Author Archives: editor

Makna Kalimat Tauhid

MAKNA KALIMAT TAUHID

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu’alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Sesungguhnya yang dimaksud dengan kalimat ikhlas adalah kalimat: لا إله إلا الله sebab kalimat ini mengandung makna mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Ta’ala, mengesakan -Nya dalam beribadah dan arti kalimat ini adalah tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah subhanahu wata’ala. Kalimat ini sangat agung, dengan sebab kalimat inilah para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan dalam rangka menegakkan kalimat ini maka Allah subhanahu wata’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berjihad, pedang-pedang terhunus dan kuda-kuda dikendalikan.

قال الله تعالى:  وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“. [Al-Anbiya’/21: 25]

Dan setiap Rasul menyeru kaumnya untuk mewujudkan kalimat ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

قال تعالى:  فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, karena sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. [Al-Mu’minun/23: 23]

Dan orang-orang kafir yang didatangkan Rasul kepada mereka mengakui bahwa tiada tuhan yang menciptakan kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah?. [Al-Zukhruf/43: 87]

Hanya saja pengakuan ini tidak cukup dalam mewujudkan tauhid, sebab pengakuan ini harus dibarengi dengan pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam beribadah kepada -Nya semata, yang tiada sekutu bagi -Nya, dan inilah yang dikehendaki oleh Allah Azza Wa Jalla, dengan firman -Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Hak melainkan Allah. [Muhammad/47:19].

Di antara kaum muslimin ada yang mengucapkan kalimat ini, mendirikan shalat, berpuasa, berhaji dan bersedeqah namun bersamaan dengan hal tersebut mereka memalingkan sebagian dari ibadah kepada selain Allah Ta’ala, seperti istigotsah kepada sselain Allah kepada para wali dan orang-orang yang shaleh, bernazar untuk mereka atau berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan seperti ini sebenarnya belum mewujudkan makna لا إله إلا الله sebab kalimat tersebut menuntut mengesakan Allah dalam beribadah dan memalingkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan orang yang memalingkan bagian tertentu dari ibadah ini kepada selain Allah maka dia musyrik sekalipun dirinya mengucapkan لا إله إلا الله mendirikan shalat, berpuasa dan mengakui dirinya sebagai muslim. Sesungguhnya seorang hamba tidak dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya dan tidak akan selamat dari kekekalan di dalam api neraka Jahannam kecuali dengan iman yang bersih yang tidak bercampur kesyirikan dan tidak pula dihapuskan oleh kekafiran.

قال الله تعالى: الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’am/6:82].

Maka barangsiapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dibarengi dengan ibadah kepada selian Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ibadah tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

قال الله تعالى: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.[Al-Zumar/39:65]

Para ulama telah menyebutkan bahwa makna لا إله إلا الله ini mengandung beberapa syarat yang jika tidak terpenuhi maka dia tidak akan sempurna.

Dan syarat kalimat لا إله إلا الله adalah delapan, yaitu:
Pertama: Memahami maknanya, maksudnya dan apa-apa yang dilarangnya serta apa-apa yang menjadi tuntutannya

قال تعالى: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [Muhammad/47:19).

Pada riwayat Muslim di dalam kitab shahihnya.

عَنْ عُثْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Utsman radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebanarnya kecuali Allah maka dia pasti masuk surga.[1]

Dan banyak manusia yang mengucapkannya dengan lisannya semata namun dia tidak mengetaui apaun dari artinya, oleh karena itulah mereka terjebak di dalam kesyirikan.

Kedua: Keyakinan yang menghilangkan keraguan, yaitu orang yang mengucapkannya harus meyakini apa-apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini. Dan jika di dalam hatinya terdapat keraguan terhadap apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini maka ucapannya tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

قال تعالى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا  

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. [Al-Hujurat/49: 15].

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, maka tidaklah seorang hamba yang bertemu Allah dengan meyakini kalimat tersebut dan dirinya tidak ragu dengannya kecuali dia akan masuk surga”.[2]

Ketiga: Ikhlas yang menghapuskan kesyirikan. Seseorang tidak mengucpakannya karena riya’ atau sum’ah.

قال تعالى:  وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ  

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada -Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. [Al-An’am/6: 5].

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Orang yang paling bahagia dengan syaf’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dari dirinya”.[3]

Keempat: Kebenaran yang menghapuskan kebohongan. Dia mengucapkan kalimat لا إله إلا الله dengan benar bersumber dari hatinya.

قال تعالى: الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif laam miim (2) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. (3)Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta [Al-Ankabut/29: 1-3].

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan ucapan yang benar-benar dari hatinya kecuali Allah mengharamkan dirinya dari api neraka”.[4]

Di dalam hadits ini disyaratkan pengucapan kalimat ini dengan sebenar-benarnya.

Kelima: Cinta yang menghapuskan kebencian. Dia mencintai kalimat ini dan apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini serta orang-orang yang berbuat dengan tuntutan kalimat ini.

قال تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلهِ

Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. [Al-Baqarah/2: 165].

Keenam: Tunduk terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini, yaitu tunduk yang menghapuskan sikap meninggalkan tuntutan kalimat ini. Maka wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk terhadap makna yang dikandung oleh kalimat لا إله إلا الله baik secara lahiriyah atau bathiniyah.

قال تعالى: وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, [An-Nisa’/4: 125]

Kepasrahan adalah bentuk ketundukan kepada perintah Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Ketujuh: Penerimaan yang menghapuskan penolakan. Maka wajib menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini baik berupa ibadah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala semata tanpa mempersekutukan -Nya dengan sesuatu apapun dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah Subahanahu wa Ta’ala, maka barangsiapa yang mengucapkannya namun dia tidak menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini maka dia termasuk orang yang dikatakan oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

قال الله تعالى: إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. [Al-Shoffat/37: 35]

Kedelapan: Mengningkari setiap sesembahan selain Allah Subahanahu wa Ta’ala seperti penyembahan terhadap tahagut dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala semata.

قال الله تعالى: فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat. [Al-Baqarah/2: 256].

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari  Abi Malik dari bapaknya bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan لا إله إلا الله  dan mengingkari penyembahan selain Allah maka harta dan darahnya menjadi haram dan perhitungan dirinya diserahkan kepada Allah”.[5]

Di antara keutamaan kalimat yang agung ini adalah:
Pertama: Akan dibukakan bagi orang yang mengucapkannya, delapan pintu surga. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ubadah bin Shamit radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subahanahu wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi -Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya, dan Isa adalah hamba Allah Subahanahu wa Ta’ala dan anak dari hamba Allah Subahanahu wa Ta’ala dan kalimat -Nya yang dihunjumkan kepada Maryam dan ruh dari -Nya, dan surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya maka Allah Subahanahu wa Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu manapun dari delapan pintu surga yang disukainya”.[6]

Kedua : Orang yang mengakui kebenaran kalimat ini sekalipun dia seorang pelaku maksiat dan dimasukkan ke dalam neraka akibat kemaksiatannya namun mereka tetap akan dikeluarkan dari api neraka. Di dalam kitab as-shahihaini dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda: Allah subahanhu wa ta’ala berfirman: Demi Keperkasaan -Ku, demi kemuliaan -Ku, demi kebesaran -Ku, demi keagungan -Ku, Aku akan mengeluarkannya dari neraka orang yang mengatakan (لا إله إلا الله)[7]

Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam Al-mu’jamul Ausath dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersada: Barangsiapa yang mengucapkan لا إله إلا الله maka ucapannya itu akan memberikannya manfaat pada suatu masa dan sebelum itu dia akan mendapatkan apa yang sebelumnya diperbuat oleh dirinya”.[8]

Ketiga : Barangsiapa yang mengucapkannya sebelum kematiannya dan dia meninggal  atasnya maka dia masuk surga. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir kalamnya لا إله إلا الله maka dia pasti masuk surga”.[9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari معنى كلمة التوحيد Penulis Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Muslim no: 26
[2] Muslim no: 26
[3] Al-Bukhari: no:
[4] Al-Bukhari no: 128 dan Muslim: no: 32
[5] Muslim: no: 23
[6] Shahih Muslim: no: 28 dan Bukhari no: 3435
[7] Al-Bukhri no: 7510 dan Muslim: 192
[8] Al-Thabrani 6/274 no: 6369 dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab shahihul jami’s shagir 2/1098 no: 2434
[9] Sunan Abu Dawud no: 3116

Tauhid, Keutamaan dan Macam-macamnya

TAUHID, KEUTAMAAN DAN MACAM-MACAMNYA

Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah), Asma` dan Sifat-Nya.

Urgensi Tauhid: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Rabb (Tuhan) segala sesuatu dan rajanya. Sesungguhnya hanya Dia yang Maha Pencipta, Maha Pengatur alam semesta. Hanya Dia lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya. Dan setiap yang disembah selain-Nya adalah batil. Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, Maha Suci dari segala aib dan kekurangan. Dia Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi.

Pembagian Tauhid
Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab karenanya ada dua:

  1. Tauhid dalam pengenalan dan penetapan, dan dinamakan dengan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Yaitu menetapkan hakekat zat Rabb Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asma (nama), sifat, dan perbuatan-Nya.

Pengertiannya : seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sematalah Rabb yang Menciptakan, Memiliki, Membolak-balikan, Mengatur alam ini, yang sempurna pada zat, Asma dan Sifat-sifat, serta perbuatan-Nya, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Meliputi segala sesuatu, di Tangan-Nya kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia Subhanahu wa Ta’ala mempunyai asma’ (nama-nama) yang indah dan sifat yang tinggi:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Sura/42:11]

  1. Tauhid dalam tujuan dan permohonan, dinamakan tauhid uluhiyah dan ibadah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan semua jenis ibadah, seperti: doa, shalat, takut, mengharap, dll.

Pengertiannya : Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang memiliki hak uluhiyah terhadap semua makhlukNya. Hanya Dia Subhanahu wa Ta’ala yang berhak untuk disembah, bukan yang lain. Karena itu tidak diperbolehkan untuk memberikan salah satu dari jenis ibadah seperti: berdoa, shalat, meminta tolong, tawakkal, takut, mengharap, menyembelih, bernazar dan semisalnya  melainkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Siapa yang memalingkan sebagian dari ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah seorang musyrik lagi kafir. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لاَبُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَيُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Siapa menyembah ilah yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung. [Al-Mukminun/23:117]

Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah; kebanyakan manusia mengingkari tauhid ini. Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul kepada umat manusia, dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, agar mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [Al-Anbiya`/21:25]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. [An-Nahl/16:36]

Hakekat dan Inti Tauhid
Hakekat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa semua perkara berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan  pandangan ini membuatnya tidak menoleh kepada selainNya Subhanahu wa Ta’ala tanpa sebab atau perantara. Seseorang  melihat yang baik dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya dan semisalnya, semuanya  berasal dariNya Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang menyembahNya dengan ibadah yang mengesakanNya dengan ibadah itu dan tidak menyembah kepada yang lain.

Buah Hakekat Iman
Seseorang hanya boleh tawakkal  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak memohon kepada makhluk serta tidak memperdulikan celaan mereka. Ia ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencintaiNya dan tunduk kepada hukumNya.

Tauhid Rububiyah diakui manusia dengan naluri fitrahnya dan pemikirannya terhadap alam semesta. Tetapi sekedar mengakui saja tidaklah cukup untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selamat dari siksa. Sungguh iblis telah mengakuinya, juga orang-orang musyrik, namun tidak ada gunanya bagi mereka. Karena mereka tidak mengakui tauhid ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Siapa yang mengakui Tauhid Rububiyah saja, niscaya dia bukanlah seorang yang bertauhid dan bukan pula seorang muslim, serta tidak dihormati/diharamkan darah dan hartanya sampai dia mengakui dan menjalankan Tauhid Uluhiyah. Sehingga dia bersaksi bahwa tidak Ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan dia mengakui hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang berhak disembah, bukan yang lainnya. dan konsekuensinya adalah hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagiNya.

Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah memiliki ketergantungan satu sama lain:

  1. Tauhid Rububiyah mengharuskan kepada Tauhid Uluhiyah. Siapa yang mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Esa, Dia lah Rabb, Pencipta, Yang Memiliki, dan yang memberi rizki niscaya mengharuskan dia mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dia tidak boleh berdoa melainkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak meminta tolong kecuali kepadaNya, tidak bertawakkal kecuali kepadaNya. Dia tidak memalingkan sesuatu dari jenis ibadah kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bukan kepada yang lainnya. Tauhid uluhiyah mengharuskan bagi tauhid rububiyah agar setiap orang hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak menyekutukan sesuatu dengannya. Dia harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb-Nya, Penciptanya, dan pemiliknya
  2. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah terkadang disebutkan secara bersama-sama, akan tetapi keduanya mempunyai pengertian berbeda. Makna Rabb adalah yang memiliki dan yang mengatur dan sedangkan makna ilah adalah yang disembah dengan sebenarnya, yang berhak untuk disembah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاس{3}

Katakanlah:”Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia”  [An-Naas/114: 1-3]

Dan terkadang keduannya disebutkan secara terpisah, maka keduanya mempunyai pengertian yang sama, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, …”.  [Al-An’aam/6:64]

Keutamaan Tauhid
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.  [Al-An’aam/6: 82]

2. Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَاإِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ ، وَالْـجَـنَّـةَ حَـقٌّ ، وَالنَّارَ حَـقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْـجَنَّـةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.

“Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, serta kalimah-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan Ruh dari-Nya. Dan (siapa yang bersaksi dan meyakini bahwa) surga adalah benar, neraka adalah benar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amal yang telah ada”. Muttafaqun ‘alaih.[1]

3. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai keturunan Adam, selama kamu berdoa dan mengharap kepada-Ku, niscaya Ku-ampuni semua dosa kalian dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun dosanya). Wahai keturunan Adam, jika dosamu telah sama ke atas langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Kuampuni dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun dosamu). Wahai keturunan Adam, jika engkau datang kepadanya dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuhnya (bumi).” [HR. at-Tirmidzi].[2]

Balasan Ahli Tauhid
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتُشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجُُ مُطَهَّرَةُُ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. [al-Baqarah/2: 25]

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُوجِبَتَانِ فَقَالَ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang bisa dipastikan?’ Beliau menjawab, ‘Siapa yang meninggal dunia dan keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya dia masuk surga dan siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia masuk neraka.” [HR. Muslim].[3]

Keagungan Kalimah Tauhid
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ نَبِيَّ اللهِ نُوحًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ: آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ، وَأَنْهَاكَ عَنِ اثْنَتَيْنِ، آمُرُكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ، وَالْأَرْضِينَ السَّبْعَ، لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ، وَوُضِعَتْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ، رَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ، وَالْأَرْضِينَ السَّبْعَ، كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً، قَصَمَتْهُنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ، وَأَنْهَاكَ عَنِ الشِّرْكِ وَالْكِبْرِ

“Sesungguhnya Nabi Nuh ‘alaihissalam tatkala menjelang kematiannya, beliau berkata kepada anaknya, “Sesungguhnya aku menyampaikan wasiat kepadamu: Aku perintahkan kepadamu dua perkara dan melarangmu dari dua perkara. Saya perintahkan kepadamu dengan kalimat laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah). Sesungguhnya seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan dalam  satu daun timbangan dan kalimah laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah) diletakkan pada daun timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat. Dan jikalau tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi merupakan sebuah lingkaran yang samar, niscaya dipecahkan oleh kalimah laa ilaaha illallah dan subhanallahi wabihamdih (maha suci Allah dan dengan memujian-Nya), sesungguhnya ia merupakan inti dari semua ibadah. Dengannya makhluk diberi rizqi. Dan aku melarangmu dari perbuatan syirik dan takabur…” [HR. Ahmad dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad].[4]

Kesempurnaan Tauhid
Tauhid tidak sempurna kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya dan menjauhi thaghut, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu… [An-Nahl/16:36]

Thaghut adalah setiap perkara yang hamba melewati batas dengannya berupa sesembahan seperti berhala, atau yang diikuti seperti peramal dan para ulama jahat, atau yang ditaati seperti para pemimpin atau pemuka masyarakat yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Thaghut itu sangat banyak dan intinya ada lima:

  1. Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita darinya-,
  2. Siapa yang disembah sedangkan dia ridha,
  3. Siapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
  4. Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib,
  5. Siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[Disalin dari التوحيد فضله وأنواعه Penulis Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry, Penerjemah Team Islamhouse Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]
______
Footnote
[1] Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no. (3435) dan ini lafaznya, dan Muslim no. (28)
[2]  Shahih. HR. at-Tirmidzi no. (3540), Shahih Sunan at-Tirmidzi no. (2805).
[3]  HR. Muslim no. (93)
[4]  Shahih. HR. Ahmad no. (6583) dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. (558), Shahih al-Adab al-Mufrad no. (426). Lihat as-Silsilah al-Shahihah karya Syaikh al-Albani no.( 134).

Tauhid Perintah Pertama

TAUHID PERINTAH PERTAMA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿٢١﴾ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu mengetahui.[al-Baqarah/2:21-22]

Muqaddimah
Ketika kita membuka lembaran-lembaran mush-haf al-Qur’ân, kita akan mendapatkan kata perintah pertama kali terdapat dalam surat al-Baqarah ayat ke-21 dan kata larangan pertama kali terdapat dalam surat al-Baqarah ayat ke-22. Oleh karenanya, kedua ayat ini sangat penting untuk kita fahami dengan baik. Berikut ini sedikit penjelasan tentang dua ayat tersebut. Semoga bermanfaat.

Tafsir Ayat ke-21:
Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ

Wahai manusia!

Ini adalah seruan kepada seluruh manusia, dari semua bangsa atau suku, di semua tempat dan waktu, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditujukan kepada seluruh manusia. Hal ini sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu.

Ini menunjukkan bahwa manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla  karena Dia telah menciptakan manusia. Hal ini sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla  yang menyebutkan perkataan Nabi Syu’aib Alaihissallam kepada kaumnya :

وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ

Dan bertaqwalah kepada Allâh yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu. [asy-Syu’arâ’/26:184]

Dan sesungguhnya perintah Allâh Azza wa Jalla  ini merupakan hikmah manusia diciptakan di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriyât/51:56]

Beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla  yaitu: taat secara mutlak kepada Allâh Azza wa Jalla , disertai dengan rasa cinta dan pengangungan, berharap dan takut,  dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya lewat syari’at Rasul-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan hati yang ikhlas.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Agar kamu bertaqwa

Ini adalah tujuan ibadah seorang hamba, yaitu agar bertaqwa, agar hamba terlindungi dari murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat 795 H) berkata, “Makna dasar dari kata taqwa adalah seorang hamba membuat perlindungan yang akan melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai. Jadi makna ketaqwaan hamba kepada Rabbnya adalah dia membuat perlindungan yang akan melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai dari Rabbnya, seperti kemarahan-Nya dan siksa-Nya, dengan cara mentaati-Nya dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya.”[1]

Ini juga menujukkan bahwa manfaat ibadah yang dilaksanakan hamba akan kembali kepada hamba tersebut, bukan untuk Allâh Azza wa Jalla , juga bukan untuk orang lain. Allâh Azza wa Jalla  berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya) [Fusshilat/41:46]

Tafsir Ayat ke-22:
Firman Allâh Azza wa Jalla :

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu.[al-Baqarah/2:22]

Ini menunjukkan bahwa di antara sebab hamba diwajibkan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla  adalah Allâh Azza wa Jalla telah memberi rezeki kepada manusia. Dan Allâh Azza wa Jalla  telah menyiapkan segala keperluan hidup manusia, dan telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada hamba. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allâh Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. [adz-Dzâriyât/51:56-58]

Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di (wafat 1376 H) rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ke-22 dari surat al-Baqarah ini, “Kemudian Allâh Azza wa Jalla  menyebutkan hujjah (argumentasi-red) wajibnya beribadah kepada Allâh  Azza wa Jalla semata, yaitu Dia adalah Rabb (Pencipta; Pemilik; Penguasa; Pemelihara) kamu (manusia), Yang telah memelihara kamu dengan berbagai macam kenikmatan.

Dia telah menciptakan kamu yang sebelumnya tidak ada. Dia juga telah menciptakan orang-orang sebelum kamu. Dia telah memberikan kenikmatan kepada kamu dengan kenikmatan-kenikmatan lahir dan batin.

Dia telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, kamu dapat menetap di atasnya. Kamu juga dapat memanfaatkannya dengan (membuat) bangunan, pertanian, pengolahan tanah, berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dan berbagai pemanfaatan bumi yang lain.

Dia juga telah menjadikan langit sebagai atap bagi tempat tinggal kamu, dan Dia meletakkan di langit berbagai benda bermanfaat yang menjadi kebutuhan kamu, seperti matahari, bulan dan bintang-bintang….

Kemudian Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan, seperti biji-bijian dan buah-buahan dari pohon kurma, dan seluruh buah-buahan, serta tumbuh-tumbuhan, dan lainnya,   sebagai rezeki untukmu, dengan itu kamu memperoleh rezeki, kamu mendapatkan makanan pokok, kamu hidup, dan bersenang-senang”.[2]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا

Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla.

Ini merupakan larangan terhadap perbuatan syirik lawan dari tauhid, yaitu “Janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (bagi Allâh Azza wa Jalla ) dari kalangan makhluk, yaitu kamu beribadah kepada tandingan-tandingan itu sebagaimana kamu beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan kamu mencintai mereka sebagaimana kamu mencintai Allâh Azza wa Jalla , sedangkan mereka seperti kamu, diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla , diberi rezeki oleh Allâh Azza wa Jalla , dikuasai oleh Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak memiliki apapun, meskipun seberat debu di bumi dan di langit. Dan mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada kamu dan tidak dapat membahayakan kamu”.[3]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Padahal kamu mengetahui.

Yaitu kamu mengetahui “bahwa Allâh Azza wa Jalla  tidak memiliki sekutu dan tandingan, baik di dalam mencipta, memberi rezeki, dan mengatur. Demikian juga Allâh Azza wa Jalla  tidak memiliki sekutu dan tandingan dalam ulûhiyah (hak untuk diibadahi) dan kesempurnaan. Lalu, bagaimana bisa kamu beribadah kepada tuhan-tuhan yang lain disamping beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla ? Padahal kamu mengetahui hal itu. Ini merupakan  perkara yang sangat mengherankan dan kebodohan yang paling bodoh”.[4]

Hal ini sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla  :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka (orang-orang musyrik), “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allâh”, maka bagaimanakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). [al-‘Ankabut/29:61]

Petunjuk-Petunjuk Ayat :

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.
  2. Manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla karena Dia telah menciptakan manusia.
  3. Di antara sebab manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla adalah karena Dia memberi rezeki kepada manusia
  4. Tujuan ibadah hamba kepada Rabbnya adalah taqwa, yaitu untuk melindungi diri dari murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla .
  5. Tauhid adalah perintah pertama kali aalam al-Qur’an. Ini menunjukkan pentingnya tauhid.
  6. Syirik adalah larangan pertama kali dalam al-Qur’an. Ini menunjukkan bahaya syirik.
  7. Manusia meyakini keesaan Allâh dalam rubûbiyah-Nya (kekuasaan-Nya), maka seharusnya mereka juga meyakini keesaan Allâh dalam ulûhiyah-Nya (hak-Nya untuk diibadahi dan tidak disekutuan dengan selainNya)

Inilah sedikit penjelasan dua ayat yang agung ini. Semoga Allâh Azza wa Jalla  selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVII/1435H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kitab Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/398, diteliti oleh: Syaikh Syu’aib al-Arnâuth dan Syaikh Ibrâhîm Bajis, penerbit: Muasasah ar-Risalah
[2] Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22
[3] Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22, karya Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di
[4] Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22

Konsisten Secara Total Dengan Syariat

KONSISTEN SECARA TOTAL DENGAN SYARIAT

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ فَاِنْ زَلَلْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْكُمُ الْبَيِّنٰتُ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allâh) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Baqarah/2:208-209].

