Category Archives: A7. Kenapa Takut Kepada Islam?

Awal Petaka Kesesatan

AWAL PETAKA KESESATAN

Kebaikan yang murni, petunjuk yang benar-benar lurus, dan kebahagiaan hakiki tidak bisa diketahui seorang manusia melalui pandangan mata,  ketajaman akal-pikiran dan kejernihan hatinya semata. Kemampuan jarak pandang manusia sangat terbatas. Ketajaman akal-pikirannya pun dapat disanggah oleh orang-orang yang lebih pandai darinya. Dari sini, manusia memerlukan wahyu demi kebaikan kehidupannya di dunia dan akhirat.

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus seorang insan terbaik di tengah umat manusia di akhir zaman ini. Itulah Muhammad bin Abdillah yang mengemban misi paling mulia. Beliau terpilih untuk menyampaikan wahyu dari Rabbnya yang menerangkan tentang petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan seorang hamba untuk mengabdi kepada Rabbnya, serta petunjuk untuk kebahagiaan hidup manusia dunia dan akhirat. Selain sebagai penyampai, Beliau pun bertindak sebagai orang yang juga berkewajiban melaksanakan apa yang Beliau sampaikan kepada umatnya.

Dari sini, umat tidak hanya mendengar dan membaca petunjuk terbaik Beliau dalam segala aspek, namun juga menyaksikan pula praktek nyata dari apa yang Beliau sampaikan pada diri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui berita-berita tentang Beliau yang disampaikan para Sahabat dengan penuh amanah. Beliau pun telah menggapai maqam ‘ubûdiyyah, sebagai hamba Allâh Azza wa Jalla yang sebenar-benarnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

Dan sesungguhnya ketika hamba Allâh (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya [Al-Jin/72:19]

Allâh Azza wa Jalla telah memuji Rasul Muhammad sebagai teladan yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh. [Al-Ahzab/33:21].

Tentang ayat di atas, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan kaedah besar tentang (keharusan) mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya”.

Maka, kebutuhan manusia sangatlah mendesak untuk mengenal sang rasul dan risalah yang Beliau bawa, membenarkan berita-berita yang Beliau sampaikan dan menaati apa yang Beliau perintahkan. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat kecuali melalui tangan para rasul. Tidak ada jalan untuk mengetahui dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk secara terperinci kecuali melalui arah mereka. Dan tidak mungkin digapai ridha Allâh kecuali melalui petunjuk mereka pula.

Para rasul merupakan timbangan yang standar untuk menilai ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan dan akhlak manusia. Dan dengan mengikuti rasul, akan tampak jelas siapa yang mendapatkan hidayah dan siapa yang sesat.

Maka, kebutuhan untuk mengetahui petunjuk rasul melebihi kebutuhan tubuh manusia kepada makanan, kebutuhan mata terhadap cahaya, kebutuhan ruh terhadap kehidupannya. Manusia yang jauh dari petunjuk Nabi sekejap saja, hatinya akan rusak dan ia akan seperti ikan yang terpisah dari api dan diletakkan pada penggorengan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Apabila kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat terkait dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka setiap Muslim bijak terhadap dirinya dan menginginkan keselamatan diri dan kebahagiaannya, sudah sewajibnya mengetahui petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sejarah kehidupan dan perhatian-perhatian Beliau yang mengentaskannya dari klasifikasi orang-orang jahil, dan kemudian masuk dalam hitungan para pengikut Beliau kelompok dan golongan Beliau. Manusia dalam perkara ini ada yang mustaktsir (mengetahuinya dengan banyak), mustaqill (sedikit pengetahuannya tentang itu) dan mahrum (terhalangi jauh dari mengetahui petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Karunia ini ada di tangan Allâh. Allâh Azza wa Jalla berikan kepada yang Dia kehendaki. Dan Dialah Dzat Yang memiliki karunia yang agung”.[1]

Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan umat Islam untuk menaati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan mengaitkan hidayah dengan ketaatan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah, “Taat kepada Allâh dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allâh) dengan terang.” [an-Nûr/24:54]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: ‘Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk’ maksudnya menuju jalan yang lurus dalam ucapan dan  amalan. Maka, tidak ada jalan menuju hidayah kecuali dengan taat kepada-Nya. Dan tanpa itu, tidak mungkin (akan terakhir hidayah), bahkan itu suatu hal yang mustahil”.[2]

Maka, mempelajari dan menelaah petunjuk-petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh semangat merupakan pilihan seorang Muslim yang cerdas yang mengharapkan kebaikan, hidayah dan keselamatan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Dengan itu, seseorang akan berada di atas ilmu yang benar dan pengetahuan yang shahih dalam pengamalan agamanya dan perbuatan sehari-harinya.

Dan sebaliknya, keengganan untuk mempelajari petunjuk-petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kurang semangat untuk menelaahnya dan tidak terdorong untuk mencari tahu tentang itu menjadi awal petaka seseorang terjatuh dalam kubangan kesesatan.

Orang model ini ketika akan melakukan sesuatu terkait agamanya, tidak berpikir terlebih dahulu apa petunjuk Nabi dalam masalah ini dan itu. Ia pun tidak mau mencari tahu tentang itu. Ia pun memutar otaknya untuk mendapatkan sesuatu ‘petunjuk’ dari akalnya dan akhirnya berjalan di atas kesimpulan ra`yunya itu. Dan ketika diingatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, ia akan menimpali jawaban itu dengan berkata, “Apakah ada larangan bagi saya untuk melakukannya?”.

Jawaban seperti ini hanya akan mengerdilkan dan mengecilkan peran besar dan penting seorang rasul diutus di tengah manusia. Bila setiap orang boleh melakukan apa saja dalam agama ini dengan dalih itu baik dan tidak ada larangan, maka eksistensi seorang rasul dan petunjuk-petunjuk yang diajarkannya seolah-oleh tidak ada nilai urgensinya. Dan orang yang bersangkutan akan semakin jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa sadar. Ia pun terjerumus dalam kesesatan dan bid’ah dan meyakini sedang berada dalam kebaikan.

Imam Ibnu Abil Izzi rahimahullah menyimpulkan, “Dan sepatutnya diketahui bahwa kebanyakan orang sesat dalam perkara ini atau kelemahannya untuk mengetahui kebenaran karena  sikap tafrîth  (kekurangperhatian)nya dalam mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak merenungi dan tidak berdalil dengan dalil yang mengantarkannya untuk mengenal kebenaran. Maka, ketika mereka berpaling dari kitabullah, mereka tersesat. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ﴿١٢٣﴾ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ﴿١٢٤﴾ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا﴿١٢٥﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Dan jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, “Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”. Dia (Allah) berfirman: Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami dan kamu mengabaikannya. Jadi, begitu (pula) pada hari ini, kamu diabaikan”. [Thaha/20:123-126]”.

Kemudian Imam Ibnu Abil Izzi rahimahullah mengutip keterangan Ibnu Abbas, “Allâh Azza wa Jalla menjamin bagi orang yang membaca al-Qur`an dan mengamalkan kandungannya untuk tidak sesat di dunia dan tidak celaka di akhirat”.[3]

Imam Ahmad rahimahulah berkata, “Sesungguhnya muncul penentangan orang yang menentang, dikarenakan kedangkalan ilmu mereka terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan: “Dan tidaklah kamu mendapati seseorang yang terjerumus dalam bid’ah kecuali karena ia kurang mengikuti petunjuk Sunnah dalam aspek pengetahuan dan pengamalannya. Sebab, orang yang mengetahui petunjuk Sunnah, dan mengikutinya, maka tidaklah ada pada dirinya pemicu kepada bid’ah.  Sesungguhnya hanya orang-orang bodoh terhadap petunjuk Sunnah saja yang terjerumus di dalam bid’ah”.[5]

Dengan demikian, sudah sewajibnya setiap Muslim dan Muslimah mempelajari agamanya, agar dapat mengenal kebenaran yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik dan kemudian mengamalkannya. Wallahul muwaffiq. (Ustadz Abu Minhal Lc)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XXI/1439H/2017M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Zâdul Ma’âd fi Hadyi Khairil Ibâd 1/69.
[2] Taisirul Karimir Rahman hlm.521
[3] Syarh al-Aqidati ath-Thahawiyyah hlm. 71
[4] I’lamul Muwaqqi’in 1/44.
[5] Syarhu Hadits ‘Lâ Yazni az-Zani’ hlm.35.

Masa Depan Islam

MASA DEPAN ISLAM

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

هُوَ الَّذى أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِا لْهُدَى وَدِيْنِ الْْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن 

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. [At-Taubah/9 : 33].

Kita patut merasa gembira dengan janji yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya itu, bahwa Islam dengan kearifan dan kebijkasanaannya mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masa Khulafaur Rasyidin, dan pada masa-masa khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terealisasi saat itu hanyalah sebagian kecil dari janji di atas, sebagaimana di isyaratkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui sabdanya :

لاَيَذْ هَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتَ وَالْعُزََّى فَقَالَتْ عَاءِشَةُ : يَا رَسُلُوْاللهِ اِنْ كُنْتُ لاَظُنُّجِيْنَ اَنْزَلَ اللهُ : هُوَالَّذِىْاَرْسَلَرَسُولَهُ بِا لْهُدى وَدِينِ الجَقِِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الَّذِ ينَ كُلِّه وَلَوكَرِهَ الْمُشٍْرِكُونَ , اَنَّ ذ لِكَ تَامًّا : قَالَ اِنَّهُ سَيَكُوْنُ مِنْ ذلِكَ مَاشَاءَاللهُ. اَلجديث

Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Lata dan Al-Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya : ‘Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa tatkala Allah menurunkan firman-Nya : “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai, hal ini itu telah sempurna (realisasinya)”. Beliau menjawab : “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah”.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam-Imam yang lain. Saya telah mentakhrijnya di dalam kitab saya Tahdzirus Sajid Min Ittkhadzil Qubur Masajida [Peringatan Bagi Yang Sujud Untuk Tidak Menjadikan Makam Sebagai Masjid, hal : 122].

Banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya ke berbagai penjuru. Dari hadits-hadits itu tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan catatan harus tetap kita perjuangkan, itu yang penting. Berikut ini akan saya tampilkan beberapa hadits yang saya harapkan dapat membakar semangat para pejuang Islam dan dapat dijadikan argumentasi untuk menyadarkan mereka yang fatalis tanpa mau berjuang sama sekali.

٢. اَ ْلاَوََّلُ : ,, اِنَّ اللهَ زَوى , اَىْجَمَعَ وَضَمَّ لِىَ اْلاَرْضُ فَرَاَيْتَ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِ بَهَا , وَاِنَّ   اُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَازَوى لِى مِنْهَا . الحديث

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu, aku dapat menyaksikan belahan bumi Barat dan Timur. Sungguh kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu”.

Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (8/171), Imam Abu Daud (4252), Imam Turmudzi (2/27) yang menilainya sebagai hadits shahih. Imam Ibnu Majah (2952) dan Imam Ahmad dengan dua sanad. Pertama berasal dari Tsaubah (5/278) dan kedua dari Syaddad bin Aus (4/132), jika memang haditsnya mahfuzh (terjaga).

Ada hadits-hadits lain yang lebih jelas dan luas yaitu :

٣. اَلثَّا نِى : ,, لَيَبْلُغَنَّ هذَا اْلاَمْرُ مَا بَلَغَ الَّيْلَ وَالنَّهَارُ وَلاَيَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وًلاَوَبَرٍ اِلاَّاَدْخَلَهُ اللهُ هذَا الدِِّيْنَ , بِعِزِّعَزِيْزٍ , اَوْبِذُلِّ ذَلِيْلٍ , عِزًّايُعِزُّاللهُ بِهِ أَلاِسْلاَمَ , وَذُلاَّيُذِلُّ بِهِ الْكُفْرَ ,,

Sungguh agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakan dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran”.

Hadits ini diriwayatkan oleh sekelompok Imam yang telah saya sebutkan di dalam kitab At-Tahdzir (hal. 121). Sementara Imam Ibnu Hibban meriwayatkannya di dalam kitab Shahih-nya (1631, 1632). Sedang Imam Abu ‘Arubah meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muntaqa minat-Thabaqat (2/10/1).

Tidak diragukan lagi bahwa tersebarnya agama Islam kembali kepada umat Islam sendiri. Oleh karena itu mereka harus memiliki kekuatan moral, material dan persenjataan hingga mampu melawan dan mengalahkan kekuatan orang-orang kafir dan orang-orang durhaka. Inilah yang dijanjikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٤. اَلثَّ لِثُ : عَنْ اَبِى قُبَيْلٍ قَلَ : كُنَّاعِنْدَ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرِوبْنِ العَاصِيْ , وَسُءِل اَيُّ  اْلمَدِيْنَتَيْنِ تُفْتَحُ اَوَّلاً ؟ اَلْقُسْطَنُطِيْنِيَّةُ اَوْرُوْمِيَّةُ ؟ فَدَعَا عَبْدُاللهِ بِصُنْدُوْقٍ لَهُ خَلْقٌ , قَالَ : فَاَخْرَجَ مِنْهُ كِتَابًا , قَالَ : فَقَالَ عَبْدُالله : بَيْنَمَانَحْنُ حَوْلَ رَسُ الِلّّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ,,  مَدِيْنَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ اَوَّلً , يَعْنِى قُسْطَنْطِنِيَّةَ ,,

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan : “(Pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amer Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri. Konstantinopel atau Rumawi. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubail melanjutkan kisahnya : Lalu Abdullah menceritakan : [1] “Suatu ketika, kami sedang menulis di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba beliau ditanya : “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Rumawi ?. ” Beliau menjawab : “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu”. Maksudnya adalah Konstantinopel”.

Hadit ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (II/176), Ad-Darimi (I/126), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Muhson (II/47, 153), Abu Amer Ad-Dani di dalam As-Sunanul Waridah fil-Fitan (hadits-hadits tentang fitnah), Al-Hakim (III/422 dan IV/508) dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam Kitabul Ilmi (II/30). Abdul Ghani bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul Buldan (Ensiklopedi Negara).

Sebagaiman kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal itu terjadi lebih dari delapan ratus tahun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyabdakan hadits di atas. Kemenangan keduapun akan segera terwujud atas seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya.

وَلَتَعْلَمَنَّ نَبَأهُ بَعْدَ حِيْنٍ

Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi”. [Shaad/38 : 88]

Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khalifah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya.

٥اَلرَّبِعْ : ,, تَكُوْنُ النُّبُوَّ ةُ فَيَكُوْنُ مَاشَااللّه اَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَااللّهُ اَذَشَاءَاَنْ يَرْفَعُهَا , ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مَنْهَاجِ النُّبُوَّ ةِ , فَ تَكُوْنُ مَاشَااللّهُ اَنْ تَكثوْنُ , ثُمَّ يَرْفَعُهَا اِذَاشَاءَاَنْ يَرْفَعُهَا . ثُمَّ تَكُوْنُ مَلِكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَاشَاءَاللّهُ اَنْ تَكُوْنَ , ثُمَّ يَرْفَعُهَا اِذَشَاءَاللّهُ اَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مَنْهَاجِ نُّبُوَّةِ , ثُمَّ سْكَتَ

Kenabian telah terwujud di antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-Nya, setelah itu ada Khilafah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehendak-Nya. lalu ada Raja yang gigih (berpegang teguh dalam memperjuangkan Islam), sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang Raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu Dia akan menghapusnya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada Khilafah yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Lalu Dia diam”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/273). Kami mendapatkan riwayat dari Sulaiman bin Dawud Ath-Thayalisi, juga dari Dawud bin Ibrahim Al-Wasithi, Hubaib bin Salim, dan Nu’man bin Basyir yang mengisahkan, “kami sedang duduk di masjid. Basyir adalah seorang yang sering menyembunyikan haditsnya. Lalu datanglah Abu Tsa’labah Al-Khasyafi dan bertanya : Wahai Basyir bin Sa’id, apakah engkau menghafal hadits Rasul tentang Umara ? Tetapi kemudian, Khudzaifahlah yang justru menjawab : “Saya menghafal khutbahnya”.

Mendengar itu kemudian Abu Tsa’labah duduk, sementara Khudzaifah selanjutnya meriwayatkan hadits itu secara marfu’.

Hubaib mengomentarai dengan menceritakan : “Tatkala Umar bin Abdul Aziz mulai tampil dan saya mengetahui bahwa Yazid bin Nu’am bin Basyir menjadi pengikutnya, maka saya menulis surat kepadanya, berisikan tentang hadist ini. Saya memperingatkan dengan mengatakan kepadanya : Saya berharap agar beliau (Umar bin Abdul Aziz) benar-benar bisa menjadi Amirul Mu’minin setelah adanya raja yang gigih memperjuangkan agama sebelum dia naik tahta. Lalu surat saya itu disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz. Dia merasa gembira dan mengaguminya.

Melalui sanad Ahmad, hadist itu juga dirwayatkan oleh Al-Hafidzh Al-Iraqi di dalam Mahajjatul-Ghurab ila Mahabbatil-Arab (II/17). Selanjutnya Al-Hafidz mengatakan :

“Status hadits ini shahih. Ibrahim bin Dawud Al-Wasithi dinilai tsiqah (baik akhlaknya dan kuat ingatannya) oleh Abu Dawud, Ath-Thayalisi dan Ibnu Hibban. Sedangkan perawi-perawi yang lain bisa dibuat hujjah di dalam menetapkan hadits shahih”.

Yang dimaksud Al-Hafidzh ini adalah yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim, tetapi mengenai Hubaib oleh Al-Bukhari dinilainya dengan “fihi nadharun” (ungkapan yang menunjukkan masih diragukannya keabsahan seorang perawi). Sedanglan Ibnu Addi mengatakan : Dalam matan hadits yang diriwayatkannya (Hubaib) tidak terdapat hadits munkar (hadits yang ditolak), tetapi ia telah memutarbalik sanadnya (mudhtharib). Akan tetapi Abu Hatim, Abu Dawud dan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Oleh karena itu, setidak-tidaknya nilai haditsnya adalah hasan. Bahkan Al-Hafidzh menialinya La ba’sa bihi (Lafazh ta’dil tingkat ke empat). Perawi yang dinilai dengan lafazh pada tingkat ini haditsnya bisa dipakai, tetapi harus dilihat kesesuainya dengan perawi-perawi lain yang dhabit (kuat ingatannya), sebab lafazh itu tidak menunjukkan ke-dhabit-an seorang perawi. (penerjemah).

Hadits yang senada (Asy-Syahid) disebutkan di dalam musnad karya Ath-Thayalis (Nomor : 438) : “Saya diberi riwayat oleh Dawud Al-Wasithi -ia adalah orang yang tsiqah-, ia menceritakan : “Saya mendengar hadits itu dari Hubaib bin Salim. Tetapi dalam matan hadits tersebut ada yang tercecer matannya. Tapi kemudian ditutup (dilengkapi) dengan hadits dari Musnad Ahmad.

Al-Haitsami di dalam kitabnya Al-Majma’ (V/189) menjelaskan : “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sedangkan Al-Bazzar juga meriwayatkan, namun lebih sempurna lagi. Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebagian dalam kitabnya Al-Ausath dan perawi-perawinya adalah tsiqah”.

Dengan demikian menurut saya, kecil sekali kemungkinannya hadits tersebut diriwayatkan oleh Umar bin Abdul Aziz, sebab masa pemerintahannya adalah setelah masa Khulafaur Rasyidin, yang jaraknya setelah dua masa pemerintahan dua orang raja. [2].

Selanjutnya hadits yang berisi tentang berita gembira dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kembalinya kekuasaan kepada kaum Muslimin dan tersebarnya pemeluk Islam di seluruh penjuru dunia hingga dapat membantu tercapainya tujuan Islam dan menciptakan masa depan yang prospektif dan membanggakan hingga meliputi bidang ekonomi dan pertahanan. Hadits yang dimaksud adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٦ اَلْخَامِسُ : لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتّى تَعُوْدَاَرْضُ الْعَرَبِ مُرَقَ جًا وَاَنْهَارًا

Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum tanah Arab menjadi tanah lapang yang banyak menghasilkan komoditas penting dan memiliki pengairan yang memadai”.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/84), Imam Ahmad (2/703, 417), dan Imam Hakim (4/477), dari hadits Abu Hurairah.

Berita-berita gembira itu mulai terealisasi di beberapa kawasan Arab yang telah diberi karunia oleh Allah berupa alat-alat untuk menggali sumber air di dalam gurun pasir. Di sana bisa kita lihat adanya inisiatif untuk mengalirkan air dari sungai Eufrat ke Jazirah Arab. Saya membaca berita ini dari beberapa surat kabar lokal. Hal itu mungkin akan menjadi kenyataan. Dan selang beberapa waktu kelak, akan benar-benar terwujud dan bisa kita buktikan.

Selanjutnya yang perlu diketahui dalam hubungannya dengan masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

Tidak akan datang kepadamu suatu masa, kecuali masa sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu, (yakni datangnya kiamat)”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Fitan, dari hadits Anas, secara marfu’.

