Category Archives: A4. Makna dan Hakikat Ibadah

Tekun Di Dalam Beribadah

TEKUN DI DALAM IBADAH

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du.

Sesungguhnya di antara rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya adalah Allah mempermudah bagi mereka dalam menjalankan ketaatan pada bulan ramadhan ini, Dia menguatkan mereka di dalam menjalankan ketaatan tersebut dan menolong mereka dalam meninggalkan  kemaksiatan dan terjerumus ke dalam syahwat. Oleh karena itulah dorongan dan semangat hati terhadap kebaikan pada bulan ini tidak seperti apa yang terjadi pada bulan-bulan lainnya. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

عن أبي هريرة – رضي الله عنه -: أنه – صلى الله عليه وسلم – قال: إذا كان أوَّلُ ليلةٍ من رمضان؛ صُفِّدَتِ الشياطين ومَرَدَةُ الجنِّ، وغُلِّقَت أبوابُ النيران؛ فلم يُفْتَحْ منها بابٌ، وفُتِّحَت أبوابُ الجنة، فلم يُغْلَقْ منها بابٌ، وينادي منادٍ: يا باغيَ الخير أَقْبِلْ، ويا باغيَ الشرِّ أَقْصِرْ، وللهُ عتقاءٌ من النار، وذلك كلَّ ليلةٍ في رمضان

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pada saat malam pertama bulan Ramadhan tiba maka setan-setan dibelenggu begitu juga jin-jin nakal, serta ditutup rapat pintu-pintu neraka dan tidak ada satu pintupun yang dibuka, selain itu pintu surga dibuka lebar dan tidak ada satu pintupun yang tertutup, lalu penyeru datang memanggil: Wahai orang yang menghendekai kebaikan datanglah dan wahai orang yang menghendaki keburukan tahanlah, Allah juga  beberapa hamba-hamba yang dikehendakiNya agar dia terbebas dari api neraka, dan pembebasan tersebut terjadi pada setiap malam dari bulan ramadhan”.[1]

Sesungguhnya menuntut jiwa di luar bulan puasa untuk menjalankan berbagai macam ibadah yang dilaksanakan pada bulan puasa adalah tuntutan yang sulit, sebab motifasi-motifasi yang mendorong seseorang untuk mengarah kepada hal tersebut tidak ada di dalam bulan-bulan lainnya. Namun perakra ini harus ingatkan karena dua hal:

Pertama : Sebagian orang, setelah keluar dari ramadhan kembali kepada keadaan semula sebelum ramadhan; meninggalkan kewajiban agama dan melakukan perbuatan maksiat.
Sekalipun dosa perbuatan maksiat lebih besar pada bulan ramadhan namun dosa kemaksiatan tidak gugur di luar bulan ramadhan; sebab kewajiban untuk mengerjakan kewajiban dan meninggalkan kemaksiatan masih tetap berlaku.

عن أبي ثعلبة الخُشَنِي – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله فرض فرائضَ؛ فلا تُضيِّعوها، وحدَّ حدودًا؛ فلا تعتدوها، وحرَّمَ أشياءَ؛ فلا تَقْرَبوها

Dari Abi Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian menyia-nyiakannya dan menentukan batas-batas maka janganlah melampuinya serta mengharamkan beberapa hal maka janganlah mendekatinya”.[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali Imron/3: 102]

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). [Al-Hijr/15: 99]

Al-Hasan Al-Bashri berakta: Sesungguhnya Allah tidak memberikan batasan bagi amal orang yang beriman kecuali kematian. Isa Alaihissalam berakata:

وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ

“Dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup; [Maryam/19: 31]

عن سفيان بن عبدالله – رضي الله عنه – قال: “قلتُ: يا رسول الله، قُلْ لي في الإسلام قولاً لا أسألُ عنه أحدًا بعدكَ”، قال: قُلْ آمنتُ بالله ثم اسْتَقِم

Dari Supyan bin Abdullah  Radhiyallahu anhu berkata: Aku bertanya keapda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah: Ajarkanlah kepadaku di dalam ajaran Islam ini suatu kalimat yang tidak aku tanyakan kepada selain dirimu?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah aku beriman kepada Allah dan istiqomahlah”.[3]

Para ulama berkata : Istiqomah adalah konsiten di dalam taat kepada Allah.

Di antara bentuk kemaksiatan adalah tidak lagi mengunjungi rumah Allah (mesjid), meremehkan shalat berjama’ah, tidak lagi kembali membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang padahal pada bulan ramadhan dia aktif membacanya dan tenggelam menonton acara-acara televisi yang menpertontonkan sinetron-sinetron rendahan, nyanyi-nyanyian cabul, foto-foto cabul yang diharamkan. Hanya kepada Allah kita mengadu.

Kedua: Meremehkan ibadah-ibadah sunnah.
Dianjurkan bagi seorang muslim untuk tidak berhenti mengerjakan ibadah-ibadah sunnah di luar bulan ramadhan. Dan Allah telah mensyari’atkan beberapa ibadah puasa, ibadah malam, shadaqah dan perbuatan baik lainnya guna mengisi waktu-waktu sehingga menjadikan seorang hamba tetap berhubungan dengan Tuhannya.

فعن عائشة – رضي الله عنها -: أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال أَحَبُّ الأعمال إلى الله تعالى أَدْوَمُها، وإِنْ قَلَّ

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang berkesinambungan seklipun sedikit”.[4]

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para shahabatnya  dari memutuskan diri beramal shaleh.

فعن عبدالله بن عمرو بن العاص – رضي الله عنهما -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: يا عبدَ الله، لا تَكُنْ مثل فلان؛ كان يقوم من الليل، فتَرَك قيامَ الليل

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti  si fulan, dia bangun malam namun meninggalkan beribadah pada waktu malamnya.[5]

Di antara ibadah nawafil yang disyari’atkan setelah ramadhan adalah puasa enam hari setelah syawwal.

عن أبي أيوب – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((مَنْ صام رمضان، ثم أَتْبَعَهُ ستًّا من شوال؛ كان كصيام الدَّهْر

Dari Abi Ayyub Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari dari bulan syawwal maka dia seakan berpuasa satu tahun.[6]

Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa pada hari Arafah.

عن أبي قَتادَة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – عندما سُئل عن صيام يوم عرفة قال: يُكَفِّر السَّنَة التي قبلَه، والسَّنَة التي بعده

Dari Abi Qotadah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat beliau ditanya tentang puasa pada hari Arofah: Puasa itu menghapuskan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya”.[7]

Dianatara puasa yang disunnahkan setelah bulan ramadhan adalah puasa tiga hari pada setiap bulannya.

في حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: “أوصاني خليلي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن أصوم ثلاثةَ أيامٍ من كلِّ شهر، وأن أَرْكَعَ ركعتَي الضُّحى، وأن أُوتِرَ قبل أن أنام

Disebutkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku telah diwasiatkan oleh kekasihku, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua rekaat shalat dhuha dan melaksanakan shalat witir sebelum aku tidur”[8]

Di antara puasa yang disunnahkan adalah qiayamullail sepanjang tahun.

فعن أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: أفضل الصيام بعد رمضان شهرُ الله المحرَّم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاةُ الليل

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Puasa yang paling baik setelah ramadhan adalah puasa pada bulan ramadhan, dan sebaik-baik shalat setelah shalat  fardhu adalah shalat malam”.[9]

Di antara hal yang disyari’atkan adalah bershedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati [Al-Baqarah/2: 274]

Banyak lagi amal-amal baik yang disyari’atkan oleh Allah bagi hambaNya secara berkesinambungan, dan hamba ini tidak mengetahui kapankan dia dijemput oleh ajal, dan orang yang berakal adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk menghadap Tuhannya dan tidak diperdaya oleh angan-angan yang kosong. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. [Luqman/31: 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum yang tenggelam dalam angan-angan yang panjang, sementara amal perbuatan mereka buruk serta lalai dari mengingat Tuhan mereka:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْنَ ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti  di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). [Al-Hijr/15: 2-3].

Dunia bukanlah tempat untuk  menetap, maka beruntunglah bagi seorang hamba yang mengetahui harga dunia lalu mengambil dari dunia ini apa-apa yang elbih baik darinya, yaitu dengan memanfaatkan waktu dengan beramal shaleh untuk kepentingan akherat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan tiadalah kehidupan dunia Ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang Sebenarnya kehidupan, kalau mereka Mengetahui. [Al-Ankabut/29: 64]

Dan ketahuilah wahai para hamba Allah bahwa setiap jiwa yang hidup pasti akan menuju kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْر

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imron/3: 185]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatya.

[Disalin dari المواظبة على العبادة   Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Muzaffar Sahid Mahsun. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
_______
Footnote
[1] Sunan Tirmidzi: 3/67 no: 682
[2] Hulyatul Aulya’: 9/17
[3] Shahih Muslim: 1/65 no: 38
[4] Shahih Bukhari: 4/184 no: 6464, Muslim: 1/541 no: 783
[5] Shahih Bukhari: 1/350 no: 1121 dan Muslim: 4/1927 no: 2478
[6] Shahih Muslim: 2/822 no: 1164
[7] Shahih Muslim: 2/819 no: 1162
[8] Shahih Muslim: 1/364 no: 1178 dan shahih Muslim: 1/499 no:721
[9] Shahih Muslim: 2/821 no: 1163

Meraih Kelezatan Beribadah

MERAIH KELEZATAN BERIBADAH

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

Di antara anugrah Allah kepada hambaNya adalah kelezatan dalam beribadah, yang aku maksudkan adalah apa yang dirasakan oleh seorang muslim dari ketenangan jiwa dan kebahagian kalbu, lapang dada dalam menjalankan beribadah, dan kelezatan yang dirasakan oleh seorang hamba akan berbeda-beda tergantung pada kekuatan dan kelemahan iman seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. Al-Nahl: 97

Seyogyanya bagi seorang muslim untuk berusaha semaksimal mungkin agar dirinya bisa merasakan kelezatan dalam beribadah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada  Bilal: قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ.“Bangkitlah wahai Bilal dan tenangkanlah kita dengan shalat”, karena beliau merasakan kelezatan dan kebahagian hati yang tinggi padanya, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan shalat malam sebagai bukti atas yang dirasakannya berupa ketenangan dan kebahagiaan bermunajat kepada Allah. Dan kebenaran perkara ini telah disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. [Al-Baqarah/2: 45]

Dan Mu’adz bin Jabal menangis pada saat kematiannya dan ditanyakan kepadanya perihal tersebut, dia menjawab: Aku hanya menangis karena akan meninggalkan kehausan saat meninggalkan kelezatan makanan dan berkumpul besama para ulama pada halaqah-halaqah zikir.

Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Sesungguhnya di dalam dunia ini ada surga di mana jika seseorang tidak memasukinya maka dia tidak akan bisa memasuki surga akherat”.[1]

Seorang ulama salaf berkata : Orang-orang miskin penghuni dunia adalah orang yang keluar meninggalkan dunia sementara dia tidak merasakan kelezatan apa yang ada padanya, dikatakan kepadanya: Apakah yang paling lezat di dunia ini?. Dia menjawab: Mencintai Allah dan  mengenalNya serta berdzikir kepadaNya atau yang serupa dengannya”.[2]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketaatan itu memiliki kelezatan yang bisa dirasakan oleh orang yang beriman. Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan: Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekpuruan sama seperti kebencian dirinya dicapakkan ke dalam api neraka”.[3]

Di dalam sebuah riwayat disebutkan:

مَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا

Orang yang dicampakkan ke dalam api lebih disukainya daripada kembali kepada Yahudi atau Nashrani”.[4]

Di antara cara meraih kelezatan di dalam beribadah adalah:
Pertama. Berusaha semaksimal mungkin untuk selalu taat kepada Allah sehingga dia terbiasa dan senang dengannya. Terkadang jiwa ini menjauh pada permulaan langkah mengawali usaha namun jika dia tetap telaten mengencangkan lengan bajunya, dan dia memiliki keinginan yang tinggi maka dia insya Allah akan mendapatkannya. Maka urusan ini menuntut kesabaran dan kekuatan menanggung derita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. [Ali Imron/3: 200].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

Dari Fudholah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ

Mujahid yang sebenarnya adalah orang yang berjihad melan hawa nafsunya karena Allah”.[5]

Seorang ulama salaf berkata: Aku senantiasa mengarahkan jiwaku agar beribadah kepada Allah padahal dia menangis dan mengeluh, sehingga aku tetap mengarahkannya sementara dia telah tersenyum (menikmati ibadah).