Mufradat
السِّلْمُ (as-silmu), maksudnya adalah Islam.[1] Pendapat lainnya, ketaatan (kepada Allâh).[2]
كَافَّةً (kâffatan), maksudnya jamî’an (secara keseluruhan, totalitas).[3]

Penafsiran Ayat
Ini adalah satu khithâb (panggilan  ilahi) yang tertuju kepada kaum Mukminin[4] yang harus didengar dan diperhatikan, untuk melaksanakan kandungan perintahnya dan menjauhi kandungan larangannya.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, Mujahid rahimahullah, Abul ‘Aliyah rahimahullah, Qatâdah rahimahullah, Adh-Dhahhâk rahimahullah dan ulama lainnya  memaknai dengan, ‘kerjakanlah semua amal shalih dan seluruh jenis kebajikan’.[5]

Sedangkan  Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, maksudnya adalah Allâh Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan para Rasul-Nya, supaya mereka kuat berpegang dengan seluruh tali ajaran Islam dan syariat-syariatnya, mengaplikasikan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, sesuai jangkauan kemampuan mereka. [6]

Kaum Mukminin diperintahkan untuk mengerjakan seluruh cabang keimanan dan syariat-syariat Islam, yang banyak jumlahnya sesuai dengan kemampuan,[7] tetapi bukan dengan memilih-milih aturan syariat dan hukum-hukum. Misal, yang sesuai dengan kemaslahatan (kepentingan) dan hawa nafsunya akan diterima dan diamalkan. Sedangkan ajaran yang tidak selaras dengan kemaslahan dan hawa nafsu pribadi, ditolak atau ditinggalkan dan abaikan. Kewajiban kita ialah menerima semua aturan syariat Islam dan hukum-hukumnya secara keseluruhan.[8]

Mengagungkan syariat dan mengamalkannya termasuk wujud pengagungan seorang hamba kepada  Allâh Azza wa Jalla dan bukti keimanannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ 

Demikianlah (perintah Allâh). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allâh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”.[al-Hajj/22:32].

Seperti halnya para sahabat Nabi, mereka insan-insan yang sangat kuat dalam berpegang dengan ajaran Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dan tunduk kepada al-haq. Mereka memiliki kesempurnaan iman dibandingkan generasi selanjutnya.

Simaklah ‘Umar bin Khaththab memuji Abu Bakr ash-Shiddiq: “Dia seorang yang jujur, gemar berbuat baik, memiliki akal yang lurus dan mengikuti al-haq”. [9]

Simak juga pujian Ibnu ‘Abbas terhadap ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu : “Dia seorang yang sangat memperhatikan garis-garis aturan Kitabullâh”.[10]

Harus Menghindari Tipu Daya Setan
Masuk ke dalam Islam secara total tidak mungkin dilakukan seorang hamba kecuali hanya dengan menghindari dan menjauhi jalan dan bisikan, serta tipu daya setan.[11] Karenanya, pada lanjutan ayat, Allâh Azza wa Jalla berfirman :   وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ (dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan).

Maksudnya, kata Imam Ibnu Katsir: “Kerjakanlah seluruh amal ketaatan dan hindarilah oleh kalian semua yang dibisikkan setan kepada kalian. Karena…

اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui. [al-Baqarah/2:169], dan

اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” [Fâthir/35:6].

Allâh Azza wa Jalla mengingatkan pada penutup ayat dengan berfirman   إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ  (sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu).

Mutharrif berkata, “Makhluk Allâh yang paling ampuh tipu muslihatnya terhadap hamba Allâh adalah setan”.[12]

Tidak Ada Istilah Kulit Untuk Ajaran Allah dan RasulNya
Konsistensi dengan ajaran syariat dan mentaati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendatangkan hidayah dan menjauhkan dari kesesatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْۗ وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْاۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” [an-Nûr/24:54].

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. [Yunus/10:9].

Allâh juga berfirman:

وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا

Dan Allâh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal shalih yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. [Maryam/19:76].

Imam al-‘Izz bin ‘Abdus-Salam berkata, “Tidak boleh mengatakan bahwa syariat itu  qisyrûn  (kulit), padahal memuat banyak sekali manfaat dan kebaikan. Bagaimana bisa perintah untuk taat dan beriman disebut ‘kulit’?! Siapapun yang melontarkan sebutan seperti ini tiada lain ia seorang yang dungu, celaka lagi kurang beradab. Seandainya pernyataannya itu dikomentari sebagai  qusyûr (tidak penting)  pastilah serta-merta ia akan mengingkari orang yang menanggapinya. Bagaimana ia bisa melontarkan penyebutan ‘kulit’ (tidak penting) kepada syariat, padahal syariat itu adalah Kitabullâh dan Sunnah Rasul-Nya. Maka, orang bodoh ini pantas mendapatkan sanksi yang sesuai dengan kesalahannya ini.”[13]

Ancaman Bagi Seseorang yang Menyimpang Dari Jalan Allâh Azza wa Jalla
Seseorang yang tidak taat kepada Allâh Azza wa Jalla , hakikatnya ia justru terjerumus ke dalam perbuatan yang buruk, yaitu mempertuhankan dan mendewakan hawa nafsunya, sehingga menyeretnya kepada kehinaan, kenistaan dan kesengsaraan hakiki. Realitas ini harus disadari oleh setiap Mukmin yang berharap keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Seseorang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla tidak sepantasnya menjadikan hawa nafsunya sebagai “tuhan” yang ditaati. Maksudnya, jika satu perintah sesuai dengan keinginannya, maka ia akan menjalankannya. Bila satu aturan tidak sejalan dengan hawa nafsunya, ia pun menolak menaatinya. Mestinya, hawa nafsunya harus tunduk patuh kepada aturan agama (Islam), dan mengerjakan amalan kebajikan yang berada dalam jangkauan kemampuannya. Adapun perintah-perintah yang belum sanggup untuk menjalankannya, maka hendaklah ia mematuhi dan menanamkan niat untuk menjalankannya, sehingga ia mendapatkan pahala dengan niatnya itu.[14]

Selanjutnya, pada ayat berikutnya Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran.

Ayat ini memuat peringatan dan ancaman terhadap seseorang yang menyimpang dan menolak syariat Allâh Azza wa Jalla . Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Bila kalian meninggalkan kebenaran setelah hujjah-hujjah tegak dan jelas di hadapan kalian, maka ketahuilah, bahwasanya Allâh Maha Perkasa untuk membalas (sikap kalian). Tidak ada seorang(pun) yang sanggup melarikan diri dari-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan-Nya. Dia (Allâh) Maha Bijaksana dalam ketentuan hukum-hukum-Nya, pembatalan dan penetapan hukum-Nya. Oleh sebab itu para ulama mengatakan, Allâh Maha Perkasa dalam menjatuhkan siksa-Nya, Maha Bijaksana dalam ketentuan-ketentuan-Nya.”

Seorang hamba yang telah mengetahui al-haq, namun kemudian membencinya, maka orang yang seperti ini pantas mendapatkan perlakuan dari Allâh Azza wa Jalla untuk semakin dijauhkan dari kebenaran dan kemudian ditambah kesesatannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati mereka. [ash-Shaff/61:5].

Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang yang membenci al-haqq dan justru berjalan mengikuti hawa nafsunya, pantaslah Allâh Azza wa Jalla menambahkan kesesatan untuknya”.[15]

Cermati pula perkataan Abu Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berikut ini, “Aku khawatir akan menjadi orang yang sesat (menyimpang) bila aku tinggalkan sesuatu dari petunjuk Rasûlullâh n “.

Syaikh  Hamd bin Ibrâhîm al-‘Utsmân hafizhahullâh mengatakan, dengan demikian (melalui ayat ini), dapat diketahui kesalahan orang-orang yang berada di atas manhaj-manhaj yang tidak berdiri di atas al-haq. Mereka memperlakukan syariat sesuai dengan kehendak sendiri, menjalankan sebagian petunjuk syariat dan berpaling dari petunjuk syariat lainnya yang dianggapnya qusyûr (kulit), atau masalah cabang yang tidak ada urgensi dan kepentingannya. Demikian dalih mereka”.

Dengan anggapan yang keliru tersebut, maka tidak diragukan jika mereka telah menodai hikmah Allâh Azza wa Jalla . Syariat Allâh Azza wa Jalla ini tidak diturunkan kecuali ada tujuan dan hikmahnya. Sehingga seandainya ada bagian syariat yang tidak penting, tentu Allâh Azza wa Jalla tidak menurunkan dan mensyariatkannya pada hamba-hamba-Nya, serta memerintahkan mereka untuk bertaqarrub dengan-Nya.

Allâh Ta’ala mengingatkan:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? [al-Baqarah/2:85].[16]

Pelajaran Dari Ayat

  1. Kewajiban menerima semua aturan syariat Allâh dan Rasul-Nya, tidak boleh memilih sesuai dengan yang disukainya
  2. Semua petunjuk syariat baik dan mendatangkan kemaslahatan.
  3. Kewajiban bagi kaum Mukminin agar meningkatkan semangat belajar dan mendalami syariat Islam, agar mengetahui semua ajaran Allâh Azza wa Jalla sehingga mengenal Islam dengan lebih baik dan dapat melaksanakannya.
  4. Harus merasa takut terhadap ancaman dan makar dari Allâh Azza wa Jalla .
  5. Konsisten dengan ajaran syariat akan mendatangkan hidayah demi hidayah.
  6. Pelanggaran terhadap syariat dapat menjauhkan seseorang dari hidayah Allâh Azza wa Jalla . Wallahu a’lam.

Disusun oleh
Ustadz Abu Minhal Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhaak dan lainnya. Lihat ZâdulMasîr, 1/174; Tafsir al-Qur`ânil‘Azhim, 1/569.
[2] Dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah dan Rabi’ bin Anas.
[3] ZâdulMasîr, 1/174.
[4] Taisiru al-Karîmi ar-Rahmân, hlm. 84.
[5] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 1/569.
[6] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 1/569.
[7] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 1/570.
[8] Aisaru at-Tafâsîr 1/.90.
[9] HR al-Bukhâri no.3094.
[10] HR al-Bukhâri kitab tafsir no.4642
[11] Taisir al-Karîmir ar-Rahmân, hlm. 84.
[12] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 1/570.
[13] Al-Fatawa al-Maushiliyyah, hlm.68-69. Nukilan dari ash-Shawaarifu ‘anilHaqq, hlm.72-73.
[14] Taisiru al-Karimi ar-Rahmân, hlm. 84
[15] At-Tankîl, hlm. 2/201. Nukilan dari ash-Shawârifu ‘anil Haqqi, hlm.74.
[16] Lihat ash-Shawârifu ‘anilHaqq, hlm.72.

Beruntunglah Orang yang Beriman

BERUNTUNGLAH ORANG YANG BERIMAN

Oleh
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shâbi’un, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allâh dan hari akhir serta beramal shaleh mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [al-Baqarah/2:62]

Sabab Nuzul Ayat
as-Suddy rahimahullah mengatakan, “Ayat ini turun membahas tentang kawan-kawan Salmân al-Fârisy Radhiyallahu anhu, waktu itu Salman menceritakan keadaan kawan-kawannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan, bahwa mereka dulu melaksanakan puasa, melaksanakan shalat, beriman kepadamu dan mereka juga bersaksi bahwa kamu akan diutus sebagai Nabi. Setelah Salman memuji mereka tersebut, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Wahai Salman mereka termasuk penduduk neraka”. Jawaban tersebut sangat menyedihkan hatinya, maka Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat tersebut sebagai jawabannya, yang pada intinya bahwa keimanan orang-orang Yahudi adalah dengan berpegang teguh terhadap Taurat dan tuntunan Nabi Musa sampai datang Isa. Ketika Nabi Isa datang, mereka yang berpegang teguh dengan Injil dan syariat Isa telah berada diatas keimanan yang sah sampai datang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Barangsiapa tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kedatangannya dan tidak meninggalkan syariat Nabi Isa dan Injil maka dia akan celaka. Dan diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jubair.[1]

Korelasi Ayat Dengan Ayat Sebelumnya
Dalam ayat sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan keadaan orang-orang Yahudi dan prilaku nenek moyang mereka, serta balasan yang mereka dapatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelah mereka[2]. Allâh  berfirman dalam ayat ke-61.

