Author Archives: editor

Kiat Merealisasikan dan Menjaga Keamanan

KIAT MEREALISASIKAN DAN MENJAGA KEAMANAN

Oleh
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Dalam masalah ini, saya telah menelaah dan mengkaji beberapa nash al-Kitab dan as-Sunnah. Dari sini, saya memahami – wAllâhu a’lam- bahwa sebab-sebab yang bisa mewujudkan keamanan dan kiat untuk menjaganya bertumpu pada 10 sebab:

Pertama. Iman
Iman adalah pilar pokok keamanan. Rasa aman tidak akan ada kecuali dengan iman. Kata iman itu sendiri secara bahasa diambil dari kata al-amnu yang berarti aman. Dalam iman terdapat rasa aman, tenang, percaya penuh kepada Allâh Azza wa Jalla , keteguhan hati, ridha, pasrah dan tunduk kepada Allâh Azza wa Jalla . Semakin besar kadar iman seorang hamba, makin besar pula kadar keamanan yang ada padanya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ اٰمَنَ وَاَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.  [Al-An’âm/ 6: 48]

Bila rasa takut dan sedih sirna, maka rasa aman akan terwujud secara sempurna, kebahagiaan dan kemenangan abadi.[1] Demikian pula iman seseorang yang tidak bercampur syirik akan membuahkan keamanan dan petunjuk yang sempurna, di dunia dan akhirat (lihat QS. Al-An’âm/ 6: 82). Kadar keamanan dan hidayah seseorang, sesuai dengan kadar imannya. Sehingga manusia bisa dikategorikan menjadi tiga golongan terkait keamanan yang menanti mereka:

  1. Mereka yang mendapatkan keamanan sempurna, yaitu orang-orang yang imannya sempurna
  2. Mereka yang tidak mendapatkan keamanan, yaitu mereka yang tidak punya iman.
  3. Mereka yang mendapatkan keamanan secara global, yaitu mereka yang secara global masih punya iman.

Iman dan keamanan sangat terkait erat satu sama lain, sebagaimana keselamatan terkait erat dengan Islam. Maka orang yang menginginkan keamanan dan keselamatan, ia harus beriman dan berislam. Oleh karena itu, iman mendidik dan menempa seseorang untuk mewujudkan keamanan. Sehingga ketika seorang merealisasikan iman dan Islam dengan benar, keamanan dan keselamatan menjadi hak mereka.

Kedua. Ikhlas Menjalankan Agama dan Bersemangat Dalam Beribadah
Di antara kiat terbesar untuk meraih keamanan adalah dengan ikhlas dalam menjalankan agama, memurnikan ibadah hanya untuk Allâh Azza wa Jalla dan menjaga ketaatan kepada-Nya. Amal shalih dan ibadah kepada Allâh serta menghinakan diri di hadapan-Nya akan mendatangkan ketenangan. Bahkan ketika terjadi kekacauan besar, yang mengakibatkan kondisi genting hingga terjadi pembunuhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan umatnya untuk beribadah. Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ibadah dikala itu sama dengan hijrah kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Sebagian Ulama mengatakan bahwa agungnya kedudukan ibadah saat itu, bisa jadi karena kebanyakan orang lalai dari ibadah. Mereka sibuk dengan berbagai isu, banyak bertikai, tampil untuk ikut terjun ke gelanggang fitnah.

Ketiga. Doa
Sebagaimana ucapan sebagian Ulama bahwa doa merupakan kunci semua kebaikan dunia dan akhirat. Sebagian salaf berkata, “Aku memperhatikan tentang kebaikan. Ternyata pintunya begitu banyak; Shalat, puasa, dan amal kebajikan. Dan aku temukan bahwa itu semua ada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Maka aku yakin bahwa doa merupakan kunci setiap kebaikan.”

Oleh karena itu, hendaklah kita memohon semua kebaikan dunia dan akhirat hanya kepada Allâh Azza wa Jalla .  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap pagi dan petang berdoa dengan doa memohon keamanan dan penjagaan, serta memohon keselamatan. Dan ini semua tidak dapat diraih kecuali dari Allâh Azza wa Jalla .

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan, “Mohonlah kepada Allâh Azza wa Jalla agar Dia menutup aurat kalian dan memberikan rasa aman di hati kalian.”[2]

Doa adalah sebab dan media yang agung lagi penuh barakah untuk meraih keamanan. Bukankah Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar dan Mengabulkan doa hamba-Nya?

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [Al-Baqarah/ 2: 186]

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.

Keempat. Kembali Kepada Ulama yang Kokoh Saat Terjadi Fitnah
Yaitu agar kita meruju’ atau kembali kepada Ulama handal lagi kokoh ketika terjadi bencana dan problema yang menyangkut kemaslahatan umat. Mereka yang memiliki ilmu tentang agama ini. Jangan kemudian meminta semua orang untuk turut berbicara. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖ ۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amr di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). [An-Nisâ’/ 4: 83]

Renungkanlah ayat tersebut!

Dalam ayat tersebut terdapat pengajaran dan didikan terhadap kita. Bila terjadi suatu kejadian yang menyangkut keamanan dan ketakutan yang menimpa umat, maka tidak semua orang turut andil berbicara dan diminta fatwanya. Namun kembalikanlah kepada para Ulama yang pandai mengambil kesimpulan dan makna yang benar.

Bila tidak demikian, maka akan terjadi berbagai kekacauan dan kehancuran. Sebab mereka berfatwa tanpa dasar ilmu, dan tergesa-gesa dalam memberikan jawaban dan solusi tanpa menimbang dan memperhatikan firman Allâh dan Rasul-Nya.

Umat ini telah banyak ditimpa cobaan. Di antara sebabnya adalah adanya sebagian orang yang tak berkecukupan ilmu agama namun ia tampil di tengah kaumnya untuk mengambil sikap dalam hal tersebut. Sehingga iapun mencelakakan diri sendiri dan juga mencelakakan orang lain.

Namun ironinya, bila terjadi bencana umat, justru setiap orang mengeluarkan fatwa, mengunjukkan idenya. Bahkan terkadang orang bodoh ataupun penuntut ilmu yang masih pemula, justru ia dengan lantang berorasi memberi arahan, langkah apa yang harus diambil dan memberikan solusi dengan tergesa-gesa. Padahal para Ulama yang râsikh (mumpuni kapasitas ilmunya), ketika dihadapkan masalah-masalah ini, mereka akan mempelajarinya dengan seksama dan mengambil kesimpulan dengan berdasar apa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, tanpa tergesa-gesa dan terburu-buru.

Jadi, kembali kepada para Ulama termasuk cara mewujudkan keamanan.

Kelima. Menjaga Keutuhan Jamaah Muslimin dan Patuh Taat Kepada Ulil Amri
Karena keamanan tidak akan terwujud tanpa Negara; dan Negara tidak akan tegak kecuali kalau ditaati pemimpinnya. Maka bila pemimpin tidak didengar dan tidak ditaati; tidak ditunaikan perintah Allâh Azza wa Jalla dan perintah Rasul terkait pemimpin, maka kerusakan dan kekacauan akan merajalela. Karena itu, banyak nash dari al-Quran dan as-Sunnah yang menegaskan ketaatan kepada ulil amri, menasihatinya dan taat kepadanya. Dan agar seseorang bersabar walaupun terkadang akan ada sikap penguasa yang mengorbankan hak rakyat, namun ia tetap bersabar, dan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar memperbaiki keadaan, dan mendoakan hidayah dan taufiq untuk penguasa. Ini sebagai upaya menjaga keutuhan jamaah kaum Muslimin, ketaatan kepada penguasa dan bentuk nasihat kepada mereka.

Dari Tamim ad-Dâri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab, “Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum Muslimin dan untuk kaum Muslimin secara umum.” [HR. Muslim 55]

Inilah yang diajarkan sunnah dan yang dijalankan kaum salaf. Inilah yang akan membuat kebaikan tersebar luas. Sampai-sampai sebagian salaf berkata, “Sekiranya aku mempunyai doa yang mustajab, tentu akan aku jadikan doaku untuk penguasa.” Sebab baiknya penguasa akan membuahkan kebaikan untuknya dan juga rakyatnya. Namun sangat disayangkan, sebagian orang justru menyalahi kaidah ini. Mereka justru memprovokasi rakyat untuk melawan penguasa. Mungkin saja ia keluar dari ketaatan kepada penguasa, dan menghasut mereka untuk meninggalkan ketaatan. Dan juga mendoakan keburukan atas penguasa.

Ini adalah hal-hal yang menyalahi apa yang ditunjukkan oleh nash-nash dan apa yang diamalkan kaum salafusshalih -semoga Allâh merahmati mereka-.

Karena itu, di antara media untuk mewujudkan keamanan dan menjaganya adalah dengan menerapkan sunnah, termasuk sunnah terkait dengan tata cara berinteraksi dengan para penguasa dan pemerintah. Di mana seseorang menerapkan itu sebagai bentuk menunaikan agamanya dan bentuk bertaqarrub kepada Allâh.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa sudah seharusnya masalah kepemimpinan itu kita jadikan sebagai bagian dari pelaksanaan ajaran agama, di mana kita juga bertaqarrub kepada-Nya melalui hal tersebut. Dan agar kita menjalankan ketakwaan kita kepada Allâh Azza wa Jalla dengan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap penguasa kita; sesuai dengan apa yang diajarkan al-Kitab dan as-Sunnah. Bukan karena didikte oleh hawa nafsu kita.

Keenam. Memberikan Pemahaman Agama Kepada Masyarakat dan  mengajarkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Disertai pula dengan membimbing mereka dengan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Karena bila ilmu agama dan kebaikan telah tersebar di tengah masyarakat, maka akan terwujud keamanan di tengah mereka. Inilah tugas para da’i, khatib dan pengajar (serta lainnya); agar memotivasi manusia menuju ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla ; dengan menegakkan perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya. Juga agar mereka antusias melakukan kebaikan. Karena ini semua akan bisa merealisasikan keamanan dan kebahagiaan mereka. Mereka akan aman dari berbagai keburukan dan mara bahaya serta kekacauan.

Tidak ada yang menyebabkan gonjang-ganjingnya keamanan suatu masyarakat melainkan dikarenakan kurang atau rusaknya ilmu. Namun bila  ilmu  yang shahih sudah tersebar, maka keadaan mereka pun akan baik dan kondusif, keamanan dan kebahagiaan pun akan terwujud di tengah mereka.

Ketujuh. Merealisasikan Jalinan Ikatan Keimanan
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ 

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.  [Al-Hujurât/ 49: 10]

Jalianan persaudaraan dengan dilandasi iman ini sangatlah agung jika bisa diwujudkan di tengah masyarakat. Namun realisasinya harus sesuai dengan arahan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut!

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri. [HR. Al-Bukhâri no 13, Muslim no 45 dari Anas Radhiyallahu anhu]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka hendaknya ketika meninggal ia dalam keadaan beriman kepada Allâh dan hari Akhir; dan hendaknya ia memperlakukan orang lain seperti halnya ia ingin diperlakukan. [Penggalan dari hadits Muslim, no. 1844]

Dan hendaknya ia memperhatikan rambu-rambu dan konsekuensi dari jalinan persaudaraan ini dalam Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»

Janganlah kalian saling mendengki! Jangan saling menipu (menawar harga tinggi untuk menipu pembeli)! Jangan saling membenci! Jangan saling membelakangi (memutus hubungan)! Janganlah sebagian kalian berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran lainnya! Dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allâh yang bersaudara! Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Tidak boleh ia menzaliminya, tidak menelantarkannya, tidak boleh meremehkannya! Takwa itu di sini –dan beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang dikatakan seorang yang buruk bila ia merendahkan saudara Muslimnya. Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram (untuk dirampas) darah, harta dan kehormatannya. [HR. Muslim 2586 dari An-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu]

Dan juga hadits-hadits lain yang menyerukan untuk mewujudkan tali persaudaraan Islam, sehingga terbentuk dalam masyarakat rasa saling kasih, sayang, saling membantu dan solidaritas. Sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang seperti satu badan, yang bila ada yang sakit, maka anggota lain pun akan ikut merasakan perih dan pedihnya.

Kedelapan. Tidak Menyakiti
Semua anggota masyarakat harus mewujudkan ini untuk dirinya, demi menjaga keamanan diri dan masyarakatnya. Islam memerintahkan ini , mengajak masyarakat untuk melakukannya dan menjanjikan pahala besar bagi pelakunya.

Jiwa manusia sendiri terpendam di dalamnya potensi kejahatan dan keburukan, seperti yang Rasul sabdakan dalam Khutbahul Hajah:

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Dan kami berlindung kepada Allâh dari berbagai keburukan diri kami dan buruknya amalan kami.

