Author Archives: editor

Beriman Kepada Kitab-Kitab

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB

Beriman kepada kitab-kitab, yaitu membenarkan dengan mantap bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab kepada nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya sebagai petunjuk untuk hamba-hamba-Nya. Kitab-kitab tersebut berasal dari kalam-Nya secara hakekat. Dan sesungguhnya apa yang dikandungnya adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya. Di antaranya ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan namanya di dalam Kitab-Nya, dan di antaranya ada yang tidak mengetahui nama dan jumlahnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jumlah kitab-kitab samawiyah yang disebutkan di dalam al-Qur`an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam al-Qur`an bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab berikut ini:

  1. Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim Alaihissallam.
  2. At-Taurat: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Musa Alaihissallam.
  3. Az-Zabur : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Daud Alaihissallam.
  4. Al-Injil : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa Alaihissallam.
  5. Al-Qur`an: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk semua manusia.

Hukum beriman dan beramal dengan kitab-kitab samawiyah yang telah lalu.
Kita percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab ini, membenarkan yang shahih dari berita-beritanya seperti berita-berita al-Qur`an, dan berita-berita yang belum diganti atau dirubah dari kitab-kitab terdahulu. Kita mengamalkan hukum-hukum yang belum dinasakh darinya disertai ridha dan berserah diri. Dan apa-apa yang tidak kita ketahui namanya dari kitab-kitab samawiyah, kita beriman dengannya secara umum.

Semua kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Injil dan Zabur dan selainnya sudah dinasakh dengan al-Qur`an al-‘Azhim, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ [المائدة/48]

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. [Al-Maidah/5:48]

Apa yang ada di tangan Ahli Kitab yang dinamakan Taurat dan Injil, tidak benar menyandarkan semuanya kepada Nabi-Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-rasul-Nya. Telah terjadi penyimpangan dan perubahan dalam keduanya, seperti mereka menyandarkan anak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kaum Nashrani menjadikan Isa Alaihissallam sebagai tuhan, memberi sifat kepada al-Khaliq dengan sifat yang tidak pantas dengan kebesaran-Nya, menuduh para nabi, dan semisal yang demikian itu. Maka wajib menolak semua itu dan tidak beriman kecuali dengan apa yang datang pembenarannya di dalam Al-Qur`an atau sunnah (Al-Hadits).

Apabila Ahli Kitab menceritakan kepada kita, maka janganlah kita membenarkan dan jangan pula mendustakan mereka. Dan kita berkata: Kami beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Jika yang mereka katakan adalah benar, kita tidak mendustakan mereka. Dan jika yang mereka katakan adalah batil, kita tidak membenarkan mereka.

Hukum beriman dan mengamalkan al-Qur`an al-Karim.
Al-Qur`an al-Karim yang telah diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada penutup dan paling utama dari para rasul, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup kitab samawi, paling agung, paling sempurna, paling bijaksana. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk dan rahmat bagi semesta alam.

Ia adalah kitab paling utama. Malaikat paling utama, Jibril Alaihissallam turun dengannya kepada makhluk paling utama yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada umat paling utama yang dikeluarkan untuk manusia, dengan bahasa paling utama dan paling fasih, yaitu bahasa Arab yang jelas. Setiap orang wajib beriman dengannya, mengamalkan hukum-hukum-Nya, beradab dengan adab-adabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amal ibadah dengan selainnya setelah turunnya (al-Qur`an) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi jaminan terpeliharanya. Maka, ia terpelihara dari penyimpangan dan perubahan, dan dari tambahan dan kekurangan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال الله تعالى: إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ  [الحجر/9]

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [Al-Hijr/15:9]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ  [الشعراء/192- 195]

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam,  dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),  ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,  dengan bahasa Arab yang jelas. [Asy-Syu’araa/26:192- 195]

Kandungan-kandungan ayat-ayat al-Qur`an.
Ayat-ayat al-Qur`an mengandung penjelasan segala sesuatu, yaitu berita atau tuntutan. Dan berita terbagi dua.

  1. Berita tentang al-Khaliq (Sang Maha Pencipta), nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan perkataan-perkataan-Nya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Berita tentang makhluk, seperti langit dan bumi, arsy dan kursi, manusia dan binatang, benda padat dan tumbuhan, surga dan neraka. Berita para nabi dan rasul serta para pengikut dan musuh mereka, dan balasan setiap golongan dan yang semisal dengan itu.

Tuntutan terbagi dua.
1. Perintah hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti shalat, puasa, dan   perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain.

2. Larangan dari menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan dari apa-apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti riba, perbuatan-perbuatan keji, dan larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya.

Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala puji dan syukur, untuk-Nya nikmat dan karunia, di mana Dia telah mengutus kepada kita Rasul paling utama dan menurunkan kepada kitab-Nya yang paling utama, serta menjadikan kita umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ [الزمر/23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. [Az-Zumar/39:23] 

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ [آل عمران/164]

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Ali ‘Imraan/3:164]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Beriman Kepada Para Rasul

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Beriman kepada para rasul, yaitu membenarkan dengan hati yang mantap bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (utusan) yang mengajak mereka hanya beribadah/menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan kufur dengan apa-apa yang disembah selain-Nya. Dan sesungguhnya mereka semua adalah utusan yang benar, dan telah menyampaikan semua risalah yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Di antara mereka ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan namanya dan ada yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahuinya.

