Author Archives: editor

Hinanya Hati yang Keras

HINANYA HATI YANG KERAS

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, M.A

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. [az-Zumar/39:22]

Ringkasan Tafsir[1]
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam”, yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya, bertauhid kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang baik bagi seseorang.

“Lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya”, yaitu cahaya kebenaran yang membuat hatinya bertambah yakin.  Apakah mereka itu sama dengan orang yang hatinya keras? Tentu saja tidak sama.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh”, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika diingatkan akan Allâh, tidak khusyû’, tidak paham, tidak sadar dan selalu membangkang.

“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” yang  akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan.

Hati Memiliki Sifat
Setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat tersebut pun bisa berubah-ubah setiap waktu. Begitu pula hati, dia pun memiliki sifat. Hati bisa menjadi sehat dan juga bisa menjadi sakit. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allâh penyakitnya …. [al-Baqarah/2:10]

Hati juga bisa menjadi lunak dan juga bisa menjadi sekeras batu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. [al-Baqarah/2:74]

Begitu pula hati bisa mengkilap, bersinar dan bisa juga menjadi hitam kelam sebagaimana diterangkan di beberapa hadits Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang Muslim memperhatikan kondisi hatinya setiap saat, jangan sampai menjadi hati yang keras atau mulai mengeras sehingga nantinya akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Bahaya Hati yang Keras
Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras sangat tercela dan dalam kesesatan yang nyata. Mâlik bin Dînâr t pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allâh Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka [2]

Tanda-tanda Hati yang Keras atau Mulai Mengeras
Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
  2. Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat al-Qur’ân yang dibacakan. Berbeda dengan kaum mu’minîn, hati mereka akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat al-Qur’ân atau diingatkan akan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh  gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal [al-Anfâl/8:2]

  1. Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman.

 اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

Dan tidakkah mereka (orang-orang munâfiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [at-Taubah/9:126]

  1. Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allâh Azza wa Jalla
  2. Bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya di atas akhirat
  3. Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah
  4. Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati mereka. Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. [ash-Shaf/61:5]

  1. Tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan ma’ruf dan munkar.

Sebab-sebab Kerasnya Hati
Hati menjadi keras tentu ada penyebabnya. Penyebab-penyebab kerasnya hati di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan.

Inilah sebab yang paling besar yang dapat menutupi hati seseorang dari menerima kebenaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena mereka telah mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim [Ali ‘Imrân/3:151]

  1. Mengingkari perjanjian yang dibuat kepada Allâh Azza wa Jalla

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka kami laknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. [al-Mâ-idah/5:13]

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Abu Bakr Al-Jazâiri, “Melanggarnya (perjanjian) dengan (car) tidak konsisten dengan apa yang ada di dalamnya yang berupa perintah dan larangan.”[3]

  1. Banyak tertawa

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُكْثِرُوا الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Janganlah kalian banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati [4]

  1. Banyak berbicara dan banyak makan

Bisyr bin al-Hârits pernah berkata, “(Ada) dua hal yang dapat mengeraskan hati: banyak berbicara dan banyak makan.”[5]

  1. Banyak melakukan dosa

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ ، صُقِلَ قَلْبُهُ ، فَإِنْ زَادَ ، زَادَتْ ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ : [[ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ]]

Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan dosa, maka akan ada bintik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat dan berhenti (dari dosa tersebut) serta memohon ampunan, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia terus melakukan dosa, maka bertambah pula noktah hitam itu. Itu adalah ar-rân (penutup) yang disebutkan oleh Allâh di kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [al-Muthaffifîn/83:14]

  1. Lalai dari ketaatan

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allâh), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allâh) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allâh). Mereka itu seperti binatang-binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. [-A’râf/7:179]

  1. Lagu-laguan dan alat musik

‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata:

الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ

Lagu-laguan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati [6]

  1. Suara wanita yang menggoda

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

 إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Maka janganlah kamu tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik (QS. al-Ahzâb/33:32)

  1. Melakukan hal-hal yang merusak hati

Hal-hal yang merusak hati sangatlah banyak. Akan tetapi, dari semua itu ada lima hal yang menjadi faktor  perusak hati. Kelima hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Qayyim t : “Adapun lima hal yang merusak hati adalah banyak bergaul (berkumpul dengan manusia), (banyak) berangan-angan, tergantung kepada selain Allâh Azza wa Jalla , kekenyangan (banyak makan) dan (banyak) tidur. Inilah kelima hal utama yang dapat merusak hati ”[7]

Obat Hati yang Keras
Hati yang keras juga memiliki obat agar dia bisa kembali melunak. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat melunakkan hati:

  1. Beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan selalu meningkatkan keimanan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allâh niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya [at-Taghâbun/64:11]

  1. Banyak mengingat Allâh (ber-dzikr) dan membaca al-Qur’ân dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya).

Allâh  Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram [ar-Ra’d/ : 28]

  1. Belajar ilmu syar’i (ilmu agama)

Tidak diragukan lagi, bahwa ilmu syar’i dapat membimbing seseorang untuk menjadi hamba Allâh Azza wa Jalla yang bertakwa. Di awal surat Ali ‘Imrân, Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang memiliki ilmu yang dalam. Tahukah pembaca, doa apakah yang mereka ucapkan? Doa yang diucapkan oleh mereka adalah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati-hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia). [Ali ‘Imrân/3:8]

Merekalah yang lebih tahu akan Rabb-nya bila dibandingkan orang-orang awam dan mereka juga lebih tahu bahwa hati manusia bisa berubah-ubah, sehingga mereka berdoa dengan doa tersebut.

  1. Berlindung kepada Allâh dari hati yang tidak khusyû dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang bermanfaat, dari hati yang tidak khusyû’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan [8]

  1. Berbuat baik terhadap anak yatim dan orang miskin

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya seseorang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hatinya yang keras. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pun bersabda:

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim [9]

  1. Banyak mengingat kematian

Diriwayatkan dari Shafiyah x bahwasanya seorang wanita mendatangi ‘Âisyah x dan mengadukan keadaan hatinya yang keras. Kemudian ‘Âisyah pun berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.” Kemudian wanita itu pun mengerjakannya. Setelah itu, dia pun mendapatkan petunjuk di hatinya dan bersyukur kepada ‘Âisyah radhiallâhu ‘anhâ.[10]

Sa’îd bin Jubair[11] dan Rabî’ bin Abi Râsyid[12] rahimahumallâh pernah berkata:

لَوْ فَارَقَ ذِكْرُ الْمَوْتِ قَلْبِي سَاعَةً خَشِيت أَنْ يَفْسُدَ قَلْبِي

Seandainya mengingat kematian terpisah dari hatiku sekejap saja, saya takut hatiku akan menjadi rusak

  1. Banyak berziarah kubur

Abu Thâlib, seorang murid Imam Ahmad, pernah berkata, “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillâh (Imam Ahmad) tentang bagaimana melunakkan hatinya. Beliau pun menjawab, ‘Masuklah ke dalam pemakaman dan usaplah kepala anak yatim.’.”[13]

  1. Menghadiri majlis ta’lim dan majlis nasihat

Menghadiri majlis-majlis seperti ini sangat berpengaruh terhadap hati manusia. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh al-‘Irbâdh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu , “Pada suatu hari Rasûlullâh Shalllallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat, kemudian menghadap ke kami dan memberikan nasihat yang sangat menyentuh, yang membuat mata-mata menangis dan hati-hati menjadi takut.”[14]

  1. Menjauhi sebab-sebab terjadinya fitnah dan dosa

Agar hati kita tidak menjadi keras, maka kita berusaha sekuat mungkin untuk menjauhi sebab-sebab terjadinya dosa atau fitnah. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla melarang para Sahabat bertanya atau meminta sesuatu hal kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari belakang tabir.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka [al-Ahzâb/33:53]

  1. Makan makanan yang halal

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Dengan apa hati bisa menjadi lunak?” Kemudian beliau pun menjawab, “Ya bunayya (wahai anakku)! Dengan makan makananan yang halal.”[15]

  1. Shalat malam
  2. Beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh di waktu sahûr (sebelum Subuh)
  3. Berteman dengan orang-orang yang soleh

Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah pernah berkata:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاء : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ, وَخَلَاءُ الْبَطْنِ, وَقِيَامُ اللَّيْلِ, وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحْرِ, وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ

Obat hati ada lima macam, yaitu: membaca al-Qur’ân dengan men-tadabburi-nya, mengosongkan perut, shalat malam, mendekatkan diri (kepada Allâh) di waktu sahûr dan duduk-duduk (berteman) dengan orang-orang yang soleh[16]

Kesimpulan

  1. Hati memiliki sifat-sifat yang bisa berubah-ubah.
  2. Orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima agama Islam dan taat kepada Allâh tidak sama dengan orang yang berhati keras.
  3. Orang yang berhati keras akan mendapatkan ancaman yang sangat besar
  4. Orang yang berhati keras memiliki sifat-sifat tertentu seperti yang sudah dipaparkan di atas. Seyogyanya seorang Muslim selalu melakukan introspeksi diri.
  5. Hati bisa menjadi keras disebabkan oleh beberapa hal. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menjauhi sebab-sebab tersebut.
  6. Hati yang keras pun dapat diobati dengan berbagai cara yang telah disebutkan.
  7. Orang-orang yang telah terjerumus kepada kemaksiatan atau merasa bahwa hatinya sangat keras, maka harus segera bertaubat dan Allâh akan mengampuni orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.

Mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan Allâh selalu menjaga hati kita agar tetap lunak. Amin.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ. آمِيْن

Daftar Pustaka

  1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri.
  2. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tunusia: Dar Sahnûn.
  3. Dzammu Qaswatil-Qalb. Al-Hâfizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dan muqaddimah muhaqqiq-nya, Abu Maryam Thâriq bin ‘Âtif Hijâzi. Dâr Ibni Rajab.
  4. Dzammul-Hawâ. ‘Abdurrahmân bin Abil-Hasan al-Jauzi. Tahqîq : Mushthafâ ‘Abdul-Wâh
  5. Jâmi’ul-Bayân fî ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jarîr ath-Thabari. Beirut: Muassasah ar-Risâlah.
  6. Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
  7. Madârijus-Sâlikîn. Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beirut: Dâru Ihyâ’ At-Turâts Al-‘Arabi.
  8. Syu’abul-Îmân. Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. 2003 M/1423 H. Riyâdh: Maktabatur-Rusyd.
  9. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm. Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
  10. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diringkas dari Tafsîr at-Thabari XXI/277-278, Tafsîr Ibni Katsîr III/334-336 dan VII/93 dan at-Tahrîr wa At-Tanwîr XXIV/63-64.
[2] Ma’âlimut-Tanzîl VII/115.
[3] Aisarut-Tafâsîr I/338.
[4] HR. Ibnu Mâjah no. 4193 dan yang lainnya (Dinyatakan shahîh oleh Syaikh Al-Albâni di Shahîh Ibni Mâjah).
[5] Hilyatul-Auliyâ’ VIII/350 .
[6] HR.  al-Baihaqi dalam Syu’abil-Îmân VII/107 dan yang lainnya (Hadîts mauqûf ini dinyatakan shahîh isnâd-nya oleh Syaikh Al-Albâni dalam Silsilah Adh-Dha’îfah ketika men-takhrîj hadîts no. 2430).
[7] Madârijus-Sâlikîn I/343.
[8]  HR. Muslim no. 7081 dan yang lainnya.
[9]  HR. Ahmad no. 7576 dan 9018. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah no. 854.
[10] HR. Ibnu Abi ad-Dunya (takhrîj ini dinukil dari kitab Dzammu Qaswatil-qalb).
[11] HR. Ahmad dalam az-Zuhd no. 2006, Hilyatul-Auliya’ IV/276 dan yang lainnya.
[12] HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf XIII/562 dan yang lainnya.
[13] Thabaqât al-Hanâbilah I/39.
[14] HR. Abu Dâwud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Mâjah no. 43 (Hadîts ini dinyatakan shahîh oleh Syaikh Al-Albâni dalam Shahih Abi Dâwûd).
[15] Hilyatul-Auliyâ’ IX/182.
[16] Dzammul-Hawâ I/70.

Jumlah Banyak Bukan Barometer Kebenaran

JUMLAH BANYAK BUKAN BAROMETER KEBENARAN

Jika ada seseorang menyaksikan banyak manusia mengucapkan satu pendapat yang sama atau meyakini sesuatu yang serupa, kondisi demikian akan mudah mendorongnya untuk mengikuti ucapan dan keyakinan mereka. Sebab, seperti diungkapkan pepatah Arab, manusia itu bak gerombolan burung, sebagian akan mengikuti lainnya. Dan pada gilirannya, akan menanamkan kesan pada benak orang tersebut bahwa pendapat yang menyalahi mereka merupakan pendapat yang keliru dan salah, dan otomatis orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka pun ia anggap kumpulan orang yang salah jalan (baca: sesat). Ya, apapun pendapat, keyakinan dan kebiasaan mayoritas manusia, kendatipun  salah, keliru dan menyimpang.

Dengan melihat fakta di atas, maka tidaklah adil dan ilmiah bila kuantitas dijadikan sebagai barometer al-haq (kebenaran). Bila mayoritas manusia memang berada di atas al-haq, dengan mengagungkan nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah serta berkomitmen tinggi untuk mengamalkannya secara keseluruhan dan mendakwahkannya, maka itulah kondisi yang ideal bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Komunitas sosial yang lurus tersebut akan menjadi media yang kondusif bagi perkembangan anak-anak dan generasi selanjutnya. Mereka akan memiliki teladan baik dan contoh luhur dalam aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah serta aspek-aspek keagamaan lainnya.

Namun, persoalan akan muncul bila mayoritas berada dalam kondisi sebaliknya; ideologi yang berkembang tidak pernah dikenal di masa Salafush-Shâlih, taklid buta menjadi dasar agama, tradisi lokal sangat diagungkan, hadits-hadits palsu diamalkan, kaifiyah ibadah baru lagi tak berdasar menjadi ‘sunnah’ yang mesti dipertahankan. Pengaruh mayoritas ini dalam masyarakat tersebut akan menyeret anak-anak, generasi muda Islam dan orang-orang jahil serta orang muallaf memahami Islam tidak sebagaimana mestinya. Mungkin saja, mereka menjadi pihak yang superior, tapi yang pasti, standar al-haq (kebenaran) bukanlah berdasarkan besarnya jumlah massa suatu kelompok dan kekuatan otot mereka.

MENURUT AL-QUR`ÂN, KEBANYAKAN MANUSIA  TIDAK BERADA DI ATAS JALAN LURUS
Melalui  beberapa ayat, justru al-Qur`ân yang merupakan pedoman hidayah umat Islam mencela jumlah manusia yang mayoritas dan memberitahukan bahwa kebanyakan manusia berada dalam kesesatan dan kebatilan.  Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿١١٦﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’âm/6:116-117].

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “(Dalam ayat ini) AllâhTa’ala mengabarkan kondisi kebanyakan penduduk muka bumi dari anak keturunan Adam, sesungguhnya (mereka berada) dalam kesesatan”[1].

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikit lah mereka ini. [Shâd/38:24].

Bukankah jumlah kaum Muslimin lebih sedikit dibandingkan bilangan orang-orang yang kafir? Dan umat Islam yang taat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih sedikit ketimbang orang-orang yang mengabaikannya?

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Kaum Mukminin berjumlah sedikit di tengah manusia. Dan ulama berjumlah sedikit di tengah kaum Mukminin”.[2]

Maka, untuk mengelabui orang, klaim jumlah yang banyak dijadikan oleh ahli batil untuk menegaskan kebenaran jalan dan keyakinan mereka. Karenanya, para pengusung kebatilan, penyeru kepada bid’ah, penjaja liberalisme dan orang-orang yang memusuhi kebenaran al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah berusaha melariskan ‘dagangan’ mereka  dengan menyebarluaskan klaim banyaknya para pengikut dan pendukung mereka. Misi-misi dan doktrin mereka suarakan melalui berbagai media massa agar terbentuk opini. Betapa banyak orang yang mengikuti mereka, kemauan merekalah yang diinginkan oleh publik dan selanjutnya klaim bahwa mereka berada di atas jalur yang benar dan lurus. Bukankah bila satu golongan menyimpang yang memiliki cabang di mana-mana, sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan miring orang terhadap golongan itu?

