Author Archives: editor

Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah

PRINSIP-PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jamaah berjalan di atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh baik dalam i’tiqad, amal maupun perilakunya, seluruh prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan apa-apa yang dipegang teguh oleh para pendahulu ummat dari kalangan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka yang setia.

Prinsip-prinsip tersebut teringkas dalam butir-butir berikut:
Prinsip pertama: Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul- rasul-Nya, Hari Akhir dan Taqdir baik dan buruknya

1. Iman kepada Allah.
Beriman kepada Allah artinya: berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beri’tiqad dan mengamalkannya, yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ dan Sifat.

Adapun Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan; dan bahwasanya Dia itu adalah Raja dan Penguasa segala sesuatu.

Tauhid Uluhiyah artinya  mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba yang dengan itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila memang hal itu disyariatkan oleh-Nya, seperti: berdo’a, takut, berharap, cinta, penyembelihan, nadzar, isti’anah, istighatsah, minta perlindungan, shalat, puasa, haji, berinfaq di jalan Allah dan segala apa saja yang disyariatkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi, wali, maupun yang lainnya.

Sedangkan makna Tauhid Al Asma’ wash-Shifat adalah menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan atas Diri-Nya baik itu berkenaan dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah dan mensucikannya dari segala cela dan kekurangan sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ini kita yakini tanpa melakukan tamtsil (perumpamaan), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tahrif (penyelewengan), ta’thil (penafian), dan tanpa takwil; seperti difirmankan Allah Jalla Jalaluhu.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11]

Tak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.” [Asy- Syura/42: 11].

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا [الأعراف: 180]

Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu dengannya.” [Al- A’raf/7: 180].

2. Iman kepada para Malaikat-Nya.
Yakni membenarkan adanya para malaikat, dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk dari sekian banyak makhluk Allah, diciptakan dari cahaya. Allah menciptakan malaikat dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya di dunia ini, sebagaimana difirmankan Allah:

بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ٢٦ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ [الأنبياء: 26-27]

“… Bahkan malaikat-malaikat itu adalah makhluk yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya“. [Al-Anbiyaa/21: 26-27].

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ﴾ [فاطر: 1]

Allahlah yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang memiliki sayap dua, tiga dan empat, Allah menambah para makhluk-Nya apa-apa yang Dia kehendaki” [Fathiir/35: 1].

3. Iman kepada Kitab- kitab-Nya.
Yakni membenarkan adanya Kitab-kitab Allah beserta segala kandungannya baik yang berupa hidayah (petunjuk) dan cahaya serta mengimani bahwasanya yang menurunkan Kitab-kitab itu adalah Allah sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Dan bahwasanya yang paling agung di antara sekian banyak kitab-kitab itu adalah tiga kitab yaitu; Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, dan di antara kitab agung di atas yang teragung lagi adalah Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang agung. Allah berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرً [الإسراء: 88]

Katakanlah (hai Muhammad):” Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al- Qur’an niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling bahu-membahu.” [Al-Israa’/17: 88].

Dan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengimani bahwa Al Qur’an itu adalah kalam (firman) Allah, dan dia bukanlah makhluk, baik; huruf maupun maknanya. Berbeda dengan pendapat golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk baik huruf maupun maknanya. Berbeda pula dengan pendapat Asy’ariyah dan yang menyerupai mereka, yang mengatakan bahwa kalam (firman Allah) hanyalah maknanya saja, sedangkan huruf-hurufnya adalah makhluk. Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah kedua pendapat tersrbut adalah batil, berdasarkan firman Allah:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [التوبة: 6]

Dan jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia, sehingga ia sempat mendengar kalam Allah (Al- Qur’an)“. [At Taubah/9: 6].

يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ [الفتح: 15]

Mereka itu ingin merubah kalam Allah“. [Al Fath/48: 15].

Dalam ayat-ayat di atas, tegas dinyatakan bahwa Al Qur’an sebagai Kalam Allah, bukan kalam yang selainnya.

4. Iman kepada para Rasul
Yakni membenarkan semua rasul-rasul, baik; yang Allah sebutkan nama mereka maupun yang tidak, dari yang pertama sampai yang terakhir, dan penutup para nabi tersebut adalah nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya pula, beriman kepada para rasul seluruhnya dan beriman kepada nabi kita secara terperinci, serta mengimani bahwa beliau adalah penutup para nabi dan para rasul serta tidak ada nabi sesudahnya.

Maka barangsiapa yang keimanannya kepada para rasul tidak demikian berarti dia telah kafir.

Termasuk pula beriman kepada para rasul adalah tidak melalaikan dan tidak berlebih-lebihan terhadap hak mereka. Berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang berlebih-lebihan terhadap para rasul mereka, sehingga mereka menjadikan dan memperlakukan para rasul itu seperti memperlakukannya sebagai tuhan (Allah), sebagaimana yang difirmankan Allah:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ [التوبة: 30]

Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nashrani berkata: Isa Al Masih itu anak Allah.” [At Taubah/9: 30].

Sedang orang-orang sufi dan para Ahli filsafat telah bertindak sebaliknya. Mereka telah merendahkan dan menghinakan hak para rasul, dan lebih mengutamakan para pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala dan atheis telah kafir kapada seluruh para Rasul tersebut.

Orang yahudi telah kafir kepada Nabi Isa dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang orang Nashrani telah kafir kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan orang-orang yang mengimani sebagian dan mengingkari sebagian (para rasul) maka dia telah mengingkari seluruh Rasul, Allah telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا١٥٠ أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا [النساء: 150-151]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-Nya, dengan mengatakan: “kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir kepada sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan di antara yang demikian (iman dan kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya, kami telah menyediakan untuk mereka siksa yang menghinakan“. [An-Nisa’/4:150-151].

Dan juga Allah telah berfirman:

لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ [البقرة: 285]

Kami tidak membeda-bedakan satu di antara Rasul rasul-Nya.” [Al Baqarah/2: 285].

5. Iman kepada hari Kiamat.
Yakni membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian dari hal-hal yang telah diberitakan Allah dan Rasul-Nya; tentang adzab dan nikmat qubur, hari kebangkitan dari qubur, hari berkumpulnya manusia di padang mahsyar, hari perhitungan dan ditimbangnya segala amal perbuatan, dan pemberian buku catatan amal dengan tangan kanan atau tangan kiri, tentang jembatan (shirath), serta surga atau neraka, di samping itu keimanan untuk bersiap sedia dengan amalan shaleh, dan meninggalkan amalan buruk serta bertaubat meninggalkannya.

Dan sungguh telah mengingkari adanya hari akhir orang-orang musyrik dan kaum dahriyyun, sedang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani tidak mengimani hal ini dengan keimanan yang benar sesuai dengan tuntunan, walau mereka beriman akan adanya hari akhir. Firman Allah:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ﴾ [البقرة: 111]

Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: sekali-kali tidaklah masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nashrani, demikianlah angan-angan mereka…”. [Al Baqara./2: 111].

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً [البقرة: 80]

Dan mereka berkata: kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya dalam beberapa hari saja.” [Al Baqarah/2: 80].

6. Imam kepada Takdir.
Yakni beriman bahwasanya Allah itu mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan dan menulisnya di Lauh Mahfudz; dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, taat, maksiat, itu telah dikehendaki, ditentukan, dan diciptakan-Nya, dan bahwasanya Allah itu mencintai ketaatan dan membenci kamaksiatan.

Sedang hamba Allah itu mempunyai kekuasaan, kehendak, dan kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menghantar mereka kepada ketaatan atau kemaksiatan, akan tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak Allah. Berbeda dengan pendapat golongan Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia terpaksa dengan pekerjan-pekerjaannya, tidak memiliki pilihan atau kemampuan, sebaliknya golongan Qadariyah mengatakan bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri dan bahwasanya dialah yang menciptakan pekerjaannya, kemauan dan kehendak itu terlepas dari kemauan dan kehendak Allah.

Allah benar-benar telah membantah kedua pendapat di atas dengan firman-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [التكوير: 29]

Dan Kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya.“[At Takwir/81:29].

Dengan ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi setiap hamba sebagai bantahan terhadap golongan Jabariyah yang ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dengan kehendak Allah, dalam saat yang sama, juga merupakan bantahan atas golongan Qadariyah. Dan beriman kepada takdir dapat menimbulkan sikap sabar saat seorang hamba menghadapi berbagai cobaan dan menjauhkannya dari segala perbuatan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji, bahkan dapat mendorong orang tersebut untuk giat bekerja dan menjauhkan dirinya dari sikap lemah, takut dan malas.

Prinsip kedua : Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan, dan keyakinan yang bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan, maka iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma’rifah (pengetahuan) dan meyakini tanpa ikrar dan amal. Sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran. Allah berfirman:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا﴾ [النمل: 14]

Dan mereka mengingkarinya karena kadzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati mereka meyakini kebenarannya.” [Al An’am/6: 14].

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ٣٣﴾ [الأنعام: 33]

Karena sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang dzalim itu menentang ayat-ayat Allah“. [Al An’aam/6: 33].

وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ [العنكبوت: 38]

Dan kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehancuran tempat-tempat tinggal mereka. Dan syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” [Al Ankabut/29: 38].

Bukan pula iman itu hanya satu keyakinan dalam hati atau perkataan dan keyakinan tanpa amal perbuatan, karena yang demikian adalah keimanan golongan Murjiah, Allah sering kali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ٢ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ٣ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا [الأنفال: 2-4]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah meraka yang apabila ia disebut nama Allah bergeter hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka, merekalah orang-orang mukmin yang sebenarnya“. [Al Anfaal/8: 2-4].

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ [البقرة: 143]

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian“. [Al Baqarah/2: 143].

Prinsip ketiga : Yaitu shalatmu dengan menghadap ke baitul Maqdis, maka shalat di sini dinamakan iman.
Dan di antara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Adapun perbuatan dosa besar selain kemusyrikan dan tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir, misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelaku (dosa tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila ia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Ia berkehendak Ia akan mengampuninya dan jika Ia berkehendak Ia akan mengazdabnya, namun si pelaku tidak kekal di neraka, Allah telah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء: 48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang di kehendaki-Nya.” [An Nisaa’/4: 48].

Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah ini pertengahan antara Khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar walau bukan termasuk syirik, dan Murjiah yang mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mukmin sempurna imannya, dan mereka mengatakan pula suatu dosa maksiat tidak mengurangi iman, sebagaimana tak berguna suatu perbuatan taat dengan adanya kekafiran.

Prinsip keempat: Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila mereka memerintahkan berbuat maksiat di kala itu kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya, sebagaimana firman Allah Jalla Jalaluhu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾ [النساء: 59]

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlan kepada Rasul serta para pemimpin di antara kalian ..” [An Nisaa/4: 59].

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

«أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ»

Dan aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian seorang budak

Dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah memandang bahwa maksiat kepada seorang pemimpin yang muslim merupakan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya:

«مَنْ يُطِعِ الأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ وَمَنْ عَصَى الأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِيْ»

Barangsiapa yang taat kepada pemimpin (yang muslim) maka dia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amir maka dia maksiat kepadaku“. (HR. Bukhari-Muslim).

Demikian pula Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang keharusan shalat dan berjihad bersama para pemimpin dan menasehati serta mendoakan mereka untuk kebaikan dan keistiqamahan.

Prinsip kelima: Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah haramnya memberontak terhadap pimpinan kaum muslimin apabila melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya taat kepada mereka dalam hal-hal yang bukan maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas. Berlainan dengan Mu’tazilah yang mewajibkan keluar dari kepemimpinam para imam pemimpin yang melakukan dosa besar walaupun belum termasuk amalan kufur, dan mereka memandang amalan tersebut sebagai amar ma’ruf nahi mungkar. Sedang pada kenyataannya, tindakan Mu’tazilah seperti ini merupakan kemungkaran yang besar karena dapat menimbulkan bahaya yang besar, berupa; kericuhan, keributan, dan kerawanan dari pihak musuh.

Prinsip keenam: Dan di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasul ش, sebagaimana hal ini telah digambarkan oleh Allah Jalla Jalaluhu ketika mengkisahkan sahabat Muhajirin dan Anshar dan pujian-pujian terhadap mereka:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [الحشر: 10]

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan: “ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman; ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“. [Al Hasyr/59: 10].

