Keutamaan Dan Kemuliaan Do’a

KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN DO’A Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih [1]. Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah : “Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir : 60]. Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata

Kapan Disunnahkan Makan Pada Hari Idul Fithri Dan Idul Adha ?

KAPAN DISUNAHKAN MAKAN PADA HARI IDUL FITRI DAN IDUL ADHA ? Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Dari Anas Radliallahu anhu, ia berkata : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُ وْيَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَاْكُلَ تَمَرَاتٍ “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pergi (ke tanah lapang) pada hari

Tentang Keutamaan Beribadah Pada Malam Hari Raya

TENTANG KEUTAMAAN BERIBADAH PADA MALAM HARI RAYA Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ ». Dari ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa

Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana

MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata: Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab: Allah itu ada dimana-mana. Bagaimana pandangan hukum agama yterhadap jawaban yang menggunakan

Mandi Sebelum Shalat Ied

MANDI SEBELUM SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Dari Nafi’ ia berkata : “Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari idul Fithri sebelum pergi ke mushallah”[1] Imam Said Ibnul Musayyib berkata : سُنَّةُ الْفِطْرِ ثَلاَثٌ : اَلْمَشْيُ اِلَى الْمُصَلَّى وَاْلاَكْلُ قَبْلَ الْخُرُوْجِ وَاْلاِغْتِسَالُ “Sunnah Idul Fithri itu ada

Waktu Pelaksanaan Shalat Ied

WAKTU PELAKSANAAN SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Abdullah bin Busr sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama manusia pada hari Idul Fithri atau Idul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam dan ia berkata : “Sesungguhnya kita telah kehilangan waktu kita ini, dan yang demikian itu

Hukum Sholat Ied

HUKUM SHALAT IED Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Kami menguatkan pendapat bahwa shalat Ied hukumnya wajib bagi setiap individu (fardlu ‘ain), sebagaimana ucapan Abu Hanifah[1] dan selainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan salah satu dari dua pendapat

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Berpijak Berdasarkan Al-Kitab Dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Ulama Salaf

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Terakhir dari Enam Tulisan [6/6] KAIDAH KEEMPAT. BERPIJAK BERDASARKAN AL-KITAB DAN AS-SUNNAH DENGAN MENGUTAMAKAN PEMAHAMAN ULAMA SALAF DAN MENJADIKAN AKAL MEREKA TUNDUK KEPADA NASH-NASH KEDUANYA Kaidah ini memiliki peran besar dalam pokok-pokok manhaj salaf. Inilah kaidah yang menjadi pemisah antara Ahlu Sunnah dengan Ahlul Bid’ah,

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Mencari Pembuktian Berdasarkan Ayat Al-Qur’an Dan Hadits Nabi.

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Kelima dari Enam Tulisan [5/6] KAIDAH KETIGA MENCARI PEMBUKTIAN BERDASARKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN HADITS-HADITS NABI Mencari Pembuktian Menurut Pola-Pola Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an Al-‘Azhim mempunyai pola tersendiri yang khusus untuk mencari pembuktian. Barang siapa yang menempuh pola ini, niscaya ia sampai kepada kebenaran hakiki yang meyakinkan.

Pokok-Pokok Manhaj Salaf : Ta’wil Bisa Dibenarkan Bila Maksudnya Tafsir

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF Oleh Khalid bin Abdur Rahman al-‘Ik Bagian Keempat dari Enam Tulisan [4/6] TA’WIL BISA DIBENARKAN BILA MAKSUDNYA TAFSIR Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan[1] : “Sesungguhnya lafal ta’wil menurut pemahaman orang-orang yang suka bertentangan (yakni Ahlul Kalam), bukanlah ta’wil yang dimaksud dalam At-Tanzil (wahyu yang diturunkan). Bahkan bukan pula yang dikenal oleh