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۗ قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja, oleh sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata, “Maukah kamu mengambil yang lebih rendah sebagai ganti dari yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta !” Lalu ditimpahkanlah kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta mereka mendapat murka dari Allâh. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allâh dan membunuh para nabi tanpa sebab yang benar.  Yang demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.“[al-Baqarah/2:61]

Lalu dalam selanjutnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa nasab (keturunan, seperti Bani Israil maupun yang lainnya) tidak ada harganya dihadapan Allâh Azza wa Jalla .  Yang berharga adalah keimanan dan amal shalih yang mensucikan ruh manusia. Oleh karena itu kaum Muslimin dan kaum Yahudi, Nasrani, Sabi’un maupun yang lainnya seperti kaum Majusi, barang siapa yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan hari akhir dengan keimanan yang sebenarnya serta melakukan amal shalih yang disyariatkan maka tidak ada rasa takut baginya setelah mereka bertaubat dan tidak ada kesedihan yang menimpa mereka disaat mereka mati.[3]

Penjelasan Ayat
Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa para pemeluk agama itu tidak akan mendapatkan suatu keutamaan dan kebaikan kecuali jika mereka beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kepada hari akhir serta melakukan amal shalih yang diridhai Allâh Azza wa Jalla . Dan termasuk amal shalih adalah beriman kepada Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena iman seseorang tidak dianggap sah kecuali dengannya.[4]

Jika demikian keadaannya, maka baginya pahala yang besar, dan tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.  Adapun orang yang inkar dan kufur terhadap itu semua maka mereka akan ditimpa kekhawatiran dan kesedihan.[5]

Ada satu permasalahan yang berhubungan dengan ayat di atas, yaitu di awal ayat Allâh Azza wa Jalla berfirman إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا dan di akhirnya Allâh berfirman  مَنْ آمَنَ بِاللهِ  apa maksud dari pengulangan kata iman disini ? Dalam menjawab pertanyaan ini para Ulama berbeda pendapat, setidaknya ada dua pendapat secara garis besarnya:

Pendapat pertama, yang dimaksud إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا adalah orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sebenarnya.[6] Kemudian mereka berselisih pendapat dalam menentukan siapa mereka itu ?

  1. Ada yang mengatakan, “Mereka adalah orang yang beriman di zaman fathrah (masa kekosongan rasul) dan mereka adalah para pencari agama. Pada saat yang sama mereka juga berlepas diri dari kebatilan agama Yahudi dan Nasrani, seperti Habîb al-Najjâr, Quss bin Sâ’idah, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Bahira Sang Pendeta, Salmân al-Farisy, Abu Dzar al-Ghifary, dan utusan al-Najâsyi.[7] Sebagian diantara mereka ada yang sempat bertemu dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengikutinya sementara sebagian yang lainnya tidak bertemu. Maka seakan-akan Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman sebelum diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang dahulunya para pemeluk agama yang batil dan yang telah dirubah seperti Yahudi, Nasrani, dan Shabi’un, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir dan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka baginya pahala di sisi Rabbnya.[8]
  2. Ada pula yang mengatakan, “Mereka adalah orang yang beriman dari umat ini.[9]
  3. Ada pula yang mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[10]

Pendapat kedua, keimanan yang disebutkan pada permulaan ayat tersebut adalah keimanan yang tidak sebenarnya iman. Kemudian mereka berselisih pendapat dalam menentukan subtansinya ;

  1. Ada yang mengatakan mereka yang beriman kepada Para Nabi terdahulu dan tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[11]
  2. Ada yang mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang munafik yang beriman dengan lisan mereka, akan tetapi hati mereka tidak beriman,[12] oleh sebab itu mereka di kelompokkan dengan kaum Yahudi, Nasrani dan Shabi’un.[13] Seakan-akan Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Mereka semuanya jika beriman dengan iman yang sebenarnya maka mereka mendapatkan predikat Mukmin di sisi Allâh Azza wa Jalla .[14]

Diantara sekian banyak pendapat tersebut, menurut penulis jika hal itu dilihat dari keumuman lafadz ayat, maka semuanya dapat saling melengkapi, dan yang demikian itu menunjukkan betapa cakupan makna ayat tersebut sangat luas. Dan jika dilihat dari kekhususan sabab nuzul (sebab turun)nya, maka yang selaras dengan sabab nuzûl ayat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang yang beriman di awal ayat tersebut adalah “Mereka yang beriman kepada Para Nabi terdahulu dan tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau diutus. Karena ayat tersebut turun sebagai jawaban atas pertanyaan Salman al-Fârisy tentang kawan-kawannya yang dulunya beriman kepada para rasul dan kepada Rasûlullâh sebelum beliau diutus, akan tetapi setelah beliau diutus mereka mengingkarinya, oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka masuk Neraka”, wallahua’lam bishshawab.

Apakah Semua Agama Sama?
Sebagian orang memahami ayat diatas dengan pemahaman yang tidak benar, mereka menganggap bahwa ayat diatas telah melegitimasikan (membenarkan) agama-agama selain Islam, artinya menurut mereka semua agama adalah sama, sehingga muncul suatu kesimpulan bahwa boleh bagi seseorang untuk memeluk Islam, esok hari masuk agama Yahudi, lusa masuk Nasrani dan seterusnya.

Pemahaman tersebut tidaklah benar, karena tidak didasarkan pada dasar pijakan yang kuat. Ayat tersebut jika dipahami secara mendalam, sama sekali tidak menunjukkan hal itu, bahkan pemahaman tersebut bertentangan dengan ayat itu sendiri, sebagaimana yang telah disebutkan oleh penulis diatas. Meskipun banyak penafsiran para Ulama tentang إن الذين آمنوا akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang menafsirkan bahwa Islam, Yahudi, Nasrani dan yang lainnya adalah sama. Apakah para Ulama’ tafsir kurang memahami bahasa arab dengan baik dan benar ? Atau kurang mengetahui sabab nuzulnya ? Atau kurang mengetahui ayat-ayat yang lainnya yang mendukung penafsiran mereka? Atau kurang mengetahui kaidah-kaidah penafsiran ? Sehingga tidak satupun penafsiran mereka mendukung pemahaman yang dianggap benar tersebut. Semua pertanyaan itu cukup dijawab dengan jawaban singkat “tidak”!, Bahkan sebaliknya, tidak adanya penafsiran para Ulama yang sesuai dengan pemahaman tersebut adalah bukti dangkalnya pemahaman tersebut. Adapun salah satu penafsiran Ulama yang mengatakan orang yang beriman di awal ayat tersebut adalah mereka yang beriman dari umat ini atau mereka yang beriman kepada Rasûlullâh, maka hal itu sama sekali tidaklah menyamakan antara mereka dengan para pemeluk agama lainnya. Karena perintah untuk beriman bagi mereka diakhir ayat adalah perintah agar mereka tetap dalam keadaan beriman sampai akhir hayat.

Di sisi lain pemahaman tersebut juga bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya, diantaranya;
1. Ayat yang menunjukkan bahwa agama yang benar disisi Allâh Azza wa Jalla adalah Islam, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang benar disisi Allâh adalah Islam [Ali Imran/3:19]

Ibn Juraij mengatakan, “Tidak ada agama milik Allâh Azza wa Jalla kecuali Islam.”[15]

Dari Ibn Sirin dari Abi al-Rabab al-Qusyairy dalam menafsiri ayat di atas ia mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada manusia untuk memeluk agama Islam dan melarang mereka memeluk agama yang lain.”[16]

Dalam ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. [Ali ‘Imrân/3:85]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satu agama pun yang diterima disisi Allâh Azza wa Jalla dari seseorang kecuali Islam.[17]

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa semua agama tidaklah sama, dan Islamlah agama yang benar disisi Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa memeluk agama selain Islam setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka agamanya itu tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla .

2. Bertentangan dengan ayat yang menunjukkan bahwa pemeluk agama Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrikin adalah kafir.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [al-Bayyinah/98:6]

Abu Ja’far al-Thabary rahimahullah mengatakan, “sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengingkari kenabiannya dari orang-orang Yahudi, Nasrani maupun orang-orang musyrik, mereka semuanya akan masuk neraka dan tinggal di dalamnya selama-lamanya.[18]

Di ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ 

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allâh salah satu dari tiga tuhan”, padahal sekali-kali tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allâh Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir  diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [al-Maidah/5:73]

Kedua ayat diatas menunjukkan bahwa tidaklah sama antara Muslim dengan kafir.

3. Bertentangan pula dengan ayat yang menunjukkan keumuman risalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Saba/34:28]

Fakhruddin al-Razi mengatakan ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan agama Islam sebagai penghapus atas agama-agama sebelumnya.[19]

Jika suatu agama telah dihapus dan dibatalkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam dengan Islam, maka tidaklah pantas sebagai makhluk Allâh Azza wa Jalla mengesahkan dan membenarkan agama tersebut setelah di naskh (dibatalkan) oleh Allâh .

Pemahaman di atas juga bertolak belakang dengan fakta sejarah dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak ahlu kitab untuk masuk Islam dengan cara mengirim surat kepada mereka. Diantaranya beliau mengutus Dihyah bin Khalifah al-Kalby untuk mengirim surat kepada raja Romawi, dan juga mengutus ‘Abdullah bin Hudzafah al-Sahmi kepada raja Persia, dan mengutus ‘Amr bin ‘Umaiyyah al-Dhamry kepada Najasyi (sebutan raja) Habasyah, dan mengutus Hathib bin Abi Balta’ah kepada al-Muqaiqis raja Mesir, dan juga mengutus Sulaith bin ‘Amr al-‘Amury kepada Haudzah bin ‘Ali al-Hanafy di Yamamah.[20]

Ini menunjukkan bahwa pemeluk agama Nasrani dan lainnya adalah bagian dari obyek dakwah yang harus diajak masuk Islam dan meninggalkan agama lama yang ia yakini sebelumnya. Karena agama mereka jika dianggap benar dan sah atau sama dengan Islam setelah diutusnya Rasûlullâh, maka untuk apa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersusah-payah mengajak mereka masuk Islam?

Pelajaran dari Ayat.
Dari keterangan diatas dapat diambil pelajaran, diantaranya;