Pendidikan para nabi dan para pengikut mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik para nabi dan pengikut-pengikut mereka agar pertama-tama mereka bersungguh-sungguh (berusaha) atas diri mereka untuk mendapatkan iman dengan ibadah, membersihkan diri, berpikir, tafakkur, sabar dan berkorban dengan segala sesuatu untuk agama, mengeluarkan dan meninggalkan untuk meninggikan kalimah Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai sempurna iman di dalam kehidupan mereka. Dan datang keimanan di dalam hati mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta segala sesuatu, di Tangan-Nya segala sesuatu. Hanya Dia Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah. Kemudian mereka berusaha (bersungguh-sungguh) memelihara iman dengan lingkungan yang shaleh, seperti masjid yang diramaikan dengan iman dan amal-amal shaleh.

Kemudian mereka berusaha untuk menunaikan kebutuhan agama dan kebutuhan mereka dengan cara mengambil faedah dari iman. Maka mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama mereka di mana saja mereka berada, menolong, memberi rizqi, dan mendukung mereka, seperti terjadi pertolongan bagi kaum muslimin di Perang Badar, penaklukan Kota Makkah, Perang Hunain, dan selainnya. Mereka bertawakkal (berserah diri) kepada-Nya dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian mereka berusaha menyebarkan iman di antara kaum mereka, dan orang-orang yang mereka diutus kepadanya agar mereka hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, mengajarkan hukum-hukum-Nya, dan membaca kepada mereka ayat-ayat Rabb mereka.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ  [الجمعة/ 2- 4]

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  Demikianlah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Subhanahu wa Ta’alamempunyai karunia yang bersar. [Al-Jum’ah/62:2-4]

Rasul : Yaitu orang yang diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syari’at dan diperintah-Nya untuk menyampaikan syari’at itu kepada orang yang tidak mengetahuinya atau orang yang mengetahui tentang syariat itu tetapi tidak mau melaksanakannya.

Nabi : Yaitu orang yang diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syari’at yang terdahulu untuk memberi tahu kepada orang-orang yang berada di sekitarnya dari para penganut syari’at tersebut dan memperbaharuinya. Setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya.

Pengutusan para Nabi dan Rasul
Setiap umat tidak pernah kosong dari seorang rasul yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syari’at tersendiri kepada kaumnya atau seorang seorang nabi yang diberikan wahyu kepadanya dengan syari’at sebelumnya agar ia memperbaharuinya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala(saja), dan jauhilah Thagut itu…[An-Nahl/16:36]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ [المائدة/44]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka  [Al-Ma`idah/5:44]

Jumlah para Nabi dan Rasul

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Jumlah Para Nabi dan Rasul

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Jumlah para Nabi dan Rasul.
Para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salaam sangat banyak jumlahnya.

Di antara mereka ada yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala nama-nama mereka di dalam al-Qur`an dan menceritakan kepada kita berita-berita mereka. Mereka berjumlah 25 orang.

1. Adam Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا  [طه/115]

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. [Thaha/20:115]

2-10. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyebutkan sebagian nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya:

قال الله تعالى ذاكراً بعض أنبيائه ورسله عليهم الصلاة والسلام: {وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83) وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86) وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87) ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (88) أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ} [الأنعام/83- 89].

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.  Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,  dan Zakaria, Yahaya, ‘Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh,  dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),  (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-Nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’alayang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian.. [Al-An’aam/6:83-89]

20. Idris Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا  [مريم/56]

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang di sebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. [Maryam/19:56]

21. Hud Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ  [الشعراء/123- 125]

Kaum Aad telah mendustakan para rasul.  Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu [Asy-Syu’ara/26:123-125]

22. Shaleh Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ (141) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ (142) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ  [الشعراء/141- 143]

Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.  Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kapada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. [Asy-Syu’araa/26:141-143]

23. Syu’aib Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ (176) إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ (177) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ  [الشعراء/176- 178]

Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul;  ketika Syu’aib berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?,  Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu [Asy-Syu’araa/26`:172-178]

24. Dzulkifli Alaihissallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ  [ص/48]

Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik  [Shaad/38:48]

25. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا [الأحزاب/40].

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Ahzaab/33:40]

Di antara para nabi dan rasul, ada yang tidak kita ketahui nama-nama mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menceritakan kepada kita tentang berita mereka, maka kita beriman kepada mereka secara umum.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى:وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ [غافر/78]

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. [Ghafir/40:78]

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ أبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمْ وَفَّى عِدَّةُ الْأَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: «مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا، الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ، جَمًّا غَفِيرًا». أخرجه أحمد والطبراني.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, berkata: ‘Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, berapakah sempurnanya bilangan para Nabi?” Beliau bersabda: ‘124.000, dari mereka ada 315 rasul. Jumlah yang banyak sekali.”HR. Ahmad dan ath-Thabrani.[1]

Ulul ‘Azmi dari para Rasul.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Shahih li ghairih. HR. Ahmad no 22644, dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir 8/217. lihat: ash-Shahihah no. 2668

Ulul Azmi Dari Para Rasul

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Ulul ‘Azmi dari para Rasul.
Ulul ‘Azmi dari para rasul ada lima orang dan mereka adalah: Nuh Alaihissallam, Ibrahim Alaihissallam, Musa Alaihissallam, Isa Alaihissallam, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan mereka dengan firman-Nya:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [الشورى/13]

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…..[Asy-Syura/42:13]

Rasul Pertama.
Agama para nabi dan rasul adalah satu dan syari’at mereka berbeda-beda. Yang pertama memberi kabar gembira tentang yang terakhir dari mereka dan beriman dengannya, dan yang terakhir  membenarkan yang pertama dan beriman dengannya.

