Author Archives: editor

Roj’ah (Rujuk)

ROJ’AH (RUJUK)

Roj’ah: Pengembalian wanita yang telah dicerai selain bain kepada ikatan sebelumnya tanpa akad.

Hikmah disyari’atkannya roj’ah.
Terkadang talak itu bisa terjadi dalam keadan marah dan dorongan, bisa terjadi hal tersebut timbul tanpa difikirkan dan diperkirakan terlebih dahulu akan akibat dari perceraian tersebut, serta apa yang akan terjadi setelahnya dari kerugian maupun kerusakan, oleh karena itu Allah mensyari’atkan rujuk untuk kembali kepada kehidupan bersuami isteri, rujuk merupakan hak bagi suami saja, sebagaimana talak.

Diantara kebaikan Islam adalah bolehnya bercerai dan bolehnya rujuk. Tatkala jiwa saling bertolak belakang dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan kehidupan bersuami-isteri, diperbolehkanlah talak, ketika hubungan telah semakin membaik dan airpun telah kembali pada jalurnya, diperbolehkanlah rujuk, bagi Allah-lah segala Pujian serta Karunia.

Allah berfirman:

قال الله تعالى: {وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا} [البقرة/228]

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah”  [Al-Baqarah/2: 228]

Syarat sahnya rujuk.

  1. Wanita yang dicerai sudah pernah disetubuhinya.
  2. Talak tersebut masih dalam jumlah yang diperbolehkan, seperti talak yang kurang dari tiga.
  3. Talak tersebut tanpa imbalan dari fihak isteri, jika dia sambil menerima imbalan, maka talak tersebut menjadi bain.
  4. Rujuk tersebut terjadi ketika masih dalam iddah, dari nikah yang sah.

Rujuk bisa terjadi dengan perkataan, seperti: saya telah merujuk isteriku, atau saya telah memegangnya kembali, dan lainnya. Diapun bisa terjadi dengan perbuatan, seperti persetubuhan yang diniatkan dengannya rujuk.

Disunnahkan untuk mendatangkan saksi dua orang adil ketika mentalak maupun merujuk, namun keduanya tetap sah tanpa adanya saksi. Wanita yang ditalak roj’i masih berstatus isteri selama masih dalam iddahnya, dan waktu rujuk akan berakhir dengan berakhirnya masa iddah.

Rujuk tidak membutuhkan adanya wali, mahar, ridho isteri dan tidak pula harus untuk mengetahuinya.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Nikah dan Permasalahan Terkait كتاب النكاح وتوابعه). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Shalat Sunnah

SHALAT SUNNAH

Di antara rahmat Allah kepada hambanya adalah bahwa Allah mensyari’atkan bagi setiap kewajiban, sunnah yang sejenis; agar orang mukmin bertambah imannya dengan melakukan yang sunnah, dan menyempurnakan yang wajib pada hari kiamat, karena kewajiban-kewajiban mungkin ada yang kurang.

Shalat ada yang wajib dan ada yang sunnah, puasa ada yang wajib dan ada yang sunnah, demikian pula haji, sedekah dan lainnya, dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan yang sunnah-sunnah sehingga Allah mencintainya.

Shalat sunnah bermacam-macam:

  1. Ada yang disyariatkan berjamaah seperti shalat tarawih, istisqa’, shalat kusuf, dan shalat ied.
  2. Ada yang tidak disyariatkan berjamaah seperti shalat istikharah.
  3. Ada yang mengikuti shalat fardhu seperti sunnah rawatib.
  4. Ada yang tidak mengikuti yang lain seperti shalat dhuha.
  5. Ada yang mempunyai waktu seperti shalat tahajjud.
  6. Ada yang tidak ditentukan waktunya seperti sunnah mutlak.
  7. Ada yang terikat dengan sebab, seperti tahiyatul masjid, dan dua rakaat wudhu’.
  8. Dan ada yang tidak terikat dengan sebab, seperti sunnah mutlak.
  9. Ada yang mu’akkad, seperti shalat ied, istisqa’, kusuf, dan shalat witir.
  10. Ada yang tidak mu’akkad seperti shalat sebelum maghrib dan lainnya.

Ini merupakan karunia Allah kepada hambanya, dimana Allah mensyari’atkan bagi mereka sarana mendekatkan diri kepadanya, dan menjadikan perbuatan taat berfariasi untuk meninggikan derajat dan menghapuskan kesalahan-kesalahan serta melipat gandakan kebaikan mereka. Maka bagi Allah segala puji dan syukur.

Sunnah Rawatib
Sunnah rawatib adalah : Shalat yang dilakukan sebelum atau setelah shalat fardhu, ia terbagi menjadi dua macam:

Sunnah rawatib adalah: shalat yang dilakukan sebelum atau setelah shalat fardhu, ia terbagi menjadi dua macam:

Sunnah rawatib mu’akkadah yaitu dua belas rakaat:

  1. Empat rakaat sebelum dhuhur.
  2. Dua rakaat setelah dhuhur.
  3. Dua rakaat setelah maghrib.
  4. Dua rakaat setelah shalat isya’.
  5. Dua rakaat sebelum subuh.

عن أم حبيبة رضي الله عنها زوج النبي- صلى الله عليه وسلم- أنها قالت: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي للهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعاً غَيْرَ فَرِيضَةٍ إلَّا بَنَى الله لَهُ بَيْتاً فِي الجَنَّةِ، أَوْ إلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ». أخرجه مسلم

Dari Ummu Habibah Radhiyallahu anha isteri nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata: aku mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «”Tidaklah seorang hamba muslim shalat sunnah bukan fardhu untuk Allah setiap hari dua belas rakaat, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga, atau kecuali dibangunkan baginya rumah di surga. (HR. Muslim)[1].

Terkadang shalat sepuluh rakaat sebagaimana di atas, akan tetapi shalat dua rakaat sebelum dhuhur.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ الظُّهْر سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ المَغْرِبِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ العِشَاءِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الجُمُعَةِ سَجْدَتَيْنِ، فَأَمَّا المَغْرِبُ وَالعِشَاءُ وَالجُمُعَةُ فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فِي بَيْتِهِ. متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata: «Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum dhuhur dua rakaat, dan setelahnya dua rakaat, setelah maghrib dua rakaat, setelah shalat isya’ dua rakaat, setelah shalat jum’at dua rakaat, adapun shalat maghrib, isya’, dan jum’at, maka aku shalat bersama nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. (Muttafaq alaih)[2].

Shalat rawatib yang tidak mu’akkad : Dilakukan namun tidak terus-menerus : dua rakaat sebelum ashar, maghrib, isya’, dan disunnahkan selalu shalat empat rakaat sebelum ashar.

Shalat sunnah mutlak disyari’atkan pada waktu malam dan siang, dua dua, dan yang paling utama adalah shalat malam.

Sunnah rawatib yang paling mu’akkad : Sunnah rawatib yang paling mu’akkad adalah dua rakaat fajar, dan sunnah dipersingkat, setelah membaca fatihah pada rakaat pertama disunnahkan membaca surat al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas.

Atau pada rakaat pertama membaca:

 قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ  [البقرة: ١٣٦] 

[Al-Baqarah/2: 136]

Dan pada rakaat kedua membaca:

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ [ال عمران: ٦٤] 

[Ali Imran/3: 64]

Dan terkadang membaca:

 فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٥٢ ﴾ [ال عمران: ٥٢]

[Ali Imran/3: 52]

Barangsiapa yang tidak melakukan sunnah ini karena ada halangan, disunnahkan mengqadha’nya.

Apabila seorang muslim wudhu’ dan masuk masjid setelah adzan dhuhur misalnya, dan shalat dua rakaat dengan niat shalat tahiyatul masijd, sunnah wudhu’, dan sunnah rawatib dhuhur, maka itu boleh.

Disunnahkan  memisahkan antara shalat fardhu dengan sunnah rawatib qabliyah atau ba’diyah dengan berpindah atau berbicara.

Shalat-shalat sunnah ini dilakukan di masjid atau di rumah, dan yang lebih utama dilakukan di rumah, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 «… فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاةِ صَلاةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إلَّا المَكْتُوبَةَ». متفق عليه.

…”Maka shalatlah wahai manusia di rumah kalian karena shalat yang paling utama adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (Muttafaq alaih)[3]

Boleh shalat sunnah sambil duduk walaupun mampu berdiri, dan shalat berdiri lebih  utama, adapun shalat fardhu, maka berdiri merupakan rukun kecuali bagi yang tidak mampu berdiri, maka ia shalat sesuai dengan kondisinya seperti telah diterangkan di atas.

Barangsiapa yang shalat sunnah sambil duduk tanpa ada halangan, maka ia mendapatkan separuh shalat berdiri, kalau ada halangan maka ia mendapat pahala seperti shalat berdiri, dan shalat sunnah sambil berbaring karena udzur maka pahalanya seperti shalat berdiri, dan jika tanpa udzur  maka mendapat separuh pahala shalat duduk.

Shalat Tahajjud

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih Muslim no (728).
[2] Shahih Bukhari no (937), Shahih Muslim no (729), ini adalah lafadznya.
[3] Shahih Bukhari no (731), ini adalah lafadznya dan Shahih Muslim no (781).

Shalat Tahajjud

SHALAT TAHAJJUD

Qiyamullail termasuk shalat sunnah mutlak, ia sunnah mu’akkadah, Allah memerintah rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.

Allah berfirman :

قال الله تعالى: {يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4)} [المزمل / 1- 4].

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” [Al-Muzammil/73: 1-4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قال الله تعالى: {وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (79)} [الإسراء/79]

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” [Al-Isra’/17: 79].

