Author Archives: editor

Tanda-Tanda Kecil Kiamat

DAFTAR ISI

Tanda-Tanda Kecil Kiamat

  1. (1-4) Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Penaklukan Baitul Maqdis.
  4. Wabah Tha’un di ‘Amwas.
  5. Melimpahnya harta dan tidak dibutuhkannya shadaqah.
  6. Munculnya berbagai macam fitnah.
  7. (7-9) Munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi.
  8. Meratanya rasa aman.
  9. Munculnya api Hijaz.
  10. (10-11) Memerangi bangsa Turk
  11. Memerangi bangsa ‘Ajam.
  12. Hilangnya amanah.
  13. Hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan.
  14. (14-16) Banyaknya oknum pembela penguasa yang zhalim.
  15. Merebaknya perzinaan.
  16. Riba merajalela.
  17. (17-19) Merajalelanya al-ma’aazif (alat-alat musik) dan menganggapnya halal.
  18. Banyaknya peminum khamr (minuman keras) dan menganggapnya halal.
  19. Berlomba-lomba menghias masjid dan berbanga-bangga dengannya.
  20. (20-22) Berlomba-lomba meninggikan bangunan.
  21. Budak wanita melahirkan tuannya.
  22. Banyaknya pembunuhan.
  23. (23-25) Berdekatannya zaman (singkatnya waktu).
  24. Berdekatannya pasar.
  25. Munculnya kemusyrikan pada umat ini.
  26. (26-28) Merajalelanya perbuatan keji, pemutusan silaturahmi dan jeleknya hubungan bertetangga.
  27. Orang tua berlagak seperti anak muda.
  28. Tersebarnya kebakhilan dan kekikiran.
  29. (29-31) Banyaknya perdagangan.
  30. Banyak terjadi gempa bumi.
  31. Banyaknya orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi, dirubah raut wajahnya, dan dilempari batu.
  32. (32-34) Lenyapnya orang-orang shalih.
  33. Orang-orang hina diangkat menjadi pemimpin.
  34. Pengucapan salam hanya ditujukan kepada orang yang dikenal.
  35. (35-37) Mengambil ilmu dari orang bodoh (bukan ahlinya).
  36. Banyaknya para wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
  37. Benarnya mimpi seorang mukmin.
  38. (38-41) Banyaknya karya tulis dan penyebarannya.
  39. Lalai dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Islam.
  40. Membesarnya bulan sabit.
  41. Banyaknya kedustaan dan tidak adanya tatsabbut (mencari kepastian) di dalam menukil sebuah berita.
  42. (42-45) Banyaknya persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar
  43. Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria.
  44. Banyaknya kematian mendadak.
  45. Manusia tidak saling mengenal.
  46. (46-49) Tanah Arab kembali hijau dipenuhi tumbuhan dan sungai-sungai.
  47. Banyak hujan dan sedikit tumbuh-tumbuhan.
  48. Sungai Furat menampakkan timbunan emas.
  49. Binatang buas dan benda mati berbicara dengan manusia.
  50. (50-51) Mengharap kematian karena beratnya cobaan.
  51. Banyaknya jumlah bangsa Romawi dan peperangan mereka dengan kaum muslimin
  52. (52-53) Penaklukan Konstantinopel.
  53. Keluarnya al-Qahthani.
  54. (54-55) Peperangan melawan orang Yahudi.
  55. Madinah mengusir orang-orang jelek yang ada di dalamnya kemudian hancur di akhir zaman.
  56. (56-57) Diutusnya angin yang lembut untuk mencabut ruh orang-orang yang beriman
  57. Penghalalan Baitul Haram dan penghancuran Ka’bah.