Rasul yang pertama kali adalah Nuh.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 قال الله تعالى: وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ  [آل عمران/81]

Dan (ingatlah), ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja  yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu” Mereka menjawab:”Kami mengakui”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:”Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.[Ali Imran/3:81]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ [النساء/163]

Sesungguhnya Kami telah mamberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi Shallallahu wa ‘alaihi wa sallam yang kemudiannya. [An-Nisaa/4:163]

عن أبي هريرة رضي الله عنه- مرفوعاً- في حديث الشفاعة، وفيه أن آدم- صلى الله عليه وسلم- قال: «اذْهَبُوا إلَى نُوحٍ، فَيَأْتُونَ نُوحاً فَيَقُولُونَ: يَا نُوْحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسلِ إلَى أَهْلِ الأرْضِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  dalam hadits syafa’at, dan di dalamnya bahwa Nabi Shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah kepada Nuh, lalu mereka datang kepada Nuh, lalu mereka berkata: ‘Hai Nuh, engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi…” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Rasul terakhir.
Rasul terakhir adalah Muhammad Shallallahu wa ‘alaihi wa sallam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ [الأحزاب/40].

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi Shallallahu wa ‘alaihi wa sallam. Dan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Ahzaab/33: 40]

Kepada siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Nabi dan Rasul  
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul khusus hanya kepada kaum mereka, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ  [الرعد/7]

dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. [Ar-Ra’ad/13:7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Muhammad Shallallahu wa ‘alaihi wa sallam kepada semua umat manusia. Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, dan yang paling utama. Beliau adalah pemimpin keturunan Adam  dan pembawa bendera al-hamd (pujian) pada hari kiamat, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  [سبأ/28]

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba/34:28]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ  [الأنبياء/107]

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyaa/21:107]

Hikmah diutusnya para Nabi dan Rasul

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Muttafaqun ‘alaih. HR. al-Bukhari no 3340 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 194

Hikmah Diutusnya Para Nabi dan Rasul

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Hikmah diutusnya para Nabi dan Rasul
Mengajak manusia kepada menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala (saja), dan jauhilah Thagut itu”, …[An-Nahl/16 :36]

Menjelaskan jalan yang menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ  [الجمعة/2]

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Al-Jum’ah/62:2]

Menjelaskan kondisi manusia setelah sampai kepada Rabb mereka pada Hari Kiamat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (49) فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (50) وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ  [الحج/49- 51].

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu”.  Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia.  Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka. [Al-Hajj/22:49-51]

Mendirikan hujjah kepada manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ [النساء/165]

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah Subhanahu wa Ta’alasesudah diutusnya rasul-rasul itu. [An-Nisaa`/4: 165]

Rahmat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ  [الأنبياء/107]

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyaa/21`:107]

Sifat para Nabi dan Rasul.
Semua nabi dan rasul adalah laki-laki dari golongan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih dan menentukan serta menyaring mereka dari semua hamba-Nya. Dia memberi kelebihan kepada mereka dengan nubuwah dan risalah. Memperkuat mereka dengan mu’jizat. Memberi kemuliaan kepada mereka dengan risalah, membebani mereka dengannya, dan menyuruh mereka menyampaikan risalah tersebut kepada manusia agar mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan meninggalkan penyembahan selain-Nya, dan Dia menjanjikan kepada mereka surga atas hal itu. Sungguh mereka –‘alahimush shalatu was salam– telah berbuat jujur dan menyampaikan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 قال الله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [النحل/43]

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An-Nahl/16:43]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ [آل عمران/33].

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’alatelah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). [Ali ‘Imran/3:33]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala (saja), dan jauhilah Thagut itu”, … [An-Nahl/16 :36]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kepada semua nabi dan rasul agar berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Dia menentukan syari’at bagi setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا [المائدة/48]

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. … [Al-Maidah/5 :48]

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih para nabi dan rasul, Dia memberi sifat kepada mereka dengan ubudiyah (penghambaan) kepada-Nya pada tingkatan tertinggi, sebagaimana Dia katakan tentang Muhammad pada maqam tanzil:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا  [الفرقان/1]

Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. [Al-Furqaan/25:1]

Dan Dia berfirman pada Nabi Isa bin Maryam Alaihissallam:

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ  [الزخرف/59].

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk Bani Israil. [Az-Zukhruf/43:59]

Sesungguhnya semua nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah manusia yang diciptakan, mereka makan dan minum, lupa, tidur, bisa sakit dan akan meninggal dunia. Mereka tidak berbeda dengan manusia lainnya, tidak mempunyai sedikitpun dari sifat-sifat rububiyah dan uluhiyah. Mereka tidak bisa memberi manfaat dan bahaya kepada seseorang kecuali apa yang telah dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mempunyai sedikit pun dari khazanah (perbendaharaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mengetahui yang gaib kecuali apa-apa yang diperlihatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [الأعراف/188]

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. [Al-A’raaf/7:188]

Keistimewaan Para Nabi dan Rasul

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Keistimewaan Para Nabi dan Rasul

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Keistimewaan Para Nabi dan Rasul alaihimush shalatu was salam:
Para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah manusia paling suci hatinya, paling cerdas akalnya, paling benar imannya, paling baik akhlaknya, paling sempurna agamanya, paling kuat ubudiyahnya, paling sempurna tubuhnya, dan paling tampan rupanya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan mereka dengan beberapa keistimewaan, yang terpenting adalah:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka dengan wahyu dan risalah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قال الله تعالى: اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ [الحج/75]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia …[Al-Hajj/22:75]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ [الكهف/110]

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. [Al-Kahfi/18:110]

2. Sesungguhnya mereka dipelihara dari kesalahan pada apa-apa yang mereka sampaikan kepada manusia yaitu aqidah dan hukum. Jikalau mereka keliru, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala meluruskan mereka kepada yang haq dan benar.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) [النجم/1- 5]

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. [An-Najm/53:1-5]

3. Sesungguhnya mereka tidak bisa diwaris setelah kematian mereka.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقةً». متفق عليه.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan menjadi sedakah.’ Muttafun ‘alaih.[1]