Allah menyebutkan sifat-sifat orang yg bertakwa bahwa mereka:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [الذاريات/17- 18]

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar” [Adz-Dzariyaat/51: 17-18].

Keutamaan Qiyamul Lail
Qiyamul lail merupakan amal yang paling utama, ia lebih utama daripada shalat sunnah di siang hari; karena di waktu sepi lebih ikhlas kepada Allah, dan karena beratnya meninggalkan tidur, dan kelezatan bermunajat kepada Allah Azza wajalla, dan di pertengahan malam lebih utama.

Allah berfirman.

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡ‍ٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا  [المزمل: ٦] 

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” [Al-Muzammil/73: 6]

Dari Amr bin Anbasah Radhiyallahu anhu bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

عن عمرو بن عبسة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ العَبْدِ جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ الله عَزَّ وَجَلَّ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ، فَإنَّ الصَّلاةَ مَحْضُورَةٌ مَشْهُودَةٌ إلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ..». أخرجه الترمذي والنسائي.

Sesungguhnya Allah paling dekat kepada hambanya adalah di tengah malam terakhir, kalau engkau bisa menjadi orang yang  berdzikir kepada Allah pada waktu itu maka lakukanlah, karena shalat pada waktu itu dihadiri dan disaksikan hingga terbit matahari…(HR. Tirmidzi dan Nasa’i)[1].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya.

وَسُئِلَ النبيُّ- صلى الله عليه وسلم- أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة؟ فقال: «أَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ المَكْتُوبَةِ، الصَّلاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ». أخرجه مسلم.

Shalat apa yg paling utama selain yang wajib? Beliau menjawab: “Shalat yang paling utama selain shalat wajib adalah shalat di tengah malam. (HR. Muslim)[2].

Di waktu malam ada saat dikabulkannya doa.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu berkata.

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ الله خَيْراً مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، إلَّا أَعْطَاهُ إيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ». أخرجه مسلم

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam ada satu saat dimana seorang hamba tidak memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah  pada saat itu, kecuali Allah memberikannya, dan ini ada pada setiap malam. (HR. Muslim)[3].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟». متفق عليه

Setiap malam tuhan kita turun ke langit dunia pada waktu sepertiga malam terakhir, Allah berkata: siapa yang berdoa kepadaku maka akan aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaku akan aku berikan, siapa yang mohon ampun padaku maka aku akan memberi ampunan kepadanya. (Muttafaq alaih)[4].

Disunnahkan bagi seorang muslim tidur dalam keadaan suci.

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Barangsiapa yang bermalam dalam keadaan suci maka malaikat ikut bermalam bersamanya, dan ia tidak bangun kecuali malailkat berkata: Ya Allah, ampunilah hambamu fulan, karena ia bermalam dalam keadaan suci“. (HR. Ibnu Hibban)[5].

Disunnahkan segera tidur, agar bisa bangun untuk shalat malam dengan segar, dan disunnahkan bangun ketika mendengar adzan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذَا هُوَ نَامَ ثَلاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ على مكان كُلِّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ الله انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيْطاً طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلانَ».
متفق عليه.

Apabila salah seorang dari kalian tidur, setan membuat tiga ikatan di kepalanya, ia mengatakan pada setiap ikatan, malam masih panjang maka tidurlah. Jika ia bangun dan berdzikir kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan, jika berwudhu’ maka lepas satu ikatan, dan jika shalat, lepas satu ikatan, maka ia masuk waktu pagi dengan segar dan jiwanya tenang, kalau tidak, maka ia masuk waktu pagi dengan jiwa yang tidak tenang dan malas”. (Muttafaq alaih)[6].

Seorang Muslim seharusnya berusaha bangun malam dan tidak meninggalkannya; karena nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamul lail hingga kakinya pecah-pecah.

Aisyah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ الله وَقَدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: «أَفَلا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْداً شَكُوراً». متفق عليه.

Mengapa engkau lakukan ini wahai rasulullah, padahal Allah telah mengampunimu dosamu yg telah lalu dan yg akan datang? Nabi berkata: “Tidakkah aku suka menjadi hamba yang bersyukur?  (Muttafaq alaih)[7].

Shalat Tahajjud.
Sebelas rakaat dengan witir, atau tiga belas rakaat dengan witir.

Waktu shalat Tahajjud.
Waktu malam paling utama adalah sepertiga malam terakhir, maka malam dibagi dua, kemudian anda bangun pada sepertiga pertama dari paruh kedua, kemudian tidur di akhir malam.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما: أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «أَحَبُّ الصَّلاةِ إلَى الله صَلاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلام، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إلَى الله صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوماً، وَيُفْطِرُ يَوماً». متفق عليه

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud, dan puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasanya Nabi Daud, beliau tidur separuh malam, bangun sepertiganya, tidur seperenamnya, dan berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. (Muttafaq alaih)[8].

Sifat shalat Tahajjud.
Disunnahkan sebelum tidur berniat qiyamullail, jika ia tertidur dan tidak bangun, maka ditulis baginya apa yg diniatkan, dan tidurnya merupakan sedekah dari tuhan kepadanya, dan jika bangun untuk shalat tahajjud, ia menghapuskan tidur dari wajahnya, dan membaca sepuluh ayat di akhir Surat al-Imran :

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ …..  [ال عمران: ١٩٠] 

Lalu bersiwak dan berwudhu’ kemudian memulai tahajjud dengan dua rakaat ringan; berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 إذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِح صَلاتَهُ بِرَكْعَتَينِ خَفِيْفَتَيْنِ. أخرجه مسلم.

Apabila salah seorang kalian bangun di waktu malam maka hendaklah memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan“. (HR. Muslim)[9]

Kemudian shalat dua rakaat-dua rakaat, dan salam setiap dua rakaat, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu anhu : ada seseorang yg berkata: wahai Rasulullah, bagaimana shalat malam? Beliau bersabada:

مَثْنَى مَثْنَى، فَإذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ. متفق عليه

Dua dua, apabila engkau khawatir tiba waktu subuh, maka shalat witirlah satu rakaat. (Muttafaq alaih)[10]

Boleh juga sekali-kali shalat empat rakaat dengan satu kali salam.

Disunnahkan mempunyai jumlah rakaat tertentu, jika ia tertidur dan tidak shalat maka diqadha’ dengan genap, Aisyah Radhiyallahu anha ditanya tentang shalat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam, beliau menjawab:

: سَبْعٌ، وَتِسْعٌ، وَإحْدَى عَشْرَةَ سِوَى رَكْعَتَي الفَجْرِ. أخرجه البخاري 

Tujuh, sembilan, dan sebelas, selain shalat dua rakaat fajar. (HR. Bukhari)[11].

Disunnahkan shalat tahajjud di rumahnya, membangunkan keluarganya, dan sekali-kali shalat mengimami mereka, memperpanjang sujudnya kira-kira selama membaca lima puluh ayat, jika mengantuk hendaklah tidur, dan disunnahkan memanjangkan berdiri dan membaca al-Qur’an, membaca satu juz al-Qur’an atau lebih, sekali-kali membaca dengan keras, dan sekali-kali pelan, jika membaca ayat tentang rahmat, hendaklah memohon rahmat, dan jika membaca ayat tentang adzab, hendaklah memohon perlindungan, dan jika membaca ayat yg mengandung  pensucian Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaklah bertasbih.

Kemudian mengakhiri tahajjudnya di waktu malam dengan shalat witir, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً. متفق عليه

Jadikanlah shalat terakhir kalian di waktu malam witir” (Muttafaq alaih)[12]

Shalat Witir

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi no: (3579), Shahih Sunan Tirmidzi no: (2833) dan Nasa’i no: (572), ini adalah lafadznya, Shahih Sunan Nasa’i no: (557).
[2] Shahih Muslim no: (1163)
[3] Shahih Muslim no: (757).
[4] Shahih Bukhari no: (1145), ini adalah lafadznya, dan Shahih Muslim no: (758)
[5] Hadist Hasan, riwayat Ibnu Hibban no: (1051), Lihat As-Silsilah As-Shahihah no: (2539)
[6] Shahih Bukhari no: (1142), ini adalah lafadznya dan Shahih Muslim no: (776)
[7] Shahih Bukhari no: (4837), ini adalah lafadznya dan Shahih Muslim no: (2820)
[8] Shahih Bukhari no: (1131), ini adalah lafadznya dan Shahih Muslim no: (1159)
[9] Shahih Muslim no: (728)
[10] Shahih Bukhari no: (1137), ini adalah lafadznya dan Shahih Muslim no: (749)
[11] Shahih Bukhari no: (1139)
[12] Shahih Bukhari no (998), Shahih Muslim no (751)

Fadhilah Zuhud Terhadap Dunia

FADHAIL AKHLAK

Fadhilah berbicara yang baik dan bermuka manis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ} [آل عمران/159]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu“. [Ali Imran/3: 159]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لا تَحْقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوفِ شَيْئاً وَلَو أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Jangan engkau meremehkan kebajikan walau sedikit, sekalipun engkau menemui saudaramu dengan muka yang ceria”. HR. Muslim. [1]

Fadhilah zuhud terhadap dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)} [العنكبوت/64]

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. [Al Ankabuut/29: 64]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتاً» متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad hanya makanan pokok”. Muttafaq ’alaih. [2]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ- صلى الله عليه وسلم- مُنْذُ قَدِمَ المَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ البُرِّ ثَلاثَ لَيَالٍ تِبَاعاً حَتَّى قُبِضَ. متفق عليه

Dari`Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata: “Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang makan roti dari gandum selama tiga hari berturut-turut semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah infaq di jalan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  [البقرة/ 262]

