Author Archives: editor

Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

KEUTAMAAN SHALAWAT UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, sholawat dan salam untuk Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus nabi-Nya Muhammad dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Ia telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Maka seorang hamba harus taat kepadanya, menghormati dan melaksanakan hak-haknya. Dan di antara hak-haknya adalah Allah mengkhususkan baginya sholawat dan memerintahkan kita untuk itu di dalam kitab-Nya yang agung (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya yang mulia (Hadits). Di mana orang yang yang bersholawat untuknya akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Maka sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan itu. Dan karena masalah ini memiliki urgensi yang sangat besar dan pahala yang besar pula, maka kami merasa perlu untuk mengeluarkan tulisan-tulisan sederhana ini, yang di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia ini.

Ya Allah! Berilah Sholawat dan Salam atas nabi dan kekasih-Mu Muhammad selama siang dan malam yang silih berganti.

Pengertian Shalawat dan Salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Subhaanhu wa ta’ala berfirman:

 إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab/33: 56]

Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata : “Maksud ayat ini adalah bahwa Allah Subhaanhu wa ta’ala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bershalawat untuknya, lalu Allah Subhaanhu wa ta’ala memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bershalawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham” : “Artinya bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bershalawat dan salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”

Banyak pendapat tentang pengertian Shalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang benar adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Shalawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bershalawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat” -Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shahihnya dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Salam : Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan shalawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan  bersih dari kekurangan dan dengan shalawat maka apa yang kita inginkan  menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Hukum Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Menurut madzhab Hanbaliy, shalawat dalam tasyahhud akhir itu adalah termasuk di antara rukun-rukun shalat.

Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata: “Allah subhaanhu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bershalawat dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak shalawat dan salam untuk beliau dan tidak melalaikannya.”

Waktu-waktu yang Disunnahkan dan Dianjurkan Membaca Shalawat dan Salam Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
1. Sebelum berdoa:
Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya:

((إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ))

“Bila salah seorang di antara kalian shalat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bershalawat untuk nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]

Dalam salah satu hadits disebutkan:

((الدُّعَاءُ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ الدَّاعِي عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ))

“Doa itu terhalangi, hingga orang yang berdoa itu bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [H.R. Thabarani]

Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab dan waktu-waktu. Bila bertepatan dengan rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dengan sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dengan waktu-waktunya maka ia akan beruntung dan bila bertepatan dengan sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”

Adapun rukun-rukunnya adalah menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adalah jujur, waktu-waktunya adalah di saat sahur dan sebab-sebabnya adalah shalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Ketika menyebut, mendengar dan menulis nama beliau:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((رَغَمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]

3. Memperbanyak shalawat untuknya pada hari Jum’at:
Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إنَّ أفْضَلَ أيَّامِكُمْ يَوُمُ الجُمْعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ …))

“Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku……”  [H. R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]

4. Shalawat untuk nabi ketika menulis surat dan apa yang ditulis setelah Basmalah:
Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yang tepat untuk bershalawat yang telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yang menentang dan mengingkarinya. Dan tidak pula pada periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pada masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”

Dan di antara mereka ada pula yang mengakhiri bukunya dengan shalawat.

5. Ketika masuk dan keluar mesjid:
Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:

((بِسْمِ اللهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لَنَا وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ))

Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah shalawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”

“Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:

((وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ فَضْلِكَ))

“Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]   

Cara Shalawat dan Salam Untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab/33: 56]

Jadi yang utama adalah dengan menggandengkan shalawat dan salam bersama-sama, dengan harapan agar doanya dapat dikabulkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Inilah bentuk shalawat dan salam untuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bershalawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafqun ‘Alaihi]

Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bershalawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berilah shalawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi shalawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Kedua hadits ini menunjukkan bentuk shalawat yang sempurna untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bershalawatlah untukku karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, kemudian  mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah maka  ia berhak mendapatkan syafa’at.”  [H.R. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))

“Barangsiapa yang bershalawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))

“Barangsiapa yang bershalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]

Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia sedang sujud dan memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:“Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yang bershalawat untukmu, maka saya akan bershalawat untuknya dan barangsiapa yang memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.”  [H.R. Hakim, Ahmad dan Jahadhmiy]

Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku dan berkata: “Tidaklah seorang hamba yang bershalawat untukmu sekali kecuali Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia dan akhiratmu.”  [H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dengan Isnad yang Shahih]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ))

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya dan diangkat baginya sepuluh derajat.” [H.R. Ahmad dan Bukhari, Nasa’i dan Hakim dan ditashih oleh Al-Albani]

Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat untukku.”  [H.R. Tirmidzi dan berkata: “Hasan ghorib dan H.R. Ibnu Hibban]

Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengarkan adzan membaca:

((اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ))

“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.” Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pada hari kiamat. [H.R. Bukhari dalam shohihnya]

Celaan Bagi Yang Tidak Bershalawat Untuk Nabi.
Dari Abu Huraerah -Radhiyallahu ‘Anhu-­ berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah seseorang yang jika namaku disebut di sisinya ia tidak bershalawat untukku, celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar sebelum ia diampuni, celakalah seseorang, kedua orang tuanya telah tua tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” Abdurrahman salah seorang perawi hadits dan Abdurrahman bin Ishak berkata: “Saya kira ia berkata: “Atau salah seorang di antara keduanya” [H.R. Tirmidzi dan Bazzar]

Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((البَخِيلُ كُلَّ البُخْلِ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]

Dari Ibnu Abbas, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ خُطِئَ طَرِيقَ الجَنَّةَ))

“Barangsiapa yang lupa mengucapkan shalawat untukku maka ia telah menyalahi jalan surga.” [Telah ditashih oleh Al-Albani]

Dari Abu Hurairah, Abul Qosim bersabda: “Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.”  [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]

Diriwayatkan oleh Abu Isa Tirmidzi dari sebagian ulama berkata: “Jika seseorang bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali dalam suatu majelis, maka itu sudah memadai dalam majelis  tersebut.”

Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
  2. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca shalawat satu kali.
  3. Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.
  4. Diangkat baginya sepuluh derajat.
  5. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan shalawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.
  6. Penyebab mendapatkan syafa’at Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
  7. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
  8. Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.
  9. Mendekatkan hamba dengan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.
  10. Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk orang yang bersholawat.
  11. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.
  12. Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.
  13. Menghilangkan kefakiran.
  14. Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika namanya disebut.
  15. Orang yang bershalawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bershalawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.
  16. Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bershalawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.
  17. Nama orang yang bershalawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya shalawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  18. Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu shalawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
  19. Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.
  20. Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bershalawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.

[Disalin dari فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم  Penulis Penerbit Darul Qosim Penerjemah : Sholahuddin Abdul Rahman, Lc, Murajaah : Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]

Bila Nyanyian Di Usik

BILA NYANYIAN DI USIK

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Umat manusia adalah gabungan dari berbagai macam karakter yang berbeda-beda, kemudian setelah itu datang Islam untuk membenarkannya, lalu diarahkan supaya mau meniti jalan yang lurus. Adapun yang namanya nyanyian dia hanyalah pembangkit syahwat kemaluan, mendorong sifat pembangkang pada pribadi lelaki maupun perempuan bangkit, dan sebagai faktor terjadinya perbuatan zina yang akan menghancurkan rumah serta merobohkan kehidupan berumah tangga, sehingga pada akhirnya dia disejajarkan dengan binatang ternak. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَة وَسَآءَ سَبِيلا  [ الاسراء: 32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.  [al-Israa’/17: 32].

Aku pernah melihat ada seorang pemuda yang sedang bernyanyi diantara dentuman alat-alat musik, tepuk tangan riuh terdengar dari para penonton yang mengitarinya, sedang team musik yang berada disekitarnya berjoged ria sambil tertawa, ada pula yang sambil makan dan minum. Terlihat tidak ada keinginan dalam benak seorang pun diantara mereka untuk berbuat atau melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi umat, entah itu dengan cara mengajari orang bodoh, ikut serta mengobati orang yang sedang sakit, atau mengusir musuh dari negerinya, atau membantu orang lain yang sedang membutuhkan.

Aku berkata dalam hati, “Orang-orang tadi adalah bagian dari tubuh umat Islam yang tak ubahnya bagaikan noda yang semakin menambah pilu di sekitar luka, semakin menambah problematika umat, itulah kenapa dengan mudahnya kita dikelilingi oleh para musuh diluar sana. Allah ta’ala menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨﴾ [ الصف: 8]

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya -Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. [ash-Shaff/61: 8].

Bagaimana dirinya dengan senangnya berdendang ria sedang saudaranya di bumi Palestina sedang menangis pilu? Dan coba lihat dia yang memegang alat musik ditangannya, sedangkan jauh disana saudaranya berhadapan dengan musuh memegang senjata demi mengusir para penjajah dari negerinya. Mereka mampu tertawa lepas, berjoged dan bersendau gurau, sedang saudara mereka berada dalam penjara musuh tertawan dengan menghadapi siksaan bahkan dibunuh. Kalau seandainya kita tidak mampu membantu mereka dengan harta dan jiwa, mari coba kita ikut serta dalam kesedihan dan beban pilu yang mereka rasakan.

Bukankah satu mukmin dengan mukmin lain adalah bersaudar? Jawabannya tentu, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla merekam dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم  [ التوبة: 71]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul -Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [at-Taubah/9: 71]

Barangkali kamu akan tercengang, yang semakin menambah pilu dan sedih yang ada di dalam sanubarimu, manakala engkau melihat ada seseorang dari kalangan umat Islam ini yang mempunyai tempat untuk sewa menyewa dan jual beli kaset video yang berisikan suara dan video klip para penyanyi yang mengumbar nafsu, film yang tidak tahu malu, sinetron yang banyak mengkhayal, dan lain sebagainya yang membuat jalan kerusakan semakin terbentang lebar, merubah budaya timur menjadi budaya barat yang penuh dengan kejahatan dan perbuatan cabul, merubah menjadi bangsa yang berjiwa rendah dan berhati busuk, dengan suara musik yang hingar bingar, tubuh yang semi telanjang, lirik lagu yang mengumbar nafsu serta pakaian yang membangkitkan birahi.

Barang yang dibeli menggunakan uangnya kaum muslimin, lalu suara tersebut diperdengarkan didalam rumah-rumah kuam muslimin, serta diperjual belikan ditengah-tengah kaum muslimin. Dan itu bebas bagi dirimu, engkau bisa hanya mendengarkan alunan musiknya saja, atau mendengar sambil menyaksikan video klipnya.

Dengan relanya para pemuda menghabiskan waktu duduk dihadapan gambar tersebut hanya untuk melihatnya, dengan rela pula para pemudi menghabiskan malam tanpa tidur untuk menyaksikannya, seakan itu menjadi hidangan keluarga, tentunya setelah ini kerusakan apa lagi yang akan terjadi? Allah ta’ala menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحا فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔا  [ مريم: 59-60]

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. [Maryam/19:59-60].

Belum lagi sebagian kalangan yang menjual alat-alat musik dengan segala macam bentuk dan ragamnya, penjualnya seorang muslim, yang beli juga muslim, penyanyi dan juga pendengarnya adalah muslim. Sungguh kondisi semacam ini lebih menyayat hati dan menyakitkan keberadaan umat dari pada luka yang dibikin oleh para musuh Islam. Ketahuilah, betapa merugi bila ada orang yang berjualan alat musik, betapa merugi penjual yang menyediakan ditokonya alat-alat tersebut, Allah Shubhanahu wa ta’alla menegur kita dengan firman -Nya:

قال الله تعالى: أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ [ المؤمنون: 115]

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”. [al-Mukminuun/23: 115].

Sesungguhnya nyanyian dan musik adalah haram dalam syari’at Allah azza wa jalla. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal itu dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡم وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَاب مُّهِين  [ لقمان: 6]

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. [Luqman/31: 6]

Dan telah shahih penukilan dari kalangan para sahabat, bukan hanya satu sahabat, seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menafsirkan kalimat ‘Lahwal Hadits’ dengan nyanyian.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ » [أخرجه البخاري]

Benar-benar akan ada sekelompok dari umatku yang menghalalkan sutera, minuman keras, musik dan nyanyian“.[HR Bukhari no: 5590. Abu Dawud no: 4039]

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi dispensasi sedikitpun pada masalah musik dan nyanyian melainkan pada moment-moment khusus seperti walimah dan hari raya. Dan itupun masih harus disesuaikan dengan batasan-batasan syari’at yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang berkaitang dengan masalah ini. Kosong dari perkara yang menjurus pada perilaku dan perbuatan dusta serta perkara yang batil.

Dan pembolehan syari’at untuk nyanyian dan rebana pada walimah secara khusus karena mempunyai tujuan serta maksud mulia yang mengitarinya, yaitu sebagai pembeda antara pernikahan yang halal dengan pernikahan yang haram. Sehingga ketika kita menyadari hal tersebut hendaknya kita tidak menyelisihi apa yang telah ditentukan oleh Allah, sebagaimana tersirat dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا  [ النساء: 115]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.  [an-Nisaa’/4: 115].

Adapun dispensasi pada nyanyian dan sendau gurau yang ada pada hari raya yang sesuai dengan syari’at dan ketentuan, karena sebabnya adalah hari untuk bersenang-senang yang terjadi satu tahun sekali yaitu hari raya. Dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا » [أخرجه البخاري ومسلم]

Sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya dan ini adalah hari raya kita“.[HR Bukhari no: 952. Muslim no: 892].

Bila kita bandingkan dengan jenis musik dan lagu sekarang ini, maka dimana letak keringanan syari’at yang menjadikan terikat dengan waktu, tempat serta lirik lagunya. Lihat penyelisihannya, mulai dari begadang sambil ditemani minuman keras, jogedan yang tidak tahu malu, tubuh yang tidak terbalut pakaian, para penyanyi yang mengumbar nafsu, yang menanggalkan kehormatan, sehingga terbuang nilai keluhuran serta kesucian. Allah ta’ala menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ [ سبأ: 20]

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman”.  [Saba’/34: 20].

Sesungguhnya keberadaan grup musik, para penari dan seniman sangat mengotori lingkungan kaum muslimin, yang akan merusak generasi muda, memecah belah anggota keluarga, menimbulkan permusuhan dikalangan mereka, serta mencegah mereka untuk berdzikir kepada Allah jalla wa ‘ala. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan kondisi orang-orang semacam ini dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَة قَالُواْ يَٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِيهَا وَهُمۡ يَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ  [ الأنعام: 31]

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian lami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu”. [al-An’aam/6: 31].

Demi Allah, berapa besar biaya yang dikeluarkan hanya untuk membeli film-film semacam ini! berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan serta menontonya?! Berapa banyak keluarga yang rusak gara-gara ini, dan berapa banyak kejahatan yang terjadi juga karena faktor video klip-video klip semacam ini?! Apakah itu semua belum cukup sebagai peringatan bagi kita? Allah ta’ala menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِير مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ  [ الحديد: 16]

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.  [al-Hadiid/57: 16].

Apakah sekarang kita sepakat dan yakin akan bahaya musibah yang akan menimpa? Jika kita telah yakin apakah kita ada usaha untuk mengganti perilaku buruk tersebut dengan kebajikan, merubah sifat hina menjadi sifat utama, kejelekan dengan kebaikan? Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk bisa melakukan hal itu semua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  قَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ كَثِيرا مِّمَّا كُنتُمۡ تُخۡفُونَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرۚ قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُور وَكِتَٰب مُّبِين ١٥ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰط مُّسۡتَقِيم  [ المائدة: 15-16]

“Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan -Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.  [al-Maa-idah/5: 15-16].

