Author Archives: editor

Jangan Mencela Sahabat Rasulullah!

JANGAN MENCELA SAHABAT RASULULLAH!

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.

Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh :

  1. Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Manaqib, Bab Qauluhu Lau Itakhadztu Khalilan, no. 3397 dan lafaz ini adalah lafazh Al Bukhari.
  2. Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Fadhail Al Sahabat, Bab Tahrim Sabbi Ash Shahabat, no. 4610 dan 4611.
  3. Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Manaqib ‘An An Nabi, Bab Fiman Sabba Ashabi An Nabi, no. 3796.
  4. Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab As Sunnah, Bab An Nahyu ‘An Sabb Ashabi An Nabi, no. 4039.
  5. Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Muqaddimah, Bab Fadhlu Ahli Badr, no. 157.
  6. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 10657, 11092 dan 11180.

Syarah Kosa Kata
1.
(لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي) : Jangan mencela sahabatku. Kata (أَصْحَابِي ) menurut etimoligi bahasa Arab diambil dari kata (صُحْبَة ), bermakna hidup bersama.[1]

Abu Bakar Muhammad bin Ath-Thayyib Al Baqilani (wafat tahun 463) berkata,”Ahli bahasa Arab sepakat, bahwa perkataan ( صحابي) berasal dari kata (صُحْبَة ), dan bukan dari ukuran persahabatan yang khusus. Bahkan ia berlaku untuk semua orang yang menemani seseorang, baik sebentar atau lama,” kemudian ia menyatakan,”Secara bahasa menunjukkan, (bahwa) hal ini berlaku kepada orang yang menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun sesaat pada siang hari. Demikian asal dari penamaan ini.”[2]

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal mendefinisikan sahabat dalam pernyataan beliau: “Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setahun atau sebulan atau sehari atau sesaaat atau hanya melihatnya, maka ia termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Namun definisi yang rajih adalah menurut Al Hafizh Ibnu Hajar, yaitu: “Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mukmin (beriman kepadanya) dan meninggal dalam keadaan Islam[4]. Sehingga tercakup dalam definisi ini orang yang berjumpa dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bermulazamah (dalam waktu) lama atau sebentar, orang yang meriwayatkan hadits dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang tidak, orang yang berperang bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak, dan orang yang melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun belum bermajelis dengannya, dan orang yang tidak melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena buta.

2. (فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ ) : Ucapan ini ditujukan kepada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dalil sebab adanya hadits ini adalah kisah yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu perkataan Abu Sa’id :

كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَيْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ

Terjadi antara Khalid bin Al Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf perseteruan, lalu Khalid mencelanya.[5]

Dengan demikian jelaslah kedudukan Khalid bin Walid Radhiyallahu anhu, ia tidak sama dengan kedudukan Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu ; karena Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu termasuk sahabat-sahabat yang masuk Islam pada awal dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Khalid bin Walid Radhiyallahu an hu masuk Islam belakangan, yaitu setelah penaklukan kota Makkah. Firman Allah Ta’ala.

لاَيَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولاَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبير

Tidak sama diantara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid/57:10]

Namun orang yang setelahnyapun masuk dalam larangan ini

3. (أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا) : Berinfak emas sebesar Gunung Uhud.
4. (مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ ) : Tidak dapat menyamai satu mud infak mereka dalam bentuk apapun. Satu mud adalah ¼ sha’.
5. (وَلَا نَصِيفَهُ ) : an-Nashif bermakna an- Nisfu, yaitu setengah mud.

Syarah Hadits
Hadits yang mulia ini menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat Radhiyallahu anhum. Dengan mengetahui kedudukan dan keutamaan sahabat Radhiyallahu anhum, kita dilarang mencela para sahabat Radhiyallahu anhum. Hingga jika diantara kita berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka tidak akan dapat menyamai infak mereka sebesar mud dan tidak pula setengahnya.

Faidah Hadits
1. Larangan mencela sahabat.
Dalam Islam, mencela sahabat sangat diharamkan, dengan dalil:

a). Karena hal itu merupakan ghibah yang dilarang dan menyakiti kaum mukminin, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah :

وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. [Al-Hujurat/49:12]
.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.[Al-Ahzab/33:58].

b). Allah telah meridhai mereka. Sehingga, bila mencela mereka, berarti menunjukkan ketidak ridhaan kepada mereka. Demikian ini bertentangan dengan firman Allah :

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh Allah telah meridhai kaum mukminin ketika mereka memba’iatmu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). [Al-Fath/48:18]

c). Perintah beristighfar (memohon ampunan) bagi mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”.[Al-Hasyr/59:10]

‘Aisyah Radhiyallahu anha menafsirkan ayat ini dalam pernyataannya kepada kemenakannya yang bernama Urwah bin Az Zubair Radhiyallahu anhu :

يَا ابْنَ أُخْتِي أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبُّوهُمْ

Wahai kemenakanku, mereka diperintahkan untuk memohon ampunan bagi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mereka justru mencacinya.[6]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu anha ini, dia berkata: “Tampaknya, beliau menyatakan hal ini ketika penduduk Mesir mencela Utsman Radhiyallahu anhu dan penduduk Syam mencela Ali Radhiyallahu anhu, sedangkan Al Haruriyah mencela keduanya. Adapun perintah memohon ampunan yang beliau isyaratkan, maka ia adalah firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ

Dan dengan ayat ini juga Imam Malik berhujjah, bahwa orang yang mencela sahabat tidak berhak mendapatkan harta fa’i. Karena Allah hanya menjadikan harta tersebut kepada orang yang datang setelah sahabat yang memohon ampunan bagi mereka.[7]

d). Allah melaknatnya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat Allah.[8]

e). Larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu di atas.
Bahkan sudah menjadi kesepakatan Ahlu Sunnah wal Jamaa’ah, sebagaimana dinyatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/34): ‘Ahlu Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat atas kewajiban tidak mencela seorangpun dari para sahabat.[9]

2. Bahaya mencela sahabat.
Diantara bahaya yang timbul dari perbuatan mencela sahabat adalah:

a). Mencela sahabat sebagai tanda kerendahan pelakunya, dan merupakan bid’ah dalam agama. Hal ini dinyatakan oleh Abu Al Mudzaffar As Sam’ani : “Mencela sahabat merupakan tanda kerendahan pelakunya. Ia juga merupakan kebid’ahan dan kesesatan”[10]

b). Mencela mereka berarti mencela saksi Al Qur’an dan Sunnah, dan dapat membawa pelakunya menjadi zindiq.
Hal ini diungkapkan Imam Abu Zur’ah Ar Razi : ”Jika kamu melihat seseorang melecehkan seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Karena menurut kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al Qur’an benar. Sedangkan yang menyampaikan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah para sahabat Radhiyallahu anhum. Mereka hanya ingin mencela para saksi kita untuk menghancurkan Al Qur’an dan Sunnah. Celaan kepada mereka (para pencela) lebih pantas, dan mereka adalah zindiq”[11]

c). Mendapat hukuman paling ringan, yaitu dita’zir (didera menurut kebijaksanaan pemerintah Islam).[12]

d). Mendapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat Allah.[13]

e). Menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelek, karena memiliki sahabat yang berhak dicela, sebagaimana diungkapkan Imam Malik rahimahullah : “Mereka kaum yang jelek, ingin mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak bisa. Lalu mereka mencela para sahabat radhiyallahu anhum.  Beliau sampai dikatakan “orang jelek tentu memiliki sahabat yang jelek pula”[14]

3. Hukum orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Orang yang mencela sahabat dapat kita bagi menjadi beberapa bagian:

a). Orang yang sekedar mencela sahabat Radhiyallahu anhum, maka masih perselisihkan karena ia berada diantara melaknat karena marah dan karena i’tiqad.[15]

b). Orang yang mencela sahabat Radhiyallahu anhum dengan keyakinan ‘Ali sebagai tuhan atau Nabi, maka ia telah kafir.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun orang yang mengiringi celaannya dengan keyakinan bahwa Ali sebagai tuhan atau ia seorang Nabi, atau berkeyakinan Jibril salah dalam menyampaikan wahyu; maka tidak diragukan (ini merupakan) kekafirannya, bahkan tidak diragukan juga kekafiran orang yang tidak mengkafirkannya”[16]

c). Orang yang mencela sahabat Radhiyallahu anhum karena keyakinannya akan kekafiran sahabat Radhiyallahu anhum, maka berdasarkan Ijma’, ia adalah kafir dan dihukumi dengan hukum bunuh. Karena ia telah mengingkari sesuatu yang secara pasti telah diakui dalam agama, yaitu Ijma’ umat Islam tentang keimanan para sahabat.[17]

Syaikhul Islam berkata: “Adapun orang yang melakukan hal itu (yaitu sekedar mencela, pen) sampai menganggap para sahabat Radhiyallahu anhum telah murtad setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali sejumlah kecil tidak sampai belasan orang, atau menganggap para sahabat Radhiyallahu anhum seluruhnya fasiq ; maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Karena ia telah mendustakan nash Al- Qur’an yang banyak berisi keridhaan dan pujian kepada mereka. Bahkan orang yang ragu tentang kekafiran yang seperti ini, maka kekafirannya itu pasti”[18]

d). Orang yang mencela sahabat Radhiyallahu anhum seluruhnya dengan keyakinan, bahwa mereka seluruhnya fasiq. Maka orang ini dihukumi kufur, sebagaimana disampaikan Ibnu Taimiyah rahimahullah di atas.

e). Orang yang mencela sahabat Radhiyallahu anhum dengan keyakinan, bahwa mencela mereka itu merupakan pendekatan diri (taqarub) kepada Allah. Sikap ini merupakan natijah (akibat) dari kebencian mereka terhadap sahabat Radhiyallahu anhum, dan tentu ini adalah sebagai konsekwensi dari keyakinan mereka tentang kefasikan sahabat Radhiyallahu anhum. Tentu hal itu adalah kufur dan keluar dari Islam.

Imam Thahawi mengatakan: “Benci terhadap sahabat Radhiyallahu anhum adalah kufur, nifaq dan melampaui batas”.

Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang bangun pagi, sedangkan di dalam hatinya ada kebencian terhadap salah seorang sahabat, berarti ia terkena ayat Al Qur’an, yakni firman Allah Ta’ala:

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). [Al Fath/48:29][19].

f). Orang mencela sahabat Radhiyallahu anhum dengan celaan yang tidak merusak keadilan dan agama mereka, seperti menyatakan Abu Sufyan Radhiyallahu anhu bakhil atau Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sukanya makan dan sejenisnya; maka ia berhak dididik dan dihukum ta’zir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Adapun orang yang mencela mereka (para sahabat Radhiyallahu anhum) dengan celaan yang tidak merusak keadilan dan agama para sahabat –seperti mensifatkan sebagian mereka dengan bakhil atau penakut atau sedikit ilmu atau tidak memiliki sifat zuhud dan sejenisnya– maka orang ini berhak mendapat pembinaan dan hukuman ta’zir, dan kita tidak menghukuminya kafir hanya dengan hal ini saja”[20]

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan, sebagaimana disampaikan Ibnu Taimiyah, yaitu ada diantara orang yang mencela sahabat yang sudah pasti kekufurannya, dan ada yang tidak divonis kufur, serta ada yang masih dibimbangkan kekufurannya.

4. Hukum mencela isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[21]
Adapun orang yang mencela isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; maka barangsiapa yang menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu anha dengan apa yang telah Allah lepaskan dirinya dari tuduhan tersebut, maka ia telah kafir. Lebih dari seorang ulama telah menyampaikan Ijma’ ini. Sedangkan orang yang mencela selain beliau dari kalangan para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terdapat dua pendapat.

  1. Menyatakan ia seperti mencela salah seorang sahabat.
  2. Menyatakan bahwa menuduh seseorang dari Ummahat Al Mukminin sama dengan (hukum) menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu anha. Dan inilah yang benar.

Oleh karena itu, berhati-hatilah, wahai kaum Muslimin. Hendaklah kita memelihara lisan kita dari mencela ataupun berdusta atas nama sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Al Qamus Al Muhith, karya Al Fairuzabadi, Cetakan kelima, Tahun 1416, Muassasah Ar Risalah, Bairut, hlm. 134.
[2] Diambil dari kitab Al Kifayah Fi Ilmi Riwayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khathib Al Baghdadi, Cetakan tahun 1409 H, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Bairut, hlm. 51
[3] Diambil dari kitab Al Kifayah Fi Ilmi Riwayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khathib Al Baghdadi, Cetakan tahun 1409 H, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Bairut, hlm. 51
[4] Al Ishabah Fi Tamyiz Ash Shahabat, karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Cetakan tanpa tahun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, hlm. 1/ 4.
[5] Disebutkan dalam riwayat Muslim.
[6] Muslim dalam Shahih-nya, kitab Tafsir, no. 5344.
[7] Syarah Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, Tahqiq Asy Syaikh Khalil Ma’mun Syaikha, Cetakan ketiga, Tahun 1417 H , Dar Al Ma’rifah, Beirut, hlm. 18/352-353
[8] Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah, no. 1001, hlm. 2/469 dan dihasankan Al Albani dalam Dzilalil Jannah Fi Takhrij As Sunnah, 2/469. Lihat kitab As Sunnah, karya Ibnu Abi ‘Ashim dengan Dzilal Al Jannah, karya Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan ketiga, Tahun 1413 H, Al Maktab Al Islami, Bairut.
[9] Dinukil dari kitab Min Aqwal Al Munshifin Fi Ash Shahabat Al Khalifah Mu’awiyah, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abad, Cetakan pertama, Tahun 1416 H, Markas Syu’un Ad Dakwah, Al Jami’ah Al Islamiyah, Madinah, hlm. 13
[10] Dinukil dari kitab Min Aqwal Al Munshifin Fi Ash Shahabat Al Khalifah Mu’awiyah, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abad, Cetakan pertama, Tahun 1416 H, Markas Syu’un Ad Dakwah, Al Jami’ah Al Islamiyah, Madinah, hlm. 12
[11] Dinukil dari kitab Min Aqwal Al Munshifin Fi Ash Shahabat Al Khalifah Mu’awiyah, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abad, Cetakan pertama, Tahun 1416 H, Markas Syu’un Ad Dakwah, Al Jami’ah Al Islamiyah, Madinah, hlm. 12
[12] Lihat Mukhtashar Ash Sharim Al Mashlul ‘Ala Syatim Ar Rasul, karya Ibnu Taimiyah oleh Muhammad bin ‘Ali Al Ba’li, Tahqiq ‘Ali bin Muhammad Al Imran, Cetakan pertama, Tahun 1422 H, Dar ‘Alam Al Fawaid, Makkah, hlm. 121
[13] Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah, no. 1001, hlm. 2/469, dan dihasankan Al Albani dalam Dzilalil Jannah Fi Takhrij As Sunnah, 2/469. Lihat kitab As Sunnah, karya Ibnu Abi ‘Ashim dengan Dzilal Al Jannah, karya Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan ketiga, Tahun 1413 H, Al Maktab Al Islami, Bairut.
[14] Mukhtashar Ash Sharim Al Maslul, op.cit. hlm. 122.
[15] Mukhtashar Ash Sharim Al Maslul, op.cit. hlm. 127.
[16] Ash Sharim Al Maslul ‘Ala Syatim Ar Rasul, karya Ibnu Taimiyah, Tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyah, Bairut, hlm. 586.
[17] Lihat Majalah As Sunnah, Edisi 12/1/1415-1995, hlm. 23, menukil dari Majalah Al Furqan, Edisi 54 Tahun IV Rabi’ul Akhir 1415 H/ Oktober 1994.
[18] Ash Sharim Al Maslul, op.cit. hlm. 586-587.
[19] As Sunnah, Edisi 12/I/1415-1995, hlm. 23-24.
[20] Ash Sharim Al Maslul, op.cit, hlm. 586.
[21] Masalah ini diterjemahkan dari Mukhtashar Ash Sharim Al Maslul, op.cit. hlm. 116