Tanda-Tanda Besar Kiamat

DAFTAR ISI

Urutan Tanda-Tanda Besar Kiamat dan Berangkainya Kemunculan Tanda-Tanda Besar Kiamat

Pasal Pertama : (1-2) Al-Mahdi

  1. Nama dan Sifatnya
  2. Tempat Keluarnya
  3. Dalil-Dalil dari as-Sunnah yang Menunjukkan Akan Kedatangannya
  4. Sebagian Hadits Dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim yang Memiliki Keterkaitan dengan al-Mahdi 
  5. (5-6) Kemutawatiran Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi
  6. Beberapa Ulama yang Menulis Kitab Khusus Tentang al-Mahdi
  7. Orang-Orang yang Mengingkari Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi dan Bantahan Terhadap Mereka
  8. Hadits لاَ مَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَـى بْنُ مَرْيَمَ (Tidak Ada al-Mahdi Kecuali ‘Isa bin Maryam) dan Bantahannya

Pasal Kedua : (1-3) Al-Masih Ad-Dajjal

  1. Makna al-Masiih
  2. Makna ad-Dajjal
  3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
  4. (1-4) Apakah Dajjal Masih Hidup (Sekarang Ini)? Dan Apakah Dia Sudah Ada Pada Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    1. Ibnu Shayyad
    2. Prihal Ibnu Shayyad
    3. Ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya
    4. Kematiannya
    5. Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang Sesungguhnya?
    6. (6-7) Beberapa Pendapat Ulama Tentang Ibnu Shayyad
    7. Ibnu Shayyad adalah Hakiki dan Bukan Khurafat
  5. (5-8) Tempat Keluarnya Dajjal
  6. Dajjal Tidak Akan Memasuki Makkah dan Madinah
  7. Pengikut Dajjal
  8. Fitnah Dajjal
  9. (9-11) Bantahan Terhadap Orang-Orang yang Mengingkari Kemunculan Dajjal
  10. Keluarbiasaan Dajjal adalah Hal yang Sebenarnya
  11. Bantahan Terhadap Mereka Dapat Diringkas dengan Beberapa Pernyataan Berikut
  12. Melindungi Diri dari Fitnah Dajjal
  13. (13-14) Penyebutan Dajjal Dalam al-Qur-an
  14. Binasanya Dajjal

Pasal Ketiga : (1-2) Turunnya Nabi Isa Alaihissallam

  1. Sifat Nabi ‘Isa Alaihissallam
  2. Sifat Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam
  3. Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa Alaihissallam
    1. Dalil-Dalil turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di dalam al-Qur-an al-Karim
    2. Dalil-Dalil Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Dalam as-Sunnah al-Muthahharah
  4. Hadits-Hadits Tentang Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Adalah Mutawatir
  5. (5-6) Hikmah Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam, Bukan Nabi yang Lainnya
  6. Dengan Apa Nabi ‘Isa Alaihissallam Menetapkan Hukum?
  7. (7-8) Tersebarnya Rasa Aman dan Keberkahan Pada Zaman ‘Isa Alaihissallam
  8. Masa Menetap Nabi ‘Isa Alaihissallam di Dunia Setelah Turun dan Kewafatannya

Pasal Keempat : (1-2) Ya’-juj dan Ma’juj

  1. Asal Usul Mereka
  2. Sifat-Sifat Mereka
  3. Dalil-Dalil Akan Keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj
    • Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
    • Dalil-dalil dari as-Sunnah yang shahih
  4. Dinding Ya’-juj dan Ma’-juj

Pasal Kelima : Tiga Penenggelaman Ke Dalam Bumi

  1. Makna al-Khasf
  2. Dalil-Dalil dari as-Sunnah Tentang Akan Munculnya Penenggelaman ke Dalam Bumi
  3. Apakah Penenggelaman Tersebut Telah Terjadi?