Dan sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

«لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ»

Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang di antara mereka tidak juga setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbeda dengan sikap orang-orang ahlul bid’ah baik dari kalangan Rafidhah maupun Khawarij yang mencela dan meremehkan keutamaan para sahabat.

Ahlus Sunnah memandang bahwa para khalifah setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khatab, ‘Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radiallahu anhum. Barangsiapa yang mencela salah satu di antara mereka, maka dia lebih sesat dari pada keledai karena bertentangan dengan nash dan ijma’ atas kekhalifahan mereka dalan urutan seperti ini.

Prinsip ketujuh: Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya

«أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ»

Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku

Sedang yang termasuk ahli bait (keluarga) beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka:

نِسَاءَ النَّبِيِّ [الأحزاب: 32]

Wahai istri-istri Nabi …” [Al Ahzaab/33: 32].

Kemudian mengarahkan nasihat-nasihat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرً [الأحزاب: 33]

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya“. [Al Ahzaab/33: 33].

Pada dasarnya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dimaksudkan di sini khususnya adalah yang shaleh di antara mereka. Sedang saudara-saudara dekat yang tidak shaleh, seperti pamannya, Abu Lahab, maka mereka tidak memiliki hak. Allah berfirman:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ  [المسد: 1]

Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sungguh celaka dia.” [Al Lahab/111: 1].

Mereka sekedar ada hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa keshalehan dalam beragama (Islam) tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا, يَا عَبَّاسُ عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا, يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُـوْلِ اللهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئاً, يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مِنْ مَـالِيْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا

Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun, wahai Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah. Wahai Shafiah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, wahai Fathimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu, aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan saudara-saudara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shaleh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan. Mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau mudharat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا [الجن: 21]

Katakanlah (hai Muhammad) bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan dan manfaat bagi kalian.” [Al Jin/72: 21].

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ [الأعراف: 188]

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak memiliki manfaat atau mudharat atas diriku kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, kalaulah aku mengetahui yang ghaib sungguh aku akan perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan“. [Al A’raf/7: 188].

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja demikian, maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi apa yang diyakini sebagian orang terhadap kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu keyakinan yang bathil.

Prinsip kedelapan: Dan di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah membenarkan adanya karamah para wali, yaitu apa-apa yang Allah perlihatkan melalui tangan-tangan sebagian mereka berupa hal-hal yang luar biasa sebagai penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Sedang golongan yang mengingkari adanya karamah-karamah tersebut di antaranya Mu’tazilah dan Jahmiyah, yang pada hakikatnya mereka mengingkari sesuatu yang diketahuinya.

Akan tetapi kita harus mengetahui bahwa ada sebagian manusia pada zaman kita sekarang yang tersesat dalam masalah karamah, bahkan berlebih-lebihan, sehingga menganggap hal-hal yang sebenarnya bukan termasuk karamah, berupa; jampi-jampi, pekerjaan para ahli sihir, syetan-syetan dan para pendusta.

Perbedaan karamah dan kejadian yang luar biasa lainnya itu jelas. Karamah adalah kejadian luar biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang shaleh, sedang sihir adalah keluar-biasaan yang biasa diperlihatkan para tukang sihir dari orang-orang kafir dan atheis dengan maksud untuk menyesatkan manusia dan mengaruk harta mereka. Karamah bersumber pada ketaatan, sedang sihir bersumber pada kekafiran dan kemaksiatan.

Prinsip kesembilan: Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara lahir maupun batin dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin maupun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti Khulafaurrasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ»

Berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku, dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk

Dan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak mendahulukan perkataan siapapun atas firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul Kitab was Sunnah.

Setelah mengambil dasar Al Qur’an dan As Sunnah mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ‘ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar ketiga yang selalu dijadikan sandaran setelah dua dasar yang pertama; yakni Al Qur’an dan As Sunnah.

Segala hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Allah telah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء: 59]

Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya“. [An Nisa’/4: 59].

Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema’suman (terpelihara dari berbuat dosa) seseorang selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka tidak berta’assub (fanatik) pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Dan tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali mereka yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul ‘ilmi.

Perbedaan-perbedaan di antara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan saling memutuskan hubungan di antara mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ta’assub (fanatik) dan ahli bid’ah. Sungguh mereka tetap mentolerir perbedaan yang wajar, bahkan mereka tetap saling mencinta, loyal satu sama yang lain; sebagian mereka tetap shalat di belakang yang lain betapapun ada perbedaan masalah fiqh di antara mereka. Sedang ahli bid’ah memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang, yang menyimpang dari golongan mereka.

[Disalin dari أصول عقيدة أهل السنة والجماعة  (edisi Indonesia : Prinsip-Prinsip Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Penulis Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan  Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Editor : Dr Muh Muinudinillah Basri, Erwandi Tarmizi. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Al Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah

AL-FIRQATUN NAJIYAH ADALAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu, sebagaimana yang difirmankan Allah:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ [الأنبياء: 92]

Sesungguhnya kalian ini adalah umat yang yang satu, dan Aku (Allah) adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku“. [Al Anbiyaa/21: 92].

Maka kemudian, sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah-belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  namun mereka belum pernah berhasil. Orang munafiqun berkata seperti yang dikisahkan oleh Allah Jalla Jalaluhu.

لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا﴾ [المنافقون: 7]

Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar“. [Al Munafiqun/63: 7]

Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah Jalla Jalaluhu pada lanjutan ayat yang sama.

وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ [المنافقون: 7]

Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui“. [Munafiqun/63 : 7]

Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah-belah dan memurtadkan mereka dari agama mereka:

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [آل عمران: 72]

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya): “(pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (para shahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran“. [Ali Imran/3: 72].

Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah membongkar dan mengungkapkan niat buruk mereka.

Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya, mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengingatkan kembali kaum Anshar akan permusuhan di antara mereka sebelum datangnya Islam dan mendendangkan syair saling ejek antar suku di antara mereka. Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ [آل عمران: 100]

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman“.  [Ali Imran/3: 100].

Hingga firman Allah Jalla Jalaluhu.

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ [آل عمران: 106]

Pada hari yang di waktu ada wajah-wajah berseri-seri, dan muram…”. [Ali Imran/3: 106].

Maka kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaum Anshar menasihati dan mengingatkan mereka akan nikmat Islam, dan bersatunya mereka melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berangkulan setelah hampir terjadi perpecahan, dengan demikian gagallah makar Yahudi, dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan.

Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan melarang berselisih dan berpecah, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ [آل عمران: 105]

Dan jamganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas“.  [Ali Imran/3: 105].

Dan firman-Nya pula:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران: 103]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-pecah“. [Ali Imaran/3: 103].

Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah; seperti shalat, puasa, menunaikan haji dan dalam mencari ilmu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ

Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian dia akan melihat banyak perselisihan, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelah Aku” [1].

Dan sabdanya pula:

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلّهَا فِيْ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَة. قُلْنَا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu galongan, dan telah berpecah kaum Nashrani menjadi tujuh puluh dua golongan, sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kamipun bertanya siapakah yang satu itu, wahai Rasulullah? beliau menjawab: yaitu barangsiapa yang berada pada yang aku dan para shahabatku jalani ini[2].

Sesungguhnya telah nyata apa yang telah diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat di masa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya:

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya.[3]

Perawi hadits ini berkata: “saya tidak tahu apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut setelah generasinya dua atau tiga generasi”.

Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin, dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabiin dan pengikut para tabiin serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-daulah Islamiyyah pada abad-abad tersebut sehingga firqah-firqah menyimpang yang muncul pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari sisi hujjah maupun politik.

Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Buku-buku ilmu ajaran kafir diterjemahkan dan para raja Islampun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan percampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitulah madzhab-madzhab yang bathilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat.

Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Karena Al Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jamaah masih tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar dan berjalan di atasnya, dan menyeru kepadanya, bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgengnya hujjah atas para penentangnnya.

Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini meniti jalan yang pernah ditempuh para sahabat Radhiyallahu anhum, bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau:

هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

Mereka yaitu barang siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabat jalani hari ini

Sesungguhnya mereka itu adalah penerus yang baik dari orang-orang yang tentang meraka Allah telah firmankan:

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ [هود: 116]

Maka mengapakah tidak ada umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (keshalihan) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang –orang yang dzalim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” [Huud/11: 116]

[Disalin dari أصول عقيدة أهل السنة والجماعة  (edisi Indonesia : Prinsip-Prinsip Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Penulis Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan  Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Editor : Dr Muh Muinudinillah Basri, Erwandi Tarmizi. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]
_______
Footnote
[1] Dikeluarkan oleh Abu Dawud: 5/4607 dan tirmidzi: 5/2676 dan dia berkata hadits ini hasan shahih, juga oleh Imam Ahmad: 4/ 126-127, dan Ibnu Majah : 1/ 43
[2] Diriwayatkan oleh Tirmidzi: 5/ 2641, dan Al Hakim dalam mustadraknya: 1/ 128-129, dan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah : 16, dan Imam Al Lalikaai dalam syarah ushul I’tiqaad Ahlis sunnah Wal jamaah: 1/ 145-147
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari:3/3650. dan Muslim : 6/ 86

Nasehat Bagi Para Pegawai

NASEHAT BAGI PARA PEGAWAI

Duhai para pegawai, apapun kedudukanmu, dan dimanapun kalian berada. Sesungguhnya tidaklah engkau bisa duduk diposisimu sekarang ini, melainkan karena engkau mempunyai tugas yaitu mengurusi keperluan orang banyak, membantu kebutuhan mereka serta mengemban amanah yang ada dipundakmu.

Tidakkah engkau lihat bahwa dengan sebab sambutan yang baik, sambil tersenyum serta menampakan kesungguhan ingin membantu keperluan mereka akan menguasai hati mereka walaupun keperluan mereka tidak bisa beres pada saat itu. Bahkan bisa jadi mereka meninggalkan dirimu dengan sanubari yang lapang, sambil diiringi alunan pujian dan do’a dari lisannya, lebih dari itu, bisa jadi mereka memuji serta mengangkat derajatmu dimatanya dengan menyebut namamu ditiap majelis. Semua ini engkau dapat walaupun urusan mereka belum bisa selesai semuanya, engkau mampu menguasai mereka dengan sebab akhlak yang indah, lalu bagaimana sekiranya jikalau dirimu mampu membantu menyelesaikan dan mempermudah urusan mereka.

Saudaraku yang saya cintai
Lihat pada hasil ini yang telah engkau capai, dirimu mampu mengumpulkan hati dan sebutan yang baik, dan sebelum itu semua dirimu telah memperoleh ridho Allah Azza wa jalla. Bukankah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « تبسمك في وجه أخيك لك صدقة » [رواه الترمذي]

Dan senyum yang engkau berikan kepada saudaramu maka bernilai sedekah“. HR at-Tirmidzi dishahihkan oleh al-Bani.

Demikian pula beliau juga pernah bersabda:

قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ» [رواه البخاري]

Dan ucapan yang baik adalah sedekah“. HR Bukhari.

Dan beliau juga bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ » [رواه البخاري]

Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya“. HR Bukhari.

Bukankah pula, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ » [رواه مسلم و الترمذي وغيرهما]

“Allah akan senantiasa menolong hambaNya, selagi hambaNya tersebut mau menolong saudaranya“. HR Muslim dan Timidzi serta selain keduanya.

Dan juga bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « وخير الناس أنفعهم للناس » [حسن صحيح ].

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bisa memberi manfaat pada orang lain“. Hadits hasan shahih[1]

Dari sini, maka engkau bisa pahami, duhai para pegawai, bahwa dirimu sedang menunaikan ibadah sedangkan dirimu berada dibelakang meja kerja, cukup hanya dengan meminta pertolongan Allah dan memperbaiki serta mengikhlaskan niat kepada Allah, lalu dibarengi dengan sikap berbudi pekerti yang luhur dan bersemangat untuk bisa memberi pada orang lain, maka engkau akan mendapatkan taufik dari Allah dunia akhirat. Didunia dengan sebutan, predikat, pujian dan penghargaan yang baik dari orang lain, sedangkan diakhirat kelak, memperoleh pahala yang besar dari Allah yang Maha Mengetahui. Dan ini hanya dari sisi pekerjaan dan tugasmu, akan memperoleh pahala dan ghonimah. Dan orang yang mendapat taufik adalah yang diberi taufik oleh Allah Tabaraka wa ta’ala.

