Category Archives: B1. Topik Bahasan3 Ibadah di Kuburan

Kemutawatiran Hadits Adzab Kubur dan Berlindung Darinya.

Bab I
‘Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Alam Kubur

15. Adzab Kubur
Mereka mengimani bahwa kuburan itu merupakan taman dari taman-taman Surga atau merupakan lubang dari lubang-lubang Neraka. Dan sesungguhnya siksa kubur itu merupakan siksa alam Barzakh, maka setiap mayit yang berhak mendapatkan siksa, niscaya dia akan mendapatkan siksa tersebut, baik dikubur ataupun tidak, dimakan hewan buas atau terbakar sehingga menjadi debu, ditaburkan di atas udara, disalib atau tenggelam di tengah lautan. Semuanya akan mendapatkan siksaan seperti orang yang dikubur.[1]

Mereka pun meyakini bahwa siksa kubur adalah haq dan yang mengingkarinya ada di dalam kesesatan.[2] Al-Qur-an banyak memberikan isyarat akan adanya adzab kubur di dalam berbagai ayat, di antaranya:

 فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

“… Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” [Thaahaa/20: 124]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maksud dari ayat tersebut adalah siksa kubur.”[3]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” [As-Sajdah/30: 21].

Ibnu ‘Abbas berkata: “Maksud di dalam ayat tersebut adalah adzab kubur.”[4]

16. Kemutawatiran Hadits-hadits Tentang Adzab Kubur dan Berlindung Darinya.
Mereka semua meyakini kemutawatiran hadits tentang adzab kubur dan berlindung darinya.[5] Semuanya adalah riwayat yang shahih yang mendatangkan keyakinan dan menghilangkan keraguan, mereka semua memohon kepada Allah agar dilindungi dari siksa kubur dan menjadikan kuburannya itu sebagai taman hijau yang menyinari mereka.

17. Macam-Macam Adzab Kubur.
Mereka meyakini bahwa adzab kubur itu ber-macam-macam, di antaranya adalah dipukul dengan sebuah palu dari besi atau yang lainnya, dihimpit dengan kuburan sehingga tulang belulangnya remuk, dipenuhi dengan kegelapan, dihamparkan kepadanya hamparan dari api Neraka, dan dibukakan baginya satu pintu Neraka. Sebuah amal buruk menjelma menjadi seseorang dengan muka dan pakaian yang sangat buruk lagi berbau busuk yang duduk di sisinya, juga semua siksa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalan yang shahih.[6]

18. Pertanyaan Dua Malaikat dan Fitnah Kubur.
Mereka semua meyakini adanya pertanyaan dua Malaikat dan mempercayai bahwa semua berita yang menjelaskannya adalah berita yang mutawatir[7] yang memberikan sebuah keyakinan, mereka semua berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan ketetapan di dalam kubur ketika pertanyaan itu ditujukan kepadanya dengan ungkapan yang benar di dalam kehidupan dunia dan akhirat.

19. Sifat Dua Malaikat.
Mereka semua meyakini adanya dua Malaikat yang ditugaskan untuk memberikan pertanyaan kepada seorang hamba di dalam kuburnya, mereka itu adalah Munkar dan Nakir yang berwarna hitam dengan kedua matanya yang biru sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ- أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ ِلأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيرُ.

Jika seorang mayit dikubur atau salah seorang di antara kalian (keraguan perawi), maka dua Malaikat yang berwarna hitam dengan matanya yang biru datang kepadanya, salah satunya bernama Munkar sedangkan yang lain adalah Nakir.”[8]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Mereka berdua adalah dua Malaikat yang ditugaskan untuk mem-berikan pertanyaan kepada seorang mayit di dalam kubur, yaitu pertanyaan mengenai Rabb-nya, agamanya, dan Nabinya. Mereka berdua memberikan cobaan kepada orang yang baik dan orang yang berbuat jelek. Mereka berdua berwarna hitam dengan kedua matanya yang biru, mereka berdua memiliki dua taring dan segala macam bentuk dan suara yang menakutkan, semoga kita semua diberikan perlindungan dari siksa kubur dengan dikaruniai jawaban yang benar ketika ditanya.”[9]

20. Tentang Apa Saja Seorang Hamba Ditanya di Dalam Kuburnya?

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ar-Ruuh, hal. 78, Syarh ats-Thahawiyah, hal. 400, karya Ibnu Abil ‘Izz.
[2] Banyak orang yang mengingkari hal ini seperti Khawarij, kebanyakan golongan Mu’tazilah, dan sebagian Murji-ah. Lihat Syarh Muslim (XVII/201), karya an-Nawawi, ar-Radd ‘ala Syathaat man Yunkir ‘Adzaabal Qabri fir Ruuh, hal. 58, 73, karya Ibnul Qayyim dan Syarh ath-Thahawiyah, hal. 450, 451, karya Ibnu Abil ‘Izz.
[3] HR. Al-Hakim (I/381), beliau berkata, “Shahih berdasarkan syarat Muslim.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, al-Bazzar (no. 2233). Al-Haistami berkata di dalam kitab al-Majma’, “Di dalamnya ada seorang perawi yang tidak saya kenal.” Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata (III/169), “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang jayyid.” Diriwayatkan pula secara mauquf dari Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya sebagaimana diungkapkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ‘Adzaabul Qabri, hal. 60 dan Hanad di dalam kitab az-Zuhud (I/214), Ibnu Katsir berkata (III/169), “Pendapat mengenai hadits ini mauquf lebih shahih.”
[4] Tanwiirul Miqbaas (IV/232) dan as-Suyuthi di dalam kitab ad-Durrul Mantsuur (VI/120), beliau berkata, “Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir.”
[5] Hadits tentang adzab kubur dan berlindung darinya adalah hadits-hadits yang mutawatir, sebagaimana yang diungkapkan oleh kebanyakan pembesar para ulama, di antaranya adalah Ibnul Qayyim di dalam kitab Miftaah Daaris Sa’aadah (I/43) dan di dalam kitab ar-Ruuh, hal. 70. Diungkapkan pula oleh Ibnul ‘Izz di dalam kitab Syarh ath-Thahawiyah, hal. 399, as-Suyuthi di dalam kitab Syarhush Shuduur hal. 117, al-Kattani di dalam kitab Nazhmul Mutanaatsir, hadits (no. 113-114). Lihat kitab ‘Adzaabul Qabri wa Su-aalul Malakaini, karya al-Baihaqi.
[6] Lihat kitab kami al-Hayaatul Barzakhiyyah, hal. 47-51, fasal Anwaa’ ‘Adzaabil Qabri.
[7] Hadits-hadits yang menjelaskan adanya pertanyaan dua Malaikat dan fitnah kubur adalah hadits yang mutawatir, sebagaimana diungkapkan oleh para ahli ilmu, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam al-Fataawaa (XVIII/51), Ibnul Qayyim di dalam kitab ar-Ruuh, hal. 70, Ibnu Abil ‘Izz di dalam Syarh ath-Thahaawiyah, hal. 399, as-Suyuthi di dalam Syarhush Shuduur, hal. 177, az-Zubaidi di dalam kitab Luqathul Lai al-Mutanaatsirah, hal. 213/216, dan al-Kattani di dalam Nazhmul Mutanaatsir, hadits no. 111.
[8] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1071), beliau berkata, “Hasan gharib.” Ibnu Hibban (no. 180/Mawaarid) dan Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah (no. 864) dari hadits Abu Hurairah. Al-Albani di dalam kitabnya, ash-Shahiihah (no. 1391) berkata, “Sanadnya jayyid dengan perawi yang tsiqah, semuanya merupakan perawi Muslim.” Dan beliau menghasankan di dalam kitabnya, Takhriijus Sunnah, (no. 864), karya Ibnu Abi ‘Ashim.
[9] Al-Bidaayah wan Nihaayah (I/44).

Sebab-Sebab Adzab Kubur

Bab I
‘Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Alam Kubur

24. Allah Memperlihatkan Siksa Kubur Kepada Orang yang Dikehendaki-Nya.
Mereka meyakini bahwa jika Allah menghendaki untuk memperlihatkan adzab kubur kepada sebagian manusia yang ada di dunia, maka hal tersebut akan terjadi. Akan tetapi jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkannya kepada seluruh manusia, niscaya hikmah sebuah kewajiban yang ditetapkan kepada mereka dan hikmah beriman kepada alam ghaib akan hilang.[1] Banyak manusia di dunia ini yang pernah menyaksikan adanya siksa kubur, mereka mendengarkan jeritan orang yang disiksa dan melihat siksaan tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat yang ma’ruf.[2]

25. Sebab-Sebab Adzab Kubur.
Mereka semua meyakini bahwa adzab kubur itu ada sebabnya, yang paling utama adalah tidak mengenal Allah dan mengabaikan perintah-Nya. Juga dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Dan sesungguhnya siksa tersebut bermacam-macam sesuai dengan banyak dan sedikitnya, besar atau kecilnya dosa yang dilakukan.[3]

26. Air Kencing di Antara Sebab Khusus yang Menimbulkan Adanya Siksa Kubur.
Mereka semua meyakini bahwa air kencing di antara sebab khusus yang menimbulkan adanya siksa kubur, karena kebanyakan siksa kubur timbul karena-nya, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Nabi n.[4]

27. Sebab Keselamatan dari Siksa Kubur.
Mereka semua mengimani bahwa banyak hal yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur, di antaranya adalah memurnikan tauhid, melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berjuang (ribath) dan mati syahid di jalan-Nya, mati karena penyakit perut, membaca surat al-Mulk dan mati pada hari Jum’at.[5]

Mereka juga meyakini bahwa seorang mayit dapat mengambil manfaat dari amal orang lain dengan beberapa hal : do’a yang telah memenuhi syarat untuk dikabulkan, wali mayit yang memenuhi puasa nadzar bagi si mayit atau dengan membayar hutang yang berat di atas pundaknya dari siapa pun juga dan segala macam amal shalih yang dilakukan oleh seorang anak shalih. Sesungguhnya pahalanya akan diberikan pula kepada kedua orang tuanya.

Seorang mayit dapat memanfaatkan amal dirinya sendiri yang ia tinggalkan kepada orang yang ada setelahnya, berupa amal-amal yang shalih dan sedekah jariyah.[6]

28. Nikmat Kubur.
Mereka semua meyakini adanya nikmat kubur. Dan sesungguhnya ruh orang yang beriman ada di dalam Surga, terbang kemanapun yang ia mau sebagai balasan atas keimanan dan ketakwaannya, kuburnya diluaskan, dipenuhi dengan tanaman hijau sampai hari Pembalasan, dan dipenuhi dengan cahaya. Dia tidur di dalamnya bagaikan seorang pengantin yang tidak akan dibangunkan kecuali oleh isteri yang ia cintai. Pintu Surga dibukakan untuknya sehingga bau dan aroma Surga sampai kepadanya. Dia melihat bunga-bunganya dan apa yang ada di dalamnya, memakai pakaian dari Surga, dibentangkan baginya hamparan dari Surga, dan amal shalih yang ia lakukan pun menjelma menjadi seseorang yang menyenang-kan dengan membawa kabar gembira akan Surga, dia adalah teman di dalam kubur dan masih banyak lagi nikmat yang lainnya.[7]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah disemua hal yang mereka yakini, maka sesungguhnya mereka mengikuti Kitab Rabb semesta alam dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi, dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan ketetapan di dalam kubur ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, shalawat dan salam semoga ditetapkan kepada Muhammad, keluarga yang suci lagi baik, dan segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ar-Ruuh, hal. 96 dan Syarh ath-Thahaawiyah, hal. 1401.
[2] Diringkas dari Fataawaa Ibni Taimiyyah (IV/296).
[3] Lihat bab kedua di dalam buku ini, yaitu tentang sebab-sebab secara umum dan terperinci yang menyebabkan seseorang disiksa di dalam kubur.
[4] Hadits tentang hal ini akan dijelaskan nanti di halaman 43 (kitab asli).
[5] Lihat bab ketiga dari buku ini, yaitu sebab secara umum dan terperinci yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur.
[6] Lihat kitab Ahkaamul Janaa-iz, hal. 168-172, karya al-Albani.
[7] Lihat kitab al-Hayaatul Barzakhiyyah, hal. 57, 58, fasal Nikmat Kubur dan Macam-Macamnya.

