Author Archives: editor

Penghibur Hati Bagi Orang Miskin  

PENGHIBUR HATI BAGI ORANG MISKIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara hikmah yang tersimpan dalam ilmu yang ada disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menjadikan diantara para hamba -Nya bertingkat status sosialnya, ada yang miskin ada pula yang kaya, dan tentunya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kekayaan bagi siapa yang dikehendaki begitu pula menjadikan orang menjadi miskinpun atas kehendak-Nya. Sebagaimana yang Allah azza wa jalla jelaskan melalui firman -Nya:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ [ الزخرف: 32]

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat”. [az-Zukhruf/43: 32].

Demikian pula Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat yang lain:

 وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ  [ الأنبياء: 35]

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”.  [al-Anbiyaa’/21: 35].

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, “Maksudnya kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, yakni dengan kesulitan hidup serta kelapangan, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, mendapat petunjuk dan tersesat”. Maka ini merupakan kesempurnaan hikmah serta rahmat yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para makhluk -Nya, kalau seandainya manusia pada satu status, semuanya dijadikan kaya niscaya mereka semua akan berbuat lalim dimuka bumi ini. seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:

 وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ  [ الشورى: 27]

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran”. [asy-Syuura/42: 27].

Fadhilah Orang Miskin
1. Orang-orang fakir adalah manusia terdepan yang akan memasuki surga.
Sebagaimana disebutkan hal tersebut dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr bi al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ. قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً » [أخرجه أحمد]

“Tahukah kalian siapa manusia terdepan yang akan masuk ke dalam surga dari kalangan makhluk? Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Orang terdepan yang akan memasuki surga dari makhluk Allah ialah orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu orang-orang yang terhalangi mulutnya dari makanan (sulit makan), penuh dengan kesulitan hidup, dan orang yang meninggal diantara kalian sedang keinginannya hanya sampai didada tidak sampai terlaksana”. [HR Ahmad 11/131 no: 6570.]

Dan dijelaskan dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه الترمذي]

Orang-orang fakir akan memasuki surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan jeda setengah hari yang hitungannya sama dengan lima ratus tahun“. [HR at-Tirmidzi no: 2353. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih”].

2. Penduduk surga terbanyak adalah orang fakir.
Seperti diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Imran radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ  » [أخرجه البخاري ومسلم]

Aku menengok ke dalam surga maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, lalu aku melongok ke dalam nereka maka aku jumpai kebanyakannya adalah para wanita“. [HR Bukhari no: 5198. Muslim no: 2737].

3. Kebanyakan pengikut para nabi dan rasul adalah orang-orang fakir.
Seperti diterangkan dalam potongan hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan dalam penggalan hadits tersebut: “Bahwa Heraklius, pembesar Romawi bertanya pada Abu Sufyan tentang siapakah yang paling banyak sebagai pengikut Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang kaya atau justru orang-orang lemahnya? Abu Sufyan menjawab, “Justru yang mengikutinya adalah orang-orang fakir dikalangan mereka”. Heraklius mengatakan, “Demikianlah yang menjadi pengikut kebanyakan para Rasul”. [HR Bukhari no: 7].

4. Begitu pula Allah ta’ala menyuruh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bergaul bersama orang-orang papa dan lemah, dan menyuruh untuk tinggal bersama mereka. Karena bisa menjadikan dirinya jauh dari gemerlapnya dunia serta fitnahnya.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama enam sahabat lainnya. Lalu orang-orang kafir berkata, “Keluarkan mereka dari majelis jangan biarkan mereka mendekati kami! Beliau melanjutkan, “Dan yang bersamaku pada saat itu adalah Ibnu Mas’ud, dan seseorang dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi yang aku lupa namanya. Mendengar ucapan tersebut, masuk bisikan dalam hati Rasulalalh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, yaitu untuk menuruti kemauan mereka. Maka Allah azza wa jalla menegurnya dengan menurunkan ayat:

وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥ [ الأنعام: 52]

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya”. (al-An’aam/6: 52). [HR Muslim no: 2413].

Dan betul Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan perintah Rabbnya, dengan dibuktikan dalam bentuk untaian do’anya yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهمَّ أَحيِني مِسكينًا، وأَمِتْني مِسكينًا، واحشُرني في زُمرةِ المساكينِ يومَ القيامَةِ  » [أخرجه الترمذي]

Ya Allah, wafatkan diriku dalam keadaan miskin, dan hidupkan diriku dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama kalangan orang-orang miskin kelak pada hari kiamat“. [HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917].

5. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya diuji dengan kelaparan lantas mereka bersabar hingga akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kecukupan pada mereka.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sungguh diriku pernah menyaksikan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu hari kelaparan, karena tidak satu butir kurma pun yang bisa dimakan walaupun yang paling jelek sekalipun”. [HR Muslim no: 2978.]

Sahl bin Hunaif mengkisahkan, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kebiasan beliau ialah senang mengunjungi orang fakir dikalangan para sahabatnya, menengok mereka, serta menjenguk yang sedang sakit, dan menyolati jenazah mereka”. [HR al-Hakim 3/270 no: 2787. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul jami’ no: 4877].

Dalam sebuah riwayat dijelaskan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Tidaklah keluarga Muhammad pernah merasakan kenyang dari roti dan gandum, selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat Shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5374. Muslim no: 2970].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan tentang firman -Nya Allah tabaraka wa ta’ala:

 وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ [ الضحى: 8]

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. [adh-Dhuha/93: 8]

Artinya engkau dahulu dalam keadaan fakir punya banyak keluarga kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kamu kecukupan melebihi yang lain. Maka terkumpul dalam pribadi Rasulallah Shhalallahu ‘alaihi wa sallam dua kemuliaan yakni orang fakir yang bersabar dan orang berkecukupan yang bersyukur”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebuah hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah dalam kesulitan hidup dan beban ujian yang sangat berat, sampai kiranya kami mengisap kulit dan biji kurma untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 3159].

Sedang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mengkisahkan, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Dirinya, sungguh diriku pernah jatuh tersungkur disebabkan menahan lapar, dan aku pernah mengganjal perutku dengan batu untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 6452].

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kami pernah berangkat perang bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika itu tidak ada makanan yang bisa kami makan kecuali dedaunan, sampai kiranya kami bagaikan onta atau kambing (yang memakan dedaunan), tidak ada campuran lainnya”. Para ulama menjelaskan, “Maksudnya kering tidak ada campuran apa-apa”. [HR Bukhari no: 3728. Muslim no: 2966].

6. Bisa jadi orang fakir rendah dimata lingkungannya namun disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla kedudukannya mulia.
Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Sahl as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ هَذَا  وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ  وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ  قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا  فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ  وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ  وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا » [أخرجه البخاري]

“Pernah suatu ketika ada seorang yang lewat dihadapan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau berkata pada teman duduk yang berada disisi beliau, “Apa pendapatmu tentang orang yang barusan lewat? Dia menjawab, “Orang kaya dikalangan manusia, ini demi Allah kalau meminang perempuan pasti diterima, kalau diminta bantuan pasti bisa membantunya.  Lalu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, kemudian ada lagi orang yang lewat, beliau lalu bertanya, “Kalau orang tadi, apa pendapatmu? Dia menjawab, “Ya Rasulallah, orang tadi adalah orang miskin, dan ini kalau meminang perempuan pasti tidak diterima, jika dimintai tolong pasti tidak mampu, kalau berbicara tidak ada yang mau mendengarnya. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan orang tadi, itu lebih mulia semisal dunia dari pada orang yang pertama”. [HR Bukhari no: 6447].

7. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau rizki dan pertolongan itu tercapai dengan keberadaan orang-orang miskin dan lemah.
Hal itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dibwakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ » [أخرجه أحمد]

Kalian mengadukan orang-orang lemah padaku, hanya saja sesungguhnya kalian diberi rizki serta pertolongan dengan sebab keberadaan orang-orang miskin dan lemah“. [HR Ahmad 36/60 no: 21731].

8. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagi orang yang membantu para janda serta fakir bagaikan orang yang berjihad dijalan Allah Shubhanahu wa ta’alla atau seperti orang yang berpuasa dan sholat malam.
Sebagaimana dijelaskan hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ – وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Orang yang membantu para janda dan fakir bagaikan seorang mujahid fi sabilillah“. Dan aku juga mengira beliau mengatakan, “Seperti orang yang sholat malam tidak pernah berhenti dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka“. [HR Bukhari no: 6006, Muslim no: 2982].

9. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa jenis makanan terjelek ialah makanan yang dihidangkan pada saat walimah sedang yang diundang hanya orang kaya dan meninggalkan orang miskin.
 Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ » [أخرجه مسلم]

Sejelek-jelek makanan adalah hidangan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin“. [HR Muslim no: 1432].

Adapun apa yang telah kami sebutkan diawal dari ayat serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terkandung penjelasan keadaan sebagian orang dari kalangan kaum muslimin yang mendapat ujian kefakiran serta kesulitan hidup, lantas mereka bersabar dan ridho serta mengharap pahala dengan janji Allah Shubhanahu wa ta’alla yang diberikan padanya.

Sedangkan masalah masyhur lainnya yaitu mana yang lebih utama antara orang kaya atau miskin? maka dalam hal ini terjadi silang pendapat dikalangan para ulama, adapun pendapat yang kuat dalam hal ini ialah orang kaya yang bersyukur itu lebih utama dari pada fakir yang sabar, dan penjelasan secara rinci masalah ini ada pada pembahasan lain.[2]

Adapun orang fakir yang terbaik adalah yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. Allah ta’ala menyinggung hal tersebut dalam firman -Nya:

 لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ  [ البقرة: 273]

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”. [al-Baqarah/2: 273].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «  لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِى يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ . قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِى لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Bukanlah orang miskin itu yang keliling meminta-minta pada orang lain untuk mendapat sesuap atau dua suap nasi, satu biji atau dua biji kurma”. Para sahabat bertanya, “Jika demikian siapakah orang miskin tersebut wahai Rasulallah? Beliau mengatakan, “Yaitu orang yang tidak mendapati kecukupan lalu tidak ada yang memahami keadaannya serta dirinya tidak meminta-minta pada orang lain”. [HR Bukhari no: 1476. Muslim no: 1039].

Faidah
Dikisahkan dari Aun bin Abdillah bin Utbah beliau berkata, “Aku pernah berteman bersama orang kaya lalu aku dapati tidak ada seorangpun diantara mereka yang lebih besar cita-citanya dari pada diriku, lebih baik dari binatang tungganganku, pakaian yang lebih baik dari pada pakaianku, kemudian aku bergaul bersama orang miskin maka disana aku mendapatkan ketentraman”.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari  الفقراء والضعفاء Penulis : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/385.
[2] Lihat pada kitab ‘Idatush Shabirina wa Dzakhiratisy Syakirin karya Ibnu Qoyim.
[3] Sunan at-Tirmidzi hal: 304.

Menengok Indahnya Surga dan Ngerinya Neraka(1)

MENENGOK INDAHNYA SURGA DAN NGERINYA NERAKA 

Melongok Kedalam Surga
Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Allah azza wa jalla menciptakan Jin dan manusia mempunyai tujuan khusus, yaitu agar mereka beribadah kepadaNya, mentauhidkan serta mentaatiNya. Kemudian dijanjikan bagi orang yang mau taat kepadaNya dengan surga sebagai bentuk balasan dariNya, dan sebaliknya bagi orang yang enggan mentaatiNya dan berbuat maksiat kepadaNya maka Allah menjanjikan padanya dengan neraka sebagai bentuk keadilan dariNya. Maka surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah ta’ala ciptakan untuk tujuan tersebut. Allah berfirman tentang surga:

أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  [ال عمران : 133]

“Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.  [al-Imraan/3 : 133].

Sedangkan neraka adalah:

أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ  [البقرة : 24]

“Yang disediakan bagi orang-orang kafir”. [al-Baqarah/2: 24].

Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

 إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ  [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya Allah telah menciptakan untuk surga calon penghuninya sedangkan mereka masih didalam tulang punggung ayahnya. Demikian pula Allah telah menciptakan untuk neraka calon penghuninya, sedangkan mereka masih berada ditulang punggung ayahnya“. [HR Muslim no: 2662]

Maka, surga adalah tempat sebagai balasan yang diperuntukan bagi para kekasih Allah, yang taat kepadaNya juga pada RasulNya. Adapun neraka, ia adalah siksa yang Allah siapkan bagi para musuh-musuh Allah, yang telah berbuat maksiat kepadaNya juga pada RasulNya. Dan perlu diperhatikan bersama, bahwa dalam menyiksa ini, Rabb kita sama sekali tidak sedang mendalimi seorangpun. Karena satu kebaikan diganjar sepuluh derajat sampai tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang sangat banyak sekali. Adapun kejelekan, maka satu keburukan cuma akan dibalas sesuai dengan kadarnya atau bahkan, adakalanya Allah tabaraka wa ta’ala memaafkannya.