Mungkin engkau akan mengeluh, sembari mengatakan, orang tidak akan senang melainkan bila keinginan mereka terpenuhi, dan kemauannya bisa diselesaikan. Bahkan bisa jadi, kamu juga mengatakan, kalau ukuran orang pada hari ini, di dalam menghukumi orang lain itu hanya berada pada kepentingan pribadinya saja.

Saya katakan padamu, benar, inilah kenyataan yang ada. Dan kita tidak sedang berusaha untuk melepas jati diri kita, akan tetapi, taruhlah sekarang kamu telah berusaha dengan segala kemampuan, dan mempergauli mereka dengan akhlak yang baik, sedangkan mereka masih belum juga ridho denganmu, bukankah telah mencukupi dirimu dengan keridhoan Allah atasmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah engkau usahakan dengan segala kemampuanmu, maka ganjaran yang akan engkau peroleh, Allah lah yang menjaminnya.

Apabila orang lain masih juga belum ridho denganmu, ingatlah selalu, bahwa barangsiapa yang mencari keridhoan Allah dengan kemarahan orang, maka Allah akan ridho kepadanya, dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Semangatlah didalam menetapi akhlak yang mulia serta tata cara bergaul yang baik bersama manusia, karena sesungguhnya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang ada di dalam shahih Bukhari dan Muslim:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا » [رواه البخاري ومسلم]

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya diantara kalian “. HR Bukhari dan Muslim.

Duhai para penggemban tugas dan kedudukan, dirimu telah diberi rizki oleh Allah. Ketahuilah bahwa cara mengeluarkan zakatnya adalah dengan memberi pertolongan dan bantuan pada orang-orang yang sedang membutuhkan dengan catatan jangan sampai mengurangi hak-hak orang lain. Karena sesungguhnya syafa’at (pertolongan) termasuk bagian dari bentuk ibadah yang sangat agung jika dibarengi dengan tujuan mencari wajah Allah Tabaraka wa ta’ala.

Hasan bin Sahl pernah menulis sebuah surat rekomendasi bantuan, maka orang yang mendapatkannya sangat berterima kasih padanya. Lalu Hasan mengatakan padanya; ‘Wahai kisanak, engkau berterima kasih kepada kami, sedangkan kami memandang bahwa dengan cara seperti ini adalah zakat bagi kehormatan kami’. Lalu beliau melantunkan bait syair:

Telah wajib zakat untukku, bagi semua yang aku miliki
Dan zakat kedudukan adalah dengan membantu dan menolong
Maka jika mampu aku usahakan walaupun belum bisa
Berusahalah dengan kemampuanmu bisa memberi manfa’at pada orang

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]
_______
Footnote
[1] Lihat silsilah ash-Shahihah al-Albani no: 467

Akhlak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

AKHLAK NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Kemulian akhlak adalah engkau menjadikan semua orang merasa bahwa engkau mencintai mereka. Bahkan menjadikan setiap orang merasa bahwa mereka adalah orang yang paling engkau cintai dalam hatimu, apakah kiranya dirimu sanggup untuk seperti ini?

Sesungguhnya engkau masih bisa mengendalikan hatimu dengan sarana dan cara yang paling bagus, karena seperti itulah akhlak panutan dan sanjungan kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang mari kita tengok hari-hari bersama teladan kita tersebut.

فعن عمرو ابن العاص قال (كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْبِلُ بِوَجْهِهِ وَحَدِيثِهِ عَلَى أَشَرِّ الْقَوْمِ يَتَأَلَّفُهُمْ بِذَلِكَ فَكَانَ يُقْبِلُ بِوَجْهِهِ وَحَدِيثِهِ عَلَيَّ ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنِّي خَيْرُ الْقَوْمِ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَا خَيْرٌ أَوْ أَبُو بَكْرٍ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَا خَيْرٌ أَوْ عُمَرُ ؟ فَقَالَ : عُمَرُ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَا خَيْرٌ أَوْ عُثْمَانُ ؟ قَالَ : عُثْمَانُ ، فَلَمَّا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَدَقَنِي فَلَوَدِدْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ سَأَلْتُهُ) كما في الشمائل لترمذي

Diriwayatkan dari Amr bin al-Ash, beliau berkata: ‘Adalah kebiasaan Rasulullah menerima lawan bicaranya sambil menghadapkan wajahnya, sampai-sampai aku mengira bahwa akulah orang yang paling beliau cintai. Hingga pada suatu hari aku tanyakan pada beliau; ‘Ya Rasulallah, siapakah yang lebih engkau cintai, aku atau Abu Bakar? Abu Bakar, jawabnya. Lantas aku tanyakan kembali: ‘Ya Rasulullah, siapa yang lebih engkau cintai aku atau Umar? Umar, jawabnya. Aku tanya lagi: ‘Ya Rasulullah, siapa yang lebih engkau cintai, aku atau Utsman? Utsman, jawab beliau. Tatkala Rasulullah menyatakan itu semua maka aku berangan-angan sekiranya aku tidak lagi menanyakannya’. Kisah ini sebagaimana yang ada dalam kita Syama’il Muhammadiyah karya Imam at-Timridzi.

Dalam khabar diatas menjelaskan pada kita bahwa Amr bin al-Ash menyangka kalau dirinya adalah orang yang paling dicintai dan paling dekat kedudukannya dihati Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangkali Anda bertanya, bagaimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mampu menata hati sedemikan tingginya? Bahkan mampu menguasi hati musuh-musuhnya.

Berikut ini, kajian untukmu sebagian syama’il dan akhlak beliau secara ringkas, semoga Allah menganugerahi kita semua untuk bisa mencontoh dan meneladani beliau dengan sebaik-baiknya.

Beliau adalah orang yang sangat pemalu, dimana beliau mengatakan: “Aku adalah orang yang sangat pemalu”. Tidak pernah memandang pada seseorang sambil melotot, tidak berbuat kasar, menerima udzur orang yang memintanya, bercanda namun tidak mengatakan melainkan benar, kadang tertawa namun tidak sampai terbahak-bahak. Sabar terhadap orang yang mengangkat suara padanya, tidak pernah meremehkan orang miskin karena kemiskinannya, tidak pernah memukul seorang pun melainkan ketika berjihad dijalan Allah, tidak pernah marah terhadap suatu perbuatan melainkan bila larangan Allah diterjang, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan akan tetapi mema’afkan dan membiarkan. Beliau biasa memulai salam kepada siapa saja yang dijumpainya, apabila bertemu dengan para sahabatnya, beliau memulai untuk berjabat tangan kemudian menggenggam hangat tangan lawannya.

Beliau duduk dimana akhir majelis itu berada, memuliakan orang yang bertamu kepada beliau, sampai terkadang beliau menggelar bajunya sebagai alas duduk, mendahulukan tamu dengan bantal duduk, kalau sekiranya tamunya enggan maka beliau sedikit memaksa agar mau menerimanya.

Beliau memberi setiap orang yang duduk dimajelisnya, semua bagianya, dari mulai menghadapkan muka padanya, mendengar, melihat dan berbicara padanya.

Beliau biasa memanggil para sahabatnya dengan kunyahnya dalam rangka memuliakan dan menyenangkan hati mereka. Sangat jauh dari sifat pemarah, akan tetapi paling cepat untuk merasa ridho.

Beliau orang yang sangat baik kepada orang lain, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

فعن أنس رضي الله عنه ( أن امرأة جاءت إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت له إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً، فقال اجْلِسِي فِي أَيِّ طُرُقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ) متفق عليه.

Bahwa pernah ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sembari mengatakan: ‘Aku sedikit membutuhkanmu’. Maka beliau menjawab: ‘Duduklah dijalan Madinah mana saja yang kamu sukai, aku akan mengikutimu‘. HR Bukhari dan Muslim.

Maka dengan bahasa yang ringkas dan luas maknanya, akhlak beliau adalah al-Qur’an. Oleh karena itu Allah Ta’ala memujinya, sebagaimana yang tercantum dalam firmanNya:

قال الله تعالى: ﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [القلم: 4]

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung“. [al-Qolam/68: 4].

Oleh karenanya, barangsiapa yang ingin melihat petunjuk agama ini secara nyata dalam bentuk keseharian, maka lihatlah dalam sejarah perjalanan hidup beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sambil mempelajari dan memahami serta mentadaburinya. Demi bapak ibuku sebagai tebusannya. Cukup untuk menggambarkan itu semua, bahwa kelak pada hari kiamat semua orang mengatakan; ‘Diriku, diriku’, namun justru beliau memikirkan umatnya seraya berkata; ‘Umatku, umatku’.

Seorang penyair mengatakan:
Duhai orang yang mengingatkanku janji kekasihku
Habis sudah lisan ini menyebut kebaikan dirimu
Tak bosan aku mengingat dirimu dalam kesendirian
Kisah sang kekasih sungguh menyenangkan
Tulang ini telah penuh olehmu, kelu bibir mensifatimu
Hati ini begitu merindu tatkala menyebutmu
Senantiasa jiwa ini mencoba terbang, karena rindu
Duhai, sekiranya hati ini mampu melayang padamu

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Kepribadian Ganda

KEPRIBADIAN GANDA

Kebanyakan orang pada hari ini seringkali mengadukan adanya perubahan, dan susah menebak, pada kepribadian seseorang. Seperti halnya seorang istri, yang hakekatnya ia mengetahui akhlak suaminya, dari mulai penyabar, lapang dada, senyumnya, dan kelembutannya, namun, dirinya tidak pernah melihat itu semua, karena kalau dirumah yang nampak, justru akhlaknya yang buruk, gampang marah, emosian, mukanya kecut, sering mengata-ngatai, bakhil, suka mengungkit-ungkit dan lain sebagainya. Sehingga, untuk suami semacam ini, kita katakan dimana ia dan orang yang semisal dengannya, akan memposisikan dirinya, dengan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan:

قال النبي -صلى الله عليه وسلم- : « خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى » [ رواه الترمذي وإبن ماجه والحاكم]

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, sedangkan aku adalah orang yang paling baik pada keluargaku“. HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُهُمْ خِيَارُهُمْ لِنِسَائِهِمْ » [رواه أبو داود والترمذي وأحمد]

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada istrinya“. HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad yang shahih.

Salamah bin Dinar pernah mengatakan: “Akhlak yang buruk akan menjadikan pemiliknya orang yang paling menyengsarakan teman duduk yang ada disampingnya, akan membawa segudang bencana. Maka yang paling awal kena dampaknya adalah istrinya, kemudian anak-anaknya. Sampai sekiranya ketika dia masuk rumah, sedangkan mereka yang tadinya dalam keadaan senang, begitu mendengar suaranya, langsung berubah suasananya, semua lari menjauh darinya, karena merasa takut akan kena getahnya, sampai-sampai hewan tunggangannya juga merasakan kejelekannya, kalau anjing melihat dirinya, ia langsung berlindung ketembok, demikian juga kucing juga akan lari takut dari perangainya yang buruk”.

Dan masuk dalam kategori kepribadian ganda, tatkala berhadapan dengan kedua orang tuanya. Berapa banyak dari mereka yang seringkali kita dengar tentang kebaikan akhlaknya, terkenal dermawan, murah senyum, serta baik di dalam bergaul bersama orang lain. Namun, ketika bersama dengan orang yang paling dekat dan paling besar kewajiban yang harus mereka berikan padanya, yaitu kedua orang tuanya. Dia justru berbuat kasar, dan jauh darinya, maka cukup sebuah ayat yang tegas menyindir perbuatan semacam itu, di mana Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴾ [الإسراء: 23]

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“. [al-Israa’/17: 23].

Barangsiapa melihat kenyataan yang ada pada diri kita, ketika bersama dengan anak-anak dan orang tua kita maka kita baru sadar betapa lemahnya keimanan kita, serta kurangnya didalam menunaikan kewajiban terbesar yang kita miliki, setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allahu musta’an.