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati“. [Al-Baqarah/2: 262]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ إلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada satu haripun yang paginya  mendatangi para hamba melainkan dua orang malaikat turun, salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartnya”, dan yang lain berkata: “Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang tidak menginfakkan hartnya”. Muttafaq ’alaih. [4]

Fadhilah bersabar saat ditimpa musibah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا يَزَالُ البَلاءُ بِالمؤْمِنِ وَالمؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ، وَوَلَدِهِ، وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى الله وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ». أخرجه الترمذي

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cobaan akan senantiasa menghampiri orang yang beriman baik laki atau perempuan baik pada diri, anak dan hartanya sehingga dia menemui Allah Ta’ala sedangkan dia sudah tidak mempunyai dosa lagi.” HR. Tirmizi. [5]

Fadhilah banyak beramal kebajikan.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ اليَومَ صَائِماً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَاقَالَ: «فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ اليَومَ جَنَازَةً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا قَالَ: «فَمَن أَطْعَمَ مِنْكُمُ اليَومَ مِسْكِيناً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا. قَالَ: «فَمَن عَادَ مِنْكُمُ اليَوْمَ مَرِيضاً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إلَّا دَخَلَ الجَنَّةَ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah hari ini yang berpuasa? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang hari ini ikut ikut menguburkan jenazah? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Siapakah yang hari ini memberi makan orang miskin ? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang hari ini menjenguk orang yang sakit? Abu Bakar berkata: “Saya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah perbuatan ini terkumpul pada seseorang kecuali dia pasti masuk surga”. H.R. Muslim.[6]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه أنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ بَنَى مَسْجِداً للهِ بَنَى الله لَهُ فِي الجَنَّةِ مِثْلَهُ». متفق عليه

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, ia berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barangsiapa yang membangun mesjid karena Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya di surga bangunan yang serupa dengannya“. Muttafaq alaih. [7]

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2626.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :6460 dan  Muslim no hadist: 1055.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5416 dan  Muslim no hadist: 2970.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :1442 dan  Muslim no hadist: 1010.
[5] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tarmizi no hadist :2399.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 1028.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :450 dan  Muslim no hadist: 533.

Fadhail Al Quran Karim

FADHAIL AL-QURAN KARIM

Fadhilah Al-Quranul Karim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ } [الزمر/23]

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun“.[Az Zumar/39: 23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا } [الإسراء/9]

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar“, [Al Israa’/17: 9]

Fadhilah orang yang membaca Al-Quran serta mengamalkannya.

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «المؤمِنُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالمُؤْمِنُ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِه كَالتَّمْرَةِ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلا رِيحَ لَهَا، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَالحَنْظَلَةِ، طَعْمُهَا مُرٌّ أَوْ خَبِيثٌ وَرِيحُهَا مُرٌّ». متفق عليه

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum, rasanya manis, dan perumpamaan orang yang beriman tidak membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak ada bau, rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti buah Raihana, baunya harum, rasanya pahit, dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah Handzolah, tidak ada bau, rasanyapun pahit”. Muttafaq ’alaih. [1]

Fadhilah belajar dan mengajar Al-Quran.

عن عثمان رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ». أخرجه البخاري

Dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an”. HR. Bukhari. [2]

Fadhilah orang yang ahli Al-Quran.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «المَاهِرُ بِالقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الكَِرامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ». متفق عليه

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang membaca Al Qur’an dengan baik, bersama malaikat yang bertugas mengantarkan risalah (untuk  manusia) yang mulia lagi baik, dan orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, ia membacanya dengan sangat sulit, baginya dua pahala”. Muttafaq ’alaih. [3]

Fadhilah berkumpul untuk membaca Al-Quran .

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم- وفيه-: «… وَمَا اجْتَمَعَ قَومٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ الله، يَتْلُونَ كِتَابَ الله، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الملائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُه، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ». أخرجه مسلم

Dari Abu Huraira Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “…tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya bersama melainkan turun kepada mereka ketentraman, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan para mahluk yang berada  di sisi-Nya”. HR. Muslim. [4]

Fadhilah menjaga hafalan Al-Quran .

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «تَعَاهَدُوا القُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّياً مِنَ الإبِلِ فِي عُقُلِهَا». متفق عليه..

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:  “Jagalah Al Qur’an ini dengan terus menerus, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh dia (hapalan Al-Qur’an) lebih cepat hilang daripada seekor unta yang ditambatkan”. Muttafaq ’alaih. [5]

Fadhilah menangis saat membaca atau mendengarkan Al-Quran.

عن ابن مسعود  رضي الله عنه قال: قال لي النبي – صلى الله عليه وسلم-: ((اقرأ علي القرآن)) قلت: يا رَسُول اللَّهِ أقرأ عليك وعليك أنزل؟! قال: ((إني أحب أن أسمعه من غيري)) فقرأت عليه سورة النساء حتى جئت إلى هذه الآية: ﴿ فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا ٤١ ﴾ [النساء : ٤١]  قال: ((حسبك الآن)) فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Mas`ud Radhiyallahu anhu ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Berkata kepadaku: “Bacakan Al Qur’an untukku”, akupun bertanya: “Wahai Rasulullah, pantaskah aku membaca Al Qur’an untukkmu, sedangkan kepadamu diturunkan?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarbacaan Al Qur’an dari orang lain”, maka akupun mulai membaca surat An Nisaa’ hingga sampai pada ayat  41:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۢ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا  [النساء : ٤١]

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muahammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”.

Beliau bersabda: “Sekarang cukup”, lalu akupun menoleh kepada beliau, kedua matanya berlinang air mata”. Muttafaq ’alaih. [6]

Fadhilah Orang yang melaksanakan ajaran AlQuran.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا حَسَدَ إلَّا فِي اثْنَتَينِ: رَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله مَالاً، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ». متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Tidak dibenarkan iri hati kecuali kepada dua orang; seorang lelaki yang dberikan oleh Allah hapalan Al Qur’an dan dia membacanya sepanjang malam dan siang, dan seorang lelaki yang diberikan oleh Allah harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang”. Muttafaq ’alaih. [7]

Fadhilah membaguskan suara saat membaca AlQuran.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يقول: (مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ) . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Allah tidak mendengar sesuatu seperti Ia mendengar seorang nabi yang bersuara bagus melantunkan Al Qur’an dengan nyaring”. Muttafaq ’alaih. [8]

Fadhilah surat Al-Fatihah.

عن أبي سعيد رافع بن المعلي رضي الله عنه قال : … قلت: يا رَسُول اللَّهِ! إنك قلت لأعلمنك أعظم سورة في القرآن؟ قال: ﴿ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ﴾ [الفاتحة: ٢] هي السبع المثاني، والقرآن العظيم الذي أوتيته) رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abu Said Raafi’ bin Al Mu’ala Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mengatakan “Aku pasti akan mengajarimu satu surat yang paling agung di dalam Al Qur’an”, beliau bersabda:

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [الفاتحة: ٢] 

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”, surat ini adalah tujuh ayat yang  dibaca secara ulang-ulang dan surat Al Qur’an yang agung yang telah  diwahyukan kepadaku”. HR. Bukhari.[9]

Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن طلحة قال: سألت عبد الله بن أبي أوفى: آوْصَى النَبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-؟ فَقَالَ: لا، فَقُلْتُ كَيْفَ كُتِبَ عَلَى النَّاسِ الوَصِيَّةُ، أُمِرُوا بِهَا وَلَمْ يُوْصِ؟ قَالَ: أَوْصَى بِكِتَابِ اللهِ. متفق عليه.

Dari Thalhah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa,”Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat ? Dia berkata: “Tidak”. Aku berkata,”Bagaimana mungkin orang–orang diwajibkan berwasiat sedangkan beliau tidak berwasiat? dia berkata: “Beliau berwasiat (untuk berpegang) dengan kitabullah“. Muttafaq alaih. [10]

Fadhilah membaca Al-Quran.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «اقْرَؤُوا القُرْآنَ، فَإنَّهُ يِأتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعاً لأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: البَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَومَ القِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ البَقَرَةِ، فَإنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلا يَسْتَطِيعُهَا البَطَلَةُ». أخرجه مسلم

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al Qur’an karena di hari kiamat ia datang sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya. Bacalah Az Zahrawain, yaitu; surat Al Baqarah dan Ali Imran, nanti, di hari kiamat kedua surat tersebut datang bagaikan dua gumpalan awan, atau bagaikan dua rombongan burung yang terbang membentangkan sayapnya , membela orang yang selalu membacanya, bacalah surat al Baqarah, karena membacanya membawa keberkahan, dan meninggalkannya adalah penyesalan, dan tukang sihir tidak mampu menyihir orang yang membacanya”. HR. Muslim. [11]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إذَا رَجَعَ إلَى أَهْلِهِ، أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ؟» قُلْنَا نَعَمْ، قَالَ: «فَثَلاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sukakah salah seorang diantara kalian apabila kembali ke rumahnya mendapati tiga ekor unta gemuk besar yang sedang hamil? Kami berkata: “Tentu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya tiga ayat yang yang dibaca saat shalat lebih baik baginya daripada tiga ekor unta gemuk besar yang sedang hamil”. H.R. Muslim. [12]

عَنْ عبدِالله بنِ عَمْروٍ رَضِيَ الله عَنْهُما قالَ: قالَ رسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرآنِ اقْرَأ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا». أخرجه أبو داود والترمذي

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “(Kelak) akan dikatakan kepada orang yang sering membaca Al Qur’an: “Bacalah dan meninggilah, dan bacalah dengan tartil seperti engkau telah membacanya dahulu di dunia secara tartil karena sesungguhnya tempatmu di ayat terakhir yang engkau baca”. HR. Abu Daud dan Tirmizi. [13]

[Disalin dariمختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5059 dan  Muslim no hadist: 797.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5027.
[3] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4537 dan  Muslim no hadist: 798.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2699.
[5] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5033 dan  Muslim no hadist: 791.
[6] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5050 dan  Muslim no hadist: 800.
[7] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5025 dan  Muslim no hadist: 815.
[8] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5024 dan  Muslim no hadist: 792.
[9] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5006.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :5022 dan  Muslim no hadist: 1634.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 804.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 802.
[13] Hadist hasan shahih. diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist: 1664 dan Tarmizi no hadist : 2914.

