Author Archives: editor

Hadiah Untuk Orang yang Sakit

HADIAH UNTUK ORANG YANG SAKIT

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Termasuk diantara hikmah yang Allah ta’ala berikan kepada seorang hamba ialah dengan diberinya berbagai macam jenis cobaan. Dan diantara cobaan yang diberikan pada mereka ialah cobaan sakit bagi orang yang sedang dirundung sakit.  Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ – ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٞ وَشَرَابٞ – وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ – وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ  [ ص : 41-44]

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya)”.  [Shaad/38: 41-44].

Imam Ibnu Katsir mengatakan: ‘Ayat ini sebagai peringatan bagi siapa saja yang sedang diberi ujian oleh Allah ta’ala pada tubuhnya, atau hartanya, atau anaknya. Maka bagi orang yang diberi ujian seperti itu, ternyata dirinya mempunyai suri tauladan yaitu Nabi Allah Ayub ‘alaihi sallam, yang mana Allah ta’ala telah memberi ujian kepadanya dengan cobaan yang lebih besar dari hal itu, namun beliau tetap sabar serta mengharap pahala dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala  sampai akhirnya –Dia menghilangkan penyakit yang diderita oleh beliau”.[1]

Terkadang seorang mukmin diberi ujian oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dengan suatu penyakit disebabkan karena kelalaianya dengan sebagian kewajiban yang diperintahkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala  kepadanya, sehingga penyakitnya tersebut menjadi semacam penghapus dari dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman:

لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا  [النساء: 123]

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”.  [an-Nisaa’/4: 123].

Dan ada beberapa hikmah di balik sebuah musibah, diantaranya adalah:

1. Sebagai penghapus dosa dan kesalahan.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari musnadnya Zuhair, yang menceritakan: “Aku kabarkan bahwa Abu Bakar pernah bertanya kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Rasulallah, apa yang dimaksud ayat ini:

 لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ  [النساء: 123]

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu“.[an-Nisaa’/4: 123].

Apakah setiap kejelekan yang kita kerjakan pasti ada balasannya? Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْتَ تَمْرَضُ أَلَسْتَ تَنْصَبُ أَلَسْتَ تَحْزَنُ أَلَسْتَ تُصِيبُكَ اللَّأْوَاءُ قَالَ بَلَى قَالَ فَهُوَ مَا تُجْزَوْنَ بِهِ » [ أخرجه أحمد]

“Semoga Allah mengampuni wahai Abu Bakar. Bukankah engkau pernah sakit? Mendapat cobaan? Bersedih hati? Dan mendapat kesulitan? Pernah ya Rasulallah, jawab Abu Bakar. Maka beliau mengatakan: ‘Itulah balasan atas perbuatan burukmu tersebut”. [HR Ahmad 1/230 no: 68].

Lebih jelasnya dalam sebuah ayat Allah Tabaraka wa Ta’ala menerangkan akan hal tersebut, Allah Ta’ala  berfirman:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ  [ الشورى: 30]

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.  [asy-Syuura/42: 30].

Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ » [ أخرجه البخاري و مسلم]

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah kelana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadi sebagai penghapus dari kesalahannya“. [HR Bukhari no: 5642. Muslim no: 2573].

Sedangkan Imam Tirmidzi mengeluarkan sebuah hadits dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan segerakan baginya hukuman didunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba maka Allah tahan darinya atas perbuatan dosanya sampai dihitung kelak pada hari kiamat”.[HR at-Tirmidzi no: 2396. Dinyatakan Hasan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2/285 no: 1953].

Berkata sebagian ulama salaf: ‘Kalau bukan karena musibah yang menimpa kita tentu kelak pada hari kiamat kita akan menjadi orang yang bangkrut’. Oleh karena itu, tidak heran jika para salaf mereka justru merasa senang bila ditimpa musibah, sebagaimana senangnya kita tatkala memperoleh kesenangan.

2. Mengangkat derajat seseorang diakhirat kelak.
Diantara hikmah dibalik musibah sakit yang dideritanya,  akan menjadi faktor pendongkrak derajat bagi orang yang sedang sakit kelak diakhirat, hal itu sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh al-Hakim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِنَّّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ المَنزِلَةُ عِندَ اللهِ فَمَا يَبلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ يَبتَلِيهِ بِمَا يَكرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ ذَلِكَ

Sesungguhnya seorang hamba akan memperoleh kedudukan disisi Allah bukan karena faktor amal semata, namun, senantiasa dirinya memperoleh ujian dengan perkara yang tidak disenanginya hingga sampai pada derajat yang tinggi“. [HR Ibnu Hibban no: 2897. al-Hakim 1/664 no: 1314. Dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 1599].

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ » [ أخرجه البخاري و مسلم ]

Kelak pada hari kiamat orang yang sehat sangat menghendaki pahala tatkala melihat orang yang mendapat cobaan didunia diberi pahala, mereka rela kalau sekiranya kulit mereka dipotong dengan gunting ketika didunia“. HR at-Tirmidzi no: 2402. Dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 2/287 no: 1960.

Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghulu para Nabi, yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang, beliau masih saja diberi cobaan oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala  dengan sakit, dan hal itu adalah sebagai pengangkat derajat beliau. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallau ‘anhu, dia menceritakan: “Aku datang menjenguk Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam disaat beliau sedang sakit keras, kemudian aku mengusap beliau dengan tanganku, lalu aku tanyakan pada beliau: ‘Ya Rasulallah, engkau badannya panas sekali? Maka beliau menjawab: “Ya, sesungguhnya sakit yang aku derita seperti halnya sakit yang diderita oleh dua orang diantara kalian”. Aku bertanya kembali: ‘Dengan sebab itu engkau memperoleh dua pahala’. Beliau katakan: “Ya, betul”. [HR Bukhari no: 5667. Muslim no: 2571].

Bahkan disakit yang beliau wafat padanya, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalami pingsan sebanyak tiga kali. Hal itu sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam shahih Bukhari dan Muslim, beliau menceritakan: “Tidak pernah aku melihat ada seorangpun yang menderita sakit melebihi dari Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5646. Muslim no: 2570].

Sehingga bisa disimpulkan bahwa bagi orang yang sakit mempunyai dua kelebihan, sakit yang dialaminya bisa sebagai penghapus dosa-dosanya, dan mengangkat derajatnya. Maka dari itu, hendaknya bagi orang yang menderita suatu penyakit menjadikan dua perkara ini sebagai pendorong baginya untuk sabar, sehingga apabila dia merenungi kedua hikmah tersebut akan menjadi ringan musibah yang dideritanya, dan enteng kesedihan dan rasa gundahnya.

Berikut beberapa hikmah lainya bagi orang yang mendapat musibah:

  • Bahwa musibah ini bukan terjadi pada agamanya, karena musibah yang terjadi pada agamanya menuntun pelakunya pada adzab dan dosa.
  • Kalau musibah yang dideritanya lebih ringan dan enteng dibanding dengan musibah yang menimpa orang lain, kalau sekiranya dirinya bertanya atau melihat pada orang sekelilingnya yang terkena penyakit tentu dirinya mendapati mereka lebih parah dari sakit yang dideritanya. Seorang ulama salaf Syuraih mengatakan: ‘Tidaklah aku ditimpa sebuah musibah melainkan aku memujinya kepada Allah Ta’ala karena empat hal:
  1. Allah Ta’ala  masih memberi rizki pada saya kesabaran.
  2. Allah Ta’ala  memberi kemudahan untuk mengucapakn istirja’ ketika musibah tersebut menimpaku.
  3. Allah Ta’ala  tidak menjadikan musibah tersebut lebih besar darinya.
  4. Allah Ta’ala  tidak menjadikan musibah pada agama saya.

Dikeluarkan oleh Imam Muslim sebuah hadits dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم » [ أخرجه البخاري و مسلم ]

“Tidak ada seorang muslim manakala ditimpa sebuah musibah lalu mengucapkan seperti apa yang Allah perintahkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahuma ajirni fii mushibati wa akhlif lii khairan minha’. Melainkan Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik darinya”.

Beliau mengatakan: ‘Tatkala Abu Salamah meninggal maka aku bergumam: ‘Mana ada orang yang lebih baik dari Abu Salamah, seseorang yang keluarganya menjadi pionir untuk hijrah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku mengucapkan do’a tersebut, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik untukku yaitu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam”. [HR Muslim no: 918].

Hadiah bagi orang yang sedang sakit.
1. Selalu berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla, bahwasannya orang yang memiliki prasangka baik kepada Allah Ta’ala , Allah Shubhanahu wa Ta’ala akan menganugerahi ketenangan pada jiwanya dan ketentraman hati.  Hal itu berdasarkan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ » [ أخرجه إبن حبان]

Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: ‘Aku selalu berada pada prasangka para hambaKu, jika dia berprasangka baik maka Aku juga demikian, sebaliknya kalau buruk sangkaannya demikian pula Akupun begitu“. [HR Ibnu Hibban no: 638].

2. Memperbanyak dzikir kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala , berdo’a serta memohon kesembuhan dengan penuh pengharapan pada -Nya. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala :

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ [البقرة: 186]

“Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah -Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.  [al-Baqarah/2: 186].

Dan berdasar firman Allah Ta’ala  yang lainnya, yang berbunyi:

 أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ  [النمل : 62]

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada -Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. [an-Naml/27: 62].

Al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan: “Sesungguhnya pengobatan bagi orang yang sedang sakit itu semuanya ada pada do’a serta memohon kepada Allah Azza wa Jalla, dan obat tersebut lebih bermanfaat dan cepat reaksinya dibanding dengan obat-obatan yang dikasih oleh para dokter. Karena dampak obat yang pertama itu lebih menyerap kedalam tubuh dan lebih agung daripada efek obat-obatan untuk tubuh, akan tetapi, hal itu hanya bisa tersembuhkan dengan dua perkara:

Pertama : Dari sisi orang yang sakit yaitu hendaknya dia betul-betul ikhlas dalam tujuannya.
Kedua : Dari sisi yang diobati yaitu hendaknya mempunyai kekuatan do’a dan hati, dengan bertakwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala “. [2]

3. Bagi orang yang sedang sakit hendaknya jangan terlalu bergantung terhadap faktor sebab saja, seperti rumah sakit atau dokter. Akan tetapi, seharusnya dia menggantungkan hati yang menurunkan penyakit yang mana tidak ada yang mampu mengangkatnya melainkan – Yaitu Allah Shubhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dari -Nya. Tidak ada yang menyembuhkan  orang sakit kecuali -Dia, sama saja baik penyakit yang ada dalam tubuh maupun penyakit yang ada dalam jiwa. Hal itu berdasarkan firman Allah Ta’ala :

 وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يَمۡسَسۡكَ بِخَيۡرٖ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ [ الأنعام: 17]

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.  [al-An’aam/6: 17].

Dan firman Allah tabaraka wa Ta’ala :

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ  [ الشعراء 80]

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”.  [asy-Syu’araa/26: 80].

Dan firman -Nya yang mengkisahkan Nabi -Nya Ayub ‘Alaihi sallam, Allah berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ – فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ [ الأنبياء: 83-84]

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah“.[al-Anbiyaa’/21: 83-84].

4. Bersabar sambil mengharap pahala atas musibah tersebut dan jangan berkeluh kesah dan merasa tidak puas, karena kadar ukuran keimanan seorang hamba sesuai dengan besar kecilnya cobaan yang diterimanya.
Lebih jelasnya, simak sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ» [ أخرجه الترمذي]

“Aku pernah bertanya kepada Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab: ‘Para Nabi, lalu orang yang berada dibawahnya, maka seseorang tertimpa cobaan sesuai dengan tingkatan agamanya. Kalau agamanya hebat, cobaan yang diterimanya pun besar, dan jika agamanya lemah dirinya juga akan mendapat ujian sesuai dengan kadar agamanya. Sehingga tidaklah seorang hamba senantiasa mendapat cobaan sampai kiranya dirinya berjalan dimuka bumi ini tanpa mempunyai kesalahan”. [HR at-Tirmidzi no: 2398. Beliau berkata hadits hasan shahih].

5. Bagi orang yang sakit, boleh baginya untuk meruqyah dirinya sendiri dengan bacaan ruqyah yang syar’i. Seperti meruqyah dengan surat al-Fatihah, surat al-Falaq dan an-Nas serta ayat kursi. Dan diantara do’a yang ada dalilnya dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa beliau baca ialah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا» [ أخرجه البخاري و مسلم]

“Ya Allah Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan, sembuhkan (penyakitku) karena Engkau Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan yang Engkau berikan, kesembuhan yang tidak dibarengi penyakit”. [HR Bukhari no: 5743. Muslim no: 2191].

Diantara do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menjenguk orang sakit ialah, mendo’akan orang yang sakit dengan mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ » [ أخرجه مسلم]

“Letakkan tanganmu ditempat yang terasa sakit ditubuhmu, lalu berdo’alah: ‘Dengan menyebut nama Allah’. Tiga kali. Lalu ucapkan sebanyak tujuh kali: ‘Aku berlindung kepada Allah dan kemampuanNya dari kejelakan apa yang aku rasakan dan berhati-hati padanya”.  [HR Muslim no: 2202].