Diantara bentuk mendua dalam bersikap, adakalanya kamu pernah melihat penampilan seorang perempuan yang kelihatannya terpelajar, berpendidikan serta bagus, bahkan dirinya tak segan-segan untuk mengeluarkan uang banyak, yang penting bisa menambah percaya diri didalam penampilan, wajah dipoles, gigi dibersihkan. Akan tetapi, bila kamu mengetahui secara dekat, kamu baru mengerti, kalau dirinya mempunyai perangai yang buruk, emosian, gampang marah, berani melawan kepada suaminya, bermuka masam terhadap saudaranya dan lain sebagainya.

Duhai seandainya para Hawa memperhatikan akhlaknya secara teliti sama persis dengan perhatiannya terhadap penampilan fisiknya, tentu ia akan menjadi wanita sejati. Seorang pepatah Arab mengatakan: ‘Kecantikan bukan diukur dengan pakaian yang indah, namun kecantikan ada pada ilmu dan akhlaknya’.

Ketahuilah duhai saudariku yang aku cintai karena Allah, kecantikan sejati ada pada kecantikan akhlak serta adabnya, sangat naif sekali kalau menilai kecantikan hanya pada pakai serta penampilan fisiknya saja, akan tetapi, rasa malunya sangat kurang, sehingga tanpa segan membuka auratnya, melepas prinsip ajaran agama serta kepribadian asalnya. Seorang penyair mengatakan:

Aku melewati muru’ah sedangkan dirinya menangis
Saya tanyakan, kenapa engkau menangis
Dirinya menjawab, bagaimana aku tidak menangis
Karena semua orang sudah tidak mengenaliku lagi

Saudariku
Sesungguhnya Allah Azza wa jalla telah menjadikan bagi tiap orang dua aurat, aurat tubuh dan aurat jiwa. Allah menjadikan alat untuk menutupi aurat yang pertama yaitu dengan pakaian, sedangkan yang kedua yaitu dengan akhlak. Dan perlu diperhatikan, yang terpenting dari keduanya adalah yang kedua, karena pakaian seseorang tidak mungkin bisa lepas dari yang namanya akhlak sang pemakainya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah Tabaraka wa ta’ala dalam firmanNya:

قال الله تعالى: ﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ﴾ [الأعراف: 26]

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik“. [al-‘Araaf/7: 26].

Saudariku
Sungguh seorang wanita yang berakal, tatkala berbicara, dia akan berbicara dengan baik, tatkala diam, dia juga diam dengan manis. Bertakwalah kepada Allah, wahai para wanita, tutupi aurat jiwamu dengan pakaian takwa, rasa malu dan budi pekerti yang luhur.

Salah satu sikap mendua yang lainnya dalam berakhlak, sebagaimana yang kita lihat, ada sebagian orang yang bila berkata, ucapannya begitu manis, penyabar, menebar senyum, namun apabila datang waktunya jual beli dan atribut yang berisikan uang dan dirham, maka dirinya berubah menjadi senang mengulur waktu pembayaran, sangat kuat memegang uang, akan berargumen, mendebat lawan bisninya, bahkan bisa jadi gambaran makna ukhuwah persaudaraan beserta hak-haknya untuk sementara terhapus dalam benaknya.

Pernah dikatakan kepada Muhammad bin Hasan, kenapa engkau tidak menulis buku yang berkaitan dengan kezuhudan. Maka beliau menjawab: ‘Aku telah menulis sebuah buku yang berkaitan dengan jual beli’.

Maksud yang ingin disampaikan oleh beliau kepada kita adalah, bahwa zuhud itu ada pada orang yang berlepas diri dari perkara syubhat dan makruh dalam transaksi jual belinya serta seluruh interaksi perdagangan. Inilah pesan yang ingin beliau sampaikan, dan ini menunjukan kecerdasaan fikih yang beliau miliki, semoga Allah merahmatinya.

Diriwayatkan, bahwa Masruq mempunyai hutang, demikian pula saudaranya Khaitsamah juga mempunyai tanggungan hutang. Maka Masruq pergi membayar hutang saudaranya, sedangkan ia tidak mengetahuinya, begitu juga sebaliknya, saudaranya Khaitsamah juga pergi membayar hutang saudaranya, dan ia juga tidak mengetahuinya.

Mutharif bin Abdullah pernah mengatakan kepada sebagian saudaranya: ‘Wahai Abu Fulan, apabila engkau mempunyai keperluan maka jangan berbicara padaku, akan tetpai tulislah disebuah kertas. Sungguh aku malu kalau melihat wajahmu memelas dihadapanku’.

Seorang penyair mengatakan:
Jika aku lapang, tidak akan tahu karibku
Ketika aku mencukupkan, temanku pun merasa cukup
Rasa maluku menjaga air muka yang ada pada wajah
Temanku, dalam permintaanmu ada kekariban
Kalau aku biarkan air muka mengalir padamu
Betapa cepatnya aku bisa naik keatas

Dikisahkan dari Rabah bin al-Jarah, beliau berkata: ‘Fath al-Mushili pernah berkunjung kerumah karibnya yang bernam Isa at-Tamar, namun sayang ia tidak menjumpainya. Maka ia mengatakan pada pembantunya; ‘Ambilkan aku kantong majikanmu’. Pembantu tersebut lalu mengambilkan kantong untuknya, lantas sang tamu memasukan uang dua dirham. Begitu Isa datang, maka sang pembantu mengabarkan perihal tamunya tadi, Isa lalu berkata padanya: ‘Jika omonganmu benar, kamu bebas’. Kemudian ia melihat pada kantong yang berisi uang tersebut, lalu iapun membebaskan pembantunya tadi’.

Dalam kisah yang lain, diriwayatkan dari Jamil bin Murah, beliau berkata: ‘Kami pernah mengalami masa paceklik yang sangat, dan ketika itu Muriq al-Ajli berkunjung kerumah sambil membawa sekantong bungkusan, lalu mengatakan; ‘Ambillah ini buat kalian’. Setelah itu dia minta izin pergi, namun tidak berapa lama sebelum jauh dia mengatakan kembali: ‘Jika kalian memerlukan kantong tadi, ambilah untuk belanja kebutuhan’.

Berkata Sufyan bin Uyainah; ‘Aku pernah mendengar Musawir al-Wariq mengatakan: ‘Tidaklah aku mengucapkan pada seseorang ‘Sungguh aku mencintaimu karena Allah’ melainkan tidak pernah aku mencegah harta untuknya’.

Sebuah kisah yang banyak ibroh, seakan jauh dari alam khayal kita, namun akhlak yang luhur dari para pendahulu kita Salafus sholeh telah mampu merubahnya menjadi kecintaan dan ukhuwah yang tulus karena Allah semata, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kita mohon keutamaan kepada Allah yang Maha Penyayang, dan memohon kepadaNya agar kita bisa meneladani mereka dengan sebaik-baiknya.

Diantara sikap mendua yang telah nampak yaitu manakala kamu melihat sebagian pemuda yang menakjubkanmu dari segi penampilannya, bau wangi membuaimu, sisiran rambutnya mengkilap. Kalau bukan karena malu tentu aku terlalu berlebihan didalam mensifati keadaan sebagian generasi muda kita pada hari ini, dalam semangatnya memperhatikan gaya dan penampilan. Akan tetapi bersamaan dengan itu mereka tidak memperhatikan tingkah dan akhlaknya yang terkadang melenceng, karena mereka punya prinsip tidak apa kalau hanya sekedar berdusta, atau melaknat, mencela, bahkan adakalanya berzina, dan mencuri, atau menipu dan melakukan tipu daya.

Dalam benak mereka, tidak mengapa mengorbankan agama dan akhlaknya demi tercapainya syahwat, sehingga penampilan fisiknya telah rusak sebelum rusaknya penampilan hati.

Wahai para pemuda, manusia bukan hanya terbatas pada penampilan badan dan rupanya saja, tidak pula pada gaya pakaian dan modenya, akan tetapi, manusia sejati adalah yang memiliki ruh, akal, akhlak dan penampilan.

Seorang penyair mengatakan dalam qasidahnya:
Duhai para pengabdi jasad, betapa dirimu telah sengsara
Jiwamu lelah, lalu kerugian yang engkau dapat
Kembalikan jiwamu, sempurnakan dengan kebaikan
Duhai insan, engkau hidup dengan jiwa bukan jasadmu

Duhai para pemuda..
Tidaklah rupa yang elok akan menguatkan hati apabila akhlaknya tidak elok, sesungguhnya didalam hatimu masih ada relung kebaikan, periksalah lalu bakar semangatmu untuk memacu kebaikan tersebut.

Benar, termasuk puncak kebahagian adalah menikmati segala kesenangan dunia dan syahwatnya, namun itu semua harus berada dalam koridor syari’at kita, karena Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾ [القصص: 77]

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu“. [al-Qashash/28: 77].

Jadilah seorang laki-laki yang mempunyai semangat yang tinggi, berhias dengan budi pekerti yang luhur dan adab karena sesungguhnya itulah perhiasan seorang laki-laki sejati.

Dari contoh mendua dalam bersikap yaitu, orang-orang yang manakala kamu melihatnya, nampak padanya tanda keshalehan dan kebajikan, kemudian pada sisi lain kamu melihat dalam tindak tanduknya serta perbutannya berbalik sembilan puluh derajat dari penampilan yang pertama, sampai-sampai mereka menipu orang lain disebabkan oleh penampilannya.

Maka pada kenyataannya, wahai orang yang seperti itu, engkau bukan saja telah menodai dirimu akan tetapi, telah menodai orang lain, bahkan bisa jadi agamamu juga ikut terbawa. Karena bisa jadi orang yang sudah kadung melihat engkau berbuat jelek akan mengira ini termasuk bagian dari akhlaknya orang shaleh, karena mereka mengira kamu termasuk orang yang shaleh.

Oleh karena itu, bagi orang yang seperti ini dan yang semisalnya, untuk mengoreksi kembali tingkat keshalehannya, karena tidak menutup kemungkinan yang ada pada mereka hanya keshalehan dalam bentuk nama dan gambar.

Ada beberapa orang yang menyanjung seseorang dihadapan al-Qilu ibn Iyadh, mereka memuji orang tersebut kalau dia tidak makan kue (puding). Maka beliau berkata: ‘Kalian jangan tertipu, hanya sekedar melihat dia meninggalkan makanan tersebut, akan tetapi, lihatlah bagaimana sikap dirinya didalam menyambung tali silaturahim, menahan emosi, hubungannya bersama tetangga, dan para janda serta orang miskin, lihatlah bagaimana akhlak serta adab pergaulan bersama saudara dan karibnya’.

Katakan pada saya, duhai orang yang dijadikan teladan, apakah istiqomah itu hanya sekedar penampilan luar? Ataukah hanya hubungan manis bersama segelintir orang saja? Atau istiqomah itu mengharuskan dirimu mempergauli orang lain dengan cara yang baik, pada tiap keadaan dan waktu? Di dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : « أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ» [ أخرجه الترمذي وابن ماجة]

Perkara terbesar yang akan memasukan seseorang kedalam surga adalah bertakwa dan berakhlak mulia”. HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Imam Ibnu Qoyim mengatakan didalam kitabnya al-Fawaid, ketika mengomentari hadits diatas: ‘Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan didalam hadits ini, antara ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia, karena ketakwaan kepada Allah akan memperbaiki hubungan seorang hamba bersama Rabbnya. Sedangkan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan seorang hamba bersama makhlukNya. Maka takwa kepada Allah mengharuskan dirinya mencintai Allah, adapun akhlak yang mulia menjadikan orang lain menyukai dirinya’.

Maka harus dicatat, karena disini ada perkara yang tercampur pemahamannya oleh kebanyakan orang, mungkin karena memang tidak tahu, dan ini kebanyakan mereka. Atau dirinya mempunyai tujuan jelek yang tersimpan didalam hati, dan jenis ini jumlahnya sedikit, insya Allah.

Para pembaca yang budiman, kalau sebagian kaum muslimin ada yang menanggalkan akhlaknya dan prinsip dasar ajarannya maka bukan berarti kita menuduh agama Islam, atau mulai ragu untuk berpegang dengan ajaran dan syari’atnya. Kalau demikian apa maknanya kita menghukumi orang sebagai muslim dan membenarkan ajaran Islam, sedangkan mereka mempunyai sifat berlebihan, menyeleweng, kasar, kurang ajar, dan berperangai buruk, hanya karena sekedar menisbatkan ke Islam akan tetapi mereka salah didalam tingkah laku, dan ucapannya atau dirinya hanya menyematkan pakaian kejujuran.