Pasal Keenam : Asap
Dalil Kemunculannya

  1. Dalil dari al-Qur-an al-Karim
  2. Dalil-Dalil dari as-Sunnah al-Muthahharah

Pasal Ketujuh : Terbitnya Matahari dari Barat

  1. Dalil-Dalil Terbitnya Matahari dari Barat
    • Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
    • Dalil-dalil dari as-Sunnah
  2. Diskusi Bersama Rasyid Ridha Atas Bantahannya Terhadap Hadits Abu Dzar Tentang Sujudnya Matahari
  3. Setelah Matahari Terbit dari Barat Iman dan Taubat Tidak Lagi Diterima

Pasal Kedelapan : (1-3) Keluarnya Binatang dari Perut Bumi

  1. Dalil-Dalil Kemunculannya
  2. Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
  3. Dalil-dalil dari as-Sunnah al-Muthahharah.
  4. (4-6) Dari Jenis Binatang Apakah Binatang Bumi Tersebut?
  5. Tempat Keluarnya Binatang
  6. Aktivitas Binatang Tersebut

Pasal Kesembilan : (1-2) Api yang Mengumpulkan Manusia

  1. Tempat Keluarnya
  2. Cara Api Tersebut Mengumpulkan Manusia
  3. (3-4) Bumi Tempat Berkumpul
  4. Mahsyar Ini Terjadi di Dunia

Penutup dan Daftar Pustaka

Kefakiran dan Kemiskinan

DAFTAR ISI

  1. Kefakiran dan Kekayaan
  2. Penghibur Hati Bagi Orang Miskin
  3. Keutamaan Orang Miskin yang Sabar
  4. Sikap yang Benar Bagi Orang yang Mengalami Kefakiran dan Kemiskinan

Hadits Lemah Tentang Dekatnya Kemiskinan Dengan Kekafiran

  1. Kiat Bertahan Hidup Di Masa Sulit
  2. Kebijakan Rasulullah Dalam Menuntaskan Kemiskinan
  3. Syari’at Islam Memberikan Solusi Dalam Mengentaskan Kemiskinan
  4. Kemiskinan Umat Islam Disebabkan Banyaknya Keturunan?

Adanya perbedaan rezeki ini juga menyebabkan roda kehidupan berjalan normal. Yang kaya bisa mempekerjakan yang miskin dengan upah, sehingga kebutuhan masing-masing bisa terpenuhi dengan baik. Si kaya membantu si miskin dengan hartanya, sementara si miskin membantu dengan keahliannya.

Jika Allâh Azza wa Jalla menguji seorang hamba dengan kemiskinan maka sabar merupakan ibadah termulianya. Barangsiapa sempit rezekinya dan kehidupannya susah, maka janganlah ia berkecil hati, karena kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mayoritas para Shahabat yang mulia juga pas-pasan bahkan dalam kekurangan. Perhiasan dunia yang akan sirna ini tidak pantas untuk disedihkan tatkala luput.

Agar jiwa menjadi tenteram dan menyadari betapa besar karunia Allâh Azza wa Jalla kepadanya sehingga bisa bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla , maka dengarkanlah pengarahan dari Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

Jika salah seorang dari kalian melihat orang yang lebih unggul dalam harta dan tubuh maka hendaknya ia melihat kepada orang yang di bawahnya, yakni orang yang ia ungguli [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan:

فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Maka hal itu lebih layak menjadikan kalian agar tidak meremehkan karunia Allâh Azza wa Jalla kepada kalian.

Suap (Risywah), Mengundang Laknat

DAFTAR ISI

  1. Suap, Mengundang Laknat
  2. Hati-Hati Dengan Uang Suap
  3. Hadiah, Gratifikasi dan Suap
  4. Hukum Seputar Suap dan Hadiah

Fenomena Suap

  1. Jika Mencari Kerja Dengan Katebelece
  2. Hukum Memberi Uang Suap Agar Memperoleh Pekerjaan dan Sejenisnya
  3. Pegawai Harus Memiliki Sifat Iffah Dan Bersih Dari Menerima Sogokan Dan Hadiah
  4. Implikasi Dari Budaya Suap Terhadap Aqidah Seorang Muslim
  5. Hukum Syari’at Terhadap Suap dan Implikasi Suap

Jangan Menerima Uang Tambahan

  1. Suap yang Halal (Untuk Mendapatkan Haknya)
  2. Hukum Menyogok Untuk Mendapatkan Hak
  3. Perbedaan Risywah (Sogokan) Dan Riba
  4. Perbedaan Antara Jasa Percaloan dan Risywah

Dalam bahasa Arab, suap diistilahkan dengan risywah. Dalam bahasa Arab, risywah bermakna upah atau pemberian yang diberikan untuk suatu maslahat.

