Author Archives: editor

Syirik

SYIRIK

Syirik : Menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, asma’ dan sifat-Nya, atau pada salah satunya. Apabila seorang manusia meyakini bahwa bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala ada yang menciptakan, atau yang menolong, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak disembah, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala ada yang serupa pada asma’ dan sifat-Nya, maka dia seorang musyrik.

Bahaya Syirik
1. Syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perbuatan yang teramat zalim, karena telah melewati batas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khusus dengan-Nya, yaitu tauhid. Tauhid adalah keadilan paling adil dan syirik adalah kezaliman yang paling bengis dan kejahatan yang paling keji; karena ia mengurangi bagi Rabb semesta alam, menyombongkan diri dari taat kepada-Nya dan memalingkan kemurnian hak-Nya kepada selain-Nya dan memutarkan selainnya dengannya. Karena begitu besar bahayanya, maka sesungguhnya siapa yang berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuninya, seperti dalam firman-Nya:

قال سبحانه: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء/48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki, [An-Nisaa’/4:48]

2. Syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan dosa terbesar. Siapa menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah meletakkan ibadah di tempat yang salah, dan memalingkannya kepada yang tidak berhak. Hal itu kezaliman yang besar, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال سبحانه: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ  [لقمان/13]

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. [Luqman/31:13]

3. Syirik besar menggugurkan semua amal perbuatan dan memastikan kebinasaan dan kerugian, ia adalah dosa yang terbesar.

  • Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال الله تعالى:… وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمر/65]

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [Az-Zumar/39: 65]

  • Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «أَلا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلاثاً، قاَلوُا: بلَىَ ياَ رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «الإشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ»، وَجَلَسَ وَكَانَ مُتّكِئاً «أَلا وَقُولُ الزُّوْرِ» قَال: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ. متفق عليه

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Maukah kalian aku beritahukan dosa yang terbesar? (Nabi mengucapkannya sampai tiga kali). Mereka menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, durhaka kepada kedua orang tua.’ Dan beliau duduk dan tadinya beliau bersandar: ‘Ketahuilah!, dan sumpah palsu.’ Abu Bakrah Radhiyallahu anhu berkata, ‘Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata, ‘Semoga beliau diam.” Muttafaqun ‘Alaih[1]

Keburukan-Keburukan Syirik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan empat keburukan syirik dalam empat ayat, yaitu:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا [النساء/48]

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisa`/4:48]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا  [النساء /116]

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. [An-Nisa`/4:116]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  [المائدة /72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [Al-Maidah/5:72]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ  [الحج/31]

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. [Al-Hajj/22:31]

Balasan Ahli Syirik
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ  [البينة: ٦] 

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [Al-Bayyinah/98 :6]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا  [النساء/150- 151]

Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. [An-Nisaa/4:151]

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدَّاً دَخَلَ النَّارَ». متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan dia berdoa kepada sekutu dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia masuk neraka.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Dasar Syirik
Dasar syirik dan pondasinya dibangun atasnya adalah bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya menyerahkannya kepada sesuatu yang dia bertawakkal kepadanya, menyiksanya dengannya, menghinakannya dari sisi yang dia bergantung dengannya. Jadilah ia tercela, tidak ada pujian baginya, terhina tidak ada penolong baginya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال سبحانه: لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا  [الإسراء /22]

Janganlah kamu adakan ilah-ilah yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). [Al-Isra/17:22]

Pembagian Syirik

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 2654 dan lafazd ini adalah miliknya, dan Muslim no.87
[2] HR. al-Bukhari no 4497, ini adalah lafaznya dan Muslim no. 92.

Bagian-Bagian Syirik

BAGIAN-BAGIAN SYIRIK

Syirik terbagi dua: Syirik besar dan syirik kecil.

Syirik Besar mengeluarkan seseorang dari agama, menggugurkan semua amal ibadah, pelakunya menjadi halal darah dan hartanya, dan dikekalkan di dalam neraka apabila dia meninggal dunia dan tidak sempat bertaubat. Yaitu memalingkan ibadah atau sebagiannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyembelih dan bernazar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa ahli kubur, jin, syetan, dan selain mereka. Dan begitu pula berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak bisa melakukannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti meminta kekayaan dan kesembuhan, meminta hajat dan turun hujan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan seperti yang demikian itu yang diucapkan orang-orang bodoh di sisi kubur para wali dan orang-orang shalih, atau di sisi berhala berupa pohon, batu, dan yang semisalnya.

Di antara macam-macam syirik besar.
1. Syirik dalam Takut: Takut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa berhala atau patung, atau thagut, atau mayat, atau yang gaib (tidak terlihat mata, pent.) dari bangsa jin atau manusia bahwa ia bisa membahayakannya atau menimpakan kepadanya sesuatu yang dibenci. Takut ini termasuk tingkatan agama yang tertinggi dan teragung. Barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka sungguh dia telah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syirik besar. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ  [آل عمران/175]

karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [Ali Imran/3 : 175]

2. Syirik dalam Tawakkal: Tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala perkara dan di semua kondisi termasuk jenis ibadah yang paling agung yang harus diikhlaskan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Barangsiapa yang bertawakkal kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang tidak bisa melakukannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti tawakkal kepada orang yang sudah meninggal dunia dan orang-orang yang ghaib serta seumpama mereka dalam menolak bahaya, mendapatkan manfaat dan rizqi, berarti dia telah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syirik besar. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ  [المائدة/23]

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. [Al-Maidah/5 :23]

3. Syirik dalam Mahabbah (Cinta): Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cinta yang konsekuensi logisnya adalah kesempurnaan hina dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah cinta yang murni hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh menyekutukan seseorang dengan-Nya dalam mahabbah ini. Maka, siapa yang cinta kepada sesuatu seperti cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti ia telah menjadikan sekutu dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam cinta mengagungkan, dan ini termasuk syirik. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ [البقرة/165]

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. [Al-Baqarah/2:165]

4. Syirik dalam Taat: Termasuk syirik dalam taat adalah taat kepada para ulama, umara (pemerintah), pemimpin dan hakim dalam menghalalkan yang diharamkan, atau mengharamkan yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, siapa yang taat kepada mereka dalam hal itu, berarti dia telah menjadikan sekutu-sekutu (tandingan-tandingan) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tasyri’ (menetapkan hukum), menghalalkan dan mengharamkan. Ini termasuk syirik besar, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال سبحانه: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ  [التوبة /31]

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [At-Taubah/9 :31]

Pembagian Nifaq:

  1. Nifaq Besar: Nifaq dalam keyakinan dengan cara menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Penganutnya adalah kafir, (ia akan dimasukkan) ke dalam neraka bagian paling bawah. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا [النساء/145]

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. [An-Nisaa/4 :145]

  1. Nifaq Kecil: Nifaq dalam perbuatan dan seumpamanya. Pelakunya tidak keluar dari agama Islam, akan tetapi dia maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصاً، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إذَا ائْتُمِنَ خَانَ، وَإذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإذَا خَاصَمَ فَجَرَ». متفق عليه