Ya Allah, tunjukanlah kepada kami bahwa yang benar adalah benar dan limpahkan kemudahan bagi kami untuk mengikutinya, dan tunjukan kepada kami bahwa yang salah adalah salah dan berilah kami kemudahan untuk menjauhinya. Ketahuilah, tidak ada yang lebih bahaya dari pada perkara ini. maka kita memohon kepada -Nya:

قال الله تعالى:  رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٤ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَة لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ وَٱغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  [الممتحنة: 4-5]

“Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.  [al-Mumtahanah/60: 4-5].

[Disalin dari الغناء والمعازف Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]

Mutiara Nasehat Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

MUTIARA NASEHAT AMIRUL MUKMININ ALI BIN ABU THALIB RADHIYALLAHU ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Sesungguhnya saya di sini tidak menulis biografi Abu Hasan Radhiyallahu ‘anhu, tidak pula berbicara tentang ilmu dan kedudukannya. Dia benar- benar seorang imam, amirul mukminin secara benar. Dia seorang ulama besar, di sini hanyalah sekilas tentang biografinya sebelum memulai menjelaskan tentang mutiara-mutiara nasehatnya.

Dia adalah Ali bin Abu Thalib –nama Abu Thalib adalah Abdu Manaf- bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf, Amirul Mukminin, Abu Hasan, al-Qurasyi al-Hasyimi. Dia adalah yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Dia adalah yang ke empat dari khulafaur rasyidin, salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga, sepupu Nabi Shallallahu  ‘alahi wa sallam dan menantunya, salah seorang pahlawan yang gagah perkasa, termasuk orator ulung dan pakar dalam qadha (pengadilan).

Bendera perang berada di tangannya dalam beberapa peperangan. Dia memegang jabatan khalifah setelah wafatnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu pada tahun 35H.

Banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu  ‘alahi wa sallam, membaca al-Qur`an di hadapanya (Nabi Shallallahu  ‘alahi wa sallam) dan beliau membacakan al-Qur`an kepadanya. Manaqibnya sangat banyak.

Wafat sebagai syahid pada tahun 40H. dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam al-Murady secara sembunyi dalam sebuah konspirasi pada tanggal 17 Ramadhan.

Dia adalah Ali Radhiyallahu ‘anhu, mencintainya adalah iman dan membencinya adalah sifat nifaq. Dia adalah laki laki yang mencintai Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya dan Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya mencintainya.’[1]… dia adalah seorang menantu yang dekat dan anak muda yang dekat lagi tercinta.

Dia adalah anak muda yang berilmu banyak, yang dipilih oleh Nabi Shallallahu  ‘alahi wa sallam untuk tugas penting, yaitu beliau Shallallahu  ‘alahi wa sallam mengutusnya ke Yaman sebagai qadhi (hakim).

Dia adalah seorang yang ‘alim tentang al-Qur`an dan sunnah rasul-Nya Shallallahu  ‘alahi wa sallam, sehingga Sa’id bin Musayyab berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat nabi pun yang berkata: ‘Bertanyalah kepadaku’, kecuali Ali bin Abu Thalib.[2] Bahkan al-Faruq –yang mengenal kedudukan seseorang- berlindung kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dari permasalahan rumit yang tidak ada Abu Hasan.

Bahkan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Apabila sampai suatu berita kepada kami yang dibicarakan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu berupa fatwa atau qadha, dan beritanya benar, niscaya kami tidak melewatkannya kepada yang lain.’[3]

Dalam al-Bukhari, dari Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu  ‘alahi wa sallam berangkat ke Tabuk dan menggangkat Ali Radhiyallahu ‘anhu sebagai pejabat sementara, ia berkata: ‘Apakah engkau meninggalkan aku untuk menjaga anak-anak dan wanita? Beliau Shallallahu  ‘alahi wa sallam bersabda:

((أَلاَ تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوْسَى إِلاَّ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي))

Apakah engkau tidak senang bahwa engkau  dariku seperti kedudukan Harun dari Musa ‘alaihis salam? Kecuali bahwa tidak ada nabi setelah aku.”[4]

Dialah yang ketika Rasulullah Shallallahu  ‘alahi wa sallam wafat, tidak ada yang lebih darinya dari ahli bait.

Dia adalah salah seorang yang terkandung dalam wasiat nabawiyah (Aku ingatkan kalian kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala pada ahli bait-ku).

Apabila disebutkan mutiara-mutiara nasehat pada sahabat, maka sesungguhnya mutiara-mutiara nasehat Amirul Mukminin Abul Hasan Ali Radhiyallahu ‘anhu memiliki keistimewaan tersendiri, karena memang para khulafa yang lain lebih dulu wafatnya.

Karena alasan ini, kita bisa membicarakan lebih banyak mutiara mutiara nasehatnya.

Di antara mutiara-mutiara nasehatnya adalah:
Ucapannya dalam mutiara nasehatnya yang terkenal kepada Kumail bin Ziyad[5]:

Wahai Kumail bin Ziyad, sesungguhnya hati ini adalah seperti bejana, sebaik baiknya adalah yang dipenuhi dengan ilmu. Ingatlah dariku apa yang kukatakan kepadamu: Manusia terbagi tiga: ‘Alim Rabbani, penuntut ilmu yang belajar di atas jalan keselamatan, dan yang tidak berilmu, mengikuti tiupan angin, tidak mengambil penerangan dengan cahaya ilmu dan tidak kembali kepada pondasi yang kokoh.

Wahai Kumail bin Ziyad, ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu menjagamu sedangkan harta engkau yang menjaganya. Harta berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu terus bertambah kalau diinfakkan.

Wahai Kumail bin Ziyad, mencintai seorang alim adalah agama yang dianut, memberi nilai ketaatan di masa hidupnya dan keindahan yang dibawa setelah wafatnya. Sedangkan manfaat harta hilang dengan hilang sang pemilik. Ilmu adalah hakim (pemerintah) dan harta adalah yang diperintah.

Wahai Kumail, wafat para pemegang harta di saat mereka masih hidup, sedangkan para ulama tetap hidup sepanjang masa, jasad mereka telah tiada sementara nama baik mereka tetap ada dalam hati.”

Saya kira, sesungguhnya jelasnya makna mutiara nasehat  tersebut tidak membutuhkan komentar lagi, namun yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah bahwa dia mengumpulkan untuk muridnya di antara kenikmatan duniawi yang  diusahakan oleh semua manusia, yaitu : ilmu dan pemiliknya (ulama), harta dan kenangan yang baik. Kemudian ia menjelaskan kepadanya bagaimana tiga perkara ini kembali kepada pemiliknya dengan keuntungan di dunia sebelum akhirat.

Sebagaimana dia membuat perumpamaan yang sangat indah ketika membuat perbandingan di antara ilmu dan harta, di mana ia berkata ‘ilmu lebih baik dari harta, ilmu menjagamu sedangkan harta engkau yang menjaganya, harta berkurang kalau diberikan sementara ilmu akan terus bertambah bila diberikan.’ Dan termasuk keindahan dalam perbandingan ini adalah mudahnya ungkapan disertai dalamnya makna,  serta jelasnya hujjah secara akal sehat padanya.

Dan saksikan perbandingan ini dalam ucapan Albiry dalam qashidahnya yang tekenal:
Perbendaharaan yang engkau tidak takut terhadap pencuri- ringan dibawa, ditemukan di manapun engkau berada.
Bertambah dengan cara terus diberikan- dan berkurang jika terus disimpan.

Dan di antara mutiara nasehatnya yang sangat indah[6]:

« حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ, أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ »

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka bisa memahaminya, apakah kamu menyukai bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya didustakan?

Mutiara syarat makna ini merupakan taufiq kepada ulama, maka tidak semua ilmu disampaikan kepada manusia, tanpa memperhatikan kondisi waktu, tempat dan keilmuan.

Dan termasuk hal itu, menjelaskan berbagai perkara yang rumit yang tidak bisa dipahami oleh akal kalangan awam, bisa jadi karena maknanya yang sangat dalam, atau keadaannya yang sudah dinasakh, atau karena berbagai macam alasan lainnya.

Renungkanlah alasan logis yang disampaikan Ali Radhiyallahu ‘anhu terhadap larangan ini, di mana dia berkata : ‘Apakah kamu menyukai bahwa Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya didustakan?

Maha Suci Allah! Perhatikanlah, bagaimana keinginan seseorang untuk memberi manfaat kepada manusia dan ingin memberi faedah kepada mereka menjadi terbalik maksudnya di saat ia berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh akal manusia!

Sesungguhnya pengarahan yang mulia dari Amirul Mukminin  Ali Radhiyallahu ‘anhu ini diberikan kepada saudara saudara kita yang selalu memberi nasehat dan pengarahan kepada masyarakat (jama’ah pengajian), hendaknya mereka menjauhi sesuatu yang membangkitkan kagalauan atau kebingungan para pendengar di saat mendengar sebagian cerita yang aneh atau berita berita yang mengandung pengertian yang tidak bisa dipahami oleh akal kalangan awam. Yang jelas dan nyata dari al-Qur`an dan sunnah sudah cukup dan memadai.

Di antara mutiara nasehatnya yang indah : ia mengucapkan ta’ziyah kepada seseorang yang kematian anaknya[7]:

« إِنَّكَ إِنْ صَبَرْتَ جَرَى عَلَيْكَ الْقَدَرُ وَأَنْتَ مَأْجُوْرٌ, وَإِنْ جَزعْتَ جَرَى عَلَيْكَ الْقَدَرُ وأنت مأزور »

Sesungguhnya jika engkau sabar, niscaya qadar tetap terjadi padamu dan engkau mendapat pahala, dan jika engkau tidak sabar, niscaya qadar tetap terjadi padamu dan engkau berdosa.”

Alangkah indahnya ilmu dan hikmah! Kita sangat membutuhkan pemahaman seperti ini dalam pengamalan ketika terjadi musibah. Tidak ada dari kita kecuali akan diberi cobaan dengan mendapat musibah yang membuat berduka, seperti kematian orang yang dicintai, teman dan kerabat. Alangkah indahnya bila manusia menyadari makna ini.

[Disalin dari من مواعظ أمير المؤمنين على بن أبي طالب رضي الله عنه Penulis Dr Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil. Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] Al-Bukhari 3009 dan Muslim 2404.
[2] Fadhail Shahabah, Ahmad bin Hanbal 2/646.
[3] Al-Madkhal ila sunan kubra, al-Baihaqi, 131.
[4] Al-Bukhari 4416.
[5] Tarikh Dimisyqa, Ibnu Asakir, 50/252, Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmu wa fadhlih 2/983. Ia adalah hadits masyhur menurut pada ulama, tidak membutuhkan isnad, karena sangat masyhurnya menurut mereka.
[6] Al-Bukhari 1/37
[7] At-Ta’azy karya Abu Hasan al-Madainy hal 82.

Mutiara Nasehat Dzun Nuraian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu

MUTIARA NASEHAT DZUN NURAIAN UTSMAN BIN AFFAN RADHYALLAHU ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dia adalah Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syam  al-Qurasyi al-Umawi. Kun-yahnya yang terkenal adalah Abu Amr.

Dilahirkan di kota Mekkah dan masuk Islam beberapa saat setelah kebangkitan. Dia adalah seorang yang kaya serta mulia di masa jahiliyah.

Dia berhijrah ke Habasyah, lari dengan membawa agamanya, bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah kelompok pertama yang berangkat ke sana dan diikuti oleh kalangan muhajirin lainnya ke negeri Habasyah, kemudian dia hijrah yang kedua ke Medinah.

Dia termasuk salah seorang tokoh yang Islam bertambah kuat di masa kemunculannya.

Di antara tindakannya yang terpenting di masa Islam adalah menyiapkan dana untuk setengah pasukan ‘usrah (perang Tabuk) dengan hartanya, dia menyumbang tiga ratus ekor unta dengan segala pelengkapnya dan menyumbang dana seribu dinar.

Diangkat menjadi khalifah setelah wafatnya Umar bin Khaththab Radhiyalllahu ‘anhu pada tahun 23H. Kota kota yang ditaklukkan di masa kekhalifahannya adalah Armenia, Quqaz, Khurasan, Karuman, Sijistan, beberapa negara di benua Afrika. Menyelesaikan pengumpulan al-Qur`an, dia yang pertama tama melakukan perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menyuruh adzan pertama di hari Jum’at, mendirikan satuan kepolisian, dan lain lain.

Wafat sebagai syahid, dimana dia terbunuh pada tanggal 18 Dzulhijjah, pada hari Jum’at, tahun 35H. di usianya yang ke delapan puluh dua.

Adapun mutiara mutiara yang diriwayatkan darinya sangatlah banyak. Barangkali kita memulai dengan nasehat yang menggambarkan bagi kita sedikit dari kehidupan Utsman Radhiyalllahu ‘anhu bersama Kitab yang turun dari langit, di mana dia berkata[1]:
Jikalau hati kalian suci niscaya tidak pernah kenyang dari firman Allah Subhanahu wa ta’ala  (al-Qur`an).’

Sesungguhnya ia adalah nasehat yang sangat indah, menggambarkan penyakit yang menghalangi di antara mayoritas manusia dan tidak mendapatkan manfaat dari al-Qur`an. Sesungguhnya ia adalah penyakit hati : berupa riya, (iri dengki), dendam, dan berbagai penyakit lainnya yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan manfaat yang haq dari al-Kitab yang haq (al-Qur`an).

Sesungguhnya hati bagaikan bejana, apabila sudah penuh dengan sesuatu ia tidak bisa menerima yang lain. Apabila ia dipenuhi berbagai penyakit ini niscaya lemahlah pengaruh al-Qur`an terhadapnya, kecuali ia membacanya dengan tujuan mengobati dan menyembuhkannya, maka ini termasuk tujuan diturunkannya al-Qur`an. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَلإسراء: 82] 

 Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman [al-Isra`/17:82]

Sesungguhnya Utsman Radhiyalllahu ‘anhu dengan katanya : (tidak kenyang) merupakan ungkapan yang sangat tepat. Di dalam hati ada rasa lapar yang tidak bisa ditutupi oleh sesuatu sebagaimana ditutupi  oleh bergantung dengan al-Qur`an, membaca, mendengar, tadabbur.

Utsman Radhiyalllahu ‘anhu mengungkapkan kecintaannya terhadap Kalam Rabb-nya dan tidak pernah kenyang dengannya dengan ungkapannya:
Aku tidak suka bahwa datang kepadaku satu hari dan satu malam kecuali aku melihat kepada Kalamullah (firman Allah Subhanahu wa Ta’ala).’ Dan dalam satu lafazh : ‘Kepada perjanjian Allah Subhanahu wa Ta’ala’. Maksudnya adalah membaca mushhaf (al-Qur`an).[2]

Ia mengatakan hal ini, sedangkan dia seorang khalifah kaum muslimin, yang di masa pemerintahannya terjadi penaklukan berbagai negeri yang sangat luas. Maka di manakah orang orang yang berlalu atasnya malam dan siang, sementara ia tidak sempat membuka selembar pun dari al-Qur`an, sedangkan ia tidak terikat tanggung jawab apa apa?

Di antara mutiara nasehat yang disampaikannya dalam khutbah menjelang akhir hayatnya adalah[3]:
‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan (kenikmatan) dunia kepadanya untuk mencari akhirat dengannya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikannya kepadamu agar kamu menjadi cenderung kepadanya. Sesungguhnya dunia adalah fana, janganlah yang fana membuatmu sombong dan jangan sampai membuat engkau lupa dari yang kekal (akhirat). Utamakannya sesuatu yang kekal terhadap yang fana, karena sesungguhnya dunia akan terputus dan sungguh tempat kembali adalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sesungguhnya taqwa kepada-Nya merupakan perisai dari siksa-Nya, memberi kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Tetaplah kamu berada dalam jama’ah (kaum muslimin, jangan memberontak) dan janganlah kamu menjadi berkelompok kelompok:

 وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا  [آل عمران: 103] 

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara. [ali Imran/3:103]

Dan karena sudah begitu jelasnya pengertian yang disebutkannya Radhiyalllahu ‘anhu dalam bab zuhud di dunia, maka tidak perlu dijelaskan secara panjang lebar.

