Author Archives: editor

Pertengkaran Antara Para Penghuni Neraka

SIFAT NERAKA

Pertengkaran Antara Para Penghuni Neraka
Tatkala orang-orang kafir melihat siksaan yang telah disediakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka, maka merekapun membenci diri mereka sendiri, kekasih-kekasih dan teman-teman mereka di dunia. Berbaliklah segala kasih sayang di antara mereka menjadi permusuhan. Saat itulah para penghuni neraka saling bertengkar satu sama lain dan saling berdebat. Hal ini terjadi menurut perbedaan tingkatan mereka:

  1. Pertengkaran para penyembah terhadap sesembahan mereka.

قَالُواْ وَهُمۡ فِيهَا يَخۡتَصِمُونَ ٩٦ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٩٧ إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٨ وَمَآ أَضَلَّنَآ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ [الشعراء : ٩٦،  ٩٩] 

“Mereka Berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka:  “Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata. “Karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”.   “Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa”. [Asy-Su’araa/`: 96-99]

  1. Pertengkaran orang-orang yang lemah terhadap para pemimpin yang sombong.

وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ٤٧ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ [غافر: ٤٧،  ٤٨] 

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, Maka orang-orang yang lemah Berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka Karena Sesungguhnya Allah Telah menetapkan Keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. [Ghafir/40: 47-48]

  1. Pertengkaran para pengikut terhadap para pemimpin mereka yang sesat.

وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ٢٧ قَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ٢٨ قَالُواْ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ٢٩ وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۢ ۖ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ٣٠ فَحَقَّ عَلَيۡنَا قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ٣١ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ٣٢ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ [الصافات : ٢٧،  ٣٣] 

“Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka Berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.  Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”.  Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka Pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; Sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami Telah menyesatkan kamu, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab”. [Ash-Shaaffat/37:27-33]

  1. Pertengkaran orang kafir terahdap rekannya, syetan.

قَالَ قَرِينُهُۥ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۢ بَعِيدٖ ٢٧ قَالَ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ وَقَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ٢٨ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ [ق: ٢٧،  ٢٩] 

Yang menyertai dia Berkata (pula): “Ya Tuhan kami, Aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal Sesungguhnya Aku dahulu Telah memberikan ancaman kepadamu”.  Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. [Qaaf/50 :27-29]

  1. Perkara memuncak sampai manusia bertengkar dengan anggota tubuhnya.

وَيَوۡمَ يُحۡشَرُ أَعۡدَآءُ ٱللَّهِ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ١٩ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢٠ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ [فصلت: ١٩،  ٢١] 

“Dan (Ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya.  Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang Telah mereka kerjakan. Dan mereka Berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai Berkata Telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan Hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. [Al-Fushshilat/41: 19-21].

Pernyataan Iblis Pada Penghuni Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Pernyataan Iblis Pada Penghuni Neraka

SIFAT NERAKA

Para penghuni Neraka memohon kepada Allah agar bisa melihat orang-orang yang telah menyesatkan mereka dan melipat gandakan siksaan kepada mereka:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ رَبَّنَآ أَرِنَا ٱلَّذَيۡنِ أَضَلَّانَا مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ نَجۡعَلۡهُمَا تَحۡتَ أَقۡدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ ٱلۡأَسۡفَلِينَ [فصلت: ٢٩] 

“Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”. [Al-Fushshilat: 29]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ ٦٦ وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠ ٦٧ رَبَّنَآ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَيۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنٗا كَبِيرٗا [الاحزاب : ٦٦،  ٦٨] 

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, Andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).  Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. [Al-Ahzaab/33: 66-68]

Pernyataan Iblis Pada Penghuni Neraka.
Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memutuskan semua perkara dan menyelesaikan permasalahan antara para hamba, maka iblispun memberikan pernyataannya kepada penghuni nereka, sehingga dengan hal itu  bertambahlah kesusahan, penyesalan, dan kerugian mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ  [ابراهيم: ٢٢] 

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi Aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) Aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca Aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan Aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih“.[Ibrahim/14: 22]

Permohonan Neraka agar Bertambah Orang yang Menjadi Penghuninya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ  [ق: ٣٠]

 (dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) kami bertanya kepada Jahannam: “Apakah kamu sudah penuh?” dia menjawab: “Masih ada tambahan?”. [Qaaf/50: 30].

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ يُلْقَى فِيْهَا وَتَقُوْلُ: هَلْ مِنْ مَزِيْدٍ. حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيْهَا قَدَمَهُ فَيَنْزَوِيْ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَتَقُوْلُ قَطُّ قَطُّ بِعِزَّتِكَ وَكَرَمِكَ. وَلاَ يَزَالُ فِى الْجَنَّةِ فَضْلٌ حَتّى يُنْشِئَ اللهُ لَهَا خَلْقًا آخَرَ, فَيُسْكِنَهُمْ فَضْلَ الْجَنَّةِ.

Senantiasa neraka Jahanam dilontarkan kepadanya (para penghuni neraka) dan ia  terus berkata: “Masih adakah tambahan”. Sehingga Rabb Yang Perkasa meletakkan kaki-Nya, sehingga sebagiannya mengerut kepada bagian yang lain seraya berkata: “Cukup, cukup, demi keperkasaan dan kemurahan-Mu”. Dan senantiasa surga itu melebihi (jumlah penghuninya) sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk lain baginya, lalu menempatkan mereka pada surga yang lebih itu.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Gambaran Tentang Keadaan Sebagian Para Penghuni Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 4848, dan Muslim no. 2848, ini adalah lafazhnya.

Sedekah Sunnah

SEDEKAH SUNNAH

Hikmah Disyari’atkan Sedekah.
Islam mengajak dan mendorong bersedekah sebagai kasih sayang kepada orang-orang yang lemah dan membantu orang-orang fakir, ditambah pahala yang diperoleh, berlipat gandanya, berakhlak dengan akhlak para nabi berupa bersedekah dan berbuat baik.

Hukum Sedekah.
Sedekah adalah sunnah yang dianjurkan setiap waktu, dan sangat dianjurkan pada waktu dan kondisi:

  1. Waktu, seperti bulan Ramadhan dan sepuluh (hari pertama dari) bulan Dzulhijjah.
  2. Kondisi-kondisi tertentu: waktu-waktu kebutuhan yang paling utama: bersifat tetap seperti musim dingin, atau kondisi darurat seperti terjadi kelaparan, atau kemarau dan semisal yang demikian itu. Dan sedekah paling utama adalah kepada karib kerabat yang menyembunyikan permusuhan.

Keutamaan Sedekah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ [البقرة: ٢٧٤] 

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [Al-Baqarah/2 :274]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلا يَقْبَلُ الله إلا الطَّيِّبَ، وَإنَّ الله يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَلِ. متفق عليه

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang bersedekah setimbang kurma dari usaha yang halal dan Allah Subhanahu wa Ta’ala  tidak menerima kecuali yang halal. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala  menerimanya dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang dari kalian mengembangkan anak kudanya, hingga seperti gunung.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Disunnahkan sedekah sunnah dengan yang lebih dari kecukupannya dan kecukupan tanggungannya. Dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.

Manusia yang paling berhak terhadap sedekah adalah anak-anak orang yang bersedekah sendiri, keluarganya, karib kerabatnya, tetangganya, dan sebaik-baik sedekah adalah sedekah seseorang kepada dirinya dan keluarganya. Dan pahala sedekah tetap ada, kendati terjatuh di tangan yang salah (yang tidak berhak menerima).

Sebaik-baik sedekah adalah yang lebih dari kebutuhan, dan kesungguhan orang yang sedikit adalah sedekah paling utama, yaitu yang lebih dari kecukupannya dan kecukupan tanggungannya.

Perempuan boleh bersedekah dari rumah suaminya apabila dia mengetahui ridhanya dan untuknya separo pahala. Dan haram apabila dia (istri) tahu bahwa dia (suami) tidak ridha. Maka jika dia memberi izin kepadanya, maka untuknya (istri) seperti pahalanya.

Sedekah di saat sehat wal afiat lebih utama dari pada di saat terbaring sakit, dan di saat kesusahan lebih utama dari pada di saat senang, apabila bertujuan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala . Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ٨ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا [الانسان: ٨،  ٩] 

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” [Al-Insaan/76:8-9]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh menerima zakat wajib dan tidak pula sedekah sunnah. Bani Hasyim dan budak yang mereka merdekakan tidak boleh menerima zakat dan boleh menerima sedekah sunnah.

Boleh memberikan sedekah sunnah kepada orang kafir untuk membujuk hatinya dan menghilangkan rasa laparnya, dan seorang muslim diberi pahala karenanya dan pada setiap hati yang basah ada pahala.

Hukum Memberi Kepada yang Meminta.
Disunnahkan memberi kepada yang meminta, sekalipun pemberian itu sedikit, berdasarkan ucapan Ummu Bujaid Radhiyallahu anha :

عن أم بُجَيْد رضي الله عنها قالت: يا رسول الله، صلى الله عليك، إن المسكين ليقوم على بابي، فما أجد له شيئاً أعطيه إياه، فقال لها رسول الله-  صلى الله عليه وسلم إنْ لَمْ تَجِدِي لَهُ شَيْئاً تُعْطِينَهُ إيَّاهُ إلَّا ظِلْفاً مُحْرَقاً، فَادْفَعيهِ إلَيْهِ فِي يَدِهِأخرجه أبو داود والترمذي

‘Ya Rasulullah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala  memberi rahmat kepada engkau, sesungguhnya seorang miskin berdiri di depan pintu rumahku, aku tidak mendapatkan sesuatu yang bisa kuberikan kepadanya’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika engkau tidak mendapatkan sesuatu yang bisa engkau berikan kepadanya kecuali kuku binatang yang dibakar, maka berikanlah kepadanya di tangannya.’ (HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi][2]

Bahaya dan Hukuman Meminta Bukan Karena Kebutuhan.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْألُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ». متفق عليه

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Senantiasa seorang laki-laki meminta-minta kepada manusia sehingga ia datang pada hari kiamat dan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ سَألَ النَّاسَ أمْوَالَهُمْ تَكَثُّراً، فَإنَّمَا يَسْألُ جَمْراً، فَلْيَسْتَقِلَّ أوْ لِيَسْتَكْثِرْ». أخرجه مسلم.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang meminta harta kepada manusia karena ingin memperbanyak (harta), maka sungguh ia meminta bara api, maka hendaklah ia cukup dengan yang sedikit atau mencari yang banyak (dengan ancaman api neraka).’ HR. Muslim.[4]

Siapakah yang Boleh Meminta?
Haram meminta kecuali dari penguasa, atau pada perkara yang tidak ada cara lain seperti menanggung beban atau mendapat musibah, atau menderita kefakiran dan ia tidak mempunyai sesuatu mencukupi hal itu, dan selain hal itu maka hukumnya haram.