6. Untuk orang yang sakit, jangan pernah merasa putus asa dari kesembuhan, karena Allah Shubhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa Ta’ala  berfirman:

 إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ  [ يوسف 87]

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [Yusuf/12: 87]

Dan Allah Ta’ala  befirman:

 إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس 82]

“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”.  [Yaasin/36: 82].

Lihatlah kepada Nabi Ayub ‘alaihi sallam yang tinggal delapan belas tahun dalam keadaan menerima ujian namun beliau bersabar sampai akhirnya Allah menyembuhkan penyakitnya.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah Shubhanahu wa Ta’ala , Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shubhanahu wa Ta’ala , keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الإبتلاء بالمرض Penyusun Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
______
Footnote
[1] al-Bidayah wa Nihayah 1/513.
[2] Fathul Bari 10/115.
[3] Lihat kitab La Ba’sa thahurun insya Allah, karya Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan.

Faidah-Faidah Sakit

FAIDAH-FAIDAH SAKIT

Bismillah, alhamdulilah, washshalatu wassalamu ‘ala man laanabiya ba’dah, Amma ba’du:

Sesungguhnya sakit merupakan bagian dari cobaan yang mengandung banyak faedah bagi seorang muslim, namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya, diantara faedah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya sakit merupakan penebus berbagai dosa dan menghapuskan segala kesalahan, sehingga sakit menjadi sebagai balasan keburukan dari apa yang dilakukan hamba, lalu dihapus dari catatan amalnya hingga menjadi ringan dari dosa-dosa. Hal itu berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya adalah:

  • Hadits Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَلاَ مُؤْمِنَةٌ وَلاَ مُسْلِمٌ وَلاَمُسْلِمَةٌ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِذلِكَ خَطَايَاهُ كَمَا تَنْحَطُّ الْوَرَقَةُ مِنَ الشَّجَرِ”

Tidaklah sakit seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah Subhnahu wa Ta’ala menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon.” [HR. Ahmad 3/346].

  • Hadits Ummul ‘Ala Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkunjung kepadaku dan aku sedang sakit, lalu beliau bersabda:

” أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلاَءِ, فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَث الذَّهَبِ وَاْلفِضَّةِ “

Bergemberilah wahai Ummul ‘Ala, sesungguhnya sakitnya seorang muslim dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesalahannya dengannya, sebagaimana api menghilangkan karat emas dan perak.” [HR. Abu Daud no.3092].

Sebagian orang menduga bahwa keutamaan dan pahala yang terdapat dalam hadits-hadits ini dan yang semisalnya, hanya diperuntukkan bagi orang yang menderita sakit berat atau sakit parah, atau yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya saja, padahal sebenarnya berbeda dengan dugaan ini, karena seorang hamba akan mendapat pahala dari musibah yang menimpanya, sekalipun hanya sakit ringan, selama ia tetap sabar dan selalu meminta pahala.

Tidak disangsikan lagi bahwa setiap kali musibahnya lebih besar dan sakitnya sangat berat, maka akan bertambahlah pahalanya, akan tetapi sakit ringan juga tetap akan mendapat pahala.

2. Sesungguhnya sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan, dalil-dalil tentang hal itu adalah sebagai berikut:

  • Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ” Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةٌ فَما فَوْقَهَا إِلاَّ كُتِبَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌُ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بهَا خَطِيْئَةٌ “

Tidak ada seorang muslimpun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan” [HR. Muslim no. 2572].

  • Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَا ضربَ عَلَى مُؤْمِنٍ عرق قَطُّ إِلاَ حَطَّ اللهُ عَنْهُ خَطِيْئَةً وَرَفَعَ لَهُ دَرَجَةً “

Tidak pernah seorang mukmin mendapat perlakukan zalim melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengugurkan kesalahan darinya dan meninggikan derajatnya” [HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi]

Maka jelaslah dari penjelasan nash-nash ini bahwa disamping menghapuskan kesalahan, juga diperoleh peningkatan derajat dan tambahan kebaikan. Karena alasan inilah, imam an-Nawawi rahimahullah memberikan komentar setelah memaparkan hadits-hadits ini : “Di dalam hadits-hadits ini terdapat kabar gembira yang besar bagi kaum muslimin, bahwa tidak berkurang sedikitpun dari diri mereka, dan di dalamnya dijelaskan tentang penebus berbagai kesalahan dengan segala penyakit, segala musibah dunia dan duka citanya, sekalipun kesusahan itu hanyalah sedikit. Dan di dalamnya dijelaskan pula tentang pengangkatan derajat dengan perkara-perkara ini dan tambahan kebaikan”.[1]

3. Sesungguhnya penyakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi, hal itu di indikasikan oleh hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُوْنَ لَهُ عِنْدَ اللهِ اْلمَنْزِلَةَ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلِهِ فَمَا يَزَالُ اللهٌُ يَبْتَلِيْهِ بَمَا يَكْرَهُ حَتَّى يَبْلُغَهَا “

Sesungguhnya seseorang akan memperoleh kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidaklah memperolehnya dengan amalan, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terus mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga ia memperolehnya“[HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya 1/495]

4. Sakit merupakan bukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya.
Hal itu ditunjukkan oleh hadits-hadits yang sangat banyak, diantaranya adalah:

  • Hadits Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ السَّرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ الضَّرَّاءُُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan, dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi seorang mukmin : jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya” [HR. Muslim no. 2999]

  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ “

Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan dengannya, niscaya Dia menimpakan musibah kepadanya” [HR. al-Bukhari no.5645].

  • Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

” إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ  فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا َومَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ “

Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai suatu kaum, Dia Subhnahu wa Ta’ala mencoba mereka, barangsiapa yang ridha maka untuknya keridhaan dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan” [HR. at-Tirmidzi no. 5645].

5. Sesungguhnya sakit membawa kepada muhasabah (intropeksi diri) dan tidak sakit membuat orang terperdaya.
Hukum ini berdasarkan kebiasaan, pengalaman dan realita. Sesungguhnya apabila seseorang menderita sakit, ia akan kembali kepada Rabb-nya, kembali kepada petunjuk-Nya, dan memulai untuk melakukan intropeksi terhadap dirinya sendiri atas segala kekurangan dalam ketaatan, dan menyesali tenggelamnya dia dalam nafsu syahwat, perbuatan haram serta penyebab-penyebab yang mengarah kepadanya –Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Paling Mengetahui-:

  • Sesungguhnya sakit membuat hamba merasakan akan dekatnya ajal dan kematian.
  • Bisa jadi karena rasa sakit yang diderita orang yang sakit membuatnya mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Dan bisa jadi pula karena sesungguhnya sakit itu mematahkan nafsu syahwat, maka jadilah keinginan hamba saat sakit adalah kesembuhan

Dari Sa’id bin Wahb rahimahullah, ia berkata: Aku berjalan bersama Salman Radhiyallahu anhu untuk mengunjungi temannya yang sedang sakit, maka ia berkata: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji seorang mukmin dengan bala, kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya, maka ia menjadi penebus bagi segala kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi yang tersisa. Dan sesungguhnya Allah menimpakan bencana kepada orang fasik, kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya, maka ia bagaikan unta yang diikat oleh pemiliknya, ia tidak tahu kenapa mereka mengikatnya, kemudian mereka melepaskannya maka dia pun tidak mengetahui kenapa mereka melepaskannya[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Musibah yang engkau terima dengannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu lupa untuk berdzikir kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala[3].

6. Sesungguhnya sakit menjadi penyebab kembalinya hamba kepada Rabb-Nya.
Bagian ini merupakan pelengkap bagian sebelumnya, cobaan merupakan penyebab kembalinya hamba kepada Rabb mereka, yaitu pada saat Dia Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan terhadap mereka. Karena inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَآءِ وَالضَرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri” [Al-An’aam/6:42]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[ وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ]

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” [Al-A’raaf/7:168]

Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata : Sesungguhnya hamba menderita sakit, sedangkan dia dalam keadaan tidak mempunyai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan sebagian kesalahannya di masa lalu, kemudian keluarlah air matanya yang sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkannya dalam keadaan suci, atau Dia Subhanahu wa Ta’ala mengambilnya (mewafatkannya), maka Dia Subhanahu wa Ta’ala mengambilnya dalam keadaan suci[4].

7. Tetapnya amal ibadah orang yang sakit, selama sakit menghalanginya darinya.
Banyak sekali hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa amal ibadah orang yang sakit akan tetap dicatat, selama sakit itu menghalanginya dari beramal, yang kalau bukan karena sakit tentu ia tetap mengamalkannya, hal ini dijelaskan oleh hadits Abu Musa Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ مِثْلُ مَاكَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا “

“Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan (safar), niscaya ditulis untuknya seperti amalan orang yang muqim (tidak bepergian) lagi sehat.” [HR. al-Bukhari no. 2996]

8. Sesungguhnya sakit merupakan penyebab masuk surga dan selamat dari neraka.
Adapun keadaan sakit menjadi penyebab selamat dari neraka, sebagaimana yang disebut kan bahwa demam adalah bagian (jatah) orang yang beriman dari neraka, hal itu ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” اَلْحُمَّى حَظُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ “

Demam adalah bagian setiap mukmin dari neraka

Adapun sakit menjadi penyebab masuk surga, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa orang yang kehilangan penglihatannya, lalu ia bersabar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan surga kepadanya. Demikian pula perempuan yang terkena penyakit ayan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya bahwa jika ia bersabar, maka untuknya surga.

Dalil-dalil ini, dalam persoalan sakit demam dan ayan menunjukkan bahwa keduanya menjadi penyebab masuk surga.

Berbagai macam penyakit menjadi penebus berbagai macam kesalahan dan menambah kebaikan, dan keduanya menjadi penyebab masuk surga, karena sakit itu meringankan kesalahan hamba dalam timbangan dan menambah daun timbangan kebaikan.

Ditambah lagi, sesungguhnya sakit termasuk musibah yang tidak disukai hamba, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ “

Surga diliputi dengan segala yang dibenci dan neraka diliputi dengan nafsu syahwat” [HR. al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822].

9. Sesungguhnya sakit itu memperbaiki hati.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Hati dan ruh mengambil manfaat dengan penyakit dan penderitaan, yang tidak bias dirasakan kecuali oleh orang yang memiliki kehidupan, sehingga kesehatan hati dan ruh digantungkan atas penderitaan badan dan tekanannya.[5]

Beliau juga mengatakan : Sebagaimana yang telah diketahui, sesungguhnya jika bukan karena berbagai cobaan dunia dan musibahnya, niscaya hamba mendapatkan berbagai penyakit sombong, bangga diri, dan keras hati, yang menjadi penyebab kebinasaannya, baik yang cepat (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat).

Maka kalau bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengobati hamba-hamba-Nya dengan berbagai obat cobaan dan ujian, niscaya mereka akan berbuat zalim dan melampuai batas. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Dia menuangi obat dari cobaan dan ujian menurut kadar kondisinya, dan mengosongkan dengannya dari penyakit-penyakit yang membinasakan, sehingga apabila Dia Subhanahu wa Ta’ala telah membersihkannya, Dia menempatkannya untuk martabat paling mulia di dunia, yaitu penghambaan, dan pahala tertinggi di akhirat, yaitu melihat-Nya dan dekat dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala[6].

10. Sesungguhnya sakit mengingatkan hamba terhadap nikmat kesehatan.
Terkadang seseorang akan terlena dengan kesehatan dalam waktu yang panjang, sehingga ia melupakan bertafakkur tentang kebesaran nikmat ini dan lalai dari bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ia dicoba dengan sakit, sehingga mengenal kadar yang besar tersebut, karena sakit membuatnya tidak bias memperoleh kepentingan agama dan dunia, karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَاْلفَرَاغُ “

Dua nikmat yang membuat manusia banyak terperdaya olehnya : nikmat sehat dan waktu luang” [HR. al-Bukhari no.6412]

Terkadang manusia mendapat kesempatan, akan tetapi ia tidak bias memanfaatkannya karena disibukkan oleh sakitnya. Nikmat adalah kesempatan yang tidak sempurna kecuali disertai oleh adanya kesehatan. Maka akan diperoleh rasa bersyukur terhadap kesehatan yang disebabkan oleh ingatan pada saat sakit karena besarnya kenikmatan tersebut.

11. Sesungguhnya sakit itu mengingatkan hamba terhadap kondisi saudara-saudaranya yang sakit.
Di saat sehat, seorang hamba terkadang mendapatkan penderitaan saudara-saudaranya yang sakit, baik penderitaan itu bersifat badaniyah, yang membuat penderita merintih, atau bersifat kejiwaan seperti rasa takut dari sakit dan akibatnya, ataupun penderitaan yang meliputi orang yang sakit dari keluarganya, lalu mereka terpengaruh karena sakitnya, terutama apabila penyakit yang diderita menyebabkannya berhenti bekerja, dan tidak ada pemasukan untuk keluarga serta anak-anaknya kecuali dari pekerjaannya saja, sehingga orang yang sakit menderita tekanan jiwa karena istri dan anak-anaknya yang mengelilingi, juga karena kurangnya pemasukan disertai penderitaan penyakit beserta dampaknya.

