Pembahasan Adab

PEMBAHASAN TENTANG ADAB

  1. Adab Mengucapkan Salam.
  2. Adab Makan dan Minum.
  3. Adab di Jalan dan di Pasar.
  4. Adab Safar.
  5. Adab Tidur dan Bangun.
  6. Adab Mimpi.
  7. Adab Meminta Izin.
  8. Adab Bersin.
  9. Adab Menjenguk Orang Sakit.
  10. Adab Berpakaian.

ADAB
Adab yaitu : Berkata, berprilaku dan berbudi pekerti yang terpuji.

Islam adalah din yang sempurna, mengatur seluruh sisi kehidupan seseorang, ia menuntun manusia untuk melakukan hal-hal yang berguna, melarangnya dari hal-hal yang berbahaya, menetapkan etika terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, baik pada saat makan dan minum, saat bangun dan tidur, saat bepergian atau menetap bahkan  dalam seluruh keadaan.

Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ  [الحشر: ٧] 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [Al Hasyr/59 : 7]

Diantara adab-adab yang dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah adalah:

ADAB MENGUCAPKAN SALAM

Fadhilah salam.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلاً سأل النبي- صلى الله عليه وسلم-: أيُّ الإسلام خير؟ فقال: «تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ». متفق عليه.

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perbuatan apakah di dalam Islam yang paling baik?”, beliau bersabda:  “Engkau memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal atupun tidak kau kenal”. Muttafaq ’alaih. [1]

عن أبي هريرة  رضي الله عنه قال:قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: ((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟! أفشوا السلام بينكم)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga saling mencintai, maukah aku tunjukkan kepada suatu perbuatan yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai?! “Tebarkanlah salam di antara kalian”. HR. Muslim. [2]

عن عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَيُّهَا النَّاسُ: أَفْشُوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلامٍ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhuberkata:  “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai manusia, sebarkanlah salam dan berilah (kepada orang miskin) makan, dan sambunglah hubungan kekeluargaan, dan shalatlah di saat manusia terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [3]

Cara mengucapkan salam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا [النساء : ٨٦] 

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. [An Nisaa/4: 86] .

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال: جاء رجل إلى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: السَّلامُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلامَ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-: «عَشْرٌ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «عِشْرُونَ»، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «ثَلاثُونَ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Imran bin Hushein Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan “Assalamu’alaikum”, lalu beliau menjawab salam tersebut dan orang itupun duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sepuluh”, kemudian datang orang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi”, maka beliau menjawabnya, kemudian orang itu duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua puluh”, kemudian datang lagi yang lain lalu mengucapkan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, lalu beliaupun menjawab. kemudian orang itu duduk, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiga puluh”. HR. Abu Daud dan Tarmizi.[4]

Fadhilah orang yang memulai mengucapkan salam.

عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوقَ ثَلاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا، وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلامِ». متفق عليه.

Dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih tiga malam, di mana mereka saling bertemu sementara yang ini memalingkan mukanya dan yang ini juga memalingkan mukanya, orang  yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai mengucapkan salam”. Muttafaq ’alaih. [5]

Baca Juga  Fadhilah Shalat Shubuh, Ashar, Isya dan Jum'at

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِالله مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلامِ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang pertama mulai mengucapkan salam”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [6]

Orang yang seharusnya terlebih dahulu mengucapkan salam.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَالمَارُّ عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثيرِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhudari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Orang yang lebih kecil mengucapkan salam kepada yang lebih tua, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang lebih banyak”. Muttafaq alaih. [7]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثير». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang lebih banyak”. Muttafaq ’alaih.[8]

Mengucapkan salam kepada wanita dan anak-anak.

عن أسماء بنت يزيد رضي الله عنها قالت: مَرَّ عَلَينَا النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا. أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Asma binti Yazid radhiyallah `anha berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melewati kami (kaum wanita) lalu beliau mengucapkan salam kepada kami”. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[9]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُ. متفق عليه

Dari Anas Radhiyallahu anhubahwa ia melewati anak-anak lalu mengucapkan salam kepada mereka, dan dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan hal tersebut.” Muttafaq ’alaih.[10]

Perempuan boleh mengucapkan salam kepada laki-laki jika tidak khawatir akan tergoda.

عن أم هانئ بنت أبي طالب رضي الله عنها قالت: ذَهَبْتُ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- عَامَ الفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ، فَسَلَّمْتُ عَلَيهِ فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ: «مَرْحَباً بِأُمِّ هَانِئ». متفق عليه.