Banyak hadits yang memberikan aturan ketat agar seseorang tidak berbuat perilaku buruk dan tindak kejahatan terhadap orang lain, dengan tidak mengusik dan menyakiti orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ: اصدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

Berilah kepadaku jaminan enam perkara dari diri kalian, niscaya aku jamin kalian mendapatkan surga: Jujurlah kalian bila berbicara, penuhilah bila kalian saling berjanji, tunaikanlah bila kalian diberi amanah kepercayaan, peliharalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan cegah atau tahanlah tangan kalian. [HR. Ahmad 5/323, dihasankan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahîh al-Jâmi’, 1018].

Juga dalam Sunan At-Turmudzi dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ عَلَى نَاسٍ جُلُوسٍ، فَقَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ؟» قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا، قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ»

Dari Abu Hurairah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan orang-orang yang tengah duduk. Beliau bersabda, “Maukah kalau aku beritahukan kepada kalian siapa orang yang paling baik di antara kalian dan siapa yang paling buruk?” Abu Hurairah berkata, “Mereka pun diam.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya sampai tiga kali. Seorang lelaki pun berkata, “Mau wahai Rasûlullâh; beritahukanlah kepadaku siapa orang terbaik dan siapa yang paling buruk.” Beliau bersabda “Orang paling baik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang paling buruk di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain pun tidak merasa aman dari keburukannya.” [HR. At-Tirmidzi no 2263, dishahihkan oleh Al-Albâni rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/ 507]

Oleh karena itu, sama sekali tidak dibenarkan seseorang mengganggu dan menyakit seorang Muslim lainnya. Seorang Muslim harus menahan diri dari berbagai hal yang membuat saudaranya tersakiti dan terzhalimi. Hendaknya ia bertakwa kepada Allâh dalam berbuat kepada sesama.

Kesembilan. Menerapkan Hukuman yang Akan Mencegah Para Pelanggar dan Membuat Jera Orang yang Dzalim
Ini berhubungan dengan tanggung jawab pemerintah, dan dengan diterapkannya hukuman keamanan masyarakat akan stabil. Oleh karena itu, dalam syariat (Islam) ini ada hukum qishash dalam masalah pembunuhan, dan bagi orang yang melakukan tindakan zhalim terhadap orang lain, bagaimanapun bentuknya, maka dia akan mendapatkan hukuman semisal dengan perbuatan yang telah dia lakukan terhadap orang itu. Barangsiapa telah memotong tangan orang lain, maka dia akan diganjar dengan dipotong tangannya. Demikian pula siapa yang sengaja merusakkan mata orang lain dia akan dibalas dengan dirusakkan juga matanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْاَنْفَ بِالْاَنْفِ وَالْاُذُنَ بِالْاُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّۙ

mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi,  [Al-Mâidah/5:45]

Dan semua itu telah ada aturannya dalam syariat agar terwujudkan keamanan di tengah masyarakat.

Kemudian (hukuman) potong tangan bagi pencuri, juga (hukum) cambukan bagi peminum khamer (minuman keras) dan mencambuk orang yang berzina bila dia masih belum menikah dan dihukum bunuh dengan cara dirajam untuk yang berzina bila dia sudah menikah. Dan berbagai jenis hukuman lainnya yang akan mewujudkan keamanan di tengah masyarakat. Sehingga dengan demikian, akal mereka terjaga, harta mereka aman; kehormatan mereka terlindungi dan mereka tenang di rumah-rumah mereka.

Jika hukum had ini diterapkan sesuai dengan tuntunan yang ada dalam kitab Allâh Azza wa Jalla dan sunnah nabi-Nya maka sungguh akan terwujud keamanan (di tengah) manusia.

Kesepuluh. Mensyukuri Nikmat Allâh Azza wa Jalla
Kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya itu tidak terhitung. Diantara kenikmatan Allâh Azza wa Jalla yang diberikan untuk orang beriman adalah kehidupan yang aman dan tenteram.

Orang yang beriman wajib bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat Islam dan nikmat keselamatan, serta hendaknya mereka menjadi orang yang senantiasa memuji Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-Nya, menjadi orang yang banyak bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas pemberian dan anugrah-Nya.

Jika manusia membalas nikmat Allâh Azza wa Jalla dengan kekufuran, maka sungguh keamanan mereka akan menjadi ketakutan, dan ketenangan akan berganti kecemasan dan kegelisahan. Sebuah nikmat, jika disyukuri dia akan tetap (ada), namun jika diingkari (dikufuri tidak disyukuri) dia akan (pergi) lari (menghilang), sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrâhîm/14:7]

Maka termasuk diantara (cara untuk) menjaga keamanan adalah dengan cara mensyukuri nikmat Allâh Azza wa Jalla , dan renungkanlah permisalan yang ada dalam al-Qur’an pada firman Allâh Azza wa Jalla :

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh; karena itu Allâh merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.[An-Nahl/16 :112]

Inilah beberapa sebab atau wasilah untuk mewujudkan dan menjaga nikmat aman yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada kita. Mungkin sebagian dari sebab atau wasilah itu sudah termasuk dalam bagian yang lain, namun tetap disebutkan dipoin tersendiri dengan tujuan memberikan penjelasan lebih rinci. Semua sebab dan wasilah yang disebutkan di atas berporos pada iman. Semakin bagus kewalitas iman sesorang, maka semakin besar rasa akan yang akan dia rasakan.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan mendapat keamanan di dunia dan di akhirat.

(Poin-poin diatas, disarikan dari kitab Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr yang berjudul Amnul Bilad; Ahammiyatuhu wa Wasa’ilu Tahqîqihi wa Hifzhihi)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Taisîr al-Karîm Ar-Rahmân 2/ 108.
[2] Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, no. 720. Riwayat ini dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani t dalam ash-Shahîhah, no. 1890

Kisah Qabil dan Habil

KISAH QABIL DAN HABIL

Kisah-kisah dalam al-Qur’an sangat banyak, baik yang berkenaan dengan para nabi dan rasul, orang-orang shalih, orang-orang kafir, umat-umat terdahulu, peristiwa-peristiwa yang akan datang dan yang lainya. Allâh Azza wa Jalla menginginkan dari kisah-kisah tersebut agar para hamba-Nya merenunginya kemudian mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah tersebut.

Diantara kisah yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam al-Qur’an adalah kisah tentang dua anak Adam Alaihissallam yaitu Qabil dan Habil. Dua putra Nabi Adam Alaihissallam yang memiliki sifat dan perangai yang bertolak belakang. Allâh Azza wa Jalla abadikan kisah mereka dalam surat al-Mâ’idah ayat 27-31. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ٢٧ لَىِٕنْۢ بَسَطْتَّ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ٢٨ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ تَبُوْۤاَ بِاِثْمِيْ وَاِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِۚ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَۚ ٢٩  فَطَوَّعَتْ لَهٗ نَفْسُهٗ قَتْلَ اَخِيْهِ فَقَتَلَهٗ فَاَصْبَحَ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٣٠ فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِ ۗ قَالَ يٰوَيْلَتٰٓى اَعَجَزْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَاُوَارِيَ سَوْءَةَ اَخِيْۚ فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَ 

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu! ” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allâh hanya menerima (ibadah kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allâh, Rabb sekalian alam.”

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.”

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.

Kemudian Allâh menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. [Al-Mâ’idah/5:27-31]

Qabil dan Hasad
Hasad adalah sifat yang sangat tercela. Hasad adalah seseorang menginginkan kenikmatan yang ada pada orang lain berpindah kepada dirinya. Sifat nista ini bisa menyeret seseorang berlaku kejam dan bengis.

Hasad adalah dosa pertama yang dilakukan oleh iblis terhadap Nabi Adam Alaihissallam yaitu ketika Allâh Azza wa Jalla ajarkan kepadanya seluruh nama-nama kemudian Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada para Malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihissallam . Ketika itu iblis hasad dengan karunia yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada Nabi Adam Alaihissallam . Ini  mendorongnya untuk membangkang perintah bersujud kepada Nabi Adam Alaihissallam . Tidak hanya sampai disitu, iblis berusaha mengeluarkan Nabi Adam Alaihissallam dari surga dan bersumpah untuk menyesatkan anak keturunannya sampai hari kiamat.

Demikian pula yang terjadi pada Qabil. Sifat hasad telah membutakan mata hatinya. Sifat ini telah menjerumuskan dirinya ke dalam dosa yang sangat dia sesali di kemudian hari. Qabil hasad kepada kelebihan yang ada pada saudaranya Habil. Ketika keduanya memberikan kurban, Allâh Azza wa Jalla menerima  kurban yang dipersembahkan oleh Habil dan tidak menerima apa yang dikurbankan oleh Qabil. Melihat ini, Qabil merasa iri dan dengki terhadap Habil, sehingga ia sangat benci terhadap Habil bahkan sangat bernafsu untuk menghabisi nyawanya.

Perhatikanlah oleh kita! Bagaimana hasad bisa menjerumuskan seseorang kepada kerusakan. Sifat inilah yang menyebabkan Yahudi dan Nashrani terus berusaha memerangi dan memurtadkan kaum Muslimin. Hasad pula yang mendorong saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissallam berusaha menyingkirkannya dan membunuhnya. Semoga Allâh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari sifat hasad ini.

Setelah lama menunggu kesempatan dan memendam niatnya, akhirnya Qabil berhasil membunuh Habil, saudaranya sendiri. Pasca melakukan pembunuhan, bukan kepuasan dan ketenangan yang dia rasakannya, justru kerugian dan penyesalan yang dia dapatkan. Kerugian yang bertumpuk-tumpuk karena telah termakan bujuk rayu syaitan.

Habil dan Iman
Keimanan jika telah mengakar dalam hati seseorang, maka itu akan membawanya kepada kebaikan dan mencegahnya dari berbagai kejelekan. Inilah gambaran yang ada pada Habil. Keimanan dan ketaqwaan telah menghiasi dirinya. Lihatlah jawaban yang dia ucapkan ketika Qabil hendak membunuhnya:

قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ٢٧ لَىِٕنْۢ بَسَطْتَّ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ٢٨ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ تَبُوْۤاَ بِاِثْمِيْ وَاِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِۚ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَۚ 

Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allâh hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allâh, Rabb sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.” .[Al-Mâ’idah/5:27-29]

Keimanan  menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan bagi Habil dan penutup segala pintu kejelekan.

Pelajaran Dari Kisah Qabil Dan Habil
Kisah dua anak Adam Alaihissallam yang Allâh Azza wa Jalla abadikan ini memberikan pelajaran dan ibrah yang sangat berharga diantaranya:

1. Ketakwaan merupakan sebab diterimanya amalan seseorang di sisi Allâh Azza wa Jalla .
Allâh Azza wa Jalla berfirman

قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Berkata Habil, “Sesungguhnya Allâh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” [Al-Mâ’idah/5:27]

Allâh Azza wa Jalla menerima kurban yang dipersembahkan oleh Habil karena ketakwaannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan diantara keutamaan ketakwaan yang lain yaitu :
(a). Orang yang bertakwa adalah orang yang paling mulia disisi Allâh Azza wa Jalla

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. [Al-Hujurȃt/49:13]

(b). Takwa sebab datangnya rezeki yang halal

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ 

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga [Ath-Thalâq/65:2-3]

(c). Takwa sebab dimudahkannya segala urusan

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا 

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. [Ath-Thalâq/65:4]

Demikian pula sabda Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ أَتْقَاهُمْ

Dari shabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. dikatakan kepada Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh ! Siapakah manusia  yang paling  mulia?”Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa.” [1]

Dan masih banyak keutamaan lain yang telah Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya

2. Rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla akan menghalangi seseorang dari perbuatan-perbuatan yang terlarang.
Ini diambil dari jawaban yang diucapkan oleh Habil kepada saudaranya,

لَىِٕنْۢ بَسَطْتَّ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ

 “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allâh, Rabb sekalian alam.” [Al-Mâ’idah/5:28]

Maka rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla telah menjaga Habil dari perbuatan yang dilakukan oleh Qabil. Rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla juga bisa menjaga seseorang dari perbuatan maksiat dan mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan Allâh Azza wa Jalla menjanjikan surga untuk orang-orang yang takut kepada-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ٤٠ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). [An-Nâzi’ât/79:40-41]

3. Orang tua yang shalih tidak dicela dengan sebab perbuatan anaknya yang thalih (tidak shalih)
Adam Alaihissallam adalah seorang nabi dan orang tua yang shalih. Perbuatan Qabil, putranya bukan menjadi cela bagi beliau. Demikian pula nabi-nabi yang lain yang Allâh Azza wa Jalla uji dengan anak-anak mereka yang membangkang, seperti Nabi Nûh q . Beliau juga tidak dicela dengan sebab anaknya yang kafir. Karena mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk mendidik dan mendakwahi anak mereka agar jauh dari kekufuran dan maksiat. Lihatlah nabi Nûh q yang berkata kepada putranya:

وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

Dan Nûh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”  [Hûd/11:42]

Apabila orang tua telah berusaha dalam mendidik anaknya namun anaknya cenderung kepada perbuatan yang terlarang bahkan terjerumus kedalamnya, maka orang tua tidak mendapatkan cela disebabkan perbuatan anaknya tersebut. Wallâhu a’lam.

