Category Archives: A7. Wabah Penyakit dan Kesehatan

Terapi Sihir dan Gangguan Jin

TERAPI SIHIR DAN GANGGUAN JIN

Sihir adalah Ajimat, mantera dan simpul ramuan yang memberikan dampak terhadap jiwa dan raga.

Sihir dengan seluruh jenisnya merupakan tindakan kehjahatan, kezaliman, permusuhan dan melanggar hak-hak manusia; raga, harta, akal dan jalinan hubungan dengan orang lain.

Kesurupan adalah: Penguasaan jin terhadap manusia.

Hubungan antara Manusia dan Jin.
Jin adalah makhluk hidup yang berakal, mereka juga mendapat perintah dan larangan Allah, mereka juga melakukan ketaatan dan maksiat dan mereka juga mendapat pahala dan siksa.

Barangsiapa yang mengajak manusia atau jin untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya mendakwahi mereka atau amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap mereka maka dia adalah wali Allah yang mulia.

Barangsiapa yang memanfaatkan jin untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan rasul-Nya, seperti tujuan kesyirikan, membunuh nyawa yang tak berdosa, menyakiti orang, atau perzinahan sesungguhnya orang tersebut telah meminta pertolongan jin dalam hal dosa dan permusuhan.

Barangsiapa yang meminta bantuan jin dengan sangkaan bahwa hal itu adalah kekeramatan maka sesungguhnya orang tersebut telah tertipu oleh jin.

Barangsiapa yang memanfaatkan jin untuk hal yang mubah, seperti kerja bangunan, memindahkan barang, dan hal-hal yang mubah, hukumnya sama dengan mempekerjakan manusia untuk hal yang mubah.

Sebab-sebab Kerasukkan Jin.
Jin merasuk ke dalam tubuh manusia secara langsung yang karena beberapa sebab dari jin, diantaranya: hawa nafsu, jin itu jatuh cinta terhadap orang tersebut, sama halnya dengan manusia. Atau karena benci atau balas dendam terhadap orang yang menzalimi dan menyakitinya dengan cara membunuh anggota keluarga jin atau menuangkan air panas, atau mengencingi jin. Atau jin masuk tanpa sebab apapun yang jelas kecuali sekedar keinginan mengganggu seseorang.

Dua bentuk terapi dari Sihir dan Kesurupan.
1. Apabila diketahui tempat penyimpanan racikan sihir maka ambillah dan musnahkan, dengan izin Allah pengaruh sihirnya menjadi hilang. Ini adalah terpai yang paling ampuh untuk mengobati orang yang terkena sihir.

Tempat penyimpanan ramuan sihir dapat diketahui melalui mimpi atau Allah memberikan petunjuk kepadanya sehingga dimudahkan mencarinya atau melalui pengkuan jin saat orang yang terkena sihir dibacakan ruqyah syar’iyyah lalu jin menuturkan dan memberitahu kepadanya tempat penyimpanannya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- سُحِرَ حَتَّى كَانَ يَرَى أَنَّهُ يَأْتِي النِّسَاءَ وَلا يَأْتِيهِنَّ. قال سفيان: وهذا أشد ما يكون من السحر إذا كان كذا، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، أَعَلِمْتِ أَنَّ الله قَدْ أَفْتَانِي فِيْمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ. فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بنُ الأَعْصَمِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ كَانَ مُنَافِقاً، قَالَ: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ» قَالَتْ: فَأَتَى النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- البِئْرَ حَتَّى اسْتَخْرَجَهُ… متفق عليه.

Diriwayatkan dari `Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata: “Seseorang telah menyihir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau sering merasa telah menggauli isterinya tetapi sebetulnya beliau tidak melakukannya, – Sufyan berkata: ini adalah jenis sihir yang paling berat apabila sudah sampai pada tingkatan ini-.  Maka beliau bersabda,” Hai, ‘Aisyah! Apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah menjawab do`aku? Dua orang laki-laki datang –salah seorang dari keduanya duduk di arah kepalaku dan yang lainnya duduk di arah kakiku, salah seorang dari mereka berkata,”Apakah yang diderita oleh orang ini”? Temannya menjawab, “Dia terkena sihir”, lalu dia bertanya kembali: “Siapakah yang menyihirnya?”, Temannya menjawab,” Lubaid bin Al A`sham dari bani Zuraiq sekutu Yahudi dan dia adalah seorang munafiq”, lalu bertanya lagi: “Dengan apa dia menyihirnya?”, Temannya menjawab: “Dengan beberapa helai rambut yang gugur saat disisir dan penutup arai kurma”, lalu bertanya lagi: “Dimanakah ramuan tersebut disimpannya?”, Temannya menjawab: “Di sumur Zarawan,” lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa sahabatnya mendatangi tempat tersebut dan menemukan ramuan itu”. Muttafaq alaih. [1]

2. Bila tempat ramuan sihir tidak diketahui maka terapi dapat dilakukan dengan cara berikut ini:
Membacakan ruqyah syar’iyyah. Dinamakan ruqyah syr’iyyah apabila telah memenuhi tiga syarat: Bacaan ruqyah tersebut berasal dari Al Quran karena Al Quran adalah penawar dari segala penyakit jiwa dan raga, atau Sunah rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus berbahasa arab, atau bahasa lain yang dimengerti maknanya, dan harus meyakini bahwa tidak ruqyah itu tidak bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya melainkan dengan qudrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengobatan syar’i yang lain adalah dengan madu lebah, kurma ‘ajwa’, jintan hitam, berbekam dan lain-lain.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الشِّفَاءُ فِي ثَلاثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ، وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ».

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kesembuhan itu pada ada tiga hal: berbekam, minum madu atau pengobatan dengan besi panas, akan tetapi aku melarang umatku berobat dengan besi panas”. Muttafaq alaih. [2]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرُّهُ ذَلِكَ اليَومَ سُمٌّ وَلا سِحْرٌ». متفق عليه. وفي رواية لمسلم: «مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لابَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِيَ».

Dari Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ‘Ajwa’ di pagi hari niscaya dia tidak akan terkena racun dan sihir di hari itu”. Muttafaq alaih. [3]

Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa siapa yang memakan tujuh butir kurma Madinah di waktu pagi niscaya dia tidak akan terkena racun hingga sore harinya”.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ فِي الحَبَّةِ السَّودَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إلَّا السَّامَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya pada jintan hitam terdapat kesembuhan dari segala penyakit kecuali mati”. Muttafaq alaih. [4]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ احْتَجَمَ لِسَبْعَ عَشْرَةَ، وَتِسْعَ عَشْرَةَ، وَإحْدَى وَعِشْرِينَ كَانَ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ ».أخرجه أبو داود.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berbekam pada tanggal tujuh belas, sembilan belas dan dua puluh satu (pada bulan-bulan Qamariyah) niscaya dia sembuh dari seluruh penyakit. HR. Abu Daud. [5]

Membaca Ruqyah.
Hendaklah orang yang akan membaca ruqyah berwudhu terlebih dahulu, lalu mulailah mebaca ruqyah di atas dada si sakit, atau di salah satu anggota tubuhnya. Ayat dibaca dengan tartil lalu ditiupkan kepada orang yang sakit. Di antara ayat-ayat yang dibaca: Surat Al Fatiha, Ayat Kursy, Ayat-ayat terakhir surat Al Baqarah, surat Al Kafiruun, surat Al Ikhlas, surat Al Falaq, surat An Naas dan ayat-ayat tentang jin dan sihir, diantaranya:

وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ١١٧ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١١٨ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ١١٩ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ١٢٠ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٢١ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ [الاعراف: ١١٦،  ١٢١] 

Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun” [Al A’raaf/7: 117- 122].

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ٧٩ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ٨٠ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٨١ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ [يونس : ٧٩،  ٨٢] 

Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.” Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). [Yunus/10: 79- 82] .

قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ ٦٥ قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ ٦٦ فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ ٦٧ قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٦٨ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ [طه: ٦٥،  ٦٩] 

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. [Thaaha/20: 65- 69] .

وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ [البقرة: ١٠٢] 

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.[Al Baqarah/2: 102].

وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ١ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ٢ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ٣ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ٤ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ٥ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ ٦ وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ ٧ لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ وَيُقۡذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٖ ٨ دُحُورٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ٩ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ [الصافات : ١،  ١٠] 

Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. [Ash- Shaffaat/37: 1-10] .

وَإِذۡ صَرَفۡنَآ إِلَيۡكَ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ ٢٩ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٣٠ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ وَءَامِنُواْ بِهِۦ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ٣١ وَمَن لَّا يُجِبۡ دَاعِيَ ٱللَّهِ فَلَيۡسَ بِمُعۡجِزٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَيۡسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءُۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ [الاحقاف: ٢٩،  ٣٢] 

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [Al Ahqaaf/46: 29- 32].

يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ ٣٣ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ٣٤ يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٞ مِّن نَّارٖ وَنُحَاسٞ فَلَا تَنتَصِرَانِ ٣٥ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ [الرحمن: ٣٣،  ٣٦] 

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? [Ar Rahman/55: 33- 36].

وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ لَمَّا سَمِعُواْ ٱلذِّكۡرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُۥ لَمَجۡنُونٞ ٥١ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ [القلم: ٥١،  ٥٢] 

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. [Al Qalam/68: 51- 52].

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ [المؤمنون : ١١٥] 

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Al Mukminun/23: 115].

Lalu bacalah doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5765 dan Muslim no hadist : 2189.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5681 dan Muslim no hadist : 2205.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5769 dan Muslim no hadist : 2047.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5688 dan Muslim no hadist : 2215.
[5] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3861.

Terapi ‘Ain

TERAPI ‘AIN

‘Ain adalah suatu pengaruh buruk yang muncul dari diri orang yang dengki, terkadang menimpa orang yang dimaksud dan terkadang tidak, andai pengaruh buruk tersebut tidak mendapat hambatan dia akan mengenai sasaran, andai orang yang dimaksud memiliki penangkal maka ‘Ain tidak akan menimpanya.

‘Ain yang menimpa manusia disebabkan kedengkian orang yang memiliki ‘Ain, atau dia begitu takjub serta lupa berzikir kepada Allah, maka saat itulah jin mengikutinya.

Cara kerja ‘Ain.
Orang yang memiliki ‘Ain melepaskan maksudnya kepada seseorang yang diinginkannya tanpa berzikir kepada Allah, maka dalam waktu yang sama jin datang dan meneruskan maksud orang yang memiliki ‘Ain itu untuk membinasakan atau menyakiti orang tersebut dengan seizin Allah, sementara (pada saat yang sama) orang yang dimaksud tidak memiliki benteng diri.

Orang yang terkena ‘Ain dalam dua kondisi.
1. Dia mengetahui orang yang melepaskan ‘Ain, maka mintalah orang tersebut untuk mandi dan hendaklah orang yang memiliki ‘Ain itu memenuhi permintaan saudaranya, karena hal itu merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, lalu bekas air mandi orang yang melepaskan ‘Ain itu disiramkan ke bagian belakang tubuh orang yang terkena ‘Ain secara sekaligus, dengan izin Allah dia akan sembuh.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «العَيْنُ حَقٌّ، وَلَو كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ القَدَرَ سَبَقَتْهُ العَينُ، وَإذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا». أخرجه مسلم

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “`Ain benar-benar ada, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului takdir tentulah `Ain akan mendahuluinya, bila salah seorang kalian diminta untuk mandi maka lakukanlah!” HR. Muslim. [1]

Cara mandi.

 عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف أن أباه حدثه أَنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ وَسَارُوا مَعَهُ نَحْوَ مَكَّةَ..-وَفِيهِ- فَلُبِطَ بِسَهْلٍ، فَأُتِيَ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ الله، هَلْ لَكَ فِي سَهْلٍ وَالله مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَمَا يُفِيقُ، قَالَ: «هَلْ تَتَّهِمُونَ فِيهِ مِنْ أَحَدٍ؟» قَالُوا: نَظَرَ إلَيهِ عَامِرُ بنُ رَبِيعَةَ، فَدَعَا رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- عَامِراً فَتَغَيَّظَ عَلَيهِ وَقَالَ: «عَلامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ؟ هَلَّا إذَا رَأَيْتَ مَا يُعْجِبُكَ بَرَّكْتَ» ثُمَّ قَالَ له: «اغْتَسِلْ لَهُ» فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيهِ وَمِرْفَقَيْهِ وَرُكْبَتَيهِ وَأَطْرَافَ رِجْلَيْهِ وَدَاخِلَةَ إزَارِهِ فِي قَدَحٍ ثُمَّ صَبَّ ذَلِكَ المَاءَ عَلَيهِ يَصُبُّه رَجُلٌ عَلَى رَأْسِهِ وَظَهْرِهِ مِنْ خَلْفِهِ، ثُمَّ يُكْفِئُ القَدَحَ وَرَاءَهُ، فَفَعَلَ به ذَلِكَ فَرَاحَ سَهْلٌ مَعَ النَّاسِ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ. أخرجه أحمد وابن ماجه.

Dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif, ia berkata,” Bapakku Sahal bin Hanif pergi bersama rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ke Mekkah … mendadak Sahal jatuh sakit meriang, dan panasnya semakin tinggi, sehingga ia tidak kuasa menggerakkan kepalanya, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diberitahu, beliau bersabda: “Apakah kalian mencurigai seseorang? Para sahabat berkata: ” `Amir bin Rabi`ah,” kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memanggil `Amir, dan memarahinya, seraya bersabda: “Atas dasar apa salah seorang kalian membunuh saudaranya! Kenapa tidak engkau do’akan keberkahan untuknya? “(Hai `Amir), mandilah!” lalu `Amir membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, kedua kaki hingga lutut dan membasuh antara pusar dan lutut dalam sebuah bejana, kemudian air bekas mandi tersebut disiramkan ke bagian belakang Sahal (kepala dan punggung) , seketika itu juga Sahal sembuh dan berjalan bersama para shahabat seakan tidak terjadi apa-apa.” [2]

2. Jika tidak diketahui orang yang menularkan ‘Ain, maka lakukan ruqyah terhadap orang yang terkena ‘Ain dengan bacaan Al quran dan do’a-do’a yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh husnuzzan kepada Allah, yakin bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah semata, yakin bahwa Al Quran adalah penawar. Adapun bacaan ruqyah tersebut sebagai berikut:

Surat Al Fatiha, Ayat Kursy, Ayat-ayat terakhir surat Al Baqarah, surat Al Ikhlas, surat Al Falaq dan surat An Naas, lalu ayat-ayat berikut:

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ [البقرة: ١٣٧] 

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah/2: 137].

وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَيُزۡلِقُونَكَ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ لَمَّا سَمِعُواْ ٱلذِّكۡرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُۥ لَمَجۡنُونٞ [القلم: ٥١] 

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. [Al Qalam/68: 51]

أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا [النساء : ٥٤] 

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. [An Nisaa/4: 54] .

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا [الاسراء: ٨٢] 

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. [Al Israa/17: 82].

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ [فصلت: ٤٤] 

Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.[Fushshilat/41: 44].

Dan ayat-ayat lainnya.

Kemudian bacalah doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  diantaranya:

اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اِشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِيْ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

(Ya Allah, Tuhan manusia hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit)”. Muttafaq ’alaih. [3]

بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ رَوَاهُ مُسلِمٌ.

(Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah bagimu dari segala yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu ). HR. Muslim. [4]

بِسْمِ اللَّهِ يُبْرِيْكَ، مِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِيْ عَيْنٍ رَوَاهُ مُسلِمٌ.

(Dengan nama Allah Yang menyembuhkanmu, dari segala penyakit Dia yang menyembuhkanmu, dari kejahatan orang yang dengki, dan dari kejahatan orang memiliki ‘Ain”. HR. Muslim. [5]

امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، بِيَدِكَ الشِّفَاءُ، لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ أخرجه البخاري.

“Hilangkanlah penyakitnya, ya Allah! Kesembuhan hanya berada di TanganMu, tidak ada yang mampu menghilangkan penyakit kecuali Engkau. HR. Bukhari. [6]

أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ أخرجه البخاري.

(Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang maha Sempurna dari setan dan binatang berbahaya dan dari kejahatan ‘Ain ) HR. Bukhari. [7]

أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ ، وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِيْ أخرجه أبو داود والترمذي.

(Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang maha Sempurna dari murka dan siksaNya dan dari kejahatan hambaNya, dan dari gangguan setan yang mendatangiku) HR. Abu Daud dan Tirmizi . [8]

أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ ما خَلَقَ أخرجه مسلم.

((Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang maha Sempurna dari segala kejahatan makhluk-Nya). HR. Muslim. [9]

Membaca“Bismillah”3x. Lalu membaca:

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

(Aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang kudapatkan dan yang kurasakan dan yang kutakutkan) HR. Muslim. [10]

dibaca 7x sambil meletakkan tangan pada bagian yang sakit:

Membaca sejumlah 7 x:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

 (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan pemilik Arsy yang agung agar ia menyembuhkanmu),. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [11]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2188.
[2] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 16076 dan Ibnu Majah no hadist : 3509.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5743 dan Muslim no hadist : 2191.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2186.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2185.
[6] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 5744.
[7] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 3371.
[8] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 3893 dan Tirmizi  no hadist : 3528.
[9] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2709.
[10] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2202.
[11] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 3106 dan Tirmizi no hadist 2083.

Keutamaan Ilmu Kedokteran

KEUTAMAAN ILMU KEDOKTERAN, APAKAH DOKTER JAGA TERMASUK DI DALAM HADITS “MATA YANG TERJAGA UNTUK MENJAGA DI JALAN ALLAH” 

Pertanyaan
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

عينان لاتمسهما النار، عين بكت من خشية الله، وعين باتت تحرس في سبيل الله

Kedua mata tidak tersentuh api neraka; mata yang nangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga untuk menjaga di jalan Allah

Maka apakah pekerjaan dokter di rumah sakit dan giliran piketnya dan bermalam di rumah sakit termasuk dalam hadits ini ?, atau termasuk dianggap seperti para penjaga di perbatasan selama berada di dalam jadwal piketnya ?, saya berharap agar anda menjelaskan keutamaan aktifitas dokter ?,  termasuk menyebutkan keuatamaannya dari sisi keagamaan; karena saya mulai merasa bahwa profesi saya ini banyak menyita waktu dan saya mulai tidak nyaman, saya berharap agar disebutkan keutamaan yang menjadikan saya bersemangat pada profesi saya dan menyukainya, dan mohon doanya untuk saya…

Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama: Penjelasan makna dari mata yang terjaga untuk menjaga di jalan Allah
Tirmidzi (1639) telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  وصححه الألباني في صحيح الترمذي

Kedua mata tidak tersentuh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga menjaga di jalan Allah”. (Telah ditashih oleh Albani di dalam Shahih Tirmidzi)

Al Hakim di dalam Al  Mustadrak (2431) telah meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

حرم على عينين أن تنالهما النار: عين بكت من خشية الله، وعين باتت تحرس الإسلام وأهله من أهل الكفر   وقال الألباني في “صحيح الترغيب والترهيب” (1233): “صحيح لغيره

Telah diharamkan bagi kedua mata untuk mendapatkan neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga menjaga Islam dan pemeluknya dari orang-orang kafir”. (Albani berkata di dalam Shahih Targhib wa Tarhib: 1233 hadits ini shahih li ghairihi)

Maksud dari Al Hirasah adalah menjaga di perbatasan untuk berjihad.

Disebutkan di dalam Dalilul Falihin: 7/106: “Mencakup orang yang menjaga pasukan dari musuh, dan orang yang menjaga perbatasan untuk bersiaga di situ”.

Disebutkan di dalam Mirqatul Mafatih (6/2479): “(Dan mata yang terjaga menjaga) dan dalam riwayat lain mengintai di jalan Allah, hal itu termasuk derajat ibadahnya para mujahid dan hal itu mencakup dalam haji, mencari ilmu, jihad, atau ibadah dan yang paling nampak adalah bahwa yang dimaksud penjaga untuk para mujahid yang menjaga mereka dari orang-orang kafir”.

Kami belum menemukan orang yang menjadikan dokter jaga termasuk dalam kategori ini, akan tetapi mereka menyebutkan haji, mencari ilmu karena keduanya termasuk di jalan Allah.

Kedua: Kedokteran adalah ilmu paling mulia setelah ilmu syari’ah
Kedokteran adalah ilmu paling mulia setelah ilmu syari’ah karena termasuk menjaga kesehatan tubuh.

Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi telah meriwayatkan di dalam Adabus Syafi wa Manaqibihi: 244 dari Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Aku telah mendengar Syafi’i berkata: “Sungguh ilmu itu ada dua: ilmu agama, dan ilmu dunia. Ilmu yang untuk agama ini adalah ilmu fikih dan ilmu yang untuk dunia adalah kedokteran. Dan selain itu ilmu syair dan yang lainnya adalah kepenatan dan aib”.

Dan telah diriwayatkan juga dari beliau: “Janganlah kalian tinggal di negara yang tidak ada seorang ulama yang berfatwa tentang agamamu, dan juga tidak ada dokter yang menjelaskan urusan fisikmu”.

Adz Dzahabi telah menukil dalam biografi As Syafi’i dari Syar A’lam Nubala’ (10/57): “Saya tidak mengetahui ilmu setelah ilmu halal dan haram, yang lebih mulia dari pada kedokteran, hanya saja ahli kitab telah telah mengalahkan kita semua”.

Harmalah berkata: “Bahwa Syafi’i telah menekankan kedokteran yang telah ditelantarkan oleh umat Islam, beliau berkata: “Mereka telah menelantarkan 1/3 ilmu dan telah mewakilkannya kepada orang-orang yahudi dan nasrani”.

Seorang dokter jika niatnya baik maka akan diberi pahala yang besar; karena perbuatannya termasuk dalam kategori ihsan, mengurai permasalahan, bermanfaat bagi manusia, disertai dengan kesabaran dan pengorbanan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ آل عمران/134

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. [Ali Imran/3:134]

Firman Allah yang lain:

هَلْ جَزَاءُ الإِحْسَانِ إِلَّا الإِحْسَانُ الرحمن /60

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. [Ar Rahman/55: 60]

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ . وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِوَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ . وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ،  وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ رواه مسلم (2699

Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari  kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah  akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya. Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah–rumah Allah (masjid), membaca kitabullah, saling mengajarkan di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat dan dinaungi oleh para malaikat serta Allah akan menyebut–nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisiNya. Barangsiapa yang lambat dalam beramal, sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya”. (HR. Muslim: 2699)

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

أحب العباد إلى الله تعالى أنفعهم لعياله  أخرجه عبد الله بن أحمد في زوائد الزهد، وحسنه الألباني في صحيح الجامع.

Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat kepada keluarganya”. (HR. Abdullah bin Ahmad di dalam Zawaid az Zuhdi dan telah dihasankan oleh Albani di dalam Shohih Al Jami’)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أحبُّ الناسِ إلى الله أنْفَعُهم لِلنَّاسِ، وأحبُّ الأعْمالِ إلى الله عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدْخِلُه على مسلمٍ، تَكْشِفُ عنه كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عنه دَيْناً، أوْ تَطْرُدُ عنه جُوعاً، ولأَنْ أَمْشي مَعَ أخٍ في حاجَة؛ أحَبُّ إليَّ مِنْ أنْ أعْتَكِفَ في هذا المسجِدِ -يعني مسجدَ المدينَةِ- شَهْراً، ومَنْ كَظَم غيْظَهُ- ولو شاءَ أنْ يُمْضِيَهُ أمْضاهُ-؛ ملأَ الله قلْبَهُ يومَ القيامَةِ رِضاً، ومَنْ مَشى مَع أخيه في حاجَةٍ حتى يَقْضِيَها له؛ ثَبَّتَ الله قدَميْه يومَ تزولُ الأقْدامُ رواه ابن أبي الدنيا في قضاء الحوائج، وحسنه الألباني في “صحيح الجامع“.

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai oleh Allah –‘azza wa jalla- adalah kebahagiaan yang kamu masukkan kepada seorang muslim, melapangkan kesulitannya, membayarkan hutangnya, menjadikannya kenyang, dan aku berjalan bersama seorang saudara dalam urusan tertentu, lebih aku senangi dari pada beri’tikaf di masjid ini –masjid Madinah- selama satu bulan, dan barang siapa yang menyembunyikan kemarahannya –jika ia mau melampiaskannya ia bisa melampiaskannya-; maka Allah akan mengisi hatinya pada hari kiamat dengan keridhoan, dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk sebuah urusan tertentu sampai ia menyelesaikannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya pada hari di mana semua kaki tergelincir”. (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Qadha’ul Hawaij, dan telah dihasankan oleh Albani dalam Shahih al Jami’)

Maka renungkanlah kondisi anda sekarang, dan ikhlaskanlah niat anda untuk Allah  berharaplah kebaikan dari-Nya –subhanah-, anda berada pada misi dan amal yang paling mulia, dan janganlah anda lupa bagianmu untuk berbagai macam ibadah dan dzikir, membaca Al Qur’an, karena hal itu menjadi bekal menuju Rabbul ‘Alamin.

Wallahu A’lam

RefrensiSoal Jawab Tentang Islam

Dokter dan Perawat Memperoleh Keutamaan Menjenguk Orang Sakit?

APAKAH DOKTER DAN PERAWAT MEMPEROLEH KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT?

Pertanyaan
Ada pertanyaan mengenai hadits yang diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata :

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ , وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang Muslim menjenguk Muslim yang lainnya pada pagi hari, kecuali akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari. Jika dia menjenguknya pada sore hari, maka dia akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan kebun di surga kelak.’

Apakah hadits ini shahih ? Apakah hadits ini berlaku hanya pada orang yang mengunjungi kaum Muslimin yang sakit di rumah mereka ? Dan tidak berlaku bagi tenaga medis, terutama para dokter dan perawat yang mengobati orang sakit di rumah sakit yang mana mereka melakukan itu sebagai tuntutan profesi mereka dan tidak bertujuan untuk mengunjungi kaum Muslimin yang sakit. Bagaimanakah dapat memberlakukan hadits ini sehingga mendapat pahala ?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama. Abu Daud, no. 3099, dan Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/47-48) dan lainnya meriwayatkan,

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُإِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ، فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ  .

Dari Ali, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila seorang laki-laki berkunjung kepada saudaranya yang muslim, maka seakan-akan dia berjalan di kebun surga hingga duduk. Apabila sudah duduk, maka diguyuri rahmat dengan deras. Apabila berkunjung di pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya, agar mendapat rahmat hingga sore. Apabila berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi.’”

Setelah hadits no. 3100, Abu Daud berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari Ali dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dengan riwayat yang shahih.”

Hadits ini berbeda-beda perawinya. Ada yang yang meriwayatkan secara Marfu’ sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada yang meriwayatkan secara Mauquf dan merupakan perkataan Ali Radhiyallahu ‘Anhu.

Setelah hadits no. 969, At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari Ali tidak hanya satu arah. Ada yang meriwayatkannya secara Mauquf dan tidak meriwayatkannya secara Marfu’.”

Para Muhaqqiq (peneliti) kitab Musnad mengatakan, “Hadits ini shahih secara Mauquf. Para perawinya tsiqah, merupakan para perawi hadits As-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim). Akan tetapi berbeda dari sisi Mauquf dan Marfu’nya. Riwayat yang Mauquf lebih shahih.”

Berdasarkan pendapat yang menguatkan ke-Mauquf-an hadits ini, maka hadits ini memiliki hukum Marfu’, karena hal seperti ini tidak bisa dikomentari dengan rasio (akal) sebab termasuk pengetahuan terhadap yang gaib.

Al-Hafizh Ibu Hajar Rahimahullah mengatakan. “Kemudian contoh Marfu’ yang tidak tegas tapi hanya secara hukum saja, seperti sahabat yang tidak mengambil riwayat Isra’iliyyat mengatakan sesuatu (dengan ketentuan): bukan termasuk perkara ijtihad, tidak berkaitan dengan pembahasan secara bahasa atau menjelasakan kata yang asing, pengabaran tentang berita-berita zaman dahulu seperti awal permulaan makhluk, cerita para nabi, atau berita-berita tentang masa depan, seperti peperangan (yang akan terjadi), berbagai fitnah (kerusakan), dan keadaan-keadaan pada Hari Kiamat. Demikian juga pengabaran tentang pahala atau hukuman khusus bagi suatu amal perbuatan.

Tak lain dihukumi Marfu’ karena ketika sahabat mengabarkan perkara-perkara tersebut karena pastinya dia diberitahu oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat sahabat mengabarkan suatu perkara yang tidak ada ruang untuk berijtihad, tentunya ia juga diberitahu oleh orang lebih dulu mengatakannya, dan tidak ada orang yang memberitahu sahabat kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau sebagian orang yang memberitahukan berita dari kitab-kitab terdahulu itu kepadanya. Oleh karena itulah, untuk bagian yang kedua ini perlu diwaspadai.

Jika demikian keadaannya, pengabaran sahabat itu memiliki hukum seperti jika seandainya dikatakan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata (bersabda).” Hal itu juga Marfu’, baik ia mendengarnya langsung dari Rasulullah atau mendengar dari beliau dengan perantaraan orang lain.”[1]

Kedua. Hadits ini mencakup semua orang yang berniat untuk mengunjungi dan menjenguk orang sakit demi mengharapkan pahala, baik dia orang asing, kerabat, dokter atau perawat, karena amal perbuatan itu terkait dengan niat. Orang yang beramal akan mendapatkan pahala apa yang diniatkannya, berdasarkan hadits :

عَنْ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ رواه البخاري (1) ومسلم (1907).

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.’” (HR. Al-Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).

Satu amal perbuatan terkadang sah dilakukan dengan niat dua ibadah, atau ibadah dengan kebiasaan. Inilah rahmat dari Allah kepada umat Islam ini.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Di antara nikmat Allah dan kemudahan-Nya adalah satu amal perbuatan dapat menduduki beberapa amal perbuatan. Apabila seseorang masuk masjid pada saat datangnya shalat sunah Rawatib, kemudian dia shalat dua rakaat, ia meniatkan dua rakaat ini sebagai shalat Rawatib dan shalat Tahiyatul Masjid, maka ia akan memeroleh keutamaan (pahala) kedua shalat itu.”[2]

Di antara contoh-contohnya adalah yang disebutkan dalam hadits Zainab istri Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma ketika ia (istri Abdullah bin Mas’ud) bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang saat itu sangat ingin bersedekah dengan hartanya :

أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي، وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي؟ قَالَ: نَعَمْ، ولَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ القَرَابَةِ، وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ  رواه البخاري (1466) ومسلم (1000).

“Apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfakkan sedekahku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda‘Ya benar. Dan baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1466 dan Muslim, no. 1000).

Termasuk ke dalam masalah ini adalah dokter dan perawat. Mereka boleh melaksanakan pekerjaannya dengan niat menjenguk orang-orang sakit dan membantu mereka.

Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “kaum Muslimin yang bekerja dengan pekerjaan-pekerjaan duniawi seperti para dokter, insinyur dan peneliti dapat menjadikan pekerjaan-pekerjaan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika mereka memunculkan niat yang shalih ketika mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ini. Hal ini tidak mengharuskan mereka untuk tidak mengharapkan bagian-bagian (gaji, upah, honor) dari pekerjaan-pekerjaan itu.”[3].

Niat seperti ini termasuk amal shalih yang membuat dokter dan perawat berbuat baik kepada para pasien dan bersabar atas mereka, tidak menggerutu pada mereka atau berbuat buruk kepada mereka.

Wallahu A’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam
[1] Nuzhat An-Nazhar, hal. 132-134
[2] Al-Qawa’id wa Al- Ushul Al-Jami’ah, hal. 168
[3] Maqashid Al-Mukallafin, hal. 400

Tekanan Jiwa (Stress)

TEKANAN JIWA (STRESS)

Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.

  1. Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.
  2. Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.
  3. Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.
  4. Bahkan musibah yang menimpa manusia  belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomlek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.
  5. Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.
  6. Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.
  7. Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.

Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.

Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.

Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)
Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:

  1. Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak ada pendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.
  2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.
  3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.
  4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.
  5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)
Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal shaleh.
Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” [At-Thalaq/65: 2]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [At-Thalaq/65: 4]

Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah/2: 153]

Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah Radhiyallahu anhu berkata, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat.” [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi Ya’kub Alaihissallam:

 وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Ÿ“…Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf/12: 87]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِيْ بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [HR.Turmudzi]

Benarlah perkataan seorang penyair:

Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal
Merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra’d/13:28]

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah).
Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan.” [HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan.
Hal ini sebagaimana hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu:
“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
“Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat.”
“Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah.” Jawabnya.
“Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!” Tawar Rasulullah.
“Tentu wahai Rasulullah!” Jawab lelaki itu.
“Bacalah ketika pagi dan petang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang.”  [HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa Alaihissallam kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabinya:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ – وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ

“Musa berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.” [Thâhâ/20:25-26]

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [At-Thalaq/65: 3]

Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka.
Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.

Ringkas pembicaraan: Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.

ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya.” [ Ali Imrah/3: 182]

Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.

[Disalin dari الضغوط النفسية Penulis Prof. Dr.Falih bin Muhammad As-Shaghir, Penerrjemah : Syafar Abu Difa, Editor : Eko Abu Ziyad, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 20102 – 1431]

Adab Menjenguk Orang Sakit

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Diantara sekian banyak amal shaleh yang ditekankan oleh syari’at kita  serta dijanjikan bagi para pelakunya dengan ganjaran yang besar ialah menjenguk orang sakit. Yang paling jelas adalah sebuah sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ  [أخرجه البخاري و مسلم]

Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perkara: ‘Beliau memerintahkan kami supaya mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terdhalimi, membantu melepas (kafarah) sumpah, menjawab salam dan mendo’akan orang yang bersin“. [HR Bukhari no: 1239. Muslim no: 2066].

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ وَفُكُّوا الْعَانِيَ » [أخرجه البخاري]

Berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sedang sakit dan bebaskanlah saudara (muslim) yang tertawan“.  [HR Bukhari no: 5373. Dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu].

