Author Archives: editor

Belajar Fiqih Harus Mengikuti Salah Satu Dari Empat Madzhab?

MADZHAB(1)

Oleh
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili -hafizhahullaah-

Pertanyaan.
Apa pendapat anda tentang perkataan salah seorang dari mereka: “Untuk belajar fiqih harus mengikuti salah satu dari empat madzhab, dan berpegang dengan salah satu madzhab yang mu’tamad ini.” Dan bahwa Al-Albani, (Muqbil) Al-Wadi’i dan semisal keduanya: Telah merusak ilmu fiqih; karena mereka mendakwahkan fiqih hadits dan atsar saja.

Jawaban.
Pertama: Jawaban atas bagian pertama dari pertanyaan ; yaitu bahwa “harus mengikuti madzhab fiqih dalam belajar fiqih”. Maka perkataan bahwa kita (harus) mengikuti madzhab fiqih ; maka ini tidak benar.

Tapi (yang benar) adalah : Harus mengikuti ulama dalam belajar ilmu, karena Allah -Ta’aalaa- berfirman:

فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [An-Nahl/16 : 43]

Maka jangan sampai seorang pada zaman sekarang : dia menghafal Al-Qur-an dan besoknya langsung beristinbath (mengambil hukum) permasalahan-permasalahan dalam kitab fiqih, mentafsirkan Al-Qur-an dan membaca hadits; kemudian menulis kitab tentang syarah hadits tanpa kembali kepada ulama.

Akan tetapi ulama tidak dibatasi pada imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad). Maka jika seorang penuntut ilmu belajar kepada ulama; sama saja apakah ulama muhadits yang tidak bermadzhab dengan salah satu madzhab imam yang empat atau yang menisbatkan diri kepada salah satu imam yang empat dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yang penting harus kembali kepada ulama.

Allah berfirman:

فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” [An-Nahl/16: 43]

Allah tidak berfirman: Maka bertanyalah kepada imam yang empat.

Maka imam yang empat tersebut tidak berkaitan dengan hukum. Barangsiapa yang mengatakan bahwa tidak boleh keluar dari madzhab yang empat; maka inilah yang salah.

Sampai Ibnu Rajab -dengan kemuliaannya- menulis risalah –dan tidak ada seorang ulama pun melainkan memiliki ketergelinciran– beliau berkata: “Tidak boleh keluar dari madzhab yang empat, dan ijma’ mereka itulah ijma’.” Maka para ulama mengingkari beliau, padahal beliau memiliki keutamaan besar.

Maka perkataan bahwa harus belajar fiqih kepada ulama; (itulah yang benar). Tidak boleh penuntut ilmu mencukupkan diri hanya dengan melihat kepada dalil, karena dia tidak memiliki kemampuan untuk memahami dalil. Dia harus kembali kepada para ulama ahli tafsir dan para ulama pensyarah hadits; baik para ulama tersebut dari imam yang empat maupun selainnya.

Kedua : Adapun bagian kedua dari pertanyaan ; yaitu pernyataan bahwa “Syaikh Al-Albani dan Syaikh Muqbil Al-Wadi’i merusak ilmu, dengan alasan karena tidak bermadzhab.”  Maka ini adalah kebodohan terhadap madzhab para syaikh tersebut dan juga kebodohan terhadap Sunnah.

Para syaikh tersebut tidaklah mendakwahkan manusia untuk kembali kepada dalil tanpa mengambil fiqih para ulama. Seorang tidak bermadzhab dengan salah satu madzhab yang empat ; bukan berarti dia tidak mengambil perkataan para ulama sama sekali.

Apakah Al-Albani tidak kembali kepada para ulama? Dan apakah Muqbil Al-Wadi’i tidak kembali kepada ulama? Mereka kembali kepada perkataan ulama.

Akan tetapi sebagian orang memberikan pernyataan: “Jika seseorang tidak bermadzhab dengan salah satu madzhab yang empat ; maka berarti dia tidak kembali kepada seorang ulama pun!” Maka ini tidak benar. Ini masalah lain; yaitu bahwa ahli ilmu jika mengatakan bahwa dia tidak bermadzhab dengan madzhab tertentu ; maka maknanya dia tetap kembali kepada para ulama dan mengambil faedah dari ilmu mereka. Inilah yang dilakukan oleh para syaikh tersebut.

Syaikh Al-Albani membawakan perkataan para ulama di kitab-kitab beliau; baik dalam masalah “rijaal” (para perawi) maupun fiqih Sunnah. Beliau tidak mempergunakan ra’yu (pendapat pribadi)nya tanpa kembali kepada perkataan para ulama. Syaikh Muqbil juga demikian. Semua ulama (para masya-yikh) tersebut mengambil perkataan ulama, mengambil perkataan Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Taimiyyah juga mengambil perkataan ulama sebelumnya. Maka seorang ‘alim yang kembali kepada para ulama dan mengatakan: “saya tidak bermadzhab dengan madzhab tertentu”; ini bukan berarti dia tidak mengambil perkataan para ulama.

Maka mereka (yang mengatakan bahwa para syaikh tersebut merusak fiqih) : Telah bodoh terhadap kedudukan para ulama (masya-yikh) dan telah bodoh terhadap jalan para ulama tersbut serta telah su-u zhann (berprasangka buruk) terhadap mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam: “Mereka yang mencela para Salaf; maka telah menggabungkan antara kebodohan terhadap para Salaf dan su-u zhann terhadap mereka.” Demikian juga orang-orang ini : Telah menggabungkan antara su-u zhann terhadap para ulama tersebut dan bodoh terhadap jalan mereka. Syaikh Al-Albani tidaklah berkembang melainkan di atas kitab-kitab para ulama ; dalam Jarh Wa Ta’dil, dalam pen-shahih-an dan pen-dha’if-an dan dalam fiqih Sunnah, Syaikh Muqbil juga demikian, dan Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin; mereka semua tidak bermadzhab dengan madzhab tertentu. Akan tetapi bukan berarti mereka tidak kembali kepada perkataan para ulama.

Dan umumnya penuntut ilmu pada zaman sekarang adalah tidak bermadzhab dengan madzhab tertentu. Mereka menulis kitab-kitab tapi tidak mengambil dari kepala (pendapat) mereka sendiri, justru mereka kembali kepada perkataan para ulama. Oleh karena itulah mereka menukil dari Abu Hanifah, dari Malik, dari Asy-Syafi’i, dari Ahmad, dari Ibnu Taimiyyah, dari Al-Albani, dari Bin Baz. Inilah jalan yang benar, dengan tanpa bermadzhab dengan madzhab tertentu.

Akan tetapi jika tidak didapatkan di suatu negeri kecuali madzhab fiqih tertentu ; maka tidak mengapa mengambil dari ulama yang ada di negeri tersebut -sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam-. Jika tersebar sebuah madzhab atau kitab; maka tidak mengapa. Karena madzhab-madzhab ini adalah madzhab Ahlus Sunnah, dan tidak katakan itu madzhab-madzhab bid’ah. Akan tetapi yang tercela adalah fanatik terhadap madzhab tertentu dengan mengatakan: “Kebenaran ada pada madzhab ini dan tidak akan didapatkan di luar madzhab.” Inilah yang tercela. Adapun ulama yang bermadzhab Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Malik, atau Ahmad; maka mereka termasuk ulama Ahlus Sunnah. Tapi tidak boleh ta’ashshub (fanatik) terhadap mereka.”

Disalin dari Ahmad Hendrix

Suka Memaafkan Serta Keutamaannya

SUKA MEMAAFKAN SERTA KEUTAMAANNYA

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.  Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Memaafkan merupakan sifat terpuji dan bagian dari akhlak mulia yang telah diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa Ta’alla pada para nabi serta hamba -Nya. Berdasarkan irman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

قال الله تعالى: خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [al-A’raaf/7: 199].

Dijelaskan lebih tegas lagi dalam bentuk perintah kepada nabiNya, dan umatnya secara umum, Allah berfirman:

قال الله تعالى: وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْمِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka”. [al-Imraan/3: 159].

Demikian juga perintah Allah ta’ala pada hamba -Nya yang beriman secara umum, seperti ditegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [an-Nuur/24: 22].

Definisi al-‘Afwu:
Berkata al-Kafawi menjelaskan, “al-‘Afwu artinya ialah tidak menyakiti (orang yang telah berbuat jahat padanya) walaupun mampu untuk membalasnya”. Dan setiap orang yang berhak mendapat balasan yang setimpal atas perilakunya, kemudian yang disakitinya tidak menuntut balas dan dirinya ikhlas dan mampu untuk itu, dan ia membiarkannya maka itulah yang dinamakan al-‘Afwu (memaafkan). Dan perbedaan antara al-‘Afwu dengan ash-Shafhu (berlapang dada) sangat tipis, dan keduanya mempunyai kemiripan dalam makna, akan tetapi, bila dikatakan misalkan, “Aku berlapang dada”, yakni bilamana ada orang yang menyakiktiku lalu dia aku maafkan dan biarkan kesalahan dan celaan yang ditujukan padaku”.

Dan ash-Shafhu itu cakupan maknanya lebih luas dari hanya sekedar memaafkan, karena bisa jadi ada orang yang dapat memaafkan namun belum bisa menerimanya, seperti dikatakan, “Aku berlapang dada atasnya”, yaitu manakala dia memprioritaskan untuk membiarkan sambil menerimanya dengan ikhlas. Hal itu, seperti telah disinggung oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: فَٱصۡفَحۡ عَنۡهُمۡ وَقُلۡ سَلَٰمٞۚ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)”. [az-Zukhruf/43: 89].[1]

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah Shubhanahu wa Ta’alla dalam surat an-Nuur diatas dengan mengatakan, “Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar ash-Shidiq Radhiyallahu anhu, yaitu manakala beliau bersumpah tidak akan memberi apa-apa lagi kepada Misthah bin Atsatsah setelah terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Maka tatkala turun firman Allah Shubhanahu wa Ta’alla yang menyatakan kesucian umul mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, melegakan semua orang dari kaum mukminin, dan merasa bahagia serta tentram atasnya, kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’alla menerima taubatnya orang-orang yang ikut serta menyebarkan berita bohong tersebut dari kalangan mukminin. Dan memerintahkan supaya ditegakan hukuman bagi mereka sebagai balasannya.

Dan atas anugerah dan keutamaan yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla berikan, pada Abu Bakar yang biasa menyambung kekerabatan bersama sanak keluarga dan kerabat, dan diantara mereka ada yang bernama Misthah bin Atsatsah anak dari bibinya, dia seorang yang fakir yang tidak mempunyai harta. Dan ketika itu dirinya terlibat di dalam menyiarkan berita bohong tersebut dan telah bertaubat serta ditegakan hukuman cambuk baginya.

Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang terkenal dengan kedermawanannya, beliau banyak membantu pada sanak kerabat dan juga orang lain, maka tatkala turun firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

قال الله تعالى: أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [an-Nuur/24: 22].

Artinya balasan yang mereka lakukan setimpal dengan perbuatannya. Sebagaimana Engkau telah mengampuni hamba yang berbuat dosa pada-Mu, Kami juga telah mengampunimu. Dan sebagaimana engkau memaafkan, Kami juga memaafkan kesalahanmu.

Maka tatkala mendengar hal tersebut Abu Bakar langsung mengatakan, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami”. Kemudian beliau kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya yang bernama Misthah. Dan beliau mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan mencabut sedekah untuknya selama-lamanya. Demi Allah, aku tidak akan menuntut balas pamrih darinya selama-lamanya”.

Ibnu Katsir mengomentari ucapan Abu Bakar tadi dengan mengatakan, “Oleh karena itulah dirinya dijuluki ash-Shidiq karena kejujuran dan keimanannya”.[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, berkata; “Uyainah bin Hishan pernah datang menemui Umar bin Khatab. Kemudian dia berkata, “Inilah wahai Ibnu Khatab, demi Allah kamu tidak pernah memberi pemberian pada kami, tidak pula menghukumi kami secara adil”. Mendengar hal itu, Umar langsung naik pitam, marah sampai dirinya berkeinginan buruk padanya.

Lalu budak beliau berkata mengingatkan, “Wahai Amirul mukminin, (ingatlah) sesungguhnya Allah Ta’ala berkata pada Nabi-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaih wa sallam:

قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [al-A’raaf/7: 199].

Sikap seperti ini adalah sikapnya orang jahiliyah”. Sang rawi mengatakan,

وَاللهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللهِ

Demi Allah tidak sampai sempurna ayat tersebut dibacakan pada Umar melainkan dirinya langsung redam emosinya. Dan beliau adalah orang yang paling memuliakan terhadap firman Allah“. [HR Bukhari no: 4642].

Imam Syafi’i mengatakan dalam lantunan bait syairnya:

 Mereka menghardik agar aku diam, sedang mereka yang memulai permusuhan.
Aku katakan, ‘Sesungguhnya membalas kejelakan pintunya sangat terbuka lebar’
Namun, memaafkan orang bodoh lagi pandir itu memiliki kemuliaan
Didalamnya ada kebaikan serta menjaga kehormatan orang
Seekor singa akan tetap diam dan tenang bila tidak diganggu
Sedang anjing bila dilemparin batu ia menyalak dengan suara yang keras

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ . ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. [al-Imraan/3: 133-134].

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriyawatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah , bahwa Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ » [أخرجه مسلم]

Tidaklah sedekah itu mengurangi dari harta sedikitpun. Tidaklah ada seseorang yang memberi maaf pada orang lain melainkan itu kemulian baginya, dan tidaklah ada seorang hamba yang tawadhu kecuali Allah akan angkat derajatnya“. [HR Muslim no: 2588].

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pemaaf dan berlapang dada. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم» [أخرجه البخاري و مسلم]

“Ada seseorang yang datang padaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat diatas kepalaku namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada ditangannya. Kemudian dia berkata padaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu? Aku menjawab, “Allah”. Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu? Aku menjawab kembali, “Allah”. Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk dan Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak membalasnya”. [HR Bukhari no: 2910. Muslim no: 843]. Dalam redaksi lain, “Kemudian Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyakiti orang tersebut”. [HR Bukhari no: 4135].

Suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para pembesar Quraisy yang dahulu pernah menyakiti dirinya, serta membunuh para sahabat dan mengeluarkan beliau dari negeri yang beliau cintai, beliau mengatakan pada mereka, “Pergilah karena kalian semua bebas”.[3]

Didalam musnadnya Imam Ahmad diriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, beliau menceritakan, “Tatkala peperangan Uhud ada enam puluh dari kalangan sahabat Anshar yang mati syahid, sedangkan dari kalangan Muhajirin ada enam orang. Maka para sahabat Rasulallah berkata, “Kalau seandainya nanti kita mendapati hari seperti hari ini atas kaum musyrikin (bertemu kembali), benar-benar kami akan membunuh mereka lebih banyak lagi”.

Manakala datang hari penaklukan kota Makah, berkata seorang yang tidak dikenali namanya, “Habis sudah riwayat Quraisy pada hari ini”. lalu terdengar suara lantang dari muadzinnya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyeru, “Semuanya aman, jangan ada diantara kalian yang membunuh seorang pun kecuali fulan dan fulan”, lalu disebut beberapa nama pesohor orang-orang kafir. Maka turunlah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”. [an-Nahl/16: 126].

Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم: ” نَصْبِرُ وَلَا نُعَاقِبُ

Bahkan kami memilih untuk bersabar dan tidak membalas kejelekan mereka“. [HR Ahmad 35/152 no: 21229].

Pemaaf ini juga merupakan salah satu sifat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tercantum didalam Taurat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhuma, bahwa Atha bin Yasar pernah meminta pada dirinya untuk mengabarkan tentag sifat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tercantum didalam Taurat?

قَالَ: أَجَلْ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا، وَمُبَشِّرًا، وَنَذِيرًا، وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ المُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ، وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ

Beliau menjawab, “Tentu, sesungguhnya dirinya disifati didalam Taurat dengan beberapa sifat yang ada didalam al-Qur’an. Wahai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan serta penjaga bagi para kaum yang umi (tidak bisa baca tulis). Engkau adalah hamba dan utusanKu, Aku beri nama dirimu al-Mutawakil, tidak kasar lagi berperangai buruk, tidak berteriak-teriak dipasar, tidak membalas perbuatan buruk dengan yang semisalnya, akan tetapi memaafkan dan memohonkan ampun“. [HR Bukhari no: 2125].

Pemaaf juga merupakan sifatnya para nabi yang terdahulu, seperti yang dijelaskan oleh Allah ta’ala tentang nabi -Nya Yusuf  ketika dirinya berkata pada saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya, Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengkisahkan:

قال الله تعالى:  قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang”. [Yusuf/12: 92].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, berkata, “Seakan-akan aku pernah melihat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seorang nabi dari kalangan para nabi Bani Israil yang dipukul oleh kaumnya sampai berdarah, lantas dirinya mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ» [أخرجه البخاري و مسلم]

Ya Allah ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. [HR Bukhari no: 3477. Muslim no: 1792].

Disamping  itu, sifat pemaaf juga merupakan ahklaknya para ulama dan orang-orang sholeh. Di kisahakan pada zamannya Khalifah al-Mu’tashim, dirinya pernah menjebloskan Imam Ahmad ke dalam penjara dan memukulnya dengan cemeti sampai dirinya pingsan, serta darah mengalir disekujur tubuhnya, akan tetapi, Imam Ahmad berkata, “Aku jadikan kehormatanku halal untuk Abu Ishaq –yakni Mu’tashim- dan aku telah maafkan dirinya”.

Imam Malik, beliau pernah dimasukan kedalam penjara dan dipukul dengan pecut sampai tangannya patah, namun beliau memaafkan orang yang menyiksanya. Dan bila mau dikumpulkan kisah-kisah mereka akan sangat banyak sekali kisah para ulama yang menunjukan bagaimana mereka dalam melazimi sifat memaafkan ini.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Aku tidak senang bila membela diriku semata dari seseorang dengan sebab karena kedustaan yang ditimpakan padaku, atau kedzaliman serta permusuhan terhadapku. Sesungguhnya aku telah menghalalkan setiap muslim (yang pernah menyakitiku). Dan saya mencintai kebaikan bagi setiap muslim, dan ingin bagi setiap mukmin melakukan kebaikan seperti yang aku cintai bagi diriku. Adapun orang-orang yang mendustakan dan berbuat dholim atasku maka mereka semua telah aku maafkan”.[4]

Diantara perkara yang perlu dingatkan disini, bahwa memaafkan harus ada ketentuannya yaitu bisa memperoleh kebaikan. Allah ta’ala menjelaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ

“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. [asy-Syuura/42: 40].

Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Sa’di ketika menafsirkan ayat diatas, “Allah Shubhanahu wa Ta’alla akan membalas dengan pahala yang besar, dan ganjaran yang agung. Dan Allah memberikan syarat ketika memaafkan dengan adanya perbuatan baik didalamnya, ini menunjukan bahwasanya seorang pelaku kejahatan tidak layak untuk dimaafkan, karena maslahat syar’iyah mengharuskan dirinya untuk dihukum, oleh karena itu dalam kasus seperti ini tidak mungkin perintah untuk memaafkan diterapkan, kemudian Allah Shubhanahu wa Ta’alla menjadikan pahala orang yang memaafkan di atas tanggungan -Nya, sehingga hal ini membangkitkan semangat orang untuk senang memaafkan. Dan hendaknya seorang hamba berinteraksi dengan sesama makhluk yang ia sukai sebagaimana dirinya suka bila Allah Shubhanahu wa Ta’alla memperlakukannya dengan baik. Sebagaimana dirinya senang bila Allah Shubhanahu wa Ta’alla memaafkan kesalahannya maka begitu pula maafkanlah kesalahan mereka. Sebagaimana pula dirinya mencintai bila Allah Shubhanahu wa Ta’alla memberi udzur padanya maka begitulah hendaknya dia juga memberi udzur pada mereka, karena sesungguhnya balasan tersebut setimpal dengan amal perbuatannya”.[5]

Dan barangsiapa yang mampu menerapkan dalam kondisi semacam ini maka hendaknya ia memuji -Nya atas karunia nikmat yang demikian besar baginya, atas ketentraman jiwa yang dirasakan, dan begitu banyak buah kebaikan yang bisa ia petik. Dan dianjurkan bagi tiap muslim untuk banyak memohon agar dirinya dimaafkan oleh Allah azza wa jalla. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku pernah bertanya, “Ya Rasulallah, apa yang hendaknya aku ucapkan manakala aku mengira bahwa diriku mendapati malam lailatul Qodar? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني » [أخرجه الترمذي]

“Ucapkan, Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau mencintai untuk memaafkan maka maafkan hamba -Mu”. [HR at-Tirmidzi no: 3513. Beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”].

Seorang penyair mengatakan dalam lantunan bait syairnya:

Duhai Rabbku, sungguh banyak dosa yang ku perbuat
Dan aku mengetahui Engkau adalah Maha Pemaaf
Bila hambaMu tidak mengharap dari kemurahanMu
Lantas pada siapa hamba yang penuh dosa ini harus mengadu
Tidak ada wasilah yang bisa ku haturkan padaMu, melainkan
Hamba seorang muslim dan harapan indah kiranya Engkau sudi memaafkan

Pelajaran dari menekuni sifat memaafkan ini:

  1. Memenuhi perintah Allah azza wa jalla.
  2. Menghilangkan penyakit hati dari kedengkian dan kebencian pada sesama.
  3. Ketenangan jiwa dan ketentraman bathin.
  4. Memperoleh pahala besar dari Allah subhanahu wa ta’ala.
  5. Mencapai derajat yang tinggi didunia maupun diakhirat kelak.
  6. Menyebarkan kecintaan serta mempererat persaudaraan diantara kaum muslimin.
  7. Dengan memaafkan maka itu sebagai sarana yang akan mengantarkan dirinya masuk ke dalam surga.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari فضائل العفو Penulis  Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad.Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Bashairu Dzawi Tamyiiz 3/421.
[2] Tafsir Ibnu Katsir 10/198. Adapun haditsnya diriwayatkan oleh Imam Bukhari no: 4757.
[3] Sirah Ibnu Hisyam 4/27.
[4] Majmu’ Fatawa 28/55.
[5] Taisirul Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan hal: 727.

Mutiara Nasehat Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu

MUTIARA NASEHAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RADHIYALLAHU ‘ANHU

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dia adalah khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Abdullah bin Abi Quhafah –namanya adalah Utsman- bin Amir al-Qurasyi, at-Taimy, nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya buyutnya yang bernama Murrah.

Dilahirkan di Mekkah dan tumbuh sebagai salah seorang pemuka Quraisy, seorang saudagar kaya, ahli tentang nasab kabilah-kabilah, berita dan politik mereka, dan bangsa Arab memberinya gelar ‘Alim Quraisy’. Dia mengharamkan terhadap dirinya minuman keras di masa jahiliyah, maka dia tidak pernah meminumnya. Kemudian, di masa kenabian dan sesudahnya, dia menjadi saksi berbagai peristiwa penting, terlibat semua peperangan (bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sabar menahan beban penderitaan, mengorbankan harta, dalam kitab-kitab hadits ia meriwayatkan 142 hadits. Dia yang pertama-tama mengumpulkan al-Qur`an.[1] Wafat pada sore hari di hari Selasa tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 13 H. Masa kekhalifahannya berlangsung selama dua tahun seratus hari.

Siapa saja yang merenungkan nasehat-nasehat ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, ia akan mendapatkan mutiara nasehatnya yang bervariasi sesuai tuntutan kondisi, sebagaimana petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberi nasehat.[2]

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menyampaikan khuthbah kepada kaum muslimin, maka ia memuji Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan menyanjung-Nya, kemudian ia berkata:
‘Sesungguhnya negeri Syam akan ditaklukkan untuk kalian. Kalian akan mendatangi bumi dataran tinggi, di tempat kalian diberi nikmat padanya berupa roti dan minyak zaitun, akan dibangun masjid masjid untuk kalian. Hati-hatilah, jangan sampai Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa kalian mendatanginya hanya untuk melalaikan diri (dari ibadah kepada Allah Ta’ala), sesungguhnya ia dibangun untuk berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala.”

Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu berkata[3]:
“Apabila suatu kaum melakukan perbuatan maksiat di hadapan orang orang yang lebih mulia dari mereka, namun mereka tidak mengingkarinya, niscaya Allah Shubhanahu wa Ta’ala akan menurunkan  bencana-Nya kepada mereka, kemudian –Dia tidak mencabutnya dari mereka-.”

Dan ia berkata –setelah memuji Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan menyanjungnya-“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian semua membaca ayat ini dan meletakkannya bukan pada tempatnya”

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَيَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ إِذَااهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka-Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [al-Maidah/5:105]

 Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهَ بِعِقَابٍ » [ أخرجه فلان ]

“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang zhalim dan tidak menghalanginya berbuat zhalim, hampirhampir Allah Shubhanahu wa Ta’ala menurunkan siksa-Nya secara merata.’

Apa yang disebutkan oleh ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu  dalam dua nasehat di atas, didukung oleh nash-nash dari al-Qur`an dan sunnah. Firman Allah Shubhanahu wa Ta’ala:

 لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِى إِسْرَاءِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ  كَانُوا لاَيَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ 

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [al-Maidah/5:78-79]

Dalam sunan at-Tirmidzi, ia berkata : hadits hasan- dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِي لَتَأْمُرُنَّ باِلْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَيُسْتَجَابُ لَكُمْ » [ أخرجه الترمذي ]

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kamu menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau segera tiba waktunya Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengirimkan siksa-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya, maka do’a kamu tidak dikabulkan.’

Bahkan, di antara perumpamaan yang paling mendalam yang menjelaskan pentingnya ihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) dan bahaya meninggalkannya atau lalai darinya adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang orang yang melaksanakan hukum hukum Allah Shubhanahu wa Ta’ala dan yang terjerumus padanya, adalah seperti perumpamaan suatu kaum yang melakukan undian di dalam kapal, maka sebagian mendapat bagian di atas dan yang lain di bawah. Maka orang orang yang berada di bawah apabila mengambil air, mereka melewati yang di atas. Mereka berkata: “Jikalau kita melobangi satu lobang di bagian kita dan kita tidak mengganggu mereka yang berada di atas kita.’ Maka jika mereka (yang di atas) membiarkan mereka (yang di bawah) melakukan yang mereka kehendaki, niscaya mereka binasa semuanya,  dan jika mereka menghalangi mereka, niscaya mereka semuanya selamat.’ [HR. Al-Bukhari 2493].

Sesungguhnya itu sesuatu yang pasti, demi Allah, sesungguhnya kita membaca nasehat nabi ini, kemudian nasehat ash-Shiddiq, hendaknya kita segera melakukan syi’ar ihtisab menurut kadar kemampuan kita masing-masing, sehingga kita tidak binasa dan perahu masyarakat kita tidak tenggelam.

Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya, ia berkata[4]: ‘Aku melihat Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu memegang lisannya seraya berkata: ‘Ini membawaku ke berbagai tempat.’Allah Maha Besar!! Ini adalah ucapan ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dari lisannya, maka apakah yang kita katakan? Kamu bisa membayangkan, wahai para pembaca, apakah beberapa kalimat yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu? Apakah penyebab ia mengungkapkan kata-kata ini? Sesungguhnya ia adalah rasa takut kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala, yang membuat dia berpikir dalam kata-kata biasa yang dikatakannya dan tidak diperlukan, atau mengucapkan kata-kata bukan pada tempatnya namun hanya berdasarkan ijtihad dan ta’wil!

Demi Allah, kita lebih pantas dengan kalimat ini dari pada ash-Shiddiq! Kita yang lebih banyak berbicara dari pada bekerja (beramal) dan sedikit sekali selamat dari ghibah (menggunjing). Jika kita selamat darinya kita tidak selamat dari mendengarnya dan berdiam diri darinya!

Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu berkata[5]: ‘Sampai kabar kepada kami bahwa apabila hari kiamat, ada yang berseru: Di manakah orang-orang yang pemaaf, maka Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberi maaf kepadanya sesuai pemberian maafnya kepada manusia.’

Sesungguhnya di antara mutiara nasehat ash-Shiddiq dalam bidang amal ibadah dalam kehidupannya adalah memberi maaf. Sesungguhnya saat ia bersumpah akan menghentikan tunjangan nafkah kepada putri bibinya Misthah bin Utsatsah Radhiyallahu ‘anhu setelah ia ikut terlibat dalam peristiwa hadits ifk (berita dusta terhadap Aisyah Radhiyallahu ‘anha). Kemudian turun firman Allah Ta’ala

 وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  [an-Nur/24:22]

Ia tidak mengungkapkan apa-apa selain: ‘Tentu, demi Allah.” Kemudian ia kembali memberi tunjangan nafkah kepada Misthah. Ketika engkau merenungkan sikap ini, sesungguhnya engkau akan merasakan sikap yang agung terhadap ucapannya ini. Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu berkata[6]: ‘Wahai sekalian manusia, perhatikanlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ahli baitnya.’