Kewajiban Mengikuti Cara Beragamanya Sahabat

KEWAJIBAN MENGIKUTI CARA BERAGAMANYA SAHABAT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. [An-Nisa’/4:115]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat

سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ   jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka adalah para sahabat. Maksudnya bahwa Allah telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terombang-ambing dalam kesesatan).

Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat dan dalil yang paling tegas dan terang tentang kewajiban yang besar bagi kita untuk mengikuti سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ jalannya orang-orang mu’min” yaitu para sahabat. Yakni cara beragamanya para sahabat atau manhaj mereka berdasarkan nash Al-Kitab dan As-Sunnah diantaranya ayat di atas.

Jika dikatakan : Kenapa سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ sabilil mukminin atau jalannya orang-orang mukmin” di ayat yang mulia ini ditafsirkan dengan para sahabat (?!) bukan umumnya orang-orang mu’min??

Saya jawab berdasarkan istinbath (pengambilan; penggalian) dari ayat di atas:

  1. Ketika turunnya ayat yang mulia ini, tidak ada orang mu’min di permukaan bumi ini selain para sahabat. Maka, khithab (pembicaraan) ini pertama kali Allah tujukan kepada mereka.
  2. Mahfumnya, bahwa orang-orang mu’min yang sesudah mereka (para sahabat) dapat masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat. Jika tidak, berarti mereka telah menyelisihi jalannya orang-orang mu’min sebagaimana ketegasan firman Allah di atas.
  3. Kalau orang-orang mu’min di ayat yang mulia ini ditafsirkan secara umum, maka jalannya orang mu’min manakah? Apakah mu’minnya Khawarij atau Syiah/Rafhidhah atau Mu’tazilah atau Murji’ah atau Jahmiyyah atau Falasifah atau Sufiyyah atau….atau…?
  4. Perjalanan orang-orang mu’min yang paling jelas arahnya, aqidah dan manhajnya hanyalah perjalanan para sahabat. Adapun yang lain mengikuti perjalanan mereka, baik aqidah dan manhaj.
  5. Perjalanan orang-orang mu’min yang paling alim terhadap agama Allah yaitu Al-Islam hanyalah para sahabat. Allah telah menegaskan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi ilmu.[Muhammad/47:16]
  6. Perjalanan orang-orang mu’min yang mulia yang paling taqwa kepada Allah secara umum hanyalah para sahabat.
  7. Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taslim (menyerahkan diri) kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum hanyalah para sahabat.
  8. Perjalanan orang-orang mu’min yang ijma’ (kesepakatan) mereka menjadi hujjah dan menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah hanyalah ijma’ para sahabat. Oleh karena itu tidak ada ijma’ kecuali para sahabat atau setelah terjadi ijma’ diantara mereka. Demikian itu juga sebaliknya, mustahil terjadi perselisihan apabila para sahabat telah ijma’. Dan tidak ada yang menyalahi ijma’ mereka kecuali orang-orang sesat dan menyesatkan yang telah mengikuti “selain jalannya orang-orang mu’min”.
  9. Perjalanan orang-orang mu’min yang tidak pernah berselisih didalam aqidah dan manhaj hanyalah perjalanan para sahabat bersama orang-orang yang mengikuti mereka tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan seterusnya.
  10. Para sahabat adalah sebaik-baik umat ini dan pemimpin mereka[1].
  11. Para sahabat adalah ulama dan muftinya umat ini[2].
  12. Para sahabat adalah orang-orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti mereka [Al-Baqarah/2 :13]
  13. Para sahabat telah dipuji dan dimuliakan oleh Allah dibanyak tempat di dalam Kitab-Nya yang mulia.
  14. Bahwa perjalanan para sahabat telah mendapat keridhaan Allah dan merekapun ridha kepada Allah [At-Taubah /9:100]
  15. Perjalanan para sahabat telah menjadi dasar, bahwa Allah akan meridhai perjalannnya orang-orang mu’min dengan syarat mereka mengikuti “jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat”. Mahfumnya, bahwa Allah tidak akan meridhai mereka yang tidak mengikuti perjalanannya Al-Muhajirin dan Al-Anshar [At-Taubah/9 :100]
  16. Sebaik-baiknya sahabat para nabi dan rasul ialah sahabat-sahabat Rasulullah.
  17. Tidak ada yang marah dan membenci para sahabat kecuali orang-orang kafir[3].
  18. Dan tidak ada yang menyatakan bodoh terhadap para sahabat kecuali orang-orang munafik. [Al-Baqarah/2:13].
  19. Rasulullah telah bersabda:

 خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka[4]

Generasi pertama adalah sahabat, yang kedua tabi’in dan yang ketiga adalah tabiut tabi’in. mereka inilah dinamakan dengan nama Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) yakni tiga generasi terbaik dari umat ini. Kepada mereka inilah kita meruju’ cara beragama kita dalam mengamalkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman sampai hari ini.

  1. Rasulullah telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan):

  هَذَا لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ

 Hendaklah orang yang hadir diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir[5].

Hadist yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tabligh dan dakwah akan tetapi para sahabatlah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah untuk bertabligh dan berdakwah, sebagai contoh bagi umat ini dan agar diikuti oleh mereka bagaimana cara bertabligh dan berdakwah yang benar di dalam menyampaikan yang hak. Oleh karena itu hadist yang mulia ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita diantaranya:

  • Bahwa dakwah mereka adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Nabi yang mulia.
  • Bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah. Kalau tidak, tentu Rasulullah tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan dari beliau.
  • Bahwa mereka kaum yang benar, lawan dari dusta, yang amanat, lawan dari khianat. Bahwa mereka telah di ta’dil (dinyatakan bersifat adalah : tsiqah/ terpercaya dan dhabt/teliti) oleh Rabb mereka, Allah, dan oleh nabi mereka. Oleh karena itu Ahlussunnah wal Jama’ah telah ijma’ bahwa mereka tidak perlu diperiksa lagi dengan sebab di atas. Keadilan dan ketsiqahan mereka tidak diragukan lagi. Allahumma! Kecuali oleh kaum Syi’ah dan Rafhidhah dari cucu Abdullah bin Saba’ si Yahudi hitam dan orang-orang mereka yang dahulu dan sekarang.
  • Bahwa wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara dakwahnya para sahabat, bagaimana dan apa yang mereka dakwahkan dan seterusnya. Adapun dalam masalah keduniaan seperti alat dan sarana mengikuti perkembangan zaman dan tingkat pengetahuan manusia, seperti menggunakan kendaraan yang ada pada zaman ini atau alat perekam dan pengeras suara dan lain-lain.
  • Rasulullah telah bersabda :

لا تَسُبُّوا أصْحابِي، فلوْ أنَّ أحَدَكُمْ أنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا ما بَلَغَ مُدَّ أحَدِهِمْ، ولا نَصِيفَهُ

Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku! Kalau sekiranya salah seorang dari kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Tidak akan mencapai derajat mereka satu mud-pun atau setegah mud“.[Hadist Shahih riwayat Bukhari dan Muslim]

  1. Para sahabat secara umum telah dijanjikan jannah (sorga).[At-Taubah/9:100]
  2. Secara khusus sebagian sahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi sebagai penghuni sorga, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lain-lain.
  3. Para sahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia.[6]
  4. Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat “Ukhuwwah Islamiyyahnya” ialah para sahabat berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Tarikh.
  5. Di dalam ayat yang mulia ini Allah tidaklah mencukupkan firman-Nya dengan perkataan: ”Barangsiapa yang memusuhi Rasul sesudah nyata baginya kebenaran…., niscaya akan palingkan dia….”. dan kalau Allah mencukupinya sampai disitu pasti hak/benar. Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam ketika Allah mengkaitkan dengan “dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min -yaitu para sahabat-. Dari sini kita mengetahui, bahwa di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, harus ada jalan atau cara di dalam memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min yaitu para sahabat”. Jadi urutan dalilnya sebagai berikut : Al-Qur’an As-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para sahabat atau cara beragama mereka, aqidah dan manhaj.

(Dikutip dari Kitab besar saya yaitu “Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti“)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun V/1421H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim
[2] Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim
[3] Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fath/48 :29
[4] Hadist Shahih mutawatir dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain
[5] Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang sahabat
[6] Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nuur/24 ayat 55

Ancaman Bagi Orang Yang Membawakan Hadits Dhaif

BOLEHKAH HADITS DHA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A’MAAL (KEUTAMAAN AMAL)?

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Para ulama Ahli Hadits berusaha mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits lemah dan palsu dengan tujuan agar kaum Muslimin berhati-hati dalam membawakan hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agar tidak menyebarluaskan hadits-hadits itu hingga orang menyangkanya sebagai sesuatu yang shahih padahal tidak, bahkan ada maudhu’ (palsu). Kendatipun sudah sering dimuat dan dijelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits itu, akan tetapi masih saja kita lihat dan kita dengar para da’i, muballigh, ustadz, ulama, kyai membawakan dan menyampaikan hadits-hadits tersebut, bahkan banyak pula yang ditulis dalam kitab atau majalah, hingga kebanyakan kaum Muslimin menyangkanya sebagai sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar dan shahih.

Oleh karena itu, saya awali tulisan ini dengan ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang berdusta atas nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian diikuti dengan pendapat-pendapat para ulama tentang penggunaan hadits-hadits dha’if.

Ancaman Berdusta Atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.”

Hadits ini berderajat Mutawatir, karena menurut penyelidikan hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 (enam puluh) orang Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim jami’an, di antaranya adalah:

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. Anas radhiyallahu ‘anhu.
  3. Zubair radhiyallahu ‘anhu.
  4. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.
  5. Jabir radhiyallahu ‘anhuma.
  6. Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.
  7. Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dan lainnya.

Dan hadits di atas pun telah dicatat oleh lebih dari 20 (dua puluh) Ahli Hadits, di antaranya: Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimy, dan lainnya.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبُ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ.

Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.’[1]

عَنْ الْمُغِيْرَةِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Dari Mughirah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.”[2]

Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ialah: “Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: ‘Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.”

Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk api Neraka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum Muslimin untuk berhati-hati jangan sampai terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama telah sepakat tentang haramnya membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), yakni hadits yang dibuat orang atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sengaja maupun tidak sengaja. Bolehnya membawakan hadits maudhu’ itu hanya ketika menerangkan kepalsuannya kepada ummat, agar ummat selamat dari berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits Dhaif (Lemah)
Hadits dha’if itu ada dua macam:

  1. Hadits yang sangat dha’if.
  2. Hadits yang tidak terlalu dha’if.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama dalam menolak hadits yang terlalu dha’if. Hanya ada perselisihan di antara ulama tentang membawakan/memakai hadits yang tidak terlalu dha’if untuk:

  1. Fadhaa-ilul A’maal (keutamaan amal), maksudnya hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan- keutamaan amal.
  2. At-Targhiib (memotivasi), yakni hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji pahala dan Surga.
  3. At-Tarhiib (menakuti), yakni hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
  4. Kisah-kisah tentang para Nabi ‘alaihimush Shalatu wa sallam dan orang-orang shalih.
  5. Do’a dan dzikir, yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.

Ancaman Bagi Orang Yang Membawakan Hadits Dhaif
Para ulama yang masih membawakan hadits-hadits dha’if dan menyandarkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tergolong sebagai pendusta, kecuali apabila mereka tidak tahu.

Tentang masalah ini, Syaikh Abu Syammah berkata: “Perbuatan ulama yang membawakan hadits-hadits dha’if adalah suatu kesalahan yang nyata bagi orang-orang yang mengerti hadits, ulama-ulama’ ushul dan pakar-pakar fiqih, bahkan wajib atas mereka untuk menerangkannya jika ia mampu. Jika ulama’ tidak mampu menerangkannya, maka ia termasuk orang-orang yang diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

عَنْ سَمُرَةََ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنَ.

Dari Samurah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku, dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.”[HR. Muslim (I/9)]

Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa tidak boleh menyebutkan suatu hadits dha’if melainkan ia wajib me-nerangkan kelemahannya.[3]

Penjelasan.
Menurut hadits di atas seorang dianggap dusta apabila ia membawakan hadits-hadits yang diketahuinya dusta (tidak benar).