Berusaha Keras Shalat Jum’at di Masjid yang Ada Kuburannya

BERUSAHA KERAS UNTUK BISA SHALAT JUM’AT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA

Oleh
Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.

Di antara orang ada yang suka mengerjakan shalat Jum’at di masjid yang padanya terdapat kuburan, dengan anggapan bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya ini lebih baik daripada shalat di masjid-masjid lainnya. Dan ini jelas salah dengan beberapa alasan:

1. Menguburkan orang-orang shalih dan yang lainnya di masjid haram hukumnya dan tidak boleh dilakukan. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani yang menjadikan kubu-ran Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Beliau memperingatkan agar berhati-hati terhadap apa yang mereka lakukan itu.”[1]

2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengadakan perjalanan yang bernilai ibadah ke selain tiga masjid yang diutamakan, di mana beliau telah bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: اَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى.

Tidak boleh diadakan perjalanan, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid al-Aqsha.”[2]

3. Mengagung-agungkan kuburan orang-orang shalih atau menguburkan mereka di tempat-tempat ibadah termasuk kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sementara kita diperintahkan untuk menyelisihi kebiasaan mereka, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَالِفُوا الْيَهُوْدَ.

Hendaklah kalian menyelisihi orang-orang Yahudi.”[3]

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti dia termasuk dari golongan mereka.”[4]

Sedangkan mengenai orang yang melakukan perjalanan ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at atau untuk menghadiri ceramah guna mengambil manfaat dari apa yang disampaikan khatib atau penceramah, maka hal itu boleh-boleh saja, dengan beberapa persyaratan berikut ini:

  1. Pada masjid tersebut tidak ada kuburan.
  2. Tidak boleh beranggapan bahwa masjid tersebut memiliki keutamaan atas masjid-masjid lainnya.
  3. Tujuan keberangkatannya itu adalah untuk belajar dan mengambil manfaat dan bukan untuk mencari keberkahan dan yang semisalnya.[5]

[Disalin dari kitab kitab al-Kali-maatun Naafi’ah fil Akhthaa’ asy-Syaai’ah, Bab “75 Khatha-an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia 75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
____
Footnote
[1] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3454) dan Muslim (no. 531).
[2] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1189) dan Muslim (no. 827).
[3] Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 652) dan dinilai shahih oleh al-Albani.
[4] Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4031) dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab al-Irwaa’ (no. 1269).
[5] Lihat kembali 90 kesalahan di masjid, kesalahan nomor 65

Hukum Shalat di Kuburan

HUKUM SHALAT DI KUBURAN

Oleh
Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

“RIWAS (Ritual Ziarah Wali Songo)” sebuah istilah yang amat familiar di telinga sebagian kalangan. Mereka seakan mengharuskan diri untuk melakukannya, minimal sekali setahun. Apapun dilakukan demi mengumpulkan biaya perjalanan tersebut. Manakala ditanya, apa yang dilakukan di sana ? Amat beragam jawaban mereka. Ada yang ingin shalat, berdoa untuk kenaikan pangkat, kelancaran rizki atau agar dikaruniai keturunan dan lain-lain.

Kepada siapa meminta ? Ada yang terang-terangan meminta kepada mbah wali. Namun ada pula yang mengatakan bahwa ia tetap meminta kepada Allâh Azza wa Jalla, tapi supaya cepat dikabulkan mereka sengaja memilih makam orang-orang ‘linuwih’ tersebut.

Yang akan dibahas dalam tulisan sederhana berikut bukan hukum ziarah kubur. Karena itu telah maklum disunnahkan dalam ajaran Islam, jika sesuai dengan adab-adab yang digariskan. Namun yang akan dicermati di sini adalah: hukum shalat di kuburan dan berdoa di sana. Semoga paparan berikut bermanfaat !

Shalat di Kuburan
Shalat di kuburan hukumnya haram, bahkan sebagian Ulama mengkategorikannya dosa besar[1].  Praktek ini bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik dan tindakan menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena itulah agama kita melarang praktek tersebut. Amat banyak nash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan hal tersebut. Di antaranya :

1. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. [Muslim (II/668 no. 972) dari Abu Martsad Radhiyallahu anhu]

Imam Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menyimpulkan, “Hadits ini menegaskan terlarangnya shalat menghadap ke arah kuburan. Imam Syâfi’i rahimahullah mengatakan, ‘Aku membenci tindakan pengagungan makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid. Khawatir mengakibatkan fitnah atas dia dan orang-orang sesudahnya.”[2]

al-‘Allâmah al-Munawi rahimahullah (w. 1031 H) menambahkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan; dalam rangka mengingatkan umatnya agar tidak mengagungkan kuburannya, atau kuburan para wali selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab bisa jadi mereka akan berlebihan hingga menyembahnya.”[3]

Berdasarkan hukum asal, larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa perbuatan yang dilarang hukumnya adalah haram. Demikian keterangan dari Imam ash-Shan’ani rahimahullah (w. 1182 H).[4]

2. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Laksanakanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian dan janganlah kalian menjadikannya kuburan. [HR. Bukhâri (I/528-529 no. 432) dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma]

Hadits ini menerangkan agar rumah jangan dikosongkan dari shalat, sebab rumah yang tidak dipakai untuk shalat, terutama shalat sunnah, bagaikan kuburan yang memang bukan tempat untuk shalat.

Imam al-Baghawi rahimahullah (w. 510 H), setelah membawakan hadits di atas, menyimpulkan, “Hadits ini menunjukkan bahwa kuburan bukanlah tempat untuk shalat.”[5]

Kesimpulan serupa juga disampaikan oleh Ibn Batthal rahimahullah (w. 449 H)[6] dan Ibn Rajab rahimahullah (w. 795 H).[7]

Ibnu Hajar al-‘Asqalany rahimahullah (w. 852 H) menyimpulkan lebih luas lagi. Kata beliau rahimahullah, “Kuburan bukanlah tempat untuk beribadah.”[8]

3. Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bumi seluruhnya adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi. [HR. Ahmad (XVIII/312 no. 11788) dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu. Sanadnya dinilai kuat oleh al-Hâkim[9] , Ibnu Taimiyyah rahimahullah[10] dan al-Albâni[11].

Imam Ibnu Qudâmah rahimahullah (w. 620 H) menjelaskan bahwa bumi secara keseluruhan bisa menjadi tempat shalat kecuali tempat-tempat yang terlarang untuk shalat di dalamnya, seperti kuburan[12].

Keterangan serupa juga disampaikan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah[13] dan al-Hâfizh al-‘Iraqi rahimahullah (w. 806 H)[14].

4. Doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Allâh sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka masjid.[15]

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah (w. 463 H) menerangkan, “Dahulu orang Arab shalat menghadap berhala dan menyembahnya. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa khawatir umatnya akan melakukan apa yang dilakukan umat sebelum mereka. Biasanya, jika nabi mereka wafat, mereka akan berdiam di sekeliling kuburannya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap berhala. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah”, dengan bershalat menghadap kepadanya, sujud ke arahnya dan menyembah. Allâh Azza wa Jalla sangat murka atas orang yang melakukan hal itu.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan para sahabat dan umatnya agar tidak terjerumus kepada perilaku buruk kaum terdahulu. Mereka shalat menghadap kuburan para nabi dan menjadikannya sebagai kiblat dan masjid. Sebagaimana praktek para pemuja berhala terhadap berhala mereka. Ini merupakan syirik akbar!”[16]

5. Hadits-hadits yang berisikan larangan untuk menjadikan kuburan sebagai masjid. Di antaranya yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Semoga Allâh membinasakan kaum Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. [HR. Bukhari (I/531 no. 437) dan Muslim (I/376 no. 530) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menuturkan bahwa hadits di atas mengandung “larangan untuk sujud di atas kuburan para nabi. Semakna dengan itu juga haramnya sujud kepada selain Allâh Azza wa Jalla. Hadits ini juga bisa diartikan larangan untuk menjadikan kuburan para nabi sebagai kiblat shalat. Setiap makna dalam bahasa Arab yang terkandung dalam hadits ini; maka itu termasuk perbuatan yang terlarang.”[17]

Setelah membawakan salah satu hadits yang berisikan larangan membangun masjid di atas kuburan, Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah (w. 804 H) berkata, “Hadits ini dalil dibencinya shalat di kuburan … Baik shalat di atasnya, di sampingnya atau menghadap ke arahnya. Tidak ada bedanya, semuanya dibenci (agama).”[18]

Hikmah Dibalik Terlarangnya Shalat di Kuburan
Para Ulama Islam sepakat bahwa menyengaja shalat di kuburan adalah terlarang[19]. Tidak ada yang membolehkannya, apalagi menganjurkannya. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam menentukan ‘illah (sebab) terlarangnya perbuatan tersebut;[20]

  1. Sebagian Ulama memandang bahwa sebabnya adalah karena kuburan identik dengan najis. Sebab tanahnya bercampur dengan nanah bangkai manusia.
  2. Ada juga Ulama lain yang berpendapat bahwa sebabnya adalah karena khawatir umat ini akan terjerumus ke dalam perbuatan syirik.

Di antara yang memilih pendapat kedua ini : Abu Bakr al-Atsram rahimahullah (w. 273)[21], al-Mawardi rahimahullah (w. 450 H)[22], Ibn Qudâmah rahimahullah [23], Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H)[24] , as-Suyuthi (w. 911 H)[25] dan yang lainnya.

Setelah menjelaskan bahwa maksud utama dilarangnya shalat di kuburan adalah karena dikhawatirkan akan mengakibatkan tindakan menjadikan kuburan sebagai berhala, Imam Suyuthi memperjelaskan bahwa maksud utama dilarangnya shalat di kuburan adalah karena dikhawatirkan umat ini akan menjadikan kuburan sebagai berhala, Imam as-Suyuti memeperjelas, “Inilah sebabnya mengapa syariat melarang perbuatan tersebut. Dan ini pula yang menjerumuskan banyak orang terdahulu ke dalam syirik akbar atau syirik di bawahnya.

Tidak jarang engkau dapatkan banyak kalangan sesat yang amat merendahkan diri di kuburan orang salih, khusyu’, tunduk dan menyembah mereka dengan hati. Sebuah bentuk peribadatan yang tidak pernah mereka lakukan, sekalipun di rumah-rumah Allâh ; maksudnya adalah masjid! …

Inilah mafsadah (keburukan) yang dicegah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sumbernya. Hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang secara mutlak shalat di kuburan, sekalipun tujuannya bukan untuk mencari berkah tempat tersebut. Demi menutup pintu atau celah yang berpotensi menghantarkan kepada kerusakan yang bisa memicu peribadatan kepada berhala.”[26]

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa sebab larangan adalah karena kuburan tempat yang najis, maka ini kurang pas dan tidak didukung oleh nas. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (w. 751 H) telah berpanjang lebar dalam menjelaskan hal itu. Di antara argumen yang beliau rahimahullah paparkan :

  1. Seluruh hadits yang berisikan larangan shalat di kuburan tidak membedakan antara kuburan yang baru maupun kuburan lama yang digali kembali.
  2. Tempat masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulunya adalah kuburan kaum musyrikin. Sebelum dibangun masjid di atasnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kuburan tersebut digali lalu tanahnya diratakan kembali. Dan beliau tidak menyuruh supaya tanahnya dipindahkan. Bahkan setelah diratakan, langsung dipakai untuk shalat.
  3. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum Yahudi dan Nasrani lantaran mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Telah maklum dengan jelas bahwa larangan itu bukan karena najis, karena jika demikian niscaya larangan tersebut tidak khusus untuk kuburan para nabi. Apalagi kuburan mereka adalah tempat yang suci, dan tidak mungkin dianggap najis, karena Allâh k melarang bumi untuk memakan jasad mereka.[27]

Hukum Orang Shalat di Kuburan
Secara umum shalat di area kuburan itu terlarang, namun bagaimana dengan orang yang melakukannya ? Apakah hukumnya satu atau bagaimana ?