  1. Para pemeluk agama samawi sebelum datangnya Islam, mereka yang beriman kepada Allâh dan hari akhir, dan tidak berbuat syirik, atau mereka yang beriman kepada Rasûlullâh setelah beliau diutus, maka mereka akan mendapatkan keberuntungan. Adapun mereka yang berbuat syirik atau beriman kepada Allâh dan hari akhir akan tetapi setelah diutusnya Rasûlullâh mereka inkar dan tidak beriman kepadanya maka mereka akan celaka.
  2. Islam adalah agama terakhir yang menghapus agama sebelumnya.
  3. Agama yang benar di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah agama Islam.
  4. Rasûlullâh diutus oleh Allâh Azza wa Jalla keseluruh lapisan umat, berbeda dengan Nabi Musa dan Isa, mereka diutus hanya kepada Bani Israil saja sebelum datanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan Nabi Isa nanti ketika turun ke bumi ia akan mengikuti syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  5. Paham pluralisme agama yang menyatakan bahwa semua agama sama adalah paham yang bathil dan tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Washallallahu alaa Nabiyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi washahbihi wasallam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Idris al-Razy Ibn Abi Hatim (w. 327 H), Juz 1 (KSA; Maktabah Mushtafa Baz, 1419 H), hlm. 127. Lihat Asbâb Nuzûl al-Qur’an, ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad al-Wahidy (w. 468 H), (Dammam; Dar al-Ishlah, 1992 M / 1412 H), hlm. 24. Riwayat Dari Mujahid. Lihat Lubâbun Nuqûl fi Asbâbin Nuzûl, ‘Abdur Rahman bin Abi Bakr Jalal al-Dien al-Suyuthy (w. 911 H), (Lebanon; Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun), hlm. 9. Riwayat Dari Mujahid. Lihat al-Durr al-Mantsûr fit Tafsîr bil Ma’tsûr, al-Suyuthy, juz 1 (Beirut; Dar al-Fikr, tanpa tahun), hlm. 128. Dari Mujahid.
[2] at-Tafsîrul Munîr fil ‘Aqîdah was Syarî’ah wal Manhaj, Dr. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaily, Juz 1 (Damaskus; Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H), hlm. 177-178. Lihat al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Andalusy, juz 1 (Beirut; Dar al-Fikr, 1420 H), hlm. 389.
[3] Aisarut Tafâsîr li Kalâmil ‘Aliyyil Kabîr, Jabir bin Musa Abu Bakr al-Jazairy, juz 1 (Madinah Munawwarah; Maktabah Ulum wa al-Hikam, 1424 H/ 2003 M), hlm. 65.
[4] Lubâbut Ta’wîl fi Ma’âniit Tanzîl, ‘Ali bin Muhammad Abu al-Hasan al-Khazin (w. 741 H), Juz 2 (Beirut; Dar al-Kutub, 1415 H), hlm. 64.
[5] Taisîrul Karîmir Rahman fi Tafsîr Kalâmil Mannan, Abdur Rahman bin Nasir al-Sa’dy (w. 1376 H), (Bairut; Muassasah al-Risalah, 1420 H / 2000 M), hlm. 54.
[6] Lubâbut Ta’wîl, 1/50
[7] Mafâtihul Ghaib, Muhammad bin ‘Umar al-Razi (w. 606 H), juz 3 (Beirut; Dar Ihya’ Turats al-‘Araby, 1420 H), hlm. 536. Lihat Tafsir al-Qur’an, Manshur bin Muhammad Abu Mudzaffar al-Sam’any (w. 489 H), Juz 1 (Riyadh; Dar al-Wathan, 1418 H / 1997), hlm. 88.
[8] Lubâbut Ta’wîl …, hlm. 50.
[9] Zâdul Masir fi ‘Ilm al-Tafsîr, ‘Abdur Rahman bin ‘Ali Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi (w. 597 H), Juz 1 (Beirut; Dar al-Kitab al-‘Araby, 1422 H), hlm. 72. Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân …, al-Sa’dy, hlm. 54.
[10] Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîlil Qur’ân, Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabary (w. 301), juz 2 (Beirut; Muassasah al-Risalah, 1420 H/ 2000 M), hlm. 143. Lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthuby (w. 671 H), Juz 1 (Mesir; Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1384 H/ 1964 M), hlm. 432. Lihat Fathul Qadîr, Muhammad bin ‘Ali al-Syaukany (w. 1250 H), juz 1 (Beirut; Dar Ibn Katsir, 1414 H), hlm. 110. Lihat Tafsîrul Manâr, Muhammad Rasyid bin ‘Ali Ridha (w. 1354 H), juz 1 (Mesir; al-Hai’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1990 M), hlm. 278. Lihat Tafsir al-Munir…, hlm. 178 Lihat Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm, Isma’il bin ‘Umar bin Kathir (w. 774), Juz 1 (Riyadh; Dar al-Taibah, 1420 H/ 1999 M), hlm. 284. Lihat Bahrul ‘Ulûm, Nashr bin Muhammad al-Samarqandy (w. 373 H), Juz 1(tanpa disebutkan nama, tempat dan tahun cetakan), hlm. 59.
[11]al-Wajîz fi Tafsîr al-kitâb al-‘Aziz, ‘Ali bin Ahmad al-Wahidy (w. 468 H), (Beirut; Dar al-Qalam, 1415 H), hlm. 110. Lihat Lubab al-Ta’wil…, hlm. 50.
[12] Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil, Mahmud bin ‘Amr al-Zamakhsyary (w. 538),  juz 1 (Beirut; Dar al-Kitab al-‘Araby, 1407 H), hlm. 146. Lihat Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, ‘Abdullah bin Ahmad al-Nasafy (w. 710 H), Juz 1 (Beirut; Dar Kalim al-Tayyib, 1419 H/ 1998 M), hlm. 94. Lihat Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim, Muhammad bin Muhammad Abu al-Su’ud (w. 982 H), juz 3 (Beirut; Dar Ihya’ al-Kitab al-‘Araby, tanpa tahun cetakan), hlm. 62.
[13]  al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân…, hlm. 432.
[14] Lubâbut Ta’wîl…, hlm. 50.
[15] Jâmi’ul Bayân…,6/503.
[16] Tafsîr al-Qur’anil ‘Azhîm, ‘Abdur Rahman bin Muhammad Ibn Abi Hatim al-Razi (w. 327 H), Juz 2 (Arab Saudi; Maktabah Nizar Musthafa al-Baz, 1419 H), hlm. 617.
[17] Tafsîr al-Qur’anil ‘Azhîm …,juz 2, hlm. 25.
[18] Jâmi’ul Bayân 24/542.
[19] Mafâtihul Ghaib…, 6/523.
[20] al-Sirah al-Nabawiyah al-Shahihah, Dr. Akram Dhiya’ al-‘Umary, juz 2 (Riyadh; Maktabah al-‘Ubeikan, 1424 H/2003 M), hlm. 454.

Kisah Teladan, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu

KISAH TELADAN, MUADZ BIN JABAL RADHIYALLAHU ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian kisah perjalanan hidup seorang pembesar dari umat ini, seorang pemberani yang pernah ada dalam barisan umat ini, dan seorang ulama dari ulama Islam. Beliau adalah seorang sahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal bin Amr al-Anshari al-Khazraji al-Madani al-Badri yang kun’yahnya bernama Abu Abdurahman.

Beliau seorang sahabat yang ikut menyaksikan bai’at Aqobah, peperangan Badr serta peristawa penting lainnya bersama Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk pemuda dari kalangan Anshar yang mempunyai otak cemerlang, cerdas, pemalu, dan dermawan.

Berkata Abdu Shamad bin Sa’id mensifati tentang dirinya: “Beliau berbadan tinggi, tegap, dan gagah”. Seorang ulama lain yang bernama al-Madaini juga mengatakan akan sifat beliau: “Beliau seorang yang berbadan tinggi, memiliki rambut indah yang sedikit berikal, berbola mata besar, dan berkulit putih. Dirinya masuk Islam pada saat usianya baru berumur delapan belas tahun, ikut peperangan Badar, sedangkan dirinya ketika itu masih berusia dua puluh satu tahun.[1]

Beliau salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi pernah mengutusnya ke Yaman sebagai gubernur disana, dan meninggal karena terserang wabah tho’un pada tahun delapan belas Hijriyah.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits tentang kisah beliau manakala diutus ke Yaman, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Bahwa Rasulallah shalallahu ‘alihi wa sallam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan padanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّكَ تَأْتِى قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ. فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Jika sekiranya mereka mentaatimu akan hal tersebut, maka beritahulah mereka bahwasannya Allah telah mewajibakan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya“.  HR Bukhari no: 1458. Muslim no: 19.

Sungguh sangat banyak sekali hadits serta atsar yang menjelaskan akan keutamaan yang dimiliki oleh Mu’adz serta kedudukannya yang sangat mulia. Salah satunya, haditsnya Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِى حُذَيْفَةَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Ambillah al-Qur’an dari empat orang, dari Ibnu Ummi Abdin (Abdullah bin Mas’ud), Mu’adz bin Jabal, dan Ubai bin Ka’ab serta Salim mantan sahayanya Abu Hudzaifah“.  HR Bukhari no: 3758. Muslim no: 2464.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Rasyid bin Sa’ad, beliau menceritakan: “Tatkala telah sampai berita pada Umar bin Khatab bahwa di Sargha, yaitu –daerah perbatasan antara Hijaz dan Syam- terjadi wabah yang menyebar, beliau mengatakan: “Telah sampai berita padaku bahwa di Syam telah terjadi wabah yang menyebar”. Aku katakan padanya: ‘Jika sekiranya aku menjumpai kematian, sungguh telah meninggal Abu Ubaidah maka aku minta supaya digantikan oleh Mu’adz bin Jabal, kalau aku ditanya oleh Allah, kenapa aku minta digantikan oleh Mu’adz? Maka aku akan jawab: “Karena aku pernah mendengar Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّهُ يُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيْ الْعُلَمَاءِ نَبْذَةً » [أخرجه أحمد]

Sesungguhnya Mu’adz akan dikumpulkan kelak pada hari kiamat didepannya para ulama“. HR Ahmad 1/263 no: 108.

Dalam redaksinya ath-Thabarani dikatakan: “Didepannya para ulama sejauh mata memandang”. HR ath-Thabarani dalam Mu’jamul Kabir 20/30 no: 41. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 1091.

Dan dalam mustadraknya al-Hakim, beliau membawakan sebuah hadits dari Masruq, beliau berkata: “Aku pernah membaca disisi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah”.  [an-Nahl/16: 120].

Begitu mendengar maka Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya Mu’adz adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah”. Maka ambilah ilmu darinya, maka kami mendatanginya.

Kemudian pada lain waktu beliau bertanya: “Tahukah kalian apa yang dimaksud al-Umah dalam ayat? Yaitu orang yang mengajari manusia kebaikan. Adapun makna al-Qonit adalah seseorang yang mentaati Allah dan RasulNya”.  HR al-Hakim 3/104 no: 3418.

Dari Sahl bin Abi Hatmah, beliau mengatakan: “Diantara kalangan para sahabat yang sudah memberi fatwa pada zaman Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam ada tiga dari kalangan Muhajirin yaitu Umar, Utsman dan Ali, dan tiga dari kalangan Anshar yaitu Ubai bin Ka’ab, Mu’adz dan Zaid”.[2]

Mu’adz bin Jabal, beliau merupakan fuqahanya para sahabat, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh al-Hakim dari Ali bin Rabah, beliau menceritakan: “Pada suatu hari Umar pernah berkhutbah dihadapan manusia, isinya beliau mengatakan: “Barangsiapa yang ingin bertanya tentang halal dan haram, maka hendaknya mendatangi Mu’adz bin Jabal”. HR al-Hakim 4/308 no: 5236. Di nilai shahih oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam al-Fath 7/126.

Salah satu keutamaan beliau juga adalah menjadi sahabat yang dicintai oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti yang dijelaskan pada sebuah riwayat, dari Mu’adz sendiri yang mana beliau menceritakan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengandeng tangannya lalu bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مُعَاذُ, والله إِنِّي لَأُحِبُّكَ, والله إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ » [أخرجه أبو داود]

Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu”. Lalu berpesan: “Aku wasiatkan untukmu wahai Mu’adz supaya tidak pernah meninggalkan tiap kali selesai sholat untuk berdo’a: “Ya Allah, berilah aku pertolongan untuk selalu mengingatMu, bersyukur serta baik dalam beribadah“. HR Abu Dawud no: 1522.

Hari pun berlalu, berganti tahun, sehingga semakin dekat waktu untuk berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, sungguh betapa sulit untuk menghadapinya. Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Tatkala Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus dirinya ke Yaman, dirinya keluar bersama Rasulallah sembari memberi wasiat padanya.

Dan Mu’adz pada saat itu naik kendaraan sedangkan Rasulallah berjalan menuntun kendaraanya, manakala telah tiba waktunya, beliau berpesan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مُعَاذُ إِنَّكَ عَسَى أَنْ لَا تَلْقَانِي بَعْدَ عَامِي هَذَا وَلَعَلَّكَ أَنْ تَمُرَّ بِمَسْجِدِي وَقَبْرِي فَبَكَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ جَشَعًا لِفِرَاقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. و في رواية: فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَبْكِ يَا مُعَاذُ إِنَّ الْبُكَاءَ مِنْ الشَّيْطَانِ » [أخرجه أحمد]

Wahai Mu’adz, mungkin engkau tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini, kemungkinan engkau nanti hanya bisa melewati di masjid dan kuburku“. Manakala mendengar seperti itu maka menangislah Mu’adz tersedu-sedu, karena harus berpisah dengan Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memalingkan wajah kearah Madinah, lalu berkata: “Sesungguhnya orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa dimanapun tempat dan waktunya“. Dalam sebuah redaksi Rasulallah bersabda: “Janganlah menangis wahai Mu’adz, sesungguhnya menangis termasuk dari setan”. HR Ahmad 36/376 no: 22052, 202054.