Dalam Shahihaian, darinya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam lebih kucintai dari pada kerabatku sendiri.’[7] Ini adalah ungkapannya dalam memberi nasehat kepada manusia, mengingatkan mereka di atas minbar dan dalam berbagai kesempatan untuk menjelaskan kedudukan ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jiwanya, dan ia bersumpah –sedangkan dia seorang yang sangat jujur- bahwa ia menyambung silaturrahim kepada kerabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintainya dari pada kerabatnya sendiri, maka di manakah orang yang mencelanya dan menuduhnya memusuhi Ahli Bait yang suci lagi mulia?

Dan dia berkata[8]: ‘Manusia yang paling taat kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala adalah yang paling benci terhadap maksiat.’ Dan ini adalah makna yang sangat indah, sesungguhnya banyak orang yang melakukan sejumlah ketaatan, bahkan ia banyak sekali ibadah, akan ia lemah dalam melakukan perlawanan saat terjadi sebab-sebab maksiat. Maka siapa yang seperti itu, maka ketaatannya kurang, kewaliannya dalam hal itu tercemar.

Ini adalah makna ucapan Sahal bin Abdullah at-Tustari: ‘Amal-amal kebaikan dilakukan oleh orang yang shalih dan fasik, dan tidak menjauhi perbuatan maksiat kecuali orang yang shiddiq.’[9] Dan dia berkata dalam khuthbahnya[10]: “Ketahuilah, sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah taqwa dan sesungguhnya orang yang paling bodoh adalah fasik, sesungguhnya orang yang paling kuat darimu di sisiku adalah orang lemah sehingga aku mengambil untuknya dengan haknya, dan sesungguhnya orang yang paling lemah darimu di sisiku adalah orang kuat sehingga aku mengambil yang hak darinya.

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanya mengikuti dan bukan melakukan sesuatu yang baru (bid’ah), jika aku baik maka bantulah aku dan jika aku menyimpang maka luruskanlah.’Dan ia berkata: ‘Kami mendapatkan kemuliaan dalam taqwa, kaya dalam keyakinan, dan kemuliaan dalam sifat tawadhu’ (rendah hati).’[11]

Dan kita tutup dengan satu do’a dari do’a do’anya, di mana ia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu yang ia baik untuk kami pada akhirnya merupakan kebaikan, ya Allah, jadikanlah kebaikan terakhir yang engkau berikan kepada kami adalah keridhaan Engkau dan derajat yang tinggi dari surga yang penuh kenikmatan.’[12]

[Disalin dari  من مواعظ الصديق رضي الله عنه  Penulis Dr. Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil,  Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor: EkoHaryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] Tarikh Islam 2/68
[2] Zuhud, karya Imam Ahmad, hal 93
[3] Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 10/50
[4] Zuhud, hal. 90
[5] Musnad ash-Shiddiq hal 73, karya Abu Bakar al-Maruzi.
[6] Mushannaf ibnu Abi Syaibah 6/374
[7] Al-Bukhari 3810 dan Muslim 1759
[8] Jamharah Khuthab Arab 1/446
[9] Hilyatul Auliya 13/211
[10] Ath-Thabaqah Kubra 3/183
[11] Ihya 3/343.
[12]Zuhud, karya imam Ahmad bin Hanbal hal. 93.

Mutiara Nasehat Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu

MUTIARA NASEHAT ABU UBAIDAH RADHIYALLAHU ‘ANHU 

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dia adalah salah seorang pembesar sahabat yang memiliki kedudukan penting di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, menghadiri perang Badar, Uhud, dan semua peristiwa penting bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berhijrah ke Ethiopia yang kedua. Salah satu dari lima orang yang masuk Islam di hari yang sama di hadapan ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, dia termasuk salah seorang yang mengumpulkan al-Qur`an.

Dia adalah pemimpin pasukan Islam saat perang Yarmuk, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan pasukan Romawi dan sangat banyak yang terbunuh dari mereka. Dia yang pertama kali shalat sebagai imam di masjid Damaskus, dia adalah panglima tertinggi pasukan Islam di Siria. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gelar yang diinginkan semua orang, sesungguhnya dia adalah ‘Amin (yang paling dipercaya) dari umat ini, Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin Jarrah bin Hilal bin Uhaib al-Qurasyi al-Fihry Radhiyallahu ‘anhu.

Dia meneruskan catatan perjalanan hidupnya yang cemerlang setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu –yang dia masuk Islam lewat tangannya- maka dia adalah sebaik-baik pembantunya. Kemudian dia meneruskan torehan sejarah emasnya bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu, sehingga Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata padanya: ‘Jika aku meninggal dunia dan Abu Ubaidah masih hidup, aku akan menunjuk dia sebagai penggantiku, jika nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadaku : ‘Kenapa engkau menunjuk dia sebagai khalifah terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Aku akan menjawab : ‘Sesungguhnya aku mendengar rasul-Mu bersabda:

[أخرجه أحمد] (( إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ أَمِيْنًا وَأَمِيْنِي أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ ))

Sesungguhnya bagi setiap nabi ada seorang amin (yang paling terpercaya), dan amin ku adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.[1]

Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu wafat sebagai syahid dalam wabah tha’un ‘Amwas pada tahun 18H. Ketika ia sudah terkena tha’un, ia memanggil umat Islam, mereka datang kepadanya, lalu ia berkata kepada mereka[2]:
Sesungguhnya aku memberi wasiat kepada kalian semua, jika kalian menerimanya niscaya kalian tetap berada dalam kebaikan selama hidup dan setelah wafat! Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, berpuasalah, bersedekahlah, laksanakanlah haji dan umrah, sambunglah tali silaturrahim dan hendaklah kalian saling mencintai, bersikap jujurlah kepada pemimpin dan janganlah kalian menipu mereka, janganlah kehidupan dunia melalaikan kalian. Maka sesungguhnya seseorang jikalau dipanjangkan umur seribu tahun, namun pada akhirnya ia kembali seperti kondisiku saat ini yang kalian lihat (akan wafat). Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kematian terhadap anak cucu Adam ‘Alaihissalam, mereka semua akan mati, yang paling cerdas dari mereka adalah yang paling taat terhadap Rabb-nya dan yang paling beramal untuk hari kembalinya.

Sesungguhnya mutiara nasehat ini mengandung beberapa nasehat yang agung:

Dia mengingatkan tentang rukun agama Islam ini, yang tidak berdiri kecuali di atasnya : shalat, zakat, puasa dan haji. Kemudian ia memberikan mutiara nasehat kepada mereka agar saling menyambung tali silaturrahim dan saling mencintai, karena sesungguhnya ini adalah salah satu sebab kekuatan umat Islam, yang bila mereka bercerai berai, niscaya mudahlah bagi musuh menguasai mereka:

 وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ  [الأنفال:46] 

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu [Al-Anfal/8:46]

Kemudian ia mengingatkan satu fadhilah (keutamaan) dari dasar-dasar fadhilah, yaitu jujur bersama para pemimpin, karena sesungguhnya sikap jujur di antara pemimpin dan rakyat adalah tali yang kokoh, yang menghasilkan masyarakat yang kuat, taat kepada Allah Subhanahuwata’ala dan memberi nasehat kepada para pemimpin dengan cara yang ma’ruf. Apabila sikap menipu sudah menjalar dan sangat lemah sikap saling menasehati di antara kedua belah pihak, niscaya nampaklah dampak buruknya terhadap semua umat.

Tiadalah berita pemberontakan Khawarij yang tidak taat terhadap Amirul Mukminin Utsman Radhiyallahu ‘anhu kecuali merupaka contoh nyata terhadap yang disebutkan oleh Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia menutup mutiara nasehatnya dengan ungkapan yang menggambarkan metode zuhud yang sebenarnya, bagi orang yang mengenal dunia ini, ia berkata:
“Janganlah kehidupan dunia melalaikan kalian. Maka sesungguhnya seseorang jikalau dipanjangkan umur seribu tahun, namun pada akhirnya ia kembali seperti kondisiku saat ini yang kalian lihat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan kematian terhadap anak cucu Adam ‘Alaihissalam, maka mereka semua akan mati, yang paling cerdas dari mereka adalah yang paling taat terhadap Rabb-nya dan yang paling beramal untuk hari kembalinya.’

Ia merupakan sunnah kehidupan, orang yang hidup melewati kehidupan di dunia hingga akhirnya ia memasuki pintu kematian, dan hal ini tidaklah menjadi masalah, akan tetapi masalah sebenarnya adalah bagaimana ia datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya manusia paling cerdas – seperti yang dikatakan Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu– yaitu yang paling taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling banyak beramal untuk hari kembalinya (hari akhirat). Karena alasan itulah, maka hendaknya orang yang berakal terus berusaha dan yang beramal terus bersungguh-sungguh. Pada hari itu nampaklah taghabun (kesalahan-kesalahan), kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari termasuk yang nampak segala kesalahan di dunia dan akhirat.

Di antara mutiara nasehatnya adalah:
Tahlukah (kebinasaan) adalah : Seorang hamba melakukan dosa, kemudian ia tidak melakukan amal kebaikan sesudahnya hingga ia binasa.’

Ucapannya di saat yang lain  menjelaskan mutiara nasehatnya ini:
“Perhatikanlah, begitu banyak orang yang memutihkan bajunya, namun mengotori agamanya. Perhatikanlah, betapa banyak orang yang ingin memuliakan dirinya, padahal ia justru menghinakannya. Perhatikanlah, segeralah menggantikan keburukan di masa lalu dengan berbagai kebaikan yang baru. Jikalau salah seorang darimu melakukan kesalahan sepenuh di antara langit dan bumi, kemudian ia melakukan amal kebaikan, niscaya kebaikannya berada di atas kesalahannya, sehingga ia mengalahkannya” [3]

Ini merupakan fiqh (pemahaman) dari Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu, karena sesungguhnya tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemurahan terhadap hamba hamba-Nya dengan melipatgandakan kebaikan, sementara keburukan tidak lebih dari satu saja, jadilah orang yang benar-benar binasa yaitu yang keburukannya mengalahkan kebaikannya. Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits dilipat gandakannya kebaikan dan membalas keburukan dengan satu balasan saja. Dan beliau bersabda:

[أخرجه مسلم] (( وَلاَيَهْلِكُ عَلَى اللهِ إِلاَّ هَالِكٌ ))

Dan tidak binasa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali orang yang binasa.”[4]

Tidak ada seorang pun dari kita kecuali dia bisa melakukan kesalahan dan dosa, tetapi yang penting adalah bersegera menghapus dosa dengan kebaikan, sebagaimana dalam hadits:

 [أخرجه الترمذي] (( وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ))

Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia menghapusnya.’[5]

Dan dalam al-Qur`an:

 إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ  [هود: 114] 

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. [Hud/11:114]

Sesungguhnya di antara taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya bahwa ia segera melakukan amal shalih ketika terjatuh dalam kesalahan. Dan sesungguhnya di antara rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia mensyari’atkan terhadap hamba hamba-Nya beberapa amal yang menjadi penebus dosa.

Dalam shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

[أخرجه مسلم] (( اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكِفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ ))

Shalat lima waktu, shalat Jum’at hingga shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan hingga puasa Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosadosa besar.”[6]

Dan dalam pujian terhadap para penghuni surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ  [الرعد: 22] 

…serta mereka menolak kejahatan dengan kebaikan;  …[ar-Ra’ad/13:22]

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata –dalam menjelaskan maknanya-: ‘Mereka menolak amal yang buruk dengan melakukan amal shalih. Imam al-Baghawi memberi komentar terhadap ungkapan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ini, ia berkata : ‘Ia adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ  [الرعد: 22] 

…serta mereka menolak kejahatan dengan kebaikan;  …[ar-Ra’ad/13:22]

Al-Hasan Bashri rahimahullah berkata : ‘Mintalah pertolongan terhadap keburukan di masa lalu dengan melakukan kebaikan terbaru, sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih menghilangkan keburukan di masa lalu selain dari kebaikan yang terbaru, dan aku mendapatkan pembenaran hal itu dalam al-Qur`an:

 وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ  [الرعد: 22] 

…serta mereka menolak kejahatan dengan kebaikan;  ...[ar-Ra’ad/13:22]

Barangkali cerita taubatnya sang pembunuh 99 nyawa merupakan contoh nyata untuk hal ini. Sesungguhnya tatkala ia membunuh dan bertaubat, ia bersegera meninggalkan tempat yang buruk dan kampung kejahatan, maka malaikat rahmat mengambilnya, karena ia datang bertaubat dengan tulus ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.[7] Maka kepada setiap orang yang melakukan kesalahan terhadap dirinya dan syetan memutuskan harapannya dari rahmat Rabb-nya, janganlah ia berputus asa. Laki-laki ini membunuh 99 orang, maka ketika taubatnya benar, Rabb-nya memberi rahmat kepadanya, kendati ia belum melakukan kebaikan lewat anggota tubuhnya selain berhijrah dari negeri keburukan menuju negeri kebaikan. Apakah cerita ini tidak menggerakkan jiwamu untuk meninggalkan maksiat dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan kebahagiaan sebenarnya?

Di antara mutiara nasehat Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa tatkala ia menjadi amir di negeri Syam, ia menyampaikan khutbah kepada manusia, ia berkata[8]:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku salah seorang dari suku Quraisy, demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengetahui seseorang yang berkulit merah atau hitam yang melebihi diriku dalam ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali aku ingin menjadi kulitnya.

Allahu Akbar! Alangkah indahnya ungkapan ini yang berasal dari seorang amir, dari keturunan Quraisy. Sesungguhnya itu adalah pemahaman terhadap hakikat timbangan syari’ah, adapun perbedaan lainnya yang diluar kekuasaan manusia, maka sesungguhnya ia tidak ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah ada yang bisa menolong Abu Lahab ketika ia kufur, padahal ia adalah paman Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah ada yang mengurangi kemuliaan Bilal al-Habasyi, Shuhaib ar-Rumy, Salman al-Farisi ketika mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mempercayai Rasul-Nya?