Hadits ini selayaknya dipahami dengan membandingkan hadits-hadits lain yang terdahulu dan hadits lain (yang ada hubungannya). Seperti halnya hadits-hadits tentang Al-Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘Alaihis sallam. Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa hadits ini tidak mempunyai arti secara umum, tetapi mempunyai arti khusus (sempit). Oleh karena itu, kita tidak boleh memahaminya secara umum (apa adanya), sehingga menimbulkan keputusasaan yang merupakan sifat yang harus dibuang jauh dari orang mukmin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يَابَنِيَّ اذْهَبُؤا فَتَحَسَّسُؤا مِنْ يُؤسُفَ وَأخِيْهِ وَلاَتَايْءَسُؤا مِنْ رَّؤحِ اللّهِ إنَّهُ لاَ يَايْءَسُؤا مَنْ رَّؤحِ اللّهِ إلاَّ الْقَؤمُ الْكَافِرُؤنَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [Yusuf/12 : 87].

Saya senantiasa memohon ke haribaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Dia berkenan menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mukmin.

[Disalin dari buku Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 17-24, terbitan CV Pustaka Mantiq, penerjemah Drs.H.M.Qodirun Nur]
_______
Footnote
[1] Perkataan Abdullah ini juga diriwayatkan oleh Abu Zur’ah di dalam bukunya Tarikhu Damsyiq (Sejarah Damaskus I/96). Di situ juga ditunjukkan bahwa hadits tersebut juga ditulis pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[2] Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitabnya Al-Ausath yang bersumber dari Mua’adz bin Jabal secara marfu’ adalah dha’if. Bunyinya adalah “Tiga puluh kenabian dan satu orang raja, dan tiga puluh raja dan satu Jaburut (raja bertangan besi) sedangkan setelah itu tidak ada kebaikan sama sekali”.

Penisbatan Pendapat Kepada Ulama yang Tidak Benar

MENGHINDARI PENISBATAN PENDAPAT KEPADA ULAMA YANG TIDAK BENAR

Seseorang tidak boleh menisbatkan sebuah pendapat salah kepada Ulama tertentu, padahal penisbatan pendapat tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebab, melalui kajian komprehensif, pendapat tersebut tidak benar dari mereka. Maka, kewajiban para Ulama untuk berhati-hati dalam mmengutip pendapat-pendapat Ulama dan memastikan dengan baik kebenaran sumbernya, sebagaimana memastikan ungkapannya tanpa ada perubahan dan penambahan.

Berikut ini penisbatan yang sangat populer kepada sejumlah Ulama, namun penisbatan itu tidak benar.

  • Penisbatan kepada madzhab Imam Abu Hanifah bahwa beliau rahimahullah berpandangan bolehnya mengangkat seorang wanita sebagai hakim dalam perkara selain hudud.

Ini tidak benar dalam madzhab beliau. Pendapat beliau yang benar, seorang penguasa bila mengangkat seorang wanita dalam jabatan pengadilan, ia berdosa, meski putusannya berlaku kecuali dalam perkara hudud.

  • Penisbatan kepada madzhab Imam Malik terkait irsâl (menjulurkan tangan, tidak bersedekap) dalam shalat.

Ini adalah sebuah kekeliruan terhadap madzhab beliau rahimahullah dalam memahami ungkapan dalam kitab al-Mudawwanah dan berbeda dengan pandangan yang disampaikan dengan jelas dalam al-Muwaththa untuk bersedekap dalam shalat.

Beberapa Ulama dari Malikiyyah dan Ulama lainnya dalam berbagai tulisan tersendiri yang jumlahnya hampir mencapai 30 tulisan, selain keterangan-keterangan yang ada dalam dalam syarah dan buku-buku besar.

  • Dalam madzhab Syafi’i, populer adanya pendapat yang dikaitkan kepada beliau rahimahullah tentang melafazhkan niat dalam shalat.

Ini adalah kekeliruan terhadap beliau dalam memahami ungkapan beliau, “Shalat tidak seperti ibadah lainnya. Engkau tidak memasukinya kecuali dengan dzikir.” Sebagian penganut madzhabnya memahaminya sebagai keharusan mengucapkan niat. Padahal maksud dari dzikir dalam ucapan beliau tersebut ialah takbiratul ihram.

  • Imam al-Bukhâri pun dikaitkan dengan pendapat, bahwa apa yang aku ucapkan dari al-Qur`an adalah makhluk’.

Namun, para imam memandang penisbatan tersebut tidak benar kepada beliau rahimahullah .

  • Orang-orang juga melekatkan kepada Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah sekian pendapat yang tidak pernah didengar dari beliau dan tidak pula terdapat dalam kitab-kitab beliau.

Ruknuddini al-Juwaini dan Qadhi ‘Iyadh dalam al-Madarik telah memastikan ketidakbenarannya.

  • Termasuk sebuah kesalahan yang ditemukan oleh Ulama-ulama besar, penisbatan pendapat fana (kehancuran) neraka kepada Imam Ibnul Qayyim. Sementara itu, beliau rahimahullah telah menyebutkan dengan tegas bahwa neraka itu abadi dalam beberapa tempat dalam kitab-kitabnya. Dalam sebagian tempat, beliau mengutip pendapat rajih atau mengalihkan pendapat rajih kepada orang yang memegangi dalil, yaitu pendapat mengenai keabadian neraka.
  • Kekeliruan Hafizh terhadap hafizh lainnya, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani terhadap Ibnul Qayyim rahimahullah yang dianggap memperbolehkan mut’ah.

Faktanya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tidak pernah berpendapat demikian. Akan tetapi, wahm (keteledoran) terjadi pada al-Hafizh Ibnu Hajar dan kemudian diikuti oleh orang lain.

  • Kekeliruan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang diasumsikan berpendapat bahwa jihad itu disyariatkan untuk membela diri saja, bukan untuk berperang menegakkan kalimatul islam.

Untuk mengoreksi kekeliruan penisbaan kepada beliau telah ditulis beberapa tulisan. Di antara yang terpenting, tulisan Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman bin Hamdan rahimahullah.

  • Di antara penisbatan terburuk dalam bentuk kedustaan, bahwa lawan-lawan Syaikhul Islam mengatakan tentang beliau sesuatu yang tidak pernah beliau nyatakan, yaitu larangan menziarahi kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam untuk memprovokasi emosi kaum Muslimin terhadap dakwah salafiyyah. Maka, sejumlah orang menyalah-nyalahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah .

Yang diingkari oleh Syaikhul Islam dan beliau bawakan dalil-dalil tentang masalah itu ialah masalah syaddur rihâl (menempuh perjalanan jauh) ke kuburan. Adapun ziarah kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan kuburan kaum Muslimin secara umum tanpa perlu menempuh perjalanan jauh, termasuk perbuatan yang disunnah. Dan pernyataan beliau jelas tentang itu.

  • Dan termasuk kedustaan yang terlalu jelas yang selalu didengung-dengungkan ahli bid’ah pada masa lalu dan masa kini, kedustaan yang dilancarkan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah  dan dakwah beliau, bahwa beliau membenci Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan melarang melarang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam .

Ini adalah tuduhan bernuansa politis, tuduhan hizbiyyah dan tuduhan para pengagung kuburan, untuk menggerakkan massa demi melawan perkembangan dakwah salafiyyah  dan tegaknya negeri tauhid. Akan tetapi, Allâh k menghendaki untuk menyempurnakan cahaya-Nya sehingga berdirilah negeri tauhid di jazirah Arab dan dakwah haq menyebar ke seantero dunia Islam. Alhamdulillah, pada setiap negeri ada dai yang menyebarkan dakwah yang benar.

Kemudian, tuduhan selanjutnya, tuduhan keji terarah kepada para pengusung dakwah salafiyyah dakwah ahlu sunnah wal jama’ah, bahwa mereka tidak mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam , terutama pada momen pelaksanaan perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan membaca sayyidina dan lain-lain.

Apabila seluruh masalah agama harus tegak di atas dalil, maka kebenaran tidak  akan samar  bagi para pencari ilmu. Yang aneh, kedustaan tersebut menyeret sekian banyak orang untuk melancarkan tuduhan-tuduhan dusta kepada dakwah salafiyyah dakwah ahlu sunnah wal jama’ah.

  • Termasuk kedustaan yang paling buruk terhadap generasi Salafus Shaleh dalam perkara penetapan asma’ dan shifat Allâh, bahwa akidah Salaf dalam masalah asma dan sifat adalah tafwîdh (menyerahkan maknanya kepada Allâh). Ulama ahli sunnah telah mematahkan kekeliruan pandangan ini, di antaranya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ash-Shawâ’iq al-Mursalah dan menjelaskan bahwa kata-kata tersebut merupakan kedustaan terhadap generasi Salaf, ketidaktahuan terhadap akidah mereka dan anggapan kaum Salaf orang-orang bodoh.

Dalam pembahasan mulia ini, generasi Salaf berjalan di atas apa yang telah digariskan Imam Malik rahimahullah dan imam-imam lainnya, “Bahwa istiwa itu maknanya telah dimaklumi, caranya tidak diketahui…”. wallâhu a`lam.

  • Kedustaan lain yang jauh dari kebenaran, klaim golongan Asy’ari bahwa mayoritas kaum Muslimin berakidah asy’ariyyah. Ini merupakan sebuah klaim yang dipatahkan oleh fakta, berdasarkan beberapa sebab:
    • Bahwa tiga generasi terbaik umat Islam dari kalangan Sahabat dan seterusnya, akidah mereka berlandaskan cahaya dari al-Kitab dan Sunnah yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Aqîdatus Salaf. Hanya beberapa gelintir orang saja dari kalangan ahli bid’ah yang telah dipatahkan dan tundukkan oleh generaasi Salaf. Mereka ini tiga generasi terbaik.
    • Mayoritas kaum Muslimin masih berada di atas fitrah mereka. Sebab, setiap orang yang dilahirkan dari kalangan kaum Muslimin, ia berada dalam akidah Salaf. Ia  tidak akan menjadi penganut aqidah asy’ari kecuali orang yang telah disambar oleh pemikiran mereka.

Demikian beberapa kekeliruan yang harus diwaspadai orang alim dan masyarakat agar tidak lagi mengait-ngaitkan hal-hal di atas kepada para Ulama Islam, karena mereka tidak pernah melakukan atau mengucapkannya. Wallâhu a’lam.

(Diadaptasi dari at-Ta’âlum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal Kitâb, Bakr Abdullah Abu Zaid, Dar al-Ashimah Cet.II, Th.1408, hlm.117-122)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Tokoh yang Baik Atau yang Buruk

TOKOH YANG BAIK ATAU YANG BURUK

Semua orang pasti ingin terhindar dari segala yang tidak menyenangkan, di dunia apalagi di akhirat kelak. Namun tidak semua orang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengetahui cara menghindarkan diri atau menyelamatnya. Akhirnya, ia memilih untuk mengikuti orang yang dipandang bisa menuntunnya. Di sini, saat seseorang menentukan panutan dia harus berhati-hati agar tidak menyesal akhirnya. Karena panutan atau orang yang ditokohkan itu, ada yang memang layak untuk itu tapi ada juga tidak.