Dari Samurah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

عن سمرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «المَسَائِلُ كُدُوحٌ يَكْدحُ بِهَا الرّجُلُ وَجْهَهُ، فَمَنْ شَاءَ أَبْقَى عَلَى وَجْهِهِ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَ، إلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ ذَا سُلْطَانٍ، أَوْ فِي أَمْرٍ لا يَجِدُ مِنْهُ بُدّاً». أخرجه أحمد وأبو داود.

‘Meminta-minta adalah cakaran yang seorang laki-laki mencakar wajahnya dengannya. Siapa yang menghendaki, ia biarkan di wajahnya, dan barang siapa yang menghendaki, ia meninggalkan kecuali seorang laki-laki yang meminta kepada penguasa atau pada perkara yang tidak ada jalan keluar darinya.’ HR. Ahmad dan Abu Daud[5]

Disunnahkan banyak berinfak di jalan-jalan kebaikan, hal itu adalah penyebab untuk menjaga hartanya dan memperbanyaknya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْ يَومٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ إلا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً». متفق عليه.

‘ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada satu hari yang hamba berada di pagi harinya kecuali turun dua malaikat, salah satunya berkata, ‘Ybahwa Nabi Sa Allah, berilah ganti kepada yang berinfak, dan yang lain berkata, ‘Ya Allah, berilah kehancuran kepada yang tidak memberi.’ Muttafaqun ‘alaih.[6]

Apabila Seorang Musyrik Masuk Islam, Maka Untuknya Pahala Sedekahnya Sebelum Islam.
Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله! أرأيت أشياء كنت أتَحَنَّثُ بها في الجاهلية من صدقة أو عتاقة، أو صلة رحم، فهل فيها من أجر؟ فقال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ». متفق عليه.

‘Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, ‘Bagaimana pendapatmu tentang beberapa perkara ibadah yang saya lakukan di masa jahiliyah, yaitu sedekah atau memerdekakan budak atau silaturrahim, adakah pahala padanya?’ Beliau menjawab, ‘Engkau masuk Islam bersama kebaikan yang telah engkau lakukan’ Muttafaqun ‘alaih.[7]

Adab-adab Bersedekah:
Sedekah merupakan salah satu jenis ibadah, ada beberapa adab dan syaratnya, yang terpenting adalah:

  1. Hendaklah sedekah ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak dimasuki dan dicampuri riya dan sum’ah.

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى». متفق عليه.

 ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya setiap amal disertai niat, dan seseorang itu hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya’ Muttafaqun ‘alaih.[8]

  1. Sedekah itu harus berasal dari harta yang halal, baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِ‍َٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ [البقرة: ٢٦٧] 

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”  [Al-Baqarah/2 :267]

  1. Sedekah itu dari hartanya yang terbaik dan paling disukainya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ [ال عمران: ٩٢] 

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imran/3 :92])

  1. Janganlah bermaksud dapat balasan yang lebih banyak dari sedekahnya dan menjauhi sifat arogan dan ujub. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ [المدثر: ٦] 

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.  [Al-Muddatstsir/74:6]

  1. Agar berhati-hati dari sesuatu yang membatalkan sedekah, seperti menyembut pemberian dan menyakiti. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ [البقرة: ٢٦٤] 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia….” [Al-Baqarah/2 :264]

  1. Merahasiakan sedekah dan tidak terang-terangan kecuali untuk mashlahat.

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ [البقرة: ٢٧١] 

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Al-Baqarah/2 :271]

  1. Agar memberikan sedekah sambil tersenyum, wajah berseri dan jiwa yang baik, serta meridhakan amil zakat dengan menunaikan yang perkara wajib.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِالله رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-: «إِذَا أَتَاكُمُ الْمُصَدِّقُ فَلْيَصْدُرْ عَنْكُمْ وَهُوَ عَنْكُمْ رَاضٍ». أخرجه مسلم.

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila penerima sedekah datang pada kalian, maka hendaklah kalian menginfakkannya sedang ia ridha pada kalian[9] H.R Muslim

Bersegera untuk bersedekah di masa hidupnya dan menyerahkan kepada yang lebih membutuhkan, karib kerabat yang membutuhkan lebih utama dari pada yang lain, karena mengandung pahala sedekah dan silaturrahim.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ [المنافقون: 10]

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:”Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” [al-Munafiqun/63:10]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ [الانفال: ٧٥] 

“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”  [Al-Anfaal/8: 75]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR.al-Bukhari no.1410, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1014.
[2] Shahih HR. Abu Daud no. 1667, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 1466, at-Tirmidzi no. 665, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 533.
[3] HR. al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040, ini adalah lafazhnya.
[4] HR. Muslim no. 1041
[5] Shahih HR. Ahmad no. 20529, Abu Daud no. 1639, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 1443.
[6] HR. al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010.
[7] HR. al-Bukhari no. 1436, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 123.
[8] HR. al-Bukhari no. 1, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1907.
[9] H.R Muslim nomer (989) Bab Menyenangkan orang yang meminta selama ia tidak meminta yang haram.

Kitab Puasa

KITAB PUASA

1. Pengertian puasa, hukum, dan keutamaannya
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan menjalankan beberapa ibadah untuk menguji hamba, apakah ia mengikuti hawa nafsunya atau menjunjung perintah Rabb-nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan perkara agama terbagi pada hal-hal yang bersifat menahan diri dari yang disukai seperti puasa, sesungguhnya ia adalah menahan diri dari yang disukai berupa makanan, minuman, jima’ karena mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dan termasuk di antara perkara agama adalah memberikan yang disukai seperti zakat dan sedekah, dan hal itu adalah memberikan yang disenangi yaitu harta karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terkadang mudah bagi seseorang memberikan seribu riyal akan tetapi sulit baginya untuk berpuasa walau sehari, atau sebaliknya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat beberapa jenis ibadah untuk menguji hamba.

Kebaikan hati.
Kebaikan hati dan istiqamahnya adalah dengan menghadapnya secara total kepada Rabb-nya Subhanahu wa Ta’ala dan suka dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Karena berlebihan dalam makanan, minuman, pembicaraan, tidur, dan pergaulan dengan manusia termasuk yang memutuskannya dari Rabb-nya Subhanahu wa Ta’ala, menambahnya tidak teratur, dan mencerai-beraikannya di setiap jurang, kasih sayang Yang Maha Perkasa lagi Penyayang kepada hamba-Nya menuntut untuk mensyari’atkan puasa kepada mereka yang menghilangkan yang berlebihan dari makanan dan minuman, dan mengosongkan dari hati campuran syahwat yang menghalangi jalannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan i’tikaf kepada mereka yang tujuannya adalah berhentinya hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bergabungnya kepada-Nya, berkhalwah dengan-Nya, memutuskan diri dari selain-Nya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan kepada umat menahan lisan dari segala sesuatu yang tidak berguna di akhirat. Dan mensyari’atkan bagi mereka shalat malam hari yang bermanfaat kepada hati dan badan.

Puasa: adalah menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala yang membatalkan mulai dari terbit fajar kedua hingga tenggelam matahari dengan niat puasa karena beribadah (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Hikmah disyari’atkannya puasa:

  1. Puasa adalah wasilah (sarana) untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan.
  2. Puasa membiasakan manusia menahan jiwa dan mengekang hawa nafsunya, dan latihan memikul tanggung jawab dan sabar terhadap kesulitan.
  3. Puasa membuat seorang muslim dapat merasakan penderitaan saudara-saudaranya, lalu hal itu mendorongnya berinfak dan berbuat baik kepada fakir miskin, maka dengan hal itu terwujudlah cinta kasih dan persaudaraan.
  4. Dengan puasa dapat membersihkan diri dan mensucikannya dari akhlak yang kotor dan campuran yang hina. Dan saat berpuasa merupakan waktu istirahat bagi pencernaan, lambung beristirahat, lalu saat berbuka mengembalikan aktivitas dan kekuatannya.

Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan kepada-Nya sebagai kemuliaan dan pengagungan. Dia Subhanahu wa Ta’ala mewajibkannya pada tahun kedua Hijriyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan selama sembilan kali.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling utama, dan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan lebih utama dari pada sepuluh malam Bulan Dzulhijjah, karena didalamnya terdapat lailatul qadar. dan sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama dari pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Hari Jum’ah adalah hari paling utama dalam seminggu, dan hari berkurban (10 Dzulhijjah) adalah hari paling utama dalam setahun, dan lailatul Qadar adalah malam paling utama dalam setahun.

Hukum Puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan hukumnya wajib atas setiap muslim, baligh, berakal, mampu berpuasa, muqim (tidak bepergian), laki-laki atau perempuan, tidak ada penghalang seperti haid dan nifas, dan ini khusus bagi perempuan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan berpuasa kepada umat ini, sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala mewajibkannya kepada umat-umat sebelumnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ [البقرة: ١٨٣] 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. [Al-Baqarah/2 :183]

Keutamaan Bulan Ramadhan:
1. Allah Ta’ala berfirman.

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ  [القدْر: 1، 5]

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”  [Al-Qadar/97:1-5]

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ‘Ia berkata :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ. متفق عليه

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Keutamaan Puasa.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «كُلُّ عَمَلِ ابنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ الله عَزَّ وَجَلَّ: إلَّا الصَّومَ، فَإنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِه، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله مِنْ رِيحِ المِسْكِ». متفق عليه.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap amal ibadah anak Adam Alaihissallam (manusia) dilipat gandakan. Satu kebaikan berlipat sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, ia adalah milikku dan Aku yang akan membalasnya. Ia meninggalkan nafsu syahwat dan makanannya karena aku. Bagi yang berpuasa ada dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan gembira saat bertemu Rabb-nya. Sungguh bau mulutnya lebih wangi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pada aroma minyak kesturi.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». متفق عليه.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang terdahulu.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

3. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, ia berkata :

عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّان، لا يَدْخُلُهُ إلَّا الصَّائِمُونَ». متفق عليه.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Di surga ada delapan pintu, padanya ada satu pintu yang bernama ar-Rayyan, tidak bisa memasukinya selain orang-orang yang berpuasa.’ Muttafaqun ‘alaih.[4]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, ini adalah lafazhnya.
[2] HR. al-Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151, ini adalah lafazhnya.
[3] HR. al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760
[4] HR. al-Bukhari no. 3257, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1152.