Dalam kitab Masâilu al-Jâhiliyyah, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb rahimahullah menyebutkan salah satu ciri jahiliyah, “Berhujjah dengan apa yang dipegangi kebanyakan orang tanpa menengok dasarnya”.

PARAMETER KEBENARAN
Dengan demikian, parameter kebenaran bukanlah berdasarkan kuantitas, banyak atau sedikit. Akan tetapi, “kebenaran itu (disebut kebenaran) tatkala sesuai dengan dalil tanpa perlu menengok banyaknya orang yang menerima atau minimnya penolakan orang. Antipati manusia atau respon positif mereka tidak otomatis menunjukkan kebenaran atau penyimpangan satu pendapat. Tiap pendapat dan perbuatan haruslah berdasarkan dalil (yang shahîh) kecuali pendapat (ucapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena ucapan beliau sudah menjadi hujjah (dasar, dalil)”.[3]

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang umat terdahulu bahwa kaum minoritas bisa saja berada di atas al-haq. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. [Hûd/11:40].

Maka, siapa saja berada di atas al-haq yang berlandaskan dalil yang shahîh dan lurus, berkomitmen kuat dengannya dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, meskipun ia sendirian, dialah orang yang benar dan lurus, dan selanjutnya pantas diikuti oleh orang lain.

Bahkan, seandainya pun tidak ada seorang pun yang berpegang teguh dengan al-haq, selama itu merupakan kebenaran, tetaplah merupakan kebenaran dan menjadi sumber keselamatan.[4]

Apabila kebanyakan orang hanyut dalam kebatilan dengan melanggar syariat, tidak konsisten dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk menyampaikan ilmu dan hidayah kepada semua manusia, mengadakan hal-hal baru dalam agama Islam yang tidak ada dasarnya yang jelas dan tidak pernah dikenal oleh generasi terbaik umat Islam; dalam kondisi demikian, pendapat mereka harus ditolak dan tidak boleh terpedaya dengan jumlah mereka yang ada di mana-mana.

Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud  Radhiyallahu anhu pernah berkata:

لاَ يَكُنْ أَحُدُكُمْ إِمَّعَةً يَقُوْلُ: “أَنَا مَعَ النَّاسِ”. لِيُوَطِّنَ أَحَدُكُمْ عَلَى أَنْ يُؤْمِنَ وَلَوْ كَفَرَ النَّاسُ

Janganlah seseorang dari kalian menjadi latah (dengan) mengatakan, ‘Aku bergabung dengan (arus) manusia (saja)’. Hendaknya ia melatih diri untuk beriman walaupun orang-orang telah kafir.

Atas dasar nasihat berharga di atas, mari kita tanamkan pada diri kita, “Hendaklah kita melatih diri (dan berusaha keras) untuk berkomitmen dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , walaupun banyak orang  telah mengabaikan petunjuk beliau dan mengadakan hal-hal baru dalam Islam”. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah, rasyâd  dan taufik-Nya kepada kita semua.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah juga telah menggariskan pesan pentingnya, “Janganlah engkau (mudah) tertipu dengan apa yang mengelabui orang-orang jahil. Mereka itu mengatakan, ‘Jika orang-orang itu (yang berada di atas al-haq) betul-betul di atas kebenaran, mestinya jumlah mereka tidak akan sedikit.  Sementara manusia lebih banyak yang tidak sejalan dengan mereka’.  Ingatlah bahwa sesungguhnya orang-orang (yang berada di atas al-haq) itulah manusia (sebenarnya). Sedangkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka hanyalah serupa dengan manusia, bukan manusia. Manusia (sebenarnya) hanyalah orang-orang yang mengikuti al-haq meskipun mereka berjumlah paling sedikit”.[5]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafizhahullâh mengatakan, “Memang betul, bila mayoritas (manusia) di atas kebenaran dan al-haq, maka itu bagus sekali. Akan tetapi, sunnatullâh (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ) yang berjalan bahwa kuantitas yang besar berada di atas kebatilan. (Ketetapan Ilahi ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla  yang artinya):

وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12:103]

Dan firman-Nya:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6 : 116].[6]

BENARKAH MAYORITAS KAUM MUSLIMIN PADA MASA SEKARANG BERAQIDAH ASY’ARIYAH?
Kaum Asya’irah (yang beraqidah Asy’ariyah) adalah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) kepada Abul-Hasan al-Asy’ari, yaitu ‘Ali bin Ismâ’îl yang wafat pada tahun 330H. Sebenarnya, melalui aspek historis, dapat diketahui bahwa sosok yang terkenal ini mengarungi tiga fase dalam aqidahnya: bermadzhab Mu’tazilah, kemudian berada dalam fase antara pengaruh aqidah Mu’tazilah dan mengikuti Sunnah dengan menetapkan sebagian sifat Allâh, namun masih menakwilkan sebagian besarnya. Fase ini yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah. Lalu keyakinannya yang terakhir, meyakini aqidah yang dipegangi dan diyakini oleh generasi Salaf umat Islam. Sebab, ia telah menegaskan dan memaparkannya dalam kitabnya al-Ibânah yang termasuk karya terakhir beliau. Di dalamnya, beliau menjelaskan bahwa dirinya mengikuti aqidah yang dipegangi oleh Imam Ahli Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Ulama Ahli Sunnah lainnya. Yaitu, menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan Allâh Azza wa Jalla bagi Dzat-Nya dan ditetapkan oleh Rasûlullâh bagi-Nya, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allâh Azza wa Jalla , tanpa takyîf, tamtsîl, tahrîf dan takwîl. Berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [asy-Syûrâ/42:11].

Dikala panutan dan tokoh utama Asy’ariyah, Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah telah meninggalkan aqidah 20 sifatnya, para penganut aqidah Asy’ariyah masih bertahan dengan pemikiran Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah sebelum meninggalkan aqidah yang digagasnya menuju aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Belakangan, ada ungkapan populer di tengah sebagian masyarakat bahwa golongan Asy’ariyah di masa ini merepresentasikan 95% dari jumlah kaum muslimin. Artinya, yang memegangi aqidah Asy’ariyah di dunia Islam merupakan kaum mayoritas.

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menyanggah pendapat tersebut, melalui, dengan beberapa tinjauan, sebagai berikut:[7]

  1. Bahwa penetapan prosentase di atas haruslah berdasarkan penghitungan detail yang menghasilkan data empiris yang valid. Dan ternyata tidak ada sensus untuk menghitung jumlah penganutnya, hanya sekedar klaim kosong belaka.
  2. Anggap saja prosentasi itu benar, namun tidak otomatis jumlah yang banyak mengindikasikan lurus dan benarnya aqidah tersebut. Sebab, aqidah yang benar dan lurus hanya dapat digapai dengan mengikuti aqidah yang diyakini oleh generasi Salaf dari kalangan Sahabat Nabi dan insan-insan yang berjalan di atas manhaj mereka dengan baik. Bukan dengan mengikuti aqidah yang penggagasnya baru wafat pada abad empat hijriyah, apalagi yang bersangkutan telah meninggalkan aqidah (yang salah) itu. Selain itu, secara logika, tidak mungkin ada kebenaran yang tertutup dan tersembunyi bagi para Sahabat Nabi, generasi Tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik, dan kemudian kebenaran itu baru diketahui oleh orang yang kelahirannya setelah masa generasi terbaik umat Islam.
  3. Selain itu, aqidah Asy’ariyah hanyalah diyakini oleh orang-orang yang mendalaminya di lembaga pendidikan Asy’ariyah atau mereka mempelajarinya dari tangan guru-guru berkeyakinan Asy’ariyah. Sedangkan orang-orang awam yang jumlahnya sangat banyak itu tidaklah mengenal Asy’ariyah. Aqidah mereka masih di atas fitrah.
  4. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam at-Ta’âlum[8] menambahkan bahwa aqidah orang-orang dari tiga generasi terbaik; dari generasi Sahabat dan dua generasi selanjutnya sejalan dengan Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh n yang dalam perjalanan sejarah dikenal dengan Aqidah Salaf.

MAKA, BERSABARLAH DAN TETAPLAH KOMITMEN DENGAN AL-HAQ
Dengan melihat fakta lapangan, orang yang tidak dan belum komitmen dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam jumlahnya lebih banyak bahkan dominan di tengah masyarakat, maka seorang Muslim yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu merasa cemas, resah dan terasing lantaran tidak “memiliki” teman banyak atau bahkan tidak punya teman sama sekali. Sebab, hatinya ingin bersama dengan “orang-orang orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[9]

Apabila kesabaran dan keyakinannya menipis, maka ia akan meninggalkan kebenaran itu, tidak sanggup menanggung beban (untuk menjalankan)nya, apalagi bila ia tidak memiliki teman dan merasa resah dengan kesendiriannya. Akhirnya, ia akan berkata, “Kemana manusia pergi, maka aku mengikuti mereka”.[10]

MARI SEBARKAN AJARAN AHLI SUNNAH WALJAMAAH!
Tersebarnya ajaran dan petunjuk yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah yang shahîhah di tengah satu masyarakat, dari masyarakat terkecil seperti keluarga, hingga masyarakat berskala besar seperti negara, akan mendatangkan kebaikan demi kebaikan bagi mereka semua. Oleh karena itu, sepatutnya penyeru kepada perbaikan berusaha keras untuk memperbanyak jumlah ahlulhaq. Sebab, para nabi pun memperoleh kedudukan yang berbeda-beda juga berdasarkan sedikit banyaknya pengikut mereka. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ تَكُونُوْا أَكْثَرَ أَهْلَ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya aku benar-benar berharap kalian menjadi penghuni terbanyak di dalam  surga. [HR al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu].[11]

Wallâhu a’lam.
Disusun oleh : Ustadz Abu Minhal, Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsîru al-Qur`ânil‘Azhîm, 3/322
[2] Miftâhu DârisSa’âdah, 1/147.
[3] Lihat ManhajulIstidlâl, 2/695.
[4] Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, hlm. 61.
[5] Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147.
[6] Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, Shâlih al-Fauzân, hlm. 62.
[7] Lihat Qathfu Jana ad-Dânî, Darul-Fadhîlah, Cet. I Th. 1423H-2002M, hlm. hlm35-36
[8] At-Ta’âlum, hlm. 121-122.
[9] QS an-Nisâ/4 ayat 69. Lihat keterangan ini dalam ash-Shawâriwu ‘anilHaqq, hlm. 109.
[10] Syarhu al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, 2/361.
[11] Ash-Shawâriwu ‘anilHaqq, hlm. 106-112.

Standarisasi Kebenaran Dalam Islam

STANDARISASI KEBENARAN DALAM ISLAM

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra MA

Sudah suatu kelaziman dalam berbagai bidang keahlian maupun produk tertentu harus memenuhi standarnya; sehingga keabsahan, kualitas dan validasinya terjamin dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau tidak demikian halnya, tentu semua orang bisa berkata atau berbohong dan melanggar berbagai aturan main dan kaidah yang sudah baku yang ditetapkan dan disepakati para ahli pada setiap bidang keilmuan.

Demikian pula halnya pemahaman terhadap agama, harus sesuai dengan standarisasi yang berlaku dalam Islam; agar kita tidak terbalik dalam berjalan, kita ingin maju tapi malah mundur jadinya, maju dalam pemikiran tapi mundur dalam keimanan. Karena pada akhir-akhir ini terjadi semacam kerancuan dalam standarisasi keabsahan pemahaman agama. Sehingga timbul berbagai asumsi dan opini-opini yang menyesatkan dalam keyakinan beragama.

Maka selayaknyalah seorang Muslim mampu memilih dan memilah mana yang harus di terima dan mana yang harus ditolak. Agar tidak terbalik dalam menilai sebuah permasalahan, yang benar dianggap salah, dan yang salah dianggap benar. Tentu untuk sampai pada titik penentuan pilihan tersebut harus mengenali standarisasinya. Dewasa ini banyak orang menjadikan gelar, kedudukan, kekayaan, ketenaran, kesepuhan, peninggalan kuno dan galian fosil sebagai standarisasi. Padahal itu bukan standarisasi untuk menentukan kebenaran dalam Islam.

Islam memiliki standar yang valid dan akurat dalam menilai sebuah pandangan dan pendapat. Sehingga pandangan dan pendapat itu berlaku kebenarannya di mana dan kapan saja; tanpa dibatasi oleh masa dan tempat tertentu. Karenanya, berbagai pandangan dan pendapat para Ulama dapat diadobsi dan diterima di zaman sekarang; walaupun masa mereka sudah amat jauh berlalu. Yang dimaksud di sini adalah pendapat-pendapat yang benar-benar sesuai dengan standarisasi yang terdapat dalam Islam.

Berikut ini dipaparkan sebagian dari standarisasi kebenaran dalam Islam, sesuai dengan apa yang diamalkan dan dipraktekkan oleh generasi terbaik umat ini; yang selanjutnya diikuti oleh para Ulama terkemuka pada setiap generasi mereka.

1, Berpegang kepada al-Qur’â Meyakininya sebagai wahyu yang mutlak kebenarannya. Maka segala pendapat dan pandangan yang bertentangan dan berseberangan dengan kebenaran al-Qur’ân  dinyatakan sesat dan batil secara mutlak.

قاَلَ الشَّافِعِيُّ : «كُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلَى اْلكِتاَبِ وَالسُّنَّةِ فَهُوَ الْحَدُّ الَّذِيْ يَجِبُ، وَكُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلىَ غَيْرِ أَصْلِ كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ فَهُوَ هَذَيَانٌ» أخرجه البيهقي في مناقب الإمام الشافعي

Imam Syafi’i berkata: “Setiap orang yang berbicara berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah, maka (ucapan) itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada al-Qur’ân dan Sunnah, maka (ucapannya) itu adalah kebingungan[1].

قَالَ الْمُزَنِيْ وَالرَّبِيْعُ كُنَّا يَوْماً عِنْدَ الشَّافِعِيِّ إِذْ جَاءَ شَيْخٌ فَقَالَ لَهُ أَسْأَلُ قاَلَ الشَّافِعِيُّ سَلْ قاَلَ إِيْشٌ الْحُجَّةُ فِيْ دِيْنِ اللهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ كِتَابُ اللهِ، قاَلَ وَمَاذَا قاَلَ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ

Al Muzany dan ar-Rabî’ berkata: “Pada suatu hari saat kami berada di samping Imam Syâfi’i, tiba-tiba datang seorang orang tua lalu ia berkata kepada Imam Syâfi’i: “Aku ingin bertanya.” Jawab Imam Syâfi’i: “Silakan.” Lalu ia berkata: “Apakah hujjah dalam agama Allah Azza wa Jalla ?” Maka Imam Syâfi’i menjawab: “Kitab Allah Azza wa Jalla (al-Qur’ân).” Ia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Jawab Syâfi’i: “Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ” “[2]

Di sini terlihat bahwa Imam Syâfi’i sangat mengagungkan al-Qur’ân dalam berdalil. Menurut Imam Syâfi’i mestinya setiap orang menjadikan al-Qur’ân sebagai pedoman saat menentukan sebuah hukum atau berpendapat. Jika hal ini ia dilakukan, maka pendapatnya berhak untuk diterima. Sebaliknya bila tidak pendapatnya adalah sebuah kebingungan. Orang tersebut adalah sibingung yang membuat kebingungan di tengah masyarakat.

Betapa banyaknya orang zaman sekarang yang membuat kebingungan di tengah masyarakat dengan pendapat-pendapatnya. Baik dalam hal keyakinan beragama maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap orang seolah-olah bebas melontarkan segala pendapat yang terlintas di benaknya, tanpa pertimbangan terlebih dahulu.

Bahkan menurut Imam Syâfi’i pendapat dan pemahaman yang tidak berdasarkan kapada dalil al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bisikan-bisikan setan. Betapa banyak di zaman sekarang orang yang mengikuti bisikan-bisikan setan. Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kaum Muslimin dari fitnah mereka.

قَالَ الْمُزَنِيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ مَنْ تَعَلَّم َاْلقُرآنَ عَظُمَتْ قِيْمَتُهُ

Berkata al-Muzany: aku mendengar Syâfi’i berkata: “Barangsiapa yang mempelajari al-Qur’ân telah tinggi kedudukannya[3].