Ketika tiba waktu kematiannya beliau mengatakan: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah mencintai untuk tetap tinggal didunia ini hanya untuk bisa menggali sungai, tidak pula menanam pohon, akan tetapi, aku menyukai tetap tinggal didunia untuk bisa sholat panjang ditengah malam, dan rasa haus disiang hari yang panas, serta berdesakan dengan para ulama ditempat majelis ilmu.

Beliau meninggal karena sakit setelah terkena wabah tho’un di negeri Syam, dijelaskan dalam sebuah hadits, sebagaimana dalam musnad Imam Ahmad dair Abu Munib al-Ahdab, beliau menceritakan: “Mu’adz pernah berkhutbah di Syam, beliau menyebutkan tentang wabah tho’un yang menyebar, seraya mengatakan: “Sesungguhnya ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, dan merupakan do’a Nabi kalian, serta banyak orang sholeh yang meninggal dengan sebab itu sebelum kalian. Ya Allah, masukanlah keluarga Mu’adz bagian dari rahmat ini”.

Kemudian beliau turun dari tempat khutbahnya, kemudian masuk ke dalam rumah anaknya Abdurahman bin Mu’adz, lalu anaknya mengatakan sambil menyitir firman Allah:

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ

“(apa yang telah Kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. [al-Imran/3: 60].

Maka Mu’adz menjawab sambil menyebut firman Allah ta’ala:

سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [ash-Shaaffat/37: 102]. HR Ahmad 36/404 no: 22085.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah sang pemberani ini, kita cukupkan hanya menyebutkan dua saja yaitu:
Pertama : Cita-citanya yang tinggi, serta semangat yang tinggi untuk meraih ilmu. Karena jarak antara ke Islamannya dan waktu meninggalnya tidak lebih dari sepuluh tahun.

Berkata al-Hafidh Ibnu Hajar: “Mu’adz hidup kurang lebih tiga puluh tiga tahun, menurut pendapat yang shahih”.[3] Namun, keilmuan dirinya telah sampai pada tingkat puncaknya, sehingga terhitung dalam barisan para ulama yang memberi fatwa dikalangan para sahabat. Ini menunjukan bahwa yang namanya usia tidak diukur dengan tahun, akan tetapi dengan prestasi yang diperolehnya. Dimana Mu’adz telah mampu berprestasi hanya dalam beberapa tahun yang tidak bisa diperoleh oleh yang lainnya.

Kedua: Kerasnya dalam menyuarakan kebenaran, dan menerapkan hukum-hukum Allah pada orang-orang kafir serta para pengingkar.
Dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Burdah, beliau menceritakan: “Mu’adz bin Jabal datang menemui Abu Musa di Yaman, lalu dirinya mendapati disisi Abu Musa ada seseorang, maka beliau bertanya: ‘Siapakah orang ini? seorang Yahudi, dirinya masuk Islam namun murtad kembali menjadi Yahudi, dan sekarang kami ingin dirinya agar masuk Islam kembali, sehingga aku beri waktu dia dua bulan, jelas Abu Musa. Lalu Mu’adz mengatakan: ‘Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga kiranya kalian penggal lehernya orang ini’. akhirnya leher orang tersebut pun dipenggal. Beliau berkata: “Allah dan RasulNya yang telah memutuskan akan hal tersebut, bahwa siapa saja yang murtad kembali ke agamanya supaya dibunuh, atau Rasulallah mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah“. HR Ahmad 36/343-334 no: 22015.

Semoga Allah meridhoi Mu’adz, dan memberi balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya dinegeri kemuliaan bersama para Nabi, shidiqin para syuhada serta orang-orang sholeh, merekalah sebaik-baik teman.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah rabb semesta alam, sholawat serta salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta seluruh para sahabatnya.

[Disalin dari دروس وعبر من سيرة معاذ بن جبل رضي الله عنه Penulis Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] . Dinukil dari kitab Siyar a’lamu Nubala 1/444-445.
[2] . Siyar a’lamu Nubala 1/451-452.
[3] . Fathul Bari 7/126.

Ibrah dari Kisah Nabi Musa ‘Alaihissallam Menerima Taurat

IBRAH DARI KISAH NABI MUSA ALAIHISSALLAM MENERIMA TAURAT

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Menuju Bukit Thursina
Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyempurnakan nikmat -Nya kepada bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan memberi kekuasaan kepada mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala hendak melengkapi kenikmatan tersebut dengan menurunkan sebuah kitab yang berisi hukum-hukum syariat dan keyakinan yang diridhai.

Allah Subhanahu wa ta’ala pun menjanjikan kepada Nabi Musa ’Alaihissallam tiga puluh malam dan menggenapinya menjadi empat puluh malam. Semua itu agar Nabi Musa ‘Alaihissalam menyiapkan diri untuk menerima janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan supaya turunnya kitab itu menimbulkan kesan dan kerinduan yang luar biasa dalam hati mereka.

Sebelum berangkat, Nabi Musa ’Alaihissallam berpesan kepada Nabi Harun ’Alaihissallam agar menggantikannya membimbing bani Israil. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَٰعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيۡلَةٗ وَأَتۡمَمۡنَٰهَا بِعَشۡرٖ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةٗۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), lalu sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’.” [al-A’raf/7: 142]

Sempurnalah waktu yang dijanjikan itu empat puluh hari, dan selama waktu tersebut Nabi Musa ’Alaihissallam berpuasa siang dan malam. Kemudian, beliau  bergegas mendahului kaumnya menuju Bukit Thur dan meninggalkan Nabi Harun ’Alaihissallam memimpin bani Israil, sementara di situ juga ada Samiri. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ

“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?” [Thaha/20: 83]

Mengapa kamu tidak datang bersama kaummu? Nabi Musa berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala),

قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ

“Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Wahai Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” [Thaha/20: 84]

Sepeninggal Nabi Musa ‘Alaihissalam, bani Israil masih sabar menunggu selama beberapa hari. Sudah hampir sebulan, Nabi Musa ’Alaihissallam belum juga kembali membawa Taurat yang dijanjikan. Mereka mulai gelisah, kembali mereka menghitung hari. Nabi Harun ’Alaihissallam yang menggantikan saudaranya memimpin bani Israil berkata kepada bani Israil, “Hai bani Israil, kalian tidak halal memakan rampasan perang (ghanimah), sedangkan perhiasan bangsa Mesir yang kalian bawa adalah ghanimah. Kumpulkanlah dan timbunlah dalam tanah. Kalau Musa datang dan menghalalkannya, ambillah, tetapi kalau tidak, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kalian makan.”

Mereka mengumpulkan dan menimbunnya dalam tanah. Datanglah Samiri membawa bekas jejak kaki kuda Jibril lalu melemparkannya ke tumpukan perhiasan tersebut. Dengan izin Allah Subhanahu wa ta’ala, tumpukan itu menjadi seekor anak lembu yang bersuara. Beberapa hari kemudian, keluarlah anak lembu itu. Begitu melihatnya, Samiri berkata kepada mereka, “Inilah ilah Musa dan kalian, tetapi dia lupa.” Akhirnya, mereka tirakat di sekitar anak lembu itu dan mulai beribadah kepadanya.

Nabi Harun ’Alaihissallam dengan penuh kasih sayang terus mengingatkan mereka, “Hai kaumku, kalian sedang diuji dengan anak lembu itu. Ingatlah, Rabb kalian adalah Ar-Rahman. Ikutilah aku!” Dengan gigih, tanpa henti, Nabi Harun ’Alaihissallam bersama mereka yang masih terjaga fitrahnya berusaha menyadarkan kaum mereka. Tetapi, bukannya sadar, mereka bahkan hampir membunuh Nabi Harun ‘Alaihissalam. Mereka menegaskan kepada Nabi Harun (sebagaimana dalam ayat),

قَالُواْ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ

“Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami’.” [Thaha/20: 91]

Akhirnya bani Israil terpecah. Sebagian dari mereka mengingkari perbuatan tersebut, yaitu Nabi Harun dan 12.000 orang bani Israil, selebihnya mengikuti Samiri, menari-nari di sekeliling anak lembu tersebut. Sementara itu, Nabi Musa ’Alaihissallam sudah tiba di tempat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا  

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.” [al-A’raf/7: 143]

Untuk menurunkan kitab kepadanya,

وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ

“dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),”

memberikan wahyu, perintah dan larangan. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Nabi Musa ’Alaihissallam diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, sesampainya beliau di Thursina. Nabi Musa ’Alaihissallam mendengarnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala, bahkan dalam ayat lain (an-Nisa’/4 ayat 164), Allah Subhanahu wa ta’ala mempertegasnya dengan mashdar muakkidah; . تَكْلِيماً Ayat ini membantah keyakinan mu’aththilah yang menolak adanya sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagian mereka dengan berani mengubah harakat i’rab dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala (an-Nisa/4  ayat 164) sehingga mengubah maknanya, yang mengajak bicara adalah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Bahkan, ada pula di antara mereka yang menemui Abu ‘Amr Ibnul ‘Ala’ -salah seorang ahli qiraah sab’ah (tujuh bacaan al-Qur’an)-  agar membacanya dengan memfathahkan lafzhul jalalah sehingga menjadi wa kallamallaha Musa takliima (maknanya, Musa mengajak bicara Allah).

Abu ‘Amr menjawab, “Baiklah, anggaplah saya baca seperti yang kau inginkan, lalu bagaimana kau berbuat dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ 

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),” [al-A’raf/7: 143]

Seketika, terdiamlah orang Mu’tazilah itu. Sama seperti itu juga, bagaimana pula dia memahami firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

“Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, Lembah Thuwa.” [an- Nazi’at/79: 16]

Apakah dia akan menashabkan kata Rabb (memberi harakat fathah) pada kedua ayat yang mulia ini? Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Musa ’Alaihissallam mendengar Kalam Allah Subhanahu wa ta’ala langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan dari pohon, batu, atau yang lainnya. Seandainya Nabi Musa ’Alaihissallam mendengar dari selain Allah Subhanahu wa ta’ala; dari pohon atau batu, atau yang lainnya, niscaya tidak ada kelebihan dan keutamaan beliau dari nabi yang lain, bahkan dari bani Israil. Mengapa? Karena bani Israil mendengar Kalam Allah Subhanahu wa ta’ala langsung dari Nabi Musa ‘Alaihissalam; seutama-utama manusia yang mendengar dari Allah Subhanahu wa ta’ala pada masa itu. Akan tetapi—menurut kaum Mu’tazilah—Nabi Musa ’Alaihissallam mendengarnya bukan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, melainkan dari pohon!?

Ayat ini menunjukkan pula bahwa Kalam Allah Subhanahu wa ta’ala itu adalah suara dan huruf, yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan -Nya, bukan makna atau pikiran yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebab, kalau Kalam Allah Subhanahu wa ta’ala adalah buah pikiran atau sesuatu yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wa ta’ala, niscaya Nabi Musa ’Alaihissallam tidak dapat mendengarnya, dan tidak akan digelari Kalimur Rahman.

Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah dalam Syarah Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa siapa yang menafikan suara dia harus menerima bahwa itu berarti Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memperdengarkan Kalam- Nya kepada siapa saja, baik malaikat- Nya maupun para rasul -Nya, tetapi mengilhamkan kepada mereka Kalam tersebut. Dalam bagian lain di kitab itu juga, beliau menegaskan bahwa suara adalah sifat Dzat -Nya, tidak serupa dengan suara makhluk -Nya. Wallahu a’lam.

Kita kembali kepada kisah ini. Setelah mendengar Kalam Allah Subhanahu wa ta’ala, menerima penghargaan yang demikian tinggi, dipilih oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, Nabiyullah Musa ’Alaihissallam semakin rindu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Akhirnya, beliau berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala),

رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ  

“Wahai Rabbku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat -Mu.”

Sebuah permintaan yang wajar dan bukan terlarang. Akan tetapi, tentu saja tidak di dunia. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي

“Allah berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat -Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat -Ku’.”