Kalau kita lihat faktanya, orang-orang yang shalat di area kuburan itu memiliki tujuan beragam. Berdasarkan ini, maka hukum bagi masing-masing pelaku juga berbeda berdasarkan niatnya.

Pertama : Orang yang shalat di kuburan dengan tujuan mempersembahkan shalatnya untuk penghuni kubur.
Ini jelas masuk dalam kategori syirik akbar (besar); karena ia telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allâh, maka janganlah kalian menyembah apa pun selain Allâh. [al-Jinn/72:18]

Kedua : Orang yang shalat di kuburan dengan tujuan bertabaruk (memohon berkah) dengan tempat kuburan tertentu. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah yang mungkar dan penyimpangan dari ajaran Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kuburan tersebut berada di arah kiblatnya maupun tidak. Karena itu termasuk mengada-adakan suatu yang baru dalam praktek beribadah.

As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan, “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan doanya terkabul di situ; maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . (Dan ini ) menyimpang dari agama dan syariatnya. Juga dianggap bid’ah yang tidak dizinkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam agama, juga Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para imam kaum Muslimin yang setia mengikuti ajaran dan sunnah beliau.”[28]

Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H)[29], al-Munawa[30] dan ar-Rumi (w. 1043 H)[31] juga menyampaikan keterangan senada.

Ketiga : Shalat di kuburan tanpa di sengaja, hanya karena kebetulan bertepatan dengan masuknya waktu shalat. Tanpa ada tujuan bertabarruk (ngalap berkah darinya) atau mempersembahkan ibadah untuk selain Allâh Azza wa Jalla.

Tentang yang ketiga ini, para Ulama berbeda pendapat[32]. Namun yang lebih kuat adalah pendapat yang melarang, karena larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat umum serta demi menutup rapat pintu yang berpotensi menghantar kepada kesyirikan. Dan ini merupakan pendapat mayoritas Ulama, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Mundzir (w. 319 H).[33]

Keempat : Shalat di kuburan dengan tujuan shalat jenazah.
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berikut menunjukkan hal itu boleh dilakukan :

أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا، فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ، فَقَالُوا: “مَاتَ”. قَالَ: “أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟”. قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ!” فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: “إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

Dikisahkan seorang wanita hitam atau pemuda biasa menyapu masjid. Suatu hari Rasûlullâh Shallalalhu ‘alaihi wa sallam kehilangan dia, sehingga beliaupun menanyakannya.
“Dia sudah meninggal” jawab para sahabat.
“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”
Mereka seakan tidak terlalu menaruh perhatian terhadap orang tersebut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan padaku di mana kuburannya?”
Setelah ditunjukkan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat atasnya, lalu bersabda, “Sesungguhnya para penghuni kuburan ini diliputi kegelapan. Sekarang Allâh meneranginya lantaran aku shalat atas mereka
”. [HR. Bukhâri (I/551 no. 438) dan Muslim (II/659 no. 956) dengan redaksi Muslim].

(Diangkat dari tesis kami yang berjudul Mazhâhirul Inhirâf fî Tauhîdil ’Ibâdah ladâ Ba’dh Muslimî Indonesia wa Mauqif al-Islam minhâ hlm. 974-990)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat az-Zawâjir ‘an Iqtirâf al-Kabâ’ir karya Ibn Hajar al-Haitamy (I/148).
[2] Syarh Shahîh Muslim (VII/42).
[3] Faidh al-Qadîr (VI/318).
[4] Lihat Subul as-Salâm (I/403).
[5] Syarh as-Sunnah (II/411).
[6] Lihat Syarh Shahih al-Bukhari (II/86).
[7] Lihat Fathul Bâri karya Ibn Rajab (III/232).
[8] Fathul Bâri karya beliau (I/528).
[9] Al-Mustadrak (I/251).
[10] Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/189).
[11] Irwâ’ al-Ghalîl (I/320).
[12] Lihat al-Mughni (II/472).
[13] Cermati Syarah Shahîh Muslim (V/5).
[14] Sebagaimana dinukil oleh al-Munawi dalam Faidhul Qadîr (III/349).
[15] HR. Mâlik dalam al-Muwattha’ (II/72 no. 452) dari ‘Atha’ bin Yasar rahimahullah. Hadits ini mursal sahih. Dalam Musnadnya (I/220 no. 440 –Kasyf al-Astâr) al-Bazzar menyambung sanad hadits ini hingga menjadi marfû’. Begitu pula Ibn ‘Abd al-Barr dalam at-Tamhîd (V/42-43) menyambungnya dari jalan al-Bazzar. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini sahih dalam Tahdzîrus Sâjid (hlm. 25 no. 11) dan Ahkâmul Janâ’iz (hlm. 217).
[16] At-Tamhîd (V/45).
[17] At-Tamhîd (VI/383).
[18] Al-I’lâm bi Fawâ’id ‘Umdatil Ahkâm (IV/502).
[19] Cermati Majmû’ Fatâwâ Ibn Taimiyyah (XXVII/488).
[20] Lihat al-Hâwiy al-Kabîr karya al-Mawardy (III/60), Raddul Muhtâr karya Ibn ‘Abidin (II/42-43) dan Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/190).
[21] Sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ighâtsatul Lahfân (I/357).
[22] Periksa al-Hâwiy al-Kabîr (III/60).
[23] Cermati al-Mughni (II/473-474 dan III/441).
[24] Lihat Iqtidhâ’ush Shirâthil Mustaqîm (II/190-191).
[25] Baca al-Amr bi al-Ittibâ’ (hlm. 136-139).
[26] al-Amr bi al-Ittibâ’ (hlm. 136-139).
[27] Lihat: Ighâtsah al-Lahfân (II/353-356). Masih ada argumen lain, bisa dibaca di Mujânabah Ahlits Tsubûr al-Mushallîn fî al-Masyâhid wa ‘inda al-Qubûr karya Abdul Aziz ar-Rajihy (hlm. 28-30).
[28] Al-Amr bi al-Ittibâ’ (hlm. 139). Lihat pula: Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/193).
[29] Cermati Az-Zawâjir (I/148).
[30] Periksa Faidhul Qadîr (VI/407).
[31] Lihat Majâlisul Abrâr (hlm. 126, 358-359, 364-365) sebagaimana dalam Juhûd ‘Ulamâ’ al-Hanafiyyah fî Ibthâl ‘Aqâ’idil Quburiyyah karya Syamsuddin al-Afghany (III/1593-1594).
[32] Untuk mengetahui pendapat mereka, baca; untuk referensi Madzhab Hanafi : al-Ikhtiyâr li Ta’lîl al-Mukhtâr karya al-Mushily (I/97), Hasyiyah Ibn ‘Âbidîn (I/380), Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ karya al-Kasany (I/335-336) dan al-Mabsûth karya as-Sarkhasy (I/206-207). Madzhab Maliki : al-Mudawwanah karya Abu al-Walid Ibn Rusyd (I/182) dan Mawâhib al-Jalîl karya al-Hathab (II/63-64). Madzhab Syafi’i: Al-Umm karya Imam Syafi’i (II/632), al-Muhadzab karya asy-Syirazy (I/215-216) dan al-Majmû’ karya an-Nawawy (III/163-165). Madzhab Hambali: Al-Mughny karya Ibn Qudamah (II/473-474), al-Inshâf karya al-Mardawy (I/489) dan ar-Raudh al-Murbi’ karya Ibn al-Qasim (I/537). Madzhab Dzahiri: Al-Muhallâ karya Ibn Hazm (IV/27-33).
[33] Cermati al-Ausath (V/185).

Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Dampak Negatif dari Dosa dan Kemaksiatan
Tidak diragukan bahwa pengaruh dosa sangat berbahaya, bahkan ia adalah sebab utama adanya kesengsaraan di dalam kehidupan dunia, kesempitan di dalam kubur, dan siksa pedih di dalam kehidupan akhirat.

Dan di antara yang perlu diketahui bahwa dosa dan kemaksiatan memiliki dampak negatif, dan tidak diragukan bahwa bahaya dosa terhadap hati bagaikan bahaya racun terhadap badan, semua bertingkat-tingkat dan bermacam-macam. Dan apakah di dunia ini ada sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari-pada penyakit yang timbul karena perbuatan dosa dan kemaksiatan?

  • Apakah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawwa dari Surga, tempat kenikmatan dan ke-lezatan menuju dunia yang merupakan tempat yang penuh dengan kesedihan dan cobaan?
  • Dan apakah yang menjadikan iblis terlaknat keluar dari kerajaan langit? Apakah yang menjadikan dia tercampakkan sehingga berubah bentuk, zhahirnya memiliki bentuk yang paling buruk, sedangkan dalamnya adalah bentuk yang sangat busuk? Yang dekat berubah menjadi jauh, kasih sayang berubah menjadi laknat, keindahan berubah menjadi kebusukan, Surga berubah menjadi api yang menyala-nyala, keimanan berubah menjadi kekufuran, kekasih yang paling dekat berubah menjadi musuh paling garang. Hiruk-pikuk tasbih, taqdis, dan tahlil berubah menjadi hiruk-pikuk kekufuran, kemusyrikan, kebohongan dan kemaksiatan. Pakaian keimanan digantikan dengan pakaian kekufuran dan kefasikan. Akhirnya dia menjadi makhluk yang sangat hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemarahan Allah pun menimpanya, maka jadilah dia sebagai pemimpin bagi seluruh orang yang fasiq dan penuh dosa. Dia pun ridha untuk memimpin dalam kefasikan setelah menjadi ahli ibadah dan pemimpin kebaikan. Hanya kepada-Mu ya Allah! Kami semua berlindung untuk tidak menyalahi segala perintah-Mu dan tidak melakukan segala yang dilarang oleh-Mu!
  • Apakah yang telah menenggelamkan semua penduduk bumi sehingga air melebihi kepala mereka bahkan melebihi gunung?
  • Apakah yang telah mendorong angin untuk menerbangkan kaum ‘Aad sehingga membuat mereka mati di atas bumi, seakan-akan mereka adalah batang-batang pohon kurma yang roboh. Semua rumah, kebun, dan binatang ternak mereka hancur sehingga menjadi sebuah pelajaran bagi umat setelahnya sampai hari Kiamat?
  • Apakah yang telah mendorong sebuah teriakan kepada kaum Tsamud sehingga hati-hati mereka terpotong-potong di dalam tenggorokan, yang pada akhirnya mereka semua mati?
  • Apakah yang telah menjadikan kampung kaum Nabi Luth Alaihissallam terangkat sehingga para Malaikat mendengarkan lolongan anjingnya. Lalu kampung tersebut dibalikkan, yang atas ada di bawah, mereka semua hancur, lalu mereka dilempari dengan batu-batu dari langit, bermacam siksaan menyatu kepada mereka yang belum pernah terjadi kepada umat yang lainnya dan untuk saudara-saudara mereka ada siksaan seperti itu pula, dan sesungguhnya siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim?
  • Apakah yang telah menjadi sebab datangnya awan adzab kepada kaum Nabi Syu’aib Alaaihissallam. Ia bagaikan bayangan akan tetapi setelah sampai di kepala mereka, awan tersebut menghujani mereka dengan api yang menyala-nyala?
  • Apakah yang menyebabkan Fir’aun dan para pengikutnya tenggelam di tengah lautan, kemudian ruhnya dipindahkan ke Neraka Jahannam, jasadnya tenggelam sedangkan ruhnya terbakar?
  • Apakah yang menjadi sebab ditenggelamkannya rumah, harta, dan semua keluarga Qarun ke dalam bumi?
  • Apakah yang menyebabkan masa-masa setelah Nabi Nuh Alaihissallam ada di dalam berbagai macam siksaan?
  • Apakah yang telah menghancurkan kaum Shahib Yasin dengan sebuah teriakan sehingga pada akhirnya mereka mati?
  • Apakah yang telah menjadi sebab sehingga Allah mengutus orang-orang yang memiliki kekuatan kepada Bani Israil, mereka merajalela di sekitar kampung-kampung, mereka membunuh para lelaki dan menahan wanita juga anak-anak. Mereka membakar rumah dan merampas harta, kemudian Allah mengutus mereka untuk kedua kalinya untuk menghancurkan Bani Israil?
  • Apakah yang menjadi sebab sehingga mereka ditimpa dengan berbagai macam siksaan, dengan pembunuhan, penawanan, penghancuran negeri, dengan kejahatan para pemimpin, diubah bentuk menjadi kera, dan akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah,sebagaimana dalam firman-Nya:

 لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَنْ يَّسُوْمُهُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِۗ

“… Bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka adzab yang seburuk-buruknya…” [Al-‘Araaf/7: 167].[1]

Inilah sebagian dampak negatif yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat di dunia, sedangkan di dalam Barzakh, maka sesungguhnya ia adalah taman dari taman-taman Surga atau merupakan satu lubang dari lubang-lubang Neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati alam Barzakh dengan ungkapannya:

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلاَّ الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ.