Sesungguhnya ia adalah risalah yang disampaikan Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu dari mimbarnya –sementara ia seorang amir (gubernur)- untuk memberi penekanan terhadap masyarakat umum yang sebagian mereka merasa tinggi karena mendapat kedudukan dalam pemerintahan. Padahal keutamaan sebenarnya adalah dengan taqwa, bukan dengan jabatan atau keturunan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Abu Ubaidah Amir bin Jarrah Radhiyallahu ‘anhu dan mengumpulkan kita bersamanya di surga, dan bersama para wali, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi nikmat kepada mereka, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang orang shalih, dan mereka adalah sebaik baik teman.

[Disalin dari من مواعظ أبي عبيدة رضي الله عنه Penulis  Dr. Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil, Penrjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad.  Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2015 – 1436]
______
Footnote
[1] Kisah ini ada dalam Musnad imam Ahmad 108, sedangkan haditsnya dalah Shahihaian.
[2] Al-Iktifa` bima tadhammanahu min maghazhi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam… 2/314.
[3] Zuhud, karya Ahmad bin Hanbal hal. 151.
[4] HR. Muslim 131 dari Ibnu Abbas radh.
[5] HR. At-Tirmidzi 1987, ad-Daraquthni mentarjih mursalnya riwayat ini.
[6] HR. Muslim 223.
[7] HR. Al-Bukhari 3283 dan Muslim 2766.
[8] Mushannaf ibnu Abi Syaibah 7/116.

Mengenal Sosok Syaikul Islam Ibnu Taimiyah

MENGENAL SOSOK SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk, dengannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla memperbaharui agama ini, dan melalui tangannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla menumpas bid’ah sampai ke akar-akarnya. Beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya, orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan.

Beliau adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Syihabudin Abdul Halim bin Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qosim al-Harani Ibnu Taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir para tangal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Adapun al-Harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada diantara negeri Syam dan Iraq.

Beliau berkulit putih, berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasih, sangat cepat dalam membaca, padanya berhenti dalam hal keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-Qur’an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari’at dan bahasa arab serta mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu, mengajar, dakwah serta berjihad. Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk meneliti, membaca, dan menelaah. Seakan dirinya tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukan diri dengan penelitian ilmu.

Berkata Imam Dzahabi, “Tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab”.

Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, dirinya termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah Islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih.

Sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisanya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya.

Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu tahun setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada dirinya imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainnya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya.

Beliau terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, setiap perkara yang pernah dihafalnya maka sangat jarang dirinya lupa. Adalah al-Hafidh al-Mizzi sangat mengagungkan gurunya ini dengan pujian yang banyak, sampai kiranya beliau mengatakan, “Tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengannya semenjak empat ratus tahun yang lalu”. Kehidupan yang dijalani sehari-harinya dipenuhi dengan kesungguhan, giat dan giat, yang tidak pernah diketahui menyibukan diri untuk bersendau gurau apalagi sampai melakukan akhlak tercela seperti mengunjing atau adu domba. Beliau sangatlah menjauhi dan bersih dari perilaku mengunjing dan mengadu domba ini, belum pernah ada penukilan yang menceritakan dirinya terjatuh dalam permasalah buruk semacam itu. Majelisnya dipenuhi dengan hikmah dan kebaikan dan tidaklah mungkin berani orang yang senang menggunjing untuk melakukannya dimajelis beliau.

Beliau sangat zuhud terhadap dunia, akan tetapi tidak sampai berlebihan, dirinya biasa mendapatkan harta pada tiap tahunnya yang sangat banyak, kemudian beliau menginfakan seluruhnya yang mencapai sampai dua ribu dirham lebih, dan tangannya tidak menyentuh satu dirhampun, tidak mengambil walau hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau biasa mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, menunaikan hak-hak orang lain, dan sangat baik terhadap orang lain, sehingga dirinya dicintai oleh semua kalangan, baik ulama, orang sholeh, tentara sampai penguasa, para saudagar dan pembesar, serta semua lapisan masyarakat. Disebabkan kontstribusi besar yang bermanfaat pada mereka baik siang maupun malam, dengan lisan maupun tulisannya.

Seringkali beliau diajukan dan ditawari untuk menjadi pejabat dan mempimpin namun dirinya enggan dan menolak, sembari mengatakan, “Carilah orang lain yang lebih cocok dari diriku”. Adapun dalam masalah menyebarkan ilmu, mengoreksi aqidah yang benar, dan mengembalikan manusia kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, maka mereka lebih membutuhkannya dari pada jabatan serta tawaran tadi. Begitu pula seringkali beliau ditawari hadiah serta hibah akan tetapi beliau menolaknya, karena dirinya paham kalau sekiranya diambil tentu akan sulit bergerak dan melemahkan dalam menolak kebatilan serta akan suka menjilat. Dan ini merupakan metodenya Imam Ahmad bin Hanbal.

Dikisahkan dalam biografi beliau, dirinya dipenuhi materi dunia akan tetapi beliau menolaknya, sehingga beliau hanya mencukupkan sedikit. Dan dalam hal ini saudaranya Syarifudin yang mengurusi kebutuhannya. Berkata syaikh Abu Bakar Abu Zaid mengomentari hal ini, “Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang dua hal yang saling bertentangan, sebagaimana dikatakan:

Cinta terhadap kitab dan senang pada nyanyian
Tidak mungkin terkumpul dalam hati seorang hamba

Maka kecintaan terhadap ilmu lalu menyibukan hati dan anggota badan demi harta, mengumpulkan serta meperbanyak maka tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang, sehingga setiap kali ada porsi serta usaha dan waktu yang engkau luangkan melebihi dari yang lainnya maka akan hilang yang satunya, cukuplah hal ini membuat kita menangis”.[1]

Adapun sikap beliau bersama penguasa, maka beliau sangat sering di dalam memberi nasehat, menyuruh perkara ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, diantara yang tercatat dalam sejarah adalah sikapnya yang begitu besar dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan. Demikian pula sikap beliau ketika berhadapan dengan Ghazan hingga dirinya dijuluki “Khalidiyah nisbat kepada Pedang Allah yang terhunus” karena keberaniannya bersama Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu.

Dikisahkan, pada tahun 699 H terjadi peristiwa genting, yakni datangnya Raja Ghazan ke negeri Damaskus. Maka segera Syaikhul Islam keluar mendatanginya lalu bertemu dengannya dan mengajak bicara bersamanya secara kasar. Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah mencukupi dirinya dari keburukan tangan Ghazan.  Yaitu tatkala dirinya meminta kepada penerjemah raja Ghazan, katakan padanya, “Engkau mengira dirimu seorang muslim, dan bersamamu qodhi, imam, dan syaikh,  sedangkan kalian menyakiti dan memerangi kami seperti sekarang ini. Adapun ayah dan kakekmu, keduanya adalah kafir, akan tetapi keduanya tidak melakukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini, keduanya membuat perjanjian dan memenuhinya, adapun engkau, membuat perjanjian namun engkau langgar sendiri, dan saya katakan engkau tidak memenuhinya sama sekali”.

Beliau menyeret beberapa perkara bersama Ghazan dan Qathlusyah serta Bulari yang beliau lakukan semuanya karena Allah Ta’ala, beliau mengatakan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Suatu ketika seluruh qodhi Damaskus serta tokoh-tokoh pembesar hadir pada majelisnya Ghazan, kemudian raja Ghazan menjamu mereka dengan berbagai makanan, lalu mereka semua menyantap jamuan tersebut kecuali Ibnu Taimiyah, beliau tidak ikut memakannya, maka ditanyakan padanya, “Kenapa engkau tidak ikut makan? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku memakan makanan ini sedang kalian mengambilnya dengan merampas milik masyarakat, kemudian yang kalian masak adalah hasil dari rampokan harta mereka”. Kemudian Raja Ghazan meminta pada beliau supaya dido’akan kebaikan, maka beliau mengatakan dalam untaian do’anya, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau mengetahui kalau dirinya perperang hanya untuk menegakkan kalimat Allah Shubhanahu wa Ta’alla biar tinggi dan berjihad di jalan -Mu, maka teguhkan serta tolonglah dirinya. Dan jikalau tujuannya hanya untuk kekuasaan, dunia dan memperbanyak harta, lakukan lah sekehendak -Mu…kemudian beliau pun mendo’akan dirinya dan raja Ghazan mengamini do’a tersebut. sedangkan para qodhi tadi yang datang bersamanya merasa takut bila sampai membunuhnya, maka mereka langsung merapikan pakaian, takut kalau kiranya raja Ghazan murka lalu membunuhnya sehingga darahnya Ibnu Taimiyah menimpa mereka.

Maka tatkala mereka keluar dari hadapan sang Raja, berkata pimpinan para pembesar Qodhi yang bernama Ibnul Shashari kepada Ibnu Taimiyah, “Hampir saja engkau membunuh kami semua bersamamu, maka mulai sekarang kami tidak ingin menemanimu kembali”. Maka dijawab sama beliau, “Demikian juga mulai dari sekarang aku pun tidak ingin menemani kalian”.

Beliau di jebloskan ke dalam penjara Qol’ah di Damaskus pada akhir hayatnya, maka beliau tinggal didalamnya sambil menulis, dan mengirim surat kepada para sahabatnya, sambil mengatakan bahwa dirinya mendapat karunia ilmu yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla bukakan untuknya dari berbagai macam ilmu yang sangat besar faidahnya.

Beliau mengatakan, “Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membuka untukku dalam penjara ini, beberapa kali dari makna-makna al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu lainya yang sangat banyak, dimana banyak dari kalangan para ulama mengharap untuk bisa memahaminya. Dan aku sangat menyesal karena telah banyak menyia-yiakan waktuku yang aku habiskan bukan untuk mempelajari makna al-Qur’an”. Selanjutnya beliau dilarang untuk menulis, sehingga tidak ada satu pun disisinya alat untuk menulis, seperti kertas dan pena. Kemudian setelah itu beliau menyibukkan diri untuk membaca, bermunajat dan dzikir kepada Allah azza wa jalla.

Imam Ibnu Qoyim, muridnya menceritakan, “Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya-, berkata, “Sesungguhnya didunia ada surga, barangsiapa yang diharamkan untuk memasukinya maka tidak akan mungkin masuk ke dalam surga yang di akhirat”. Suatu ketika beliau juga pernah bertanya padaku, “Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadap diriku? Diriku adalah surgaku dan tamanku berada didalam dadaku, dimanapun diriku pergi dia akan selalu bersamaku dan tidak akan berpisah denganku. Adapun bagiku penjara adalah tempat untuk menyendiri bersama Allah Shubhanahu wa Ta’alla, ketika aku dibunuh maka mati syahid bagiku, ketika mereka mengusir dari negeriku maka itu seperti bertamasya”.

Dan ketika di dalam penjara beliau berkata, “Kalau seandainya diganti sepenuh penjara ini dengan emas niscaya tidak ada bandingannya bagiku untuk mensyukuri nikmat di penjara ini”. atau ucapan beliau, “Niscaya aku tidak mampu membalas mereka, karena dengan sebab mereka aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak…atau ucapan beliau yang senada dengan ini. Ketika beliau sujud di dalam sholatnya beliau biasa berdo’a, “Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada -Mu, untuk bersyukur kepada -Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada -Mu”.

Suatu ketika beliau pernah menuturkan, “Orang yang terpenjara ialah yang terpenjara hatinya dari mengenal Rabbnya, dan orang yang tertawan ialah yang tertawan oleh hawa nafsunya”. Manakala beliau masuk ke dalam penjara Qol’ah dan berada didalamnya, beliau melihat sekelilingnya sembari membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ

“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. [Al-Hadiid/57: 13].

Beliau adalah orang yang banyak beribadah, senantiasa membasahi lisannya untuk berdzikir, sampai tidak ada yang mampu menggantikan kebiasaan ini dari kesibukan apapun tidak pula ada yang memalingkannya.

Imam Ibnu Qoyim mengkisahkan, “Aku pernah datang untuk melakukan sholat shubuh bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah selesai beliau duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga mendekati pertengahan siang, setelah itu beliau berpaling kepadaku sambil berkata, “Inilah makananku kalaulah sekiranya aku tidak memberi makanan ini pada tubuhku maka aku akan jatuh lemas, atau ucapan yang mirip dengan ini. Beliau juga pernah berkata padaku, “Aku tidak pernah meninggalkan untuk berdzikir kecuali hanya sekedar menghilangkan kepenatan dan istirahat sejenak untuk bersiap-siap melakukan dzikir yang lainnya. Atau ucapan yang semkna dengan ini.

Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengetahui, belum pernah aku melihat seorangpun yang lebih baik kehidupannya dari beliau sebelumnya, walaupun dirinya dipenjara dan diancam serta ditekan namun bersamaan dengan itu beliau adalah orang yang paling baik penghidupannya, paling lapang dadanya, paling teguh hatinya, dan paling berbahagia jiwanya, terpancar pada pandangan matanya kenikmatan yang tiada tara. Dan kami, biasanya tatkala sedang merasa gundah dan berprasangka buruk serta terasa sempit dunia tempat berpijak ini, maka kami mendatangi beliau. Dan tidaklah ketika kami melihatnya serta mendengar nasehatnya melainkan segera hilang kegundahan dan segala permasalahan tersebut, lalu berubah menjadi ketenangan, merasa kuat, yakin dan tentram. Maha suci Allah Shubhanahu wa Ta’alla, bagi orang dari kalangan para hambaNya yang menyaksikan surga-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membukakan untuk meraka pintu-pintu surga di dunia ini, negeri untuk beramal, lalu datang kepada mereka bau harumnya, anginnya serta keindahannya, sehingga mendorong kekuatannya untuk menggapai surga dan berlomba-lomba untuk merengkuhnya”.

Beliau pernah berkata, “Aku halalkan kehormatanku bagi tiap orang yang pernah menyakitiku, akan tetapi barangsiapa yang menyakiti Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, demi Allah pasti aku akan membalasnya”. Berkata Qodhi Ibnu Makhluf, dia adalah salah seorang musuhnya, “Kami belum pernah melihat orang yang paling bertakwa melebihi Ibnu Taimiyah, tidak ada kesempatan bagi kami untuk memusuhinya pasti kami lakukan, akan tetapi, tatkala beliau mampu membalasnya beliau memaafkan kami”.

Adapun meninggalnya beliau dikarenakan ketika masih berada didalam penjara Qol’ah pada dini hari malam senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 H. sebelumnya beliau sakit demam selama tujuh belas hari. Beliau meninggal tepat pada waktu sepertiga malam terakhir. Setelah tersebar berita kematiannya maka berkumpul di penjara Qol’ah manusia yang sangat banyak dari kalangan teman dan murid-murid beliau, sambil menangisi serta memujinya. Dan saudaranya Zainudin Abdurahman mengabarkan pada mereka bahwa dirinya bersama beliau semenjak dijebloskan ke dalam penjara, mereka berdua telah menghatamkan al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali.