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara, siapa yang ada padanya empat perkara itu, niscaya ia adalah seorang munafik murni. Dan, siapa yang ada salah satunya padanya, berarti pada dirinya ada satu perkara nifaq sampai dia meninggalkannya: Bila diberi amanah, ia berkhianat, bila bicara ia berdusta, bila berjanji ia melanggar, dan bila berbantahan (bermusuhan) ia menyimpang/menyeleweng. “Muttafaqun ‘Alaih.[1]

Syirik Kecil: Sesuatu yang dinamakan syirik oleh syara’ dan tidak sampai kepada syirik besar. Syirik ini mengurangi tauhid, tetapi tidak mengeluarkan dari agama. Ia adalah sarana menuju syirik besar. Pelakunya akan disiksa dan tidak kekal dalam neraka seperti kekalnya orang-orang kafir. Darahnya tidak boleh ditumpahkan dan hartanya tidak boleh diambil. Syirik besar menggugurkan semua amal ibadah. Adapun syirik kecil, maka ia menggugurkan amal ibadah yang menyertainya. Seperti orang yang beribadah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga ingin mendapat pujian manusia atasnya, seperti memperbaiki shalatnya, atau bersedekah, atau puasa, atau berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar manusia melihatnya, atau mendengarnya, atau memujinya. Ini adalah riya, bila disertai amal ibadah niscaya riya itu membatalkannya. Tidak ada ungkapan syirik dalam al-Qur`an kecuali yang dimaksud adalah syirik besar. Adapun syirik kecil, maka terdapat dalam sunnah-sunnah mutawatir.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا  [الكهف/110]

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya”. [Al-Kahfi/18:110]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi): ‘Aku adalah yang paling kaya dari sekutu. Barangsiapa yang melakukan amal ibadah yang di dalamnya menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya.”[2]

Termasuk syirik kecil adalah bersumpah dengan sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ucapan manusia: sesuatu yang dikehendaki Allah dan dikehendaki fulan, atau kalau bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan fulan, atau ini dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan fulan, atau tidak ada bagiku selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan fulan, dan seumpamanya. Seharusnya ia berkata: Sesuatu yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian dikehendaki fulan, dan seterusnya.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Barangsiapa yang bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia telah kafir atau syirik.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.[3]

Dari Huzaifah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

عن حذيفة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلانٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ مَا شَاءَ فُلان». أخرجه أحمد وأبو داود

Janganlah engkau katakan: ‘Apa yang dikehendaki Allah dan dikehendaki fulan, akan tetapi katakanlah: apa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian yang dikehendaki fulan.” HR. Ahmad dan Abu Daud.[4]

Syirik kecil bisa menjadi besar menurut apa yang ada di hati pelakunya. Maka, seorang muslim harus berhati-hati terhadap syirik secara mutlak/absolut: yang besar dan kecil. Syirik adalah kezhaliman yang besar yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا [النساء/48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisaa/4:48]

Perbuatan dan Ucapan yang termasuk syirik

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no 34 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 58.
[2] HR. Muslim no. 2985
[3] Shahih. HR. Abu Daud no. 3251, Shahih Sunan Abu Daud no 2787, at-Tirmidzi no. 1535 dan lafazd adalah miliknya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1241.
[4] Shahih. HR. Ahmad no. 2354, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 127, dan Abu Daud no. 4980 dan lafazd ini adalah miliknya, Shahih Sunan Abu Daud no. 4166.

Perbuatan dan Ucapan yang Termasuk Syirik

BAGIAN-BAGIAN SYIRIK

Perbuatan dan Ucapan yang termasuk syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala) atau termasuk sarana-sarananya.
Ada perbuatan dan ucapan yang berada di antara syirik besar dan kecil menurut hati pelakunya dan yang bersumber darinya. Ia bertentangan dengan tauhid atau mengotori kemurniannya. Syari’at telah memperingatkan darinya, di antaranya adalah:

  1. Memakai gelang atau benang dan semisalnya dengan tujuan menghilangkan mara bahaya atau penangkal datangnya mara bahaya. Hal itu termasuk syirik.
  2. Menggantung tamimah[1] terhadap anak-anak, sama saja berasal dari kharz, atau tulang, atau tulisan. Hal itu untuk menjaga diri dari ‘ain[2] dan itu termasuk syirik.
  3. Tathayyur, yaitu menganggap sial dengan burung atau seseorang atau suatu tempat atau semisalnya, dan itu termasuk syirik karena dia bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keyakinan mendapat bahaya dari makhluk yang tidak mempunyai manfaat atau mudharat untuk dirinya sendiri. Keyakinan ini termasuk gangguan syetan dan waswasnya, hal itu menolak tawakkal.
  4. Tabarruk (mengambil berkah) kepada pohon, batu, tempat-tempat bersejarah, kubur, dan semisalnya. Maka, meminta berkah, mengharap, dan meyakininya dalam perkara-perkara itu termasuk syirik; karena ia bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mendapatkan berkah.
  5. Sihir,  yaitu yang samar dan halus sebabnya. Ia adalah nama dari jimat-jimat, mantera-mantera, ucapan, dan obat-obatan, maka hal itu memberi pengaruh di hati dan badan, lalu menyebabkan sakit atau meninggal dunia, atau memisahkan di antara seseorang dan istrinya. Ia adalah perbuatan syetan, dan kebanyakan dari sihir itu tidak bisa sampai kepadanya kecuali dengan perbuatan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sihir adalah perbuatan syirik karena padanya mengandung ketergantungan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dari jenis syetan, karena hal itu termasuk mengaku mengetahui yang gaib. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ [البقرة / 102]

padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Merek mengajarkan sihir kepada manusia ….  [Al-Baqarah/2 :102]

Terkadang sihir adalah perbuatan maksiat yang merupakan bagian dari dosa besar, bila hanya dengan obat-obatan dan sejenisnya saja.

  1. Meramal: ia adalah mengaku mengetahui yang gaib, seperti memberitakan yang akan terjadi di muka bumi karena bersandar kepada syetan, dan itu termasuk syirik; karena mengandung pendekatan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengklaim mengetahui yang gaib bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ? قال: «مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ». أخرجه أحمد والحاكم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[3]

  1. Tanjim (astrologi): yaitu mengambil dalil dengan kondisi falak(peredaran bulan dan matahari) atas segala kejadian di permukaan bumi, seperti waktu bertiupnya angin, turunnya hujan, terjadinya penyakit dan kematian, nampaknya panas dan dingin, perubahan harga dan sejenisnya. Itu termasuk syirik; karena menyandarkan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatur dan terhadap ilmu gaib.
  2. Meminta hujan dengan bintang: yaitu menyandarkan turunnya hujan kepada munculnya bintang atau tenggelamnya, seperti ia berkata: kita diturunkan hujan dengan bintang ini dan bintang itu. Maka, ia menyandarkan hujan kepada bintang, bukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini termasuk syirik; karena turunnya hujan berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan di tangan bintang dan yang lainnya.
  3. Menyandarkan nikmat kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala nikmat di dunia dan akhirat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Barangsiapa menyandarkannya kepada selain-Nya, sesungguhnya dia telah kafir dan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti orang yang menyandarkan nikmat mendapat harta atau sembuh dari sakit kepada fulan atau fulan, atau menyandarkan nikmat perjalanan dan keselamatan di darat, laut dan udara kepada sopir, nakoda, dan pilot, atau menyandarkan mendapat nikmat dan terhindar dari mara bahaya kepada usaha pemerintah atau individu atau bendera dan semisalnya.