Namun perlu dipertegas tentang nasehatnya yang terkait keharusan bersama jama’ah kaum muslimin, dia sudah melihat benih benih fitnah (kekacauan) sudah mulai bersemai, dia juga pernah merasakan pahitnya perpecahan di masa jahiliyah dan menikmati manisnya persatuan di dalam Islam lewat kedua tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah orang orang yang terlahir dalam umat yang bersatu memahami makna ini dan ingin memecah belah jama’ah umat Islam serta menggali lobang neraka –karena kebodohan mereka-.?

Di antara mutiara nasehatnya adalah[4]:
Tidak ada seorangpun yang melakukan amal perbuatan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya selendang amal perbuatannya.

Dan diriwayatkan  darinya bahwa ia berkata: ‘Tidak ada seseorang yang menyembunyikan rahasia kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkanya lewat raut wajahnya dan gerakan lisannya.

Dan ia juga berkata : ‘Jikalau seorang hamba memasuki rumah yang paling tersembunyi, lalu ia menekuni satu amal perbuatan di sana, tidak  berselang  waktu lama manusia akan membicarakannya. Tidak ada seorangpun yang melakukan amal perbuatan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya selendang amal perbuatannya, jika baik maka balasannya juga baik dan jika buruk maka balasannya juga buruk.’[5]

Sesungguhnya yang disebutkan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyalllahu ‘anhu dalam mutiara nasehatnya, merupakan petunjuk untuk kita agar bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kesendirian kita, hendaklah kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan jujur dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, karena tidak ada keselamatan di dunia dan akhirat kecuali dengannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قَالَ اللهُ هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتُُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا رَّضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [المائدة:119] 

Allah berfirman:”Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. [al-Maidah/5:119]

Dan sebaliknya, jika seseorang berusaha menyembunyikan  sesuatu yang berbeda dengan penampilan lahiriyahnya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menampakkannya, jika baik maka baiklah hasilnya dan jika buruk maka buruklah hasilnya, seperti yang dikatakan oleh Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Renungkanlah yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala tentang orang orang munafik:

 وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ [محمد:30] 

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.[Muhammad/47:30]

Orang munafik ini berusaha menyembunyikan sifat nifaqnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan menampakkan perkara mereka dalam kesalahan ucapan mereka. Demikian pula seorang mukmin yang berusaha menyembunyikan imannya, seperti seorang mukmin dari keluarga Fir’aun dan istri Fir’aun, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menampakkan imannya lewat lisannya di hadapan orang orang yang menyimpang, maka celakalah bagi orang orang munafik dan bergembiralah bagi orang orang yang jujur.!

Di antara obat untuk menangani kekurangan dalam urusan rahasia, yaitu yang disebutkan oleh Salman Radhiyalllahu ‘anhu: ‘Apabila engkau melakukan keburukan dalam kesendirian maka lakukanlah kebaikan dalam kesendirian, dan apabila engkau melakukan keburukan secara terang terangan maka lakukanlah kebaikan secara terbuka, agar hal ini sebanding dengan hal ini.’[6]

Di antara mutiara nasehatnya dalam persoalan jawaban kepemimpinan[7]:
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat takut dengan kekuasan sesuatu yang tidak menjadi takut dengan al-Qur`an.

Maksudnya ungkapan ini adalah: bahwa sebagian orang ada yang tidak terpengaruh dengan perintah dan larangan, rangsangan dan ancaman, akan tetapi tidak membuatnya berubah dengan ancaman penguasa/pemerintah dengan cambuk atau pedangnya, menurut kondisinya! Dari sinilah disyari’atkan hudud (hukuman), karena sebagian orang ada yang tidak bisa menerima nasehat, maka hukumanlah yang membuatnya berhenti, untuk menahan keburukannya dari dirinya dan manusia lainnya.

Di antara mutiara nasehatnya tentang minuman keras adalah[8]:
‘Hindarilah minuman keras, sesungguhnya ia adalah kunci segala keburukan! Dibawa seorang laki laki, lalu dikatakan kepadanya: ‘(Kamu harus melakukan salah satu dari beberapa perkara ini), bisa jadi membakar kitab ini, membunuh anak kecil ini, memperkosa wanita ini, meminum gelas berisi minuman keras ini dan sujud kepada salib ini! Ia berkata: maka ia tidak melihat padanya sesuatu yang paling ringan selain meminum arak. Tatkala ia meminumnya, ia sujud kepada salib, membunuh anak kecil, memperkosa wanita, dan membakar kitab!

Sesungguhnya ia adalah nasehat yang sarat pesan pesan penting, jikalau direnungkan oleh mereka yang biasa meminum induk segala keburukan, maka ia merusak agama, akal, dan harta mereka dan mencerai beraikan perkara mereka, niscaya mereka mendapatkan diagnosa untuk penyakit…cukuplah bagi seorang mukmin bahwa ia merenungkan dampak buruknya agar ia meninggalkannya, terlebih lagi dari ancaman al-Qur`an dan sunnah,  yang jikalau peminumnya memikirkan bahwa ia dikutuk lewat lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya ia akan berhenti melakukannya.

Dikatakan kepada Utsman Radhiyalllahu ‘anhu : apakah yang menghalangimu meminum arak di masa jahiliyah, padahal tidak mengapa melakukannya di masa itu? Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku melihatnya menghilangkan akal secara menyeluruh, dan aku tidak melihat sesuatu yang menghilangkan secara menyeluruh dan kembali lagi secara menyeluruh.

Dan kita tutup dengan ungkapan yang dikatakannya dalam salah satu khuthbahnya:
“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah keberuntungan, sesungguhnya manusia paling cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk sesudah kematian, serta berusaha untuk mendapatkan cahaya untuk kegelapan di alam kubur dari nur Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaklah hamba merasa takut bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menggiringnya dalam kondisi buta padahal sebelumnya dia melihat. Ketahuilah, sesungguhnya siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berpihak padanya niscaya ia tidak takut sesuatu, dan siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memurkainya, maka siapakah yang bisa diharapkannya sesudah-Nya?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Khalifah ar-Rasyid Dzin Nuraian dan mengumpulkan kita dengannya di surga Adn.

[Disalin dari من مواعظ ذي النورين عثمان بن عفان رضي الله عنه Penulis Dr. Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil, Perjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali,  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] Zuhd, karya imam Ahmad hal 106
[2] Fadhailu Utsman, karya Abdullah bin Ahmad hal. 115.
[3] Al-Bidayah wan Nihayah 7/241.
[4] Fadha`il Utsman bin Affan radh, karya Abdullah bin Ahmad hal. 116.
[5] Az-Zuhd wa ar-Raqa`iq karya Ibnu Mubarak dan Zuhd karya Nu’iam bin Hammad 2/17.
[6] At-Taubah karya ibnu Abi Dun-ya 121.
[7] Al-Bidayah 1/12, al-Kamil fil Lughah 1/214.
[8] At-Tamhid 15/10.

Mutiara Nasehat Umar Al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu

MUTIARA NASEHAT UMAR AL-FARUQ RADHIYALLAHU ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Manaqib dan biografi Umar al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu ditulis dalam beberapa jilid, namun ini hanyalah sekilas dari biografinya sebelum bercerita tentang dia. Dia adalah Abu Hafsh Umar bin Khaththab bin Nufail al-Adawy al-Qurasyi, nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada Ka’ab bin Lu`ay. Dia masuk Islam pada tahun ke enam. Ada yang berpendapat tahun ke lima pada saat berusia kira-kira dua puluh enam tahun.

Dengan masuk islamnya Umar Radhiyallahu ‘anhu, Islam menjadi kuat. Ia berhijrah secara terang-terangan[1], menghadiri perang Badar, Uhud dan semua peperangan. Ia adalah khalifah pertama yang dipanggil Amirul Mukminin, yang pertama-tama menulis kalender bagi kaum muslimin. Yang pertama kali mengumpulkan manusia untuk shalat Tarawih. Yang pertama-tama jaga malam hari dalam pekerjaannya, menaklukkan berbagai negeri[2], menentukan pajak, membangun berbagai kota, mengangkat para qadhi (hakim), melakukan pembukuan negara, memberikan tunjangan, dan berhaji bersama istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di akhir haji yang dilakukannya.

Dia memegang jabatan khalifah berdasarkan wasiat/penunjukan  dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu wafat pada malam selasa tanggal 23 Jumadil Akhir tahun ke 13 H, Umar Radhiyallahu ‘anhu menerima jabatan khalifah di pagi hari wafatnya  Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Dia memegang jabatan khalifah sekitar sepuluh tahun. Ia dibunuh oleh Abu Lu`lu al-Farisi al-Majusi dengan senjata tajam di tubuhnya pada saat shalat Subuh, dan setelah itu ia masih hidup tiga malam. Ini adalah di akhir bulan Dzulhijjah tahun 23 H.

Adapun mutiara-mutiara nasehat yang diriwayatkan darinya sangatlah banyak, di antara mutiara nasehat tersebut adalah : Dari Miswar bin Makhramah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia bersama Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkunjung kepada Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu (saat sakit, menjelang wafat), keduanya berkata: ‘Shalat, wahai Amirul Mukminin’, setelah pagi mulai terang. Ia menjawab:

« نَعَمْ ، وَلاَحَظَّ لِلْإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ»

‘Ya, dan tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa saja yang meninggalkan shalat.

Lalu ia shalat, sedangkan luka masih mengeluarkan darah. Sesungguhnya engkau membaca nasehat Umar Radhiyallahu ‘anhu ini tentang shalat di saat menjelang wafatnya dan menghadap alam akhirat, serta akan meninggalkan dunia, agar engkau mengingat wafat imam dan nabinya yang berpesan tentang shalat di saat menjelang wafatnya beliau:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اَلصَّلاَةَ ، اَلصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ » [ أخرجه أحمد والحاكم  ]

(Perhatikan, jagalah) shalat, (perhatikan, jagalah) shalat dan budak budak kalian.’[3]

Sedangkan beliau sakit parah dan pingsan, lalu siuman, beliau tidak memulai ucapan selain pertanyaan ‘Apakah orangorang (kaum muslimin) sudah shalat? kemudian beliau pingsan, kemudian siuman/sadar. Kemudian beliau mengulangi pertanyaan ‘Apakah orang orang sudah shalat?[4]

Inilah al-Faruq, mengulangi perjalanan sejarah, menelusuri lorong yang sama! Maka dia menasehati kita secara ucapan dan perbuatan: ‘Tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat’. Adapun nasehatnya secara perbuatan, yaitu ketika dia shalat sementara lukanya masih meneteskan darah!

Sesungguhnya sikap seperti ini ditunjukkan bagi orang orang yang lalai dalam shalat hanya karena satu dari sekian banyak sebab, atau malah terus-menerus meninggalkannya –kita berlindung kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala– agama apakah yang masih tersisa apabila sudah gugur pondasinya?

Al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu berkata:

« تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوْا »

Tafaqqahu (belajarlah agama) sebelum kalian menjadi pejabat (pemimpin).’

Inilah nasehat agung yang disampaikan Umar al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq (tanpa sanad) dan ia memberi komentar dengan kalimat: ‘Dan setelah menjadi penjabat (pemimpin), karena sesungguhnya para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tetap belajar di usia senja mereka.

Imam al-Bukhari memberi komentar dengan ungkapan ‘Dan setelah menjadi pemimpin’ karena khawatir ada yang justru memahami dari kata-kata itu bahwa kepemimpinan bisa menghalangi dari belajar agama. Sesungguhnya yang dimaksudkan Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia bisa menjadi penghalang, karena pimpinan terkadang dihalangi oleh sikap sombong dan malu/enggan untuk duduk seperti duduknya para penuntut ilmu.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ‘Apakah anak muda maju (sebagai pemimpin), berarti ia kehilangan ilmu yang sangat banyak.’Abu ‘Ubaid memberikan penjelasan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu di atas seraya berkata: ‘Belajarlah ilmu agama di saat kamu kecil sebelum engkau menjadi pemimpin, maka sikap sombong bisa menghalangimu mengambil (belajar ilmu agama) dari orang yang lebih rendah kedudukannya darimu, maka engkau tetap menjadi bodoh.’[5]

Al-Faruq mengisyaratkan dalam nasehatnya ini tentang penyakit yang mulai menular di dalam jiwa sebagian kaum muslimin, sebagaimana yang dijelaskan para imam. Akan tetapi apa yang dikatakan tentang orang yang tidak belajar, bukan karena terhalang tugas kepemimpinan, jabatan, kedudukan dan pangkat, namun ia dirintangi oleh sikap sombong untuk duduk belajar hanya karena usianya yang sudah tua?

Sesungguhnya dalam belajarnya para sahabat Nabi merupakan suri tauladan yang harus diikuti, seperti yang dikatakan oleh al-Bukhari rahimahullah. Sesungguhnya di antara yang menyebabkan kehinaan seorang laki-laki adalah kerelaannya dengan kebodohannya tentang persoalan agama yang dibutuhkannya, lalu ia tidak belajar dan tidak bertanya tentang hal itu!

Di antara gambaran yang orang-orang merasa terganggu karena sering diulang adalah : engkau melihat seorang pemuda –terlebih lagi orang yang sudah tua- melantunkan al-Qur`an dengan suara yang indah, kendati demikian ia enggan belajar di halaqah tahfizhul Qur`an, karena khawatir duduk di hadapan guru yang seusia anak-anaknya.

Al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu berkata[6]:

« اَلتُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَيْئٍ خَيْرٌ  إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ أَمْرِ اْلآخِرَةِ »

Perlahan dalam segala perkara adalah baik, kecuali sesuatu dari perkara akhirat.’

Ini adalah pelurusan dari al-Faruq untuk pemahaman yang terkadang bercampur aduk terhadap sebagian orang. Hal itu karena bangsa Arab sepakat mencela sikap terburu-buru secara umum. Bangsa Arab memberinya gelar ‘Ummun-Nadamat’ (ibu/induk penyesalan). Mereka mempunyai hikmah-hikmah yang tersebar dan sya’ir-sya’ir yang masyhur (terkenal). Namun sesungguhnya pemahaman ini –seperti yang diungkapkan al-Faruq- tidak sepantasnya diberlakukan dalam urusan akhirat. Bahkan bersegara kepadanya sangat terpuji dan dituntut, karena manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya memutuskannya, maka ia harus bersegera dan tidak menunda-nunda.

Apabila telah tiba kesempatan untuk beribadah dan memperbanyak dari pintu-pintu kebaikan, maka tidak baik perlahan lahan di sini, bahkan dicela. Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat:

 فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  [البقرة: 148] 

Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. [al-Baqarah/2:148]

Di antara gambaran yang disebutkan para ulama bahwa ada beberapa perbuatan yang menjadi tercela akibat menunda-nunda dalam menunaikannya adalah : taubat, membayar hutang, memuliakan tamu, mengurus jenazah. Maka ia termasuk perkara perkara yang dianjurkan bersegera dan cepat-cepat dalam melaksanakannya menurut cara yang syar’i.