Aku sama sekali tidak pernah melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan daripada kuburan.”[2]

Di sanalah rasa ngeri, kegelapan dan berbagai macam siksaan bagi orang yang telah melakukan amal buruk. Di sana pula kebahagiaan, cahaya, dan berbagai macam nikmat bagi orang yang telah melakukan amal shalih.

Kemaksiatan itu dapat membutakan mata hati, menghilangkan cahayanya, menghalangi jalan ilmu, dan menghilangkan gemerlapnya sebuah petunjuk.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mereka sedang berkumpul dan menduga adanya benih-benih tersebut, “Aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Senantiasa cahaya tersebut melemah dan sedikit demi sedikit akan lenyap, sedangkan kegelapan maksiat semakin kuat sehingga ia bagaikan malam yang sangat gelap. Berapa banyak orang yang jatuh dan tidak dapat melihat, ia bagaikan orang buta yang keluar pada malam yang sangat gelap penuh dengan mara bahaya. Keselamatan yang sangat berharga!! Akan tetapi kebinasaan lebih cepat datang!! Kegelapan semakin kuat, sedangkan ia terus saja merayap dari hati menuju anggota badan yang lainnya, sehingga muka-muka semakin gelap sesuai dengan daya kemaksiatan yang telah menimpanya. Lalu ketika kematian datang kepadanya, maka kemaksiatan tersebut akan tampak di alam Barzakh, sehingga kuburannya penuh dengan kegelapan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّى يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ.

Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan yang menimpa penghuninya dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla meneranginya dengan do’aku kepada mereka.”[3]

Pada hari Kiamat nanti dimana seluruh hamba dikumpulkan, muka-muka itu akan tampak kelihatan dan setiap orang melihatnya sedangkan ia akan menjadi sangat hitam bagaikan arang. Aduhai!! Amat pedihnya siksaan ini yang sama sekali tidak dapat ditimbang dengan seluruh kenikmatan yang di dapatkan di dunia dari awal sampai akhir, padahal kesulitan hidup juga kepedihan yang dirasakan olehnya di dunia hanyalah khayalan sesaat! Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.[4]

Pokok-pokok Dosa dan Pembagiannya:
Sebagaimana dosa bermacam-macam dalam kerusakan dan tingkatan-tingkatannya, maka siksaan yang diakibatkannya di dunia dan alam Barzakh pun bermacam-macam.

Di dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan -dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala- sebuah fasal yang sangat singkat dan mencakup pokok-pokok dosa dan macam-macamnya.

Pokok sebuah dosa.
Pokok sebuah dosa ada dua macam: meninggalkan perintah dan melakukan perbuatan yang dilarang.

Keduanya merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kedua orang tua jin dan manusia (iblis dan Adam).[5]

Meninggalkan sebuah perintah lebih besar di sisi Allah daripada melakukan perbuatan
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang Adam untuk tidak memakan buah dari sebuah pohon, tetapi dia memakannya, lalu dia bertaubat kepada Allah. Sedangkan iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, akan tetapi dia membangkang perintah tersebut dan tidak bertaubat.[6]

Awal berbagai kesalahan ada tiga:

  1. Inilah yang telah menjadikan iblis kepada keadaannya (dilaknat oleh Allah).
  2. Inilah yang menjadikan Adam keluar dari Surga.
  3. Inilah yang menjadikan salah satu dari anak Adam membunuh yang lainnya.

Sehingga siapa saja yang terjaga dirinya dari tiga hal ini, maka dirinya telah terjaga dari segala bentuk kejelekan.

Kekafiran timbulnya karena kesombongan, kemaksiatan timbul karena kerakusan, dan perbuatan zhalim timbul karena iri hati.[7]

Pembagian dosa.
Dosa itu terbagi kepada empat bagian:[8] Mulkiyyah, Syaithaniyyah, Sabu’iyyah, dan Bahimiyyah.

Mulkiyyah
Adalah sebuah sikap di mana seorang hamba melakukan segala hal yang sebenarnya merupakan hak rububiyyah Allah, seperti sombong, merasa besar, memaksa, merasa tinggi, menjadikan orang lain sebagai hamba-Nya, dan yang lainnya.

Masuk ke dalam kategori dosa macam ini adalah syirik kepada Allah. Ia terbagi kepada dua bagian:

  1. Syirik di dalam sifat dan Nama-Nama-Nya.
  2. Syirik di dalam bermuamalah kepada-Nya.

Bagian kedua ini terkadang tidak mewajibkan (mengharuskan) seseorang masuk ke dalam Neraka, walaupun amal yang ia lakukan pada waktu itu hancur.

Dosa dengan kategori seperti ini merupakan dosa yang paling berat, masuk ke dalamnya adalah mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu dalam penciptaan dan urusan-Nya.

Sehingga siapa saja yang melakukan dosa seperti ini, maka sesungguhnya ia telah mencabut makna Rububiyyah dan Mulkiyyah dari Allah. Dia telah menjadikan sekutu bagi-Nya. Inilah dosa yang paling berat sehingga sebuah amal sama sekali menjadi tidak berarti.

Syaithaniyyah
Adalah dosa-dosa yang menyerupai perbuatan syaitan, seperti hasad (iri), zhalim, berbuat curang, menipu, berbuat makar, mendorong orang lain untuk melakukan kemaksiatan, melarang orang lain melakukan ketaatan, berbuat bid’ah di dalam agama dan mengajak orang lain untuk melakukannya.

Sabu’iyyah
Adapun Sabu’iyyah, maka sesungguhnya dosa ini adalah dosa yang terwujud di dalam perbuatan, seperti permusuhan, kemarahan, pembunuhan, dan merampas hak milik orang-orang lemah.

Dari dosa-dosa seperti ini timbullah segala macam dosa yang mengakibatkan perbuatan zhalim dan permusuhan.

Bahimiyyah
Dosa seperti ini contohnya adalah rakus di dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan.

Dari dosa macam ini timbullah perbuatan zina, mencuri, memakan harta anak yatim, pelit, penakut, tamak, dan yang lainnya.

Ini adalah dosa yang banyak dilakukan oleh banyak manusia, karena lemahnya mereka untuk melakukan dosa-dosa Sabu’iyyah dan Mulkiyyah dan darinya mereka masuk kepada bagian yang lainnya. Dosa macam ini menarik mereka kepada macam yang lainnya secara terkendali. Akhirnya mereka masuk ke dalam dosa dalam kategori Sabu’iyyah, lalu Syaithaniyyah, dan akhirnya masuk ke dalam dosa yang mencabut makna Rububiyyah dari Allah dan syirik dalam keesaan-Nya.

Siapa saja yang merenungkan semua ini, maka dia akan mendapati bahwa dosa merupakan lorong menuju sebuah kemusyrikan dan kekufuran. Juga merupakan awal yang akan berujung kepada sikap mencabut makna Rububiyyah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Balasan Disesuaikan dengan Amal Perbuatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه

“… Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…” [An-Nisaa’/4: 123].

Maknanya adalah siapa saja yang melakukan sebuah kejelekan, besar ataupun kecil, dilakukan oleh seorang mukmin atau kafir, maka perbuatan tersebut akan dibalas.[9] Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebuah balasan akan disesuaikan dengan amal yang dilakukan. Jika seseorang sering memberikan ampunan kepada orang lain, maka dia akan mendapatkan ampunan dari Allah. Siapa saja yang memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, maka Allah pun akan memaafkan kesalahan yang ia lakukan kepada Allah. Siapa saja yang menuntut balas atas kesalahan orang lain, maka Allah pun akan menuntut balas kepadanya. Janganlah kamu melupakan keadaan seseorang yang dicabut nyawanya oleh Malaikat, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah anda pernah melakukan sebuah perbuatan baik?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya,’ lalu dikatakan kepadanya, ‘Ingatlah!’ Dia pun berkata, ‘Dahulu saya pernah menjual sesuatu kepada banyak orang, aku berikan tempo kepada orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu aku lepaskan hutang tersebut.’ Di dalam riwayat yang lain, ‘Aku menyuruh pembantuku untuk berkeliling ke perumahan.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku lebih berhak melakukan perbuatan tersebut daripadanya,’ dan Allah pun memaafkan kesalahannya. Sesungguhnya Allah menyikapi hambanya sesuai dengan sikap hamba tersebut kepada yang lainnya.”[10]

Begitu pula keadaan di dalam kubur, sesungguh-nya balasan yang akan didapatkan oleh seorang mayit disesuaikan dengan amal yang ia lakukan di dunia.

Marilah kita dengarkan ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya, Tuhfatul Mauduud bi Ahkaamil Mauluud yang mengisyaratkan kepada makna yang saya ungkapkan di atas, beliau berkata, “… kemudian seorang mukmin diberikan kenikmatan di dalam alam Barzakh sesuai dengan amal yang ia lakukan. Begitupula seorang fajir (pelaku kemaksiatan) disiksa di dalam kubur sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan, seluruh anggota badan akan dibalas sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan.

  • Lalu orang yang selalu menggunjing dengan memotong-motong kehormatan orang lain, lidahnya akan dipotong dengan gunting dari api
  • Perut orang yang selalu makan riba akan dipenuhi dengan batu-batu dari api Neraka. Mereka juga akan berenang di dalam sungai-sungai darah sebagaimana mereka berenang di dalam ladang yang busuk di dunia.
  • Kepala orang-orang yang selalu tidur tidak melaksanakan shalat wajib akan ditumbuk dengan batu yang sangat besar.
  • Mulut seorang pembohong dengan kebohongan yang besar akan dibelah dengan pengorek bara api dari besi sampai belakang kepalanya, hidungnya sampai belakang, kedua matanya sampai belakang sebagaimana ia memotong kalimat yang diungkapkannya menjadi sebuah kebohongan.
  • Wanita yang selalu melakukan zina akan digantungkan dengan kedua payudaranya.
  • Para pelaku zina akan ditahan di atas sebuah tungku yang menyala, lalu tempat melakukan kemaksiatannya (kemaluannya) disiksa. Tungku itu ada di dalam tempat yang sangat bawah.
  • Kebingungan, kesedihan, dan kepedihan akan ditimpakan kepada jiwa-jiwa yang hanya bermain-main saja, maka kepedihan tersebut akan menggerogoti mereka bagaikan singa dan serangga yang menggerogoti daging tubuh mereka. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri alam dan dunia..”[11]

Sebab-Sebab Secara Umum yang Menimbulkan Siksa Kubur.
Semua sebab ini sebenarnya berakar kepada dua sebab utama, yaitu:

  1. Syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bodoh akan masalah tersebut dan tidak mewujudkan tauhid.
  2. Melalaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mereka disiksa karena kebodohan mereka dan karena kelalaian mereka akan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta perbuatan maksiat mereka. Allah tidak akan pernah menyiksa jiwa yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Allah juga tidak akan pernah menyiksa badan yang ada di dalam keadaan demikian. Karena sesungguhnya adzab kubur dan adzab akhirat adalah pengaruh dari kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, maka siapa saja yang menjadikan Allah murka dan membencinya di alam dunia ini, kemudian dia tidak bertaubat dan meninggal di atas hal tersebut, maka dia akan mendapatkan siksaan di alam Barzakh sesuai dengan kebencian Allah kepadanya, di antara mereka ada yang lalai dan ada yang rajin dan di antara mereka ada yang membenarkan dan ada yang mengingkari.”[12]

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kemaksiatan yang menjadikan pelakunya disiksa di dalam kubur, dan dari hal-hal yang telah lalu, maka sudah sepatutnya mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

  1. Siksa orang yang berbuat maksiat di dalam kubur bermacam-macam sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan.
  2. Sesungguhnya siksa kubur terjadi karena kemaksiatan hati, mata, telinga, mulut, lisan, perut,kemaluan, tangan, dan badan seluruhnya.
  3. Sesungguhnya syirik kepada Allah merupakan dosa yang paling besar, karena itu orang yang melakukan syirik sangat berhak untuk mendapatkan bagian dari siksa kubur, kenapa tidak?! Padahal dia telah menjadikan tuhan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Karena itu syirik adalah sebab utama yang menjadikan seseorang ada di dalam kesempitan dan mendapatkan segala macam siksaan yang pedih di dalam kubur.

Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan sebab-sebab tersebut sebagai sebuah peringatan kepada jiwa kami sendiri dan seluruh saudara kami sesama muslim, dengan bersandar kepada ayat-ayat yang mulia juga kepada hadits-hadits yang shahih beserta beberapa catatan penting dari perkataan para ulama yang terpercaya.

Maka renungkanlah sebab-sebab yang membinasakan tersebut, wahai saudaraku!! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan janganlah kalian melalaikannya, sehingga melupakannya dan akhirnya adalah adzab yang sangat pedih menimpa!!

Maka sekarang telah tiba saatnya untuk saya ungkapkan secara terperinci satu-persatu:

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 60-61.
[2] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2308), beliau berkata, “Hadits hasan gharib.” Ibnu Majah (no. 4267) dan yang lainnya dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam kitab al-Misykaah (no. 132) dan al-Arnauth di dalam Jaami’ul Ushul (XI/165).
[3] HR. Muslim, kitab al-Janaa-iz, bab ash-Shalaah ‘alal Qabri (no. 956 (71)).
[4] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 107 dengan sedikit perubahan redaksi.
[5] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 168.
[6] Al-Fawaa-id, hal. 117-126. Silahkan lihat dalil-dalil akan ungkapan tersebut di dalamnya.
[7] Al-Fawaa-id, hal. 56.
[8] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 169-170.
[9] Makna tersebut sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ubay bin Ka’ab, Inilah makna yang dipilih oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya (V/293).
[10] Miftaah Daaris Sa’aadah (I/291-292). Kaidah ini banyak di-ungkap di dalam kitab-kitab beliau rahimahullah.
[11] Tuhfatul Mauduud, hal. 15. Perkataan ini ditetapkan pula oleh al-Hafizh Abu Bakar ibnul ‘Arabi sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh di dalam kitab Fat-hul Baari dan akan diungkap-kan di halaman berikutnya.
[12] Ar-Ruuh, hal. 103.

Hal-Hal yang Menakutkan Di Alam Kubur

HAL-HAL YANG MENAKUTKAN DI ALAM KUBUR

Oleh
Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A

Apabila kita mengamati nash-nash yang shahîh dari al-Qur`ân dan Sunnah serta di topang oleh pemahaman dan pandangan para Ulama dalam memahami nash-nash tersebut, maka diketahui bahwa manusia akan melewati empat alam kehidupan, yaitu: alam rahim, alam dunia, alam barzakh (kubur), alam akhirat. Semua proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki kekhususan masing-masing, tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Misalnya alam rahim, mungkin saja bisa diketahui sebagian proses kehidupan di sana melalui peralatan kedokteran yang canggih, tapi di balik itu semua, masih banyak keajaiban yang tidak terungkap dengan jalan bagaimana pun. Semua itu merupakan rahasia yang sengaja Allah Azza wa Jalla tutup dari ilmu dan pandangan umat manusia. Allah Azza wa Jalla telah menerangkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja [al-Isrâ`/17:85]

Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan alam akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan terhadap yang ghaib, melalui teropong nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah. Beriman dengan hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang Mukmin dengan seorang kafir, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Azza wa Jalla :

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ

Kitab (al-Qur`ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”.[al-Baqarah/2:2-3]

Banyak nash dari al-Qur`ân dan Sunnah yang mengukuhkan persoalan ini, yang tidak mungkin diuraikan dalam tulisan yang singkat ini.

Keadaan Manusia di Alam Kubur
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur. Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,

لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [al-Mukminûn/23:100]

Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, “Barzakh adalah perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah mati dan hari kebangkitan.[1]

Alam Barzakh dinamakan dengan alam kubur adalah karena keadaan yang umum terjadi. Karena pada umumnya jika manusia meninggal dunia, dia dikubur dalam tanah. Namun, bukan berarti orang yang tidak dikubur terlepas dari peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang dimakan binatang buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar. Sebab Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti yang diceritakan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوْهُ وَاذْرُوْا نِصْفَهُ فِي الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِي الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ الْعَالَمِيْنَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ثُمَّ قَالَ لِمَ فَعَلْتَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ فَغَفَرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang tidak pernah beramal baik sedikit pun berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka bakarlah dia, lalu tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian sebarkan saat angin kencang bertiup, sebagian di daratan dan sebagian lagi di lautan. Lalu ia berkata, ‘Demi Allah, jika Allah mampu untuk menghidupkannya, tentu Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak diazab dengannya seorang pun dari penduduk alam. Maka Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan debunya yang terdapat dalamnya. Maka tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut?[2]

Dari kisah di atas dapat kita lihat bagaimana seseorang tersebut berusaha untuk lari dari azab Allah Azza wa Jalla dengan cara yang menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari azab Allah Azza wa Jalla Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Bila seandainya ada seseorang mau melakukan tipuan terhadap Allah Azza wa Jalla agar ia terlepas dari azab kubur, sesungguhnya kekuasan Allah Azza wa Jalla jauh lebih kuat daripada tipuannya. Pada hakikatnya yang ditipu adalah dirinya sendiri.

Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan sampai terompet sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil. Di sana ada yang bersukacita dan ada pula yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang menderita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Barâ’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu. Ia berkata, “Ketika kami menghadiri penguburan jenazah di perkuburan Baqi’ Gharqad, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami lalu beliau duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau, seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala kami (gambaran akan ketenangan Sahabat). Orang jenazah tersebut sedang digalikan lahatnya. Lalu Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur” sebanyak tiga kali. Selanjutnya beliau berkata, “Sesungguhnya seorang hamba apabila akan menjumpai kehidupan akhirat dan berpisah dengan kehidupan dunia, para malaikat turun mendatanginya, wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan minyak harum dari surga. Para malaikat tersebut duduk dengan jarak sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut mendatanginya dan duduk dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah. Maka keluarlah ruh itu bagaikan air yang mengalir dari mulut cerek. Maka malaikat maut mengambil ruhnya. Bila ruh itu telah diambil, ia tidak membiarkan berada di tangannya walaupun sekejab mata hingga para malaikat (yang membawa kafan dan minyak harum) mengambilnya. Lalu mereka bungkus ruh itu dengan kafan dan minyak harum tersebut. Maka keluarlah darinya aroma, bagaikan aroma minyak kasturi yang paling harum di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik menuju (ke langit). Mereka melewati para malaikat yang bertanya, ‘Siapa bau harum yang wangi ini? Maka mereka menyebutnya dengan panggilan yang paling baik di dunia. Sampai naik ke langit, lalu mereka meminta dibukakan pintu langit, maka lalu dibukalah untuknya. Malaikat penghuni setiap langit mengiringinya sampai pada langit berikutnya. Dan mereka berakhir pada langit  tempat Allah berada. Allah berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku pada ‘Illiyyin (tempat yang tinggi) dan kembalikan ia ke bumi, sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari bumi, kemudian di sanalah mereka dikembalikan dan akan dibangkitkan kelak. Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat, keduanya menyuruhnya untuk duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ ia menjawab, ‘Rabbku adalah Allah’. ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab agamaku Islam’. ‘Siapa orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ia adalah Rasulullâh. ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah dan beriman dengannya’. Lalu diserukan dari langit, ‘Sungguh benar hambaku’. Maka bentangkanlah untuknya tikar dari surga. Dan bukakan baginya pintu surga. Maka datanglah kepadanya keharuman surga dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, ‘Bergembiralah dengan semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu. Maka ia (mayat) pun  bertanya, ‘Siapa anda, wajahmu yang membawa kebaikan?’ Maka ia menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang shaleh’. Ia bertanya lagi, ‘Ya Allah,  segerakanlah kiamat  agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.

Dan bila seorang kafir, ia berpindah dari dunia dan menuju ke alam akhirat. Dan para malaikat turun dari langit menuju kepadanya dengan wajah yang hitam. Mereka membawa kain ketan yang kasar, mereka duduk dengan jarak dari mayat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat Maut duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan Allah. Selanjutnya, ruhnya pun menyebar ke seluruh tubuhnya dan  malaikat Maut mencabut ruhnya dengan kuat seperti mencaput sisir besi dari ijuk yang basah. Bila ruh itu telah diambil, malaikat itu tidak membiarkannya sekejab mata di tangannya, sampai para malikat (ruh) meletakkannya pada kain ketan yang kasar tersebut. Kemudian ia mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Selanjutnya para malaikat membawa naik ruh tersebut. Tiada malaikat yang mereka lewati kecuali mereka mengatakan, ‘Bau apa yang sangat keji ini?’ ia dipanggil dengan namanya yang paling jelek waktu di dunia. Sehingga arwahnya sampai pada langit dunia dan malaikat meminta pintunya dibuka, akan tetapi tidak diizinkan. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَاۤءِ وَلَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتّٰى يَلِجَ الْجَمَلُ فِيْ سَمِّ الْخِيَاطِ

Tidak dibukakan untuk mereka pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta masuk ke dalam lubang penjahit”.[al-A`râf/7:40]

Setelah itu Allah Azza wa Jalla berkata, “Tulislah catatan amalnya di Sijjîn pada lapisan bumi yang paling bawah”. Dan ruhnya dilemparkan jauh-jauh. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاۤءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ

Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka seolah-olah ia telah terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh [al-Hajj/22:31]

Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan  datang kepadanya dua orang malaikat yang menyuruhnya duduk. Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Rabbmu? ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Mereka bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Maka seseorang menyeru dari langit, ‘Sungguh ia telah berdusta’. Bentangkan tikar untuknya dari api neraka dan bukakan salah satu pinti neraka untuknya. Maka datanglah kepadanya angin panas neraka. Lalu kuburnya disempitkan sehingga tulang-tulang rusuknya saling berdempet. Kemudian datang kepadanya seorang yang bewajah jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata, ‘Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang dijanjikan padamu. Lalu ia (mayat) bertanya, ‘Siapa engkau yang berwajah jelek?’ Ia menjawab, Aku adalah amalanmu yang keji’. Lalu mayat itu mengatakan, ,Rabb ku janganlah engkau datangkan Kiamat”[3].

Jika seorang Muslim mau merenung sejenak bagaimana keadaan dan kondisi kehidupannya nanti di alam kubur. Niscaya ia akan menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Bayangkan, bagaimana keadaan kita ketika berada dalam sebuah lubang yang sempit lagi gelap, serta tidak ada cahaya sedikit pun. Betapa mencekam suasana gelap itu dan menimbulkan rasa takut yang dalam, napas terasa sesak, semakin lama semakin sulit untuk bernapas, rasa haus, lapar, panas, mau berteriak tidak seorang pun yang mendengar.

Akan tetapi alam kubur jauh berbeda dari semua itu. Tidak hanya sebatas apa yang tergambar ketika kita berada dalam sebuah lubang sempit dan gelap. Suasana di sana akan ditentukan oleh amalan kita sewaktu di dunia. Orang yang beramal shaleh waktu di dunia, ia akan lulus dalam menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari surga, ditemani oleh orang berbau wangi dan berwajah tampan. Kemudian senantiasa mencium bau harum hembusan angin surga.