Demikianlah, Imam Syâfi’i rahimahullah sangat menghargai orang-orang yang mempelajari al-Qur’ân, sebagai motivasi bagi mereka agar bersungguh-sungguh untuk mempelajari al-Qur’ân. Sekaligus menegaskan kepada kita untuk menghormati orang yang mempelajari dan mengamalkan hukum-hukum al-Qur’ân. Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat orang yang mempelajari al-Qur’ân dan merendahkan derajat orang yang tidak mau mempelajari dan mengamalkan al-Qur’ân. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا اْلكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

Sesungguhnya Allah meninggikan dengan kitab ini (al-Qur’ân) kedudukan beberapa kaum dan merendahkan dengannya kedudukan yang lain. [HR. Muslim]

Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat orang mau menerima ajaran al-Qur`ân dan berjuangan untuk menegakkannya di tengah-tengah umat manusia. Sebaliknya Allah Azza wa Jalla hinakan dan rendahkan derajat orang yang menetang ajaran al-Qur’ân atau merendahkan orang-orang mengamalkannya dan berjuang untuk menegakkannya di tengah-tengah umat manusia.

Sebagian orang di masa sekarang ada yang meremehkan orang-orang yang mempelajari dan mengamalkan al-Qur’ân dalam berakidah, beribadah, bermu’alah dan berakhlak. Apalagi yang mengajak untuk menjalankan al-Qur’ân dalam segala aspek kehidupan. Mereka dianggap sebagai kaum terbelakang dan anti moderenisme. Mereka diejek dengan berbagai tuduhan-tuduhan dusta. Sebaliknya, orang-orang yang merusak ajaran al-Qur’ân justru disanjung dan dipuji. Bahkan sebahagian mereka berani mengatakan bahwa sebab keterbelakangan adalah akibat menjalankan al-Qur’ân. Mereka menganggap teori-teori mereka jauh lebih jitu dan lebih hebat daripada al-Qur’ân. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya ini adalah suatu kekufuran dan kebohongan yang nyata terhadap al-Qur’ân.

Hal ini tidak beda dengan sikap kaum kafir, mereka sudah merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka. Mereka tidak merasa perlu lagi dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh rasul-rasul. Justru, mereka memandang enteng dan memperolok-olok keterangan yang dibawa rasul-rasul itu. Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang senantiasa mereka perolok-olokkan. [al-Mukmin/40:83]

Banyak sekali ayat maupun hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang wajibnya berpegang kepada al-Qur’ân.

Di antaranya, firman Allah Azza wa Jalla :

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). [al-A`râf/7:3]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ  

Dan sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian sesuatu, kalian tidak akan sesat selamanya jika kalian berpegang dengannya, yaitu kitab Allah. [HR. Muslim]

2. Berpegang pada sunnah.
Sunnah adalah sejoli al-Qur’ân; kedua-duanya adalah wahyu yang wajib kita ikuti, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`ân) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [an-Najm/53:3-5]  

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. [al-Haqqah/69:54-56]

Dua ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang kevalidan sunnah sebagai hujjah dalam agama Islam. Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla mewajibkan kita berpegang teguh kepada sunnah.

Dalam pengamalan, seorang Muslim tidak boleh membedakan-bedakan antara al-Qur’ân dan sunnah. Orang yang membeda-bedakan antara al-Qur’ân dan Sunnah dalam hal pengamalannya, sesungguhnya ia telah membeda-bedakan pula antara taat kepada Allah Azza wa Jalla dan taat kepada Rasul-Nya. Ini adalah sikap yang dianggap menyelisihi al-Qur’ân itu sendiri, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla yang artinya:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. [an-Nisâ/4/150-151]

Sebagai konsekuensi ketaatan kita kepada Nabi n , kita wajib menerima semua yang beliau perintahkan dan beliau sampaikan, termasuk hadits-hadits yang berkategori ahad. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang dibawa Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. [al-Hasyr/59:7]

Orang yang menolak sunnah, niscaya mereka akan ditimpa oleh fitnah kesesatan waktu di dunia dan diancam azab yang pedih di akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [an-Nûr/24:63]

Tidak membedakan dalam masalah ibadah dan masalah akidah.

Dalam mengamalkan dan menerima sunnah kita tidak boleh membedakan-bedakan antara hadits ahad dalam masalah akidah dan masalah ibadah, sebagaimana pandangan orang-orang ahli kalam.

Firman Allah Azza wa Jalla :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.[an-Nisâ`/4:65]

Dalam segala hal yang kita berbeda pandangan baik secara akidah maupun ibadah dan seterusnya; maka kita wajib mengembalikannya kepada al-Qur’ân dan sunnah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur`ân) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ`/4:59]

3. Dalam memahami al-Qur’ân dan Sunnah merujuk kepada pemahaman para Sahabat.
Dalil yang mewajibkan kita untuk merujuk dalam memahami kitab dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shaleh, berikut di antaranya :

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [at-Taubah/9:100]

Imam Ibnu Katsîr berkata ketika menafsirkan ayat di atas: “Maka sesungguhnya Allah yang Maha agung telah memberitahu, bahwa Allah Azza wa Jalla telah ridha terhadap generasi terkemuka yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka celakalah orang yang membenci dan mencela mereka. Atau membenci dan mencela sebagian mereka. terutama penghulu para Sahabat yang terbaik dan paling mulia setelah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang aku maksud as-Shiddîq yang mulia, khalifah yang agung, Abu Bakar bin Quhafah Radhiyallahu anhu. Sesungguhnya kelompok yang hina dari orang-orang Rafidhah memusuhi para Sahabat yang mulia, mereka membenci dan mencaci para Sahabat. Kita berlindung dengan dari hal yang demikian. Ini menunjukkan bahwa akal mereka terbalik, dan hati mereka tertelungkup. Di mana keimanan mereka kepada al-Qur’ân, ketika mereka mencaci maki orang-orang yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ?! Adapun Ahlussunnah ;  mereka meridhai orang yang diridhai Allah Azza wa Jalla dan mencela orang yang dicela oleh Allah Azza wa Jalla . Mereka berolayalitas kepada orang yang cintai Allah Azza wa Jalla dan memusuhi orang yang memusuhi Allah Azza wa Jalla . Mereka mengikuti tidak melakukan bid’ah. Karena itu mereka adalah golongan Allah Azza wa Jalla yang menang, hamba-hamba-Nya yang beriman”[4].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: .

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia dalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka [Muttafaq`alaihi]

Peringkat kebaikan tertinggi yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para Sahabat, Tâbi’în dan Tâbi’ ut Tâbi’în dalam hadits ini adalah dalam segi pemahaman dan pengamalan ilmu serta dalam hal menyampaikannya kepada umat. Secara tidak langsung terkandung di dalamnya perintah bagi umat untuk menjadikan mereka sebagai panutan dan acuan dalam memahami dan mengamalkan al-Qur’ân dan Sunnah; serta untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain disebutkan yang artinya:

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.

Dari ‘Irbâdh bin Sariyah Radhiyallahu anhu Pada suatau hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimani kami shalat subuh. Kemudian beliau menghadap kami (setelah salam) dan memberi nasehat yang sangat dalam; membuat air mata bercucuran, membuat hati bergetar ketakutan. Salah seorang berkata: “Ini bagaikan nasehat perpisahan wahai Rasulullah! Apa wasiat engkau kepada kami?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku wasiatkan, dengar dan patuhlah kepada penguasa sekalipun ia seorang budak Habasyi yang cacat. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup lama setelahku, pasti akan melihat perpecahan yang banyak. Maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafâ‘ ar-râsyidîn al-mahdiyîn. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham. Dah hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru dalam hal beragama. Karena perkara yang baru dalam hal beragama adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menegaskan agar kita berpegang dengan sunnah beliau; tetapi juga menekankan agar kita berpegang kepada sunnah para Sahabat. Karena sudah semestinya seorang yang mengaku sebagai Muslim berpegang kepada al-Qur’ân dan Sunnah. Namun amat jarang orang memperhatikan sunnah para Sahabat dalam memahami dan mengamalkan al-Qur’ân dan Sunnah tersebut. Terlebih lagi ketika terdapat perbedaan pendapat dalam permasalahan agama. Sering mereka kemukakan pemahamannya sendiri atau pendapat tuan guru, figur dan pimpinan organisasinya.

Demikian pula dalam hadits yang menerangkan tentang perpecahan umat ini ke dalam tujuh puluh tiga golongan:

إِنَّ الْيَهُوْدَ اخْتَلَفُوْا عَلىَ إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَإِنَّ النَّصَارَى اخْتَلَفُوْا عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأَمَّةِ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِيْ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً . قَالُوْا: مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: “ماَ أَناَ عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ”

Sesungguhnya orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan dan orang terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Seluruhnya masuk neraka kecuali satu. Sahabat bertanya siapa mereka ya Rasulullah ? Jawab beliau: “Apa yang aku berada di atasnya dan para Sahabatku”.[HR at-Tirmidzi dan selainnya, di hasankan oleh Syaikh al-Albâni]

Dalam hadits yang di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan golongan yang selamat dari tujuh puluh tiga golongan tersebut, yaitu orang yang pemahaman, amalan dan dakwahnya sesuai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengatakan orang yang berpegang dengan sunnah semata tapi juga memahami dan mengamalkan sunnah tersebut sesuai dengan  pemahaman dan pengamalan para Sahabat.

Umar bin Abdul ‘Azîz rahimahullah berkata:

سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ وَوُلاَةُ اْلأُمُوْرِ بَعْدَهُ سُنَنًا اْلأَخْذُ بِهَا تَصْدِيْقٌ لِكِتَابِ اللهِ وَاسْتِكْمَالٍ لِطَاعَةِ اللهِ وَقُوَّةٍ عَلَى دِيْنِ اللهِ لَيْسَ ِلأَحَدٍ تَبْدِيْلُهَا وَلاَ تَغْيِيْرُهَا وَلاَ النَّظَرُ فِيْمَا خَالَفَهَا مَنِ اقْتَدَى بِهَا فَهُوَ مُهْتَدٍ وَمَنِ اسْتَنْصَرَ بِهَا فَهُوَ مَنْصُوْرٌ وَمَنْ خَالَفَهَا وَاتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَّهُ الله ُمَا تَوَلَّى وَأَصْلاَهُ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

Rasulullah dan para penguasa setelahnya telah menetapkan sunnah-sunnah. Mengambilnya adalah pembenaran terhadap kitab Allah dan penyempurnaan bagi ketaatan kepada Allah serta memberi kekuatan di atas agama Allah. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk merubahnya, dan tidak pula menukarnya, dan tidak pula melihat kepada sesuatu yang menyelisihinya. Barangsiapa yang mengambil petunjuk dengannya maka dia akan mendapat petunjuk. Barangsiapa yang mencari kemenangan dengannya maka dia akan ditolong. Barangsiapa yang menyelisihinya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang Mukmin, niscaya Allah memalingkannya kemana dia berpaling. Dan akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam yang sejelek-jelek tempat [5]

Betapa indahnya ungkapan Imam Syâfi’i rahimahullah tentang kedudukan Sahabat Radhiyallahu anhum:

هُمْ فَوْقَنَا فِيْ كُلِّ عِلْمٍ وَعَقْلٍ وَدِيْنٍ وَفَضْلٍ وَكُلِّ سَبَبٍ يُنَالُ بِهِ عِلْمٌ أَوْ يُدْرَكُ بِهِ هُدًى وَرَأُيُهُمْ لَنَا خَيْرٌ مِنْ رَأْيِنَا ِلأَنْفُسِنَا

Mereka di atas kita dalam segala bidang ilmu, pemikiran, agama dan keutamaan. Serta dalam segala sebab yang diperoleh dengannya ilmu atau diketahui dengan petunjuk. Pendapat mereka lebih baik untuk kita, daripada pendapat kita sendiri untuk diri kita” [6]

4. Meneliti keshahîhan dalil.
Hal ini hanya berlaku ketika menjadikan hadits sebagai dalil, maka hadits yang dijadikan dalil selemah-lemah derajatnya adalah hasan lighairih. Sebaliknya tidak berpegang kepada hadits-hadits dhaîf, apalagi kepada mimpi dan khayalan dan akal yang rusak.

Di antara sebab timbulnya sebuah kesesatan dan bid’ah adalah karena berpegang kepada hadits-hadits yang lemah atau palsu. Seperti hadits yang menjadi pegangan orang-orang Ahlulkalam (Rasionalisme) :

أَوَّلُ مَا خَلَقَهُ الله ُالْعَقْلُ

Yang pertama kali diciptakan Allah adalah akal

Sebagian orang ada pula yang berpegang kepada mimpi dalam melestarikan sebuah kesesatan dan bid’ah. Seperti bermimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang shaleh lalu mengajarkan sesuatu kepadanya dalam mimpi tersebut. Ini suatu kekeliruan yang amat nyata, sebab mimpi tidak layak untuk dijadikan hujjah dalam agama, apalagi menentang sesuatu yang sudah baku dalam agama. Jika dalam mimpi ia diperintahkan kepada sesuatu yang sesuai dengan tuntunan agama, maka ia mengambilnya bukan sebagai dalil utama tetapi sebagai pendukung saja. Kenapa kita harus termotivasi dengan mimpi! Tetapi tidak termotivasi dengan perintah yang secara tegas disampaikan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu beliau hidup.

Apalagi kebanyakan orang yang mengaku bermimpi tersebut tidak jujur, cuma demi untuk membuatnya tenar dan disanjung di depan orang ramai serta di anggap memiliki keistimewaan.  Dan yang lebih sesat lagi bermimpi mendapat ajaran baru atau dibebaskan dari menjalankan perintah-perintah agama.

5. Keshahîhan dalam beristidlâl (menempatkan dalil). Tidak sebatas keshahîhan dalil tetapi perlu lagi keshahîhan dalam beristidlal ketika mengambil sebuah hukum dari dalil tersebut.
Di antara hal yang penting lagi setelah meneliti keshahîhan dalil adalah meneliti keshahîhan dalam beristilal yaitu benar dalam mengambil hukum dari sebuah dalil tersebut. Betapa banyak sekali kelompok sesat yang memutarbalikkan pengertian dalil yang shahîh.

Berikut ini beberapa contoh tindakan gegebah orang-orang sesat dalah mengambil sebuah hukum dari sebuah dalil.

Dalam sebuah buletin orang tarekat menyebutkan tentang kebenaran bertarekat  adalah firman Allah Azza wa Jalla :

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Dan bahwasanya : jikalau mereka tetap istiqamah di atas jalan itu (tharîqah), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).[al-Jinn/72:16]

Kata-kata Tharîqah mereka terjemahkan dengan sesukanya saja, yaitu tarikat. Padahal semua orang Muslim tahu bahwa tarikat tersebut tidak pernah ada di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian pula di masa tâbi’în dan tâbi’ tâbi”în. Yang dimaksud dengan tharîqah dalam ayat tersebut adalah jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu agama Islam. Tidak ada seorangpun Ulama yang menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran sesat ahli tarikat tersebut.

Dalam tafsir Jalalain yaitu tafsir kebanggaan orang-orang tarekat di sebutkan:

 لَوِ اسْتَقَامُوْا عَلىَ الطَّرِيْقَةِ  أَيْ طَرِيْقَةُ اْلإِسْلاَمِ

Dan jika mereka tetap istiqâmah di atas at-tharîqah (jalan) maksudnya adalah “Tharîqah (jalan) Islam[7]“.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain, seperti orang-orang eling (Jawa-ingat) yang berhujjah dengan firman Allah Azza wa Jalla :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku [Thaha/20:14]

Mereka memahami ayat tersebut, bahwa bila sudah ingat Allah Azza wa Jalla berarti sudah shalat. Semua orang Islam mengetahui tentang kesesatan penafsiran mereka tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat tidak pernah memahami ayat tersebut seperti penafsiran sesat mereka. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan bahwa shalat ada tata caranya, ada waktunya, ada bacaa-bacaannya, ada rukunnya, ada syaratnya, ada hal-hal yang membatalkannya.