Maka, wajib menyandarkan semua nikmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan bersukur kepada-Nya. Adapun yang terjadi di atas tangan sebagian makhluk hanyalah merupakan sebab yang terkadang membuahkan hasil dan bisa juga tidak menghasilkan apa-apa. Terkadang bermanfaat dan bisa juga tidak berguna. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ  [النحل /53]

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. [An-Nahl/16: 53]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] Tamimah: sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir  penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang, dan lain sebagainya. (pent. Dikutip dari terj. Kitab Tauhid, Muhammad Yusuf Harun MA.)
[2] Penyakit atau pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang, pent.)
[3] Shahih. HR. Ahmad no. 9536 dan ini lafazdnya, dan al-Hakim no. 15, lihat Irwa` al-Ghalil no 2006.

Islam dan Rukun Islam

ISLAM

Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnya melebihi  kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan darah. Setiap manusia membutuhkan syari’at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islam adalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya.

Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

Perbedaan di antara Islam, Iman dan Ihsan.
Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya mengandung makna dan hukum yang lainnya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. (Ruang lingkup) Ihsan lebih umum dari sisi dirinya(?) ; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman. Ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.

Iman lebih umum daripada Islam dari sisi dirinya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam. Iman lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

Pengertian Islam.
Islam adalah berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia seorang kafir yang sombong.

RUKUN ISLAM
Rukun Islam ada lima:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إِنَّ الإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan.” Muttafaqun ‘Alaih.[1]

Pengertian Syahadah (معنى شهادة أن لا إله إلا الله)
Manusia mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sesembahan-sesembahan selain Dia, maka ketuhanannya adalah batil dan ibadahnya juga batil. Kalimah syahadah tersebut mengandung nafi (meniadakan) dan itsbat (menetapkan). (Laa ilaaha), artinya menolak semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, (ill Allah) adalah menetapkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menyembah-Nya, seperti tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

Pengertian Syahadah (معنى شهادة أن محمداً رسول الله)
Taat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi yang dilarangnya, dan dia tidak menyembah Alah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan cara yang disyari’atkannya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] HR. Bukhari no. 8 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 16

Iman

IMAN

Iman berarti beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.

Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat.

Cabang-cabang keimanan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «الإيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، والحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيْمَانِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illAllah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman.” HR. Muslim[1]

Tingkatan-tingkatan Keimanan.
Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.

1. Adapun rasanya iman, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dengan sabda-Nya:

ذَاقَ طَعْمَ الإيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإسْلامِ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً. أخرجه مسلم

Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.” HR. Muslim[2]

2. Adapun manisnya iman, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dengan sabdanya:

ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاوَةَ الإيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلا للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار. متفق عليه

Ada tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka.” Muttafaqun ‘alaih[3].

3. Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4) [الأنفال /2- 4]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka.  Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfaal/8 :2-4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ  [الأنفال/74]

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfal/8: 74]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ  [الحجرات /15]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka itulah orang-orang yang benar. [Al-Hujuraat/49 :15]

Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman hingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akan terlepas darinya dan apapun yang terlepas darinya pasti tidak akan menimpanya.

Kesempurnaan Iman.
Cinta yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan konsekuensi adanya yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang keduanya adalah amal ibadah hati. Dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya keduanya menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

عَنْ أبي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عنْ رسُول اللهِ- صلى الله عليه وسلم- أنهُ قالَ: «مَنْ أحَبَّ للهِ وأبغَضَ للهِ وأعْطَى للهِ وَمَنَعَ للهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإيمَانَ. أخرجه أبو داود.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, memberi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan melarang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia telah menyempurnakan iman.” HR: Abu Daud[4]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] HR. Muslim no. 35
[2] HR. Muslim no. 34
[3] Muttafaqun ‘alaihi, HR.Bukhari no.16, dan lafadz darinya, HR. Muslim no. 43
[4] Hasan/ HR. Abu Daud no. 4681, Shahih Sunan Abu Daud no. 3915. Lihat, as-Silsilah ash-Shahihah no 380

Bersuci

BAB IBADAH

BERSUCI
Bersuci yaitu: Membersihkan diri dari najis zahir dan batin.
Bersuci terbagi menajdi dua:

  1. Bersuci secara zahir: dengan cara berwudhu’, mandi dengan air dan membersihkan pakaian, badan dan tempat dari segala najis.
  2. Bersuci untuk batin: dengan cara membersihkan hati dari sifat-sifat yang jelek, seperti syirik, kafir, sombong, tinggi hati, iri, dengki, munafik, riya’ dan lain-lain, serta mengisi jiwa dengan sifat-sifat yang baik, seperti: tauhid, iman, jujur, ikhlas, yakin, tawakkal dan lain-lain, dan sifat ini disempurnakan dengan memperbanyak bertaubat, istighfar dan berzikir kepada Allah.

Kondisi seorang hamba saat bermunajat dengan Rabbnya.
Apabila zahir seorang muslim telah dibersihkan dengan air dan batinnya telah dibersihkan dengan tauhid dan iman, niscaya ruhnya menjadi bening, jiwa menjadi baik, kalbunya menjadi giat dan dia telah siap untuk bermunajat dengan Rabbnya dalam kondisi yang paling sempurna: badan suci, hati bersih, pakaian suci, berada di tempat yang suci. Inilah adab yang utama serta pengagungan puncak terhadap Rabb semesta alam dengan melaksanakan ibadah terhadap-Nya. Karena itu bersuci adalah sebagian dari keimanan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ  [البقرة/222]

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. [Al Baqarah/2: 222].

Sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «الطُّهُورُ شَطْرُ الإيْمَانِ، والحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ…». أخرجه مسلم

Dari Abu Malik Al Ashari berkata:  “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersuci sebagian dari iman dan  ucapan Alhamdulillah memenuhi timbangan,…”. [1]

Badan dan ruh yang sehat

  1. Allah menciptakan manusia terdiri dari jasmani dan rohani, jasmani dipenuhi kotoran dari dua sisi: dari dalam seperti keringat dan dari luar seperti debu. Untuk menjaga kesehatannya diharuskan membersihkannya dengan air. Rohani dipengaruhi dari dua sisi; penyakit-penyakit hati seperti; dengki dan sombong dan dipengaruhi juga oleh dosa yang diperbuatnya seperti; kezaliman dan perbuatan zina. Untuk menjaga kesehatan rohani diharuskan memperbanyak taubat dan istighfar.
  2. Bersuci merupakan salah satu kesempurnaan ajaran Islam. Bersuci dengan air yang suci dengan tata cara yang disyariatkan untuk menghilangkan hadas dan najis. Inilah yang akan dibahas dalam bab ini.