Hukum-hukum Puasa

HUKUM-HUKUM PUASA

Berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala hukumnya wajib bagi setiap muslim agar ia memperoleh pahala, bukan karena riya dan sum’ah, dan bukan pula karena mengikuti manusia atau mengikuti penduduk negerinya. Maka ia berpuasa karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruhnya dan mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian pula semua ibadah.

Puasa Ramadhan hukumnya wajib dengan salah satu dari dua perkara.
1. Bisa jadi dengan dilihatnya hilal (bulan tsabit) dari seorang muslim yang adil, kuat penglihatan, laki-laki atau perempuan.
2. Menyempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh (30) hari.

Hukum melihat hilal bulan Ramadhan.
Apabila hilal tidak kelihatan, disertai terangnya malam tiga puluh (30) dari bulan Sya’ban, maka mereka tetap berbuka. Demikian pula apabila terhalang oleh awan atau gelap. Apabila orang-orang berpuasa dua puluh delapan (28) hari, kemudian mereka melihat hilal, mereka berbuka dan wajib berpuasa (qadha`) satu hari setelah hari raya. Jika mereka berpuasa selama tiga puluh hari dengan persaksian satu orang, dan hilal belum juga terlihat, maka mereka tetap tidak berbuka sampai melihat hilal.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاثِينَ». متفق عليه.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Puasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Maka jika ditutupi atasmu, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Apabila penduduk sebuah negeri melihat hilal, mereka harus berpuasa. Karena tempat munculnya hilal itu berbeda-beda, maka bagi setiap wilayah atau daerah ada hukum yang menentukannya pada permulaan puasa dan akhirnya, menurut rukyah mereka. Dan jika kaum muslimin berpuasa serentak di seluruh penjuru bumi dengan satu rukyah, maka ini sesuatu yang baik. Ia merupakan fenomena yang menunjukkan persatuan, persaudaraan dan kebersamaan, dan menuju terwujudnya hal itu, Insya Allah. Setiap muslim harus berpuasa bersama negaranya. Janganlah penduduk negeri terbagi-bagi, sebagian berpuasa bersama negara dan sebagian lagi bersama yang lain, ini untuk menghentikan perpecahan yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barang siapa yang melihat hilal Ramadhan sendirian dan persaksiannya ditolak, atau melihat hilal Syawal dan ucapannya tidak diterima, ia harus berpuasa atau berbuka secara tersembunyi. Jika hilal dilihat di siang hari, maka hilal itu untuk malam berikutnya, dan jika tenggelam sebelum matahari, maka ia untuk malam yang telah lewat.

Disunnahkan bagi orang yang melihat hilal Ramadhan atau bulan lainnya untuk membaca:

أَللهُ أَكْبَرُ, اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا  بِالأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allâh Maha Besar! Ya Allâh! Tampakkanlah bulan sabit ini kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta mendapatkan taufiq untuk menjalankan syari’at yang Engkau sukai dan ridhai. Rabb kami dan Rabb-mu (bulan sabit) adalah Allâh’ HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[2]

Pemimpin umat Islam harus mengumumkan dengan berbagai sarana yang disyari’atkan dan dibolehkan tentang masuknya Bulan Ramadhan, apabila sudah pasti rukyah hilal secara syara’, demikian pula keluarnya.

Apabila seorang muslim berpuasa di suatu negeri, kemudian safar ke negeri lain, maka hukumnya dalam berpuasa dan berbuka adalah hukum negeri yang ia berpindah kepadanya. Maka ia berbuka bersama mereka apabila mereka berbuka. Akan tetapi bila berbuka kurang dari dua puluh sembilan (29) hari, ia mengqadha` satu hari setelah idul fitri. Dan jikalau ia berpuasa lebih dari tiga puluh (30) hari, maka ia tidak berbuka kecuali bersama mereka.

Hukum niat Puasa.
Wajib menentukan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar untuk puasa Ramadhan, dan sah niat puasa sunnah di siang hari, jika ia belum melakukan yang membatalkan puasa setelah terbit fajar.

Sah puasa wajib dengan niat di siang hari, apabila ia tidak mengetahui wajibnya di malam hari, sebagaimana jika adanya persaksian dengan rukyat di siang hari, maka ia menahan diri (dari yang membatalkan puasa) yang tersisa di hari itu. Dia tidak perlu mengqadha`, sekalipun ia sudah makan.

Barang siapa yang terkena kewajiban puasa di siang hari, seperti orang gila yang sudah sembuh/sadar, anak kecil sudah baligh, dan orang kafir yang masuk Islam. Cukuplah bagi mereka berniat di siang hari saat terkena kewajiban puasa, sekalipun sesudah makan atau minum, dan tidak wajib mengqadha` atasnya.

Bagi setiap muslim dalam shalat dan puasa ada hukum tempat yang ia berdomisili padanya. Orang yang berpuasa menahan diri (dari yang membatalkan) dan berbuka di tempat yang ia berdomisili padanya, sama saja di atas muka bumi, atau berada di atas pesawat terbang di udara, atau di atas kapal laut di lautan.

Puasa orang tua dan sakit.
Barang siapa yang berbuka karena tua atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, muqim atau musafir, ia memberi makan seorang miskin setiap hari. Dan cukuplah hal itu sebagai pengganti puasa, maka ia membuat makanan sejumlah hari yang wajib atasnya, dan mengundang orang-orang miskin kepadanya. Dan ia boleh memilih: Jika ia menghendaki, ia memberi makan setiap hari dengan harinya, dan jika ia menghendaki, ia bisa menundanya hingga hari terakhir. Ia juga boleh mengeluarkan setiap hari setengah sha’ makanan dan memberikannya kepada orang miskin.

Barang siapa yang terkena pikun, maka tidak ada kewajiban puasa dan tidak perlu membayar kafarat, karena pena diangkat darinya (bukan mukallaf).

Wanita yang haidh dan nifas diharamkan puasa, keduanya berbuka dan mengqadha di hari yang lain. Apabila keduanya suci di tengah hari, atau musafir yang tidak puasa telah sampai di siang hari, ia tidak wajib imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa), namun hanya wajib mengqadha` saja.

Wanita yang hamil dan menyusui, jika khawatir terhadap dirinya atau terhadap dirinya dan anaknya, keduanya boleh berbuka di bulan Ramadhan, kemudian mengqadha` sesudahnya.

Hukum puasa dalam perjalanan.
Yang paling utama adalah berbuka bagi yang puasa dalam perjalanan secara mutlak. Bagi musafir di bulan Ramadhan: jika berbuka dan berpuasa baginya sama saja, maka puasa lebih utama. Dan jika puasa terasa berat atasnya dalam perjalanan, maka berbuka lebih utama. Dan jika puasa sangat memberatkannya dalam perjalanan, maka berbuka wajib atasnya dan ia mengqadha’ di hari yang lain.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata. :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ، وَلا المُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. متفق عليه

‘Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

Barang siapa yang berniat puasa, kemudian berpuasa dan pingsan sepanjang hari atau sebagiannya, maka puasanya sah.

Barang siapa yang kehilangan perasaannya di bulan Ramadhan dan selainnya karena pingsan, sakit atau gila, kemudian sadar, maka ia tidak wajib mengqadha` puasa dan shalat, karena terangkat taklif darinya. Dan barang siapa yang kehilangan kesadaran karena perbuatan dan kehendaknya, kemudian sadar, ia wajib mengqadha`.

Barang siapa yang berniat puasa, kemudian makan sahur dan tertidur dan tidak terbangun kecuali setelah terbenam matahari, maka puasanya shahih dan tidak wajib mengqadha’.

Apabila seorang muslim makan, minum, atau berjima’, karena lupa di siang hari bulan Ramadhan, maka puasanya sah.

Apabila seorang muslim bermimpi (keluar mani dalam tidur), dan dia sedang puasa, maka puasanya sah. Ia wajib mandi dan tidak ada dosa atasnya.

Barang siapa sakit yang berat berpuasa baginya serta membahayakannya, maka puasa haram atasnya dan wajib berbuka dan mengqadha` sesudahnya.

Yang utama bagi seorang muslim adalah selalu dalam keadaan suci, dan boleh menunda mandi junub dan mandi haid dan nifas bagi yang berpuasa hingga terbit fajar, dan puasanya sah.

Yang disunnahkan bagi orang yang ingin safar di Bulan Ramadhan, agar berbuka jika ia menghendaki di saat meninggalkan bangunan (kota). Dan barang siapa yang berbuka karena mashlahat orang lain, seperti menyelamatkan orang tenggelam, atau memadamkan kebakaran dan semisalnya, maka ia harus mengqadha` saja.

Tata cara puasa di negeri yang tidak terbenam matahari padanya.
Barang siapa yang tinggal di negeri yang matahari tidak tenggelam pada musim panas dan tidak terbit di musim dingin,  atau tinggal di negeri yang siang harinya berlangsung selama enam bulan dan malamnya juga seperti itu, atau lebih banyak, atau kurang, maka mereka harus shalat dan puasa berpedoman kepada negeri terdekat kepada mereka, yang berbeda malam dan siang padanya. Dan gabungan keduanya adalah dua puluh empat (24) jam, maka mereka membatasi permulaan puasa dan kesudahannya, mulai menahan diri dari yang membatalkan puasa dan berbuka, menurut waktu negeri itu.

Apabila pesawat terbang lepas landas sebelum tenggelam matahari dan naik di udara, maka tidak boleh berbuka bagi yang puasa sampai tenggelam matahari.

Barang siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena mengingkari kewajibannya, ia kafir. Dan barang siapa yang meninggalkan puasa karena melalaikan dan malas, maka ia tidak kafir dan sah shalatnya, akan tetapi dia menanggung dosa besar.

Hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut.

  1. Makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan.
  2. Bersetubuh (jima’) di siang hari bulan Ramadhan.
  3. Mengeluarkan mani di saat jaga (tidak tidur) secara langsung, atau mengecup (istri), atau onani, atau semisalnya.
  4. Menggunakan jarum penambah gizi (infus) untuk badan di siang hari bulan Ramadhan.

Dan segala yang membatalkan ini (lima macam), batal orang yang puasa bila ia melakukannya secara sengaja, mengetahui, ingat terhadap puasanya.

  1. Keluar darah haid dan nifas di siang hari bulan Ramadhan.
  2. Murtad dari Islam.

Yang membatalkan puasa kembali kepada dua perkara.
1. Memasukkan segala sesuatu yang berguna untuk tubuh, memberi gizi dan menguatkannya, seperti makan dan minum, dan semisalnya, atau beberapa perkara yang memudharatkan tubuh, seperti minum darah, memabukkan dan semisalnya.