Ibnu Rajab berkata : Ketahuilah bahwa jiwamu itu bagai tungganganmu, jika dia mengetahui dirimu sedang bersemangat maka diapun bersemangat dan jika dia mengetahui bahwa dirimu sedang merasakan kemalasan maka dia menuntut darimu dan meminta bagian istirahat memenuhi syahwat”.[6]

Seorang penyair berkata:
Aku akan menundukkan  kesulitan dengan mudah atau asaku tercapai
Sebab tidaklah angan-angan itu tunduk kecuali kepada orang yang sabar

Kedua: Menjauhi dosa baik yang kecil atau besar. Sesungguhnya kemaksiatan adalah dinding yang menghalangi seseorang merasakan kelezatan beribadah, karena dia melahirkan kekerasan hati, kekasaran dan kegersangan jiwa. Sebagian ulama salaf berkata: Allah tidak menghantam seseorang dengan siksa yang lebih besar dari pada hati yang kasar”.

Ibnul Qoyyim rahimullah berakata: Setiap kali dosa-dosa menumpuk maka kegelisahan akan meningkat, dan kehidupan yang paling pahit adalah kehidupan orang yang dihantui rasa gelisah dan takut dan hidup yang paling indah adalah kehidupan orang yang tenang, seandainya orang yang berakal melihat dan membandingkan kelezatan bermaksiat, dan apa-apa yang diakibatkannya dari rasa takut dan gelisah, maka di sanalah dia menyadari keburukan keadaannya dan ketertipuannya, yaitu pada saat seseorang telah menggadai ketenangan keamanan dan kemanisan beribadah dengan kegelisahan maksiat dan apa-apa yang dilahirkannya dari sifat rasa takut dan bahaya yang diakibatkannya”.[7]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata : Jika engkau tidak mendapatkan suatu pekerjaan tidak mendatangkan ketenangan di dalam hatimu dan kelapangan bagi dadamu maka hendaklah engkau mewaspadainya, sebab Allah Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Bersyukur, yaitu Dia pasti memberikan balasan bagi amal hambaNya yang telah dikerjakannya di dunia memberikan rasa lezat di dalam hatinya, kekuatan dan kelapangan serta kesenangan dan jika dia tidak mendapatkan hal tersebut berarti amal itu telah bercampur dengan sesuatu yang lain”.[8]

Supyan Atsauri berkata : Aku tercegah mengerjakan bangun malam akibat suatu dosa yang pernah aku lakukan”.[9]

Wuhaib bin Al-Ward ditanya: Kapankah seseorang kehilangan kelezatan beribadah? Apabila dia terjerembab dalam kemaksiatan atau setelah dia selesai menjalankannya? Dia menjawab: Seseorang akan kehilangan lezatnya beribadah pada saat dia ingin melakukan maksiat.

Ketiga: Meninggalkan makanan, minuman dan pembicaran serta pandangan yang berlebihan, maka cukup bagi seorang muslim untuk memakan makanan dan meminum minuman yang bisa membantunya menunaikan ibadah dan amalnya, maka janganlah dia makan dan minum secara berlebihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. [Al-A’raf/7: 31]

Dari Miqdad bin Ma’di Karib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Tidaklah seorang anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk dari perutnya, maka cukup bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, namun jika hal itu mesti dilakukan maka hendaklah dia mengisi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya”.[10]

Seorang ulama salaf berkata: Ketenangan hati pada sedikitnya dosa dan ketenangan perut pada sedikitnya makanan dan ketenangan lisan pada sedikitnya berbicara. Dan aku mengakhiri dengan perakataan Ibnul Qoyyim rahimahullah di mana berkata: Janganlah engkau menyangka bahwa firman Allah yang mengatakan:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [Al-Infithar/82: 13-14]

Khusus terjadi pada hari kebangkitan semata, namun mereka mendapat kenikmatan pada tiga fase kehidupan dan mereka yang lain mendapat siksa neraka jahim pada tiga fase kehidupan, kelezatan dan kenikmatan apakah di dunia ini selain baiknya hati dan kelapangan dada, ma’rifat kepada Allah serta mencintaiNya dan beramal sesuai dengan apa yang dikehendakiNya, dan bukankah kehidupan yang sebenarnya itu kecuali kehidupan hati yang sehat? Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji Nabi Ibrahim alaihis salam karena hatinya yang selamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ إِذْ جَاء رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.  [Ash-Shoffat/37: 83-84]

Allah menceritakan tentang hati di dalam firmanNya:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, [Asy-Syu’ara’/26: 88-89]

Dan hati yang selamat adalah hati yang selamat dari kesyirikan, rasa dengki, hasad, iri, pelit, sombong dan ambisi terhadap dunia dan jabatan. Dia selamat dari segala bencana yang menjauhkannya dari Allah, dan selamat dari segala syubhat yang bertenentangan dengan apa diberitakan olehNya, dan selamat dari syahwat yang melawan  perintahNya, selamat dari segala keinginan yang menyaingi kehendakNya, selamat dari segala sesuatu yang memutusakannya dari Allah, hati yang selamat ini berada dalam surga yang disegerakan di dunia ini, mendapat kenikmatan di dalam alam Barzakh dan kenikmatan pada hari pembalasan”.[11]

Keempat: Hendaklah seorang hamba merasakan bahwa ibadah yang dilakukannya ini, baik shalat, puasa, haji dan shadaqah adalah sebagai waujud ketaatan dirinya kepada Allah dan guna mengharap keridhaan Allah, dan ibadah ini sebagai perbuatan yang disenangi oleh Allah dan diridahiNya dan ibadah inilah yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ وما تردَّدتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ  يكرهُ الموتَ وأنا أكرهُ مُساءتَه

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah  bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi hambaKu maka aku telah mengumumkan perang terhadapnya, dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub kepadaku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah aku wajibkan baginya, dan hambaku senantisa beribadah kepadaku dengan ibadah-ibadah yang sunnah sehingga aku mencintainya, maka jika aku mencintainya maka aku menjadi pendengaran yang dipergunakannya untuk mendengar, menjadi pandangannya yang dipergunakannya untuk melihat, menjadi tangannya yang dipergunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dipergunakan untuk melangkah, jika dia meminta kepadaku niscaya aku mengasihinya dan jika meminta ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampuninya  dan jika dia berlindung denganKu niscaya Aku pasti melindunginya, dan tidaklah aku pernah ragu melakukan sesuatu seperti keraguan diriku mengambil nyawa seorang yang beriman, dia membenci kematian dan Aku tidak suka berbuat buruk kepadanya”.[12]

Kelima: Hendaklah seorang hamba menyadari bahwa semua ibadah yang dilakukannya ini tidak sia-sia dan tidak akan menghilang, sebagaimana punahnya harta duniawi, baik harta dan jabatan serta kelezatannya, bahkan seorang hamba akan merasakan kelezatannya bahkan itulah yang paling dibutuhkannya, bahkan juga dia akan mendapatkan buahnya di dunia selain dari apa yang akan disimpankannya baginya oleh Allah di akherat dan itu adalah balasan yang paling mulia dan besar. Maka barangsiapa yang menyadarinya niscya dia tidak akan menghiraukan jika gagal meraih dunia dan merasa senang dengan ibadah yang telah dirasakan manisnya ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. [Thaha/20: 112]

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِىَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً

Orang yang akan merasakan ledzatnya keimanan adalah orang yang rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul utusan Allah”.[13]

Di dalam Ashahihaini dari hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ: يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

Barangsiapa yang berinfaq dengan dua pasang di jalan Allah maka dia akan diseur dari pintu surga: Wahai hamba Allah ini adalah lebih baik, maka barangsiapa yang termsuk orang yang ahli shalat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan barangsiapa yang termasuk ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu jihad, serta barangsiapa yang termasuk ahli puasa maka dia akan diseru dari pintu Al-Rayyan, dan barangsiapa yang termasuk ahli shadaqah maka dia akan dipanggil dari pintu shadaqah”.[14]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari لذة العبادة  Penulis : Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,  Penerjemah Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
_______
Footnote
[1] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Thayyib, halaman: 81
[2] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Thayyib, halaman: 82
[3] Shahih Bukhari 4/284 no: 6941 dan Muslim: 1/66 no:43
[4] Shahih Muslim: 1/67 no: 43
[5] Bagian dari hadits di dalam kitab sunan Tirmidzi: 4/165 no: 1621
[6] Disadur dari kitab: Ladzdzatul Ibadah: halaman: 12
[7] Al-Da’ Wa dawa’: halaman: 104
[8] Tahdzib Madarijus salikin: halaman: 312
[9] Ladzdzatul Ibadah: hal: 18
[10] Sunan Turmudzi: 4/590 no: 2380 dan dia berkata hadits hasan shahih
[11] Al-Da’u Wa Dawa’, halaman: 165-166
[12] Bukhari: 6502
[13] Muslim: 24
[14] Shahih Bukhari : 1897 dan Muslim: 1027

Makna dan Hakikat Ibadah

MAKNA DAN HAKIKAT IBADAH

Pengertian ibadah
Yang berhak disembah hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan ibadah digunakan atas dua hal;

  1. Pertama : Menyembah, yaitu merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya.
  2. Kedua : Yang disembah dengannya, yaitu meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa perkataan dan perbuatan, yang nampak dan tersembunyi seperti, doa, zikir, shalat, cinta, dan yang semisalnya. Maka melakukan shalat misalnya adalah merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dengan merendahkan diri kepada-Nya, karena cinta dan mengagungkan-Nya, dan kita tidak menyembahnya kecuali dengan cara yang telah disyari’atkan-Nya.

Hikmah Dari Penciptaan Jin dan Manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan jin dan manusia sebagai suatu yang sia-sia dan tidak berguna. Dia juga tidak menciptakan mereka untuk makan, minum, senda gurau dan bermain serta tertawa.

Dia menciptakan mereka tidak lain adalah untuk suatu perkara yang besar, untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengesakan, mengagungkan, membesarkan, dan mentaati-Nya, dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, berhenti pada batas-batas-Nya (dengan tidak melanggar larangan-Nya) dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Az-Zariyat/51:56]

Jalan Ubudiyah (Beribadah)
Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dibangun di atas dua pondasi yang besar yaitu : cinta yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketundukan yang sempurna pada-Nya.

Dan keduanya juga dibangun di atas dua dasar yang besar, yaitu:

  1. Merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengingat nikmat, karunia, kebaikan, dan rahmat-Nya yang mengharuskan kita mencintai-Nya.
  2. Mengoreksi cacat dalam diri dan perbuatan yang menyebabkan kehinaan dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pintu terdekat yang memasukkan hamba kepada Rabb-nya adalah pintu iftiqar (menghinakan diri) kepada Rabb-nya. Maka, dia tidak melihat dirinya kecuali seorang yang merugi, dan dia tidak melihat adanya kondisi, kedudukan, dan sebab pada dirinya yang dia bergantung padanya, tidak pula ada perantara yang bisa membantunya. Akan tetapi dia merasa sangat membutuhkan kepada Rabb-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan jika dia meninggalkan hal tersebut diri darinya niscara dia rugi dan binasa. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ {53} ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ {54} لِيَكْفُرُوا بِمَآءَاتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senaglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). [An-Nahl/16 :53-55]

Manusia yang Paling Sempurna Ibadahnya
Orang yang paling sempurna dalm beribadah kepada Allah adalah para Nabi dan Rasul, karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling mengagungkan-Nya dibanding selain mereka, lalu Alah tambahkan kemuliaan mereka dengan menjadikannya sebagai rasul yang diutus kepada manusia, sehingga mereka memperoleh kemuliaan risalah dan kemulian khusus dalam beribadah.