Beberapa Fadhilah yang Berhubungan Dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

BEBERAPA FADHILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Fadhilah nasab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن واثلة بن الأسقع رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ الله اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشاً مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ». أخرجه مسلم

Dari Watsilah bin Al Asqa’ Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim”. H.R. Muslim.[1]

Nama-nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عن جبير بن مطعم رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّ لِيْ أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو الله بِيَ الكُفْرَ، وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ، وَأَنَا العَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ». وفي لفظ: «وَنَبِيُّ التَّوبَةِ، وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ». متفق عليه

Dari Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama; Aku adalah Muhammad, Aku Ahmad, Aku Al mahi (pengiki) Allah mengikis kekufuran dengan mengutusku, Aku Al hasyir (penghimpun) nanti di hari kiamat seluruh manusia berhimpun di bawah perintahku, Aku Al ‘aqib (penutup) tidak ada Nabi sesudahku” dalam riwayat yang lain: “Aku Nabi taubat, Aku Nabi pembawa  rahmat“. Muttafaq alaih. [2]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Nabi-Nabi yang Lain.
Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ طَهُوْراً وَمَسْجِداً، وَأُرْسِلْتُ إلَى الخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diberi kelebihan dari Nabi yang lain dengan enam hal: Aku diberi jawami’ul kalim (ucapan yang sedikit namun memiliki makna yang padat dan gelobal), Aku diberi kemenangan dengan (dicampakkannya) rasa takut (di dalam dada) para musuh, dihalalkan untukku harta rampasan perang, bumi dijadikan bagiku sebagai alat bersuci dan tempat shalat, Aku diutus kepada seluruh umat manusia dan Aku adalah penutup para nabi“. H.R. Muslim[3]

Hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَثَلِي وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَاناً فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ، وَيَعْجَبُونَ لَهُ، وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ، قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku bagai seseorang yang membangun bangunan, dimana dia mebangunnya dengan indah dan bagus, tinggal satu batu yang belum terpasang di salah satu sudutnya, orang-orang mengitari bangunan tersebut menikmati keindahannya, mereka berkata,” Duhai andai saja satu batu ini dipasang! akulah batu tersebut dan aku penutup para Nabi“. Muttafaq alaih[4]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas Manusia.

قال الله تعالى: {هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4)} [الجمعة/2- 4]

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Allah juga mengutus Nabi Muhammad) kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang besar. [Al-Jumu’ah/62 :2-4]

قال الله تعالى: {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)} [التوبة/128]

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. [At-Taubah/9 :128]

قال الله تعالى: {هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (28)} [الفتح/28]

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. [Al-Fath/48 :28]

Fadhilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Semua Makhluk.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَومَ القِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ القَبْرُ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ». أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah pimpinan anak-cucu Adam di hari kiamat nanti, Aku orang yang pertama dibangkitkan dari kubur, Aku orang yang pertama memberi syafa’at dan Aku orang yang pertama diberi syafa’at“. H.R. Muslim.[5]

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote

[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2276.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :4896 dan  Muslim no hadist: 2354.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 523.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist :3535 dan  Muslim no hadist: 2286.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2278.

Mengatasi Sikap Plin-plan

MENGATASI SIKAP PLIN-PLAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya nash-nash syar’iyah yang banyak bertebaran, baik dalam al-Qur’an maupun Hadits, seringkali mendorong seorang mukmin untuk tetap istiqomah serta teguh diatas metodologi (pendirian) yang benar, dan memperingtkan supaya tidak saling kontradiksi (bertentangan), baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Hal itu, seperti di ilustrasikan dengan sangat gamblang oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla melalui firman-Nya:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ [النحل: 92]

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”. [an-Nahl/16: 92].

Para ulama tafsir menjelaskan tentang ayat diatas: “Perempuan yang pandir ini dahulunya berada di Makah, tiap kali dirinya memintal benang dengan sempurna, kemudian dia urai kembali”. Sedangkan Qatadah dan Mujahid menjelaskan maksud ayat: “Perumpamaan ini ditujukan bagi setiap orang yang menguraikan sumpah atau perjanjiannya setelah ada bukti”.[1] Padalah Allah ta’ala mengatakan dalam firman-Nya:

وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا [ النحل: 91]

“Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya”. [an-Nahl/16: 91].

Dan sikap yang kontradiksi (plin plan) seperti ini bukanlah termasuk sifatnya seorang mukmin yang takut kepada Allah azza wa jalla. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sifatkan pada Nabi-Nya Syu’aib:

 وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ  [ هود: 88]

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang (atas kalian)”.  [Huud/11: 88].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla seringkali melarang hal tersebut dalam banyak ayat-Nya, salah satunya yaitu:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ  [ الصف: 2-3]

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.  [ash-Shaff/61: 2-3].

Demikian pula dalam ayat yang lain, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan larangannya diatas dengan mengatakan:

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ  [ البقرة: 44]

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. [al-Baqarah/2: 44].

Hal senada juga diungkapkan oleh banyak hadits, diantara salah satunya adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ,فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ , فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ :كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ , وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

Akan di datangkan kelak pada hari kiamat seseorang yang dilempar ke dalam neraka, lalu ususnya keluar dari tenggorokannya, dirinya berkeliling seperti halnya keledai mengelilingi penggilingan, sehingga membuat penghuni neraka mengerumuninya, lalu mereka berkata padanya: ‘Duhai fulan apa perkaramu? Bukankah dahulu kamu yang menyuruh kami untuk berbuat baik serta melarang kami untuk tidak melakukan kemungkaran? Dia pun menjawab: “Dahulu aku memang menyuruh kalian untuk mengerjakan kebaikan namun aku sendiri tidak mengerjakannya dan benar aku melarang kalian untuk tidak melakukan kemungkaran akan tetapi aku sendiri mengerjakannya“. HR Bukhari no: 3267. Muslim no: 2989.

Dalam musnadnya Imam Ahmad disebutkan sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ. فقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ. قَالُوا: خُطَبَاءُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ» [أخرجه أحمد ]

Pada malam Isra’ aku melewati sekelompok kaum yang mengergaji lidah-lidah mereka dengan gergaji dari neraka. Aku pun penasaran, lalu bertanya: “Siapakah mereka? Maka dikatakan padaku: ‘Mereka itu adalah para penceramah di dunia yang menyuruh kepada orang untuk berbuat kebajikan namun dia lupa akan dirinya sendiri, mereka membaca al-Qur’an namun mereka tidak memikirkan (maknanya)”.  HR Ahmad 19/244 no: 12211.

Seorang penyair mengatakan dalam qasidahnya:
Janganlah engkau melarang orang tapi kamu sendiri melanggarnya
Sungguh sangat tercela, karena engkau telah menabrak ucapanmu
Mulailah dari dirimu, cegah supaya tidak terpeleset dalam kesalahan
Jika dirimu telah mampu, engkau boleh melarang yang lain
Nasehati mereka dengan ilmu dan petunjuk
Serta ajari dengan suri tauladan yang baik

Gambaran nyata adanya sikap kontradiktif pada sebagian orang:
Diantaranya, seperti digambarkan dalam sebuah hadits, sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا » [أخرجه ابن ماجة]

“Sungguh aku kabarkan (pada kalian), akan ada sekelompok dari kalangan umatku yang datang pada hari kiamat kelak dengan membawa kebaikan yang banyak semisal gunung Tihamah. Namun, Allah tabaraka wa ta’ala menjadikan amalan tersebut bagaikan debu yang beterbangan”.  Maka Tsauban bertanya: “Wahai Rasulallah, sifatkanlah pada kami siapa mereka, jelaskan pada kami siapa mereka, supaya kami tidak sampai seperti mereka sedang kami tidak mengetahuinya”. Beliau menjelaskan: “Adapun mereka adalah saudara kalian dan dari bangsa kalian, mereka sholat malam sebagaimana kalian sholat, akan tetapi jika telah selesai mereka menerjang kembali larangan Allah”. HR Ibnu Majah no: 4245. Di nilai shahih oleh al-Bushiri dan al-Albani.

Gambaran yang ada dalam hadits menjelaskan pada kita bahwa ini merupakan salah satu sifat kontradiktif, di mana dirinya sholat malam akan tetapi mereka sendiri yang membatalkan amalannya tersebut dengan menerjang larangan-larangan Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Diantara bentuk sikap kontradiktif lainnya yaitu nifak. Seorang munafik adalah yang menampilkan amalan dhohirnya dengan kebaikan, dirinya sholat, berhaji, jihad, bersedekah, namun bersamaan dengan itu, bathinnya menyimpan kekufuran, benci dan ingin memerangi Islam dan kaum muslimin. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan sifat mereka itu dalam firman-Nya:

 إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ  [ المنافقون: 1]

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar seorang pendusta”.  [al-Munafiqun/63: 1].

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala menjelaskan sifat orang-orang munafik lainnya:

 وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ  [ ال عمران: 119]

“Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.  (QS al-Imraan: 119).