Termasuk yang dihubungkan dengan hal itu adalah : muhasabah (intropeksi) diri, maka tidak sepantasnya bagi orang yang mengharap Rabb-nya dan negeri akhirat menunda-nunda muhasabah dirinya, namun ia harus bersegera. Sebagaimana yang dikatakan al-Faruq Radhiyallahu ‘anhuHisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah amal perbuatanmu sebelum kamu ditimbang, sesungguhnya lebih mudah bagimu dihisab besok (hari kiamat) bahwa kamu lebih dulu menghisab dirimu, hiasilah diri untuk penampilan yang besar, di hari kamu dihadapkan, tidak samar darimu sesuatu yang samar.![7]

Sangat banyak orang yang menunda-nunda dalam urusan akhirat pada akhirnya merasakan penyesalan. Al-Qur`an menjelaskan gambaran ini dalam beberapa tempat, seperti firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ – وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ – وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَآأُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ – أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَى عَلَى مَافَرَّطتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ  [الزمر: 53-56] 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).  Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). [az-Zumar/39:53-56]

Al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu berkata:

« لاَأُبَالِى عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ! عَلَى مَا أُحِبُّ أَمْ عَلَى مَا أَكْرَهُ, ذلِكَ بِأَنِّي لَاأَدْرِي  الخِيرَةُ فِيْمَا أُحِبُّ أَمْ فِيْمَا أَكْرَهُ »

Aku tidak perduli di atas kondisi apapun aku di pagi hari, terhadap yang kucintai ataukah atas yang kubenci, penjelasan hal itu karena sesungguhnya aku tidak tahu, apakah kebaikan ada pada yang kucintai atau yang kubenci.’

Sungguh merupakan pelajaran yang dalam. Kita perlu melatih diri kita untuk mempelajarinya, mentarbiyah hati kita untuk hidup bersamanya. Alangkah banyak peristiwa yang kita alami, baik individu maupun sosial masyarakat, kita melihat nampaknya merupakan keburukan dan ternyata kebaikan ada padanya. Ini adalah seperti firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala

وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ  [البقرة: 216] 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [al-Baqarah/2:216]

Dan firman-Nya:

 فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا [النساء: 19] 

Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [an-Nisa`:19]

Sungguh terjadi  sekitar dua minggu yang lalu, dua orang saudara bercerita  tentang musibah yang dialaminya dan ia sangat tidak menyukainya. Demi Allah, aku tidak menemukan untukku dan keduanya penghibur kecuali mengingatkan dengan dua ayat ini, dan seperti yang disebutkan al-Faruq Radhiyallahu ‘anhu. Hingga salah seorang darinya berkata kepadaku tatkala terjadi yang tidak disukai: ‘Demi Allah, sesungguhnya tatkala aku merenungkan ayat ini:

 فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا   [النساء: 19] 

Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [an-Nisa`/4:19]

Aku membacanya dengan tadabbur, aku mendapatkan rasa lapang dan ketenangan.

Sungguh sangat banyak problematika dalam kehidupan manusia dan sangat bervariasi, namun tetap ada Kalamullah (al-Qur`an al-Karim), Ucapan rasul-Nya, kemudian mutiara mutiara nasehat para sahabatnya yang menyejukkan, kita mengobati luka kehidupan dengannya.

[Disalin dari من مواعظ الفاروق عمر رضي الله عنه  Penulis Dr Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : EkoHaryantoAbu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] Sementara para sahabat lainnya hijrah secara sembunyi sembunyi.
[2] Al-A’lam karya Zirikly 5/45: di masa pemerintahannya selesai penaklukan Syam, Iraq, Baitul Maqdis, Mada’in, Mesir, Jazirah. Sehingga dikatakan: Di masa kekhalifahannya ada 12.000 minbar jum’at di dalam Islam.
[3] HR. Ahmad 12169, Hakim dalam Mustadrak 4388.
[4] HR. Al-Bukhari 687  dan Muslim 418.
[5] Fathul Bari karya Ibnu Hajar 1/166.
[6] Zuhd, karya Imam Ahmad hal 98.
[7] Zuhd karya imam Ahmad hal. 108.

Buah Keimanan Kepada Takdir

BUAH KEIMANAN KEPADA TAKDIR

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara aqidah Ahlu Sunah wal Jama’ah yang sangat prinsipil adalah mengimani adanya takdir dan ketentuan (qodho). Dimana keimanan terhadap takdir merupakan bagian dari rukun iman yang keenam dari rukun-rukun iman yang ada. Hal itu, sebagaimana dijelaskan dalam potongan haditsnya Jibril ‘alaihi sallam yang dikeluarkan oleh Imam Muslim. Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » [أخرجه مسلم]

Engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“. [HR Muslim no: 8]

Sedang didalam al-Qur’an sendiri Allah ta’ala juga telah menjelaskan tentang masalah takdir ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu firman -Nya:

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ – لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ .[ الحديد: 22-23 ]

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan   -Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. [al-Hadid/57:22-23]

Sedangkan catatan takdir itu telah terlebih dahulu ada sebelum penciptaan makhluk. Sebagaimana hal itu dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ » [أخرجه مسلم]

“Allah telah mencatat takdir semua makhluk sebelum diciptakannya langit dan bumi lima puluh ribu tahun sebelumnya. Beliau melanjutkan, “Dan Arsy (singgasananya) Allah itu berada diatas air”.[HR Muslim no: 2653]

Dalam dalil-dalil diatas Allah Shubhanahu wa ta’ala mengabarkan pada kita bahwa seluruh apa yang terjadi, mulai dari adanya ketentuan dan musibah serta pengikutnya yang berkaitan dengan jiwa maupun malapetaka. Maka semua itu telah Allah Shubhanahu wa ta’ala tulis kejadiannya sebelum ada wujud makhluknya dengan bilangan waktu yang sedemikian panjang. Yang mana hal itu menunjukan akan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala, yang ilmu -Nya meliputi segala sesuatu. Baik yang dulu maupun yang akan terjadi. Setelah itu Allah ta’ala menjelaskan bahwa didalam kabar -Nya kepada kita tentang hal tersebut memiliki hikmah dan dua faedah yang sangat penting, yaitu:

Pertama: Agar kita tidak merasa bersedih manakala kita kehilangan sesuatu dari urusan dunia serta keuntungannya. Dikarenakan hal tersebut bukan merupakan takdirnya, sehingga dengan itu dia akan memutus harapannya untuk nekat meraihnya. Sebab meratapi takdir yang telah terjadi serta bersedih hati maka itu merupakan kepandiran, dan Allah ta’ala tidak menginginkan bagi kita untuk terjerumus dalam hal tersebut, disebabkan dari kesedihan tersebut akan melahirkan dampak negatif serta pola pikir seseorang dan perilakunya.

Kedua: Kita mengetahui bahwa manusia tatkala dihadapkan pada kenikmatan yang diperoleh maka mereka terbagi menjadi dua golongan. Orang yang lemah imannya dengan qodho dan qodar akan berbahagia sekali. Hatinya dipenuhi dengan kebahagian dan kebanggaan seakan-akan –wal’iyadzu billah- dirinya tidak percaya akan apa yang diperolehnya. Adapun orang yang imannya kuat, yang mengetahui bahwa takdir Allah azza wa jalla telah lebih dulu ada sebelum terjadinya kejadian nikmat tersebut, maka hal tersebut tidak merubah sedikitpun dalam mengekspresikan diri disebabkan ilmu dan keimanannya terhadap apa yang terjadi, sebab hal itu adalah sesuatu yang pasti terjadi karena tidak ada istilah mustahil bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka sebagaimana catatan takdir tadi telah mendahului wujudnya nikmat, demikian pula keimanannya juga telah mendahului kejadiannya.

Sedang firman Allah Shubhanahu wa Ta’alla pada akhir ayat diatas, menyatakan: “Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. Maksudnya bahwa ilmu Allah ta’ala terhadap segala sesuatu sebelum terjadi dan pencatatan -Nya bagi kejadian tersebut lalu merealisasikan pada saat terjadinya perkara tadi adalah perkara yang mudah bagi Allah azza wa jalla. Dikarenakan Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengetahui apa yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, dan sesuatu yang belum terjadi kalau sekiranya terjadi dan cara terjadinya.[1]

Diantara faidah dan pelajaran dari beriman terhadap Qodho dan Qodar: 
1. Ridho serta yakin dengan balasan yang didapat.
Dimana Allah ta’ala menjelaskan dalam sebuah firmanNya:

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ  [ التغابن: 11 ]

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya -Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. [at-Taghaabun/64: 11]

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, “Yaitu barangsiapa yang mendapat musibah maka dirinya paham bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan takdir -Nya sehingga dia bersabar dan mencari pahala dibalik musibah itu serta berserah diri kepada ketentuan Allah Shubhanahu wa Ta’alla tersebut, maka dengan itu -Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah ta’ala ganti atas perkara dunia yang tidak diraihnya tadi dengan memberi petunjuk pada hatinya, rasa yakin dan keimanan, bahkan bisa jadi dirinya akan mendapat sesuatu yang lebih dari apa yang tidak bisa diraihnya tadi.

Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, “Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi petunjuk kepada hatinya dengan keyakinan, sehingga dirinya paham bahwa apa yang menimpanya dari musibah tidak mungkin meleset darinya. Dan apa yang meleset darinya tidak mungkin akan menimpanya”. Sedang ‘Alqomah menjelaskan, “Dia adalah seseorang yang mendapat musibah lalu dirinya paham bahwa musibah tersebut datangnya dari Allah Shubhanahu wa Ta’alla sehingga dirinya pun rela dan berserah diri. Didalam hadits disebutkan sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Shuhaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ » [أخرجه مسلم]

Sungguh menakjubkan perkaranya seorang mukmin itu, sesungguhnya semua urusannya baik dan hal itu tidak dijumpai pada orang lain kecuali pada seorang mukmin. Jika dirinya memperoleh nikmat lalu dirinya bersyukur maka itu baik baginya. Dan bila dirinya tertimpa musibah lalu ia bersabar maka itu juga baik baginya“. HR Muslim no: 2999.

Adapun Sa’id bin Jubair maka beliau mengatakan, “Firman -Nya, “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. Yakni dirinya mengucapkan ina lillahi wa ina ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan hanya kepada -Nya kami kembali)”.[2] Dan inilah ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  sebagaimana dijelaskan dalam haditsnya Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, “Aku mendengar Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا . قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم » [أخرجه مسلم]

“Tidaklah ada seorang muslim yang tertimpa musibah lantas dirinya mengucapkan seperti perintah Allah (kepadanya): Ina lillahi wa ina ilaihi raji’un. Ya Allah berilah pahala atas musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya”. Melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla pasti akan mengganti baginya yang lebih baik darinya. Ummu Salamah melanjutkan, “Maka tatkala Abu Salamah meninggal dunia aku berkata pada diriku sendiri, “Siapa orangnya dari kalangan kaum muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kemudian aku mengucapkan do’a yang diajarkan oleh Rasulallah tadi, maka Allah mengganti untuk diriku Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. HR Muslim no: 918.

2. Lapang dada, mendapat kebahagian hati, ketenangan jiwa dan pikiran.
Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Hingga aku menjadi seseorang yang berada dipagi hari yang tidak menjumpai ada kebahagian melainkan ditempat Qodho dan Qodar. Allah Shubhanahu wa Ta’alla menerangkan dalam firman -Nya: 

 قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  [ التوبة: 51 ]

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS at-Taubah: 51).

3. Memperoleh pahala besar.
Seperti dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

 وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ – ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ – أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ [ البقرة: 155-157 ]

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.  [al-Baqarah/2: 155-157].

Berkata Amirul Mukimini menjelaskan, “Maksudnya  memperoleh dua nikmat keadilan serta nikmat tambahan. Allah Shubhanahu wa Ta’alla berfirman, “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka”. Inilah dua keadilan tersebut lalu Allah mengatakan: “Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk“. Dan ini yang dimaksud tambahan tersebut. yaitu sesuatu yang diletakan diantara dua keadilan dan itu merupakan tambahan, demikianlah mereka diberi ganjaran terus tambah lagi.

4. Memperkaya jiwa.
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ » [أخرجه الترمذي]

Dan rela dengan pembagian yang telah Allah tentukan bagimu maka engkau akan menjadi orang terkaya dikalangan manusia“. HR at-Tirmidzi no: 2304. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 930.

5. Tidak gentar terhadap ancaman makhluk.
Seperti digambarkan secara jelas dalam haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda kepadaku:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إذا سألت فاسأل الله, وإذا استعنت فاستعن بالله, واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك, ولو اجتمعواعلى أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك, رفعت الأقلام وجفت الصحف » [أخرجه الترمذي]

Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering“. HR at-Tirmidzi no: 2516. Beliau berkata hadits hasan shahih.

6. Berani dan tidak pengecut.
Orang yang beriman kepada Qodho dan Qodar memahami kalau suatu musibah yang menimpa dirinya tidak mungkin salah alamat, begitu pula sesuatu yang luput darinya tidak akan menimpanya. Bahwa yang namanya ajal adalah perkara yang telah ditentukan tidak mungkin berubah seberapa pun besar usaha yang dilakukan untuk menolaknya. Tidak mungkin sanggup seseorang untuk menolak musibah biarpun dirinya tidak suka dan juga ia tidak merasa gentar menghadapi kematian. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah tabaraka wa ta’ala:

 وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ كِتَٰبٗا مُّؤَجَّلٗاۗ [ آل عمران: 145 ]

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. [al-Imran/3: 145].

Sebagaimana ajal juga telah ditentukan, seperti yang Allah azza wa jalla jelaskan dalam firman -Nya:

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ  [ الأعراف: 34 ]

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. [al-A’raaf/7: 34].

Imam Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa telah datang waktu kematian untuknya maka tidak ada lagi langit dan bumi yang bisa melindunginya”.

7. Tidak menyesali urusan yang terlewat darinya serta tidak bersedih hati.
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ  » [أخرجه مسلم]

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan, maka bersemangatlah untuk mencari apa yang bermanfaat untukmu. Mintalah pertolongan kepada Allah jangan loyo, jika dirimu tertimpa musibah maka jangan katakan, “Kalau seandainya aku melakukan ini dan itu”. Namun, katakanlah, “Allah telah mentakdirkan dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi”. Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ akan membuka kerjaan bagi setan“. HR Muslim no: 2664.

8. Bahwa pilihan terbaik ialah yang dipilih oleh Allah untuknya.
Terkadang seorang mukmin ditakdirkan untuk mendapat musibah, lalu ia bersedih, akan tetapi, dirinya tidak tahu ada berapa banyak kandungan hikmah kebaikan yang ia capai disebabkan musibah tersebut serta berapa banyak kejelekan yang dipalingkan darinya. Demikian pula kebalikannya. Maka sungguh Maha Benar Allah Shubhanahu wa Ta’alla takala mengatakan dalam firman-Nya:

 وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ [ البقرة: 216 ]

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”. [al-Baqarah/2: 216]

Seorang ulama yang bernama Ibnu A’un mengatakan, “Jadilah engkau orang yang rela dengan takdir Allah Shubhanahu wa Ta’alla baik dalam kesulitan maupun kemudahan. Maka hal itu akan meminimalisir kecemasanmu serta lebih mendorong untuk mencapai keinginan akhiratmu.