Demikian pula istri dan anak-anaknya, mereka menderita karena merasa kehilangan atas orang yang biasa membiayai hidupnya, maka bagaimana apabila ditambah kepadanya seluruh biaya pengobatan dan yang lainnya. Maksudnya adalah bila hamba mengalami penderitaan seperti itu dan persoalan menjadi bertumpuk-tumpuk atasnya, maka sesungguhnya hal ini akan membuatnya mengingat kondisi saudara-saudaranya yang sakit, yang penghasilannya lebih rendah darinya dan lebih lemah kondisinya serta lebih banyak anaknya, sehingga ia meratapi kondisi mereka dan hal itu dapat mendorongnya untuk membantu mereka dan anak-anak mereka dengan memberikan nafkah dan sedekah serta yang semisalnya.

12. Sakit membuat hamba mendapatkan teman-teman baru.
Apabila orang yang sakit terbaring di tempat tidur putih, maka sesungguhnya ia akan mengenal sesame saudara-saudaranya yang sakit, sama saja yang berada bersamanya dalam satu kamar atau dalam satu bagian, ditempat mereka shalat bersamaya itu mushalla dan saling mengenal satu sama lain. Hal ini akan membuat dia memperoleh teman-teman baru yang mendoakannya dan diapun mendoakan mereka, terkadang hubungan bias terus berlangsung dalam waktu yang lama hingga setelah sakit, dan diantara penyebab dikabulkannya doa adalah doa orang yang sedang sakit.

Alangkah besarnya nikmat seorang hamba jika dapat memperoleh banyak teman yang sakit, lalu mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berdoa untuknya dan menyebutnya dengan kebaikan, karena ia telah memberikan kebaikan kepada mereka. Siapakah dari kaum muslimin yang tidak menginginkan doa dari sesama saudaranya, terutama jika orang-orang yang berdoa itu adalah yang sangat dekat untuk dikabul doanya?

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyembuhkan kaum muslimin yang sakit, memperbaiki hati dan perbuatan mereka, sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam, dan semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesejahteraan, dan berkah-Nya selalu tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya sekalian.

[Disalin dari من فوائد المرض Penulis Ibrahim bin Muhammad al-Huqail, Penerjemah Team Indonesia, Murajaah Zulfi Askar, Abu Ziyad (Sumber : Dar ibnu Khuzaimah). Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428]
______
Footnote
[1] Syarh an-Nawawi atas Shahih Muslim 16/193.
[2] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10813
[3] Tasliyatuahli al-Masha`ib.
[4] ‘Iddatush Shabiri 155.
[5] Syifa`ul ‘alil 524.
[6] SyaifaulGhalilhal. 524.

Pandangan Islam Terhadap Wabah

PANDANGAN ISLAM TERHADAP WABAH FLU BABI

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sunnah kauniah (ketetapan alamiah) yang tidak tergantikan dan berubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkannya untuk suatu hikmah yang diketahui-Nya. Ada kalanya Allah menunjukkan hikmah itu kepada hamba-Nya.

Di antara sunnah-sunnah tersebut adalah tersebarnya penyakit di tengah manusia. Di zaman kita sekarang ini telah menyebar berbagai macam penyakit. Penyakit serta bala yang tidak kita ketahui dan kenal sebelumnya. Muncul penyakit aneh lagi sukar disembuhkan. Hal ini tentunya tidaklah terjadi tanpa sengaja dan bukan takdir (ketentuan Allah) yang sia-sia. Ia adalah sunnah rabbani yang keberadaannya dikuatkan oleh nash-nash al-Quran dan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [asy-Syuura/42:30]

Telah valid dalam sunan Ibnu Majah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ تَظْهَر الْفَاحِشَة فِي قَوْم قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُون وَالْأَوْجَاع الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافهمْ

“Tidak tampak kemungkaran pada suatu kaum hingga mereka menampakkannya, melainkan akan menyebar di tengah mereka wabah dan penyakit yang belum pernah ada di masa orang-orang sebelum mereka.”

Manusia tidak berharap mendapat penyakit atau bala, tidak pula bersinggungan dengannya. Hendaknya meminta keafiatan sebagaimana hadits sahih yang diriwayatkan oleh at-Turmidzi dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 سَلُوا اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ

“Mintalah kepada Allah pengampunan dan keafiatan (kesehatan). Karena seorang di antara kalian tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik setelah keyakinan selain kesehatan.” [Hadits riwayat at-Turmudzi]

Saat ini telah tersebar suatu penyakit yang dinamakan dengan wabah Flu Babi[1]. Bagaimana aqidah seorang muslim menghadapi penyakit ini. Kita ringkas dalam poin-poin berikut:

Pertama : Bahwa penyakit ini dan yang lainnya tidak lebih dari penyakit yang merupakan sunnah kauniah rabbaniah (ketentuan alam yang Allah tetapkan).
Di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang tidak diketahui selain oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengannya nampaklah kekuatan Sang Pencipta yang Mahakuat  dan begitu lemahnya makhluk, yang nista, tidak memiliki daya dan upaya, yang tidak dapat lepas dari Pencipta-nya barang sekejappun. Sebagaimana pula memperlihatkan antara mukmin yang sebenarnya, yang beriman dengan qodho dan qodar Allah, yang menyerahkan segala perkaranya kepada Allah dengan mereka yang kosong dari keimanan terhadap qodho dan qodar Allah dan penyerahan total kepada keputusan-Nya.

Dari hikmah yang nampak adalah bahwa penyakit merupakan bagian dari penghapus dosa bagi yang sabar dan mengharap pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam Shahihain dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa penyakit dan selainnya melainkan Allah hapuskan dengannya dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.”

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Ummu as-Saaib yang sedang sakit dan berkata kepadanya,

“Mengapa engkau mengerang, wahai Ummu as-Saaib?!”

“Aku terkena demam yang tidak ada berkah Allah padanya.” Jawabnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لاَ تَسُبِّى الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam karena ia menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana panas yang merontokkan karat besi.”

Hikmah terbesar dari adanya penyakit adalah menjadi sebab dimasukkannya hamba ke dalam surga dan terselamatkan dari api neraka. Dalam Shahih Muslim Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا أَخَذْتُ كَرِيمَتَيْكَ فَصَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ

“Wahai anak Adam jika diambil kedua matamu dan kamu bersabar dan berharap pahala pada awal peristiwa, Aku tidak ridho untukmu pahala selain surga.” [Hadits Qudsi]

Diriwayatkan pula dalam Sunan Ibnu Majah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit dan bersabda,

أَبْشِرْ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ هِىَ نَارِى أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِى الْمُذْنِبِ لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ في الآخرة

“Kabar gembira, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Itu adalah apa yang aku kuasakan kepada hambaku yang berdosa di dunia sebagai pengurang dari api neraka di akhirat.”

Siapa yang merenungkan nash-nash di atas akan hilang kegalauan dan kegundahannya. Hatinya akan dipenuhi dengan keridhaan atas takdir Allah. Dan ini lebih tinggi dari derajat sabar.

Kedua : Tidak boleh berlebihan dalam kepanikan dan ketakutan terhadap penyakit ini dan yang semisalnya.
Orang-orang di berbagai belahan dunia ini telah tertimpa ketakutan dan kepanikan yang sangat. Hal ini tidak semestinya terjadi pada seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Seorang muslim dengan imannya yang kuat amat yakin bahwa dia tidak akan tertimpa sesuatu selain apa yang telah Allah tentukan untuknya, sebagaimana yang telah Allah firmankan,

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” [at-Taubah/9:51]

Orang yang beriman mengetahui dengan keyakinannya bahwa dia akan mati pada waktu yang telah Allah takdirkan untuknya. Tidak bermanfaat baginya ketakutan dan lari dari kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” [an-Nisaa/4:78]

Yang wajib adalah tidak takut dengan kematian tetapi mempersiapkan diri dengan amal-amal saleh sehingga beruntung pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

‘”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imraan/3:185]

Ketiga : Yang wajib bagi seorang muslim adalah mengupayakan sebab-sebab untuk membentengi diri dari penyakit ini.
Dari sebab yang paling kuat adalah tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keyakinan yang mantap bahwa hanya Allah-lah  yang memberikan kesembuhan. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya bahwa pemberi kesembuhan hanyalah Allah semata. Sebagaimana berita yang valid dalam sunan Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَذْهِبِ البَأس رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِى، لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادرُ سقمًا

“Hilangkanlah penyakit, wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, engkau pemberi kesembuhan, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan derita.”

Keempat : Menggunakan obat-obatan bermanfaat yang tersedia. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan tawakal.
Telah diriwayatkan dalam sunan Abu Dawud dari Usamah bin Suraik, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, di atas kepala mereka seolah ada burung yang bertengger. Akupun memberi salam kepada mereka lalu duduk. Kemudian datang orang-orang arab badui dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah kita perlu berobat?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah! Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mengadakan suatu penyakit melainkan Dia adakan pula obatnya selain satu penyakit yaitu tua.”

Kelima : Di antara jalan yang paling penting dalam melindungi diri dari penyakit ini  dan selainnya adalah membentengi diri dengan zikir syar’i.
Bagi setiap muslim hendaknya menjaga zikir pagi dan petang. Yang terpenting dari zikir-zikir itu adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan (Bismillahi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fii sama wahua samii’ul aliim) setiap pagi dan sore hari :

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

‘Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada sesuatupun yang dapat memberi mudarat dengan nama-Nya di bumi maupun di langit dan Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.’

Dibaca sebanyak tiga kali, tidak akan membahayakannya sesuatupun.

Membaca mu’awizat sebanyak tiga kali sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika beliau bergegas tidur di pembaringannya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya dengan membaca surat al-Ikhlas (Qulhuwallahu ahad…dst), surat al-Falaq (Qul a’uzu birobbil falaq) dan surat an-Naas (Qul a’uzu birobbinnas), kemudian mengusap dengan kedua telapak tangannya itu seluruh tubuhnya sedapatnya, dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali. [Hadits riwayat al-Bukhari]

Membaca ayatul Qursy sebelum tidur. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika engkau mendatangi tempat pembaringanmu, maka bacalah ayat kursy dari awal hingga selesai (Allahu laa ilaaha illa hu…dst). Engkau akan senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan tidak akan didekati oleh syaitan sampai subuh.”

Juga membaca penutup surat al-Baqarah sebelum tidur sebagaimana yang terdapat di dalam Shahihain Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dia berkata, bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِر سُورَة الْبَقَرَة فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir surat al-Baqarah pada malam hari, dua ayat itu sudah cukup (menjadi penjaganya).”

Keenam : Memperbanyak taubat dan istigfar (meminta ampun kepada Allah).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [Al-Anfal/8:33]

Dan firman-Nya Azza wa Jalla:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ – يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ- وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-.  Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”  [Nuuh/71:10-12]

Semakin banyak seorang muslim beristighfar akan semakin dekat dia kepada Tuhan-nya Azza wa Jalla dan semakin jauh pula dia dari penyakit dan bala. Bala tidak menimpa melainkan disebabkan dosa, dan tidaklah bala itu diangkat selain dengan taubat dan istighfar.

Ketujuh : Senantiasa menjaga senjata yang paling agung yaitu doa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [al-Baqarah/2:186]

Dan firmannya Azza wa Jalla:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” [Ghaafir/40:60]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu meminta perlindungan dalam doanya dari buruknya penyakit.

Kita meminta kepada Allah untuk semua keselamatan dan keafiatan (kesehatan) serta menyembuhkan seluruh kaum muslimin yang menderita sakit.