Sikap kontradiktif lainnya yang banyak terjadi dikalangan kita ialah seperti yang disinggung oleh Imam Ibnu Qoyim dalam salah satu pernyataanya, beliau berkata: “Diantara perkara yang mengherankan ialah, kalau ada seseorang yang sangat tekun menjaga (kewajiban), menyingkirkan makanan yang haram, tidak berbuat dhalim, berzina, mencuri, meminum khamr, serta melihat pada perkara yang haram atau yang lainnya, akan tetapi, dirinya kesulitan untuk menjaga dan menyetir pergerakan lidahnya, sampai kiranya ada seseorang yang terlihat sangat taat beragama, zuhud, dan ahli ibadah akan tetapi dirinya berbicara dengan suatu kalimat yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah Shubhanahu wa ta’alla, sedang dirinya tidak merasa bersalah sama sekali.

Dirinya menuruni tangga neraka gara-gara sebauh kalimat, sejauh timur dan barat. Betapa banyak engkau lihat orang yang menjaga dirinya dari perbuatan hina dan keji, mendhalimi orang, namun, lidahnya mudah memotong dan menyayat kehormatan orang lain, baik yang sudah meninggal maupun masih hidup, dan dirinya tidak perduli dengan ucapannya tersebut”[2]

Faktor yang menimbulkan sikap kontradiktif:
Pertama: Nifak. Tujuannya agar mereka tidak ketahuan jati dirinya, sehingga mereka memilih sifat nifak ini. sedangkan Allah ta’ala menjelaskan dalam firman -Nya:

  إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا  [ النساء: 142]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.  (QS an-Nisaa’: 142).

Dalam kesempatan lain, Allah ta’ala memfirmankan:

وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ  [ ال عمران: 119]

“Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. [al-Imraan/3: 119].

Disebutkan oleh Imam Bukhari sebuah kisah dari Zaid bin Abdullah bin Umar dari ayahnya, beliau menceritakan: “Pernah ada beberapa orang yang berkata pada Ibnu Umar: ‘Sesungguhnya kami ketika dihadapan para pemimpin, kami mengatakan bukan seperti apa yang kami ucapkan tatkala kami keluar dari hadapan mereka”. Maka Ibnu Umar menjawab: “Kami menganggap itu adalah perbuatan nifak”. HR Bukhari no: 7178.

Kedua: Riya’. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumahnya, lalu bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَ شِرْكَ السَّرَائِرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: يَقُوْمَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ النَّاسِ إِلَيْهِ فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ » [ أخرجه ابن خزيمة ]

Wahai manusia, hati-hatilah kalian dari kesyirikan yang tersembunyi”. Maka para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apa kesyirikan yang tersembunyi itu? Beliau menjawab: “Seseorang yang berdiri mengerjakan sholat, lalu dirinya memperbagusi sholat dengan sungguh-sungguh tatkala ada manusia yang melihat kepadanya. Itulah yang dinamakan syirik yang tersembunyi“. HR Ibnu Khuzaimah 2/67 no: 937. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih Targhib wa Tarhib 1/119 no: 31.

Dan dinamakan riya’ syirik kecil dikarenakan pelakunya menampakan pada manusian amalannya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla, namun, sejatinya yang dia maksud adalah untuk sekutu atau selain Allah ta’ala, dirinya berusaha memperbagusi sholat untuk sekutu tersebut, sedangkan yang namanya niat, keinginan serta amalan hati secara umum itu tidak ada yang mengetahui hakekatnya melainkan Allah azza wa jalla.[3]

Ketiga: Lemah kemauan. Biasanya seseorang yang kemauannya lemah, itu seringkali bersikap plin-plan. Terkadang dirinya mengerjakan suatu hal namun tidak lama kemudian dirinya memutuskan tidak jadi.

Contoh yang paling nyata, seseorang yang punya kebiasaan merokok, kemudian ada orang yang menasehati dirinya, sehingga dia menjadi paham akan keharaman rokok dan mampu meninggalkan rokok beberapa waktu lamanya, namun dirinya mulai melemah sedikit demi sedikit, lalu pada akhirnya kembali lagi merokok.

Keempat: Sombong. Terkadang kita lihat sebagian orang ada yang sangat sibuk mengerjakan pekerjaan yang sangat banyak. Akan tetapi, tatkala datang perintah untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu yang telah ditentukan oleh syari’at dirinya enggan melakukannya, dengan anggapan bahwa hal tersebut akan mengurangi martabatnya.

Misalkan, jika dirinya diberi nasehat agar mau memanjangkan jenggot, atau memendekan baju sampai diatas mata kaki, dia berdalih, aduh ini sulit bagiku, bagaimana mungkin aku berpenampilan seperti ini didepan orang banyak?! Biarpun dahulu panutan kita, penghulu para Nabi jenggotnya sampai diatas dada dan kain sarungnya sampai di pertengahan betis, tetap ia menolak karena sombong.

Kelima: Basa-basi dengan orang lain. Kita dapati ada sebagian orang seringkali berbasa-basi walaupun tidak dibolehkan oleh syari’at, dengan dalih malu atau demi senangnya orang lain. Allah azza wa jalla menjelaskan dalam firman -Nya:

وَٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرۡضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ  [ التوبة: 62]

“Padahal Allah dan Rasul -Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin”. [at-Taubah/9: 62].

Keenam: Cinta pada popularitas. Ada sebagian orang yang ditanya tentang sebuah hukum syari’at pada permasalah tertentu, maka dirinya memadang rendah perkara tersebut karena takut wibawanya akan jatuh dimata orang. Sedangkan masyarakat menginginkan fatwanya tidak terlalu keras namun yang mudah saja. Orang seperti ini, dikomentari oleh Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “Sufyan ats-Tsauri pernah berkata padaku: ‘Hati-hatilah kamu dari cinta popularitas, sungguh tidak ada orang yang mendatangiku melainkan aku nasehatkan supaya dirinya hati-hati dengan yang namanya popularitas”. [4]

Obat serta solusi untuk mengatasi sikap plin-plan tersebut
Pertama: Hendaknya orang tersebut mengetahui bahwa sikap kontradiksi itu bukan termasuk sifatnya orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman kepada Nabi      -Nya:

 فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ ٞ  [هود: 112]

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu”. [Huud/11: 112]. Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak mengatakan sebagaimana yang aku inginkan.

Sedangkan Allah ta’ala telah memerintahkan pada kita untuk totalitas dalam beragama, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ ٞ  [ البقرة: 208]

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (secara) keseluruhan”. [al-Baqarah/2: 208].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah ta’ala berfirman menyuruh kepada para hamba -Nya yang beriman serta yang percaya dengan -Nya, supaya mereka mengambil seluruh ajaran dan syari’at Islam. Lalu mengerjakan seluruh perintah -Nya dan meninggalkan apa yang telah dilarang, sesuai dengan kadar kemampuan mereka”. [5]

Disebutkan dalam sebuah hadits, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritkan: “Aku pernah bertanya; ‘Wahai Rasulallah, berilah aku nasehat tentang Islam satu perkara saja yang mana aku sudah tidak pernah bertanya lagi kepada selainmu. Maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ » [أخرجه مسلم]

Katakanlah, aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah“. HR Muslim no: 38. dan yang namanya istiqomah itu ialah menetapi terus diatas ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Kedua: Jujur serta ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla pada setiap amal perbuatannya. Sebagaimana ditegaskan oleh -Nya dalam firman -Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ  [ التوبة: 119]

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.  [at-Taubah/9: 119].

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن تصدق الله يصدقك » [أخرجه النسائي]

“Jika engkau jujur kepada Allah maka Allah akan membenarkanmu”. HR an-Nasa’i no: 1953. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan an-Nasa’i no: 1845.

Ketiga:  Melatih jiwa serta sabar menghadapi kesulitan. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ  [ العنكبوت: 69]

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami”.  (QS al-Ankabuut: 69).

Dalam kesempatan yang lain, Allah ta’ala juga berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ  [ ال عمران: 200]

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”.[al-Imraan/3: 200].

Keempat: Seorang mukmin mengetahui bahwa berbuat untuk keridhoan Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengantarkan pada keridhoan manusia.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Aisyah, beliau berkata: “Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ » [أخرجه الترمذي]

Barangsiapa mencari keridhoan Allah dengan kemarahan manusia maka Allah akan mencukupkan dari keburukan manusia, dan barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan serahkan pada manusia“. HR at-Tirmidzi no: 2414. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 2311.

Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam , kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الموت وعظاته  Penulis : Syaikh  Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 8/349.
[2] Al-Jawabul Kaafi  ha: 140.
[3] Ad-Diin Al-Khalis 2/385.
[4] Hilyah Aulia oleh Abu Nu’aim 7/23.
[5] Tafsir Ibnu Katsir 2/273.

Anda Bebas Memilih

ANDA BEBAS MEMILIH

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

Terkadang ada orang yang terlihat bersedekah dan menyantuni orang lain, tapi kadang juga dirinya sangat pelit. Jika anda dituntut untuk memberi komentar pada orang tadi dan ditanya apakah dia itu orang dermawan atau orang yang pelit? Anda akan termenung sejenak, ragu untuk memastikan jawabannya, karena yang diketahui orang tersebut kadang berbuat baik, penyantun tapi kadang dirinya juga sangat pelit.

Seperti itulah kiranya perilaku manusia. Sesungguhnya perilaku yang muncul dari setiap orang diantara kita, tentulah merupakan keputusan menusia itu sendiri, dia bebas memilih sesukanya, baik itu dalam hal berpakaian, memilih makanan dan minuman, berbicara, bergaul, bermaksiat dan seterusnya.