Ketahuilah sesungguhnya seorang hamba tidak mungkin bisa mencapai derajat rela sejati sampai dirinya rela tatkala dilanda kefakiran dan bencana, sama seperti relanya ia disaat memperoleh kebahagian dan harta. Bagaimana mungkin engkau hanya rela kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla tatkala senang kemudian mencaci -Nya jika merasa takdir tadi tidak sesuai dengan keinginanmu?! Bisa jadi apa yang engkau kehendaki bila dikabulkan maka hal itu adalah kebinasaan untukmu, lalu engkau rela bilamana takdir -Nya sesuai dengan hawa nafsu, maka itu semua menunjukan akan sedikitnya pemahamanmu dengan perkara ghaib?! Apabila demikian keadaanmu, engkau belum bisa berlaku adil, belum sampai pada pintu ridho”. Al-Hafidh Ibnu Rajab mengomentari ucapan tadi dengan mengatakan, “Ucapan ini sungguh sangat bagus”.[3]

9. Menyelamatkan dari siksa neraka.
Seperti dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dari Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, yang sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَلَوْ أَنْفَقْتَ جَبَلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَلَوْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَدَخَلْتَ النَّارَ » [أخرجه أبو داود]

Kalau seandainya Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengadzab seluruh penduduk langit yang tujuh serta penduduk bumi tentu –Dia tidaklah berlaku dzalim terhadap mereka. Kalau sekiranya Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati mereka semua tentu rahmatNya itu lebih besar nilainya dari pada amal kebajikan mereka. Jika seandainya engkau menginfakan emas sebesar gunung uhud dijalan niscaya Allah Shubhanahu wa Ta’alla tidak  akan mungkin -Dia menerimanya sampai kiranya engkau beriman kepada takdir dan memahami bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan sesuatu yang meleset darimu tidak akan mengenaimu. Kalau sekiranya engkau mati dalam keadaan tidak seperti keimanan tadi niscaya engkau akan dimasukan kedalam neraka“. HR Abu Dawud no: 4699. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan abi Dawud 3/890 no: 3932.

10. Hilangnya rasa cemas, khawatir serta kesedihan.
Diantara keimanan terhadap takdir maka masuk didalamnya keimanan terhadap catatan takdir sebelum terjadinya kejadian. Maka jika sekiranya porsi terbesar dalam keimananmu adalah seperti itu, keimananmu akan terkerek naik sehingga engkau tidak senang bila diberi dan tidak merasa sedih jika tidak mendapatkan. Demikian pula keadaaan orang yang kebalikan seratus sembilan puluh derajat dari yang pertama, maka hukumnya juga berbeda. Inilah makna yang tersimpan dalam firman Allah ta’ala:

 لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ [ الحديد: 23 ]

“Supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (QS al-Hadid: 23).

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari فوائد الإيمان بالقضاء والقدر Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 13/431.
[2] Tafsir Ibnu Katsir 14/20.
[3] Taisir Azizil Hamid hal: 522-523.

Agama Islam Adalah Agama Rahmat

AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA RAHMAT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

Agama Islam adalah Agama Allâh Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila datang pertolongan Allâh dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam Agama Allâh dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.[an-Nasr/110:1-3]

Firman Allâh Azza wa Jalla:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Apakah selain Agama Allâh (Islam) yang mereka cari? Padahal kepada-Nya berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan keta’atan maupun dengan terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan. [Ali Imrân/3:83].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) Agama Allâh jika memang kamu beriman kepada Allâh dan hari akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman keduanya disaksikan oleh segolongan dari orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:2].

Sedangkan Allâh Rabbul ‘alamin disifatkan dengan rahmah, dan rahmah-Nya sangat luas sekali meliputi segala sesuatu, baik bersifat umum untuk semua mahluk-Nya termasuk kaum kuffar maupun secara khusus hanya untuk hamba-hamba-Nya yang Mu’min saja. Rahmah-Nya mengalahkan kemurkaan dan kemarahan-Nya. Maka segala kebaikan dunia dan akherat adalah dari rahmah-Nya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Kepunyaan siapakah segala yang di langit dan di bumi ?” Katakanlah, “Kepunyaan Allâh.” Dia (Allâh) telah menetapkan atas Diri-Nya rahmah. Sungguh Dia akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan lagi terhadap (kejadian)nya. (Akan tetapi) orang-orang yang merugikan dirinya mereka tidak beriman (kepada hari kiamat)”.  [al-An’âm/6:12].

Firman Allâh Azza wa Jalla:

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka katakanlah: “Salâmun ‘alaikum”. Rabbmu telah menetapkan atas Diri-Nya rahmah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan kejahatan (dosa) dengan sebab kejahilan(nya)[1], kemudian sesudah itu dia bertaubat dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [al-An’âm/6:54].

Dua ayat yang mulia ini yang menjelaskan bahwa Rabbul ‘alamin telah menetapkan Diri-Nya rahmah telah ditafsirkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah bersabda, “Tatkala Allâh telah menciptakan mahluk Dia menulis di Kitab-Nya[2] dan Dia menulis atas Diri-Nya[3] dan tulisan itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy(Nya): Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku“. [HSR. Bukhari (3194, 7404 –dan ini lafazhnya-, 7422, 7453, 7553 & 7554) dan Muslim (2751) dan lain-lain]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. [al-An’âm/6:133].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat..[al Kahfi/17:58].

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Maka jika mereka mendustakanmu katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas, dan azabnya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa“.[al-An’âm/6:147].

Kemudian beberapa hadits di bawah ini menjelaskan kepada kita akan luasnya rahmat Allâh sebagaimana beberapa firman Allâh di atas :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِيْ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً. فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata : Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakannya. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan rahmat, sedangkan yang satu rahmat Dia kirim (Dia berikan) untuk seluruh mahluk-Nya. Maka kalau sekiranya orang yang kafir itu mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah putus asa untuk memperoleh surga. Demikian juga kalau sekiranya orang mu’min itu mengetahui setiap azab yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah merasa aman dari masuk ke dalam neraka”. [HR Bukhari (6469 dan ini adalah lafazhnya) dan Muslim (2752)].

Dalam salah salah satu riwayat Bukhâri (6000) dengan lafazh sebagai berikut:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ جُـزْءًا وَأَنْزَلَ فِي اْلأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ.

Bahwasanya Abu Hurairah telah berkata: Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Allâh telah menciptakan seratus bagian rahmat. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan bagian, sedangkan yang satu bagian Dia turunkan ke bumi. Maka dari yang satu bagian itulah mahluk saling berkasih sayang, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena khawatir mengenai (menginjak) anaknya”.

Adapun lafazh dari riwayat Imam Muslim sebagai berikut:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ وَأَنْزَلَ فِي اْلأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ تَتَرَاحَمُ الْخَلاَئِقُ حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ

Bahwasanya Abu Hurairah telah berkata: Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Allâh telah menciptakan seratus bagian rahmat. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan bagian, sedangkan yang satu bagian Dia turunkan ke bumi. Maka dari yang satu bagian itulah para mahluk saling berkasih sayang, sehingga seekor binatang mengangkat kakinya khawatir mengenai (menginjak) anaknya”.

Dan dalam salah satu riwayat yang lain bagi Imam Muslim dengan lafazh sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ، مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُوْنَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allâh mempunyai seratus rahmat yang Dia turunkan. Di antaranya satu rahmat (dibagi) di antara jin dan manusia serta semua binatang. Maka dengan sebab satu rahmat itulah mereka saling mengasihani dan berkasih sayang, dan dengan sebabnya binatang buas mengasihi anaknya. Dan Allâh menunda (pemberian) yang sembilan puluh sembilan rahmat lagi supaya berkasih sayang dengan sebabnya hamba-hamba-Nya[4] pada hari kiamat”.

Hadits yang sama dari jalan yang lain:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Dari Salman al Fârisiy, dia berkata: Telah bersabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ”Sesungguhnya Allâh mempunyai seratus rahmat. Maka di antaranya satu rahmat, yang dengan sebabnya maka berkasih sayanglah sekalian mahluk di antara mereka. Sedangkan yang sembilan puluh sembilan lagi (akan diturunkan) pada hari kiamat” [HR. Imam Muslim, no. 2753].

Dan dalam salah satu riwayat Muslim dengan lafazh sebagai berikut:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِي اْلأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ.

Dari Salman (al-Fârisiy), dia berkata: Telah bersabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ”Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Setiap satu rahmat setingkat di antara langit dengan bumi. Maka Allâh telah menjadikan di bumi satu rahmat. Maka dengan sebab yang satu rahmat itulah seorang ibu mengasihi anaknya, dan juga binatang buas dan burung-burung sebagiannya (saling mengasihi) sebagian yang lainnya. Maka apabila datang hari kiamat Allâh akan menyempurnakan rahmat ini (yakni yang sembilan puluh sembilan lagi khusus untuk orang-orang mu’min)”.

Hadits yang lain lagi:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِيْ إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: الَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu (dia berkata), “Telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang wanita. Maka tiba-tiba di antara tawanan wanita itu ada seorang wanita yang menyusui. Maka apabila dia mendapati seorang bayi di dalam tawanan itu dia segera mengambilnya dan mendekapkannya keperutnya lalu dia menyusuinya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, ”Apakah kamu mengira bahwa wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”.

Kami menjawab: ”Tidak akan. Padahal dia mampu untuk tidak melemparkannya”.

Maka beliau bersabda, ”Allâh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dari wanita ini kepada anaknya”. [HR. Bukhari, no.5999 dan ini adalah lafazhnya) serta Muslim, no.2754].

Hadits yang lain lagi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ.

Dari Abu Hurairah (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Kalau sekiranya orang Mu’min itu mengetahui siksaan yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorangpun Mu’min yang berharap akan surga-Nya. Dan kalau sekiranya orang kafir itu mengetahui rahmat yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorangpun kafir yang putus asa dari surga-Nya” [HR. Muslim, no. 2755].

Ketika kita telah mengetahui berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, bahwa Agama Islam ini adalah Agama Allâh, dan Allâh Rabbul ‘alamin disifatkan dengan rahmat, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatunya termasuk di dalamnya adalah Agama-Nya Islam, maka Agama Islam adalah Agama rahmat berdasarkan dalil-dalil naqliyyah dan aqliyyah sebagaimana beberapa catatan penting yang akan saya paparkan setelah ini, insyaa Allâhu Ta’ala. Tetapi sebelumnya, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu –untuk melapangkan jalan ilmiyyah risalah kita ini- keadaan manusia sebelum diutusnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Keadaan Manusia Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Diutus
Saudaraku, ketahuilah, sebelum Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus untuk seluruh mahluk –manusia dan jin- dan menjadi rahmat bagi sekalian alam, sungguh Allâh telah sangat marah dan murka kepada penduduk bumi –Arabnya dan ‘ajam[5]nya- sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ خُطْبَتِهِ: أَلاَ إِنَّ رَبِّيْ أَمَرَنِيْ أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِيْ يَوْمِيْ هَذَا. كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلاَلٌ، وَإِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ، فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوْا بِيْ مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلاَّ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ…

Dari ‘Iyadh bin himaar al Mujâsyi’iy (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada suatu hari di dalam khotbahnya, “Ketahuilah, sesungguhnya Rabbku telah memerintahkan kepadaku, agar aku mengajarkan kamu apa saja yang kamu tidak tahu dari apa-apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hari ini”.

(Allâh berfirman), “Segala harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya mereka dalam keadaan bertauhid. Kemudian syaithan datang kepada mereka membawa pergi mereka dari agama (tauhid) mereka. Syaithan telah mengharamkan atas mereka apa saja yang Aku halalkan bagi mereka. Dan syaithan telah memerintahkan kepada mereka untuk melakukan kesyirikan kepada-Ku (menyekutukan-Ku), padahal Aku tidak pernah menurunkan keterangannya”.

(Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Sesungguhnya Allâh melihat kepada penduduk bumi, maka Allâh telah sangat marahnya kepada mereka, baik kepada orang-orang Arabnya maupun orang-orang ‘ajamnya, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab…”. [HR. Muslim, no. 2865 dan lain-lain]

Di dalam hadits yang mulia ini terdapat sejumlah ilmu, di antaranya saya sebutkan:

  1. Bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatunya kepada umatnya dari urusan agama mereka. Maka barangsiapa mengatakan, bahwa beliau belum mengajarkan ini dan itu dan seterusnya sehingga perlu ditambahkan oleh ra’yu mereka, maka sesungguhnya dia telah menuduh Nabi yang mulia n telah berkhianat kepada Rabbul ‘alamin dalam menyampaikan risalah-Nya dan amanat-Nya kepada umat manusia sebagaimana akan datang keluasannya di risalah kita ini tentang kesempurnaan agama Islam, insyaa Allâhu Ta’ala.
  2. Pengingkaran dari Rabbul ‘alamin kepada manusia seperti kepada kaum musyrikin yang telah mengharamkan beberapa jenis hewan yang Allâh telah halalkan. Dhâbith (ketentuan atau ketetapan)nya, bahwa apa saja yang Allâh dan Rasul-Nya telah halalkan tidak bisa menjadi haram karena diharamkan oleh manusia. Dhâbith (ketentuan atau ketetapan)nya lagi, bahwa yang halal dan haram adalah apa yang Allâh dan Rasul-Nya telah halalkan dan haramkan.
  3. Bahwa Rabbul ‘alamin telah menciptakan manusia berdasarkan agama tauhid (Islam) sebagaimana akan datang penjelasannya di risalah kita ini, insyaa Allâhu Subhanahu wa Ta’ala.
  4. Bahwa syaithan selalu menghalangi manusia dari agama asli mereka yaitu agama tauhid (Islam), dan mengajak mereka pergi meninggalkannya kepada agama-agama dan ajaran-ajaran buatan manusia yang intinya adalah penyembahan kepada syaithan.
  5. Sebelum Allâh mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman fatrah[6] –kekosongan para Rasul- manusia berada dalam kejahilan yang sangat dalam dan dalam kedurhakaan yang sangat besar, maka sungguh Allâh telah sangat marahnya kepada mereka –Arabnya dan ‘ajamnya- maka ketika itu manusia terbagi menjadi dua golongan:

Pertama: Ahli Kitab (=Yahudi dan Nashara).
Mereka telah kufur kepada Allâh, telah merobah agama Allâh, telah mentahrif[7] Kitab Allâh –Taurat dan Injil- dan mereka telah mengadakan penyembahan kepada manusia dan seterusnya dari kerusakan-kerusakan besar yang terjadi pada mereka. Kecuali sedikit sekali dari sisa-sisa Ahli Kitab –sebagaimana telah dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini- yang masih berpegang dengan agama mereka yang haq (Islam) yang belum dirobah yang di bawa para Nabi dan Rasul mereka seperti Musa dan Isa shalawaatullah wa salaamuhu ‘alaihim.

Kedua: Bangsa Arab dan ‘ajam.
Mereka adalah kaum musyirikin dari bangsa Arab dan bangsa ‘ajam termasuk di dalam kaum filsafat Yunani, India dan Cina. Mereka telah kufur kepada Allâh, mereka telah beribadah kepada selain Allâh, mereka telah melakukan kesyirikan besar kepada Allâh, mereka telah mengadakan penyembahan kepada berbagai macam sesembahan yang mereka anggap baik dan mereka sangka bermanfa’at seperti kepada matahari, bulan, bintang-bintang, berhala-berhala, kubur-kubur dan lain sebagainya.

Demikianlah keadaan manusia ketika itu –Ahli Kitabnya dan umminya dari bangsa Arab dan ‘ajam– berada di dalam kejahilan yang sangat dalam dan kerusakan yang sangat besar. Dari keyakinan-keyakinan yang mereka sangka benar, tetapi itulah kekufuran dan kesyirikan yang sangat besar. Dari perkataan-perkataan yang mereka sangka sebagai ilmu, tetapi itulah kebodohan yang sangat dalam. Dari perbuatan-perbuatan yang mereka sangka kebaikan, tetapi itulah kerusakan yang hakiki. Karena itulah zaman itu dinamakan dengan zaman jahiliyyah yang umum dan merata kepada seluruh umat manusia, yaikni sebelum Allâh mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada semua umat manusia dan jin dan menjadi rahmat untuk sekalian alam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Yakni dengan sengaja. Karena setiap kejahatan atau dosa dinamakan dengan kebodohan (jahil). Maka dari itu kebodohan (kejahilan) di dalam ayat yang mulia ini bukan berarti tidak tahu atau tidak sengaja.
[2] Yakni di lauhul mahfuzh.
[3] Yakni Allâh telah menetapkan atas Diri-Nya sebagaimana firman Allâh di dalam dua ayat di atas.
[4] Yakni hamba-hamba-Nya yang mu’min. Adapun orang-orang kafir dan musyrik maka tidak ada rahmat lagi bagi mereka pada hari kiamat.
[5] Orang ‘ajam ialah setiap orang yang bukan orang Arab.
[6] Surat Al Maa-idah ayat 19.
[7] Tahrif adalah merobah lafazh dan makna.