Sosok yang pantas diikuti dan dianut adalah orang yang memiliki kriteria sebagai ‘alim rabbaniy. Mereka panutan yang membimbing manusia meniti jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan tentang ‘alim rabbaniy, Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Mereka adalah para Ulama’ yang bijaksana, yang sabar, yang mengajarkan dan mendidik masyarakat (yang mengawali pengajaran mereka) dengan ilmu-ilmu yang sederhana sebelum yang tinggi dan Ulama yang menpraktekkan ilmu. Mereka menyuruh masyarakat agar berilmu, beramal dan mengajarkan ilmu yang ketiga hal ini merupakan poros kebahagiaan.”[1].

Selektif dalam menentukan panutan ini sangat diperlukan, karena faktanya tidak semua orang yang menjadi panutan itu berilmu. Seandainya berilmu, belum tentu dia mengamalkan ilmunya. Apalagi dalam al-Qur’an dengan gamblang disebutkan tentang keberadaan tokoh-tokoh yang mengajak manusia masuk ke neraka dan tokoh-tokoh yang mengajak ke surga.

Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang fir’aun dan para tokoh disekitarnya:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong [Al-Qashash/28:41]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Dan Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah [Al-Anbiyâ’/21:73].

Shahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan imam (pemimpin) bagi manusia di dunia ini yang mengajak manusia kepada kesesatan atau petunjuk kebaikan.” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu membaca dua ayat tersebut di atas.[2]

Keberadaan para tokoh atau panutan yang mengajak kepada keburukan ini tentu sangat membahayakan. Dengan kelihaian lidahnya, dia bisa menggambarkan yang buruk menjadi seakan baik. Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari mereka dan keburukan mereka.

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Tsauban Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

Sesungguhnya yang saya khawatirkan (akan merusak) umatku hanyalah para imam (tokoh) yang menyeru kepada kesesatan. (HSR. Abu Dawud, no. 4252 dan at-Tirmidzi, 4/504).[3]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh berkata, “(Mereka) adalah para pemimpin, tokoh agama dan ahli ibadah yang mengarahkan manusia tanpa ilmu (pemahaman agama yang benar), sehingga mereka menyesatkan manusia, sebagaimana dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Dan mereka (orang-orang yang sesat) berkata, “Ya Rabb Kami (Allâh Subhanahu wa Ta’ala)! Sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) [Al-Ahzâb/33:67][4]

Akhirnya, kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar senantiasa membimbing kita meniti jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat serta menjauhkan kita dari jalan kesesatan yang berujung penderitaan yang sangat menyakitkan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Tafsir Taisîr al-Karîm ar-Rahman tentang Surat Ali Imran ayat ke-79
[2] Dinukil oleh Imam al-Baghawi dalam tafsir beliau, 5/109
[3] Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani
[4] Kitab Fat-hul Majîd Syarhu Kitâbit Tauhîd, hlm. 323

Meyakini Dan Mengamalkan Dalil, Bukan Mencari-Cari Dalil

MEYAKINI DAN MENGAMALKAN DALIL, BUKAN MENCARI-CARI DALIL

Oleh
Ustadz Muhammad Ashim bin Musthofa Lc

Kewajiban seorang Muslim, tidaklah berbicara atau berpendapat hingga mengikuti apa yang difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla dan disabdakan oleh Rasul-Nya. Sikap ketundukan dan ketaatan tersebut sebagai pengamalan firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [al-Hujurât/49:1].

Ayat ini memuat  adab yang agung yang wajib dijadikan pedoman oleh setiap Muslim.  Imam Ibnu Katsîr rahimahullah  mengatakan, “Ini adalah adab-adab yang Allâh Azza wa Jalla hendak mendidik hamba-hambaNya kaum Mukminin dalam bermuamalah dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu dengan sikap menghargai, menghormati dan mengagungkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “. [1]

“Syaikh as-Sadi rahimahullah berkata, “Ini memuat adab dengan  Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, serta mengagungkan, menghormati dan memuliakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.

Mengenai makna ayat di atas, kata Syaikh as-Sadi rahimahullah, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya yang beriman melalui konsekuensi keimanan mereka kepada Allâh dan Rasul-Nya untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan hendaknya mereka berjalan di belakan perintah-perintah Allâh dan mengikuti Sunnah Rasûlullâh n dalam seluruh urusan mereka, dan agar mereka tidak berjalan di depan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan tidak mengatakan sesuatu hingga Allâh Azza wa Jalla mengfirmankan sesuatu, dan tidak memerintahkan sesuatu hingga Allah memerintahkannya. Inilah hakikat beradab di hadapan Allâh dan Rasul-Nya dan merupakan indikator kebahagiaan dan keselamatan seorang hamba”. [2]

Jadi, umat Islam tidak boleh tergesa-gesa dalam segala urusan di hadapannya. Akan tetapi, mereka harus menjadi pengikut Beliau dalam semua urusan. [3]

Komitmen dengan prinsip penting ini, akan menyelamatkan manusia dari kesesatan di dunia dan celaka di akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ﴿١٢٣﴾ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. [ Thâhâ/20:123-124]

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Allâh Azza wa Jalla menjamin tidak sesat di dunia dan celaka di akhirat bagi siapa saja yang membaca Al-Qur`an dan mengamalkan kandungannya”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menegaskan:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِيْ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

Aku tinggalkan di tengah kalian, jika kalian berpegang-teguh dengannya, maka tidak akan sesat, ‘Kitabullah dan Sunnahku”. [4]

Dan di antara perkara penting yang umat Islam harus berpegang-teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah adalah perkara-perkara aqidah. Sebab, akal pikiran manusia tidak mampu mengetahuinya dengan terperinci kecuali melalui jalan wahyu. Maka, seorang Muslim yang memegangi petunjuk wahyu, sungguh ia telah berpegangan dengan tali Allâh Azza wa Jalla yang kuat dan memperoleh hidayah menuju jalan yang lurus. [5]

Kondisi para Sahabat kondisi pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terbaik yang pernah dijumpai hidup di muka bumi ini. Mereka tidak meyakini sesuatu atau berpendapat apapun hingga mereka jumpai firman Allâh Azza wa Jalla dan sabda Rasul-Nya. Mereka mengikuti dalil-dalil, bukan dalil-dalil syar’i yang mengikuti kehendak, pendapat dan keyakinan mereka. Dalil-dalil mereka ikuti dan wahyu mereka pegangi. Maka, mereka pun menjadi generasi yang selamat dan terbaik.

Setelah masa generasi para Sahabat pergi meninggalkan umaat Islami, muncullah pemikiran-pemikiran dan ideologi-ideolgi di tengah umat Islam yang hanya  berlandaskan ahwa (hawa nafsu), seperti Khawarij, Qadariyyah, Jahmiyyah, Rafidhah, Murji’ah, Mu’tazilah dan lainnya. Karenanya, tidak mungkin ada ayat ataupun hadits yang mendukung mereka!.

Ada ungkapan menarik dari Imam Ibnu Katsîr rahimahullah yang mengatakan, “Alhamdulillâh, seorang mubtadi’ mana saja tidak memiliki sandaran apapun yang shahih dari ayat-ayat al-Qur`ân, sebab al-Qur`ân datang untuk memperjelas al-haq dari kebatilan, menerangkan perbedaan antara hidayah dan kesesatan, tidak ada sedikit pun kontradiksi maupun perbedaan antar ayat, sebab al-Qur`ân bersumber dari Allâh Azza wa Jalla , turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.[6]

Para pengusung pemikiran dan ideologi baru ini memiliki keyakinan (yang salah) terlebih dahulu, baru kemudian mencari-cari dalil untuk pembenarannya. Maka, ajaran agama adalah sesuatu yang mereka katakan dan syariat adalah apa yang mereka pegangi. Sementara dalil-dalil Al-Qur`ân dan Sunnah bila tidak seiring dengan pandangan dan keyakinan mereka, maka akan mereka takwilkan dengan penakwilan yang bermacam-macam.

Inilah perbedaan paling yang kentara dan mendasar antara seorang Sunni (pengikut Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan Bid’i (pelaku bid’ah). Seorang Sunni memposisikan dirinya dan kemauannya di belakang dan menjadikannya harus mengikuti dalil-dalil yang ada. Berbeda halnya dengan pelaku bid’ah, memposisikan hawa nafsunya sebagai hakim (penilai) syariat dan mengendalikannya.

Imam Syâthibi rahimahullah  mengatakan, “Oleh sebab itulah, ahli bid’ah dikenal dengan predikat Ahlul Ahwa, karena mereka memperturutkan hawa nafsu (ra`yu, keinginan dan keyakinan pribadi mereka), enggan mengambil dalil-dalil syar’i sebagai kebutuhan dan dasar pendalilan. Mereka justru lebih mendahulukan hawa nafsu mereka dan bertumpu pada ra`yu-ra`yu mereka sendiri, sementara dalil-dalil syar’i, mereka lihat belakangan”. [7]

Syaikhul Islam rahimahullah menambahkan, “Ahli bid’ah dari kalangan ahli ilmu dan ahli kalam, mereka mempelajari ilmu dengan apa yang mereka ada-adakan, bukan dengan mengikuti ilmu syar’i dan kemudian mengamalkannya”. [8]

Oleh sebab itu, metodologi ‘ilmiah’ ahli bid’ah berjalan di atas asas: ‘mengucapkan, melakukan, meyakini, baru kemudian mencari-cari dalil pembenarnya’. Sementara ketika fakta menunjukkan nash-nash al-Qur`ân dan Hadits tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka, maka, mereka pun tetap melangkah dengan melakukan tahrîf (pengotak-atikan) terhadap nash-nash syar’I tersebut. Dengan demikian, pada diri mereka telah terkumpul dua kesalahan besar: mendahului Allâh dan Rasul-Nya dan mentahrif kalamullah dan kalam Rasul-Nya.