4. Mata mereka tidur dan hati mereka tidak tidur.

عن أنس رضي الله عنه في قصة الإسراء-وفيه- فقال أنس: وَالنَّبِيُ- صلى الله عليه وسلم- نَائِمَةٌ عَينَاهُ، وَلا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ، وَلا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ. أخرجه البخاري

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dalam cerita Isra`: ‘Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur kedua matanya tetapi tidak tidur hatinya. Demikian pula para nabi, mata mereka tidur tapi hati mereka tidak tidur.”HR. al-Bukhari.[2]

5. Sesungguhnya mereka diberi pilihan di antara dunia dan akhirat saat akan meninggal dunia.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إلا خُيِّرَ بَينَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ». متفق عليه

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada seorang nabi yang sakit kecuali diberi pilihan antara dunia dan akhirat.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

6, Mereka dikuburkan di tempat mereka meninggal dunia.

عن أبي بكر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «لَنْ يُقْبَرَ نَبِيٌّ إلا حَيْثُ يَمُوتُ». أخرجه أحمد

Dari Abu Bakar Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan dikuburkan seorang nabi kecuali di tempat ia meninggal dunia” HR. Ahmad.[4]

7. Bumi tidak dapat memakan jasad mereka.

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Dari Aus bin Aus Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya hari terbaik kalian adalah hari Jum’at…’

Dan dalam hadits ini: Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ

Hai Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur? Mereka mengatakan: engkau telah hancur.

Beliau menjawab:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan jasad para Nabi kepada bumi.” HR. Abu Daud.[5]

8. Mereka tetap hidup di kubur mereka dan melakukan shalat.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِم يُصَلُّونَ». أخرجه أبو يعلى

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap hidup di kubur mereka, melaksanakan shalat.’ HR. Abu Ya’la.[6]

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الكثيبِ الأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ». أخرجه مسل

Dari Anas  Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku melewati Musa Alaihissallam pada malam aku diisra`kan di sisi tumpukan pasir merah sedang shalat di dalam kuburnya.” HR. Muslim.[7]

9. Istri-istri mereka tidak boleh dikawini setelah mereka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا … [الأحزاب/53]

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Al-Ahzaab/33:53]

Wajib beriman kepada semua nabi dan rasul. Barang siapa kafir kepada salah seorang dari mereka, berarti dia kafir kepada semuanya. Wajib membenarkan apa-apa yang shahih dari mereka yaitu berita-berita mereka, mengikuti mereka dalam kebenaran iman, sempurna tauhid dan akhlak yang baik. Dan wajib mengamalkan syari’at nabi yang diutus kepada kita dari mereka, yaitu penutup dan sebaik-baik yang diutus kepada semua manusia dan alam semesta, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا  [النساء/136]

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An-Nisaa/4`:136]

Manfaat beriman kepada para Nabi dan Rasul
Mengenal rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada manusia. Di mana Dia Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul kepada manusia yang memberi petunjuk untuk menyembah Rabb, dan bagaimana manusia menyembah-Nya.

Di antaranya: Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini.

Di antaranya: mencintai rasul dan memuji mereka tanpa berlebihan; karena mereka adalah utusan-utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya, dan memberi nasihat kepada hamba-hamba-Nya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 6730 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 1757
[2] HR. al-Bukhari no. 3570
[3] HR. al-Bukhari no 4586 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2444
[4] Shahih. HR. Ahmad no. 27. lihat Shahih al-Jami’ no. 5201
[5] Shahih. HR. Abu Daud no 1047, Shahih Sunan Abu Daud no. 925
[6] HR. Abu Ya’la no 3425. lihat: as-Silsilah al-Ahadits Shahihah no. 621
[7] HR. Muslim no. 2375

Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

MUHAMMAD RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Nasab dan Pertumbuhannya.
Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Dilahirkan di Mekkah pada tahun gajah, bertepatan tahun 570 M. Bapaknya Abdullah meninggal dunia sedangkan beliau masih berada di perut ibunya. Tatkala dilahirkan beliau dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Ibunya meninggal dunia, beliau baru berusia enam tahun. Tatkala kakeknya meninggal dunia, beliau dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dengan akhlak yang agung, perilaku yang baik. Sehingga kaumnya memberi gelar al-Amin kepadanya. Di usia empat puluh tahun, Muhammad menjadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala datang al-Haqq kepadanya ketika sedang berada di gua Hira.

Kemudian beliau mulai berdakwah untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya, hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Lalu beliau menerima berbagai macam gangguan. Beliau tetap sabar hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan agama-Nya. Beliau hijrah ke Madinah. Lalu disyari’atkan segala hukum, kemudian Islam menjadi mulia dan agama menjadi sempurna.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal tahun ke sebelas Hijriyah, ketika berumur 63 tahun. Bertemu dengan ar-Rafiq al-A’laa (Allah Subhanahu wa Ta’ala) setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah dengan jelas, menunjukkan kepada umat atas segala kebaikan dan memberi peringatan dari segala kejahatan. Semoga sholawat dan salam tetap terlimpah pada beliau.

