergi meninggalkannya (dengan kamatian). Di antara mereka ada yang bersungguh-sungguh dalam beramal untuk kehidupan akherat kemudian meninggal dan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya, merekalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang beramal untuk kehidupan akherat. Mereka ini terbagi menjadi dua golongan:

Orang yang sibuk dengan ibadahnya semata. (Golongan ini) ketika meninggal terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anaknya yang sholeh yang selalu mendo’akannya.

Orang yang menyibukkan dirinya dengan beribadah dan berdakwah ilAllah Subhanahu wa Ta’ala, di mana dia berkorban dan bersungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah, maka amal baiknya akan terus mengalir kepadanya dari setiap orang yang mendapat hidayah yang disebabkan oleh dakwahnya, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ٢٠ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ٢١ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ  [التوبة: 19، 22]

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.” [At-Taubah/9: 19-22].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Kewajiban Berdakwah Ilallah

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Pentingnya Berdakwah Ilallah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan seluruh hukum-hukum syariat secara global di dalam Al-Quran lalu dijelaskan secara terperinci oleh rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sunah-sunah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, khusus masalah dakwah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara terperinci, lengkap dan menyeluruh di dalam Al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerangkan tentang tata cara beribadahnnya para nabi (secara rinci), tidak menerangkan bagaimana cara sholatnya Nabi Ibrahim, bagaimana tata cara hajinya Nabi Adam, bagaimana cara puasa yang dilakukan oleh Nabi Daud. Semuanya di terangkan oleh Allah di dalam Al-Quran secara umum. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjelaskan secara terperinci di dalam Al-Quran satupun kisah tentang hamba Nya yang suka beribadah. Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam Al-Quran tentang bagaimana dakwahnya para nabi, Allah menjelaskan dengan mendetail bagaimana kisah nabi Musa dalam duapuluh sembilan juz di Al-Qur’an, juga menjelaskan secara terperinci bagaimana para nabi yang lain berdakwah kepada kaum mereka, disebutkan kisah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Hud, Shaleh, Syu’aib, Luth, Yusuf, dan yang lainnya; karena sesungguhnya umat ini d iutus untuk berdakwah ilallah, dengan melihat suri tauladan para nabi (semoga rahmat dan salam bagi mereka).

Terdapat jarak yang panjang antara keimanan dengan turunnya hukum-hukum syariat. Akan tetapi tidak terdapat jarak waktu antara keimanan dengan dakwah; karena umat ini telah di utus untuk berdakwah ilallah sebagaimana para nabi. Dahulu, setiap nabi mengajarkan hukum syari’at kepada umatnya setelah menanamkan keimanan, akan tetapi setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia memerintahkan kepada umat ini untuk berdakwah kepada din Allah setelah mereka mengajarkan keimanan, barulah setelah itu beliau mengajarkan hukum-hukum syariat di Madinah, karena umat ini di utus sebagaimana diutusnya para nabi.

Allah telah memilih umat ini di antara umat-umat sebelumnya, dan memuliakan umat ini dengan agama Islam dan berdakwah kepadanya, berdakwah ilallah adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan sebatas kemampuan dan keilmuannya. Dakwah ilallah adalah tanggungjawab umat, dan kebutuhan umat.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ [يوسف: ١٠٧] 

Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf/12: 108].

Nash tersebut umum, tidak terikat waktu: malam dan siang, tidak terikat tempat: utara selatan, timur dan barat, tidak terikat kebangsaan: orang arab atau selain arab, tidak terikat jenis kelamin: laki-laki dan perempuan, tidak terikat umur: orang dewasa dan anak-anak, tidak terikat warna: putih hitam, tidak terikat tingkatan: penguasa, budak, kaya dan miskin.

Berdakwah kepada mereka adalah wajib, karena mereka merupakan bagian dari umat manusia, dan agama ini untuk seluruh manusia. Dan wajib bagi mereka berdakwah ketika mereka telah memeluk agama Islam, karena mereka juga adalah umat Muhammad dan pengikutnya.

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ابراهيم: ٥٢] 

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mngetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambail pelajaran.” [Ibrahim/14: 52].

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya di hari nahr ketika haji wada’ kepada semua orang-orang yang beriman; baik para shahabat beliau yang dari arab maupun ‘ajam, laki-laki dan perempuan, yang berkulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin, penguasa dan para budak:

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوْ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

Yang mendengar supaya menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang menyampaikan itu lebih paham dari yang mendengar“. (Muttafaq alaihi).

4. Dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridha mereka berdua) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan tidaklah mengapa untuk mengambil hadist dari bani israil, dan barangsiapa yang berbohong atas namaku, maka bersiap-siaplah menempati api neraka“. (HR. Bukhori).

5. Berkorban dan berusaha demi tegaknya kalimat Allah serta menyebarkannya dapat membuahkan hidayah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ [العنكبوت: ٦٩] 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut/29: 69].

Hakekat perjuangan adalah: Berusaha untuk sempurna dalam beramal, berkorban dengan apa saja demi perjuangan, selalu istiqomah sampai meninggal dunia. Dan hal yang sangat berharga dalam perbendaharaan Allah adalah Hidayah. Karena Allah tidak memberikannya kecuali kepada hamba-hamba Nya yang terpilih, di antaranya ada yang meminta kepada Allah dan berusaha di jalanNya, sehingga berhasil mendapatkannya. Di antaranya ada yang telah Allah ketahui bahwa dirinya yang berhak, merekalah orang-orang yang beriman. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk berdo’a dan meminta hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sehari semalam sebanyak tujubelas kali dalam sholat yang wajib. Sebagaimana firman Allah:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ [الفاتحة: ٦،  ٧] 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.(6) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; Bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)”. [Al-Fatihah/1: 6-7].