Sesungguhnya termasuk jenis kedhaliman yang paling jelek adalah seseorang mengambil kesalahan orang lain sebagai senjata, sedangkan Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الإسراء: 15]

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain“. [al-Israa’/17: 15].

Dimana sikap inshaf dan adil? Sedangkan Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ٨﴾ [المائدة: 8]

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. [al-Maa’idah/5: 8].

Kenapa kita terlalu cepat menghukumi semua orang serta mengatakan kesalahan secara umum pada mereka hanya sekedar kesalahan yang dilakukan oleh individu? Lantas dimana mereka-mereka, barangkali ratusan atau ribuan dari kalangan kaum muslimin dan muslimat, yang tetap teguh dan mulia bersama akhlak dan jiwanya.

Kita semua tidak bisa memungkiri adanya jumlah yang sangat banyak, orang-orang yang masih mempunyai hati nurani yang bersih dan indah, yang tergambar dalam ucapan mereka, sanubari yang tenang dengan tingkah laku yang luhur, hati yang suci, tangan yang bersih dan lisan yang terjaga, mereka barengi ilmu yang diiringi bersama amalan, karena cinta agama dan negerinya.

Kenapa seringkali kita menutup mata terhadap mereka, tidak menyebut dan mencuatkan dalam publik tentang kemulian mereka? Kenapa hanya memandang dengan sebelah mata tentang keberadaan mereka, lalu menyoroti kesalahan yang ada dan membesar-besarkanya yang ada pada sebagaian orang?

Lihat pada dirimu, engkau seringkali mengadu keberadaan mereka, bukankah engkau juga seorang muslim? Tidakkah engkau juga pernah berbuat kesalahan? Berbuat kekeliruan? Maka bisa jadi orang lain juga mengeluhkan dirimu, engkau mengeluh mereka juga mengeluhkanmu.

Akan tetapi, betapa indahnya kalau sekiranya kita bisa saling memberi udzur satu sama lain, memberi ma’af atas kesalahan dan kekeliruan orang lain lalu menutupinya dan mencuatkan kebaikannya. Dengan adanya saling menasehati dan mema’afkan bisa memadamkan api permusuhan dan perselisihan.

Perlakukan orang lain, sebagai insan yang mempunyai kesalahan dan kebenaran, tutup matamu dan berlaku wajar lalu sabarlah. Bukan orang yang pandir yang tidak tahu siapa pemimpin kaumnya, namun pemimpin itu yang pura-pura tidak mengetahui.

Engkau bisa bayangkan kalau seandainya dirimu melihat lingkungan berada dalam makna yang indah ini, dan itu merupakan budi pekerti yang paling mulia, jika dirimu enggan untuk itu, maka tuduhlah orang yang melakukan kesalahan tersebut jangan kamu hukumi secara umum, lalu bertakwalah kepada Allah, karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan, dan sebagaimana engkau beragama maka itulah agama.

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Apakah Mungkin Bisa Mengubah Akhlak Kita

APAKAH MUNGKIN BISA MENGUBAH AKHLAK KITA

Mungkin ada sebagian orang yang mengatakan, dulu mudaku sudah seperti itu, maka sekarang aku sudah tidak mampu lagi merubah akhlakku. Sedangkan disana ada sebagian lagi yang mengira bahwa yang namanya akhlak adalah sesuatu yang sudah menetap disanubari seorang insan, yang tidak mungkin lagi bisa berubah, dengan sangkaan bahwa itu merupakan watak, fitrah dasar seorang manusia dan tabiat pembawaan orang. Sebagian lagi mengira, bahwa akhlak adalah suatu hal yang bisa dirubah, dan hal itu, mudah bukan suatu hal yang mustahil.

Yang benar bahwa akhlak itu terbagi menjadi dua. Salah satunya adalah yang bersifat tabiat pembawan lahir, dan yang satunya lagi adalah dengan cara berusaha, membiasakan diri untuk berakhlak yang baik dan bersungguh untuk menetapi hal tersebut.

Sehingga, kalaulah sekiranya akhlak sesuatu yang tidak mungkin bisa berubah tentu akan ada banyak sekali wasiat dan wejangan yang gugur. Yaitu manakala Allah Azza wa jalla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى١٤﴾ [الأعلى: 14]

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)“. [al-A’laa/87: 14]

Dan juga dalam firmanNya:

قال الله تعالى: ﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا٩﴾ [الشمس: 9]

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu“. [asy-Syams/91: 9]

Dan sebuah ungkapan salaf: “Hanyalah ilmu itu dengan belajar, dan sikap lemah lembut dengan latihan berlemah lembut. Maka barangsiapa yang memilih kebaikan, ia pasti akan memperolehnya. Dan barangsiapa yang berlindung dari kejelekan, ia akan dilindungi“.

Siapa yang memperhatikan kelakuan binatang serta keadaannya sebelum diajari dan setelahnya, pasti ia akan mendapati bahwasannya akhlak disisi manusia dapat dirubah bagi siapa yang karunia dengan keinginan dan kesungguhan yang kuat. Dengan selalu menjadikan pembawaan dirinya diatas budi pekerti yang luhur dan mulia.

Berkata Ibnu Hazm menceritakan tentang uji coba yang pernah beliau lakukan, yaitu usahanya untuk mengatasi beberapa kekurangan yang ada pada dirinya, serta hasil yang akan diperoleh bagi siapa saja yang berani melakukannya. Beliau mengatakan: “Di dalam masalah kekurangan, maka saya atasi dengan senantiasa melatih jiwa serta membaca dan memahami perkataan para Nabi Shalawatullah ‘alaihim. Dan memahami perkataan orang bijak dari kalangan ulama yang terdahulu dan belakangan didalam masalah akhlak, dan adab melatih jiwa, itu sangat membantu sekali, hingga kiranya Allah banyak memberi pertolongan akan hal itu, tentunya berkat taufik dan karuniaNya. Keadilan yang sempurna, melatih jiwa, serta berbuat sesuatu, seperti halnya mau mengakui kekurangan yang ada padanya sebagi teguran bagi orang yang bisa mengambil pelajaran. Insya Allah”.

Kemudian beliau membagi beberapa macam bentuk kekurangan yang ada pada dirinya, kalau sekiranya tidak merasa terlalu panjang tentu akan saya nukilkan semuanya karena ada begitu banyak faidah yang bisa kita ambil. Namun, saya cukupkan saja, bagi siapa yang ingin lebih jauh silahkan lihat kitabnya yang berjudul ‘Al-Akhlaq wa Siyar fii Mudawatin Nafsi‘.

Kemudian beliau mengatakan : “Dan diantaranya –maksudnya aib, kekurangan- mendendam yang berlebihan, maka aku mampu mengekangnya berkat pertolongan Allah Ta’ala, dengan menutupi dan mengalahkan untuk lebih jauh, adapun untuk memutusnya sama sekali maka aku belum sanggup. Menyulitkan diriku untuk bisa jujur kepada orang yang memusuhiku dengan permusuhan yang benar”. Dari sini selesai perkataan beliau rahimahullah.

Ada seorang ikhwah yang bercerita kepadaku : “Pernah pada suatu ketika, mampir di dalam hatiku sesuatu yang sangat besar, mengarah pada salah seorang saudaraku, karena sebab rizki yang telah Allah berikan padanya. Senantiasa setan membisikan pada jiwaku yang lemah ini, sedangkan diriku, maka aku mencoba untuk mengoreksi dan memperhatikannya, namun hal itu, seringkali terlintas dalam benak dan pikiran, terlebih ketika saya telah begitu siap untuk bisa mendapat rizki yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya”.

Dirinya melanjutkan : “Akupun masih bersama diriku, mencoba mengusir bayang-bayang dan pikiran buruk yang terkadang melintas, dengan mengingatkan padanya keutamaan lapang dada dan mengharapkan kebaikan bagi orang lain, karena sesungguhnya, terkadang aku mencintai bagi mereka apa yang aku cintai untuk diriku sendiri. Kadang aku mengingat bahayanya hasad serta kerusakannya, dan senatiasa aku berusaha minta pertolongan kepada Allah dan mendo’akan dirinya, sampai pada akhirnya jiwaku mampu memenangi gejolak ini, dan sanggup mengatasinya.

Namun, masih saja aku memikirkannya, mencoba menyibak kejadian ini sampai akhirnya aku temukan bahwa itu semua disebabkan diriku mencoba membiasakan diri lapang dada dan berbaik sangka pada orang lain serta mengharap kebaikan bagi mereka. Dari situ aku rasakan kebahagian serta kelezatan hidup yang menakjubkan, sehingga aku mampu menghadapi urusan serta pekerjaanku dengan hati yang selamat. Dan Allah membuka bagiku perkara yang sangat banyak, dan menakjubkan, segala puji bagiNya atas karunia dan nikmatNya. Yang demikian itu merupakan keutamaan Allah yang diberikan pada siapa yang dikehendakiNya, sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Agung”. Selesai kisahnya dari sini.

Oleh karena itu, harus ada yang namanya latihan dan olah jiwa, yaitu dengan berusaha dan sabar serta memperhatikan dan melihat dampak dari akibat suatu perkara sebelum berbuat dan minta nasehat pada orang lain dan lain sebagainya dari perkara yang bisa membantu merubah akhlak dan tabiat menuju lebih baik.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua akhlak yang indah sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi petunjuk yang lebih baik melainkan Dia Azza wa jalla.

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Akhlak Mampu Menciptakan Hal yang Menakjubkan

AKHLAK MAMPU MENCIPTAKAN HAL YANG MENAKJUBKAN

Sesungguhnya sebuah hati, walau bagaimanapun, dan betapapun pemiliknya sampai pada tingkatan kerusakan dekadensi moral, sombong, membangkang serta kekurangan yang lainnya, pasti didalamnya masih tersisa kebaikan yang sangat banyak, yang terkadang pada awalnya tidak terlihat oleh pandangan mata. Maka, cobalah sedikit kecenderungan atas kesalahan mereka, dan sedikit beri kasih sayang yang hakiki pada mereka, serta sedikit perhatian atas mereka. Kita akan mampu merubah, meraba sisi kebaikan yang tidak tersentuh sebelumnya dari dalam sanubari mereka.

Mulailah dengan memberi salam pada mereka, tatkala pertama kali bertemu dengannya, lalu berilah senyuman yang dibarengi pujian atas kebaikan yang pernah mereka lakukan. Namun sebelum itu, jadilah seorang yang jujur dan ikhlas, bukan karena dibuat-buat tidak pula hanya sekedar basa basi. Sehingga disisinya, akan tercurat air mata kebaikan dari dalam jiwa mereka, engkau akan merasakan kecintaan dan kepercayaan mereka padamu, itu baru sedikit amalan yang kamu berikan padanya. Dan hal ini, telah banyak orang yang mencobanya.

Saya mempunyai pengalaman pribadi, selaras dengan masalah ini. Pada suatu waktu aku pernah bertemu dengan salah seorang diantara mereka (para pelaku maksiat) maka saya mulai dengan memberi salam padanya, lalu tersenyum dan memuji sifat baik yang ada didalam kepribadiannya, dan saya katakan hal itu secara tulus. Maka tidak perlu menunggu, dirinya mulai menampakkan kebaikan dan terketuk hatinya. Lalu mengganti presepsiku karena dirinya mulai terbuka yang menunjukan bahwa dirinya mempunyai hati yang lembut, perasaannya cepat terketuk sehingga mudah menetaskan air mata, menyesali perjalanan hidupnya yang gelap penuh dengan maksiat dan syahwat. Lantas dirinya mengadu, dengan tidak nyaman terhadap sebagian orang para pemberi nasehat yang sedikit kasar dan terburu-buru.