Fadhilah Menjenguk Orang Sakit
Salah satu keutamaan menjenguk orang sakit adalah hak seorang muslim pada muslim lainnya yang harus ditunaikan. Sebagaimana digambarkan dalam haditsnya Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Hak muslim atas muslim lainnya ada enam perkara”. Ada yang bertanya: “Apa saja enam perkara tersebut wahai Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: “Apabila engkau berjumpa dengannya engkau memberi salam, jika engkau diundang maka memenuhi undangannya, bila engkau dimintai nasehat engkau menasehatinya, jika dirinya bersin lalu mengucapkan ‘al-hamdulillah’ engkau mendo’akannya, dan bila sakit engkau menjenguknya, dan apabila dirinya meninggal engkau mengiringi jenazahnya“. [HR Bukhari no: 1240. Muslim no: 2162].

Bahkan, dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bahwa menjenguk saudaranya muslim yang sedang sakit merupakan jalan yang mengantarkan kepada surga. Disebutkan oleh Imam Muslim sebuah hadits dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ قَالَ  جَنَاهَا  [أخرجه مسلم]

Sesungguhnya seorang muslim jika menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit) maka dirinya senantiasa berada khurfah surga hingga dirinya kembali”. Di katakan: “Wahai Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa khurfah surga itu? Beliau menjelaskan: “Buah-buahan surga“. [HR Muslim no: 2568].

Syaikh Muhamad bin Sholeh al-Utsaimin menjelaskan makna hadits diatas: “Maksudnya dirinya senantiasa berada ditaman buah-buahan surga selama dirinya duduk disisi orang yang sedang dijenguknya”.[1]

Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau menjenguk saudaranya muslim yang sedang sakit sebagai faktor dirinya dido’akan oleh para malaikat. Seperti diberitakan oleh sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya. Sahabat Ali menceritakan: “Aku pernah mendengar langsung dari Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ , وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ  وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ  [أخرجه الترمذي]

Tidaklah seorang muslim yang menjenguk saudaranya muslim dipagi hari melainkan dirinya akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga petang. Dan jika dirinya menjenguk disore hari maka dirinya akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan baginya kebun ditengah surga“. [HR at-Tirmidzi no: 969. Beliau berkata hadits hasan gharib. Dinyatakan shahih oleh Ibnu Hiban dan al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 1/286 no: 775].

Al-Ghudwah ialah waktu yang dimulai dari fajr sampai terbitnya matahari, maksudnya ialah pagi hari. Adapun al-A’syiyah artinya waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga tenggelam. Sedangkan al-Kharif maksudnya adalah kebun. Pada asalnya ia adalah pepohonan yang saling menutupi.

Imam Qadhi Iyadh pernah menuturkan: “Menjenguk orang yang sedang sakit merupakan bentuk ketaatan yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak pahala. Dimana telah datang penjelasannya dalam hadits serta yang lainnya, dan hal ini hukumnya bisa menjadi fardhu kifayah, apalagi jika yang sakit adalah orang asing yang tidak memiliki keluarga atau kerabat yang membantunya. Sehingga jika sampai tidak dijenguk dirinya bertambah parah dan bisa meninggal tanpa perawatan, kelaparan serta kehausan.

Adapun menjenguknya, yaitu bertujuan untuk mengetahaui keadaannya serta menanyakan barangkali ada kebutuhan dan bantuan yang diperlukan. Perkaranya sama persis dengan menolong orang yang sedang di aniaya, menyelamatkan orang dari kebakaran atau bahaya, yang wajib hukumnya bagi orang yang hadir. Sehingga bila kaum muslimin tidak ada yang menjenguknya mereka tidak mengetahui keadaan orang yang sedang sakit tersebut”. [2]

Adab Bagi yang Menjenguk
Sunah yang dianjurkan bagi orang yang sedang menjenguk ialah mendo’akan orang yang sedang sakit dengan rahmat dan ampunan, penghapus dosa, keselamatan dan kesembuhan.

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari umatnya beberapa do’a yang hendaknya dihafal oleh orang yang akan menjenguk dan menggunakan do’a-do’a tersebut karena bersumber dari makhluk yang terjaga yaitu Nabi kita Muhammad Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, disamping itu beliau juga diberi jamami’ul kalim (ucapan yang ringkas namun banyak makna).[3]

Do’a Menjenguk Orang Sakit
Diantara do’a tersebut adalah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengkisahkan: “Pada suatu hari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguk arab badui yang sedang sakit. Dan kebiasaan beliau jika menjenguk orang sakit beliau mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ » [أخرجه البخاري]

Tidak mengapa, semoga sakitmu bisa sebagai penghapus dosa-dosamu, insya Allah“. [HR Bukhari no: 3616].

Do’a lain yang biasa beliau ucapkan adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bila ada seseorang yang mengeluh sakit pada beliau, atau terluka, maka beliau meletakan jari telunjuknya ke tanah lalu mengangkatnya sambil membaca do’a: “Dengan nama Allah, debu tanah kami dan air ludah sebagian kami, semoga bisa menyembuhkan penyakit kami dengan ijin Rabb kami“. [Bukhari no: 5745. Muslim no: 2194].

Salah satu do’a beliau ialah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Adalah kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila datang pada orang yang sedang sakit beliau mendo’akan orang tersebut dengan do’a: “Hilangkanlah sakit, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit“. [HR Bukhari no: 5675. Muslim no: 2191].

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebauh do’a, sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abu Waqash Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan dirinya tatkala sakit dengan berdo’a:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا ». ثَلاَثَ مِرَارٍ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Ya Allah berilah kesembuhan pada Sa’ad“. Sebanyak tiga kali”.  [HR Bukhari no: 5659. Muslim no: 1628].

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengajarkan pada Utsman bin Abi Waqash manakala dirinya pernah mengeluhkan rasa sakit yang terasa ditubuhnya semenjak masuk Islam. Beliau mengatakan padanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ » [أخرجه مسلم]

Letakkan tanganmu diatas anggota badan yang terasa sakit, kemudian bacakan: “Bismillah’, sebanyak tiga kali. Lalu baca tujuh kali ‘Aku berlindung kepada Allah dan kemampuanNya dari keburukan yang aku rasakan dan aku jauhi“. [HR Muslim no: 2202].

Diantara do’a yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dikala menjenguk orang sakit adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ عنده سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ الا عافاه اللَّهُ من ذالك المرض  [أخرجه أبو داود و ابن حبان]

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum saatnya meninggal, lantas dirinya membaca do’a disisinya sebanyak tujuh kali: ‘Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb permilik Arsy yang mulia, agar menyembuhkan dirimu’. Melainkan (pasti) Allah akan memberi kesembuhan dari sakit yang dideritanya”. [HR Abu Dawud no: 3106, Ibnu Hibban no: 2964. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih sunan Abi Dawud 2/600 no: 2663].

Begitu pula, termasuk do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk orang sakit adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا فليقَل: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا وَيَمْشِي لَكَ إِلَى الصَّلَاةِ  [أخرجه أبو داود و ابن حبان]

“Apabila ada seseorang yang datang menjenguk saudaranya yang sakit maka hendaknya ia mendo’akan: ‘Ya Allah berilah kesembuhan pada hambaMu, (sehingga) ia bisa membunuh musuh-musuhMu, atau bisa berjalan (kembali) untuk mengerjakan sholat”.  [HR Abu Dawud no: 3107, Ibnu Hibban no: 2963. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih Abu Dawud 2/600 no: 2664].

Dalam menjenguk orang sakit ada beberapa pelajaran yang bisa kita raih diantaranya:
Pertama: Pahala yang besar dari Allah azza wa jalla, sebagaimana telah lewat penjelasannya dalam hadits-hadits terdahulu.
Kedua: Akan menguatkan kondisi si sakit dikarenakan dikunjungi oleh orang yang dicintainya.
Ketiga: Mendo’akan pada orang yang sakit. Atau merasa kehilangan kabar tentangnya sehingga hal tersebut tidak mungkin bisa diketahui kecuali bila dirinya datang menjenguknya.
Keempat: Mengingatkan bagi pengunjung akan nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang sangat besar padanya yaitu nikmat sehat, dimana hal tersebut tidak diperoleh sama saudaranya.
Kelima: Mengajak untuk masuk ke dalam Islam jika yang dijenguknya adalah non muslim. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ  [أخرجه البخاري]

“Adalah anak kecil dari Yahudi yang biasa membantu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, suatu ketika sakit keras. Maka Nabi datang menjenguknya, beliau kemudian duduk di sisi kepalanya, lantas mengatakan padanya: ‘Masuklah Islam’. Anak kecil tersebut melirik pada ayahnya yang berada disebelahnya. Maka ayahnya mengatakan: ‘Turuti kemauan Abu Qosim Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam’. Selanjutnya anak tersebut masuk Islam (kemudian mati). Maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari siksa neraka”. [HR Bukhari no: 1356].

Keenam: Terkadang dirinya bisa menyarankan bagi si sakit untuk mengkonsumsi obat tertentu yang telah ia ketahui, sehingga hal tersebut memberi manfaat untuknya dan dirinya.
Ketujuh: Memasukan rasa senang pada hati orang yang sedang sakit dengan menyebutkan kabar gembira padanya.

Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Muhammad bin Khalid dari ayahnya dari kakeknya, dan kakeknya adalah seorang sahabat, beliau menceritakan:

أَنَّهُ خَرَجَ زَائِرًا لِرَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِهِ فَبَلَغَهُ شَكَاتُهُ قَالَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ أَتَيْتُكَ زَائِرًا عَائِدًا وَمُبَشِّرًا قَالَ كَيْفَ جَمَعْتَ هَذَا كُلَّهُ قَالَ خَرَجْتُ وَأَنَا أُرِيدُ زِيَارَتَكَ فَبَلَغَتْنِي شَكَاتُكَ فَكَانَتْ عِيَادَةً وَأُبَشِّرُكَ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ  [أخرجه أحمد]

“Bahwasannya ia pernah keluar untuk mengunjungi seseorang dari kerabatnya yang sakit keras. Lalu ia pun masuk lalu berkata: ‘Aku datang untuk menjenguk, mengunjungimu dan memberi kabar gembira’. Saudaranya menjawab: ‘Bagaimana engkau mengumpulkan semua ini? Beliau berkata: ‘Aku keluar dan yang ku inginkan ialah mengunjungimu, dan telah sampai padaku akan sakitmu yang keras, maka itu namanya menjenguk, dan aku kabarkan padamu dengan sesuatu yang pernah aku dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Apabila telah ditentukan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla derajat bagi seorang hambaNya yang belum bisa tercapai oleh amalnya. Maka Allah memberinya ujian pada tubuhnya, atau harta atau anaknya. Kemudian hamba tersebut bersabar hingga bisa meraih derajat yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. [HR Ahmad 37/29 no: 22338].

Kedelapan: Akan menumbuhkan rasa saling menyayangi, mencintai serta mengasihi dilingkungan muslim. Yaitu dengan cara memotivasi orang yang sedang sakit sehingga dirinya serta keluarganya merasa tidak sendirian merasakan musibah yang sedang dideritanya, bersama-sama merasakan beban dan musibahnya.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari عيادة المريض Penulis Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1435]
______
Footnote
[1] Syarh Riyadhus Shalihin 4/470.
[2] Ikmaalul Mu’alim bii Fawaid Muslim 8/35.
[3] Kunuz Riyadhus Shalihin 11/561.