Al Fayumi mengatakan bahwa risywah adalah pemberian seseorang kepada hakim atau yang lainnya supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi melakukan apa yang diinginkan oleh yang memberi.

Ibnul Atsir berkata bahwa makna risywah adalah alat penghubung terwujudnya kebutuhan dengan sikap yang dibuat-buat. Asal muasal risywah adalah rasya’ yang bermakna tali timba yang berfungsi mengantarkan timba sehingga bisa sampai ke air.

Sedangkan secara istilah, risywah adalah pemberian yang diberikan kepada seseorang supaya yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Jadi makna risywah secara istilah lebih sempit dibandingkan makna risywah secara bahasa. Secara istilah suatu pemberian berstatus risywah ketika tujuannya adalah membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.

Budaya Korupsi Sudah Meracuni Birokrasi

DAFTAR ISI

  1. Awas Korupsi!!!
  2. Mewaspadai Bahaya Korupsi
  3. Bila Budaya Korupsi Meracuni Birokrasi
  4. Ghulûl, Dosa Besar
  5. Beberapa Bentuk Korupsi
  6. Malang Nian Nasib Sang Koruptor

Seorang Muslim Harus Menunaikan Amanat

  1. Korupsi Lebih Bejat Daripada Mencuri
  2. Beratnya Pertanggungjawaban Koruptor Di Hadapan Allah
  3. Hasil Usaha Maksiat Celaka Dunia dan Akhirat
  4. Usaha Haram dan Implikasi Buruknya

Menengok keadaan saat ini, betapa banyak orang yang melakukan perbuatan yang amat tercela ini. Bahkan hampir kita dapati dalam semua lapisan masyarakat, dari masyarakat yang paling bawah, menengah sampai kalangan atas. Khalayak pun kemudian menggolongkan para pelaku korupsi ini menjadi berkelas-kelas. Mulai koruptor kelas teri sampai kelas kakap. Dalam lingkup masyarakat bawah, mungkin pernah atau bahkan banyak kita jumpai, seseorang yang mendapat amanah untuk membelanjakan sesuatu, kemudian setelah dibelanjakan, uang yang diberikan pemiliknya masih tersisa, tetapi dia tidak memberitahukan adanya sisa uang tersebut, meskipun hanya seratus rupiah, melainkan masuk ke ‘saku’nya, atau dengan cara memanipulasi nota belanja. Adapun koruptor kelas kakap, maka tidak tanggung-tanggung yang dia ‘embat’ sampai milyaran bahkan triliyunan. Sejauh mana bahaya perbuatan ini? Kami mencoba mengulasnya dengan mengambil salah satu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Semoga bermanfaat, dan kita dapat menghindari ataupun mewaspadai bahayanya.

Dari ‘Adiy bin ‘Amirah Al Kindi Radhiyallahu anhu berkata : Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))، قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مِنْ الْأَنْصَارِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ، قَالَ: ((وَمَا لَكَ؟))، قَالَ: سَمِعْتُكَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: ((وَأَنَا أَقُولُهُ الْآنَ، مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْهُ انْتَهَى)).

“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”.

(‘Adiy) berkata : Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seolah-olah aku melihatnya, lalu dia berkata,”Wahai Rasulullah, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,“Ada apa gerangan?”

Dia menjawab,”Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya perkataan di atas, -pen.).”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,“Aku katakan sekarang, (bahwa) barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya), sedikit maupun banyak. Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya. Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh.”