Kemudian setelah mereka adalah para siddiqin yang sempurna dalam beriman kepada Allah dan para utusan-Nya serta istiqamah diatasnya, kemudian para syuhada dan orang-orang yang shaleh. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.[An-Nisa/4:69]

Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala Terhadap Hamba
Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap penduduk langit dan bumi adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dengan cara ditaati maka tidak didurhakai, diingat maka tidak dilupakan, disyukuri maka tidak dikufuri. Maka siapakah yang tidak muncul darinya sesuatu yang menyelisihi apa yang dia diciptakan dengannya, baik karena lemah, bodoh, atau karena berlebihan dan karena kekurangan (dalam menjalankan perintah atau meninggalkan larangan).

Oleh karena itu seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala mau menyiksa penduduk langit dan bumi, niscaya Dia menyiksanya dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka, dan jika Dia memberikan rahmat-Nya niscaya rahmat-Nya lebih baik daripada amal perbuatan mereka sendiri.

Dari Mu’azd bin Jabal Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Saya membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai yang dinamakan ‘afir, lalu ‘Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba dan apa hak hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Saya menjawab. ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda,: ‘Sesungguhnya hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba adalah bahwa mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak akan  menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah saya memberitahukan kepada manusia?’ Beliau menjawab, ‘Jangan engkau beritakan kepada mereka, maka mereka menjadi enggan beramal .[Muttafaqun ‘alaih].[1]

Kesempurnaan Ubudiyah

  1. Setiap hamba berbolak-balik di antara tiga perkara: (Pertama) nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang datang silih berganti kepadanya, maka kewajibannya adalah memuji dan bersyukur. (Kedua) Dosa yang dikerjakannya, maka kewajibannya adalah meminta ampun darinya. Dan (ketiga) bala bencana yang ditimpakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, maka kewajibannya adalah sabar. Barangsiapa yang melaksanakan tiga kewajiban ini, niscaya ia beruntung di dunia dan di akhirat.
  2. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-Nya untuk menguji kesabaran dan ubudiyah mereka, bukan untuk membinasakan dan menyiksa mereka. Maka, hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya adalah ubudiyah/penyembahan di waktu susah, sebagaimana kepada-Nya ubudiyah di kala senang. Kepada-Nya ubudiyah pada sesuatu yang dibenci, sebagaimana untuk-Nya ubudiyah pada sesuatu yang disukai. Mayoritas manusia memberikan ubudiyah/penyembahan pada sesuatu yang mereka sukai, dan perkaranya adalah memberikan ubudiyah pada yang dibenci. Mereka saling berbeda dalam hal itu. Berwudhu dengan air dingin pada saat panas yang luar biasa dan menikahi istrinya yang cantik adalah ubudiyah/ibadah. Dan berwudhu dengan air dingin pada saat dingin yang menusuk tulang adalah ibadah. Meninggalkan maksiat yang disenangi nafsu tanpa ada rasa takut kepada manusia adalah ibadah, dan sabar terhadap rasa lapar dan sakit adalah ibadah, akan tetapi terdapat perbedaan di antara dua ibadah.

Maka, barangsiapa yang selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat senang dan susah, dalam kondisi yang dibenci dan disukai, maka dia termasuk hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak berduka cita. Musuhnya tidak bisa menguasainya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya. Akan tetapi kadang syetan memperdayanya. Seseorang hamba diberi cobaan dengan lupa, syahwat, dan marah. Dan masuknya syetan  terhadap hamba berawal dari tiga pintu ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menguasakan (memberikan otoritas) nafsu, keinginan dan syetannya kepada setiap hamba dan mengujinya, apakah dia mentaatinya atau mentaati Rabb-nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki perintah-perintah kepada manusia dan nafsu juga memiliki perintah-perintah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kesempurnaan iman dan amal shaleh dari manusia, dan nafsu menghendaki kesempurnaan harta dan syahwat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki amal perbuatan untuk akhirat dari kita dan nafsu menghendaki perbuatan untuk dunia. Iman adalah jalan keselamatan dan lampu lentera yang dengannya dia melihat kebenaran dari yang lainnya dan inilah tempat cobaan.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [Al’Ankabuut/29:2-3]

وَمَآأُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Yusuf/12 :53]

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Qashash/28:50]

[Disalin dari العبادة معناها وحقيقتها Penulis  Syaikh  Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry, Penerjemah : Team Islamhouse, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]
______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30, lafadz hadits ini dari riwayat Muslim.

Pengertian Ibadah Dalam Islam

PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM[1]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas  حفظه الله

A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat/51: 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Pilar-Pilar Ubudiyyah yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah/5: 54]

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah/2: 165]

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’/21: 90]

Sebagian Salaf berkata[2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq[3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy[5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”

C. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”[6]

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:

  1. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
  2. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah/2: 112]

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah.”

Sebagaimana Allah berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi/18: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.

Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat[7].

Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?

Jawabnya adalah sebagai berikut:

  1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar/39: 2]

  1. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
  2. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8]. Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
  3. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

D. Keutamaan Ibadah
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang enggan melaksanakannya dicela.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min/40: 60]

Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.

Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.

Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.

Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.

Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.[9]

Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.

Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah l, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
_______
Footnote
[1] Pembahasan ini dinukil dari kitab ath-Thariiq ilal Islaam (cet. Darul Wathan, th. 1421 H) oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid, dan Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighaatsatul Lahafan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid
[2] Lihat al-‘Ubuudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary (hal. 161-162), Maktabah Darul Ashaalah 1416 H
[3] Zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid.
[4] Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.
[5] Haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.
[6] HR. Muslim (no. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146; 180; 256), dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.
[7] Lihat al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid (hal. 221-222).
[8] Lihat surat Al-Maa-idah ayat 3
[9] Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighatsatul Lahafan (hal. 67), oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.

Pengaruh Ibadah Bagi Seorang Muslim

PENGARUH IBADAH BAGI SEORANG MUSLIM

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni Lc, MA

Syariat Islam yang mencakup akidah (keyakinan), ibadah dan mu’amalah, diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna, untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Karena termasuk fungsi utama petunjuk Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân dan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah untuk membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari semua kotoran dan penyakit yang menghalanginya dari semua kebaikan dalam hidupnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (hati/jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al Qur`ân) dan al-Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Ali ‘Imrân/3:164]

Makna firman-Nya “mensucikan (hati/jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Azza wa Jalla)[1].

Maka kebersihan hati seorang Muslim merupakan syarat untuk mencapai kebaikan bagi dirinya secara keseluruhan, karena kebaikan seluruh anggota badannya tergantung dari baik/bersihnya hatinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal (daging), yang kalau segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh (anggota) tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh (anggota) tubuhnya), ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (manusia).[2]

Hikmah Agung Disyariatkannya Ibadah
Inilah hikmah agung disyariatkannya ibadah kepada manusia, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla tegaskan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[3] hidup bagimu. [al-Anfâl/8:24]

Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan dan kemashlahatan merupakan sifat yang selalu ada pada semua ibadah dan petunjuk yang diserukan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam . Dan ini sekaligus menjelaskan manfaat dan hikmah agung dari semua ibadah yang Allah Azza wa Jalla syariatkan, yaitu bahwa bersih dan sucinyanya hati dan jiwa manusia, yang merupakan sumber kebaikan dalam dirinya[4], hanyalah bisa dicapai dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan menetapi ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.[5]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hikmah yang agung ini dalam ucapan beliau: “Tujuan utama dari semua ibadah dan perintah (Allah Azza wa Jalla dalam agama Islam) bukanlah untuk memberatkan dan menyusahkan manusia. Meskipun hal itu mungkin terjadi pada sebagian ibadah dan perintah tersebut sebagai akibat sampingan, karena adanya sebab-sebab yang menuntut keharusan terjadinya hal itu. Ini merupakan konsekuensi kehidupan di dunia. Semua perintah Allah Azza wa Jalla, hak-Nya (ibadah) yang Dia wajibkan kepada hamba-hamba-Nya, serta semua hukum yang disyariatkan-Nya pada hakekatnya merupakan qurratul ‘uyûn (penyejuk pandangan mata), serta kesenangan dan kenikmatan bagi hati manusia, yang dengan semua itulah hati akan terobati, merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kesempurnaan di dunia dan akhirat. Bahkan hati manusia tidak akan merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan yang hakiki kecuali dengan semua itu. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah:”Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” [Yûnus/10:57-58][6]

Inilah makna ucapan Sahabat yang mulia, `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu yaitu: “Sesungguhnya amal kebaikan ibadah itu memiliki pengaruh baik berupa cahaya di hati, kecerahan pada wajah, kekuatan pada tubuh, tambahan pada rezki dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya perbuatan buruk (maksiat) itu sungguh memiliki pengaruh buruk berupa kegelapan di hati, kesuraman pada wajah, kelemahan pada tubuh, kekurangan pada rezki dan kebencian di hati manusia.”[7]

Pengaruh Positip Ibadah Bagi Seorang Muslim
Untuk memperjelas keterangan di atas, berikut ini kami akan sampaikan beberapa poin penting yang menunjukkan besarnya pengaruh positif ibadah dan amal shaleh yang dikerjakan seorang Muslim dalam kehidupannya.

1. Kebahagiaan dan kesenangan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat
Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh (ibadah), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl/16:97]

Para Ulama salaf menafsirkan makna “kehidupan yang baik (di dunia)” dalam ayat di atas dengan “kebahagiaan (hidup)” atau “rezki yang halal dan baik” dan kebaikan-kebaikan lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup yang hakiki.[8]

Sebagaimana orang yang berpaling dari petunjuk Allah Azza wa Jalla dan tidak mengisi hidupnya dengan beribadah kepada-Nya, maka Allah Azza wa Jalla akan menjadikan sengsara hidupnya di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. [Thâha/20:124][9]

2. Kemudahan semua urusan dan jalan keluar/solusi dari semua masalah dan kesulitan yang dihadapi
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. [Ath-Thalâq/65:2-3]

Ketakwaan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah yang wajib dan sunnah (anjuran), serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.[10]

Dalam ayat berikutnya Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya [Ath-Thalâq/65:4]

Artinya : Allah Azza wa Jalla akan meringankan dan memudahkan semua urusannya, serta memberikan baginya jalan keluar atau solusi yang segera untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.[11]

3. Penjagaan dan taufik dari Allah Azza wa Jalla
Dalam sebuah hadits yang shahîh, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada `Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu :

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla , maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.[12]

Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla ” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepadanya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya[13]. Dan makna “kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu.[14]

Keutamaan yang agung ini hanyalah Allah Azza wa Jalla peruntukkan bagi orang-orang yang mendapatkan predikat sebagai wali (kekasih) Allah Azza wa Jalla , karena mereka selalu melaksanakan dan menyempurnakan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla , baik ibadah yang wajib maupun sunnah (anjuran). Dalam sebuah hadits qudsi yang shahîh Allah Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah menyatakan perang (pemusuhan) terhadapnya. Tidak ada seorang hambapun yang beribadah kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada ibadah yang telah Aku wajibkan padanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (ibadah-ibadah) yang sunnah (anjuran/tidak wajib) sehingga Aku pun mencintainya…”[15] .