Dan hampir menyelesaikan yang ke delapan puluh satunya akan tetapi ketika sampai pada firman Allah ta’ala beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir:

قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa”. [al-Qomar/54: 54-55].

Sungguh terkumpul pada saat itu manusia yang mengikuti sholat jenazah beliau lautan masa yang begitu banyak sampai diperkirakan dari kalangan laki-lakinya enam puluh ribu orang atau lebih sampai dua ratus ribu orang. Dari kalangan wanita lima belas ribu orang, dan ini mengingatkan kita pada ucapannya Imam Ahmad yang mengatakan kepada ahli bid’ah, “Perjanjian kami bersama kalian adalah  ketika sholat jenazah”.

Dikisahkan banyak mimpi orang sholeh yang mengabarkan kebaikan untuknya. Kemudian dilaksanakan pula pada sebagian besar negeri kaum muslimin sholat ghoib, baik negeri yang berdekatan maupun yang jauh sampai di negeri Yaman dan China. Dikabarkan bahwa orang-orang yang sedang safar mendengar panggilan diperbatasan China untuk melaksanakan sholat ghoib untuk beliau pada hari jum’at, dikatakan dalam panggilan tersebut, “Sholat untuk penerjemah al-Qur’an”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Syaikhul Islam, dan memberinya balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengumpulkan kami dan beliau di negeri yang penuh kenikmatan bersama para Nabi, shidiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة شيخ الإسلام ابن تيمية  Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] al-Jami’ li Siroti Syakihil Islam Ibnu Taimiyah hal: 26-27.
[2] al-Jami’ li Siroti Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah karya Syaikh Muhammad Aziz Syams dan Syaikh Ali al-Imrani dengan pengawasan dari Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

Seruan Kepada Madzhab Dalam Pembelajaran Fiqih

MADZHAB(2)

Oleh
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili -hafizhahullaah-

Pertanyaan.
Fadhilatusy Syaikh -hafizhakumullaah-, di sana ada arahan -dari sebagian ikhwan kita yang menisbatkan diri kepada Sunnah-: agar (kita punya) perhatian terhadap kitab-kitab madzhab dalam pembelajaran Fiqih. Maka kami mengharapkan arahan dari anda.

Jawaban.
1. ‘Ali (bin Abi Thalib) -radhiyallaahu ‘anhu- tatkala orang-orang Khawarij berbicara : Hukum itu hanya milik Allah,  maka beliau berkata:

كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيْدَ بِهَا بَاطِلٌ

Kalimat yang benar; akan tetapi yang diinginkan darinya adalah kebathilan.”

Terkadang sebagian (perkara) yang tersebar di kalangan manusia : Secara lahiriyahnya pada asalnya adalah benar, akan tetapi terkadang yang diinginkan darinya adalah kebathilan.

2. Seruan yang ada belakangan ini, yang tersebar di media sosial -dan itu tersebar di banyak tempat-: ajakan kepada madzhab. Dan yang tampak darinya bahwa ada udang di balik batu ; yaitu: Untuk memalingkan para penuntut ilmu dari ittiba’ kepada Dalil dan Sunnah, untuk kemudian kembali kepada matan-matan Fiqih, dan mendorong untuk menghafalkan matan-matan tersebut, dengan tidak melihat kepada dalil.

Tidak diragukan lagi bahwa kalau benar bahwa perkaranya demikian ; maka kita harus memperingatkan akan bahayanya perkara ini.

Adapun jika yang dimaksud dengan bermadzhab adalah : Bahwa penuntut ilmu memulai pembelajaran dengan membaca sebuah matan (Fiqih), kemudian setelah itu ia terus belajar dan mendalami ilmu sampai kemudian ia kembali kepada dalil-dalil dan menelitinya. Maka, jalan inilah yang ditempuh para ulama zaman sekarang, dan mereka adalah para imam Ahlus Sunnah ; di antara mereka ada yang sudah wafat dan ada juga yang masih hidup, mereka semua mengikuti dalil dan mengarahkan para penunut ilmu kepada dalil, mendalami Kitabullah dan Sunnah Nabi -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Mereka tidaklah mengajak kepada madzhab.

3. Walaupun kaum muslimin pada masing-masing negerinya telah tersebar sebuah madzhab dan penduduknya mempelajari madzhab ini, akan tetapi madzhab ada yang bisa diterima darinya dan ada juga yang ditolak. Yang tidak boleh ditolak sama sekali hanyalah dalil.

Maka yang sepantasnya para penuntut ilmu dibina di atasnya adalah : Diatas dalil, diatas mempelajari Kitabullah dan Sunnah Nabi -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

4. Tidak diragukan lagi bahwa para masyayikh yang mengajar dan menyampaikan ilmu, mereka kembali kepada kitab-kitab Fiqih. Kita sekarang ketika kita menulis dan mengajar, apakah mengambil dari kepala kita sendiri? Justru kita kembali kepada kitab-kitab para ulama. Kalau permasalahannya berkaitan dengan Tafsir ; maka dikembalikan kepada kitab-kitab Tafsir, kalau permasalahannya berkaitan dengan kitab-kitab Fiqih ; maka dikembalikan kepada para Fuqaha’, dan kalau permasalahannya berkaitan dengan Bahasa Arab ; maka dikembalikan kepada kitab-kitab Bahasa Arab.

5. Seolah-olah mereka (yang mengajak kepada madzhab) memberikan gambaran kepada manusia bahwa: Para ulama telah meninggalkan kitab-kitab Fiqih, sehingga perlu untuk kembali bermadzhab dan mendorong untuk menghafal matan-matan Fiqih yang ditulis pada madzhab tertentu.

Anggapan ini tidak benar. Bahkan para ulama senantiasa melihat kepada kitab-kitab : Kitab-kitab Fiqih, kitab-kitab Tafsir, kitab-kitab bahasa Arab, dan kitab-kitab Hadits. Kemudian mereka mengarahkan para penuntut ilmu kepada dalil yang rajih menurut mereka. Dan inilah jalan yang benar yang dipraktekkan oleh antum sekalian di Ma’had ini dan di Ma’had-Ma’had Ahlus Sunnah lainnya. Alhamdulillaah. Mereka belajar ilmu dan kembali kepada Masyayikh, tidak meninggalkan kitab-kitab Fiqih sama sekali, tidak meninggalkan madzhab-madzhab Fiqih, dan tidak meninggalkan perkataan para ulama ; kita senantiasa mengambil faedah dari mereka.

6. Ketika kita merasa dari ajakan (kepada madzhab) ini bahwa ada udang di balik batu ; maka kita tidak boleh tertipu. Karena ada Ahli Bid’ah yang ingin memalingkan manusia dari Sunnah dengan seruan : Bermadzhab dengan madzhab tertentu. Mereka ingin mengembalikan fanatik madzhab, setelah para penuntut ilmu bersatu di atas Sunnah dan di atas Dalil, setelah tersebar di tengah-tengah penuntut ilmu : Tahqiq dan ilmu. Alhamdulillah.

Maka mereka ingin mengembalikan para penuntut ilmu (kepada madzhab): Engkau di negeri ini maka madzhabnya ini, kami madzhabnya itu, fulan madzhabnya ini. Ini telah memecah belah kaum muslimin para zaman dahulu. Sampai sebagian orang yang fanatik pada sebagian madzhab berfatwa: tidak boleh shalat bermakmum di belakang pengikut madzhab lain.

Maka Allah telah menyelamatkan kita dari fitnah ini. Dan kita berada pada zaman tersebarnya ilmu, tersebarnya dakwah yang diberkahi ini, dakwah Salafiyyah, yang tegak di atas dalil. Dan hati Ahlus Sunnah di setiap tempat telah bersatu di atas dakwah ini. Tidak ada perpecahan di antara kita ; padahal di masing-masing negeri kita : Para penduduknya berada pada suatu madzhab, akan tetapi para ulama negeri tersebut tidak fanatik terhadap madzhab tertentu.

Maka sebagian mereka (yang mengajak kepada madzhab) ingin mengembalikan manusia kepada fanatik madzhab. Dan hendaknya kita waspada!

7. Intinya : Semua yang dikatakan ; kita timbang dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.
Niat-niat manusia; maka mereka akan dihisab atasnya:

  • Kalau hal ini (ajakan kembali kepada madzhab) adalah dimaksudkan untuk memalingkan manusia dari dalil-dalil menuju kepada kitab-kitab tulisan manusia, kepada anggapan baik dan akal-akal manusia semata, agar para penuntut ilmu menghafal matan-matan dan berpaling dari Al-Qur-an dan As-Sunnah: maka ini merupakan suatu bentuk penyimpangan.
  • Dan kalau maksudnya adalah: agar para ulama kembali kepada kitab-kitab Fiqih dan men-tahqiq berbagai permasalahan -terkadang seorang ulama merajihkan pendapat madzhab ini dan terkadang madzhab lainnya-: maka inilah yang diamalkan sampai zaman sekarang di antara Ahlus Sunnah dan para pengikut Manhaj yang agung ini; Manhaj Salaf yang tegak di atas: pembelaan terhadap dalil dan penghormatan kepada para ulama. Alhamdulillaah.

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix

Sejarah Imam asy-Syafi’i

SEJARAH IMAM ASY-SYAFI’I

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan, reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.

Berikut ini adalah rangkain kisah perjalanan hidup seorang pahlawan dari pahlwan-pahlawan umat ini, yang gagah berani, seorang imam dari imam kaum muslimin, Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan dirinya sebagai pembela sunah dan penumpas perbuatan bid’ah.

Beliau lahir di Gaza yaitu sebuah kota yang letaknya berada di tengah-tengah negeri Syam dari arah Mesir dan selatan Palestina, pada tahun 150 H tepatnya pada bulan Rajab. Dirinya terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya semenjak kecil. Beliau menceritakan tentang dirinya, “Aku berada bersama para pencatat kitab, disana aku mendengar ustad sedang mengajari ayat al-Qur’an pada anak-anak kecil, maka aku langsung dapat menghafalnya. Dan sebelum ustad tadi selesai mendikte ayat pada mereka aku telah menghafal semua yang di diktekan tadi. Pada suatu hari beliau berkata padaku, “Tidak halal bagiku untuk menghalangimu sedikitpun”. Dan dia senantiasa dalam keadaan seperti itu sampai dirinya mampu menghafal al-Qur’an sedang beliau saat itu berusia tujuh tahun.

Besar dalam kondisi yatim dan diasuh oleh ibunya seorang, lalu ibunya khawatir pada dirinya, lantas mengajaknya berhijrah ke Makah dan disana dia belajara bahasa Arab dan syair. Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kecintaan dirinya pada ilmu fikih yang sedikit diabaikan oleh kebanyakan orang pada zamannya, beliau lalu menulis beberapa karya tulis besar dalam beberapa disiplin ilmu, seperti fikih, ushul fikih, nasab dan adab serta karya tulisan lainnya.

Beliaulah Imam dunia yang bernama Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Saafi’ bin as-Saa’ib bin Ubaid bin Abd bin Yazid bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdi Manaf. Ahli ilmu pada zamannya, pembela sunah, ahli fikih umat ini yang berkun’yah Abu Abdillah al-Quraisy kemudian al-Muthalabi asy-Syafi’i al-Makki al-Ghazi sebagai tanah kelahirannya, beliau masih memiliki hubungan nasab bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bertemu dalam silsilah pada anak pamannya, karena al-Muthalib adalah saudaranya Hasyim ayah dari Abdul Muthalib. Beliau mempunyai warna kulit putih, berbadan tinggi, dengan paras wajah yang gagah, dan di segani, beliau memakai semir dengan pohon pacar karena ingin menyelisihi orang-orang Syi’ah.

Perkataan Ulama Tentang Imam asy-Syafi’i
Telah banyak pujian dari para ulama dengan pujian yang banyak, berkata Imam Ahmad bin Hanbal tentang beliau, “Tidak ada seorangpun yang memegang alat tulis tidak pula pena melainkan bagi pundak Syafi’i mempunyai bagian darinya. Kalaulah bukan karena Syafi’i tentulah kami tidak mengetahui fikih hadits. Adalah ilmu fikih seperti terkunci bagi ahlinya sampai kiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla membukakan melalui Syafi’i”.

Beliau juga pernah menuturkan manakala ditanya putranya tentang Syafi’i, “Duhai ayahku, seperti apa sejatinya Syafi’i itu? Betapa sering aku mendengar engkau mendo’akan dirinya”. Imam Ahmad menjawab, “Duhai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi dunia, bagaikan obat bagi tubuh, lihatlah apakah dua kemulian ini ada yang mampu mewarisi atau menggantikan kedudukannya”.

Dan Ahmad bin Hanbal biasa mendo’kan Syafi’i dalam sholatnya selama kurang lebih empat puluh tahun. Dan beliau berkata ketika mendengar sebuah hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا » [أخرجه أبو داود]

Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui agamanya“. HR Abu Dawud no: 4291.

Beliau mengatakan, “Maka Umar bin Abdul Aziz adalah pembaharu pada penghujung seratus tahun pertama, dan asy-Syafi’i pada penghujung tahun dua ratusan”.[1]

Abdurahman bin Mahdi menyebutkan tentang beliau, “Tatkala aku membaca kitab Risalah karyanya Syafi’i, kitab tersebut membikin diriku bingung, karena aku melihat didalamnya perkataan seorang yang jenius, fasih dan tulus. Sesungguhnya saya banyak mendo’akan beliau. Dan aku berpendapat bahwa Allah ta’ala belum menciptakan (lagi) orang yang seperti beliau”.

Daud bin Ali adh-Dhahiri mengatakan didalam kitabnya yang mengumpulkan manakibnya Imam Syafi’i, “Bagi Imam Syafi’I, beliau banyak sekali mempunyai keutamaan yang tidak dijumpai pada ulama yang lain. Mulai dari garis nasabnya yang mulia, kebenaran agama dan aqidahnya serta kedermawanan jiwanya, pengetahuan dirinya tentang ilmu hadits baik yang shahih maupun lemah, nasikh maupun mansukh, hafalannya pada al-Qur’an dan sunah, serta sejarahnya para khulafa, bagus dalam membuat karya tulis, kebaikan pada teman dan murid yang dimilikinya, Seperti Ahmad bin Hanbal, didalam sikap zuhud dan wara’nya serta keistiqomahanya didalam menekuini sunah”.