Menyikapi Pembagian Rezeki yang Tidak Sama

DAFTAR ISI

  1. Rezeki, Tidak Mesti Berwujud Materi
  2. Istighfar Kunci Rizki yang Terlupakan
  3. Agar Rezeki Mendapat Keberkahan
  4. Hikmah Pembagian Rezeki yang Tidak Sama

Uang Kunci Rezeki

  1. Ar-Razzâq, Rezeki Hanya Berasal Dari-Nya
  2. Menyikapi Rezeki yang Diberikan Oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
  3. Pengaruh Shalat dan Maksiat Terhadap Rezeki Hamba

Antara Ajal dan Rezeki

  1. Kunci Sukses Mengais Rezeki
  2. Menjaga Diri Dengan yang Halal

Di dalam Lisan al ‘Arab, Ibnu al Manzhur rahimahullah menjelaskan, ar rizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathinah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.

Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rezeki tidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi, yang dimaksud rezeki adalah yang bersifat lebih umum dari itu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua ini merupakan contoh kongkret dari rezeki. Bayangkan, apabila kejadian-kejadian itu menimpa pada diri kita, maka bisa dipastikan bisa menguras pundi-pundi uang yang kita miliki. Tidak jarang, tabungan menjadi ludes untuk mendapatkan kesembuhan. Imam an Nawawi rahimahullah mengisyaratkan makna tersebut dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/141).

Anugerah rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi setiap makhluk hidup. Limpahan karunia itu cerminan rahmat dan kemurahanNya. Porsi rezeki masing-masing manusia bahkan sudah ditentukan sejak dini, ketika manusia itu masih berupa janin berusia 120 hari.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam hadits yang panjang :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ……ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Sesungguhnya salah seorang dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya … lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rezeki, ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …”

Diantara Sebab Meraih Harta

DAFTAR ISI

  1. Amal Shalih
  2. Takwa Kepada Allah
  3. Tawakkal Kepada Allah
  4. Memperbanyak Istighfar
  5. Do’a

Jerat Harta

  1. Aturan Al-Qur’an Dalam Masalah Harta
  2. Agar Benar Dalam Memanfaatkan Harta
  3. Menanam Kebaikan Dengan Harta Di Dunia
  4. Hak Delapan Golongan Dalam Harta Kita

Tinggalkan Pekerjaan Batil

  1. Menjaga Diri Dengan yang Halal
  2. Harta Gono-Gini
  3. Bolehkah Suami Memakan Gaji Isteri?

Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, demi kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri [An-Nahl/16:89].

Demikian juga penggunaan dan pemanfaatan harta diatur dan dijelaskan dalam syariat Islam yang mulia dan sempurna ini. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. [HR. At-Tirmidzi, no. 2417; Ad-Dârimi, no. 537; dan Abu Ya’la, no. 7434]

Hadits yang agung ini menunjukkan wajibnya mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla , karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di duni

Harta Kekayaan Sumber Celaka?

DAFTAR ISI

  1. Harta, Sumber Celaka?
  2. Muslim Kaya Tidak Tercela
  3. Keutamaan Orang Kaya yang Bersyukur
  4. Kaya dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

Larangan Berlaku Boros

  1. Nikmatnya Hidup Sederhana
  2. Celaan Terhadap Sikap Kemewahan
  3. Anjuran Untuk Sedikit Mengumpulkan Harta
  4. Keberkahan Harta Di Tangan Orang Shalih

Fitnah Harta

  1. Fenomena Fitnah Harta
  2. Manusia Sangat Tamak dan Rakus Terhadap Harta dan Jabatan
  3. Kekayaan Bukan Tanda Kemuliaan, Kemiskinan Bukan Petunjuk Kehinaan
  4. Kecintaan Terhadap Harta Berpengaruh Kepada Akidah?

Kehidupan ini adalah ujian bagi manusia. setiap umat diuji dengan cobaan yang sesuai dengan keadaan mereka. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ

Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta

Ketika menjelaskan makna hadits ini, Imam al-Mubârakfûri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, maksudnya kesesatan dan kemaksiatan; Dan ujian umat ini adalah harta, maksudnya harta menyebabkan kelalaian. Karena harta bisa melalaikan fikiran dari ketaatan dan bisa menyebabkan lupa akhirat.