Sifat dan Kengerian Neraka
Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan pada kita bagaimana panasnya api yang ada didalam neraka, di mana beliau bersabda:

 نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ  [أخرجه البخاري ومسلم]

Api yang dipergunakan untuk memasak oleh anak cucu Adam, panasnya hanyalah bagian dari tujuh puluh cabang dari panasnya neraka Jahanam“. [HR Bukhari no: 3265, Muslim no: 2843].

Jadi, jahanam adalah neraka yang sangat besar dan menakutkan. Hal itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا  [أخرجه مسلم]

Neraka jahanam kelak akan didatangkan pada hari kiamat dengan ditarik oleh tujuh puluh ribu tali, dan pada setiap ujung tali tersebut ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya“. [HR Muslim no: 2842].

Dan pada hari itu, manusia baru sadar akan segala perbuatannya, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan:

 وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۢ بِجَهَنَّمَۚ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ [الفجر : 23]

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya”. [al-Fajr/89 : 23]

Adapun sifat yang ada tentang bagian dasar neraka Jahanam maka dijelaskan dalam hadits bahwa jurangnya sangat dalam sekali, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: “Pada suatu hari kami pernah bersama Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba terdengar suara dentuman, maka Nabi bertanya: ‘Tahukah kalian suara apa tadi? Kamipun menjawab: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu’. Lantas beliau bersabda:

 هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا  [أخرجه مسلم]

Suara tadi adalah batu yang dilempar ke dalam neraka semenjak tujuh puluh tahun yang lalu, dan sekarang baru sampai turun ke dalam neraka hingga sampai didasarnya“. [HR Muslim no: 2844]

Penghuni Neraka.
Adapun para pendosa yang berada didalam neraka maka keadaan mereka bertingkat-tingkat, seperti yang digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang penghuni neraka:

 مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى حُجْزَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى تَرْقُوَتِهِ  [أخرجه مسلم]

Diantara para penghuni neraka, ada yang disiksa dengan tenggelam dalam api sampai mata kakinya, ada yang sampai ke lututnya, ada lagi yang sampai ke pusar dan ada yang tenggelam sampai ke lehernya“. [HR Muslim no: 2845].

Dikeluarkan oleh Bazzar dan Abu Ya’la dalam musnad keduanya, sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, kalau Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 لو كان في هذا المسجد مائة ألف أو يزيدون وفيه رجل من أهل النار فتنفس فأصابهم نفسه لاحترق المسجد ومن فيه  [أخرجه البزار و أبو يعلى]

Kalau seandainya ada didalam masjid ini seratus ribu orang atau lebih, lantas ditaruh seseorang penghuni neraka, kemudian dia bernafas dan mengena dirinya, tentu semua orang dan masjid ini akan turut terbakar (karena panasnya)”. HR Bazzar no: 9623. Abu Ya’la no: 6670. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 2509.

Siksaan yang ada di  Neraka.
Dan siksa neraka yang paling ringan siksaanya adalah bagi orang yang dikenakan sandal yang bisa membikin otaknya menggelegak. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ   [أخرجه البخاري ومسلم]

Penduduk neraka yang paling ringan siksaanya ialah Abu Thalib, dirinya disiksa dengan memakai sandal yang membikin otaknya mendidih“. [HR Bukhari no: 3883. Muslim no: 209. dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu].

Makanan mereka.
Sedangkan makanan mereka adalah pohon dhari’, seperti yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya:

 لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٖ [الغاشية : 6]

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri”. [al-Ghasyiyah/88 : 6].

Dhari’ adalah sejenis pohon yang memiliki duri besar, yang rasanya sangat pahit dan sangat panas lagi berbau busuk. Disamping itu, ada lagi makanan yang menjadi santapan mereka yaitu zaqqum. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firmanNya

 إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ٤٣ طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ ٤٤ كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِي فِي ٱلۡبُطُونِ ٤٥ كَغَلۡيِ ٱلۡحَمِيمِ  [الدخان: 43-46]

Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang amat panas“. [ad-Dukhan/44 : 43-46].

Zaqqum adalah pohon yang sangat buruk untuk dilihat, bau busuk dan sangat pahit rasanya. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Mujahid, diceritakan bahwa manusia sedang melakukan thawaf sedangkan Ibnu Abbas duduk bersandar pada tongkatnya, lalu beliau mengatakan: “Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah ta’ala berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  [ال عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. [al-Imraan/3 : 102].

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لو أن قطرة من الزقوم قطرت على الأرض لأمرت على أهل الأرض معيشتهم فكيف من هو طعامه أو ليس له طعام غيره  » [أخرجه أحمد

“Kalau sekiranya satu tetes dari zaqqum menetes pada penduduk bumi pasti akan memenuhi makanannya, lantas bagaimana dengan orang yang tidak ada makanan melainkan dari zaqqum“. [HR Ahmad 4/467 no: 2735].

Demikian juga, yang akan menjadi makanan penghuni neraka adalah Ghislin yaitu nanah yang bercampur darah, muntahan, dan keringat penduduk neraka. Sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam firmanNya:

 فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَٰهُنَا حَمِيمٞ ٣٥ وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٖ ٣٦ لَّا يَأۡكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡخَٰطِ‍ُٔونَ [الحاقة: 35-37]

“Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”. [al-Haaqqah/69 : 35-37].

Minuman mereka.
Adapun minuman penduduk neraka adalah dari hamim yang panasnya sudah sampai pada puncak, apabila didekatkan kewajah maka kulit mereka langsung mengelupas karena panasnya. Dan jika mereka meminumnya maka langsung memutus ususnya. Berdasarkan kabar yang Allah ta’ala jelaskan dalam firmanNya:

وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا [الكهف : 29]

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. [al-Kahfi/18 : 29].

Dan air muhl itu seperti minyak yang mendidih berwarna hitam pekat dan bau busuk. Allah ta’ala berfirman:

 وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ  [ محمد : 15]

“Dan (mereka) diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya“. [Muhammad/47: 15].

Mereka juga akan diberi minum ghasaaq. Seperti yang Allah ta’ala jelaskan dalam firmanNya:

 لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرۡدٗا وَلَا شَرَابًا ٢٤ إِلَّا حَمِيمٗا وَغَسَّاقٗا  [النبأ : 24-25]

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah”. [an-Naba’/78 : 24-25].

Al-Ghasaaq, dijelaskan oleh Ibnu Atsir: ‘Al-Ghasaaq dengan ditasydid huruf syinnya atau tidak, maknanya ialah sesuatu yang dialiri oleh nanah serta kotoran seluruh penduduk neraka. Dan ada yang mengatakan: ‘Sesuatu yang dialiri oleh air mata mereka’. Dikatakan pula: ‘Artinya ialah zamharir. [1], yaitu air yang sangat dingin dan bau busuk yang tidak mungkin bisa untuk diminum[2].

Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ أَنَّ دَلْوًا مِنْ غَسَّاقٍ يُهَرَاقُ فِي الدُّنْيَا لَأَنْتَنَ أَهْلَ الدُّنْيَا » [أخرجهأحمد]

Kalau seandainya satu ciduk dari ghasaaq ditumpahkan dimuka bumi, pasti akan membuat bau busuk seluruh penduduk bumi “. [HR Ahmad 3, 17/231 no: 11230]

Intinya, neraka Jahanam adalah tempat yang di siapkan untuk para pendosa dengan berbagai macam jenis siksaannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 هَٰذَا فَلۡيَذُوقُوهُ حَمِيمٞ وَغَسَّاقٞ ٥٧ وَءَاخَرُ مِن شَكۡلِهِۦٓ أَزۡوَٰجٌ  [ ص : 57-58]

“Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam”.  [Shaad/38 : 57-58].

Melongok ke Surga

[Disalin dari الفهم الصحصح  للدين الإسلامي  Penulis : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Nihayatu fii Gharibil Hadits 3/366.
[2] Lihat Tafsir Ibnu Katsir 14/233.

Menengok Indahnya Surga dan Ngerinya Neraka(2)

MENENGOK INDAHNYA SURGA DAN NGERINYA NERAKA 

Melongok ke Surga
Adapun surga, sungguh kenikmatan yang ada padanya sangat sulit untuk digambarkan serta disifati, karena keterbatasan pikiran dan alam khayal yang dimiliki oleh manusia sehingga mereka tidak mampu untuk menggambarkan kenikmatan surga, karena didunia ini tidak ada yang semisal dengannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Tidak ada didalam surga yang semisal yang ada didunia ini kecuali hanya sekedar penamaan saja. Surga itu –demi Allah- ialah cahaya yang bersinar terang, baunya wangi semerbak, dengan bangunan istana yang megah, sungai yang mengalir dibawahnya tidak pernah kering, tersaji buah-buahan segar, bersama bidadari yang cantik jelita, dipakaikan padanya pakaian yang indah,  lalu tinggal diistana yang tinggi’.

Dan pernah Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang bangunan istana tersebut, maka beliau berkata:

 لَبِنَةُ ذَهَبٍ وَلَبِنَةُ فِضَّةٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ يَدْخُلُهَا يَنْعَمُ وَلَا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ وَلَا يَمُوتُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ   [أخرجه أحمد]

Batu batanya terbuat dari emas dan perak, semennya dari dari minyak misk yang wangi, kerikilnya dari permata dan yaqut, tanahnya dari za’faran, barangsiapa yang masuk dia akan mendapat kenikmatan yang tidak pernah kosong, kekal tidak pernah mati, pakaianya tidak pernah rusak, selalu dalam usia muda“. [HR Ahmad 13/410 no: 8043].

Allah ta’ala menjelaskan tentang surga dalam ayatNya:

 وَإِذَا رَأَيۡتَ ثَمَّ رَأَيۡتَ نَعِيمٗا وَمُلۡكٗا كَبِيرًا  [الإنسان : 20]

“Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar”. [al-Insaan/76 : 20].

Sehingga apa yang Allah sembunyikan bagi kita tentang kenikmatan surga sangatlah besar, yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia dan tidak sampai pada alam khayalnya. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ} [أخرجه البخاري ومسلم]

Allah ta’ala berfirman: ‘Aku siapkan bagi para hambaKu yang sholeh (kenikmatan) yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah terdengar sebelumnya oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia’. Abu Hurairah mengatakan: ‘Bacalah kalau kalian mau firman Allah ta’ala:

 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  [السجدة : 17]

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”.  (as-Sajdah/32: 17). [HR Bukhari no: 3244. Muslim no: 2824].

Siapakah Orang yang Pertama kali Masuk Surga?
Orang yang pertama kali menginjakan kakinya dan masuk ke dalam surga adalah nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana tertera jelas dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kalau Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ ؟ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ [أخرجه مسلم]

Aku mendatangi pintu surga kelak pada hari kiamat, lalu aku minta dibukakan. Kemudian penjaga surga bertanya: ‘Siapa anda? Aku jawab: ‘Muhammad’. Dia mengatakan: ‘Untukmu aku diperintah supaya tidak membukakan pada orang lain sebelummu“. [HR Muslim no: 197].

Sedangkan kelompok pertama kali yang masuk surga adalah orang-orang yang telah di jelaskan sifatnya dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتْفِلُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ أَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ الْأَنْجُوجُ عُودُ الطِّيبِ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُورُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya kelompok pertama yang akan masuk surga adalah orang-orang yang wajahnya bagaikan rembulan di malam purnama. Kemudian yang setelahnya, bagaikan bintang diatas langit yang sangat terang cahayanya, mereka tidak pernah buang hajat dan air kecil, tidak buang ingus dan ludah. Sisir yang mereka pakai terbuat dari emas, keringat yang keluar dari tubuhnya misk, sanggulnya kayu gaharu, istri-istri mereka bidadari, mereka diciptakan diatas satu orang, dengan paras bapak mereka Adam, sepanjang enam puluh dira’ menjulang kelangit“. [HR Bukhari no: 3245. Muslim no: 2834].