Saudaraku…
Betapa kita telah salah menilai seseorang hanya karena melihat pada penampilan luarnya saja. Dan sebuah kisah bisa kita jadikan pelajaran, dari Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘anhu menceritakan tentang dirinya sendiri, sebelum masuk Islam. simaklah; ‘Sungguh tidak ada dalam benakku, yang lebih aku benci daripada Rasulullah, aku sangat berharap, dan senang bila aku punya kesempatan untuk menikam lalu membunuhnya‘. Ini sebelum dirinya masuk Islam, namun perhatikan tatkala dirinya sudah masuk Islam dan telah mengetahui pribadi Rasul secara lebih dekat, maka dia mengatakan; ‘Tidak ada orang yang lebih aku cintai daripada pribadi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang lebih mulia dihadapanku melainkan beliau, sehingga aku tidak sanggup lagi melepas pandanganku padanya karena rasa pengagungan, kalau sekiranya kamu bertanya agar aku mensifati pribadinya maka aku tidak mampu, karena aku tidak pernah memandangi dirinya‘.[1]

Pada kenyataannya kita seringkali berbuat dhalim terhadap jiwa kita, kemudian berlanjut dengan mendhalimi orang lain yaitu manakala kita langsung mendendam terhadap mereka serta merasa ketakutan dari mereka. Oleh karenanya, solusi dari ini semua adalah kita tumbuhkan didalam sanubari kita bibit kasih sayang, dan cinta pada orang lain, serta sabar atas tingkah perbuatan mereka. Ringkasnya yaitu ada pada akhlak yang luhur dan mempunyai seni cara bergaul dan berinteraksi bersama orang lain.

Duhai ahli Qur’an, tidakkah kita pernah membaca didalam al-Qur’an firman Allah Azza wa jalla:

قال الله تعالى: ﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾ [البقرة: 83]

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..“. [al-Baqarah/2: 83].

Demikian juga, bukankah kita pernah membaca firmanNya:

قال الله تعالى: ﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ﴾ [الإسراء: 53]

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka“. [al-Israa/17: 53].

Didalam ayat pertama disuruh agar mengucapkan kata-kata yang baik pada manusia, kemudian dalam ayat yang berikutnya perintah untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik lagi pada mereka. Lantas dimana keadaan kita dari ucapan yang baik terlebih lagi dari ucapan yang lebih baik lagi. Sedangkan perintah itu juga didukung oleh sabda Nabi Shalalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah sabdanya:

قَالَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ  [ رواه مسلم ].

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu, maka apabila kalian membunuh, bunuh dengan cara yang baik. Dan bila kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang bagus, yaitu dengan menajamkan pisau dan membikin nyaman sembelihan“. HR Muslim.

Apabila kasih sayang dan kebaikan sampai pada tingkatan seperti ini, yaitu berlemah lembut serta berinteraksi dengan baik sampai kiranya dengan binatang, lantas bagaimana dengan bentuk kasih sayang dan kebaikan yang harus disalurkan kepada bani Insan?

Berkata salah seroang ikhwah, menceritakan kejadian yang pernah dialaminya sendiri; ‘Pada musim hujan pernah saya berjalan mengendari mobilku, lalu saya melewati sebuah jalan berlubang yang banyak airnya, sedangkan saya kurang perhatian akan hal itu. Maka begitu lewat air berhamburan kekanan dan kira, naas disitu ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk dipinggir jalan, dan yang paling parah adalah mengenai seorang pemuda. Akupun begitu panik melihat kejadian itu, apalagi nasib pemuda itu yang telah berubah fisiknya, bajunya yang putih telah berubah hitam lumpur, rambutnya tidak ketinggalan penuh dengan air berlumpur, maka cepat-cepat aku hentikan mobil dan kembali pada mereka, lalu keluar, tidak ada yang aku perhatikan melainkan suara celaan, hardikan dan kemarahan mereka serta kata-kata jorok padaku. Aku lalu jelaskan pada mereka bahwa aku seorang muslim, dan minta maaf atas kejadian ini. Tidak selang berapa lama Subhanallah yang Maha membolak balikkan hati manusia, maka celaan dan kemarahan tersebut berubah sapaan salam, bahkan ajakan untuk makan bersama dan persaudaraan dan persahabatan hangat’. Selesai ceritanya dari sini.

Saudaraku yang saya cintai
Aku katakan secara simpel, bahwa akhlak bisa menciptakan sesuatu yang menakjubkan. Kebanyakan dari kita salah menilai manakala kita meninggalkan sebagian orang hanya karena kita merasa lebih suci dari mereka atau mengaku lebih bersih hatinya, dan lebih cerdas daripada akal mereka.

Berkata seorang laki-laki pada Abdullah bin Mubarak; ‘Berilah aku wejangan’. Maka beliau mengatakan: ‘Bila engkau keluar rumah maka jangan melebarkan pandanganmu pada seorangpun, melainkan bila engkau melihat dia lebih baik darimu‘. Maknanya bukan berarti kita disuruh agar melepas prinsip dan ajaran agung kita, melunak atau basa basi, bukan itu, namun itu semua bagian dari sikap bijak, dalam memberi wejangan yang baik serta seni dalam cara bergaul bersama orang lain’.[2]

Saudaraku yang saya cintai…
Perhatikan pada seni cara bergaul serta budi pekerti yang luhur apa yang akan diperbuat. Inilah Ikrimah bin Abi Jahal, dirinya mewarisi permusuhan terhadap Islam dari bapaknya, ia bunuh setiap muslim yang ia temui dimanapun tempatnya. Pada penaklukan Makah kaum muslimin mampu mengalahkan kaumnya, diapun melarikan diri ke Yaman, setelah sebelumnya menghadiahkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam darah kaum muslimin.

Kemudian datang istrinya Ummu Hakim kepada Rasulullah menyatakan keislamannya, serta memohon jaminan keamanan kepada suaminya. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam –bapak ibuku sebagi tebusannya- berkata kepadanya: ‘Dia aman, lantas beliau mengatakan pada para Sahabat yang ada disekelilingnya; ‘Akan datang Ikrimah bin Abi Jahal dalam keadaan mukmin dan berhijrah, maka jangan kalian maki bapaknya, karena mencela mayit akan melukai orang yang masih hidup dan tidak akan sampai pada si mayit‘. Lalu tidak berapa lama, betul Ikrimah datang lantas berdiri dihadapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengatakan; ‘Aku bersaksi bahwasannya tidak ilah yang berhak disembah melainkan Allah, dan bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan RasulNya. Engkau adalah orang yang paling baik, jujur dan amanah diantara manusia. Adapun demi Allah, Ya Rasulullah, tidak ada harta yang aku tinggalkan yang aku keluarkan untuk menentang agama Allah melainkan sekarang aku keluarkan seluruhnya untuk agama Allah, tidak ada peperangan yang aku ikuti untuk menentang agama Allah melainkan aku menyesali dan bertaubat‘.

Sebuah sentuhan tangan lembut Nabi pembawa rahmat, bisa merubah anak Fir’aun dari umat ini menjadi barisan wali-wali Allah, dan menjadikan dirinya menyesali segala perbuatannya dan berazam dengan azam yang begitu terpuji, merubah dari keadaan sebelumnya menjadi manusia terbaik. Sungguh akhlak bisa menciptakan sesuatu yang menakjubkan.

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]
_______
Footnote
[1] Sebagaimana yang ada dalam shahih Muslim
[2] Ringkasan yang terangkum dari risalah yang berjudul ‘Afrahu Ruh’.

Nasehat Untuk Para Pengajar

NASEHAT UNTUK PARA PENGAJAR

Duhai para guru, laki dan perempuan. Sesungguhnya telah shahih dalam sebuah hadits, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ [رواه الترمذي]

Sesungguhnya Allah, para malaikat serta seluruh penduduk langit dan bumi sampai kiranya semut didalam sarangnya dan ikan di lautan, mereka semua bershalawat (mendo’akan) kepada orang yang mengajari manusia kebaikan“. HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-AlBani.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا  [رواه مسلم و أبو داود والترمذي وابن ماجه].

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala semisal pahala orang yang mengikuti petunjuk tersebut tanpa dikurangi pahala mereka sedikitpun”. HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Dan saya mempunyai perasaan bahwa engkau wahai para pendidik, baik laki maupun perempuan, adalah bagian dari para pengajar kebaikan kepada manusia. Dan termasuk dari kalangan orang yang mengajak kepada petunjuk. Kalian rela duduk menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan, berhari-hari, berbulan, berpuluh-puluh tahun bersama anak-anak kaum muslimin.

Semoga Allah merahmati Abdullah bin Mubarak, dimana beliau pernah mengatakan: ‘Kami dengan keberadaan yang kurang sekali dengan adab, sangat membutuhkan pada ilmu yang banyak‘.

Dan cara terbaik, dan mudah serta bagus yang aku ketahui di dalam mendidik orang adalah dengan bersikap tawadhu (rendah diri) dibarengi dengan seni dalam cara bergaul dan berakhlak yang luhur bersama para murid. Namun, hal itu tidak mudah melainkan bagi orang yang telah dikarunia ikhlas oleh Allah Ta’ala di dalam ilmu dan amalnya. Maka kita memohon kepada Allah yang Maha Pemurah untuk mendapat keutamaanNya.

Menghargai murid, mengesankan kecintaan yang besar pada mereka, serta tanggap dan memiliki kesungguhan dalam menangani kesulitan, problematika, serta kesedihan yang mereka alami, dengan memberi toleransi terhadap kesalahan yang tidak disengaja, tersenyum, sabar, lembut didalam mengarahkan, didukung dengan pembawaan ilmu yang kuat. Maka ini semua merupakan bagian tanda dari tanda-tanda suksesnya pribadi seorang pendidik.

Adapun kasar, tertutup, tidak terbuka, enggan untuk diskusi, serta ngotot pada pendapatnya, dan tidak mau mengalah, dengan dalih untuk menjaga kewibawaan pribadinya dihadapan para murid maka itu merupakan pemahaman keliru yang tidak menambah tanah melainkan kotornya.

Ingatlah, sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut yang mencintai kelembutan, dan memberikan kepada sikap lemah lembut apa yang tidak diberikan kepada sikap kasar, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang ada pada shahih Muslim.

Duhai para pendidik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ  [رواه مسلم]

Barangsiapa yang terhalangi dari sikap lemah lembut maka dirinya terhalangi dari kebaikan semuanya“. HR Muslim.

Hati para murid yang setiap harinya duduk dihadapanmu, betapapun sampai pada tingkatan lalai dan kering, namun, ia tetap butuh pada yang namanya sikap lemah lembut dan kasih sayang. Maka sesungguhnya bersikap lemah lembut, berakhlak yang baik, bijak dalam bertutur, dibarengi kalimat yang menyentuh, itu semua bisa menjadi kunci pembuka yang menakjubkan didalam mengambil hati orang dan mengarahkan mereka.

Akan tetapi, berapa banyakpun ibroh yang telah diberikan –maka selalu saya katakan satu kali, tiga sampai sepuluh- semuanya ada pada keikhlasan kepada Allah Ta’ala, sehingga barangsiapa yang telah mendapatkan maka ia akan mendapatkan kebaikan yang sangat banyak. Seperti diucapkan dalam sebuah ungkapan; ‘Tidak sama orang yang menangis karena keinginan sendiri dengan orang yang menangis karena dibayar‘. Dan Orang yang cerdas cukup hanya dengan isyarat.

[Disalin dari طريقنا إلى القلوب  (edisi Indonesia : Lorong Hati). Penulis Syaikh Ibrahim bin Abdullah ad-Duwaisyi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]

Faktor Kekhusyuan Dalam Shalat

33 FAKTOR YANG MEMBUAHKAN KEKHUSYU’AN DALAM  SHALAT

Pertama : Bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kekhusyu’an dan apa yang menguatkannya:
1. Bersiap diri untuk menunaikan shalat, diantaranya dengan menjawab adzan dan berdoa setelah adzan dengan doa yang ada tuntunannya, selain itu berdoa antara saat adzan dan iqamah, berwudhu dengan baik, membaca basmalah sebelum berwudhu, berdzikir dan berdoa setelah wudhu, bersiwak, mengenakan pakaian yang bersih, bersegera menuju masjid dan berjalan dengan tenang lalu menunggu shalat, juga merapatkan dan menyusun barisan shaf.

2. Thuma’ninah dalam shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap thuma’ninah sehingga setiap tulang (beliau) kembali ke asalnya.