Ada dua golongan ulama yang terkena ancaman hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, yaitu : Ulama yang tahu ke-dha’if-an hadits dan yang tidak tahu. Dalam masalah ini ada dua hukum:

Pertama : Jika ulama, ustadz atau kyai tersebut tahu tentang lemahnya hadits-hadits yang dibawakan itu, tetapi ia tidak menerangkan kelemahannya, maka ia termasuk pendusta (curang) terhadap kaum Muslimin dan termasuk yang diancam oleh hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Imam Ibnu Hibban berkata: “Di dalam kabar ini (hadits Samurah di atas), ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang menyampaikan hadits atau meriwayatkannya yang tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu menyampaikan atau meriwayatkan hadits yang lemah atau yang diada-adakan oleh manusia sedang dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk pendusta, hal ini lebih keras lagi apabila ulama (ustadz, kyai -pent) tersebut yakin bahwa itu dusta tapi masih disampaikan juga. Hadits ini juga terkena kepada orang yang masih meragukan ke-shahih-an atau kelemahan apa-apa yang ia sampaikan atau riwayatkan.”[4]

Imam Ibnu Abdil Hadi menukil perkataan Ibnu Hibban ini dalam kitab ash-Sharimul Mankiy (hal. 165-166) dan beliau menyetujuinya.

Kedua : Jika si ulama, ustadz atau kyai tidak mengetahui kelemahan hadits (riwayat), tetapi dia masih menyampaikan (meriwayatkan) juga, maka dia termasuk orang-orang yang berdosa, karena dia telah berani menisbatkan (menyandarkan) hadits atau riwayat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ia mengetahui sumber hadits (riwayat) itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.

Dari Samurah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Cukuplah seorang dikatakan berdusta apabila ia menyampaikan tiap-tiap apa yang ia dengar.”[HSR. Muslim (I/10)]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[Al-Israa’/17: 36]

Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adh- Dhu’afa’ (I/9): “Di dalam hadits ini (no. 5) ada ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih”[5]

Imam an-Nawawi pernah berkata: “Bahwa tidak halal berhujjah bagi orang yang mengerti hadits hingga ia tidak tahu, dia harus bertanya kepada orang yang ahli”[6]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah Jakarta, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
Footnote
[1] HSR. Ahmad (I/83), al-Bukhari (no. 106), Muslim (I/9) dan at-Tirmidzi (no. 2660)
[2] HSR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10), diriwayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid.)
[3] Lihat al-Baits ‘ala Inkari Bida’ wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 32-33
[4] Lihat adh-Dhua’faa oleh Ibnu Hibban (I/7-8)
[5] Lihat Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘alaa Fiqhis Sunnah hal. 33
[6] Lihat Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits hal. 115 oleh Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, tahqiq dan ta’liq Muhammad Bahjah al-Baithar

bersambung ke hal 2

Pendapat Beberapa Ulama Tentang Hadits-Hadits Dhaif Untuk Fadhaailul A’maal (Keutamaan Amal)

BOLEHKAH HADITS DHA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A’MAAL (KEUTAMAAN AMAL)?

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Pendapat Beberapa Ulama Tentang Hadits-Hadits Dhaif Untuk Fadhaailul A’maal (Keutamaan Amal)
Di kalangan ulama, ustadz dan kyai sudah tersebar bahwa hadits-hadits dha’if boleh dipakai untuk fadhaa-ilul a’maal. Mereka menyangka tentang bolehnya itu tidak ada khilaf di antara ulama. Mereka berpegang kepada perkataan Imam an-Nawawi yang menyatakan bahwa bolehnya hal itu sudah disepakati oleh ahli ilmu.

Apa yang dinyatakan Imam an-Nawawi rahimahullah tentang adanya kesepakatan ulama yang membolehkan memakai hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal ini merupakan satu kekeliruan yang nyata. Sebab, ada ulama yang tidak sepakat dan tidak setuju digunakannya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Ada beberapa pakar hadits dan ulama-ulama ahli tahqiq yang berpendapat bahwa hadits dha’if tidak boleh dipakai secara mutlak, baik hal itu dalam masalah ahkam (hukum-hukum) maupun fadha-il.

  1. Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menyebutkan dalam kitabnya, Qawaaidut Tahdits: “Hadits-hadits dha’if tidak bisa dipakai secara mutlak untuk ahkaam maupun untuk fadhaa-ilul a’maal, hal ini disebutkan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya, ‘Uyunul Atsar, dari Yahya bin Ma’in dan disebutkan juga di dalam kitab Fat-hul Mughits. Ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ibnul Araby, Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Hazm.[1]
  2. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah (Ahli Hadits zaman sekarang ini), ia berpendapat: “Pendapat Imam al-Bukhari inilah yang benar dan aku tidak meragukan tentang kebenarannya.”[2]

Menurut para ulama, hadits dha’if tidak boleh diamalkan, karena:

Pertama. Hadits dha’if hanyalah mendatangkan sangkaan yang sangat lemah, orang mengamalkan sesuatu dengan prasangka, bukan sesuatu yang pasti diyakini.

Firman Allah Azza wa Jalla.

اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ 

Sesungguhnya sangka-sangka itu sedikit pun tidak bisa mengalahkan kebenaran.” [Yunus/10: 36]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ والَظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Jauhkanlah dirimu dari sangka-sangka, karena sesungguhnya sangka-sangka itu sedusta-dusta perkataan.” [HR. Al-Bukhari (no. 5143, 6066) dan Muslim (no. 2563) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]

Kedua. Kata-kata fadhaa-ilul a’maal menunjukkan bahwa amal-amal tersebut harus sudah ada nashnya yang shahih. Adapun hadits dha’if itu sekedar penambah semangat (targhib), atau untuk mengancam (tarhiib) dari amalan yang sudah diperintahkan atau dilarang dalam hadits atau riwayat yang shahih.

Ketiga. Hadits dha’if itu masih meragukan, apakah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu (menuju) kepada yang tidak meragukan.”[3]

Keempat. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang perkataan Imam Ahmad, “Apabila kami meriwayatkan masalah yang halal dan haram, kami sangat keras (harus hadits yang shahih), tetapi apabila kami meriwayatkan masalah fadhaa-il, targhiib wat tarhiib, kami tasaahul (bermudah-mudah).” Kata Syaikhul Islam: “Maksud perkataan ini bukanlah menyunnahkan suatu amalan dengan hadits dha’if yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena masalah sunnah adalah masalah syar’i, maka yang harus dipakai pun haruslah dalil syar’i. Barangsiapa yang mengabarkan bahwa Allah cinta pada suatu amalan, tetapi dia tidak bawakan dalil syar’i (hadits yang shahih), maka sesungguhnya dia telah mengadakan syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah, sebagaimana dia menetapkan hukum wajib dan haram.[4]

Kelima. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan tentang maksud perkataan Imam Ahmad, Abdurahman bin Mahdi dan ‘Abdullah Ibnul Mubarak tersebut, beliau berkata, “Bahwa yang dimaksud tasaahul (bermudah-mudah) di sini ialah mereka mengambil hadits-hadits hasan yang tidak sampai ke derajat shahih untuk masalah fadhaa-il. Karena istilah untuk membedakan antara hadits shahih dengan hadits hasan belum terkenal pada masa itu. Bahkan kebanyakan dari ulama mutaqadimin (ulama terdahulu) hanyalah membagi derajat hadits itu kepada shahih atau dha’if saja. (Sedang yang dimaksud dha’if itu sebagiannya adalah hadits hasan yang bisa dipakai untuk fadhaa-ilul a’maal -pen).[5]

Sebagai tambahan dan penguat pendapat ulama yang tidak membolehkan dipakainya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Saya bawakan pendapat Dr. Subhi Shalih, ia berkata: “Menurut pendapat agama yang tidak diragukan lagi bahwa riwayat lemah tidak mungkin untuk dijadikan sumber dalam masalah ahkam syar’i dan tidak juga untuk fadhilah akhlaq (targhib wat tarhib), karena sesungguhnya zhan atau persangkaan tidak bisa mengalahkan yang haq sedikit pun. Dalam masalah fadhaa’il sama seperti ahkam, ia termasuk pondasi agama yang pokok, dan tidak boleh sama sekali bangunan pondasi ini lemah yang berada di tepi jurang yang dalam. Oleh karena itu, kita tidak bisa selamat bila kita meriwayatkan hadits-hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, meskipun sudah disebutkan syarat-syaratnya”[6]

Syarat-Syarat Diterimanya Hadits Dhaif Untuk Fadhaa-ilul A’maal
Di atas sudah saya kemukakan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat Imam al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm tentang tidak diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal. Akan tetapi tentunya sejak dulu sampai hari ini masih saja ada ulama yang memakainya. Oleh karena itu, saya bawakan pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany tentang syarat-syarat diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, beliau berkata: “Sudah masyhur di kalangan ulama bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tasaahul (bermudah-mudah/menggampang-gampangkan) dalam membawakan hadits-hadits fadhaa-il kendatipun banyak di antaranya yang dha’if bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Oleh karena itu wajiblah atas ulama untuk mengetahui syarat-syarat dibolehkannya beramal dengan hadits dha’if, yaitu ia (ulama) harus meyakini bahwa itu dha’if dan tidak boleh dimasyhurkan agar orang tidak mengamalkannya yakni tidak menjadikan hadits dha’if itu syari’at atau mungkin akan disangka oleh orang-orang jahil bahwa hadits dha’if itu mempunyai Sunnah (untuk diamalkan).”[7]

Syaikh Muhammad bin Abdis Salam telah menjelaskan hal ini dan hendaklah seseorang berhati-hati terkena ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits Samurah di atas). Bila sudah ada ancaman ini bagaimana mungkin kita akan mengamalkan hadits dha’if?

Dalam hal ini (ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) terkena bagi orang yang mengamalkan hadits dha’if dalam masalah ahkam (hukum-hukum) ataupun fadhaa-ilul a’maal, karena semua ini termasuk syari’at.[8]

Al-Hafizh as-Sakhawy, murid al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany rahimahullah, beliau berkata: “Aku sering mendengar syaikhku (Ibnu Hajar) berkata: “Syarat-syarat bolehnya beramal dengan hadits dha’if:

  1. Hadits itu tidak sangat lemah. Maksudnya, tidak boleh ada rawi pendusta, atau dituduh berdusta atau hal-hal yang sangat berat kekeliruannya.
  2. Tidak boleh hadits dha’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.
  3. Tidak boleh hadits itu dimasyhurkan, yang akan ber-akibat orang menyandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.”

Imam as-Sakhawi berkata: “Syarat-syarat kedua dan ketiga dari Ibnu Abdis Salam dan dari shahabatnya Ibnu Daqiqiil ‘Ied.”

Imam ‘Alaiy berkata: “Syarat pertama sudah disepakati oleh para ulama hadits.”[9]

Bila kita perhatikan syarat pertama saja, maka kewajiban bagi ulama dan orang yang mengerti hadits, untuk menjelaskan kepada ummat Islam dua hal yang penting:

Pertama. Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits dha’if dan yang shahih agar orang-orang yang mengamalkannya tidak meyakini bahwa itu shahih, hingga mereka tidak terjatuh ke dalam bahaya dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua. Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits yang sangat lemah dengan hadits-hadits yang tidak sangat lemah.

Bagi para ulama, ustadz, dan kyai yang masih bersikeras bertahan untuk tetap memakai hadits-hadits dha’if untuk fadhaaa-ilul a’maal, saya ingin ajukan pertanyaan untuk mereka: “Sanggupkah mereka memenuhi syarat pertama, kedua dan ketiga itu?” Bila tidak, jangan mereka mengamalkannya. Kemudian apa sulitnya bagi mereka untuk mengambil dan membawakan hadits-hadits yang shahih saja yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya. Apalagi sekarang -alhamdulillah- Allah sudah mudahkan adanya kitab-kitab hadits yang sudah dipilah-pilah antara yang shahih dan yang dha’if. Dan kita berusaha untuk memiliki kitab-kitab itu, sehingga dapat membaca, memahami, mengamalkan dan menyampaikan yang benar kepada ummat Islam.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah – Jakarta, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
______
Footnote
[1] Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits, hal. 113, tahqiq: Muhammad Bahjah al-Baithar
[2] Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 34, cet. Daarur Rayah, th. 1409 H
[3] HR. Ahmad (I/200), at-Tirmidzi (no. 2518) dan an-Nasa-i (VIII/327-328), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (no. 2708, 2711), dan at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”
[4] Majmuu’ Fataawaa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XVIII/65).
[5] Baaitsul Hatsits Syarah Ikhtishaar Uluumil Hadiits, oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal 87), cet. III Maktabah Daarut Turats, th. 1979 M/1399 H atau cet. I Daarul ‘Ashimah, ta’liq: Syaikh al-Albany
[6] Lihat Uluumul Hadiits wa Musthalaahuhu (hal. 211), oleh Dr. Subhi Shalih, cet. 1982 M
[7] Tamaamul Minnah hal. 36
[8] Tabyiinul A’jab (hal. 3-4) dinukil oleh Syaikh al-Albany dalam Tamamul Minnah (hal. 36)
[9] Lihat al-Qaulu Badi’ fii Fadhlish Shalah ‘alal Habibisy Syafi’i (hal. 255), oleh al-Hafizh as-Sakhawi, cet. Daarul Bayan Lit Turats

bersambung ke hal.3

Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm (Lafazh yang Memastikan atau Menetapkan)

BOLEHKAH HADITS DHA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A’MAAL (KEUTAMAAN AMAL)?

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm (Lafazh yang Memastikan atau Menetapkan)
1. Ada (lafazh yang digunakan dalam menyampaikan (meriwayatkan) hadits menurut pendapat Ibnush Shalah

Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dha’if, maka tidak boleh anda berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti:

فَعَلَ, رَوَى، قاَلَ

Boleh membawakan hadits dha’if itu dengan lafazh:

رُوِيَ

Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami begini dan begitu.”

Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dha’ifnya. Tidak boleh kita berkata atau menulis untuk hadits dan riwayat yang belum jelas dengan kalimat.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

“Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

2. Pendapat Imam an-Nawawi rahimahullah
Telah berkata para ulama ahli tahqiq dari pakar-pakar hadits, “Apabila hadits-hadits itu dha’if tidak boleh kita katakan:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

“Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” atau:

فَعَلَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan,” atau:
أَمَرَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan,”atau
نَهَى: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang,” atau:
حَكَمَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukum.”