Karena itulah, Syaikh Hamd al-‘Utsmân memasukkan karakter ini, meyakini dahulu baru mencari-cari dalil pembenaran atas yang diyakini, sebagai salah satu faktor yang memalingkan seseorang dari hidayah Allah Azza wa Jalla .[9]

Maka, sudah seharusnya setiap Muslim dan Muslimah mengingat-ingat pedoman yang telah digariskan Al-Qur`ân dan Surat Al-Hujurât:1 di atas, dengan mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla  dan petunjuk Rasul-Nya n . Itulah konsekuensi dan tuntutan keimanan umat Islam terhadap Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Maka, kewajiban  tiap Mukmin untuk tidak berbicara dalam suatu apapun yang terkait agama kecuali dengan mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan tidak mendahului Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi, ia mesti mencari tahu apa yang disabdakan Nabi dalam masalah tersebut, sehingga perkataannya mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan ilmunya mengikuti perintah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Demikianlah para Sahabat dahulu dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan ihsan (baik) dari kalangan Tabi’in dan para imam umat Islam. Tidak ada di antara mereka yang mengkonter nash-nash syari’i dengan akal mereka dan tidak membangun agamanya dengan petunjuk yang datang dari selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Petunjuk Beliau lah yang dijadikan obyek utama yang dipelajarinya dan menjadi sumber pendapatnya. Mereka mencermati dan merenunginya. Inilah prinsip  Ahli Sunnah”. [10]

Penyakit ini; berbicara, melakukan dan meyakini dalam agama terlebih dahulu, lantas mencari-cari dalil yang menjustifikasinya; tidak hanya kabur pada para pelaku bid’ah saja, bahkan memang hal tersebut bersifat samar, hampir-hampir setiap muslim tidak selamat darinya kecuali orang-orang yang dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla . Karena sifatnya yang  tidak transparan dan kerusakannya yang besar terhadap agama, maka para Ulama menyampaikan nasehatnya dan menjelaskan masalah ini  demi kebaikan bagi umat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla berikan taufik kepada kita untuk terus melakukan thalabul ilmi agar mengetahui dalil-dalil yang menjadi landasan perintah yang kita lakukan dan larangan yang kita tinggalkan, sehingga kita dekat dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan membangun agama kita di atas ittiba’. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 7/364.
[2]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 743.
[3] Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm 7/364.
[4] HR. Al-Hâkim dalam al-Mustadrak 1/93. Dishahîhkan oleh Al-Albâni dalam Shahihul Jâmi no.2934.
[5]  Manhaj al-Imâm asy-Syâfi’i fî Itsbâti al-Aqîdah 1/56.
[6] Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm 1/145.
[7] Al-I’tishâm 2/172.
[8]  Minhâjus Sunnah 5/170.
[9] Ash-Shawârifu ‘anil Haq. 118-121.
[10] Majmû’ al-Fatâwâ 13/62-63.

Menggapai Kesempurnaan Fitrah

MENGGAPAI KESEMPURNAAN FITRAH

Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia di atas fitrah. Dengan fitrah itu, manusia yang sadar akan dirinya lemah, membutuhkan Tuhan yang menutup kekurangan dan menguatkan kemampuan. Ia juga tercipta dalam keadaan menyukai kebaikan dan membenci hal-hal yang buruk. Dan dengan dorongan fitrah itu pula, manusia mencintai hidup, harta, lawan jenis, ayah, ibu dan keluarga.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila ada orang-orang yang tidak memeluk agama Islam yang memiliki tabiat akhlak baik dan membenci keburukan, seperti benci perzinaan, khamr, dusta dan perangai-perangai buruk lainnya. Mereka melakukan itu tanpa kesulitan besar.

Di masa Jahiliyah, sebuah masa yang orang-orangnya mengalami degradasi moral dan spiritual sampai pada titik yang parah, ada juga orang-orang yang menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk yang tersebar di komunitas sosial mereka. Sebab, jiwa dan fitrah mereka menolaknya.

‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Demi Allâh! Aku tidak pernah berzina di masa Jahiliyah dan masa Islam”. [Diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan dengan isnad shahih].

Setelah membawakan atsar ini, Abu Dawud rahimahullah mengatakan, “Dahulu di masa Jahiliyyah, Utsmân Radhiyallahu anhu dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu menolak khamr (minuman memabukkan)”.

Demikian juga Abu Sufyân Radhiyallahu anhu sebelum masuk Islam, ia tidak suka dengan dusta dalam perkataan. Karenanya, ia berkata jujur tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh Raja Heraklius.

Perbuatan-perbuatan baik yang mereka lakukan ini bukanlah disebabkan oleh kekufuran mereka, akan tetapi tidak lepas dari tabiat baik yang Allâh Azza wa Jalla ciptakan pada manusia.

Namun terkadang dorongan-dorongan nafsu dapat menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang merusak fitrah itu sendiri. Sebut saja, cinta terhadap harta, dapat melalaikan orang dari dzikrullah atau menyeretnya menempuh cara-cara yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam meraihnya. Begitu juga, dorongan syahwat untuk menyukai lawan jenis, jika dibiarkan tanpa aturan dan batasan, dapat menjerumuskan manusia ke lubang-lubang perzinaan. Termasuk juga, cinta kepada orang tua dan keluarga, bila kadarnya berlebihan, maka dapat mengalahkan cintanya kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di sinilah diperlukan adanya pedoman yang mendukung bisikan-bisikan fitrah dan naluri-naluri bawaan, sekaligus menguatkan, membina dan mengarahkannya untuk selalu berada di atas jalan yang benar.

Maka, Allâh Azza wa Jalla, Dzat Yang Maha Mengetahui kebutuhan makhluk-makhluk ciptaan-Nya dan kelemahan mereka, mengutus para rasul dan menurunkan bersama mereka kitab-kitab dan mengajarkan kepada mereka syariat-syariat untuk keperluan di atas, sehingga fitrah semua manusia terjaga dengan baik dan selalu dalam keridhaan-Nya.

Adanya syariat pernikahan, jual-beli, jihad, zakat dan larangan riba, perzinaan, lesbian dan seluruh ajaran Islam lainnya, tidak lain untuk memenuhi kebutuhan fitrah manusia dan menjaga martabat mereka sebagai manusia yang merupakan makhluk yang Allâh muliakan dalam penciptaan.

Untuk itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Dar`u Ta’ârudhi al-‘Aqli wan Naqli (10/277), “Sesungguhnya kesempurnaan (akan) diraih dengan (mengikuti) fitrah yang disempurnakan oleh syariat yang diturunkan (Allâh Azza wa Jalla kepada para rasul-Nya). Sebab para rasul diutus untuk menetapkan fitrah dan menyempurnakannya, tidak merubah fitrah atau menggantinya”.

[Diadaptasi dari Raf’u adz-Dzulli wa ash-Shaghâri ‘anil Maftûnin bi Khuluqil Kuffâr, Abdul Mâlik bin Ahmad Ramadhâni, hlm.106-107]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Yang Bodoh Terhadap Agama, Rentan Dengan Kesesatan

YANG BODOH TERHADAP AGAMA, RENTAN DENGAN KESESATAN

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menciptakan manusia di atas fitrah, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

 (Sesuai) fitrah Allâh disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. [Ar-Ruum/30:30]

Dan di antara fitrah bawaan pada diri manusia adalah mencintai al-haq (kebenaran) dan menginginkannya.

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Hati itu mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya”. [1]

Di tempat lain, Syaikhul Islam rahimahullah bahkan mengatakan, “Sesungguhnya al-haq itu dicintai oleh fitrah (manusia). Ia amat dicintai dan diagungkan oleh fitrah manusia, serta lebih nikmat dibandingkan dengan kebatilan yang sebenarnya tidak memiliki kenyataan. fitrah manusia tidak menyukainya (kebatilan)”. [2]

Karena itu, jiwa-jiwa manusia jika masih berada dalam fitrahnya, maka tidaklah ingin mencari kecuali kebenaran. Dan kebenaran itu amatlah jelas, tidak samar sekali.

Al-Haq (kebenaran) itu amat jelas lagi terang. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al-Qamar/54:17].

Allâh memudahkan lafazhnya untuk dibaca dan memudahkan maknanya untuk dipahami.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ

Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar.[3]

Dan ijma’ Ulama telah terbentuk untuk menguatkan prinsip ini. [4]

Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu berkata:

فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُوْرًا

Sesungguhnya ada cahaya pada kebenaran itu.[5]

Oleh karena itu, kebatilan hanya laku pada orang yang tidak memiliki ilmu dan ma’rifah sama sekali, dan tidak memiliki perhatian terhadap nash-nash al-Qur`an dan Sunnah serta ucapan-ucapan Sahabat dan Tabi’in.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sesungguhnya muncul penentangan orang yang menentang, dikarenakan kedangkalan ilmu mereka terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Al-Haq (kebenaran) itu diketahui oleh setiap orang. Sesungguhnya kebenaran yang Allâh mengutus para rasul untuk membawanya tidak samar dengan perkara lain bagi orang yang tahu, sebagaimana emas murni tidak samar dengan emas palsu bagi tukang emas”. [7]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Sesungguhnya asy-Syari’ (penentu syariat) Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan untuk seluruh hal yang melindungi (manusia) dari berbagai kebinasaan, nash-nash yang mematahkan seluruh alasan”.[8]

Beliau rahimahullah juga bertutur, “Dan sering kali kebenaran terbengkalai di tengah orang-orang jahil lagi buta huruf, di tengah orang-orang yang suka merubah-rubah teks yang pada diri mereka ada cabang kemunafikan”. [9]

Ideologi Syi’ah yang digulirkan oleh Abdullah bin Saba` yang  asli Yahudi, yang merupakan keyakinan yang paling sesat, hanya laku di tengah sebagian kaum Muslimin dikarenakan kebodohan terhadap agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang mengada-adakan ideologi  Syiah, adalah seorang zindiq (kafir),  mulhid lagi musuh Islam dan umat Islam, bukan termasuk penganut bid’ah yang mentakwil nash-nash, seperti Khawarij dan Qadariyah. Kendatipun pemikiran Syi’ah diterima setelah itu oleh kaum yang ada pada diri mereka keimanan, karena kebodohan mereka yang parah”.[10]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Faktor-faktor penghalang dari menerima kebenaran banyak sekali. Di antaranya adalah al-jahl  (ketidaktahuan, kebodohan). Faktor inilah yang dominan pada kebanyakan manusia. Sesungguhnya orang yang tidak mengenal sesuatu, ia akan menentangnya dan menentang orang-orang yang melakukannya”. [11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan:

وَلَا تَجِدُ أَحَدًا وَقَعَ فِيْ بِدْعَةٍ إِلَّا لِنَقْصِ اتِّبَاعِهِ لِلسُّنَّةِ عِلْمًا وَعَمَلًا. وَإِلَّا فَمَنْ كَانَ بِهَا عاَلِمًا وَلَهَا مُتَّبِعًا, لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ دَاعٍ إِلَى الْبِدْعَةِ. فَإِنَّ الْبِدْعَةَ يَقَعُ فِيْهَا الْجُهّاَلُ بِالسُّنَّةِ

Dan tidaklah kamu mendapati seseorang yang terjerumus dalam bid’ah kecuali karena ia kurang mengikuti petunjuk Sunnah dalam aspek pengetahuan dan pengamalannya. Sebab, orang yang mengetahui petunjuk Sunnah, dan mengikutinya, maka tidaklah ada pada dirinya pemicu kepada bid’ah.  Sesungguhnya hanya orang-orang bodoh terhadap petunjuk Sunnah saja yang terjerumus di dalam bid’ah”. [12]

Dengan demikian, sudah sewajibnya setiap Muslim dan Muslimah mempelajari agamanya, agar dapat mengenal kebenaran yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik dan kemudian mengamalkannya.