Allâh Azza wa Jalla juga telah menciptakan manusia dengan tabia’atnya yang sangat mencintai harta. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

 وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. [al-Fajr/89:20]

Imam at-Thabari rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, wahai manusia, kalian sangat suka mengumpulkan harta benda dan sangat berantusias untuk memilikinya”

Oleh karena itu, ujian dengan harta akan menampakkan jati diri umat ini, akan menguji kesungguhannya dalam berpegang teguh dengan syari’at, mempertahankan kesucian jiwanya serta akan menguji tekadnya untuk tetap berpegang dengan manhaj yang haq. Ataukah akan menyerahkan kepada ketamakan nafsunya sehingga rela menukarkan agama dengan dunia, gandrung kepadanya yang kemudian berlanjut dengan membuat berbagai kerusakan di muka bumi ini.

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

DAFTAR ISI

  1. Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  2. Kaidah Dan Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dalam Mengambil Dan Menggunakan Dalil
  3. Penjelasan Sebagian Kaidah Dalam Mengambil Dan Menggunakan Dalil
  4. Beberapa Karakteristik Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
  5. Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih Dan Menetapkan Manhajnya

Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

  1. Al-Iman
    ‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.
  2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
    Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.
  3. Tauhid
    ‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.
  4. As-Sunnah
    As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.
  5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
    Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.
  6. Al-Fiqhul Akbar
    Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.
  7. Asy-Syari’ah
    Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).

Itulah beberapa nama lain dari ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan ‘aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa’irah (Asy’ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.

Penjelasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

DAFTAR ISI

  1. Islam Adalah Agama Yang Haq Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
  2. Makna Dua Kalimat Syahadah
  3. (3-4) Rukun Iman
  4. Tauhid Rububiyyah
  5. Tauhid Uluhiyyah
  6. (6-7) Tauhid Al-Asma’ Wash Shifat
  7. Kaidah Tentang Sifat-Sifat Allah Jalla Jallaluhu Menurut Ahlus Sunnah
  8. Syirik Dan Macam-Macamnya
  9. Pilar-Pilar Ibadah Dalam Islam
  10. (10-11) Mengambil Lahiriyah Al-Qur’an Dan As-Sunnah Merupakan Prinsip Dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah
  11. Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menafsirkan Al-Qur’an, Dalam Menguraikan, Menerangkan dan Menjelaskan Nama dan Sifat Allah
  12. (12-13) Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menetapkan Sifat Al-‘Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza wa Jalla
  13. ‘Arsy (Singgasana) Allah Azza wa Jalla
  14. (14-15) Ahlus Sunnah Menetapkan Istiwa’ (Bersemayam)
  15. Ahlus Sunnah Menetapkan Ma‘iyyah (Kebersamaan Allah)
  16. (16-17) Ahlus Sunnah Menolak Keyakinan Wahdatul Wujud
  17. Ahlus Sunnah Mengimani Tentang an-Nuzul (Turunnya Allah ke Langit Dunia)
  18. (18-19) Ru’yatullaah (Melihat Allah Pada Hari Kiamat)
  19. Iman Kepada Malaikat
  20. (20-21) Iman Kepada Kitab-Kitab
  21. Ahlu Sunnah Mengimani Al-Qur-anul Karim Adalah Kalamullah Bukan Mahluk
  22. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
  23. Iman Kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
  24. Wajibnya Mencintai Dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam Serta Larangan Ghuluw (Berlebih-Lebihan)
  25. Isra’ Mi’raj
  26. Tanda-Tanda Kiamat
  27. (27-28) Munculnya Imam Mahdi
  28. Keluarnya Dajjal
  29. Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Di Akhir Zaman
  30. (30-31) Keluarnya Ya’juj Dan Ma’juj Di Akhir Zaman
  31. Terbitnya Matahari Dari Barat
  32. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Yaumul Akhir
  33. (33-36) Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab
  34. Ahlus Sunnah Meyakini Tentang Al-Mizan
  35. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya al-Haudh
  36. Ahlus Sunnah Mengimani Adanya ash-Shirath
  37. (37-39) Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Syafa’at
  38. Ahlus Sunnah Mengimani Surga dan Neraka
  39. Ahlus Sunnah Mengimani Bahwa Setelah Manusia Masuk Surga dan Masuk Neraka Tidak Ada Lagi Kematian
  40. Iman Kepada Qadar(Takdir) Baik Dan Buruk
  41. Ahlus Sunnah Adalah Ahlul Wasath
  42. Prinsip Ahlus Sunnah Tentang Dien Dan Iman
  43. Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Terhadap Masalah Kufur Dan Takfir (Pengkafiran)
  44. Pembatal-Pembatal Keislaman
  45. Nifaq; Definisi Dan Jenisnya
  46. Al-Wa’du Dan Al-Wa’iid
  47. Berhukum Dengan Apa Yang Diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  48. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengikuti Sunnah Rasulullah Secara Lahir Dan Bathin
  49. Ahlus Sunnah Memuliakan Para Sahabat Radhiyallahu Anhum
  50. Karamah Para Wali
  51. Pernyataan Tentang Hakekat dan Syari’at
  52. Larangan Mendirikan Masjid Di Atas Kuburan
  53. Ziarah Kubur
  54. Hukum Wasilah (Tawassul)
  55. Tabarruk (Mencari Berkah)
  56. Hukum Sihir Dan Tukang Sihir
  57. Dukun, Tukang Ramal Dan ‘Orang Pintar’
  58. Ahlus Sunnah Melarang Nusyrah (Mengobati Sihir Dengan Sihir)
  59. Ilmu Nujum (Ilmu Perbintangan)
  60. Al-Istisqa’ Bil Anwa’ (Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang)
  61. Hukum Thiyarah (Tathayyur, Menganggap Sial Karena Sesuatu)
  62. Ahlus Sunnah Melarang Memakai Jimat
  63. Ahlus Sunnah Membolehkan Ruqyah Syar’iyyah Dan Melarang Ruqyah Yang Ada Kesyirikan Dan Bid’ah
  64. Ahlus Sunnah Melarang Memakai Gelang, Kalung Atau Benang Untuk Mengusir Atau Menangkal Bahaya
  65. Al-Wala’ wal Bara’
  66. Hukum Bermu’amalah Dengan Orang Kafir
  67. Perbedaan Antara Al-Bara’ Dengan Keharusan Bermu’amalah Yang Baik
  68. Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Ahlul Bid’ah
  69. Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid’ah
  70. Ahlus Sunnah Menyuruh Yang Ma’ruf Dan Mencegah Yang Munkar Menurut Ketentuan Syari’at
  71. Ahlus Sunnah Melaksanakan Ibadah Bersama Ulil Amri
  72. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menegakkan Jihad Fii Sabiilillaah Bersama Ulil Amri
  73. Agama Adalah Nasihat
  74. Ahlus Sunnah Menasihati Pemerintah Dengan Cara Yang Baik, Tidak Mengadakan Provokasi Dan Penghasutan
  75. Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin
  76. Ahlus Sunnah Melarang Memberontak Kepada Pemerintah
  77. Ahlus Sunnah wal Jama’ah Menjaga Ukhuwwah (Persaudaraan) Sesama Mukminin
  78. Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian Atau Cobaan
  79. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mengajak Manusia Kepada Akhlak Yang Mulia Dan Amal-Amal Yang Baik
  80. Persatuan Ummat Islam
  81. Ahlus Sunnah Senantiasa Melakukan Tashfiyah dan Tarbiyah Bagi Kembalinya Kemuliaan Islam
  82. Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  83. Keutamaan Dakwah Tauhid
  84. Syarat dan Kaidah Dalam Dakwah (Mengajak) Manusia Kepada Agama Islam yang Benar