(Disarikan dari al-Furqân min Qashashil Qur’an, Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Aziz)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR.Bukhari no 3383,  Muslim no 2378

Kisah Debat Ibnu Abbas Dengan Khawarij

KISAH DEBAT IBNU ABBAS DENGAN KHAWARIJ

oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsari

Kaum Khawarij adalah firqah (golongan) pertama yang menyimpang dalam sejarah Islam. Mereka dikenal ahli ibadah, namun memiliki pemikiran yang melewati batas.

Di antara aqidah kaum khawarij adalah menganggap kafir kaum muslimin yang melakukan dosa besar, dan meyakini bahwa mereka kekal di neraka. Demikian ciri khas kaum Khawarij, yaitu terlalu mudah memvonis kafir kepada seorang Muslim. Bahkan di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan juga mengkafirkan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka.

Aqidah mereka itu disebabkan kebodohan terhadap agama, sehingga salah faham terhadap nash-nash agama.

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam  telah memberitakan bahwa mereka akan terus muncul sampai menjelang hari kiamat, maka sepantasnya kita berhati-hati terhadap pemikiran sesat mereka.

Oleh karena itu di sini akan kami sampaikan kisah perdebatan seorang ‘alim sahabat yang mematahkan argumen-argumen firqah Khawarij di zamannya, semoga menjadi ibrah bagi kita semua.[]

Abu Zumail Simaak Al-Hanafi rahimahullah (berkata), “Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bercerita kepada kami, beliau berkata:

لَمَّا خَرَجَتِ الْحَرُورِيَّةُ اجْتَمَعُوا فِي دَارٍ، وَهُمْ سِتَّةُ آلَافٍ، أَتَيْتُ عَلِيًّا، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَبْرِدْ بِالظُّهْرِ لَعَلِّي آتِي هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ فَأُكَلِّمُهُمْ. قَالَ: إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكَ. قُلْتُ: كَلَّا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَخَرَجْتُ إِلَيْهِمْ وَلَبِسْتُ أَحْسَنَ مَا يَكُونُ مِنْ حُلَلِ الْيَمَنِ،  قَالَ أَبُو زُمَيْلٍ كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ جَمِيلًا جَهِيرًا.

Ketika kaum Haruriyyah (Khawarij) memberontak, mereka berkumpul di suatu daerah, mereka berjumlah 6 ribu orang.
Maka aku mendatangi ‘Ali, lalu berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, agar aku bisa mendatangi mereka lalu berbicara dengan mereka (kaum Khawarij)”.
Ali berkata: “Aku mengkhawatirkan (keselamatan) mu”.
Aku berkata: “Tidak perlu khawatir”.
Ibnu ‘Abbas berkata: Lalu aku keluar menuju mereka,  dan aku memakai pakaian terbagus buatan Yaman.
Abu Zumail berkata: Ibnu ‘Abbas adalah seorang yang tampan dan bersuara lantang.

Ibnu Abbas Menemui Mereka

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَأَتَيْتُهُمْ، وَهُمْ مُجْتَمِعُونَ فِي دَارِهِمْ، قَائِلُونَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا: مَرْحَبًا بِكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَمَا هَذِهِ الْحُلَّةُ؟ قَالَ: قُلْتُ: مَا تَعِيبُونَ عَلَيَّ، لَقَدْ رَأَيْتُ عَلَىَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ مَا يَكُونُ مِنَ الْحُلَلِ، وَنَزَلَتْ: {قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ} [الأعراف: 32]

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian aku mendatangi mereka, mereka berkumpul di rumah mereka, mereka sedang beristirahat di tengah hari. Aku mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka berkata: “Marhaban bik (selamat datang) wahai Ibnu ‘Abbas, pakaian apa ini?”
Ibnu ‘Abbas berkata : Aku menjawab: “Apa yang kamu mencelaku, sungguh aku telah melihat pakaian terbagus pada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam!”
Dan telah turun (firman Allah Ta’ala) : Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki-rezki yang baik?” [Al-A’raf/7: 32]

Para Sahabat Nabi Paling Mengetahui Wahyu Ilahi

قَالُوا: فَمَا جَاءَ بِكَ؟ قُلْتُ: أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، لِأُبَلِّغُكُمْ مَا يَقُولُونَ الْمُخْبَرُونَ بِمَا يَقُولُونَ فَعَلَيْهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ، وَهُمْ أَعْلَمُ بِالْوَحْيِ مِنْكُمْ، وَفِيهِمْ أُنْزِلَ: وَلَيْسَ فِيكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا تُخَاصِمُوا قُرَيْشًا، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} [الزخرف: 58]

Mereka berkata : “Apa yang membuatmu datang ke sini?”. Aku berkata: “Aku datang kepada kamu dari sisi para sahabat Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu Muhajirin dan Anshar, untuk menyampaikan perkataan mereka, mereka adalah orang-orang yang telah diberi tahu dengan apa yang mereka katakan. Al Qur’an turun kepada mereka, dan mereka lebih mengetahui wahyu daripada kamu. Dan Al-Qur’an diturunkan tentang mereka. Dan tidak ada salah seorang pun dari kalian yang termasuk sahabat Nabi.
Lalu sebagian dari mereka berkata: “Kamu jangan berdebat dengan Quraisy, karena Allah berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” [Az-Zukhruf/43: 58]

Semangat Ibadah Khawarij

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: وَأَتَيْتُ قَوْمًا لَمْ أَرَ قَوْمًا قَطُّ أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنْهُمْ مُسْهِمَةٌ وجُوهُهُمْ مِنَ السَّهَرِ، كَأَنَّ أَيْدِيَهِمْ وَرُكَبَهُمْ تُثَنَّى عَلَيْهِمْ، فَمَضَى مَنْ حَضَرَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَنُكَلِّمَنَّهُ وَلَنَنْظُرَنَّ مَا يَقُولُ.

Ibnu Abbas berkata: “Aku mendatangi sekelompok orang yang aku tidak pernah melihat sama sekali sekelompok orang yang sangat bersemangat (dalam ibadah) dari mereka. Wajah-wajah mereka berubah warna (yakni pucat) karena tidak tidur, tangan-tangan dan lutut-lutut mereka seolah-olah dilipat.
Orang-orang yang hadir berlalu, sebagian mereka berkata: “Kami akan berbicara dengannya dan kami akan lihat apa yang dia katakan!”

Permulaan Dialog

قُلْتُ: أَخْبِرُونِي مَاذَا نَقَمْتُمْ عَلَى ابْنِ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصِهْرِهِ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ؟ قَالُوا: ثَلَاثًا. قُلْتُ: مَا هُنَّ؟

Aku berkata: “Beritahukan kepadaku, apa yang  kamu cela kepada  anak dari paman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, menantunya, demikian juga kepada  Muhajirin dan Anshar?”
Mereka menjawab: “Tiga (perkara)”. Aku bertanya: “Apa itu?”.

Tiga Sebab Permusuhan Kepada ‘Ali

قَالُوا: أَمَّا إِحْدَاهُنَّ فَإِنَّهُ حَكَّمَ الرِّجَالَ فِي أَمْرِ اللَّهِ، وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ} [الأنعام: 57] وَمَا لِلرِّجَالِ وَمَا لِلْحُكْمِ؟ فَقُلْتُ: هَذِهِ وَاحِدَةٌ.

Mereka menjawab : “Pertama : dia telah menjadikan manusia sebagai hakim dalam urusan/agama Allah, padahal Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah” [Al An’am/6: 57, Yusuf/12: 40].

Apa hak manusia  terhadap hukum?” Aku berkata: “Ini yang pertama”.

قَالُوا: وَأَمَّا الْأُخْرَى فَإِنَّهُ قَاتَلَ، وَلَمْ يَسْبِ وَلَمْ يَغْنَمْ، فَلَئِنْ كَانَ الَّذِي قَاتَلَ كُفَّارًا لَقَدْ حَلَّ سَبْيُهُمْ وَغَنِيمَتُهُمْ، وَلَئِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ مَا حَلَّ قِتَالُهُمْ. قُلْتُ: هَذِهِ اثْنَتَانِ، فَمَا الثَّالِثَةُ؟

Mereka berkata (lagi):
Kedua : dia berperang (melawan pihak ‘Aisyah), namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah.
Padahal jika dia memerangi orang-orang kafir maka halal tawanan dan ghanimah mereka.
Namun jika yang diperangi adalah orang-orang mukmin, maka tidak halal memerangi mereka”. 
Aku berkata: “ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”.

قَالُوا:إِنَّهُ مَحَا نَفْسَهُ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَهُوَ أَمِيرُ الْكَافِرِينَ. قُلْتُ: أَعِنْدَكُمْ سِوَى هَذَا؟ قَالُوا: حَسْبُنَا هَذَا.

Mereka berkata (lagi):
(Ketiga) Bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Mu’minin, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin.
Aku lalu berkata: “Apakah kamu memiliki (alasan lain) selain ini?”.
Mereka menjawab: “Cukup ini”.

Rujukan Perselisihan

فَقُلْتُ لَهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَرَأْتُ عَلَيْكُمْ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمِنْ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُرَدُّ بِهِ قَوْلُكُمْ أَتَرْضَوْنَ؟ قَالُوا: نَعَمْ.

Aku berkata kepada mereka: “Bagaimana menurut kamu, jika aku membacakan dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ’alaihi wasallam yang akan membantah pendapat kalian, (apakah kalian akan rujuk (taubat)?”.
Mereka berkata: “Ya”.

Bantahan Syubhat Pertama

فَقُلْتُ: أَمَّا قَوْلُكُمْ: حَكَّمَ الرِّجَالَ فِي أَمْرِ اللَّهِ فَأَنَا أَقْرَأُ عَلَيْكُمْ مَا قَدْ رَدَّ حُكْمَهُ إِلَى الرِّجَالِ فِي ثَمَنِ رُبْعِ دِرْهَمٍ فِي أَرْنَبٍ، وَنَحْوِهَا مِنَ الصَّيْدِ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ} [المائدة: 95] إِلَى قَوْلِهِ {يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ} [المائدة: 95]

Aku katakan : “Adapun perkataan kamu, bahwa dia (Ali bin Abi Thalib) telah menjadikan manusia sebagai hakim dalam urusan/agama Allah. Aku akan membacakan (Kitabullah) kepada kamu, bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam harga seperempat dirham tentang kelinci, dan binatang buruan semacamnya.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَاَنْتُمْ حُرُمٌ ۗوَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ 

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barangsiapa yang membunuhnya di antara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil di antara kamu”. [Al Maidah/5: 95]

Pengambilan Dalil yang Mengagumkan

فَنَشَدْتُكُمُ اللَّهَ أَحُكْمُ الرِّجَالِ فِي أَرْنَبٍ وَنَحْوِهَا مِنَ الصَّيْدِ أَفْضَلُ، أَمْ حُكْمُهُمْ فِي دِمَائِهِمْ وَصَلَاحِ ذَاتِ بَيْنِهِمْ؟، وَأَنْ تَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَوْ شَاءَ لَحَكَمَ وَلَمْ يُصَيِّرْ ذَلِكَ إِلَى الرِّجَالِ،

Aku bertanya kepada kamu dengan nama Allah, “Apakah putusan hukum manusia tentang kelinci, dan binatang buruan semacamnya, lebih utama, ataukah putusan hukum mereka tentang darah dan perdamaian?
Dan kamu mengetahui, jika Allah menghendaki, tentu Allah telah menetapkan hukum, dan tidak menyerahkannya kepada manusia”.

وَفِي الْمَرْأَةِ وَزَوْجِهَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا} [النساء: 35] فَجَعَلَ اللَّهُ حُكْمَ الرِّجَالِ سُنَّةً مَأْمُونَةً، أَخَرَجْتُ عَنْ هَذِهِ؟ قَالُوا: نَعَمْ،

Dalam masalah pertikaian suami istri, Allah berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِهٖ وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” [An-Nisa/4: 35]

Allah telah menjadikan putusan manusia (yang Allah berikan idzin-pent) sebagai ketetapan yang aman.

Apakah aku telah keluar dari (masalah) ini? Mereka menjawab: “Ya”.