Dengan penuh ketundukan dan harap, Nabi Musa ’Alaihissallam memandang gunung besar yang ada di dekatnya, apa yang terjadi? Ternyata gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa ’Alaihissallam pingsan. Itulah firman Allah Subhanahu wa ta’ala, “Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman’.” [al-A’raf/7: 143]

Setelah itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِرِسَٰلَٰتِي وَبِكَلَٰمِي فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ  وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡعِظَةٗ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  

“Allah berfirman, ‘Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah -Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu.” [al-A’raf/7:144-145]

Allah Subhanahu wa ta’ala memilih dan mengutamakan beliau dari sekalian manusia pada masa itu, tidak mencakup masa sebelum atau sesudahnya. Hal itu karena sebelum beliau, yang paling utama adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, sedangkan sesudah beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,.

Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa salah satu keistimewaan Taurat adalah dia ditulis sendiri oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kedua Tangan -Nya yang mulia.

[Disalin dari دروس وعبر من قصة موسى عليه السلام Penulis Harits Abu Muhammad, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]

Kisah Pasukan Bergajah

KISAH PASUKAN BERGAJAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya tujuan terpenting Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan al-Qur’an disamping untuk menjadi panutan ialah agar dipahami maknanya lalu diamalkan isi kandungannya, seperti sinyalemen yang berada di dalam salah satu ayat -Nya, yaitu:

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”. [Muhammad/47: 24].

Diantara sekian banyak surat-surat pendek yang sering kita dengar ditelinga adalah surat al-Fiil, sehingga hal itu memotivasi kita untuk lebih memahami dan menyelami isi dan kandungan hukum yang tersimpan didalam surat tersebut. surat al-Fiil di mulai dengan kisah perjalanan pasukan gajah, Allah ta’ala menjelaskan:

 أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ ١ أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ ٢ وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ ٣ تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ ٤ فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. [al-Fiil/105: 1-5]

Tafsir Ayat:
Allah Shubhanahu wa ta’ala memulai suratnya dengan ayat yang mengkisahkan tentang pasukan bergajah, Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” [al-Fiil/105: 1].

Al-Hafidh Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya: “Ini merupakan nikmat yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada orang-orang Quraisy yaitu tatkala Allah menghindarkan bencana atas mereka dari pasukan bergajah. Yang telah bertekad untuk menyerang dan menghancurkan Ka’bah serta menghilangkan jejak dan semua sisa-sisa yang berkaitan dengannya, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’ala membinasakan mereka semua, sehingga ambisi mereka berantakan, rencananya gagal, usahanya pun tidak membuahkan hasil, dan mereka kembali dalam keadaan ketakutan dan binasa.

Pasukan bergajah tersebut adalah dari kaum Nashrani, yang pada masa tersebut merupakan agama yang mendekati keadaan paganisme yang telah mengurat dalam darah daging suku Quraisy. Namun, dengan adanya kejadian ini seperti sebuah tanda dan sinyalemen saatnya di utus Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka pada tahun yang sama beliau lahir berdasarkan pendapat yang valid dari kalangan para ulama, seakan-akan takdir tersebut menjelaskan, “Wahai orang Quraisy, kami tidak menolong kalian dari tentara Habasyah tersebut karena kalian lebih baik atas mereka, bukan sebab itu, akan tetapi untuk menjaga rumah tua yang sebentar lagi akan kami muliakan, kami agungkan dan kami jadikan berwibawa dengan diutusnya utasan kami yaitu nabi yang buta baca tulis Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para nabi”.[1]

Kisah Ringkasnya Tentang Pasukan Bergajah:
Dikisahkan, bahwa gubernur Yaman pada saat itu yang bernama Abrahah punya ambisi kuat agar manusia mau beralih melakukan haji ke Ka’bah menuju negerinya sehingga untuk mewujudkan ambisinya tersebut dirinya membangun sebuah gereja yang menyerupai Ka’bah. Lalu ia mulai menyebarkan ambisinya dengan mengajak orang untuk berhaji ketempatnya, dalam rangka mencegah mereka berhaji ke rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla, mendengar berita itu orang-orang Arab marah besar, sehingga ada seorang dari kalangan mereka yang datang berkunjung pada gereja itu, yang dijadikan oleh penguasa Yaman sebagai Ka’bah, kemudian pada suatu ketika orang Arab tadi buang kotoran lalu melumurkannya pada tembok gereja.

Mengetahui kejadian itu, gubernur murka besar, dan ketika mengetahui bahwa itu adalah perbuatannya orang Arab, maka dirinya memobilisasi pasukan besar menuju Makah, dan yang menjadi tunggangan mereka adalah gajah. Di tengah jalan tatkala melewati negeri Khats’am mereka dihadang oleh Nufail bin Habid al-Khats’ami bersama kaumnya. Namun, dengan mudahnya mereka dikalahkan dan dihancurkan oleh Abrahah hingga akhirnya Nufail bin Habib menjadi tawanan mereka. Setelah itu dirinya dibawa dijadikan sebagai penunjuk jalan ke negeri Hijaz.

Dan ketika Abrahah sudah mendekati kota Makah dan sudah siap-siap memasukinya, dan tengah mempersiapkan gajahnya yang berbadan paling besar yang bernama Mahmud dan memobilisasi pasukannya ke arah Makah, datanglah Nufail bin Habib dan berdiri disamping gajah itu, lalu memegang telinganya sambil membisikan, “Mogoklah, hai Mahmud! Kembalilah dengan benar ke tempat dari mana kamu datang, sebab, kamu kini sedang berada di negeri Allah Shubhanahu wa ta’alla yang haram“. Kemudian dia melepaskan telinganya. Tidak lama kemudian gajah itu benar-benar mogok tidak mau berdiri. Nufail bin Habib lalu segera pergi dan berlari kencang menuju gunung dan naik ke puncaknya, menyatu bersama warga Quraiys.

Adapun bala tentara bergajah, maka mereka memukuli gajahnya agar mau berdiri, namun gajah tersebut tidak mau bergeming. Mereka mencoba memukul dengan cambuk dan memasukan senjata kebagian tubuh yang lembek lalu menekannya supaya gajahnya mau berdiri, namun tetap saja tidak berhasil. Anehnya, tatkala mereka mengarahkan gajahnya ke arah Yaman maka segera bangkit dan berjalan cepat, ketika di arahkan menuju Syam juga demikian, bangkit dan berjalan cepat, ke arah timur juga demikian, akan tetapi, ketika di arahkan menuju Makkah, gajahnya langsung duduk.

Dalam kondisi seperti itu, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengirim kepada mereka burung dari arah laut, yang bagaikan layang-layang menyambar dengan berbondong-bondong, dan setiap burung membawa tiga buah batu seukuran kerikil. Satu berada diparuhnya dan yang dua dikakinya, tidak ada satu batu pun yang menimpa kepala mereka melainkan pasti hancur. Dan tidak semuanya pasukan ini terkena lemparan batu tersebut, maka mereka lari berpencaran mencari jalan pulang, lalu mereka bertanya kepada Nufail supaya memberi tahu arah jalan pulang ke negerinya, sedangkan Nufail sudah berada dipuncak gunung bersama warga Quraiys dan warga Arab lainnya, melihat kejadian dan siksaan Allah Shubhanahu waa ta’alla yang Maha dahsyat atas pasukan bergajah tersebut. Sehingga Nufail melantunkan bait syairnya:

Tiada tempat berlari, bila Tuhan yang mengejarnya
Dan Asyram lah yang kalah, bukan yang menang

Dan kejadian itu terjadi tepatnya empat puluh tahun sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagian saksi mata peristiwa itu masih hidup manakala Muammad di angkat menjadi utusan.

Kemudian Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat kedua:

أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ

“Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?”. [al-Fiil/105: 2].

Maksudnya bukankah Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menjadikan tipu daya mereka serta usaha yang mereka lakukan untuk menghancurkan Ka’bah sebagai perbuatan yang tidak punya pegangan yang mengantarkan pada kebinasaan mereka?

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan sebab kehancuran mereka:

وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ

“Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong”.  [al-Fiil/105: 3].

Maksudnya sekumpulan burung yang berpencar, dan burung ini berwarna hitam dari arah lautan dengan berbondong-bondong. Pada tiap burung membawa tiga buah batu kerikil, dua batu di kakinya dan satunya lagi diparuhnya, tidaklah batu tersebut mengenai sesuatu melainkan menghancurkanya.

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan tugas burung tadi dengan mengatakan:

 تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ

“Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar”. [al-Fiil/105: 4].

Para ulama tafsir ada yang mengatakan batu tersebut terbuat dari tanah yang terbakar di neraka Jahanam yang sudah diperuntukan khusus untuk mereka dengan tertulis nama-nama kaum tersebut. dan apabila batu tersebut mengenai mereka maka menembus sampai keluar dari duburnya. Dan ukuran batu itu seperti kerikil kecil. Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla menerangkan akhir dari perjalanan anak manusia yang sombong dimuka bumi ini, Allah ta’ala berfirman:

فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ

“Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.  [al-Fiil/105: 5]

Yaitu mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat lalu ulat tersebut melemparkan sisanya jatuh kebawah. Ada yang mengatakan, maksudnya mereka seperti dedaunan yang di makan ulat sehingga tinggal batangnya.

Adapun maksud ayat secara global, bahwa Allah ta’ala menghancurkan serta memporak porandakan tipu daya yang mereka rencanakan sehingga mereka tidak mendapat keuntungan sedikit pun. Allah ta’ala membinasakan mereka semua kecuali satu tentara yang mengabarkan pada kaumnya, namun kondisinya terluka parah seperti halnya raja mereka Abrahah. Kondisi tentara tadi terbelah dada dan hatinya hingga ketika sampai di negerinya Shan’a dan mengabarkan kejadiannya lalu setelah itu diapun mati.

Pelajaran dari Surat ini:
Pertama : Inilah akhir perjalanan dari setiap orang yang menentang Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memerangi Allah Shubhanahu wa ta’alla serta menghalalkan apa yang telah diharamkan. Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam ayat yang lain:

وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۢ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”.  [al-Hajj/22: 25]

Didalam sebuah hadits, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ. قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ » [أخرجه البخاري ومسلم ]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni seorang yang zalim hingga ketika Allah menyiksanya, Dia tidak memperdulikannya”. Kemudian beliau membaca firman Allah:

 وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab -Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. [Huud/11: 102] HR Bukhari no: 4686. Muslim no: 2483.

Kedua : Kekuasaan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha perkasa. Dan -Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat lain:

 إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”. [Yaasin/36: 82].

Dalam ayat lain Allah ta’ala menjelaskan:

 وَمَآ أَمۡرُنَآ إِلَّا وَٰحِدَةٞ كَلَمۡحِۢ بِٱلۡبَصَرِ

“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”. [al-Qomar/54: 50].

Dan tidak ada yang menghalangi kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk melakukan segala sesutau, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعۡجِزَهُۥ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمٗا قَدِيرٗا

“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”. [Faathir/35: 44]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari وقفات مع سورة الفيل Penulis Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/455.

Jin Mukmin Juga Masuk Surga

JIN MUKMIN JUGA MASUK SURGA

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ ﴿٢٩﴾ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿٣٠﴾ يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣١﴾ وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`ân, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh dan berimanlah kepadanya, niscaya Allâh akan mengampuni dosa-dosa kamu  dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allâh di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. [al-Ahqâf/46 :29-32].

Penjelasan Ayat
Dalam ayat-ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia Azza wa Jalla mengarahkan (menghadapkan) sejumlah jin  yang berjumlah kurang dari sepuluh. Jin-jin itu mendengarkan bacaan al-Qur`ân yang sedang dibaca oleh Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari jin itu saling meminta yang lainnya untuk menyimak qirâ`ah Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan baik. Usai menyimak bacaan Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam, mereka beranjak pulang untuk memperingatkan kaum mereka. Untuk menyampaikan kepada kaum mereka, bahwa mereka baru saja mendengarkan satu kitab suci yang diturunkan setelah Musa Alaihissallam, yang memberikan petunjuk menuju al-haqq dan menuju jalan yang lurus.