Nabi Muhammad Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DI UTUS UNTUK MENJADI RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً ِللْعَالَمِيْنَ  وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Berikut ini sebuah risalah kecil -semoga bisa mendatangkan manfa’at besar- tentang tafsir salah satu firman Allâh Azza wa Jalla yaitu :

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].

Ayat rahmat yang sangat agung dan bersifat umum ini telah menjelaskan kepada manusia beberapa hal :

  1. Pertama: Bahwa Allâh Jalla Dzikruhu telah mengutus hamba-Nya dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam yang terdiri dari kelompok-kelompok mahluk seperti alam manusia, alam Malaikat, alam Jin, alam hewan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai rahmat bagi mereka semua.
  2. Kedua: Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diciptakan dan disifatkan serta dihiasi pada diri beliau dengan rahmat.
  3. Ketiga: Bahwa Agama yang beliau bawa –Islam- semua ajarannya adalah rahmat bagi jin dan manusia yang terkena taklif (beban) dari Rabbul ‘alamin.
  4. Keempat: Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di utus dan datang kepada manusia dan jin dengan segala kebaikan dunia dan akherat.
  5. Kelima: Bahwa al-Qur’ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi rahmat terbesar bagi mereka.
  6. Keenam: Bahwa ayat yang mulia ini menjadi bukti terbesar kenabian dan kerasulan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dan seterusnya…

Maka saya tulis risalah ini untuk menjelaskan sebagian dari apa yang saya sebutkan tadi, dan untuk meluruskan kesalahpahaman terhadap Islam dan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiyyur rahmah.

Selamat membaca dan menikmati rahmat yang sangat agung ini…!

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiyâ’/21:107]

Ayat yang mulia ini merupakan ayat terbesar yang menjelaskan kepada manusia, bahwa Allâh telah mengutus Nabi-Nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Rahmat secara umum dan merata kepada semuanya. Karena lafazh al’alamîn menunjukkan makna mutlak dan umum, maksudnya rahmat untuk mereka semuanya.

Rahmat untuk alam manusia –yang Mukmin dan yang kafir-; Untuk alam Malaikat; rahmat untuk alam jin – yang Mukmin dan yang kafir – dan rahmat untuk alam hewan.

Adapun rahmat untuk yang beriman, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan hidayah kepada mereka, dan memasukkan keimanan ke dalam hati mereka. Kemudian juga memasukkan mereka ke dalam surga dengan sebab amalan mereka yang telah mempraktekkan ajaran yang di bawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Allâh Azza wa Jalla .

Sedangkan rahmat untuk orang-orang kafir, yaitu Allâh Azza wa Jalla tidak langsung mengadzab mereka di dunia ini seperti Allâh Azza wa Jalla telah mengadzab dan membinasakan orang-orang kafir sebelum mereka yang telah mendustakan para Nabi dan Rasul.[1]

Ketika menafsirkan ayat yang mulia ini, al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa sesungguhnya Allâh telah menjadikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Yakni Allâh telah mengutusnya untuk menjadi rahmat bagi mereka semuanya. Maka barangsiapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, pasti dia akan berbahagia di dunia dan di akherat. Tetapi barangsiapa menolak rahmat ini dan menentangnya, pasti dia akan merugi di dunia dan di akherat.

al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Jika ada yang bertanya, ‘Rahmat apakah yang diraih oleh orang-orang yang kafir ? Maka jawabannya apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr…” (kemudian beliau rahimahullah membawakan sebagian dari apa yang ditafsirkan oleh al-Imam Ibnu Jarir yang telah saya kutip sebagiannya).

Atau yang dimaksud dengan rahmat bagi yang kafir, baik manusia maupun jin ialah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang kepada mereka dengan membawa segala kebaikan dunia dan akherat untuk kebahagian dunia dan akherat mereka. Itulah rahmat dan kebaikan yang sangat besar untuk mereka. Tetapi mereka telah menyia-nyiakannya. Akibatnya, pasti akan menimpa mereka kerugian yang sangat besar yang harus mereka tanggung bagi dunia dan akherat mereka.

Al-Imam asy-Syanqithiy rahimahullah di tafsirnya Adhwâul Bayân (4/250-251) mengatakan ketika menafsirkan ayat yang mulia ini, “Allâh Azza wa Jalla telah menerangkan dalam ayat yang mulia ini, sesungguhnya Dia tidaklah mengutus Nabi yang mulia ini n kepada seluruh mahluk-Nya, melainkan sebagai rahmat bagi mereka. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa apa yang dapat membahagiakan mereka, dan apa yang bisa mereka pergunakan untuk meraih segala kebaikan dunia dan akherat, jika mereka mengikutinya. Tetapi orang yang menyalahi dan tidak mengikuti, berarti dia telah menyia-nyiakan rahmat yang menjadi bagiannya.

Sebagian ahli ilmu telah membuat permisalan, seraya berkata, “Kalau Allâh Azza wa Jalla memancarkan mata air yang banyak untuk makhluk dan mudah di ambil, lalu (sebagian) manusia menyirami tanaman-tanaman mereka dan memberi minum kepada ternak-ternak mereka dari air itu. Dengan sebab itu, niscaya mereka akan mendapatkan nikmat yang berkesinambungan. Tetapi sebagian manusia yang lainnya, yang lalai dan malas dalam beramal, maka mereka telah menyia-nyiakan bagian mereka dari mata air tersebut. Mata air yang terpancar itu pada hakikatnya adalah bagian dari rahmat Allâh, dan merupakan nikmat untuk kedua golongan manusia tadi. Akan tetapi bagi orang yang malas, maka hal itu merupakan ujian pada dirinya, karena dia telah mengharamkan nikmat yang bermanfa’at itu untuk dirinya”.

Yang demikian telah dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allâh dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. [Ibrâhîm/14: 28]

Apa yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam ayat yang mulia ini[2], yaitu Allâh tidaklah mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam, menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa rahmat bagi mahluk. Rahmat itu meliputi al-Qur’ânul ‘adzhîm ini. Hal ini telah dijelaskan di beberapa tempat dalam Al Qur’an, seperti firman Allâh Azza wa Jalla, (yang artinya), “Dan apakah tidak cukup bagi mereka sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Kitab (al-Qur’an) sedang dia (al-Qur’an) dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya di dalam al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. [al ‘Ankabût/29:51].

Juga firman Allâh Azza wa Jalla:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْٓا اَنْ يُّلْقٰٓى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّلْكٰفِرِيْنَ

Dan kamu (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi Al Qur’an diturunkan karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir”.[al Qashash/28:86]

Sekian perkataan al-Imam asy-Syanqithiy rahimahullah dengan ringkas.

Yang menunjukkan keumuman rahmat dalam ayat yang sedang bicarakan ini ialah hadits shahih di bawah ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ. قَالَ: إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً. (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “(Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) pernah diminta, “Wahai Rasûlullâh, do’akanlah kecelakaan/kebinasaan untuk kaum musyrikin !”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah di utus sebagai pelaknat, sesungguhnya aku di utus hanya sebagai rahmat.[HR. Muslim, no. 2599]

Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi rahmat bagi manusia dan jin yang Mu’min, karena mereka telah mengambil dan memanfa’atkan rahmat dan nikmat yang sangat besar ini. Tetapi manusia dan jin yang kafir, mereka telah menolak dan menentang rahmat dan nikmat yang sangat besar ini…

Sedangkan rahmat untuk Malaikat, karena Allâh dalam al-Qur’ân juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya telah memuji, memuliakan serta menjelaskan tentang Malaikat secara detail; tentang keutamaan, kemuliaan, keta’atan, sifat-sifat, penciptaan, tugas-tugas para malaikat. Juga keimanan kepada para Malaikat merupakan salah satu rukun iman. Maka kafirlah orang yang mengingkari keimanan kepada para Malaikat walaupun hanya satu Malaikat.

Itulah rahmat yang besar bagi Malaikat!

Adapun rahmat bagi jin –Mu’minnya dan kafirnya- adalah sama seperti manusia sebagaimana telah diterangkan sebelum ini.

Adapun rahmat bagi hewan, maka al-Qur’ân dan Sunnah atau hadits telah menjelaskannya secara terperinci:

  • Bahwa hewan adalah umat seperti manusia…
  • Kemanfa’atan hewan bagi umat manusia…
  • Hewan yang halal dan yang haram dimakan dagingnya…
  • Hewan yang haram dan halal di bunuh…
  • Hak-hak hewan…
  • Haramnya menyiksa hewan…
  • Berbuat kebaikan dan berkasih-sayang kepada hewan dan seterusnya.

Itulah rahmat bagi mahluk yang bernama hewan…!

Karena itu tidaklah aneh, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita, bahwa para Malaikat dan penduduk langit dan bumi sampai-sampai semut-semut yang berada di lobang-lobangnya dan ikan-ikan di air, memohonkan ampun kepada Rabbul ‘alamin untuk para Ulama yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.[3]

Kenapa demikian…? Di antara jawabannya :

  1. Pertama, karena para Ulama telah mengajarkan ilmu kepada manusia akan hak-hak hewan. Sehingga dengan sebab itu manusia kenal dan tahu hak-hak hewan secara terperinci sebagaimana tadi telah saya isyaratkan.
  2. Kedua, para Ulama sebagai penyambung lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , di mana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah di utus untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam dan salah-satunya adalah alam hewan. Jadi, para Ulama telah menyampaikan dan menyebarkan rahmat untuk hewan ini kepada manusia. Sehingga manusia tidak menzhalimi hak-hak hewan, dan mereka menempatkannya pada tempatnya masing-masing. Semua berjalan di atas landasan ilmu dan keadilan, bukan di atas kejahilan dan kezhaliman. Sehingga hak-hak hewan berjalan dengan penuh keadilan dan jauh dari kezhaliman.

Itulah rahmat yang sangat besar untuk hewan…!

Saya takjub ketika mendapati al-Imam al-Bukhâri –sebagai salah seorang amîrul mu’minin fil hadits– telah memberikan judul bab dalam kitab shahihnya di bagian Kitâbul Adab dengan judul bab : Baabu Rahmatin Nas wal Baha’im (Bab: Mengasihi/menyayangi manusia dan hewan)

Kemudian al-Imam Bukhâri telah  mentakhrij dan meriwayatkan dalam bab ini sebanyak enam hadits -dua di antaranya akan saya bawakan sekarang, sedangkan sisanya akan saya bawakan pada bab yang kedua dari risalah ini, insyââ Allâhu Ta’ala-:

Hadits pertama (no: 6009):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِيْ كَانَ بَلَغَ بِيْ. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، فِيْ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan, dia sangat kehausan sekali, lalu dia mendapati sebuah sumur, segera dia turun ke sumur itu dan meminum (airnya). Kemudian ketika dia keluar dari sumur, tiba-tiba ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya sembil menjilati tanah karena kehausan.

Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya anjing ini telah menderita kehausan seperti yang pernah aku rasakan tadi”. Lalu laki-laki itu turun kembali ke sumur, kemudian dia penuhi sepatu botnya dengan air, (setelah itu dia keluar dari sumur) sambil menggigit sepatu botnya dengan mulutnya. Kemudian dia minumkan  ke anjing itu, maka Allâh bersyukur kepadanya dan mengampuni (dosa-dosa)nya”.

Para Shahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, sungguhkah (apakah) kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala”.[4]

Saya tertegun ta’jub ketika mendapati al-Imam al-Bukhâri membawakan hadits ini –selain di kitab shahihnya- di kitabnya Adabul Mufrad (378) dengan judul bab: Bâbu Rahmatil Bahâ‘im (Bab: Mengasihi/menyayangi hewan)

Hadits kedua (no: 6012):

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu,, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang menanam sebuah tanaman, kemudian tanamannya itu dimakan oleh manusia atau binatang, melainkan dia mendapatkan (pahala) shadaqah dengannya”.[5]

Itulah dua buah hadits yang dibawakan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah yang menunjukkan akan adanya rahmatul bahâim atau kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada hewan.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini yang menjadi rahmatan lil’alamin ketika ditanya oleh para Shahabat Radhiyallahu anhum :
“Wahai Rasûlullâh, sungguhkah kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala.”

Di antara mahluk hidup adalah hewan…! Dari sini kita mengetahui dengan ilmu yakin, bahwa Islam-lah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada binatang atau hewan. Islam telah menetapkan hal itu jauh sebelum orang-orang kafir berbicara dengan lisan dan tulisan mereka.

Tetapi yang sangat kita sayangkan, sebagian dari mereka yang menyandarkan diri kepada Islâm, mereka yang telah terbenam dalam taqlid buta kepada orang-orang kafir –karena ketidaktahuan mereka terhadap Islâm dan apa yang mereka saksikan dari perbuatan sebagian kaum muslimin yang tidak islami dalam bab ini- mengatakan, bahwa orang-orang kafirlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar kasih-sayang kepada hewan!? Subhaanallah…! Begitu asingkah Islam pada ahlinya…?!

Para pembaca yang budiman, saya akan mengajak para pembaca untuk melanjutkan penelitian terhadap hadits-hadits yang lain dalam bab ini yang jumlahnya tidak sedikit, agar kita bisa berbicara dan berbuat berdasarkan bashîrah (ilmu). Di antara hadits-hadits tersebut yang saya tahu dan telah saya teliti sah atau tidaknya ialah :

Hadits ketiga:

عَنْ سَهْلِ ابْنِ الْحَنْظَلِيَّةِ قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعِيْرٍ قَدْ لَحِقَ ظَهْرُهُ بِبَطْنِهِ فَقَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوْهَا صَالِحَةً وَكِلُوْهَا صَالِحَةً. (رواه أبوداود)

Dari Sahl bin Handzaliyyah, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seekor onta yang punggungnya telah merapat ke perutnya[6], maka beliau bersabda, “Takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini yang tidak dapat berbicara kepada kamu, naikilah dia dengan baik dan (kalau tidak dikendarai) maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, no: 2548).

Dalam riwayat lain yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad dimusnadnya (4/180-181):

…وَخَرَجَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَاجَةٍ فَمَرَّ بِبَعِيْرٍ مُنَاخٍ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ ثُمَّ مَرَّ بِهِ آخِرَ النَّهَارِ وَهُوَ عَلَى حَالِهِ فَقَالَ: أَيْنَ صَاحِبُ هَذَا الْبَعِيْرِ؟ فَابْتُغِيَ فَلَمْ يُوجَدْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : اتَّقُوا اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ ثُمَّ ارْكَبُوهَا صِحَاحًا وَارْكَبُوهَا سِمَانًا – كَالْمُتَسَخِّطِ آنِفًا -…

“….. kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk suatu keperluan, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seekor onta yang ditambatkan di depan pintu masjid dari awal siang. Kemudian beliau melewatinya lagi pada akhir siang dan keadaan onta itu masih sama seperti tadi, maka beliau bersabda, “Di mana pemilik onta ini?”. Maka dicarilah pemiliknya tetapi tidak didapatkan, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini yang tidak dapat berbicara kepada kamu, naikilah dia dengan baik dan kenyang –beliau sepertinya tidak menyukai dan tidak meridhai perbuatan itu-…”.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini…” yakni akan dosa dan murka Allâh kepada kamu karena kamu telah menganiaya binatang-binatang ini.