3. Mengingat mati ketika shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صَلاتِكَ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلَاتَهُ، وَصَلِّ صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً غَيْرَهَا

Ingatlah kematian dalam shalatmu, karena seseorang jika mengingat mati dalam shalatnya tentu akan memperbaiki shalatnya. Shalatlah seperti shalatnya seseorang yang merasa tidak akan shalat lagi

4. Merenungkan ayat atau dzikir yang diucapkan dalam shalat. Ini tidak akan mungkin melainkan dengan mengetahui makna apa yang di baca, lantas merenungkannya sehingga akan meneteskan air mata dan sentuhan dalam jiwa. Allah berfirman:

وَالَّذِينَإِذَاذُكِّرُوابِآيَاتِرَبِّهِمْلَمْيَخِرُّواعَلَيْهَاصُمًّاوَعُمْيَانًا [الفرقان: 73]

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta”  [Al-Furqan/25: 73]

Diantara hal memudahkan tadabbur ayat, bertasbih ketika melewati ayat-ayat tasbih, dan berta’awwudz ketika melewati ayat-ayat yang memerintahkan untuk berlindung pada Allah.

Membaca amin setelah Al-Fatihah. Dengan membacanya akan mendatangkan pahala yang besar. Rasulullahجbersabda:

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Jika Imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, karena siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya para malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R Bukhari).

Apabila imam mengucapkan سمع الله لمن حمده (Sami’Allahuliman hamidah’), maka makmum mengucapkan: ربنا ولك الحمد  (‘Rabbanaa wa lakal hamdu‘). Ucapan tersebut juga berpahala besar.

5. Membaca seayat demi seayat, karena dengan begitu akan lebih memberi pemahaman, tadabbur dan sesuai dengan contoh nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau membaca ayat dengan jelas perhurufnya.

6. Membaca dengan tartil dan membaguskan bacaan. Allah berfirman:

وَرَتِّلِالْقُرْآنَتَرْتِيلًا [المزمل: 4]

“Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”  [Al-Muzzammil/73: 4]

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

زينوا القرآن بأصواتكم فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا  [أخرجه الحاكم]

Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian, karena suara yang indah itu menambah kebagusan Al-Qur’an”    (H.R Hakim)

7. Merasakan bahwa Allah menjawabnya ketika shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Aku bagi shalat untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang dia pinta. Jika dia mengucapkan: Alhamdulillahirabbil ‘Aalamiin maka Allah berfirman: “Hamba-Ku memuji-Ku”. Jika dia mengucapkan: “Ar Rahmaanir Rahiim, maka Allah berfirman: “Hamba-Ku menyanjung-Ku” dan jika ia mengucapkan: Maaliki yaumid diin, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku mengagungkan-Ku” Jika dia mengucapkan: Iyyaakana’budu wa iyyaakanasta’iin, maka Allah berfirman: “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia mohon. Jika ia mengucapkan: Ihdinash Shiratal Mustaqiim Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim Ghairil Maghdhuubi ‘alaihim waladz Dhaalliin, maka Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta”

8. Shalat menghadap dan mendekat ke arah sutrah atau pembatas:
Ini akan memberikan beberapa manfaat, diantaranya:
Menahan pandangan dari apa yang ada di belakang sutrah dan mencegah orang yang akan melewati dengan mendekatinya.
Mencegah setan agar tidak melewati atau merusak shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا صلى أحدكم إلى سترة فليدن منها حتى لا يقطع الشيطان عليه صلاته  [رواه أبو داود].

Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap ke sutrah, maka hendaklah ia dekat dengannya, agar setan tidak memotong shalatnya” (H.R Abu Dawud)

9. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada. Nabi جjika shalat, beliau letakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.Keduanya beliau letakkan di atas dada”. Hikmahnya sikap seperti ini adalah menunjukkan sikap orang yang meminta nan hina. Selain itu, terjauh dari sikap bermain-main dan lebih dekat pada kekhusyu’an.

10. Memandang ke tempat sujud. ‘Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, beliau menundukan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tanah. Adapun ketika tasyahud beliau memandang ke jari yang memberi isyarat dan beliau menggerakkannya. Hal ini diriwayatkan dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

11. Menggerakkan jari telunjuk. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: « لهي أشد على الشيطان من الحديد »
Hal itu adalah lebih berat bagi setan dari besi“. Memberi isyarat dengan jari telunjuk mengingatkan seorang hamba akan keesaan Allah Ta’ala dan ikhlas dalam ibadah. Inilah yang perkara terbesar yang dibenci setan.Kita berlindung pada Allah dari kejahatannya.

12. Variasi dalam membaca surat, ayat, dzikir dan doa dalam shalat. Metode ini akan memberikan berbagai macam makna dan kandungan dari ayat dan dzikir-dzikir bagi orang yang shalat. Selain itu merupakan hal dituntunkan dan lebih menyempurnakan kekhusyu’an.

13. Melakukan sujud tilawah ketika melewati ayat-ayat sajdah. Allah berfirman:

وَيَخِرُّونَلِلْأَذْقَانِيَبْكُونَوَيَزِيدُهُمْخُشُوعًا [الإسراء: 109]

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. [Al-Israa/17: 109]

Dan Allah berfirman:

إِذَاتُتْلَىعَلَيْهِمْآيَاتُالرَّحْمَنِخَرُّواسُجَّدًاوَبُكِيًّا [مريم: 58]

“Apabila dibacakan ayt-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”  [Maryam/19: 58]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِي النَّارُ  [رواه مسلم].

Jika anak Adam membaca ayat sajdah lalu bersujud, maka setan menyingkir dan menangis. Ia mengatakan: “Aduhai, anak Adam diperintahkan sujud, lalu bersujud, maka baginya surga, sedangkan aku diperintahkan sujud lalu aku membangkang, maka bagiku neraka”  (H.R Muslim)

14. Berlindung diri pada Allah dari godaan setan. Setan adalah musuh kita. Diantara bentuk permusuhannya adalah upayanya memberikan wis was supaya hilang kekhusyu’an orang yang shalat dan mengacaukan shalatnya. Setan ibarat penyamun, setiap kali seorang hamba mendekatkan diri pada Allah, maka setan ingin memotong jalan tersebut. Sudah selayaknya atas seorang hamba untuk tegar dan sabar serta senantiasa berdzikir dan shalat dan tidak merasa jemu. Karena dengan keistiqamahannya beribadah akan memalingkan tipu daya setan darinya.

إِنَّكَيْدَالشَّيْطَانِكَانَضَعِيفًا [النساء: 76]

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah” [An-Nisaa/4: 76]

15. Bercermin pada shalatnya kaum salafus sholeh.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu jika menghadiri shalat, merasa takut dan wajahnya berubah. Maka beliau di tanya: “Ada apa denganmu? ” Maka beliau menjawab: “Demi Allah telah datang waktu amanah yang Allah tawarkan pada langit dan bumi serta gunung-gunung, mereka semua menolak untuk memikulnya dan merasa keberatan, tetapi aku malah menerimanya”.

Sa’id at-Tanukhi jika shalat tetesan air matanya tidak terhenti dari kedua pipinya ke janggutnya.

16. Mengetahui keutamaan khusyu dalam shalat. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Seorang muslim yang menghadiri shalat fardhu lalu ia baguskan wudhunya, khusyu dan rukuknya, melainkan itu sebagai kafarat atas dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar. Ini adalah untuk sepanjang masa” (H.R Muslim)

17. Bersungguh-sungguh dalam berdoa terutama di waktu sujud. Allah berfirman:

ادْعُوارَبَّكُمْتَضَرُّعًاوَخُفْيَةً [الأعراف: 55]

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” [Al-A’raaf/7: 55]

Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ [رواه مسلم]

Sedekat-dekat hamba dengan Tuhannya yaitu ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa” (H.R Muslim)

18. Berdzikir seusai shalat, ini akan membantu tetapnya atsar (pengaruh)kekhusyu’an dalam jiwa dan keberkahan yang terdapat dalam shalat.

Kedua : Menhindarkan hal-hal yang menghalangi kekhusyu’an atau menodai kesuciannya
19. Menghilangkan apa yang menyibukkan pandangan di tempat orang yang shalat. Anas Radhiyallahu anhu berkata:

كَانَ قِرَامٌ ( ستر فيه نقش وقيل ثوب ملون ) لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ : « أَمِيطِي – أزيلي – عني فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي » [رواه البخاري]

Qiram (tirai yang ada lukisannya ada juga yang mengatakan pakaian yang berwarna) milik ‘Aisyah yang digunakan untuk penutup/tirai di samping rumahnya. Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Hindarkanlah ia dariku, karena lukisan tersebut tampak dalam shalatku” (H.R Bukhari)

20. Tidak shalat dengan mengenakan pakaian yang bergambar atau bertuliskan atau berwarna yang dapat mengganggu orang yang shalat. ‘Aisyah Radhiyallahu anha : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengenakan pakaian yang bercorak/bergaris, maka beliau memandang pada coraknya. Seusai shalat beliau bersabda:

اذْهَبُوا بهذِه الخَمِيصَةِ إلى أبِي جَهْمِ بنِ حُذَيْفَةَ وائْتُونِي بأَنْبِجَانِيِّهِ – وهي كساء ليس فيه تخطيط ولا تطريز ولا أعلام -،فإنَّهَا ألْهَتْنِي آنِفًا في صَلَاتِي  [رواه مسلم].

Bawalah pakaian ini ke Abu Jahm bin Hudzaifah, dan tukarlah dengan pakaian yang tidak bercorak, karena tadi shalatku terganggu karenanya” (H.R Muslim)

21. Tidak shalat jika ada hidangan makanan yang ia sukai. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا صلاة بحضرة طعام [رواه مسلم]

Tidak ada shalat jika makanan telah dihidangkan” (H.R Muslim)

22. Tidak shalat dengan menahan kencing atau buang air besar. Tidak diragukan lagi, diantara hal yang bertentangan dengan kekhusyu’an adalah orang yang shalat dengan menahan kencing atau berak. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu. Beliau bersabda:

لا صَلاَةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ [صحيح مسلم]

Tidak ada shalat jika makanan telah dihidangkan dan tidak pula dalam keadaan ia menahan dua hal yang buruk (maksudnya kencing dan buang air besar)” (H.R Muslim)

Sikap menahan tersebut tentu akan menghilangkan kekhusyu’an. Termasuk dalam hal ini adalah menahan angin/kentut.

23. Tidak shalat dalam keadaan mengantuk. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إذَا نَعَسَ أحَدُكُمْ في الصَّلَاةِ فَلْيَنَمْ، حتَّى يَعْلَمَ ما يَقْرَأُ  [رواه البخاري]

Jika salah seorang dari kalian mengantuk ketika shalat, maka hendaklah ia tidur, sampai ia mengetahui apa yang ia ucapkan (maksudnya dalam shalat)” (H.R Bukhari)

24. Tidak shalat di belakang orang yang sedang berbicara atau tidur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini dengan sabdanya: “Janganlah kalian shalat di belakang orang yang sedang tidur atau sedang berbicara, karena orang yang sedang berbicara sibuk dengan pembicaraannya dan mengganggu orang yang shalat sedangkan orang yang sedang tidur, terkadang tampak anggota badannya sehingga melalaikan orang yang shalat. Apabila kemungkinan di atas tidak terjadi, maka tidak dimakruhkan shalat di belakang orang yang sedang tidur. Wallahu a’lam.

25. Tidak sibuk dengan meratakan kerikil. Imam Bukhari meriwayatkan dari Mu’aiqib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada orang yang meratakan tanah ketika bersujud: “Jika engkau hendak melakukan maka cukup sekali saja” . Sebab larangan ini adalah untuk memelihara kekhusyu’an dan tidak banyak bergerak dalam shalat. Lebih utama jika tempat sujud itu memang perlu dibersihkan agar membersihkannya sebelum shalat.

