Perintah Menyembelih Ujian Nabi Ibrahim Alaihissallam

PERINTAH MENYEMBELIH UJIAN NABI IBRAHIM ALAIHISSALLAM Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya,

Keberkahan Taat Kepada Pemimpin

KEBERKAHAN TAAT KEPADA PEMIMPIN Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan Maqâshid Syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Tidaklah ada satu ajaran dalam syariat Islam, melainkan dalam ajaran tersebut

Yang Sengsara Dan Yang Bahagia Di Akhirat

YANG SENGSARA DAN YANG BAHAGIA DI AKHIRAT Oleh Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA   يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang bahagia. فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ

Bagaimana Menyikapi Penguasa?

BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA? Pemimpin atau penguasa adalah manusia biasa yang pasti memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang berkonsekuensi dosa atau tidak. Namun sayang, banyak orang melupakan kodrat ini. Mereka menuntut pemimpin mereka sempurna dan dicintai semua rakyatnya. Sebuah tuntutan yang tidak realistis. Berawal dari tuntutan berlanjut kekecewaan akhirnya berujung pembangkangan. Pada akhirnya,

Shalat Ghaib Dalam Fikih Islam

SHALAT GHÂIB DALAM FIKIH ISLAM Oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc Sudah dimaklumi bahwa pada asalnya shalat jenazah dilakukan pada mayit yang ada dihadapan imam dan jamaah yang shalat serta jenazah diletakkan di tanah ke arah kiblat. Namun terkadang mayitnya jauh dan tidak ada dihadapan orang yang shalat. Dari sinilah muncul istilah shalat ghâib yaitu menyhalatkan

Amalan Yang Paling Dicintai Allah

AMALAN YANG PALING DICINTAI ALLÂH[1] عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ

Amalan-Amalan Sunnah Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

AMALAN-AMALAN SUNNAH SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ

Hadits Lemah Tentang Ancaman Orang Shalat Masih Berbuat Mungkar

HADITS LEMAH TENTANG ANCAMAN ORANG SHALAT MASIH BERBUAT MUNGKAR Oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melakukan shalat yang tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar

Sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Dekat

SIFAT ALLÂH  SUBHANAHU WA TA’ALA MAHA DEKAT Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allâh yang ditetapkan oleh Allâh dalam al-Qur’an, atau ditetapkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih. Mereka menetapkan sifat Allâh  dengan tanpa tahrîf (merobah-robah), tanpa takyîf (menggambarkan hakekatnya), tanpa tamtsîl (menyerupakan dengan sifat makhluk),

Bahaya Mengingkari Taqdir

BAHAYA MENGINGKARI TAQDIR Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Iman kepada qadar (takdir) termasuk rukun iman ke enam. Barangsiapa tidak beriman kepada qadar, maka imannya rusak, amalannya tertolak dan diancam dengan neraka di akhirat kelak. MAKNA TAQDIR (QADAR) Qadar secara bahasa artinya: taqdîr (penentuan). Sedangkan qadha’ secara bahasa artinya: hukum (keputusan). Qadha’ dan qadar adalah