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, kalau Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا بِيضًا جِعَادًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ عَلَى خَلْقِ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا  [أخرجه أحمد]

Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan muda, putih bersih dengan bercelak, dalam kisaran usia tiga puluh tiga tahun, dengan paras Adam setinggi enam puluh dira’.” [HR Ahmad 13/315 no: 7933]

Imam Ibnu Qoyim mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Dan dengan panjang tubuh dan usia seperti  ini tersimpan hikmah yang tidak samar lagi. Yaitu menunjukan akan kesempurnaan dan akan memungkinkan untuk lebih sampai pada puncak kenikmatan, karena dalam keadaan usia yang masih kuat dibarengi dengan besarnya alat untuk mencapai nikmat. Sehingga dengan terkumpulnya dua perkara ini menjadikan dirinya bisa memperoleh kesempurnaan nikmat dan kekuatannya, dimana disebutkan dalam sebuah hadits, dirinya mampu dalam sehari untuk menggilir seratus bidadari’.[1]

Dan Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 لَوْ أَنَّ مَا يُقِلُّ ظُفُرٌ مِمَّا فِي الْجَنَّةِ بَدَا لَتَزَخْرَفَتْ لَهُ مَا بَيْنَ خَوَافِقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَ فَبَدَا سِوَارُهُ لَطَمَسَ ضَوْءُهُ ضَوْءَ الشَّمْسِ كَمَا تَطْمِسُ الشَّمْسُ ضَوْءَ النُّجُومِ [أخرجه أحمد]

Kalau sekiranya  sisa yang terbawa diujung kuku dari surga nampak, tentu akan menghiasi langit dan bumi. Dan kalau seandainya seseorang dari penduduk surga melongok dan nampak perhiasannya tentulah akan menutupi sinar matahari, sebagaimana sinar mentari menghilangkan cahaya bintang“. [HR Ahmad 3/57 no: 1449 dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu]

Dan tempat dimana surga itu berada adalah seperti yang telah Allah ta’ala sebutkan dalam firmanNya:

 كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلۡأَبۡرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ  [المطففين : 18] 

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”. [al-Muthafifin/83: 18].

Ibnu Abbas menjelaskan makna Illiyyin dengan mengatakan: ‘Maksudnya adalah surga’. Ada yang mengatakan: ‘Artinya tinggi diatas langit yang ketujuh dibawah Arsy’.

Dan disebutkan oleh sebagian ulama salaf sebuah atsar yang menunjukan bahwa letak surga itu berada diatas langit ketujuh, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ » [أخرجه البخاري]

Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, sesungguhnya ia adalah surga tertinggi dan tengah-tengah yang berada dibawah Arsynya Allah, dan dari sanalah memancar mata air sungai surga“. [HR Bukhari no: 7423].

Ketika sudah masuk kedalam surga maka sudah tiada lagi kematian, kesedihan, kegundahan, bahkan dikatakan oleh sebagian ulama, kalau ahlu surga tersebut tidak pernah tidur karena tidur termasuk saudara iparnya kematian, dan biasanya tidaklah seseorang itu tertidur melainkan setelah merasa kecapaian, sedangkan didalam surga tidak ada rasa letih dan lelah. Allah ta’ala berfirman:

 وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ شَكُورٌ ٣٤ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ مِن فَضۡلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ [ فاطر: 34-35]

“Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. [Faathir/35: 34-35].

Dalam shahih Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يُنَادِى مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْتَئِسُوا أَبَدًا  فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)  [أخرجه مسلم]

“(kelak pada hari kiamat) ada seorang yang menyeru: ‘Sesungguhnya kalian selalu dalam keadaan sehat bugar tidak pernah terkena penyakit selama-lamanya. Sesungguhnya kalian akan hidup tanpa pernah mati selamanya. Sesungguhnya kalian akan menjadi muda dan tidak pernah tua selama-lamanya, dan sesungguhnya kalian akan diberi nikmat yang tidak pernah berhenti selama-lamanya, itulah maksud firman Allah ta’ala:

 وَنُودُوٓاْ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ  [الأعراف : 43]

“Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.  (al-A’raaf/7: 43). [HR Muslim no: 2837].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan: ‘Didalam surga tidak ada matahari tidak pula bulan, siang serta malam. Akan tetapi, waktu pagi dan petang dapat diketahui dengan cahaya yang muncul dari arah Arsy’.[2]

Dan keadaan surga itu bertingkat-tingkat sebagian lain berada diatas sebagian yang lainnya, adapun penghuninya juga saling berbeda-beda sesuai dengan kedudukannya. Seperti yang Allah ta’ala kabarkan dalam firmanNya:

 وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ  [ طه : 75]

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)”. [Thahaa/20: 75].

Dan firmanNya:

 ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا  [الإسراء : 21]

 “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”.  [al-Israa’/17: 21].

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengkisahkan:

 سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً قَالَ هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ فَيُقَالُ لَهُ أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِى الْخَامِسَةِ رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ فَيَقُولُ   رَضِيتُ رَبِّ. قَالَ رَبِّ فَأَعْلاَهُمْ مَنْزِلَةً قَالَ أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِى وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ  قَالَ وَمِصْدَاقُهُ فِى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ) الآيَةَ » [أخرجه مسلم]

Musa pernah bertanya kepada Rabbnya: ‘Siapakah penduduk surga yang paling rendah kedudukannya? Allah menjawab: ‘Dia adalah seseorang yang datang setelah penghuni surga masuk kedalam surga, lalu dikatakan padanya masuklah kamu kedalam surga, lantas ia mengatakan: ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku masuk surga sedangkan mereka telah mengambil tempatnya masing-masing? Maka dikatakan padanya: ‘Tidakkah engkau rela jika Aku beri kamu seperti kekayaan raja dari raja-raja didunia? Aku ridho wahai Rabbku, jawabnya. Maka Allah berfirman padanya: ‘Bagimu yang semisal itu, terus ditambah lagi yang semisal, dan semisal, dan semisal, dan semisal dengan itu. Maka pada yang kelima kalinya ia menyahut, hamba ridho wahai Rabbku. Kemudian Allah berkata: ‘Itu semua untukmu plus ditambah sepuluh kali lipat yang semisalnya. Dan bagimu apa yang engkau inginkan dan menyejukkan mata’. Aku ridho wahai Rabbku, jawabnya.

Kemudian Musa bertanya kembali: ‘Lantas siapakah penduduk surga yang paling tinggi kedudukannya? Allah menjawab: ‘Mereka adalah orang yang Aku tanam kebajikannya dengan kedua tanganKu, lalu aku beri tanda padanya yang tidak pernah terlihat oleh penglihatan tidak pula pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak pikiran manusia’. Dan itulah maksud dari firman Allah:

 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  [السجدة: 17]

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”.  (as-Sajdah/32: 17). [HR Muslim no: 189]

Adapun kabar tentang bidadari surga, maka Allah ta’ala juga telah berkata tentangnya dalam firmanNya:

 وَحُورٌ عِينٞ ٢٢ كَأَمۡثَٰلِ ٱللُّؤۡلُوِٕ ٱلۡمَكۡنُونِ [الواقعة : 22-23]

“Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan apik”. [al-Waaqi’ah/56: 22-23].

Dijelaskan sifat berikutnya yang dimiliki oleh bidadari, yaitu firmanNya:

 إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءٗ ٣٥ فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا ٣٦ عُرُبًا أَتۡرَابٗا  [الواقعة: 35-37]

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) tanpa proses kelahiran. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya”.  [al-Waaqi’ah/56: 35-37].

Adapun firman Allah ta’ala yang berbunyi:

 وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ  [البقرة : 25]

Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci“. [al-Baqarah/2: 25].

Sebagian para ulama tafsir ada yang menafsirkan: ‘Suci dari haid, buang air kecil, nifas, buang air besar dan ingus, serta lain sebagainya dari berbagai macam jenis kotoran yang mengganggu’.[3] Hal itu didukung oleh sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا » [أخرجه البخاري]

Kalau seandainya wanita penduduk surga melongokkan kepalanya ke dunia tentu cahayanya akan menerangi langit dan bumi, serta menyebarkan aroma wangi keseluruh sudutnya. Dan sungguh penutup kepala yang dipakai (bidadari) itu lebih baik dari dunia dan seisinya“. [HR Bukhari no: 2796].

Sedangkan melihatnya orang-orang yang beriman Rabbnya disurga serta mendapat keridhoan yang Allah limpahkan atas mereka, maka itu merupakan puncak dari segala bentuk nikmat yang paling nikmat, yang Allah khususkan untuk para penghuni surga sebagai bentuk pemulian kepada mereka. Sebagaimana yang secara jelas diterangkan oleh sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa salalm pernah bersabda:

  إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ثم تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }  [أخرجه مسلم]

Apabila penduduk surga telah masuk kedalamnya, maka Allah tabaraka wa ta’ala berkata: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambah lagi bagi kalian? Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami putih berkilau? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga serta menyelamatkan kami dari neraka? Nabi meneruskan: ‘Pada saat maka Allah membuka tabir yang menutupiNya. Dan tidak ada yang diberikan pada mereka sesuatu yang paling mereka cintai melainkan diberinya kenikmatan bisa melihat Rabbnya’. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala:

 لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ  [ يونس : 26]

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan (kenikmatan melihat Allah)”. (QS Yunus/10: 26). [HR Muslim no: 181].

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُونَ يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا  [أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya Allah ta’ala kelak akan berkata kepada penghuni surga: ‘Wahai penduduk surga’. Mereka menjawab: ‘Kami dengar dan penuhi panggilanMu wahai Rabb kami, dan kebaikan ada ditanganMu’. Allah lalu bertanya: ‘Apakah kalian sudah ridho? Mereka menjawab: ‘Mengapa tidak ridho wahai Rabb kami, Sungguh Engkau telah beri kami yang belum pernah diberikan kepada seorangpun dari makhlukMu’. Allah berfirman: ‘Aku akan beri kalian sesuatu yang lebih baik dari ini semua’. Mereka pun penasara dan bertanya: ‘Wahai Rabb, mana ada sesuatu yang lebih baik dari ini semua? Allah menjawab: ‘(Yaitu) Aku halalkan atas kalian ridhoKu dan tidak pernah lagi Aku murka atas kalian setelah ini selama-lamanya“. [HR Bukhari no: 7518. Muslim no: 2859 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu].

Pada akhirnya, setelah seorang mukmin mengetahui tempat yang disiapkan oleh Allah ta’ala bagi orang-orang kafir serta para pendosa dengan adzab serta siksaan. Dan apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa dengan adanya pemulian dan kenikmatan. Maka wajib bagi dirinya seteleh mengetahui ini semua untuk segera melakukan sesuatu yang bisa melepas dirinya dari siksa neraka, disebutkan dalam sebuah hadits, dimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ » [أخرجه مسلم]

Berlindunglah kalian dari siksa api neraka walau (bersedekah) hanya dengan setengah kurma“. [HR Muslim no: 1016].

Lalu, hendaknya ia bersegera untuk melakukan ketaatan dan amal shaleh untuk bisa memperoleh derajat yang ditinggi disurga kelak nan abadi. Allah ta’ala berfirman:

  وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  [ال عمران : 133]

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.[al-Imraan/3 : 133].

Dan firman Allah tabaraka wa ta’ala;

 وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ  [ طه : 75]

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam Keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)”. [Thaahaa/20: 75].

Akhirnya kita tutup dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah, Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semogar terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau dan para sahabatnya.

[Disalin dari الفهم الصحصح  للدين الإسلامي  Penulis : Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Hadyul Arwah ila Biladil Afrah karya Ibnu Qoyim hal: 104.
[2] Majmu’ Fatawa 4/312.
[3] Tafsir Ibnu Katsir 1/63.

Salafus Shalih dan Al-Qur`an

SALAFUS SHALIH DAN AL-QUR’AN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah shallalahu ‘alahi wa sallam bersabda kepadaku:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اِقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى كُلِّ شَهْرٍ. قَالَ: قُلْتُ: إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً. قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِى عِشْرِيْنَ لَيْلَةً. قَالَ: قُلْتُ: إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً. قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَتَزِدْ عَلَى ذلِكَ.» [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Bacalah al-Qur`an setiap bulan (satu kali khatam).’ Ia berkata: ‘Aku berkata: ‘Sesungguhnya saya mendapat kekuatan  (lebih dari itu).’ Beliau shallalahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘Bacalah dalam dua puluh malam.’ Ia berkata: ‘Aku berkata: ‘Sesungguhnya saya mendapat kekuatan (lebih dari itu).’ Beliau shallalahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘Maka bacalah dalam tujuh hari dan jangan engkau menambah atas hal itu.’[1]

Adz-Dzahaby rahimahullah memberi komentar terhadap hadits tersebut: ‘Shahih bahwa Nabi shallalahu ‘alahi wa sallam menurunkan hingga tiga malam dan melarangnya membaca kurang dari tiga malam.[2] Dan ini pada sesuatu yang telah diturunkan dari al-Qur`an, kemudian setelah sabda beliau ini turun yang tersisa dari al-Qur`an. Maka sekurang kurang tingkatan larangan bahwa dimakruhkan membaca semua al-Qur`an kurang dari tiga hari. Maka tidak bisa memahami dan tidak dapat tadabbur orang yang membaca kurang dari itu. Jika ia membaca dan mentartilkan dalam satu minggu dan istiqamah atas hal itu niscaya merupakan amal ibadah yang utama, agama itu sangat mudah.