Di sisi lain dia juga merasakan adanya perilaku yang muncul yang dirinya merasa terkungkung tidak ada pilihan lain, seperti hatinya yang berdenyut, tubuhnya yang tumbuh,, darahnya mengalir, sistem pencernaan, sistem syaraf dan pernafasan, maka kesemua itu tidak ada pilihan baginya, namun sebetulnya apa alasan itu semua? Apakah sebetulnya manusia itu dikendalikan atau bebas memilih, coba kita perhatikan, sesungguhnya didalam diri kita ada yang menunjukan pada jawaban yang pertama ada pula yang kedua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ  [الذريات: 21]

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. [adz-Dzariyaat/51: 21].

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengistimewakan manusia dari makhluk lainnya karena manusia dibekali dengan akal. Jika diklasifikasikan maka makhluk tersebut menjadi empat golongan;

  1. Golongan yang tidak mempunyai akal serta nafsu syahwat, golongan ini ada pada benda padat dan tumbuhan.
  2. Dan golongan yang memiliki akal namun tidak memiliki nafsu, golongan ini adalah para malaikat.
  3. Lalu golongan yang memiliki nafsu syahwat akan tetapi tidak memiliki akal, dan dia adalah binatang.
  4. Kemudian terakhir golongan yang punya akal dan syahwat, golongan ini adalah manusia.

Maka bila ditilik, jelas diantara makhluk-makhluk tersebut maka yang paling mulia adalah manusia yang Allah Shubhanahu wa ta’alla karuniakan akal, dan diutus pada mereka para rasul, serta diturunkan kitab suci, supaya mereka beribadah kepada Rabbnya, sehingga dirinya mendapat kemenangan dengan kebahagian didunia dan diakhirat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal tersebut didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ  [فصلت: 30-32] 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan menyatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat/41: 30-32].

Adapun benda mati, sesungguhnya ada padanya tubuh, warna dan ukurannya, sedangkan tumbuhan pun demikian cuma memiliki kelebihan bisa tumbuh berkembang, dan binatang memiliki itu semua dan mempunyai kelebihan dengan perasaan dan bisa bergerak, adapun manusia maka dirinya mempunyai itu semua dan dibedakan dengan akal yang bisa untuk membedakan antara dua hal, yaitu bisa membedakan mana yang menurutnya bermanfaat dan mana yang menurutnya membahayakan, dirinya bebas memilih.

Maka jika diperhatikan dalam diri manusia terkumpul padanya dari sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang.[1]

Dan apa yang dimiliki oleh sifat-sifat yang ada pada benda mati, tumbuhan dan binatang maka itu semua tidak ada kekuasaan padanya, tidak ada pilihan baginya selama-lamanya. Maka jelas manusia itu memiliki tubuh, warna dan ukuran, seperti benda padat, dan dalam hal ini merupakan sesuatu yang dikendalikan, tidak ada pilihan, begitu pula manusia tumbuh seperti tumbuhan, maka ini juga dikendalikan, selanjutnya manusia juga punya perasaan dan bergerak, didalam tubuhnya bekerja sistem pencernaan, urat syaraf, darah, dan pernafasan, maka itu semua juga dikendalikan tidak ada pilihan, seperti halnya hewan yang juga tidak punya pilihan.

Dan ini merupakan klimaks dari rahmat dan kasih sayang-Nya, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan seluruhnya berada pada pemeliharaan dan penjagaan-Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak membiarkan manusia begitu saja, sebab manusia butuh tidur, kadang lupa, terkadang melemah kondisinya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyindir hal itu melalui firman -Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ  [الأنبياء: 42]  

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) yang Maha Pemurah?” sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka”. [al-Anbiyaa/21: 42].

Sehingga apa yang ada pada manusia dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda mati, tumbuhan dan binatang, maka manusia dikendalikan, terkontrol didalamnya dengan rahmatnya Allah azza wa jalla.

Lantas kapan manusia itu dikatakan bebas memilih?
Manusia berada dalam kondisi bebas memilih dalam lingkup permasalahan yang berkaitan dengan akal saja. Akal yang ketika dihadapkan padanya hukum dari suatu perbuatan, berupa perintah dan larangan, maka dia bebas memilih lalu membedakan antara melakukan yang berupa perintah atau larangan. Dirinya bebas memilih apa yang menurutnya baik, sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta’ala didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا  [الإنسان: 29]

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya”. [al-Insaan/76: 29].

Demikian pula dalam firman-Nya yang lain:

قال الله تعالى: وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ  [الكهف: 29]

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [al-Kahfi/18: 29].

Maka apabila dirinya telah mengetahui kebenaran lantas dia mengikutinya maka surga untuknya, tapi, jika dirinya kufur terhadap kebenaran tadi maka baginya neraka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  [البقرة: 38-39]

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk -Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk -Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [al-Baqarah/2: 38-39].

Dari sini kita mengetahui bahwa beban taklif tidak mungkin dipikulkan melainkan kepada orang yang berakal, jika seandainya hilang akal yang bisa membedakan antara dua hal, antara baik dan buruk, benar dan salah, jujur dan dusta, maka beban taklif tersebut diangkat. Bukankah kita tahu bahwa tidak ada beban taklif pada orang gila, anak kecil dan orang yang sedang tidur, dikarenakan fungsi akal telah hilang atau belum adanya kesadaran pada orang tadi.

Dan dalam hal ini Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ » [أخرجه أحمد و النسائي]

Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan, orang yang tertidur sampai dirinya terbangun, anak kecil sampai dirinya dewasa, dan orang gila sampai dirinya sembuh“. HR Ahmad no: 24694. Nasa’i 6/156.

Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghalalkan bagi kita perkara-perkara yang baik, serta mengharamkan yang jelek-jelek, menyuruh kita untuk menikah, dan melarang untuk berbuat zina, menganjurkan untuk berkata jujur dan melarang berkata dusta, menyuruh untuk beriman, dan memperingatkan jangan sampai kufur. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ [ النحل: 36 ]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.  [an-Nahl/16: 36].

Disinilah peran akal dibutuhkan untuk bekerja, dirinya bebas memilih antara dua jalan, maka menjadikan pahala dan siksaan yang didapat sesuai dengan pilihannya.

Dan perlu dipahami bahwa akal seseorang itu sangat terbatas kapasitasnya tidak mampu mengetahui semua kejadian, tidak bisa bebas untuk mengetahui setiap yang mendatangkan manfaat baginya, serta yang membahayakan, maka dengan diutusnya para rasul, dan diturunkannya kitab suci, akan menuntun serta membimbing akal tersebut sesuai dengan apa yang mendatangkan manfaat didunia dan diakhiratnya nanti.

Dan bukan berarti bebas memilihnya seorang hamba itu keluar dari kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak ada sesuatupun dimuka bumi tidak pula dilangit yang mampu membuat -Nya lemah. Baginya kedaulatan mutlak dalam mencipta, mengatur serta menyuruh, kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki untuk memberi petunjuk seluruh manusia niscaya kesampaian, tidak ada yang mampu mencegah-Nya, dan tidak ada yang mampu menolak hokum-Nya, Allah menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  قُلۡ فَلِلَّهِ ٱلۡحُجَّةُ ٱلۡبَٰلِغَةُۖ فَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ  [الأنعام: 149]

“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika -Dia menghendaki, pasti -Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. [al-An’aam/6: 149].

Akan tetapi, dengan hikmah Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak melakukan hal itu, namun membiarkan mereka sesuai dengan pilihannya, membiarkan mereka dengan amal perbuatannya, setelah Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan pada mereka kebenaran, supaya ibadah yang mereka kerjakan berdasarkan pilihan mereka bukan paksaan dan tekanan, semua itu dilakukan dalam rangka ujian dari Allah Shubhanahu wa ta’alla. Allah menyatakan didalam firman-Nya:

قال الله تعالى:  إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢ إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرٗا وَإِمَّا كَفُورًا  [الإنسان: 2-3]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. [al-Insaan/76: 2-3].

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan mahluk menjadi dua macam:

  1. Mahluk yang dijadikan untuk senantiasa didalam ketaatan kepada -Nya, dan itu ada pada seluruh makhluk kecuali manusia dan jin.
  2. Yang kedua adalah makhluk yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kebebasan untuk menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya, antara beriman atau kufur, taat atau memaksiati, mereka itu adalah manusia dan jin. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ       [الذريات: 56-58]

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi -Ku makan.  Sesungguhnya Allah -Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. ([adz-Dzariyaat/51: 56-58].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyukai hamba yang datang kepada -Nya dalam kondisi memilih sendiri, sedangkan hamba tersebut bisa untuk tidak mendatangin -Nya. Maha Bijaksana Allah Shubhanahu wa ta’alla lagi Maha mengetahui dalam penciptaan dan perintah -Nya. Sebagaimana di jelaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٞ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ۩  [الحج: 18]

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinasakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang -Dia kehendaki”. [al-Hajj/22: 18].

Maka manusia bebas memilih sekehendak dirinya, maka kembali hasilnya antara menjadi orang yang berbahagia atau orang yang sengsara diakhirat kelak berdasarkn pilihannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [البقرة: 256]

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Baqarah/2: 256].

[Disalin dari خلق الله الإنسان مختارًا  Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
_______
Footnote
[1]. Al-Qur’an, Mu’jizah wa Manhaj karya asy-Sya’rawi.