2. Keluarnya beberapa hal yang melemahkan tubuh, maka menambah kepadanya kelemahan di atas kelemahan, seperti sengaja melakukan onani, darah haid dan nifas.

Hukum orang yang mendengar Azdan Fajar sedangkan bejana berada di tangannya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ». أخرجه أبو داود.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian mendengar suara azan dan bejana berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya darinya.’ HR. Abu Daud.[4]

Barang siapa yang makan karena meyakini bahwa ia berada di malam hari, ternyata sudah siang, atau dia makan karena meyakini bahwa matahari sudah tenggelam, ternyata matahari belum tenggelam, maka puasanya shahih (sah, benar) dan tidak wajib mengqadha` atasnya.

Hal-hal yang tidak membatalkan puasa sangat banyak, di antaranya.
Celak, suntikan, yang diteteskan pada saluran air kencingnya (urethra), mengobati luka, minyak wangi, minyak rambut, garu, pacar, tetasan di mata atau telinga atau hidung, muntah, bekam, mengeluarkan darah, pendarahan hidung, terkena pendaharan, darah luka, mencabut gigi, keluar madzi dan wadi, alat penyemprot (sprayer) untuk penyakit asma, pasta gigi, semua itu tidak membatalkan puasa.

Menguraikan/membersihkan darah, dan jarum suntik apabila untuk pengobatan, bukan untuk tambahan gizi, tidak membatalkan puasa, dan menundanya hingga malam hari, jika bisa, lebih utama.

Perempuan boleh mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghalangi haid karena puasa atau haji, apabila para ahli kedokteran memutuskan bahwa hal itu tidak membahayakannya, dan lebih baik baginya menahan diri dari hal itu.

Mencuci ginjal, yaitu dengan mengeluarkan darah dari tubuh, kemudian mengembalikannya dalam kondisi bersih, disertai tambahan beberapa bahan kepadanya, pembersihan ini merusak puasa.

Apabila orang yang puasa mengeluarkan mani dengan onani atau bermesraan dengan istrinya tanpa bersetubuh, maka ia berdosa, dan ia harus membayar qadha`, tanpa kafarat.

Barang siapa yang safar di bulan Ramadhan dan berpuasa dalam perjalanannya, kemudian ia bersetubuh (jima’) dengan istrinya di siang hari, maka ia harus membayar qadha`, tanpa kafarat.

Barang siapa yang jima’ (bersetubuh) di siang hari bulan Ramadhan, dan ia tidak bepergian, maka ia harus mengqadha`, kafarat, dan dosa, jika melakukannya secara sengaja, tahu, dan ingat. Maka jika ia dipaksa, atau tidak tahu (jahil), atau lupa, maka puasanya sah dan tidak ada kewajiban qadha dan kafarat atasnya. Perempuan seperti laki-laki dalam dua keadaan ini.

Kafarat jima’ di siang hari bulan Ramadhan.
Memerdekakan budak, jika ia tidak menemukan, maka puasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka memberi makan enam puluh (60) orang miskin, bagi setiap orang miskin setengah sha’ makanan. Maka jika ia tidak mendapatkan (tidak punya apa-apa), gugurlah ia (gugurlah kewajiban kafarat ini). Dan kafarat ini tidak wajib selain jima’ di siang hari Ramadhan dari orang yang harus berpuasa, apabila ia melakukannya dalam keadaan tahu dan sengaja. Maka siapa yang melakukannya dalam puasa sunnah atau nazar atau qadha`, maka tidak kafarat atasnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: هَلكتُ يا رسول الله. قال: «مَا أَهْلَكَكَ؟» قال: وقعت على امرأتي في رمضان، قال: «هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً؟» قال: لا، قال: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟» قال: لا، قال: «فَهَلْ تَجِدُ ما تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِيناً؟» قال: لا، قال: ثم جلس، فأُتي النبي- صلى الله عليه وسلم- بعرق فيه تمر فقال: «تَصَدَّقْ بِهَذَا» قال: أفقر منا؟ فما بين لابتيها أهلُ بيتٍ أحوجُ إليه منا، فضحك النبي- صلى الله عليه وسلم- حتى بدت أنيابه، ثم قال: «اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ». متفق عليه.

‘Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Aku telah binasa, ya Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakanmu?’ Ia berkata, ‘Aku menjima’ istriku di bulan Ramadhan.’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau mendapatkan (mempunyai uang) untuk memerdekakan budak?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda lagi, ‘Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Ia (yang meriwayatkan hadits, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu) berkata, ‘Kemudian ia duduk.’ Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawakan sekeranjang kurma. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersedekahlah dengan ini.’ Ia berkata, ‘Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami. Tidak ada di antara dua harah ini (maksudnya kota Madinah) satu keluarga yang lebih membutuhkannya dari pada kami.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga nampak dua giginya, kemudian bersabda, ‘Pergilah, berilah makan kepada keluargamu. ‘Muttafaqun alaih.[5]

Beberapa hal yang tidak terputus dengannya puasa berturut-turut bagi orang yang terkena kewajiban berpuasa dua bulan bulan dan semisalnya, yaitu: dua hari raya, safar, sakit yang boleh berbuka, haid dan nifas.

Apabila seseorang bersetubuh dengan istrinya dalam dua hari atau lebih di siang hari Bulan Ramadhan, ia wajib membayar kafarat dan qadha` sejumlah bilangan hari. Dan jika ia mengulanginya dalam satu hari, maka hanya satu kafarat disertai qadha`.

Apabila orang yang musafir telah tiba dalam keadaan berbuka di hari istrinya dalam keadaan suci dari haid atau nifas di tengah-tengahnya, ia boleh menjima’nya (bersetubuh dengan istrinya).

Disunnahkan bersegerah mengqadha` puasa Ramadhan serta berturut-turut, dan apabila waktunya sempit wajib berturut-turut. Dan apabila ia menunda qadha` Ramadhan hingga tiba Ramadhan yang lain tanpa ada uzur, maka ia berdosa dan wajib mengqadha`.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan berpuasa Ramadhan pada hak orang yang tidak mempunyai uzur, dan secara qadha` pada hak orang yang ada uzur yang telah berlalu seperti safar dan haid, serta dengan memberi makan pada hak orang yang tidak mampu melaksanakan puasa secara tunai dan qadha`, seperti orang tua renta dan semisalnya.

Barang siapa yang meninggal dunia dan mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, jika ada uzur dengan sakit dan semisalnya maka tidak wajib membayar qadha` darinya dan tidak wajib pula memberi makan. Dan jika bisa mengqadha`, lalu ia tidak melakukannya sampai meninggal dunia, maka walinya melaksanakan puasa darinya.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عَنْهَا أنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ». متفق عليه.

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai kewajiban puasa, walinya menggantikan puasa darinya’. Muttafaqun ‘alaih.[6]

Barang siapa yang berbuka di Bulan Ramadhan atau sebagiannya dalam keadaan tahu, sengaja, ingat, tanpa ada uzur, maka tidak disyari’atkan qadha` baginya dan tidak sah darinya. Dia menanggung dosa besar, maka ia harus bertaubat dan istigfar.

Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa nazar, atau haji nazar, atau i’tikaf nazar, atau semisalnya, disunnahkan bagi walinya untuk mengqadha`nya. Walinya adalah ahli warisnya. Dan jika diqadha` oleh orang lain, niscaya sah dan sudah cukup.

Barang siapa yang berniat berbuka, berarti ia berbuka, karena puasa terdiri dari dua rukun: niat dan menahan diri dari yang membatalkan. Dan apabila ia berniat berbuka niscaya gugur rukun pertama, yaitu dasar segala amal dan nilai ibadah yang besar, yaitu niat.

Barang siapa yang tertidur di malam ke tiga puluh dari bulan Sya’ban dan ia berkata, ‘Jika besok adalah bulan Ramadhan maka aku berpuasa.’ Ternyata memang benar-benar bulan Ramadhan, maka puasanya sah.

Larangan, jika kembali kepada jenis ibadah yang sama, maka ia adalah haram dan batil, seperti jika seorang muslim berpuasa di hari raya, maka puasanya haram dan batil. Dan jika larangan itu kembali kepada ucapan atau perbuatan yang khusus dengan ibadah, maka hal ini membatalkannya, seperti orang yang makan sedangkan dia berpuasa niscaya rusaklah puasanya. Jika larangan itu bersifat umum dalam ibadah dan yang lainnya, maka hal ini tidak membatalkannya, seperti mengumpat, maka ia adalah haram akan tetapi ia tidak membatalkan puasa. Dan seperti inilah halnya dalam setiap ibadah.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no 1909, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1081
[2] Shahih/HR. Ahmad no 1397, as-Silsilah ash-Shahihah no. 1816, at-Tirmidzi no. 3451, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2745
[3] HR. al-Bukhari no. 1947 dan Muslim no. 1118
[4] Hasan Shahih/ HR. Abu Daud no. 2350, Shahih Sunan Abu Daud no. 2060.
[5] HR. al-Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111, ini adalah lafazhnya.
[6] HR. al-Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147

Sunnah-sunnah Puasa

SUNNAH-SUNNAH PUASA

Disunnahkah bersahur bagi orang yang berpuasa, karena terdapat keberkahan padanya, dan sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah dengan kurma. Di sunnahkan mengakhirkan waktu sahur. Di antara berkah sahur adalah menguatkan ketaatan dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia adalah pendorong untuk bangun dari tidur waktu. Waktu sahur adalah waktu untuk beristighfar (memohon ampun) dan berdo’a, (memudahkan untuk dapat menunaikan) shalat fajar secara berjama’ah, dan untuk menyelisihi ahli kitab.

Disunnahkan untuk segera berbuka dan memulai dengan kurma sebelum shalat. Jika kurma tidak ada, maka dengan air. Jika ia tidak menemukan, maka ia berbuka dengan apa yang ada dari makanan dan minuman yang halal. Jika ia tidak mendapat sesuatu untuk berbuka, maka ia berniat berbuka dengan hatinya.

Orang yang puasa kehilangan kadar gula yang tersimpan dalam tubuh. Penurunan kadar gula dari batas normal menyebabkan orang yang puasa merasakan lemah, malas dan kurang penglihatan. Dan memakan kurma, dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapat mengembalikan apa yang hilang dari zat gula dan semangat.

Disunnahkan untuk memberi makan orang yang berpuasa. Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala sepertinya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.

Apa yang diucapkan orang yang berpuasa ketika ia berbuka.
Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memperbanyak dzikir dan doa. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan basmalah, dan mengucap hamdalah setelah selesai makan. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan:

«ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إنْ شَاءَ الله». أخرجه أبو داود.