Pembagian Air.
Air terbagi dua

  1. Air yang suci. yaitu air yang masih berada dalam kondisi aslinya, seperti air hujan, air laut, air sungai, air yang terpancar dari tanah dengan sendirinya atau dengan alat, baik rasanya tawar maupun asin, panas ataupun dingin. Inilah air suci yang digunakan untuk bersuci.
  2. Air najis. Yaitu air yang berubah warna, rasa atau baunya disebabkan oleh najis, baik jumlah airnya sedikit maupun banyak. Hukumnya tidak boleh digunakan untuk bersuci.
    1. Air najis menjadi suci bila perubahan di atas hilang dengan sendirinya, atau dengan dikurangi, atau dengan ditambahkan air dari luar hingga perubahan tersebut hilang.
    2. Bila seorang muslim ragu-ragu dengan keadaan suatu air apakah najis atau suci maka kembalikan kepada hukum asalnya yaitu: suci.
    3. Bila seorang tidak dapat membedakan suatu air apakah suci atau tidak, maka gunakanlah air tersebut untuk bersuci jika dugaannya kuat bahwa air tersebut suci.
    4. Bila seseorang tidak dapat membedakan sebuah pakain apakah dia suci atau terkena najis, dan dia tidak mempunyai pakaian yang lain maka berusahalah untuk mencari tahu kondisi pakain tersebut, jika dugaannya kuat bahwa pakain tersebut suci maka gunakanlah untuk shalat, insya Allah shalatnya sah.
    5. Bersuci dari hadas yang kecil dan hadas besar harus dengan menggunakan air, jika tidak mendapatkan air atau kawatir air dapat mengganggu kesehatannya maka lakukanlah tayammum.
    6. Bersuci dari najis yang berada pada tubuh atau pakaian atau suatu tempat haruslah menggunakan air, atau cairan lain ataupun benda padat yang suci yang dapat menghilangkan zat najis tersebut.
    7. Boleh menggunakan bejana apapun yang suci untuk berwudhu dan keperluan lainnya selagi bejana tersebut bukan hasil rampasan, atau terbuat dari emas atau perak, jika demikian maka haram digunakan. Andai tetap digunakan wudhunya sah namun berdosa.
    8. Bejana dan pakaian orang kafir yang tidak diketahui kondisinya, apakah dia najis atau tidak boleh digunakan, karena hukum asal segala sesuatu adalah suci, jika diketahui bahwa pakaian atau bejana tersebut terkena najis maka wajib dicuci dengan air terlebih dahulu.

Hukum menggunakan bejana Emas dan Perak
Laki-laki dan wanita haram menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan, minum dan keperluan lain kecuali untuk perhiasan wanita, cincin perak untuk laki-laki dan untuk keperluan darurat seperti untuk gigi dan hidung.

عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «لا تَلْبَسُوا الحَرِيرَ وَلا الدِّيبَاجَ، ولا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ، وَلا تَأكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الآخِرَةِ». متفق عليه

Dari Huzaifah Radhiyallahu anhu aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian memakai sutera, dan kain tenun sutera, dan jangan minum pada bejana emas dan perak, dan jangan makan pada nampannya, Perhiasan tersebut adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat”. Muttafaq ’alaih.” [2]

عن أم سلمة رضي الله عنها زوج النبي- صلى الله عليه وسلم- أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «الَّذِي يَشْرَبُ فِي إنَاءِ الفِضَّةِ، إنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ». متفق عليه.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang minum dari bejana perak, sesungguhnya ia menuangkan ke dalam perutnya neraka Jahannam”. Muttafaq ’alaih. [3]

Najis
Najis yang diwajibkan atas seorang muslim untuk membersihkannya jika mengenai dirinya dan mencucinya satu kali atau lebih hingga bekasnya hilang yaitu: najis air kencing dan berak manusia, darah yang mengalir, darah haid, darah nifas, wadi, mazi, bangkai selain bangkai ikan dan belalang, daging babi, air kencing dan berak hewan yang tidak dimakan dagingnya seperti kuda dan keledai. Khusus air liur anjing harus dicuci tujuh kali dan basuhan pertama harus menggunakan tanah.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم-: أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَقَالَ: «إنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ فَقَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا». متفق عليه

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu beliau bersabda:  “Mereka berdua sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena dosa besar, adapun salah seorang dari keduanya tidak menutupi auratnya di saat kencing adapun yang lain suka menyebarkan namimah,”.  Kemudian Nabi mengambil sebuah pelepah kurma yang segar dan dibelah dua, masing-masingnya ditancapkan di atas kuburan keduanya, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda lakukan? Beliau bersabda:  “Semoga pelepah tersebut dapat meringankan azab mereka selagi belum kering”. Muttafaq ’alaih [4]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّات ٍأُوْلاهُنَّ بِالتُّرَابِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Apabila anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian maka hendaklah dia cuci tujuh kali, kali pertamanya dengan tanah”. Muttafaq alaih [5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 223.
[2] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 5426 dan Muslim no hadist : 2067.
[3] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 5634 dan Muslim no hadist : 2065.
[4] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 1361 dan Muslim no hadist : 292.
[5] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 172 dan Muslim no hadist : 279.

Termasuk Perkara-Perkara Iman

TERMASUK PERKARA-PERKARA IMAN

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ». متفق عليه

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan manusia sekalian.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Mencintai kaum Anshar.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «آيَةُ الإيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ». متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tanda iman adalah mencintai kaum anshar dan tanda nifak adalah membenci kaum anshar.”Muttafaqun ‘alaih[2]

Mencintai orang-orang yang beriman.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu tidak bisa masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu lakukan niscaya kalian saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kamu.” HR. Muslim[3]

Mencintai saudaranya sesama Islam.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ ـ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ ـ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ». متفق عليه.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman (sempurna) seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya –atau tetangganya- apa yang dia cintai untuk dirinya.” Muttafaqun ‘alaih[4]

Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” Muttafaqun ‘Alaih.[5]

Memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian melihat yang mungkar (yang dilarang agama) hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” HR. Muslim.[6]

Nasehat.

عن تميم الداري رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ: «للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلَأَئِمَّةِ المسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ». أخرجه مسلم

Dari Tamim ad-Darimi Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Agama adalah nasehat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapa?’ Beliau menjawab, ‘Untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam secara umum.” HR. Muslim.[7]

Iman adalah amalan yang paling utama

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari 15 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no. 44
[2]  HR. al-Bukhari no. 17 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no 74
[3]  HR. Muslim no 54
[4]  HR. al-Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45, ini adalah lafazhnya.
[5]  HR. al-Bukhari no (6018) dan Muslim no. 47 dan ini adalah lafazhnya.
[6]  HR. Muslim (49)
[7]  HR. Muslim (55)

Iman Adalah Amalan yang Paling Utama

TERMASUK PERKARA-PERKARA IMAN

Iman adalah amalan yang paling utama

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ: أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ» قِيْلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ» قِيلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: ‘Apakah amalan yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.’ Beliau ditanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’ Beliau ditanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Haji yang mabrur.” Muttafaqun ‘Alaih.[1]

Iman bertambah karena ketaatan dan berkurang karena perbuatan maksiat.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا  [الفتح/4]

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). [Al-Fath/48 :4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ  [التوبة/124]

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :”Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. [At-Taubah/9 :124]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak berzina orang yang berzina saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman. Tidak mencuri orang yang mencuri saat dia mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan tidak meminum arak (orang yang meminumnya) saat dia meminum sedangkan dia dalam keadaan beriman.” Muttafaqun ‘alaih[2]

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِن النَّارِ مَنْ قَالَ: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ»، وفي رواية: «مِنْ إيمَانٍ» مكان «مِنْ خَيْرٍ». متفق عليه.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: ‘Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘ dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat rambut. Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: ‘Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘ dan di hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata:’Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘ dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi (atom).” Dan dalam satu riwayat:  ‘iman‘ di tempat ‘kebaikan[3].