Dalam dakwahnya itu, mereka berkata: أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ (terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh), yaitu Rasûlullâh Muhammad Shalllallahu ‘alaihi wa sallam  ( وَآمِنُوا بِهِ dan berimanlah kepadanya) agar kalian memperoleh maghfirah (ampunan) dan selamat dari siksa yang pedih. Barangsiapa tidak menyambut seruan dakwah ini, ia tidak akan bisa mengalahkan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla akan menyiksanya atas penolakannya terhadap dakwah tersebut. Tidak ada yang akan bisa menyelamatkan dirinya dari siksa Allâh Azza wa Jalla. Sungguhnya ia berada dalam kesesatan yang nyata.

Dalam ayat ini terkandung satu petunjuk dalil, bahwa Nabi Muhammad Shalllallahu ‘alaihi wa sallam diutus juga kepada bangsa jin. Dalil yang menunjukkan hal tersebut, ialah ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân yang berisi khithâb kepada jin dan manusia, dan firman Allâh Azza wa Jalla di dalam surat tersebut :   فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ      Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?  yang berulang 31 kali.

Ada dua persoalan berkait dengan ayat-ayat ini.
Pertama : Tidak ada rasul dari kalangan jin, tetapi yang ada adalah nudzur (para pemberi peringatan). Tidak ada dalil yang menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin.

Sedangkan firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-An’âm dan surat al-Ar’âf yaitu firman-Nya :

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu [al-An’âm/6:130. Lihat juga al-A’râf/7:35].

Kata رُسُلٌ (rusulun) pada ayat tersebut tidak menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin, akan tetapi rasul-rasul yang diutus untuk dua golongan sekaligus, yaitu manusia dan jin.

Pada ayat-ayat di atas pun termuat isyarat terhadap perkara tersebut, karena jin mengatakan :

إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ

Sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Mûsâ.

Jin-jin itu tidak menyebutkan kitab yang diturunkan kepada salah satu dari kalangan mereka, dan juga seorang rasul khusus yang diutus kepada mereka. Mereka hanya menyebutkan Mûsâ Alaihissallam dan kitabnya (Taurat). Dan setelah kitab Musa, diturunkan kitab Zabur dan Injil. Jin-jin itu pun tidak menyebut dua kitab tersebut, padahal turun setelah Taurat, karena keduanya menyempurnakan kitab Taurat dan memuat sejumlah hukum-hukum Taurat.

Kedua : Apakah pahala yang didapatkan jin atas keimanannya adalah maghfirah dan keselamatan dari siksa yang pedih saja (seperti diungkap ayat al-Ahqâf/46 : 31 di atas), ataukah selain itu mereka juga masuk surga ?

Sebagian Ulama berpendapat, balasan yang diperoleh jin adalah ampunan dosa-dosa mereka dan perlindungan dari siksa yang pedih saja, sebagaimana ditunjukkan oleh tekstual ayat-ayat di atas.

Sementara Jumhur Ulama berpendapat –dan pendapat mereka itulah yang benar- bahwa balasan jin-jin yang beriman adalah selamat dari siksa dan masuk surga. Hal ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46].

Ayat ini mencakup obyek jin dan manusia, sebab khithâb (arah pembicaraan ayat ini) tertuju kepada dua golongan, manusia dan jin dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Tidak ada kontradiksi ayat-ayat di surat al-Ahqâf dan ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân. Sebab, yang terdapat dalam surat al-Ahqâf itu menyebutkan sebagian balasan yang mereka peroleh. Sementara kandungan yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân menunjukkan balasan baik yang lain bagi mereka, yaitu masuk surga.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menguatkan pendapat kedua, bahwa jin Mukmin akan mendapat balasan  masuk Surga melalui beberapa sisi pendalilan. Beliau rahimahullah berkata –secara ringkas- , “Yang benar, jin-jin Mukmin, seperti kaum Mukminin, akan masuk surga sebagaimana disampaikan oleh sejumlah Ulama Salaf. Di antara mereka berdalil dengan firman Allâh berikut :

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin). [ar-Rahmân/55:56].

Namun dalam istidlâl (berdalil) dengan ayat ini fîhi nazhar (masih menyisakan tanda tanya). Yang lebih baik dari istidlâl tersebut, adalah istidlâl dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46]

Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan anugerah yang diberikan-Nya kepada bangsa manusia dan jin, dengan menjadikan surga sebagai balasan bagi mereka yang berbuat baik. Tidak mungkin Allâh Azza wa Jalla menyebutkan nikmat bagi mereka yang tidak mungkin mereka peroleh. Begitu pula, Allâh Azza wa Jalla membalas jin kafir dengan neraka – ini merupakan satu bentuk keadilan- , maka dibalasnya jin-jin Mukmin dengan balasan surga – yang merupakan petunjuk limpahan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla  – pantaslah Allâh Azza wa Jalla melakukannya.

Dalil lain yang menunjukkan jin mukmin akan masuk surga, ialah keumuman firman Allâh Azza wa Jalla,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

Sesungguhnya yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal” [al-Kahfi/18:107]  juga ayat-ayat lainnya.

Apa yang diungkapkan Ulama bahwa balasan keimanan jin adalah digugurkannya dosa-dosa mereka dan dihindarkan dari siksa yang pedih. Hal ini secara otomatis bermakna mereka masuk surga. Sebab, di akhirat, tidak ada kecuali surga dan neraka saja. Siapa saja yang dilindungi dari neraka, berarti ia masuk surga, itu pasti. Tidak ada nash yang tegas ataupun zhahir dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan jin yang Mukmin tidak masuk surga, meskipun telah diselamatkan dari neraka. Seandanya ada dalil yang shahîh, pastilah kami akan berpendapat dengan mengikutinya. Wallâhu a’lam.

Hidayatul Âyat (Beberapa Pelajaran Dari Ayat)

  1. Penetapan adanya alam jin. Karenanya, pengingkaran terhadap keberadaan jin seperti pengingkaran terhadap malaikat, hukumnya kufur.
  2. Kewajiban sopan saat membaca al-Qur`ân dan mendengarkannya.
  3. Kewajiban menyampaikan ajaran dari Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits, Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.
  4. Berpaling dari agama Allâh Azza wa Jalla akan menyebabkan jauh dari taufik dan rahmat.

Maraji:

  1. Min Kunûzi al-Qur`ânil Karîm Tafsîru Âyâtin minal Kitâbil ‘Azîz, dari himpunan karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh dalam Kutub wa Rasâ’ilu ‘Abdil Muhsin bin Hamd al’Abbâd al-Badr Daar at-Tauhiid Riyaadh, Cet. I Th. 1418H, 1/300-3003.
  2. Aisaru at-Tafâsîri li Kalâmi al-‘Aliyyil Kabîr , Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulûm wal Hikam Cet. VI. Th.1423H 2/1232. (Disusun oleh : Ustadz Abu Minhal, Lc)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVI/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Orang Kafir Tidak Akan Masuk Surga, Sampai Ada Onta Masuk Lobang Jarum!

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA ONTA MASUK LOBANG JARUM!

Oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. [al-A’râf/7:40-42].

Muqaddimah
Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beriman dan beribadah kepada-Nya. Namun di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang-orang kafir akan mendapat kecelakaan.

Di antara kecelakaan terbesar bagi orang-orang kafir adalah mereka tidak akan masuk surga, hingga ada onta masuk ke lubang jarum, dan ini mustahil. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan hakikat ini di dalam ayat-ayat ini.

Penjelasan Ayat
Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allâh Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan’ hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami, tidak membenarkannya, dan tidak mengikuti rasul-rasul Kami, ‘dan menyombongkan diri terhadapnya,’ takabbur dari membenarkannya, enggan mengikuti dan tunduk kepadanya karena sombong.[1]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

  لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit. 

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allâh Azza wa Jalla , karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk, sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allâh hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang shâlih, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang shalih dinaikkan-Nya. [Fâthir/35:10]”[2]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

  وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

 dan mereka tidak (pula) masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum.

 Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya penekanan pada kemustahilannya. Seperti dikatakan (dalam bahasa Arab) ‘aku tidak melakukannya hingga burung gagak beruban, atau hingga aspal menjadi putih’, maksudnya, aku tidak melakukannya selamanya”.[3]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”.[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

  لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

 (Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka).

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, “Allâh menghendaki, neraka meliputi mereka dari seluruh sisi, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka, dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). [az-Zumar/39:16].[5]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shâlih.

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Setelah Allâh menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat lagi zhalim, Dia Azza wa Jalla menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Allâh berfirman,  Dan orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal-amal yang shâlih, dengan anggota badan mereka, sehingga mereka menggabungkan antara iman dan amal, antara amal-amal lahir dan batin, antara melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.”[6]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya).

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Karena firman-Nya “mengerjakan amal-amal yang shâlih,” adalah lafazh umum yang mencakup seluruh amal-amal shâlih, baik yang wajib maupun yang mustahab, dan bisa jadi sebagiannya tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, (maka) Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya”, yaitu seukuran dengan kekuatannya, dan tidak berat terhadapnya. Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah bertakwa kepada Allâh sesuai dengan kemampuannya, jika tidak mampu melakukan sebagian kewajiban, yang orang lain mampu melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.[al-Baqarah/2:286]

 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Allâh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allâh berikan kepadanya. [ath-Thalâq/65:7].

  وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali Dia (Allâh) tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [al-Hajj/22:78].

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allâh menurut kesanggupanmu. [at-Taghâbun/64:16].

Maka tidak ada kewajiban jika tidak mampu, dan tidak ada yang haram ketika dalam keadaan darurat.”[7]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 Mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

Yaitu mereka tidak akan berpindah darinya dan mereka tidak akan mencari ganti terhadap surga, karena di dalamnya mereka melihat bermacam-macam kelezatan dan perkara-perkara yang disukai yang berada pada puncaknya, dan tidaklah dicari yang lebih tinggi darinya.[8]

Faidah Ayat
Sangat banyak faidah, pelajaran dan petunjuk dari ayat-ayat ini, antara lain:

  1. Mendustakan ayat Allâh Azza wa Jalla dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kufur akbar (kekafiran besar).
  2. Penjelasan balasan orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadapnya, balasannya adalah tidak akan masuk surga selamanya.
  3. Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati.
  4. Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allâh, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.
  5. Kewajiban agama yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya.
  6. Iman dan amal shalih akan menghantarkan kemuliaan di dunia dan akhirat dan sebab masuk su

Peringatan
Sebagian orang beranggapan bahwa ayat ke-40 dari surat al-A’râf ini sebagai dalil bahwa “orang-orang Mukmin yang masuk neraka tidak akan keluar selama-lamanya”, maka ini merupakan kesesatan dan kebodohan yang nyata. Karena awal ayat ini jelas menunjukkan bahwa ini balasan untuk orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allâh dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum.

Karena perbuatan mendustakan ayat-ayat Allâh dan menyombongkan diri terhadapnya adalah kufur akbar (kekafiran yang besar). Sehingga orang-orang kafir akan masuk neraka, dan tidak akan keluar selama-lamanya. Dan ayat ini tidak menunjukkan bahwa semua orang-orang yang masuk neraka tidak akan keluar selama-lamanya.

Demikian juga anggapan bahwa “orang-orang yang masuk neraka tidak akan keluar selama-lamanya” secara umum, adalah pendapat firqah (golongan sesat) Khawarij dan Mu’tazilah. Sedangkan Ahlus-Sunnah berkeyakinan bahwa orang-orang yang akan memasuki neraka ada dua golongan, yaitu: (1) orang-orang kafir, mereka kekal di dalam neraka, (2) orang-orang mukmin yang berbuat dosa besar, mereka akan keluar dari neraka dan akan masuk surga.

Hadits-hadits yang memberitakan bahwa sebagian orang-orang mukmin akan masuk neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, kemudian akan keluar dan masuk surga sangat banyak sekali. Dan hal itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur`ân.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Adapun penduduk neraka yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allâh) akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diidzinkan mendapatkan syafa’at. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir. (HR Muslim no. 185).

Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, amîn, al-Hamdulillâhi Rabbilalamîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1435H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir Thabari, 12/421.
[2] Tafsir ath-Thabari, 12/421.
[3] Tafsir al-Baghawi, 3/229.
[4] Taisir KarimirRahmân.
[5] Tafsir al-Baghawi, 3/229.
[6] Taisir KarimirRahmân, 1/289.
[7] Taisir KarimirRahmân.
[8] Taisir Karimir Rahmân.