‘Telah hilang rasa haus, tenggorakan telah basah, dan telah tetap pahala, insya Allah’

Disunnahkan memakai siwak bagi orang yang berpuasa dan tidak berpuasa pada setiap saat, di awal siang maupun di akhirnya.

Apabila ada orang yang mencela atau mengajak bertengkar (berkelahi), maka disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk mengatakan: ” (إني صائم، إني صائم ) Sesungguhnya aku sedang berpuasa“. Jika ia dalam keadaan berdiri hendaknya segera duduk.

Bagi yang berpuasa disunnahkan menambah dan memperbanyak  amal-amal kebaikan seperti zikir, membaca al-Qur`an, bersedekah, membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan, istigfar, taubat, tahajjud, silaturrahim, mengunjungi orang sakit dan seumpama yang demikian itu.

Disunnahkan shalat Tarawih di malam-malam bulan Ramadhan setelah shalat ‘Isya (sebelas rekaat bersama witir atau tiga belas rekaat bersama witir), inilah sunnah. Barang siapa yang menambah, maka tidak berdosa dan tidak makruh. Dan barang siapa yang shalat bersama imam sampai berpaling, niscaya ditulis baginya shalat di malam hari (qiyamullail).

Disunnahkan bagi yang berpuasa yang mendapat undangan makan agar mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa,’ berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إلَى طَعَامٍ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ. أخرجه مسلم.

‘Apabila seseorang dari kalian mendapat undangan makan, sedangkan dia puasa, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa.’ HR. Muslim.[1]

Disunnahkan bagi orang yang puasa dan yang tidak puasa, apabila makan di sisi suatu kaum, agar mengatakan.

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الملائِكَةُ. أخرجه أبو داود وابن ماجه.

‘Orang-orang yang puasa berbuka di sisimu, orang-orang baik menyantap makananmu, dan malaikat mendo’akanmu.’ HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[2]

Disunnahkan umrah di Bulan Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً، أَوْ حَجَّةً مَعِي. متفق عليه.

‘…Umrah di bulan Ramadhan senilai menunaikan haji atau haji bersamaku.‘ Muttafaqun ‘alaih.[3]

Barang siapa yang berihram umrah di hari terakhir bulan Ramadhan dan tidak memulai pelaksanaan umrahnya kecuali di malam lebaran, maka umrah ini terhitung pada bulan Ramadhan, karena perhitungan adalah pada saat masuk padanya (saat berniat).

Disunnahkan bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan berbagai macam ibadah dan menghidupkan semua malam dan membangunkan keluarganya.

Keutamaan Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar adalah suatu malam yang sangat agung nilainya. Padanya dipisahkan setiap urusan yang bijaksana, ditentukan rizqi, ajal, dan keadaan untuk satu tahun itu.

Diharapkan Lailatul Qadar terjadi di malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan yang lebih kuat pada malam dua puluh tujuh (27).

Keistimewaan Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu delapan puluh tiga (83) tahun empat bulan. Maka disunnahkan menghidupkannya dan banyak berdoa padanya dengan doa yang warid (diriwayatkan dalam hadits-hadits).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ ٣ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ ٤ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ  [القدْر: 1، 5]

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”  [Al-Qadar/97:1-5]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». متفق عليه.

‘Barang siapa yang beribadah pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah terdahulu.’ Muttafaqun ‘alaih.[4]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت: يا رسول الله، أرأيت إن عَلمت أيُّ ليلةٍ ليلةُ القدر ما أقول فيها؟ قال: «قُولِي: اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ‘Beritahukanlah kepadaku, jika aku mengetahui Lailatul Qadar, apa yang kubaca padanya? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

 ‘Bacalah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, menyukai sifat maaf, maka maafkanlah aku.‘ HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim no. 1150
[2] Shahih HR. Abu Daud no. 3854, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 3263, dan Ibnu Majah no. 1747, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1418.
[3] HR. al-Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256, ini adalah lafazhnya.
[4] HR. al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760
[5] Shahih/ HR. at-Tirmidzi no 3513, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2789, dan Ibnu Majah no. 3850, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3105.

Dzikir Mutlaq

DZIKIR MUTLAQ

Dalam bab ini akan saya sebutkan fadhilah tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan istighfar dan dzikir-dzikir lain  yang dianjurkan dalam setiap waktu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قالَ: قالَ رَسولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَن: ِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Dua kalimat yang ringan di lidah namun berat di timbangan, dicintai Ar Rahman

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيْمِ

Aku mensucikan Allah dan memuji-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Besar”. Muttafaq ’alaih. [1]

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «أَحَبُّ الكَلامِ إلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، لا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ». أخرجه مسلم.

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu `anhu, Ia berkata: rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: Kalimat yang paling dicintai Allah ada empat, yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالله أَكْبَرُ

Aku mensucikan Allah dan memuji-Nya, tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah yang maha besar.” Tidak mengapa kalimat yang mana saja yang engkau mulai”. HR. Muslim.  [2]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «لأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Aku mengucapkan :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالله أَكْبَرُ

Maha Suci Allah, segala Puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah-lah yang Maha Besar lebih kucintai daripada segala apa yang disinari matahari”. HR. Muslim. [3]

عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «الطُّهُورُ شَطْرُ الإيْمَانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيزَانَ، وَسُبْحَانَ الله وَالحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ أَوْ تَمْلأُ مَا بَينَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَايِعٌ نَفْسَهُ، فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا. أخرجه مسلم

Dari Abu Malik Al Asy’ary Radhiyallahu anhu, ia berkata :  “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Kesucian sebagian dari iman, ucapan Alhamdulillah memenuhi timbangan, ucapan Subhanallah walhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat seperti cahaya (mencegah dari yang munkar dan mendorong berbuat kebajikan) dan sadaqah adalah dalil (di hari kiamat ketika ditanya “hartamu digunakan untuk apa?”), dan sabar adalah penerang (jalan menunuju hidayah), dan Al Qur’an adalah hujjah yang menguntungkanmu atau merugikanmu, setiap manusia keluar diwaktu pagi, ada yang menjual dirinya (untuk mentaati Allah), maka ada yang membebaskannya (dari azab neraka) atau mencelakakannya (dengan berbuat dosa). HR. Muslim. [4]

عن أبي ذر رضي الله عنه أَنْ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ أَيُّ الكَلامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَا اصْطَفَى الله لِمَلائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Zar radhiyallahu `anhu bahwa rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  ditanya: apakah kalimat yang paling utama ? beliau bersabda: yaitu kalimat yang dipilih Allah untuk para malaikat atau untuk para hamba-Nya, yaitu:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Aku mensucikan Allah dan memuji-Nya. H.R Muslim. [5]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: كنا عند رسول الله- صلى الله عليه وسلم- فقال: «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَومٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ». أخرجه مسلم.

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam lalu ia bersabda:  “Apakah salah seorang kamu lemah mengusahakan setiap hari seribu kebajikan? lalu ada yang bertanya kepada beliau di antara orang yang duduk : “Bagaimana mengusahakan seribu kebajikan?”, ia bersabda:  “Bertasbih 100x, niscaya dituliskan untuknya 1.000 kebajikan atau dihapuskan darinya 1.000 kesalahan”. HR. Muslim. [6]

وفي لفظ: «تُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، وَتُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ سَيِّئَةٍ». أخرجه أحمد والترمذي.

Dalam riwayat yang lain: ” Dituliskan untuknya seribu kebaikan dan dihapuskan dari nya seribu dosa“. H.R. Ahmad dan Tirmizi. [7]

عن جابر رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَالَ سُبْحاَنَ الله العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ». أخرجه الترمذي.

Dari Jabir Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda:  “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Maha Suci Allah dan Maha Terpuji) ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surga”. HR. Tarmizi. [8]

عن جويرية رضي اللّه عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم-  خرج من عندها بكرة حين صلى الصبح؛ وهي في مسجدها، ثم رجع بعد أن أضحى وهي جالسة فقال: ( ما زلت على الحال التي فارقتك عليها ؟ ) قالت: نعم. فقال النبي صلى الله عليه وسلم-  : ( لقد قلت بعدك أربع كلمات -ثلاث مرات- لو وزنت بما قلت منذ اليوم لوزنتهن: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةِ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Juwairiyah Radhiyallahu `anha, bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam di suatu pagi keluar dari rumahnya hendak melaksanakan shalat shubuh sedangkan ia berada di tempat shalat dalam rumahnya, kemudian beliau kembali setelah waktu dhuha sedangkan ia masih tetap duduk, beliau bersabda : “Apakah engkau masih dalam keadaan di saat aku tinggalkan?”, ia berkata : “Ya”, maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Aku telah mengucapkan empat kata 3x, kalau dtimbang dengan yang engkau ucapkan semenjak tadi niscaya sama:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةِ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Maha Suci Allah, lagi Maha Terpuji sebanyak jumlah mahluk-Nya, dan seperti yang diridhai zat-Nya, seberat Arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-Nya”. HR. Muslim. [9]

عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَالَ لا إلَهَ إلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam , ia bersabda :  “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) sepuluh kali adalah ia seperti oang yang memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail”. H.R. Muslim . [10]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلاماً أَقُولُه: قال: «قُلْ لا إلَهَ إلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، الله أَكْبَرُ كَبِيراً، وَالحَمْدُ للهِ كَثِيراً، سُبْحَانَ الله رَبِّ العَالَمِينَ، لا حَولَ وَلا قُوَّةَ إلَّا بِالله العَزِيزِ الحَكِيمِ» قَالَ: فَهَؤلاءِ لِرَبِّي فَمَا لِي؟ قَالَ: «قُلْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي». أخرجه مسلم.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam seraya berkata: “Ajarkan aku ucapan yang harus kukatakan”, ia bersabda :  “Ucapkanlah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، اللَّه أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah Yang Maha Besar, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah Tuhan semesta alamdan tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, lalu ia berkata : “Ini semuanya untuk Rabbku, maka apa untukku?”, ia bersabda :  “Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, tunjukilah aku dan berilah aku rezki”. HR. Muslim. [11]

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم-  قال: (( من قال اللَّهُمَّ إِنِّي أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللًهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأُشْهِدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ من قالها مرة أعتق الله ثلثه من النار و من قالها مرتين أعتق الله ثلثيه من النار و من قالها ثلاثا أعتق كله من النار )) أخرجه الحاكم.

Dari Anas Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: Barang siapa yang mengucapkan (doa ini):

اللَّهُمَّ إِنِّي أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللًهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأُشْهِدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi bersaksi kepada-Mu, malaikat yang memikul ‘Arasy-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu“.