Diantara Perkataan Imam asy-Syafi’i
Imam Syafi’i pernah menuturkan, “Ilmu ada dua macam, ilmu agama yaitu ilmu fikih, dan ilmu dunia yaitu ilmu kedokteran. Adapun selain keduanya dari ilmu syair dan selainya maka itu kesia-sian dan sesuatu yang tidak berguna. Lalu beliau melantunkan bait syair:

Setiap ilmu selain al-Qur’an adalah kesibukan
Kecuali hadits dan ilmu fikih dalam agama
Ilmu itu adalah yang dikatakan telah menyampai pada kami
Selain dari pada itu adalah was-was setan

Beliau pernah ditanya, “Bagaimana nafsumu terhadap ilmu? Beliau menjawab, “Aku mendengar perhuruf dari sesuatu yang belum pernah aku dengar. Kecintaan pada anggota tubuhku kalau seandainya mereka punya pendengaran sehingga merasakan nikmat seperti kenikmatan yang dirasakan oleh kedua telingaku”. Lalu beliau ditanya, “Lantas bagaimana dengan semangatmu? Beliau menjawab, “Semangatnya orang pelit yang berusaha mengumpulkan harta didalam usahanya demi memperoleh harta yang diinginkan”. Kemudian beliau ditanya kembali, “Lalu bagaimana dengan pencarianmu pada ilmu? Beliau berkata, “Seperti pencariannya seorang ibu yang kehilangan anak semata wayang miliknya”. Imam Syafi’i menuturkan dalam bait syairnya:

Aku akan arungi jauhnya negeri nan luas
Demi tercapai keinginanku atau aku mati terasing
Bila diriku mati maka Allah lah yang akan mengganti tempat tinggalku
Dan bila aku selamat maka pulangnya aku untuk menemui keluarga

Beliau juga pernah mengatakan, “Membaca hadits itu lebih baik dari pada mengerjakan sholat sunah. Dan menuntut ilmu itu lebih utama dari pada mengerjakan sholat sunah”. Diantara pesan beliau ialah, “Barangsiapa mempelajari al-Qur’an, mulia kedudukannya, barangsiapa berbicara tentang fikih, akan tumbuh kemampuannya, barangsiapa menulis hadits, kuat argumennya, barangsiapa melirik ilmu bahasa, tabiatnya akan lunak, dan barangsiapa memperhatikan ilmu hisab, akan melimpah pendapatnya, dan bagi siapa yang tidak menjaga dirinya, maka tidak bermanfaat ilmu yang dimilikinya”.

Beliau menuturkan, “Aku berharap kalau seandainya manusia mempelajari ilmu ini, kemudian tidak ada sedikitpun yang dinasabkan pada diriku, aku masuk didalamnya namun manusia tidak memujiku”. Beliau juga mewanti-wanti pada pengikutnya dengan berkata, “Apabila engkau jumpai ada hadits shahih maka itulah madzhabku. Dan apabila ada hadits shahih maka lemparlah pendapatku ke tembok”.

Imam Syafi’i adalah seorang ahli ibadah serta zuhud pada dunia, dikatakan oleh Rabi bin Sulaiman, “Adalah Imam Syafi’i mencukupkan malamnya, sepertiga untuk menulis, sepertiganya lagi untuk sholat, dan sepertiga yang terakhir untuk digunakan tidur. Dan beliau biasa menghatamkan al-Qur’an pada bulan ramadhan sebanyak enam puluh kali. Dan pada setiap bulanya sebanyak tiga puluh kali”.

Diantara ucapan agung beliau ialah, “Ilmu itu adalah yang bermanfaat bukanlah ilmu itu yang hanya sekedar dihafal”. Beliau juga mengatakan, “Belum pernah aku merasakan kenyang semenjak sepuluh tahun yang lalu kecuali sekali, itupun aku muntahkan dengan cara memasukan jari kedalam tenggorokan. Karena rasa kenyang membikin badan menjadi malas dan membuat hati keras, serta menghilangkan kecerdasan, membawa rasa kantuk dan membuat malas beribadah”.

Beliau juga pernah menuturkan, “Tidaklah sempurna seseorang melainkan dengan empat perkara, agama, amanah, penjagaan, dan keteguhan”. Diantara perkataan beliau, “Orang yang berakal ialah yang mengekang akalnya dari semua perkara yang tercela”. “Orang yang tidak mulai dengan ketakwaannya maka tidak ada kemulian bagi dirinya”. “Aku tidak merasa takut pada kefakiran sedikitpun, orang yang berlebihan mencari dunia adalah siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla yang ditimpkan padanya ahli tauhid”.

Ditanyakan pada beliau, “Kenapa seringkali engkau memegang tongkat, bukankah kamu masih sehat? Beliau menjawab, “Supaya mengingatkan diriku kalau sedang bepergian”. Beliau menuturkan, “Barangsiapa enggan meninggalkan syahwat maka dirinya tidak akan terpisah dari menyembah dunia”. Beliau berkata, “Kebaikan ada di lima perkara, kaya hati, tidak menganggu orang lain, usaha halal, bertakwa, dan percaya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla“. “Jauhilah perbuatan maksiat, dan meninggalkan perkara yang tidak berguna niscaya itu akan menyebabkan hatimu bersinar, biasakanlah dirimu menyendiri dan jangan banyak makan, dan hati-hatilah bergaul dengan orang bodoh dan orang yang enggan melayanimu”.

Imam Syafi’i juga pernah menuturkan, “Apabila engkau berbicara pada perkara yang tidak berguna niscaya ucapanmu akan menguasaimu bukan kamu yang menguasainya”. “Rukun muru’ah itu ada empat perkara, akhlak mulia, dermawan, rendah diri dan giat beribadah”. “Rendah diri termasuk akhlak mulia, sedang sombong maka termasuk kebiasaan yang rendah, rendah diri melahirkan kecintaan, dan merasa cukup melahirkan ketenangan jiwa”.

Beliau mengatakan, “Jika engkau merasa khawatir amalanmu terkotori dengan rasa ujub, ingatlah keridhoan siapa yang sedang engkau cari, nikmat seperti apa yang engkau inginkan, dan adzab siapa yang engkau lari darinya. Maka barangsiapa yang memikirkan hal tersebut, akan terasa rendah amalan yang ia kerjakan”. Senjata menjadi pemimpin ada lima, jujur dalam berkata, menyembunyikan rahasia, memenuhi janji, mulai memberi nasehat dan menunaikan amanah.

Beliau juga mengatakan, “Kedudukan orang yang tertinggi ialah orang yang tidak melihat pada kedudukan tersebut, dan orang yang paling banyak memiliki keutamaan adalah yang tidak melirik pada keutamaan”. Perkataan dan wejangan beliau diatas tadi menunjukan akan kesempurnaan akal pikiran serta kefasihan beliau. Dimana para ulama memasukkan Imam Syafi’i dalam barisan orang-orang yang berotak jenius. Imam Dzahabi menjelaskan, “Demi Allah Tidaklah tercela bagi kami, untuk mencintai Imam ini. karena beliau termasuk ulama yang sempurna keilmuannya yang ada pada zamannya”.

Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i, dimanakah ada orang yang seperti beliau dari sisi kejujuran, kemulian, kehormatan, keluasan ilmu, kecerdasan, pembelaan terhadap kebenaran, dan keutamaan yang begitu banyak. Rabi bin Sulaiman mengatakan, “Kalau seandainya kepandaian Imam Syafi’i dibandingkan dengan setengah dari akal penduduk bumi niscaya akal beliau lebih baik. Kalau sekiranya dari Bani Israil tentulah mereka akan membutuhkannya”. Beliau adalah orang yang sangat dermawan yang tidak ada bandingannya, walaupun kebanyakan hidup yang beliau jalani selalu ditemani dengan kefakiran. Apabila beliau mendapat harta, beliau langsung menginfakkanya, mensedekahkan pada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

Al-Humaidi mengkisahkan tentang beliau, “Imam Syafi’i pernah suatu kali datang ke Yaman dan bersama beliau ada dua puluh dinar. Kemudian beliau mendirikan kemah diluar Makah dan belum sampai sempurna kemahnya berdiri beliau telah mensedekahkan uang itu semuanya”. Abu Tsaur salah seorang sahabatnya mengkisahkan, “Syafi’i pernah punya keinginan pergi ke Makah dan bersama beliau ada sedikit uang. Aku katakan padanya, “Kalau sekiranya anda membeli dengan uang tersebut sedikit ladang untuk anakmu”.

Dan beliau sangat jarang sekali memegang uang disebabkan kedermawananya. Beliau kemudian pergi dan pulang, maka aku tanyakan padanya, dan beliau menjawab, “Aku tidak menjumpai di Makah ada ladang yang memungkinkan bagiku untuk membelinya, akan tetapi, aku membangun di Mina kemah yang bisa digunakan bagi saudara kita apabila berangkat haji sehingga mereka bisa bertempat disana”. Abu Tsaur mengomentarai, “Sungguh diriku menjadi paham, sehingga akupun ingin melakukannya”. Lalu beliau melantunkan bait syair:

Apabila pagi menyapa diriku masih bisa makan
Biarkanlah keinginan pergi dariku duhai Sa’id
Jangan khawatir akan masa depan yang datang
Sesungguhnya hari esok masih menyisakan rizki baru

Kematian Imam asy-Syafi’i.       
Al-Muzni mengkisahkan tentangnya, “Aku berkunjung pada Imam Syafi’i saat beliau sedang sakit yang mengantarkan pada kematiannya, aku tanyakan padanya, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana kabarmu? Beliau mengangkat kepala lalu berkata, “Kabarku yang akan segara meninggalkan dunia, dan berpisah dengan para sahabatku, bertemu dengan amal jelek yang aku perbuat, dan kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla aku akan kembali. Sedang diriku tidak tahu kemana ruhku dibawa, apakah kesurga maka ku ucapkan selamat padanya atau ke nereka maka aku pun bersedih dengannya”. Kemudian beliau menangis tersedu-sedu, lalu berkata dalam bait syair:

Tatkala hatiku keras dan terasa sempit keyakinanku
Aku jadikan rasa harap pada Allah sebagai tanggaku
Betapa besar dosa yang ku perbuat, namun ketika aku bandingkan
Dengan ampunan Rabbku, sungguh ampunanNya lebih besar
Senantiasa Engkau Maha Pengampun atas segala dosa
Penyayang lagi mengampuni, menganugerahi serta memuliakan

Beliau meninggal di Mesir, tepatnya pada hari kamis, ada yang mengatakan, hari jum’at pada akhir bulan Rajab tahun 204 H, dengan usia lima puluh empat tahun. Begitu mulia kedudukannya dan semoga surga sebagai tempat kembalinya.

Berkata Rabi bin Sulaiman, “Aku melihat Imam Syafi’i setelah kematian beliau dalam mimpiku, aku pun bertanya padanya, “Wahai Abu Abdillah, apa yang diperbuat Allah Shubhanahu wa Ta’alla denganmu? Dia menjawab, “Mendudukan diriku diatas kursi yang terbuat dari emas dan menaburkan disekelilingku permata yang halus”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Imam Syafi’i, dan membalas atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan, serta menempatkan diri derajat yang tinggi.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة الإمام الشافعي Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] Bidayah wa Nihayah 14/135.
[2] Siyar a’lamu Nubala 10/5-99. Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir 14/132-140.

Imam Ibnu Mubarak

IMAM IBNU MUBARAK

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian kisah perjalanan hidup seorang ulama ahli ilmu dari para ulama umat ini. Imam dari kalangan para imam petunjuk, Allah Shubhanahu wa Ta’ala telah menolong agama Islam dengan perantaranya, serta menjadi penjaga sunah. Berkata Imam Dzahabi menjelaskan biografi beliau, “Syaikhul Islam, pemimpin para ahli takwa pada zamannya, al-Hafidh yang mumpuni, Abdullah bin Mubarak al-Handhali maula at-Turki kemudian al-Marwazi yang lahir pada tahun 118 H.

Beliau mulai menuntut ilmu pada usia yang kedua puluh tahun, beliau termasuk orang yang paling banyak melakukan perjalanan jauh dan berkeliling dunia guna menuntut ilmu, berjihad, berdagang, dan berinfak kepada saudaranya sesama muslim karena Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Dengan menyiapkan segala keperluan mereka untuk berangkat haji bersamanya. Syu’aib bin Harb menjelaskan, “Aku pernah mendengar Abu Usamah berkata, “Ibnu Mubarak dalam Kalangan ahli hadits semisal amirul mukminin dikalangan manusia”. Dan Kebiasaan yang beliau lakukan adalah banyak duduk dirumahnya sampai pernah dikatakan padanya, “Tidakkah engkau merasa jenuh? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku merasa jenuh sedangkan diriku bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (karena menyibukkan diri untuk mentelaah hadits)”.

Asy’ats bin Syu’bah mengatakan, “Tatkala khalifah ar-Rasyid datang ke Ruqah maka orang-orang berhamburan lalu berdiri dibelakang Ibnu Mubarak, tali sendal saling terputus, debu pun berterbangan, maka Ibunya Amirul mukminin melongokkan kepalanya keluar dari tempat tandunya. Lalu bertanya, “Siapa dia? Mereka menjawab, “Ulama dari ahli Khurasan telah datang”. Lalu dia berkata, “Demi Allah, inilah raja sesungguhnya, bukan seperti kerajaanya Harun yang tidak berkumpul melainkan orang-orang tertentu dan para bangsawan”.

Muhammad bin ‘Ayan menceritakan, “Aku pernah mendengar Abdurahman bin Mahdi berkata, sedang waktu itu berkumpul disisinya para pakar hadits yang mana mereka menanyakan pada beliau, “Engkau telah berguru kepada ats-Tsauri dan mendengar hadits darinya, begitu pula anda telah berguru kepada Ibnu Mubarak, manakah yang lebih utama dari keduanya? Beliau menjawab, “Kalau seandainya Sufyan ats-Tsauri berusaha dalam suatu hari untuk semisal Abdullah bin  Mubarak tentu dirinya tidak akan sanggup”.

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Sungguh diriku tidak punya hajat untuk mengerahkan umurku seluruhnya untuk suatu ketika menjadi semisal Ibnu Mubarak. Aku tidak sanggup untuk menjadi seperti dia tidak pula dalam waktu yang singkat”. Sedang Ibnu Uyainah mengatakan, “Aku melihat kepada perkaranya para sahabat, dan membandingkan dengan perkaranya Abdullah bin Mubarak maka aku tidak menjumpai keutamaan mereka dibanding dengan Abdullah melainkan shuhbah (bersahabat) bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka berjihad bersama beliau”.