[Disalin dari أنفلونزا الخنازير رؤية شرعية  Penulis Maktab Dakwah Rawdhah KSA, Penerjemah : Syafar Abu Difa, Editor : Eko Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
______
Footnote
[1] Flu babi (bahasa Inggrisswine influenza) adalah kasus-kasus influenza yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A[1].
Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia.[2] Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian[3] Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agusuts 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi. Sumber : wikipedia

Salafus Shalih dan Menjaga Waktu

SALAFUS SHALIH DAN MENJAGA WAKTU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

A’masy meriwayatkan dari orang yang menceritakan kepadanya, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Jika aku mengolok olok anjing niscaya aku merasa khawatir menjadi anjing, sungguh aku membenci seorang laki laki yang menganggur, tidak dalam pekerjaan akhirat dan tidak pula pekerjaan dunia.’[1]

Dari Hasan al-Bashri rahimahullah, ia berkata: ‘Wahai keturunan Adam ‘Alaihissalam, sesungguhnya engkau adalah beberapa hari, setiap kali pergi satu hari niscaya telah pergi sebagiannya.’[2]

Dari Hasan pula, ia berkata: ‘Saya telah bertemu beberapa kaum, salah seorang dari mereka lebih pelit terhadap umurnya dari uangnya.’[3]

Dari ucapan Hasan juga dalam memberikan nasehat kepada para muridnya untuk membuat mereka zuhud terhadap dunia dan senang terhadap akhirat: ‘Janganlah mata benda dunia yang sedikit lagi fana melalaikan engkau, janganlah menunggu nafasmu karena ia cepat berkurang dari usiamu, maka bersegeralah sebelum ajalmu, janganlah engkau mengatakan ‘besok, besok,’ karena engkau tidak pernah tahu kapanlah engkau akan kembali kepada Allah Ta’ala.’[4]

Ar-Raqqam berkata : Aku bertanya kepada Abdurrahman (maksudnya ibnu Abi Hatim) tentang begitu banyaknya ia mendengar ilmu dan pertanyaannya kepada bapaknya, ia menjawab: ‘Terkadang ia sedang makan dan aku membacakan atasnya, ia sedang berjalan dan aku membacakan atasnya, ia masuk kamar mandi dan aku membacakan atasnya, dan ia masuk ke rumah mencari sesuatu dan aku membacakan atasnya.’[5]

Ar-Razi berkata : Aku mendengar Ali bin Ahmad al-Khawarizmy berkata : Aku mendengar Abdurrahman bin Abi Hatim berkata : ‘Kami berada di Mesir selama tujuh bulan, tidak pernah makan kuah, setiap waktu kami di siang hari di bagi di majelis majelis para syaikh, di malam hari digunakan untuk menyalin dan muqabalah (membandingkan kitab asli dan salinan). Ia berkata: ‘Pada satu hari, aku bersama temanku mendatangi seorang syaikh, mereka berkata : Beliau sakit.  Di jalan saat pulang, kami melihat ikan yang kami sukai, kami pun membelinya. Maka tatkala kami sampai di rumah, tibalah waktu menghadiri majelis syaikh maka kami tidak bisa memasaknya, dan kami langsung menuju majelis. Maka kami terus seperti itu hingga tiga hari, dan ikan itu hampir berubah, maka kami memakannya mentah, kami tidak punya waktu untuk memberikannya kepada orang yang membakarnya. Kemudian ia berkata: ‘Ilmu tidak bisa didapatkan dengan tubuh yang santai.’[6]

Qasim bin ‘Asakir berkata, dari Sulaim bin Ayub, ia berkata: Diceritakan orang kepadaku bahwa ia menghisab dirinya pada hitungan nafas, ia tidak membiarkan waktu berlalu tanpa faedah, bisa jadi menyalin atau belajar atau membaca. Dan diceritakan orang kepadaku bahwa ia menggerakkan kedua bibirnya sampai ia menggerakkan penanya.[7]

Abul Wafa` Ali bin Aqil menceritakan tentang dirinya, ia berkata: ‘Sesungguhnya tidak halal bagiku menyia nyiakan satu waktu dari umurku, sehingga bila mengistirahatkan lisanku dari mudzakarah dan diskusi, dan mengistirahatkan mataku dari muthala’ah, aku menggunakan pikiranku di saat istirahatku dan aku sedang berbaring, maka aku tidak bangkit kecuali terlintas di benakku apa yang akan kutuliskan, dan sungguh aku mendapatkan semangatku terhadap ilmu di saat usia delapan puluhan melebihi yang kudapatkan di saat aku berusia dua puluhan.[8]

Dan ia berkata pula: ‘Dan aku berusaha semaksimal mungkin untuk mempersingkat waktu makanku, sehingga aku memilih kue kering dan memakannya dengan air dari pada memakan roti, karena perbedaan waktu mengunyahnya, agar ada waktu untuk muthala’ah atau mencatat faedah yang belum kudapatkan.[9]

Semoga Allah Ta’ala memberi rahmat kepada wazir yang faqih Yahya bin Muhammad bin Hubairah –guru ibnul Jauzy- ketika ia berkata:
Waktu lebih mahal yang harus dijaga – dan aku melihatnya lebih gampang hilang darimu.[10]

Di antara yang disebutkan oleh Ibnu Nafis  -Syaikh kedokteran di masanya- apabila ia ingin  mengarang, diletakkan pena yang sudah diraut, ia memalingkan wajahnya ke dinding, ia mulai mengarang yang ada dalam benaknya, menulis seperti aliran air apabila turun ke bawah. Apabila pena mulai tumpul, ia melemparnya dan mengambil yang lain agar tidak tersia sia waktu dalam meraut pena…Syaikh Alauddin –maksudnya Ibnu Nafis- masuk ke pemandian di pintu Zahumah, maka tatkala sedang mandi, ia keluar menuju tempat ganti baju, ia meminta dawat, pena dan kertas, ia mulai menulis di Nabdh hingga menyelesaikannya, kemudian ia kembali memasuki pemandian dan menyelesaikan mandinya.[11]

Ibnul Jauzy rahimahullah berkata tentang dirinya: ‘Sungguh aku melihat banyak orang  bergaul bersamaku seperti kebiasaan manusia yang banyak berkunjung, mereka menamakan hal itu sebagai pelayanan, meminta duduk bersama, berbicara tentang pembicaraan manusia yang tidak berguna, dan diselingi menggunjing.

Ini adalah sesuatu yang banyak dilakukan manusia di masa kami, terkadang yang dikunjungi meminta hal itu dan merindukannya, serta merasa asing bila sendirian, terutama di hari lebaran. Maka engkau melihat mereka berjalan bersama sama, tidak mencukupkan diri hanya memberi salam dan mengucapkan selamat, bahkan mencampur hal itu dengan perkara yang  kusebutkan berupa menyia nyiakan waktu.

Maka tatkala aku melihat bahwa waktu adalah sangat berharga dan wajib mengambil kesempatan dengan melakukan kebaikan, aku membenci hal itu dan aku tetap bersama mereka di antara dua perkara: jika aku mengingkari hal itu niscaya terjadilah keterasingan hingga terputus hubungan, dan jika aku menerimanya darinya mereka niscaya waktu hilang sia sia, maka jadilah aku menghindari pertemuan sebatas kemampuan, apabila terpaksa aku membatasi ucapan agar segera berpisah.

Kemudian aku menyiapkan pekerjaan yang tidak mengganggu pembicaraan di saat bertemu mereka agar waktu tidak hilang percuma, maka aku menyiapkan kertas untuk ditulis, menajamkan pena, mengikat buku, karena semua itu adalah keharusan. Tidak perlu berpikir dan konsentrasi, maka aku menyiapkannya untuk waktu kunjungan mereka agar tidak hilang sedikitpun dari waktuku.’[12]

[Disalin dari السلف وحفظ الوقت  Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
______
Footnote
[1] Siyar A’lam Nubala` 1/496.
[2] Siyar 4/585.
[3] Syarh Sunnah karya al-Baghawi 14/225.
[4] Hilyatul Auliya` 2/140.
[5] Siyar A’lam Nubala` 13/251.
[6] Siyar 13/266.
[7] Siyar 17646.
[8] Al-Muntazham karya ibnu Jauzi 9/214 mengutip dari Sawa`ih dan taammulaat fi qimati zaman karya Khaldun al-Ahdab hal 34.
[9] Dzail Thabaqat Hanabilah 1/177 mengutip dari Sawa`ih dan Taammulaat fi qimah zaman hal 34.
[10] Dzail Thabaqat Hanabilah 1/177 mengutip dari Sawa`ih dan Taammulaat fi qimah zaman hal 39
[11] Raudhatun Jannat 5/90-93, mengutip dari Sawa’ih dan taammulaat ..hal 37.
[12] Shaidul Khathir hal 184-185.

Kesyirikan Pada Kaumnya Nuh Alaihissalam

KESYIRIKAN PADA KAUMNYA NUH ALAIHISSALAM

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang-Dia beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang -Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du.

Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa manusia pertama yang Allah Ta’ala ciptakan adalah Adam ‘alaihi sallam. Sebagaimana yang Allah Ta’ala katakan didalam firmanNya:

 وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِل فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ – وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ – قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ  [ البقرة: 30-32 ]

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada    -Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.[al-Baqarah/2: 30-32].

Makanya kita menjumpai kisah pertama yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala kisahkan kepada kita diantara kisah-kisahnya para nabi didalam al-Qur’an yang suci ialah kisahnya Adam ‘alaihi sallam. Beliaulah bapaknya manusia. Untuk pertama kalinya beliau tinggal di surga, Allah Shubhanahu wa Ta’ala muliakan dirinya dengan menyuruh para malaikat terdekat yang berada disisi -Nya untuk sujud kepadanya, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan padanya. Kecuali Iblis, sesungguhnya ia punya keinginan untuk mengeluarkan Adam dari surga, lalu akhirnya Adam pun di turunkan ke bumi, dan dialah manusia pertama yang tinggal di muka bumi, akan tetapi, apakah dirinya berada di atas agama tauhid? Jawabannya adalah benar, dirinya berada diatas agama tauhid dan beliau adalah seorang nabi. Dalil yang menguatkan hal tersebut ialah nash berikut ini:

1. Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

 إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ  [ آل عمران: 33 ]

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”. [al-Imraan/3: 33].

2. Sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana di riwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab shahihnya, disebutkan:

أن رجلا قال : يا رسول الله أنبي كان آدم . قال : نعم مكلم . قال : فكم كان بينه وبين نوح . قال :  عشرة قرون . رواه أحمد وابن ماجه

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulallah, ‘Wahai Rasul apakah Adam seorang nabi? Beliau menjawab, “Benar, dan yang diajak bicara langsung oleh Allah. Berapa lama jarak antara nabi Adam dan Nuh, tanya sahabat tadi. Beliau menjawab, “Sepuluh masa“.[1]

3. Demikian pula sabdanya beliau yang mengatakan:

ال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ما من نبي يومئذ آدم فمن سواه إلا تحت لوائي » [أخرجه الترمذي]

“Tidak ada seorang nabi pun pada saat itu, Adam yang lainnya melainkan berada di (belakang) benderaku”.[2]

Dalil-dalil diatas tadi menunjukan kalau Adam ‘Alaihi sallam adalah seorang nabi, dan sudah dapat di pastikan jika beliau berada diatas agama tauhid.

Dan para ulama yang ucapannya didengar oleh semua kalangan telah bersepakat tanpa berselisih sedikitpun, bahwa Adam ‘alaihi sallam berada diatas agama tauhid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits syafa’at yang panjang, disebutkan disitu; “Wahai Adam engkau adalah manusia pertama…”. Al-Hadits[3]. Didalam hadits itu disebutkan bahwa manusia ketika itu mensifati Adam sebagai manusia pertama. Dan didalam hadits lain dijelaskan bahwa beliau adalah seorang nabi, sedangkan seorang nabi di utus hanyalah untuk menyerukan agama tauhid, dan Adam di utus oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala kepada anak keturunanya dikala kondisi mereka masih lurus fitrahnya, belum muncul kekufuran dari mereka, sehingga mereka sangat mentaatinya[4].

Sebagaimana Telah lewat kajian secara ilmiah yang menjelaskan akan lemahnya pendapat yang menyatakan terjadi kesyirikan dalam lafad yang diucapkan oleh nabi Adam ‘alaihi sallam manakala menafsirkan makna firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

 فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحا جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِكُونَ  [ الأعراف: 190 ]

“Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan -Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan”. [al-A’raaf/7: 190].

KESYIRIKAN PADA KAUMNYA NABI NUH
Tatkala nabi Adam ‘alaihi sallam meninggal maka yang meneruskan tugas ayahnya adalah anaknya yang bernama Syiitsa ‘alaihi sallam, dan ketika itu belum terjadi kesyirikan sedikitpun pada umatnya, menurut pendapat yang kuat. Ketika ajal beliau sudah dekat dirinya berpesan kepada anaknya Anusy untuk meneruskan tugas yang di embannya. Setelah dia meninggal di lanjutkan oleh anaknya yang bernama Qinan, kemudian dilanjutkan oleh anaknya Mahla’il, ketika dirinya meninggal urusannya di pegang oleh anaknya yang bernama Yarid[5].

Diantara kejadian-kejadian yang tercatat dalam sejarah yang disebutkan oleh para praktisi sejarah di dalam kurun waktu tersebut di klasifikasikan sebagai berikut: Para sejarahwan mengatakan, “Sesungguhnya Qabil setelah membunuh saudaranya Habil, dirinya langsung melarikan diri dari ayahnya Adam menuju negeri Yaman. Sesampainya disana dirinya di sambangi Iblis sembari mengatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya persembahan Habil di terima oleh Allah dan dimakan oleh api disebabkan dirinya dulu mengabdi kepada api dan menyembahnya, maka lakukankah hal yang sama seperti dirinya, buat tungku api untukmu dan anak keturunanmu”. Lalu Qabil membikin tempat khsusus untuk api, dan dialah pionir yang membikin tungku api lalu menyembahnya”.[6]

Sebagain pakar sejarah mengatakan, mengacu pada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Kalbi dari ayahnya dari Abu Sholeh, diceritakan bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “Pada zamannya Yarid patung dan berhala di produksi, maka ada yang kembali dari agama yang lurus (murtad)”.[7] Selanjutnya tatkala kematian sudah semakin dekat, maka Yarid berpesan kepada putranya yang bernama Khanukh -Menurut pendapat yang masyhur beliau adalah nabi Idris ‘alaihi sallam-.