Siapa yang mengucapkannya sekali maka Allah membebaskan sepertiga jasadnya dari neraka, Siapa yang mengucapkannya dua kali maka Allah membebaskan duapertiga jasadnya dari neraka, Siapa yang mengucapkannya tiga kali maka Allah membebaskan seluruh jasadnya dari neraka”. H.R. Hakim. [12]

عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالمعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ المنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا من الضُّحَى». أخرجه مسلم.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu `anhu, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Setiap persendian kalian bisa bersedekah, setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap ucapan tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, dan setiap ucapan takbir adalah sedekah, serta menganjurkan berbuat kebajikan adalah sedekah,  mencegah perbuatan munkar adalah sedekah, dan ganjaran yang setimpal dengan amalan di atas adalah melaksanakan shalat dhuha dua rakaat. HR. Muslim. [13]

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَالَ: رَضِيْتُ بِالله رَبّاً، وَبِالإسْلامِ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ». أخرجه مسلم وأبو داود.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam: barang siapa yang mengucapkan doa ini:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبـاًّ، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنـًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

Aku rela Allah sebagai Tuhan-(ku), Islam sebagai agama-(ku) dan Muhammad  sebagai rasulullah“ niscaya dia berhak masuk surga“. HR. Muslim. [14]

عن أبي موسى رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال له: «يَا عبْدَالله بْنَ قَيسٍ أَلا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ؟» فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله، قَالَ: «قُلْ: لا حَولَ وَلا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ». متفق عليه.

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda kepadanya: “Wahai Abdullah bin Qais Maukah engkau aku tunjukkan sebuah gudang dari beberapa gudang di surga?”, aku berkata : “Tentu wahai Rasulullah”, ia bersabda : ucapkanlah:

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إَلاَّ بِاللهِ

Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah”. Muttafaq ’alaih. [15]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «وَالله إنِّي لأَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوبُ إلَيهِ فِي اليَومِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً». أخرجه البخاري.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat dalam satu hari lebih dari 70x”. HR. Bukhari. [16]

عن الأغر المزني رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإنِّي لأَسْتَغْفِرُ الله فِي اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ». أخرجه مسلم.

Dari Aghaar Al Muzani Radhiyallahu `anhu, bahwa  “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya hatiku kelabu dan sesungguhnya aku minta ampun kepada-Nya!, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100x”. HR. Muslim. [17]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيهِ عَشْراً». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah memberinya rahmat sepuluh kali“. H.R. Muslim. [18]

عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه سمع النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ الله الَّذِي لا إلَهَ إلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ وَأَتُوبُ إلَيهِ ثلاثاً، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإنْ كَانَ فَارّاً مِنَ الزَّحْفِ». أخرجه الحاكم.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu `anhu bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: barang siapa yang mengucapkan:

: أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ

Aku minta mapunan Allah Yang tiada tuhan selain-Nya Yang Maha Hidup dan Maha Terjaga dan aku bertaubat kepada-Nya niscaya Allah mengampuni seluruh dosanya, sekalipun dosa lari dari medan jihad”. H.R. Hakim. [19]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6406 dan Muslim no hadist : 2694.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2137.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2695.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 223.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2731.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2698.
[7] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist 1496 dan Tirmizi no hadist 3463.
[8] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist 3465.
[9] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2726.
[10] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2693.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2696.
[12] Sanad hadist ini jayyid diriwayatkan oleh Hakim no hadist 1920.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 720.
[14] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 1884.
[15] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6384 dan Muslim no hadist : 2704.
[16] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6307.
[17] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2702.
[18] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 408.
[19] Hadist shahih diriwayatkan oleh Hakim no hadist 2550.

Dzikir Dalam Keadaan Biasa

DZIKIR DALAM KEADAAN BIASA

Berikut ini adalah beberapa zikir yang diucapkan dalam kondisi tertentu; dalam keadaan biasa, waktu sulit atau saat tiba hal mendadak.

1. Doa makan dan berpakaian.

عن معاذ بن أنس رضي الله عنهما أن النبي – صلى الله عليه وسلم- قال: (( من أكل طعاما ثم قال: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ غفر له ما تقدم من ذنبه ومن لبس ثوبا فقال: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ غفر له ما تقدم من ذنبه )) أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Mu’az bin Anas Radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Barangsiapa yang akan makan lalu mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah Yang memberi makan ini kepadaku dan Yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”

Niscaya diampunkan dosanya yang telah berlalu. Dan Barangsiapa yang akan berpakaian lalu mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.

Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku.” Niscaya diampunkan dosanya yang telah berlalu H.R. Abu Daud dan Tirmidzi. [1]

2. Doa memakai pakain baru atau doa yang diucapkan kepada orang yang berpakain baru.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- إذَا اسْتَجَدَّ ثَوباً سَمَّاه بِاسْمِهِ: إمَّا قَمِيصاً أَوْ عِمَامَةً ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ، وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ، وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ». قَالَ أَبُو نَضْرَةَ: فَكَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا لَبِسَ أَحَدُهُمْ ثَوباً جَدِيداً قِيلَ لَهُ: تُبْلِي وَيُخْلِفُ الله تَعَالَى. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Sa’id Al Kudri radhiyallahu `anhu , ia berkata : “Adalah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bila memakai pakaian baru baik sorban, gamis, beliau mengucapkan:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Ya Allah, segala puji untukku Engkau yang memberiku pakaian, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan itu dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan pakaian itu dibuat”.

Abu Nadhrah berkata: para sahabat Nabi , bila salah seorang diantara mereka memakai pakain baru mereka mengucapkan kepadanya:

تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى.

Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah ta’ala memberikan gantinya kepadamu. HR Abu Daud dan Tarmizi. [2]

عن أم خالد رضي الله عنها قالت: أُتِيَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- بِثِيَابٍ فِيهَا خَميصَةٌ سَودَاءُ فَقَالَ: «مَنْ تَرَونَ نَكْسُوهَا هَذِهِ الخَميصَةَ؟» فَأُسْكِتَ القَومُ فَقَالَ: «ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ» فَأُتِيَ بِيَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فَأَلْبَسَنِيهَا بِيَدِهِ وَقَالَ: «أبْلِي وَأخْلِقِي» مَرَّتينِ، فَجَعَلَ يَنْظُرُ إلَى عَلَمِ الخَميصَةِ وَيُشِيرُ بِيَدِهِ إلَيَّ، وَيَقُولُ: «يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنا» أي: حسن. أخرجه البخاري.

Dari Ummu Khalid Radhiyallahu `anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dihadiahkan untuk nya pakaian yang terbuat dari wol , lalu beliau bersabda : Siapakah menurut kalian yang pantas memakai ini . para sahabat terdiam , maka beliau bersabda : Panggil Ummu khalid ! maka Ummu khalid dibawa ke hadapan Nabi. Lalu beliau mengambil pakaian tersebut dan memakaikannya kepada Ummu Khalid, seraya bersabda : Pakailah sampai lusuh 2 x ! lalu beliau memperhatikan motif pakain tersebut dan menunjuk kepadaku seraya berkata: Wahai Ummu Khalid ini bagus”.  HR. Bukhari. [3]

3. Doa masuk rumah.

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ الله عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ، لا مَبِيتَ لَكُمْ وَلا عَشَاءَ، وَإذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ المَبِيتَ، وَإذَا لَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ المَبِيتَ وَالعَشَاءَ». أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Bila seorang lelaki masuk ke rumahnya lalu ia mengucapkan bismillah ketika masuk, dan ketika makan, syetan berkata kepada teman-temannya : “Kalian tidak bisa menginap dan ikut makan”, apabila ia masuk dan tidak mengucapkan bismillah maka syetan berkata : “Kalian dapat menginap”, apabila ia tidak mengucapkan bismillah ketika makan, syetan berkata : “Kalian dapat menginap dan makan”. HR. Muslim. [4]

4. Doa keluar rumah.

عن أم سلمة رضي الله عنها أن النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كان إذا خَرج مِنْ بَيْتِه قَالَ: «بسم الله تَوكّلت عَلى الله اللَّهُمَّ إنّا نعُوذُ بِكَ من أَنْ نزِلَّ أَوْ نضِلَّ، أَوْ نظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، أَوْ نجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَينا». أخرجه الترمذي والنسائي.

Dari Ummul Mukminin, Ummi Salamah (Hindun binti Huzaifah) bahwa sesungguhnya Nabi bila hendak keluar dari rumahnya, beliau berdoa:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أنْ نَزِلَّ أوْ نَضِلَّ أوْ نَظْلِمَ أوْ نُظْلَمَ أوْ نَجْهَلَ أوْ نُجْهَلَ عَلَيْنَا

“Bismillah, aku bertawakal kepada Allah, ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari dari tergelincir atau tersesat dan dari mendzolimi atau didzolimi orang, dan dari menjahili atau dijahili orang”. HR Tarmizi dan Nasa’i. [5]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِاسْمِ الله، تَوَكَّلْتُ عَلَى الله، لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ» قَالَ: «يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu `anhu, bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang bila hendak keluar dari rumahnya mengucapkan :

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Bismillah aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah  akan dikatakan kepadanya “Engkau telah ditunjuki, dan telah dicukupi, dan telah dijaga dan syetan menjauh darinya, dan setan yang lain berkata kepadanya: engkau tidak akan bisa menggoda seseorang yang telah ditunjuki, dan telah dicukupi, dan telah dijaga”. HR Abu Daud, Tarmizi. [6]

5. Doa masuk W.C

عن أنس رضي الله عنه قال: كان النبي- صلى الله عليه وسلم- إذا دخل الخلاء قال: «اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبْثِ وَالخَبَائِثِ». متفق عليه.

Dari Anas radhiyallahu `anhu, ia berkata: adalah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bila hendak masuk w.c beliau mengucapkan:

 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan”. Muttafaq alaih. [7]

6. Doa keluar dari W.C

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذَا خَرَجَ مِنَ الغَائِطِ قَالَ: «غُفْرَانَكَ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Aisyah radhiyallahu `anha bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  apabila keluar dari W.C berdoa:

غُفْرَانَكَ

Ampunan-Mu ya, Allah HR Abu Daud, Tarmizi. [8]

7. Doa saat berjalan menuju masjid.

عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه بات عند خالته ميمونة رضي الله عنها ليلة كان النبي – صلى الله عليه وسلم-  عندها …فأذن المؤذن، فخرج رسول الله – صلى الله عليه وسلم-  إلى الصلاة وهو يقول: (( اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَ اجْعَلْ فِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، ، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا ، وَ مِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا،  وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا )) متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma bahwa dia bermalam di rumah bibinya Maimunah radhiyallahu `anha. Dan malam itu giliran Nabi di rumahnya … Muazzin telah mengumandangkan azan, lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam keluar menuju masjid sambil membaca:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَ اجْعَلْ فِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، ، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا ، وَ مِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا،  وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا

“Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari belakangku, cahaya dari depanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku.” Muttafaq alaih. [9] 

8. Doa masuk dan keluar masjid.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي – صلى الله عليه وسلم-  أنه كان إذا دخل المسجد قال: (( أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ )) أخرجه أبو داود.

