Author Archives: editor

Keutamaan Sahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam

DAFTAR ISI

  1. Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka
  2. Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Sahabat Nabi
  3. Bagaimana Menghormati Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
  4. Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Keutamaan Sahabat Nabi

  1. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu Khalifah IV
  2. Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Peristiwa yang Terjadi Di Antara Sahabat
  3. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu’awiyah dan Pertikaiannya Dengan Ali
  4. Riwayat-Riwayat yang Menceritakan Kejelekan Sahabat
  5. Mewaspadai Celaan Agama Syi’ah Terhadap Sahabat
  6. Sahabat Nabi Muhammad Dalam Ideologi Syi’ah

Jangan Mencela Sahabat Rasulullah!

  1. Keistimewaan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
  2. Syubhat-Syubhat Tentang Abu Bakar Radhiyallahu Anhu
  3. Hukum Orang yang Menuduh Aisyah Radhiyallahu Anha
  4. Baiat dan Warisan Abu Bakar dan Umar Antara Ali dan Fatimah
  5. Kenapa Mereka yang Melaknat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha?
  6. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya
  7. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Dalam Pandangan Salafush Shalih
  8. Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhu
  9. Membela Sahabat yang Mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhuma
  10. Beberapa Perkataan Ulama Tentang Mu’âwiyah Radhiyallahu Anhuma

Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka telah berjuang bersama Rasulullah untuk menegakkan Islam dan mendakwahkannya keberbagai pelosok negeri, sehingga kita dapat merasakan ni’matnya iman dan Islam.

Perjuangan mereka dalam li’ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.

Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.

Persoalan ‘Adalatus Shahabah (Keadilan Shahabat) sudah diyakini oleh umat Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Ahli Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Ahli Bait dan Siapakah Ahli Bait?
  2. Mengenal Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Siapakah Mereka yang Disebut Ahlul Bait
  4. Hakekat Mengikuti Ahlul Bait
  5. Keutamaan Ahlul Bait
  6. Apakah Ahlul Bait Ma’shum

Hakekat Mengikuti Ahlul Bait

  1. Ahlus Sunnah dan Ahlul Bait
  2. Penjelasan Pentingnya Mencintai dan Kedudukan Ahlul Bait
  3. Hubungan Kekerabatan Antara Ahlul Bait Dan Sahabat Nabi
  4. Apakah Boleh Kita Mengatakan Bahwa Husain Meninggal Syahid?
  5. Adab Kepada Ahli Bait dan Haramnya Mengaku Ahli Bait Tanpa Hak
  6. Mengaku Keturunan Rasulullah dan Meminta Berkah Dari Mereka

Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di Ghadir Khum
Keutamaan Sahabat Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam

Keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada. Bahkan di antara keturunan beliau,  yaitu imam Mahdi, akan datang menjelang hari Kiamat, dan termasuk tanda-tanda besar hari Kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللهُ فِي لَيْلَةٍ

Al Mahdi dari kami, ahli bait, Allah akan memperbaikinya di dalam satu malam. [HR Ahmad, no. 646; Ibnu Majah, no. 4085. Dihasankan oleh al Albani di dalam ash Shahihah, no. 2371].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

Al Mahdi dari keturunanku dari anak Fatimah. [HR. Ahmad, no. 646; Ibnu Majah, no. 4085, dan ini lafazhnya. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat juga di dalam ash Shahihah, no. 2371].

Adapun banyak orang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka pengakuan tersebut kemungkinan benar, kemungkinan juga tidak benar.

Anjuran dan Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

DAFTAR ISI

  1. Keutamaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  2. Shalawat Kepada Nabi, Keutamaan Serta Faidahnya
  3. Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  5. Keutamaan Banyak Membaca Shalawat Kepada Nabi

Hukum Tambahan Sayyidina Dalam Shalawat

  1. Hadits Keutamaan Shalawat Kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
  2. Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalawat Kepada Nabi
  3. Mengapa Ibrahim Disebut Secara Khusus Dalam Tasyahhud?

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkadah. Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat). Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab muadzdzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Bukti dan Tanda Cinta Kepada Nabi

DAFTAR ISI

  1. Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Pribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Ciri Fisik Rasulullah yang Sempurna
  4. Nabi Muhammad Sebagai Nabiyyur Rahmah (Nabi Rahmat)
  5. Iman Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  6. Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  7. Mungkinkah Membela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Tapi Tidak Mentaati Beliau?
  8. Larangan Ghuluw dan Berlebih-Lebihan Dalam Memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Pengakuan Cinta Rasul

  1. Bukti dan Tanda Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Hakikat Cinta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
  3. Hakikat Cinta Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Wajibnya Mencintai dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  5. Menghormati dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Memahami Makna Nabi Muhammad Adalah Uswah Hasanah

  1. Yang Ma’shum Hanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Salla
  2. Mengenal Sirah (Sejarah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  3. Mimpi Bertemu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
  4. Nabi Muhammad Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam
  5. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Hamba Allah dan Rasul-Nya

Di samping harus lebih dicintai dibanding semua orang lain, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memiliki beberapa hak lainnya yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim.