6. Berpegang kepada ijmâ.
Sebuah pendapat dan pemahaman tidak boleh bertentangan dengan ijmâ para Ulama. Ijmâadalah kesepakatan para Ulama dalam satu masa terhadap sebuah hukum. Sumber ijmâadalah al-Qur’ân dan Sunnah. Terjadinya ijmâkarena begitu banyak dalil dan penjelasan persoalan tersebut dalam agama ini. Tidak ada lagi keraguan tentang hal tersebut. Sehingga semua orang yang berilmu bersepakat dalam hal tersebut. Ini menunjukkan tentang kevalidannya untuk dijadikan hujjah. Karena tidak ada perbedaan dalam menetapkannya. Seperti ijmâtentang bahwa al-Qur’ân terjaga keasliannya dan kemurniannya sampai hari kiamat. Bila ada orang yang melanggar kesepakantan ijmâ maka ia telah bertolak belakang dengan banyak dalil dan banyak Ulama.

Oleh sebab itu Imam Syâfi’i menyebutkan tentang hujjah ijmâdalam al-Qur’ân, yaitu firman Allah Azza wa Jalla [8] :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami palingkan ia kemana ia hendak berpaling dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[an-Nisâ`/4:115]

Dalam ayat yang mulia ini terdapat beberapa ancaman bagi orang yang melanggar ijmâ:

  1. Waktu di dunia ia akan dibiarkan Allah Azza wa Jalla bergelimang dan terombang-ambing dalam kesesatannya.
  2. Di akhirat kelak ia kan dikembalikan kepada tempat yang sejelek-jeleknya yaitu neraka Jahannam yang menyala-nyala,

Demikian pula dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:

إِنَّ أُمَّتِيْ لاَ تَجْتَمِعُ عَلىَ ضَلاَلَةٍ

Sesungguhnya Umatku tidak akan pernah bersepakat di atas sebuah kesesatan. [HR. Abu Dâwud 4253; at-Tirmidzi 2167 dan Ibnu Mâjah 3590. dishahîhkan al-Albâni dalam dhilâlul jannah]

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa kesepakatan para Ulama dalam menetapkan sebuah hukum amat jauh dari kesesatan. Bahkan telah dijamin oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan pernah terjadi ijmâdalam sebuah kesesatan..

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِيْ الرِّسَالَةِ  وَمَنْ قَالَ بِمَا تَقُوْلُ بِهِ جَمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَدْ لَزِمَ جَمَاعَتَهُمْ، وَمَنْ خَالَفَ مَا تَقُوْلُ بِهِ جَمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَدْ خَالَفَ جَمَاعَتَهُمُ الَّتِيْ أُمِرَ بِلُزُوْمِهَا، وَإِنَّمَا تَكُوْنُ الْغَفْلَةِ فِيْ الفُرْقَةِ، فَأَمَّا الْجَمَاعَةُ فَلاَ يُمْكِنُ فِيْهَا كَافَّةَ غَفْلَةٍ عَنْ مَعْنَى كِتَاٍب وَلاَ سُنَّةٍ وَلاَ قِياَسٍ، إِنْ شَاءَ الله.ُ انْتَهَى

Berkata Imam Syâfi’i: “Barang yang berkata sesuai dengan apa yang dikatakan  oleh jamaah (ijmâ‘) orang Islam, maka berarti dia tetap konsiten dalam jamaah mereka. Dan barang siapa yang menyelisihi apa yang dikatakan  oleh jamaah (ijmâ‘) orang Islam, maka berarti dia telah keluar dari jamaah mereka yang diperintahkan untuk tetap di dalamnya. Sesungguhnya kesalahan itu terdapat dalam berpecah belah. Adapun jamaah maka tidak akan mungkin seluruhnya tersalah dalam memahami makna al-Qur’ân dan Sunnah begitu pula Qiyâs. Insya Allâh“. [“Ar Risâlah” hal: 475]

7. Bertopang kepada qiyâs yang shahîh, sebaliknya tidak menyadarkan sebuah pemahaman kepada qiyâs al-fâsid. Seperti mengqiyâskan sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat makhluk, menqiyâskan alam barzakh dengan alam dunia, menqiyâskan kejadian-kejadian pada hari akhirat dengan kejadian di dunia ini.

Demikian beberapa contoh standarisasi kebenaran dalam Islam yang dapat disajikan, semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Lihat: “Manâqib Asy Syâfi’i“: 470.
[2]  Lihat: “Ahkâmul Qur’ân“: 39.
[3]  Lihat: “Al-Muntazhim“: 10/137 & “Shafwatush shafwah“: 2/254.
[4]  Lihat “tafsir Ibnu Katsîr”: 4/203.
[5]  Lihat “As-Sunnah“/`Abdullah bin Ahmad”: 1/357.
[6]  Ungkapan ini sangat masyhur dinukilkan dari Imam Syâfi’i. lihat “Majmû’ Fatâwa Ibnu Taimiyah“: 4/158.
[7]  Lihat “Tafsir Jalalain”:  771.
[8]  Lihat “Ahkâmul Qur’ân“: 28.

Jangan Menolak Kebenaran

JANGAN MENOLAK KEBENARAN

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Kebenaran mutlak datang hanya dari Allah Azza wa Jalla . Oleh karena itu, al-haq tidak diambil kecuali dengan petunjuk kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan sepantasnya orang-orang yang sudah menerima al-haq, hendaknya mereka menerima dan mengikutinya.

Allah Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang beriman karena mereka mengkuti al-haq dalam firmannya:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, [a-Ra’d/13:19]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang makna ayat ini: “Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak mempercayainya, dan tidak mengikutinya”.[1]

Namun, umumnya manusia tidak peduli terhadap kebenaran, tidak mau mencarinya, dan tidak menelitinya. Sehingga mereka berkubang di dalam kesesatan dengan sadar atau tanpa sadar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ

Apakah mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya? Katakanlah: “Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`ân) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.” Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.[al-Anbiyâ’/21:24]

Syaikh `Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Mereka tidak mengetahui kebenaran bukan karena kebenaran itu samar dan tidak jelas. Namun karena mereka berpaling darinya. Jika mereka tidak berpaling dan mau memperhatikannya, niscaya kebenaran menjadi jelas bagi mereka dari kebatilan, dengan kejelasan yang nyata dan gamblang”.[2]

Oleh karena itu, jangan sekali-kali seorang Muslim menolak kebenaran. Siapa pun pembawanya. Karena menolak kebenaran itu merupakan sifat kesombongan yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  [HR. Muslim, no. 2749, dari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Adapun ‘menolak kebenaran’ yaitu menolaknya dan mengingkarinya dengan menganggap dirinya tinggi dan besar”.[3]

Imam Ibnul Atsîr rahimahullah berkata tentang makna ‘menolak kebenaran’, yaitu menyatakan batil terhadap perkara yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan sebagai kebenaran, seperti mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Ada yang mengatakan, maknanya adalah menzhalimi kebenaran, yaitu tidak menganggapnya sebagai kebenaran. Dan ada yang mengatakan, maknanya adalah merasa besar terhadap kebenaran, yaitu tidak menerimanya”.[4]

Seorang Muslim jangan menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mengikutinya. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka (orang-orang Yahudi) al-Qur`ân dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [al-Baqarah/2:89]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah Azza wa Jalla menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka dahulu mengetahui kebenaran sebelum munculnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara dengan kebenaran dan mendakwahkannya. Namun, setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka, beliau berbicara dengan kebenaran. Karena beliau bukan dari kelompok yang mereka sukai, maka mereka pun tidak tunduk kepada beliau, dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka. Padahal, mereka tidak mengikuti perkara yang diwajibkan oleh keyakinan mereka”.[5]

Inilah di antara sifat-sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka saja. Rupanya, sifat seperti ini menjalar di kalangan ahli bid’ah dulu dan sekarang, mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompoknya saja, atau buku-bukunya saja, atau guru-gurunya saja. Wallâhul Musta’ân.

Sesungguhnya kebenaran itu tetap diterima walau pun datangnya dari orang kafir. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan hal ini di dalam beberapa hadits beliau. Antara lain hadits berikut ini.‘Aisyah x berkata:

دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِيْ إِنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُوْرِهِمْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِي صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dua nenek Yahudi Madinah masuk menemuiku, keduanya mengatakan kepadaku: “Sesungguhnya orang-orang yang berada di dalam kubur disiksa di dalam kubur mereka”. Aku mendustakan keduanya, aku tidak senang membenarkan keduanya. Lalu keduanya keluar. Nabi datang masuk menemuiku, maka aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah , sesungguhnya dua nenek…”, aku menyebutkan kepada beliau. Beliau bersabda: “Keduanya benar. Sesungguhnya mereka disiksa dengan siksaan yang didengar oleh binatang-binatang semuanya”. Kemudian tidaklah aku melihat beliau di dalam shalat setelah itu, kecuali beliau berlindung dari siksa kubur”. [HR. Bukhâri, no. 6366; Muslim, no. 586]

Lihatlah, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan dan menerima perkataan dua nenek Yahudi tentang adanya siksa kubur. Bahkan, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari siksa kubur di dalam shalatnya setelah itu. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang Islam di zaman ini, ketika telah disampaikan kepadanya tentang suatu permasalahan yang benar berdasarkan ayat al-Qur’ân, hadits yang shahîh, dan penjelasan para Ulama. Mereka tidak menerimanya hanya karena orang yang menyampaikan berbeda madzhabnya, organisasinya, tempat mengajinya, kebiasaan masyarakatnya, atau semacamnya.

Di dalam suatu kejadian yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari perkataan yang benar dari orang-orang Yahudi. Bahkan beliau meluruskan amalan umat dari sebab peringatan yang disampaikan oleh seorang Yahudi! Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ قُتَيْلَةَ امْرَأَةٍ مِنْ جُهَيْنَةَ أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

Dari Qutailah, seorang wanita dari suku Juhainah, bahwa seorang laki-laki Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Sesungguhnya kamu menjadikan tandingan (bagi Allah). Sesungguhnya kamu menyekutukan (Allah). Kamu mengatakan ‘Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki’. Kamu juga mengatakan ‘Demi Ka’bah’. Maka Nabi  memerintahkan kaum Muslimin, jika menghendaki sumpah untuk mengatakan ‘Demi Rabb Ka’bah’. Dan agar mereka mengatakan ‘Apa yang Allah kehendaki kemudian apa yang engkau kehendaki’. [HR. Nasâi, no. 3773; dishahîhkan oleh al-Albâni]

Ketika menjelaskan faedah-faedah dari hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata:

  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari orang Yahudi tersebut, padahal yang nampak dari niat orang Yahudi itu adalah mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau. Karena yang dia katakan memang benar.
  2. Disyari’atkan kembali menuju kebenaran walaupun yang mengingatkan hal itu adalah bukan pengikut kebenaran.
  3. Sepantasnya ketika merubah sesuatu hendaknya merubahnya kepada sesuatu yang dekat dengannya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengatakan ‘Demi rabb  Ka’bah’, dan beliau tidak mengatakan ‘Bersumpahlah dengan nama Allah Azza wa Jalla ‘. Dan beliau memerintahkan mereka agar mengatakan ‘Apa yang Allah Azza wa Jalla kehendaki, kemudian apa yang engkau kehendaki'”.

Setelah penjelasan ini, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn menyampaikan suatu masalah dan jawabannya. Yaitu jika ditanya: “Kenapa tidak ada yang mengingatkan (kesalahan) perbuatan ini kecuali seorang Yahudi?” Jawabannya adalah: “Kemungkinan Rasulullah n tidak mendengarnya dan tidak mengetahuinya.” Jika ditanya lagi, “Allah Maha mengetahui, kenapa mendiamkan mereka?”, maka dijawab: “Sesungguhnya itu adalah syirik ashghar (kecil), bukan syirik akbar (besar). Hikmahnya adalah ujian bagi orang-orang Yahudi. Mereka mengkritik umat Islam atas kata tersebut, padahal mereka menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan syirik yang besar, namun mereka tidak melihat aib mereka”.[6]

Bahkan sesungguhnya menolak kebenaran itu merupakan sifat orang-orang kafir. Syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu –hafizhahullâh– berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus para Rasul kepada manusia, dan memerintahkan mereka dengan dakwah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya. Namun mayoritas umat mendustakan para rasul. Mereka menolak al-haq yang telah diserukan kepada mereka., yaitu tauhid.  Maka akibatnya adalah kehancuran”. [7]

Syaikh juga mengatakan: “Oleh karena ini, wajib menerima al-haq dari siapa saja, bahkan walaupun dari setan.” [8] Kemudian Syaikh membawakan hadits shahîh seperti di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ َلأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

Dari Abu Hurairah , dia berkata: “Rasulullah mewakilkan aku untuk menjaga zakat Ramadhan. Kemudian ada seorang yang mendatangiku lalu mengambil makanan dengan tangannya. Maka aku menangkapnya, dan kukatakan: “Aku benar-benar akan membawamu kepada Rasulullah …kemudian dia menyebutkan hadits itu…lalu pencuri itu berkata: “Jika engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi, akan selalu ada seorang penjaga dari Allah atasmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai waktu subuh”. Kemudian Nabi bersabda: “Dia (pencuri itu) telah berkata benar kepadamu (hai Abu Hurairah), namun dia itu sangat pendusta, dia adalah setan“. [9]

Kesimpulannya adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu –hafizhahullâh– : “Berdasarkan ini, seorang Mukmin tidak boleh menolak kebenaran dan nasehat sehingga tidak menyerupai orang-orang kafir, dan sehingga tidak terjerumus di dalam kesombongan yang akan menghalangi pelakunya untuk memasuki surga. Hikmah adalah barang hilang seorang Mukmin, di mana saja dia menemuinya, dia mengambilnya”. [10]

Wallâhu Waliyut Taufîq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm, surat . ar-Ra’du/13: 19
[2] Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Anbiyâ’/21:24
[3] Syarah Muslim, hadits no. 2749
[4] An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts
[5] Iqtidhâ’ Shirâthil Mustaqîm, hlm. 14; syarah Syaikh al-‘Utsaimîn; Penerbit. Dâr Ibni Haitsâm; Kairo; takhrîj: Fathi Shâlih Taufîq
[6] Al-Qaulul Mufîd, hlm. 522-523; Penerbit Abu Bakar ash-Shiddîq, Mesir, cet. 1, th. 2007 M / 1428 H; tahqîq: Muhammad Sayyid ‘Abdur Rabbir Rasul
[7] Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
[8] Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
[9] HR. Bukhâri, no. 2311, 3275, dengan mu’allaq, namun disambungkan oleh Abu Bakar al-Ismâ’ili dan Abu Nu’aim, sebagaimana disebutkan di dalam Hadyus sâri, hlm. 42 dan Fathul Bâri 4/488. Lihat penjelasan lengkap di dalam Fathul Mannân, hlm. 458-460, karya Syaikh Masyhûr bin Hasan Alu Salmân
[10] Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140

Urgensi Akhlak Dalam Berdakwah

URGENSI AKHLAK DALAM BERDAKWAH

Keberhasilan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan Islam merupakan fakta yang sangat mencengangkan. Betapa tidak, dalam waktu yang relatif singkat, Islam bisa tersebar di tengah masyarakat jahiliyah yang sangat kuat memegang budaya nenek moyang. Fakta sejarah ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun kecuali orang yang menyimpan dendam, kedengkian dan kebencian. Apa rahasia dan bagaimana metode dakwah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Kita yakin bahwa metode dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah metode dakwah terbaik, metode dakwah yang sangat bijak dan memiliki pandangan jauh ke depan. Lihatlah sikap dan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Seorang arab pedalaman berdiri lalu kencing di masjid lalu orang-orang melarangnya (dengan keras). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka (para shahabat yang hendak melarangnya dengan keras), ‘Biarkanlah ia dan siramlah kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk mempersulit. [HR. al-Bukhâri no.213]

Sikap Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini meninggalkan kesan teramat indah yang menyebabkan orang tersebut memeluk Islam.

Metode dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlandaskan pada al-Qur’ân, kalâmullâh, yang datang dari Allâh Azza wa Jalla yang Maha Bijaksana.  Al-Qurân mengajarkan metode dakwah yang sangat bijaksana dan mengena. Kebijaksanaan ini semakin memperjelas kebenaran dan kemuliaan Islam sebagai agama paling akhir yang diakui oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Bagaimana tidak? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla kepada seluruh manusia dan jin untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, seperti beliau tandaskan dalam sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ صَالِحَ ) الأَخْلاَقِ

Aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemulian (dalam satu riwayat kesalihan) akhlak. [HR. al-Bukhâri dalam kitab al-Adab al-Mufrad . Lihat ash-Shahîhah no. 45]

Demikianlah tujuan dakwah beliau adalah membentuk insan kamil yang memiliki kesempurnaan akhlak mulia dengan cara dan metode yang juga mulia. Penyeru kepada kemulian akhlak yang sukses tentulah seorang yang memiliki akhlak mulia juga. Pantaslah bila Allâh Subhanahu wa Ta’ala memuji beliau dan akhlak beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [al-Qalam/68:4]

Tidak diragukan lagi bahwa akhlak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cerminanal-Qurân . Segala tindak tanduk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan aplikasi dari nilai-nilai al-Qurân, sehingga kemuliaan akhlak beliau benar-benar sempurna.