Amal perbuatan orang kafir yang dilakukannya sebelum Islam.
Apabila orang kafir masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka segala keburukannya diampuni, karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إذا أسلم الكافر ثم أحسن فالسيئات تُغفر له لقوله سبحانه: قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ  [الأنفال/38]

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :”Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap) orang-orang dahulu”. [Al-Anfaal/8 :38]

وأعمال الخير يثاب عليها؛ لما ثبت أن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال لرسول الله- صلى الله عليه وسلم-: أرأيتَ أموراً كنتُ أَتَحَنَّثُ بها في الجاهلية هل لي فيها من شيء؟ فقال له رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ». متفق عليه

Dan atas segala amal kebaikan (yang dilakukannya semasa kufur) diberikan pahala kepadanya, berdasarkan riwayat bahwa Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bagaimana pendapatmu terhadap beberapa perkara (kebaikan) yang pernah saya lakukan di masa jahiliyah, apakah ada balasannya untuk saya?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:’Kamu masuk Islam bersama kebaikan yang pernah kamu lakukan.”Muttafaqun ‘Alaih.[4]

ومن أسلم ثم أساء فيؤاخذ بالأول والآخر؛ لقوله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ أَحْسَنَ فِي الإسْلامِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا عَمِلَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَنْ أَسَاءَ فِي الإسْلامِ أُخِذَ بِالأَوَّلِ وَالآخِرِ». متفق علي

Dan (sebaliknya) barang siapa yang masuk Islam, kemudian melakukan dosa, maka dia disiksa dengan (dosa) pertama dan yang terakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barang siapa yang berbuat Kebaikan di masa Islam, niscaya tidak disiksa karena perbuatan buruk yang dia lakukan di masa jahiliyah. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan di masa sesudah Islam, niscaya dia disiksa karena (dosa) yang pertama dan terakhir.” Muttafaqun ‘Alaih.[5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no. 26 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 83.
[2] HR. al-Bukhari no. 2475 dan Muslim no. 57 dan ini adalah lafazhnya.
[3] Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no: 1436, dan Muslim no: 123, dan ini adalah lafazhnya.
[4] Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no. 1436 dan Muslim no. 123 dan ini adalah lafazhnya.
[5] Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no. 6921 dan Muslim no: 120.

Fadhilah Shalat

FADHILAH SHALAT

Fadhilah berjalan menuju masjid serta shalat berjamaah di masjid.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قاَلَ: قَالَ رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: (صَلاَةُ الْحَمِيْعِ تَزِيْدُ عَلىَ صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَ صَلاَتِهَ فِي سُوْقِهِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ، وَأَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رَفَعَ اللهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ خَطِيْئَةٌ، حَتىَّ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، وَإِذَا دَخَلَ اْلمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ تَحْبِسُهُ ، وَتُصَليِّ عَلَيْهِ اْلمَلاَئِكَةُ مَادَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَليِّ فِيْهِ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللّهُمَّ اْرحَمْهُ! مَا لَمْ يُحْدِثْ ِفيْهِ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat yang dilakukan oleh seseorang secara berjamaah dilipatgandakan baginya  dari shalat yang dia lakukan  di rumahnya dan di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat, karena sesungguhnya ketika dia berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian keluar menuju masjid dengan tujuan hanya untuk melaksanakan shalat, maka  tidaklah satu langkah yang ia langkahkan melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan baginya  satu kesalahan hingga dia memasuki masjid, dan apabila dia telah masuk masjid, maka dia dianggap sedang dalam shalat selama dirinya menunggu shalat, malaikatpun berdo’a baignya selama dia menetap di tempat tersebut: “Ya Allah ampunilah dia, ya Allah berikanlah  rahmat kepadanya” selama dia tidak berhadas. Muttafaq ’alaih. [1]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- قَالَ: (صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat”. Muttafaq’alaih. [2]

Fadhilah orang yang datang ke masjid do’a pagi dan petang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم- قَالَ: (مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي اْلجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: “Siapa yang berangkat ke masjid di waktu pagi atau sore, Allah menyediakan baginya hidangan baginya di surga ketika ia berada di waktu pagi atau sore” Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah datang menuju masjid dengan tenang dan khusyu’.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَقُوْلُ: (إِذَا ثوب ِللصَّلاَةِ فَلاَ تَأْتُوْهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَأْتُوْهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةُ، فَمَا َأدْرَكْتُمْ َفَصَلُّوْا وَما فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَّى الصَّلاَةِ ، فَهُوَ فِي صَلاَةٍ) . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila iqamat untuk shalat telah dikumandangkan, janganlah mendatanginya dengan berlari tapi datangilah dengan berjala, dan tetaplah tenang, maka ikutilah shalat pada raka’at yang kalian dapatkan sedangkan raka’at yang tertinggal sempurnakanlah karena  sesungguhnya salah seorang kamu bila menunju shalat (masjid) berarti ia telah berada dalam keadaan shalat”. Muttafaq ’alaih.[4]

Fadhilah mengucapkan “Aamiin”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِيْن وَقَالَتِ اْلَملاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِيْن فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا اْلأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . متفق عليه

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian mengucapkan “Aamiin” dan para malaikatpun di langit mengucapkan “Aamiin”, ternyata kedua Aamiin tersebut dalam waktu yang bersamaan maka diampuni dosa orang yang mengucapkanya“. Muttafaq alaih. [5]

Fadhilah shalat di awal waktu

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ اْلأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: (اَلصَّلاَةُ عَلىَ وَقْتِهَا) قلت: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: (بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ) قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: (اَلْجِهاَدُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ) قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي  مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah amalan yang paling afdhal?”, beliau bersabda:  “Shalat pada waktunya”, aku berkata kembali: “Kemudian apa?”, beliau bersabda:  “Berbakti kepada kedua orang tua”, kemudian apa?”, beliau bersabda:  “Berjihad fi sabilillah”. Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikannya kepadaku secara langsung, jikalau aku meminta tambahan nasehat lagi niscaya beliau menambahnya. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadhilah Shalat Shubuh, Ashar, Isya dan Jum’at

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :477 dan  Muslim no hadist: 649.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :645 dan  Muslim no hadist: 650.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :662 dan  Muslim no hadist: 669.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :636 dan  Muslim no hadist: 602.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :781 dan  Muslim no hadist: 410.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :527 dan  Muslim no hadist: 85.

Keutamaan Ibadah Di Bulan Ramadhan

KEUTAMAAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz untuk seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk selalu mengambil kebaikan dan menjadikan kita semua orang yang selalu bersegera menuju amal shalih. Amin.