Bantahan Syubhat Kedua

قَالَ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ: قَاتَلَ وَلَمْ يَسْبِ وَلَمْ يَغْنَمْ، أَتَسْبُونَ أُمَّكُمْ عَائِشَةَ ثُمَّ تَسْتَحِلُّونَ مِنْهَا مَا يُسْتَحَلُّ مِنْ غَيْرِهَا؟ فَلَئِنْ فَعَلْتُمْ لَقَدْ كَفَرْتُمْ وَهِيَ أُمُّكُمْ، وَلَئِنْ قُلْتُمْ: لَيْسَتْ أَمَّنَا لَقَدْ كَفَرْتُمْ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ} [الأحزاب: 6]  فَأَنْتُمْ تَدُورُونَ بَيْنَ ضَلَالَتَيْنِ أَيُّهُمَا صِرْتُمْ إِلَيْهَا، صِرْتُمْ إِلَى ضَلَالَةٍ فَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قُلْتُ: أَخَرَجْتُ مِنْ هَذِهِ؟ قَالُوا: نَعَمْ،

Ibnu Abbas berkata: “Adapun perkataan kamu, bahwa Ali berperang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, (aku akan bertanya), “Apakah kamu akan menawan ibu kalian, yaitu ‘Aisyah? Kemudian kamu akan menggapnya halal, sebagaimana (tawanan) lainnya?
Jika kamu melakukannya, maka kamu menjadi kafir, karena dia adalah ibu kamu.
Namun jika kamu mengatakan bahwa dia bukan ibu kamu, kamu juga menjadi kafir, karena Allah berfirman: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin)‘ [Al-Ahzab/33: 6]
Maka kalian berada di antara dua kesesatan, apa yang kamu pilih maka kamu menuju kesesatan.
Maka mereka saling memandang satu sama lain.
Aku bertanya: “Apakah aku telah keluar dari (masalah) ini?”
Mereka menjawab: “Ya”.

Bantahan Syubhat Ketiga

قَالَ: وَأَمَّا قَوْلُكُمْ مَحَا اسْمَهُ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَأَنَا آتِيكُمْ بِمَنْ تَرْضَوْنَ، وَأُرِيكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ كَاتَبَ سُهَيْلَ بْنَ عَمْرٍو وَأَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ: ” اكْتُبْ يَا عَلِيُّ: هَذَا مَا اصْطَلَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ” فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ لَوْ نَعْلَمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا قَاتَلْنَاكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، اكْتُبْ يَا عَلِيُّ: هَذَا مَا اصْطَلَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ” فَوَاللَّهِ لَرَسُولُ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ عَلِيٍّ، وَمَا أَخْرَجَهُ مِنَ النُّبُوَّةِ حِينَ مَحَا نَفْسَهُ،

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kamu bahwa Ali menghapus namanya dari gelar Amirul Mukminin, maka aku akan sampaikan kepada kamu dengan orang yang kamu ridhai. Aku kira kamu sudah mendengar bahwa Nabi shalallahu‘alaihi wasallam pada perang Hudaibiyah membuat perjanjian dengan Suhail bin ‘Amr dan Abu Sufyan bin Harb (yang mewakili suku Quraisy). Rasulullah berkata kepada Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), “Tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. 
Namun kaum Musyrikin berkata, “Tidak demi Allah, kami tidak mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah! Seandainya kami mengetahui bahwa engkau Rasulullah,  tentu kami tidak memerangimu”.
Maka Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul-Mu. Wahai Ali, tulislah, “Ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”.
Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tentu lebih utama dari pada Ali. Namun ketika beliau menghapus gelar “Rasulullah” itu tidak berarti mengeluarkan beliau dari kenabian”.

Dua Ribu Khawarij Bertaubat

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَرَجَعَ مِنَ الْقَوْمِ أَلْفَانِ، وَقُتِلَ سَائِرُهُمْ عَلَى ضَلَالَةٍ

Abdullah bin Abbas berkata, “Maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya terbunuh dalam kesesatan”.

Para Ulama yang Meriwayatkan Hadits Ini:

  1. HR. Al-Hakim di dalam Al-Mustadrok, no. 2656, dan ini adalah lafazhnya.
  2. HR. Nasai di dalam As-Sunan al-Kubro, no. 8522
  3. HR. Nasai di dalam Khoshoish Ali, no. 190
  4. HR. Al-Fasawi 1/522-524
  5. HR. Al-Baihaqi di dalam As-Sunan al-Kubro, no. 16740
  6. HR. Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf, no. 18678
  7. HR. Thobroni di dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 10598
  8. HR. Dhiya’ Al-Maqdisi di dalam Al-Ahadits Al- Mukhtaroh, no. 436
  9. HR. Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’, 3/318
  10. Dan lain-lain

Kedudukan Hadits Ini:
Beberapa ulama menyatakan kuatnya hadits ini, antara lain:

  1. Imam Al-Hakim. Setelah meriwayatkan hadits ini, beliau berkata, «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» “Hadits ini shohih menurut syarat (imam) Muslim, tetapi keduanya (imam Bukhori dan Muslim) tidak meriwayatkan (di dalam kitab Shohih keduanya)”.
  2. Adz-Dzahabi menyetujui perkataan imam Al-Hakim.
  3. Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali menyetujui perkataan kedua imam di atas (Munazharat Aimmatis Salaf, hal. 95)
  4. Syaikh Abu Abdillah Ad-Dani bin Munir Aalu Zahwa.

Beliau membawakan hadits ini di dalam kitab Silsilah al-Atsar ash-Shohihah, no. 308, dan menyatakan ,”Hasan”.

Sebuah kisah yang banyak ilmu dan pelajaran, semoga Allah menetapkan kita di jalan-Nya yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Faedah-faedah Hadits Tsauban

FAEDAH-FAEDAH HADITS TSAUBAN

oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim Al-Atsari

Sebagian orang menyangka bahwa jika seseorang sudak masuk Islam, mengikrarkan kalimat tauhid Laa ilaaha ila Allah, maka dia sudah bebas dari kemusyrikan. Demikian juga sebagaian yang lain menyangka bahwa di kalangan orang Islam tidak ada kemusyrikan. Sesungguhnya anggapan dan persangkaan di atas tidak benar. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa sebagian umat ini akan menyembah berhala. Inilah sebuah hadits yang shohih, salah satu dalil tegas yang menerangkannya:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَلَا أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِي بَعْضًا وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ قَالَ ابْنُ عِيسَى ظَاهِرِينَ ثُمَّ اتَّفَقَا لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was salam bersabda: “Sesungguhnya Allah -Rabbku- menghimpunkan bumi untukku, sehingga aku melihat bumi sebelah timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada bagian bumi yang dihimpunkan untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan yang berwarna merah dan yang berwarna putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka. Dan sesungguhnya Rabbku berkata kepadaku: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan satu keputusan, maka itu tidak akan ditolak. Dan Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang merata. Dan Aku tidak akan menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka, walaupun musuh berkumpul dari berbagai penjuru bumi, sampai sebagian mereka (umatmu) membinasakan sebagian yang lain, dan  sampai sebagian mereka (umatmu) menjadikan tawanan sebagian yang lain. Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang  menyesatkan. Dan jika pedang telah dijatuhkan/diletakkan di kalangan umatku, pedang itu tidak akan diangkat dari umatku sampai hari kiamat. Dan waktu kiamat tidak akan datang sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai kabilah-kabilah dari umatku menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya di kalangan umatku akan muncul 30 pendusta, semua mengaku bahwa dia seorang Nabi. Sedangkan aku penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelah aku. Dan senantiasa ada sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran –Ibnu ‘Isa berkata: “mereka menang”- orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai perintah Allah datang”.  [HR. Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani]

Fedah-Faedah Hadits
Hadits yang agung ini memiliki banyak sekali faedah, inilah di antaranya:

1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya Allah -Rabbku- menghimpunkan bumi untukku, sehingga aku melihat bumi sebelah timur dan baratnya”. Ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang Dia perlihatkan kepada Nabi dan RosulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada bagian bumi yang dihimpunkan untukku”.

Ini merupakan salah satu mu’jizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hadits ini menunjukkan bahwa kekuasaan umat ini akan menyebar ke arah timur dan barat, dan ini telah terjadi. Mulai dari Thonjah di ujung Maroko –bahkan seberang lautan- sampai India, bahkan sebagian Cina. Adapun ke arah selatan dan utara maka sedikit dibandingkan ke arah timur dan barat.[1]

3. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan aku diberi dua harta simpanan yang berwarna merah dan yang berwarna putih”.

Penulis kitab An-Nihayah berkata: “Merah yaitu kerajaan Syam, putih yaitu kerajaan Persia. Beliau mengatakan putih untuk Persia karena kulit mereka putih, dan karena harta mereka yang dominan adalah perak. Sebagaimana yang dominan kulit penduduk Syam adalah merah dan harta mereka adalah emas”.

4. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan sesungguhnya aku memohon kepada Robbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah/wilayah mereka”. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi kepada umatnya, sehingga beliau memohonkan kebaikan bagi mereka.

5. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan sesungguhnya Rabbku berkata kepadaku: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan satu keputusan, maka itu tidak akan ditolak”. Ini salah satu dalil tentang iman kepada takdir.

6. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang merata”.

Imam Nawawi berkata: “Yaitu: Aku tidak akan membinasakan mereka (umatmu) dengan paceklik yang mengenai mereka semua, bahkan jika paceklik itu terjadi, hanya pada sedikit daerah dibandingkan dengan negeri-negeri Islam yang lain”. Ini juga menunjukkan dikabulkannya doa pertama ini.

7. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan Aku tidak akan menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, sehingga musuh itu akan merampas daerah mereka, dst”.

Ini juga menunjukkan dikabulkannya doa kedua dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, akan tetapi dengan syarat umat tidak saling berperang dan membinasakan.

8. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan”.

Ini menunjukkan kekhawatiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap imam-imam yang menyesatkan. Yaitu orang-orang yang mengajak menuju bid’ah-bid’ah, kefasikan, dan kemaksiatan. Syaikh Abdurrohman berkata: “Yaitu umaro’, ulama’, dan ahli-ahli ibadah, mereka menghukumi dengan tanpa ilmu sehingga mereka menyesatkan umat”[2].

9. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan jika pedang telah dijatuhkan/diletakkan di kalangan umatku, pedang itu tidak akan diangkat dari umatku sampai hari kiamat”.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rohimahulloh berkata: “Demikian juga ini telah terjadi. Karena ketika pedang telah jatuh dengan pembunuhan terhadap Utsman, pedang tidak diangkat lagi. Demikianlah akan terjadi sampai hari kiamat. Tetapi terkadang banyak, terkadang sedikit. Dan terjadi di satu tempat dan hilang di tempat yang lain”.[3]

10. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan waktu kiamat tidak akan datang sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik”.

Di antaranya adalah yang telah terjadi setelah wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman khilafah Abu Bakar As-Shidiq.

11. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan sampai kabilah-kabilah dari umatku menyembah berhala-berhala”.

Ini menunjukkan bahwa banyak sekali di kalangan umat ini yang akan menyembah berhala!

12. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan sesungguhnya di kalangan umatku akan muncul 30 pendusta, semua mengaku bahwa dia seorang Nabi”.

Ini merupakan berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa di kalangan umat ini akan muncul Nabi-Nabi palsu.

13. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sedangkan aku penutup para Nabi, tidak Nabi setelah aku”. Ini berarti bahwa setiap pengakuan kenabian atau pengakuan mendapatkan wahyu dari Allah setelah wafatnya beliau merupakan kesesatan dan kedustaan yang nyata. Barangsiapa mengaku sebagai Nabi atau Rosul setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia seorang pendusta dan kafir. Begitu pula orang yang membenarkannya.

14. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Senantiasa ada sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran. Mereka dalam keadaan menang. Orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka”.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Di dalam hadits ini terdapat ayat (tanda kekuasaan Allah) yang agung, yaitu walaupun mereka (thoifah manshuroh) itu sedikit, namun orang yang tidak menolong mereka dan menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka”. Beliau juga berkata: “Kabar gembira bahwa kebenaran tidak akan hilang sama sekali, sebagaimana zaman dahulu al-haq hilang, bahkan tetap ada sekelompok orang yang berada di atas al-haq”.[4] Yakni selama ada thoifah manshuroh ini.

15. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “mereka menang”, yaitu menang terhadap ahli batil walaupun dengan hujjah (argumen).[5]

16. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “sampai perintah Allah datang”, yaitu angin wangi yang akan mematikan ruh semua orang beriman, di mana saja berada. Kemudian yang tinggal hanyalah orang-orang yang sangat jahat, dan pada merekalah datangnya hari kiamat[6].

17. Hadits ini merupakan mu’jizat yang sangat besar. Karena hampir semua berita Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini telah terjadi, padahal semua berita itu merupakan perkara yang sangat jauh menurut umumnya akal manusia.

Maraji’:

  1. Aunul Ma’bud Syarh Abi Dawud.
  2. Syarh-Syarh  kitab At-Tauhid.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat Syarah-Syarah Kitab At-Tauhid
[2] Fathul Majid, hlm: 243
[3] Fathul Majid, hlm: 235
[4] Fathul Majid, hlm: 250
[5] ‘Aunul Ma’bud
[6] Fathul Majid, hlm: 248

Perbandingan Antara Dunia Dengan Akhirat

PERBANDINGAN ATARA DUNIA DENGAN AKHIRAT

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

Secara fithrah manusia mencintai dunia, karena memang Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan berbagai kesenangan dunia itu indah di mata manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali-‘Imrân/3:14]

Dunia itu hijau dan manis, maka hendaklah manusia berhati-hati dengan dunia. Jangan sampai kesenangan dunia mnejerumuskan ke dalam kemaksiatan dan melalaikan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. [HR Muslim, no. 2742].