4. Kemanisan dan kelezatan iman, yang merupakan tanda kesempurnaan iman
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ اْلإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb–nya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[16]

Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, berkata: “Orang yang tidak menghendaki selain (ridha) Allah Azza wa Jalla , dan tidak menempuh selain jalan agama Islam, serta tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang memiliki sifat-sifat ini, maka niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya sehingga dia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut (secara nyata).”[17]

Sifat inilah yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , yang semuanya mereka capai dengan taufik dari Allah Azza wa Jalla dan kemudian karena ketekunan dan semangat mereka dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para Sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. [al-Hujurât/49:7]

5. Keteguhan iman dan ketegaran dalam berpegang teguh dengan agama Allah Azza wa Jalla.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. [Ibrâhîm/14:27]

Ketika menafsirkan ayat ini Imam Qatâdah rahimahullah[18] berkata: “Adapun dalam kehidupan dunia, Allah Azza wa Jalla meneguhkan iman mereka dengan perbuatan baik (ibadah) dan amal shalih.”[19]

Fungsi ibadah dalam meneguhkan keimanan sangat jelas sekali, karena seorang Muslim yang merasakan kemanisan dan kenikmatan iman dengan ketekunannya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla , maka setelah itu – dengan taufik dari Allah Azza wa Jalla – dia tidak akan mau meninggalkan keimanannya meskipun dia harus menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan dalam mempertahankannya, bahkan semua cobaan tersebut menjadi ringan baginya.

Gambaran inilah yang terjadi pada para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keteguhan mereka sewaktu mempertahankan keimanannya untuk menghadapi permusuhan dan penindasan orang-orang kafir Quraisy, di masa awal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendakwahkan Islam. Sebagaimana disebutkan dalam percakapan antara Abu Sufyân dan raja Romawi Hiraqlius, yang dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Di antara pertanyaan yang diajukan oleh Hiraqlius kepada Abu Sufyân waktu itu: “Apakah ada di antara pengikut (Sahabat) Nabi itu (Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam) yang murtad (meninggalkan) agamanya karena dia membenci agama tersebut setelah dia memeluknya?” Maka Abu Sufyân menjawab: “Tidak ada”. Kemudian Hiraqlius berkata: “Memang demikian (keadaan) iman ketika kemanisan iman itu telah masuk dan menyatu ke dalam hati manusia”[20].

Penutup
Beberapa poin yang kami sebutkan di atas jelas menggambarkan bagaimana manfaat dan pengaruh positif ibadah dan amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim bagi dirinya. Masih banyak poin lain yang tentu tidak mungkin disebutkan semuanya.

Semoga tulisan ini menjadi motivasi bagi kita untuk semakin giat dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, serta berusaha untuk membenahi amal ibadah yang sudah kita lakukan selama ini agar benar-benar sesuai dengan petunjuk dan syariat Allah Azza wa Jalla.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII/J1430/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 1/267.
[2] HSR al-Bukhâri no. 52 dan Muslim no. 1599.
[3] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 4/34.
[4] Lihat kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 55  Mawâridul amân.
[5] Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 213.
[6] Kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 75-76  Mawâridul amân
[7] Dinukil oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Istiqâmah 1/351 dan Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wâbilush shayyib hlm. 43.
[8] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (2/772).
[9] Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 60  Mawâridul amân.
[10] Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jâmi’ul Ulûmi Wal Hikam hlm. 197.
[11] Tafsîr Ibnu Katsîr 4/489.
[12] HR at-Tirmidzi no. 2516, Ahmad 1/293 dan lain-lain, dinyatakan shahîh oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ish Shagîr no. 7957.
[13] Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jâmi’ul Ulûmi Wal Hikam hlm. 229.
[14] Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jâmi’ul Ulûmi Wal Hikam hlm. 233
[15] HSR al-Bukhâri no. 6137.
[16] HSR Muslim no. 34.
[17] Syarh shahîh Muslim 2/2.
[18] Beliau adalah Qatâdah bin Di’âmah as-Sadûsi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), Imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah n (lihat kitab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 409).
[19] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsîr dalam tafsir beliau 2/700
[20] HSR al-Bukhâri no. 7

Makna dan Cakupan Ibadah

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Ibadah Adalah Hikmah Penciptaan
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [Adz-Dzâriyât/51:56]

Oleh karena itu Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian dengan perintah ibadah, melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

(Allâh) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. [Al-Mulk/67: 2]

Maka semua yang berakal, dari kalangan jin dan manusia, semenjak dewasa sampai meninggal dunia dia berada dalam ujian dan cobaan.

Kalau kita memahami hal ini, maka alangkah pentingnya kita mengetahui makna ibadah dan cakupannya, sehingga kita bisa mengisi hidup kita dengan ibadah sehingga bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla

Ta’rif Ibadah Secara Bahasa dan Istilah
Ibadah secara bahasa adalah ketundukan dan kerendahan atau kepatuhan, seperti perkataan bangsa Arab, “Tharîq mu’abbad” artinya jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’îr mu’abbad” artinya onta yang patuh.

Az-Zajaj rahimahullah (wafat 311 H), seorang ahli bahasa Arab, berkata, “Ibadah dalam bahasa maknanya ketaatan disertai ketundukan”.[1]

Ar-Raghib al-Ash-bihani rahimahullah (wafat 425 H), seorang ahli bahasa Arab, berkata, “’Ubudiyah adalah menampakkan ketundukan, sedangkan ibadah lebih tinggi darinya, karena ibadah adalah puncak ketundukan”.[2]

Sedangkan, ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) berkata, “Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allâh, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.”[3]

Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini mencakup seluruh jenis ibadah dalam agama Islam.

Cakupan Ibadah
Ibadah dalam agama Islam mencakup ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.

1. Ibadah mahdhah
Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allâh Azza wa Jalla .

Dalam kitab ad-Dînul Khâlish, 1/215, disebutkan  pengertian ibadah mahdhah, “Segala yang diperintahkan oleh Pembuat syari’at (yaitu:  Allâh Subhanahu wa Ta’ala -pen), baik berupa perbuatan atau perkataan hamba yang dikhususkan kepada keagungan dan kebesaran Allâh Azza wa Jalla .”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Wudhu adalah ibadah, karena ia tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, dan semua perbuatan yang tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, maka itu adalah ibadah, seperti shalat dan puasa, dan karena hal itu juga berkonsekuensi pahala.”[4]

Maka semua perbuatan atau perkataan yang ditunjukkan oleh nash atau ijma’ atau lainnya, atas kewajiban ikhlas padanya, maka itu adalah ibadah dari asal disyari’atkannya, sedangkan yang tidak demikian maka itu bukan ibadah dari asal disyari’atkannya, namun bisa menjadi ibadah dengan niat yang baik, sebagaimana penjelasan berikutnya.

Ibadah mahdhah ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Ibadah hati yaitu keyakinan dan amalan
Ibadah hati yang terbagi menjadi dua bagian:

  1. Qaulul qalbi (perkataan hati), dan dinamakan i’tiqâd (keyakinan; kepercayaan). Yaitu keyakinan bahwa tidak ada Rabb (Pencipta; Pemilik; Penguasa) selain Allâh, dan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak diibadahi selain Dia, mempercayai seluruh nama-Nya dan sifat-Nya, mempercayai para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, taqdir baik dan buruk, dan lainnya.
  2. ‘Amalul qalbi (amalan hati), di antaranya ikhlas, mencintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya, tawakkal kepada-Nya, bersabar melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dan lainnya.

b. Ibadah perkataan atau lisan
Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tauhid, membaca al-Qur’an, berdzikir kepada Allâh dengan membaca tasbîh, tahmîd, dan lainnya; berdakwah untuk beribadah kepada Allâh, mengajarkan ilmu syari’at, dan lainnya.

c. Ibadah badan
Di antaranya adalah melaksankan shalat, bersujud, berpuasa, haji, thawaf, jihad, belajar ilmu syari’at, dan lainnya.

d. Ibadah harta
Di antaranya adalah membayar zakat, shadaqah, menyembelih kurban, dan lainnya.

2. Ibadah ghairu mahdhah
Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik.

Namun, jika perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan ini dilakukan dengan niat yang buruk akan berubah menjadi kemaksiatan, dan pelakunya mendapatkan dosa. Seperti, melakukan jual beli untuk mendapatkan harta dengan niat untuk melakukan maksiat; makan minum agar memiliki kekuatan untuk mencuri; mempelajari ilmu yang mubah, seperti kedokteran atau teknik, dengan niat untuk mendapatkan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia bisa melakukan perbuatan maksiat.

Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan ini dengan tanpa niat yang baik atau niat buruk, maka perbuatan tersebut tetap pada hukum asalnya, yaitu mubah.

Ibadah ghairu mahdhah ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Melaksanakan wâjibât (perkara-perkara yang diwajibkan) dan mandûbât (perkara-perkara yang dianjurkan) yang asalnya tidak masuk ibadah, dengan niat mencari wajah Allâh

Misalnya:

  1. Mengeluarkan harta untuk keperluan diri sendiri, seperti makan, minum, dan sebagainya, dengan niat menguatkan badan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh.
  2. Berbakti kepada orang tua dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
  3. Memberi nafkah kepada anak dan istri dengan niat melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
  4. Mendidik anak dan membiayai sekolahnya dengan niat agar mereka bisa beribadah kepada Allâh dengan baik.
  5. Menikah dengan niat menjaga kehormatan diri sehingga tidak terjatuh ke dalam zina.
  6. Memberi pinjaman hutang dengan niat menolong dan mencarai pahala Allâh.
  7. Memberi hadiah kepada orang dengan niat mencari wajah Allâh.
  8. Memuliakan tamu dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
  9. Memberi tumpangan kepada seorang yang tua agar sampai ke tempat tujuannya dengan niat mencari wajah Allâh.

Di antara dalil yang menunjukkan hal itu sebagai ibadah adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

Dari Abu Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Jika seorang laki-laki mengeluarkan nafkah kepada keluarganya yang dia mengharapkan wajah Allâh dengan-Nya, maka itu shadaqah baginya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 55]

Dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ

Dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak mengeluarkan nafkah yang engkau mencari wajah Allâh dengan-Nya kecuali engkau diberi pahala padanya, termasuk apa yang engkau taruh di mulut istrimu”. [HR. Al-Bukhari, no. 56]

b. Meninggalkan muharramât (perkara-perkara yang diharamkan) untuk mencari wajah Allâh Azza wa Jalla
Termasuk dalam hal ini adalah meninggalkan riba, meninggalkan perbuatan mencuri, meninggalkan perbuatan penipuan, dan perkara-perkara yang diharamkan lainnya. Jika seorang Muslim meninggalkannya karena mencari pahala Allâh, takut terhadap siksa-Nya, maka itu menjadi ibadah yang berpahala.

Namun jika seorang Muslim meninggalkan suatu perbuatan maksiat karena tidak mampu melakukannya, atau karena takut terhadap had dan hukuman, atau tidak ada keinginan, atau sama sekali tidak pernah memikirkannya,  maka dia tidak mendapatkan pahala.

Dalilnya adalah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَقُولُ اللَّهُ: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً، فَلاَ تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ “

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh berfirman: Jika hamba-Ku berkeinginan melakukan keburukan, maka janganlah kamu menulisnya sampai dia melakukannya. Jika dia telah melakukannya, maka tulislah dengan semisalnya. Dan jika dia meninggalkannya karena Aku, maka tulislah satu kebaikan untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka tulislah satu kebaikan untuknya. Jika dia telah melakukannya, maka tulislah baginya sepuluh kalinya sampai 700 kali”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7501]

c. Melakukan mubâhât (perkara-perkara yang dibolehkan) untuk mencari wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Di antaranya tidur, makan, menjual, membeli, dan usaha lainnya dalam rangka mencari rezeki. Semua ini dan yang semacamnya hukum asalnya adalah mubah. Jika seorang Muslim melakukannya dengan niat menguatkan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allâh, maka hal itu menjadi ibadah yang berpahala.