Perlu diingat, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengajarkan dakwah melalui lisan kepada umatnya. Namun yang menjadi rahasia besar kesuksesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah kemampuan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dakwah melalui contoh amal perbuatan dan kemuliaan akhlaknya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan kesabaran dan kasih sayang yang sempurna yang menjadi dua pokok akhlak dai dalam menghadapi gangguan dan rintangan dakwahnya.

Kesabaran mengandung unsur kelembutan yang dapat mengontrol diri agar tidak membalas kejelekan dengan sikap yang serupa. Sementara dengan sikap kasih sayang akan mendorong rasa iba terhadap kebodohan umat yang pada gilirannya akan mendorong untuk selalu berbuat baik kepada umat ini dan membalas kejelekan dengan kebaikan.

Akhirnya, sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia suka mendapatkan kebaikan tersebut dan memenuhi hak-hak mereka. Menunaikan hak-hak Muslimin bertumpu pada tali keimanan, meskipun tidak ada ikatan dan hubungan duniawi yang khusus dengan mereka. Sebab dengan iman, seorang menjadi bersaudara dengan yang lainnya.

Kami tutup dengan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah mengikat ikatan ukhuwah antara keduanya dengan firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya kaum Mukminin  itu bersaudara [al-Hujurât/49:10]

Marilah kita berdakwah dengan akhlak mulia menuju kesempurnaan akhlak yang mulia.

Wabillâhit taufîq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Dakwah Tidak Hanya Dengan Ceramah

DAKWAH TIDAK HANYA DENGAN CERAMAH

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar kepada seluruh umat manusia. Risalah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa ini akan kekal sampai hari kiamat. Risalah ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla agar  menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-Anbiyâ’/21:107]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah Rabbnya dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berjalan di atas manhajnya. Dakwah membimbing umatnya agar beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan berjalan diatas syari’at Allâh Azza wa Jalla adalah misi para Rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Beribadahlah kalian kepada Allâh (saja), dan jauhilah thaghut itu” [an-Nahl/16:36]

Itu pulalah misi yang diembankan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا

Hai nabi ! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allâh dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. [al-Ahzâb/33: 45-46]

Perintah berdakwah dan terus-menerus berdakwah ini diulang beberapa kali dalam al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ

Dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. [al-Hajj/22:67]

Juga firman-Nya :

قُلْ اِنَّمَآ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ وَلَآ اُشْرِكَ بِهٖ ۗاِلَيْهِ اَدْعُوْا وَاِلَيْهِ مَاٰبِ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allâh dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” [ar-Ra’d/13:36]

Misi dakwah yaitu menyampaikan petunjuk Allâh Azza wa Jalla kepada manusia juga merupakan wasiat para Nabi dan Rasul kepada para pengikutnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Mu’adz bin Jabal  Radhiyallahu anhu :

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah untuk bersyahadat (bersaksi ) bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allâh dan bahwasanya Aku (Muhammad) adalah utusan Allâh. [Muttafaq ‘alaih]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan kepada seluruh manusia secara umum untuk melaksanakan misi tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan  [Ali Imrân/3:104].

Oleh Dan setiap pengikut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah selayaknya untuk mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajak kepada keimanan dan tauhid serta mengajak untuk mengamalkan syari’at Allâh Azza wa Jalla . Dan hal yang terbaik dalam memanfaatkan umur kita adalah dengan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan beribadah dengan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam berdakwah mengajak manusia kepada agama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan dalam mengerjakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla serta menolong mereka dalam menlakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat.

Bahan Renungan
Dari uraian di atas, kita ketahui betapa mulia dan pentingnya dakwah. Namun terkadang, ada kendala dalam melaksanakannya. Berikut ada beberapa hal yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita sehingga terpacu untuk berdakwah sesuai dengan kemampuan kita.

Pertama : Amalan terbaik dan tertinggi di sisi Allâh adalah berusaha untuk membimbing manusia dari kegelapan menuju kepada petunjuk Allâh Azza wa Jalla . Oleh Karen itu, ucapan seorang da’i yang berdakwah dijalan Allâh Azza wa Jalla adalah perkataan terbaik di sisi Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman :

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, mengerjakan amal yang shaleh, dan mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri” [Fusshilat/41:33]

Setiap amal yang dilakukan oleh orang yang mendapat petunjuk melalui seorang da’i maka si da’i senantiasa mendapat bagian pahala darinya tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya sedikitpun. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya [HR.Muslim]

Juga sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْئًا

Barangsiapa  yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang tersebut. [HR. Muslim]

Apa yang dipetik oleh seorang da’i dari dakwahnya lebih baik daripada perhiasan dunia, sebagaimana sabda  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَوَاللهِ لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ

Demi Allâh ! Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk (hidayah) kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu lebih baik bagimu daripada kamu mendapatkan unta merah (barang yang sangat berharga ). [HR. Bukhari dan Muslim]

Kedua : Kefasihan dan kepandaian mengolah kata-kata bukanlah syarat dalam berdakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla . Nabi Musa Alaihissallam mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan kepada umatnya, sehingga beliau Alaihissallam berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla dengan perkataannya :

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ 

Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,supaya mereka mengerti perkataanku [Thâha/20:27-28]

Sementara Fir’aun jauh lebih fasih dalam berbicara dibandingkan Musa Alaihissallam , sebagaimana diceritakan oleh Allâh Azza wa Jalla :

اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ

Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? [az-Zukhruf/43:52]

Meski demikian, kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Musa Alaihissallam untuk menyampaikan risalah Rabbnya, sehingga pengikut Nabi Musa Alaihissallam merupakan ummat terbesar kedua setelah ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sampaikanlah ilmu yang telah kamu miliki ! Adapun kemampuan mengolah kata-kata, maka sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah rasa malumu menjadi penghalang untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya [al-Mu’minûn/23:62]

Ketiga : Diantara tanda kasih sayang Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya adalah cara berdakwah di jalan Allâh itu tidak hanya terbatas pada pemberian nasehat di atas mimbar atau pada perayaan-perayaan tertentu saja. Seseorang yang mengingkari perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain secara sembunyi atau rahasia itu termasuk dakwah. Orang tua yang menasehati anaknya juga dakwah yang bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Membiayai suatu amal kebaikan serta mendukung orang lain untuk berdakwah adalah dakwah juga. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat dengan berbagai latar belakang professinya adalah kader-kader da’i yang mendakwahi manusia ke jalan Allâh, baik dengan harta, pena maupun dengan lisan.

Keempat : Dalam mendakwahi keluarga, orang-orang di sekitarmu dan para hamba Allâh seluruhnya hendaklah kita menempuh cara yang pernah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam berdakwah. Awal dakwah mereka adalah dakwah menuju aqidah yang lurus. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya , “Tidak ada ilah (yang haq) kecuali Aku, oleh karena itu beribadahlah kalian kepada-Ku”. [al-Anbiyâ’/21:25]

Berdakwahlah kepada orang lain dengan cara yang sesuai dengan aturan-aturan syari’at. Janganlah kamu nodai dakwahmu dengan perbuatan maksiat, sekalipun terbayang dalam benakmu bahwa perbuatan maksiat itu bisa menarik perhatian banyak orang. Karena agama ini adalah agama yang agung yang tertolong dengan pertolongan Allâh Azza wa Jalla . Janganlah kamu bersikap pura-pura menyetujui perbuatan maksiat orang yang kamu dakwahi saat berdakwah, karena itu adalah yang diinginkan oleh sebagian pelaku maksiat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” [al-Qalam/68:9]

Kaum Muslimin wajib untuk selalu bahu-membahu dan tolong-menolong serta menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena perpecahan dan perselisihan hanya melahirkan kedengkian dan permusuhan, sementara musuh-musuh Islam tertawa gembira.  Di mata non-muslim, kaum Muslimin adalah gambaran nyata agama Islam itu sendiri. Prilaku kaum Muslimin bisa menjadi daya tarik minat orang untuk memeluk Islam atau sebaliknya, membuat lari dan benci terhadap Islam. Karena orang yang kita dakwahi tentu tidak mau memeluk agama yang berisi kebencian, permusuhan, perpecahan serta merusak akal. Oleh karena itu, hendaknya kaum Muslimin bersatu dalam aqidah Islam yang benar yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunah. Itulah sumber kebaikan dan kebahagiaan, sementara perpecahan dan perselisihan adalah pangkal kekalahan dan awal kehinaan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ

Dan taatlah kepada Allâh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. [al-Anfâl/8:46]

Kelima : Telah berlaku sunatullah bahwa pelaku maksiat itu lebih banyak jumlahnya dibanding orang-orang yang taat, sebagaimana firman-Nya :

وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ

Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang Fasik  [al-Mâidah/5:49]

Juga firman-Nya :

وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman  [Hûd/11:17]

Juga dalam Surat al-An’âm/6:116 :

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh  

Oleh karena itu, janganlah kita pesimis dalam mendakwahi manusia kepada petunjuk (hidayah), meskipun banyak yang berpaling dari petunjuk tersebut. Janganlah berputus-asa dalam menempuh jalan dakwahmu, meskipun kebathilan itu bertambah kuat. Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, ”Janganlah kalian tertipu oleh kebathilan walaupun banyak orang yang celaka karenanya, dan janganlah takut memilih jalan kebenaran walaupun sedikit yang menempuhnya.”

Tegarlah diatas kebenaran karena kamu berada pada jalan yang lurus. Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Engkau adalah umat, walaupun kamu seorang diri.

Keenam : Jangan kamu lihat keberhasilan dakwahmu dengan banyaknya pengikutmu, karena terbukanya hati seseorang adalah perkara yang ghaib, sementara usahamu hanya sebatas menyampaikan penjelasan dan berdakwah. Tugasmu bukan untuk memberi hidayah dan membuka hati. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan [al-Mâidah/5:99]

Tugasmu hanyalah menjelaskan dan Rabblah yang memberi petunjuk :

وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ

Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allâh-lah yang melempar  [al-Anfâl/8:17]

Betapapun usaha  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengislamkan pamannya Abu Thalib, akan tetapi keinginannya tidak tercapai. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya [al-Qashash/28:56]

Dan diantara para Nabi-Nabi ada yang bersungguh-sungguh dalam mendakwahi kaumnya selama bertahun-tahun, namun mereka tidak mendapat respon. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat yang terdahulu , maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang pengikutnya , dan seorang Nabi bersama seorang dan dua orang pengikutnya , dan ada Nabi yang sama sekali tidak punya pengikut [HR. Bukhari Muslim]

Bekalilah dirimu dengan ilmu dan tempuhlah dengan jalan hikmah dan peringatan yang baik dalam menjalankan misi dakwahmu !

Ketujuh : Janganlah engkau merasa berat untuk berdakwah di segala waktu dan kondisi. Terkadang, satu ucapan akan mendatangkan kebahagiaan bagimu sepanjang masa. Lihat, Nabi Nuh Alaihissallam menyeru umatnya siang dan malam, baik secara sembunyi–sembunyi dan terang-terangan. Nabi Yusuf Alaihissallam meskipun berada dalam penjara, beliau menyeru kepada tauhid. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allâh yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”  [Yûsuf/12:39]

Orang yang telah memperoleh cahaya hidayah berkewajiban untuk membimbing orang lain dengan cahaya hidayahnya. Hendaklah para ayah menjadi seorang da’i di rumahnya dengan memperbaiki keluarga !Dan hendaklah para istri menunaikan kewajibannya dalam mendidik anak-anak ! Ciptakanlah suasana kondusif yang mendukung untuk senantiasa taat kepada Allâh Azza wa Jalla ! Jauhkanlah mereka dari segala yang mengundang murka Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيْحَةٍ , إِلاَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ                                                                                 

Tidaklah seorang hamba yang diberi tanggung jawab kepemimpinan, kemudian dia tidak pernah memeliharanya dengan nasehat, kecuali diharamkan bagi masuk surga. [Muttafaq ‘alaih]

Kedelapan : Di antara tanda kejujuran dan kesungguhan seorang da’i adalah ia mendo’akan hidayah bagi orang yang didakwahinya tanpa sepengetahuan orang tersebut. Betapa banyak doa-doa yang dipanjatkan di akhir malam menjadi penyebab berubahnya keadaan kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, perbanyaklah do’a buat mereka yang masih bergelimang dengan dosa maksiat Supaya mendapat hidayah !

al-Muzâni rahimahullah berkata,  “Tidaklah Abu Bakar Radhiyallahu anhu itu lebih unggul daripada Sahabat-Sahabat Rasûlullâh yang lain dengan sebab shalat dan puasanya. Namun beliau Radhiyallahu anhu unggul dengan sebab apa yang ada dalam hatinya. Dalam hati beliau Radhiyallahu anhu ada rasa cinta kepada Allâh dan suka memberi nasehat kepada orang lain .”

Kesembilan : Perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain dapat menarik simpati hati orang lain kepada kita, demikian perkataan serta akhlak yang baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang da’i yang tercermin dalam akhlak dan pergaulannya.

أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أَسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ

Dahulu ada seorang pemuda yahudi yang menjadi pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Pada suatu hari, dia sakit, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya, seraya berkata : “Masuk Islamlah kamu !’ Si pemuda tadi menoleh ke ayahnya. (Melihatnya) sang ayahnya berkata, “Taatilah Abul Qâsim (Nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) ! Lalu pemuda tersebut masuk Islam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allâh) Yang telah menyelamatkannya dari api neraka” [HR. al-Bukhari]

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berusaha maksimal dalam memenuhi kebutuhan kaum Muslimin.”

Sejarah membuktikan telah banyak daerah yang ditaklukkan dengan perkataan dan perlakuan yang baik .

Kesepuluh : Ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan cahaya yang terpancar dalam dada yang dapat menggerakkan hati untuk menyambut panggilan dakwah. Oleh karena itu, wahai para da’i, perbanyaklah beribadah dan merendahkan diri di hadapan Allâh Azza wa Jalla. Sebab, hal tersebut akan menjadi sarana pertolongan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan hendaknya para da’i memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an serta shalat malam. Jika hati itu bersih, maka akan memancarkan pengaruh yang baik, dan sebaliknya apabila hati itu kotor, maka akan mendatangkan pengaruh yang buruk. Dukunglah do’amu dengan merendahkan diri di hadapan Allâh Azza wa Jalla supaya apa yang kamu lakukan diberkahi oleh Allâh Azza wa Jalla .

Semoga Allâh Azza wa Jalla meluruskan langkahmu , dan janganlah kamu hanya bersandar pada sebab-sebab  (usaha-usaha) yang nampak saja , dan perbanyaklah memuji Allâh Azza wa Jalla yang telah memilihmu dari sekian banyak manusia untuk menegakkan dakwah para rasul ini , dan menjadikanmu sebagai kunci hidayah bagi makhluk-Nya, sedangkan orang lain tidak bisa sepertimu.