Di antaranya adalah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus dihormati, dimuliakan dan diagungkan sesuai dengan kedudukannya. Namun tidak berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga seakan sejajar dengan Rabb, dan tidak pula dikurangi hingga seakan-akan sejajar dengan manusia biasa yang tidak memiliki kebenaran mutlak dalam kata-kata atau perbuatannya. Penghormatan serta pengagungan terhadap Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat masih hidup adalah dengan menghormati, memuliakan serta mengagungkan sunnah serta pribadi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun pada saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat, dan orang tidak lagi bisa berhadapan langsung dengan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka penghormatan serta pengagungan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menghormati, memuliakan dan mengagungkan sunnah serta syari’at-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentu juga dengan menghormati nama Beliau, misalnya dengan mengucapkan shalawat ketika mendengar nama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Orang yang tidak mau bershalawat ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut di hadapannya adalah orang bakhil.

Peringatan Maulid Nabi Menurut Syariat Islam

DAFTAR ISI

  1. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam Menurut Syari’at Islam
  2. Hukum Memperingati Maulid Nabi (Kelahiran Nabi)
  3. Hukum Memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  4. Hukum Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Puasa Asyura Bukan Alasan Maulid

  1. Asal-Muasal Perayaan Maulid Nabi
  2. Sejarah Peringatan Maulid Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam
  3. Syubhat Perayaan Maulid Dengan Alasan Rasûlullâh Berpuasa Pada Hari Senin
  4. Syubhat Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Cinta Rasulullah dan Perayaan Maulid

  1. Dialog Dengan Pembela Maulid Nabi
  2. Barzanji, Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi
  3. Mengapa Harus Barzanji?

Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah bid’ah yang mungkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah pada abad ke- 4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Padahal mereka adalah pencetus aliran kebatinan. Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan al-Qaddah, salah seorang pendiri aliran Bathiniyah di Irak.

Para ulama ummat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang munafik zindiq, yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka orang-orang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan mereka, sebaliknya banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan kezindikan mereka.

Ahkamul Jum’at

DAFTAR ISI

  1. Hukum-Hukum Shalat Jum’at
  2. Shalat Jum’at
  3. Sifat Khutbah Jum’at
  4. Tema dan Isi Khutbah Jum’at
  5. Shalat Jum’at Dalam Pandangan Fiqh
  6. Orang yang Diwajibkan Shalat Jum’at
  7. Kewajiban Shalat Jum’at

Adab-adab Hari Jum’at

  1. Hakikat dan Keutamaan Hari Jum’at
  2. Keutamaan Hari Jum’at dan Sunnah-sunnahnya
  3. Keutamaan Dan Keberkahan Hari Jum’at

Udzur Boleh Meninggalkan Shalat Jum’at

  1. Meninggalkan Shalat Jumat Sebanyak Tiga Kali Dengan Sengaja
  2. Tidak Shalat Jum’at 3 Kali Berturut-Turut
  3. Hukum Shalat Jum’at Bagi Wanita
  4. Makmum Masbuq Dari Shalat Jum’at

Apakah Shalat Jum’at Memiliki Shalat Sunnat Qabliyah?

  1. Berbicara Saat Khatib Sedang Berkhutbah
  2. Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khatib Berkhutbah
  3. Hukum Membangunkan Orang Tidur Di Sela-sela Khutbah

Waktu Dikabulkan Doa Hari Jum’at

  1. Kapan Waktu Membaca Surat Al-Kahfi Pada Hari Jum’at
  2. Apa Hukum Memberi Ucapan Untuk Hari Jum’at (Jum’at Mubarak)

Shalat Jum’at merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orang yang telah diberikan beban untuk menjalankan kewajiban agama) dan aqil baligh sesuai dengan dalil yang menunjukkan bahwa shalat Jum’at wajib bagi setiap mukallaf, dengan ancaman yang sangat keras bagi orang yang meninggalkannya, dan dengan himmah (tekad) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membakar rumah orang-orang yang meninggalkannya, tidaklah ada hujjah yang lebih jelas daripada perintah yang termaktub di dalam al-Qur-an yang mencakup setiap individu muslim, di dalamnya diungkapkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah...” [Al-Jumu’ah/62: 9].

Inilah argumentasi yang jelas.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Thariq bin Syihab, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَـى كُلِّ مُسْلِمٍ (فِـيْ جَمَـاعَةٍ) إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ.

Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim (dengan berjama’ah) kecuali kepada empat orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sedang sakit.”