Dalil adalah hadits Abu Mas’ud dan Sa’ad yang telah lewat. Demikian juga perkataan Mu’adz bin Jabal, ketika ditanya oleh Abu Musa al-Asy’ari, “Bagaimana engkau membaca al-Qur’an?” Beliau Radhiyallahu anhu menjawab:

أَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ، فَأَقُومُ وَقَدْ قَضَيْتُ جُزْئِي مِنَ النَّوْمِ، فَأَقْرَأُ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

Aku tidur di awal malam, lalu aku bangun dan aku telah memberikan bagian tidurku, lalu aku membaca apa yang Allâh takdirkan untukku. Sehingga aku mengharapkan pahala pada tidurku, sebagaimana aku mengharapkan pahala pada berdiri (shalat) ku”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4341]

Ini semua menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia. Semoga Allâh memberikan kemudahan dan kemampuan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 65-72, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammâdah al-Jibrin, dan rujukan-rujukan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lisânul ‘Arab, bab: ‘abada
[2] Mufradât Alfâzhil Qur’ân, hlm. 542
[3] Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullâh
[4] Al-Mustadrak ‘ala Majmû’ al-Fatâwâ, 3/29; Mukhtashar al-Fatâwâ al-Mishriyah, hlm. 28

Merealisasikan Makna Ibadah

MEREALISASIKAN MAKNA IBADAH

Seseorang akan hidup penuh makna apabila jiwanya bersih. Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya. Tidak hanya di dunia, bahkan di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا،  وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya.  [asy Syams/91 : 9-10].

Dalam rangka mensucikan jiwa tersebut, satu-satunya jalan yang harus ditempuh, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa syirik, dan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melakukan bid’ah. Bagaimanakah sebenarnya hakikat ibadah yang diharapkan dengan memahaminya –bi idznillah- akan dapat membantu terwujudnya kesucian jiwa?

Berikut ini adalah pemaparan yang menukil dari perkataan Syaikhul Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, al Ubudiyyah. Semoga bermanfaat.

Ibadah ialah ungkapan yang mencakup segala apa yang dicintai Allah dan diridhaiNya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, batin maupun lahir. Shalat, zakat, shiyam (puasa), haji, benar dalam berkata, menunaikan amanat, berbuat baik kepada dua orang tua, memenuhi janji, amar ma’ruf-nahi mungkar, jihad melawan orang-orang kafir serta orang-orang munafik, berbuat kebajikan kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang tengah dalam perjalanan), dan kepada harta milik; baik berbentuk manusia  maupun hewan ternak,  juga berdoa, berdzikir, membaca al Qur`an dan kegiatan-kegiatan lain yang semisal, adalah termasuk ibadah.

Begitu juga mencintai Allah dan RasulNya, takut kepada Allah, kembali kepadaNya, mengikhlaskan agama hanya kepadaNya, sabar menerima hukumNya, bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya, ridha terhadap ketetapan taqdirNya, tawakal, mengharap-harap rahmatNya, takut terhadap adzabNya, dan hal-hal lain yang sejenis, adalah termasuk ibadah.

Yang demikian itu karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan yang dicintai dan diridhai olehNya. Untuk maksud itulah Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepadaKu. [adz Dzariyat/51:56].

Untuk membawa misi ibadah itu pulalah Allah mengutus para rasulNya –Shalawatullahi ‘alaihim sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…[an Nahl/16 : 36].

Kemudian Allah menjadikan peribadatan itu sebagai ketetapan baku bagi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai wafatnya. Sebagaimana firmanNya: 

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Sembahlah (ibadahilah) Rabb-mu hingga datang kematian kepadamu. [al Hijr/15 : 99]

Dengan sifat beribadah itu pula, Allah memberikan sifat  kepada para malaikat serta para nabiNya –Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alaihim- sebagaimana firmanNya:

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ.  يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُونَ

Kepunyaan Allah-lah penghuni yang ada di langit-langit dan di bumi, sedangkan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat dan para nabi) tidak pernah sombong untuk beribadah kepadaNya dan tidak pernah lelah. Mereka senantiasa bertasbih malam dan siang tanpa ada putus-putusnya. [al Anbiya’/21 : 19-20].

Allah mencela oang-orang yang sombong -tidak mau beribadah kepadaNya- dengan firmanNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabb-mu telah berkata : “Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku mengabulkan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong –tidak mau- beribadah kepadaKu, akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir/40 : 60].

Ada sebuah hadits yang telah jelas keshahihannya dalam kitab Shahih, [1] bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk seorang badui, Jibril bertanya kepada beliau tentang Islam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Islam ialah bila engkau bersaksi bahwa, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, bila engkau mendirikan shalat, membayarkan zakat, bershiyam Ramadhan serta berhaji di Baitullah bila engkau mampu melakukan perjalanan kepadanya

Jibril bertanya lagi: “Kemudian apakah iman?” Beliau menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Yaitu apabila engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, kebangkitan kembali sesudah mati, dan apabila engkau beriman kepada taqdir; baiknya dan buruknya”.

Jibril bertanya lagi: “Kemudian apakah ihsan?” Beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Yaitu apabila engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Ia melihatmu”.

Selanjutnya, di akhir hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

“Ini adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian”.

Artinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan semua perkara dalam hadits di atas masuk dalam (pengertian) agama (din). Bahwa agama (din) mencakup makna tunduk dan merendahkan diri. Dengan demikian, agama Allah adalah, beribadah, taat dan tunduk-patuh kepada Allah.

Sementara itu, ibadah yang diperintahkan meliputi makna cinta dan makna merendahkan diri. Jadi, ibadah yang diperintahkan itu mencakup rasa cinta sebesar-besarnya kepada Allah Ta’ala, sekaligus dibarengi sikap merendahkan diri serendah-rendahnya.

Seandainya ada orang bertanya: Apabila semua yang dicintai Allah masuk dalam sebutan ibadah? Mengapa ada perkara lain yang disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah? Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah al Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.

(Maksudnya, meminta pertolongan termasuk ibadah, tetapi mengapa disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah?, pent.).

Contoh yang lain, misalnya adalah firman Allah kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Beribadahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepadaNya.  [Hud/11 : 123].

Contah lainnya, perkataan Nuh:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

Beribadah-lah kepada Allah dan ber-takwa-lah serta taat-lah kepadaNya. [Nuh/71 : 3].

Demikian pula perkataan para rasul lain.

Maka pertanyaan seperti ini dijawab: Persoalan semacam itu sudah biasa pada contoh-contoh lain. Misalnya dalam firman Allah :

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ

Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan fahsya’ (keji) dan mungkar.  [al Ankabut/29 : 45].

Padahal al fahsya’ (perbuatan keji) termasuk perbuatan mungkar.

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ

Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berbuat adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan mencegah dari perbuatan fahsya’ (keji), mungkar dan melampaui batas. [an Nahl/16 : 90].

Memberi kepada kaum kerabat adalah bagian dari berbuat adil. Begitu juga berbuat fahsya’ (keji), dan melampaui batas adalah termasuk kemungkaran.

Misal yang lain, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat (akan di beri pahala). [al A’raf/7 : 170].

Mendirikan shalat adalah termasuk seagung-agungnya berpegang teguh pada al Kitab.

Misal lainnya lagi, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para nabiNya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا

Sesungguhnya mereka orang-orang yang bersegera mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dalam keadaan harap-harap cemas. [al Anbiya’/21 : 90].

Doa mereka dengan harap-harap cemas termasuk kebaikan. Dan contoh-contoh lain yang semacam itu banyak di dalam al Qur`an.

Dalam bab ini, adakalanya salah satu dari kedua hal tersebut merupakan bagian dari yang lain, kemudian yang satu disebut secara berurutan sesudah yang lain, dalam rangka pengkhususan penyebutannya. Sebab, ada tuntutan makna secara umum dan secara khusus. Namun kadang-kadang (mempunyai tujuan agar) penunjukan penyebutannya menjadi bermacam-macam ketika disebut sendiri-sendiri, maupun ketika disebut bersama-sama. Artinya, jika disebut secara sendirian, maka maknanya menjadi umum. Akan tetapi, ketika disebut secara bersamaan dengan yang lain, maka maknanya menjadi khusus.

Misalnya sebutan “fakir” dan “miskin”. Ketika masing-masing disebutkan secara sendiri-sendiri, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

لِلْفُقَرَآءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ

(Berikanlah) kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah. [al Baqarah/2 : 273]

Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ

Atau memberi makan sepuluh orang miskin.  [al Ma’idah/5 : 89]

(Pada dua ayat di atas, masing-masing kata “fakir” dan “miskin” disebutkan sendiri-sendiri, pent.). Maka pengertian kata “fakir” masuk dalam pengertian kata “miskin” (dan sebaliknya, pent.).

Namun ketika disebut secara bersama-sama, seperti dalam firmanNya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Sesungguhnya harta-harta zakat hanyalah dibagikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang miskin. [at Taubah/9 : 60].

Maka pengertiannya menjadi dua macam (masing-masing kata “fakir” dan “miskin” memiliki makna yang berbeda, pent).

Sesungguhnya, memang ada yang mengatakan: Bahwa ketika yang khusus disebutkan secara berurutan dengan yang umum, maka pada saat keduanya disebut secara bersama-sama, yang khusus tidak otomatis masuk dalam pengertian yang umum. Bahkan itu termasuk bab di atas (masing-masing memiliki makna berbeda, pent.). Tetapi setelah diteliti, hal itu tidaklah tentu demikian. (Buktinya) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ

Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mika’il, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. [al Baqarah/2 : 98] (Jibril dan Mikail termasuk Malaikat, pent.).

Juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bin Maryam. [al Ahzab/33:7].

Disebutnya sesuatu yang khusus bersama-sama dengan sesuatu yang umum bisa disebabkan oleh sebab yang bermacam-macam:

  • Terkadang karena yang khusus itu memiliki kekhususan yang tidak terdapat pada semua individu yang umum. Seperti kekhususan pada diri Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (masing-masing berbeda dengan semua nabi lainnya, pent.).
  • Terkadang pula karena yang umum memiliki bahasa mutlak yang kemungkinan tidak bisa dipahami, disebabkan keumumannya. Misalnya dalam firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ  يُنْفِقُونَ. وَالَّذِينِ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

(Al Qur`an itu) merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara ghaib, mendirikan shalat dan membayar infak dari rizki yang telah Kami berikan. Dan orang-orang yang beriman kepada wahyu yang telah diturunkan kepadamu dan kepada wahyu yang telah diturunkan sebelummu. [al Baqarah/2 : 2-4].

Firman Allah :  ( يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ   = Beriman kepada perkara ghaib), meliputi seluruh perkara ghaib yang wajib diimani. Tetapi bahasa itu masih garis besar. Di dalamnya tidak ada petunjuk yang jelas, bahwa termasuk perkara ghaib adalah, beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadamu dan wahyu yang diturunkan sebelummu. (Untuk maksud itulah, maka disebutkan perkara yang khusus sesudah yang umum, untuk menerangkan sebagian dari rincian perkara umum tersebut, pent.). Termasuk dalam persoalan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اتْلُ مَآأُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al Kitab (al Qur`an), dan dirikanlah shalat.  [al Ankabut/29 : 45].

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Kitab dan mendirikan shalat. [al A’raf/7:170].

Maksud membaca al Kitab pada ayat di atas ialah, mengikuti dan mengamalkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud berkaitan dengan firman Allah:

الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ

Orang-orang yang telah kami berikan al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benarnya. [al Baqarah/2 : 121].

Ibnu Mas’ud mengatakan : “Mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh al Kitab, mengharamkan apa yang diharamkannya, mengimani ayat-ayat mutasyabihnya dan mengamalkan ayat-ayat muhkamnya”.

Dengan demikian, mengikuti isi al Kitab meliputi shalat dan lain-lainnya. Tetapi shalat disebutkan secara khusus karena keistimewaannya.

Begitu pula firman Allah kepada Musa:

إِنَّنِى أَنَا اللهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku. Maka ibadahilah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu. [Thaha/40 : 14].

Mendirikan shalat untuk mengingat Allah adalah termasuk sebesar-besar ibadah kepada Allah.

Demikian juga firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا

Bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. [al Ahzab/33 : 70].

اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ 

Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya. [al Ma’idah/5 : 35].

اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar. [at Taubah/9:119].

Perkara-perkara itu semua juga termasuk kesempurnaan takwa kepada Allah. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Maka beribadahlah kepada Allah dab bertawakkallah kepadanya. [Hud/11 : 123].