Renungan Tentang Kematian

RENUNGAN TENTANG KEMATIAN

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Ba’du:

Sesungguhnya orang yang tenggelam dalam kehidupan dunia, tercebur dalam syahwat dan kelezatannya akan menjadikan hatinya lalai terhadap kematian dan jika mengingatnya maka dia akan  benci dan berlari menghindar darinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى :قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ  (الجمعة: 8)

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al-Jum’ah/62: 8]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ  (النساء: 78)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An-Nisa’/4:78]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ  (الأنبياء: 35)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. [Al-Anbiya’/21: 35].

Adapun orang yang mengenal Tuhannya maka dia selalu mengingat kematian, dia memegang wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu mati”.[1]

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Seorang lelaki dari kaum Anshor datang dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah orang mu’min yang manakah yang paling baik?. Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, menjawab, “Yaitu orang mu’min yang paling baik akhlaknya”. Orang tersebut kembali bertanya, “Orang mu’min manakah yang paling cerdas?. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang mu’min yang paling banyak mengingat kematian, dan orang yang paling siap menghadapi masa selanjutnya mereka itulah orang yang cerdas”.[2]

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Kematian telah menyingkap keborokan dunia, maka dia tidak meninggalkan kesenangan apapun bagi orang berakal, dan tidaklah seseorang hamba mengarahkan hatinya untuk selalu mengingat kematian kecuali dunia itu menjadi hina baginya dan ringan padanya segala peristiwa yang terjadi padanya”.

Seorang penyair pernah berkata:
Tiada ketenangan dalam hidup ini selama ada yang mengeruhkan
Kelezatannya dengan mengingat kematian dan hidup di masa tua

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Apabila suatu saat hatiku ini lalai mengingat kematian maka dia akan rusak. Dan sebagian mereka berkata, “Barangsiapa yang selalu mengingat kematian maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal: Segera bertaubat, hati yang qona’ah dan giat dalam beribadah dan barangsiapa yang lupa mengingat kematian maka dia akan disiksa dengan tiga perkara: Mengulur-ulur taubat, tidak pernah merasa cukup dan malas dalam beribadah.

Dan kematian itu memiliki rasa sakit dan kesusahan yang akan menghampiri setiap orang yang meninggal namun terkadang ringan bagi sebagian hamba-hamba Allah seperti orang yang mati syahid dan cukuplah kilatan pedang yang menyambar kepalanya sebagai fitnah, sebagaimana hal itu disebutkan di dalam hadits yang shahih.[3]

Bahkan terkadang sakaratul maut menjadi berat bagi seorang hamba guna meringankan hamba tersebut dari beban dosa, atau sebagai rahmat dan penambah bagi derajat mereka, seperti para Nabi alaihimus salam, terutama Nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sungguh beliau telah merasakan beratnya sakaratul maut padahal beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Allah.

Di dalam shahih Al-Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata.

كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ فِيهَا مَاءٌ ُ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ

Bahwa di hadapan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam,  ada satu kantong air  lantas beliau memasukkan kedua tanganya pada air itu lalu beliau mengusap wajah dengannya dan berkata, “Tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah, sesungguhnya kematian itu amat berat”. Lalu beliau mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Allah, aku mengharap Al-Rafiqul A’la”. Akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangan beliau miring lemas”.[4]

Pada saat menghadapi beratnya kematian Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, menutupi dirinya, maka Fatimah berkata.

كَرْبَ أبَاهُ! فَقالَ لَهَا: ليسَ علَى أبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ اليَومِ

Alangkah beratnya apa yang dirasakan oleh bapakku. Lalu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Bapakmu tidak akan merasakan kesusahan setelah ini”.[5]

Karena begitu berat sakaratul maut yang beliau rasakan maka beliau bersabda, “Siramkan padaku dari tujuh ember air yang ditutup (biar terasa dingin), semoga saya kembali bisa menemui masyarakat”.[6]

Dan Aisyah berkata.

مَاتَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وإنَّه لَبيْنَ حَاقِنَتي وذَاقِنَتِي، فلا أكْرَهُ شِدَّةَ المَوْتِ لأحَدٍ أبَدًا بَعْدَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, meninggal dan beliau saat itu berada diantara tulang selangka dan daguku, aku tidak benci terhadap beratnya kematian yang terjadi pada seseorang untuk selamanya selain pada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam,”.[7]

Lalu kematian ini akan lebih berat lagi terhadap orang-orang kafir dan pada pendosa dari kalangan kaum muslimin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى :  وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ (الأنعام: 93)

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang lalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. [Al-An’am/6: 93].

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

قال الله تعالى : وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ  (الأنفال: 50)

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar“, tentulah kamu akan merasa ngeri”. [Al-Anfal/8: 50].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya dari Al-Barro’ bin Azib berkata, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

إن العبد الكافر – وفي رواية: الفاجر – إذا كان في انقطاع من الدنيا، وإقبال من الاخرة، نزل إليه من السماء ملائكة – غلاظ شداد -، سود الوجوه، معهم المسوح من النار، فيجلسون منه مد البصر، ثم يجيء ملك الموت حتى يجلس عند رأسه، فيقول: أيتها النفس الخبيثة اخرجي إلى سخط من الله وغضب، قال: فتفرق في جسده فينتزعها كما ينتزع السفود – الكثير الشعب – من الصوف المبلول، فتقطع معها العروق والعصب”.. الحديث.

Sesungguhnya hamba yang kafir -dan di dalam sebuah riwayat disebutkan- hamba yang jahat, saat meninggalkan dunia ini dan menghadap menuju akherat, maka akan turun kepadanya malaikat dari langit, yaitu malaikat-malaikat yang keras lagi bengis, berwajah hitam dan membawa pakaian dari neraka, maka mereka duduk dengan jarak sepanjang penglihatan darinya, kemudian datanglah malaikat maut di sisi kepalanya dan berkata kepadanya: Wahai jiwa yang jahat keluarlah menuju murka dan laknat Allah. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka malaikat tersebut menyebar pada seluruh tubuhnya lalu mencabik-cabik ruhnya sebagaimana besi yang banyak cabangnya mencincang wol yang basah, maka akan terputuslah semua urat dan otot-ototnya…”.[8]

Dan tidak boleh bagi seorang mu’min berangan-angan kematian walaupun ujian  hidup sangat berat. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits riwayat Ummul Fadhl bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, menemui Al-Abbas pada saat dirinya sedang mengidap suatu penyakit dan mengharap kematian. Maka Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

يَا عَمَّي لا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا فأن تؤخّر تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ

Wahai Abbas, Wahai pamanku janganlah engkau berangan-angan menghadapi kematian, jika engkau termasuk orang yang berbuat baik berarti kamu memberikan tabungan kebaikan bagi dirimu sebagai tambahan atas kebaikan yang lain dan jika engaku termasuk orang yang suka berbuat jahat maka dilambatkannya kematianmu akan hal itu sebagai peluang bagimu untuk mencari alasan bertaubat, maka janganlah kamu berangan-angan untuk mati”.

Yunus berkata, “Jika engkau adalah orang yang suka berbuat keburukan  maka diakhirnya kematian sebagai peluang bagimu untuk meminta taubat dari kesalahanmu dan itu lebih baik bagimu”.[9]

Diriwayatkan oleh Al-Syaikhan dari Anas radhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ. فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Janganlah salah seorang di antara kalian mengharap kematian hanya karena adanya ujian keburukan yang menimpa dirinya. Namun jika dia harus berangan-angan untuk mati maka hendaklah dia berkata, “Ya Allah hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagi diriku dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagi diriku”.[10]

Dan wajib bagi setiap manusia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi kematian sebelum ajal tiba datang menjemput yaitu dengan segera beramal shaleh.

Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, telah berharap kepada kita dengan pengharapan yang tinggi serta menyeru agar kita memanfaatkan kesempatan dan tidak lalai. Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, juga memberitahukan bahwa orang yang lalai dalam masalah ini maka dia akan berangan-angan kembali hidup di dunia padahal dia telah dihalangi untuk kembali menuju dunia ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (المؤمنون: 99-100)

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia”. agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. [Al-Mu’minun/23:99-100].

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ * وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (المنافقون: 9-10)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. [Al-Munafiqun/63: 9-10]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memegang pundakku dan bersabda.

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لمَوْتِكَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Jadilah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sedang mengadakan perjalanan”. Dan Ibnu Umar berkata, “Apabila engkau berada di waktu sore maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah engkau menunggu waktu sore, dan manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datangnya rasa sakit dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu”.[11]

Di dalam sebuah riwayat di dalam sunan Al-Tirmidzi.

وعد نفسك من أهل القبور، فإنك لا تدري يا عبدالله ما اسمك غدًا

Dan anggaplah dirimu sebagai penghuni kubur, sebab engkau, wahai hamba Allah tidak mengetahui siapakah namamu pada esok harinya”.[12]

Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk membangun dunianya
Dan diperdaya oleh angan-angan yang panjang
Kematian datang menjemputmu  secara tiba-tiba
Dan kuburan adalah sebagai kotak amal hamba

Dan penyair yang lain berkata:
Seandainya setelah kematian datang kita dibiarkan
Maka kematian adalah tujuan setiap insan yang hidup
Namun kita pasti dibangkitkan setelah kematian itu
Dan setelahnya kita ditanya tentang segala sesuatu

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[Disalin dari الموت وعظاته  Penulis : Syaikh  Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Sunan Turmidzi: no: 3307.
[2] HR. Ibnu Majah: no: 4259
[3] Sunan Al-Nasa’I no: 2053
[4] Al-Bukhari: no: 4449
[5] Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no: 4462
[6] Bagian dari hadits di dalam shahih Al-Bukhari nomor: 4446
[7] Shahih Al-Bukhari no: 4446
[8] Musnad Imam Ahmad: 4/287-288 dishahihkan oleh sykeh Al-Bani  di dalam kitab ahkami jana’iz wa bida’iha wa jami’I ziadatiha”. Halaman: 198-202
[9] Musnad Imam Ahmad: 6/339
[10] Al-Bukhari no; 6351 dan Muslim: no: 2680
[11] Shahih Bukhari: no: 6416
[12] Sunan Al-Tirmidzi: 2333

Kematian Adalah Sebuah Kepastian

KEMATIAN ADALAH SEBUAH KEPASTIAN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Dalam sebuah ayat didalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ [ال عمران : 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. [al-Imraan/3: 185].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat diatas dalam tafsirnya: “Allah ta’ala mengkabarkan secara umum bahwa seluruh makhluk yang dikarunia nyawa pasti dirinya akan merasakan kematian. Ayat ini senada dengan firman-Nya:

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ [الرحمن: 26-27]

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan“. [ar-Rahmaan/55: 26-27].