Hadiah Untuk Orang yang Sakit

HADIAH UNTUK ORANG YANG SAKIT

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Termasuk diantara hikmah yang Allah ta’ala berikan kepada seorang hamba ialah dengan diberinya berbagai macam jenis cobaan. Dan diantara cobaan yang diberikan pada mereka ialah cobaan sakit bagi orang yang sedang dirundung sakit.  Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ – ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٞ وَشَرَابٞ – وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ – وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ  [ ص : 41-44]

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya)”.  [Shaad/38: 41-44].

Imam Ibnu Katsir mengatakan: ‘Ayat ini sebagai peringatan bagi siapa saja yang sedang diberi ujian oleh Allah ta’ala pada tubuhnya, atau hartanya, atau anaknya. Maka bagi orang yang diberi ujian seperti itu, ternyata dirinya mempunyai suri tauladan yaitu Nabi Allah Ayub ‘alaihi sallam, yang mana Allah ta’ala telah memberi ujian kepadanya dengan cobaan yang lebih besar dari hal itu, namun beliau tetap sabar serta mengharap pahala dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala  sampai akhirnya –Dia menghilangkan penyakit yang diderita oleh beliau”.[1]

Terkadang seorang mukmin diberi ujian oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dengan suatu penyakit disebabkan karena kelalaianya dengan sebagian kewajiban yang diperintahkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala  kepadanya, sehingga penyakitnya tersebut menjadi semacam penghapus dari dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman:

لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا  [النساء: 123]

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”.  [an-Nisaa’/4: 123].

Dan ada beberapa hikmah di balik sebuah musibah, diantaranya adalah:

1. Sebagai penghapus dosa dan kesalahan.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari musnadnya Zuhair, yang menceritakan: “Aku kabarkan bahwa Abu Bakar pernah bertanya kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Rasulallah, apa yang dimaksud ayat ini:

 لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ  [النساء: 123]

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu“.[an-Nisaa’/4: 123].

Apakah setiap kejelekan yang kita kerjakan pasti ada balasannya? Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْتَ تَمْرَضُ أَلَسْتَ تَنْصَبُ أَلَسْتَ تَحْزَنُ أَلَسْتَ تُصِيبُكَ اللَّأْوَاءُ قَالَ بَلَى قَالَ فَهُوَ مَا تُجْزَوْنَ بِهِ » [ أخرجه أحمد]

“Semoga Allah mengampuni wahai Abu Bakar. Bukankah engkau pernah sakit? Mendapat cobaan? Bersedih hati? Dan mendapat kesulitan? Pernah ya Rasulallah, jawab Abu Bakar. Maka beliau mengatakan: ‘Itulah balasan atas perbuatan burukmu tersebut”. [HR Ahmad 1/230 no: 68].

Lebih jelasnya dalam sebuah ayat Allah Tabaraka wa Ta’ala menerangkan akan hal tersebut, Allah Ta’ala  berfirman:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ  [ الشورى: 30]

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.  [asy-Syuura/42: 30].

Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ » [ أخرجه البخاري و مسلم]

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah kelana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadi sebagai penghapus dari kesalahannya“. [HR Bukhari no: 5642. Muslim no: 2573].

Sedangkan Imam Tirmidzi mengeluarkan sebuah hadits dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan segerakan baginya hukuman didunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba maka Allah tahan darinya atas perbuatan dosanya sampai dihitung kelak pada hari kiamat”.[HR at-Tirmidzi no: 2396. Dinyatakan Hasan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2/285 no: 1953].

Berkata sebagian ulama salaf: ‘Kalau bukan karena musibah yang menimpa kita tentu kelak pada hari kiamat kita akan menjadi orang yang bangkrut’. Oleh karena itu, tidak heran jika para salaf mereka justru merasa senang bila ditimpa musibah, sebagaimana senangnya kita tatkala memperoleh kesenangan.

2. Mengangkat derajat seseorang diakhirat kelak.
Diantara hikmah dibalik musibah sakit yang dideritanya,  akan menjadi faktor pendongkrak derajat bagi orang yang sedang sakit kelak diakhirat, hal itu sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh al-Hakim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِنَّّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ المَنزِلَةُ عِندَ اللهِ فَمَا يَبلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ يَبتَلِيهِ بِمَا يَكرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ ذَلِكَ

Sesungguhnya seorang hamba akan memperoleh kedudukan disisi Allah bukan karena faktor amal semata, namun, senantiasa dirinya memperoleh ujian dengan perkara yang tidak disenanginya hingga sampai pada derajat yang tinggi“. [HR Ibnu Hibban no: 2897. al-Hakim 1/664 no: 1314. Dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 1599].

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ » [ أخرجه البخاري و مسلم ]

Kelak pada hari kiamat orang yang sehat sangat menghendaki pahala tatkala melihat orang yang mendapat cobaan didunia diberi pahala, mereka rela kalau sekiranya kulit mereka dipotong dengan gunting ketika didunia“. HR at-Tirmidzi no: 2402. Dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2/287 no: 1960.

Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghulu para Nabi, yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang, beliau masih saja diberi cobaan oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dengan sakit, dan hal itu adalah sebagai pengangkat derajat beliau. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallau ‘anhu, dia menceritakan: “Aku datang menjenguk Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam disaat beliau sedang sakit keras, kemudian aku mengusap beliau dengan tanganku, lalu aku tanyakan pada beliau: ‘Ya Rasulallah, engkau badannya panas sekali? Maka beliau menjawab: “Ya, sesungguhnya sakit yang aku derita seperti halnya sakit yang diderita oleh dua orang diantara kalian”. Aku bertanya kembali: ‘Dengan sebab itu engkau memperoleh dua pahala’. Beliau katakan: “Ya, betul”. [HR Bukhari no: 5667. Muslim no: 2571].

Bahkan disakit yang beliau wafat padanya, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalami pingsan sebanyak tiga kali. Hal itu sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam shahih Bukhari dan Muslim, beliau menceritakan: “Tidak pernah aku melihat ada seorangpun yang menderita sakit melebihi dari Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5646. Muslim no: 2570].

Sehingga bisa disimpulkan bahwa bagi orang yang sakit mempunyai dua kelebihan, sakit yang dialaminya bisa sebagai penghapus dosa-dosanya, dan mengangkat derajatnya. Maka dari itu, hendaknya bagi orang yang menderita suatu penyakit menjadikan dua perkara ini sebagai pendorong baginya untuk sabar, sehingga apabila dia merenungi kedua hikmah tersebut akan menjadi ringan musibah yang dideritanya, dan enteng kesedihan dan rasa gundahnya.

Berikut beberapa hikmah lainya bagi orang yang mendapat musibah:

  • Bahwa musibah ini bukan terjadi pada agamanya, karena musibah yang terjadi pada agamanya menuntun pelakunya pada adzab dan dosa.
  • Kalau musibah yang dideritanya lebih ringan dan enteng dibanding dengan musibah yang menimpa orang lain, kalau sekiranya dirinya bertanya atau melihat pada orang sekelilingnya yang terkena penyakit tentu dirinya mendapati mereka lebih parah dari sakit yang dideritanya. Seorang ulama salaf Syuraih mengatakan: ‘Tidaklah aku ditimpa sebuah musibah melainkan aku memujinya kepada Allah Ta’ala karena empat hal:
  1. Allah Ta’ala  masih memberi rizki pada saya kesabaran.
  2. Allah Ta’ala  memberi kemudahan untuk mengucapakn istirja’ ketika musibah tersebut menimpaku.
  3. Allah Ta’ala  tidak menjadikan musibah tersebut lebih besar darinya.
  4. Allah Ta’ala  tidak menjadikan musibah pada agama saya.

Dikeluarkan oleh Imam Muslim sebuah hadits dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم » [ أخرجه البخاري و مسلم ]

“Tidak ada seorang muslim manakala ditimpa sebuah musibah lalu mengucapkan seperti apa yang Allah perintahkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahuma ajirni fii mushibati wa akhlif lii khairan minha’. Melainkan Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik darinya”.

Beliau mengatakan: ‘Tatkala Abu Salamah meninggal maka aku bergumam: ‘Mana ada orang yang lebih baik dari Abu Salamah, seseorang yang keluarganya menjadi pionir untuk hijrah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku mengucapkan do’a tersebut, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik untukku yaitu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. [HR Muslim no: 918].

Hadiah bagi orang yang sedang sakit.
1. Selalu berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla, bahwasannya orang yang memiliki prasangka baik kepada Allah Ta’ala , Allah Shubhanahu wa Ta’ala akan menganugerahi ketenangan pada jiwanya dan ketentraman hati.  Hal itu berdasarkan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ » [ أخرجه إبن حبان]

Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: ‘Aku selalu berada pada prasangka para hambaKu, jika dia berprasangka baik maka Aku juga demikian, sebaliknya kalau buruk sangkaannya demikian pula Akupun begitu“. [HR Ibnu Hibban no: 638].

2. Memperbanyak dzikir kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala , berdo’a serta memohon kesembuhan dengan penuh pengharapan pada -Nya. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala :

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ [البقرة: 186]

“Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah -Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.  [al-Baqarah/2: 186].

Dan berdasar firman Allah Ta’ala  yang lainnya, yang berbunyi:

 أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ  [النمل : 62]

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada -Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. [an-Naml/27: 62].

Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan: “Sesungguhnya pengobatan bagi orang yang sedang sakit itu semuanya ada pada do’a serta memohon kepada Allah Azza wa Jalla, dan obat tersebut lebih bermanfaat dan cepat reaksinya dibanding dengan obat-obatan yang dikasih oleh para dokter. Karena dampak obat yang pertama itu lebih menyerap kedalam tubuh dan lebih agung daripada efek obat-obatan untuk tubuh, akan tetapi, hal itu hanya bisa tersembuhkan dengan dua perkara:

Pertama : Dari sisi orang yang sakit yaitu hendaknya dia betul-betul ikhlas dalam tujuannya.
Kedua : Dari sisi yang diobati yaitu hendaknya mempunyai kekuatan do’a dan hati, dengan bertakwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala “. [2]

3. Bagi orang yang sedang sakit hendaknya jangan terlalu bergantung terhadap faktor sebab saja, seperti rumah sakit atau dokter. Akan tetapi, seharusnya dia menggantungkan hati yang menurunkan penyakit yang mana tidak ada yang mampu mengangkatnya melainkan – Yaitu Allah Shubhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dari -Nya. Tidak ada yang menyembuhkan  orang sakit kecuali -Dia, sama saja baik penyakit yang ada dalam tubuh maupun penyakit yang ada dalam jiwa. Hal itu berdasarkan firman Allah Ta’ala :

 وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ [ الأنعام: 17]

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.  [al-An’aam/6: 17].

Dan firman Allah tabaraka wa Ta’ala :

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ  [ الشعراء 80]

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”.  [asy-Syu’araa/26: 80].

Dan firman -Nya yang mengkisahkan Nabi -Nya Ayub ‘Alaihi sallam, Allah berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ – فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ [ الأنبياء: 83-84]

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah“.[al-Anbiyaa’/21: 83-84].