Semoga kesejahteraan, rahmat dan barakah-Nya selalu tercurahkan untuk kita semua. Amma ba’du.

Saudara-saudara kaum muslimin, sesungguhnya saat ini kita berada pada suatu bulan yang agung dan penuh barakah, yaitu bulan Ramadhan. Suatu bulan dimana kita harus bersungguh-sungguh dalam berpuasa, shalat malam, dan membaca quran. Bulan pembebasan dan pengampunan, bulan untuk memperbanyak shadaqah dan berbuat ihsan. Pada bulan ini dibukakan pintu-pintu surga, dilipat-gandakan pahala kebaikan, dan dimaafkan kesalahan. Bulan dikabulkannya doa umat manusia, diangkat derajat mereka dan diampuni dosa-dosa. Allah memberi hamba-hamba-Nya berbagai kemurahan dan melimpahkan kepada para wali-Nya berbagai pemberian. Suatu bulan yang Allah jadikan berpuasa pada bulan itu sebagai salah satu rukun Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Beliau memberi kabar gembira bahwa barang siapa yang berpuasa dengan berlandaskan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Pada bulan ini terdapat suatu malam yang ibadah pada malam tersebut pahalanya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Barang siapa yang dihalangi dari kebaikan maka dia akan dihalangi dari kebaikannya.

Maka agungkanlah kehadirannya dengan niat yang lurus dan bersungguh-sungguhlah dalam menjaga puasa dan dan shalat malamnya. Berlomba-lombalah dalam meraih berbagai kebaikannya. Dan bersegera untuk bertaubat dengan benar-benar dari segala dosa dan kesalahan. Bersemangatlah untuk saling menasehati diantara kalian dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan. Juga saling menasehati dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar. Serta mengajak kepada hal-hal yang baik. Agar selepas Ramadhan kita menjadi orang yang menang dengan kemuliaan dan pahala yang agung.

Di dalam puasa terkandung manfaat yang banyak dan hikmah yang agung. Diantaranya membersihkan dan mensucikan jiwa dari akhlak yang buruk dan sifat yang tercela seperti sifat boros, sombong dan kikir. Serta membiasakan diri untuk berakhlak mulia, misalnya sabar, lemah lembut, pemurah dan dermawan. Melatih jiwa untuk selalu bersungguh-sungguh mengerjakan segala perbuatan yang diridhai Allah dan bisa mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan puasa seorang hamba lebih bisa mengendalikan hawa nafsu dan keinginannya. Menyadari kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah. Mengingatkan akan luasnya nikmat Allah dan juga mengingatkan betapa banyak saudara-saudaranya yang lebih membutuhkan uluran tangan. Sehingga hal itu akan membuatnya menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Nikmat yang dia peroleh akan mengantarkannya untuk menjadi hamba yang ta’at. Dan merasakan penderitaan saudara-saudaranya yang miskin sehingga dia berbuat baik kepadanya. Allah mengisyaratkan tentang hikmah puasa ini dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al-Baqarah/2: 183]

Allah menjelaskan bahwa Dia mewajibkan puasa kepada kita agar kita bertaqwa kepada-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa puasa merupakan wasilah/jalan menuju ketaqwaan. Dan taqwa mengandung makna meng-esa-kan Allah subhanahu wa ta’ala dan beriman kepada-Nya, kepada rasul-Nya dan kepada segala yang dikabarkan oleh Allah dan rasul-Nya. Kemudian mentaati-Nya dan rasul-Nya dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas semata karena Allah azza wajalla. Dibarengi dengan rasa cinta, harap dan takut hanya kepada-Nya. Maka dengan itu menjadi takutlah seorang hamba dari adzab dan murka Allah ta’ala.

Puasa adalah cabang yang agung dari cabang-cabang ketaqwaan. Cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan wasilah yang kuat menuju taqwa dalam semua perkara agama dan urusan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan sebagian hikmah puasa ini dalam sebuah hadist:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda. Siapa diantara kalian yang sudah mampu (menikah), maka menikahlah, karena menikah dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, siapa yang tidak mampu (menikah) maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa merupakan perisai. (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa puasa adalah perisai bagi seorang muslim dan sarana untuk meraih ’iffah (menjaga kehormatan). Karena sesungguhnya setan mengganggu manusia melalui aliran darah. Dan puasa akan mempersempit peredarannya. Dan dengan berdzikir kepada Allah dan mengagungkannya akan lemahlah kekuatan setan. Sebaliknya keimanan semakin mantap, ketaatan semakin meningkat serta memudarlah segala maksiat. Manfaat lain yang didapat dari puasa adalah mensucikan badan dari zat-zat beracun dan menjadikan badan sehat dan kuat. Hal itu telah diakui oleh para pakar kedokteran dengan keberhasilan mereka dalam menyembuhkan pasien dengan cara puasa cukup banyak.

Allah subhanahu wata’ala telah memberitakan di dalam al Quran bahwa puasa diwajibkan kepada kita sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kita. Dan Allah menjelaskan bahwa kewajiban kita adalah berpuasa pada bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa puasa beliau adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. [Al-Baqarah/2: 183-184].

Hingga firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [Al-Baqarah/2: 185].

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma  menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

Islam dibangun diatas lima perkara pokok: Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke baitullah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah…

Puasa adalah amal shalih yang agung, pahalanya berlipat ganda. Terlebih puasa pada bulan Ramadhan. Puasa yang diwajibkan Allah ta’ala kepada seluruh hamba-Nya dan menjadikannya sebab kemenangan di sisi-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ إنَّه تَرَكَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِى. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Dia tidak makan dan tidak minum karena Aku. Orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabbnya kelak. Sungguh bau mulut orang yang puasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.  (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Apabila datang awal malam bulan Ramadhan, para setan dan jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang ditutup. Suatu suara berseru: “Wahai orang yang menginginkan kebaikan, kemarilah. Wahai orang-orang yang mencari kejelekan, tahanlah”. Dan Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi setiap malam.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ يُغْشَاكُمُ اللهُ فِيْهِ فَيُنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَيُحِطُّ الْخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ اللهُ تَعَالَى إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ وَيُبَاهِيْ بِكُمْ مَلَائِكَتَهُ فَأَرُوْا اللهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْراً فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةُ اللهِ (مجمع الزوائد للهيثمي، وقال رواه الطبراني)

Ramadhan telah datang kepada kalian. Bulan penuh barakah yang dicurahkan oleh Allah kepada kalian, maka Ia menurunkan rahmat-Nya, menghapuskan segala dosa dan mengabulkan doa-doa. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam mencari kebaikannya, dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan yang ada di jiwa, karena orang yang celaka adalah orang yang diharamkan rahmat Allah padanya. (Majma’ Zawa’id karya Haitsami. Dia berkata: diriwayatkan oleh Thabrani).

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan puasa Ramadhan kepada kalian. Dan aku mensunnahkan kepada kalian untuk mengerjakan shalat malam (tarawih). Maka barang siapa melakukan puasa dan mengerjakan shalat malam karena keimanan dan berharap pahala-Nya, maka keluarlah dia dari dosa-dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya. (HR. Nasa’i).