Dan lafazh-lafazh lain dari jenis lafazh jazm (pasti atau menetapkan).

Tidak boleh juga mengatakan:

رَوَى أَبُوْ هُرَيْرَةَ

Telah meriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” atau

ذَكَرَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ

Telah menyebutkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.”

Dan yang seperti itu dari shighat-shighat (bentuk-bentuk) jazm. Tidak boleh juga menyebutkan riwayat yang lemah dari tabi’in dan orang-orang yang sesudahnya dengan shighat-shighat jazm.

Seharusnya kita mengatakan hadits atau riwayat lemah dan hadits atau riwayat yang tidak kita ketahui derajatnya dengan perkataan:

رُوِيَ يُرْوَى “Telah diriwayatkan.
نُقِلَ عَنْهُ “Telah dinukil darinya.
يُذْكَرَ/ ذُكِرَ “Telah disebutkan.
حُكِيَ/يُحْكَى “Telah diceritakan.

Dan yang seperti itu disebut shighat tamridh (bentuk lafazh yang berarti ada penyakitnya), dan tidak boleh dengan shighat jazm.

Perkataan Para Ulama Ahli Hadits
Shighat jazm seperti : رَوَى، قَالَ dan lainnya hanya digunakan untuk hadits-hadits shahih dan hasan saja. Sedangkan shighat-shighat tamridh, seperti : رُوِيَ atau ذُكِرَ dan lainnya digunakan selain itu. Karena shighat jazm berarti menunjukkan akan sahnya suatu khabar (berita) yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab itu tidak boleh dimutlakkan.

Jadi, bila ada ulama yang masih menggunakan shighat (lafazh) jazm untuk berita yang belum jelas, berarti ia telah berdusta atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adab meriwayatkan ini banyak dilanggar oleh para penulis kitab-kitab fiqh dan juga jumhur Fuqahaa’ dari madzhab Syafi’i, bahkan dilanggar pula oleh jumhur ahli ilmu, kecuali sebagian kecil dari ahli ilmu dari para Ahli Hadits yang mahir.

Perbuatan tasaahul (menggampang-gampangkan) dalam masalah yang hadits merupakan perbuatan yang jelek. Kebanyakan dari mereka menyebutkan hadits shahih dengan shighat tamridh:

رُوِيَ عَنْهُ

Diriwayatkan darinya.”

Sedangkan dalam menyebutkan hadits dha’if, maka mereka menyebutkan dengan shighat yang jazm:

رَوَى فُلاَنٌ atau قَالَ

Hal ini sebenarnya telah menyimpang dari kebenaran yang telah disepakati oleh Ahli Hadits.[1]

Wajib Menjelaskan Hadits-Hadits Dha’if Kepada Umat Islam
1. Perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah
Ada yang perlu saya tambahkan dari perkataan Imam an-Nawawy di atas tentang penggunaan lafazh tamridh: رُوِيَ ، ذُكِر َ، يُحْكَى dan yang seperti itu untuk hadits dha’if

Zaman sekarang ini penggunaan lafazh-lafazh itu tidaklah mencukupi, karena ummat Islam banyak yang tidak mengetahui hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan tidak faham pula kitab-kitab hadits sehu-bungan dengan masalah itu dan tidak mengerti pula apa maksud perkataan khatib di mimbar mengucapkan:

رُوِيَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ

Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahwa yang dimaksud khatib yaitu hadits itu dha’if, sedangkan mereka banyak yang tidak faham. Maka, wajib bagi ulama untuk menjelaskan hal yang demikian itu sebagaimana yang disebutkan oleh Atsar dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ، أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ.

Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa-apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka mereka itu dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya?!”[2]

2. Perkataan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir
Aku berpendapat (sekarang ini) wajib menerangkan hadits-hadits yang dha’if di dalam setiap keadaan (dan setiap waktu), karena bila tidak diterangkan kepada ummat Islam tentang hadits-hadits dha’if, maka orang yang mem-baca kitab (atau mendengarkan) akan menyangka bahwa hadits itu shahih, lebih-lebih bila yang menukilnya atau menyampaikannya itu dari kalangan ulama Ahli Hadits. Hal tersebut karena ummat Islam yang awam menjadikan kitab dan ucapan ulama itu sebagai pegangan bagi mereka. Kita wajib menerangkan hadits-hadits dha’if dan tidak boleh mengamalkannya baik dalam ahkam maupun dalam masalah fadhaa-ilul a’maal dan lain-lainnya. Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah (berdalil) melainkan dengan apa-apa yang sah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih atau hasan.[3]

Akibat Tasaahul Dalam Meriwayatkan Hadits Dha’if
Tasaahul (bermudah-mudah)nya para ulama, ustadz, kyai, dalam menulis dan menyampaikan hadits dha’if tanpa disertai keterangan tentang kelemahannya merupakan faktor penyebab yang terkuat yang mendorong ummat Islam melakukan bid’ah-bid’ah di dalam agama dan kebanyakan dalam masalah-masalah ibadah. Umumnya ummat Islam menjadikan pokok pegangan mereka dalam masalah ibadah dari hadits-hadits lemah dan bathil bahkan maudhu’ (palsu), seperti melaksanakan shalat dan puasa Raghaa-ib di awal bulan Rajab, malam pertengahan (nisfu Sya’ban), berpuasa di siang harinya, mengadakan perayaan maulud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Diba’an, baca Barzanji, Yasinan, malam Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Akibat tasaahul-nya para ulama, ustadz dan kyai, maka banyak dari ummat Islam yang masih mempertahankan bid’ah-bid’ah itu dan menghidup-hidupkannya. Berarti ada dua bahaya besar yang akan menimpa ummat Islam dengan membawakan hadits-hadits dha’if:

  1. Terkena ancaman berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diancam masuk Neraka.
  2. Timbulnya bid’ah yang berakibat sesat dan diancam masuk Neraka, na’udzubillah min dzaalik.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka.”[4]

Khatimah
Mudah-mudahan kita terpelihara dari berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari me-lakukan bid’ah yang telah membuat ummat mundur, terbelakang, berpecah belah dan jauh dari petunjuk al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Keadaan seperti merupakan kendala bangkitnya ummat Islam.

Wallaahu a’laam bish Shawaab.

Maraaji’

  1. Shahih al-Bukhari.
  2. Fat-hul Baari Syarah Shahiihil Bukhary, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar as-Asqalany.
  3. Shahih Muslim.
  4. Syarah Shahih Muslim, oleh Imam an-Nawawy.
  5. Sunan Abi Dawud.
  6. Sunan an-Nasa-i.
  7. Sunan Ibnu Majah.
  8. Jaami’ at-Tirmidzi.
  9. Musnad Imam Ahmad.
  10. Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim.
  11. Majmu’ Fataawaa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  12. Manaarul Munif fis Shahih wad Dha’if, oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
  13. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam Nawawy.
  14. Lisanul Mizaan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany.
  15. Al-Qaulul Badi’ fii Fadhilas Shalah ‘ala Habibisy Syafi’i, oleh al-Hafizh as-Sakhawy.
  16. Tanzihusy Syari’ah al-Marfu’ah, oleh Ibnu ‘Araq.
  17. Ad-Dhu’afa Ibnu Hibban.
  18. Qawa’idut Tahdits, oleh Jamaluddin al-Qasimy.
  19. Al-Ba’itsul Hatsits fii Ikhtishaari ‘Uluumil Hadiits, oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir.
  20. Silsilah Ahaadits ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  21. Dha’iif Jami’ush Shaghiir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  22. Shahiih Jami’ush Shaghiir oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  23. Tamaamul Minnah fii Takhriji Fiqhis Sunnah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  24. Shahiih at-Targhib wat Tarhiib oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  25. ‘Uluumil Hadits wa Musthalahuhu oleh Dr. Subhi Shalih.
  26. Al-Adzkaar, oleh Imam an-Nawawy.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah – Jakarta, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
______
Footnote
[1] Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam an-Nawawi (I/63), cet. Daarul Fikr
[2] HR. Al-Bukhari, Fat-hul Bari (I/225), lihat Shahih Targhib wat Tarhiib (hal. 52), cet. Maktabah al-Ma’arif th. 1421 dan Tamaamul Minnah (hal. 39-40) oleh Syaikh Mu-hammad Nashiruddin al-Albany
[3] Lihat al-Ba’itsul Hadits Syarah Ikhtishar ‘Uluumil Hadits oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 76), cet. Maktabah Daarut Turats th. 1399 H atau I/278, ta’liq: Syaikh Imam al-Albany cet. I Daarul ‘Ashimah th. 1415 H
[4] Hadits shahih riwayat an-Nasa-i (III/189), lihat Shahih Sunan Nasa-i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)

kembali ke hal 1, 2

Shalat Sunah Rawâtib ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya

SHALAT SUNNAH RAWATIB ‘ASHAR, MAGHRIB, ‘ISYA

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Dua edisi lalu telah dijelaskan mengenai shalat sunnah rawâtib Subuh dan Zhuhur. Untuk melengkapi penulisan shalat sunnah rawâtib yang menyertai shalat-shalat fardhu, berikut ini kami angkat berkaitan dengan shalat sunnah rawâtib ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya. Semoga penjelasan ini memberikan faidah bagi kita, dan selanjutnya kita mampu memeliharanya dengan cara mengamalkannya.

Shalat Sunnah Rawatib ‘Ashar
Shalat sunnah rawâtib ‘Ashar merupakan salah satu dari shalat-shalat rawâtib pendamping shalat fardhu, sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan pada edisi sebelumnya.[1] Imam asy-Syaukani, ketika menyampaikan rincian shalat-shalat sunnah setelah menyampaikan rawâtib Zhuhur, beliau berkata: “Dan empat raka’at sebelum shalat ‘Ashar”.[2]

Demikianlah anjuran yang disampaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkannya. Oleh karena itu, menjaga kesinambungannya merupakan perkara yang dianjurkan, meskipun hukum shalat sunnah rawâtib ‘Ashar ini tidak sampai pada sunnah muakkad. Dikatakan oleh penulis kitab Shahîh Fiqih Sunnah, XXX : “Tidak ada untuk shalat ‘Ashar shalat sunnah rawâtib yang muakkad“.[3]

1. Keutamaan Shalat Sunnah Rawâtib ‘Ashar.
Shalat sunnah rawâtib ini dianjurkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana disampaikan Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwa  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum ‘Ashar empat raka’at.[4]

2. Tata Cara Shalat Sunnah Rawâtib ‘Ashar.
Shalat sunnah rawâtib ‘Ashar dilakukan sebanyak empat raka’at secara bersambung dengan dua tasyahhud sebagaimana shalat fardhu yang empat raka’at, salam di akhir rakaat keempat. Adapun pelaksanaanya dilakukan sebelum shalat fardhu ‘Ashar.

Dijelaskan dalam hadits ‘Ashim bin Dhamrah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ

Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sebelum ‘Ashar empat raka’at dipisah antaranya dengan taslîm kepada Malaikat Muqarabin, dan orang yang bersama mereka dari kaum muslimin dan mukminin.[5]

Dalam riwayat Ibnu Majah berbunyi:

سَأَلْنَا عَلِيًّا عَنْ تَطَوُّعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّهَارِ فَقَالَ إِنَّكُمْ لَا تُطِيقُونَهُ فَقُلْنَا أَخْبِرْنَا بِهِ نَأْخُذْ مِنْهُ مَا اسْتَطَعْنَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا كَانَتْ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا – يَعْنِي مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ- بِمِقْدَارِهَا مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ هَا هُنَا – يَعْنِي مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ- قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا كَانَتْ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا – يَعْنِي مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ – مِقْدَارَهَا مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ هَا هُنَا قَامَ فَصَلَّى أَرْبَعًا وَأَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَالنَّبِيِّينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ قَالَ عَلِيٌّ فَتِلْكَ سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّهَارِ وَقَلَّ مَنْ يُدَاوِمُ عَلَيْهَا

Kami bertanya kepada ‘Ali tentang shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari”.
Maka ia menjawab: “Kalian tidak akan mampu melakukannya”.
Sehingga kami jawab: “Beritahukan kepada kami, nanti kami akan mengamalkan yang kami mampu”.
Beliau berkata: “Dahulu, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh, (beliau) memperlambat hingga matahari dari sebelah sini –yaitu dari arah timur- seukuran dari shalat ‘Ashar dari arah sini –yaitu dari arah barat- maka beliaupun bangkit lalu shalat dua raka’at, kemudian memperlambat hingga matahari dari arah sini –yaitu arah timur- seukuran dari shalat Zhuhur, dari sini beliau bangkit lalu shalat empat raka’at dan empat raka’at sebelum Zhuhur apabila matahari telah tergelincir dan dua raka’at setelahnya, dan empat raka’at sebelum Ashar (dengan) memisah antara dua rakaatnya dengan taslim kepada Malaikat Muqarrabin, para nabi dan pengikut mereka dari kaum muslimin dan mukminin”.
Ali berkata: “Itulah enam belas raka’at shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari, dan sedikit yang terus-menerus melakukannya“.[6]

Setelah menyampaikan hadits ‘Âshim bin Dhamrah ini, Abu Isa at-Tirmidzi berkata: “Hadits Ali adalah hadits hasan. Ishâq bin Ibrahim tidak memisah dalam empat raka’at sebelum ‘Ashar, dan (ia) berargumen dengan hadits ini. Ishâq mengatakan, bahwa pengertian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antaranya dengan taslîm adalah tasyahud. Sedangkan asy-Syafi’i dan Ahmad perpandangan shalat malam dan siang ialah dua raka’at dua raka’at. Keduanya memilih memisahkan pada empat raka’at sebelum ‘Ashar”.[7]

Adapun yang râjih berkenaan dengan pengertian hadits di atas, yaitu yang disampaikan Imam Ishâq bin Ibrahim. Dan hal ini dikuatkan dengan riwayat hadits ‘Âshim bin Dhamrah, sebagaimana terdapat pada riwayat an-Nasâ`i berikut ini.

 عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّهَارِ قَبْلَ الْمَكْتُوبَةِ قَالَ مَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ ثُمَّ أَخْبَرَنَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حِينَ تَزِيغُ الشَّمْسُ رَكْعَتَيْنِ وَقَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَجْعَلُ التَّسْلِيمَ فِي آخِرِهِ

Dari ‘Âshim bin Dhamrah, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari sebelum shalat fardhu. Dia menjawab,’Siapa yang mampu melakukannya?’ Kemudian ia menceritakan kepada kami. Dia berkata,‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ketika tergelincir matahari dua rakaat, dan sebelum tengah hari empat rakaat menjadikan taslîmnya di akhirnya’.”[8]

Demikian juga pengertian taslîm dalam hadits ini, seandainya merupakan salam penutup shalat, maka tentunya harus ada niat dari orang yang shalat untuk salam kepada malaikat, para nabi dan pengikutnya, dan hal ini jelas tidak ada syari’atnya. Sehingga pernyataan Ishâq bin Ibrahim bahwa pengertian taslîm adalah tasyahud itulah yang râjih. Apalagi dalam tasyahud terdapat ucapan salam (taslîm) kepada hamba Allah yang shalih, baik di langit maupun di bumi.

Oleh karena itu, hadits ini mengkhususkan keumuman shalat malam dan siang itu dua raka’at-dua raka’at.

Wallahu a’lam.

Shalat Sunah Rawatib Maghrib
Shalat sunnah rawâtib Maghrib merupakan salah satu shalat rawâtib yang muakkad. Pensyari’atan dan keutamaannya telah dijelaskan dalam hadits Ummu Habibah dan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu.[9]

1. Tata Cara Shalat Sunnah Rawâtib Maghrib.
Shalat sunnah rawâtib Maghrib dilakukan sebanyak dua raka’at setelah shalat fardhu Mahgrib.

2. Tempat Pelaksanaan Shalat Sunnah Rawâtib Maghrib.
Di antara contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan shalat sunnah ialah di rumah, kecuali jika terdapat halangan. Namun untuk shalat sunnah rawâtib Maghrib ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah melakukannya di masjid.

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan sebagian besar shalat sunnah, dan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab khusus (pengerjaaannya) di rumah, apalagi shalat sunnah rawâtib Maghrib, karena sama sekali tidak pernah dinukilkan beliau mengerjakannya di masjid”.[10]

Demikianlah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah rawâtib Maghrib di rumah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits berikut.

  • Hadits Mahmûd bin Labîd Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ فَصَلَّى بِهِمْ الْمَغْرِبَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ ارْكَعُوا هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ فِي بُيُوتِكُمْ

Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi Bani ‘Abdulasy-hal, lalu memimpin shalat Maghrib mereka. Ketika salam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Shalatlah dua raka’at ini di rumah-rumah kalian”.[11]

  • Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu , ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى مَسْجِدَ بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ فَصَلَّى فِيهِ الْمَغْرِبَ فَلَمَّا قَضَوْا صَلَاتَهُمْ رَآهُمْ يُسَبِّحُونَ بَعْدَهَا فَقَالَ هَذِهِ صَلَاةُ الْبُيُوتِ

Sesungguhnya dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi masjid Bani ‘Abdulasy-hal lalu shalat Maghrib di masjid tersebut. Ketika selesai shalat, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mereka melakukan shalat sunnah setelahnya, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini adalah shalat rumah”.[12]

  • Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمْعَةِ وَ لاَ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ إِلاَّ فِيْ أَهْلِهِ

Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak shalat dua raka’at sesudah Jum’at dan dua raka’at setelah Maghrib, kecuali di rumahnya.[13]

Demikian pula menurut Imam Ahmad, bahwa sunnah mengerjakan dua raka’at setelah maghrib ialah di rumah.[14] Ibnul-Qayyim menyatakan: Dalam sunnah rawâtib Maghrib ada dua sunnah, salah satunya tidak dipisah antara Maghrib dengan pembicaraan, … sunnah kedua yaitu dikerjakan di rumah.

3. Bacaan Dalam shalat Sunnah Rawâtib Maghrib.
Dalam mengerjakan shalat sunnah rawâtib Maghrib ini, pada dua raka’atnya disunnahkan membaca, yaitu surat al-Kâfirun dan al-Ikhlas, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud:

مَا أُحْصِي مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ

Saya tidak dapat menghitung apa yang saya telah dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca dalam dua raka’at setelah Maghrib dan dua raka’at sebelum shalat Subuh dengan surat al-Kâfirun dan al-Ikhlas.[15]

Shalat Sunah Rawatib ‘Isya
Shalat sunnah rawâtib ‘Isya merupakan salah satu shalat rawâtib yang muakkad. Pensyariatan dan keutamaannya telah dijelaskan dalam hadits Ummu Habibah dan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu terdahulu.

Shalat rawâtib ‘Isya ini dilakukan di rumah sebanyak dua raka’at. Yaitu dilakukan setelah shalat fardhu ‘Isya. Sebagaimana disampaikan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu dan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَطَوُّعِهِ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّي فِي بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ الْمَغْرِبَ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَيُصَلِّي بِالنَّاسِ الْعِشَاءَ وَيَدْخُلُ بَيْتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: “Aku telah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Maka beliau Radhiyallahu anhuma menjawab: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat di rumahku sebelum Zhuhur empat raka’at kemudian keluar dan shalat mengimami manusia, kemudian masuk dan shalat dua raka’at. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengimami manusia shalat Maghrib, kemudian masuk (rumah) lalu shalat dua raka’at, dan mengimami manusia shalat ‘Isya dan masuk rumahku lalu shalat  dua raka’at”.[16]

Demikianlah penjelasan secara ringkas tentang shalat sunnah rawâtib yang mendampingi shalat lima waktu. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai amalan harian. 

Wabillahit-taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[2] Lihat al-Adilah ar-Radhiyah ‘alal-Durar al-Bahiyah fil-Masâ`il al-Fiqhiyah, Muhammad Shubhi Hasan Khalâf, hlm. 59, dan Raudhatun-Nadiyah bi Syarhil-Durar al-Bahiyah, Muhammad Shidiq Hasan Khan (1/292).
[3] Shahîh Fikih Sunnah (1/379).
[4] HR Ahmad dalam al-Musnad (4/203), at-Tirmidzi dalam kitab Shalat, Bab: Mâ Jâ`a fil-Arba’ Qablal-‘Ashr, no. 430, dan Abu Dawud dalam kitab Shalat, Bab: ash-Shalat Qablal-‘Ashr (no. 1271, 1/490). Syaikh Nashiruddin al-Albâni menyatakan sebagai hadits hasan dalam Shahîh Sunan Abi Dawud
[5] HR at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Jâ`a fil-Arba’ Qablal-‘Ashr no. 424 dan 429.
[6] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Kaifa Kâna Tathawwu’ Nabi n bin-Nahâr no. 598, dan Ibnu Majah, kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ’a fîmâ Yustahab minat-Tathawwu’ bin-Nahâr no. 1161, dan lafazh ini miliknya.
[7] Sunan at-Tirmidzi (2/294-295).
[8] HR an-Nasâ`i dalam kitab al-Imâmah, Bab: ash-Shalat Qablal-‘Ashr wa Dzikru Ikhtilâf an-Naqilina ‘an Abi Ishâq fî Dzalika (2/119-120). Hadits ‘Âshim bin Dhamrah ini dihukumi sebagai hadits hasan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah no. 237.
[9] Lihat Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[10] Zâdul-Ma’ad (1/302).
[11] HR Ahmad dalam Musnad-nya (5/428), dan Syaikh al-Arnauth sanadnya kuat sebagaimana beliau sebutkan ketika mentahqiq kitab Zâdul-Ma’ad. Hadits ini juga diriwayatkan Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ’a fî Rak’atain Ba’dal-Maghrib no. 956, dari hadits Rafi’ bin Khudaij, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni di dalam Shahîh Ibnu Majah.
[12] HR Abu Dawud dalam kitab ash-Shalat, Bab: Rak’atai al-Maghrib Aina Tushaliyâni, no. 1300, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawud.
[13] HR Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya, dan hadits ini dinilai shahîh oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni di dalam Shahîh al-Jâmi’ no. 4857.
[14] Dinukil dari Zâdul-Ma’ad (1/302).
[15] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Jâ`a fîr-Rak’atain Ba’dal-Maghrib wa Qiratau fîhima. No. 432, dan dinilai hasan shahîh oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni di dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi.
[16] HR Muslim di dalam kitab Shalat al-Musâfir wa Qashruhâ, no. 1201.

Shalat Sunah Rawâtib Zhuhur

SHALAT SUNNAH RAWATIB ZHUHUR

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Sebagaimana telah dijelaskan pada edisi terdahulu, berikut kami lanjutkan pembahasan mengenai shalat sunnah rawâtib Zhuhur. Mudah-mudahan bermanfaat dan memacu semangat kita untuk mengamalkannya.

Hukum Shalat Sunnah Rawatib Zhuhur
Shalat sunnah rawâtib Zhuhur termasuk shalat sunnah muakkad (sangat ditekankan) yang dilakukan dan dianjurkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Yang mendasarinya, yaitu keumuman hadits-hadits yang menjelaskan shalat sunnah rawâtib, seperti hadits Ummu Habîbah dan Ibnu ‘Umar.[1]

Jumlah Rakaat Sunnah Rawatib Zhuhur
Beberapa riwayat yang menjelaskan jumlah rakaat shalat sunnah rawâtib Zhuhur, ialah sebagai berikut.

  1. Dua rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Aku hafal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat  setelah ‘Isya dan dua rakaat sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan kepadaku bahwa bila muadzin beradzan dan terbit fajar beliau shalat dua rakaat.[2]

  1. Empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ 

Sungguh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.[3]

Hadits ‘Abdullah bin Syaqîq Radhiyallahu anhu ketika bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tentang shalat sunnah yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau Radhiyallahu anhuma menjawab:

كَانَ يُصَلِّي فِي بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, shalat di rumahnya sebelum Zhuhur empat rakaat, kemudian keluar dan shalat mengimami manusia. Kemudian masuk (rumah lagi) dan shalat dua rakaat.[4]

  1. Empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat setelahnya, sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habîbah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari neraka”.[5]

Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruhnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.[6]

Keutamaan Sunnah Rawatib Zhuhur
Shalat rawâtib Zhuhur termasuk yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kecuali ketika dalam keadaan bersafar. Shalat ini memiliki keutamaan seperti keumuman shalat rawâtib lainnya. Namun ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaannya, khususnya seperti hadits Ummu Habîbah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari neraka”.  

Dan hadits yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum Zhuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar).[7]

Tata Cara Sunnah Rawatib Zhuhur
Empat rakaat sunnah rawâtib Zhuhur dapat dilakukan dengan dua cara.

  1. Dilakukan dengan dua kali salam, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.[8]

  1. Dilakukan dengan satu salam dan dua tasyahud, dengan dasar hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Dari Abu Ayyub dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Empat rakaat sebelum Zhuhur, tidak ada padanya salam, maka dibukakan karenanya pintu-pintu langit”.[9]

Imam Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: “Kebanyakan ulama dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah mereka mengamalkan hadits ini. Mereka merajihkan seorang shalat sebelum Zhuhur empat rakaat. Inilah pendapat Sufyân ats-Tsauri, Ibnul-Mubârak, Ishâq dan ahli Kufah. Sebagian ulama mengatakan, shalat malam dan siang dua rakaat dua rakaat. Mereka memandang pemisahan antara setiap dua rakaat. Demikian inilah pendapat asy-Syafi’i dan Ahmad.[10]

Seseorang Tidak Sempat Melakukan Shalat Sunnah Empat Rakaat Sebelum Dzhuhur
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan satu kaidah tentang mengqadha shalat sunnah ini dengan pernyataan sebagai berikut:

Seseorang yang tidak sempat melakukan shalat-shalat rawâtib ini pada waktunya, maka disunnahkan mengqadhanya, dengan syarat karena udzur. Dasarnya, yaitu hadits Abu Hurâirah dan Abu Qatadah dalam kisah tidurnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam suatu perjalanan sehingga terlambat shalat Subuh, lalu beliau melakukan shalat rawatib Subuh dahulu, baru kemudian shalat Subuh.

Demikian juga hadits Ummu Salamah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan dari dua rakaat setelah Zhuhur dan mengqadhanya setelah shalat ‘Ashr. Ini adalah nash dalam qadha shalat sunnah rawâtib. Begitu juga keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang berbunyi):

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا  ذَكَرَهَا

Barang siapa yang ketiduran dari shalat atau lupa, maka hendaklah ia shalat ketika ingat.

(Pengertian) ini mencakup shalat fardhu dan nafilah (sunnah), dan ini bila ditinggalkan karena udzur seperti lupa, ketiduran dan sibuk dengan yang lebih penting. Adapun bila ditinggalkannya dengan sengaja sehingga kehilangan waktunya, maka ia tidak mengqadhanya. Kalaupun ia mengqadhanya, maka tidak sah sebagai rawâtib darinya. Karena shalat rawâtib merupakan ibadah dengan waktu tertentu. Ibadah yang memiliki ketentuan waktu, bila seseorang sengaja melakukan keluar dari waktunya, maka (ibadah itu) tidak diterima. Dasarnya, ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka ia tertolak. [HR Muslim].