Demi Allah, sesungguhnya membaca sepertujuh al-Qur`an secara tartil setiap hari dalam tahajjud qiyamullail, disertai selalu melaksanakan sunnah rawatib, dhuha dan tahiyatul masjid, serta membaca dzikir dzikir yang shahih, bacaan ketika mau tidur dan setelah bangun, setelah shalat wajib dan di waktu sahur, disertai mempelajari ilmu yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengannya, ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar, memberi penjelasan dan pemahaman terhadap orang bodoh, menegur orang fasik dan semisal yang demikian itu. Disertai menunaikan shalat fardhu berjama’ah dengan khusyu’, thuma’ninah dan iman. Disertai menunaikan segala kewajiban dan menjauhi dosa dosa besar, banyak berdo’a dan istighfar, sedekah, silaturrahim, tawadhu’ dan ikhlas dalam semua itu, sungguh merupakan pekerjaan agung lagi sangat besar, maqam ashhabul yamin dan wali wali Allah subhanahu wa ta’ala yang bertaqwa, maka sesungguhnya semua itu dituntut.

Apabila seorang ahli ibadah menyibukkan diri sekali khatam setiap hari, maka sungguh ia telah menyalahi hanifiyyah samhah (jalur agama yang lurus lagi toleran), tidak bisa bangkit melebihi yang telah kami sebutkan, tidak bisa tadabbur terhadap yang dibacanya. Sahabat utama ahli ibadah ini berkata tatkala sudah berusia lanjut: ‘Andaikan aku dahulu menerima keringanan Rasulullah shallalahu ‘alahi wa sallam.’[3]

Dari Musayyab bin Rafi’, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Semestinya pemikul al-Qur`an (yang hapal al-Qur`an) dikenal di malam hari saat manusia tertidur lelap, di siang harinya saat manusia sedang menyantap makan pagi, dengan dukanya saat manusia berbahagia, dengan tangisnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia bersenda gurau, dan dengan khusyu’nya saat manusia menyombongkan diri. Sudah semestinya pemikul al-Qur`an menangis, berduka, santun, bijaksana lagi banyak diam. Dan tidak sepantasnya bagi pemikil al-Qur`an bersikap jafiyan (kaku, tidak akrab), ghafilan (lalai), bersuara keras dan pemarah.[4]

Syu’bah dan Hisyam menceritakan dari Qatadah, dari Yunus bin Jubair, ia berkata: ‘Kami mengunjungi Jundub radhiyallahu ‘anhu, aku berkata: ‘Berilah pesan kepada kami.’ Ia berkata: ‘Aku berpesan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan aku berwasiat kepadamu dengan al-Qur`an, sesungguhnya ia adalah nur (cahaya) di malam hari yang gelap gulita dan petunjuk di siang hari. Amalkanlah dengannya atas yang ada berupa kesusahan dan kekurangan (fakir). Jika ada bala (cobaan) maka berikanlah hartamu bukan agamamu. Maka jika engkau melewati bala maka berikanlah harta dan jiwamu bukan agamamu. Sesungguhnya orang yang hancur adalah yang hancur agamanya dan orang yang dirampas adalah yang dirampas agamanya. Ketahuilah bahwasanya tidak ada kekurangan setelah surga dan tidak ada kekayaan setelah neraka.’[5]

Dari Hammad bin Najih, dari Abi ‘Imran al-Jauny,  dari Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kami adalah anak anak yang hampir baligh bersama Rasulullah shallalahu ‘alahi wa sallam, maka kami mempelajari iman sebelum belajar al-Qur`an, kemudian kami belajar al-Qur`an maka kami bertambah iman dengannya.[6]

Dari Hammad bin Zaid, dari ‘Atha` bin Saib, bahwa Abu Abdurrahman berkata: ‘Kami mengambil (belajar) al-Qur`an dari kaum yang mengabarkan kepada kami bahwa apabila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak melewatinya kepada sepuluh ayat yang lain sehingga mereka mengetahui apa yang ada padanya. Maka kami mempelajari al-Qur`an dan mengamalkannya. Dan akan datang satu kaum setelah kami yang mempelajari al-Qur`an yang mereka meminumnya seperti meminum air yang tidak melewati leher mereka.’[7]

Dari Ishaq bin Ibrahim, ia berkata: ‘Bacaan Fudhail adalah seperti berduka, sangat menarik, pelan, lurus, seolah olah dia berbicara kepada manusia. Apabila ia melewati ayat yang menyebutkan surga, ia mengulang ulanginya.’[8]

[Disalin dari السلف والقرآن  Penulis : Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil Bahauddin bin Fatih Aqil, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali; Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
________
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari dalam Fadhail al-Qur`an, bab Berapa membaca al-Qur`an, no. 5054 dan Muslim dalam kitab shaum, bab larangan puasa setahun penuh no. 184.
[2] HR. Abu Daud dalam sunannya, bab ‘Berapa membaca al-Qur`an’  no. 1390 dan 1391, keduanya dishahihkan oleh al-Albany (Shahih Sunan Abi Daud 1/261 no. 1239 dan 1240).
[3] Bagian dari hadits yang diriwayatkan al-Bukhari  no. 5052 dan ucapan adz-Dzahaby dalam Siyar 3/84.
[4] Sifat Shafwah 1/413.
[5] Siyar A’lam Nubala`3/174.
[6] Siyar A’lam Nubala` 3/175.
[7] Siyar A’lam Nubala` 4/269
[8] Sifat Shafwat 2/238.

Apakah Anda Serius Dalam Belajar Agama?

APAKAH ANDA SERIUS DALAM BELAJAR AGAMA?

Makalah singkat : Menjelaskan pentingnya serius dalam menuntut ilmu disertai ungkapan-ungkapan para ulama terkait hal itu, dan menerangkan bahwa memahami ilmu agama menuntun kepada kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat, kemudian menyebutkan tahapan-tahapan dalam menunut ilmu….

الحمد لله تعالى الذي علم الإنسان. وهدى إلى الفرقان. والصلاة والسلام على النبي المرسل بالقرآن. وعلى آله وأصحابه سادة أهل الإيمان.

Saudaraku… Sesungguhnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tujuan utama penciptaan makhluk di dunia hanya untuk itu mereka diciptaka dan orang yang bahagia diantara mereka adalah orang yang sibuk dengan tugas ibadah.

Ibadah tidak menjadi benar kecuali jika dilakukan dengan pengetahuan yang jelas, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul a.s., diturunkanya kitab-kitab, semua itu agar membimbing manusia kepada jalan yang lurus. Para pengikut rasul berada di atas pengetahuan yang jelas, mereka adalah manusia yang paling mengerti bagaimana beribadah kepada Tuhanya, karena mereka telah mempelajari wahyu, adapun orang yang buta akan ilmu wahyu, maka itulah orang yang bingung dan tidak akan dapat menyembah Tuhanya dengan pengetahuan yang jelas.

Wahai saudaraku, marilah kita merenungi muhasabah ini:

Seriuskah anda dalam belajar tentang agama anda?

Ini adalah tema muhasabah kita, dan ini adalah pertanyaan yang harus ditanyakan oleh setiap muslim kepada dirinya…

Saudaraku, keseriusan anda dalam mempelajari agama anda adalah awal keberuntungan anda..karena anda akan meniti jalan menuju surga

Imam Hasan Al-Bashri mengatakan: “ Sesungguhnya seseorang belajar satu bab tentang masalah agama, lalu ia mengamalkan, itu lebih baik dari dunia dan segala isinya”

Sofyan Al-Tsauri mengatakan:” Tiada sesuatu yang dimaksudkan untuk Allah yang lebih utama dari menuntut ilmu, dan tidak ada menuntut ilmu di suatu masa yang lebih baik dari masa sekarang, alangkah membutuhkanya anda wahai saudaraku muslim akan ilmu yang bermanfaat yang denganya anda mengenal Tuhanmu, lalu kamu meng-Esakan-Nya(tidak menyekutukan-Nya) dalam beribadah dan menyembah-Nya dengan pengetahuan yang jelas, dan kemulian ilmu itu sesuai dengan kemulian yang dipelajari, dan ilmu syar’i itu mulia semata-mata karena kemuliaan agama, dan itu adalah harta yang termahal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ – رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما:السلسلة الصحيحة :2797

“Dunia itu berisi laknat, seluruh isinya terlaknat, kecuali zikir kepada Allah dan yang terkait denganya, atau orang yang berilmu atau terpelajar.” [HR: Tirmizi, Ibnu Majah dll].

Wajib atasmu wahai orang muslim, untuk mengetahui bahwa mempelajari agama bagi anda adalah kebutuhan yang jauh lebih penting dari sekedar makan dan minum!

Sebagaimana anda serius dalam mencari rezki untuk hidup, maka hendaklah anda juga serius dalam mempelajari agama anda, karena itulah kehidupan yang sebenarnya yang tanpanya anda ibarat mati.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan: ” Manusia lebih membutuhkan ilmu dari sekedar membutuhkan makan dan minum, karena makan dan minum dibutuhkan sekali atau dua kali sehari, sedang ilmu senantiasa dibutuhkan selama nafas masih dikandung badan.”

Ibnu Al-Qayim mengatakan:” Orang-orang yang memilki pengetahuan tentang Tuhan-Nya dan tentang perintah-Nya, mereka itulah ruh kehidupan sebenarnya, mereka senantiasa dibutuhkan dan tidak pernah tidak walau sekejap, kebutuhan hati akan ilmu tidak sama dengan kebutuhan nafas akan udara, ia lebih besar!, secara umum ilmu bagi hati ibarat air bagi ikan, jika ia kehilangan maka ia mati, ilmu yang datang kepada hati ibarat cahaya datang kepada mata.”

Wahai saudaraku, Berangkat dari kebutuhan yang besar inilah, maka wajib bagi setiap muslim untuk belajar tentang agamanya sesuatu yang dapat membimbingnya agar beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pengetahuan yang jelas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ – رواه ابن ماجه:صحيح ابن ماجه للألباني:184

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR: Ibnu Majah; sahih Ibnu Majah milik Al-Albani: 184].

Imam Malik pernah ditanya tentang menuntut ilmu, apakah wajib? Ia menjawab:“ Adapun pengetahuan tentang syariat-syariatnya, sunah-sunahnya dan fiqhnya yang nampak maka hal itu wajib, dan yang selainya termasuk darinya, barang siapa lemah (tidak ada kemampuan) dalam mengetahuinya maka tidak ada kewajiban atasnya“

Ibnu Abdul Barr mengatakan: “  Para ulama bersepakat bahwa ilmu ada yang fardhu ain atas setiap orang, dan ada yang fardhu kifayah, yaitu jika ada yang telah melaksanakanya maka kewajibanya gugur atas yang lain, dan mereka berbeda pendapat dalam perincianya , adapun yang wajib atas semua orang dari hal tersebut adalah kewajiban-kewajiban yang tidak ada keleluasaan bagi manusia untuk tidak mengetahuinya.“

Ia menyebutkan diantara hal tersebut adalah: Ma’rifatullah (mengenal Allah), tauhid, shalat lima waktu beserta pekerjaan-pekerjaan yang wajib untuk dilakukan di dalamnya, puasa ramadhan dan syarat-syarat syah maupun syarat-syarat yang membatalkanya, haji jika memiliki kemampuan untuk melakukanya, zakat jika memiliki harta, dan segala hal yang tidak ada udzur untuk tidak mengetahuinya, seperti; haramnya zina, riba, khamr, memakan daging babi, memakan bangkai, ghasab, menyogok, persaksian palsu, memakan harta orang dengan cara batil, haramnya berbuat zalim, dan keharaman-keharaman yang lain.

Wahai saudaraku, perkara-perkara di atas adalah hal-hal yang tidak layak bagi seorang muslim untuk tidak mengetahuinya, intropeksilah diri anda: seberapa bagian ilmu syar’i yang telah anda milki?

Manusia berbeda-beda tingkat keseriusanya dalam belajar agama, saya akan menyebutkan tingkatan-tingkatan tersebut dari perkataan para ulama, lihatlah diri anda ada tigkatan manakah?

Ali Radhiyallahu anhu berkata: “ Manusia itu ada tiga; ulama robbani, pelajar yang meniti jalan keselamatan, dan orang yang hina yang mengikuti setiap seruan(baik ataupun buruk) terombang-ambing oleh angin“

Ibnu Mas’ud berkata:“ Jadilah kamu ulama atau pelajar, dan jangan menjadi antara keduanya“

Dari Humaid dari Al-Hasan bahwasanya Abu Darda‘ berkata: “ Jadilah kamu ulama atau pelajar, atau pecinta, atau pengikut,dan jangan menjadi yang kelima, karena kamu akan binasa!
Humaid berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan: Apa yang kelima?
Ia menjawab: Mubtadi‘ (Ahli bid’ah).

Saudaraku, Hisablah dirimu; kamu berada digolongan mana dari golongan-golangan tersebut?

Jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak memperdulikan aturan agama dan fiqh!