Keistimewaan-keistimewaan Nabi Shallallau ‘alaihi wa sallam.
Di antara keistimewaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau adalah penutup para nabi, pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertaqwa. Risalahnya berlaku umum kepada bangsa jin dan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam. Beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis. Dinaikkan ke atas langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya dengan sifat nubuwah (kenabian) dan risalah.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- قال: «أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوراً، فَأيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أمَّتِي أدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ المَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لأحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إلَى النَّاسِ عَامَّةً». متفق عليه.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seseorang sebelum aku: Aku diberi pertolongan dengan takutnya (musuh) dari jarak perjalanan satu bulan. Bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan alat bersuci. Siapapun juga dari umatku yang bertemu waktu shalat maka hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta ganimah untukku dan tidak dihalalkan kepada seseorang sebelumku. Aku diberi syafaat. Seorang Nabi hanya diutus kepada kaumnya saja dan aku diutus kepada semua manusia. “Muttafaqun ‘alaih.[1]

Di antara keistimewaan beliau tetapi tidak bagi umatnya adalah: menyambung puasa, nikah tanpa mahar, nikah lebih dari empat orang istri, tidak memakan harta sedekah, dia mendengar apa yang tidak didengar manusia, dan melihat apa yang tidak bisa dilihat manusia, sebagaimana beliau melihat Jibril Alaihissallam menurut bentuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan atasnya, dan beliau tidak diwaris.

Permulaan wahyu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata :

عَنْ عَائِشَةَ أمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أنَّهَا قَالَتْ: أوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- مِنَ الوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إلَيْهِ الخَلاءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ، فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ-وَهُوَ التَّعَبُّدُ- اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ العَدَدِ قَبْلَ أنْ يَنْزِعَ إلَى أهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ المَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ، قال: «مَا أنَا بِقَارِئٍ.

“Pertama-tama yang dimulai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari wahyu adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Maka tidak pernah beliau melihat mimpi kecuali ia datang seperti fajar yang menyingsing. Kemudian ia dijadikan suka kepada menyendiri (berkhulwat). Beliau menyendiri di gua Hira. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beribadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang sebelum kembali kepada keluarganya, dan mengambil bekal untuk hal itu. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kepada Khadijah Radhiyallahu anha, lalu mengambil bekal lagi. Sampai datang kepada beliau al-Haqq, dan beliau sedang berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya seraya berkata, ‘Bacalah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

قال: «فَأخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ، ثُمَّ أرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ، قلت: مَا أنَا بِقَارِئٍ»، فَأخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ، ثُمَّ أرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ، فَقلت: «مَا أنَا بِقَارِئٍ»، فَأخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أرْسَلَنِي فَقَالَ: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)}.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu ia mengambilku, memelukku hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Lalu ia mengambilku, memelukku yang kedua kali hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka ia mengambilku, lalu memelukku yang ketiga kalinya. Kemudian ia melepasku seraya berkata,

 ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  [العلق: ١،  ٣]

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. [Al-‘Alaq/96:1-3]

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضي الله عنها فَقَالَ «زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي». فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأخْبَرَهَا الخَبَرَ: «لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي». فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلا وَاللهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أبَدًا، إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang seraya gemetar. Lalu ia masuk kepada Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu anha seraya berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku’. Maka, mereka menyelimutinya sampai hilang rasa takut darinya. Beliau berkata kepada Khadijah r.a dan menceritakan semuanya: ‘Sungguh aku merasa khawatir terhadap diriku. Khadijah Radhiyallahu anha berkata, ‘Sama sekali tidak. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah tidak akan menghinakanmu. Sesungguhnya engkau menyambung silaturrahim, memikul yang kesusahan, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong di atas kebenaran.

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أسَدِ ابْنِ عَبْدِالعُزَّى، ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ، وَكَانَ امْرَءاً تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الكِتَابَ العِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإنْجِيلِ بِالعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللهُ أنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ، فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: يَا ابْنَ عَمِّ، اسْمَعْ مِنِ ابْنِ أخِيكَ. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا ابْنَ أخِي مَاذَا تَرَى؟ فَأخْبَرَهُ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- خَبَرَ مَا رَأى.

Lalu pergilah Khadijah Radhiyallahu anha bersamanya hingga membawanya kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah (saudara sepupu). Dia adalah seorang yang beragama Nashrani di masa jahiliyah. Dia pandai menulis kitab berbahasa Ibrani. Dia menulis dari Injil dengan bahasa Ibrani, apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Dia seorang tua renta yang telah buta. Khadijah Radhiyallahu anha berkata kepadanya, ‘Hai anak pamanku, dengarlah dari anak saudaramu.’ Waraqah berkata kepadanya, ‘Hai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepadanya apa yang dilihatnya.

فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللهُ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعاً، لَيْتَنِي أكُونُ حيّاً إذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-: «أوَمُخْرِجِيَّ هُمْ». قال: نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إلا عُودِيَ، وَإنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّراً. ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الوَحْيُ. متفق عليه.

Waraqah berkata kepadanya. ‘Ini adalah an-Namus (Jibril Alaihissallam) yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Musa Alaihissallam. Andaikan aku masih muda pada saat itu. Andaikan aku masih hidup saat kaummu mengusirmu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ Ia menjawab, ‘Benar, tidak ada seseorang yang datang membawa seperti yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Jika aku masih hidup sampai saat itu, niscaya aku membelamu dengan pembelaan yang kuat.’ Kemudian tidak berapa lama, Waraqah meninggal dunia dan terhenti wahyu.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

Istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 335 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 521.
[2]  HR. Al-Bukhari no. 3 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 160

Istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

MUHAMMAD RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ummahatul Mu’minin (Ibu-ibu kaum mukminin) adalah istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Semuanya adalah muslimah, baik, bersih, suci, bebas dari keburukan yang mencemari kehormatan mereka. Mereka adalah:

خديجة بنت خويلد، وعائشة بنت أبي بكر، وسَودة بنت زَمْعة، وحفصة بنت عمر، وزينب بنت خزيمة، وأم سلمة، وزينب بنت جحش، وجويرية بنت الحارث، وأم حبيبة بنت أبي سفيان، وصفية بنت حيي، وميمونة بنت الحارث رضي الله عنهن أجمعين

Khadijah binti Khuwailid, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam’ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anhunna ajma’in (semoga Allah meridhai mereka semuanya).