Demikianlah ibadah yang memiliki ketentuan waktu; (sehingga) bila engkau keluarkan darinya dengan sengaja, maka engkau telah melakukan amalan yang tidak ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk engkau kerjakan pada waktu tersebut, sehingga tidak diterima (selainnya). Juga sebagaimana tidak sah shalat sebelum waktunya, maka tidak sah pula shalat setelah keluar waktunya, karena hakikinya tidak ada perbedaan antara engkau kerjakan sebelum masuk waktunya, maupuan setelah keluar waktunya apabila tanpa udzur.[11]

Dengan dasar ini, apabila seseorang tidak dapat melakukan shalat sunnah rawatib sebelum Zhuhur karena udzur, maka ia boleh mengqadhanya. Yaitu dilakukan setelah shalat Zhuhur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهُ

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, bila tidak shalat empat rakaat sebelum Zhuhur, maka beliau lakukan setelahnya.[12]

Seseorang Tidak Sempat Melakukan Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah
Demikian pula jika seseorang tidak dapat melakukan shalat sunnah rawatib sebelum Zhuhur karena udzur, maka ia boleh mengqadhanya setelah hilang udzurnya, walaupun setelah shalat ‘Ashar. Hal ini didasarkan pada hadits yang berbunyi:

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَزْهَرَ وَالْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ أَرْسَلُوهُ إِلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا اقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنَّا جَمِيعًا وَسَلْهَا عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ وَقُلْ إِنَّا أُخْبِرْنَا أَنَّكِ تُصَلِّينَهُمَا وَقَدْ بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أَضْرِبُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ النَّاسَ عَلَيْهَا قَالَ كُرَيْبٌ فَدَخَلْتُ عَلَيْهَا وَبَلَّغْتُهَا مَا أَرْسَلُونِي بِهِ فَقَالَتْ سَلْ أُمَّ سَلَمَةَ فَخَرَجْتُ إِلَيْهِمْ فَأَخْبَرْتُهُمْ بِقَوْلِهَا فَرَدُّونِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ بِمِثْلِ مَا أَرْسَلُونِي بِهِ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُمَا ثُمَّ رَأَيْتُهُ يُصَلِّيهِمَا أَمَّا حِينَ صَلَّاهُمَا فَإِنَّهُ صَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ وَعِنْدِي نِسْوَةٌ مِنْ بَنِي حَرَامٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَصَلَّاهُمَا فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ الْجَارِيَةَ فَقُلْتُ قُومِي بِجَنْبِهِ فَقُولِي لَهُ تَقُولُ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُكَ تَنْهَى عَنْ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ وَأَرَاكَ تُصَلِّيهِمَا فَإِنْ أَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخِرِي عَنْهُ قَالَ فَفَعَلَتْ الْجَارِيَةُ فَأَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخَرَتْ عَنْهُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ سَأَلْتِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ بِالْإِسْلَامِ مِنْ قَوْمِهِمْ فَشَغَلُونِي عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ

Dari Kuraib Maula Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdur-Rahman bin Azhar dan al-Miswar bin Makhramah mengutusnya menemui ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka berkata: “Sampaikan kepada beliau salam dari kami semua dan tanyakan tentang dua rakaat setelah shalat ‘Ashar. Juga katakan, bahwa kami menerima berita bahwa engkau melakukan shalat dua rakaat (setelah ‘Ashar) tersebut, padahal telah sampai kapada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya”.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku, dahulu bersama ‘Umar bin al-Khaththab memukul orang yang melakukannya”.

Kuraib berkata: “Lalu aku menemui beliau (‘Aisyah) dan menyampaikan semua pesan mereka,” lalu beliau berkata: ‘Tanyakanlah kepada Ummu Salamah,’ lantas aku berangkat kepada mereka dan memberitahukan mereka tentang jawaban beliau. Kemudian mereka menyuruhku pergi ke Ummu Salamah dengan pesan-pesan yang dibawa kepada ‘Aisyah”.

Kemudian Ummu Salamah menjawab: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keduanya, kemudian aku melihat beliau mengerjakannya. Adapun waktu beliau melakukannya, yaitu setelah shalat ‘Ashar kemudian masuk, dan bersamaku ada beberapa orang wanita kalangan Anshar dari Bani Harâm, lalu beliau melakukan shalat dua rakaat tersebut. Maka aku menyuruh seorang anak perempuan menemui beliau (dan) aku katakan, ‘Berdirilah engkau disamping beliau dan katakan kepadanya bahwa Ummu Salamah bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Aku telah mendengar engkau melarang dari dua rakaat tersebut dan melihatmu melakukannya’. Apabila beliau memberi isyarat dengan tangannya, maka mundurlah (engkau) darinya”.

Kuraib berkata: “Anak perempuan itupun melakukannya, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya, maka iapun mundur dari beliau”.

Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, maka berkata: “Wahai, bintu Abi Umayyah! Engkau telah bertanya tentang dua rakaat setelah shalat ‘Ashr?! Sesungguhnya telah menemuiku beberapa orang dari ‘Abdul-Qais masuk Islam dari kaum mereka, sehingga menyibukkanku dari melakukan dua rakaat (shalat rawatib) setelah Zhuhur. Maka, inilah dua rakaat itu”.[13]

Demikianlah beberapa permasalahan seputar shalat sunnah rawatib Zhuhur yang dapat kami jelaskan. Semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[2] HR al- Bukhâri kitab Tahajjud, Bab: ar-Rakatain Qabla Zhuhur no.1180, dan Muslim kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah, 729.
[3] HR al-Bukhâri dalam kitab al-Jum’at, Bab: ar-Rak’atain Qablal-Zhuhri, no. 1110.
[4] HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Jawâz an-Nâfilah Qâiman wa Qa’idan, no. 730.
[5] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ`a fîman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Ibnu Majah, 1/191.
[6] Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[7] HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahîhah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416).
[8] HR an-Nasâ`i dalam kitab Qiyâmul-Lail wa Tathawu’ an-Nahâr, Bab: Kaifa Shalatul-Lail (3/227), Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ fî Shalatul-Lail wan-Nahâr Matsna Matsna, no. 1322. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Ibnu Majah (1/221).
[9] HR Abu Dawud 1269, dan Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîhut-Targhib wat-Tarhîb no. 585 dan Shahîh Abu Dawud.
[10] Sunan at-Tirmidzi (2/289-290).
[11] Syarhul-Mumti’ (4/101-103).
[12] HR at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Minhu Aakhar, no. 426, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Man Fâtathu al-Arba’ Qablal-Zhuhur, no. 1158; dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/134). Lihat pula Tamamul-Minnah, 241.
[13] HR al- Bukhâri, kitab as-Sahwu, Bab: Idza Kallama wahuwa Yushalli fa ‘Asyara biyadihi wastama`, no. 1233, dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Ma’rifatur-Rak’atain allataini Kâna Yushalîhumâ an-Nabi n Ba’dal-‘Ashr, no. 834.

Shalat Sunnah Rawâtib Subuh

SHALAT SUNNAH RAWATIB SUBUH

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Pada edisi terdahulu kami telah menjelaskan shalat Sunnah Rawâtib, yang pelaksaannya sangat dianjurkan. Karena Sunnah Rawâtib itu sebagai pelengkap shalat fardhu lima waktu secara umum.

Untuk mengetahui kedudukan dan jenis-jenis shalat Rawâtib, kami mencoba untuk membahasnya secara menyeluruh meskipun singkat, insya Allah.

Berikut kami mulai dengan pembahasan seputar shalat Rawâtib Subuh.

Hukum Shalat Rawatib Subuh
Shalat sunnah Rawâtib Subuh termasuk shalat sunnah yang paling ditekankan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya, baik saat bepergian ataupun tidak.

Di antara dalil yang menunjukkannya, yaitu hadits Abu Maryam yang berbunyi:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ

Kami dahulu pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu kami berjalan saat malam hari. Ketika menjelang waktu Subuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan muadzin (untuk beradzan), lalu ia pun mengumandangkan adzan. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka`at sebelum shalat Subuh, kemudian memerintahkan sang muadzin beriqamah, lalu beliau mengimami orang-orang (shalat Subuh).[1]

Demikian juga Imam al-Bukhâri telah menyebutkan dalam kitabnya:

بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

Bab orang yang melakukan shalat tathawu’ (sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum shalat fardhu (Rawâtib), dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat al-Fajr dalam safarnya (bepergiannya).[2]

Ibnul-Qayyim berkata,”Di antara petunjuk yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya, yaitu (beliau) mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat yang fardhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui melakukan shalat Sunnah Rawâtib sebelum dan sesudah shalat fardhu kecuali shalat witir dan Sunnah Rawâtib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat itu, baik saat muqîm (tidak sedang bepergian)  maupun saat bepergian”.[3]

Hal ini, juga sebagaimana nampak pada pernyataan ‘Aisyah yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat Rawatib) Subuh”.[4]

Sehingga Ibnul-Qayyim pun berkata, “Kesinambungan dan penjagaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sunnah Rawâtib Subuh melebihi seluruh shalat sunnah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sunnah Rawâtib Subuh dan shalat Witir dalam safarnya maupun saat muqîm. Dalam safar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disiplin melaksanakan sunah Rawâtib Subuh dan Witir melebihi seluruh shalat-shalat sunnah dan Rawâtib lainnya. Tidak ada dinukilkan dari beliau dalam safarnya melakukan shalat Rawâtib selain Rawâtib Subuh. Oleh karena itu, dahulu Ibnu ‘Umar tidak menambah dari dua raka’at, dan ia berkata,‘Saya telah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka semua dalam safarnya tidak melebihi dua raka’at’.”[5]

Dengan demikian jelaslah, bahwasanya hukum sunnah Rawâtib Subuh adalah sunnah muakkadad, dan termasuk Rawâtib yang sangat dianjurkan.

Keutamaan Shalat Rawatib Subuh
Keutamaan shalat Sunnah Rawâtib Subuh, secara umum dapat dilihat dalam hadits-hadits tentang keutamaan shalat Sunnah Rawâtib, namun ada juga beberapa hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan shalat Rawâtib Subuh ini. Di antaranya:

1. Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. أخرجه مسلم.

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,”Dua raka’at fajar (Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” [6]

2. Hadits ‘Aisyah Radhyallahu anhuma lainnya yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua raka’at (shalat Rawâtib) Subuh”.[7]

Dalam dua hadits di atas, nampak adanya pernyataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang secara langsung menunjukkan keutamaan shalat Rawâtib ini.

3. Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ أخرجه البخاري

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, sesungguhnya dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua rakaat sebelum Subuh.[8]

Tata Cara Shalat Rawatib Subuh
1. Shalat Rawâtib Subuh dua raka’at, dilakukan sebelum shalat fardhu Subuh sebagaimana shalat dua rakaat lainnya dengan satu salam.

2. Shalat Rawâtib Subuh dilakukan dengan meringankannya/agak cepat.

Di antara petunjuk dan contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan dua raka’at Rawâtib Subuh, ialah dengan meringankannya, tidak memanjangkan bacaannya, dan dengan syarat tidak melanggar hal-hal yang wajib dalam shalat.

Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut ini.

  • Hadits Ummul-Mukminin Hafshah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ أخرجه الشيخان

Dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata, bahwasanya Hafshah Ummul-Mukminin telah menceritakan kepadanya, sesungguhnya dahulu, bila muadzin selesai dari mengumandangkan adzan shalat Subuh dan waktu Subuh sudah nampak, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at yang ringan sebelum iqamat shalat.[9]

  • Hadits Ummul-Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Dari ‘Aisyah, beliau berkata: “Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at yang ringan antara adzan dan iqamat shalat Subuh”.[10]

  • Demikian juga beliau Radhiyallahu anhuma menjelaskan ringannya shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disini dengan perkataanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟”. أخرجه الشيخان

Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua raka’at yang ada sebelum shalat fardhu Subuh, hingga aku bertanya: “Apakah beliau membaca al-Fatihah?[11]

Hadits-hadits di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat dua raka’at sebelum shalat fardhu Subuh.[12]

3. Bacaan setelah membaca surat al-Fatihah.
Sebagian orang berdalih dengan riwayat ‘Aisyah di atas, yang menunjukkan tidak disunnahkannya membaca surat atau ayat setelah al-Fatihah. Anggapan ini tidak benar, karena adanya beberapa riwayat yang menjelaskan bacaan surat atau ayat setelah membaca al-Fatihah dalam shalat dua raka’at sebelum shalat fardhu Subuh ini. Berikut beberapa hadits yang menunjukkan adanya bacaan ayat sesudah membaca al-Fatihah.

  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat al-Kâfirûn dan al- Ikhlâsh dalam dua raka’at al-Fajr (dua raka’at Rawâtib Subuh).[13]

  • Hadits Ibnu ‘Abbas yang berbunyi:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dari Sa’id bin Yasaar, bahwasanya Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepadanya, sesungguhnya dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua raka’at al-Fajr; pada rakaat pertama membaca ayat:

 قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا  yang terdapat dalam al-Baqarah/2 (ayat 136), dan pada raka’at kedua  آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ  (Ali ‘Imran/3 ayat 52).[14]

  • Hadits Ibnu Abas yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua raka’at al-Fajr firman Allah:  قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا  (al-Baqarah/2 ayat 136),

dan yang terdapat dalam Ali ‘Imran/3 (ayat 64): (تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ).[15]

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Sunnah (Rawâtib) Subuh diberlakukan sebagai awal perbuatan dan witir sebagai penutupnya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Sunnah (Rawâtib) Subuh dan witir dengan membaca surat al-Kaafirun dan al-Ikhlas. Kedua surat ini mengandung tauhid al-Ilmi wal-‘Amal (tauhid Rububiyah), tauhid al-Ma’rifah (tauhid al-Asma wash-Shifat) dan tauhid al-I’tiqaad wal-Qashdu (tauhid al-Uluhiyah)”.[16]

4. Berbaring Setelah Shalat Rawatib Subuh.
Di antara yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu setelah shalat Rawatib Subuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring miring di atas bagian kanan tubuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ رَكْعَتَي الْفَجْرِ، فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شَقِّهِ الأَيْمَنِ. أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian mengerjakan dua rak’at al-Fajr, maka berbaringlah miring di atas bagian kanannya”.[17]

Dalam masalah berbaring ini, terdapat perbedaan pandangan dikalangan para ulama. Mereka  terbagi dalam enam pendapat.[18]

a. Berbaring ini disyari’atkan secara sunnah.
Demikian ini pendapat Abu Musa al-Asy’ari, Râfi’ bin Khadîj, Anas bin Mâlik, Abu Hurairah, Muhammad bin Sirîn, Sa’id bin al-Musayyib, al-Qâsim bin Muhammad bin Abu Bakar, ‘Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdur-Rahman bin ‘Auf, Khârijah bin Zaid bin Tsâbit, ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasâr, dan begitu pula di kalangan madzhab Syâfi’i dan Hambali. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah tersebut, dan membawa makna perintah dalam riwayat tersebut kepada sunnah (istihbab) dengan didukung hadits ‘Aisyah yang berbunyi :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  كَانَ إِذَا صَلَّى سُنَّةَ الْفَجْرِ ، فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً ؛ حَدَّثَنِيْ ، وَ إِلاَّ ؛ اضْطَجَعَ حَتىَّ يُؤَذَّنَ بِالصَّلاَةِ. أخرجه البخاري

Sesungguhnya dahulu, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai melakukan shalat sunnah Subuh, apabila aku terjaga (tidak tidur-red) maka beliau mengajakku berbicara, dan bila (aku) tidak (sedang terjaga) maka beliau berbaring hingga shalat diiqamati.[19]

Dalam hadits ini dapat diketahui bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbaring apabila ‘Aisyah telah bangun, sehingga hadits ini bisa merubah makna perintah yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari bermakna wajib berubah menjadi sunnah. Demikian juga, hadits ‘Aisyah ini menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tidak berbaring setelah melakukan Rawâtib Subuh. Seandainya wajib, tentu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meninggalkannya.

b. Berbaring itu wajib dan harus dilakukan, bahkan beranggapan berbaring itu sebagai syarat sah shalat Subuh.
Inilah pendapat Abu Muhammad bin Hazm. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu diatas yang berisi perintah dan sifat perintah menunjukkan makna wajib.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah mengomentari pendapat Ibnu Hazm ini. Syaikhul-Islam berkata : “Ini merupakan pendapat beliau seorang diri yang menyelisihi umat”.[20]

c. Makruh dan bid’ah.
Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar sebagaimana terdapat dalam satu riwayat, dan al-Aswad bin Yazîd, serta Ibrahim am-Nakhâ-i. Mereka berdalil, bahwa berbaring itu tidak pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Seandainya pernah dilakukan, tentu akan dinukil secara mutawâtir.

d. Menyelisihi yang lebih utama.
Demikian yang riwayat yang datang dari al-Hasan al-Bashri.

e. Berbaring ini disunnahkan bagi yang telah melakukan shalat malam pada hari itu, agar ia dapat beristirahat, dan tidak disyari’atkan pada selainnya.