Barang siapa kurang semangat untuk menyingkirkan kebodohan dari dirinya, orang seperti ini kebodohannya tidak dapat  ditoleransi.

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Celaan akan melekat pada orang yang telah jelas  baginya kebenaran lalu ia meninggalkannya, atau orang yang kurang semangat dalam mencarinya, sehingga kebenaran tidak menjadi jelas baginya, atau orang yang berpaling untuk mencari ilmu tentang kebenaran,  gara-gara hawa nafsu, kemalasan atau hal-hal  serupa lainnya”. [13]

Al-Allamah Muhammad ash-Shalih al-Utsaimin rahimaullah berkata, “Bisa juga seseorang tidak dimaafkan karena kebodohannya. Hal ini ketika ia masih memungkinkan untuk belajar, namun ia tidak melakukannya, padahal ada syubhat yang mengitari dirinya. Seperti seseorang yang dikatakan kepadanya, “Ini perkara haram”, dan sebelumnya ia meyakini kehalalannya, maka  sedikit banyak akan terjadi syubhat pada dirinya. Saat itulah ia wajib belajar (ilmu agama), agar ia dapat mencapai hukum (sebenarnya) dengan yakin”.

Manusia dengan keadaan seperti ini, mungkin saja tidak kita toleransi kebodohannya, karena ia memandang belajar agama dengan sebelah mata. Sikap tafrith tidaklah menggugurkan udzur (alasan).  Akan tetapi, orang yang jahil  (tidak tahu), kemudian tidak ada syubhat apapun pada dirinya dan ia meyakini bahwa keadaan yang ia pegangi adalah kebenaran atau ia mengatakannya karena menganggap  itu adalah kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidaklah hendak  menentang (kebenaran) dan tidak ingin berbuat maksiat dan kekufuran. Karenanya, tidak mungkin kita  mengkafirkannya, meski ia buta terhadap salah satu prinsip agama (ushuluddin)”. [14] WAllâhu a’lam.

(Diringkas dari ash-Shawârifu ‘anil Haqq, Hamd bin Ibraahiim al-Utsmaan, ad-Daarul Atsariyyah tanpa tahun,  halaman. 5-11.)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Majmû al-Fatâwâ 10/88.
[2] Majmû al-Fatâwâ 16/338.
[3]  Muttafaqun ‘alaih dari hadits an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu
[4]  Taudhîhul Kafiyati asy-Syafiyah, hlm.79.
[5] Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam  al-Mustadrak  4/460. Al-Hâkim berkata, “Sesuai syarat Syaikhain”, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[6]  I’lâmul Muwaqqi’in 1/44.
[7]  Majmû al-Fatâwâ 27/315-316.
[8]  Dar`u Ta’ârudhil Aqli wan Naqli 1/73.
[9]  Majmû al-Fatâwâ 25/129.
[10]  Minhaju as-Sunnah 4/363.
[11]  Hidâyatul Huyara fi Ajwibati al-Yahudi wan Nashara hlm. 18.
[12]  Syarhu Hadîts ‘Lâ Yazni az-Zani’ hlm.35.
[13]  Iqtidhâ ash-Shirâthil Mustaqim 2/85, cetakan Al-Ifta yang ketujuh.
[14]  Asy-Syarhul Mumti’ 6/193-194.

Sebab-Sebab Penyimpangan Dari Fithrah

SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN DARI FITHRAH

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Kita diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dikaruniai dengan fitrah. Fitrah tersebut adalah menjadi hamba Allâh, maka fitrah yang dimaksud adalah agama Allâh. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh [Ar-Rûm/30:30]

Juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan diatas fitrah, maka bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau majusi [HR. Al-Bukhâri, no. 1319, (1/465)]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dan yang paling benar artinya adalah setiap anak yang dilahirkan mempunyai kesiapan untuk (menerima) Islam.”[1]

Sedangkan Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Inilah yang dikenal dikalangan umumnya Ulama ahli tafsir dari kalangan salaf. Mereka sepakat dalam menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla , “Fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” dengan fitrah Allâh itu adalah agama Allâh Islam.”[2]

Namun di dalam perjalanan hidup ada manusia yang menyimpang dari fitrahnya. Mereka meninggalkan agama Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak mau mengikuti perintah Allâh dan menolak untuk beribadah dan tunduk kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Fitrah ini tidak menyimpang kecuali dengan sebab dan pengaruh yang mampu merubah perjalanannya. Diantara sebab itu adalah:

Syaitan atau Iblis
Ajakan dan godaan Syaitan merupakan sebab pertama dan pokok dalam penyimpangan fitrah manusia. Dijelaskan dalam hadits ‘Iyâdh bin Himâr Radhiyallahu anhu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam hadits Qudsi, bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

Sesungguhnya Aku telah ciptakan para hamba-Ku dalam keadaan hanîf (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguhnya mereka didatangi syaitan lalu menyeret mereka dari agamanya dan mengharamkan atas mereka yang Aku halalkan buat mereka dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada dasarnya dari-Ku. [HR. Muslim, no.2865]

Syaitan berusaha menjadikan manusia bergantung kepada selain Allâh Azza wa Jalla sehingga memalingkan dan menyimpangkan fitrahnya. Berbuat kesyirikan merupakan ibadah kepada syaitan sebagaimana dijelaskan nabi Ibrâhîm Alaihissallam dalam pernyataan beliau:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

Wahai bapakku! Janganlah kamu meyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. [Maryam/19:44]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menyatakan bahwa pengertiannya adalah jangan taati syaitan dalam penyembehan berhala, sebab syaitanlah yang mengajak dan meridhainya.

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu [Yâsîn/36:60][3]

Iblis juga berjanji akan merubah fitrah manusia agar menjadi kufur, sebagaimana disampaikan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا ﴿١١٧﴾ لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا ﴿١١٨﴾ وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا ﴿١١٩﴾ يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Yang mereka sembah selain Allâh itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila’nati Allâh dan syaitan itu mengatakan, “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allâh), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allâh, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. [An-Nisâ’/4:117-120]

Meniru (Taklid) Lingkungan Dan Kedua Orang Tuanya
Tidak bisa pungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar pada diri seseorang, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan diatas fitrah, maka bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau majusi [HR. Al-Bukhâri, no.1319, (1/465)]

Lingkungan bisa memperngaruhi seseorang sehingga menjadi semakin shalih atau sebaliknya, membuatnya terjerumus dalam kesalahan. Saat seseorang sudah terbiasa dengan kesalahan aapalagi menyukainya, berarti dia telah menyimpang dari fitrahnya.

Penyelewangan dan penyimpangan terhadap fitrah, tidak terelakkan jika lingkungannya tidak baik. Penyebabnya, bisa dengan mentaklid kepada orang tua atau nenek moyang atau taklid kepada tokoh-tokoh. Ini merupakan salah satu jalan syaitan menghalangi manusia dari jalan Allâh Azza wa Jalla . Dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ، فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ: تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ، فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ، فَقَالَ: تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ، وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ، فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ، فَقَالَ: تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ، فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ، فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ، وَيُقْسَمُ الْمَالُ، فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ»

Sesungguhnya syaitan duduk menghalangi manusia di jalan-jalannya. Syaitan duduk dijalan Islam dan berkata, ‘Kamu masuk Islam dengan meninggalkan agamamu, agama bapak kamu dan nenek moyangmu?’ Lalu ia tidak menurutinya dan tetap masuk Islam.

Kemudian syaitan duduk di jalan hijrah dan berkata, ‘Kamu mau berhijrah dengan meninggalkan tanah dan langitmu. Perumpamaan orang berhijrah itu seperti kuda yang terikat (tidak bisa berbuat bebas).’ Lalu orang tersebut tidak menurutinya dan tetap berhijrah.

Kemudian syaitan duduk di jalan jihad dan berkata, ‘Kamu mau berjihad padahal itu akan menghabiskan jiwa dan harta, lalu kamu berperang dan terbunuh, istrimu dinikahi orang dan hartamu dibagi-bagi.’ Lalu orang tersebut tidak mengikutinya dan tetap berjihad.

Rasâlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Siapa yang berbuat demikian, maka sudah menjadi haknya atas Allâh Azza wa Jalla untuk memasukkannya ke surga. Siapa yang terbunuh maka menjadi haknya atas Allâh Azza wa Jalla untuk memasukkannya ke surga dan jika tenggelam maka sudah menjadi haknya atas Allâh Azza wa Jalla untuk memasukkannya ke surga atau diinjak hewan tunggangannya maka sudah menjadi haknya atas Allâh Azza wa Jalla untuk memasukkannya ke surga. [HR. an-Nasâ’i, no. 3134. Hadits ini dipandang sebagai hadits shahih oleh al-Albani dalam Shahîh Sunan an-Nasâ’i]

Demikian juga tasyabbuh (meniru-niru orang kafir) termasuk penyebab penyimpangan fitrah, bahkan tasyabbuh ini adalah akar bencana dan sumber kerusakan umat ini, sebagaimana dijelaskan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

«لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhab (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para Sahabat) berkata, “Wahai Rasûlullah! Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim, no. 2669]

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa kelak akan ada umat Islam yang mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara.[4]

Imam Nawawi t ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dzirô’ (hasta) serta lubang dhab (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum Muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum Muslimin menyamai mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah suatu mukjizat bagi Beliau karena apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan telah terjadi saat-saat ini.”[5]

Tasyabuh ini dilarang karena mempengaruhi akhlak dan fitrah manusia dan bisa merusaknya, seperti dijelaskan Ibnu Taimiyah t dalam pernyataan beliau, “Serupa dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir”. [6]

Beliau juga menyatakan, “Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?!”[7] Bahkan beliau menyatakan, “Apabila tasyabuh dalam perkara dunia bisa menimbulkan rasa cinta dan loyalitas kepada mereka, lalu bagaimana dengan tasyabuh dalam perkara agama? Tentunya menyebabkan jenis loyalitas yang lebih besar dan lebih tebal, padahal cinta dan loyalitas kepada mereka menghilangkan keimanan.[8]

Lalai dan Sibuk Mengikuti Syahwat
Lalai dengan sebab gemerlap dunia dan sibuk menikmati perhiasannya sering kali melalaikan manusia dari Rabbnya dan memalingkannya dari fitrah, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu”. [Al-A’râf/7:172-173]

Ayat yang mulia ini menjelaskan sikap lalai termasuk sebab terbesar penyimpangan fitrah manusia.