Hanya Allah Shubhanhu wa ta’alla semata Dzat yang Maha Hidup, kekal tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia mereka semua mengalami kematian. Demikian pula para malaikat dan pembawa Arsy juga mati, tinggal Allah Yang Maha Esa yang mempunyai kebesaran yang akan tetap kekal, menjadi Dzat yang akhir seperti halnya menjadi Dzat yang awal.

Dan ayat ini sekaligus sebagai ucapan belasungkawa bagi seluruh manusia, karena tidak akan ada seorangpun yang tersisa dimuka bumi, melainkan semua pasti akan mati. Sehingga apabila telah selesai waktunya, nuthfah pun telah menjadi kosong ditulang rusuk anak Adam sesuai hikmah dan takdir Allah Shubhanhu wa ta’alla, maka pada saat itu tamatlah riwayat manusia, dan pada saat itulah kiamat Allah Shubhanhu wa ta’alla akan ditegakkan, kemudian seluruh makhluk akan dibalas selaras dengan amalannya, baik yang agung atau sepele, banyak atau sedikit, besar atau kecil. Dan Allah Shubhanhu wa ta’alla tidak akan mendzalimi seorang pun walau hanya seberat biji sawi. Oleh karena itu Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

كوَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ [ال عمران : 185]

“Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu”. [al-Imraan/3: 185][1]

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini.
1. Bahwa seorang manusia seberapa panjang umur yang dimilikinya dalam kehidupan ini, tentu kematian pasti sebagai akhir dari episode hidupnya serta jalan yang akan dilaluinya. Allah Shubhanahu wa ta’ala menegaskan akan hal itu dalam firman -Nya:

إِنَّكَ مَيِّتٞ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ [الزمر : 30]

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. [az-Zumar/39: 30].

Seorang penyair mengatakan:
Setiap anak manusia walau panjang umurnya
                  Pasti pada suatu ketika akan diusung diatas keranda

Ada lagi yang mengatakan:
Kematian adalah pintu yang tiap orang akan melewatinya
                       Duhai sekiranya setelah mati tidak ada lagi kehidupan

Dibawakan oleh Thabarani didalam Mu’jamul Ausathnya sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu, yang menceritakan: ‘Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « جاء جبريل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ واعلم ان شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ » [أخرجه الطبراني]

“(Pada suatu hari) Jibril datang padaku, sembari berkata: ‘Wahai Muhammad, hiduplah semaumu, namun engkau pasti akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau mau, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau pasti akan menemui balasannya. Ketahuliah mukmin yang paling mulia adalah yang sholat malam, dan perkara itu banyak ditinggalkan oleh manusia”.  HR ath-Thabarani dalam Mu’jamul Austah 4/306 no: 4278. Dihasankan oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 831.

2. Sesungguhnya Allah Shubhanhu wa ta’alla tidak akan mendhalimi seorangpun. Namun, justru -Dia akan memberi balasan pada mereka serta menambah dengan karunia – Allah Shubhanhu wa ta’alla sendiri yang menerangkan akan hal itu dalam firman -Nya:

وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ [الأنبياء : 47]

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. [al-Anbiyaa/21: 47].

Dan dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا وَلَا هَضۡمٗا [ طه: 112]

“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shaleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya”. [Thaahaa/20: 112].

3. Kemenangan yang menjadikan dirinya berhasil selamat dari neraka, serta masuk kedalam surga disebabkan oleh amal shaleh.

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ » [أخرجه البخاري]

Barangsiapa yang ingin dirinya selamat dari siksa api neraka, dan dimasukkan ke dalam surga hendaknya mendatangi tujuannya yaitu beriman kepada Allah dan hari akhir, lalu datang kepada orang lain yang senang akan hal tersebut“. HR Muslim no: 1844.

4. Ayat mulia diatas menunjukkan betapa rendahnya dunia, dimana dalam ayat disifati hanya sekedar kesenangan yang melalaikan yang akan sirna, oleh karena itu siapa saja yang lebih mendahulukan dunia dari pada akhirat, negeri yang kekal maka dirinya adalah orang yang merugi dan lemah akal, sehingga Allah Shubhanhu wa ta’alla berfirman tentang orang seperti ini:

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ١٦ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ  [الأعلى : 16-17]

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.  [al-A’laa/87: 16-17].

Dalam ayat lain Allah Shubhanhu wa ta’alla juga menjelaskan:

وَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتُهَاۚ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ  [القصص: 60]

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. maka apakah kamu tidak memahaminya?”. [al-Qashash/28: 60].

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim dijelaskan bahwa Nabi  Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ » [أخرجه مسلم]

Demi Allah, tidaklah dunia ini dibanding akhirat kecuali semisal jari telunjuk kalian yang dimasukkan kedalam –beliau mengisyaratkan dengan telunjuknya- laut, lihatlah berapa yang kembali“. HR Muslim no: 2858. Dari sahabat Mustaurid radhiyallahu ‘anhu.

Dan Abu Qatadah menafsirkan firman Allah ta’ala:

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ [ال عمران : 185]

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. [al-Imraan/3: 185].

Beliau mengatakan: “Kehidupan dunia tidak lain hanyalah perhiasan yang akan ditinggalkan, demi Allah Shubhanhu wa ta’alla yang tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali -Dia, perkara itu banyak melalaikan penghuninya, maka ambillah perhiasan ini untuk ketaatan kepada –Nya bila kalian sanggup, karena tidak ada daya melainkan dari Allah azza wajalla”.

5. Bahwa kemenangan hakiki ialah ketika bisa masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka. Allah Shubhanahu wa ta’ala menjelaskan perbedaan penduduk neraka dan surga dalam firman -Nya:

لَا يَسۡتَوِيٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۚ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ  [الحشر: 20]

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung”. [al-Hasyr/59: 20].

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

مَّن يُصۡرَفۡ عَنۡهُ يَوۡمَئِذٖ فَقَدۡ رَحِمَهُۥۚ وَذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ [الأنعام: 16]

“Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, Maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. dan itulah keberuntungan yang nyata”. [al-An’aam/6: 16].

Dan surgalah keberuntungan yang sejati, Allah ta’ala berfirman:

لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّ‍َٔاتِهِمۡۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا [الفتح: 5]

“Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah”. [al-Fath/48: 5].

6. Didalam ayat Allah ta’ala mengkabarkan, -Dia adalah Maha Benar, bahwa kematian adalah hak atas tiap jiwa, maka percaya hal itu serta banyak mengingatnya merupakan tradisi orang cerdas dikalangan orang-orang beriman. Karena akan mengantarkan mereka untuk mempersiapkan diri, tidak tertipu dengan kemilaunya dunia serta berlepas dari perbuatan dosa dan maksiat.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فأكثروا من ذكر هادم اللذات الموت » [أخرجه الترمذي]

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian“. HR at-Tirmidzi no: 2307. Beliau mengatakan hadits hasan shahih gharib. Dan dinilai shahih oleh al-Albani didalam shahih sunan Tirmidzi 2/266 no: 1877.

Dalam riwayat Ibnu Majah dibawakan sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ ؟ قال : أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ : فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ ؟ قال : أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ له استعدادا قبل أن ينزل بهم أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ » [أخرجه ابن ماجه]

Pernah ada seorang sahabat dari kalangan Anshar datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam pada beliau dan berkata: ‘Ya Rasulallah, orang mukmin seperti apakah yang paling afdhal? Beliau menjawab: ‘Yang paling baik akhlaknya’. Dia lalu bertanya kembali: ‘Lantas siapa mukmin yang paling cerdas? Nabi bersabda: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian, lalu berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkannya, maka merekalah orang-orang yang cerdas“. HR Ibnu Majah no: 4259. Dihasankan oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 1384.

7. Dalam penggalan firman Allah diatas, tepatnya yang berbunyi:

وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ [ال عمران : 185]

“Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu”. [al-Imraan/3: 185].

Sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman atas musibah yang mereka alami ketika didunia, serta bagi orang yang sabar ketika melakukan kebaikkan, menahan jiwa, sabar atas gangguan yang menimpa, serta ridho atas ketentuan dan takdir, maka pembalasan terbesar hanyalah akan dirasakan kelak pada hari kiamat.

Didalam ayat ini juga sebagai peringatan bagi orang kafir, orang dhalim dan ahli maksiat atas perbuatan mereka, karena sesungguhnya balasan yang sejati ada pada hari kiamat, Allah ta’ala berfirman:

ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ [الحجر: 3]

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. [al-Hijr/15: 3].

Dalam kesempatan lain Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ  [ إبراهيم: 42]

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”. [Ibrahim/14: 42].

Akhirnya kita tutup dengan memuji Allah Shubhanhu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan merambah kepada keluarga beliau serta seluruh sahabatnya.

[Disalin dari كل نفس ذائقة الموت Penulis : Syaikh  Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 3/284-285.