4. Bersabar sambil mengharap pahala atas musibah tersebut dan jangan berkeluh kesah dan merasa tidak puas, karena kadar ukuran keimanan seorang hamba sesuai dengan besar kecilnya cobaan yang diterimanya.
Lebih jelasnya, simak sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ» [ أخرجه الترمذي]

“Aku pernah bertanya kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab: ‘Para Nabi, lalu orang yang berada dibawahnya, maka seseorang tertimpa cobaan sesuai dengan tingkatan agamanya. Kalau agamanya hebat, cobaan yang diterimanya pun besar, dan jika agamanya lemah dirinya juga akan mendapat ujian sesuai dengan kadar agamanya. Sehingga tidaklah seorang hamba senantiasa mendapat cobaan sampai kiranya dirinya berjalan dimuka bumi ini tanpa mempunyai kesalahan”. [HR at-Tirmidzi no: 2398. Beliau berkata hadits hasan shahih].

5. Bagi orang yang sakit, boleh baginya untuk meruqyah dirinya sendiri dengan bacaan ruqyah yang syar’i. Seperti meruqyah dengan surat al-Fatihah, surat al-Falaq dan an-Nas serta ayat kursi. Dan diantara do’a yang ada dalilnya dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa beliau baca ialah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا» [ أخرجه البخاري و مسلم]

“Ya Allah Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan, sembuhkan (penyakitku) karena Engkau Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan yang Engkau berikan, kesembuhan yang tidak dibarengi penyakit”. [HR Bukhari no: 5743. Muslim no: 2191].

Diantara do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menjenguk orang sakit ialah, mendo’akan orang yang sakit dengan mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ » [ أخرجه مسلم]

“Letakkan tanganmu ditempat yang terasa sakit ditubuhmu, lalu berdo’alah: ‘Dengan menyebut nama Allah’. Tiga kali. Lalu ucapkan sebanyak tujuh kali: ‘Aku berlindung kepada Allah dan kemampuanNya dari kejelakan apa yang aku rasakan dan berhati-hati padanya”.  [HR Muslim no: 2202].

6. Untuk orang yang sakit, jangan pernah merasa putus asa dari kesembuhan, karena Allah Shubhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa Ta’ala  berfirman:

 إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ  [ يوسف 87]

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [Yusuf/12: 87]

Dan Allah Ta’ala  befirman:

 إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس 82]

“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”.  [Yaasin/36: 82].

Lihatlah kepada Nabi Ayub ‘alaihi sallam yang tinggal delapan belas tahun dalam keadaan menerima ujian namun beliau bersabar sampai akhirnya Allah menyembuhkan penyakitnya.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah Shubhanahu wa Ta’ala , Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shubhanahu wa Ta’ala , keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الإبتلاء بالمرض Penyusun Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] al-Bidayah wa Nihayah 1/513.
[2] Fathul Bari 10/115.
[3] Lihat kitab La Ba’sa thahurun insya Allah, karya Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan.

Faidah-Faidah Sakit

FAIDAH-FAIDAH SAKIT

Bismillah, alhamdulilah, washshalatu wassalamu ‘ala man laanabiya ba’dah, Amma ba’du:

Sesungguhnya sakit merupakan bagian dari cobaan yang mengandung banyak faedah bagi seorang muslim, namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya, diantara faedah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya sakit merupakan penebus berbagai dosa dan menghapuskan segala kesalahan, sehingga sakit menjadi sebagai balasan keburukan dari apa yang dilakukan hamba, lalu dihapus dari catatan amalnya hingga menjadi ringan dari dosa-dosa. Hal itu berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya adalah:

  • Hadits Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَلاَ مُؤْمِنَةٌ وَلاَ مُسْلِمٌ وَلاَمُسْلِمَةٌ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِذلِكَ خَطَايَاهُ كَمَا تَنْحَطُّ الْوَرَقَةُ مِنَ الشَّجَرِ”

Tidaklah sakit seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah Subhnahu wa Ta’ala menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon.” [HR. Ahmad 3/346].

  • Hadits Ummul ‘Ala Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkunjung kepadaku dan aku sedang sakit, lalu beliau bersabda:

” أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلاَءِ, فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَث الذَّهَبِ وَاْلفِضَّةِ “

Bergemberilah wahai Ummul ‘Ala, sesungguhnya sakitnya seorang muslim dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesalahannya dengannya, sebagaimana api menghilangkan karat emas dan perak.” [HR. Abu Daud no.3092].

Sebagian orang menduga bahwa keutamaan dan pahala yang terdapat dalam hadits-hadits ini dan yang semisalnya, hanya diperuntukkan bagi orang yang menderita sakit berat atau sakit parah, atau yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya saja, padahal sebenarnya berbeda dengan dugaan ini, karena seorang hamba akan mendapat pahala dari musibah yang menimpanya, sekalipun hanya sakit ringan, selama ia tetap sabar dan selalu meminta pahala.

Tidak disangsikan lagi bahwa setiap kali musibahnya lebih besar dan sakitnya sangat berat, maka akan bertambahlah pahalanya, akan tetapi sakit ringan juga tetap akan mendapat pahala.

2. Sesungguhnya sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan, dalil-dalil tentang hal itu adalah sebagai berikut:

  • Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ” Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةٌ فَما فَوْقَهَا إِلاَّ كُتِبَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌُ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بهَا خَطِيْئَةٌ “

Tidak ada seorang muslimpun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan” [HR. Muslim no. 2572].

  • Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا ضربَ عَلَى مُؤْمِنٍ عرق قَطُّ إِلاَ حَطَّ اللهُ عَنْهُ خَطِيْئَةً وَرَفَعَ لَهُ دَرَجَةً “

Tidak pernah seorang mukmin mendapat perlakukan zalim melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengugurkan kesalahan darinya dan meninggikan derajatnya” [HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi]

Maka jelaslah dari penjelasan nash-nash ini bahwa disamping menghapuskan kesalahan, juga diperoleh peningkatan derajat dan tambahan kebaikan. Karena alasan inilah, imam an-Nawawi rahimahullah memberikan komentar setelah memaparkan hadits-hadits ini : “Di dalam hadits-hadits ini terdapat kabar gembira yang besar bagi kaum muslimin, bahwa tidak berkurang sedikitpun dari diri mereka, dan di dalamnya dijelaskan tentang penebus berbagai kesalahan dengan segala penyakit, segala musibah dunia dan duka citanya, sekalipun kesusahan itu hanyalah sedikit. Dan di dalamnya dijelaskan pula tentang pengangkatan derajat dengan perkara-perkara ini dan tambahan kebaikan”.[1]

3. Sesungguhnya penyakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi, hal itu di indikasikan oleh hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُوْنَ لَهُ عِنْدَ اللهِ اْلمَنْزِلَةَ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلِهِ فَمَا يَزَالُ اللهٌُ يَبْتَلِيْهِ بَمَا يَكْرَهُ حَتَّى يَبْلُغَهَا “

Sesungguhnya seseorang akan memperoleh kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidaklah memperolehnya dengan amalan, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terus mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga ia memperolehnya“[HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya 1/495]

4. Sakit merupakan bukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya.
Hal itu ditunjukkan oleh hadits-hadits yang sangat banyak, diantaranya adalah:

  • Hadits Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ السَّرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ الضَّرَّاءُُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan, dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi seorang mukmin : jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya” [HR. Muslim no. 2999]

  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “

Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan dengannya, niscaya Dia menimpakan musibah kepadanya” [HR. al-Bukhari no.5645].

  • Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

” إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ  فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا َومَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ “

Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai suatu kaum, Dia Subhnahu wa Ta’ala mencoba mereka, barangsiapa yang ridha maka untuknya keridhaan dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan” [HR. at-Tirmidzi no. 5645].

5. Sesungguhnya sakit membawa kepada muhasabah (intropeksi diri) dan tidak sakit membuat orang terperdaya.
Hukum ini berdasarkan kebiasaan, pengalaman dan realita. Sesungguhnya apabila seseorang menderita sakit, ia akan kembali kepada Rabb-nya, kembali kepada petunjuk-Nya, dan memulai untuk melakukan intropeksi terhadap dirinya sendiri atas segala kekurangan dalam ketaatan, dan menyesali tenggelamnya dia dalam nafsu syahwat, perbuatan haram serta penyebab-penyebab yang mengarah kepadanya –Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Paling Mengetahui-:

  • Sesungguhnya sakit membuat hamba merasakan akan dekatnya ajal dan kematian.
  • Bisa jadi karena rasa sakit yang diderita orang yang sakit membuatnya mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Dan bisa jadi pula karena sesungguhnya sakit itu mematahkan nafsu syahwat, maka jadilah keinginan hamba saat sakit adalah kesembuhan

Dari Sa’id bin Wahb rahimahullah, ia berkata: Aku berjalan bersama Salman Radhiyallahu anhu untuk mengunjungi temannya yang sedang sakit, maka ia berkata: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji seorang mukmin dengan bala, kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya, maka ia menjadi penebus bagi segala kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi yang tersisa. Dan sesungguhnya Allah menimpakan bencana kepada orang fasik, kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya, maka ia bagaikan unta yang diikat oleh pemiliknya, ia tidak tahu kenapa mereka mengikatnya, kemudian mereka melepaskannya maka dia pun tidak mengetahui kenapa mereka melepaskannya[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Musibah yang engkau terima dengannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu lupa untuk berdzikir kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala[3].

6. Sesungguhnya sakit menjadi penyebab kembalinya hamba kepada Rabb-Nya.
Bagian ini merupakan pelengkap bagian sebelumnya, cobaan merupakan penyebab kembalinya hamba kepada Rabb mereka, yaitu pada saat Dia Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan terhadap mereka. Karena inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَآءِ وَالضَرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri” [Al-An’aam/6:42]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[ وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ]

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” [Al-A’raaf/7:168]

Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata : Sesungguhnya hamba menderita sakit, sedangkan dia dalam keadaan tidak mempunyai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan sebagian kesalahannya di masa lalu, kemudian keluarlah air matanya yang sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkannya dalam keadaan suci, atau Dia Subhanahu wa Ta’ala mengambilnya (mewafatkannya), maka Dia Subhanahu wa Ta’ala mengambilnya dalam keadaan suci[4].

7. Tetapnya amal ibadah orang yang sakit, selama sakit menghalanginya darinya.
Banyak sekali hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa amal ibadah orang yang sakit akan tetap dicatat, selama sakit itu menghalanginya dari beramal, yang kalau bukan karena sakit tentu ia tetap mengamalkannya, hal ini dijelaskan oleh hadits Abu Musa Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ مِثْلُ مَاكَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا “

“Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan (safar), niscaya ditulis untuknya seperti amalan orang yang muqim (tidak bepergian) lagi sehat.” [HR. al-Bukhari no. 2996]

8. Sesungguhnya sakit merupakan penyebab masuk surga dan selamat dari neraka.
Adapun keadaan sakit menjadi penyebab selamat dari neraka, sebagaimana yang disebut kan bahwa demam adalah bagian (jatah) orang yang beriman dari neraka, hal itu ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” اَلْحُمَّى حَظُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ “

Demam adalah bagian setiap mukmin dari neraka

Adapun sakit menjadi penyebab masuk surga, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa orang yang kehilangan penglihatannya, lalu ia bersabar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan surga kepadanya. Demikian pula perempuan yang terkena penyakit ayan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya bahwa jika ia bersabar, maka untuknya surga.

Dalil-dalil ini, dalam persoalan sakit demam dan ayan menunjukkan bahwa keduanya menjadi penyebab masuk surga.

Berbagai macam penyakit menjadi penebus berbagai macam kesalahan dan menambah kebaikan, dan keduanya menjadi penyebab masuk surga, karena sakit itu meringankan kesalahan hamba dalam timbangan dan menambah daun timbangan kebaikan.