مات قبله منهن خديجة، وزينب بنت خزيمة، وتوفيت الباقيات بعده

Yang meninggal sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah dan yang lainnya meninggal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وأفضل أزواجه- صلى الله عليه وسلم- خديجة وعائشة رضي الله عنهن أجمعين

Istri-istrinya yang paling utama adalah Khadijah Radhiyallahu anha dan ‘Aisyah Radhiyallahu anha.

Anak-anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
1, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai tiga orang anak laki-laki: ( القاسم، وعبد الله، من خديجة، وإبراهيم من سُرِّيَّته مارية القبطية  =al-Qasim dan Abdullah dari Khadijah, serta Ibrahim dari jariyahnya Mariyah al-Qibthiyah). Semuanya meninggal dunia saat masih kecil.

2, Adapun anak perempuan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai empat orang putri: ( زينب ورقية وأم كلثوم وفاطمة وكلهن وُلدن من خديجة  = Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Semuanya dilahirkan dari Khadijah) Semuanya sempat menikah dan meninggal dunia sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali Fathimah, ia meninggal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya adalah muslimah, baik, dan suci radhiyAllahu ‘anhunn ajma’in.

Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik. Mereka mempunyai keutamaan besar di atas semua umat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam-Nya. Mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka berdiri membela dan menolong Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Berhijrah karena agama. Memberikan tempat kediaman dan pertolongan karena agama. Berjihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa mereka. Hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Yang paling mulia dari mereka adalah kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ، وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ». متفق عليه

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengiringi mereka, kemudian yang mengiringi mereka. Kemudian datang beberapa kaum yang persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.’Muttafaqun ‘alaih.[1]

Mencintai Sahabat-sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Wajib kepada setiap orang muslim mencintai mereka semua dengan hati, memuji mereka dengan lisan, mendoakan rahmat atas mereka, memintakan ampun untuk mereka, menahan diri tentang pertentangan di antara mereka, dan tidak mencela mereka. Hal itu karena mereka mempunyai kebaikan dan keutamaan, ma’ruf dan ihsan, membela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan taat dan jihad fi sabilillah, berdakwah kepada-Nya, berhijrah dan membela, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka semua.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة/100].

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ  [الأنفال/74]

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfal/8:74]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَباً مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلا نَصِيفَهُ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kamu mencela sahabatku, janganlah kamu mencela sahabatku. Demi (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang diriku berada di Tangan-Nya, jikalau sesungguhnya seseorang di antara kamu memberi nafkah emas seperti bukit Uhud (banyaknya), niscaya ia tidak bisa menyamai satu mud atau setengah mud salah seorang dari mereka.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no 2652 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2533.
[2]  HR. al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 2540 dan ini adalah lafazhnya.

Percaya Kepada Hari Akhir

PERCAYA KEPADA HARI AKHIR

Hari akhir adalah hari kiamat yang pada hari itu Allah Subhanahu wa Ta’al bangkitkan semua makhluk untuk dihisab dan diberi balasan.

Dinamakan dengan nama itu karena tidak ada lagi hari sesudahnya. Di tempat menetapnya penghuni surga di dalam surga dan penghuni neraka di dalam neraka.

Nama-nama hari akhir yang paling terkenal.
Hari kiamat, hari kebangkitan, hari pemisah, hari keluar, hari pembalasan, hari yang kekal, hari hisab, hari yang dijanjikan, hari berkumpul, hari taghabun, hari pertemuan, hari tanaad, hari kerugian, teriakan, bencana besar, al-Ghasyiyah, al-Waaqi’ah, al-Haaqqah, al-Qaari’ah.

Percaya Kepada Hari Akhir
Yaitu membenarkan dengan mantap setiap apa yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya dari apa-apa yang akan terjadi pada hari yang besar tersebut, yaitu kebangkitan, digiring, dihisab (dihitung amal perbuatan), titian, timbangan, surga, neraka, dan selain yang demikian itu dari apa-apa yang berlaku pada hari Kiamat.

Termasuk dengan hal itu apa yang ada sebelum mati berupa tanda-tanda hari kiamat, dan apa-apa yang ada setelah kematian berupa fitnah kubur, siksa dan nikmat kubur.

Keagungan Hari Kiamat
Percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari Kiamat termasuk rukun iman yang terbesar. Di atas keduanya beserta rukun iman lainnya tempat peredaran istiqamah manusia, keberuntungan dan kebahagiannya di dunia dan akhirat. Dan karena begitu pentingnya dua rukun ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak sekali menyertakan di antara keduanya dalam ayat-ayat al-Qur`an:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ [الطلاق/2]

Demikianlah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan hari akhirat.. [Ath-Thalaaq/65: 2]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ [النساء/87]

Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. [An-Nisaa/4:87]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ [النساء/59]

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala(al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan hari kemudian.. [An-Nisaa/4:59]

Fitnah Kubur

عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: خرجنا مع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- في جنازة…..-وفيه- قال النبي- صلى الله عليه وسلم- «وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولانِ لَهُ: مَا دِيْنُكَ؟ فَيَقُولُ: دِيْنِيَ الإسْلامُ، فَيَقُولانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيْكُمْ؟ قَالَ: فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-…». أخرجه أحمد وأبو داود

Dari al-Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada satu jenazah…’ -dan pada hadits ini-, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dan datanglah kepadanya dua orang malaikat, lalu keduanya mendudukkannya, lalu bertanya kepadanya: ‘Siapa Rabbmu? Ia menjawab, ‘Rabb-ku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.’Keduanya bertanya kepadanya, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Agamaku Islam.’ Keduanya bertanya lagi, ‘Siapa laki-laki yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam‘ HR. Ahmad dan Abu Daud.[1]

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «العَبْدُ إذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقَولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ- صلى الله عليه وسلم-؟ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. فَيُقَالُ: انْظُرْ إلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَداً مِنَ الجَنَّةِ». قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «فَيَرَاهُمَا جَمِيعاً، وَأَمَّا الكَافِرُ أَوِ المنَافِقُ فَيَقُولُ: لا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لا دَرَيْتَ وَلا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ إلا الثَّقَلَيْنِ». متفق عليه.