Mengerjakan qiyam Ramadhan (tarawih) tidak dibatasi oleh bilangan tertentu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menentukan kepada umatnya tentang bilangannya sedikitpun.  Rasulullah hanya menganjurkan untuk selalu mengerjakan qiyam Ramadhan tanpa menentukannya dengan jumlah rakaat tertentu. Ketika beliau ditanya tentang shalat malam, beliau menjawab:

مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Dua rakaat-dua rakaat, apabila salah seorang khawatir tiba waktu subuh, shalatlah satu rakaat witir bagi shalat yang telah ia kerjakan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal itu menunjukkan bahwa masalah jumlah rakaat itu longgar. Barang siapa ingin mengerjakannya sebanyak 20 rakaat dengan witir 3 rakaat tidak masalah. Bagi yang ingin mengerjakannya sebanyak 10 rakaat saja dengan witir 3 rakaat juga boleh. Dan yang ingin mengerjakannya 8 rakaat dan witir 3 rakaat pun boleh. Juga tidak apa-apa mengerjakannya dengan jumlah kurang atau lebih dari itu. Yang utama adalah mengerjakannya sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah, yaitu 8 rakaat dengan salam pada setiap 2 rakaat. Lalu diakhiri dengan witir 3 rakaat. Kerjakan dengan khusyu’ dan tenang, serta membaguskan bacaan shalatnya. Berdasarkan penuturan Aisyah radhiyallahu ‘anha  berikut:

مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan atau diluar Ramadhan. Beliau shalat empat raka’at yang khusyu’ dan lamanya tidak perlu dipertanyakan. Lalu beliau shalat empat raka’at lagi yang khusyu’ dan lamanya tidak perlu dipertanyakan. Lalu shalat tiga raka’at.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim masih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha  meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ عَشْرَ رَكَعَاتٍ, يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ اثْنَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

Sesungguhnya rasulullah melaksanakan shalat malam sebanyak sepuluh rakaat, beliau salam pada setiap dua rakaat dan witir satu rakaat.

Disebutkan juga dalam beberapa hadits lain, bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh melakukkan shalat pada sebagian malam kurang dari sebelas. Disebutkan pula bahwa beliau shalat pada sebagian malam dengan tiga belas rakaat dengan salam pada setiap dua rakaat.

Semua hadits-hadits shahih tersebut menunjukkan bahwa memang masalah jumlah rakaat dalam shalat tarawih tidak dibatasi, alhamdulillah. Tidak ada batasan tertentu sehingga tidak dilarang mengerjakannya dengan jumlah rakaat berapa saja. Hal itu merupakan kemurahan dan rahmat dari Allah ta’ala. Dia memudahkan hamba-Nya untuk mengerjakan amalan mana saja yang dia sanggupi. Baik di dalam Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Justru yang penting untuk diketahui oleh setiap muslim dalam mengerjakan shalat, baik di bulan Ramadhan ataupun tidak adalah menghadapkan shalatnya dengan khusyu’, tuma’ninah dalam duduk, ruku’ dan sujud. Membaguskan bacaannya dan tidak tergesa-gesa. Karena inti shalat adalah memperhatikannya dengan menghadirkan hati, khusyu’ dalam menegakkannya, dan melaksanakannya sebagaimana diperintahkan oleh Allah dengan ikhlas dan jujur. Penuh harap dan cemas dan menghadirkan hati.

Sebagaimana firman Allah:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.[Al-Mukminun/23: 1-2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ

Dijadikan indah pandangan mataku dengan shalat. (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Dan beliau pernah menegur orang yang shalatnya jelek:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِماً، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِيْ صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Jika engkau akan shalat, sempurnakanlah wudhu’, lalu menghadap kiblat, kemudian bacalah ayat Al-Quran yang mudah, lalu ruku’lah dengan tuma’ninah, lalu bangunlah hingga berdiri sempurna, lalu sujudlah dengan tuma’ninah, lalu duduklah dengna tuma’ninah, lalu sujudlah kembali dengan tuma’ninah. Lakukan hal itu setiap kali engkau shalat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak sekali orang yang shalat di bulan Ramadhan tidak perhatian terhadap shalatnya dan tidak tuma’ninah. Shalatnya seperti ayam yang sedang mematuk makanan. Cepat sekali. Ini tidak boleh. Bahkan suatu bentuk kemungkaran yang membuat shalatnya tidak sah. Karena tuma’ninah adalah rukun shalat yang harus dilaksanakan. Dalilnya adalah hadits diatas. Maka wajib untuk memperhatikan hal tersebut.

Dalam sebuah hadits.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُوْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. (HR. Ahmad dan Darimi).

Rasulullah juga pernah memerintahkan orang yang shalat seperti mematuk untuk mengulang shalatnya.

Saudara-saudara kaum muslimin, agungkanlah shalat dan laksanakanlah sebagaimana yang diperintahkan. Manfaatkan bulan yang agung ini dan muliakanlah dengan melakukan berbagai bentuk ibadah dan dekatkan diri pada Allah. Bersegeralah menuju keta’atan. Bulan yang agung ini Allah jadikan untuk hamba-Nya sebagai ladang untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ketaatan, maka perbanyaklah amalan shalat dan bersedekah. Membaca alquran dengan memahami maknanya. memperbanyak bertasbih, bertahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan memperbanyak bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berbuat baik kepada fakir miskin dan anak yatim. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah hal-hal yang mungkar. Mengajak orang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan lembut dan nasehat yang halus. Jika terpaksa berdebat, maka debatlah dengan cara yang baik.

Rasulullah adalah sosok yang paling dermawan. Dan kedermawanan beliau akan bertambah pada bulan Ramadhan. Maka selayaknyalah kita mencontoh beliau dalam meningkatkan kedermawanan dan perbuatan baik selama bulan Ramadhan. Bantulah saudara kalian yang kurang mampu untuk dapat melaksanakan puasa dan tarawih. Carilah pahala dibalik semua yang kalian lakukan itu di hadapan Allah. Jagalah puasa kalian dari segala bentuk perbuatan dosa yang diharamkan oleh Allah kepada kalian.

Ada sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِلله ِحَاجَةً فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, serta hal-hal bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ.

Puasa adalah perisai, maka apabila seseorang melakukan puasa janganlah dia berkata jorok ataupun mencela. Apabila ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah: “Aku sedang puasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebuah riwayat yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

ليسَ الصيامُ عَن الطَعَامِ واَلشرَابِ وَإِنَّمَا الصيامُ مِن اللَغْو والرَّفَثِ

Puasa itu bukan saja menahan diri dari makan dan minum. Tetapi juga menahan diri dari hal yang sia-sia dan kotor. (Dikeluarkan oleh Baihaqi)

Ibnu Hibban juga meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَعَرَفَ حُدُوْدَهُ وَتَحْفَظُ مِمَّا يَنْبَغِيْ لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ مِنْهُ كَفَّرَ مَا كَانَ قَبْلَهُ

Barang siapa berpuasa Ramadhan, dengan mengetahui batas-batasnya dan menjaga hal-hal yang mesti dijaga, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Ahmad).