Sekilas Tentang Problematika Pemuda

DAFTAR ISI

  1. Sekilas Tentang Pemuda
  2. Penyelewengan dan Problematika Pemuda
  3. Hadits-Hadits yang Berkaitan Dengan Pemuda
  4. Pentingnya Memperhatikan Pendidikan Para Pemuda
  5. Selamatkan Generasi Muda Dari Para Perusak
  6. Permasalahan yang Sering Menghinggapi Kaum Remaja

Perhatian Syaikh Al-Albani Terhadap Masalah Remaja

  1. Nasehat Tentang Para Pemuda
  2. Nasehat Untuk Ikhwan Dan Akhwat
  3. Sepuluh Nasihat Untuk Pemuda Ahlus Sunnah

Tanggung jawab terhadap pertumbuhan pemuda merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Karena pemuda itu adalah amanah di pundak orang tua dan semua orang akan dimintai pertanggungan jawab terhadap orang-orang yang berada dibawah tanggungannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; para penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

Kita sekarang berada pada zaman yang penuh dengan beragam keburukan dan cobaan yang bertebaran, sehingga karena saking banyaknya cobaan, seakan cobaan berikutnya membuat cobaan sebelumnya terasa lebih ringan.

Kewajiban Mendidik Anak Dalam Islam

DAFTAR ISI

  1. Kewajiban Mendidik Anak
  2. Hak-Hak Pendidikan Anak Dalam Islam
  3. Antara Kerja dan Mendidik Anak
  4. Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu
  5. Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak
  6. Istiqamah Dalam Tarbiyah Anak-Anak

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Kedua Orang Tua

  1. Bagaimana Hukum Mengajak Anak-Anak Ke Masjid
  2. Hak-Hak Anak yang Menjadi Kewajiban Bapak
  3. Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri dan Anak-anaknya
  4. Peran Bapak Tiri Terhadap Pendidikan Anak-Anak Tirinya?
  5. Hak-Hak dan Kewajiban Dari Bapak Tiri dan Anak Tiri

Keshalihan kedua orang tua memberi pengaruh kepada anak-anaknya. Bukti pengaruh ini bisa dilihat dari kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.  [al-Kahfi/18:82].

Dalam menafsirkan firman Allah “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih,” Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.

Anak Antara Perhiasan dan Ujian

DAFTAR ISI

  1. Bagaimana Anda Mencintai Sang Buah Hati?
  2. Buah Hati Antara Perhiasan dan Ujian Keimanan
  3. Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati
  4. Selamat dan Sukses Dari Ujian Fitnah Anak
  5. Kehilangan Buah Hati

Keshalihan Anak

  1. Mendidik Anak-Anak Untuk Menghafal Al-Qur’an
  2. Bagaimana Mendidik Anak Agar Menjadi Sholeh
  3. Rumah dan Peranan Pentingnya Dalam Pendidikan
  4. Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya
  5. Untuk Siapa Amal Shalih yang Dikerjakan Anak-Anak?

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلً

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [al-Kahfi/18:46].

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Azza wa Jalla mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…[at-Taghâbun/64:14]

Makna “Menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla.

Anak Adopsi dan Statusnya Dalam Islam

DAFTAR ISI

  1. Adopsi dan Hukumnya
  2. Hikmah Dibalik Larangan Adopsi Anak
  3. Hukum Orang Tua Adopsi Sama Dengan Orang Tua Sebenarnya?
  4. Anak Angkat Atau Orang Tua Angkat?
  5. Anak Angkat dan Statusnya Dalam Islam

Keturunan Atas Kehendak dan Taqdir Allah

  1. Anak Adalah Pemberian Allah Azza wa Jalla
  2. Hak Pengasuhan Anak Dalam Islam

Adopsi anak sudah dikenal sejak zaman jahiliyah sebelum ada risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu anak adopsi dinasabkan kepada ayah angkatnya, bisa menerima waris, dapat menyendiri dengan anak serta istrinya, dan istri anak adopsi haram bagi ayah angkatnya (pengadopsi). Secara umum anak adopsi layaknya anak kandung dalam segala urusan. Nabi pernah mengadopsi Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi sebelum beliau menjadi Rasul, sehingga dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Tradisi ini berlanjut dari zaman jahiliyah hinga tahun ketiga atau ke empat Hijriyah.

Kedua : Kemudian Allah memerintahkan anak-anak adopsi untuk dinasabkan ke bapak mereka (yang sebenarnya) bila diketahui, tetapi jika tidak diketahui siapa bapak yang asli, maka mereka sebagai saudara seagama dan loyalitas mereka bagi pengadopsi juga orang lain. Allah mengharamkan anak adopsi dinasabkan kepada pengadopsi (ayah angkat) secara hakiki, bahkan anak-anak juga dilarang bernasab kepada selain bapak mereka yang asli, kecuali sudah terlanjur salah dalam pengucapan. Allah mengungkapkan hukum tersebut sebagai bentuk keadilan yang mengandung kejujuran dalam perkataan, serta menjaga nasab dari keharmonisan, juga menjaga hak harta bagi orang yang berhak memilikinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama-nama bapak mereka, itulah yang lebih baik dan adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadaap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Ahzab/33 : 4-5]