Al-Hafidh Ibnu Katsir mengatakan tentang beliau, “Dia adalah anak keturunan Adam yang pertama kali mengemban tugas kenabian setelah Adam dan Syiitsa ‘alaihima sallam”. Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala:

 وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِدۡرِيسَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقا نَّبِيّا ٥٦ وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا  [ مريم: 56-57 ]

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”. [Maryam/19: 56-57]

Di dalam ayat diatas Allah Shubhanahu wa Ta’ala memuji Idris ‘alaihi sallam dan mensifati dirinya dengan kenabian dan orang-orang yang membenarkan, dan Idris di sini adalah Khanukh. Dan beliau masih berada dalam satu garis silsilah keturuanan bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dinyatakan tidak sedikit oleh para ulama nasab.

Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits Isra’ yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melewati langit ke empat dan disana beliau bertemu dengan Idris, dan dalam hadits tersebut dinyatakan dengan jelas tentang kenabian Idris[8]. Kemudian setelah itu Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengutus nabi Nuh ‘alaihi sallam, beliau adalah nabi ketiga yang disebut oleh –Nya di dalam al-Qur’an diantara jarak beliau dengan nabi Adam ‘alaihi sallam.

Nama beliau adalah Nuh bin Lamik bin Mutusyalih bin Khanukh -yaitu nabi Idris- bin Yarid bin Mahla’il bin Qinan bin Anusy bin Syiitsa bin Adam yang merupakan bapaknya manusia”[9]. Beliau adalah rasul pertama yang di utus oleh Allah azza wa jalla, sebagaimana tertera dengan jelas dalam hadits syafaat yang terkenal. Dimana disebutkan dalam hadits tersebut, “Wahai Nuh engkau adalah rasul pertama di muka bumi”.

Sebagaimana telah di jelaskan dalam ayat yang menerangkan tentang para rasul, di mana nama Nuh disebut untuk pertama kali. Semisal firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

 أَلَمۡ يَأۡتِهِمۡ نَبَأُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَوۡمِ نُوح وَعَاد وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ  [ التوبة: 70 ]

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. [at-Taubah/9: 70].

Demikian pula dalam ayat yang menjelaskan pujian Allah Shubhanahu wa Ta’ala terhadap para nabi dan rasul. Seperti dalam firman -Nya:

 وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مِيثَٰقَهُمۡ وَمِنكَ وَمِن نُّوح وَإِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۖ وَأَخَذۡنَا مِنۡهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظا  [ الأحزاب: 7 ]

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”.[al-Ahzab/33: 7].

Secara garis besar, maka Nuh ‘alaihi sallam di utus oleh Allah Ta’ala manakala berhala dan para thagut telah di sembah oleh manusia, dan mulai munculnya kekufuran dan kesesatan yang dilakukan oleh mereka. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi para hamba, dan beliau merupakan rasul pertama yang di utus dimuka bumi –sebagaimana dikatakan oleh ahli mauqif kelak pada hari kiamat-. Demikian berdasarkan banyak ayat, yang mana kisah beliau banyak disebut dalam berbagai surat al-Qur’an, diantaranya seperti dalam surat al-A’raaf, surat Yunus, surat Huud, surat al-Mukminuun, surat asy-Syu’araa dan surat Nuh.

KESYIRIKAN YANG TERJADI PADA KAUMNYA NUH
Imam Ibnu Jarir Thabari menuturkan tentang masalah ini, dimana beliau sampai pada kesimpulan setidaknya ada tiga pendapat dikalangan ulama yang menyimpulkan kondisi kaumnya nabi Nuh ‘alaihi sallam, yaitu:

Kondisi pertama: dijelaskan bahwa Kebanyakan mereka telah terjerumus dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah azza wa jalla. Mulai dari melakukan perbuatan zina, minum-minuman keras, sibuk dengan sendau gurau dan permainan yang melalaikan diri untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah azza wa jalla.

Kondisi kedua: dikatakan kalau Mereka adalah para pengikuti yang mentaati Bairusib, dan Bairusib ini ialah yang memprakarsai adanya perkataan shoibah[10].

Kondisi terakhir: dijelaskan mengacu pada al-Qur’an dimana al-Qur’an mengabarkan bahwa mereka adalah para penyembah berhala[11]. Dan ini lah pendapat yang kuat dalam masalah ini. adapun pendapat-pendapat yang lain hanya sekedar analisis dan terkaan dari para sejarahwan.

Sebetulnya kaumnya nabi Nuh lah yang memprakarsai kesyirikan dengan menyembah patung dan berhala, dimana mereka biasa menyeru kepada Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan Allah Ta’ala telah mengabadikan hal tersebut didalam firman -Nya tatkala mengkisahkan nabi Nuh. Allah berfirman:

 قَالَ نُوح رَّبِّ إِنَّهُمۡ عَصَوۡنِي وَٱتَّبَعُواْ مَن لَّمۡ يَزِدۡهُ مَالُهُۥ وَوَلَدُهُۥٓ إِلَّا خَسَارا ٢١ وَمَكَرُواْ مَكۡرا كُبَّارا ٢٢ وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّا وَلَا سُوَاعا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرا  [ نوح: 21-23 ]

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang berharta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. [Nuuh/71: 21-23].

Di jelaskan dalam sebuah hadits shahih dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika beliau menafsiri ayat-ayat diatas dengan mengatakan, “Nama-nama ini adalah orang-orang sholeh dari kaumnya nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal maka setan membisikan kepada kaumnya supaya membuat relief di atas tempat majelisnya yang biasa mereka gunakan lalu memberi tanda dengan nama-nama mereka, akhirnya mereka melakukan hal tersebut, tapi belum sampai disembah. Hingga ketika mereka binasa dan sudah tidak ada lagi ilmu akhirnya relief tersebut disembah“.[12]

Ucapan beliau, ‘Tapi belum sampai disembah’, yang dimaksud ialah relief orang-orang sholeh tersebut. Dan ucapannya, ‘Hingga ketika mereka binasa dan sudah tidak ada lagi ilmu akhirnya relief tersebut disembah’. Maksudnya ialah ketika ilmu yang menjelaskan maksud pertama telah hilang ditengah-tengah mereka.

Dalam redaksi yang dibawakan oleh al-Kusymihani[13] disebutkan dengan lafad, ‘Ilmu terhapus’. Maksudnya jejak mereka terhapus dengan sebab para ulama telah meninggal. Sehingga kebodohan meraja lela kemudian mereka tidak bisa lagi membedakan antara tauhid dan kesyirikan, akhirnya mereka terjatuh dalam kesyirikan karena persangkaan mereka yang mengira hal tersebut bisa bermanfaat disisi Allah azza wa jalla[14]. Di mana semakin jauh ilmu yang ada akhirnya mereka membikin gambar-gambar tiruan di tempat ibadah yang biasa mereka kerjakan, sebab mereka adalah ahli ibadah sehingga persangkaan mereka hal tersebut mampu memotivasi untuk meniru ibadah yang mereka lakukan.

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, “Banyak para ulama salaf yang menyebutkan, tatkala mereka meninggal maka kaumnya duduk-duduk di sebelah kuburanya, kemudian mereka membuat relief-reliefnya, selanjutnya setelah berlalu jauh generasi tersebut maka akhirnya patung relief tersebut di sembah”.[15] Dan ditegaskan bahwa itulah asal mula kesyirikan yang terjadi dikalangan bani Adam, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Termasuk kesyirikan yang terjadi ditengah-tengah manusia ialah mengagungkan orang-orang sholeh. Dimana tatkala mereka meninggal, kaumnya duduk-duduk disebelah kuburannya. Kemudian mereka membuat relief-reliefnya, selanjutnya mereka menyembahnya. Inilah kesyirikan pertama yang terjadi ditengah-tengah anak manusia, dan hal itu terjadi untuk pertama kalinya pada kaumnya nabi Nuh ‘alaihi sallam”.[16]

Oleh karena itu dicantumkan dalam kumpulan kitab tauhid bahwa yang namanya berdiam diri disamping kubur dan mengusap-usap kubur tersebut, mencium dan berdo’a disisinya merupakan inti dari kesyirikan dan bagian dari beribadah kepada berhala[17]. Seperti dipaparkan oleh penulis kitab Shaihatul Haq, dimana penulis menyatakan, “Sesungguhnya pangkal peribadatan kepada patung dan berhala yang ada di seluruh peradaban manusia berawal dari membikin gambar diatas kuburan orang-orang sholeh, dari peradaban Arab, Yunani kuno, Romawi, Babilon, Persia, India dan Cina, pada awal mulanya Tuhan-tuhan yang mereka jadikan sebagai sesembahan dan berhala yang mereka rela untuk duduk-duduk disekitarnya ialah bersumber dari gambar yang mereka buat lalu di letakkan diatas kuburan orang-orang sholeh dikalangan mereka.

Tujuannya untuk mengingatkan keutamaan dan akhlak mulia orang sholeh tersebut yang dengan itu akan memotivasi mereka untuk menirunya. Maka tatkala generasi demi generasi berlalu, tujuan pertama kali dibuat gambar tersebut sudah terlupakan, sehingga akhirnya mereka menjadikan sebagai Tuhan yang mereka sembah dan digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala serta dimintai pertolongan”.[18] Begitulah keadaan manusia ketika itu, dirinya lupa dengan perjanjian yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala buat, mereka meninggalkan agama tauhid yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai fitrah mereka. Sehingga tidak tersisa pada saat itu di muka bumi orang yang menyembah Allah Shubhanahu wa Ta’ala secara murni tanpa menyekutukan -Nya dengan yang lain -Nya.

Kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengutus kepada mereka nabi Nuh ‘alaihi sallam untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata, serta memperingatkan dari siksaan –Nya jikalau mereka masih mengerjakan peribadatan kepada tuhan-tuhan batil yang mereka buat tersebut.  Cukup panjang dakwah yang beliau lakukan dan cukup lama beliau tinggal bersama mereka, dirinya tidak bosan untuk mengajak dan mengingatkan mereka siang dan malam, terang-terangan maupun dengan cara sembunyi-sembunyi, akan tetapi, sangat sedikit dari kaumnya yang mau mengikuti dakwah nabi Nuh ‘alaihi sallam dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut, walaupun muatan dakwahnya cukup jelas, hujah yang mereka terima begitu terang serta semangat beliau yang tidak padam surut.

Selanjutnya Allah azza wa jalla memberi wahyu kepada nabi Nuh yang menjelaskan kondisi kaumnya yang sudah tidak mungkin lagi beriman kecuali orang-orang yang sebelumnya telah beriman kepadanya, oleh sebab itu janganlah kamu bersedih hati dengan apa yang mereka lakukan, kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala menyuruh beliau untuk membikin bahtera dengan wahyu dan pengawasa -Nya, dan supaya membawa didalam bahtera tersebut setiap binatang melata ataupun ternak yang berpasang-pasangan –laki-laki dan perempuan- lalu semuanya disuruh untuk naik bahtera bersama orang-orang yang beriman dan keluarganya kecuali orang-orang yang telah ditentukan kebinasaannya oleh Allah azza wa jalla[19].

Dan Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengabadikan akhir dari kisah perjalanan mereka dalam firman -Nya:

 فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ  [ الأعراف: 64 ]

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)”. [al-A’raaf/7: 64].

[Disalin dari الشرك في قوم نوح عليه السلام  Penulis Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] HR Ahmad 5/265-266. Ibnu Majah 8/24-25. Namun, didalam sanad kedua riwayat tadi ada perawi yang bernama Ma’an bin Rifa’ah as-Sulami. Layinul hadits dan sering memursalkan hadits. Dan perawi yang bernama Ali bin Yazid al-Alhani dia adalah perawi yang lemah. Serta perawi yang bernama Qosim bin Abdirahman, shoduq sering meriwayatkan hadits asing, bersamaan dengan itu semua hadits ini di nilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij al-Misykah 3/122.
[2] HR Tirmdzi 5/ 548 no: 3615. Beliau berkata; Hadits ini hasan shahih.
[3] HR Bukhari no: 3340, 4712. Muslim no: 194.
[4] Lihat pemaparan seperti ini dalam kitab Adhwa’ul Bayan 1/223, 224. oleh Muhammad Amin Syinqithi.
[5] Bidayah wa Nihayah 1/99 oleh Ibnu Katsir.
[6] Tarikhul Umam wal Muluk 1/165 oleh Imam Thabari. Al-Kaamil 1/32 oleh Ibnu Atsir.
[7] Tarikhul Umam wal Muluk 1/170 oleh Imam Thabari. Al-Kaamil 1/34 oleh Ibnu Atsir. Dan ar-Raudhul Anfi 1/14 oleh as-Suhaili.
[8] HR Bukhari no: 3207, 3887. Muslim no: 164. dan selain keduanya.
[9] Bidayah wa Nihayah 1/100 oleh Imam Ibnu Katsir.
[10] Mengacu pada ucapannya beliau, Imam Thabari kalau shoibah berasal dari kaumnya nabi Nuh, dan ini tentunya berbeda dengan riwayat yang lebih terkenal.
[11] Tarikh Thabari 1/179.
[12] HR Bukhari no: 4920.
[13] Beliau adalah seorang perawi yang meriwayatkan shahih Bukhari. Namanya adalah Muhammad bin Abdurahman bin Muhammad bin Abi Taubah al-Kusymihani, al-Marwazi, Abul Fatah. Syaikh, Imam, Khatib, dan seorang yang zuhud. Syaikhnya kelompok sufi, mendengar shahih Bukari dari Abu Ja’far al-Hamdani yang dibacakan kepada al-Ma’mar Abil Khair Muhammad Shofar tahun 471 H. meninggal pada tahun 547 H. Lihat biografinya dalam kitab Siyar oleh Dzahabi.
[14] Fathul Majid 1/280 oleh Syaikh Abdurahman bin Hasan alu Syaikh.
[15] Ighatsatul Lahfan 1/210 oleh Ibnu Qoyim.
[16] al-Hasan was Sayi’ah hal: 116 oleh Ibnu Taimiyah.
[17] Majmu’ah Tauhid hal: 515.
[18] Shoihatul Haq hal: 8, oleh Muhammad Darwisy.
[19] Lihat penjelasannya dalam kitab Da’watu Tauhid hal: 106-107 oleh Syaikh Khalil Haras.