Ditambah lagi, sesungguhnya sakit termasuk musibah yang tidak disukai hamba, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ “

Surga diliputi dengan segala yang dibenci dan neraka diliputi dengan nafsu syahwat” [HR. al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822].

9. Sesungguhnya sakit itu memperbaiki hati.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Hati dan ruh mengambil manfaat dengan penyakit dan penderitaan, yang tidak bias dirasakan kecuali oleh orang yang memiliki kehidupan, sehingga kesehatan hati dan ruh digantungkan atas penderitaan badan dan tekanannya.[5]

Beliau juga mengatakan : Sebagaimana yang telah diketahui, sesungguhnya jika bukan karena berbagai cobaan dunia dan musibahnya, niscaya hamba mendapatkan berbagai penyakit sombong, bangga diri, dan keras hati, yang menjadi penyebab kebinasaannya, baik yang cepat (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat).

Maka kalau bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengobati hamba-hamba-Nya dengan berbagai obat cobaan dan ujian, niscaya mereka akan berbuat zalim dan melampuai batas. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Dia menuangi obat dari cobaan dan ujian menurut kadar kondisinya, dan mengosongkan dengannya dari penyakit-penyakit yang membinasakan, sehingga apabila Dia Subhanahu wa Ta’ala telah membersihkannya, Dia menempatkannya untuk martabat paling mulia di dunia, yaitu penghambaan, dan pahala tertinggi di akhirat, yaitu melihat-Nya dan dekat dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala[6].

10. Sesungguhnya sakit mengingatkan hamba terhadap nikmat kesehatan.
Terkadang seseorang akan terlena dengan kesehatan dalam waktu yang panjang, sehingga ia melupakan bertafakkur tentang kebesaran nikmat ini dan lalai dari bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ia dicoba dengan sakit, sehingga mengenal kadar yang besar tersebut, karena sakit membuatnya tidak bias memperoleh kepentingan agama dan dunia, karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَاْلفَرَاغُ “

Dua nikmat yang membuat manusia banyak terperdaya olehnya : nikmat sehat dan waktu luang” [HR. al-Bukhari no.6412]

Terkadang manusia mendapat kesempatan, akan tetapi ia tidak bias memanfaatkannya karena disibukkan oleh sakitnya. Nikmat adalah kesempatan yang tidak sempurna kecuali disertai oleh adanya kesehatan. Maka akan diperoleh rasa bersyukur terhadap kesehatan yang disebabkan oleh ingatan pada saat sakit karena besarnya kenikmatan tersebut.

11. Sesungguhnya sakit itu mengingatkan hamba terhadap kondisi saudara-saudaranya yang sakit.
Di saat sehat, seorang hamba terkadang mendapatkan penderitaan saudara-saudaranya yang sakit, baik penderitaan itu bersifat badaniyah, yang membuat penderita merintih, atau bersifat kejiwaan seperti rasa takut dari sakit dan akibatnya, ataupun penderitaan yang meliputi orang yang sakit dari keluarganya, lalu mereka terpengaruh karena sakitnya, terutama apabila penyakit yang diderita menyebabkannya berhenti bekerja, dan tidak ada pemasukan untuk keluarga serta anak-anaknya kecuali dari pekerjaannya saja, sehingga orang yang sakit menderita tekanan jiwa karena istri dan anak-anaknya yang mengelilingi, juga karena kurangnya pemasukan disertai penderitaan penyakit beserta dampaknya.

Demikian pula istri dan anak-anaknya, mereka menderita karena merasa kehilangan atas orang yang biasa membiayai hidupnya, maka bagaimana apabila ditambah kepadanya seluruh biaya pengobatan dan yang lainnya. Maksudnya adalah bila hamba mengalami penderitaan seperti itu dan persoalan menjadi bertumpuk-tumpuk atasnya, maka sesungguhnya hal ini akan membuatnya mengingat kondisi saudara-saudaranya yang sakit, yang penghasilannya lebih rendah darinya dan lebih lemah kondisinya serta lebih banyak anaknya, sehingga ia meratapi kondisi mereka dan hal itu dapat mendorongnya untuk membantu mereka dan anak-anak mereka dengan memberikan nafkah dan sedekah serta yang semisalnya.

12. Sakit membuat hamba mendapatkan teman-teman baru.
Apabila orang yang sakit terbaring di tempat tidur putih, maka sesungguhnya ia akan mengenal sesame saudara-saudaranya yang sakit, sama saja yang berada bersamanya dalam satu kamar atau dalam satu bagian, ditempat mereka shalat bersamaya itu mushalla dan saling mengenal satu sama lain. Hal ini akan membuat dia memperoleh teman-teman baru yang mendoakannya dan diapun mendoakan mereka, terkadang hubungan bias terus berlangsung dalam waktu yang lama hingga setelah sakit, dan diantara penyebab dikabulkannya doa adalah doa orang yang sedang sakit.

Alangkah besarnya nikmat seorang hamba jika dapat memperoleh banyak teman yang sakit, lalu mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berdoa untuknya dan menyebutnya dengan kebaikan, karena ia telah memberikan kebaikan kepada mereka. Siapakah dari kaum muslimin yang tidak menginginkan doa dari sesama saudaranya, terutama jika orang-orang yang berdoa itu adalah yang sangat dekat untuk dikabul doanya?

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyembuhkan kaum muslimin yang sakit, memperbaiki hati dan perbuatan mereka, sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam, dan semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesejahteraan, dan berkah-Nya selalu tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya sekalian.

[Disalin dari من فوائد المرض Penulis Ibrahim bin Muhammad al-Huqail, Penerjemah Team Indonesia, Murajaah Zulfi Askar, Abu Ziyad (Sumber : Dar ibnu Khuzaimah). Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]
______
Footnote
[1] Syarh an-Nawawi atas Shahih Muslim 16/193.
[2] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10813
[3] Tasliyatuahli al-Masha`ib.
[4] ‘Iddatush Shabiri 155.
[5] Syifa`ul ‘alil 524.
[6] SyaifaulGhalilhal. 524.

Pandangan Islam Terhadap Wabah

PANDANGAN ISLAM TERHADAP WABAH FLU BABI

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sunnah kauniah (ketetapan alamiah) yang tidak tergantikan dan berubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkannya untuk suatu hikmah yang diketahui-Nya. Ada kalanya Allah menunjukkan hikmah itu kepada hamba-Nya.

Di antara sunnah-sunnah tersebut adalah tersebarnya penyakit di tengah manusia. Di zaman kita sekarang ini telah menyebar berbagai macam penyakit. Penyakit serta bala yang tidak kita ketahui dan kenal sebelumnya. Muncul penyakit aneh lagi sukar disembuhkan. Hal ini tentunya tidaklah terjadi tanpa sengaja dan bukan takdir (ketentuan Allah) yang sia-sia. Ia adalah sunnah rabbani yang keberadaannya dikuatkan oleh nash-nash al-Quran dan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [asy-Syuura/42:30]

Telah valid dalam sunan Ibnu Majah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ تَظْهَر الْفَاحِشَة فِي قَوْم قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُون وَالْأَوْجَاع الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافهمْ

“Tidak tampak kemungkaran pada suatu kaum hingga mereka menampakkannya, melainkan akan menyebar di tengah mereka wabah dan penyakit yang belum pernah ada di masa orang-orang sebelum mereka.”

Manusia tidak berharap mendapat penyakit atau bala, tidak pula bersinggungan dengannya. Hendaknya meminta keafiatan sebagaimana hadits sahih yang diriwayatkan oleh at-Turmidzi dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 سَلُوا اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ

“Mintalah kepada Allah pengampunan dan keafiatan (kesehatan). Karena seorang di antara kalian tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik setelah keyakinan selain kesehatan.” [Hadits riwayat at-Turmudzi]

Saat ini telah tersebar suatu penyakit yang dinamakan dengan wabah Flu Babi[1]. Bagaimana aqidah seorang muslim menghadapi penyakit ini. Kita ringkas dalam poin-poin berikut:

Pertama : Bahwa penyakit ini dan yang lainnya tidak lebih dari penyakit yang merupakan sunnah kauniah rabbaniah (ketentuan alam yang Allah tetapkan).
Di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang tidak diketahui selain oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengannya nampaklah kekuatan Sang Pencipta yang Mahakuat  dan begitu lemahnya makhluk, yang nista, tidak memiliki daya dan upaya, yang tidak dapat lepas dari Pencipta-nya barang sekejappun. Sebagaimana pula memperlihatkan antara mukmin yang sebenarnya, yang beriman dengan qodho dan qodar Allah, yang menyerahkan segala perkaranya kepada Allah dengan mereka yang kosong dari keimanan terhadap qodho dan qodar Allah dan penyerahan total kepada keputusan-Nya.

Dari hikmah yang nampak adalah bahwa penyakit merupakan bagian dari penghapus dosa bagi yang sabar dan mengharap pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam Shahihain dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa penyakit dan selainnya melainkan Allah hapuskan dengannya dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.”

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Ummu as-Saaib yang sedang sakit dan berkata kepadanya,

“Mengapa engkau mengerang, wahai Ummu as-Saaib?!”

“Aku terkena demam yang tidak ada berkah Allah padanya.” Jawabnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لاَ تَسُبِّى الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam karena ia menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana panas yang merontokkan karat besi.”

Hikmah terbesar dari adanya penyakit adalah menjadi sebab dimasukkannya hamba ke dalam surga dan terselamatkan dari api neraka. Dalam Shahih Muslim Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا أَخَذْتُ كَرِيمَتَيْكَ فَصَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ

“Wahai anak Adam jika diambil kedua matamu dan kamu bersabar dan berharap pahala pada awal peristiwa, Aku tidak ridho untukmu pahala selain surga.” [Hadits Qudsi]

Diriwayatkan pula dalam Sunan Ibnu Majah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit dan bersabda,

أَبْشِرْ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ هِىَ نَارِى أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِى الْمُذْنِبِ لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ في الآخرة

“Kabar gembira, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Itu adalah apa yang aku kuasakan kepada hambaku yang berdosa di dunia sebagai pengurang dari api neraka di akhirat.”

Siapa yang merenungkan nash-nash di atas akan hilang kegalauan dan kegundahannya. Hatinya akan dipenuhi dengan keridhaan atas takdir Allah. Dan ini lebih tinggi dari derajat sabar.

Kedua : Tidak boleh berlebihan dalam kepanikan dan ketakutan terhadap penyakit ini dan yang semisalnya.
Orang-orang di berbagai belahan dunia ini telah tertimpa ketakutan dan kepanikan yang sangat. Hal ini tidak semestinya terjadi pada seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Seorang muslim dengan imannya yang kuat amat yakin bahwa dia tidak akan tertimpa sesuatu selain apa yang telah Allah tentukan untuknya, sebagaimana yang telah Allah firmankan,

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” [at-Taubah/9:51]

Orang yang beriman mengetahui dengan keyakinannya bahwa dia akan mati pada waktu yang telah Allah takdirkan untuknya. Tidak bermanfaat baginya ketakutan dan lari dari kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” [an-Nisaa/4:78]

Yang wajib adalah tidak takut dengan kematian tetapi mempersiapkan diri dengan amal-amal saleh sehingga beruntung pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

‘”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imraan/3:185]

Ketiga : Yang wajib bagi seorang muslim adalah mengupayakan sebab-sebab untuk membentengi diri dari penyakit ini.
Dari sebab yang paling kuat adalah tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keyakinan yang mantap bahwa hanya Allah-lah  yang memberikan kesembuhan. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya bahwa pemberi kesembuhan hanyalah Allah semata. Sebagaimana berita yang valid dalam sunan Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَذْهِبِ البَأس رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِى، لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادرُ سقمًا

“Hilangkanlah penyakit, wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, engkau pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan derita.”