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwa beliau saat masuk masjid membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk.  HR. Abu Daud. [10]

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وإذا خرج قال: بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وزاد ابن اجه: اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. أخرجه أبو داود وابن ماجه وابن السني.

Dalam riwayat yang lain doa masuk masjid.

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Dengan nama Allah dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Ya Allah , bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.

Dan bila keluar beliau mengucapkan.

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. HR. Abu Daud , Ibnu Majah dan Ibnu Sunny. [11]

9. Doa saat melihat bulan sabit.

عن طلحة بن عبيد اللَّه رضي الله عنه أن النبي – صلى الله عليه وسلم-  كان إذا رأى الهلال قال: ( اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللَّهُ ) رَوَاهُ أحمد والتِّرمِذِيُّ.

Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu `anhu, bahwa kebiasaan Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bila melihat bulan sabit, mengucapkan :

اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللَّهُ

Ya Allah, jadikanlah dengan bulan itu terbit rasa aman,  keimanan, keselamatan dan islam kepada kami, Tuhan-ku dan Tuhan-mu adalah Allah. HR. Ahmad dan Tarmizi. [12]

10. Doa mendengar azan.

وعن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ( إذا سمعتم النداء ،  فقولوا : مثل ما يقول ثم صلوا علي؛ فإنه من صلى علي صلاة صلى اللَّه عليه بها عشراً، ثم سلوا اللَّه لي الوسيلة ؛ فإنها منزلة في الجنة لا تنبغي إلا لعبد من عباد اللَّه ، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حلت له الشفاعة ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhuma, ia mendengar Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Bila kalian mendengar suara azan maka tirukan seperti apa yang diucapkan muazin kemudian bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, sesungguhnya Allah mengampuninya sepuluh kali, kemudian mintakanlah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah tersebut adalah tempat di surga yang tidak pantas melainkan untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap bahwa aku adalah orang tersebut, maka siapa yang memintakan untukku wasilah niscaya ia mendapatkan syafaatku”. HR. Muslim. [13]

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رَسُول اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم قال: ( من قال حين يسمع النداء: اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْداً الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، حلت له شفاعتي يوم القيامة ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan setelah mendengar suara azan:

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْداً الَّذِيْ وَعَدْتَهُ

Ya Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini, dan (Tuhan Yang disembah dalam) shalat yang akan didirikan! berikan Muhammad wasilah dan fadhilah, dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan), niscaya ia berhak mendapatkan syafaatku di hari kiamat”. HR. Bukhari. [14]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه عن رسول الله  – صلى الله عليه وسلم أنه قال: ( من قال حين يسمع المؤذن: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ رَضِيْتُ بِاللهِ رَبٍّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِالَإِسْلَامِ دِيْناً غُفِرَ لَهُ ذنبه ) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu `anhu, dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Siapa yang mengucapkan  ketika mendengar orang azan:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ رَضِيْتُ بِاللهِ رَبٍّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِالَإِسْلَامِ دِيْناً

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku rela Allah Tuhanku dan Muhammad sebagai utusan Allah, dan islam agamaku), niscaya diampuni dosanya”. HR. Muslim. [15]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadist shahih , diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4023 dan tirmizi no hadist 3458.
[2] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4020 dan Tirmizi no hadist : 1767.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5845.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2018.
[5] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3427 dan Nasa’I no hadist 5486.
[6] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5095 dan Tirmizi  no hadist 3426.
[7] Muttafaq alaih , diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 142 dan Muslim  no hadist 375.
[8] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 30 dan Tirmizi  no hadist 7.
[9] Muttafaq alaih , diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist : 6316 dan Muslim  no hadist 763.
[10] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 466.
[11] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 465, Ibnu Majah no hadist 773 dan Ibnu Sunny no hadist 88.
[12] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 1397 dan Tirmizi no hadist 3451.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 384.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 614.
[15] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 386.

Dzikir yang Diucapkan Pada Waktu Kesulitan

DZIKIR YANG DIUCAPKAN PADA WAKTU KESULITAN

1. Doa saat kesulitan.

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الكَرْبِ: «لا إلَهَ إلَّا الله العَظِيمُ الحَلِيمُ، لا إلَهَ إلَّا الله رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لا إلَهَ إلَّا الله رَبُّ السَّماَوَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ العَرْشِ الكَريمِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam di saat kesulitan mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ

Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Rabb ‘Arsy yang besar, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit dan bumi, dan ‘Arsy yang mulia ).” Muttafaq ’alaih. [1]

وفي رواية مسلم: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا حزبه أمر، قال: … فذكر مثل ما تقدم. أخرجه مسلم.

Dalam riwayat Muslim: Sesungguhnya Nabi shallallahu `alaihi wasallambila mendapat kesulitan dalam suatu urusan beliau membaca: …seperti doa yang di atas. H.R Muslim.[2]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لا إلَهَ إلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فإنه لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إلَّا اسْتَجَابَ الله لَهُ». أخرجه الترمذي.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu `anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Doa Nabi Yunus saat berada di perut ikan adalah

لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain-Mu dan aku termasuk orang yang zalim

Sesungguhnya setiap Muslim yang membaca doa ini niscaya Allah akan mengabulkan permintaannya”. H.R. Tirimizi. [3]

2. Doa apabila takut terhadap sesuatu.

عن ثوبان رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ إذَا رَاعَهُ شَيْءٌ قَالَ: «هُوَ الله رَبِّي لا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً». أخرجه النسائي في عمل اليوم والليلة

Dari Tsauban radhiyallahu `anhu bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam apabila takut terhadap sesuatu beliau membaca:

هُوَ اللهُ رَبِّيْ لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Dialah Allah, Rabbku, aku tidak meserikatkan-Nya dengan sesuatupun jua. H.R Nasa’i dalam kitab Amalul yaum wa Lailah. [4]

3. Doa saat gundah gulana.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا أَصَابَ أَحَداً قَطُّ هَمٌّ وَلا حُزْنٌ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِن خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ القُرآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي، إلَّا أَذْهَبَ الله هَمَّهُ وَحُزْنَهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَحَاً» قَالَ: فَقِيلَ: يَا رَسُولَ الله ألا نَتَعَلَّمُهَا فَقَالَ: «بَلَى يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا». أخرجه أحمد.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: tidak seorangpun yang berada dalam gundah gulana lalu membaca doa ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِـيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِـيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي، وَنُوْرَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku (nasib-ku) ada di tangan-Mu, telah pasti hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada  seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib disisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku dan pengusir keluh kesahku“. melainkan Allah sirnakan gundah gulananya dan diganti dengan kegembiraan”. Kemudian ada yang berkata: Wahai Rasulullah haruskah kami mempelajarinya? Beliau bersabda: Ya, setiap orang yang mendengarnya haruslah mempelajarinya”. HR. Ahmad.[5]

4. Doa saat gentar menghadapi musuh.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن النبي – صلى الله عليه وسلم- كان إذا خاف قوماً يقول: ( اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ ) رَوَاهُ أحمد  وأبُو دَاوُدَ.

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu `anhu, bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam bila takut terhadap suatu kaum beliau mengucapkan do`a:

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

“Ya Allah ! kami menjadikan-Mu pada urat leher mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” HR. Ahmad dan Abu Daud. [6]

اللَّهُمَّ اكْفِيْنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ – أخرجه مسلم.

Ya Allah peliharalah aku dari gangguan mereka sesuka-Mu. HR. Muslim. [7]

5. Doa saat bertemu musuh.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- إذَا غَزَا قَالَ: «اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَنَصِيرِي بِكَ أَحُولُ، وَبِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bila hendak berperang beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِيْ وَنَصِيْرِيْ، بِكَ أَجُوْلُ وَبِكَ أَصُوْلُ وَبِكَ أُقَاتِلُ

“Ya Allah, Engkau adalah penopang dan penolongku, dengan-Mu aku memasuki pertempuran, dengan-Mu aku menyambar musuh, dan dengan-Mu aku berperang”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [8]

عن ابن عباس رضي الله عنهماحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إبرَاهِيمُ عَلَيهِ السَّلامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ- صلى الله عليه وسلم- حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُأخرجه البخاري.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api membaca:

 حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ 

cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah sebaik-baik pelindung.

Dan Nabi Muhammad membaca ayat yang sama ketika:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah sebaik-baik pelindung” HR. Bukhari. [9]

6. Doa meminta kemenangan atas musuh.

عَنْ عبد اللَّه بن أبي أوفى رضي الله عنهما قال: دعا رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يوم الأحزاب على المشركين: ( اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ ، سَرِيْعَ الْحِسَابِ، اللَّهُمَّ اهْزِم الأَحْزَابَ ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ ) مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu `anhuma : Bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berdoa dalam perang Ahzab:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ ، سَرِيْعَ الْحِسَابِ، اللَّهُمَّ اهْزِم الأَحْزَابَ ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“ Ya, Allah Yang menurunkan Al-qur`an, Yang cepat hisab-Nya, hancurkan pasukan gabungan, hancurkanlah mereka dan guncangkan mereka.” Muttafaq ’alaih. [10]

7. Ucapan bila sesuatu terjadi di luar rencana.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إلَى الله مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِالله وَلا تَعْجَزْ، وَإنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ: لَو أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ الله وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ». أخرجه مسلم

Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda : “Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah, tapi masing-masing mereka mempunyai kelebihan. Bersemangatlah engkau (melakukan) hal-hal yang berguna, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah, dan jika engkau terkena musibah jangan katakan “Andai tadi aku berbuat begini tentu tidak akan seperti ini” tetapi katakan “Hal tersebut telah ditakdirkan Allah dan Allah melakukan apa yang Ia kehendaki” karena sesungguhnya kata “Andai, Jikalau” membuka kesempatan syetan untuk menyesatkan”. HR. Muslim. [11]

8. Apa yang harus dilakukan bila terlanjur berbuat dosa.

عن أبي بكر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْباً فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَينِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ الله إلَّا غَفَرَ الله لَهُ»، ثم قرأ هذه الآية: ﴿ وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ١٣٥ ﴾ [ال عمران: ١٣٥]  أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Bakar Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: tidak seorang hambapun yang berbuat dosa, lalu dia berwudhu dengan sempurna, kemudian shalat dua raka’at kemudian meminta ampunan Allah melainkan Allah ampuni dosanya”. Lalu beliau membaca ayat berikut ini:

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. HR. Abu Daud dan Tirmizi. [12]

9. Doa orang yang tak mampu membayar hutangnya.

عن علي رضي الله عنه أَنَّ مُكَاتَباً جَاءَهُ فَقَالَ: إنِّي قَدْ عَجَزْتُ عَنْ كِتَابَتِي فَأَعِنِّي قَالَ: أَلا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ ثَبِيرٍ دَيْناً أَدَّاهُ الله عَنْكَ؟ قال: قُلْ: «اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغَنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ». أخرجه أحمد والترمذي.