Berusaha dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kalimat Allah
Ada tiga tahapan dalam berjuang demi tegaknya kalimat Allah:
1. Berjuang atas orang kafir dengan harapan supaya mereka mendapatkan hidayah, sebagaimana firman Allah:

أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۚ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ [السجدة : ٣] 

“Tetapi mengapa mereka (orang-orang kafir) mengakatan: “Dia Muhammad mengada-adakannya. Sebenarnya al quran itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” [As-Sajdah/32: 3].

2. Berjuang kepada orang-orang muslim yang bermaksiat agar mereka berubah menjadi taat, berubah dari lalai menjadi ahli dzikir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [ال عمران: ١٠٤] 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

3. Berjuang atas orang-orang sholeh agar menjadi pembaharu dalam agama dan berjuang terhadap yang suka berdzikir agar bisa menasehati orang lain.

a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ [العصر: ١،  ٣] 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-Ashr/103: 1-3].

b. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ [الغاشية: ٢١] 

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. [Al-Ghasyiah/88: 21].

Ketika para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) mengetahui akan wajibnya berdakwah ilallah dan keutamaan berdakwah, maka mereka bergegas berlomba dalam berdakwah serta mengadakan ta’lim dan berjihad demi tegaknya kalimat Allah, menyebarkannya di muka bumi ini. Mereka berdakwah ilallah dengan penuh hikmah dan menasehati dengan cara yang baik. Tertanam dalam hati mereka kasih sayang dan lemah lembut terhadap manusia. Saksi-saksi dan bukti dalam kitab-kitab, hadist dan sejarah memberikan kesaksian (tentang perjuangan) mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ [النحل: ١٢٥] 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”. [An-Nahl/16: 125].

Tugas Umat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Tugas Umat

KEWAJIBAN BERDAKWAH KEPADA ALLAH

Tugas Umat
Berdakwah ilallah adalah merupakan tugas bagi setiap umat, adapun berfatwa dalam permasalahan hukum, bagi yang mengetahui hukum secara pasti berfatwalah dengannya, dan bagi yang tidak mengtahui akan hukum tertentu, maka tunjukilah orang yang meminta fatwa tersebut ulama yang lebih mengetahui dari segi keilmuan, kefiqihan, hafalan serta kepahaman. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang mengerjakan kebaikan tsb. Dahulu  di antara para sahabat pada enggan untuk berfatwa. Mufti dari kalangan sahabat bisa dihitung dengan jari, seperti: Muadz, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas dan yang lainnya (semoga Allah meridhai mereka).

Berfatwa bukan suatu hal yang diperbolehkan bagi siapa saja, adapun dakwah ilallah wajib bagi setiap insan sesuai dengan kemampuan dan keilmuannya, paling tidak satu ayat.

Para ulama dan ahli fiqih, merekalah yang berfatwa, sebagaimana firman Nya:

 فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ  [النحل: ٤٣] 

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl/16: 43].

Berdakwah dengan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar bagi umat ini sesuai dengan tingkat kemampuan dan keilmuan mereka. Para shahabat telah menjalankan misi da’wah ini dari mulai sejak sebelum turunnya hukum-hukum tentang sholat, zakat, shaum dan yang lainnya. Inilah umat yang menyatukan antara pengorbanan serta jihad demi tegaknya kalimat Allah, dan baik dalam beramal bukan banyak beramal.

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  [يوسف: ١٠8] 

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-oarng yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf/12: 108].

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ  [التوبة: 71]

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah/9: 71].

Hal yang pertama kali akan tercabut dari kehidupan umat ini adalah: kesungguhan dalam berdakwah, kemudian jiwa berkorban, lalu hidup yang sederhana. Musuh-musuh Islam telah menyadari hal ini dan berusaha untuk mencabutnya dari umat Islam. Akhirnya, keadaan menjadi terbalik di mana pengorbanan dan kerja keras hanya untuk dunia, seseorang berubah menjadi insan yang bekerja keras untuk kehidupan dan kesenangannya. Sehingga masyarakat mengingkari perzinahan, riba, minum arak, tapi tidak mengingkari ditinggalkannya dakwah ilallah yang telah terlepas dari kehidupan umat.

Pada zaman Rasulullah dan para shahabat, setiap pribadi umat ini konsisten dengan ibadah dan dakwah, dan pada generasi berikutnya hanya ibadah yang tersisa di dalam umat ini, sementara berdakwah hanya dilakukan oleh sebagian atau orang tertentu dari umat ini. Dan tidak akan menjadi baik umat yang terakhir ini kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh umat yang terdahulu.

Ada dua kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan:
Kewajiban pertama: mengamalkan agama, beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya, mentaati Allah dan rasul Nya, serta mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi apa yang dilarangNya.

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ  [النساء : ٣٦] 

“Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan Nya dengan apa pun.” [An-Nisa’/4: 36].

b). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ [الانفال: ٢٠] 

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah Nya)”.[Al-Anfal/8: 20].

Kewajiban kedua: berdakwah ilallah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran

a). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  [ال عمران: ١٠٤] 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3: 104].

b). Dari Abdullah bin Amru (semoga Allah meridhai mereka berdua) bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((بَلِّغوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً)) Sampaikan dariku walau hanya satu ayat“. (HR. Bukhari).

c). Dari Abu Sa’id al Khudriy Radhiyallahu anhu ia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ)

“Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, apabila ia tidak sanggup maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila masih tidak sanggup maka ingkarilah dalam hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Waktu Seorang Muslim

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Dakwah Kepada Allah Azza wa Jalla كتاب الدعوة إلى الله). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri.  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]