Maksud “dunia itu manis lagi hijau” adalah keindahan dan kenikmatan dunia itu seperti buah-buahan yang berwarna hijau dan manis, karena jiwa manusia berusaha untuk mendapatkannya. Atau maksudnya adalah dunia itu segera sirna, seperti sesuatu yang berwarna hijau dan manis juga akan segera rusak.

Maksud “sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini”, yaitu Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kamu sebagai pengganti generasi-generasi sebelum kamu, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan melihat apakah kamu melakukan ketaatan atau bermaksiat kepada-Nya dan mengikuti syahwat kamu.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita”, yaitu jangan sampai kamu terpedaya dengan dunia dan wanita. Kata wanita dalam hadits ini mencakup semua wanita, termasuk istri dan lainnya. Wanita yang paling banyak menyebabkan fitnah (keburukan) adalah istri, karena fitnahnya terus-menerus dan mayoritas manusia terpedaya dengan para istri.

Oleh karena itu jangan sampai kita terpedaya dengan dunia dan melupakan akhirat. Karena seandainya manusia hidup puluhan tahun di dunia ini, dengan berbagai kenikmatan yang dimiliki, sesungguhnya semua itu kecil dibandingkan kenikmatan akhirat.

Dunia Sangat Sedikit Dibandingkan Akhirat
Banyak orang terpedaya dengan keindahan dunia, sehingga melupakan amal untuk akhirat. Padahal sesungguhnya dunia itu sangat kecil dibandingkan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allâh” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [at-Taubah/9:38]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ 

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87:16-17].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat perbandingan antara dunia dan akhirat. Perbandingan antara keduanya bagaikan seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka dunia bagaikan setetes air yang melekat pada jari-jarinya itu. Al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858]

Dunia Sangat Remeh Di Sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Demikian juga dunia ini sangat remeh di sisi Allâh Azza wa Jalla , maka jangan sampai orang Mukmin memandang besar dan agung terhadap dunia yang remeh dan hina di sisi Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memberikan gambaran tentang remehnya dunia di sisi Allâh Azza wa Jalla , antara lain di dalam hadits berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ».

Dari Jabir bin Abdillâh, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebuah pasar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dari ‘Aliyah (nama tempat, Pen.) dan para sahabat berada di sekelilingnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bangkai seekor kambing yang kecil telinganya, lantas beliau angkat batang telinga bangkai kambing tersebut seraya berkata: “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?” Para sahabat menjawab: “Kami tidak suka sama sekali, apa yang bisa kami perbuat dari seekor bangkai kambing?” Rasûlullâh n bersabda lagi: “Bagaimana jika kambing itu untuk kalian?” Para sahabat menjawab: “Demi Allâh, apabila kambing itu masih hidup kami tetap tidak mau karena dia telah cacat, yaitu telinganya kecil, bagaimana lagi jika sudah menjadi bangkai!” Rasûlullâh akhirnya bersabda: “Demi Allâh, dunia itu lebih hina di sisi Allâh daripada seekor bangkai kambing ini bagi kalian”. [HR Muslim, no. 2957]

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan satu sayap nyamuk, niscaya Allâh tidak akan memberikan minum seteguk air kepada orang kafir”. [HR  Tirmidzi, no. 2320 dan ini lafazhnya; juga Ibnu Majah, no. 4110; Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib watTarghib, no. 3240].

Akhir Perjalanan Dunia
Dunia yang begitu rendah di sisi Allâh Azza wa Jalla juga segera sirna. Dan yang ada setelahnya adalah akhirat. Di akhirat ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga: siksaan yang pedih atau ampunan dan ridha Allâh. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hakikat ini :

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.  [al-Hadîd/57:20].

Jadikan Akhirat Sebagai Pusat Perhatian
Kalau kita sudah mengetahui hakikat perbandingan dunia dengan akhirat, maka seharusnya kita lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Jangan sampai hanya mengejar kesenangan dunia sehingga mengabaikan bekal untuk akhirat. Jangan sampai dengan alasan sibuk kerja, sibuk urusan keluarga dan anak-anak, kemudian melalaikan shalat berjamaah di masjid, membaca al-Qur`ân, mempelajari ilmu agama, dan ibadah lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan adalah cara yang terbaik dalam meniti jalan hidup ini. Karena Allâh Azza wa Jalla akan memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang berbuat demikian, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini :

عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan baginya”. [HR Tirmidzi, no. 2465. Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib watTarghib, no. 3169]

Semoga Allâh selalu memberikan taufiq kepada kita di dalam kebenaran. Al-hamdulillâhi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Muhasabah dan Muroqobah Jalan Menuju Takwa

MUHASABAH DAN MUROQOBAH, JALAN MENUJU TAKWA

Oleh
Syaikh Dr. Muhammad Bakhit al-Ujairi

Kami wasiatkan kepada diri kami sendiri dan jamaah sekalian, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Barang siapa bertakwa kepada Allah Ta’ala, ia akan terjaga dari siksa dan murka-Nya.

Allah memerintahkan manusia seluruhnya untuk bertakwa dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [an-Nisâ`/4:1].

Allah memerintahkan kaum mukminin untuk bertakwa dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [‘Ali Imran/3:102].

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bertakwa dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [al-Ahzab/33:1].

Takwa merupakan wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang pertama hingga yang terakhir. Takwa merupakan faktor yang menjadikan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan menjadikan bagi orang tersebut furqân. Sehingga ia akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Barang siapa yang bertakwa, Allah akan memberikan baginya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Orang yang bertakwa akan mendapatkan tempat yang aman di akhirat. Sungguh ia berada di tempat yang mulia di sisi Allah Ta’ala.

Hakikat takwa, ialah kita mencari perisai yang bisa melindungi diri dari adzab Allah. Yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram.

‘Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab: ”Wahai Amirul-Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat yang penuh duri?

Maka ‘Umar menjawab: ”Aku akan melihat kepada kakiku. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman”.

Inilah hakikat takwa, dengan selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, ataukah sebaliknya? Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha agar berada dalam keadaan yang diridhai-Nya. Allah senang apabila kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, taat kepada aturan-Nya, berbakti kepada kedua orang tua, dan tekun menuntut ilmu. Marilah kita berusaha untuk melakukannya. Sekali-kali, janganlah kita meninggalkan kebaikan ini. Karena dengan inilah Allah ridha kepada kita.

Marilah kita selalu berusaha untuk meniggalkan perbuatan yang dibenci Allah Ta’ala. Jangan mendatangi kemaksiatan, tinggalkan perbuatan zina, mencuri, dusta, ghibah dan namimah. Dan yang paling besar dari itu semua, yaitu meninggalkan perbuatan syirik ; suatu perbuatan dan pelaku kemaksiatan yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala. Karena Allah tidak ridha disekutukan. Allah hanya ridha, apabila hamba-Nya beriman dan bertauhid kepada-Nya. Maka, marilah kita menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertauhid kepada-Nya.

Allah sangat senang apabila kita menjadi orang-orang yang melaksanakan sunnah-sunnah Nabi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita jauhkan diri dari perbuatan bid’ah, tinggalkan setiap larangan Allah. Adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ﴿١٣﴾وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [al-Infithâr/82:13-14].

Al-abrâr (orang yang suka berbuat kebaikan), ia akan selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum fajir (orang yang suka berbuat kejahatan), maka mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Ibnul-Qayyim berkata,”Barang siapa yang menyangka bahwa Allah akan menyamakan antara orang-orang yang berbuat taat dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat, maka sesungguhnya ia telah berprasangka buruk terhadap Allah Ta’ala.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shâlih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Shâd/38:28].

Apakah Allah akan menyamakan kedudukan orang yang taat dengan ahlul maksiat? Tentu tidak! Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Adapun orang-orang yang suka bermaksiat, maka ia akan mendapatkan kesusahan dan kesempitan. Allah berfirman.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴿١٢٤﴾قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا﴿١٢٥﴾قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” [Thâhâ/20:124-126].

Barang siapa yang berpaling dari dzikir dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, berpaling dari ilmu yang bermanfaat, maka ia seperti orang yang buta. Dan ia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Waiyyadzu billah.

Adapun orang yang beriman kepada Allah, maka keadaannya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an-Nahl/16:97].

Orang-orang yang taat akan dekat dengan Allah Ta’ala. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagian salaf berkata: “Sesungguhnya ada taman penuh kebahagiaan di dunia ini. Barang siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan dapat memasuki surga yang ada di akhirat”. Taman dimaksud, ialah kebahagiaan yang diperoleh dengan ketaatan dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإيمانِ : أنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأنْ يُحِبّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ للهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ الله مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ

Ada tiga keadaan; barang siapa memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) apabila ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada siapapun selain keduanya, apabila ia mencintai manusia tidak lain hanya karena Allah, apabila ia merasa benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam api.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Demikianlah wasiat yang dapat kami sampaikan untuk diri kami pribadi dan untuk saudara-saudara sekalian; takwa kepada Allah dan beramal shâlih. Dengan keduanya, kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa, dan menutup akhir hayat kita dengan khusnul-khatimah.

Allah Ta’ala telah menyeru kita semua dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [al-Hasyr/59:18].

Allah menunjukkan kepada kita dua perkara agung. Barang siapa melaksanakan dua perkara ini, maka maka ia termasuk orang yang bertakwa.

Pertama, yaitu muhasabah. Yakni, hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Muhasabah sangat membantu seseorang untuk bertakwa kepada Allah. Barang siapa melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.

Muhasabah juga sangat membantu seseorang untuk istiqamah di jalan Allah Ta’ala. Sehingga para salaf berkata: ”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Taala”. Barang siapa yang dihisab oleh Allah Taala, sungguh ia akan mendapatkan siksa. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma : ”Barang siapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.

Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengoreksi diri. Apabila kita terjerumus ke dalam kesalahan, segeralah bertaubat kepada-Nya. Allah sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat manusia yang telah berbuat kesalahan di waktu siang. Begitu pula Allah selalu membuka tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat seseorang yang telah berbuat kesalahan di waktu malam.

Demikianlah, muhasabah merupakan perkara sangat penting. Oleh kerena itu, para salaf selalu bermuhasabah terhadap diri mereka sebagaimana orang yang terjun dalam perdagangan. Apakah ia mendapatkan keuntungan, atau justru mengalami kerugian. Begitu pula kita, wahai hamba-hamba Allah. Marilah koreksi diri masing-masing, bekal apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah Ta’ala?

Suatu ketika, Sulaiman ibnu ‘Abdil-Mâlik pernah bertanya kepada Abu Hasyim: ”Mengapa kita merasa benci terhadap kematian dan cinta terhadap dunia?

Maka pertanyaan ini dijawab: ”Wahai Amirul-Mukminîn, hal ini karena kita telah merusak akhirat kita dan memperbagus dunia kita. Tentulah seseorang tidak akan senang untuk pindah dari rumah yang bagus ke rumah yang telah rusak”.

Sungguh benar! Banyak di kalangan kita yang sibuk dengan dunia dan lalai berbuat taat kepada Allah. Sehingga ia pun mengetahui, tidak ada bagian sedikit pun untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, ia benci dan takut terhadap kematian yang pasti akan mengantarkannya ke akhirat.

Adapun orang-orang yang cinta, taat dan selalu mengerjakan perintah-perintah Allah, maka dia tidak takut terhadap kematian. Sehingga tidak mengherankan, tatkala diseru untuk berperang, para salaf yang mengatakan: ”Esok hari akan datang kematian yang kita cintai…,” hal ini karena mereka selalu beramal shalih. Dengan amal shalih itu, mereka tidak takut akan kematian dan hisab. Maka, jelaslah bagi kita, muhasabah merupakan perkara penting yang sangat membantu seseorang untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Perkara penting kedua, yang Allah tunjukkan kepada kita, yaitu muroqobah. Yakni, sifat seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah di akhir ayat …. إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Tatkala seseorang merasa enggan berbuat taat, maka iapun sadar bahwa Allah melihatnya. Sehingga, ia pun akan kembali untuk segera berbuat taat kepada Allah. Tatkala seseorang berhasrat melakukan kemaksiatan, maka ia sadar bahwa Allah melihatnya. Sehingga ia pun akan berhenti dari keinginannya itu dan segera kembali kepada jalan-Nya.

Demikianlah, muroqobah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabbal dengan sabdanya: ”Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada …”.