Demikian yang dirajihkan Ibnul-‘Arabi dan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, juha Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn.

Syaikh al-‘Utsaimin berkata,”Pendapat yang râjih dalam masalah ini, ialah yang dirâjihkan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Yaitu yang dirinci, sehingga menjadi sunnah bagi orang yang menegakkan malamnya, karena ia membutuhkan istirahat. Namun, bila termasuk orang yang bila berbaring di tanah dapat tidur dan tidak bangun kecuali setelah waktu yang lama, maka ini tidak disunnahkan baginya, karena dapat menyebabkannya meninggalkan kewajiban”.[21]

f. Berbaring bukanlah inti yang dimaksud. Akan tetapi, yang dimaksud ialah memisahkan antara shalat Rawâtib dengan shalat Fardhu.

Demikian yang diriwayatkan dari pendapat asy-Syâfi’i. Tetapi, pendapat ini terlalu lemah, sebab pemisahan waktu dapat dilakukan dengan selain berbaring.

Menurut penulis, dari keenam pendapat di atas, yang rajih ialah yang dirajihkan oleh Imam an-Nawawi, sebagaimana beliau rahimahullah telah berkata: “Yang terpilih adalah berbaring dengan dasar zhahir hadits Abu Hurairah”.[22]

Demikian juga keumuman hadits ini mencakup umat Islam, apalagi didukung dengan keabsahan hadits Abu Hurairah sebagaimana dinilai shahih oleh Imam asy-Syaukani, dan juga Syaikh al-Albâni.

Jika Seseorang Tidak Sempat Shalat Rawatib Subuh Pada Waktunya
Jika keadaanya seperti di atas, maka disyari’atkan bagi yang tidak sempat melakukan shalat Rawâtib qabliyah Subuh, untuk melaksanakannya setelah selesai shalat fardhu Subuh, atau setelah terbit matahari.

Hal ini didasarkan kepada dalil berikut ini.
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِي اللّه عَنْهُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :” مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ”. أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang belum shalat dua rakaat qabliyah Subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”.[23]

Perintah dalam hadits ini dialihkan maknanya kepada makna istihbaab dengan hadits lainnya yang berbunyi:

عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِي اللّه عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ “. أخرجه الترمذي

Dari Qais bin Qah-din Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia shalat Subuh bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat dua raka’at qabliyah Subuh. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam maka iapun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qabliyah Subuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya.[24]

Jelas hadits ini menunjukkan boleh mengqadha dua raka’at qabliyah Subuh setelah shalat fardhu.

Demikian beberapa hukum seputar shalat Rawâtib Subuh. Mudah-mudahan bermanfaat.

Washalallahu ‘ala Nabiyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] HR an-Nasâ-i, kitab al-Mawaqif, Bab: Kaifa Yaqdhi al-Fâit minash-Shalat, no. 605. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ-i. Syaikh berkata,”Shahîh dengan hadits Abu Hurairah berikutnya, dan selainnya.”
[2] Shahîh dalam kitab al-Jum’at
[3] Zâdul-Ma’ad (1/456).
[4] HR al-Bukhari dan Muslim. (Akan datang takhrijnya).
[5] Zâdul-Ma’ad (1/305).
[6] HR Muslim, kitab Shalatil Musâfirin wa Qashriha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnatil-Fajr wal-Hatstsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân mâ Yustahab ‘an Yaqra`a fîhima, no. 725.
[7] HR al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: Ta`âhud Rak’atai al-Fajri waman Sammâha Tathawwu’an, no. 1169: Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân maa Yustahab ‘an Yaqra`a fî hima, no. 724.
[8] HR al-Bukhari, kitab al-Tahajjud, Bab: ar-Rak’atain Qabla Dzuhur, no. 1182.
[9] HR al-Bukhâri, kitab al-Adzân, Bab: al-Adzân ba’dal-Fajr, no. 618.  Muslim, kitab Shalatil-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân mâ Yustahab ‘an Yaqra`a fî hima, no. 723.
[10] HR al-Bukhari, kitab al-Adzan, Bab: al-Adzan ba’dal-Fajr, no 584.
[11] HR al-Bukhari, kitab at-Tahajjud, Bab: Mâ Yaqra’ fî Rak’atai al-Fajr, no. 1171.  Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân mâ Yustahab ‘an Yaqra`a fî hima, no. 724. Lafadz ini milik al-Bukhari.
[12] Lihat Shahîh Fiqhus-Sunnah (1/373).
[13] HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân mâ Yustahab ‘an Yaqra`a fî hima, no. 726.
[14] Ibid., no. 727.
[15] Ibid., no. 728.
[16] Lihat Ibnul-Qayyim dalam Zâdul-Ma’ad (1/306). Kemudian Ibnul-Qayyim menjelaskan hikmah yang terkandung dalam dua surat tersebut.
[17] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Ja`a fil-Idh-thijâ` ba’da Rak’atai al-Fajri, no. 420. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi dan Shahîh Sunan Abu Dawud no. 1146.
[18] Pembahasan ini diambil dari beberapa marâji`, di antaranya: Syarhul-Mumti’ ‘ala Zâdul-Mustaqni’ karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin, Nailul-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbâr karya asy-Syaukani, Zâdul-Ma’ad karya Ibnul-Qayyim dan Shahih Fiqhus-Sunnah karya Abu Malik.
[19] HR al-Bukhari, kitab at-Tahajjud, Bab: Man Tahadatsa ba’da ar-Rak’atain wa Lam Yadh-thaji’ no. 1161.
[20] Pernyataan ini dinukil langsung oleh Ibnul-Qayyim dari beliau. Lihat Zâdul-Ma’ad (1/308).
[21] Syarhul-Mumti’ (4/100).
[22] Dinukil dari Nailul-Authar (3/25).
[23] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Ja`a fî I’âdatihima ba’da Thulu’usy-Syamsi, no. 424, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/133).
[24] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab Maa Ja`a fî man Tafututhu ar-Rakâtân Qablal-Fajr Yushalihuma ba’da Shalat ash-Shubhu no. 422, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/133).

Menggemarkan Shalat Sunnah Rawâtib

MENGGEMARKAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Para ulama sangat memperhatian shalat sunnah Rawâtib ini. Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawâtib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib.[1] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi shalat fardhu.[2]

Bagaimanakah kedudukan shalat sunnah Rawâtib ini, sehingga para ulama sangat memperhatikannya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ  

Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb k berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. [HR at-Tirmidzi][3].

Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya. [HR Abu Dawud dan Ahmad][4].

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib
Ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaan shalat sunnah Rawâtib secara umum, dan ada juga yang khusus pada satu shalat sunnah Rawatib tertentu, seperti keutamaan shalat sunnah sebelum Subuh.

Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan shalat sunah Rawâtib secara umum, ialah hadits Ummu Habîbah, yang berbunyi:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka’at shalat sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga.[5]

Jumlah raka’at ini ditafsirkan dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasâ-i, dari hadits Ummu Habibah sendiri, yang berbunyi:

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Ummu Habibah berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’Barang siapa yang shalat dua belas raka’at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga; empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setalah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya`, dan dua raka’at sebelum shalat Subuh’.”

Dalam riwayat lain dengan lafazh :

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka’at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga. [HR an-Nasâ-i][6].

Riwayat ini menunjukkan sunnahnya membiasakan dan secara rutin agar kita mengerjakan shalat dua belas raka’at tersebut setiap hari. Sehingga, siapapun yang membiasakan diri melakukan sunnah-sunnah Rawâtib ini, ia termasuk dalam keutamaan tersebut. Dan ini dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu ‘Umar berikut ini.

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Aku hafal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at: dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at setelah Maghrib, dua raka’at  setelah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hafshah menceritakan kepadaku, bila muadzin beradzan dan terbit fajar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at.[7]

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat tambahan lafazh:

وَسَجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ فَفِي بَيْتِهِ

Dan dua raka’at setelah Jum’at. Adapun (shalat sunnah Rawatib) Maghrib dan ‘Isya dilakukan di rumahnya.[8]

Dalam riwayat Muslim berbunyi:

فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ

Adapun (shalat sunnah Rawâtib) Maghrib, Isya dan Jum’at, aku lakukan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya.[9]

Jumlah Raka’at Sunnah Rawatib
Dalam masalah jumlah raka’at sunnah Rawatib ini, di kalangan para ulama terdapat perselisihan pendapat, yang terbagai dalam dua pendapat. Ini dikarenakan perbedaan dua hadits di atas.

Pertama, menyatakan jumlah raka’atnya adalah sepuluh dengan dasar hadits Ibnu ‘Umar z tersebut, dan inilah pendapat para ulama madzhab Hambaliyah dan Syafi’iyyah.[10]

Kedua, menyatakan jumlah raka’atnya ialah dua belas, berdasarkan hadits Ummu Habibah di atas, dan inilah pendapat madzhab Hanafiyyah dan Ibnu Taimiyyah.[11]

Ketiga, menyatakan tidak ada batasan jumlah raka’at, bahkan cukup dengan melakukan dua raka’at dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan shalat sunnah Rawatib, dan inilah pendapat madzhab Malikiyyah.

Keempat, menyatakan jumlah raka’atnya delapan belas. Demikian ini pendapat Imam asy-Sya-irazi dan disetujui Imam an-Nawawi dalam al-Majmû’ Syarhul-Muhadzdzab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ummu Habibah di atas, serta hadits Ummu Habibah lainnya yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang menjaga empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka.” [12]

Juga hadits yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum ‘Ashar empat raka’at”[13]

Menurut Imam Nawâwi, beliau rahimahullah mengatakan, yang paling sempurna dalam Rawatib yang mendampingi shalat fardhu selain witir, adalah delapan belas raka’at, sebagaimana dijelaskan penulis (asy-Sya-irazi), dan paling sedikit adalah sepuluh, sebagaimana yang beliau sebutkan. Di antara ulama ada yang berpendapat delapan raka’at dengan menghapus sunnah Isya’; (demikian) ini pendapat al-Khudari. Dan ada yang menyatakan bahwa jumlahnya dua belas, (yaitu) dengan menambah dua raka’at lain sebelum Zhuhur, dan ada yang menambah dua raka’at sebelum shalat ‘Ashar. Semua ini sunnah, namun perbedaan pendapat ada pada yang muakkad (yang lebih ditekankan) darinya.[14]

Yang rajihWallahu A’lam– yaitu mengembalikan definisi shalat sunnah Rawâtib sebagai shalat sunnah pendamping shalat fardhu yang dilakukan sebelum atau sesudah, dan ada anjuran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga yang lengkap ialah delapan belas raka’at, sebagaimana disampaikan Imam an-Nawawi di atas.

Namun, manakah yang sunnah muakkad dari semua itu?

Dalam persoalan ini, pendapat yang rajih ialah pernyataan yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin,[15] yaitu duabelas raka’at dengan perincian dua raka’at sebelum Subuh, empat raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at setelah Zhuhur, dua raka’at setelah Maghrib, dan dua raka’at setelah ‘Isya`, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Habîbah, juga dikuatkan dengan hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ 

Sesungguhnya dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.[16]

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu yang menerangkan bahwa beliau Radhiyallahu anhu hafal dari Nabi sepuluh raka’at. Mengenai hal ini, Ibnul-Qayyim memiliki penjelasan: “Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  selalu menjaga sepuluh raka’at pada waktu muqim. Inilah yang disampaikan Ibnu ‘Umar . . . , dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat empat raka’at sebelum Zhuhur, sebagaimana dijelaskan dalam Shahîhain dari ‘Aisyah bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum Zhuhur. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya bila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di rumah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at. Dan bila shalat di masjid, maka shalat dua raka’at. Demikianlah yang lebih rajih. Bisa juga dikatakan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbuat demikian dan berbuat begitu, kemudian ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar masing-masing menyampaikan apa yang dilihatnya”.[17]

Adapun Syaikh ‘Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassâm melakukan kompromi terhadap hadits-hadits ini. Beliau mengatakan: “Pernyataan ’empat raka’at sebelum Zhuhur’, tidak bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang terdapat pernyataan ‘dua raka’at sebelum Zhuhur’. Letak komprominya, terkadang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at dan terkadang empat. Kemudian masing-masing dari mereka berdua (Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah), masing-masing menceritakan salah satu dari kedua amalan tersebut. Fenomena semacam ini terjadi juga pada banyak ibadah dan dzikir-dzikir sunnah.”[18]

Faidah Shalat Sunnah Rawatib
Sebagaimana telah diuraikan pada awal uraian ini, shalat sunnah Rawâtib ini didefinisikan dengan shalat yang terus dilakukan secara kontinyu mendampingi shalat fardhu. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan definisinya, sehingga berkaitan dengan faidah shalat sunnah Rawatib ini, beliau memberikan penjelasan: “Faidah Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu”.[19]

Sedangkan Syaikh ‘Abdullah al-Basâm mengatakan dalam Ta-udhihul-Ahkam (2/383-384) bahwa shalat sunnah Rawâtib memiliki manfaat yang agung dan keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Sehingga Syaikh al-Basâm mengingatkan, menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.