Jabir bin Abdullah al Anshar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

إذا صمت فليصم سمعك، وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم، ودع أذى الجار، وليكن عليك وقار وسكينة، ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء

Jika engkau berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu ikut berpuasa, demikian juga penglihatan dan lisanmu dari dusta dan semua yang haram. Janganlah mengganggu tetangga, dan hendaklah kalian bersikap tenang dan tawadhu’. Dan janganlah kau samakan antara hari berpuasa dengan hari biasa”.

Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan dan dijaga oleh setiap muslim baik selama bulan Ramadhan atau pun di luar Ramadhan adalah shalat lima waktu sesuai waktunya. Karena shalat adalah tiang agama, sekaligus kewajiban terbesar setelah dua kalimat syahadat. Sungguh Allah ta’ala begitu mengagungkannya dan menyebutkannya dengan sangat banyak di dalam al Quran.

Allah berfirman:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. [Al-Baqarah/2: 238].

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. [An-Nuur/24: 56].

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

Perjanjian yang memisahkan antara kita dan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka telah kafir. (HR. Ahmad dan pemilik kitab Sunan yang empat dengan sanad yang shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

Pembeda antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah tidak mengerjakan shalat. (HR. Ahmad. Dikeluarkan oleh imam Muslim dalam kitab Shahihnya).

Dan juga dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

Barang siapa menjaga shalatnya maka dia memperoleh cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang tidak menjaganya dia tidak mempunyai cahaya, tidak juga petunjuk ataupun keselamatan. Dan kelak pada hari kiamat dia dibangkitkan bersama Fir’aun, Haman, Qarun dan Ubai bin Khalaf. (HR. Darimi dan Ahmad dengan sanad shahih).

Dan diantara kewajiban yang paling penting bagi setiap laki-laki adalah mengerjakannya secara berjama’ah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

Barang siapa mendengar panggilan adzan lalu dia tidak datang, maka dia tidak akan mendapat pahala shalat. Kecuali orang yang punya udzur. (HR. Daru Quthni, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad shahih).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Abu Haurairah berkata :  Suatu ketika, seorang laki-laki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu berkata:  “Wahai Rasulullah, rumahku jauh dari masjid dan tidak ada orang yang menuntunku. Apakah aku mendapat keringanan untuk shalat di rumahku saja?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah kamu mendengar adzan?”, “Ya”, jawab laki-laki itu. Maka Nabi berkata, “Datangilah adzan itu”. (Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

Sungguh aku telah memperhatikan, bahwa tidak ada orang yang tertinggal dari shalat jamaah melainkan orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya. (HR. Muslim no. 654).

Maka bertakwalah wahai hamba Allah dalam shalat kalian. Jagalah shalat dengan senantiasa berjamaah. Nasehatilah sesama kalian untuk menjaga shalat. Baik dalam Ramadhan ataupun tidak. Dan menangkanlah dengan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat. Selamatkanlah diri kalian dari murka Allah ta’ala dan siksa-Nya. Dan hindarkanlah dari menyerupai musuh-musuh dari kalangan orang munafik.

Hal terpenting setelah shalat adalah zakat. Zakat adalah rukun Islam yang ketiga. Yang merupakan “pendamping” shalat dalam al-Quran dan hadits. Maka agungkanlah sebagaimana Allah telah mengagungkannya. Bergegaslah untuk mengeluarkan zakat pada saat diwajibkannya dan berikanlah kepada mereka yang berhak menerimanya dengan ikhlas mengharap ridha Allah, dengan hati bersih dan penuh rasa syukur kepada Allah sang pemberi nikmat.

Dan ketahuilah bahwa zakat adalah pembersih dan pensuci bagi diri dan harta kalian. Juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada zat yang telah memberikan nikmat harta kepada kalian. Untuk turut merasakan kesusahan yang dirasakan oleh saudara kalian yang fakir.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [At-Taubah/9: 103].

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. [Saba’/34: 13].

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu tatkala beliau mengutusnya untuk berdakwah ke Yaman.

إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ– وَفِيْ رِوَايَةٍ – : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.

Sesungguhnya engkau akan datang kepada suatu kaum ahli kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan adalah mengajak mereka mengucapkan syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan bahwasanya aku adalah utusan Allah, jika mereka menerima seruanmu itu maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka menerima seruanmu itu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang yang miskin di kalangan mereka. Jika mereka menerima seruanmu itu maka janganlah kau ambil harta-harta berharga mereka. Hati-hatilah dari doa orang yang teraniaya. Karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Seharusnya seorang muslim pada bulan yang mulia ini untuk memperbanyak bersedekah dan membantu kepada kaum fakir dan orang yang menjaga iffah (harga dirinya). Membantu mereka untuk dapat melaksanakan puasa dan shalat malam (tarawih) sesuai yang dicontohkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam rangka mencari ridha Allah ta’ala dan mensyukuri nikmat-Nya. Allah subhanahu wata’ala telah berjanji dalam alquran:

وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۙهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Muzammil/73: 20].

Dan firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. [Saba/34: 39].

Jauhilah segala perbuatan maksiat yang merusak puasa dan mengurangi pahala serta membuat murka Allah azza wa jalla. Seperti makan harta riba, berzina, mencuri, membunuh jiwa tak berdosa, memakan harta anak yatim, macam-macam kedzaliman terhadap nyawa, harta dan kehormatan, berdusta dalam bermuamalah, mengkhianati amanah, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturahim, permusuhan, minum-minuman keras, menggunakan narkotika, merokok, ghibah, adu domba, berdusta, kesaksian palsu, pengakuan batil, sumpah palsu, mencukur jenggot atau memendekkannya, memanjangkan kumis, sombong, memanjangkan pakaian, mendengarkan lagu dan alat musik, tabarruj dan tidak berhijab di hadapan laki-laki asing, meniru gaya wanita kafir dalam mengenakan pakaian mini, dan sebagainya yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

Bentuk-bentuk maksiat ini diharamkan untuk dilakukan kapan saja dan dimana saja. Tetapi jika dilakukan di bulan Ramadhan, kadar keharamannya akan menjadi lebih besar lagi karena keagungan dan kemuliaan  bulan ini.

Maka bertakwalah kepada Allah dan waspadalah agar tidak melanggar hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Istiqamahlah untuk selalu mentaatinya, baik dalam Ramadhan atau tidak. Saling menasehati dan tolong-menolong untuk selalu mengerjakannya. Amar ma’ruf dan nahi mungkar agar mencapai kemenangan dengan bahagia, kemuliaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Allahlah sebaik-baik Dzat yang dimintai pertolongan untuk melindungi kita semua dari hal-hal yang mendatangkan kemarahan-Nya. Semoga Allah menerima puasa dan shalat kita semua, memperbaiki pemimpin kaum musimin, menolong agama-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat memahami agama ini dan tetap menapak di jalannya. Berhukum dan berlandaskan kepadanya dalam setiap keadaan. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, hamba dan rasul-Nya, beserta keluarga, para sahabatnya dan setiap orang yang menempuh jalannya hingga hari kiamat.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

[Disalin dari فَضْلُ صَومِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ  Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz -rahimahullahi, Penerjemah Tim Islamhouse.com, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]