Marilah kita bertakwa kepada Allah setiap waktu dan di setiap tempat. Ketahuilah, bahwasanya Allah selalu mengawasi setiap gerakan kita. Barang siapa telah memiliki sifat ini, sungguh sangat membantu dirinya dalam bertakwa kepada Allah Ta’ala. Kita memohon kepada Allah Ta’ala, supaya menjadikan kita orang-orang yang bertakwa kepada-Nya saat di keramaian maupun tatkala sendiri. Allahu a’lam.[1]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diringkas oleh Ustadz Abu Maryam, dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Muhammad Bakhit al-Ujairi di Masjid Ma’had Imam Bukhâri, Solo, Jum’at, 8 Februari 2008

Bahaya Sombong, Iri, Emosi dan Syahwat

BAHAYA SOMBONG, IRI, EMOSI DAN NAFSU SYAHWAT[1]

Sendi-sendi kekufuran itu ada empat : al-kibr (kesombongan), al-hasad (rasa iri), al-ghadab (marah atau emosi) dan asy-syahwat (nafsu syahwat)

Kesombongan akan menghalangi seseorang dari berbuat taat. Rasa iri menghalangi seseorang dari menerima atau memberikan nasehat. Marah menghalangi seseorang dari berbuat adil. Nafsu menghalangi seseorang dari memfokuskan diri pada ibadah. Artinya, jika sendi kesombongan itu sirna, maka seseorang akan dengan mudah melakukan ketaatan. Jika tidak ada rasa iri dengki, maka seseorang akan mudah menerima atau memberikan nasehat. Jika tidak emosi, maka seseorang bisa berlaku adil dan tawaddhu’ (merendahkan diri) dengan mudah. Jika syahwat tidak ada, maka dengan mudah seseorang bisa bersabar, menahan diri dan memfokuskan diri untuk beribadah.

Keempat sifat tercela ini tidak bisa hilang begitu saja. Gunung yang kokoh lebih mudah sirna dibandingkan empat sifat ini. Terutama jika sifat-sifat ini sudah menjadi perangai yang melekat, maka tidak ada satu amalan pun yang bisa dilakukan dengan konsisten serta jiwa pelakunya tidak bisa bersih selama sifat-sifat buruk ini masih melekat meskipun dia melakukan amal shalih. Tiap kali berusaha melakukan amal shalih, empat sifat ini datang merusaknya. Dan semua bencana yang menimpa seseorang bermula dari empat sifat ini. Jika sifat-sifat sudah bertengger di hati, dia akan mengubah pandangan hati, yang bathil terlihat haq dan yang haq terlihat bathil, yang ma’rûf terlihat mungkar dan begitu sebaliknya. Sifat-sifat ini akan mendekatkan pelakunya kepada dunia dan menjauhkannya dari akhirat.

Jika kita merenungi kekufuran berbagai umat, kita akan dapati bahwa kekufuran mereka itu berawal dari sifat-sifat tercela ini. Sifat-sifat inilah yang menyebabkan adzab. Berat atau ringannya adzab tergantung pada berat atau ringannya sifat-sifat buruk ini pada seseorang. Barangsiapa memberi kesempatan kepada sifat-sifat ini untuk bertengger dihatinya, berarti dia telah membuka seluruh pintu keburukan bagi dirinya, di dunia dan akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang menutup celah bagi sifat-sifat ini, berarti dia telah menutup semua jalan keburukan. Sifat-sifat buruk ini menghalangi seseorang dari ketaatan, ikhlas, taubat, menerima kebenaran, menerima nasehat serta menghalangi dari tawaddhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan sesama makhluk.

Sifat-sifat buruk ini bisa muncul disebabkan oleh ketidak-tahuan seorang hamba terhadap Rabb-nya dan ketidak-tahuannya terhadap dirinya. Orang yang mengenal Rabb-nya dengan berbagai sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, juga mengenal dirinya sendiri dengan berbagai aib dan kekurangannya, maka dia tidak akan sombong, tidak akan emosi dan tidak akan merasa iri dengan nikmat yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada orang lain. Memendam rasa iri sebenarnya termasuk pembangkangan terhadap Allah Azza wa Jalla . Karena dia membenci anugerah Allah Azza wa Jalla yang ada pada seorang hamba, padahal Allah Azza wa Jalla menyukai pemberian ini. Si pendengki ini menginginkan anugerah Allah Azza wa Jalla itu lenyap dari si hamba, padahal Allah Azza wa Jalla sebaliknya. Dengan demikian, berarti si pendengki menentang Allah Azza wa Jalla dalam qadha’, mahabbah dan kemurahan-Nya. Dengan sebab sifat sombong dan iri dengki inilah, setan menjadi musuh hakiki bagi Allah Azza wa Jalla .

Kedua sifat tercela ini bisa ditakhlukkan dengan mengenal Allah Azza wa Jalla , mentauhidkan-Nya, merasa ridha dengan Allah Azza wa Jalla serta bertaubat kepada-Nya.

Sifat murka atau emosi bisa ditundukkan dengan mengenal diri sendiri dan menyadari bahwa dia tidak pantas untuk murka demi membela hawa nafsu. Jika dia marah demi membela hawa nafsu, berarti dia lebih memilih menyenangkan hawa nafsunya dan murka terhadap Allah Azza wa Jalla . Padahal, seorang Mukmin tidak boleh seperti itu. Cara paling jitu untuk menghilangkan sifat marah yaitu membiasakan diri untuk merasa marah hanya karena Allah Azza wa Jalla atau ridha hanya karena Allah Azza wa Jalla . Karena setiap kali marah dan ridha seperti ini datang, maka lawannya akan menghilang, begitu pula sebaliknya.

Sedangkan obat hawa nafsu yaitu dengan meyakini bahwa mengikuti semua keinginan nafsu sebenarnya menjadi penyebab utama terhalangnya nafsu kepada kenikmatan hakiki; dan memelihara nafsu itu menjadi penyebab utama bagi terhalangnya nafsu untuk mendapatkan kenikmatan. Setiap kali engkau membuka pintu syahwat berarti sama saja engkau berusaha menghalanginya dari kenikmatan yang hakiki, dan setiap kali engkau menghalanginya nafsu syahwat berarti engkau berusaha untuk menghantarkan nafsu agar bisa mencapai kenikmatan yang hakiki.

Rasa marah terhadap takdir itu sama seperti binatang buas. Jika dilepas, dia akan mulai menerkam pemiliknya.

Syahwat itu ibarat api. Ketika dinyalakan, dia siap membakar orang yang menyalakannya. Rasa sombong itu seperti kaum pemberontak, jika dia tidak berhasil membunuhmu, maka dia akan mengusirmu dari wilayah kekuasaanmu, dan rasa iri itu sama seperti pembangkang terhadap Dzat yang lebih berkuasa darimu (yaitu Allah Azza wa Jalla)

Jika orang yang berhasil menaklukkan syahwat dan emosinya, maka setan akan menjauhinya; sedangkan orang yang bertekuk lutut terhadap nafsu syahwat dan emosinya, maka dia takut terhadap bayang-bayangnya sendiri.

Ya Allah, jadikanlah jiwa-jiwa kami jiwa yang bertakwa, bersihkanlah ia. Engkaulah Dzat terbaik yang bisa membersihkan jiwa-jiwa kami

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Diangkat dari Fawâidul Fawâid, karya Ibnul Qayyim rahimahullah, tahqîq Syaikh Ali Hasan bin `Ali bin `Abdul Hamîd al-halaby al-atsary, hlm. 288-290

Kebahagiaan Mana yang Ingin Anda Raih?

KEBAHAGIAAN MANA YANG INGIN ANDA RAIH?

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sebagian orang berkata, ‘Hidup itu yang penting happy’. Dari situ kemudian mereka berbuat semaunya. Mereka tidak peduli dengan segala macam aturan. Mereka ingin hidup bahagia, tapi melakukan perbuatan maksiat yang membahayakan dirinya di akherat. Mereka tertipu dengan kebahagiaan sesaat yang mereka rasakan di dunia ini, sehingga mereka tetap berani dan tetap nekad melakukan perbuatan yang dilarang agama. Memang, hidup bahagia merupakan dambaan setiap makhluk. Namun banyak orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akherat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [al-‘Ankabût/29: 64]

Ketika menjelaskan maksud ayat ini, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (dalam rangka) memberitakan betapa dunia itu hina, akan hancur dan akan sirna (pada saat yang telah ditentukan). Dan dunia ini tidak kekal, dan sekedar mendatangkan kelalaian dan bersifat permainan. Dia berfirman, “dan sesungguhnya akherat itulah yang sebenarnya kehidupan”, maksudnya (akherat itu) adalah kehidupan yang kekal, yang haq, yang tidak akan binasa dan tidak sirna. Kehidupan  akherat berlangsung terus-menerus selama-lamanya. Firman-Nya (yang artinya,) “kalau mereka mengetahui”, maksudnya, jika manusia tahu, maka sungguh mereka akan lebih mengutamakan sesuatu yang bersifat baqa’ (kekal) daripada yang fana (akan binasa).”[1]

Oleh karena itu, agar tidak salah langkah, tujuan dan prioritas dalam mengejar kebahagiaan yang kita inginkan, di sini akan kami sampaikan beberapa hal terkait kebahagiaan di dunia dan akherat.

1. Bahagia di Dunia, Bahagia di Akhirat
Inilah puncak kebahagiaan. Inilah yang selalu dimohon oleh hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla yang shalih, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ  ٢٠١ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb  kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya. [al-Baqarah/2: 201-202]

Ini juga merupakan do’a dan permohonan Nabi Musa Alaihissallam dan kaumnya yang shalih, sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla beritakan dalam kitab-Nya :

وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ

(Mereka juga berdo’a), “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada-Mu [al-A’râf/7: 156]

Derajat tertinggi ini akan diraih oleh orang-orang yang bertaqwa dan berbuat ihsan, sebagaimana kita ketahui bahwa ihsân adalah derajat agama yang tertinggi, berdasarkan kandungan hadits Jibrîl Alaihissallam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَآ اَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۗقَالُوْا خَيْرًا ۚلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ ۗوَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِيْنَۙ  

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?” Mereka menjawab: “(Allâh telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat ihsân (sebaik-baiknya) di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akherat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa [an-Nahl/16: 30]

2. Sengsara di Dunia, Bahagia di Akherat
Ada lagi orang yang meraih kebahagiaan di akherat, walaupun di dunia mendapatkan berbagai macam musibah dan ujian, bahkan kesusahan dan kecelakaan. Jenis manusia ini diberitakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh  :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan ? Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh, wahai Rabbku”. Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. [HR. Muslim,no. 2807 dan lainnya]

3. Bahagia di Dunia, Celaka di Akherat
Hadits shahîh dari Sahabat Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu di atas juga menjelaskan adanya jenis manusia yang berbahagia –secara lahiriyah- di dunia, namun di akherat akan mengalami kesengsaraan yang sangat berat. Kita lihat bahwa kebanyakan tokoh masyarakat yang berharta dan berpangkat adalah penentang dakwah para rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ ٣٤  وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ ٣٥ قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”  [Saba’/34: 34-36]

Cobalah perhatikan, orang kafir di bawah ini, bagaimana dia bergembira dan berbahagia di dunia, namun di akherat dia mendapatkan penderitaan yang tidak akan tertahan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ ١٠ فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًاۙ ١١ وَّيَصْلٰى سَعِيْرًاۗ ١٢اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ ١٣اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ ١٤بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ    

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).  Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya.  [al-Insyiqâq/84:10-15]

Lihatlah tokoh-tokoh kafir zaman dahulu dan sekarang. Lihatlah Fir’aun, Hâmân, Qorun, dan lainnya. Janganlah kita tidak silau dengan kebahagiaan mereka yang bersifat sementara, tidak terperangah dengan limpahan harta yang mereka miliki, karena tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka.

Oleh karena itu, jangan sampai seseorang bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia saja. Karena dunia itu bersifat sementara, akan hancur dan sangat hina di sisi Allâh Azza wa Jalla . Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla mencela orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada-Nya hanya untuk mendapatkan kebaikan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akherat. [al-Baqarah/2:200]

4. Celaka di Dunia, Celaka di Akherat
Jenis manusia terakhir, adalah orang yang celaka di dunia dan akherat. Nas`alullâh as-salâmah wal ‘âfiyah. Orang yang tidak memahami dan jauh dari ajaran Islam yang benar dan jauh dari kemudahan rezeki di dunia, hidup sengsara, namun anehnya ia memiliki cita-cita dan keinginan yang sangat buruk (seperti berbuat maksiat atau merusak bila memiliki kekayaan).