Sabda beliau, “…yang tidak dapat berbicara kepada kamu…” yakni hewan-hewan itu tidak dapat berbicara kepada kamu dengan bahasa kamu, bahwa dia lapar, haus, lelah dan sakit. Penderitaan dan kesusahan yang menimpanya disebabkan kamu telah menzhaliminya, seperti kamu telah menyiksanya atau melelahkannya atau melaparkannya dan seterusnya yang masuk ke dalam bab kezhaliman.

Sabda beliau, “…naikilah dia dengan baik…” yakni naikilah dan kendarailah hewan ini dengan cara yang baik, janganlah dia dibebani lebih dari kemampuannya.

Sabda beliau, “…dan (kalau tidak dikendarai) maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik” yakni kalau kamu tidak sedang menaikinya atau mengendarainya, maka biarkanlah dia istirahat dengan cara yang baik dan berikanlah kepadanya istirahat dan makanan yang cukup.

Hadits keempat:

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ارْكَبُوْا هَذِهِ الدَّوَابَّ سَالِمَةً وَابْتَدِعُوهَا سَالِمَةً وَلاَ تَتَّخِذُوهَا كَرَاسِيَّ. (رواه أحمد والدارمي والحاكم والبيهقي)

Dari Sahl bin Mu’adz, dari bapaknya (yaitu Mu’adz bin Anas), dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Naikilah (kendarailah) binatang-binatang ini dengan baik, dan (kalau tidak dinaiki atau dikendarai) biarkanlah dia dengan baik, dan janganlah kamu menjadikan binatang-binatang ini sebagai tempat-tempat duduk”. [Hadits hasan riwayat Ahmad (3/440 & 4/234), ad-Dârimiy (2/286), Hakim (1/444 & 2/100) dan Baihaqiy (5/255)]

Hadits kelima:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: أَرْدَفَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لاَ أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ. وَكَانَ أَحَبُّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ هَدَفًا أَوْ حَائِشَ نَخْلٍ.
قَالَ: فَدَخَلَ حَائِطًا لِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَإِذَا جَمَلٌ، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَنَّ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ ذِفْرَاهُ فَسَكَتَ فَقَالَ: مَنْ رَبُّ هَذَا الْجَمَلِ؟ لِمَنْ هَذَا الْجَمَلُ؟ فَجَاءَ فَتًى مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ: لِيْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ .  
فَقَالَ: أَفَلاَ تَتَّقِي اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِيْ مَلَّكَكَ اللَّهُ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيْعُهُ وَتُدْئِبُهُ.(رواه أبوداود وأحمد والحاكم)

Dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengiku dibelakang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika beliau menaiki ontanya), kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sesuatu kepadaku secara rahasia, dan aku tidak mau menceritakannya kepada seorang manusiapun. Kemudian yang paling disukai oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menutup dirinya (agar tidak terlihat oleh manusia) ketika buang hajat adalah sesuatu yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil[7].

Berkata Abdullah bin Ja’far: Kemudian beliau masuk ke sebuah kebun kepunyaan orang Anshar, maka tiba-tiba di situ ada seekor onta. Maka tatkala onta itu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika onta itu menangis terisak-isak dan mengalirlah air matanya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menghampirinya, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggungnya, maka berhentilah onta itu dari tangisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah pemilik onta ini? Kepunyaan siapakah onta ini?” Lalu seorang pemuda dari kaum Anshar datang seraya menjawab, “Kepunyaanku wahai Rasûlullâh.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada pemuda itu), “Tidakkah kau takut kepada Allâh Azza wa Jalla pada binatang yang Allâh telah memberikan kekuasaan kepadamu untuk memilikinya ini!?. Sesungguhnya onta ini telah mengadu kepadaku, sungguh engkau telah membuatnya lapar dan lelah”.[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no: 2549), Ahmad (1/204-205) dan Hakim (2/99-100) dan yang selain mereka]

Hadits keenam:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحِدُّ شَفْرَتَهُ وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا، قَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا؟ أَوَ تُرِيْدُ أَنْ تُمِيْتَهَا مَوْتَتَيْنِ؟ (رواه الطبراني في المعجم الكبير وفي المعجم الأوسط والحاكم)

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang laki-laki yang sedang meletakkan kakinya di badan seekor kambing sambil dia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melirik (melihat) kepada laki-laki itu dengan matanya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada laki-laki itu), “Mengapakah (kau tidak mengasah pisaumu) sebelum (kau rebahkan dan kau letakkan kakimu di badan kambing) ini ? Ataukah kau hendak mematikannya (menyembelihnya) dengan dua kali kematian (sembelihan)?” [Hadits shahih riwayat ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (11916) dan dalam kitab al- Mu’jamul Ausath (3614) dan Hâkim (4/231 & 233)].

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/231), “Hendaklah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum merebahkan udh-hiyyah (hewan kurban yang akan disembelih)”

Hadits ketujuh:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ  رضي الله عنه عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا فَجَاءَتِ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا!
وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا فَقَالَ: مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ ؟ قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: إِنَّهُ لاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ. (رواه أبودود والبخاري في الأدب المفرد والحاكم)

Dari Abdurrahman bin Abdullah Radhiyallahu anhu , dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Mas’ud), dia berkata: Kami pernah bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan (safar). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi (sebentar) untuk sesuatu hajatnya. Tiba-tiba kami melihat seekor burung kecil bersama kedua anaknya. Kami pun menangkap kedua anak burung itu. Lalu burung itu terbang rendah sambil berputar-putar, kemudian datanglah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan dan membuat sedih burung ini disebabkan (kehilangan) anaknya ? Kembalikanlah anaknya kepadanya!”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sarang semut yang telah kami bakar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah membakar sarang semut ini?” Kami menjawab, “Kami”.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah patut menyiksa (mahluk) dengan api kecuali Pencipta api[8] [Hadits shahih riwayat Abu Dawud (2675 dan ini adalah lafazhnya & 5268), dan al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (382) dan al-Hâkim (4/239)]

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/239), “Cerita tentang seekor burung kecil yang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kehilangan kedua anaknya”

Dalam riwayat al-Imam al-Hâkim, ketika para Shahabat mengambil kedua anak burung itu, maka burung itu datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengadukan halnya) sambil bersuara keras (berteriak)…”.

Dalam riwayat al-Imam al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (382) dengan judul bab, “Mengambil telur ( kepunyaan) dari burung kecil”[9]

Abdullah (bin Mas’ud)mengatakan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam safarnya) pernah singgah di suatu tempat, maka salah seorang mengambil sebutir telur (yang sedang dikerami untuk ditetaskan) kepunyaan seekor burung hummarah (burung kecil). Lalu burung itu pun datang terbang rendah berputar-putar di atas kepala Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan burung ini disebabkan kehilangan telurnya?” Laki-laki itu menjawab: “Wahai Rasûlullâh, sayalah yang telah mengambil telurnya”.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah telur itu kepadanya sebagai rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu”.

Hadits kedelapan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيْهِ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنِّيْ َلأَذْبَحُ الشَّاةَ وَأَنَا أَرْحَمُهَا أَوْ قَالَ إِنِّيْ َلأَرْحَمُ الشَّاةَ أَنْ أَذْبَحَهَا. فَقَالَ: وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ (مَرَّتَيْنِ). (رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد والحاكم وأبونعيم في الحلية)

Dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari bapaknya (yaitu Qurrah al-Muzaniy dia berkata), “Seorang laki-laki pernah bertanya, “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya (ketika) aku akan menyembelih seekor kambing aku menyayanginya (aku merasa kasihan kepadanya) –atau orang itu berkata, “Sesungguhnya aku mengasihani seekor kambing (ketika) aku akan menyembelihnya-?

Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seekor kambing, jika kamu menyayanginya niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayangimu[10] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dua kali. [Hadits shahih riwayat Ahmad (3/436 & 5/34), dan al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (373 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat Bukhâri), dan al-Hâkim 3/586-587), dan Abu Nu’aim di kitabnya al-Hilyah (2/302 & 6/343)]

Hadits kesembilan:

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ (عُصْفُوْرٍ) رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري في الأدب المفرد والطبراني في المعجم الكبير)

Dari Abu Umamah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyayangi walaupun menyembelih seekor burung kecil, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayanginya pada hari kiamat”.

[Hadits hasan riwayat al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (381) dan ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (7913 & 7915 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayatnya-].

Hadits kesepuluh :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِيْ هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوْعًا فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ.
قَالَ: فَقَالَ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ -: لاَ أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلاَ سَقَيْتِهَا حِيْنَ حَبَسْتِيْهَا وَلاَ أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ. (رواه البخاري في صحيحه و في الأدب المفرد ومسلم والدارمي)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Seorang wanita telah di adzab disebabkan seekor kucing yang telah dia kurung sampai kucing itu mati kelaparan, maka dengan sebab itu dia masuk neraka”.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Maka Allâh Azza wa Jalla berfirman –padahal Allâh Azza wa Jalla lebih tahu-: “Engkau tidak memberinya makan dan tidak memberinya minum ketika engkau mengurungnya, dan tidak pula engkau membiarkannya (melepaskannya) agar kucing itu dapat mencari makan sendiri dari binatang-binatang kecil (seperti serangga) bumi”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri di kitab shahihnya (2365 –dan ini lafazhnya-, 3318 & 3482) dan di kitabnya Adabul Mufrad (379) dan Muslim (2242) dan ad-Darimiy (2/331)].

Hadits ini juga telah diriwayatkan dari jalan jama’ah para Shahabat sebagaimana telah saya takhrij di kitab yang lain.

Hadits kesebelas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِيْ إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ. (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata,”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ketika seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab itu diampunkan (dosanya)”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3321 & 3467 –dan ini lafazhnya-) dan Muslim (2245) dan Ahmad (2/507)]

Hadits kedua belas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ: النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. رواه أبوداود وأحمد والدارمي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh empat macam binatang: Semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurad”.

[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (5267), Ahmad (1/332 & 347), Darimiy (2/88-89), Ibnu Majah (3224) dan lain-lain]

Hadits ketiga belas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الأُمَمِ تُسَبِّحُ (فَهَلاَّ نَمْلَةً وَاحِدَةً). رواه البخاري ومسلم

.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allâh) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan untuk membakar sarang semut itu, maka Allâh Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, “Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau telah membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allâh), mengapakah tidak seekor semut saja!?”.[11]

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3019 & 3319) dan Muslim (2241). Tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat keduanya]

Itulah sebagian hadits yang telah menjelaskan kepada kita dari sabda-sabda suci Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sebagai Nabiyyur rahmah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Islamlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar rahmatul bahâ-im, atau kasih-sayang kepada hewan yang telah ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Maka ketika kita meninggalkannya, bangkitlah orang-orang kafir mengambilnya dari Islam yang sebenarnya itu adalah bagian kita yang sangat besar.

Kemudian orang-orang kafir berbicara dalam bab ini dengan panjang-lebar, baik lisan maupun tulisan sampai-sampai mereka telah berlebihan dan melampaui batas dari apa yang dikehendaki oleh Islam dan diajarkan oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini disebabkan, karena memang mereka mengerjakannya bukan atas dasar iman dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tetapi mereka telah melihat, bahwa ajaran Islam dalam bab ini –sebagaimana semua ajaran Islam lainnya kalau sekiranya mereka mau mempelajarinya- amat sangat menakjubkan mereka. Kemudian mereka mengambilnya dan mempraktekkannya dan membuat berbagai macam peraturan sebagaimana telah kita ketahui.

Akan tetapi, walaupun mereka mengerjakannya bukan atas dasar keimanan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, tetap saja hal ini sebagai hujjah besar akan kebenaran Islam dan  kebenaran dari kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiyyur rahmah.

Kita perlu mengetahui –selain rahmatul bahaa-im– bahwa Islam yang tegak dengan ilmu dan keadilan, Islam yang datang untuk kemaslahatan bagi umat manusia, Islam yang menghilangkan segala macam mudharat ( bahaya) atau memperkecilnya, atau mendahulukan mencegah bahaya dari mengambil maslahat, atau menanggung bahaya yang kecil untuk kemaslahatan yang jauh lebih besar, atau memilih bahaya yang lebih kecil dari bahaya yang lebih besar, atau meninggalkan sebuah kemaslahatan untuk meraih kemaslahatan yang lebih besar atau dengan sebabnya tercegalah bahaya, telah membolehkan membunuh sebagian hewan yang membahayakan sebagaimana telah disabdakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يَقْتُلُهُنَّ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ.
رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ada lima macam binatang yang semuanya fasiq[12] diperbolehkan dibunuh di tanah haram (Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan kalbul ‘aquur[13]

[Hadits shahih riwayat Bukhari (1829 & 3314), Muslim (1198), Tirmidziy (837), Nasaa-i (2829, 2881, 2882, 2887, 2888, 2890 & 2891) dan Ibnu Majah (3087) dan lain-lain]

Dalam salah satu riwayat Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْحُدَيَّا.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau telah bersabda, “Lima jenis binatang yang fasiq diperbolehkan di bunuh di tanah halal dan di tanah haram (Makkah dan Madinah): Ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, kalbul ‘aquur dan burung rajawali”

Hadits yang sama juga telah diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Umar:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ مَنْ قَتَلَهُنَّ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ: الْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ.
رواه البخاري ومسلم والنسائي وأبوداود وابن ماجه وغيرهم.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lima jenis binatang barangsiapa yang membunuhnya dalam keadaan ihram, maka tidak ada dosa atasnya (yaitu): Kalajengking, tikus, kalbul ‘aquur, burung gagak dan burung rajawali”.

[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (1828 & 3315 –dan ini lafazhnya-), Muslim (1199 & 1200), Abu Dawud (1846), Nasaa-i (2828, 2832, 2835 & 2889) dan Ibnu Majah (3088) dan lain-lain]

Kemudian umumnya para Ulama telah mengkaitkan atau mengqiyaskan lima macam binatang yang telah diperbolehkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk di bunuh dengan binatang-binatang yang lainnya yang sering mengganggu dan membahayakan. Hal ini tidaklah menafikan rahmat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , justru hal ini bagian dari rahmat yang sangat besar sebagaimana  telah diketahui secara pasti oleh setiap orang yang berakal yang berjalan di atas akalnya yang sehat dan memiliki ketegasan.

Jakarta, pada bulan Syawwal 1432 H/September 2011
Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1]  Diintisarikan dari tafsir Ibnu Jarir dalam menafsirkan ayat yang mulia ini.
[2] Yakni ayat yang sedang kita bahas ini tentang diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi sekalian alam.
[3] Makna dari hadits Abu Umamah Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Tirmidzi (2685) dan hadits Abu Darda’ Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Abu Dâwud (3641), Tirmidzi (2682), Ibnu Mâjah (223) dan Ahmad (5/196).
[4]  Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2244).
[5]  Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (1553).
[6] Barangkali saking kurusnya karena tidak diberikan makanan yang cukup dan dipekerjakan dengan berat sehingga melelahkannya.
[7] Yakni kebiasan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika buang hajat –buang air kecil- menjauh dari manusia, dan sesuatu yang beliau sukai adalah tembok atau dinding yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil agar tidak terlihat oleh manusia.
[8]  yakni Allâh-lah Pencipta api yang berhak menyiksa mahluk-Nya dengan api.
[9] Mengambil sebutir telur atau lebih kepunyaan burung yang sedang dikerami untuk ditetaskan menafikan rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu.
[10] Yakni, walaupun tetap engkau menyembelihnya –karena memang penyembelihan ini telah dihalalkan oleh Agama-, tetapi engkau menyayanginya dan mengasihinya dan merasa kasihan kepadanya, niscaya Allâh akan membalas kasih-sayangmu dengan kasih-sayang dari Allâh. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.
[11] Yakni, mengapakah engkau tidak membunuh seekor semut saja yang telah menyengatmu, bukan semuanya!
[12] Yakni yang memberikan gangguan dan membahayakan.
[13] Kalbul ‘aquur ialah setiap binatang yang membahayakan atau menyerang seperti anjing yang menyerang, srigala, singa, harimau, macan dengan beberapa jenisnya, ular dan lain-lain binatang yang sifatnya memberikan gangguan dan membahayakan sebagaimana dijelaskan di Fat-hul Baari’ Syarah Shahih Bukhari oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (no: 1828 & 1829).