Wallahul-Muwaffiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Shahîh Fiqhis-Sunnah, Abu Mâlik Kamâl bin as-Sayyid Sâlim, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Mesir, tanpa cetakan dan tahun (1/372).
[2] Syarhul-Mumti’ ‘ala Zâdil-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin, Tahqîq: Dr. Khâlid al-Musyaiqih dan Sulaimân Abu Khail, Muassasah Âsâm, Cetakan Kedua, Tahun 1414 H (3/93).
[3] HR At-Tirmidzi no. 413 dan Ibnu Majah no. 1425. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ Ash-Shagir no. 2020
[4] HR Abu Daud no. 796 dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 537
[5] HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfir wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah Qablal-Farâ-idh wa Ba’daha, no. 1199.
[6] HR An-Nasa’i no. 1804 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i (Lihat no. 1804, 261 dan 1696)
[7] HR al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: ar-Rak’atain Qablal-Zhuhur (no. 1180), dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 729).
[8] HR al-Bukhari, kitab Jum’at, Bab: Tathawwu’ Ba’dal-Maktubah (no. 1120), dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).
[9] HR Muslim kitab Shalat al-Musafirîn wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).
[10] Syarhul-Mumti’ (3/93) dan Shahih Fiqhis-Sunnah (1/372).
[11] Ibid.
[12] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat (no. 428), Ibnu Majah, kitab ash-Shalat (no. 428), Abu Dawud, kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha (no. 1269) dan Ibnu Majah, kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Mâ Jâ-a fiman Shalla Qablal-Zhuhri `Arba’an wa Ba’daha `Arba’an (no. 1160). Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah (1/191).
[13] HR Ahmad dalam Musnad-nya (4/203), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Jâ-a fil-Arba’ Qablal-‘Ashr (no. 430), Abu Dawud dalam kitab ash-Shalat, Bab ash-Shalat Qablal-‘Ashr (no. 1271), dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Abi Dawud (1/237).
[14] Al- Majmu’ Syarhul-Muhadzab, Imam an-Nawawi dengan penyempurnaan oleh Muhammad Najîb al-Muthi’i, Dar Ihyâ-ut-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Tahun 1419H (3/502).
[15] Syarhul-Mumti’ (4/96).
[16] HR al-Bukhari dalam kitab al-Jum’at, Bab: ar-Rak’ata-in Qablal-Zhuhri (no. 1110).
[17] Zâdul-Ma’âd, Ibnul-Qayyim, Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth, Mu-assasah ar-Risalah, Cetakan Kedua, Tahun 1418 H (1/298).
[18] Ta-udhihul-Ahkâm min Bulughul-Maram, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur-Rahman al-Basâm, Maktabah al-Asadi, Mekkah, Cetakan Kelima, Tahun 1423 H (2/382-383).
[19] Syarhul-Mumti’ (4/96).

Shalat Dhuha, Pengganti Sedekah Persendian

SHALAT DHUHA, PENGGANTI SEDEKAH PERSENDIAN

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan shalat-shalat sunnah untuk menyempurnakan ibadah shalat wajib yang terkadang tidak dapat sempurna pahalanya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah shalatnya. Apabila baik, maka ia telah beruntung dan selamat; dan bila rusak, maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat tathawwu’ (shalat Sunnah),” lalu disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. [HR at-Tirmidzi].

Dan di antara yang disyariatkan ialah shalat Dhuha.

Keutamaan Shalat Dhuha
1. Mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu 360 persendian, sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. (أخرجه مسلم).

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda: “Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap tasbiih adalah sedekah, setiap tahmiid adalah sedekah, setiap tahliil adalah sedekah, setiap takbiir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Dan dapat memadai untuk semua itu, dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha”.[1]

Juga sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :

فِي الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلًا فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Dalam diri manusia ada 360 persendian, lalu diwajibkan sedekah dari setiap sendinya,” mereka bertanya,”Siapa yang mampu demikian, wahai Nabi Allah?” Beliau menjawab,”Memendam riak yang ada di masjid dan menghilangkan sesuatu (gangguan) dari jalanan. Apabila tidak mendapatkannya, maka dua raka’at shalat Dhuha mencukupkanmu.”[2]

2. Allah Subhanahu wa Ta’alamenjaga orang yang shalat Dhuha empat rakaat pada hari tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ أخرجه الترمذي. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Dardaa’ atau Abu Dzar, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Allah Subhanahu wa Ta’alabahwa Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, shalatlah untuk-Ku pada awal siang hari empat rakaat, niscaya Aku menjagamu sisa hari tersebut”[3]

3. Shalat Dhuha merupakan shalat al-awwâbîn. Yaitu orang yang banyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ. (أخرجه الحاكم).

Tidaklah menjaga shalat Dhuha kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah.[4]

Hukum Shalat Dhuha[5]
Para ulama berselisih tentang hukum shalat Dhuha dalam beberapa pendapat sebagai berikut.
1. Hukumnya sunnah mutlak, dan disunnahkan melakukannya setiap hari.

Demikian ini madzhab mayoritas ulama, yang berargumentasi dengan beberapa dalil.

  • Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan shalat Dhuha sebagaimana telah disebutkan terdahulu.
  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Kekasihku Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha dan Witir sebelum tidur. [Muttafaqun ‘alaihi].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah menyatakan, hadits ini menunjukkan bahwa shalat Dhuha adalah sunnah mutlak yang dilakukan setiap hari.[6]

  • Hadits Mu’âdzah al-‘Adawiyah ketika bertanya kepada ‘Âisyah dengan sebuah pertanyaan:

كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ

“Dahulu, berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhuha?” Beliau menjawab,”Empat rakaat, dan menambah sesukanya”.[7]

2. Hukumnya sunnah, namun tidak dilakukan setiap hari.
3. Hukumnya bukan sunnah, inilah pendapat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
4. Shalat Dhuha hanya disunnahkan karena faktor tertentu.

Pendapat ini dirajihkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan Ibnul-Qayyim rahimahullah.

Menurut beliau (Ibnul-Qayyim), barang siapa yang menelaah hadits-hadits marfu’ dan atsar sahabat, tentu akan menyimpulkannya hanya mendukung pendapat ini. Adapun hadits-hadits yang berupa anjuran dan wasiat untuk melakukannya, maka yang shahîh darinya, seperti hadits Abu Hurairah dan Abu Dzar Radhiyallahu anhuma  tidak menunjukkan jika shalat Dhuha sebagai sunnah yang terus dikerjakan untuk setiap orang.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  dengan wasiat itu, karena telah diriwayatkan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dahulu memilih belajar hadits pada malam hari dari pada shalat, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan melakukannya pada waktu Dhuha sebagai ganti shalat malam. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk tidak tidur kecuali setelah berwitir, dan tidak memerintahkan hal itu kepada Abu Bakar, ‘Umar dan seluruh sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.[8]

Sedangkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, setelah menjelaskan sunnahnya shalat Dhuha, beliau rahimahullah menyatakan, masalahnya apakah yang lebih utama melakukannya secara terus-menerus ataukah tidak, karena mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Demikian ini yang menjadi perselisihan para ulama. Yang rajih dikatakan, barang siapa yang kontinyu melakukan shalat malam, maka itu mencukupinya dari melakukan shalat Dhuha terus-menerus, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu demikian. Barang siapa yang tidak melakukan shalat malam, maka shalat Dhuha menjadi pengganti shalat malam.[9]

Adapun yang rajih dari pendapat-penpat tersebut, Insya Allah adalah pendapat pertama, karena keumuman anjuran melakukan shalat Dhuha. Demikian pula yang dirajihkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau menyatakan, yang rajih ialah sunnah mutlak yang terus-menerus dilakukan. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

(Setiap hari wajib bersedekah bagi setiap persendian dari salah seorang kalian).

Para ulama menjelaskan, bahwa pada tubuh manusia terdapat 360 jumlah persendian, sehingga setiap orang harus bersedekah 360 sedekah setiap hari. Yang dimakusdkan dengan sedekah ini bukan berupa harta, tetapi berupa amalan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَفِي كُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

(Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Mencukupkan dari itu semua dua rakaat yang dilakukan di waktu Dhuha).

Berdasarkan hadits ini, maka kami berpendapat bahwa hukum shalat Dhuha ialah sunnah yang selalu dikerjakan, karena kebanyakan manusia tidak mampu memberikan sedekah hingga 360 sedekah.[10]
Wallahu a’lam.

Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha
Waktu shalat Dhuha dimulai dari terbitnya matahari hingga menjelang matahari tergelincir (zawâl). Sedangkan akhir waktu Dhuha, yaitu dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal waktu Zhuhur.

Secara rinci Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn menjelaskan bahwa waktu Dhuha berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu sekitar satu meter. Adapun dalam perhitungan jam, yang ma’ruf ialah sekitar 12 menit, atau untuk lebih hati-hati sekitar 15 menit. Apabila telah berlalu 15 menit dari terbit matahari, maka hilanglah waktu terlarang dan masuklah waktu untuk bisa menunaikan shalat Dhuha. Sedangkan akhir waktunya, ialah sekitar sepuluh menit sebelum matahari tergelincir.[11]

Dalil yang menjadi penetapan awal waktu Dhuha, yaitu hadits Abu Dzar yang berbunyi:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ أخرجه الترمذي.

 Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Allah Subhanahu wa Ta’alabahwa Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, shalatlah untuk-Ku pada awal siang hari empat rakaat, niscaya Aku menjagamu pada sisa hari tersebut”.

Adapun jeda sebelumnya, karena ada larangan shalat sebelum matahari tergelincir. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah menyatakan, “Jika demikian, waktu shalat Dhuha dimulai setelah keluar dari waktu larangan pada awal siang hari (pagi hari) sampai adanya larangan saat tengah hari”[12]

Waktu Paling Utama
Adapun waktu paling utama dalam pelaksanaan shalat Dhuha ialah di akhir waktunya. Demikian menurut penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah,[13] dan hal ini dijelaskan oleh hadits:

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Sesungguhnya Zaid bin Arqam melihat satu kaum melakukan shalat Dhuha, lalu ia berkata: “Apakah mereka belum mengetahui bahwa shalat pada selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, shalat al-awwabîn (ialah) ketika anak onta kepanasan”.[14]

Jumlah Rakaat Dan Tata Cara ShalatDhuha
Seorang muslim disyariatkan melakukan shalat Dhuha dua rakaat, atau empat, atau enam, atau delapan, atau lebih tanpa ada batasan tertentu. Inilah yang dirajihkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah sebagaimana beliau telah menyatakan, bahwa pendapat yang benar, tidak ada batasan maksimalnya, karena ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله

(Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha empat rakaat, dan menambahnya sangat banyak).[15]

Seandainya seseorang mengerjakannya sejak matahari terbit seukuran tombak sampai menjelang matahari tergelincir, misalnya 40 rakaat, maka semua ini termasuk dalam shalat Dhuha.[16]

Adapun pelaksanaannya, semua dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.[17]

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai shalat Dhuha, semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] HR Muslim, kitab Shalât al-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Istihbâb Shalat ad-Dhuha, hadits No. 720.
[2] HR Abu Dawud no. 5242 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam kitab Irwâa`ul-Ghaliil, 2/213 dan at-Ta’liq ar-Raghib, 1/235.
[3] HR at-Tirmidzi, kitab Shalât, Bab: Mâ Jâ`a fi Shalât ad-Dhuha, no. 475. Abu ‘Isa berkata: “Hadits hasan gharib”. Hadits ini dishahîhkan Ahmad Syakir dalam tahqiq beliau atas kitab at-Tirmidzi. Juga dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi, 1/147.
[4] HR al-Hâkim dalam al-Mustadrak, 1/314. Syaikh al-Albâni menilai sebagai hadits hasan dalam Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah no. 1994; lihat 2/324.
[5] Lihat asy-Syarhu al-Mumti’, 4/115-117. Shahih Fiqhis-Sunnah, 1/422-424. Zâdul-Ma’âd, 1/318-348.
[6] Asy-Syarhul-Mumti’, 4/116.
[7] HR Muslim, kitab Shalaat al-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Istihbâb Shalât ad-Dhuha, hadits no. 719.
[8] Zâdul-Ma’âd, 1/346.
[9] Majmu’ Fatâwâ, 22/284.
[10] Asy-Syarhul-Mumti’, 4/117.
[11] Lihat asy-Syarhul-Mumti’, 4/122-123.
[12] Asy-Syarhul-Mumti’, 4/123.
[13] Asy-Syarhul-Mumti’, 4/123.
[14] HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Shalat al-Awwabina Hiina Tarmidhu al-Fishâl, no. 748.
[15] HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Shalat ad-Dhuha, no. 719.
[16] Asy-Syarhul-Mumti’, 4/119.
[17] HR an-Nasâ`i,  dalam kitab Qiyâmul-Lail wa Tathawu’ an-Nahar, Bab: Kaifa Shalatul-Lail, 3/227. Ibnu Majah dalam kitab Iqâmat ash-Shalat was-Sunnah fî ha, Bab: Mâ Jâ fî Shalatul-Lail wan-Nahâr Matsna-Matsna, no. 1322. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Ibnu Majah, 1/221.