Keempat : Menggunakan obat-obatan bermanfaat yang tersedia. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan tawakal.
Telah diriwayatkan dalam sunan Abu Dawud dari Usamah bin Suraik, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, di atas kepala mereka seolah ada burung yang bertengger. Akupun memberi salam kepada mereka lalu duduk. Kemudian datang orang-orang arab badui dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah kita perlu berobat?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah! Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mengadakan suatu penyakit melainkan Dia adakan pula obatnya selain satu penyakit yaitu tua.”

Kelima : Di antara jalan yang paling penting dalam melindungi diri dari penyakit ini  dan selainnya adalah membentengi diri dengan zikir syar’i.
Bagi setiap muslim hendaknya menjaga zikir pagi dan petang. Yang terpenting dari zikir-zikir itu adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan (Bismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fii sama wahua samii’ul aliim) setiap pagi dan sore hari :

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

‘Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada sesuatupun yang dapat memberi mudarat dengan nama-Nya di bumi maupun di langit dan Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.’

Dibaca sebanyak tiga kali, tidak akan membahayakannya sesuatupun.

Membaca mu’awizat sebanyak tiga kali sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika beliau bergegas tidur di pembaringannya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya dengan membaca surat al-Ikhlas (Qulhuwallahu ahad…dst), surat al-Falaq (Qul a’uzu birobbil falaq) dan surat an-Naas (Qul a’uzu birobbinnas), kemudian mengusap dengan kedua telapak tangannya itu seluruh tubuhnya sedapatnya, dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali. [Hadits riwayat al-Bukhari]

Membaca ayatul Qursy sebelum tidur. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika engkau mendatangi tempat pembaringanmu, maka bacalah ayat kursy dari awal hingga selesai (Allahu laa ilaaha illa hu…dst). Engkau akan senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan tidak akan didekati oleh syaitan sampai subuh.”

Juga membaca penutup surat al-Baqarah sebelum tidur sebagaimana yang terdapat di dalam Shahihain Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dia berkata, bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِر سُورَة الْبَقَرَة فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir surat al-Baqarah pada malam hari, dua ayat itu sudah cukup (menjadi penjaganya).”

Keenam : Memperbanyak taubat dan istigfar (meminta ampun kepada Allah).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [Al-Anfal/8:33]

Dan firman-Nya Azza wa Jalla:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ – يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ- وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-.  Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”  [Nuuh/71:10-12]

Semakin banyak seorang muslim beristighfar akan semakin dekat dia kepada Tuhan-nya Azza wa Jalla dan semakin jauh pula dia dari penyakit dan bala. Bala tidak menimpa melainkan disebabkan dosa, dan tidaklah bala itu diangkat selain dengan taubat dan istighfar.

Ketujuh : Senantiasa menjaga senjata yang paling agung yaitu doa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [al-Baqarah/2:186]

Dan firmannya Azza wa Jalla:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” [Ghaafir/40:60]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta perlindungan dalam doanya dari buruknya penyakit.

Kita meminta kepada Allah untuk semua keselamatan dan keafiatan (kesehatan) serta menyembuhkan seluruh kaum muslimin yang menderita sakit.

[Disalin dari أنفلونزا الخنازير رؤية شرعية  Penulis Maktab Dakwah Rawdhah KSA, Penerjemah : Syafar Abu Difa, Editor : Eko Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Flu babi (bahasa Inggrisswine influenza) adalah kasus-kasus influenza yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A[1].
Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia.[2] Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian[3] Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi. Sumber : wikipedia

Vaksinasi Dari Sejarah Hingga Hukumnya

VAKSINASI DARI SEJARAH HINGGA HUKUMNYA

Sejarah Vaksin
Bangsa Barat mempercai bahwa vaksin ditemukan pada sekitar abad ke-17 (tahun 1600-an). Pada saat itu masyarakat Eropa dan belahan dunia lainnya dihadapakan pada penyakit ganas, menular dan mematikan (wabah), yaitu cacar nanah yang disebabkan oleh virus Smallpox. Disebutkan, pada saat itu, ±400.000 orang di Eropa meninggal dunia setiap tahun karena Smallpox. Merujuk pada History of Vaccini, orang Eropa yang pertama kali menemukan teori vaksin adalah Edward Janer, dokter asal Inggris yang lahir di Britania Raya tahun 1749. Dia dikenal dengan sebutan “bapak imunologi “. Edward Jener disebut sebagai orang yang memelopori konsep vaksin termasuk menciptakan vaksin cacar, yang katanya vaksin pertama di dunia. Pertama kali menemukan penemuan vaksin sekitar tahun 1796.

Apakah Edward Jener adalah “orang pertama” yang membicarakan tentang penyakit cacar berikut cara pencegahannya?

Tentu jawabannya tidak. Pada zaman keemasan Islam, ada tokoh Muslim yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Orang Barat atau Eropa menyebutnya dengan panggilan Rhazes. Syaikh Abu Bakar ar-Razi hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran Iran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad.

Muhammad bin Zakariya ar-Razi dalam kitabnya Al-Judari wa Al-Hasbah, yang artinya ‘Penyakit Cacar dan Campak’, menulis secara rinci soal penyakit cacar (Smallpox) dan campak (Measles). Satu jenis penyakit atau wabah menular, ganas dan mematikan.

Imam ar-Razi menyebutkan bahwa, “Cacar (smallpox) muncul ketika darah terinfeksi dan mendidih, yang menyebabkan pelepasan uap. Pelepasan uap inilah yang menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil berisi cairan darah yang matang.

Penyakit ini bisa menimpa siapa saja, baik pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Hal terbaik yang bisa dilakukan pada tahap awal penyakit ini adalah menjauhinya. Jika tidak, maka akan terjadi wabah.”

Yang menarik kitab Al-Judari wa Al-Hasbah ini ditulis sekitar abad ke-9, hampir seribu tahun sebelum vaksin cacar dan campak ditemukan. Dan Al-Razi secara jelas mendeskripsikan bahwa penyakit ini menimbulkan wabah, menular lewat darah, dapat menyerang anak-anak maupun dewasa.

Menjaga Kesehatan
Dalam ajaran Islam menjaga kesehatan (hifzu al-Nafs) atas diri sendiri dan orang lain termasuk salah satu dari lima prinsip pokok (al-Dhoruriyat al-Khomsi). Vaksinasi sebagai salah satu tindakan medis (min Babi ath-Thibbi al-Wiqoi) untuk mencegah terjangkitnya penyakit dan penularan Covid-19. Menjaga kesehatan, dalam prakteknya dapat dilakukan melalui upaya preventif (al-Wiqoyah), dimana salahsatu ikhitiarnya dapat dilakukam dengan cara vaksinasi termasuk perbuatan yang dibenarkan dalam Islam.

Dalam kaidah fikih disebutkan, “Bahaya (al-Dharar) harus dicegah sedapat mungkin”.

Tentang pentingnya menjaga kesehatan dari serangan wabah dapat kita lihat dari beberapa dalil sebagai berikut ;

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا خُذُوۡا حِذۡرَكُمۡ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersiapsiagalah kamu [an-Nisa/4:71]

وَلۡيَاۡخُذُوۡا حِذۡرَهُمۡ وَاَسۡلِحَتَهُمۡ

Dan hendaklah mereka bersiapsiaga dan menyandang senjata mereka’.. [An-Nisa/4 : 102].

Allah Subhanahu Wata’ala melarang kepada kita agar tidak menjatuhkan diri dalam kebinasaan,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan… [Al-Baqarah/2: 195]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita agar senantiasa menjaga imunitas atau kekebalan tubuh kita dengan cara mengkonsumi kurma Ajwah.

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Dalam hadis lain juga disebutkan,

قَالَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla.” [HR Muslim]

Pendapat Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labib, (1/223-224):

وخذوا حذركم أي احترزوا من العدو ما استطعتم لئلا يهجموا. عليكم. وهذه الآية تدل على وجوب الحذر عن جميع المضار المظنونة، وبهذا الطريق كان الإقدام على العلاج بالدواء والاحتراز عن الوباء وعن الجلوس تحت الجدار المائل واجبا.

Bersiapsiagalah kalian. Jagalah diri kalian dari musuh sesuai kemampuan supaya mereka tidak menyerangmu. Ayat ini menunjukkan kewajiban menjaga dari seluruh dugaan bahaya. Dengan demikian, terapi pengobatan, menjaga dari wabah serta tidak duduk dibawah tembok yang akan roboh adalah wajib

Imam al-Qasthalani dalam kitab Irsyadu al-Sari (7/96) menjelaskan mengenahi ayat al-Quran surat an-Nisa/4 ayat 102;

إن كان بكم أذى من مطر أو كنتم مرضى أن تضعوا أسلحتكم [النساء: 102] فيه بيانُ الرخصةِ في وضْعِ الأَسْلِحةِ إنْ ثَقُل عليهمْ حَمْلُها بِسببِ مَا يَبُلُّهُم مِن مطرٍ أوْ يُضْعِفُهمْ مِن مرَضٍ وأمَرَهُمْ معَ ذلك بِأخذِ الحذْرِ لِئلا يَغْفَلوا فيَهجُمُ عليهمُ العدوُّ، ودلَّ ذلك على وُجوْبِ الحذرِ عن جميعِ المضارِّ المظنونةِ، ومِنْ ثَمَّ عُلِم أنَّ العلاجَ بالدواءِ والاحْترازَ عنِ الوباءِ والتحرُّزَ عن الجلوسِ تحتَ الجدارَ المائلَ واجبٌ.

“(Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit) (al-Nisaa/4:102). Di dalam ayat ini adanya keringanan untuk meletakkan senjata saat para pasukan terbebani dengan bawaan, seperti dalam keadaan basah kuyup kehujanan atau karena sakit. Meskipun demikian mereka tetap harus waspada terhadap musuh. Ayat tersebut juga menunjukkan wajibnya menjaga kewaspadaan dari segala bahaya yang akan datang. Dari sinilah difahami bahwa berobat dengan obat dan menjaga diri dari wabah penyakit serta menghindari dari duduk-duduk di bawah dinding yang miring adalah wajib”.

Perihal kebolehanya mengkonsumi obat yang bertujuan untuk menguatkan stamina dapat kita lihat penjelasanya dalam kitab I’anah Ath-Tholibin (3/316);

ويندب التقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية ومع قصد صالح، كعفة ونسل، لأنه وسيلة لمحبوب فليكن محبوبا

Disunnahkan meningkatkan imunitas tubuh/daya tahan tubuh dengan menggunakan obat-obatan yang boleh dikonsumsi dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan medis dan disertahi dengan tujuan yang baik, seperti menjaga kehormatan dari perbuatan hina (iffah), dan memperbaiki keturunan. Karena meningkatkan imunitas tubuh/daya tahan tubuh (al-Taqawwi) menjadi sarana (wasilah) untuk tercapainya hal-hal yang terpuji, maka hukum meningkatkan daya tahan tubuh (taqawwi) termasuk perbuata yang terpuji”.

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami, bahwa mengikuti program vaksinasi yang bertujuan untuk menjaga kekebalan tubuh dalam situasi pandemi Covid-19 termasuk perbuatan yang dibenarkan dalam Islam.

Diringkas dari MUI