Sesungguhnya, bertawakal adalah sikap istiqamah. Dan itu termasuk ibadah kepada Allah. Tetapi tawakal disebutkan secara khusus di sini, supaya orang yang melakukan peribadatan betul-betul bertujuan untuk bertawakal secara khusus, karena ia bisa menolong bagi terlaksananya semua macam-macam ibadah. Sebab Allah tidak dapat diibadahi tanpa ada pertolongan dariNya.

Apabila hal ini sudah jelas, maka sempurnanya makhluk terletak pada realisasi ibadahnya kepada Allah. Semakin bertambah seseorang dalam realisasi ibadahnya, maka akan bertambah kesempurnaan dirinya dan semakin tinggi pula derajatnya. [2]

Demikianlah, dengan memahami hakikat ibadah, diharapkan akan membantu proses pensucian jiwa dengan benar. Wallahu Waliyyu at Taufiq.

(Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin dari kitab, Madarij al Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah  sub bab Haqiqat al Ubudiyyah, pada halaman 13 – 20, Penulis Syaikh Salim bin Id al Hilali, Daar ash Shumai’iy, Riyadh, KSA, Cet. II, 1424 H/2003 M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahih Muslim, 8.
[2] Al Ubudiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 17-26, 70-75, dinukil secara ringkas.

Syarat Ibadah Diterima

SYARAT IBADAH DITERIMA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Allâh Azza wa Jalla mewajibkan seluruh hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian Dia akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan. Namun ibadah akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , jika memenuhi syarat-syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan oleh Allâh dan Rasul-Nya. Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan ittiba’. Inilah sedikit penjelasan tentang tiga perkara ini:

IMAN
Secara bahasa Arab, sebagian orang mengartikan iman dengan: tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran sesuatu); thuma’ninah (ketentraman); dan iqrâr (pengakuan). Makna yang ketiga inilah yang paling tepat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq. Iqrâr (pengakuan) mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)”.[1]

Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup:

  1. Keyakinan hati, yaitu meyakini kebenaran berita.
  2. Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah.

Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allâh Azza wa Jalla .

Adapun secara syara’ (agama), maka iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan di antara prinsip-prinsip Ahli Sunnah wal Jama’ah bahwa ad-din (agama) dan al-iman adalah: perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”.[2]

Iman memiliki enam rukun, yaitu: iman kepada Allâh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan iman kepada qadar. Inilah pokok iman.

Selain rukun, iman juga memiliki bagian-bagian.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyebutkan bahwa iman itu memiliki 73 bagian, sebagaimana dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Iman ada 73 lebih atau 63 lebih bagian, yang paling utama adalah perkataan Laa ilaaha illa Allâh, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah satu bagian dari iman.[3]

Iman Syarat Diterima Amal Shalih
Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa iman merupakan syarat diterimanya sebuah amal. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16: 97]

Oleh karena itu amalan orang kafir tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. [Ibrâhîm/14:18]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allâh di sisinya, lalu Allâh memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya. [An-Nur/24: 39]

Walaupun amal orang kafir tertolak di akhirat, namun dengan keadilan-Nya, Allâh Azza wa Jalla memberikan balasan amal kebaikan orang kafir di dunia ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا

Sesungguhnya Allâh tidak akan menzhalimi kepada orang mukmin satu kebaikanpun, dia akan diberi (rezeki di dunia) dengan sebab kebaikannya itu, dan akan di balas di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia diberi makan dengan kebaikan-kebaikannya yang telah dia lakukan karena Allâh di dunia, sehingga jika dia telah sampai ke akhirat, tidak ada baginya satu kebaikanpun yang akan dibalas .[4]

Dari uraian singkat di atas, kita bisa memahami urgensi iman terkait diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan kita serta memliharanya dari segala yang bisa merusaknya. Karena iman juga bisa rusak dengan banyak sebab, diantaranya syirik (Lihat Az-Zumar/39: 65), nifak (At-Taubah/9: 54), kufur (Muhammad/47: 8-9), dan riddah (Al-Baqarah/2: 217).

Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita dari segala yang bisa merusak keimanan kita.

IKHLAS
Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan. Maksud ikhlas dalam syara’ adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allâh, semata-mata mencari ridha Allâh, menginginkan wajah Allâh, dan mengharapkan pahala atau keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. [Al-Bayyinah/98: 5]

Orang yang ikhlas mencari ridha Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4: 114]

Orang yang ikhlas beramal untuk wajah Allâh, yakni agar bisa melihat wajah Allâh di surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [Al-Insan/76: 9]

 Orang yang ikhlas itu menghendaki pahala akhirat, bukan balasan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. [Asy-Syûra/42: 20]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

Barangsiapa di antara mereka (umat ini) beramal dengan amalan akhirat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. [6]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[7]

Seorang ulama dari India, al-Imam Shiddiiq Hasan Khan al-Husaini rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan (di antara Ulama) bahwa ikhlas merupakan syarat sah amal dan (syarat) diterimanya amal”.[8]

Berdasarkan syarat ikhlas ini, maka barangsiapa melakukan ibadah dengan meniatkannya untuk selain Allâh, seperti menginginkan pujian manusia, atau keuntungan duniawi, atau melakukannya karena ikut-ikutan orang lain tanpa meniatkan amalannya untuk Allâh, atau barangsiapa melakukan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada makhluk, atau karena takut penguasa, atau semacamnya, maka ibadahnya tidak akan diterima, tidak akan berpahala. Demikian juga jika seseorang meniatkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla, tetapi niatnya dicampuri riya’, amalannya gugur. Ini merupakan kesepakatan ulama.[9]

Kesalahan Seputar Ikhlas
Dalam kitab al-Ikhlâsh, penulis yaitu Syaikh Umar Sulaiman al-‘Asyqar rahimahullah menyebutkan beberapa persepsi yang keliru tentang ikhlas, diantaranya:

  1. Anggapan bahwa makna ikhlas adalah tidak memiliki kehendak
  2. Anggapan bahwa orang yang menghendaki ridha Allâh harus meninggalkan duniawi, harta-benda, wanita, kedudukan, dan sebagainya.
  3. Anggapan bahwa ikhlas adalah beribadah hanya dengan dorongan cinta kepada Allâh, tanpa disertai raja’ (harapan untuk meraih) surga dan tanpa khauf (rasa takut) dari neraka.
  4. Orang yang tujuan hidupnya hanya duniawi.
  5. Riya’, sum’ah, dan ‘ujub, bertentangan dengan ikhlas.
    1. Riya’ adalah: memperlihatkan ketaatan lahiriyah untuk mendapatkan kebaikan dunia, pengagungan, pujian, atau kedudukan di hati manusia.
    2. Sum’ah semakna riya’ namun berkaitan dengan pendengaran.
    3. ‘Ujb: merasa besar atau membanggakan ketaatan.
  6. Beribadah dengan niat mengetahui hal-hal ghaib.

ITTIBA
Ittibâ adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allâh, maka syahadat tersebut memuat kandungan: meyakini berita Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mentaati perintah Beliau, menjauhi larangan Beliau, dan beribadah kepada Allâh hanya dengan syari’at Beliau. Oleh karena itu, barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini, maka itu tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali-Imran/3: 85]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59: 7]

Ayat ini nyata menjelaskan kewajiban ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak.[10]

Hadits ini nyata-nyata mengharamkan perbuatan membuat ibadah yang tidak diperintahkan dan tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan mengharamkan perbuatan membuat sifat ibadah walaupun asal ibadah itu disyari’atkan, karena itu menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dengan ini jelas bahwa ibadah harus sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam waktunya, sifatnya, dan tidak boleh menambahkan ibadah yang tidak dituntunkan, baik berupa amalan atau perkataan.

Inilah syarat-syarat diterima amal ibadah oleh Allâh Subhaana wa Ta’ala, semoga Allâh selalu membimbing kita semua di atas jalan yang lurus.

Al-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Majmû’ Fatâwâ 7/638
[2]  Syarh Aqîdah Washitiyah, hlm: 231, karya Syaikh Muhammad Kholil Harros, takhrij: ‘Alwi bin Abdul Qodir As-Saqqof
[3]  HR. Muslim, no: 35
[4]  HR. Muslim, no: 2808, dari Abu Hurairah. Lihat as-Shahîhah, no: 53
[5]  HR. Ahmad, dll; Lihat Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 53
[6]  HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah ash-Shahîhah, no: 52;  Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 63
[7]  HR. Muslim, no: 2985
[8]  Ad-Dînul Khâlish, 2/385
[9]  Lihat Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 74, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin
[10]  HR. Al-Bukhâri, no. 2697; Muslim, no. 1718

Sifat-sifat Ibadah yang Benar

SIFAT-SIFAT IBADAH YANG BENAR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Kemuliaan seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Semakin seorang hamba menambah ketundukan dan peribadahan kepada Penciptanya, maka semakin bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya.

Kemudian bahwa hamba tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan benar hanya dengan akal dan perasaannya. Oleh karena itu Allȃh Azza wa Jalla mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk memberikan petunjuk-Nya.

Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. [Thaha/20:123]

Ibadah yang benar kepada Allȃh Azza wa Jalla harus dilakukan dengan dasar kecintaan, berharap rahmat dan pahala Allȃh Azza wa Jalla, takut siksa-Nya dan disertai ketundukan dan pengagungan kepada Allȃh Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Allȃh Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. [Al-Anbiya’/21: 90]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Di antara Salaf mengatakan: Barangsiapa beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla hanya dengan kecintaan, maka dia seorang Zindiq (munafik).  Barangsiapa beribadah kepada Allȃh hanya dengan harapan, maka dia Murji’ah[1]. Barangsiapa beribadah kepada Allȃh hanya dengan rasa takut, maka dia seorang Haruri[2]. Dan barangsiapa beribadah kepada Allȃh dengan kecintaan, rasa takut, dan harapan, maka dia seorang yang beriman, bertauhid.”[3]

Kecintaan dan Ketundukan
Mencintai Allȃh Azza wa Jalla adalah pondasi ibadah yang paling utama. Oleh karena itu seorang hamba wajib mencintai Allȃh Azza wa Jalla, dan mencintai semua jenis ketaatan. Sehingga ketika dia beribadah dengan suatu jenis ketaatan, maka dia mencintai ketaatan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan dan kesempurnaan ketundukan. Orang yang beribadah adalah orang yang mencintai dan tunduk. Berbeda dengan orang yang mencintai orang yang dia tidak tunduk kepadanya, tetapi dia mencintainya karena menjadikannya perantara kepada perkara lain yang dia cintai. Dan berbeda dengan orang yang tunduk kepada orang yang dia tidak mencintainya, seperti seseorang tunduk kepada orang zhalim. Maka keduanya ini bukanlah ibadah yang murni”.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Ibadah, asal maknanya adalah kerendahan/ketundukan juga (seperti makna diin). Tetapi ibadah yang diperintahkan (oleh Allȃh Azza wa Jalla) mengandung makna kerendahan/ketundukan dan makna kecintaan. Sehingga ibadah yang diperintahkan (oleh Allȃh Azza wa Jalla) itu mengandung sifat puncak kerendahan/ketundukan kepada Allȃh Subhanahu wa Ta’ala disertai puncak kecintaan kepada-Nya.

Barangsiapa tunduk kepada seorang manusia disertai kebenciannya kepadanya, maka tidaklah dia menjadi orang yang beribadah kepadanya. Dan seandainya seseorang mencintai sesuatu dan dia tidak tunduk kepadanya, tidaklah dia menjadi orang yang beribadah kepadanya. Sebagaimana seseorang mencintai anaknya, dan kawannya.