Dari Anas  Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya dan ditinggalkan serta teman-temannya telah pergi, sehingga ia mendengar suara sendal mereka. Datanglah kepadanya dua orang malaikat, lalu keduanya mendudukkannya seraya bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu katakan pada laki-laki ini (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?’ Ia menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.’ Dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggantikan engkau dengannya satu tempat di surga.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,’Maka ia melihat keduanya secara bersama-samaAdapun orang kafir atau munafik, ia berkata, ‘Saya tidak tahu, dahulu aku mengatakan apa yang dikatakan manusia.’ Dikatakan: ‘Kamu tidak tahu dan tidak membaca, kemudian ia dipukul dengan palu besar dari besi satu pukulan di antara dua telinganya. Maka ia berteriak yang bisa didengar orang yang berada di sekelilingnya kecuali jin dan manusia.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Siksa kubur terbagi dua
1. Siksa yang terus menerus, tidak pernah berakhir hingga hari kiamat, yaitu siksa kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para pengikut Fir’aun:

قال الله تعالى: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ  [غافر/46]

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat(Dikatakan kepada malaikat):”Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras”. [Ghafir/40:46]

2. Siksa yang berlangsung satu kurun waktu, kemudian berakhir. Yaitu siksa kepada orang-orang bertauhid yang berdosa, maka ia mendapat siksa sesuai dosanya. Kemudian siksa tersebut diringankan darinya, atau terputus (secara total) disebabkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau adanya penebus-penebus dosa yaitu berupa sedekah jariyah, atau ilmu yang berguna, atau anak shalih yang berdoa untuknya, atau semisal yang demikian itu.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ أَحَدَكُمْ إذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالغَدَاةِ وَالعَشِيِّ، إنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ إلَيه يَومَ القِيَامَةِ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya apabila meninggal salah seorang dari kamu, diperlihatkan kepadanya tempat duduknya di pagi dan sore hari. Jika ia termasuk (calon) penghuni surga maka dari penghuni surga, dan jika ia adalah (calon) penghuni neraka maka dari penghuni neraka. Dikatakan: inilah tempat dudukmu sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membangkitkan engkau kepada-Nya di hari kiamat.’Muttafaqun ‘alaih.[3]

Nikmat kubur.
Nikmat kubur diperuntukkan bagi orang-orang beriman yang jujur.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  [فصلت/30]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’alakepadamu” [Fushshilat/41:30]

عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال في المؤمن إذا أجاب الملكين في قبره: «… فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ، أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَافْرِشُوهُ مِنَ الجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إلَى الجَنَّةِ، قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيْبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ». أخرجه أحمد وأبو داود

Dari al-Barra` bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan pada seorang mukmin, apabila dia telah menjawab pertanyaan dua malaikat di kuburnya: …Maka penyeru dari langit mengatakan: bahwa benarlah hamba-Ku, berilah ia kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukalah untuknya satu pintu ke surga. Beliau bersabda, ‘Maka datanglah dari aroma dan wangi-wangiannya (surga), dan diluaskan untuknya di kuburnya sejauh matanya memandang.’ HR. Ahmad dan Abu Daud.[4]

Ada beberapa perkara yang menyelamatkan seorang mukmin dari huru-hara dalam kubur, fitnahnya, dan siksanya seperti: mati syahid fi sabilillah, ribath (berjaga malam fi sabilillah), orang yang meninggal karena penyakit perut dan semisalnya.

Tempat menetapnya ruh setelah meninggal dunia hingga hari kiamat:
Ruh-ruh di alam barzakh memiliki perbedaan-perbedaan besar: di antaranya ruh-ruh yang berada di a’la Illiyiin (tingkat tertinggi) dalam kelompok tertinggi, yaitu ruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salaam, mereka berbeda-beda dalam kedudukan mereka.

Di antaranya, ruh-ruh yang berada pada bentuk burung yang bergantung di pohon surga, yaitu ruh orang-orang yang beriman.

Di antaranya, ruh-ruh yang berada di talih (paruh) burung hijau yang berjalan-jalan di surga, yaitu ruh sebagian orang-orang mati syahid (syuhada).

Di antaranya, ruh-ruh yang ditahan di dalam kubur, seperti orang yang menyembunyikan harta ghanimah. Di antaranya ada yang ditahan di atas pintu surga disebabkan hutang yang ditanggungnya. Di antaranya ada yang ditahan di dalam bumi disebabkan ruhnya yang rendah.

Di antaranya, ruh-ruh yang berada di dalam tungku api para pezinah.

Di antaranya, ruh-ruh yang berenang di sungai darah dan menelan batu, mereka adalah para pemakan riba… dst.

Tanda-Tanda Hari Kiamat Kecil

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih. HR.  Ahmad no 18733 dan Abu Daud no 4753 dan ini lafazhnya, Shahih Sunan Abi Daud no 3979.
[2] Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no 1338 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2870
[3] Muttafaqun ‘alaihi. HR. Bukhari no. 1379 dan Muslim no. 2866 dan ini adalah lafazhnya.
[4] Shahih. HR. Ahmad no. 18733 dan ini adalah lafazhnya. Dan Abu Daud no 4753, Shahih Sunan Abu Daud no 3979.