Ibnu Mubarak menyatakan, “Aku pernah meminjam sebuah pena pada penduduk Syam maka akupun pergi ke sana untuk mengembalikannya. Tatkala diriku baru sampai di Muru maka aku jumpai ternyata orangnya ada disana lantas aku kembali ke Syam sampai kiranya aku kembalikan kepada pemiliknya”. Pernah suatu ketika berkumpul semisal al-Fadhl bin Musa, Makhlad bin Husain, lalu mereka mengatakan, “Mari kita coba hitung pintu-pintu kebaikan yang dilakukan oleh Ibnu Mubarak. Maka mereka mulai menghitungnya, “llmu, fikih, adab, nahwu dan bahasa, zuhud, berbahasa secara fasih, sya’ir, sholat malam, ibadah, haji, jihad, pemberani, jago naik kuda, kuat, meninggalkan ucapan yang tidak penting, adil, dan sangat sedikit berselisih bersama para sahabatnya”.

Pernah suatu ketika dikatakan pada Ibnu Mubarak, “Jika engkau usai sholat kenapa tidak pernah duduk-duduk bersama kami? Beliau menjawab, “Justru aku duduk bersama para sahabat dan tabi’in. Aku menelaah buku-buku dan atsar-atsar mereka. Kalau bersama kalian apa yang harus aku perbuat? Sedang kalian senangnya mengunjing orang lain”.  Nu’aim bin Hamad pernah mengatakan tentang beliau, “Adalah Ibnu Mubarak jika beliau membaca kitab yang berkaitan masalah hati maka beliau seperti onta atau sapi yang disembelih karena menangis, tidak ada seorangpun diantara kami yang menanyakan perihal itu pada beliau kecuali beliau tidak menanggapinya”.

Diriwayatkan bukan hanya seorang, bahwa Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Sampai kapan engkau akan menulis hadits? Beliau menjawab, “Mungkin ada kata yang bermanfaat bagiku yang belum sempat aku menulisnya”. Beliau adalah saudagar yang kaya raya lagi pandai bersyukur dan dermawan, berkata Salamah bin Sulaiman, “Pernah suatu ketika ada seseorang datang kepada Ibnu Mubarak lalu memohon supaya melunasi hutang-hutangnya. Maka beliau menulis surat pada orang tersebut supaya dikasih kepada pegawainya. Tatkala surat tersebut sampai pada sang pegawai, ia bertanya, “Berapa hutang yang engkau minta supaya dilunasi? Dia menjawab, “Tujuh ratus dirham”.

Akan tetapi Ibnu Mubarak telah menulis pada pegawainya supaya memberi orang tersebut sebanyak tujuh ribu dirham. Maka pegawai tadi menyuruh supaya menghadap beliau lagi, lalu dia berkata, “Sesungguhnya hartamu akan habis”. Maka Abdullah menulis kembali padanya kalau hartaku habis, maka sesungguhnya umur juga akan habis, beri uang sebanyak apa yang aku tulis”. Beliau juga pernah berkata kepada Fudhail bin Iyadh, “Kalaulah bukan karenamu dan para sahabatmu tentu aku tidak akan berniaga”. Dan beliau punya kebiasaan selalu berinfak kepada fakir miskin pada setiap tahunnya sebanyak seratus ribu dirham.

Ali bin Fudhail mengkisahkan, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnu Mubarak, “Engkau yang menyuruh kami untuk zuhud dan tidak banyak mengumpulkan harta, serta hidup apa adanya. Namun, kami justru melihat engkau datang dengan harta dagangan, bagaimana ini? Dia menjawab, “Wahai Abu Ali, aku melakukan ini hanya untuk menjaga wajahku, memuliakan kehormatanku serta untuk menolongku didalam ketaatan kepada Rabbku”. Ayahku berkata, “Duhai Ibnu Mubarak betapa indahnya kalau bisa demikian”.

Muhammad bin Isa mengatakan, “Adalah Ibnu Mubarak seringkali bolak-balik pergi ke Thurtus. Biasanya rombongan berhenti didaerah yang bernama Khan. Ditempat tersebut ada seorang pemuda yang sering bertemu dengannya, membantu keperluannya serta mendengar hadits darinya. Pada suatu waktu Abdullah bin Mubarak datang berkunjung ketempat tersebut, namun beliau tidak menjumpai pemuda tersebut, maka beliau keluar ke medan jihad dengan tergesa-gesa, tatkala kembali maka beliau menanyakan kabar pemuda tadi, diantara kabar yang didapatkan, bahwa pemuda tersebut sedang  bingung dikarenakan terlilit hutang sebanyak sepuluh ribu dirham. Lalu beliau pun segera meminta petunjuk rumah yang memberi pinjaman, setelah bertemu beliau membayar hutang pemuda tadi sebanyak sepuluh ribu dirham sambil bersumpah agar tidak memberi tahu seorangpun selagi dirinya masih hidup. Akhirnya sang pemuda terbebas dari jerat hutang berkat kedermawanan Ibnu Mubarak.

Kemudian beliau bertemu dengan sang pemuda sejauh perjalanan dua hari dari Ruqah. Lantas beliau menanyakan kabarnya, “Duhai anak muda dari mana kiranya kamu, sudah lama aku tidak menjumpaimu? Dirinya menjawab, “Ada seorang yang baik hati telah melunasi hutang-hutangku yang aku tidak tahu siapa dia”. Ibnu Mubarak berkata, “Bersyukurlah kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala“. Sang pemuda tadi tetap tidak tahu siapa orangnya, dirinya baru mengetahui setelah Abdullah bin Mubarak meninggal dunia. Adalah Ibnu Mubarak apabila datang musim haji maka orang-orang dari penduduk Muru berkumpul disisi beliau sambil mengatakan, “Kami ingin pergi haji bersamamu”. Beliau mengatakan, “Mari, sini kumpulkan harta perbekalan kalian”.

Beliau lalu mengumpulkan bekal mereka lalu meletakan disebuah kotak kemudian menguncinya. Selanjutnya beliau berkumpul dan keluar bersama-sama dari Muru menuju Baghdad sedang beliau yang menanggung semua kebutuhan perjalanan mereka. Memberi makan dengan makanan yang paling mewah, menjamu dengan buah-buahan yang lezat. Dari sana kemudian mereka lanjutkan perjalanan keluar dari Baghdad dengan pakaian yang paling indah dan bagus sampai akhirnya mereka sampai dikota Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya disana beliau menanyakan satu persatu, “Apa yang engkau inginkan sebagai oleh-oleh untuk keluargamu? Mereka menjawab, “Ini dan itu”.

Lalu mereka keluar dari Madinah menuju Makah, manakala mereka telah selesai melaksanakan manasik ibadah haji, beliau bertanya kembali pada setiap orangnya, “Hadiah apa yang engkau sukai untuk diberikan kepada keluargamu dari cendera mata Makah? Mereka menjawab, “Ini dan itu”. Beliau pun membelikan keinginan mereka semua.

Kemudian mereka keluar dari Makah untuk kembali kekampung halaman, dan beliaulah yang menanggung semua biaya perjalanan sampai akhirnya mereka sampai di Muru dan kembali kerumahnya masing-masing. Manakala tiga hari sesudah kepulangan mereka, beliau mengundang dan menjamu makan dirumahnya, tatkala mereka sudah makan dan merasa senang, beliau lalu meminta pegawainya untuk mengambilkan kotak yang berisi uang mereka, beliau membuka lalu mengembalikan kepada mereka semua sesuai dengan nama-nama yang tercantum pada kotak tersebut.

Tatkala beliau ditegur kenapa beliau lebih memilih untuk membagi-bagi harta dipenjuru negeri dan tidak lebih mementingkan negerinya. Beliau beralasan, “Sesungguhnya aku mengetahui tempat orang-orang yang punya keutamaan, jujur, dan senang mengumpulkan hadits dan tekun didalam mencarinya demi kebutuhan manusia terhadap mereka jikalau mereka membutuhkan. Jika sekiranya kita tinggalkan mereka tentu akan sia-sia ilmu yang mereka miliki. Dan bila kita bantu mereka, maka mereka akan mudah untuk menyebarkan ilmu kepada umatnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang aku tidak mengetahui setelah kenabian yang lebih utama dari pada rumah ilmu”.

Ini merupakan pesan yang tersirat bagi para pedagang agar mereka senang untuk menginfakan hartanya bagi para fakir, orang-orang yang membutuhkan, para penuntut ilmu, program kebaikan serta yayasan sosial. Sesungguhnya dengan melakukan hal tersebut akan menjadikan harta dan kekayaannya berbarokah. Disebutkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ » [أخرجه أحمد]

Kenikmatan pada harta yang baik adalah ketika berada ditangan orang sholeh“. [HR Ahmad 29/299. no: 17763]

Didalam hadits lain dijelaskan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidaklah pagi menyapa seorang hamba melainkan ada dua malaikat yang turun kepadanya. Lalu salah satunya berdo’a: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak”. Sedang satunya lagi berdo’a: “Ya Allah, berilah kebinasaan bagi harta orang yang pelit“. [HR Bukhari no: 1442. Muslim no: 1010]

Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ » [أخرجه مسلم]

Sedekah tidak akan mengurangi sedikitpun dari harta benda“. [HR Muslim no: 2588]

Diantara petuah-petuah beliau adalah, “Adakalanya amalan sedikit menjadi banyak disebabkan niat, dan adakalanya amalan besar menjadi kecil gara-gara niat”. Beliau juga pernah berkata,  “Barangsiapa yang meremehkan para ulama maka sungguh akhiratnya telah hilang. Barangsiapa yang memandang remeh pada penguasa maka dirinya akan kehilangan dunia. Dan barangsiapa yang memandang bodoh saudaranya maka harga dirinya telah pergi”.

Ali bin Hasan mengatakan, “Aku pernah mendengar Ibnu Mubarak ditanya oleh seseorang tentang nanah yang keluar dari lututnya yang telah dideritanya semenjak tujuh tahun yang lalu. Dirinya menjelaskan, “Aku telah mengobati dengan berbagai ramuan, dokter juga telah aku tanyai, namun tidak ada tanda-tanda kesembuhan”. Beliau berkata padanya, “Pergilah, lalu galilah sebuah sumur ditempat (orang) yang membutuhkan air, aku berharap semoga disana ada mata air, lalu engkau gunakan untuk menahan lukamu tersebut”. Orang tersebut mematuhi perintahnya, dan betul akhirnya dia sembuh dari penyakitnya.

Suwaid bin Sa’id mengatakan, “Aku pernah melihat Ibnu Mubarak di Makah dengan mendatangi air zam-zam lantas beliau mengambil airnya untuk diminum, kemudian beliau menghadap ke kiblat dan berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya Ibnu Abi Mawal mengabarkan pada kami dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Air zam-zam sesuai dengan hajat yang meminumnya“. Maka kini, aku meminumnya untuk mengobati kehausanku kelak pada hari kiamat”. Kemudian beliau meminumnya.  Muhammad bin Ibrahim menceritakan, “Ali bin Ibnu Mubarak pernah mengimla untuk kami pada tahun 177 H, sebuah syair yang kami sampaikan kepada Fudhail bin Iyadh dari Thurtus:

Duhai ahli ibadah dua tanah haram, jikalau engkau menyaksikan kami
Tentu engkau mengira kalau kami bermain-main
Duhai yang pipinya selalu basah oleh air mata
Sedang leher kami hanya mengalirkan darah
Duhai orang yang selalu berjihad dengan keberanian
Adapun kuda kami hanya capai menderum
Debu memenuhi tubuhmu dan kami hanya melewatinya
Demi menebas musuh engkau pacu kudamu
Telah sampai kepada kita berita dari Nabi
Sabdanya yang shahih lagi jujur tidak didustakan
Tidak akan berkumpul debu jihad dijalan Allah
Pada diri seseorang dengan uap dari jilatan api neraka
Perhatikan pula al-Qur’an yang berbicara kepada kami
Yang tidak bisa didustakan, jika seorang syahid tidaklah binasa

Maka ketika Fudhail menerima surat tersebut tatkala di Makah, beliau lalu membacanya dan menangis, kemudian berkata, “Benar apa yang dikatakan oleh Abu Abdurahman”. Tatkala beliau telah meninggal ada salah seorang sahabatnya yang melihat beliau didalam mimpi, lalu ditanyakan padanya, “Apa yang telah Allah Shubhanahu wa Ta’ala perbuat untukmu? Beliau menjawab, “Allah telah mengampuniku dengan sebab perjalananku untuk mencari hadits”. Dan beliau berpesan, “Pegangilah al-Qur’an, pegangilah al-Qur’an”.

Beliau meninggal pada tahun 181 H pada usianya yang ke enam puluh tiga tahun. Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Dan membalas dengan sebaik-baik balasan atas jasanya kepada Islam dan kaum muslimin, dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kami bersamanya dikampung kenikmatan, bersama para Nabi, shidiqin, para syahid dan orang-orang sholeh, merekalah sebaik-baik teman.[1]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الإمام عبد الله بن المبارك وشيء من أخباره Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] . Lihat Siyar ‘alamu Nubala 8/378-421.

Kesyirikan Pada Kaumnya Nabi Ilyas Alaihissalam

KESYIRIKAN PADA KAUMNYA NABI ILYAS ALIHISSALAM

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Kesyirikan Pada Kaumnya Nabi Ilyas
Kaum nabi Ilyas ‘Alaihis salam, Allah Azza wa jalla telah menyebutkan pada kita suatu kaum yang terjatuh ke dalam kesyirikan dan melakukan peribadahan kepada sesembahan selain Allah Shubhanahu wa Ta’alla, mereka adalah Kaumnya Nabi Ilyas ‘Alaihis salam. Sebagaimana yang Allah ta’ala rekam didalam firman    -Nya setelah menceritakan kisah nabi Harun dan Musa ‘alaihima sallam, Allah Shubhanahu wa Ta’alla berfirman:

قال الله تعالى :  وَإِنَّ إِلۡيَاسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٢٣ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَلَا تَتَّقُونَ ١٢٤ أَتَدۡعُونَ بَعۡلا وَتَذَرُونَ أَحۡسَنَ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٢٥  ٱللَّهَ رَبَّكُمۡ وَرَبَّ ءَابَآئِكُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٢٦ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ

“Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah Ba´i dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta. (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?. Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke dalam neraka). [ash-Shafaat/37: 123-127]

Demikian pula Allah Shubhanahu wa Ta’alla jelaskan didalam ayat yang lain:

 وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ  

“Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh”. [al-An’aam/6 : 75]

Maka berikut ini penjelasan tentang nabi Ilyas ‘Alaihi sallam beserta kaumnya, serta keterangan mengenai kesyirikan yang terjadi pada mereka.