Salafus Shalih dan Sederhana Dalam Tertawa dan Bercanda

SALAFUS SHALIH DAN SEDERHANA DALAM TERTAWA DAN BERCANDA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam seraya berkata: Ya Rasulullah, bawalah saya (bersamamu). Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّا حَامِلُوْكَ عَلَى وَلَدِ النَّاقَةِ» [ أخرجه الترمذي ]

Sesungguhnya kami akan membawamu di atas anak unta.’ Ia berkata: ‘Dan apakah yang bisa saya lakukan dengan anak unta? Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘Bukankah  tidak melahirkan unta kecuali anak unta? (maksudnya, bukanlah unta besar juga anak unta?).[1]

Dari Shuhaib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam dan di hadapan beliau adalah roti dan kurma, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اُدْنُ فَكُلْ» [ أخرجه ابن ماجه ]

Mendekatlah, lalu makanlah.’  Maka aku mulai memakai kurma,  maka Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تَأْكُلُ تَمْرًا وَبِكَ رَمَدٌ» [ أخرجه ابن ماجه]

Apakah engkau memakan kurma sedangkan (di matamu) ada tahi mata? Ia berkata: Aku menjawab: ‘Sesungguhnya aku mengunyahnya dari sisi yang lain.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam tersenyum.’[2]

Dari Usaid bin Hudhair Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: tatkala ia berbicara kepada suatu kaum –ia sedang bercanda-, ketika ia membuat mereka tertawa, Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam memukulnya dengan tongkat di pinggangnya. Ia berkata: Berilah haq qishash kepadaku. Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab: ‘Aku siap menerima.’ Ia (Usaid Radhiyallahu ‘anhu) berkata: ‘Sesungguhnya engkau mengenakan pakaian sedangkan saya tidak mengenakan pakaian.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam melepaskan bajunya, lalu ia memeluknya dan mengecup pundaknya. Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menghendaki hal ini wahai Rasulullah.’[3]

Dari Mu’awiyah bin Bahz Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيَضْحَكَ بِهِ الْقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ» [ أخرجه أبو داود ]

Celakalah bagi seseorang yang berbicara, lalu berdusta agar membuat orang lain tertawa. Celakahlah baginya, celakalah baginya.[4]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Mereka (beberapa sahabat) berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bercanda bersama kami.’ Beliau Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنِّي لَا أَقُوْلُ إِِلاَّ حَقًّا» [ أخرجه الترمذي ]

Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali yang benar.[5]

Muhammad bin Nu’man bin Abdus Salam berkata: ‘Aku belum pernah melihat orang yang lebih ahli ibadah dari pada Yahya bin Hammad, dan saya duga dia tidak pernah tertawa.’

Adz-Dzahaby memberi komentar atas hal itu: Tertawa yang sedikit dan tersenyum lebih utama, dan tidak adanya hal itu dari para ulama terbagi dua bagian:

Salah satunya: bahwa yang utama bagi yang meninggalkannya karena adab dan takut kepada Allah ta’ala, dan berduka cita terhadap dirinya yang miskin.

Kedua: tercela bagi yang melakukannya karena bodoh, sombong dan dibuat buat, sebagaimana orang yang banyak tertawa akan diremehkan. Dan tidak diragukan bahwa tertawa pada anak muda lebih ringan dan bisa dipahami dari pada pada orang tua.

Adapun tersenyum dan muka berseri maka lebih tinggi dari semua itu. Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ » [أخرجه البخاري فى الأدب المفرد]

‘Tersenyumnya engkau di hadapan saudaramu adalah sedakah.[6] Jarir Radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam melihatku kecuali tersenyum.’[7]

Inilah akhlak Islam, kedudukan tertinggi adalah yang banyak menangis di malam hari dan tersenyum di siang hari. Dan Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَنْ تَسَعَوُا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ  فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ» [ أخرجه البزار والحاكم وأبو نعيم ]

Kamu tidak akan bisa memberi bantuan kepada manusia dengan hartamu, maka hendaklah muka berseri menjadi bantuanmu untuk mereka.’[8]

Masih tersisa sedikit di sini: Semestinya bagi orang yang suka tertawa lagi tersenyum agar mengurangi hal itu, mencela dirinya agar tidak banyak tertawa, dan semestinya bagi orang yang bermuka masam, suka cemberut agar tersenyum dan memperbaiki akhlaknya, mencela dirinya terhadap akhlaknya yang buruk dan setiap yang menyimpang dari kewajaran adalah tercela, dan jiwa harus mujahadah dan belajar adab.[9]

[Disalin dari السلف والاعتدال فى الضحك والمزاح Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1436]
______
Footnote
[1] HR. Abu Daud 4998 dan at-Tirmidzi 1992.
[2] HR. Ibnu Majah 3443 dan dihasankan oleh Albany.
[3] HR. Abu Daud 5224 dan dishahihkan oleh Albany.
[4] HR. Abu Daud 4990 dan dihasankan oleh Albany.
[5] HR. At-Tirmidzi 1991.
[6] HR. HR. Al-Bukhari dalam adabul Mufrad 891 dan at-Tirmidzi 1957.
[7] HR. Al-Bukhari 3035 dan Muslim 2475 
[8] HR. Al-Bazzar 1977, Abu Nu’aim dalam Hilyah 10/20, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/124.
[9] Siyar 10/140-141.

Mutiara Nasehat Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘Anhu

MUTIARA NASEHAT THALHAH BIN UBAIDILLAH RADHIYALLAHU ‘ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya

Dia adalah salah seorang sahabat terkemuka, termasuk salah seorang yang dijamin masuk surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan beliau ridha kepadanya. Al-Faruq memasukkannya sebagai anggota majelis syura yang berjumlah enam orang saat menjelang wafatnya.

Dia adalah Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amar at-Taimy, Abu Muhammad, seseorang yang sejarah telah menorehkan biografinya dengan huruf huruf dari cahaya, bukankah dia yang memasang punggungnya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat perang Uhud? Sehingga punggung bagaikan punggung landak karena begitu banyaknya anak panah yang menancap padanya. Tangannya menjadi cacat (tidak bisa bergerak) karena melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat perang Uhud. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dia:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَوْجَبَ طَلْحَةُ» [ أخرجه الترمذي ]

Surga wajib untuknya.[1]

Apabila Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyebutkan perang Uhud, ia berkata: ‘Semua itu adalah harinya Thalhah.’

Ia menghadiri semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbunuh pada tahun 36 H, dan usianya adalah 64 tahun.

Di antara mutiara nasehatnya –kendati tidak banyak- adalah:

«إِنَّا لَنَجِدُ بِأمَوْاَلِنَا مَايَجِدُ الْبُخَلاَءُ لكِنَّنَا نَتَصَبَّرُ»

Sesungguhnya kami mendapatkan pada harta kami seperti yang didapatkan oleh orang orang bakhil, akan tetapi kami berusaha bersabar.”

Maksudnya, sesungguhnya mencintai harta merupakan tabiat dan kesenangan jiwa, akan tetapi perbedaan di antara orang yang bakhil dan pemurah, di antara yang suka memberi dan menahan harta, adalah sabar dan mengenal hakikat harta, sesungguhnya ia akan pergi berlalu, dan sesungguhnya harta yang tersisa pada hakikatnya adalah yang diinfakkan hamba, bukan yang disimpannya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan al-Bukhari rahimahullah dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟ قَالُوا: يا رسول الله, مَا مِنَّا أَحَدٌ  إِلاَّ مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ. قَالَ: فإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ» [ أخرجه البخاري ]

Siapakah dari kalian yang harta ahli warisnya lebih dicintainya dari pada hartanya sendiri? Mereka menjawab: ‘Tidak ada seorang pun dari kami kecuali hartanya lebih disukainya.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Maka sesungguhnya hartanya adalah yang dia berikan (sedekahkan) dan harta ahli warisnya adalah yang disimpannya.”[2]

Sungguh biografi Thalhah Radhiyallahu ‘anhu merupakan saksi langsung dari sikap pemurahnya dan merupakan bukti hidup bagi nasehat ini. Qabishah bin Jabir berkata: ‘Aku menyertai Thalhah, maka aku belum pernah melihat seseorang yang lebih pemurah darinya.[3]

Dia tidak membiarkan seseorang dari bani Taim yang fakir kecuali ia menanggung biaya hidupnya, keluarganya, menikahkan yang belum kawin, melayani yang kesusahan, dan membayar yang punya hutang.[4]

Di antara mutiara nasehatnya adalah[5]:

«لاَتُشَاوِرْ بَخِيْلًا فىِ صِلَةٍ وَلَاجَبَانًا فِى حَرْبٍ وَلَاشَابًّا فِى جَارِيَةٍ»

Jangan bermusyarah kepada orang bakhil dalam silaturrahim, Jangan minta pendapat kepada yang penakut dalam berperang, dan jangan bertanya kepada anak muda  tentang masalah jariyah (wanita muda).’

Maksudnya : apabila seseorang ingin musyawarah maka hendaklah ia memilih orang yang pas untuk musyawarah dan jauhilah dari orang yang memiliki sifat yang bertolak belakang bagi perkara yang diminta pendapatnya, karena hasilnya sudah bisa diketahui sebelumnya.

Maka siapa yang meminta pendapat kepada orang bakhil dalam masalah memberi (sedekah) maka ia tidak akan memberi pendapat kecuali untuk menyimpan. Siapa meminta pendapat kepada orang yang penakut untuk ikut berperang, maka ia tidak akan memberikan saran kepadanya kecuali agar tidak pergi dan menakut nakutinya dari kematian yang tidak akan lebih cepat dan tidak lebih lambat yang taqdirnya.

Karena inilah, sesungguhnya termasuk kesempurnaan akal seseorang adalah meminta pendapat dan orang yang diminta pendapatnya adalah yang sesuai, di mana dia dikenal memiliki hikmah dan cerdas serta punya pengalaman terhadap persoalan yang dimintai pendapatnya, sebagaimana yang dikatakan Luqmanul Hakim kepada putranya : ‘Musyawarahlah kepada orang yang sudah berpengamalan, maka sesungguhnya ia memberikan kepadamu dari pendapatnya berdasarkan pengalaman yang telah dilewatinya dengan mahal, sedangkan engkau mengambilnya dengan gratis.’[6]

Sebagian ahli hikmah berkata: ‘Siapa yang meminta pendapat, maka sesungguhnya dia menyandarkan kepada pendapatnya beberapa pendapat orang orang yang berakal dan menggabungkan kepada dirinya akal orang orang yang bijaksana. Pendapat pribadi sangat mungkin tergelincir, akal individu bisa jadi tersesat, dan dikatakan orang : Tidak rugi orang yang meminta pilihan (istikharah) dan tidak menyesal orang yang meminta pendapat.[7]

[Disalin dari من مواعظ طلحة بن عبيدالله رضي الله عنه Penulis Dr. Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil,  Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] HR. At-Tirmidzi 1692
[2] HR. Al-Bukhari 6442.
[3] Mu’jam Shahabah karya al-Baghawi 3/255.
[4] Thabaqat Kubra 3/166.
[5] Makarimul Akhlaq, al-Kharaithy 1/252.
[6] Adabud Dun-ya wad Din, hal 303.
[7] Adabud Dun-ya wad Din, hal 300

Salaf dan Berbakti Kepada Ibu

SALAF DAN BERBAKTI KEPADA IBU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: ‘Harga pohon kurma di masa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mencapai seribu dirham. Ia berkata: ‘Usamah radhiyallahu ‘anhu[1] mendatangi pohon kurma, lalu menebangnya, mengeluarkan jummar[2]nya dan memberikannya kepada ibunya. Mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang mendorong engkau melakukan hal ini, sedangkan engkau mengetahui harta pohon kurma sudah mencapai seribu dirham.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya ibuku memintanya kepadaku, dan ia tidak meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu melakukannya kecuali aku memberikannya kepadanya.’[3]

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata : Muhammad bin Munkadir berkata: ‘Semalam suntuk Umar (maksudnya saudaranya) shalat dan semalam suntuk ia memijat kaki ibuku, dan aku menginginkan malamku seperti malamnya.’[4]

Dari Ibnu Aun, ia berkata: ‘Seorang laki laki mendatangi Muhammad bin Sirin yang sedang berada di sisi ibunya, ia berkata: ‘Bagaimana kondisi Muhammad, apakah ia menderita sesuatu? Mereka menjawab: ‘Tidak, akan tetapi seperti inilah dia apabila berada di sisi ibunya.’[5]

Dari Hisyam bin Hisan, dari Hafshah bin Sirin, ia berkata: ‘Apabila Muhammad masuk kepada ibunya, ia tidak berbicara kepadanya dengan lisannya, seolah olah ia sangat khusyuk kepadanya.’[6]

Dari Ibnu ‘Aun: Sesungguhnya ibunya memanggilnya lalu ia menjawabnya,  ternyata suaranya lebih tinggi dari suara ibunya, maka ia memerdekakan dua orang budak.’[7]

Dari Hisyam bin Hisan, ia berkata: Hudzail bin Hafshah mengumpulkan kayu bakar di musim panas, lalu ia mengupas kulitnya dan mengambil batangannya, lalu membelahnya. Hafshah (binti Sirin, ibunya) berkata:  ‘Dan aku merasakan dingin, maka bila tiba musim dingin, ia datang membawa tungku, meletakkannya di belakangku, sedang aku berada di tempat shalatku, kemudian ia duduk menyalakan kayu bakar yang sudah dikupas dan batangan yang sudah dibelah sebagai bahan bakar yang asapnya tidak menggangguku dan selalu menghangatkan aku. Hal itu berlangsung cukup lama. Ia berkata : Dan di sisinya ada orang yang bisa menggantikannya bila ia menghendaki hal itu. Ia berkata : Terkadang aku ingin pulang, aku berkata: ‘Wahai anakku, pulanglah kepada keluargamu, kemudian aku menyebutkan apa yang kuinginkan, lalu aku meninggalkannya.’