Oleh karena inilah, di dalam beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla tidak cukup dengan salah satu dari kedua sifat itu saja, tetapi seorang hamba wajib menjadikan Allȃh Azza wa Jalla sebagai yang paling dicintai daripada segala sesuatu, dan menjadikan Allȃh Azza wa Jalla yang paling diagungkan daripada segala sesuatu. Bahkan tidak ada yang berhak mendapatkan kecintaan dan ketundukan yang sempurna kecuali Allȃh Azza wa Jalla. Maka apa saja yang dicintai bukan karena Allȃh Azza wa Jalla, kecintaannya itu adalah rusak, dan apa saja yang diagungkan bukan dengan perintah Allȃh Azza wa Jalla, pengagungannya itu batil.”[5]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata di dalam sya’irnya menjelaskan tonggak ibadah, sebagai berikut: “Dan ibadah kepada (Allȃh Azza wa Jalla) Yang Maha Pemurah adalah puncak kecintaan kepada-Nya bersama kepatuhan dari orang yang beribadah kepada-Nya. Itulah dua kutub yang orbit ibadah beredar pada keduanya. Orbit itu tidak akan beredar sampai kedua kutubnya tegak. Dan beredarnya dengan perintah, yaitu perintah Rasul-Nya. Tidak dengan (perintah) hawa-nafsu, kemauan diri sendiri, dan syaithan”[6].

Demikian juga seorang hamba wajib membenci kemaksiatan-kemaksiatan yang juga dibenci oleh Allȃh Azza wa Jalla. Termasuk membenci orang-orang yang dibenci oleh Allȃh Azza wa Jalla, dari kalangan orang-orang kafir dan musyrik.

Seorang hamba juga mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allȃh Azza wa Jalla, yaitu orang-orang yang beriman. Yang pertama-tama adalah para Rasul. Termasuk mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaannya daripada kepada anak, orang tua, dan seluruh manusia.

Keutamaan Khauf (Takut Kepada Alla Azza wa Jalla)
Allȃh Azza wa Jalla telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk takut kepada-Nya, dan Dia menjadikannya sebagai syarat keimanan. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [Ali ‘Imrȃn/3: 175]

Dan Allȃh Azza wa Jalla memuji hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ ﴿٥٧﴾ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ﴿٥٨﴾ وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ ﴿٥٩﴾ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴿٦٠﴾ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada (azab) Tuhan mereka,  dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka,  dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),  dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,  mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. [Al-Mukminȗn/23: 57-61]

Dan Allȃh Azza wa Jalla telah menjelaskan balasan yang telah Dia siapkan di akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya, Dia berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga. [Ar-Rahmȃn/55: 46]

Demikian juga takut kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya merupakan salah satu sebab meraih keamanan di akhirat. Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits qudsi dari Syaddȃd bin Aus Radhiyallahu anhu bahwa Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : وَعِزَّتِي وَجَلاَلِي لاَ أَجْمَعُ لِعَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلاَ خَوْفَيْنِ إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ فيه عِبَادِي وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ فيه عِبَادِي

Allȃh Subhanahu wa Ta’ala Dia berfirman: “Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua keamanan dan dua ketakutan untuk hamba-Ku. Jika hamba-Ku merasa aman kepada-Ku di dunia, Aku pasti menjadikannya takut pada hari (kiamat) yang Aku akan mengumpulkan hamba-hamba-Ku.Sebaliknya jika dia merasa takut kepadaKu di dunia, Aku pasti menjadikannya aman pada hari (kiamat) yang Aku akan mengumpulkan hamba-hambaKu. [HR. Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah dengan sanad yang lemah, namun dikuatkan dengan jalur-jalur yang lain sehingga dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 742]

Oleh karena itu setiap hamba wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla disertai dengan rasa takut kepada hukuman dan siksaan-Nya.

Barangsiapa Takut, Dia Bersegera
Rasa takut yang terpuji adalah yang dapat menghalangi dari hal-hal yang diharamkan Allȃh Azza wa Jalla. Sehingga orang yang benar-benar takut kepada Allȃh Azza wa Jalla akan bergegas meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan yang akan mengakibatkan siksaan dan bencana. Nabi n menjelaskan hal ini di dalam sabda beliau:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Barangsiapa takut, dia pasti pergi sebelum subuh (yakni bersegera pergi sebelum kedatangan musuh yang ditakuti-pen), dan barangsiapa pergi sebelum subuh, dia pasti sampai tempat (yang aman). Ketahuilah! Sesungguhnya barang dagangan Allȃh itu mahal. Ketahuilah! Sesungguhnya barang dagangan Allȃh itu adalah surga. [HR. Tirmidzi, no. 2450 dari Abu Hurairah; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Radja’, Berharap Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Radja` secara bahasa artinya berharap. Maksudnya yaitu: mengharapkan pahala Allȃh Azza wa Jalla , ampunan-Nya, dan rahmat-Nya.[7]

Radja’ (berharap) kepada rahmat Allȃh Azza wa Jalla harus disertai dengan amalan. Sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya. [Al-Kahfi/18: 110]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang-orang yang ‘arif (mengenal Allȃh dengan baik) telah sepakat bahwa radja’ tidak sah kecuali disertai dengan amalan”.

Kemudian beliau berkata:
Radja’ ada tiga jenis: dua jenis terpuji, dan satu jenis tercela.

Pertama: Berharapnya seseorang yang telah melakukan ketaatan kepada Allȃh Azza wa Jalla, di atas cahaya dari Allȃh Azza wa Jalla. Maka orang ini adalah orang yang mengharapkan pahala-Nya. (Ini adalah radja’ yang terpuji).

Kedua: Seseorang yang telah berbuat dosa-dosa, lalu dia bertaubat darinya. Maka orang ini adalah orang yang mengharapkan pahala-Nya. (Ini adalah radja’ yang terpuji). Mengharapkan ampunan Allȃh Azza wa Jalla, ampunan-Nya, kebaikan-Nya, kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kedermawan-Nya. (Ini juga radja’ yang terpuji)

Ketiga: Seseorang yang terus-menerus dalam melalaikan (kewajiban-kewajiban) terus-menerus di dalam dosa-dosa. Dia mengharapkan rahmat Allȃh tanpa disertai amalan. Ini adalah terpedaya, angan-angan kosong, dan radja` yang dusta. (Ini radja’ yang tercela)”.[8]

Maka seorang muslim wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan mengharapkan pahala-Nya, dan wajib bertaubat kepada Allȃh Azza wa Jalla ketika berbuat maksiat, dengan mengharapkan ampunan-Nya. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allȃh) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allȃh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A’rȃf/7: 56]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allȃh memerintahkan beribadah kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, memohon dan merendahkan diri kepada-Nya, dengan berfirman, “berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan”, yaitu takut kepada pedihnya siksaan di sisi-Nya dan harapan kepada pahala yang banyak yang ada di sisi-Nya”.[9]

Kesimpulannya bahwa seorang muslim wajib beribadah kepada Allȃh Azza wa Jalla dengan kecintaan kepada-Nya, takut kepada siksa-Nya, dan mengharapkan pahala-Nya.

Tidak boleh rasa takut berlebihan sehingga berputus asa dari rahmat dan ampunan Allȃh Azza wa Jalla. Demikian juga radja’ tidak boleh berlebihan sehingga bergantung kepada rahmat dan ampunan Allȃh Azza wa Jalla dengan tidak meninggalkan maksiat yang sedang dilakukan. Namun ketika dalam keadaan sehat, hendaklah rasa takut lebih dominan, sehingga mendorongnya untuk melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Sedangkan ketika dalam keadaan sakit, hendaklah rasa radja’ kepada ampunan Allȃh Azza wa Jalla lebih dominan, sehingga ketika ajal menjemputnya, dia dalam keadaan husnu zhan (berprasangka baik) kepada Allȃh Azza wa Jalla, dan bergembira dengan pertemuannya kepada Allȃh Azza wa Jalla.

Ya Allȃh Azza wa Jalla, limpahkan kepada kami kecintaan kepada-Mu yang mendorong kami untuk melaksanakan peribadahan, radja’ kepada pahala-Mu yang menyemangati kami menjalankan ketaatan, takut kepada siksa-Mu yang akan menjauhkan dari kemaksiatan. Dan anugerahkan kepada kami, rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Doa lagi Berkuasa Mengabulkannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Firqah yang beranggapan bahwa amal tidak termasuk hakekat iman. Mereka juga beranggapan bahwa dengan adanya iman maka maksiat tidak membahayakan
[2] Yakni orang yang berfaham Khawârij. Mereka sangat takut kepada Allȃh Azza wa Jalla , sehingga rasa takut mereka itu melewati batas sampai mengkafirkan orang Islam yang melakukan dosa besar. Adapun Haruri adalah nisbat kepada Harura’, kampung di luar kota Kufah yang mereka berkumpul di sana sebelum memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.
[3] Al-‘Ubûdiyah, hlm. 78-79, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tahqiq dan ta’liq: Khalid Abdul Lathif Al-‘Alami, Penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi
[4] Kitab Qȃidah fil Mahabbah, dalam Jȃmi’ur Rosȃil, juz 2, hlm; 284
[5] Al-‘Ubûdiyah, hlm. 23-24, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tahqiq dan ta’liq: Khalid Abdul Lathif Al-‘Alami, Penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi
[6] Fathul Majid, hlm. 28, karya: Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, penerbit: Dar Ibni Hazm
[7] Lihat Mukhtashar Minhȃjil Qȃshidin, hlm. 376; Majmû’ Fatâwâ, 15/21
[8] Madârijus Sâlikin, 2/37
[9] Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-A’rȃf ayat ke-56

Kaidah-kaidah Ibadah yang Benar

KAIDAH-KAIDAH IBADAH YANG BENAR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Sesungguhnya, kemuliaan seorang hamba, ialah dengan beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Jika seorang hamba semakin menambah ketundukan dan peribadahannya kepada Allah, maka semakin bertambah pula kesempurnaan dan derajatnya.

Ibadah adalah hak Allah yang menjadi kewajiban hamba. Kebaikannya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan hambaNya.

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (seluruh makhluk). [al ‘Ankabut/29 : 6].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan di dalam tafsir beliau tentang ayat ini: “Yaitu, barangsiapa melakukan amal shalih, maka sesungguhnya manfaat amal shalihnya akan kembali kepada dirinya sendiri, karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Cukup (yakni tidak membutuhkan) dari perbuatan-perbuatan hamba. Walaupun mereka semua berada pada hati hambaNya yang paling bertakwa, hal itu tidaklah menambah sesuatupun dalam karajaanNya”[1]

Walaupun manusia dengan akalnya dapat memahami mengenai kewajiban beribadah kepada Rabb-nya, namun dia tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Allah secara benar hanya dengan melandaskan pada akal dan perasaannya. Sehingga Allah mengutus rasul-rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya untuk memberikan petunjukNya.

Allah berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dariKu, lalu barangsiapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. [Thaha/20:123].

Adapun sebelum diutus rasul dan tanpa petunjuk Rasul, maka manusia itu di dalam keadaan jahiliyah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [al Jumu’ah/62 : 2].

KAIDAH-KAIDAH IBADAH
Ibadah yang benar kepada Allah dibangun di atas dasar-dasar atau kaidah-kaidah yang kokoh. Ini semua dijelaskan oleh Allah di dalam kitabNya, dan oleh Nabi n di dalam Sunnahnya, serta oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

1. Ibadah adalah tauqifiyah.
Maknanya, ibadah tidak dilakukan kecuali dengan apa yang diperintahkan atau dituntunkan wahyu Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah, masalah halal-haram, dan masalah-masalah yang dibenci atau dicintai oleh Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Hud/11:112].