Dari Ummu Hani binti Abi Thalib radhiyallahu `anha berkata: “Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari penaklukan kota Mekkah, di saat itu beliau tengah mandi dan Fathimah menutupinya dengan kain, lalu aku mengucapkan salam, beliau bersabda: “Siapakah ini?. Aku berkata:  “Ummu Hani’ binti Abu Thalib, beliau bersabda: “Selamat datang Ummu Hani’“. Muttafaq alaih . [11]

Mengucapkan salam saat masuk rumah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ [النور : ٦١] 

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.[An Nuur/24: 61].

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [النور : ٢٧]

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. .[An Nuur/24: 27].

Larangan mengucapkan salam kepada ahli kitab.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تَبْدَؤُوا اليَهُودَ وَلا النَّصَارَى بِالسَّلامِ، فَإذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إلَى أَضْيَقِهِ».أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia untuk mengambil jalan yang sempit”. HR. Muslim[12]

عن أنس رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا سَلَّم عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيكُمْ». متفق عليه.

Baca Juga  Adab Tidur dan Bangun Tidur

Dari Anas Radhiyallahu anhuberkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah “wa’alaikum”. Muttafaq’alaih[13]

Barangsiapa yang melewati majlis yang berkumpul padanya orang Islam dan orang kafir maka ucapkanlah salam dan niatkan untuk orang Islam.

عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنّ النّبِيّ – صلى الله عليه وسلم – عاد سعد بن عبادة..-وفيه-: حَتّىَ مَرّ بِمَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الأَوْثَانِ، واليَهُودِ،.. فَسَلّمَ عَلَيْهِمُ النّبِيّ – صلى الله عليه وسلم -، ثُمّ وَقَفَ فَنَزَلَ، فَدَعَاهُمْ إلَى الله وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ القُرْآنَ. متفق عليه.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu `anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  (hendak menjenguk Sa’d bin Ubadah), di tengah perjalanan beliau melewati  suatu majelis yang bercampur padanya antara orang Islam, musyrik (penyembah berhala), dan Yahudi, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau berhenti dan turun dari kendaraannya. Lalu mendakwahkan Islam kepada mereka serta membacakan Al-Quran “. Muttafaq ’alaih[14]

Mengucapkan salam saat masuk dan saat keluar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إلَى المَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhuberkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Bila salah seorang kamu tiba di suatu majelis hendaklah ia mengucapkan salam dan bila  hendak berdiri ucapkanlah salam. Sebab ucapkan salam yang pertama tidak lebih berhak dari ucapan salam yang terakhir”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [15]

Larangan menunduk saat bertemu.

عنْ أنسِ بنِ مَالكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قالَ: قالَ رَجُلٌ يا رسُولَ الله الرَّجلُ منَّا يَلقى أخاهُ أو صَديقهُ أينحنِي لَهُ؟ قالَ: «لا» قالَ: أفيلتزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قالَ: «لا» قالَ: فيأخُذُ بيدهِ ويُصافِحه؟ قالَ: «نعمْ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Anas bin Malik Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Wahai rasulullah!, bila seorang muslim bertemu saudaranya atau temannya apakah dia harus menunduk kepadanya? Nabi bersabda: “Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia harus memeluk dan menciumnya?. Beliau bersabda: ” Tidak”, orang itu bertanya kembali: “Apakah dia berjabatan tangan? Nabi bersabda: ” Ya”. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [16]

Ξ Fadhilah berjabat tangan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :12 dan  Muslim no hadist: 39.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 54.
[3] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2485 dan  Ibnu Majah no hadist: 1334.
[4] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 5195 dan  Tirmizi no hadist: 2689.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6077 dan  Muslim no hadist: 2560.
[6] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5197 dan  Tirmizi no hadist: 2694.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6231 dan  Muslim no hadist: 2160.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6232 dan  Muslim no hadist: 2160.
[9] Hadist shahihdiriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5204 dan  Ibnu Majah no hadist: 4336.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6247 dan  Muslim no hadist: 2168.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6157 dan  Muslim no hadist: 337.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2167.
[13] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6258 dan  Muslim no hadist: 2163.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5663 dan  Muslim no hadist: 1798.
[15] Sanad Hadist Jayyid, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist :5208 dan  Tirmizi no hadist: 2706.
[16] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2728 dan  Ibnu Majah no hadist: 3702.