Sesungguhnya keempat jenis manusia ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau sebagai berikut:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:
عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ
وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ
وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:

  1. Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh).
  2. Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama.
  3. Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada  kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Jadilah hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh).
  4. Hamba yang Allâh tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.[2]

Inilah berbagai jenis kebahagiaan yang ada, jangan sampai kita salah langkah dalam memilih dan menggapai hakekat kebahagiaan. Karena sesungguhnya orang yang berakal akan lebih mengutamakan akherat yang kekal abadi ketimbang kenikmatan duniawi yang fana. Hanya Allâh yang memberikan taufik. Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1430H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir, surat al-‘Ankabût/29:64
[2] HR. At-Tirmidzi, no. 2325, Ahmad 4/230-231, no. 17570; Ibnu Mâjah no. 4228, dan lainnya, dari Dahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu anhu. Di shahîhkan Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah  no. 3406

Resiko Murtad

RESIKO MURTAD

Oleh
Ustadz Imam Wahyudi Lc

Islam adalah anugerah yang tiada tara. Satu-satunya agama yang diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla di dunia dan akherat . Perbuatan seseorang akan diakui bila ia telah memeluk Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi  [Ali-‘Imrân/3: 85]

Dan sebaliknya, agama selain Islam merupakan penghalang diterimanya perbuatan baik seseorang, bahkan perbuatan baik tersebut akan sia-sia dan sirna di sisi Allâh Azza wa Jalla kelak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا

Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu pun [an-Nûr/24:39]

Juga firman-Nya:

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا 

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan [al-Furqân/25:23]

Suatu ketika ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullâh tentang seorang dermawan yang hidup di zaman Jahiliyyah yang bernama Ibnu Jud’ân. Dia sangat gemar menyambung tali silaturahmi dan memberi makan kaum miskin, apakah kebaikan tersebut akan bermanfaat baginya? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:

لاَ يَا عَائِشَةُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا : رَبِّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّينِ

Tidak wahai ‘Aisyah, karena dia tidak pernah sekalipun mengatakan: Rabb-ku ampunilah kesalahan-kesalahanku di hari kiamat kelak  [HR. Muslim]

Nikmat ini harus selalu senantiasa disyukuri, dengan senantiasa menjaganya agar tetap menetap kuat dalam jiwa dan dan mengisi hidup dengan beramal saleh sebanyak mungkin, agar semakin bertambah dan kokoh, serta jangan sampai berkurang apalagi sirna dari diri kita, alias murtad. Na’ûdzubillah min dzâlik.

Semangat ini hendaknya terus kita pupuk, diantaranya dengan memahami resiko yang bakal ditanggung oleh seorang murtad, keluar dari Islam. Untuk itu, marilah kita simak uraian berikut ini. Semoga bermanfaat.

Definisi Murtad
Istilah murtad dalam bahasa Arab diambil dari kata  ( ارْتَدَّ) yang bermakna kembali  berbalik ke belakang. Sedangkan menurut syariat, orang murtad adalah seorang Muslim yang menjadi kafir setelah keislamannya, tanpa ada paksaan, dalam usia tamyiiz (sudah mampu memilah dan memilih perkara, antara yang baik dari yang buruk-pen.) serta berakal sehat.

Seorang yang menyatakan kekufuran karena terpaksa,  tidak dikategorikan sebagai orang murtad, sebagaimana yang terjadi pada diri Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu anhu yang dipaksa dan disiksa agar mau mengingkari kenabian Rasûlullâh dan mencela Islam. Akhirnya terpaksa menuruti mereka, padahal hatinya tetap yakin akan kebenaran ajaran Rasûlullâh. Setelah dibebaskan, dengan menangis dia mendatangi Rasulullah seraya menceritakan peristiwa tersebut, dan ternyata Rasûlullâh memaafkannya. Kemudian turunlah firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Barang siapa yang kafir kepada Allâh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allâh), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allâh menimpanya dan baginya adzab yang besar  [an-Nahl/16:106]

Sanksi-sanksi moral bagi orang murtad
Pada kesempatan kali ini, paparan bahasan ini terfokuskan pada dampak-dampak buruk orang yang murtad di dunia dan akherat, sebuah fenomena yang cukup banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Sebagian orang begitu mudah mengganti akidah Islamnya, entah karena kesulitan ekonomi, anggapan semua agama itu sama dan mengajak kepada kebaikan, ataupun kepentingan-kepentingan duniawi lainnya. Jika menyadari betapa bahaya besar akan menimpa mereka usai menanggalkan baju Islamnya, mungkin mereka tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh tersebut.

Para Ulama Islam (kalangan Fuqaha) telah membahas konsekuensi hukum yang berlaku pada orang Islam yang pindah agama dalam buku-hukum fiqih mereka dalam pasal ar-riddah. Berikut ini konsekuensi buruk dari perbuatan mencampakkan Islam – satu-satunya agama yang diridhai Allâh Azza wa Jalla – dengan memeluk agama lainnya, menjadi seorang nasrani atau pemeluk agama lainnya.

1. Amal ibadahnya terhapus
Banyaknya ibadah yang telah dilakukan, tidak akan pernah bermanfaat bagi pelakunya, bahkan berguguran tanpa ada hasil yang bisa dipetik, apabila di kemudian hari dia kufur kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan tempat kembalinya adalah neraka kekal abadi di dalamnya, jika mati dalam kekufuran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya  [al-Baqarah/2:217]

2. Haknya sebagai seorang Muslim sirna
Seorang Muslim wajib menunaikan orang Muslim lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلاَمِ ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَاِئزِ ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ ،وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

Hak seorang Muslim yang wajib ditunaikan oleh orang Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, mengunjungi yang sedang sakit, mengiringi jenazahnya, memenuhi undangannya, mendoakan yang bersin [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Berdasarkan hadits tersebut, maka seorang Muslim tidak wajib menjawab lontaran salam dari orang yang murtad dari Islam, tidak perlu menengoknya tatkala sakit, tidak perlu menghormati dan mengiringi jenazahnya bila mati, tidak boleh mendatangi undangannya, dan tidak boleh mendoakannnya ketika si murtad bersin.

3. Haram menikahi seorang Muslimah. Apabila telah menikah, maka otomatis pernikahannya batal demi hukum
Islam melarang umatnya menikah dengan non-muslim secara umum, serta merupakan syarat sah suatu pernikahan Islami adalah kedua mempelai beragama Islam – kecuali dengan wanita Ahli Kitab dengan persyaratan yang ketat – . Adapun pernikahan seorang Muslim dengan seorang wanita musyrik selain Ahli Kitab, pernikahan itu tidak sah. Wanita Muslimah pun tidak boleh menikah dengan lelaki kafir, termasuk lelaki yang berstatus murtad. Sebab pernikahan seorang Muslimah (atau lelaki Muslim) dengan orang yang murtad pernikahan yang telah terjalin menjadi putus dan batal secara otomatis. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran  [al-Baqarah/2:221

Demikian juga Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ

Maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka [al-Mumtahanah/60:10]

Dengan demikian, dalam Islam tidak halal lagi bagi pasangan yang salah satunya telah murtad untuk melakukan hubungan layaknya suami isteri.

4.Tidak boleh menjadi wali dalam pernikahan
Seorang wanita muslimah apabila hendak menikah, maka memerlukan seorang wali untuk menikahkannya, baik bapaknya, pamannya dan seterusnya. Akan tetapi, misalnya bapak atau walinya murtad, maka tidak berhak menikahkan anak atau kemenakannya yang Muslimah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain [at-Taubah/9:71]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin. Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim [al-Mâ’idah/5:51]

Hal ini dipertegas oleh sabda yang menyatakan bahwa, tidak ada pernikahan yang sah kecuali atas izin seorang wali dan disaksikan oleh dua orang lelaki yang adil sebagai saksi pernikahan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا نِكاَحَ  إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

Tidaklah suatu pernikahan itu (sah) kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi yang adil [HR. al-Baihaqi dan Ibnu Hibbân dengan sanad yang shahih]

Pengertian orang adil di sini ialah orang yang jauh dari dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa kecil. Atas dasar itu, seorang yang telah murtad dari Islam lebih tidak berhak lagi untuk menjadi wali dan saksi dalam pernikahan.

5. Tidak mewarisi dan tidak diwarisi hartanya
Apabila seorang bapak meninggal dunia dalam keadaan kafir (termasuk orang yang mati dalam keadaan murtad), maka anak dan ahli warisnnya yang beragama Islam tidak boleh mewarisi harta peninggalan bapaknya tersebut. Sebagian ulama menyatakan bahwa harta orang seperti ini menjadi fai’ dan masuk ke Baitul Mal kaum Muslimin dan digunakan untuk kemaslahatan kaum Muslimin. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

Tidaklah seorang Muslim boleh mewarisi (harta) orang kafir, demikian juga orang kafir tidak mewarisi (harta) seorang Muslim [Muttafaqun’alaih]

Pada kasus yang lain, apabila seorang bapak yang beragama Islam meninggal dunia, kemudian di antara anaknya atau ahli warisnya ada yang non-Muslim (termasuk murtad) maka dia tidak berhak mendapatkan bagian dari harta ayahnya.

6. Jika mati, tidak dishalati, tidak dikafani serta tidak boleh didoakan
Apabila seseorang mati dalam keadaan murtad dari Islam, maka dia tidak boleh dishalati, dikafani maupun didoakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ 

Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allâh dan Rasûl-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik [al-Taubah/9:84]

7. Jika mati, tidak boleh dimakamkan di pemakaman Muslimin
Sejak zaman Nabi, kaum Muslimin berinteraksi dan hidup berdampingan dengan orang-orang non-Muslim. Namun dalam masalah pemakaman, beliau memisahkan lokasi pemakaman kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana dalam sebuah riwayat sahabat Ibnul Khashâshiyah menceritakan: Suatu ketika Rasûlullâh mendatangi pemakaman kaum Muslimin seraya mengatakan, “Mereka telah memperoleh kebaikan yang banyak”. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau mendatangi pemakaman kaum musyrikin seraya mengatakan, “Mereka telah melewatkan kebaikan yang banyak”. Beliau mengatakannya tiga kali. [HR. Abu Dâwud, an-Nasâ’i dan  Ibnu Mâjah dengan sanad yang shahih. Dishahihkan al-Albâni dalam Ahkâmul al-Janâ’iz]

8. Jika mati dalam keadaan murtad, tidak boleh dimintakan ampunan baginya
Betapapun cinta kita terhadap orang lain, tapi apabila dia meninggal dalam keadaan tidak memeluk Islam, maka kita tidak diperkenankan memintakan ampunan atas dosa-dosanya, sebagaimana teguran Allâh kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allâh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam [at-Taubah/9:113]

9. Kaum Muslimin memberikan berita buruk ketika melewati kuburnya
Islam mengajarkan kepada untuk tidak memberi salam dan tidak mendoakan kebaikan ketika melewati makam orang kafir. Bahkan kita diperintahkan untuk mengabarkan kepadanya tentang neraka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ

Dimanapun anda melewati makam orang kafir, maka beritakanlah kepadanya tentang neraka. [HR. Ibnu Mâjah, at-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabiir]

10. Sembelihannya haram bagi kaum Muslimin
Islam melarang segala sembelihan yang tidak disebutkan nama Allâh Azza wa Jalla  di dalamnya, termasuk sembelihan kaum musyrikin maupun seorang ateis, terkecuali Ahli Kitab. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ

Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka [al-Mâ’idah/5:5]

11. Persaksiannya ditolak
Telah kita ketahui bahwa sifat adil yang dimaksud adalah jauhnya seseorang dari perbuatan dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil. Dari sini, orang yang murtad  lebih tidak berhak lagi orang murtad, sehingga dia tidak boleh menjadi saksi dalam peradilan Islam, dan juga dalam pernikahan seorang Muslim, sebagaimana perintah Allâh Azza wa Jalla :

وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ 

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian, dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir  [ath-Thalâq/65:2]

Maksudnya, dari kalangan kaum Muslimin, bukan yang lain.

12. Tidak boleh memasuki tanah suci (Tanah Haram)
Tanah suci atau tanah haram memiliki kehormatan yang tidak boleh direndahkan dan dilanggar, di antara tidak boleh seorang kafir pun memasukinya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ يَدْخُلُ مَكَّةَ مُشْرِكٌ بَعْدَ عَامِنَا هَذَا أَبَدًا

Tidak boleh seorang musyrik pun memasuki kota Mekah setelah tahun  ini selamanya [HR. al-Bukhâri]

Hukum Pidana Bagi Orang Murtad
Apabila seseorang murtad dengan berpindah ke agama lain atau memilih untuk menjadi seorang ateis, langkah yang ditempuh adalah mendakwahinya untuk kembali ke pangkuan Islam dalam tempo tiga hari. Jika tetap dalam kemurtadannya, maka ia dihukum bunuh. Hal ini berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

Siapa saja yang mengganti agamanya, maka hendaklah kalian bunuh dia [HR. al-Bukhâri]

Permasalahan jangka waktu penyadaran melalui dakwah agar ia bertaubat selama tiga hari, kami belum menemukan dalil yang kuat untuk dijadikan pijakan, kecuali dalil logika yang dikemukakan oleh sebagian ulama, bahwa kemurtadan mayoritasnya disebabkan kerancuan pikiran dan syubhat dalam diri orang tersebut, sehingga diharapkan dengan dakwah khusus secara personal kepadanya, kerancuan dan syubhat tersebut bisa dihilangkan dari pikirannya, sehingga mau dengan sukarela kembali ke pangkuan Islam. Wallâhu a’lam. .