Keutamaan Istiqamah

KEUTAMAAN ISTIQAMAH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ’Abdul-Qadir Jawas حفظه الله

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ  نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. [Fushshilat/41:30-32].

Maksudnya, mereka beriman kepada Allâh Yang Maha Esa kemudian istiqamah di atasnya dan di atas ketaatan hingga Allâh mewafatkan mereka.[1]

Tentang ayat di atas, al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allâh.”[2]

Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat akan turun menuju kepada orang-orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya dengan sebab berpisah dengan anaknya karena Allâh adalah pengganti dari hal itu, memberikan kabar gembira berupa ampunan dari dosa dan kesalahan, diterimanya amal, dan kabar gembira dengan surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.[3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini:
(تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ ) Maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka,” yakni di saat kematian sambil berkata, (أَلَّا تَخَافُوا ) janganlah kamu merasa takut,yaitu dari perkara-perkara akhirat yang akan mereka hadapi, (وَلَا تَحْزَنُوْا)dan janganlah kamu bersedih hati,yaitu dari perkara-perkara dunia yang telah kalian tinggalkan, seperti anak-anak, keluarga, harta, agama, karena sesungguhnya Kami akan menggantinya.(وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ)Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu,” lalu mereka diberi kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan.

Firman Allâh, (نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ)Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat,yaitu para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika kematian, (نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ) Kamilah pelindung-pelindungmu“; yakni pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami menunjukkan, mengarahkan, dan melindungi kalian dengan perintah Allâh. Begitu juga kami akan bersama kalian di akhirat, menemani kesendirian kalian di alam kubur, ketika ditiupnya sangkakala, dan mengamankan kalian pada hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia, serta membawa kalian melintasi ash-shirâth al-mustaqîm, dan menyampaikan kalian ke surga yang penuh nikmat.

Firman Allâh, (وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ)di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan,”  yaitu di dalam surga kalian akan memperoleh segala yang kalian pilih yang diinginkan oleh jiwa kalian dan disenangi oleh diri kalian. (وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ) Dan memperoleh apa yang kamu minta,” yaitu apapun yang kalian minta akan kalian dapatkan dan tersedia di hadapan kalian, sebagaimana yang kalian inginkan.

Firman Allâh, (نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ)sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,” yaitu hidangan, pemberian, dan kenikmatan dari Rabb Yang Maha Pengampun atas dosa-dosa kalian, Maha Mengasihi kalian serta Maha lembut, di mana Dia mengampuni, memaafkan, menyayangi, dan mengasihi (kalian).[4]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ  لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ ) .قُلْنَا : يَارَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: (لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللهَ عَزَّوَجَلَّ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوِ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنَ الشَّرِّ أَوْ مَايَلْقَاهُ مِنَ الشَّرِّ، فَكَرِهَ لِقَاءَاللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ).

Barangsiapa menyukai perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh suka  untuk menjumpainya. Dan barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh benci menjumpainya.” Kami bertanya, ”Ya Rasûlullâh, kami semuanya benci kepada kematian.” Rasûlullâh H menjawab, ”Bukan itu yang dimaksud benci kematian. Akan tetapi jika seorang Mukmin berada dalam detik kematiannya, maka datanglah kabar gembira dari Allâh Ta’ala tentang tempat kembali yang ditujunya. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada menjumpai Allâh Ta’ala, maka Allâh pun suka menjumpainya. Dan sesungguhnya orang yang jahat atau kafir jika berada dalam detik kematiannya, maka datanglah berita tentang tempat kembali yang dituju berupa keburukan atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan, lalu dia benci bertemu dengan Allâh, maka Allâh pun benci menemuinya.[5]

Berbagai wasilah (cara) agar tetap teguh di atas istiqamah
Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut:

  1. Taubat nasuha
  2. Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik.
  3. Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh danRasul-Nya.
  4. Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.
  5. Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.
  6. Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala.
  7. Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh).
  8. Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.
  9. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
  10. Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
  11. Senantiasa menuntut ilmu syar’i.
  12. Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka
  13. Mencari teman yang shâlih.
  14. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan.
  15. Mengetahui langkah-langkah setan.
  16. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah.

Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.[6]

Wallâhua’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Syarh Arba’in Ibni Daqiqil ‘Ied, hlm. 85.
[2] Tafsîr Ibni Katsîr, VII/175.
[3] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177) dengan diringkas dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 186-187).
[4] Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177-179) dengan ringkas.
[5] Shahîh: HR Ahmad, III/107.
[6] Shahîh: HR at-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari Ummu Salamah radhiyallâhu ’anha.

Salafus Shalih dan Adab Berbicara

SaALAFUS SHALIH DAN ADAB BERBICARA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari Maimun bin Mihran, ia berkata: ‘Seorang laki laki datang kepada Salman al-Farisi Radhiyallalhu ‘anhu seraya berkata: ‘Berilah nasehat kepadaku. Ia (Salman Radhiyallalhu ‘anhu) berkata : ‘Janganlah engkau berbicara.’ Ia menjawab: ‘Orang yang hidup di tengah masyarakat tidak mampu untuk tidak berbicara.’ Ia (Salman Radhiyallalhu ‘anhu) berkata : ‘Jika engkau berbicara, berbicaralah dengan benar atau diam.’ Ia berkata: ‘Tambahlah nasehatmu.’

Ia (Salman Radhiyallalhu ‘anhu) berkata: ‘Janganlah engkau marah.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku tidak mampu untuk menahan diri dari sesuatu yang berada di sekitarku’. Ia berkata: ‘Jika engkau marah maka tahanlah lisan dan tanganmu.’ Ia berkata: ‘Tambahlah nasehatmu.’

Ia (Salman Radhiyallalhu ‘anhu) berkata: ‘Janganlah engkau bergaul dengan manusia.’ Ia menjawab: ‘Orang yang hidup di tengah masyarakat tidak mampu menghidar dari mereka.’ Ia (Salman Radhiyallalhu ‘anhu) berkata: ‘Jika engkau tidak mampu maka jujurlah dalam bicara dan tunaikan amanah.’[1]

Dari Mu’azd bin Sa’id, ia berkata:  ‘Kami berada di sisi Atha’ bin Abi Rabah, maka seorang laki-laki berbicara tentang sesuatu, lalu yang lain menyela pembicaraannya. Atha’ berkata: ‘Maha suci Allah, akhlak apakah ini? Akhlak seperti apakah ini? Sungguh aku sedang mendengarkan pembicaraan dari seseorang yang aku lebih mengetahui darinya, maka aku memperlihatkan kepadanya bahwa aku tidak melakukan kebaikan sedikitpun darinya.’[2]

Dari Utsman bin Aswad, ia berkata : ‘Aku berkata kepada Atha`: Seorang laki-laki melewati suatu kaum, maka sebagian mereka menuduhnya (melakukan zina), apakah ia mengabarkannya? Ia menjawab: ‘Tidak, majelis adalah amanah.’[3]

Dari Khalaf bin Tamim, ia berkata : Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami. Dari Auza’i, ia berkata: Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada kami, tidak ada yang ingat selain aku dan Makhul : ‘Amma ba’du, sesungguhnya siapa yang banyak mengingat mati niscaya ia ridha yang sedikit dari dunia dan siapa yang menghitung ucapannya dari perbuatannya niscaya sedikit ucapannya kecuali yang bermanfaat, wassalam.’[4]

Dari Ya’la bin Ubaid, ia berkata : Kami mengunjungi Muhammad bin Suqah, ia berkata: ‘Saya akan menceritakan kepada kalian satu pembicaraan semoga bermanfaat, karena ia bermanfaat untuk-ku. Kemudian ia berkata: ‘Atha bin Abi Rabah berkata kepada kami : Wahai keponakanku, sesungguhnya orang yang hidup sebelum kalian membenci ucapan yang sia-sia, mereka menghitung ucapan mereka yang tidak berguna selain Kitabullah (al-Qur`an) yang engkau baca,  amar ma’ruf atau nahi munkar, atau engkau menuturkan kebutuhan hidupmu yang sudah menjadi keharusan. Apakah kalian mengingkari bahwa bagi kalian ada malaikat-malaikat  yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah Ta’ala, yang mencatat pekerjaan pekerjaan itu, yang satu berada di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang selalu hadir di dekatnya? Apakah tidak merasa malu seseorang dari kalian bahwa jika dibuka catatan amalnya yang dibacakan di permulaan siangnya, maka sesungguhnya kebanyakan yang ada padanya adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan urusan agama dan dunianya.’[5]

Faidh bin Watsiq berkata: Aku mendengar Fudhail berkata: ‘Jika engkau mampu agar tidak menjadi pembawa berita, tidak menjadi pembaca dan tidak menjadi pembicara. Jika engkau seorang ahli berbicara, mereka akan berkata : Alangkah bagus kata katanya, alangkah indah ucapannya, alangkah baik suaranya. Maka hal itu membuat engkau ujub (merasa bangga) lalu engkau merasa besar. Dan jika engkau tidak pandai berbicara dan suara tidak baik, mereka akan berkata : Kata-katanya tidak bagus, ucapannya tidak enak, suaranya tidak baik, maka hal itu menyakitkan hatimu dan memberatkan engkau, maka engkau menjadi riya. Apabila engkau duduk ingin berbicara, maka engkau tidak perduli dengan orang yang mencelamu atau memujimu maka berbicaralah.’[6]

Ditanyakan kepada Fudhail bin Iyadh : Apakah zuhud itu? Ia menjawab : ‘Qana’ah.’ Ditanya lagi : Apakah wara’ itu? Ia menjawab : ‘Menjauhi yang diharamkan.’ Ditanya lagi : Apakah ibadah itu? Ia menjawab : ‘Menunaikan ibadah.’ Ditanya lagi : Apakah tawadhu’ itu? Ia menjawab: ‘Engkau tunduk terhadap kebenaran.’ Dan ia berkata menambahkan: ‘Wara’ yang terberat adalah pada lisan.’

Adz-Dzahabi berkata : ‘Seperti inilah dia. Terkadang engkau melihat seorang laki laki yang wara’ pada makanan, pakaian dan muamalahnya, dan apabila berbicara maka orang akan terkagum-kagum dengan pembicaraannya. Bisa jadi ia berusaha jujur maka ia tidak bisa menyempurnakan kejujuran. Dan bisa jadi ia jujur, lalu memperindah ucapannya agar dipuji kefasihannya. Dan bisa jadi ia menampakkan yang terbaik agar di hormati. Dan bisa jadi ia diam di saat harus berbicara agar disanjung. Dan obat semua itu adalah memutuskan hubungan dengan manusia kecuali dari jama’ah.[7]

Ahmad bin Abil Hawari berkata : Abu Abdillah al-Anthaky berkata : Fudhail dan Tsaury rahimahumallah berkumpul dan mudzakarah, lalu Sufyan merasa terharu dan menangis, kemudian ia berkata : ‘Saya berharap majelis ini akan menjadi rahmat dan berkah terhadap kita.’ Fudhail berkata kepadanya: ‘Akan tetapi saya, wahai Abu Abdillah, merasa khawatir bahwa ia akan lebih membahayakan diri kita. Bukanlah engkau berusaha untuk berbicara sebaik mungkin dan aku berusaha untuk berbicara sebaik mungkin, maka engkau menghiasi ucapanmu kepadaku dan aku menghiasi ucapanku kepadamu? Lalu Sufyan menangis dan berkata : ‘Engkau memberi kehidupan baru kepadaku semoga Allah memberi kehidupan baru kepadamu.’[8]

Dari Abu Bakar bin Ayyasy, ia berkata  : ‘Sekurang-kurangnya manfaat diam adalah selamat dan cukuplah itu sebagai afiyat, dan sekurang-kurangnya bahaya berbicara adalah menjadi terkenal dan cukuplah ia sebagai bala.’[9]

Dari Ubabah bin Kulaib, ia berkata : Aku mendengar Ibnu Samak berkata : ‘Binatang buasmu berada di antara dua rahangmu (lisan) yang memakan setiap orang yang melewatimu, engkau telah mengganggu para tetangga di perkampungan, sampai akhirnya engkau mengganggu para penghuni kubur. Maka engkau tidak merasa berduka untuk mereka sedangkan jasad mereka telah hancur di kubur, dan engkau di sini mengbangkitkan mereka. Sesungguhnya sudah sepantasnya tiga perkara menunjukkan engkau untuk meninggalkan berbicara terhadap saudaramu : Adapun yang pertama, barangkali engkau menyebutkan dia dengan perkara yang dia ada padamu, maka bagaimana dugaanmu pada Rabb-mu apabila engkau menyebutkan saudaramu satu perkara yang juga ada pada dirimu? Barangkali engkau menyebutkan dia satu perkara yang pada dirimu lebih besar darinya, maka hal itu lebih memberatkan murka-Nya kepadamu. Dan barangkalai engkau menyebutkan dia satu perkara yang Allah Ta’ala telah menghindarkan engkau darinya, maka ini adalah balasannya saat Dia menyelamatkan engkau. Apakah engkau tidak mendengar ungkapan : Sayangilah saudaramu dan pujilah Allah Ta’ala yang telah mengafiyatkan engkau.?[10]

Bakar bin Munir berkata : Aku mendengar Abu Abdillah al-Bukhari berkata : ‘Aku berharap bertemu Allah Ta’ala dan Dia tidak menghisabku bahwa aku pernah mengghibah (menggunjing) seseorang.’

Adz-Dzahaby berkata: ‘Dia benar –semoga Allah Ta’ala memberi rahmat kepadanya-, siapa yang memperhatikan ucapannya dalam bidang jarh dan ta’dil, niscaya ia mengetahui sikap wara’nya dalam membicarakan manusia dan sikap moderatnya terhadap orang yang dia anggap dha’if (lemah) dalam riwayat hadits. Dia sering mengatakan: Munkar dalam hadits, mereka (ahli hadits) diam darinya, padanya perlu ditinjau kembali, dan semisal ungkapan yang demikian itu. Jarang sekali ia berkata: fulan pendusta, atau ia memalsukan hadits, sehingga ia berkata: ‘Apabila aku berkata: Fulan dalam hadits perlu ditinjau kembali’, maka ia seorang yang tertuduh lagi lemah dalam riwayat hadits. Dan inilah maksud ucapannya: ‘Dan semoga Allah Ta’ala tidak menghisabku bahwa aku pernah menggunjing seseorang.’ Demi Allah, inilah puncak wara’.[11]

Dari Sahl bin Abdullah at-Tastary, ia berkata: Di antara akhlak para shiddiqin bahwa ia tidak bersumpah karena Allah Ta’ala, ia tidak menggunjing, tidak digunjing orang lain, tidak kenyang, apabila berjanji tidak menyalahi, dan tidak bercanda sama sekali.[12]

[Disalin dari السلف وآدب الكلام واللسان Penulis  Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil Bahauddin bin Fatih Aqil, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali,  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
______
Footnote
[1] Sifat Shafwah 1/549.
[2] Sifat Shafwah 2/214
[3] Referensi yang sama.
[4] Siyar A’lam Nubala` 5/133.
[5] Sifat Shafwah 2/213.
[6] Siyar A’lam Nubala 8/433.
[7] Siyar 8/434
[8] Siyar 8/439.
[9] Siyar 8/501.
[10] Sifat Shafwah 3/176.
[11] Siyar 12/439-441.
[12] Siyar 13/332.