Adapun orang yang ketika hidup di dunia bergelimang dosa dan maksiat, apalagi melakukan perbuatan syirik. Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari api neraka, di temani oleh orang berbau busuk dan berwajah buruk. Kemudian ia senantiasa mencium bau busuk hembusan panas api neraka. Bahkan setiap manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya saat di alam kubur pada waktu pagi dan sore. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

Apabila  seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Dan jika ia dari penghuni neraka maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari kiamat”. [HR Muslim no. 5110, Ahmad no. 5656, Mâlik no. 502]

Di antara hikmah diperlihatkannya tempat seseorang di akhirat kelak ketika berada di alam kubur adalah agar semakin menimbulkan rasa syukur dalam diri orang yang beramal shaleh. Ini adalah salah satu bentuk nikmat yang dirasakannya dalam alam kubur. Adapun bagi orang berbuat dosa, maka itu akan semakin menambah rasa kekecewaan dan penyesalan dalam dirinya. Ini adalah salah satu bentuk azab yang dialaminya dalam alam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْدَادَ شُكْرًا وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ لِيَكُوْنَ عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tidak seorang pun masuk ke dalam surga kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka. Seandainya ia berbuat jelek. Agar bertambah rasa syukurnya. Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam neraka kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat baik. Agar semakin bertambah atasnya rasa penyesalannya”. [HR al-Bukhâri no. 10557]

Dalam riwayat lain disebutkan:

« إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ». قَالَ « يَأْتِيْهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُوْلُ في هَذَا الرَّجُلِ ». قَالَ « فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ». قَالَ « فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ ». قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ». قَالَ قَتَادَةُ وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ في قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَيُمْلأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, dan kerabatnya pergi meninggalkannya. Sesungguhnya ia mendengar derap terompah mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan menyuruhnya duduk. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa perkataanmu tentang orang ini?’ Adapun orang Mukmin, maka ia  akan menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh, Allah telah menukarnya dengan surga, maka ia melihat keduanya. berkata Qatâdah, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya di luaskan tujuh puluh hasta, yang dipenuhi oleh tubuhan hijau sampai hari mereka dibangkit”. (HR al-Bukhâri no. 1285, Muslim no. 5115, Ahmad no. 11823)

Bantahan Terhadap Orang Yang Mengingkari Azab Kubur.
Sebagian kelompok sempalan justru ada yang mengingkari dan tidak percaya dengan azab kubur, seperti orang-orang Mu’tazilah dan para pengagum pemikiran orientalis.

Mereka berpegang kepada akal dan indra mereka. Alasan mereka, karena hal itu bertentangan dengan kenyataan. Jika kita melakukan penggalian terhadap sebuah kuburan, besarnya tidak berubah, kita temui kuburannya tetap seluas itu.

Jawaban dari argumentasi mereka di atas adalah sebagai berikut:
Pandangan dan pendapat yang tidak percaya tentang adanya azab kubur adalah batil menurut kenyataan dan akal sehat, apalagi menurut agama. Mari kita simak pada penjelasan berikut:

  1. Sesungguhnya yang wajib menjadi pedoman kita adalah al-Qur’ân dan Sunnah. Kita tidak boleh menolak ketentuan Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan yang tidak masuk akal. Karena, setelah diteliti ternyata hal tersebut tidak bertentangan dengan akal. Karena yang menciptakan akal dan yang menurun syari’at adalah Allah Yang Maha Tahu. Tidak ada ajaran agama yang tidak terima akal. Tetapi sebagian ajaran agama ada yang tidak terjangkau oleh akal dan membuat akal bertekuk lutut di hadapan agama. Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla tidak menyerahkan manusia pada akal semata. Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul dan menurunkan wahyu untuk mengarahkan akal dalam berfikir.
  2. Alam kubur adalah alam gaib yang memiliki kekhususan, tidak bisa dibandingkan dengan alam dunia ini. Ada orang mencoba mengukur kebenaran azab kubur dengan panca indranya. Lalu mengingkari kejadian alam barzakh dengan alasan karena tidak dapat menyaksikannya dengan panca indra. Menurut pemikirannya yang picik dan dangkal, kehidupan alam kubur seperti kehidupan alam dunia. Ini suatu kekacauan dan kekeliruan dalam mengimani alam barzakh tersebut. Segala peristiwa di sana adalah alam ghaib yang tidak bisa dijangkau dengan panca indra biasa, tetapi bisa dijangkau dengan indra keimanan kepada alam gaib. Bahkan kadang kala sebagian orang menemukan bukti nyata tentang adanya azab kubur. Seperti ketika terjadi penggalian terhadap kuburan karena alasan tertentu. Ditemukan adanya perbedaan kondisi mayat antara satu dengan lainnya. Ada yang kondisinya yang utuh, ada yang hancur seluruh tulang teronggok di tengah, ada pula sebagian tubuhnya hancur dan sebagian utuh, dan ada pula seakan-akan baru dikubur, padahal ia sudah dikubur sejak puluhan tahun. Semua ini menunjukkan adanya proses di alam kubur tersebut sesuai dengan kondisi keimanan masing-masing orang.
  3. Yang merasakan tentang nikmat dan azab kubur tersebut penghuni kubur itu sendiri. Sebagaimana seseorang yang bermimpi dalam tidurnya merasa berada di tempat yang luas atau di tempat yang sempit. Tetapi orang yang melihatnya tidak merasakan hal itu, ia hanya melihat orang itu sedang tidur. Contoh lain adalah ketika Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu di hadapan para Sahabat. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat mendengar dan melihat Jibril, akan tetapi para Sahabat tidak mendengar dan tidak melihatnya.
  4. Kemampuan panca indra makhluk terbatas dalam mengetahui segala sesuatu. Mereka tidak akan mampu mengetahui segala yang terjadi di langit dan di bumi. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa langit dan bumi bertasbih memuji Allah Azza wa Jalla . Akan tetapi, kita tidak mendengar tasbihnya. Namun kadang kala Allah Azza wa Jalla memperdengarkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Demikian pula halnya keadaan alam Barzakh.
  5. Kebatilan pendapat tersebut menurut kenyataan. Dalam kenyataan sehari-hari, ada kondisi yang mirip dengan kondisi mayat dalam kubur tentang hal yang sedang dialaminya. Kita contohkan dua orang yang sedang tidur, salah seorang di antara mereka melihat dalam tidurnya ia sedang berada di padang hijau yang luas penuh dengan bunga-bunga. Yang lain melihat ia sedang berada dalam gua gelab yang sempit serta sangat menakutkan. Sedangkan dalam kenyataannya mereka sedang tidur terbaring dengan pulas. Tidak seorang pun yang merasakan apa yang sedang mereka alami dalam tidurnya. Demikian pula mayat yang ada dalam kubur. Ia tidur, namun tidurnya memiliki rahasia mengenai apa yang sedang dialaminya di dalam kubur. Oleh sebab itu, dikatakan orang,  “Tidur adalah saudara kematian”.
  6. Kebatilan pendapat tersebut menurut akal. Peristiwa yang kita gambarkan pada poin kelima di atas dapat diterima oleh akal. Bila kondisi tersebut terjadi dan kita alami di dunia, apakah tidak mungkin untuk terjadi di alam kubur.
  7. Kebatilan pendapat tersebut menurut agama. Adapun kebatilan pendapat tersebut menurut Agama adalah sangat banyak sekali. Dalil yang menerangkan tentang adanya azab kubur dalam al-Qur`ân dan hadits-hadits yang shahîh. Kevalidan keyakinan tentang adanya azab kubur sangat banyak sekali dalil-dalilnya. Baik dari ayat-ayat al-Qur’ân maupun dari hadist-hadits yang shahîh. Sebagiannya telah kita sebutkan di awal pembahasan ini. Namun, tidak mengapa kita tambahkan sedikit lagi pada berikut ini:

Ayat-ayat Al-Qur’an
Ayat Pertama : Firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Ibrâhîm ayat 27 yang berbunyi:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ

Allah meneguhkan (jawaban) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh waktu kehidupan di dunia dan di akhirat. [Ibrâhîm/14:27]

Ayat ini menjelaskan tentang pertolongan Allah Azza wa Jalla dalam rangka meneguhkan jawaban orang Mukmin ketika menjawab pertanyaan dua orang malaikat saat berada di alam kubur. Sebagaimana yang diterangkan dan disepakati oleh para Ulama Mufassirin.

Hal ini dipertegas oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab shahîhnya:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ « نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّىَ اللَّهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ . فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ في الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ) »

Dari Sahabat Barrâ` bin ‘Azib Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau membaca firman Allah, “Allah meneguhkan (jawaban) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh waktu kehidupan di dunia dan di akhirat” [Muttafaq `alaih]

Lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun tentang azab kubur”. Dikatakan kepada si mayat, “Siapakah Tuhanmu?” ia menjawab, Tuhanku Allah, nabiku Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah yang dimaksud pada firman Allah: “Allah meneguhkan (jawaban) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh waktu kehidupan di dunia dan di akhirat“.

Ayat Kedua: Firman Allah Azza wa Jalla dalam Surat al-Mu’min ayat: 45-46 yang berbunyi:

بِاٰلِ فِرْعَوْنَ سُوْۤءُ الْعَذَابِۚ اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras. [al-Mukmin/40:45-46]

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa Fir’aun dan pengikutnya telah mendapat azab di alam barzakh (kubur), dinampakkan kepada mereka neraka pagi dan petang sebelum hari berbangkit. Adapun pada hari kiamat Fir’aun dan kaumnya akan dimasukkan kedalam azab yang lebih keras lagi.

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari ayat di atas dalam tafsirnya, “Jumhur para mufasiriin mengatakan bahwa penampakkan tersebut terjadi pada alam Barzakh (kubur). Dan ini adalah hujjah dalam ketetapan azab kubur”[4].

Demikian pula komentar Imam Ibnu Katsîr rahimahullah dalam tasirnya, “Ayat ini adalah landasan yang kokoh sebagai dalil Ahlussunnah atas azab Barzakh di dalam kubur”[5].

Ayat Ketiga: Firman Allah Azza wa Jalla dalam Surat at-Taubah ayat: 101 yang berbunyi:

نَحْنُ نَعْلَمُهُمْۗ سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ اِلٰى عَذَابٍ عَظِيْمٍ ۚ

Kami akan menyiksa mereka dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (Qs at-Taubah/9:101)

Ayat ini telah dijadikan dalil tentang adanya azab kubur oleh para Ulama Salaf[6], sepeti Mujâhid, Qatâdah dan Imam al-Bukhâri.

Ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla ,“Kami akan menyiksa mereka dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar” Mujahid rahimahullah mengatakan, yakni “Dengan kelaparan dan azab kubur, kemudian mereka dimasukkan ke dalam azab yang lebih dahsyat pada hari kiamat”.

Imam Qatâdah rahimahullah berkata, “Kami akan menyiksa mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar” yakni azab dunia dan azab alam kubur. Kemudian mereka dimasukkan ke dalam azab yang lebih dahsyat”[7].

Demikian pula Imam al-Bukhâri rahimahullah , beliau berdalil dengan ayat sebelumnya dan ayat ini tentang adanya azab kubur. Sebagaimana beliau sebutkan dalam kitab Shahîh beliau di awal bab: “Dalil-dalil tentang azab kubur[8]“.

Hadits-hadits Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Adapun hadits-hadits Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang azab kubur, maka sangat banyak. Berikut ini kita sebutkan sebagian kecil saja sebagai tambahan dari apa yang telah disebutkan pada awal pembahasan ini.

Hadits Pertama:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ «لَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ»

Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seandainya kalian tidak akan dikubur, sungguh aku berdo’a kepada Allah untuk mendengarkan kalian dari azab kubur”. (HR Muslim, an-Nasâ`i, Ahmad)

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu para Sahabat tentang kepastian adanya azab kubur. Bahkan beliau berkeinginan untuk berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla agar memperdengarkannya kepada para Sahabat. Tetapi hal yang menghalangi beliau adalah karena mereka akan menghadapinya di kubur. Hal itu akan mengakibatkan orang tidak akan merasa tentram dalam hidupnya ketika mendengar azab kubur tersebut. Dan bisa-bisa membawa kepada keputus-asaan dalam diri seseorang. Serta dapat mengganggu dalam merasakan nikmat-nikmat dunia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada mereka. Sebagaimana yang diterangkan oleh para Ulama tentang hikmah tidak diperdengarkannya azab kubur tersebut kepada manusia.