Tanda-Tanda Hari Kiamat Kecil

PERCAYA KEPADA HARI AKHIR

Tanda-Tanda Hari Kiamat.
Pengetahuan tentang hari kiamat.
Pengetahuan tentang waktu hari kiamat tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا  [الأحزاب/63]

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“. Dan tahukah kamu hai (Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. [Al-Ahzaab/33:63)

Tanda-tanda hari kiamat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan informasi tentang tanda-tanda dan ciri-ciri yang mengindikasikan sudah dekatnya hari kiamat, yaitu tanda-tanda yang kecil dan besar.

Tanda-Tanda Hari Kiamat Kecil
Tanda-tanda hari kiamat yang kecil itu ada tiga bagian.
1. Tanda-tanda yang sudah terjadi dan telah berkahir.
Di antaranya: Diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalnya, terbelahnya bulan sebagai tanda (mukjizat) bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, penaklukan Baitul Maqdis, keluarnya api di tanah Hijaz.

عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «اعْدُدْ سِتّاً بَيْنَ يَدَي السَّاعَةِ، مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ المَقْدِسِ…» . أخرجه البخاري

Dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hitunglah enam di antara tanda hari kiamat, kematianku, kemudian takluknya Baitul Maqdis, …”HR. al-Bukhari.[1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الحِجَازِ تُضيءُ أَعْنَاقَ الإبِلِ بِبُصْرَى». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari kiamat tidak terjadi sehingga (terlebih dahulu) keluar api dari bumi Hijaz yang menerangi punuk unta di Bushra”. Muttafaqun ‘alaih.[2]

2. Tanda-tanda yang sudah nampak dan masih tetap berlangsung.
Diantaranya : Nampaknya fitnah-fitnah, munculnya orang-orang yang mengaku menjadi nabi, tersebarnya keamanan, dipegangnya ilmu syara’, nampaknya kebodohan, banyaknya polisi dan pembantu kezaliman, nampaknya alat-alat musik dan menghalalkannya, nampaknya perzinahan, banyak orang yang minum arak dan menghalalkannya, orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, penggembala kambing berlomba-lomba dalam bangunan, manusia berbangga-bangga terhadap masjid dan perhiasannya, banyak terjadi peperangan, waktu terasa amat dekat, menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, orang-orang jahat ditinggikan dan orang-orang baik dan terpilih direndahkan, dibuka perkataan dan disimpan amal ibadah, pasar saling berdekatan, nampak kesyirikan pada umat ini, banyak kebakhilan, banyak dusta, banyak harta, meluasnya perdagangan, banyak terjadi gempa, orang yang amanah dianggap khianat dan orang khianat diberi amanah, nampaknya perbuatan keji, terputusnya silaturrahim, buruknya hubungan antar tetangga, terangkatnya orang-orang rendah, menjual hukum, menyerahnya orang-orang khusus, menuntut ilmu kepada orang-orang kecil, nampanya(?) pena, munculnya wanita-wanita berpakaian namun telanjang, banyaknya saksi palsu, banyaknya kematian mendadak, tidak berusaha mencari rizqi yang halal, bumi Arab kembali menjadi  hijau dan sungai-sungai, berbicaranya binatang buas kepada manusia, laki-laki berbicara kepada lumut cambuknya dan tali sendalnya, dan pahanya mengabarkannya dengan apa yang dibicarakan keluarganya sesudahnya, Iraq dikepung dan dihalangi darinya makanan dan uang, kemudian Syam dikepung dan dihalangi darinya makanan dan uang, kemudian terjadi perdamaian di antara kaum muslimin dan bangsa Roma, kemudian bangsa Roma melanggar perjanjian.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسولَ الله- صلى الله عليه وسلم- وهو مستقبلُ المشرقِ يقولُ: «أَلا إنَّ الفِتْنَةَ هَاهُنَا، أَلا إنَّ الفِتْنَةَ هَاهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menghadap arah Timur, seraya bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu berasal dari sini. Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu di sini. Dari tempat munculnya tanduk syetan.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

3, Tanda-tanda yang belum nampak dan akan terjadi tanpa diragukan.
Seperti yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah:
Sungai Eufrat menyingkap gunung emas, takluknya Konstantinopel tanpa senjata, memerangi bangsa Turki, memerangi kaum Yahudi dan menangnya kaum muslimin terhadap mereka, seorang laki-laki keluar dari Qahthan menghalau manusia dengan tongkatnya dan mereka taat kepadanya, sedikitnya laki-laki dan banyaknya wanita sehingga bagi lima puluh orang wanita hanya seorang penanggung jawab, orang-orang jahat keluar dari Madinah kemudian hancur setelah itu..

Di antaranya, munculnya al-Mahdi, yaitu seorang laki-laki dari ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkuat agama dengannya, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi kezaliman. Menjadi raja selama tujuh tahun. Umat merasakan nikmat di masanya dengan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Muncul di wilayah Timur dan dibai’at di Baitullah.

Di antaranya lagi adalah runtuhnya Ka’bah lewat tangan seorang laki-laki dari Etiopia yang diberi nama Dzus Suwaiqitain, kemudian tidak pernah dibangun lagi sesudahnya itu. Wallahu ‘Alam.

Semua yang telah kami sebutkan berupa tanda-tanda yang telah lewat dijelaskan dengan hadits-hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanda-Tanda Hari Kiamat Besar

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 3176.
[2]  Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari no 7118 dan Muslim no. 2902.
[3]  Muttafaqun ‘alaihi HR. al-Bukhari no. 7093, dan Muslim no. 2905 dan ini adalah lafazhnya.