Hafshah[8] berkata: ‘Tatkala ia wafat, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesabaran kepadanya yang luar biasa, namun aku merasakan sesuatu yang berat yang tidak bisa hilang.’ Ia berkata: Maka tatkala di suatu malam, aku membaca surah an-Nahl, tiba tiba aku sampai pada ayat ini:

وَلاَتَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً إِنَّمَا عِندَ اللهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ )95( مَاعِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَاعِندَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ  [النحل: 95-96] 

Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. * Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an-Nahl/16:95-96]

Ia berkata : lalu aku mengulanginya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan rasa berat yang kurasakan.

Hisyam berkata: Ia (Hudzail) memiliki Unta perahan yang banyak susunya. Hafshah berkata: ‘Ia mengirim kepadaku satu perahan di pagi hari, lalu aku berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya engkau mengetahui bahwa aku tidak meminumnya, aku puasa.’ Ia berkata: ‘Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya sebaik baik susu adalah yang bermalam di tubuh unta, berikanlah minuman ini kepada orang yang engkau kehendaki.’[9]

Abdurrahman bin Ahmad menyebutkan dari bapaknya: Sesungguhnya seorang wanita datang kepada Baqiyy, ia berkata: ‘Sesungguhnya anakku tertawan dan aku tidak berdaya lagi, bisakah engkau menunjukkan kepada orang yang bisa menebusnya, maka sesungguhnya aku kebingungan.’ Ia berkata: ‘Ya, pulanglah sehingga aku melihat perkaranya.’ Kemudian ia menundukkan kepala dan menggerakkan kedua bibirnya. Kemudian setelah beberapa waktu, wanita itu datang bersama anaknya. Ia (sang anak) berkata: ‘Aku berada di bawah kekuasaan seorang raja, ketika aku sedang bekerja, tiba tiba belengguku jatuh. Ia (yang meriwayatkan) berkata: Lalu ia menyebutkan hari dan jam, maka sesuai waktu syaikh tersebut berdoa. Ia berkata: ‘Lalu pengawas kami berteriak, kemudian ia memandang dan kebingungan. Kemudian ia memanggil tukang besi dan mengikatku. Tatkala ia selesai dan aku berjalan, belenggu itu jatuh lagi. Maka mereka kebingungan dan memanggil ulama mereka, mereka berkata: ‘Apakah engkau mempunyai seorang ibu? Aku menjawab : ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘Doanya dikabulkan.’

Peristiwa ini diceritakan oleh al-Hafizh Hamzah as-Sahmy, dari Abu Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik, ia berkata : Aku mendengar Abdurrahman bin Ahmad, ia berkata: Bapakku menceritakan kepadaku…lalu ia menyebutkannya, dan padanya : kemudian mereka berkata: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melepaskan engkau, maka kami tidak bisa mengikat engkau.’ Lalu mereka memberi bekal kepadaku dan mengirim aku.’[10]

[Disalin dari السلف والبر بالأمهات  Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil. Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan putra orang yang dicintainya. Ibunya Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
[2] Jummar nakhlah: yaitu lemaknya yang berada di puncak pohon kurma, ia berwarna putih, bagaikan sepotong punuk unta yang besar, biasanya dimakan dengan madu.
[3] Sifat Shafwah 1/522
[4] Sifat Shafwah 2/143
[5] Sifat Shafwah 3/245
[6] Sifat Shafwah 3/245
[7] Siyar A’lam Nubala’ 6/366
[8] Ia adalah Hafshah binti Sirin, seorang ahli ibadah yang agung, saudari Muhammad bin Sirin, ibu Hudzail.
[9] Sifat Shafwat 4/25
[10] Siyar A’lam Nubala` 13/290.

Memakan Harta Riba

MEMAKAN HARTA RIBA

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah memuliakan umat manusia dengan akal yang bisa digunakan untuk berfikir, dikaruniai tangan yang bisa digunakan untuk bekerja, kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’ala anugerahkan pada mereka metode hidup yang bisa sampai pada jalan petunjuk -Nya. Adapun riba adalah hasil usaha yang buruk yang tidak membawa keberkahan sedikitpun, sebab praktek riba akan mengantarkan pada akhirnya pada penumpukan harta ditangan para rentenir, yang mengatur manusia serta menghukumi seenaknya sendiri. Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan bagi kita jual beli karena didalamnya terkandung keberkahan, selanjutnya –Dia mengharamkan pada kita riba karena tersimpan didalamnya kedzaliman, kerusakan serta kebinasaan.

Suatu kali saya pernah menjumpai seorang pemuda yang dikarunia kepandaian dan kecerdasan, dalam keadaan hidup terhormat dan banyak harta, akan tetapi, dirinya dan juga setan yang bersamanya enggan melainkan harus rela bekerja disebuah bank konvensional, dengan imbalan gaji yang diambil dari sungai darah, mau tidak mau dirinya memakan harta riba, ikut serta sebagai saksi dalam transaksi riba, mengajak orang lain untuk melakukan riba, dirinya dibebani untuk mewakili nasabah untuk perkara riba, ia juga turut mencatat perjanjian riba, sungguh dirinya berada dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.

Terkumpul didalam dirinya sekian banyak keburukan. Disamping itu dirinya secara tidak langsung sedang memerangi Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta mentaati sang pembangkang setan. Padahal Allah Shubhanahu wa Ta’ala sudah mewanti-wanti supaya jangan menjadikan setan sebagai teman karib, Allah Ta’ala mengatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يَكُنِ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَهُۥ قَرِينا فَسَآءَ قَرِينا ﴾ [النساء:38]

“Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya”. [an-Nisaa’/4: 38].

Aku bergumam dalam hati, “Duhai betapa malangnya dia, apakah dia melakukannya karena memang bodoh terhadap hukum dalam masalah ini? atau setan telah menghiasi pekerjaannya sehingga terlihat baik, sehingga dirinya rela memerangi Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya?

Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah menjelaskan secara gamblang dalam masalah riba dengan firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ ﴾ [ البقرة: 275]

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. [al-Baqarah/2: 275].

Penjelasan apa lagi yang dibutuhkan setelah keterangan gamblang seperti ini? Sesungguhnya memakan hasil riba merupakan usaha jelek yang diharamkan, keharaman yang tidak membawa kebaikan sedikitpun, perbuatan maksiat kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, dan faktor terjadinya inflasi pada sebuah negara, serta dijauhkan rahmat dan barakah dari Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya.

Lantas kenapa masih saja ada sebagian orang diantara kita yang berani mencoba untuk memakan harta dari hasil riba, atau menjadi juru tulis ataupun sebagai saksi transaksi riba? Sesungguhnya memakan harta riba faktor yang akan diperangi oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya, maka ini saja sudah cukup bagi kita sebagai cambuk untuk lari dan membuktikan bahayanya riba bagi pribadai dan umat.

Lantas siapakah yang mampu menolong dan meneguhkannya bila harus berperang sedangkan yang dilawan adalah Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya. Allah Shubhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغۡلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِيٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيز ﴾ [المجادلة: 21]

“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul -Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. [al-Mujaadilah/58: 21].

Memakan harta riba adalah perkara yang diharamkan oleh syari’at Islam dengan berbagai macam jenis dan caranya. Baik dalam keadaan mengambil maupun yang memberinya, sebagai penulis maupun saksinya, disebabkan yang terkandung dalam transaksi riba termasuk kedzaliman yang besar terhadap orang lain, memakan harta mereka dengan cara yang batil, dengan cara mnutupi tipu dayanya dalam bentuk kebaikan, santunan, bantuan ataupun pinjaman, atau penangguhan terhadap hutang yang sudah ada. Allah ta’ala secara tegas menyatakan terhadap mafia riba ini dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ – فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡب مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ  ﴾ [ البقرة: 278-279]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul -Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.  [al-Baqarah/2: 278-279].

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

وعن جابر رضي الله عنه قال: لَعَنَ رَسُولُ الله ﷺ آكِلَ الرِّبَا، وَمُوْكِلَـهُ وَكَاتِبَـهُ، وَشَاهِدَيْـهِ، وَقَالَ: هُـمْ سَوَاءٌ. أخرجه مسلم

“Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan harta riba, yang memberi kuasa, juru tulisnya, serta saksinya. Dan beliau bersabda; “Mereka dalam dosa sama rata”. [HR Muslim no: 1598]

Adapun bank-bank konvesional maka sekarang masuk menyerbu negeri-negeri Islam dengan aturan dan hukum yang mereka buat sendiri, hingga gedung-gedung mereka bertebaran menyaingi masjid-masjid yang ada, menumpuk ditempat-tempat perbelanjaan yang disesaki oleh pengunjung. Kondisinya sudah semakin parah, ketika hati seorang muslim telah mati tidak merasakan getaran apa-apa, ketika masuk kedalam masjid dan masuk kedalam bank konvesional.

Betapa buruk kondisi umat yang ada sekarang ini, nilai keberkahan harta semakin terkikis habis, ditambah kerusakan moral disana-sini, itu semua disebabkan karena mereka telah menyelisihi metode yang telah digariskan oleh Allah Shubhanahu wa Ta’ala, disamping itu karena mereka berani memerangi Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan Rasul -Nya. Lantas kerugian apa lagi yang dirasakan oleh umat setelah ini? Dan yang sangat disayangkan sekali banyak harta kaum muslimin yang di investasikan lewat bank-bank riba ini, anehnya, yang mencatat transaksi perjanjian riba tersebut adalah muslim, yang memakan hasilnya juga muslim, yang menyewa bank riba juga muslim! Kita hanya mampu mengadu kepada -Nya sambil berdo’a:

قال الله تعالى: ﴿ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴾ [ آل عمران: 8]

“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.  [al-Imraan/3: 8].

Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan jual beli karena itul merupakan hasil usaha yang baik, dan mengharamkan riba disebabkan usaha yang buruk, dan Allah Shubhanahu wa Ta’ala akan menghancur leburkan riba dimuka bumi, serta menyiksa pelakunya kelak diakhirat, Allah Shubhanahu wa Ta’ala menyatakan hal itu dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴾ [ البقرة: 276]

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.  [al-Baqarah/2: 276].

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ketika beliau menerangkan makna firman Allah Ta’ala dalam surat Maryam, yang artinya: “Maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.[1] Didalam lembah neraka Jahanam, sesungguhnya lembah Jahanam dipersiapkan khusus yang memiliki kadar kepanasan api yang luar biasa, Allah Shubhanahu wa Ta’ala persiapkan lembah tersebut bagi para pezina yang terang-terangan melakukan perbuatan zina, pemabuk yang sudah candu, pemakan harta riba yang belum melepasnya, anak-anak yang durhaka pada kedua orang tuanya, orang yang bersaksi palsu, dan seorang wanita yang memasukan anak pada suaminya tapi bukan hasil persetubuhan dengannya (berzina)”.

Apakah kita sudah membaca kitab Rabb kita? Apabila sudah membacanya, apakah kita telah mentadaburinya? Apabila sudah merenungi maknanya, apakah kita sudah mengamalkan isi kandungannya? Kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala agar sekiranya memberi petunjuk kepada kita pada jalan lurus.

[Disalin dari أكل الربا Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] . QS Maryam/19: 59.

Bangga Dengan Jenggot

BANGGA DENGAN JENGGOT

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’ala, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’ala beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’ala sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Kita semua menyakini bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala lah pencipta tunggal umat manusia, kemudian setelah itu -Dia menjelaskan pada manusia metode hidup yang harus ditempuhnya dalam mengarungi kehidupan ini, mulai dari penampilan, kepribadian, makan, minum, tata cara beribadah serta tatanan bermasyarakat. Allah ta’ala menjelaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ  [ النحل: 89]

“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. [an-Nahl/16: 89].