Hadits Kedua:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِْ الدَّجَّالِ »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullâh telah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian telah selesai membaca tasyahud, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat hal, hendaklah dia mengucapkan, ‘Ya Allah Aku berlindung dengan-Mu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian serta dari fitnah Masih Dajjal’”. [HR Muslim no. 924, Ahmad no. 9791]

Hadits ini menunjukkan tentang keberadaan azab kubur. Kalau seandainya tidak ada, niscaya Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh umat berlindung dengan Allah Azza wa Jalla dari azab kubur. Tentulah perintah tersebut akan menjadi sia-sia bila azab kubur tersebut tidak ada. Bahkan banyak sekali hadits yang menyebutkan tentang do’a Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dilindungi Allah Azza wa Jalla dari azab kubur. Hal ini menunjukkan begitu urgennya masalah beriman dengan azab kubur.

Hadits Ketiga:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ  أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِىْ بِالنَّمِيْمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, ‘sesungguhnya keduanya sedang di azab. Keduanya diazab bukan karena dosa besar. Adapun salah seorang mereka suka memfitnah (mengadu-domba). Dan yang lain tidak bersuci ketika buang air kecil’”. [Muttafaq` alaihi]

Dalam hadits ini Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu oleh Allah Azza wa Jalla tentang keadaan dua orang penghuni kuburan tersebut. Bahwa keduanya sedang diazab dalam kuburnya. Karena sebelum terjadi hari kiamat belum ada orang yang diazab dalam neraka. Adapun peristiwa yang digambarkan kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika isra’ mikraj adalah tentang keadaan setelah hari kiamat kelak.

Kemudian dalam hadits tersebut terdapa dua bentuk sebab yang biasa menyebabkan seseorang diazab dalam kuburnya. Pertama orang yang suka memfitnah atau mengadu domba di tengah masyarakat. Kedua orang yang tidak bersuci ketika selesai buang air kecil.

Kesimpulan:

  1. Azab kubur benar-benar ada, dan kita wajib beriman kepadanya karena ia adalah bagian dari beriman kepada yang ghaib.
  2. Azab kubur bersifat umum bagi seluruh manusia, tidak khusus bagi umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  3. Di antara azab atau nikmat kubur ada yang berhubungan dengan ruh dan jasad secara bersamaan dan ada pula yang khusus berhubungan dengan ruh saja.
  4. Semua ruh orang yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh, sekalipun ia pelaku maksiat atau orang kafir.
  5. Seseorang tidak akan masuk surga atau neraka kecuali setelah terjadinya hari kiamat dan dibangkitnya seluruh manusia dari kuburnya.

Pelajaran Di Balik Keimanan Kepada Azab Kubur.
Dalam keimanan kepada azab kubur tersimpan banyak hikmah dan pelajaran bagi pribadi seorang Muslim. Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari keimanan kita kepada azab kubur adalah sebagai berikut:

  1. Menanamkan dalam diri seseorang sikap mawas diri dalam meninggalkan perintah-perintah agama.
  2. Memiliki kemauan yang tinggi dalam melakukan amal shaleh, agar mendapat keberuntungan di alam kubur.
  3. Menimbulkan rasa takut dalam diri seseorang untuk melakukan maksiat, agar terhindar dari azab kubur. Wallâhu a`lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Lihat tafsir at-Thabari 18/53.
[2] Kisah ini terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri no.7067  dan Shahîh Muslim:  no. 7157
[3]  Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Jâmi’ ash Shaghîr  no 1676.
[4] Lihat tasir al-Qurthubi 15/318.
[5] Lihat tafsir Ibnu Katsîr 4/82.
[6] Lihat tafsir at-Thabari 11/9-12.
[7] Lihat perkataan dua imam tersebut dalam tafsir at-Thabari 11/10-11.
[8] Lihat Shahîh al-Bukhâri 1/461.


Peristiwa-Peristiwa Di Alam Kubur

PERISTIWA-PERISTIWA DI ALAM KUBUR

Oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsari

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imrân/3:185]

Allâh Azza wa Jalla memberikan pemberitaan umum kepada seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Hanya Allâh Yang Maha Hidup, tidak akan mati. Adapun jin, manusia, malaikat, semua akan mati.

Kematian merupakan hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi seluruh orang yang hidup dan tidak ada yang kuasa menolak maupun menahannya. Maut merupakan ketetapan Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah hakekat yang sudah diketahui. Maka sepantasnya kita bersiap diri menghadapinya dengan iman sejati dan amal shalih yang murni.

Di dalam tulisan ini insya Allah akan kami sampaikan beberapa peristiwa yang terjadi di alam kubur sehingga menjadikan kita lebih waspada dalam menjalani kehidupan dunia ini agar selamat di alam kubur.

Alam Kubur Menakutkan
Hani’ Radhiyallahu anhu, bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu, berkata,

كَانَ عُثْمَانُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيلَ لَهُ تُذْكَرُ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah; dihasankan oleh syaikh al-Albâni]

Karena fase setelah kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali ke keluarga dan hartaku.” Sebaliknya, orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.

Gelapnya Alam Kubur
Hal iniditunjukkan oleh hadits shahih :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala  menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]

Himpitan Kubur
Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu anhu, padahal kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni; Lihat Misykâtul Mashâbîh 1/49; Silsilah ash-Shahîhah, no. 1695]

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

 Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (tentu)  Saad bin Muâdz telah selamat. [HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni di dalam Shahîhul Jâmi’ 2/236]

Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ

Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka  bocah ini pasti selamat (Mu’jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jâmi, 5/56)

Fitnah (Ujian)  Kubur
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ  فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ:  أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]

Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.

Adzab dan Nikmat Kubur
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur. Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh  tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450;  al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]

Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.

Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang Fir’aun dan kaumnya :

فَوَقٰىهُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِ مَا مَكَرُوْا وَحَاقَ بِاٰلِ فِرْعَوْنَ سُوْۤءُ الْعَذَابِۚ – اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk.  Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”.[al-Mukmin/40: 45-46]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”,  sesungguhnya ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari kiamat. Jika hari kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur, yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’. [Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,  “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”. [Fathul Bâri 11/233]

Sebab-Sebab Siksa Kubur[1]
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan siksa kubur ada dua bagian, mujmal (global) dan mufash-shal (rinci). Sebabnya secara mujmal (global), yaitu kebodohan terhadap Allâh Azza wa Jalla , menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya. Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci), adalah perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.

Di sini akan kami sebutkan di antara sebab mufash-shal sehingga kita bisa menjauhinya:

  1. Namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain untuk merusak hubungan mereka.
  2. Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
  3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
  4. Dusta
  5. Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
  6. Zina
  7. Riba
  8. Mayit yang ditangisi keluarganya, jika mayit tersebut tidak melarang sebelumnya.

Hal-Hal Yang Menyelamatkan Dari Siksa Kubur
Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur adalah orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian yang datang tiba-tiba. Di antara persiapan menghadapi maut adalah segera bertaubat, menunaikan kewajiban syariat, memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya. Dengan amalan tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dengan mengutip hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Hâtim dalam shahih-nya, “Sesungguhnya orang mati dapat mendengar suara langkah kaki orang-orang yang pergi meninggalkannya. Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di dekat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kamu akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu tentang lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”

Memohon Perlindungan Kepada Allah dari Fitnah dan Azab Kubur
Fitnah (ujian) dan adzab kubur adalah masalah besar, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari hal itu, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allâh dari segala fitnah dan azab kubur.

Orang-Orang Yang Terpelihara Dari Ujian Dan Siksa Kubur
Sebagian kaum Mukmin yang melakukan amal-amal besar atau tertimpa musibah besar akan terjaga dari fitnah atau ujian dan azab kubur, Diantara mereka :

Pertama, orang yang mati syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ قَالَ كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

“Ya Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?” Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.” [Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni. Lihat Shahîhul Jâmi’ 4/164]

Kedua, seseorang yang gugur ketika bertugas jaga di jalan Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ على عَمَلِهِ إلا الُمرَابِطَ في سبيل الله، فإنه يَنْمِي لَهُ عَمَلَهُ يوم القيامة، ويُؤَمَّنُ فتنة القبر

Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang meninggal ketika bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh sampai hari kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur.” [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni. Lihat Misykâtul Mashâbîh 2/355]

Ketiga, seseorang yang meninggal hari Jum’at
Dalam hadits Abdullah ibn Amru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، أَوْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi; Dinyatakan kuat oleh syaikh al-Albâni dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]

Keempat, seseorang yang meninggal karena sakit perut
Abdullah bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا وَسُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ وَخَالِدُ بْنُ عُرْفُطَةَ فَذَكَرُوا أَنَّ رَجُلاً، تُوُفِّيَ مَاتَ بِبَطْنِهِ فَإِذَا هُمَا يَشْتَهِيَانِ أَنْ يَكُونَا شُهَدَاءَ جَنَازَتِهِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلآخَرِ أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ يَقْتُلْهُ بَطْنُهُ فَلَنْ يُعَذَّبَ فِي قَبْرِهِ ‏”‏ ‏.‏ فَقَالَ الآخَرُ بَلَى

“Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal karena sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang meninggal karena sakit perut tidak akan diadzab di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Engkau benar” [HR. an-Nasa’i dan Tirmidzi; dishahihkan oleh syaikh al-Albâni]

(Sumber: al-Qiyâmah Shugra, hlm. 41-72, karya Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, dengan beberapa tambahan dari rujukan yang lain)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat al-Qiyâmah Shughra, hlm. 57

Kuburan Bukan Tempat Membaca Al-Qur’ân

KUBURAN BUKAN TEMPAT MEMBACA AL-QUR’AN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibaca surat al-Baqarah di dalamnya.”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh :

  1. Imam Muslim dalam Shahiih-nya (no. 780).
  2. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2877), dan ia menshahihkannya.

SYARAH HADITS
Hadits ini dengan sangat gamblang menerangkan bahwa kuburan menurut syariat Islam bukanlah tempat untuk membaca al-Qur’ân. Tempat untuk membaca al-Qur’ân adalah di rumah atau di masjid. Syariat Islam melarang keras menjadikan rumah seperti kuburan, kita dianjurkan untuk membaca al-Qur’ân dan melakukan shalat-shalat sunnah di rumah.

Jumhur ulama salaf seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, Imam Mâlik rahimahullah, dan imam-imam lainnya melarang membaca al-Qur-an di kuburan. Berikut ini nukilan pendapat mereka.

Imam Ahmad rahimahullah  berpendapat bahwa membaca al-Qur’an di kuburan tidak boleh. Pendapat ini dibawakan oleh  Imam Abu Dawud rahimahullah dalam kitab Masâil Imam Ahmad. Imam Abu Daud rahimahullah mengatakan, “Aku mendengar  Imam Ahmad rahimahullah ketika beliau ditanya tentang membaca al-Qur’ân di kuburan ? Beliau menjawab, “Tidak boleh.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dari Imam asy-Syâfi’i rahimahullah sendiri tidak ada perkataan tentang masalah ini. Ini menunjukkan bahwa (baca al-Qur’ân di kuburan) menurut beliau adalah bid’ah. Imam Mâlik rahimahullah berkata, “Tidak aku dapati seorang shahabat pun juga tabi’in yang melakukan hal itu !”[1]

Yang wajib diperhatikan oleh seorang Muslim yaitu tidak boleh beribadah di sisi kuburan dengan melakukan shalat, berdoa, menyembelih binatang, bernadzar atau membaca al-Qur’ân dan ibadah lainnya. Tidak ada satupun keterangan yang sah dari Rasûlullâh n maupun para Sahabatnya yang mengisyaratkan mereka melakukan ibadah di sisi kubur. Sebaliknya, yang ada adalah ancaman keras bagi orang yang melakukan ibadah di sisi kuburan orang shalih, baik dia seorang wali ataupun seorang nabi, apalagi (jika tempat dia melakukan ibadah itu) bukan (kuburan) orang shalih.[2]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan ancaman keras bagi orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allâh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjis (tempat ibadah)[3]

