Tentang Keutamaan Beribadah Pada Malam Hari Raya

TENTANG KEUTAMAAN BERIBADAH PADA MALAM HARI RAYA Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ ». Dari ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa

Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana

MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata: Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab: Allah itu ada dimana-mana. Bagaimana pandangan hukum agama yterhadap jawaban yang menggunakan

Mandi Sebelum Shalat Ied

MANDI SEBELUM SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Dari Nafi’ ia berkata : “Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari idul Fithri sebelum pergi ke mushallah”[1] Imam Said Ibnul Musayyib berkata : سُنَّةُ الْفِطْرِ ثَلاَثٌ : اَلْمَشْيُ اِلَى الْمُصَلَّى وَاْلاَكْلُ قَبْلَ الْخُرُوْجِ وَاْلاِغْتِسَالُ “Sunnah Idul Fithri itu ada

Waktu Pelaksanaan Shalat Ied

WAKTU PELAKSANAAN SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Abdullah bin Busr sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama manusia pada hari Idul Fithri atau Idul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam dan ia berkata : “Sesungguhnya kita telah kehilangan waktu kita ini, dan yang demikian itu

Hukum Sholat Ied

HUKUM SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Kami menguatkan pendapat bahwa shalat Ied hukumnya wajib bagi setiap individu (fardlu ‘ain), sebagaimana ucapan Abu Hanifah[1] dan selainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan salah satu dari dua pendapat

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Berpijak Berdasarkan Al-Kitab Dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Ulama Salaf

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Terakhir dari Enam Tulisan [6/6] KAIDAH KEEMPAT. BERPIJAK BERDASARKAN AL-KITAB DAN AS-SUNNAH DENGAN MENGUTAMAKAN PEMAHAMAN ULAMA SALAF DAN MENJADIKAN AKAL MEREKA TUNDUK KEPADA NASH-NASH KEDUANYA Kaidah ini memiliki peran besar dalam pokok-pokok manhaj salaf. Inilah kaidah yang menjadi pemisah antara Ahlu Sunnah dengan Ahlul Bid’ah,

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Mencari Pembuktian Berdasarkan Ayat Al-Qur’an Dan Hadits Nabi.

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Kelima dari Enam Tulisan [5/6] KAIDAH KETIGA MENCARI PEMBUKTIAN BERDASARKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN HADITS-HADITS NABI Mencari Pembuktian Menurut Pola-Pola Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an Al-‘Azhim mempunyai pola tersendiri yang khusus untuk mencari pembuktian. Barang siapa yang menempuh pola ini, niscaya ia sampai kepada kebenaran hakiki yang meyakinkan.

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Ta’wil Bisa Dibenarkan Bila Maksudnya Tafsir

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Keempat dari Enam Tulisan [4/6] TA’WIL BISA DIBENARKAN BILA MAKSUDNYA TAFSIR Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan[1] : “Sesungguhnya lafal ta’wil menurut pemahaman orang-orang yang suka bertentangan (yakni Ahlul Kalam), bukanlah ta’wil yang dimaksud dalam At-Tanzil (wahyu yang diturunkan). Bahkan bukan pula yang dikenal oleh

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Tidak Mempertentangkan Nash-Nash Wahyu Dengan Akal

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian ketiga dari enam tulisan [3/6] KAIDAH KEDUA TIDAK MEMPERTENTANGKAN NASH-NASH WAHYU DENGAN AKAL Semua firqah ahli kalam yang suka menakwilkan sifat-sifat Allah, ternyata satu sama lain saling bertentangan, dan secara diametral pendapat-pendapatnya saling berlawanan sama sekali. Untuk membuktikan hal itu, kita tidak perlu pergi terlalu

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Mendahulukan Syara Atas Akal

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian kedua dari enam tulisan [2/6] KAIDAH PERTAMA MENDAHULUKAN SYARA ATAS AKAL [1] Kaidah yang paling pertama ialah ittiba’ kepada as-salafu ash-shalih dalam memahami, menafsiri, mengimani serta menetapkan sifat-sifat ilahiyah tanpa takyif (bertanya atau menetapkan hakekat bagaimananya) dan tanpa ta’wil (membuat perubahan lafadz/maknanya), juga dalam menetapkan