Berapa banyak orang shalat sedang ia tidak mengetahui cara shalat yang benar sebagaimana shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Dan berapa banyak orang berpuasa yang melakukan banyak pelanggaran sedang ia tidak menyadarinya!

Dan berapa banyak orang yang berangkat haji ke baitul haram sedang ia tidak mengetahui bagaimana manasik yang benar.!

Dan berapa banyak pelaku bid’ah yang yang melakukan berbagai perbuatan bid’ah sedang ia menyangkah hal itu bagian dari sunah!

Dan berapa banyak pedagang yang mempraktekan berbagai macam bentuk muamalah yang haram, sedang ia menyangka hal itu adalah halal!

Dan berapa banyak orang yang memakan harta manusia secara batil dalam keadaan ia tidak mampu membedakan antara yang halal dan yang haram!

Dalam semua itu anda akan mendapatkan bahwa mayoritas penyebabnya adalah kebodohan akan hukum syariat, dan yang aneh lagi adalah anda akan menemukan fakta di atas terjadi pada sekelompok orang dalam usia yang tidak layak bagi mereka untuk tidak mengetahui hukum-hukum syariat, khususnya dalam situasi yang banyak didapatkan berbagai sarana untuk belajar hukum-hukum syariat, sehingga menjadi mudah bagi muslim untuk mengenal agamanya.

Abdullah bin Al-Mubarak pernah ditanya: Sampai kapan seseorang masih harus belajar? Ia menjawab: selama kebodohan itu tidak pantas baginya, ia masih harus belajar.“

Muhamad bin Al-Fadhl As-Samarqandi Al-Wa’idz berkata: Berapa banyak orang bodoh mendapatkan ilmu maka ia selamat, dan berapa banyak ahli ibadah yang beramal dengan amalan orang bodoh maka ia binasa, hadirlah, berilmulah, jika niat tidak hadir kepadamu, maka sesungguhnya engkau dapat mencarinya dengan ilmu, dan sesungguhnya sesuatu yang nampak pertama kali dari hamba adalah lisanya, dan sesuatu yang pertama kali nampak dari akalnya adalah kedewasaanya.“

Wahai saudaraku, antusiaslah dalam mempelajari agamamu, hilangkan segala hambatan yang yang menghambatmu darinya, sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar. Dan hambatan pertama yang menghalangi seseorang dari belajar ilmu syar’i: malu dan sombong.

Mujahid berkata: “ Tidak akan belajar orang yang malu dan sombong.“

Adapun malu, maka setiap rasa malu yang mencegah seseorang dari kemuliaan, maka itu bukanlah malu, karena malu adalah perangai yang mencegah seseorang dari keburukan, sedang orang yang tidak datang kepada majlis-majlis ilmu, dan tidak bertanya kepada ulama tentang sesuatu yang tidak ia fahami, maka ia berada dalam bahaya yang besar! Karena ia akan melakukan sesuatu tanpa ilmu!

Dan adapun orang sombong, Maka ia terjatuh ke dalam dosa besar, terkait orang sombong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(لا يدخلُ الجنَّةَ من في قلبه خردلة من كبر – ((رواه الحاكم والطبراني:صحيح الترغيب للألباني:2910)

“ Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada sebiji sawi dari kesombongan” [HR: Al-Hakim dan At-Tabrani: Shahih at-targib imam al-Bani]

Saudaraku, sungguh faham agama adalah indikasi kebaikan dan keberuntunganmu, karena jika kamu memiliki pehaman tentang agamamu, maka kamu akan menjadi orang yang dapat beribadah kepada Allah dengan pengetahuan yang jelas, sehingga kamu akan semakin dekat kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ.. ((رواه البخاري ومسلم

“Barang siapa dikehendaki Allah suatu kebaikan, niscaya ia akan diberi pehaman tentang agama” [HR; Bukhari Muslim]

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan:“ Maksud hadits di atas adalah barang siapa tidak bertafaquh(belajar/memahami) agama atau tidak mempelajari kaidah-kaidah islam dan cabang-cabang yang terkait denganya, maka ia tercegah dari mendapatkan kebaikan, karena orang yang tidak mengenal perkara-perkara tentang agamanya tidak dikatakan faqih (ahli fiqh/agama), tidak pula dikatakan thalib fiqh(pelajar fiqh/agama), sehingga pantas untuk dikatakan sebagai orang yang tidak dikehendaki padanya kebaikan, hal itu menunjukan dengan jelas keutamaan para ulama atas manusia selainya, disamping menunjukan bahwa tafaquh fi ad-din (belajar agama) lebih utama atas belajar ilmu-ilmu yang lain.

Intropeksilah diri kalian wahai orang yang berakal, tidakah anda menginginkan untuk masuk ke dalam barisan orang-orang yang dikehendaki padanya kebaikan ini!

Sungguh tidak sama antara orang yang faham agamanya dengan orang yang bodoh tentang agamanya!

قُل هَلْ يَسْتوِي الذِينَ يَعْلَمُونَ وَالذيِنَ لا يَعْلَمُونَ إنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلبَابِ – الزمر:9

“Katakanlah, apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran“  [Az-Zumar/39: 9].

Abu Darda’ mengatakan:” Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rezki kepada orang-orang yang bahagia, dan mencegahnya dari orang-orang yang sengsara.”

Ibnu Qayim berkata:” Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, ruh dan hati, yakni kebahagiaan ilmu yang membuahkan manfaat, dialah yang kekal dalam kondisi apapun, dan dialah yang selalu menyertai hamba dalam seluruh perjalananya, dan dalam tiga waktunya( pagi, siang dan malam), denganya ia naik ke tangga keutamaan dan derajat kesemurnaan, semakin lama akan semakin kuat dan tinggi.”

Akan tetapi alangkah banyaknya jumlah orang-orang yang lengah dari mencari kebahagiaan ini!. Anda melihat diantara mereka ada yang berambisi dalam mengeruk dinar dan dirham, serius dalam mempelajari sarana-sarana dalam mendapatkan rezki dan menumpuk harta, namun anda mendapatkanya zuhud dalam mempelajari agamanya dan dalam menumpuk tabungan ilmu yang bermanfaat!

Mereka cemas jika rugi dalam hartanya, meski sedikit…. namun tidak pernah cemas saat rugi besar dalam agamanya.

Mereka gembira jika mendapatkan sedikit harta….. namun tidak merasa gembira ketika mendapatkan ilmu tentang agamanya.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ ‏”‏ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ ‏”‏ ‏.‏ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ

“Dari Uqbah bin Amir, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ketika kami berada di shuffah (tempat di masjid nabawi), lalu bersabada:” Siapa diantara kalian yang mau pergi setiap hari ke bath’han(saluran air sungai yang berpasir dan berkerikil) atau lembah, lalu ia datang darinya dengan membawa dua ekor unta yang besar punuknya, tanpa melalui dosa maupun memutuskan tali kekerabatan?, kami berkata: Ya Rasulullah kami mau itu, ia bersabda: “ kenapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu lebih baik dari dua unta, dan tiga lebih baik dari tiga, dan empat lebih baik dari empat, dan begitu seterusnya lebih baik dari jumlah unta seterusnya”. [HR: Muslim].

Abu Ganiah Al-Khaulani berkata:” Bisa jadi satu kata lebih baik dari memberi harta, karena harta menjadikanmu lalim, sedang kata  menjadikanmu mendapatkan petunjuk.”

Saudaraku, Sesungguhnya sebaik-baik ilmu yang kamu pelajari adalah ilmu yang menunjukanmu kepada ma’rifatullah dan menuntunmu beribadah kepada-Nya dengan pengetahuan yang jelas, dan kamu tidak akan pernah mendapatkan harta yang lebih mahal darinya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻪُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-qur’an dan mengajarkanya” [HR: Bukhari]

Dan dari Ali Al-Azdi, ia berkata:” Aku bertanya kepada Ibnu Abas tentang jihad, ia menjawab:  “ Tidakah kamu mau aku tinjukan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari jihad? Kamu bangun masjid yang di dalamnya kamu mengajar al-qur’an dan sunah-sunah rasul saw, dan fiqh (ilmu agama).

Saudaraku, sesungguhnya bertanya kepada orang-orang yang berilmu adalah tangga menuju pemahaman akan ilmu agama, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganjurkan kalian agar bertanya kepada para ulama jika anda menemukan permasalahan. Dia berfirman:

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ –  الأنبياء:7

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [Al-Anbiya.21 : 7]

Ibnu Abas Radhiyallahu anhu pernah ditanya: Bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu ini?
Ia menjawab:” Dengan lisan yang senantiasa bertanya dan hati yang selalu memahami.”

Bertanya kepada orang yang berilmu adalah obat bagi kebodohan, janganlah kamu sekali-kali melakukan satu perkara agama dalam keadaan kamu tidak mengetahui hukumnya, karena sesungguhnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kebodohan hanya akan menambah jauh seorang hamba dari Tuhanya.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:” Ilmu itu bertambah dengan pencarian, dan didapatkan dengan pertanyaan, pelajarilah apa yang tidak kamu ketahui, dan amalkanlah apa yang kamu ketahui.”

Abu Darda’ Radhiyallahu anhu berkata:” Ilmu itu diperoleh dengan belajar, dan kedewasaan itu dicapai dengan latihan, barang siapa berusaha mencari kebaikan, pasti akan diberi, dan barangsiapa menjauhi keburukan pasti dijauhkan darinya.”

Ibnu Al-Mubarak ditanya: Apakah yang tidak ada keluasan bagi orang mukmin kecuali harus mencarinya? Dan apa yang wajib dipelajarinaya? Ia menjawab: “ tidak boleh baginya untuk melakukan sesuatu melainkan dengan ilmu, dan tidak ada keluasan baginya hingga ia bertanya.”

Dan ketahuilah wahai saudaraku, dintara kemuliaan bagi orang yang antusias dalam belajar ilmu yang bermanfaat adalah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan itu, dan cukuplah itu sebagai kemuliaan bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar agama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقْنُوهُمْ

Akan datang kepada kalian beberapa kaum yang menuntut ilmu, jika kalian melihat mereka, maka katakanlah kepada mereka: marhaban, selamat datang wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ajarilah mereka.” [HR: Ibnu Majah; sahih Ibnu Majah, Al-Bani: 203]

Saudaraku, sungguh ilmu yang sedikit yang kamu bersungguh-sungguh dalam menuntutnya agar faham agama, lebih baik dari berlipat-lipat amal shalih yang kamu kerjakan, bagaimana tidak? Sesungguhnya ilmu itu membimbing kepada ibadah yang benar, tidak ada ibadah tanpa ilmu.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “ Tiap seuatu ada tiangnya, dan tiang agama ini adalah fiqh(faham), Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala disembah  dengan sesuatu yang lebih utama dari fiqh(faham) dalam masalah agama. Sungguh, satu orang faqih(berilmu) lebih berat untuk dihadapi setan daripada seribu ahli ibadah.”

Sesungguhnya kamu –wahai muslim-, tidak memerlukan banyak tenaga untuk dapat memahami agama, berikut inilah tahapan-tahapan belajar agama:

Pertama: Mulailah dengan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala (al-qur’an), berupayalah membaguskan bacaan al-quran sesuai dengan tajwid, dan sarana untuk itu banyak sekali, yang paling utama adalah membaca dihadapan seorang syekh yang benar bacaannya, disamping mendengar tilawah yang bagus dari kaset-kaset, memperbanyak praktek baca al-qur’an, dan sebaiknya anda juga merujuk kepada kitab-kitab tafsir, agar dapat memadukan antara pengetahuan tentang cara membaca yang benar dengan pemahaman terhadap makna ayat yang anda baca.

Kedua : Membaca kitab-kitab fiqh yang mudah, khususnya dalam tema-tema yang kamu butuhkan sehari-hari, seperti tata-cara solat, wudhu’, mandi, tayamum, hukum-hukum terkait orang yang bepergian. Dan jika kamu termasuk orang-orang yang punya harta, maka kamu harus mempelajari hukum-hukum seputar zakat, jual-beli dan muamalat.

Ketiga : Membaca buku-buku yang ringkas seputar syarah hadits, dan ilmu-ilmu syar’i dalam tema-tema ringkas, urutan pertama adalah dalam hal ini adalah: ilmu tauhid, caranya dibaca dengan perlahan-lahan dan penuh pehaman, dan prinsip umum dalam belajar hal tersebut adalah meminta bimbingan dari syekh atau guru, jika tidak bisa sebagaimana kondisi  kebanyakan orang, maka belajar dengan menggunakan tahapan-tahapan di atas dengan kesungguhan dan kesabaran dapat mengantarkan kepada hasil yang diinginkan.

Keempat : Senantiasa bertanya kepada orang yang berilmu dalam setiap kali menjumpai permasalahan, memenej waktu luang dengan baik dan memanfaatkanya untuk mengambil pelajaran dari ceramah-ceramah.