26. Tidak mengeraskan bacaan karena dapat mengganggu jamaah shalat lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ [رواه أبو داود]

Ketauhilah, masing-masing dari kalian bermunajat pada tuhannya, maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain, atau beliau bersabda: (dalam shalat) (H.R Abu Dawud)

27. Tidak menoleh ketika shalat. Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa ada di hadapan seorang hamba dalam shalatnya selama ia tidak menoleh. Jika ia berpaling, maka Allah berpaling darinya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tanya tentang menoleh dalam shalat, maka beliau bersabda: “Itu adalah satu sambaran/curian setan dari shalat seorang hamba” (H.R Bukhari)

28. Tidak memandang ke arah langit/ke atas. Terdapat larangan tentang hal ini dan ancaman bagi pelakunya dalam sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika salah seorang dari kalian sedang shalat, maka jangan mengangkat pandangannya ke langit” (H.R Ahmad).   Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal itu dengan sabdanya: “Kalian menghentikan perbuatan tersebut atau pandangan kalian akan di sambar”  (H.R Bukhari)

29. Tidak meludah ke arah depannya ketika shalat. Karena hal tersebut berlawanan dengan kekhusyua’an dalam shalat dan adab pada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا كانَ أحَدُكُمْ يُصَلِّي فلا يَبْصُقْ قِبَلَ وجْهِهِ، فإنَّ اللَّهَ قِبَلَ وجْهِهِ إذَا صَلَّى  [رواه البخاري]

Jika salah seorang dari kalian sedang shalat, maka jangan meludah ke depannya, karena Allah ada di hadapannya ketika ia shalat” (H.R Bukhari)

30. Berupaya agar tidak menguap ketika shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا تَثاءَبَ أحَدُكُمْ في الصَّلاةِ، فَلْيَكْظِمْ ما اسْتَطاعَ، فإنَّ الشَّيْطانَ يَدْخُلُ  [رواه مسلم]

Jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaklah ia tahan sekuatnya, karena setan bisa masuk” (H.R Muslim)

31. Tidak meletakkan tangan pada pinggang dalam shalat. Dari Abu Hurairah bahwa

نَهَى أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meletakkan tangan pada pinggang dalam shalat.

32. Tidak memanjangkan pakaian hingga menyentuh tanah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

نَهَى عَنْ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ [رواه أبو داود]

Melarang memanjangkan pakaian hingga menyentuh tanah dan seseorang yang menutup mulutnya. (H.R Abu Dawud)

33. Tidak menyerupai hewan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang tiga hal dalam shalat : Duduk seperti binatang buas. Sujud seperti burung yang mematuk (makanannya). Seseorang yang menjadikan satu tempat khusus di masjid untuk shalatnya, ini menyerupai onta, yang mana ia tidak merubah tempat berdiamnya.

Inilah apa yang dapat kami sampaikan tentang faktor-faktor yang bisa mendatangkan kekhusyu’an dan hal-hal yang bisa menghalangi kekhusyu’an agar kita bisa menghindarinya. Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi kita Muhammad.

[Disalin dari  سببا للخشوع في الصلاة  (edisi Indonesia : 33 Faktor yang Membuahkan Kekhusyuan Dalam Shalat). Penulis Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid  Penerjemah Muhammad Latif, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

Anda Bebas Memilih

ANDA BEBAS MEMILIH

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma Ba’du:

Terkadang ada orang yang terlihat bersedekah dan menyantuni orang lain, tapi kadang juga dirinya sangat pelit. Jika anda dituntut untuk memberi komentar pada orang tadi dan ditanya apakah dia itu orang dermawan atau orang yang pelit? Anda akan termenung sejenak, ragu untuk memastikan jawabannya, karena yang diketahui orang tersebut kadang berbuat baik, penyantun tapi kadang dirinya juga sangat pelit.

Seperti itulah kiranya perilaku manusia. Sesungguhnya perilaku yang muncul dari setiap orang diantara kita, tentulah merupakan keputusan menusia itu sendiri, dia bebas memilih sesukanya, baik itu dalam hal berpakaian, memilih makanan dan minuman, berbicara, bergaul, bermaksiat dan seterusnya.

Di sisi lain dia juga merasakan adanya perilaku yang muncul yang dirinya merasa terkungkung tidak ada pilihan lain, seperti hatinya yang berdenyut, tubuhnya yang tumbuh,, darahnya mengalir, sistem pencernaan, sistem syaraf dan pernafasan, maka kesemua itu tidak ada pilihan baginya, namun sebetulnya apa alasan itu semua? Apakah sebetulnya manusia itu dikendalikan atau bebas memilih, coba kita perhatikan, sesungguhnya didalam diri kita ada yang menunjukan pada jawaban yang pertama ada pula yang kedua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ  [الذريات: 21]

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. [adz-Dzariyaat/51: 21].

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengistimewakan manusia dari makhluk lainnya karena manusia dibekali dengan akal. Jika diklasifikasikan maka makhluk tersebut menjadi empat golongan;

  1. Golongan yang tidak mempunyai akal serta nafsu syahwat, golongan ini ada pada benda padat dan tumbuhan.
  2. Dan golongan yang memiliki akal namun tidak memiliki nafsu, golongan ini adalah para malaikat.
  3. Lalu golongan yang memiliki nafsu syahwat akan tetapi tidak memiliki akal, dan dia adalah binatang.
  4. Kemudian terakhir golongan yang punya akal dan syahwat, golongan ini adalah manusia.

Maka bila ditilik, jelas diantara makhluk-makhluk tersebut maka yang paling mulia adalah manusia yang Allah Shubhanahu wa ta’alla karuniakan akal, dan diutus pada mereka para rasul, serta diturunkan kitab suci, supaya mereka beribadah kepada Rabbnya, sehingga dirinya mendapat kemenangan dengan kebahagian didunia dan diakhirat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal tersebut didalam firman-Nya:

قال الله تعالى: إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ  [فصلت: 30-32] 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan menyatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat/41: 30-32].

Adapun benda mati, sesungguhnya ada padanya tubuh, warna dan ukurannya, sedangkan tumbuhan pun demikian cuma memiliki kelebihan bisa tumbuh berkembang, dan binatang memiliki itu semua dan mempunyai kelebihan dengan perasaan dan bisa bergerak, adapun manusia maka dirinya mempunyai itu semua dan dibedakan dengan akal yang bisa untuk membedakan antara dua hal, yaitu bisa membedakan mana yang menurutnya bermanfaat dan mana yang menurutnya membahayakan, dirinya bebas memilih.

Maka jika diperhatikan dalam diri manusia terkumpul padanya dari sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang.[1]

Dan apa yang dimiliki oleh sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang maka itu semua tidak ada kekuasaan padanya, tidak ada pilihan baginya selama-lamanya. Maka jelas manusia itu memiliki tubuh, warna dan ukuran, seperti benda padat, dan dalam hal ini merupakan sesuatu yang dikendalikan, tidak ada pilihan, begitu pula manusia tumbuh seperti tumbuhan, maka ini juga dikendalikan, selanjutnya manusia juga punya perasaan dan bergerak, didalam tubuhnya bekerja sistem pencernaan, urat syaraf, darah, dan pernafasan, maka itu semua juga dikendalikan tidak ada pilihan, seperti halnya hewan yang juga tidak punya pilihan.

Dan ini merupakan klimaks dari rahmat dan kasih sayang-Nya, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan seluruhnya berada pada pemeliharaan dan penjagaan-Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak membiarkan manusia begitu saja, sebab manusia butuh tidur, kadang lupa, terkadang melemah kondisinya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyindir hal itu melalui firman -Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ  [الأنبياء: 42]

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) yang Maha Pemurah?” sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka”.[al-Anbiyaa’/21: 42].

Sehingga apa yang ada pada manusia dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda mati, tumbuhan dan binatang, maka manusia dikendalikan, terkontrol didalamnya dengan rahmatnya Allah azza wa jalla.

Lantas kapan manusia itu dikatakan bebas memilih?

Manusia berada dalam kondisi bebas memilih dalam lingkup permasalahan yang berkaitan dengan akal saja. Akal yang ketika dihadapkan padanya hukum dari suatu perbuatan, berupa perintah dan larangan, maka dia bebas memilih lalu membedakan antara melakukan yang berupa perintah atau larangan. Dirinya bebas memilih apa yang menurutnya baik, sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا  [الإنسان: 29]

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya”. [al-Insaan/76: 29].

Demikian pula dalam firman -Nya yang lain:

قال الله تعالى:  وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ  [الكهف: 29]

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [al-Kahfi/18: 29].

Maka apabila dirinya telah mengetahui kebenaran lantas dia mengikutinya maka surga untuknya, tapi, jika dirinya kufur terhadap kebenaran tadi maka baginya neraka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  [البقرة: 38-39]

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [al-Baqarah/2: 38-39].

Dari sini kita mengetahui bahwa beban taklif tidak mungkin dipikulkan melainkan kepada orang yang berakal, jika seandainya hilang akal yang bisa membedakan antara dua hal, antara baik dan buruk, benar dan salah, jujur dan dusta, maka beban taklif tersebut diangkat. Bukankah kita tahu bahwa tidak ada beban taklif pada orang gila, anak kecil dan orang yang sedang tidur, dikarenakan fungsi akal telah hilang atau belum adanya kesadaran pada orang tadi.

Dan dalam hal ini Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ » [أخرجه أحمد و النسائي]

Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan, orang yang tertidur sampai dirinya terbangun, anak kecil sampai dirinya dewasa, dan orang gila sampai dirinya sembuh“. HR Ahmad no: 24694. Nasa’i 6/156.

Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghalalkan bagi kita perkara-perkara yang baik, serta mengharamkan yang jelek-jelek, menyuruh kita untuk menikah, dan melarang untuk berbuat zina, menganjurkan untuk berkata jujur dan melarang berkata dusta, menyuruh untuk beriman, dan memperingatkan jangan sampai kufur. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ [ النحل: 36 ]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.  [an-Nahl/16: 36].

Disinilah peran akal dibutuhkan untuk bekerja, dirinya bebas memilih antara dua jalan, maka menjadikan pahala dan siksaan yang didapat sesuai dengan pilihannya.

Dan perlu dipahami bahwa akal seseorang itu sangat terbatas kapasitasnya tidak mampu mengetahui semua kejadian, tidak bisa bebas untuk mengetahui setiap yang mendatangkan manfaat baginya, serta yang membahayakan, maka dengan diutusnya para rasul, dan diturunkannya kitab suci, akan menuntun serta membimbing akal tersebut sesuai dengan apa yang mendatangkan manfaat didunia dan diakhiratnya nanti.

Dan bukan berarti bebas memilihnya seorang hamba itu keluar dari kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak ada sesuatupun dimuka bumi tidak pula dilangit yang mampu membuat-Nya lemah. Baginya kedaulatan mutlak dalam mencipta, mengatur serta menyuruh, kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki untuk memberi petunjuk seluruh manusia niscaya kesampaian, tidak ada yang mampu mencegah -Nya, dan tidak ada yang mampu menolak hokum-Nya, Allah menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ فَلِلَّهِ ٱلۡحُجَّةُ ٱلۡبَٰلِغَةُۖ فَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ  [الأنعام: 149]

“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika -Dia menghendaki, pasti -Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. [al-An’aam/6: 149].

Akan tetapi, dengan hikmah Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak melakukan hal itu, namun membiarkan mereka sesuai dengan pilihannya, membiarkan mereka dengan amal perbuatannya, setelah Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan pada mereka kebenaran, supaya ibadah yang mereka kerjakan berdasarkan pilihan mereka bukan paksaan dan tekanan, semua itu dilakukan dalam rangka ujian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla. Allah menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢ إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرٗا وَإِمَّا كَفُورًا [الإنسان: 2-3]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. [al-Insaan/76: 2-3].

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan mahluk menjadi dua macam:

  1. Mahluk yang dijadikan untuk senantiasa didalam ketaatan kepada -Nya, dan itu ada pada seluruh makhluk kecuali manusia dan jin.
  2.  Yang kedua adalah makhluk yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kebebasan untuk menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya, antara beriman atau kufur, taat atau memaksiati, mereka itu adalah manusia dan jin. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ    [الذريات: 56-58]

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada -Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi -Ku makan.  Sesungguhnya Allah -Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. [adz-Dzariyaat/51: 56-58].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyukai hamba yang datang kepada-Nya dalam kondisi memilih sendiri, sedangkan hamba tersebut bisa untuk tidak mendatangin-Nya. Maha Bijaksana Allah Shubhanahu wa ta’alla lagi Maha mengetahui dalam penciptaan dan perintah-Nya. Sebagaimana di jelaskan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٞ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ  [الحج: 18]

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinasakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang -Dia kehendaki”. [al-Hajj/22: 18].

Maka manusia bebas memilih sekehendak dirinya, maka kembali hasilnya antara menjadi orang yang berbahagia atau orang yang sengsara diakhirat kelak berdasarkn pilihannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى: لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [البقرة: 256]

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Baqarah/2: 256].

[Disalin dari خلق الله الإنسان مختارًا  (edisi Indonesia : Anda Bebas Memilih). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad . Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
_______
Footnote
[1]. Al-Qur’an, Mu’jizah wa Manhaj karya asy-Sya’rawi.