Adapun jenggot adalah perhiasan bagi lelaki muslim, dimana Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  selaku suri tauladan kita juga memanjangkan jenggotnya, bahkan beliau memerintahkan supaya kita memanjangkan jenggot dan memeliharanya, kemudian menyuruh kita supaya memendekan kumis. Dan bila kita perhatikan, sungguh setan telah berhasil dengan banyak menyesatkan umat manusia, dengan cara menghiasi perilaku jelek mereka seakan-akan baik, lalu menyuruh pengikutnya untuk memotong yang sejatinya mereka diperintah oleh penciptanya agar memeliharanya, kemudian setan juga melarang penggemarnya untuk memotong sesuatu yang seharusnya mereka diperintahkan agar memotongnya, mereka menuruti dan mentaati setan, dan pada dasarnya mereka sedang digiring oleh setan menuju adzab neraka yang menyala-nyala. Allah Shubhanahu wa ta’ala mengatakan hal itu dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ لَّعَنَهُ ٱللَّهُۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنۡ عِبَادِكَ نَصِيبا مَّفۡرُوضا ١١٨ وَلَأُضِلَّنَّهُمۡ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمۡ وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيۡطَٰنَ وَلِيّا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدۡ خَسِرَ خُسۡرَانا مُّبِينا ١١٩﴾ [ النساء: 118- 119]

“Yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata“. [an-Nisaa’/4: 118-119].

Suatu ketika aku pernah bertemu dengan seseorang yang berbadan kekar dengan wajah berseri, melakukan sholat disalah satu masjid bersama kaum muslimin, seusai sholat saya perhatikan dirinya langsung menuju ke sebuah salon pangkas rambut, disana sudah ada seorang pelanggan yang sedang antri menunggu giliran, setelah tiba gilirannya kemudian dirinya mencukur jenggotnya yang tumbuh, dan membiarkan kumisnya memanjang. Kemudian setelah selesai dirinya mengambil upah, sambil berseri pelanggannya mengucapkan terima kasih atas jasanya, lalu dia jawab dengan senyuman manis. Seperti itulah dirinya beraktifitas setiap harinya, terkadang mencukur jenggot, pertama, kedua, ketiga dan keempat sampai datangnya waktu sholat kembali.

Aku pun bergumam dalam hati, “Duhai sayang sekali, apakah sudah demikian keadaan sholat, mati  penghayatannya ketika sudah berada diluar masjid, tidak tersisa buah yang bisa dipetik pelakunya? Duhai sungguh meruginya, apakah kondisinya seperti itu, hukum syari’at dilanggar terang-terangan tanpa ada perasaan segan sedikitpun, merubah kenikmatan hidup hanya untuk sekelompok orang? Apakah kondisinya sudah terbalik, perkara jelek dianggap baik, sehingga ada dikalangan pribadi umat yang rela tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan maksiat?

Sesungguhnya sholat adalah sarana penghubung antara hamba dan Rabbnya, seorang hamba berserah diri didalam sholat bagi penciptanya, dirinya bertakbir, dan memuji -Nya, merendahkan diri dihadapan -Nya, mentaati perintah -Nya, menjauhi larangan -Nya, meminta kebutuhan dirinya, kemudian mengucapkan tahyat penutup kepada Allah azza wa jalla.

Berawal dari sinilah, sholat itu bisa berperan sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana digambarkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:   ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ  [ العنكبوت: 45]

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [al-‘Ankabuut/29: 45].

Efek baik seperti apa yang masih tersisa dari ibadah sholat yang rutin dilakukan bagi orang yang  masih mencukur habis jenggotnya, dan berbuat maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan Rasul -Nya ditengah-tengah makhluk -Nya.

Sungguh kondisi masyarakat muslim sekarang sudah sampai pada taraf mengikuti adat kebiasaan yang tidak dibenarkan oleh syari’at seperti memotong jenggot atau mencukurnya, yang kemudian perilaku tersebut justru dianggap baik menurut setan dari kalangan jin dan manusia, sehingga banyak yang terperdaya orang jerat-jeratnya, berani untuk mencukur jenggot, entah orang itu yang berkedudukan, atau orang awam, orang mulia dan biasa, besar maupun kecil, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Allah ta’ala menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَناۖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ  [ فاطر: 8]

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki -Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki -Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. [Faathir/35: 8].

Dan sebagian orang benar-benar merasa tenang ketika mencukur jenggotnya, sampai sekiranya tidak dijumpai sebuah lingkungan dalam intansi pemerintah atau sekolahan, dijalan atau masjid, melainkan engkau dapati para pegawainya yang mencukur jenggot, mereka berlalu lalang dihadapanmu dimanapun engkau pergi dan tinggal, tentunya ini merupakan musibah.

Apabila engkau mengetahui kalau sekiranya sebagian diantara mereka yang menjadikan hari jum’at yang merupakan hari yang paling utama diantara hari-hari yang lain, sebagai hari bersih-bersih dan sebagai batas waktu untuk mengerok jenggotnya, engkau baru sadar sampai seberapa jauh para penentang sunah Nabi ini, dan seberapa besar ketaatan mereka pada setan, yang memperdaya para hamba Allah azza wa jalla. Allah Shubhanahu wa ta’ala menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ  [ النور: 63]

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah -Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [an-Nuur/24: 63].

Dan perkara yang lebih besar lagi dari hal itu ialah bahwa mencukur jenggot berubah menjadi tren dan gaya hidup dalam berpenampilan pada sebagian orang, dirinya merasa ada seuatu yang kurang bila ketika menghadiri sholat jum’at, atau iedul fitri, atau pesta pernikahan atau yang lainnya belum menyempatkan untuk mencukur jenggotnya terlebih dahulu. Allah ta’ala menegur orang-orang semacam ini dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ [ الحج: 46]

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. [al-Hajj/22: 46].

Sesungguhnya memotong jenggot adalah perilaku yang diharamkan dalam syari’at Allah azza wa jalla, dan termasuk dalam kategori perbuatan maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Shubhanahu wa ta’ala menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا  [ النساء: 115]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [an-Nisaa’/4: 115]

Dijelaskan dalam sebuah riwayat, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Selisihilah perilaku orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot kalian dan pendekkan kumis-kumis kalian“. [HR Bukhari no: 5892. Muslim no: 259]

Dalam redaksinya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  dijelaskan bahwa Nabi bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ » [أخرجه مسلم]

Pendekkanlah kumis-kumis kalian, biarkanlah jenggot kalian memanjang, selisihilah perilaku orang-orang majusi“. [HR Muslim no: 260]

Dan telah datang penjelasan yang menerangkan larangan untuk mencukur jenggot, dan perintah supaya dibiarkan dan dipanjangkan, lebih dari dua belas hadits shahih dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  dengan lafad yang berbeda-beda “A’fuu, Aufuu, Arikhuu, dan Wafiruu” yang semuanya mempunyai makna sinonim yaitu biarkan jenggot tumbuh apa adanya.

Dan dalam redaksi riwayat-riwayat yang shahih ini datang dengan lafad perintah, dan dalam kaidah ushul fikih diterangkan bahwa perintah itu menunjukan pada kewajiban, dan dalam riwayat tersebut diatas tidak ada perkara yang bisa memalingkan dari kewajibannya. Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Barangsiapa membikin perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada sumbernya maka perkara tersebut tertolak“. [HR Bukhari no: 2697. Muslim no: 1718].

Bahkan perhatian beliau untuk selalu membiarkan jenggotnya tumbuh, beliau lakukan sepanjang hayat hidupnya, demikian pula para sahabatnya yang mulia radhiyallahu ‘anhum, juga melakukan hal tersebut, maka ini sebagai bukti nyata yang jelas tentang wajibnya memelihara jenggot, dan haramnya mencukur jenggot. Jika demikian kenapa kita harus bersusah payah menyelisihi perintahnya dan tidak menjadikan sebagai suri tauladan yang baik bagi kita. Sedangkan Allah Shubhanahu wa ta’ala telah menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang baik bagi setiap mukmin, sebagaimana dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى:  لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَة لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرا [ الأحزاب: 21 ]

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [al-Ahzab/33: 21].

Pada hakekatnya orang yang mencukur jenggot adalah orang yang terang-terangan melakukan perbuatan maksiat, dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Setiap umatku mendapat ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan (melakukan maksiat)”. [HR Bukhari no: 6069. Muslim no: 2990].

Orang yang mencukur jenggot sejatinya sedang menyerupai perilaku orang-orang kafir, yang mana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam   mengancam bagi mereka dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « من تشبه بقوم فهو منهم » [أخرجه أحمد وأبو داود]

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dirinya seperti mereka“. [Hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad no: 5114.  Abu Dawud no: 4013].

Dan pada dasarnya orang yang mencukur jenggotnya sama saja dirinya sedang menyelisihi fitrah penciptaanya, karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ » [أخرجه مسلم]

Sepuluh perkara termasuk fitrah, memotong kumis, membiarkan jenggot, bersiwak, intinsyak (menghirup air kehidung), memotong kuku, menyela-yela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan bercebok“. [HR Muslim no: 261. Dan yang kesepuluhnya adalah berkumur-kumur sebagaimana disebutkan dalam redaksi yang lain].

Sungguh celaka bagi orang yang dikarunia akal namun tidak digunakan untuk berfikir, dikasih mata hati lalu tidak digunakan untuk merenungi, mengingat, takut dan malu kepada Rabbnya. Padahal Allah Shubhanahu wa ta’ala menyatakan dalam firmanNya:

قال الله تعالى:  أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ وَٱللَّهُ غَفُوررَّحِيم  [ المائدة: 74]

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada -Nya ? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[al-Maa-idah/5: 74]

Sungguh setan telah mentertawakan begitu banyak orang, dan menjadikan mereka sebagai bala tentaranya yang taat dan menuruti kemauannya, mereka diarahkan untuk gemar bermaksiat, dan menjauhkan supaya mereka enggan menjalankan ketaatan kepada -Nya. Bukankah engkau menyadari bahwa yang mencukur jenggot orang adalah seorang muslim, yang meminta supaya dicukur juga seorang muslim, yang satu mencukur jenggot menggunakan kedua tangannya dan yang satu lagi mengeluarkan ongkos untuk membayar pekerjaannya.

Tentu, keduanya telah sama-sama bersekutu didalam perbuatan maksiat kepada -Nya, dan sama-sama bersekutu didalam mentaati perintah setan. Allah ta’ala telah menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّ مُّبِين ٦٠ وَأَنِ ٱعۡبُدُونِيۚ هَٰذَا صِرَٰط مُّسۡتَقِيم ٦١ وَلَقَدۡ أَضَلَّ مِنكُمۡ جِبِلّا كَثِيرًاۖ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ٦٢ ﴾ [ يس: 60-62]

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah -Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka Apakah kamu tidak memikirkan?”. [Yaasin/36: 60-62].

Sesungguhnya lelaki sejati adalah yang keluar dari penampilan sifat dan kebiasaan wanita kemudian beralih pada kepribadian lelaki sejati, tidak menggubris perkara yang dicintai oleh setan namun menggantinya dengan perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah azza wa jalla.

Dan bila ditanya, mencukur jenggot perbuatan taat atau maksiat? dapat dipastikan, tidak ada seorangpun yang berani untuk menyatakan bahwa mencukur jenggot termasuk perbuatan taat, tidak ada pilihan melainkan dia akan mengatakan hal itu termasuk maksiat, disebabkan telah datang penjelasan yang banyak dari hadits yang menyuruh supaya memanjangkan dan memelihara jenggot. Dan Allah ta’ala menjelaskan kepada kita dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧ ﴾ [ الحشر: 7]

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. [al-Hasyr/59: 7].

Lantas apa balasan bagi orang yang berbuat maksiat kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan Rasul -Nya? Allah menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَٰلِدا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَاب مُّهِين  ﴾ [ النساء: 14]

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul -Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan -Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”. [an-Nisaa’/4: 14]

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu, mengikuti langkah-langkah setan, adalah kebiasaan yang Allah Shubhanahu wa ta’ala tidak menurunkan petunjuk sama sekali.

Dan jika terkumpul dalam diri seorang hamba lalu menganggap baik kebiasaan tersebut, maka sama saja dirinya sedang memasukan ke dalam adzab yang pedih. Allah ta’ala menyatakan dalam firman -Nya

قال الله تعالى: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ  [ لقمان: 21]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”. [Luqman/31: 21]

Duhai para pemuda Islam, rambut jenggot kenapa harus kalian potong dan lempar kedalam tempat sampah, lalu kenapa justru kumis yang engkau biarkan panjang, sehingga ketika engkau makan turut serta makan dan minum.  Apakah kita menyadari bahwa itu termasuk perbuatan maksiat? kalau sekiranya kita sudah mengetahuinya apakah kita ada usaha untuk memuliakan seperti yang Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  lakukan, kita mencukupkan seperti beliau mencukupkan diri?

Kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala, semoga memberi petunjuk dan taufik kepada kita untuk mengerjakan apa yang dicintai dan diridhoi oleh -Nya.

[Disalin dari حلق اللحية   Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijr, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]