Keinginan yang kuat adalah prinsip utama semua hal di atas, maka wajib atas setiap muslim untuk bersungguh-sungguh dalam belajar agama dan menguatkan niatnya, ia tidak akan penah kehilangan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saudaraku, anda tidak harus menguasai seluruh ilmu syar’I, namun jika kamu memiliki kkesungguhan dan dorongam yang kuat untuk mencapai itu, maka itu adalah baik.

Adapun batas minimal yang wajib untuk anda pelajari dari ilmu syar’i telah anda ketahui dari ulasan sebelumnya, yaitu sesuatu yang yang tanpanya anda tidak akan dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar.

Maka bersungguh-sungguhlah dalam mempelajari agama anda, jangan sia-siakan waktu anda untuk sesuatu yang tida bermanfaat, dan memintalah kepada Allah agar Dia memberi pertolongan kepadamu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ (رواه ابن ماجه:صحيح ابن ماجه للألباني:3114 )

Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, dan berlindunglah kepadanya dari ilmu yang tiada bermanfaat.“ [HR: Ibnu Majah; sahih Ibnu Majah; Albani: 3114]

والحمد لله تعالى.. والصلاة والسلام على النبي محمد وآله وصحبه

[Disalin dari هل أنت حريص على تعلم دينك ؟ Penulis : Azhari Ahmad Mahmud, Penerjemah Tim Terjamah islamhouse.com  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Pengantar Ringkas Mengenal Islam

PENGANTAR RINGKAS MENGENAL ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .

Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan di dalamnya. Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukannya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang. Ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfa’at, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka di dunia.

Dengannya Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak, serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya pula Allah menyatukan hati yang bercerai-berai, dan hawa nafsu yang berpecah-belah, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan, dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil, yaitu: ’aqidah yang benar, amalan yang tepat, akhlak yang utama dan etika yang mulia.

Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut:

  1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.
  2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
  3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.

Dan hal-hal yang diseru oleh Islam dapat kita simpulkan dalam penjelasan berikut:

Pertama : Aqidah
Yaitu: Meyakini Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Iman yang enam:
1. Beriman kepada Allah, diwujudkan dengan hal-hal berikut:

  • Satu: Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik dan Pengatur segala urusan.
  • Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah Ta’ala sajalah Tuhan yang berhak disembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil.
  • Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maksudnya: bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat yang sempurna serta agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam .

2. Beriman kepada para Malaikat.
Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia. Mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya. Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas. Diantara mereka adalah :

  • Jibril ditugaskan menurunkan wahyu dari sisi Allah kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang dikehendaki-Nya.
  • Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.
  • Israfil yang bertugas meniupkan sangsakala di hari terjadinya kiamat, dan
  • Malaikat Maut, bertugas mencabut nyawa ketika ajal tiba.

3. Beriman kepada Kitab-kitab.
Allah -Yang Maha Agung dan Mulia- telah menurunkan kepada para rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Yang kita ketahui di antara kitab-kitab itu adalah:

  • Taurat, diturunkan Allah kepada Nabi Musa alaihis salam, ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung.
  • Injil, diturunkan Allah kepada Nabi Isa alaihis salam.
  • Zabur, diturunkan Allah kepada Daud alaihis salam.
  • Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam.
  • Al Qur’an yang agung, diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad, penutup para nabi. Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena ia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.

4. Beriman kepada para rasul.
Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk-Nya. Rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semua rasul itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang telah dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya.

5. Beriman kepada hari akhirat.
Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, Ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal di tempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat pedih.

Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, yaitu: ujian kubur, kenikmatan dan siksaannya, serta apa yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.

6. Beriman kepada Takdir.
Takdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu, dan menurut kebijaksanaan-Nya. Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya.

Kedua : Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Islam
Islam dibangun di atas lima rukun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya, yaitu:

Rukun pertama : Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci Islam dan pondasi bangunannya.

Makna syahadat la ilaha illallah ialah: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja, Dialah ilah yang hak, sedangkan ilah selainnya adalah batil. Dan ilah itu artinya: sesuatu yang disembah.

Dan makna syahadat : bahwasanya Muhammad itu adalah rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya.

Rukun kedua : Shalat.
Yaitu lima shalat setiap hari, Allah syari’atkan sebagai hubungan antara seorang muslim dengan Tuhannya. Di dalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, di samping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan munkar.

Dan Allah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.

Rukun ketiga : Zakat
Yaitu: sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun, kepada yang berhak menerimanya seperti orang-orang fakir dan lainnya, di antara yang berhak menerima zakat.

Dan zakat itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nisab, tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya untuk menyempurnakan agama dan islam mereka, meningkatkan kondisi dan akhlak mereka, menolak segala bala dari mereka dan harta mereka, mensucikan mereka dari dosa, di samping sebagai bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir di antara mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka, sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.

Rukun keempat : Puasa
Yaitu selama satu bulan saja setiap tahun, pada bulan Ramadhan yang mulia, yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan Hijriah. Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka; makan, minum dan jima’, di siang hari; mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam.

Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka -berkat karunia dan kemurahannya- dengan penyempurnaan agama dan iman mereka, serta peningkatan kesempurnaan diri, dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainnya; baik, di dunia maupun di akhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.

Rukun kelima : Haji
Yaitu menuju Masjidil haram untuk melakukan ibadah tertentu. Allah mewajibkannya atas orang yang mampu sekali seumur hidup. Pada waktu itu kaum muslimin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini, menyembah Tuhan Yang Satu, memakai pakaian yang sama, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara si kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah tertentu, yang terpenting di antaranya adalah: Wukuf di padang Arafah, thawaf di Ka’bah yang mulia, kiblatnya kaum muslimin, dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah.

Dan di dalam pelaksanan haji itu terdapat manfaat-manfaat yang tidak terhingga banyaknya, baik dari segi agama maupun dunia.

Ketiga : Selanjutnya, Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Islam membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan sebaliknya mengharamkan atau melarang perbuatan zina, sodomi dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Ia mewajibkan menjalin hubungan antar kerabat, mengasihi orang-orang fakir dan miskin serta menyantuni mereka, sebagaimana Islam juga mewajibkan dan mendorong untuk berakhlak mulia, serta mengharamkan dan melarang segala bentuk moral yang hina.

Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui perdagangan, persewaan dan semacamnya, serta mengharamkan praktek riba, segala bentuk perdagangan yang terlarang dan semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan.

Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia dalam konsisten terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak orang lain, untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak Allah seperti: murtad, berzina, meminum khamar dan semacamnya, begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia, seperti membunuh, mencuri, menuduh orang lain berbuat zina, atau menganiaya dengan memukul atau menyakiti. Sanksi-sanksi tersebut sangat sesuai dengan bentuk kejahatannya tanpa berlebih-lebihan.

Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa, dengan mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat kepada Allah, dan mengharamkan kepada mereka memberontak atau menentang, karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan secara umum atau khusus.

Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa Islam telah merangkum ajaran yang membangun dan menciptakan hubungan yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya dan antara seseorang dengan masyarakatnya dalam segala urusan. Maka tak satupun kebaikan, baik itu dari segi akhlak maupun mu’amalat, melainkan Islam telah membimbing dan mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tak satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk melakukannya. Ini semua membuktikan kesempurnaan dan keindahan agama ini, dalam seluruh sisi dan bagiannya.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

[Disalin dari تعريف موجز بالإسلام  Penulis : Penerbit Darul Qosim, Penerjemah Divisi Indonesia  Editor : Zulfi Askar Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1426]

Benarkah Cara Berislam Anda

BENARKAH CARA BERISLAM ANDA

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Said Yai Ardiansyah, Lc, MA

Tidak bisa dipungkiri Islam “lahir” lebih dari 14 abad yang lalu. Selang waktu yang sangat lama ini sangat memungkinkan untuk terjadi kesesatan di dalam “tubuh” Islam. Jangankan 14 abad, dalam waktu yang sangat singkat saja, suatu kaum bisa menjadi sesat, sebagaimana terjadi pada Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam selama 40 hari. Yang  tadinya mereka hanya menyembah kepada Allah, akhirnya mereka menyembah kepada berhala.

Begitu pula dengan jarak yang sangat jauh dengan pusat penyebaran Islam di zaman dahulu, seperti: Madinah, Mekkah, Baghdad, Mesir dll. Untuk bisa mencapai negeri Indonesia, para penyebar Islam harus menempuh pelayaran dan perjalanan yang sangat lama. Ini juga mendukung terjadinya kesesatan.

Berdasarkan catatan sejarah, di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia, Islam banyak disebarkan oleh para pedagang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Mereka tidak terkenal sebagai ulama yang benar-benar menguasai ilmu Islam secara mendalam sebagaimana ulama-ulama yang berada di pusat penyebaran Islam di zaman dahulu. Seandainya benar mereka adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, tentunya kita akan mendapatkan peninggalan-peninggalan ilmiah mereka, baik berupa: tulisan tangan, riwayat perkataan mereka atau kemasyhuran mereka di dunia Islam. Tetapi ternyata kita tidak menemukannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Islam di Indonesia dulunya diajarkan oleh orang-orang yang belum mencapai derajat ulama yang mendalam ilmunya. Jika demikian, maka Islam bisa ternoda dengan ketidakberilmuan mereka. Ini juga sangat mendukung terjadinya kesesatan di Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui juga, agama yang banyak menyebar di Indonesia sebelum masuknya agama Islam adalah agama Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme dan Atheis. Disadari atau tidak, ini juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi percampuran agama Islam dengan agama-agama tersebut. Belum lagi dengan budaya yang beraneka ragam yang sekarang sangat tampak pengaruhnya terhadap pemeluk-pemeluk Islam di Indonesia. Ini juga bisa mendukung terjadinya kesesatan.

Dengan membaca apa yang telah penulis paparkan di atas, maka Indonesia bisa menjadi “lahan” subur untuk menyebarnya berbagai kesesatan. Oleh karena itu, dalam berislam kita harus benar-benar memperhatikan apakah Islam yang kita jalani pada saat ini adalah Islam yang benar dan jauh dari kesesatan ataukah tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan di dalam hadits Abu Hurairah:

(( افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً ))

“Umat Yahudi terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Umat Kristen juga terpecah belah menjadi 71 atau 72 kelompok. Sedangkan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok [1]. Seluruhnya di neraka kecuali satu kelompok.[2]

Hadits di atas dengan jelas mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berpecah-belah dan hanya ada satu kelompok yang selamat. Ini harus kita imani, karena Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang mengatakannya.

Hadits di atas juga mengabarkan bahwa ketujuh puluh kelompok tersebut masih digolongkan sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beragama Islam, sehingga meskipun mereka terjatuh kepada kesesatan, mereka di akhirat nanti masih berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak untuk mengazab mereka maka Allah akan mengazab mereka, jika tidak maka Allah tidak akan mengazab mereka. Akan tetapi, kesemuanya pada akhirnya akan masuk surga.

Penulis perlu mengingatkan bahwa ada kelompok-kelompok di dalam Islam yang menisbatkan diri mereka kepada Islam, tetapi kelompok-kelompok tersebut sebenarnya bukanlah termasuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti: Ahmadiyah, Jaringan Islam Liberal (JIL), beberapa tarikat  Shufiyah  dan Syi’ah/Rafidhah yang melampaui batas dll. Kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk ketujuh puluh kelompok yang disebutkan di dalam hadits di atas.

Siapakah satu kelompok yang disebutkan di dalam hadits tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita tidak boleh mengaku-ngaku berada dalam kebenaran kecuali memang ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seharusnya kita selalu merasa was-was atau ragu apakah Islam yang kita jalani pada saat ini sudah benar ataukah belum. Dengan demikian kita akan bersemangat untuk mencari kebenaran tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati mereka pada kelanjutan hadits di atas:

(( فَقِيلَ لَهُ : مَا الْوَاحِدَةُ   قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي ))

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Siapakah satu kelompok itu, Ya Rasulullah?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Apa yang sesuai dengan yang saya dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.”

Dengan demikian, Islam yang paling benar adalah Islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada penambahan dan pengurangan di dalamnya dan juga Islam yang dijelaskan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka langsung menerima ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok yang paling benar, karena kelompoknya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi, mengapa masih terjadi perpecahan di antara mereka sehinga yang satu kelompok mengkafirkan yang lain dan yang lainnya mengatakan sesat kelompok yang lain?

Ini semua terjadi karena mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya dengan akal-akal mereka atau mencukupkan diri dengan bahasa Arab yang mereka kuasai. Sehingga mereka tidak tahu apakah mereka telah terjatuh kepada kesesatan ataukah tidak.