Nama Ilyas, Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Ilyas ini, setidaknya ada dua pendapat :

  1. Pendapat pertama mengatakan Beliau adalah Idris. Imam Bukhari mengatakan, disebutkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwasanya Ilyas adalah nabi Idris ‘alaihi sallam [1]. Al-Hafidz menjelaskan, “Adapun pernyataan Ibnu Mas’ud maka diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid [2] dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ilyas adalah Idris, sedangkan Ya’kub adalah Israil”. Sedangkan perkataan Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Juwaibir dalam tafsirnya dari adh-Dhahak dari Ibnu Abbas, tapi sanadnya dha’if. Oleh karena itu tidak diriwayatkan oleh Bukhari, Berdasarkan hal ini, Abu Bakar bin al-Arobi [3] berpendapat bahwa Idris bukanlah kakek dari nabi Nuh. Hanya saja ia berasal dari Bani Israil, karena Ilyas berasal dari Bani Israil. Beliau berdalil dengan sambutan nabi Ilyas terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah Mi’raj, “Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih”[4]. Andai saja termasuk kakeknya tentunya Ilyas akan mengatakan sebagaimana perkataan Adam dan Ibrahim, “Dan anak yang shalih”. Ini merupakan pendalilan yang bagus, akan tetapi bisa dijawab bahwa Ilyas berkata demikian karena rasa tawadhu’ dan berlaku sopan santun. Maka itu bukanlah dalil yang kuat”.[5]

Besar kemungkinan kalau orang yang membaca firman Allah ta’ala:

 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِلۡ يَاسِينَ 

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?. [Ash-Shafaat/37 : 130]

Dirinya akan mengira kalau yang dimaksud ialah nabi Idris dan berpendapat dengan perkataan di atas [6]. Imam Syaukani menuturkan, “Ibnu Mas’ud, al-A’masy [7], dan Yahya bin Watsab[8] membacanya, (و إدريس لمن المرسلين)[9].

  1. Bahwasannya beliau adalah Ilyas, bukan Idris. Mengacu pada pendapat ini maka nama beliau adalah:
  2. Ilyas bin Nasai bin Fanhash bin al-‘Izar bin Harun saudara Musa bin Imran, wallahu a’lam[10].
  3. Adapula yang mengatakan beliau adalah Ilyas bin Yas cucu nabi Harun saudara Musa.
  4. Beliau adalah Ilyas at-Tasybiy[11].
  5. Diceritakan beliau adalah Ilyas bin al-‘Azir bin al-‘Izar bin Harun bin Imran.

Kaum nabi Ilyas :
Dahulu Ilyas diutus kepada penduduk Ba’labak yang terletak di sebelah barat Damaskus [12]. Dan kota Ba’labak [13] saat ini berada dalam terutorial negeri Libanon.

Kesyirikan Kaum Ilyas :
Allah Ta’ala mengutus Ilyas kepada penduduk Ba’labak, untuk menyeru mereka kepada Allah Azza wa jalla dan meninggalkan peribadahan berhala yang mereka beri nama Ba’i [14]. al-Hafidz Ibnu Asakir menukil dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Dinamakan daerah itu dengan Ba’labak karena mereka menyembah Ba’i. Dan tempat mereka berada di depan sehingga dinamakan Ba’labak” [15]. Dan para ulama berbeda pendapat tentang arti Ba’i menjadi beberapa pendapat :

  1. Ba’i adalah nama berhala yang mereka sembah. Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat ini lebih mendekati kebenaran”.[16]
  2. Dia adalah nama seorang wanita yang bernama Ba’i yang mereka sembah [17].
  3. Sedang Mujahid menuturkan, “Ba’i artinya adalah Rabb” [18]. Pendapat ini yang dipegang oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya[19].

Dan pendapat yang benar dari pendapat-pendapat diatas adalah pendapat pertama sebagaimana di isyaratkan oleh Ibnu Katsir.

Sesungguhnya mereka dahulu menyembah berhala yang bernama Ba’i. Maka Ilyas menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dan melarang dari peribadatan kepada selain Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Yang mana sebelumnya Raja mereka telah beriman namun kemudian murtad, selanjutnya mereka terus menerus di atas kesesatan dan tidak ada seorangpun yang beriman kepada Ilyas.

Maka nabi Ilyas ‘Alaih sallam berdoa kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla untuk menimpakan keburukan pada mereka, sehingga Allah Shubhanahu wa Ta’alla menahan hujan untuk mereka selama tiga tahun. Lantas mereka memohon kepada Ilyas agar dihilangkan kesusahannya, dan berjanji akan beriman kepada Ilyas apabila hujan turus di negeri mereka.

Selanjutnya nabi Ilyas ‘Alaihi sallam berdoa kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla, dan turunlah hujan. Akan tetapi mereka menjadi lebih buruk dari kekufuran yang mereka perbuat sebelumnya. Maka Ilyas memohon kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla agar mewafatkannya.[20]

Al-Hafidz Ibnu Jarir ath-Thabariy menyebutkan dalam tafsirnya kisah-kisah yang lain, kebanyakannya berasal dari Israiliyat. Dari jalan Muhammad bin Ishaq dan Wahb bin Munabbih, dan tidak diketahui keshahihannya. Oleh karena itu lebih sempurna untuk berpaling dari hal tersebut[21].

Artinya, bahwa kaumnya nabi Ilyas ‘Alaihi sallam menyembah sesembahan selain Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Mereka berbuat kesyirikan kepada -Nya dalam uluhiyah -Nya dan peribadahan kepada -Nya. Maka Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengutus nabi Ilyas kepada mereka untuk menyeru kepada tauhid.

Dalam sebuah riwayat, mereka beriman kemudian kufur, dan dalam riwayat yang lain, bahwasanya mereka beriman kemudian kufur, kemudian beriman ketika melihat kebenaran yang dikatakan oleh nabinya[22].

[Disalin dari بيان الشرك في قوم إلياس عليه السلام Dinukil dari Buku : “Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang” (1/350-354). Penulis Syaikh  Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote
[1] . HR Bukhari  6/430 dengan syarah al-Fath
[2] . Beliau adalah Abdun bin Humaid bin Nashr al-Kasiy. Abu Muhammad, ahli hadist. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdulhamid. Meriwayatkan hadits dan menulis kitab. Meriwayatkan darinya Imam Muslim, at-Tirmidzy, dan beberapa muhadits. Wafat tahun 249 H. lihat apa yang disebutkan oleh Suyuthi dalam ‘Thabaqatul Hufadz’ : 238,239.
[3] . Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Mu’arifi, al-Andalusi, al-Isybili, al-Maliki, lebih masyhur dengan sebutan Ibnul Arabi. Abu Bakar. Ulama kenamaan dalam berbagai bidang fikih, ushul, dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Lahir pada tahun 468 H dan wafat pada tahun 543 H. Di antara peninggalan karya tulisnya, Syarhul Jami’is Shahih lit Tirmidzy, al-Mahshul minal Ushul, Ahkamul Qur’an dan selainnya. Lihat  yang disebutkan oleh Umar Ridha Kahalah dalam Mu’jamul Mu’alifirn.
[4] . HR Bukhari dalam shahihnya. Kitab Ahaditsul Anbiya’i. no. 3094. Dan Muslim, Kitabul Iman no. 237
[5]. Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Bariy : 6/430.
[6] . Lihat qiraat seperti ini dalam ad-Durrul Mantsur milik As-Suyuthi dari adh-Dhahak : 6/286. Dan disandarkan kepada Ibnu Abi Hatim.
[7]. Beliau adalah Sulaiman bin Mihran al-Kahili, maulanya, Abu Muhammad al-Kufiy al-Amasy. Salah seorang hafidz dan Qari’. Sempat melihat Anas buang air kecil. Meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa dan Ikrimah. An-Nasa’i mengatakan, ‘Tsiqatun tsabat’. Rujuk seperti yang disebutkan oleh al-Khazrajiy dalam al-Khulashah hal. 155.
[8]. Beliau adalah Imam Qudwah Muqri’, Syaikhul Qurra’, al-Asadiy al-Kahiliy, maulanya, al-Kufiy, salah satu ulama kenamaan. Meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Ibnu Umar, dan dari Ibnu Mas’ud dan Aisyah dan Abu Hurairah secara mursal. Al-Amasy mengatakan, “Yahya bin Watsab lebih banyak menelaah dengan fikiran dibanding Turob”.  Lihat yang disebutkan oleh adz-Dzahabiy dalam as-Siyar : 4/379-382.
[9]. Asy-Syaukani, dalam Fathul Qadir : 4/409
[10]. Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam Fathul Bari: 6/432, dan dinisbatkan kepada Ibnu Ishaq. Disebutkan oleh ath-Thabariy dalam Tarikhnya : 1/461, dan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya : 4/19.
[11]. Asy-Syaukani, dalam Fathul Qadir : 4/409. Dan telah menyebutkan 2 pendapat yang telah lalu.
[12]. Fathul Qadir, oleh Imam Saukani.
[13]. Ba’labak dengan di fathah huruf Ba dan disukun huruf  Ain dan difathah huruf Lamnya. Huruf Ba kedua tipis dan huruf Kaf bertasydid. Sebuah kota tua yang memiliki bangunan menakjubkan dan peninggalan-peninggalan yang agung. Memiliki tiang-tiang berbatu pualam yang tidak ada yang semisalnya di dunia. Jaraknya dengan Damaskus perjalanan tiga hari, disebutkan jaraknya 12 farsakh dari arah utara. Lihat kitab Mu’jamul Buldan karangan Yaqut al-Hamwa : 1/537.
[14]. Ibnu Katsir, al-Bidayah an-Nihayah : 1/337.
[15]. Ibid 1/337
[16]. Ibid.
[17]. Ibid.
[18]. Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya 10/58-59
[19]. Lihat perkataan al-Bukhari dalam shahihnya : 8/405
[20]. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Adzim : 4/19-20.
[21]. Rujuk ke dalam Tafsir ath-Thabari : 10/59-60.
[22] Idem

Hukum Mencela Ulama

HUKUM MENCELA ULAMA

Oleh
Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan : Apakah pendapat Syaikh terhadap sebagian penuntut ilmu dari kalangan pemuda yang mempunyai kebiasaan mencela satu sama lain, membuat manusia menjauh dan menghindar dari mereka? Apakah ini termasuk perbuatan syar’i yang diberi pahala atasnya atau (tidak syar’i) yang disiksa atasnya?

Jawaban : Menurut pendapat saya ini adalah perbuatan yang diharamkan. Apabila seorang muslim tidak boleh mengumpat (ghibah, menggunjing) saudaranya sesama muslim sekalipun ia bukan seorang yang alim, maka bagaimana mungkin dibolehkan baginya mengumpat saudaranya sesama ulama dari golongan orang-orang yang beriman? Orang yang beriman wajib menahan lisannya dari ghibah terhadap saudara-saudaranya sesama muslim. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al-Hujurat/49:12]

Hendaklah orang yang melakukan hal ini mengetahui bahwa apabila ia mentajrih (mencela) seorang ulama maka ia menjadi penyebab ditolaknya kebenaran yang dikatakan oleh ulama ini. Maka tanggung jawab dan dosanya adalah terhadap orang yang mencela ini, karena mencela seorang ulama pada kenyataannya bukanlah mentajrih (mencela) pribadinya, bahkan mencela  pewaris Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Apabila ia mentajrih ulama dan mencela mereka niscaya manusia tidak percaya dengan ilmu yang ada di sisi mereka dan ilmu tersebut diwarisi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pada saat itu mereka tidak percaya dengan syari’at yang dibawa oleh ulama yang ditajrih ini.

Saya tidak mengatakan bahwa setiap ulama adalah ma’shum, bahkan setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Dan apabila engkau melihat seorang ulama melakukan kesalahan menurut pendapatmu, maka hubungilah beliau dengan telepon dan sampaikanlah pendapatmu. Jika jelas bagimu bahwa kebenaran adalah bersamanya maka engkau harus mengikutinya. Dan jika tidak jelas bagimu akan tetapi engkau mendapatkan alasan yang membolehkan ucapannya maka engkau harus menahan diri. Dan jika engkau tidak mendapatkan alasan terhadap pendapatnya maka peringatkanlah dia terhadap pendapatnya karena ngotot di atas kesalahan hukumnya tidak boleh. Akan tetapi engkau tidak boleh mentajrihnya dan ia seorang alim yang dikenal umpamanya dengan niat yang baik.

Apabila kita ingin mentajrih para ulama yang dikenal dengan niat yang baik karena kesalahan yang mereka lakukan padanya dari masalah fikih, niscaya kita akan mentajrih para ulama besar, namun yang wajib adalah yang telah saya sebutkan. Apabila engkau melihat seorang ulama melakukan kesalahan maka diskusi dan berbicaralah bersamanya. Bisa jadi bahwa kebenaran adalah bersamanya maka engkau harus mengikutinya atau kebenaran ada bersamamu maka ia yang harus mengikutimu. Atau tidak jelas dan jadilah perbedaan yang terjadi di antara kamu berdua adalah khilaf yang dibolehkan. Saat itu, engkau wajib menahan diri, ia mengatakan apa yang dia katakan dan engkau mengatakan apa yang engkau katakan.

Alhamdulillah, khilaf tidak hanya terjadi di masa sekarang. Khilaf sudah terjadi sejak masa sahabat hingga hari ini. Dan apabila sudah jelas kesalahan akan tetapi ia tetap bertahan terhadap pendapatnya, engkau harus menjelaskan kesalahan dan berjauh darinya. Akan tetapi bukan atas dasar mentajrih dan ingin membalas dendam, karena orang tersebut bisa jadi mengatakan pendapat yang benar pada masalah lain selain yang engkau perdebatkan.

Yang penting sesungguhnya saya memperingatkan kepada saudara-saudaraku dari bala dan penyakit ini. Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku dan mereka kesembuhan dari segala hal yang menjelekkan kami atau membahayakan kami pada agama dan dunia kami.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin – Kitab Dakwah 5/2/61-64.

[Disalin dari حكم تجريح العلماء   Penulis Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah, Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]