Semua kuburan itu sama, tidak ada satupun kuburan yang keramat dan barakah. Dari sini kita ketahui bahwa orang yang sengaja mendatangi kuburan tertentu untuk mencari karamat dan barakah, berarti dia telah jatuh ke dalam perbuatan bid’ah atau syirik. Dalam Islam, tidak dibenarkan untuk sengaja melakukan safar (perjalanan) dalam rangka ziarah  ke kubur-kubur tertentu (dengan tujuan ibadah), seperti, kuburan wali, kyai, habib dan lainnya dengan niat mencari keramat dan barakah dan melakukan ibadah di sana. Perbuatan seperti ini terlarang dan tidak dibenarkan dalam Islam. Semua ini termasuk  bid’ah dan bisa menjadi celah yang menggiring sang pelaku ke perbuatan syirik.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِيْ هَذَا، وَالْـمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْـمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Tidak boleh mengadakan safar (perjalanan dengan tujuan beribadah) kecuali menuju tiga masjid, yaitu masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dam Masjidil Aqsha.[4]

Adapun adab ziarah kubur, kaum Muslimin dianjurkan ziarah ke pemakaman kaum Muslimin dengan mengucapkan salam dan mendo’akan agar dosa-dosa mereka diampuni dan diberikan rahmat oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara faedah lain yang terdapat dalam hadits di atas (“Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan…”), yaitu seseorang tidak boleh dikubur di rumahnya. Dia dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin. Karena jika ia dikubur di rumahnya, akan terjadi beberapa hal berikut :

  1. Menjadi sarana yang bisa membawa kepada kesyirikan,
  2. Rumah itu berpeluang untuk diagungkan,
  3. Terhalang dari do’a kaum muslimin yang mendoakan ampunan kepada orang-orang Muslim yang sudah meninggal ketika mereka ziarah kubur,
  4. Akan menyusahkan ahli waris, membuat mereka bosan dan tidak senang, dan jika mereka ingin menjual rumah tersebut, maka tidak ada harganya (harganya murah).
  5. Dan akan tejadi juga di sisi kuburan tersebut hiruk pikuk, senda gurau, hal yang tidak bermanfaat, dan perbuatan-perbuatan  yang haram yang bertentangan dengan syari’at. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah, karena itu akan membuatmu mengingat akhirat.”[5]

Wallaahu A’lam bish Shawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  Lihat Iqtidhâ’ Shirâtil Mustaqîm (II/264) dan Ahkâmul Janâiz (hlm. 241-242).
[2] Fat-hul Majîd, Syarh Kitâbut Tauhîd, (Bab 18): “Sebab anak Adam kufur dan meninggalkan agama adalah karena ghuluw (berlebih-lebihan) kepada orang-orang shalih.” Dan bab 19: “Ancaman keras bagi orang yang beribadah kepada Allâh di sisi kubur orang yang shalih, lalu bagaimana jika ia menyembahnya?!” ditulis oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, tahqiq: Dr. Walid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Alu Furayyan.
[3]  HR. al-Bukhâri (no. 435, 1330, 1390, 3453, 4441), Muslim (no. 531), dan Ahmad (I/218, VI/21, 34, 80, 255), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
[4] HR. al-Bukhâri (no. 1189) dan Muslim (no. 1397 (511)) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan diriwayatkan juga oleh al-Bukhâri (no. 1197, 1864, 199) dan Muslim (no. 827) dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Derajatnya mutawatir. Lihat Irwâ-ul Ghalîl (III/226, no. 773).
[5] Al-Qaulul Mufîd ‘ala Kitâbit Tauhîd (I/445), Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Bagaimana Menyelamatkan Diri Dari Siksa Kubur Dan Siksa Neraka?

BAGAIMANA MENYELAMATKAN DIRI DARI SIKSA KUBUR DAN SIKSA NERAKA?

Pertanyaan:
Sebagai seorang Muslim pasti berkeinginan agar terselamatkan dari siksa kubur dan adzab neraka. Bagaimanakah cara menyelamatkan diri dari kedua siksa tersebut?

Jawaban:
Sebuah pertanyaan yang sangat bagus yang menunjukkan perhatian si penanya terhadap akhirat, disaat banyak orang justru tersibukkan dan tertipu dengan berbagai tipuan dunia. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang lebih berantusias terhadap kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami menghadirkan jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.[1]Beliau rahimahullah menjawab:

Cara menjaga diri dari siksa tersebut yaitu dengan melakukan amalan-amalan shalih yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allâh Azza wa Jalla. Dan suatu amalan akan disebut amal shalih, jika memenuhi duasyarat, yaitu:

Pertama, ikhlash karena Allâh Azza wa Jalla . Artinya seseorang yang melakukan ibadah tidak memiliki maksud dan tujuan lain selain mencari ridha Allâh Azza wa Jalla dan dalam mencari kehidupan akhirat, tidak bermaksud riya’ (pamer, agar amalannya dilihat orang lain), tidak juga sum’ah (agar amalannya didengar orang lain), tidak pula menginginkan pujian manusia serta tidak menginginkan dunia.

Kedua, yang dilakukan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat dalam agama Allâh Azza wa Jalla .

Karena Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amalan kecuali yang diikhlaskan untuk-Nya dan sesuai dengan syari’at-Nya. Dalil tentang kewajiban ikhlash yaitu firman Allâh Azza wa Jalla dalam hadits Qudsiy:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Saya paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan Aku dan yang selain Aku dalam amalan tersebut, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.[2]

Dan berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yangbukan dari ajaran kami, maka amalannya tersebut tertolak.[3]

Diantara yang bisa menjadi sebab seseorang terselamatkan dari siksa kubur adalah membersihkan diri dan bersuci dengan sempurna dari kencing saat selesai kencing. Dalam shahih al-Bukhâri, dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Sungguh keduanya sedang diadzab dan mereka berdua diadzab bukan karena suatu yang besar. Salah seorang diantara merekatidak menjaga diri dari air kencing dan sedangkan yang satu lagi dia pernah berjalan menebar namimah (menebar keburukan orang lain untuk mengadu domba-red)[4]

Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَنْزِهُوا مِنْ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْ الْبَوْلِ

Sucikanlah diri kalian dari air kencing,karena kebanyakan siksa kubur itu disebabkan oleh air kencing

Diantara yang bisa menyelematkan seseorangdari siksa kubur adalah semakin sering memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar dilindungi dari adzab kubur. Oleh karena itu, nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihiwa sallam menyuruh kita untuk memohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari empat hal saat kita duduk tasyahhud dalam shalat. Kita dianjurkan untuk mengucapkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَات

Wahai Allâh! Aku memohon perlindungankepada-Mu dari adzab neraka jahannam; Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab kubur; Aku memohonperlindungan kepada-Mu dari fitnah Dajjal dan aku memohon perlindungankepada-Mu dari fitnah dalam kehidupan dunia dan fitnah setelah kematian(datang).

– selesai jawaban Syaikh-.

(Itulah beberapa sebab atau cara untuk menyelamatkan diri dari siksa kubur dan adzab api neraka. Semoga kita termasuk orang diselamatkan dari siksa kubur dan juga siksa neraka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran/3:185]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1439H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Fatâwâ Nûr alad dharb, 12/12
[2]  HR. Muslim, no. 2985
[3]  HR. Al-Bukhâri, no. 2550 dan Muslim, no. 1718
[4]  HR. Al-Bukhâri, no. 215 dan Muslim, no. 292

Tidak Membersihkan Diri Dari Air Kencing Sebab Siksa Kubur

TIDAK MEMBERSIHKAN DIRI DARI AIR KENCING SEBAB SIKSA KUBUR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Islam adalah agama yang sempurna. Semua perkara yang dibutuhkan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti telah dijelaskan. Termasuk masalah kesucian dan kebersihan. Banyak ayat  al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan atau menganjurkan kebersihan. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Dan pakaianmu bersihkanlah. [Al-Mudatsir/74: 4]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [Al-Baqarah/2: 222].

Air Kencing Itu Najis
Air kencing manusia termasuk najis, maka badan, pakaian, atau tempat yang terkena air kencing harus dibersihkan.  Jika tidak dibersihkan, maka itu bisa menjadi penyebab siksa kubur.

عَنْ أَنَسٍ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ :  تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari air kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya.” [HR. Ad-Dȃruquthnȋ dalam Sunannya, no. 459. Dan hadits ini dinilai shahȋh oleh Syaikh al-Albani dalam Irwȃul Ghalȋl, no. 280]

Oleh karena itu Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dosa Besar ke-36: Tidak Membersihkan Diri Dari Air Kencing, Dan Itu Termasuk Syi’ar Nashara”. [Al-Kabȃir, hlm. 141]

Pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, jika baju mereka atau bahkan kulit mereka terkena air kencing, maka mereka mengguntingnya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَنَةَ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ   وَفِي يَدِهِ الدَّرَقَةُ، فَوَضَعَهَا، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: انْظُرُوا إِلَيْهِ يَبُولُ كَمَا تَبُولُ الْمَرْأَةُ، فَسَمِعَهُ النَّبِيُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: “وَيْحَكَ، أَمَا عَلِمْتَ مَا أَصَابَ صَاحِبَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمْ الْبَوْلُ قَرَضُوهُ بِالْمَقَارِيضِ، فَنَهَاهُمْ ، فَعُذِّبَ فِي قَبْرِهِ”

Dari Abdurrahman bin Hasanah Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami, Beliau membawa tameng kulit  di tangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkannya. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk lalu buang air menghadap kepadanya (yakni menggunakan tameng itu sebagai penutup-pen). Sebagian orang berkata (mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), “Lihat orang ini, dia buang air seperti wanita buang air (yakni Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menjaga aurat ketika buang air-pen)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kasihan engkau, tidakkah engkau tahu siksa yang menimpa seorang lelaki Bani Israil? Jika air kencing mengenai mereka, mereka biasa mengguntingnya dengan gunting. Lalu lelaki itu melarang mereka, sehingga dia disiksa di dalam kuburnya”. [HR. Ibnu Majah, no. 346. Dishahȋhkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

Penyebab Siksa Kubur
Hadits Abdullah bin ’Abbâs Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, lalu Beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya ini disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dalam perkara yang berat (untuk ditinggalkan). Yang pertama, dia dahulu tidak menutupi dari buang air kecil. Adapun yang lain, dia dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba)”. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebuah pelepah kurma yang basah, lalu membaginya menjadi dua, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menancapkan satu pelepah pada setiap kubur itu. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, kenapa anda melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga Allâh meringankan siksa keduanya selama (pelepah kurma ini) belum kering”. [HR. Bukhari, no. 218; Muslim, no. 292]

Di dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan penyebab keringanan siksa kubur itu adalah syafa’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي مَرَرْتُ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَأَحْبَبْتُ، بِشَفَاعَتِي، أَنْ يُرَفَّهَ عَنْهُمَا، مَا دَامَ الْغُصْنَانِ رَطْبَيْنِ

Aku melewati dua kuburan yang (penghuninya) sedang disiksa, maka Aku suka agar siksa keduanya diringankan selama kedua pelepah kurma itu masih basah. [HR. Muslim, no. 3012; dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu]

Hadits di atas juga memberikan faedah agar menutupi diri ketika buang air, baik dengan masuk kamar kecil, atau jika berada di tempat terbuka dengan menjauh dari pandangan orang. Itu adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diterangkan di dalam hadits berikut ini,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي قُرَادٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْخَلَاءِ، وَكَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ أَبْعَدَ

Dari Abdurrahman bin Abi Quraad Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah keluar bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat buang air, dan kebiasaan beliau jika menginginkan buang hajat beliau pergi ke tempat yang jauh.” [HR. Nasai, no. 16;  dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Ash-Shahȋhah, no. 1159]

Maka termasuk perbuatan kurang adab ketika sebagian orang, baik orang tua atau anak-anak, laki-laki atau perempuan, buang air di pinggir jalan. Bau kencing tersebut juga akan mengganggu orang lain, sehingga menyebabkan cacian kepada pelakunya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ، وَالظِّلِّ

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jagalah dirimu dari tiga tempat yang membawa laknat: buang hajat di tempat-tempat berkumpulnya air, di jalan raya, dan di tempat bernaung”. [HR. Abu Dawud, no. 26;  dihasankan oleh  Syaikh Al-Albani]

Alangkah agungnya agama Islam, yang memberikan pengajaran adab dan tidak merusak atau menodai fasilitas-fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita di atas kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan. Aamiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]