(Diangkat dari al-Khuthabul Minbariyyah, Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah, Imam dan Khatib Masjid Nabawi Madinah, hlm. 146-151)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Metode Pendekatan Akhlak Ibnu Taimiyah Dalam Mendakwahi Masyarakat

METODE PENDEKATAN AKHLAK IBNU TAIMIYAH DALAM MENDAKWAHI MASYARAKAT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memandang manusia itu berbeda-beda tingkatannya. Orang yang paling afdhal dalam penilaian beliau adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama dan memiliki keunggulan dalam ilmu atau agama. Inilah gambaran orang paling baik. [1]

Dalam bermuamalah, beliau tidak membeda-bedakan orang. Karena Allâh Azza wa Jalla tidak memandang bentuk rupa dan kekayaan, akan tetapi, memandang hati dan amalan. Allâh Azza wa Jalla menjadikan amalan shaleh seseorang sebagai standar kemuliaan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allâh Azza wa Jalla ialah orang yang paling takwa diantara kamu. [al-Hujurât/49:13]

Oleh sebab itu, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah bersikap adil terhadap kaum Muslimin. Semua orang sederajat di majlis beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dalam barisan shalat. Namun, orang yang memiliki keutamaan tertentu, diakui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Seperti pada diri ‘Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , Thalhah bin ‘Ubaidillâh Radhiyallahu anhu , Zubair bin ‘Awwâm Radhiyallahu anhu , Sa’ad bin Muâdz Radhiyallahu anhu , Usaid bin Khudhair, ‘Abbâd bin Bisyr Radhiyallahu anhu , mereka termasuk para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar yang kaya-raya. Mereka mendapatkan tempat lebih di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dibandingkan kaum fuqoro.[2]

Nasab Bukan Jaminan Mulia Bagi Seseorang
Garis nasab tidak lantas mengangkat derajat orang secara otomatis. Garis nasab juga tidak dapat memenangkan orang dalam perolehan jabatan, rezeki dan memegang kendali hukum. Ini hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh dan ahli bid’ah.

Mengaitkan kemuliaan orang dalam agama berdasarkan nasab merupakan salah satu ciri hukum Jahiliyah yang diikuti oleh golongan Syiah dan orang-orang bodoh yang serupa dengan mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ فَضْلَ لِعَرِبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Tidak ada kemuliaan bagi orang Arab atau non-Arab kecuali dengan ketakwaan[3]

Karena itu, tidak ada satu ayat pun dalam al-Qur`ân yang memuji atau mencela orang karena nasabnya. Manusia dipuji karena keimanan dan ketakwaannya, dan ia dicela karena kekufuran, perbuatan fasik dan maksiatnya.

Disebutkan dalam hadits shahîh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

Empat perkara Jahiliyah yang masih ada pada umatku (yaitu) berbangga diri dengan status sosial, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang dan niyâhah  [HR. Muslim]

Dakwah Islamiyyah di setiap masa, merangkul siapa saja yang hatinya tunduk untuk mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya serta merelakan dirinya untuk membela agama dan umat. Tidak dilihat nasab, jabatan, warna kulit atau bahasanya. Siapapun yang lebih bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan lebih bermanfaat bagi manusia, ia lebih pantas untuk diutamakan dan lebih berhak memperoleh penghargaan daripada orang yang lebih rendah kadar ketakwaan dan manfaatnya bagi sesama meskipun nasab dan status sosialnya tinggi.

Da’i Pasti Akan Menghadapi Gangguan Dari Umat
Para dai akan menghadapi masyarakat yang memiliki hawa nafsu dan kesenangan yang susah mereka tinggalkan. Musuh dakwah pada umumnya adalah orang-orang yang hidup bergelimang kemewahan. Mereka takut kehilangan kedudukan bila dakwah Islamiyah menang.

Dengan kekayaan yang dimiliki, mereka dapat memanfaatkan orang-orang bayaran untuk melawan dakwah. Tidak  dipungkiri, menghadapi orang-orang seperti itu tentu sangat beresiko, karena kemungkinan besar akan mengadakan perlawanan. Namun, perlu diketahui, bahwa ini selalu menjadi jalan para dai ilal haq, sebab jalan para dai tidak pernah dihiasai dengan bunga-bunga yang wangi.

Seorang dai yang mengemban tugas menyelamatkan mereka (orang-orang yang bergelimang kemewahan) dari pengaruh buruk hawa nafsu mereka sendiri dan mengentaskan umat dari mereka memerlukan kesiapan seperti keimanan kuat dan akhlak yang mulia. Maka, menjadi kewajiban para dai untuk memperbekali diri dengan akhlak mulia dimana yang paling penting dari akhlak itu adalah kesabaran, lemah-lembut, dan mudah memberi maaf serta berbuat baik kepada mereka.

Dua Pokok Akhlak Da’i Dalam Berdakwah
Dua pokok akhlak dai dalam menghadapi  gangguan, kemarahan dan kebencian dari umat terhadap dakwah disebutkan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ

Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang [al-Balad/90:17]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allâh-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka. [Ali ‘Imron/3:159]

Kesabaran  mengandung unsur kelembutan yang dapat mengontrol diri agar tidak membalas kejelekan dengan sikap serupa. Kesabaran merupakan inti akhlak yang agung. Sebab Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu  [al-Qalam/68:48]

Maka menjadi kewajiban seorang dai untuk bersabar menghadapi gangguan orang dan takdir Allâh Azza wa Jalla , namun yang pertama itu lebih berat.[4]

Sementara sifat rahmat (penuh kasih-sayang) akan mendorong rasa iba akan kebodohan umat yang pada gilirannya akan mendorong untuk selalu berbuat baik kepada umat, membalas kejelekan dengan kebaikan. Bentuk akhlak yang berkebalikan dengan  fadhâhah (sikap kasar). Inilah bentuk ihsân ma’nawi (kebaikan maknawi) yang disodorkan kepada orang lain. Sementara bentuk kebaikan materiil, dengan memberikan harta, jasa, sehingga serupa dengan sifat kedermawanan. Allâh Azza wa Jalla telah memadukan dua bentuk ihsan ini dalam firman-Nya yang artinya:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh [al-A’râf/7:199]

Yang menjadi kewajiban antara sesama Mukmin, menyukai bagi saudara seiman apa yang disukai bagi dirinya sendiri. Dan memenuhi hak-hak sesama Mukmin yang bertumpu pada tali keimanan, meskipun tidak ada ikatan dan hubungan duniawi yang khusus dengan mereka. Sebab dengan iman, orang menjadi saudara dengan orang Mukmin yang lain.

Syaikhul Islam berkata, “Sesunggunya Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah mengikat ikatan ukhuwwah antara keduanya dengan firman-Nya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara  [al-Hujurât/49:10]

Barang siapa belum keluar dari keimanan, maka wajib diperlakukan atas dasar itu. Kebaikannya dipuji dan atas dasar itu ia didukung, dihalangi dari perbuatan haram dan dijauhi karenanya sesuai dengan kemampuan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Bantulah saudaramu dalam saat berbuat zhalim atau teraniaya [HR. al-Bukhâri no.2443].

Cinta, wala, permusuhan dan benci karena Allâh Azza wa Jalla harus menjadi landasan langkah setiap Muslim, sebagai wujud ketundukan terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ia mencintai apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan membenci apa yang dibenci Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Barang siapa ada pada dirinya kebaikan dan keburukan, maka ia diperlakukan sesuai dengan kondisinya tersebut, seperti para pelaku maksiat. Mereka pantas mendapatkan rasa cinta dan benci berdasarkan kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan dalam pergaulan dengan sesama manusia. Beliau diutus Allâh Azza wa Jalla dengan akhlak terbaik. Beliau memperlakukan mereka dengan baik, menyayangi, memuliakan, berlemah-lembut, bersabar, dan memaafkan mereka, tanpa meminta balasan atau mengharapkan pamrih duniawi.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasulullah sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana beliau diutus dengan mengemban ilmu dan petunjuk serta bukti-bukti kebenaran bersifat aqli dan naqli, beliau diutus juga untuk berbuat baik kepada manusia, menyayangi mereka tanpa minta imbalan dan bersabar dan bertahan menghaapi gangguan mereka…”[5]

Ketika kita berbuat kebaikan untuk sesama, siapapun dia, maka harus dilakukan dengan niat tulus karena Allâh Azza wa Jalla  mengharapkan pahala dan keridhaan-Nya. Sebab, melayani umat dan berbuat baik kepada mereka merupakan bentuk ibadah yang besar sehingga orang harus berniat ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla . Tidak meminta imbalan, doa atau apa saja dari orang. Jika melakukan itu karena berharap imbalan, maka itu sudah tidak termasuk perbuatan baik kepada orang. [6]

Keinginan berbuat baik kepada orang harus berlandaskan asas, pedoman dan memperhitungkan aspek kemaslahatan. Sebagian orang ingin melakukan hal-hal yang sebenarnya berbahaya bagi dirinya sendiri dan sebagian orang tidak peduli dengan apa-apa yag bermanfaat bagi dirinya lantaran pengaruh hawa nafsu dan syahwat mereka. Karenanya, menjadi kewajiban insan-insan yang berdakwah, untuk tidak memenuhi keinginan mereka ini. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukan termasuk berbuat baik, melakukan hal-hal yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Sungguh, Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ اَهْوَاۤءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُوْنَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (al-Qur`ân) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu [al-Mukminun/23:71]

Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan [al-Hujurât/49:7]

Berbuat baik kepada mereka hanyalah dengan melakukan apa saja yang bermanfaat bagi agama dan dunia mereka, meskipun itu dibenci. Akan tetapi, tentu harus berlemah-lembut dengan mereka dalam perkara-perkara yang mereka tidak sukai. Dalam Shahîhain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha Lembut, menyukai kelembutan dan memberikan hal-hal (baik) yang tidak didapat melalui sikap kasar [Muttafaqunalaih]

‘Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Demi Allâh Azza wa Jalla aku pernah berniat menyampaikan kebenaran kepada orang-orang, namun aku khawatir mereka akan lari. Maka, aku bersabar dulu sampai mereka mendapatkan nikmat duniawi. Saat itulah aku menyampaikan kebenaran. …demikianlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika kedatangan orang yang meminta sesuatu (memiliki kebutuhan) tidak menolaknya kecuali dengan memberikan apa yang diminta atau dengan tutur kata yang baik”.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Sesunggunya jiwa tidak menyukai kepahitan kecuali bila dicampur dengan sesuatu yang manis, tidak bisa kecuali dengan itu. Karena itu, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan menta`lif (melunakkan) hati para hamba terlebih dahulu dengan menetapkan bagian sedekah bagi para muallaf”. [7]

Dalam kesempatan lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah melukiskan jalan keberhasilan berinteraksi dengan manusia dengan berkata, “Bergaulah dengan mereka karena Allâh Azza wa Jalla dan mengharap pahala Allâh Azza wa Jalla dalam mempergauli mereka, tidak mengharapkan (pamrih) dari mereka di jalan Allâh Azza wa Jalla , hendaknya takut (bertakwa) kepada Allâh Azza wa Jalla saat bersama mereka dan tidak takut kepada mereka di jalan Allâh Azza wa Jalla , berbuat baik kepada mereka dengan berharap pahala dari Allâh Azza wa Jalla , bukan mengharap timbal-balik dari mereka, tidak menzhalimi mereka karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla bukan karena takut kepada mereka”.

Kerjakan perintah Allâh Azza wa Jalla , meskipun mereka tidak menyukaimu. Termasuk tanda kelemahan iman, engkau mencari ridha manusia dengan melakukan hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla murka atau mencela mereka dengan hal-hal yang tidak engkau dapatkan dari Allâh Azza wa Jalla . Demikian pesan beliau yang lain.

Beliau juga mengatakan, “Manusia akan lebih condong kepada orang yang bersifat terpuji dan menjauh dari orang yang bersifat buruk”. [8]

Sesungguhnya keyakinan seseorang  itu mencakup keyakinan dalam menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla dan janji-Nya bagi orang-orang yang taat, serta mencakup keyakinan terhadap takdir Allâh Azza wa Jalla , penciptaan dan pengaturan-Nya. Jika engkau membuat mereka cinta kepadamu dengan melakukan hal-hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla murka, berarti engkau belum memiliki keyakinan, tidak kepada janji atau pun rezeki dari-Nya…barang siapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allâh Azza wa Jalla , itu tidak akan memberikan manfaat bagi dai sedikit pun. Orang seperti ini akan sangat takut dengan manusia, akan banuak berbuat kezhaliman bila berkuasa dan sangat terhina bila terkalahkan. Ia selalu takut kepada manusia sesuai dengan keadaan mereka. inil termasuk faktor yang memicu terjadi fitnah di tengah manusia. [9]

Bukan Sekedar Berteori
Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak hanya berada dalam tataran teoritis semata, meminta dan mengarahkan orang melakukan sesuatu sementara beliau duduk-duduk saja di majlis jauh dari masyarakat. Sebaliknya, tidaklah beliau mencapai teori-teori tersebut dan memperoleh kekuatan menyimpulkan pedoman-pedoman kecuali karena menuliskannya berdasarkan perjalanan dan praktek langsung di lapangan yang beliau jalani dengan dasar ilmu yang sangat luas dan pemahaman kuat terhadap maqashid syariat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mencintai orang-orang dan menginginkan kebaikan bagi mereka, serta tulus dalam melayani dan berbuat baik kepada mereka, berlemah-lemah dalam berinteraksi dengan mereka. dan orang-orang pun membalas beliau dengan kecintaan pula.

Kecintaan mereka ini tampak sekali ketika mereka berjumpa dengan beliau. Bahkan ketika para pemilik toko menyaksikan beliau berjalan memasuki pasar, mereka langsung menyambut beliau dan melontarkan salam kepada beliau, serta berharap doa darinya. Dan beliau merespon salam mereka.

Apabila mendengar ada orang meninggal, beliau bersegera ikut menyolati jenazahnya. Jika terlambat, kekecewaan tampak pada muka beliau dan terkadang menyempatkan pergi ke makam untuk menyolati dan mendoakan jenazah di sana.

Setiap pekan, beliau menyempatkan mengunjungi orang-orang sakit terutama yang berada di Maristan, sebuah tempat semacam rumah sakit di zaman itu yang dibangun oleh Nûruddîn Mahmûd bin Zanki rahimahullah, penguasa masa itu yang mendukung dakwah beliau.

Majlis beliau selalu terbuka bagi siapa saja. Hati beliau menerima seluruh manusia. majlis beliau terbuka bagi orang dewasa, anak-anak, pejabat, rakyat jelata, orang merdeka, budak belian, lelaki maupun perempuan. Dan setiap orang merasakan penghormatan yang sangat besar dari beliau.

Diceritakan oleh al-Bazzâr rahimahullah bahwa beliau akan menemani orang yang mendatangi beliau sampai dia sendiri yang berpamitan, siapapun dia. Tidak menyakiti  orang dengan tutur kata yang  menyakitkan. Beliau menjawab dan memahamkan, serta memperlihatkan kesalahannya dengan penuh kelembutan dan kehangatan.

Ibnu ‘Abdil Hâdi rahimahullah, salah seorang murid beliau menceritakan, “Orang-orang umum mencintainya, karena beliau selalu siap memberi manfaat bagi mereka siang dan malam dengan lisan dan tulisannya”. [10]  Karena itu, julukan Syaikhul ‘Ammâh (Syaikh panutan siapa saja) juga melekat pada diri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Semoga pemaparan ini bermanfaat, menjadi cermin bagi kita terutama para dai dalam mengabdikan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan dakwah ilal haq.

(Diterjemahkan bebas dari Manhaju Syaikhil Islâm Ibni Taimiyyah fid Da’wati Ilallâh Ta’ala, DR. ‘Abdullâh bin Rasyîd bin Muhammad al-Jusyâni 2/453-462 oleh Abu Minhal dengan peringkasan dan pembubuhan beberapa sub judul)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  al-Fatâwâ 28/576
[2]  al- Fatâwâ 11/126
[3]  HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi. Lihat Silsilatus Shahîhah, no. 2700-red
[4]  al-Fatâwâ:16/71, at-Tafsîr al-Kabîr 5/366, 6/91-92
[5]  al-Fatâwâ 16/313, at-Tafsîr al-Kabîr 6/313
[6]  al-Fatâwâ 1/54
[7]  al-Fatâwâ 28/364-365
[8]  ar-Raddu ‘alal Manthiqiyyîn hlm. 430.
[9]  Lihat al-Fatâwâ 1/51,52, 54
[10]  al-Uqûd ad-Durriyyah hlm.188

Berdakwah Dengan Akhlak Mulia

BERDAKWAH DENGAN AKHLAK MULIA

Oleh
Ustadz Abu Abdir Rahman Abdullah Zaen, MA.

Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata
Seorang preman mendapatkan hidayah mengenal manhaj Salaf. Dulu, ia dibenci masyarakat karena suka mengganggu, gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun tidak ada seorang pun yang berani menegurnya, karena takut mendapatkan bogem mentah darinya.

Setelah mengenal dakwah Ahlu Sunnah ini, ia berubah menjadi orang yang  baik (shalih) dan alim, hanya saja masyarakat tetap tidak menyenanginya, tetap membencinya, padahal ia sudah meninggalkan keburukanya dulu. Kalau dulu masyarakat tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahi, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya?

Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu dibenci karena ‘kepremanannya’, sekarang dibenci karena ‘keshalihan’nya…

Haruskah orang yang mengikuti manhaj Salaf menghadapi kebencian dari masyarakat? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?

Benar, seseorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Ulama Salaf saja sudah terlebih dulu menghadapi tantangan. Para pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, akan tetap dihadang oleh tantangan dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibandingkan kebaikan.

Namun, yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj Salaf, murni diakibatkan keteguhan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau disebabkan factor lain, seperti tidak bisa membawa diri dengan baik di tengah masyarakat, , kurang cakap dalam dalam menjelaskan prinsip dan kurang pandai dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah (dakwah Salaf) dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?

Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominant dalam melahirkan antipati masyarakat.

Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allâh semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Perintah untuk berakhlak mulia
Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’ân maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:

Firman Allâh Azza wa Jalla tatkala memuji Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur [al-Qalam/68 : 4]

Juga sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Pergaulilah manusia dengan akhlak mulia  (HR. at-Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih)

Apa itu akhlak mulia?
Banyak definisi yang disampaikan Ulama. Definisi yang cukup mewakili adalah:

بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى

Akhlak mulia adalah berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri ketika disakiti[1]

Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:

  1. Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya : berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.
  2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya : tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.
  3. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

Apa maksud dakwah dengan akhlak?
Sebagian kalangan masih menganggap dakwah hanya berbentuk penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi aspek lainnya juga; semisal praktek nyata, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang lazim dikenal dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.[2]

Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun hanya sedikit yang menjalankan ucapannya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah hasanah (potret keteladanan yang baik) di  tengah masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas. [3]

Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.

Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in..

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Lihat Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hambali IV/44 dan Madârijus Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim II/318-319
[2] Lihat Munthalaqât ad-Da’wah wa Wasâ’il Nasyriha, Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad’uwwîn wa Kaifiyyah Da’watihim, karya Prof. Dr. Hamûd bin Ahmad ar-Ruhaili hlm. 41
[3] It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma’rifah Wasâ’il at-Tarbiyah al-Mu’atsirah , Ummu ‘Abdirrahmân binti Ahmad al-Jaudar hlm.14


Akhlak Mulia dan Dampak Positifnya Dalam Dakwah

AKHLAK MULIA DAN DAMPAK POSITIPNYA DALAM DAKWAH

Oleh
Ustadz Abu Abdir Rahman Abdullah Zaen, MA.

Definisi akhlak mulia ialah berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawakan beberapa contoh saja. Semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca dapat menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.

1. Gemar membantu orang lain.
Banyak nash dalam al-Qur’ân maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya, sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ                                               

Allâh akan membantu seorang hamba jika ia membantu saudaranya [HR. Muslim no. 6793dari Abu Hurairah]

Sifat gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadîjah Radhiyallahu anha tatkala beliau menghibur suaminya; Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadîjah Radhiyallahu anha berkata:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Demi Allâh tidak mungkin! Allâh tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah [HR. al-Bukhâri no. 3 dan Muslim no. 401]

Maksud perkataan Khadîjah Radhiyallahu anha di atas, sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai, karena Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu Khadîjah  Radhiyallahu anha menyebutkan berbagai contohnya,[1] di antaranya gemar membantu orang lain.

Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah. Tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, kemudian ada orang yang membantunya, jelas susah baginya melupakan kebaikan orang tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘berbalas budi’  atas kebaikan yang kita sodorkan kepadanya.

Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia, kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan keuangan, kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.

Jika hal ini rajin diterapkan, lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu, sehingga dakwah salafiyah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.

2. Jujur dalam bertutur kata
Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla berfiman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allâh dan ucapkanlah perkataan yang benar [al-Ahzâb/33:70]

Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu bercerita, bahwa tatkala turun firman Allâh Azza wa Jalla ,

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. [asy-Syu’ara/26:214]

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit Shafa dan berteriak memanggil, “Wahai kaumku kemarilah!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Siapakah yang memanggil itu?”. “Muhammad”, jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai bani Fulan, bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?”.

Mereka menjawab, “Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!”.

“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!” , lanjut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [HR. al-Bukhâri no. 4971 dan Muslim no. 507 dengan redaksi Muslim]

Lihatlah bagaimana kejujuran Rasûlullâh dalam bertutur kata menjadi dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.[2]

Seorang Muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita, akan disegani. Ucapannya akan didengar. Dan ini modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya mudah menyebarkan isu yang belum jelas kebenarannya, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.

3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

Tolonglah aku untuk mencari (dan membantu) orang-orang lemah. Sesungguhnya kalian dikaruniai rezeki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. [HR. Abu Dâwud no. 2594, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawi][3]

Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditegur langsung Allâh Azza wa Jalla tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu Allâh Azza wa Jalla abadikan dalam surat ‘Abasa. Setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Dialah ‘Abdullâh Ibn Ummi Maktûm Radhiyallahu anhu.

Bersikap ramah dan perhatian terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut.  

Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia menjawab, “Orang-orang lemah dan kaum miskin”. Heraklius pun menimpali, “Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa”.[4]

Ketika menafsirkan Surat asy-Syu’ârâ ayat ke-111, Imam Abu Hayyân rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab, otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi, sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orang-orang terpandang.[5]

Sedangkan keuntungan kedua, dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, termasuk orang-orang yang memiliki status sosial tinggi. Masyarakat cenderung lebih respek kepada ulama atau da’i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang miskin dan lemah dibandingkan kepada penceramah yang hanya berada dalam lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab masyarakat menganggap da’i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun penceramah (Ulama) yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?

Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orang-orang yang memiliki kedudukan[6], namun penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para da’i dan Ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan, dengan satu tujuan lurus, mengajak mereka semua ke jalan Allâh Azza wa Jalla .

Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya ‘Adi bin Hâtim ath-Thâ’I, seorang raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar munculnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah,  membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu atas kemunculan raja pesaing baru, hingga datanglah suatu hari dimana Allâh Azza wa Jalla membuka hatinya untuk mendatangi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Begitu mendengar kedatangan ‘Adi, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang berada di masjid dengan para Sahabatnya segera bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil beliau. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berhenti dan meninggalkan ‘Adi guna mendatangi wanita tersebut. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup lama berdiri melayani kebutuhan si wanita. Melihat tawadhu’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Adi bergumam dalam hatinya, “Demi Allâh, ini bukanlah tipe seorang raja!”.

Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggamit tangan ‘Adi melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan ‘Adi untuk duduk di atasnya. ‘Adi pun menjawab, “Tidak, duduklah engkau di atasnya”. “Tidak! Engkaulah yang duduk di atasnya” sahut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akhirnya, ‘Adi duduk di atas bantal tersebut dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas tanah. Saat itu, ‘Adi kembali bergumam dalam hatinya, “Demi Allâh, ini bukanlah karakter seorang raja!”.

Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya ‘Adi pun mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya. [7]

Lihatlah bagaimana ‘Adi begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan sabar melayani kepentingan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalanannya mendampingi seorang raja besar! Goresan kesan baik yang mengendap dalam hatinya terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , merupakan titik awal ketertarikan sang raja untuk memeluk Islam.

Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da’i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allâh Azza wa Jalla , dia telah berhasil mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, “Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!”. Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da’i tersebut yaitu keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang ‘kecil’. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!

4. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.
Dari Abu Hurairah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

Ucapan yang baik adalah sedekah (HR. al-Bukhâri no. 2989 dan Muslim no. 2332)

Memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah. Penulis pernah mendapatkan cerita dari saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menangkis, “Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!”. Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.

Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita ‘menabrak’ langsung lawan bicara kita. Bukankah itu akan mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya, lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?

Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, “Betul Pak, pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat, sehingga timbullah keseimbangan antara dua sisi tersebut”.

Kita bisa mengambil suri teladan dari metode Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati para Sahabat.

Abu Umamah Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasûlullâh, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.
“Tidak demi Allâh, wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.
“Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.
“Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.

Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allâh, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. [HR. Ahmad XXXVI/545 no. 22211 dan sanad shahîh].[8]

Cermatilah bagaimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun, dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil  memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin, sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Jalan dakwah memang panjang dan membutuhkan kesabaran.

Tidak ada salahnya, kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu sebelum mengenal dakwah Salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta-merta sekali diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita pegangi? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?

Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap, kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah ketika beliau menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla :

كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ

Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allâh melimpahkan nikmat-Nya pada kalian. [an-Nisâ/4: 94][9]

Tidaklah mudah, mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk menganut sebuah keyakinan baru. Maka, langkah awal yang ditempuh, buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan (keistimewaan, kebenaran) ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, dengan izin Allâh Azza wa Jalla , sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya, kemudian beralih ke ideologi yang baru.

5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil [al-A’râf/7:199]

Potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam amatlah banyak, baik dengan sesama Muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin.

Di antara contoh jenis pertama, kejadian yang dikisahkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu:

كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ: “مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!” فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

Suatu hari aku berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu beliau mengenakan pakaian (kain) buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan orang itu, sembari berkata, “Berilah aku sebagian dari harta yang Allâh berikan padamu!”. Beliau pun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta”. [HR. al-Bukhâri no. 3149 dan Muslim no. 2426]

Contoh jenis kedua antara lain, kejadian yang dikisahkan ‘Aisyah  Radhiyallahu anha :

Suatu hari aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibandingkan hari peperangan Uhud?”.

Beliau menjawab, “Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu, aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku. Aku pun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa’âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada awan yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, “Sesungguhnya Allâh telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allâh telah mengirimkan untukmu malaikat gunung, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu”. Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Justru aku berharap, semoga Allâh berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada Allâh semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun”. [HR. Muslim no. 4629]

Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri, apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah-daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan muncul tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin juga berbentuk serangan fisik, dari pihak yang antipati terhadap dakwah. Ketika seorang da’i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insya Allâh dengan berjalannya waktu, hati para ‘lawan’ dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah yang penuh berkah ini dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring. [10]

Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini. Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang sangat masyhur keteguhannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah t .

Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah menghadang Ibnu Taimiyah rahimahullah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, meminta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.

Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”.

“Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak  untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allâh. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku, maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allâh, maka Dia Azza wa Jalla yang akan membalas jika Dia Azza wa Jalla berkehendak!”. [11]

Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid’ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah.  Sultan Muhammad Qalawun rahimahullah termasuk penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pada suatu tahun, Sultan Qalawun pergi berhaji ke Baitullah. Selama menjalankan ibadah haji, pemerintahan diserahkan kepada salah seorang wakilnya, Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang merupakan murid salah satu tokoh sufi abad itu, Nashr al-Manbaji, dikenal sangat benci terhadap Ibnu Taimiyah.

Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah rahimahullah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun terlebih dahulu kembali dari haji.

Mendengar berita adanya makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar tersebut. Namun, begitu sampai berita itu ke telinga Ibnu Taimiyah rahimahullah, ulama ini bergegas mendatangi Sultan Qalawun , sambil mengatkan, “Saya telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya, Sultan pun memaafkan mereka.

Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibnu Taimiyah rahimahullah , Zainuddîn bin Makhlûf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibnu Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya, kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun, tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas, malah memaafkan kami!”.[12]

Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan, berkat taufiq dari Allâh Azza wa Jalla , kemudian dengan ketulusan hati para da’i.     

6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.
Sifat ini lebih dikenal para Ulama dengan istilah ‘iffah atau ‘afâf. Ini merupakan salah satu karakter para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allâh Azza wa Jalla beritakan dalam al-Qur’ân,

“يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً “.

“(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain”.[Al-Baqarah/2: 273].

Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka dapat menyaksikan langsung Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan: sabdanya,

“مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ”.

“Barang siapa menahan diri untuk tidak minta-minta; maka Allâh akan jadikan ia memiliki sifat ‘iffah. Dan barang siapa menampakkan diri berkecukupan; niscaya Allâh akan menjadikannya kaya”. [HR. al-Bukhâri no. 1427 dan Muslim no. 2421 dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu]

Lantas apa korelasi antara bersifat ‘iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:

Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat, manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk seseorang yang bertanya, “Wahai Rasûlullâh, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan, aku akan disayang Allâh dan dicintai manusia!”. Beliau pun menjawab:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ

Bersifat zuhudlah di dunia, niscaya engkau akan disayang Allâh. Dan bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka mencintaimu [HR. Ibnu Mâjah no. 4177 dari Sahl bin Sa’d as-Sâ’idi Radhiyallahu anhu dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah][13]

Jika seorang da’i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.

Kedua: Orang yang memiliki sifat ‘afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da’i tersebut; jelas -dengan izin Allâh Azza wa Jalla – mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk [Yâsin/36:21]

Kiat menumbuhkan sifat ‘afâf
Sifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun, ada kiat khusus yang dapat membantu kita menumbuhkan karakter mulia ini dalam diri kita. Yaitu, dengan melatih diri bersifat qona’ah yang berarti menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allâh Azza wa Jalla . Sebab, sebenarnya sifat ‘afâf  merupakan buah dari sifat qona’ah. [14]

Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona’ah? Jawabannya, dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki hanyalah di tangan Allâh Azza wa Jalla dan yang kita dapatkan telah dicatat Allâh Azza wa Jalla , serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.

Catatan penting[15]
Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini:
Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia!

Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan[16], tahlilan[17], maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya. Caranya? Dengan selalu berusaha berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, semisal kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.

Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidakikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.

Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat, namun mengabaikan pembenahan akidah.

Jawabannya:

  • Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja. Namun, juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullah berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”[18].

Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru, adanya prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja, tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum Muslimin”[19].

  • Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!

Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak Islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu.

Sikap ini juga kurang tepat, karena seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan memperbaiki akhlaknya yang belum baik, lalu berusaha terus-menerus menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!

Penutup
Sebenarnya masih banyak contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah “Bisnis afwan akhi!” [20], yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat yang banyak dan menjadikan kita selalu berupaya untuk berakhlak mulia di tengah masyarakat yang jelas-jelas membutuhkan pembinaan Islami untuk menjadi lebih baik.

Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in..

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Syarh Shahîh Muslim , Imam Nawawi II/377
[2] Makârim al-Akhlâq fî Dhau’i al-Kitâb wa as-Sunnah karya Syaikh Salim al-Hilâli hlm. 39
[3] Riyâdh ash-Shâlihîn hlm. 146
[4] al-Bidâyah wa an-Nihâyah VI/471-472
[5] Tafsîr al-Bahr al-Muhîth VII/30
[6] Penulis telah sedikit mengupas tentang permasalahan ini serta dampaknya yang amat signifikan untuk kemajuan dan perkembangan dakwah, dalam buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah hlm. 69-73
[7] Tahdzîb Sîrah Ibn Hisyâm , ‘Abdussalâm Hârûn hlm. 272-274
[8] Ash-Shahîhah I/713 no. 370
[9] Tafsîr as-Sa’di hlm. 158
[10] Cermati Ashnâf al-Mad’uwwîn hlm. 54
[11]  Al-‘Uqûd ad-Durriyyah , Ibnu ‘Abdil Hâdi hlm. 224-225
[12] Lihat: Ibid (hlm. 221)
[13] Riyâdhush Shâlihîn hlm. 216
[14]  Bahjatun Nâzhirîn I/583
[15] Nukilan dari buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah hlm. 25-27
[16] Untuk mengenal lebih lanjut hukum acara dipandang dari kacamata Islam, silahkan merujuk ke buku Yasinan  karya Ust. Yazîd bin Abdul Qâdir Jawwâs, dan makalah Takhrîj Hadits-Hadits tentang Keutamaan Surat Yâsîn karya Ust. Dzulqarnain Sunûsi (dalam Majalah an-Nashîhah vol 06 hlm 50-59).
[17] Untuk mengenal lebih lanjut hukum tahlilan dipandang dari kacamata Islam Hukum Tahlilan Menurut Empat Madzhab karya Ust. Abdul Hakîm bin ‘Âmir ‘Abdât.
[18] Syarh as-Sunnah , Imam al-Barbahârî (hal. 126).
[19] Nashîhah li asy-Syabâb hlm. 1
[20] Majalah Nikah, vol. 8, no. 6, September-Oktober 2009 hlm. 82-83

Wajib Berdakwah Kepada Kebaikan dan Haram Mengajak Kepada Kesesatan

WAJIB BERDAKWAH MENGAJAK MANUSIA KEPADA KEBAIKAN DAN HARAM BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA KESESATAN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2674; Abu Dawud, no. 4611; At-Tirmidzi, no. 2674; Ibnu Mâjah, no. 206; Ahmad, II/397; Ad-Dârimi, I/130-131; Abu Ya’la, no. 6489) (649) tahqiq Husain Salim Asad; Ibnu Hibbân, no. 112-at-Ta’lîqâtul Hisân; Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 109

KOSA KATA HADITS

  • هُدًى : Petunjuk. Yaitu kebenaran dan kebaikan.
  • ضَلَالَة : Kesesatan. Yaitu kebathilan dan kejelekan (keburukan).[1]

SYARAH HADITS
Hadits ini –dan juga hadits-hadits yang serupa dengannya- mengandung anjuran untuk berdakwah yaitu mengajak manusia kepada petunjuk dan kebaikan, keutamaan da’i. Hadits ini juga peringatan dari perbuatan mengajak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan, serta besarnya dosa penyeru (kepada kejelekan) tersebut dan akibatnya.

Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas, yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.[2]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kedua hadits di atas jelas menunjukkan anjuran dan disukainya memberikan contoh perkara-perkara yang baik dan haramnya memberikan contoh perkara-perkara yang buruk. Orang yang memberi teladan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan orang yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Begitu juga orang yang mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa pengikutnya, baik petunjuk atau kesesatan tersebut ia yang pertama kali memulainya, atau sudah ada sebelumnya (yang melakukannya). Dan baik itu dengan mengajarkan ilmu, atau ibadah, ataupun adab dan lainnya.

Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ) ‘yang mengerjakannya setelahnya’, maknanya bahwa perbuatan teladan tersebut (diikuti oleh orang lain) baik semasa hidupnya ataupun setelah ia meninggal dunia. Wallâhu a’lam.”[3]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang mengajak kepada petunjuk dengan dakwahnya, ia mendapat ganjaran seperti ganjaran orang yang mendapat petunjuk tersebut. Dan orang yang menyebabkan kesesatan dengan seruannya, ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang ia sesatkan tersebut. Karena orang yang pertama telah mencurahkan kemampuannya untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan orang kedua mencurahkan tenaganya untuk menyesatkan manusia. Maka masing-masing dari keduanya berkedudukan seperti orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Ini adalah kaidah syari’at. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan.” [ Al-‘Ankabût/29 :13]

Ini menunjukkan bahwa orang yang mengajak manusia kepada selain sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka dialah musuh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya. Karena ia memutus sampainya pahala orang yang mendapat petunjuk dengan sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Dan ini merupakan sebesar permusuhannya.”[4]

Keutamaan Berdakwah Mengajak Kepada Kebenaran
Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Ali ‘Imrân/3:104]

Juga firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu:

فَوَاللهِ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allâh, bila Allâh memberi petunjuk (hidayah) lewat dirimu kepada satu orang saja, lebih baik (berharga) bagimu daripada unta-unta yang merah.[5]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa! Sungguh, semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih (kebajikan) serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. [Al-‘Ashr/103:1-3]

Berdasarkan ayat-ayat al-Qur-an dan hadits ini, yang dimaksud dengan اَلْهُدَى adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allâh sebagai saksi. [Al-Fath/48: 28]

Yang dimaksud dengan اَلْهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan yang dimaksud dengan دِيْنُ الْحَقِّ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan tentang Nama-Nama Allâh Azza wa Jalla , Sifat-Sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allâh Azza wa Jalla , mencintai-Nya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan syirik, perilaku dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[6]

Maka setiap orang yang mengajarkan ilmu atau mengarahkan orang lain kepada jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu, maka dia disebut sebagai penyeru kepada petunjuk. Dan setiap orang yang menyeru kepada amal shalih yang berkaitan dengan hak Allâh atau hak makhluk secara umum dan khusus, maka dia juga disebut sebagai penyeru kepada petunjuk.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.[7]

Setiap orang yang memberi nasehat berkaitan dengan agama atau dunia yang bisa mengantarkannya kepada ajaran agama, maka orang itu adalah penyeru kepada petunjuk.

Setiap orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu serta amalnya, lalu diikuti oleh orang lain, maka dia adalah penyeru kepada petunjuk.

Dan setiap orang yang membantu orang lain dalam amal kebaikan atau proyek umum yang bermanfaat, maka dia masuk dalam kategori hadits ini, seperti berdakwah, sedekah, membangun masjid, sekolah, pondok pesantren dan lainnya.

Setiap orang yang menolong orang lain dalam kebaikan dan takwa, maka dia termasuk penyeru kepada petunjuk.

Sebaliknya, setiap orang yang menolong orang lain dalam dosa dan permusuhan, maka dia termasuk penyeru kepada kesesatan.

Definisi Dakwah
Dakwah (mengajak manusia ke jalan Allâh), yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla , mengimani apa yang dibawa para Rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan kepada manusia, mentaati mereka, mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Baitullah, mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla , Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, beriman kepada hari akhir (dibangkitkannya manusia sesudah mati), iman kepada qadar yang baik dan buruk, dan mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allâh saja seolah-olah ia melihat-Nya.[8]

Jadi, yang dikatakan dakwah adalah mengajak manusia kepada Rukun Islam, Rukun Iman, dan melaksanakan syari’at Islam, taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , melarang perbuatan syirik, mengajak umat untuk ittiba’ (meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan melarang dari berbuat bid’ah. Mengajak manusia ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan di akhirat dengan mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum.

Dakwah di jalan Allâh merupakan sebesar-besar ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allâh dan beramal shalih.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]

Rukun Dakwah
Orang yang berdakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla harus mengetahui fikih dakwah serta pokok-pokoknya agar dakwahnya berjalan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).  Maka di antara rukun dakwah, yaitu:

Rukun pertama, maudhu’ (tema) dakwah, yaitu agama Islam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam [Ali ‘Imrân/3:19]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. [Ali ‘Imrân/3:85]

Rukun kedua, da’i (penyeru) yaitu orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan.
Seorang da’i hendaknya mengetahui bekal seorang da’i dan senjatanya, apa tugasnya, bagaimana seharusnya akhlak seorang da’i, dan memahami itu semua merupakan hal paling penting bagi seorang da’i.

Di antara bekal yang harus dimiliki oleh seorang da’i yaitu:

  • Pemahaman yang mendalam yang dibangun di atas ilmu sebelum beramal. Yaitu memahami aqidah dengan pemahaman yang benar dengan dalil-dalil dari al-Quran, hadits, serta ijma’ para Ulama ahlus sunnah. Juga memahami tujuannya dalam hidup ini dan perannya di antara manusia, senantiasa terikat dengan akhirat dan tidak tertipu dengan kehidupan dunia.
  • Iman yang mendalam dan berbuah cinta kepada Allâh Azza wa Jalla , takut kepada Allâh Azza wa Jalla , berharap hanya kepada-Nya, bertawakkal, beristighatsah kepada-Nya, ikhlas semata-mata karena-Nya, dan jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan.

Rukun ketiga, mad’u (orang yang diseru).
Seorang da’i harus mengetahui bahwa dakwah Islam ini bersifat umum kepada seluruh manusia, bahkan untuk jin dan manusia seluruhnya, di setiap waktu dan tempat sampai hari Kiamat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]

Dan seorang da’i harus mengetahui bahwa keadaan ummat yang diseru ini bermacam-macam.

Rukun keempat, uslub (cara) berdakwah dan menyampaikannya.
Seorang da’i harus memahami cara berdakwah dan menyampaikannya, agar ia mampu menyampaikan dakwah dengan bijaksana, sempurna dan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).[9]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.  [An-Nahl/16:125]

Sesungguhnya orang yang memperhatikan perjalanan para Ulama ahli hadits pada masa-masa yang telah lewat, dia akan melihat bahwa mereka mengikuti metode yang sama dalam berdakwah menuju Allâh di atas cahaya dan bashîrah (ilmu dan keyakinan).

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (Muhammad): ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh dengan yakin, Mahasuci Allâh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik. [Yûsuf/12:108]

Yaitu metode yang meliputi ilmu, belajar dan mengajar. Karena sesungguhnya apabila dakwah menuju Allâh merupakan kedudukan yang paling mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat berdakwah, dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnanya dakwah, haruslah ilmu itu dicapai sampai batas usaha yang maksimal.

Syarat seseorang berdakwah harus berilmu dan paham tentang ilmu syar’i. Dengannya ia dapat mengajak ummat kepada agama Islam yang benar.
Metode ilmiah ini dibangun di atas tiga dasar:

  1. Al-‘Ilmu, yaitu mengetahui al-haq (kebenaran).
  2. Dakwah menuju al-haq (mengajak manusia kepada kebenaran).
  3. Teguh dan Istiqamah di atas kebenaran.

Berdakwah atau mengajak manusia kepada Islam yang benar, yaitu mengajak manusia kepada cara beragama yang benar, baik tentang ‘aqidah, manhaj, ibadah, akhlak, dan yang lainnya menurut pemahaman as-salafush shalih. Dakwah ini harus memenuhi tiga syarat:

Pertama:  Akidahnya Benar (سَلاَمَةُ الْمُعْتَقَدِ)
Maksudnya seseorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran akidah Salaf tentang tauhid Rubûbiyyah, Ulûhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta semua yang berkaitan dengan masalah akidah dan iman.

Kedua: Manhajnya Benar (سَلاَمَةُ الْمَنْهَجِ)
Yaitu memahami al-Qur-an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman as-Salafush Shalih. Mengikuti prinsip dan kaidah yang telah ditetapkan oleh para Ulama Salaf.

Ketiga: Beramal dengan Benar (سَلاَمَةُ الْعَمَلِ)
Seorang yang berdakwah, mengajak umat kepada Islam yang benar, maka ia harus beramal dengan benar yaitu beramal semata-mata ikhlas karena Allâh dan ittiba’ (mengikuti) contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak mengadakan bid’ah, baik i’tiqad (keyakinan), perbuatan atau perkataan.

Dalam hadits di atas juga disebutkan tentang orang yang mengajak manusia kepada kesesatan, dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang ia sesatkan. Mengajak manusia kepada kesesatan dosanya besar sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka, yaitu para da’i, ustadz, kyai, tuan guru, habib atau ulama yang mengajak manusia kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, maka mereka adalah penyeru manusia ke neraka Jahannam.

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyalalhu anhu , ia berkata:

كَانَ النَّـاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْـخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِـيْ. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ كُنَّا فِـيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهٰذَا الْـخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ هـٰذَا الْـخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِـيْ وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِـيْ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الْـخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، قَالَ: نَعَمْ ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ، فَمَا تَـرَى إِنْ أَدْرَكَنِـيْ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذٰلِكَ.

Orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, namun aku justru bertanya kepada Beliau tentang keburukan karena aku takut terjerumus kepadanya. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya kami dahulu berada di masa Jahiliyyah dan masa penuh kejahatan (kejelekan), lalu Allâh mendatangkan kepada kami kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan lagi?’
Beliau menjawab, ‘Ya.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?
Beliau menjawab, ‘Ya, tetapi kebaikan itu terselimuti kabut.’
Aku bertanya, ‘Bagaimana wujud kabut itu?’ Beliau menjawab, ‘Adanya sekelompok orang yang menjalani sunnah yang bukan sunnahku, mengambil petunjuk juga bukan dari petunjukku. Kalian mengenali mereka, tetapi kalian mengingkari mereka.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan (berkabut) itu akan datang lagi keburukan lain?’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, adanya para da’i yang mengajak ke pintu-pintu Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menjawab panggilan mereka, pasti mereka akan mencampakkannya ke Neraka Jahannam tersebut.’
Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Gambarkanlah ciri-ciri mereka kepada kami.’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Baiklah. Mereka adalah orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (berasal dari negeri kita), berbicara juga dengan bahasa kita.’
Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Apa pendapatmu jika kami mendapati zaman tersebut?’
Beliau menjawab, ‘Hendaklah engkau bersatu dengan jama’ah dan imamnya kaum Muslimin.’ Aku berkata, ‘Jika mereka sudah tidak memiliki jama’ah dan imam lagi?’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus mengigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.’[10]

Yang paling Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatirkan atas ummat Islam yaitu da’i-da’i yang mengajak kepada kesesatan, yang mengajak kepada syirik, bid’ah, dan maksiat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّـمَـا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الْأَئِمَّةَ الْـمُضِلِّيْنَ

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.[11]

Pada hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan atas ummat dari bahaya pemimpin dan ulama yang sesat dan menyesatkan, karena manusia akan mengikuti mereka dalam kesesatan mereka. Dan orang yang mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan, maka ia akan menanggung dosa orang-orang yang ia sesatkan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]

FAWAA-ID

  1. Wajib berdakwah menyeru manusia kepada kebenaran (kebaikan) dan petunjuk.
  2. Wajib berdakwah menyeru manusia dengan dasar ilmu dan keyakinan.
  3. Dakwah wajib dilakukan dengan ikhlas karena Allâh dan ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  4. Dakwah adalah mengajak manusia kepada agama Islam yang benar agar ummat paham tentang Iman, prinsip-prinsip akidah Islam dan ibadah lainnya.
  5. Wajib mengajak manusia ke jalan Allâh Azza wa Jalla , kepada agam Islam yang benar berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafush shalih.
  6. Seorang Muslim harus benar-benar memperhatikan akhir dari segala sesuatu (yang dijalaninya) dan nilai-nilai amalnya, sehingga dia akan selalu berusaha berbuat kebaikan agar menjadi teladan yang baik.
  7. Orang yang mengajak kepada kebaikan dan petunjuk akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
  8. Orang yang paling baik perkataannya adalah orang yang berdakwah di jalan Allâh dan dia beramal shalih dengan ikhlas.
  9. Haramnya berdakwah atau mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan.
  10. Orang yang menjadi penyebab dilakukannya suatu perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan tersebut diberi nilai yang sama, baik dalam hal siksaan maupun pahala.
  11. Hendaklah setiap Muslim menghindari seruan palsu dan teman yang buruk, sebab dia ikut bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya.
  12. Orang yang mengajak kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan kebathilan akan memperoleh siksaan yang berlipat ganda dan akan meikul dosa-dosa orang yang ia sesatkan.
  13. Peringatan dari para penguasa, ulama, ahli ibadah dan da’i-da’i yang sesat.
  14. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan adanya da’i-da’i yang sesat yang mengajak kepada kesyirikan, bid’ah, dan maksiat.
  15. Setiap Muslim wajib berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan, menjadi pintu-pintu kebaikan dan menutup jalan-jalan keburukan.

MARAAJI

  1. Kutubus sittah dan kitab hadits lainnya.
  2. Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi.
  3. Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  4. Miftâh Dâris Sa’âdah, Ibnul Qayyim.
  5. Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
  6. Bahjatu Qulûbil Abrâr fii Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
  7. Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.
  8. Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
  9. Dan lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Bahjatun Nâzhirîn, I/262
[2] Shahih: HR. Ahmad, IV/357, 358-359, 360, 361, 362; Muslim, no. 1017 [15]; an-Nasa-I, V/76-77; ad-Dârimi, I/130, 131; Ibnu Mâjah, no. 203; Ibnu Hibbân, no. 3297-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân; Ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr, no. 243; Ath-Thayâlisi, no. 705 dan al-Baihaqi, IV/175-176 dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu
[3] Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi, XVI/226-227
[4] Miftâh Dâris Sa’âdah, I/250-251, tahqiq Syaikh Ali Hasan.
[5] Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 2942, 3701 dan Muslim, no. 2406 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu
[6]  Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di , hlm. 795, cet. Darus Sunnah.
[7] Shahih: HR. Muslim, no. 1893 dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu anhu
[8] Majmû’ Fatâwâ, XV/157-158 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[9] Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 82-92, dengan ringkas.
[10] Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 3606, 7084 dan Muslim, no. 1847, dan ini lafazh dalam riwayat Imam Muslim
[11] Shahih: HR. Ahmad, V/278; At-Tirmidzi, no. 2229 dan ad-Dârimi, I/70 dan II/311, dari Sahabat Tsaubân Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, IV/109-111, no. 1582