Demikian juga harta dapat melalaikan manusia dan menjadi sebab kehancuran dan penyimpangan fitrahnya, karena harta termasuk sebab yang membuat manusia menjadi sombong dan melampaui batas serta berpaling dari kebenaran. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allâh melapangkan rezeki kepada para hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allâh menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat [Asy-Syûrâ/42:27]

Harta dan ketamakan juga menjadi jalan iblis menyesatkan manusia dan menyimpangkan mereka dari fitrah yang lurus, seperti dijelaskan Allâh Azza wa Jalla dalam firmannya:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. [An-Nisâ’/4:120]

Hasad
Hasad termasuk sebab penyimpangan fitrah manusia dan penghilang agama, sebagaimana dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ، وَ هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنَّهَا تَحْلِقُ الدِّينَ

Masuk kepada kalian penyakit umat sebelum kalian hasad dan kebencian. Penyakit ini adalah pemotong, tidak saya katakan pemotong rambut tapi pemotong agama [HR. At-Tirmidzi dalam sunannya no. 2510. Hadits dipandang sebagai hadits yang hasan oleh syaikh al-Albani dalam Sahîh Sunan at-Tirmidzi]

Hasad menjadi sebab yang membuat iblis tidak mau sujud kepada Adam, sebagaimana jawaban iblis ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman kepadanya:

قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ﴿٣٣﴾ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ﴿٣٤﴾ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

Allâh berfirman, “Hai iblis! Apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu” Berkata iblis, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk””. Allâh berfirman, “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. [Al-Hijr/15:33-35]

Oleh karena itu Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Induk semua dosa ada tiga; kesombongan yang membuat iblis hancur dan ketamakan yang menyebabkan Nabi Adam Alaihissallam keluar dari surga serta hasad yang membuat salah seorang anak Adam membunuh saudaranya. Siapa yang berlindung dari tiga penyakit ini maka telah berlindung dari semua keburukan. Kekafiran berasal dari kesombongan, kemaksiatan berasal dari ketamakan dan sikap melampai batas dan zhalim berasal dari hasad.”[9]

Demikianlah sebagian sebab yang mendorong penyimpangan fitrah, Semoga Allâh Azza wa Jalla menjauhi kita dari semua penyimpangan fitrah dan sebab-sebabnya dan dimudahkan untuk kembali ke fitrah kita.

Billâhittaufîq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat, Syarah Sahîh Muslim, 16/208
[2] Syifâ al-‘Alîl, hlm. 285 dan Igâtsatul Lâhafân, 2/226-228
[3] Tafsîr Ibnu Katsîr, 5/208
[4] Lihat, Majmû’ al-Fatâwa, 27/286
[5] Syarh Shahîh Muslim, 16/219
[6] Majmû’ al-Fatâwa, 22/154
[7]  Majmû’ al-Fatâwa, 25/332
[8] Iqtidhâ as-Shirâtil Mustaqîm, 1/550
[9] Lihat, al-Fawâ`id 1/58

Kembalikan Hatimu Pada Fitrahnya!

KEMBALIKAN HATIMU PADA FITRAHNYA !

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Berbicara tentang hati berarti membicarakan tentang bagian tubuh manusia yang paling penting dan utama, karena baik atau buruknya seluruh anggota badan manusia tergantung dari baik atau buruknya hati.[1] Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.[2]

Di samping itu, hati merupakan tempat tumbuh kembangnya iman kepada Allâh Azza wa Jalla yang merupakan landasan utama kebaikan dan kemuliaan hidup seorang hamba di dunia dan akhirat. Ini berarti, mengusahakan perbaikan hati sama dengan mengusahakan perbaikan iman dan menyempurnakan pertumbuhannya.

Dalam hadits yang shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya iman di dalam hati bisa (menjadi) usang (lapuk) sebagaimana pakaian yang bisa usang, maka mohonlah kepada Allâh Azza wa Jalla untuk memperbaharui  iman yang ada di dalam hatimu.[3]

Bersamaan dengan itu, Allâh Azza wa Jalla dengan rahmat dan karunia-Nya yang sempurna kepada para hamba-Nya, Dia Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah yang lurus[4] (kecenderungan untuk mengenal dan mentauhidkan atau mengesakan Allâh Azza wa Jalla ) dan mudah menerima kebenaran. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [Ar-Rûm/30:30]

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla menjadikan pada akal manusia (kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allâh menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allâh (yang dimaksud dalam ayat di atas).

Barangsiapa keluar dari asal (fitrah) ini maka itu karena ada sesuatu yang mempengaruhi dan merusak fitrah tersebut, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi[5].[6]

Semua Manusia Dilahirkan Diatas Fitrah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi.”[7]

Dan dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ

 (Allâh Azza wa Jalla berfirman): Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”[8].

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa semua manusia dilahirkan di muka bumi ini dalam keadaan fitrah, yaitu cenderung untuk menerima Islam dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu  mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (iman dan tauhid kepada Allâh)” [Al-A’râf/7:172]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Radhiyallahu anhu berkata, “Makna yang benar dari (kata) fitrah dalam firman Allâh  (yang artinya), “fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu,” yaitu fitrah Islam. Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah itu ketika Dia berfirman kepada mereka, “Bukankah Aku ini Rabbmu?”, Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami)”. (Makna) fitrah ini adalah tersucikan atau terhindar dari keyakinan yang buruk dan (kecenderungan) menerima keyakinan yang benar (tauhid)”[9].

Imam Ibnu Katsir rahimhullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dalam keadaan mereka mempersaksikan terhadap diri mereka sendiri bahwa Allâh Azza wa Jalla adalah Rabb (yang Maha menciptakan dan memberi rezeki) serta maha menguasai (mengatur segala urusan) mereka, dan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menjadikan fitrah dan tabiat mereka (ketika lahir di dunia) di atas keyakinan tersebut.”[10]

Hakikat Hati yang Bersih dan Kotor
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan [Al-Muthaffifin/83:14]

Dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan makna ayat ini. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali), (tetapi) jika dosanya bertambah maka akan bertambah pula titik hitam tersebut. Itulah (makna) ar-rân (penutup hati) yang Allâh sebutkan dalam al-Qur’an, (yang artinya-red), “Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” [Al-Muthaffifin/83: 14]”[11]

Inilah hakikat hati yang kotor dan tertutup, yaitu hati yang diliputi oleh kotoran hitam seperti karat pada logam dan menutupinya sedikit demi sedikit, sehingga memadamkan cahayanya dan membutakan mata hatinya, serta membuatnya terhalang dari menerima kebenaran, bahkan menjadikannya memandang sesuatu dengan hal yang bertentangan dengan hakikatnya, maka dia menganggap kebenaran itu adalah kebatilan dan kebatilan itu adalah kebenaran.[12]

Tentu saja semua ini terjadi akibat dari fitnah (keburukan) yang selalu dibisikkan oleh syaitan ke dalam hati manusia dengan cara menghiasi keburukan hawa nafsu agar mereka selalu memperturutkannya.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhyillahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ الْقُلُوبُ عَلَى قَلْبَيْنِ قَلْبٌ أَبْيَضٌ مِثْلَ الصَّفَا لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَيَصِيرُ الآخَرُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Ditampakkan fitnah-fitnah di permukaan hati manusia seperti (anyaman) tikar sedikit demi sedikit. Maka hati yang menyerapnya akan dibubuhi satu titik hitam padanya, sedangkan hati yang mengingkarinya akan dibubuhi satu titik putih padanya. Sehingga (pada akhirnya) semua hati manusia akan (terbagi) menjadi dua macam: (pertama): hati yang putih (bersih dan kuat) seperti batu cadas, sehingga tidak akan dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada (sampai hari kiamat). Kedua: hati yang (berwarna) hitam keabu-abuan, seperti gelas yang miring atau terbalik (kebaikan tidak bisa menetap padanya), dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya.[13]

Makna hadits ini, seorang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, maka setiap maksiat yang dilakukannya membawa kegelapan dalam hatinya, sehingga dia selalu menyerap fitnah dan menjadi padam cahaya Islam dalam hatinya[14].

Inilah tujuan utama syaitan mengotori dan menutup hati manusia dengan godaan untuk mengikuti hawa nafsu yang buruk, yaitu agar hati manusia menjadi mati, sehingga tertutup dan berpaling dari fitrahnya yang lurus. Setelah itu, syaitan akan mudah mengombang-ambingkan manusia tersebut dalam kesesatan sesuai dengan kehendaknya, sebagaimana yang disebutkan pada akhir hadits di atas: “…dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya”.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Hati yang hidup dan sehat jika ditampakkan padanya keburukan-keburukan maka dia akan menjauhinya dengan sendirinya, membencinya dan tidak akan menoleh kepadanya. Berbeda dengan hati yang telah mati, hati ini tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana ucapan (Sahabat yang mulia) ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, “Binasalah orang yang tidak mempunyai hati untuk mengenal kebaikan dan mengingkari keburukan.”[15]

Jadi, hati yang kotor adalah hati yang telah dipalingkan oleh syaitan dari fitrahnya yang lurus dan bersih, sehingga menjadikannya berpaling dari petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan sulit menerima keindahan agama Islam. Inilah ciri hati yang tersesat dari jalan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allâh kehendaki untuk Allâh berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allâh kesesatannya, niscaya Allâh menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allâh menimpakan keburukan (azab) kepada orang-orang yang tidak beriman [Al-An’âm/6:125]

Kecenderungan Hati Untuk Mengenal yang Ma’ruf dan Mengingkari yang Mungkar
Allâh Azza wa Jalla menciptakan hati manusia di atas fitrah yang lurus, kemudian Dia Azza wa Jalla menurunkan syariat-Nya untuk membimbing hati manusia tersebut agar selamat dari tipu daya syaitan dan selalu di atas jalan yang lurus.

Oleh karena itu, pada asalnya hati manusia akan selalu cocok dan selaras dengan petunjuk Islam, bahkan hanya dengan mengenal dan mengamalkan petunjuk-Nya hati manusia akan merasakan kedamaian dan ketenangan yang hakiki. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tenteram [Ar-Ra’du/13:28].