Ayat ini dengan tegas menyatakan, beribadah harus mengikuti perintah Allah dan tidak boleh melewati batas. Tatkala orang-orang musyrik mengharamkan sebagian binatang ternak dan menghalalkan sebagian lainnya, maka Allah membantah mereka dengan firmanNya:

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَٰذَاۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. [al An’am/6:144]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsir beliau: “(Firman Allah: Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu?”) Allah mengejek orang-orang musyrik tentang perkara yang mereka buat-buat dan mereka adakan secara dusta atas (nama) Allah, yaitu pengharaman yang mereka lakukan. (Firman Allah: Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?), yaitu tidak ada seorangpun yang lebih zhalim daripada mereka.”[2]

Setelah menjelaskan ayat-ayat tentang batilnya anggapan orang-orang musyrik yang  mengharamkan sebagian binatang ternak dan menghalalkan sebagian lainnya dengan tanpa hujjah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah berkata: “Tidak tersisa bagi kamu kecuali dakwaan semata, tidak ada jalan bagi kamu untuk menetapkan kebenarannya dan keabsahannya. Dakwaan itu adalah bahwa kamu mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah telah mewasiatkan kami tentang ini, dan Allah telah memberikan wahyu kepada kami sebagaimana Dia telah memberikan wahyu kepada para rasulNya. Bahkan telah diwahyukan kepada kami sebuah wahyu yang berbeda dengan apa yang diserukan oleh para rasul dan apa yang diturunkan kitab-kitab’. Tetapi kedustaan tersebut pastilah diketahui oleh setiap orang. Oleh karena itulah Allah berfirman: ‘Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?’ Yaitu, bersamaan kedustaannya dan berdusta (atas nama Allah), dia berniat menyesatkan hamba-hamba Allah dari jalan Allah, dengan tanpa bukti dari Allah, tanpa penjelasan, tanpa akal, dan tanpa riwayat (dari Rasul)”.[3]

Setelah menyebutkan ayat 59 dan 60 surat Yunus, juga ayat 116 dan 117 surat an Nahl, Syaikh Muhamad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata : Sesungguhnya termasuk kejahatan yang besar, yaitu :

  1. Seseorang mengatakan tentang sesuatu itu halal, padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
  2. Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu haram, padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
  3. Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu wajib, padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.
  4. Atau seseorang mengatakan tentang sesuatu itu tidak wajib, padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang sesuatu yang ia sebutkan itu.

Demikian ini merupakan kejahatan dan adab yang buruk terhadap Allah Azza wa Jalla. Wahai hamba Allah, engkau mengetahui bahwa hukum adalah milik Allah, tetapi bagaimana kemudian engkau mendahuluiNya? Engkau berkata tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui tentang agama dan syari’atNya? Sesungguhnya Allah telah merangkaikan (larangan) berbicara tentang Allah tanpa ilmu dengan syirik [surat al A’raf/7 ayat 33].[4]

2. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bersih dari noda-noda syirik.
Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan. Adapun menurut syara’, yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allah, semata-mata mencari ridha Allah, menginginkan wajah Allah, dan mengharapkan rahmatNya, takut terhadap siksaNya, dan mencari pahala (keuntungan) akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. [HR Nasaa-i, no. 3140].[5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya. [HR Muslim no. 2985].

Jika ibadah dicampuri dengan syirik, maka syirik itu menggugurkan ibadah tersebut, betapa pun banyak ibadah yang telah dilakukan. Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [az Zumar/39:65].

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah, di dalam tafsirnya mengenai ayat ini, beliau berkata: “Dalam nubuwah seluruh nabi, bahwa syirik itu melenyapkan amalan, sebagaimana Allah telah berfirman di dalam surat al An’am”.[6]

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah berkata,”Telah maklum berdasarkan dalil-dalil syar’i dari al Kitab dan as Sunnah, bahwa seluruh amalan dan perkataan hanyalah sah dan diterima jika muncul dari aqidah shahihah (yang benar). Jika aqidah tidak shahihah, maka seluruh amalan dan perkataan yang muncul pun menjadi batal.”[7]

3. Ibadah harus mutaba’ah, yaitu meneladani Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam .
Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad n adalah utusan Allah, maka syahadat tersebut memuat kandungan: meyakini berita beliau, mentaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syari’at beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. [al Ahzab/33 : 21].

Sehingga, siapapun yang beribadah dengan tidak mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ibadahnya tersebut tertolak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami ini (agama), apa-apa yang bukan padanya, maka urusan itu tertolak. [HR Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]

4. Ibadah yang telah ditetapkan, meliputi sebabnya, jenisnya, kadarnya, caranya, waktunya, dan tempatnya, maka wajib dilakukan sebagaimana yang dituntunkan.
Tidak boleh melanggar ketentuan-ketentuan tersebut. Sehingga, barangsiapa beribadah kepada Allah, namun ibadahnya itu tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh syari’at, maka ibadahnya tersebut tertolak.

Contoh:

  • Sebab. Orang yang bertahajjud pada malam 27 Rajab dengan sebab anggapan bahwa malam itu adalah malam Isra’ Mi’raj. Sebagaimana sudah diketahui, tahajjud termasuk ibadah sunnah, namun ketika dia menghubungkan dengan sebab yang tidak benar menurut syari’at, maka ibadahnya tersebut menjadi bid’ah.
  • Jenis. Ibadah qurban telah ditetapkan jenisnya dengan binatang ternak, yaitu onta, sapi, atau kambing. Jika ada orang berqurban dengan kuda, kelinci atau ayam, maka qurban itu tertolak.
  • Kadar/ukuran. Shalat subuh telah ditetapkan dua raka’at. Sehingga barangsiapa sengaja menambahnya, maka shalatnya tidak sah, karena menyelisihi kadar yang telah ditetapkan syari’at.
  • Cara. Barangsiapa mengubah tertib atau cara-cara wudhu’ atau shalat, maka ibadahnya tersebut tidak sah, karena telah menyelisihi cara yang ditetapkan syari’at.
  • Waktu. Jika seseorang menyembelih qurban pada bulan Rajab, atau puasa Ramadhan pada bulan Syawwal, atau wukuf di ‘Arafah pada tanggal 9 Dzul qa’dah, maka itu semua tidak sah, karena menyelisihi waktu ibadah yang benar.
  • Tempatnya. Orang yang i’tikaf di rumahnya, atau wukuf di Mudzalifah, maka itu tidak sah, karena menyelisihi tempat ibadah yang telah ditetapkan.[8]

5. Ibadah harus dilakukan dengan dasar kecintaan, mengharapkan rahmat Allah, takut siksaNya dan disertai ketundukan dan pengangungan kepada Allah.
Ketika Allah memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًاۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. [al Anbiya’/21: 90].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Ibadah, menggabungkan kesempurnaan (puncak) kecintaan dan kesempurnaan ketundukan. Orang yang beribadah adalah orang yang mencintai dan tunduk. (Ini) berbeda dengan orang yang mencintai seseorang, yang ia tidak tunduk kepadanya, tetapi ia mencintainya karena menjadikannya sebagai perantara kepada perkara lain yang ia cintai. Dan (juga) berbeda dengan orang yang tunduk kepada seseorang, yang ia tidak mencintainya, seperti orang yang tunduk kepada seorang zhalim. Maka keduanya ini bukanlah ibadah yang murni.”[9]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: Ibadah, asal maknanya adalah kerendahan (ketundukan) juga (seperti makna din). Tetapi ibadah yang diperintahkan (oleh Allah) mengandung makna kerendahan (ketundukan) dan makna kecintaan. Sehingga ibadah yang diperintahkan (oleh Allah) itu mengandung sifat puncak kerendahan (ketundukan) kepada Allah disertai puncak kecintaan kepadaNya.

Barangsiapa tunduk kepada seorang manusia disertai kebenciannya kepadanya, maka ia tidak menjadi seorang yang beribadah kepadanya. Dan seandainya seseorang mencintai sesuatu dan ia tidak tunduk kepadanya, maka ia tidak menjadi seorang yang beribadah kepadanya. Sebagaimana seseorang mencintai anaknya, dan kawannya.

Oleh karena itu, dalam beribadah kepada Allah tidak cukup dengan salah satu dari kedua sifat itu saja. Tetapi seorang hamba, (ia) wajib menjadikan Allah sebagai yang paling dicintai daripada segala sesuatu, dan menjadikan Allah yang paling diagungkan daripada segala sesuatu. Bahkan tidak ada yang berhak mendapatkan kecintaan dan ketundukan yang sempurna, kecuali Allah. Sehingga apa saja yang dicintai bukan karena Allah, maka kecintaannya itu rusak. Dan apa saja yang diagungkan bukan dengan perintah Allah, maka pengagungannya itu batil.[10]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam sya’irnya, beliau menjelaskan tonggak ibadah, sebagai berikut:

Dan ibadah kepada (Allah) Yang Maha Pemurah,
adalah puncak kecintaan kepadaNya bersama kepatuhan
dari orang yang beribadah kepadaNya.
Itulah dua kutub yang orbit ibadah beredar pada keduanya.
Orbit itu tidak akan beredar sampai kedua kutubnya tegak.
Dan beredarnya dengan perintah. Yaitu perintah RasulNya.
Tidak dengan (perintah) hawa nafsu, kemauan diri sendiri, dan setan.[11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Di antara Salaf mengatakan, ‘Barangsiapa beribadah kepada Allah hanya dengan kecintaan, maka dia seorang zindiq (munafik).  Barangsiapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka dia seorang Murji’ah[12] Barangsiapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka dia seorang Haruri.[13] Dan barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kecintaan, rasa takut, dan harapan, maka dia seorang yang beriman, bertauhid”[14]

6. Kewajiban ibadah tidak gugur dari hamba, semenjak baligh sampai meninggal dunia.
Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali ‘Imran/3:102].

Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah ialah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berkewajiban beribadah sampai wafatnya. Maka orang-orang yang derajatnya di bawah beliau, tentu lebih wajib untuk beribadah kepada Allah sampai matinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Rabbmu (Penguasamu) sampai al yaqin (kematian) datang kepadamu. [al Hijr/15:99]

Para ulama ahli tafsir bersepakat, makna al yaqin dalam ayat ini adalah kematian. Hal ini, sebagaimana tersebut dalam firman Allah pada ayat lain, yang memberitakan pertanyaan penduduk surga kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَقَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَوَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَوَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِحَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al yaqin (kematian)”. [al Muddatstsir/74: 42-47].

Setelah kita mengetahui kaidah-kaidah tentang ibadah ini, maka ketahuilah, seseorang yang memiliki anggapan bahwa “kewajiban beribadah kepada Allah dengan syari’at Nabi Muhammad gugur atas diri seseorang yang telah mencapai hakikat atau ma’rifat”, sungguh anggapan ini bertentangan dengan al Qur`an, al Hadits dan kesepakatan umat Islam, semenjak dahulu sampai sekarang.

Demikianlah enam kaidah penting berkaitan dengan masalah ibadah, semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Tafsir al Qur`anil ‘Azhim, surat al ‘Ankabut/29 ayat 6.
[2] Tafsir al Qur`anul ‘Azhim, surat al An’am/6 ayat 144.
[3] Tafsir Taisir KarimirRahman, surat al An’am/6 ayat 144.
[4] Kitabul ‘Ilmi, halaman 75-76.
[5] Lihat Silsilah ash-Shahihah no. 52,  Ahkamul Janaiz, halaman 63.
[6] Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan.
[7] ‘Aqidah Shahihah wa Nawaqidhul Islam, halaman 3.
[8] Lihat al Ibda’ fi Bayani Kamalisy-Syar’i wa Khatharil Ibtida’, halaman 21-22, karya Syaikh al ‘Utsaimin.
[9] Kitab Qaidah fil Mahabbah, dalam Jami’urRasail, Juz 2, halaman 284.
[10] Kitab al ‘Ubudiyah, hlm. 23-24, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq Khalid ‘Abdul Lathif al ‘Alami, Penerbit Darul Kitab al ‘Arabi.
[11] Kitab Fathul Majid, halaman 28, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Penerbit Dar Ibni Hazm.
[12] Firqah yang beranggapan, bahwa amal tidak termasuk hakikat iman. Mereka juga beranggapan, dengan adanya iman, maka maksiat tidak membahayakan.
[13] Yakni orang yang berfaham Khawarij. Mereka sangat takut kepada Allah, sehingga rasa takut mereka itu melewati batas, sampai mengkafirkan orang Islam yang melakukan dosa besar. Adapun Haruri adalah nisbat kepada Harura’, kampung di luar kota Kufah, tempat mereka berkumpul di sana sebelum memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib.
[14] Al ‘Ubudiyah, halaman 78-79.