Kesimpulan
Kemurtadan adalah bencana bagi pelaku baik di dunia terlebih di akhirat, sehingga  setiap Muslim harus ekstra hati-hati darinya, agar tidak terjerumus ke dalamnya. Melalui pembahasan ini pula seyogyanya seorang Muslim bersikap tegas (bersikap proporsional) terhadap orang-orang yang rela menanggalkan akidah Islamnya. Karena sebagian umat menyikapi keluarganya yang murtad dengan dingin-dingin saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Semoga kita dijauhkan dari bencana seperti ini dan diwafatkan dalam keadaan memegangi akidah Islamiyyah, sehingga kelak dikumpulkan dengan penduduk Jannah. Amin

Daftar Pustaka

  1. .’Uqûbâtuz Zâni wal Murtad wa Daf’isy Syubuhât fî Dhauil Kitâb was Sunnnah,  ‘Imâd al-Sayyid Muhammad Ismâ’il asy-Syarbini
  2. Kifâyatul Akhyâr, Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini ad-Dimasyqi
  3. Minhâjul Muslim, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri
  4. Al-Wajîz fîi Fiqhis Sunnah wal Kitâbil ‘Azîz, ‘Abdul ‘Azhîm al-Badawi
  5. Al-Tahqîiqâtul Mardhiyyah fii al-Mabâhits al-Fardhiyyah, Shaleh Fauzân al-Fauzân
  6. Ahkâmul Janâiz, Muhammad Nâshiruddin al-Albâni

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Banyak Gempa Bumi dan Ditenggelamkan Kedalam Bumi

BANYAK TERJADI GEMPA BUMI DAN BANYAKNYA ORANG-ORANG YANG DITENGGELAMKAN KEDALAM BUMI

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Diantara tanda-tanda kecil Kiamat yang diungkapkan oleh para ulama banyak sekali. Kami sebutkan di sini sebagian tanda tersebut yang telah tetap berdasarkan as-Sunnah bahwa ia termasuk tanda-tanda kecil Kiamat. Dan kami tinggalkan yang tidak shahih -sesuai dengan kemampuan ilmu kami yang sangat terbatas-. Hal itu dilakukan setelah meneliti hadits-hadits tersebut dan mengetahui pendapat para ulama terhadap hadits-hadits tersebut, berdasarkan keshahihan dan kelemahannya. Terkadang ada tanda-tanda Kiamat lain yang telah tetap keshahihannya hanya saja kami belum bisa meneliti keshahihan haditsnya. Diantara banyaknya tanda-tanda kecil kiamat itu, ialah:

Banyak Terjadi Gempa Bumi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ.

Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi.[1]

Diriwayatkan dari Salamah bin Nufail as-Sakuni Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (وَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَفِيْهِ) وَبَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مُوتَانٌ شَدِيدٌ وَبَعْدَهُ سَنَوَاتُ الزَّلاَزِلِ.

Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam… (lalu beliau menuturkan haditsnya) dan sebelum Kiamat ada dua kematian yang sangat dahsyat, dan setelahnya terjadi tahun-tahun yang dipenuhi dengan gempa bumi.[2]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Telah terjadi banyak gempa di negeri-negeri bagian utara, timur, dan barat. Namun yang jelas bahwa yang dimaksud dengan banyaknya gempa adalah cakupannya yang menyeluruh dan terjadi secara terus-menerus.”[3]

Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

وَضَعَ رَسُـوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْ عَلَى رَأْسِي -أَوْ عَلىَ هَامَتِي- فَقَالَ: يَا ابْـنَ حَوَالَةَ! إِذَا رَأَيْتَ الْخِلاَفَةَ قَدْ نَزَلَتِ الأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ، فَقَدْ دَنَتِ الزَّلاَزِلُ وَالْبَلاَيَـا وَاْلأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku, lalu beliau berkata, ‘Wahai Ibnu Hawalah! Jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di atas bumi-bumi yang disucikan, maka telah dekatlah gempa, bencana dan masalah-masalah besar, dan hari Kiamat saat itu lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya kedua tanganku ini dari kepalamu.[4]

Banyaknya Orang-orang yang Ditenggelamkan Kedalam Bumi, Dirubah Raut Wajahnya dan Dilempari Batu
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ: قُلْتُ، يَا رَسُولَ اللهِ! أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ.

Akan ada pada akhir umatku (orang-orang) yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah raut wajahnya dan dilempari (batu).” ‘Aisyah berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang shalih di tengah-tengah kami?’ Beliau menjawab, ‘Betul, ketika kemaksiatan telah merajalela.[5]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَسْخٌ وَخَسْفٌ وَقَذْفٌ.

Menjelang tibanya hari Kiamat akan ada (orang-orang) yang dirubah bentuknya, ditenggelamkan ke dalam bumi, dan dilempari batu.[6]

Dan telah datang sebuah berita bahwasanya orang-orang Zindiq dan Qadariyyah pernah dirubah bentuk mereka juga pernah dilempari batu.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ فِـي أُمَّتِي مَسْخٌ وَقَذْفٌ، وَهُوَ فِـي الزِّنْدِقِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ.

Sesungguhnya akan ada pada umatku (orang-orang) yang dirubah bentuknya dan dilempari batu, hal itu terjadi pada orang-orang zindiq dan Qadariyah.[7]

Sementara dalam riwayat at-Tirmidzi:

فِـي هَذِهِ اْلأمَّةِ -أَوْ فِـي أُمَّتِي- خَسْفٌ أَوْ مَسْخٌ أَوْ قَذْفٌ فِـي أَهْلِ الْقَدَرِ.

Akan ada pada umat ini -atau umatku- (orang-orang) yang ditenggelamkan, dirubah atau dilempari (batu), yaitu pada orang-orang yang mengingkari qadar.[8]

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Shuhar al-‘Abdi dari bapaknya, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى يُخْسَفَ بِقَبَائِلَ فَيُقَـالُ مَنْ بَقِيَ مِنْ بَنِـي فُلاَنٍ؟ قَالَ: فَعَرَفْتُ حِينَ قَالَ: قَبَائِلَ أَنَّهَا الْعَرَبُ، ِلأَنَّ الْعَجَمَ تُنْسَبُ إِلَى قُرَاهَا.

Tidak akan tiba hari Kiamat hingga kabilah-kabilah ditenggelamkan ke dalam bumi.’ Lalu dikatakan, ‘Siapakah yang tersisa dari Bani Fulan?’ Dia berkata, “Aku mengetahui ketika beliau mengatakan ‘Kabilah-kabilah’ bahwa mereka adalah orang Arab, karena orang ‘ajam (selain Arab) dinisbatkan kepada nama kampungnya.[9]

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, beliau berkata, Aku mendengar Buqairah, isteri al-Qa’qaa’ bin Abi Hadrad, berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِجَيْشٍ قَدْ خُسِفَ بِهِ قَرِيْبًا فَقَدْ أَظَلَّتِ السَّاعَةُ.

Jika kalian mendengar ada satu pasukan ditenggelamkan di tempat yang dekat, maka telah dekatlah hari Kiamat.[10]

Adanya orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi telah ditemukan di berbagai tempat di timur dan barat[11] sebelum masa kita sekarang ini. Demikian pula pada zaman kita sekarang ini telah banyak terjadi di berbagai belahan bumi, hal ini sebagai peringatan sebelum datangnya siksa yang sangat pedih, dan ancaman dari Allah kepada para hamba-Nya, juga sebagai siksa bagi orang-orang yang selalu melakukan bid’ah dan kemaksiatan, agar manusia mengambil pelajaran darinya, dan kembali kepada Rabb mereka, juga agar mereka tahu bahwasanya Kiamat sudah dekat. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dari siksa Allah kecuali dengan kembali kepada-Nya.

Telah ada ancaman bagi orang-orang yang selalu melakukan kemaksiatan, dari para pemusik, peminum khamr (minuman keras) dengan ditenggelamkan, dirubah bentuk mereka, dan dilempari batu.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَمَتَى ذَاكَ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ الْقَيَانِ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ.

Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya,” lalu seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin bertanya, “Kapankah hal itu terjadi.” Beliau menjawab, “Ketika para penyanyi dan alat-alat musik telah bermunculan dan telah diminum minuman-minuman keras.[12]

Dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’arه Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِـي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْـرِ اسْمِهَا، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ، يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ.

Sungguh sekelompok manusia dari umatku akan meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya, alat musik dimainkan di atas kepala-kepala mereka, Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi.[13]

Al-Maskh (perubahan bentuk) bisa terjadi secara hakiki atau secara maknawi.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ungkapan al-maskh di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina. [Al-Baqarah/2: 65]

Maknanya adalah al-maskh secara hakiki, bukan hanya secara maknawi. Inilah pendapat yang kuat, dipegang oleh Ibnu ‘Abbas juga yang lainnya dari kalangan imam ahli tafsir.

Sementara Mujahid, Abul ‘Aliyah, dan Qatadah berpendapat bahwa al-maskh di dalam ayat tersebut maknawi, artinya hati-hati mereka yang dirubah, tidak dijadikan kera secara hakiki.[14]

Ibnu Hajar menukil dua pendapat tersebut dari Ibnul ‘Arabi dan beliau berpendapat bahwa pendapat yang pertamalah yang lebih kuat.[15]

Adapun Rasyid Ridha dalam Tafsiirnya[16] memperkuat pendapat kedua, maknanya adalah perubahan bentuk di dalam akhlak mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menganggap mustahil pendapat yang diriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata, “Ini adalah pendapat yang aneh, bertentangan dengan zhahir dari redaksi dalam ayat ini juga yang lainnya.” [17]

Kemudian beliau berkata -setelah mengungkapkan pendapat sekelompok ulama-, “Maksud dari penuturan pendapat para ulama ini adalah penjelasan sesuatu yang bertentangan dengan pendapat Mujahid rahimahullah, yaitu bahwa al-maskhu adalah sesuatu yang maknawi bukan hakiki. Pendapat yang benar bahwa ia adalah sesuatu yang maknawi dan hakiki, wallaahu a’lam.” [18]

Seandainya kata al-maskh memiliki kemungkinan secara maknawi, maka kebanyakan orang yang menghalalkan kemaksiatan telah diubah hati-hati mereka. Sehingga, mereka tidak bisa membedakan antara yang halal dan yang haram, tidak juga antara yang ma’ruf dan yang munkar. Perumpamaan mereka dalam hal ini seperti kera dan babi, –hanya kepada Allah kita memohon keselamatan-. Akan terjadi apa-apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perubahan raut muka, baik yang maknawi maupun yang hakiki.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fat-h).
[2] Musnad Imam Ahmad (IV/104, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani, al-Bazzar dan Abu Ya’la, perawi-nya tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/306).
[3] Fat-hul Baari (XIII/ 87).
[4] Musnad Ahmad (V/255, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz), Sunan Abi Dawud, kitab al-Jihaad bab Fir Rajul Yaghzuu wa Yaltamisul Ajri wal Ghaniimah (VII/209-210, dengan ‘Aunul Ma’buud) dan Mustadrakul Hakim (XXXXV/ 425), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, akan tetapi mereka berdua tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/263, no. 7715).
[5] Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Fitan, bab Maa Jaa-a fil Khasaf (VI/418). Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/358, no. 8012.
[6] Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan, bab al-Khusuuf (II/1349). Hadits ini shahih. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/13, no. 2853).
[7] Musnad Ahmad (IX/73-74, no. 6208), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
[8] At-Tirmidzi, bab-bab al-Qadar (VI/367-368). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (IV/103, no. 4150).
[9] Musnad Ahmad (IV/483, Muntakhab Kanz). Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan pe-rawinya tsiqat.” (Majma’uz Zawaa-id, VIII/9).
[10] Musnad Ahmad (VI/378-379, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz). Sanad hadits ini hasan, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shagiir (I/228, no. 631), dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/340, no. 1355).
[11] Lihat at-Tadzkirah (hal. 654), Fat-hul Baari (XIII/84), al-Isyaa’ah (hal. 49-52), dan ‘Aunul Ma’buud (XI/429).
[12] Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab al-Fitan (VI/458, no. 458).Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (IV/103, no. 4119).
[13] Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan bab al-‘Uquubaat (II/1333, no. 4020). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (V/105, no. 5330).
[14] Lihat Tafsiir Ibni Katsir (I/150-153).
[15] Lihat Fat-hul Baari (X/56).
[16] Tafsiir al-Manaar (I/343-344).
[17] Tafsiir Ibni Katsir (I/151).
[18] Tafsiir Ibni Katsir (I/-153).