Saudara pembaca yang mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah ditafsirkan atau dijelaskan dengan akal-akal manusia, maka akan terjadilah keberagaman pemahaman, karena setiap orang sangat berbeda tingkat pemahamannya dengan yang lain. Jika terus berlangsung demikian, maka Islam di setiap zaman akan berbeda-beda dan akan menjadi agama baru yang berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, kita harus mengikuti pemahaman siapa? Jawabannya adalah kita harus mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik.

Apakah mereka masih ada pada zaman sekarang ini? Ya, orang-orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik masih ada pada zaman sekarang ini sampai hari kiamat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ))

”Senantiasa ada sekelompok orang di kalangan umatku yang selalu tampak dengan kebenarannya. Orang yang tidak mengacuhkan mereka tidak dapat memberikan mudarat kepada mereka sampai datang perkara Allah dan mereka tetap dengan kebenarannya.”[3]

Mengapa kita harus mengikuti pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik? Setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus mengikuti pemahaman mereka, yaitu:

  1. Allah subhanahu wa ta’alatelah me-ridha-i mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

( رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ )

     “Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah.”  [Al-Bayyinah/98 : 8]

  1. Mereka adalah umat terbaik di hadapan Allah

(( خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ  ))

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang hidup setelah zamanku, kemudian yang hidup setelahnya.” [4]

  1. Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya

(وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا )

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa’/4 : 115]

“Jalan orang-orang mukmin”, siapakah mereka? Tidak lain, mereka adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Allah di dalam Al-Qur’an telah memuji mereka dan menyediakan untuk mereka surga

 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah me-ridha-i mereka dan mereka pun telah ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9 : 100]

Pada ayat di atas Allah menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah me-ridha-i mereka dan menyediakan surga untuk mereka kelak. Oleh karena itu, kita harus bisa mengikuti jejak mereka agar bisa menjadi seperti orang-orang yang disebutkan setelah kaum Muhajirin dan Anshar dan mendapatkan keutamaan berupa ke-ridha-an Allah dan surga.

Bagaimana agar kita bisa benar-benar yakin bahwa Islam yang kita jalani adalah Islam yang sesuai dengan pemahaman mereka? Agar kita bisa yakin, maka kita harus benar-benar mempelajari Islam ini dan menghidupkan keilmiahan dalam beragama. Kita tidak menerima, mengamalkan dan berkeyakinan kecuali benar-benar memiliki dalil dari Al-Qur’an dan HaditsNabi shallallahu ‘alaihi wa sallamHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebar di dunia Islam pun harus diseleksi lagi, karena hadits tersebut bermacam-macam; Ada hadits shahih dan hasan (kedua hadits inilah yang bisa menjadi hujjah/dalil); dan ada juga haditsdha’if/lemah dan maudhu’/palsu (kedua hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah).

Tidak cukup dengan itu, kita harus meneliti lagi apakah pemahaman kita akan tafsir Al-Qur’an danhadits tersebut sudah sesuai dengan pemahaman orang-orang Islam yang terdahulu (kaum salaf dari kalangan sahabat, tabi’intabi’ut-tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) dengan membaca nukilan-nukilan perkataan mereka di kitab-kitab para ulama yang terpercaya keilmuannya.

Di dalam urusan dunia saja kita harus ilmiah dalam menerima segala sesuatu, contohnya:

Dalam bidang kedokteran, para dokter tidak bisa menerima suatu cara pengobatan kecuali dengan adanya penelitian dan bukti ilmiah. Begitu pula dalam bidang teknologi, para ilmuan tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu penemuan tersebut adalah ilmu pengetahuan kecuali bisa dibuktikan dan dijelaskan dengan teori-teori ilmiah.

Apalagi dalam beragama, maka kita juga harus menghidupkan keilmiahan dalam beragama, sehingga kita nantinya tidak salah dalam memahami agama ini dan tidak tersesat.

Kita juga seharusnya jangan terlalu fanatik dengan madzhab fiqh tertentu, seperti: madzhab Syafi’i, madzhab Hanbali (Ahmad), madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Imam-imam madzhabtersebut tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa), sehingga memungkinkan bagi mereka terjatuh kepada kesalahan-kesalahan.

Tidaklah ada pada suatu madzhab fiqh tersebut kecuali di dalamnya ada kebenaran dan kesalahan. Apa-apa yang benar dan sesuai dengan dalil, maka kita ikuti. Dan apa-apa yang salah atau menyelisihi dalil maka kita harus tolak. Kebenaran yang muthlaq tidak ada terdapat pada suatu madzhab tertentu.

Dengan demikian, Sudah benarkah cara berislam Anda? Jika belum benar, maka marilah kita sama-sama memperbaikinya, berlapang dada menerima kebenaran dan tidak sombong.

Akhirul-kalam, penulis mengharapkan kepada pembaca untuk bisa menyebarkan kebaikan yang terdapat pada tulisan ini dengan menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar pembaca, keluarga dan kaum muslimin. Mudahan tulisan ini bermanfaat. Amin.

[Disalin dari الفهم الصحصح  للدين الإسلامي  Penulis : Abu Ahmad Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A,  Editor : Tim islamhouse.com Divisi Indonesia. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
________
Footnote
[1] Sampai di sini HR Abu Dawud no. 4596, At-Tirmidzi no. 2640 dan Ibnu Majah no. 3991 (Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani).
[2] HR Al-Marwazi di As-Sunnah no. 59 dan Al-Hakim di Al-Mustadrak no. 444. Hadits ini memiliki syahid dari Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Aushath no. 4886.
[3] HR Muslim no. 5059
[4] HR Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 6635

Haram Meniru Orang Kafir dan Loyal Kepada Mereka

HARAM MENIRU ORANG KAFIR DAN WALA’ (LOYAL) KEPADA MEREKA 

Oleh
Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamyang tidak ada nabi sesudahnya. Wa ba’du:

Lajnah daimah membahas masalah yang sampai kepada samahah mufti umum dari penanya seorang direktur kantor dakwah dan bimbingan di Jeddah dengan suratnya yang bernomor (j/9/144) tanggal 19/3/1418 H. dan diberikan kepada sekretaris jenderal haiah kibar ulama no. 1723 tanggal23/3/1418 H.

Pertanyaan.
Banyak tersebar di kalangan sebagian anak muda fenomena menggantung bendera dan simbol sebagian negara non muslim. Kami melihat mereka memberi dan menyimpannya, mencetaknya di kemeja dan celana panjang, sabuk dan kaca mata, topi dan sepatu, penggaris dan pena, cincin dan jam, dan menjadikannya sebagai penutup (cover) kursi mobil, tempelan di kaca. Dan sebagian mereka membeli bendera dan memasangnya di depan atau belakang mobil. Apakah hukumnya menjual, membeli, menyimpan, dan menggantungkan bendera ini?

Jawaban.
Lajnah fatwa menjawab: Sesungguhnya di antara tujuan syari’at Islam bahwa seorang muslim berbeda dari orang-orang kafir dan fasik dalam akidah akhlak, perilaku dan pemikirannya, bahkan dalam penampilan dan bahasanya, dan memutuskan semua hubungan cinta, wala` (loyal), dan menolong bagi semua orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul -Nya. Banyak sekali dalil syara’ yang mendukung dasar ini dan mengancam terhadap pelanggarannya dengan cara meniru dan menyerupai orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul -Nya. firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. [al-Jatsiyah/45: 18]

Dan firman-Nya:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.  [al-Baqarah/2:120]

Dan firman-Nya:

وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَآ أَنزَلَ اللهُ إِلَيْكَ

Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. [al-Maidah/5: 49]

dan firman-Nya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturnkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [al-Hadid/57:16]

Dan ayat-ayat dalam pengertian ini sangat banyak.

Dan Nabi bersabda tatkala melihat Abdullah bin Amar bin Ash Radhiyallahu anhu memakai dua pakaian muashfar:

إِنَّ هذَا مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

Sesungguhnya ini termasuk pakaian orang-orang kafir, maka janganlah engkau memakainya.”[1] HR. Muslim.

Dan dalam Shahihaian,  sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedai (membuat penampilan berbeda) dengan ahli kitab dalam mengulurkan rambut, dan Nabi bersabda:

خَالِفُوْا الْمُشْرِكِيْنَ, وَفِّرُوْا اللِّحَى وَأَحْفُوْا الشَّوَارِبَ

Berbedalah dengan orang-orang musyrik, lebatkan jenggot dan ratakan kumis.”[2] Hadits-hadits dan atsar dari salafus shalih dalam perkara ini sangat banyak.

Dari penjelasan di atas, jelas diketahui bahwa seseorang tidak bisa melaksanakan hakikat Islam sehingga lahir dan batinya sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul -Nya, maka sikap wala`nya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, rasul -Nya, dan saudara-saudaranya kaum mukminin, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). [al-Maidah/5:55]

Orang yang beriman harus berlepas diri dari kekufuran dan pemeluknya, sama saja mereka dari golongan Kristen, atau Yahudi atau Majusi, atau atheis (pengingkar tuhan), atau agama-agama lainnya yang berbeda dengan Islam.

Dan untuk menjaga dasar-dasar yang diutamakan bagi seorang muslim dan menjaga Islamnya dari penyimpangan, nash-nash syara’ menjelaskan haramnya menyerupai orang-orang kafir yang merupakan kekhususan mereka dalam ucapan, perbuatan, pakaian, dan perilaku umum. Karena hal itu membahayakan akidah muslim, dan dikhawatirkan bisa menyeretnya kepada kekufuran dan kesesatan mereka. nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي, وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي, وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Aku diutus di hadapan hari kiamat dengan pedang sehingga hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang disembah, tiada sekutu bagi -Nya, dijadikan rizqiku di bawah naungan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan kepada orang yang menyalahi perkaraku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.”[3] diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا وَلاَتَشَبَّهُوْا باِلْيَهُوْدِ وَلاَ بِالنَّصَارَى

Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kamu menyerupai Yahudi dan Kristen.”[4] Hadits hasan yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya.

Syaikhul Islam berkata rahimahullah menjelaskan syari’at dalam haramnya menyerupai orang-orang kafir dan kewajiban menyalahi (berbeda dengan) mereka dalam perkara lahiriyah seperti pakaian dan semisalnya: ‘ Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan hikmah yang merupakan sunnahnya, yaitu syari’at dan jalan yang disyari’atkan baginya. Maka di antara hikmah ini bahwa Dia menyari’atkan  baginya amal perbuatan dan ucapan yang membedakan jalan orang-orang yang dibenci dan sesat. Maka Dia menyuruh berbeda dengan mereka dalam petunjuk yang nampak, sekalipun tidak nampak kerusakan bagi kebanyakan orang, karena beberapa perkara:

Diantaranya: Sesungguhnya ikut serta dalam penampilan lahir mewarisi keserasian dan kesamaan di antara dua yang mirip, yang menggiring kepada keserasian sesuatu yang ada dalam akhlak dan amal perbuatan. Dan ini adalah perkara yang dirasakan. Sesungguhnya orang yang memakai pakaian tentara yang berperang umpamanya, mendapatkan dalam jiwanya satu jenis akhlak dengan akhlak mereka dan jadilah tabiatnya mengikuti hal itu kecuali bila ada penghalang.

Diantaranya : Sesungguhnya berbeda dalam penampilan lahir mengharuskan adanya jarak dan berlepas diri dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan dan kesesatan, mencintai orang-orang yang mendapat petunjuk dan ridha, dan merealisasikan yang diputuskan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa wala di antara tentara-Nya yang beruntung dan musuh-musuhnya yang merugi.

Setiap kali hati lebih hidup dan lebih mengenal Islam (yang benar-benar Islam, bukan hanya nama lahirnya saja atau hanya batin dalam arti hanya I’tiqad secara umum) niscaya dia akan berlepas diri dari orang Yahudi dan Kristen secara lahir dan batin lebih sempurna dan menjauhkan dari akhlak mereka yang ada pada sebagian kaum muslim lebih keras.

Dan di antaranya: sesungguhnya bersama-sama mereka dalam penampilan lahir mengharuskan bergabung secara lahir, sehingga hilanglah perbedaan lahir di antara orang-orang yang mendapat petunjuk yang diridhai dan orang-orang yang dibenci dan tersesat.

Ini apabila penampilan lahiriyah itu hukumnya adalah boleh jika tidak ada unsur menyerupai mereka. adapun jika termasuk yang menyebabkan kekufuran niscaya ia merupakan salah satu cabang kufur. Maka menyamai mereka berarti menyamai  salah satu jenis maksiat mereka. dasar ini mesti dipahami.