Maksudnya, dengan berzikir kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati manusia akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih kuat (dalam) mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla .[16]

Jadi, pada asalnya, hati manusia lebih dahulu mengenal dan menerima kebenaran atau kebaikan, sedangkan keburukan adalah ‘pendatang baru’ yang kemudian menyusup ke dalam hati manusia.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ

Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa manusia tenang dan hatinya tenteram[17]

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa Allâh menciptakan para hamba-Nya di atas (fitrah cenderung) mengenal kebenaran, merasa tenang kepadanya dan menerimanya. Allâh Azza wa Jalla menjadikan tabi’at bawaan manusia (cenderung) mencintai kebenaran dan membenci kebalikannya (keburukan). Ini termasuk dalam makna hadits riwayat ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ““(Allâh Azza wa Jalla berfirman):

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ

Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”[18]

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menamakan hal-hal yang diperintahkan-Nya (dalam Islam) dengan ‘al-ma’rûf’ (sesuatu yang dikenal atau dicintai oleh hati) dan hal-hal yang dilarang-Nya dengan ‘al-munkar’ (kemungkaran atau sesuatu yang tidak dikenal dan dibenci oleh hati). Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allâh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan [An-Nahl/16:90]

Dan Dia Azza wa Jalla berfirman tentang sifat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (keburukan), serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk [Al-A’râf/7:157]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa hati orang-orang yang beriman selalu tenteram dengan berdzikir kepada-Nya. Hati yang telah dirasuki cahaya iman dan lapang menerimanya maka akan merasa tenang, tenteram dan (mudah) menerima kebenaran, serta selalu berpaling, membenci dan tidak mau menerima kebatilan (keburukan)”[19].

Upaya Mengembalikan Hati Pada Fitrahnya
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang telah kami sebutkan sebelumnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan cara untuk mengembalikan hati pada fitrahnya dan membersihkan kotoran hitam yang menutupi permukaannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali).[20]

Jadi, upaya untuk mengembalikan hati pada fitrahnya adalah dengan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu dengan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, serta berusaha memahami petunjuk-Nya yang memang tujuan utama Allâh Azza wa Jalla menurunkannya kepada manusia adalah untuk menyucikan jiwa mereka dan membersihkan penyakit hati mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allâh telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, mensucikan (diri) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [Ali ‘Imrân/3:164]

Makna firman-Nya “menyucikan (diri) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran penyakit hati dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allâh Azza wa Jalla ).[21]

Al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyakit hati yang diturunkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembuhkan dan menghilangkan semu bentuk keburukan dan penyakit yang ada di dalam hati manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57].

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan-Nya kepada para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia, karena di dalamnya terdapat nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat, penyembuh bagi penyakit hati, yaitu kelemahan iman, keragu-raguan dan kerancuan dalam memahami agama, serta penyakit syahwat yang merusak hati. Juga terdapat petunjuk, yaitu bimbingan bagi orang yang merenungkan, memahami, dan mengikuti al-Qur’an ke jalan yang mengantarkannya kepada surga, serta sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla yang terkandung di dalamnya.[22]

Setelah kita memahami bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyembuh dari penyakit hati manusia dan di dalam ayat-ayatnya terdapat sebaik-baik nasehat dan peringatan untuk menghilangkan kotoran hitam yang menutupinya, sehingga hati akan mudah kembali kepada fitrahnya, maka berdasarkan pengamatan dan perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa cara dan kiat untuk membersihkan kotoran penyakit hati dan mengembalikannya kepada fitrahnya, terdapat dalam tiga poin utama, yaitu:

  1. Berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla
  2. Menghilangkan al-gaflah (kelalaian hati)
  3. Melakukan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa untuk menundukannya di jalan Allâh Azza wa Jalla )

Semua ini terangkum dalam ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

اَلْمَحْبُوْسُ مَنْ حُبِسَ قَلْبُه عَنْ رَبِّهِ تعالى وَالْمَأْسُوْرُ مَنْ أَسِرَه هَواهُ

Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara hatinya dari Rabb-nya (Allâh) k , dan orang yang tertawan (terbelenggu) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya[23]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua (keburukan dan kesesatan) bersumber dari kelalaian hati dan memperturutkan hawa nafsu, karena dua sifat buruk inilah yang memadamkan cahaya dan membutakan mata hati.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari berdzikir (mengingat) Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas (rusak dan buruk) [Al-Kahfi/18:28][24]

Kemudahan dan Taufik Dari Allah wa Jalla
Semua kebaikan ada di tangan Allâh Azza wa Jalla dan Dia-lah yang maha kuasa untuk membukakan pintu-pintu kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menghalanginya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Maka memohon kemudahan dan taufik dari Allâh Azza wa Jalla adalah sebab yang paling utama untuk meraih segala kebaikan.

Dalam hadits qudsi yang shahih, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَاعِبَادِي ، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ

Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk (taufik) kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian[25]

Allâh Azza wa Jalla Maha Pemurah, luas rahmat (kasih sayang)-Nya dan berlimpah kebaikan-kebaikan-Nya. Kebaikan terbesar dari-Nya di dunia ini adalah taufik untuk meniti jalan keridhaan-Nya dan kembalinya hati manusia pada fitrah kebaikannya. Maka kebaikan besar ini tidak mungkin dihalangi-Nya dari para hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allâh amat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan [Al-A’râf/7:56]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla mempunyai nama-nama yang maha indah dan menunjukkan makna sempurna dan luas-Nya kebaikan yang Dia Azza wa Jalla limpahkan kepada para hamba-Nya. Misalnya: al-Muhsin (Maha berbuat kebaikan kepada para hamba-Nya), al-Barr (Maha melimpahkan kebaikan), al-Wahhab (Maha Pemberi anugerah yang berlimpah), al-Mannan (Maha Pemberi karunia yang luas), al-Fattah (Maha Pembuka pintu-pintu kebaikan) dan lain-lain.

Di samping itu, bentuk kemudahan lain dari Allâh Azza wa Jalla , selain kecenderungan hati manusia untuk mudah menerima kebenaran, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, adalah petunjuk-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an yang sangat dimudahkan memahaminya bagi orang-orang yang mau mempelajarinya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran (petunjuk kebaikan), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (darinya)? [Al-Qamar/54:17]

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Makna ayat ini: Sungguh Kami telah mudahkan al-Qur’an yang mulia, dalam lafazhnya untuk dihafalkan dan disampaikan (kepada orang lain), juga dalam (kandungan) maknanya untuk dipahami dan dimengerti. Karena al-Qur’an adalah perkataan yang paling indah lafazhnya, yang paling benar (kandungan) maknanya, dan paling jelas penafsirannya. Maka setiap orang yang menghadapkan diri (bersungguh-sungguh mempelajari)nya, Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dan meringankannya (untuk mencapai) tujuan tersebut…

Salah seorang Ulama salaf mengomentari ayat ini dengan berkata, “Apakah ada orang yang (mau bersungguh-sungguh) menuntut ilmu (mempelajari al-Qur’an) sehingga Allâh akan menolongnya?”

Oleh karena itu, Allâh mengajak (memotivasi) para hamba-Nya untuk menghadapkan diri dan (bersungguh-sungguh) mempelajari al-Qur’an, dalam firman-Nya (di akhir ayat ini):

فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

… Maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?[26]

Penutup
Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya, utamanya nikmat taufik dan kemudahan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia Azza wa Jalla memudahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk menempuh jalan keridhaan-Nya. Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala maha mendengar lagi maha mengabulkan do’a.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîhi Muslim, 11/29
[2] HSR. Al-Bukhâri, no. 52 dan Muslim, no. 1599
[3] HR. Al-Hâkim, 1/45, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Imam al-Haitsami dan Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah,  no. 1585
[4] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 3/572
[5] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[6] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 640
[7] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[8] HSR. Muslim, no. 2865
[9] Kitab Majmû’ al-Fatâwâ, 4/245
[10] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 2/347
[11] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hâkim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani
[12] Lihat Fathul Qadîr, 5/565; Aisarut Tafâsîr, 4/378; Dan Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 915
[13] HSR. Muslim, no. 144
[14] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîh Muslim, 2/173
[15] Kitab Igâtsatul Lahfân, 1/20
[16] Lihat kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 417
[17] HR. Ahmad, 4/194. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 251 dan Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 2881).
[18] HSR. Muslim, no. 2865
[19] Kitab Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 253
[20] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 dan Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
[21] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, 1/267
[22] Lihat kitab Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/553 dan Fathul Qadîr, 2/656
[23] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 67
[24] Kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 56
[25] HSR. Muslim, no. 2577
[26] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 825

Islam Tetap Terjaga

ISLAM TETAP TERJAGA

Islam diturunkan Allâh Azza wa Jalla untuk seluruh manusia, dimanapun mereka berada. Islam tidak hanya berlaku di Arab saja atau ditempat-tempat tertentu lainnya. Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam al-Qur’an tentang Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang diutus membawa agama yang hanif ini:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua [al-A’râf/7:158]

Para Ulama Ahli tafsir dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum dan Tabi’in, seperti ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dan Imam Qatadah al-Bashri menafsirkan ayat di atas bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada semua golongan manusia dan jin, baik dari kalangan bangsa ‘Arab maupun ‘Ajam (selain bangsa Arab).

Bahkan ini merupakan salah satu keistimewaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada Nabi kita. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dulu para Nabi q diutus kepada kaumnya sendiri sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia [HR. Al-Bukhâri, 1/128 dan Muslim, no. 521]

Oleh karena itu, dalam Islam, keutamaan dan kemuliaan di sisi Allâh Azza wa Jalla bukan ditentukan dengan suku bangsa atau golongan tertentu. Ketakwaan dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , itulah yang menentukannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla berfirman al-Qur’an Surat al-Hujurat ayat ke-13.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ عَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Ketahuilah bahwa tidak ada keutamaan bagi orang ‘Arab di atas orang ‘Ajam (non ‘Arab), tidak keutamaan bagi orang ajam di atas orang arab, juga bagi yang berkulit merah di atas yang berkulit hitam atau bagi yang berkulit hitam di atas yang berkulit merah kecuali dengan sebab ketakwaan. [HR. Ahmad, 5/411 dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 2700].

Karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk semua manusia, berarti syari’at yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa juga berlaku bagi semua orang yang masih hidup sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hingga hari kiamat. Oleh karena itu, barangsiapa yang telah sampai kepadanya ajakan untuk mengikuti agama Islam kemudian dia menolaknya, maka dia termasuk penghuni neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allâh yang jiwaku (ada) di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini mendengarkan (sampai kepadanya) tentang aku (syariat Islam yang aku bawa), baik dia orang yang beragama Yahudi atau Nashrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan agama yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka (di akhirat nanti). [HR. Muslim, no. 153]

Itulah diantara keistimewaan Islam yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yangdilanjutkan oleh para Sahabat, tabi’in dan tabi’in serta orang-orang yang terus mengikuti mereka sampai hari kiamat. Ajarannya akan tetap terjaga, meskipun musuh terus berusaha merusaknya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan keistiqamahan di atas Islam kepada kita sampai kematian datang menjemput.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]