Berdasarkan penjelasan di atas, termasuk yang tidak diragukan padanya bahwa termasuk fenomena wala terhadap orang kafir: menyerupai mereka, memakai pakaian yang membawa simbol mereka seperti salib dan semisalnya, menyimpan gamba-gambar mereka, mendukung tim-tim oleh raga mereka, menempel nama-nama mereka di mobil-mobil, rumah dan pusat-pusat perdagangan, dan memberi nama dengan nama-nama mereka, mengajak mencintai mereka, bangga kepada mereka dan para pemimpin dan pemuka mereka, terpesona  dengan hawa nafsu dan pemikiran mereka yang menyalahi Islam serta berbagai macam cobaan dan bala yang banyak sekali orang yang menyandang nama Islam terjerumus padanya, dan mereka tidak tahu bahwa dengan perbuatan mereka ini meruntuhkan salah satu dasar Islam dalam jiwa mereka dan jiwa kaum muslimin dan menambah kelemahan umat di atas kelemahan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Merupakan kewajiban semua umat Islam agar berpegang teguh kepada petunjuk Islam yang lurus, berhati-hati terhadap penyimpangan pada jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat dari kaum Yahudi dan Kristen serta semua kaum musyrikin, saling berwasiat untuk berbuat baik dan takwa serta semua yang merupakan kebaikan dan kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, meninggalkan segala hal yang merupakan bahaya bagi kaum muslimin, memasarkan dan mempublikasikannya. Wabillahit taufik.

Semoga shalawat dan salam selalu tercurah keapda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Lajnah Daimah untuk Riset Ilmu dan Fatwa ( dari kitab : Fatawa wa  Bayanat Muhimmah) hal 33.

[Disalin dari حكم التشبه بالكفار وحكمه  Penulis : Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Muslim 2077.
[2] Al-Bukhari 5892 dan Muslim 259.
[3] HR. Ahmad 2/50, 92, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 19401, Abd bin Humaid dalam Musnadnya 848, ath-Thabrani dalam Musnad Syamiyyin 216, al-Baihaqi dalam Syu’ab 1199.
[4] HR. at-Tirmidzi 2695 dan ia berkata: isnadnya dha’if, ath-Thabrani dalam Ausath 7/238 (7380), dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Shahihah (2194 dan Shahih at-Tirmidzi (2168.

Dakwah Kepada Allah yang Sebenarnya

DAKWAH KEPADA ALLAH YANG SEBENARNYA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidhahullah

Pertanyaan.
Di masa sekarang, banyak sekali orang-orang yang mengaku berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang menuntut pengetahuan tentang Islam yang benar-benar mengarahkan umat dan para pemuda menuju manhaj yang benar dan lurus. Siapakah para ulama yang Anda sarankan kepada para pemuda untuk belajar dari mereka, mengikuti pelajaran kaset-kaset rekaman mereka, mengambil ilmu dari mereka, dan kembali kepada mereka dalam berbagai kondisi dan saat terjadi fitnah?

Jawaban.
Berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu keharusan bagi umat Islam, dan sesungguhnya agama berdiri di atas dakwah dan jihad dengan ilmu yang bermanfaat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

وَالْعَصْرِۙ –  اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ – اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [al ‘Ashr/103:1-3]

Iman adalah mengetahui Allah subhanahu wa ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, beribadah kepada-Nya, dan amal shalih merupakan cabang (bagian) dari ilmu yang bermanfaat, karena amal harus berdasarkan ilmu, dan berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, amar ma’ruf, saling memberi nasehat di antara kaum muslimin merupakan suatu keharusan. Namun tidak semua orang bisa melaksanakan tugas ini. Perkara ini (berdakwah) tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh ahlul ilmu (ulama) dan yang mempunyai pemikiran yang matang. Karena dakwah adalah perkara berat yang sangat penting, tidak bisa melaksanakannya kecuali orang yang punya kemampuan. Dan termasuk musibah di masa sekarang bahwa pintu dakwah menjadi pintu yang luas, setiap orang bisa masuk dan dinamakan dakwah.

Padahal bisa jadi ia seorang yang jahil tidak bisa berdakwah. Akibatnya ia merusak yang sudah baik, karena terlalu bersemangat dan ingin cepat berhasil. Dampak tindakannya adalah munculnya keburukan melebihi yang dia tangani dan yang ingin dia perbaiki. Terkadang ada orang yang mengatas namakan dakwah justru punya keinginan tertentu untuk mencemarkan dakwah dan mengacaukan pemikiran pemuda dengan nama agama dan cemburu terhadap agama. Padahal dia menginginkan sebaliknya seperti penyimpangan pemuda dan menjauhkan mereka dari masyarakat, pemerintah dan para ulama. Ia datang mendatangi mereka dengan cara nasehat dan dakwah secara lahir –seperti kondisi orang-orang munafik dalam umat ini yang menginginkan keburukan dalam bentuk kebaikan untuk manusia-.

Saya berikan contoh : Para pendiri masjid dhirar, mereka membangun masjid dalam bentuknya dan nampaknya merupakan amal shalih. Mereka meminta kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam agar shalat di dalamnya supaya manusia ingin shalat didalamnya. Namun Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui niat para pendirinya bahwa mereka ingin mengacaukan kaum muslimin dan menghancurkan masjid Quba` yang merupakan masjid pertama yang dibangun di atas taqwa. Mereka ingin memecah belah persatuan (jama’ah) kaum muslimin. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan tipu daya mereka kepada Rasul-Nya dan menurunkan firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًاۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ –  لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ  

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang. orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah:”Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.  [at-Taubah/9:107-108]

Sudah jelas bagi kita dari cerita yang agung ini bahwa tidak setiap orang yang menampakkan diri berbuat baik dan beramal shalih adalah benar dalam perbuatannya. Terkadang ada niat yang lain di balik perbuatannya. Maka orang-orang yang mengatasnamakan dakwah pada masa sekarang, di antara mereka ada yang menyesatkan, menyimpangkan pemikiran para pemuda, memalingkan manusia dari agama yang benar, memecah belah kaum muslimin dan menimbulkan kekacauan, dan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan peringatan kepada kita dari mereka:

لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَّا زَادُوْكُمْ اِلَّا خَبَالًا وَّلَاَوْضَعُوْا خِلٰلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَۚ وَفِيْكُمْ سَمّٰعُوْنَ لَهُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui orang-orang yang zalim. [at-Taubah/9:47]

Standardnya bukanlah nama atau penampilan lahiriyah, namun standarnya adalah hakikat dan hasilnya, dan orang-orang yang mengatasnamakan dakwah harus dilihat pada mereka: di mana mereka belajar? Dari mana mereka mengambil ilmu? Di mana mereka tumbuh? Apa aqidahnya? Dan engkau melihat amal perbuatan mereka dan pengaruh mereka di tengah masyarakat, kebaikan apakah yang telah mereka lakukan? Perbaikan apakah yang nampak dari perbuatan mereka? Maka harus dipelajari kondisi mereka sebelum tertipu dengan ucapan dan penampilan mereka. Ini adalah perkara yang sudah menjadi keharusan, terutama di masa sekarang yang banyak sekali du’at fitnah, dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan bahwa du’at fitnah adalah:

قال رسول الله : (قَوْمٌ مِنْ بَنِي جَلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا)

Satu kaum dari golongan (suku, kelompok) kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

Dan tatkala Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang para du’at fitnah (penyeru kekacauan, kesesatan), beliau bersabda:

قال رسول الله  : (دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ, مَنْ أَطَاعَهُمْ قَذَفُوْهُ فِيْهَا)

Para penyeru menuju pintu neraka jahanam, barangsiapa yang taat kepada mereka niscaya mereka menjerumuskannya di dalamnya.”[1]

Beliau menamakan mereka du’at. Maka kita harus sadar dalam hal ini. Janganlah kita berkumpul dalam dakwah kepada semua orang dan setiap orang yang berkata: aku berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ini adalah jama’ah yang berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Harus dilihat realitanya. Harus diperhatikan realita individu dan kelompok. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengaitkan dakwah dengan dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah:”Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.  [Yusuf/12:108]

Hal itu menunjukan bahwa ada orang-orang yang berdakwah (mengajak) kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang kafir mengajak ke neraka, Dia berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah subhanahu wa ta’ala mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. [al-Baqarah/2:221]

Para du’at harus melihat perkara mereka. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata tentang ayat ini:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah:”Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah  subhanahu wa ta’ala  dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf/12:108]

Padanya merupakan peringatan untuk ikhlas, karena banyak orang yang jikalau berdakwah kepada kebenaran, maka ia berdakwah untuk dirinya sendiri.[2]

Syaikh Shalih al-Fauzan – Hiwar ma’a ‘alim (diskusi bersama ulama) hal 22-25. dikumpulkan dan disusun oleh Umar Abdurrahman al-Umar.

[Disalin dari الدعاة إلى الله حقًّا   Penulis : Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_____
Footnote
[1]  Al-Bukhari 3606, 7084 Muslim 1847
[2]  Kitab Tauhid hal 21 dengan sedikit perbedaan.

Apakah Hukumnya Bila Suami Masuk Islam dan Bagaimana Bila Sebaliknya?

APAKAH HUKUMNYA BILA SUAMI MASUK ISLAM DAN BAGAIMANA BILA SEBALIKNYA?

Oleh
Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa

Pertanyaan.
Apabila seorang laki-laki Nashrani ingin masuk Islam, apakah konsekuensinya atas hal itu? Sebagaimana terjadi seorang lelaki dan istrinya melaksanakan pernikahan menurut agama mereka terdahulu dan mempunyai beberapa orang anak. Apakah ia wajib khitan? Perlu diketahui bahwa usianya sudah melebihi 35 tahun. Apakah perkara yang pertama-tama harus diajarkan kepadanya?

Jawaban.
Pertama : ia wajib mengetahui dua kalimah syahadah dan memahami maknanya. Dijelaskan kepadanya bahwa Isa ‘Alaihissalam adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dijelaskan kepadanya tentang rukun-rukun iman yang enam dan rukun Islam lainnya. Semuanya diajarkan pada waktunya berdasarkan riwayat yang shahih dari hadist Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu dalam pertanyaan Jibril ‘Alaihissalam kepada Nabi Muhammad Shalallahu’ alaihi wa sallam[1] dan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ’anhu dalam hadits (Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam) yang mengutus Muazd Radhiyallahu ’anhu kepada Yaman.[2]

Kedua : Apabila dia dan istrinya masuk Islam maka keduanya adalah pasangan suami istri berdasarkan pernikahan terdahulu. Demikian pula bila ia (istri) masuk Islam sesudahnya atau dia (suami) masuk Islam sesudahnya, keduanya ditetapkan menurut pernikahan mereka sebelumnya. Demikian pula bila dia (suami) masuk Islam dan dia (istri) tidak masuk Islam, maka keduanya ditetapkan atas pernikahan mereka sebelumnya apabila ia (istri) beragama Yahudi atau Kristen yang muhshan (yang menjaga kehormatan), berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikanAl-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu,  [al-Maidah/5 : 5]

Ketiga: anak-anak mereka yang belum baligh diwajibkan sebagai muslim dan yang sudah baligh diajak kepada Islam dan diberikan pengetahuan dan keutamaan tentang Islam supaya ia mau menerima dakwah.

Keempat: Khitan termasuk sunnah fitrah yang disyari’atkan Allah subhanahuwata’ala kepada kaum muslimin, maka disyari’atkan khitan baginya, kecuali bila khawatir berbahaya terhadap dirinya maka ia bisa meninggalkannya. Yang utama agar hal itu tidak dibicarakan kecuali setelah Islam sudah tertanam di dalam hatinya.

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya

Fatawa Lajnah Daimah (19/21-22)

APAKAH HUKUMNYA BILA ISTRI MASUK ISLAM?

Pertanyaan.
Apakah hukumnya bila wanita kristen masuk Islam, sementara ia bersuami dengan laki-laki yang beragama kristen? Dan setelah ia menyatakan Islamnya, ia ingin menikah dengan laki-laki muslim, apakah hukumnya dalam hal ini?

Jawaban.
Apabila perempuan yang masih bersuami laki-laki yang kafir masuk Islam, maka sesungguhnya ia (istri) haram atasnya, dan harus dipisah antara keduanya, dan selama ia ada pada masa iddah. Maka jika ia keluar dari iddah sebelum ia (suami) masuk Islam niscaya tercerailah si istri dari suaminya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَهُنَّ حِلُُّ لَّهُمْ وَلاَهُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ 

Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka….  [al-Mumtahanah/60 : 10]

Dan jika si suami masuk Islam sebelum berakhir masa iddahnya niscaya ia (istri) dikembalikan kepadanya, karena Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam mengembalikan wanita-wanita yang berhijrah kepada suami mereka tatkala mereka (para suami) masuk Islam sedangkan mereka (istri-istri) masih di masa iddah. Dan jika ia (suami) masuk Islam setelah berakhir masa iddah maka ia (suami) boleh menikahinya dengan aqad nikah yang baru.

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah 19/20.

[Disalin dari ما الحكم إذا أسلم الزوج النصراني والعكس  Penulis : Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1]  Muslim 8-10.
[2]  Al-Bukhari 1395 dan semua athrafnya dan Muslim 19.