Dari ‘Ali Radhiyallahu `anhu, bahwa seorang budak yang dimerdekakan bersyarat datang kepadanya, ia berkata: “Aku tak sanggup memenuhi persyaratan aku merdeka (bayaran), maka bantulah aku”, Ali berkata : “Maukah aku ajarkan engkau kalimat yang diajarkan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam kepadaku jikalau hutangmu sebanyak gunung niscaya Allah akan membayarkannya, ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal, terhindar dari yang haram dan beri aku kekayaan dengan karunia-Mu terhindar dari karunia selain-Mu”. HR. Ahmad dan Tarmizi. [13]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّينِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ». أخرجه البخاري.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu `anhu, ia berkata: Nabi shallallahu `alaihi wasallam sering berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan hutang dan laki-laki  yang menindas-(ku)“ H.R. Bukhari. [14]

10. Apa yang harus diucapkan orang yang ditimpa musibah kecil maupun besar.
Allah Taala berfirman:

 وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ  [البقرة: ١٥٥،  ١٥٧] 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al Baqarah: 155-157 ) .

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: إنَّا للهِ وَإنَّا إلَيهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيراً مِنْهَا إلَّا أَجَرَهُ الله فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيراً مِنْهَا». أخرجه مسلم

Dari Ummu Salamah radhiyallahu `anhu, aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah lalu mengucapkan :

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللَّهُمَّ اؤْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَاخْلُفْ لِيْ خَيْراً مِنْهَا

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya, ya Allah, beri aku pahala dalam musibahku ini dan beri aku ganti yang lebih baik), melainkan Allah memberinya pahala dalam musibahnya dan memberi ganti yang lebih baik)”. HR. Muslim. [15]

11. Doa pengusir setan dan bisikannya.
Allah Taala berfirman:

 وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ  [فصلت: ٣٦] 

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Fushshilat/41 : 36] .

Azan, selalu berzikir, membaca Al Quran. Membaca ayat Kursy juga dapat mengusir setan.

12. Apa yang harus diucapkan saat marah.

عن سليمان بن صُرَد رضي الله عنه قال: اسْتَبَّ رَجُلانِ عِنْدَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَباً قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-: «إنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَو قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَو قَالَ: أَعُوذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ..». متفق عليه.

Dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Ketika aku duduk bersama Nabi shallallahu `alaihi wasallam ada dua orang lelaki yang saling mencaci, seorang diantara mereka mukanya merah padam, lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Saya tahu satu kata jikalau ia mengucapkan kata tersebut niscaya hilang apa yang ia rasakan, jika ia mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk niscaya hilang apa yang ia rasakan”…”. Muttafaq ’alaih. [16]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6346 dan Muslim no hadist : 2730.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2730.
[3] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi  no hadist : 3505.
[4] Hadist shahih diriwayatkan oleh Nasa’i  no hadist : 657.
[5] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad  no hadist : 3712.
[6] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad  no hadist : 19958 dan Abu daud no hadist 1537.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist : 3005.
[8] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu daud  no hadist : 2632 dan Tirmizi no hadist 3584.
[9] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist 4563.
[10] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist 2933 dan Muslim no hadist 1742.
[11] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist 2664.
[12] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist 1521 dan Tirmizi no hadist 3006.
[13] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist 1319 dan Tirmizi no hadist 3563.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari  no hadist 6369.
[15] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist 918.
[16] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6115 dan  Muslim  no hadist 2610.

Dzikir Pada Waktu-Waktu Tertentu

DZIKIR PADA WAKTU- WAKTU TERTENTU

1. Apa yang harus diucapkan bila mendengar kokok ayam dan ringkikan keledai serta lolongan anjing

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- قَالَ: «إذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا الله مِنْ فَضْلِهِ، فَإنَّهَا رَأَتْ مَلَكاً، وَإذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ فَإنَّهَا رَأَتْ شَيْطَاناً». متفق عليه..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Apabila kamu mendengar ayam berkokok, mintalah anugerah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat malaikat. Tapi apabila engkau mendengar keledai meringkik, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, sesungguhnya ia melihat setan” muttafaq alaih. [1]

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الكِلابِ، وَنَهِيقَ الحُمُرِ بِاللَّيلِ فَتَعَوَّذُوْا بِالله، فَإنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لا تَرَوْنَ». أخرجه أحمد وأبو داود

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu mendengar anjing menggonggong dan mendengar keledai meringkik di malam hari, mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kamu lihat. H.R. Ahmad dan Abu Daud. [2]

2. Doa saat bubar (penutup) dari suatu majlis.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ، إلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ». أخرجه أحمد والترمذي

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang duduk di suatu majelis lalu ia banyak berkata yang tidak berguna di majelis tersebut, kemudian sebelum meninggalkan majelis ia mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Maha Suci Engkau ya Allah, dan pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadati melainkan Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu”, melainkan diampunkan kesalahan yang dilakukannya di majelis tersebut”. H.R. Ahmad dan Tirmizi. [3]

3. Doa bila melihat orang terkena musibah atau sakit.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ رَأَى مُبْتَلَىً فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ البَلاءُ». أخرجه الطبراني في الأوسط.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang melihat orang terkena musibah lalu membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak.” Dia tidak akan terkena musibah tersebut. H.R. Thabrani. [4]

4. Doa untuk kehancuran orang yang menzalimi umat Islam

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- يَومَ الخَنْدَقِ فَقَالَ: «مَلأَ الله قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَاراً كَمَا شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ». متفق عليه

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Saat perang Khandaq kami bersama Nabi Shallallahu `alaihi wasallam, beliau berdoa: Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api karena mereka telah membuat kita terlambat shalat Ashar hingga matahari terbenam“. Muttafaq alaih. [5]

 اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْنَ يُوْسُفَ – متفق عليه

Ya Allah, kuatkan azab-Mu terhadap kabilah Mudhar, Ya Allah timpakan kepada mereka musim paceklik seperti musim paceklik pada masa Nabi Yusuf. Muttafaq alaih.[6]

5. Apa yang harus diucapkan terhadap orang diberi nasehat kemudian dia menentangnya.

عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِيْنِكَ» قَالَ: لا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لا اسْتَطَعْتَ» مَا مَنَعَهُ إلَّا الكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إلَى فِيْهِ. أخرجه مسلم

Dari Salimah Al Akwa` Radhiyallahu `anhu : “Seorang lelaki makan dihadapan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dengan tangan kiri, lau ia bersabda: “Makanlah dengan tangan kananmu”, ia berkata: “Aku tidak bisa”, ia bersabda: “Benar engkau tidak bisa ?! ternyata ia enggan karena sombong, seketika ia tidak bisa mengangkat tangan ke mulutnya.” HR. Muslim. [7]

6. Apa yang harus diucapkan saat memulai menghancurkan kemungkaran.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: دَخَلَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- مَكَّةَ وَحَوْلَ البَيْتِ ثَلاثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُباً، فَجَعَلَ يَطْعَنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ، وَجَعَلَ يَقُولُ: جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ. متفق عليه.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu `anhu, ia berkata: saat Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam masuk kota Mekkah di sekeliling Ka’bah ada tiga ratus enam puluh berhala, maka beliau memukulnya dengan kayu seraya membaca firman Allah: Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap“. Muttafaq alaih. [8]

7. Ucapan kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu.

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ الخَلاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وُضُوءاً، قَالَ: «مَنَ وَضَعَ هَذَا؟» فَأُخْبِرَ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ». متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  masuk ke kamar kecil, lalu aku menaruh air wudhunya, beliau bersabda: Siapa yang meletakkan ini? Maka beliau diberitahu, maka beliau bersabda: Ya Allah, berilah pemahaman dalam agama“. Muttafaq alaih. [9]

 عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ صُنِعَ إلَيهِ معْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ الله خَيراً، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ».أخرجه الترمذي.

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mendapat perlakuan baik hendaklah ia mengatakan kepada orang yang melakukannya:

جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

Semoga Allah membalasmu kebaikanmu), maka sungguh itu adalah sanjungan yang terbaik”. HR. Tarmizi. [10]

عن عبد الله بن أبي ربيعة رضي الله عنه قال: اسْتَقْرَضَ مِنِّي النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم – أَرْبَعِينَ أَلْفاً فَجَاءَهُ مَالٌ فَدَفَعَهُ إلَيَّ وَقَالَ: «بَارَكَ الله لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، إنَّمَا جَزَاءُ السَّلَفِ الحَمْدُ وَالأَدَاءُ». أخرجه النسائي وابن ماجه

Dari Abdullah bin Abi Rabi’ah Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam meminjam uangku sebanyak empat puluh ribu, kemudian beliau mendapat harta dari utusan, dan beliau membayar hutangnyaseraya bersabda:

باَرَكَ اللهُ لَكَ فِيْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ

Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu, sesungguhnya balasan pinjaman adalah bayar dan pujian. H.R. Nasa’i dan Ibnu Majah. [11]

8. Doa saat melihat buah pertama tanaman di kebun.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: كَانَ النَّاسُ إذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاؤُوْا بِهِ إلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم-، فَإذَا أَخَذَهُ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِيْنَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا…» قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ. أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa dia berkata: Para sahabat bila melihat buah pertama dari kebunnya mereka membawanya kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengambilnya seraya berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ ثَمَرِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّنَا

Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kota Madinah, berkahilah sha’ kami dan berkahilah mud kami

Kemudian beliau memanggil anak yang terkecil dan memberikan buah tersebut kepadanya. H.R. Muslim. [12]

9. Apa yang dilakukan bila mendapat berita gembira.

عن أبي بكرة رضي الله عنه أنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كانَ إذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ يُسَرُّ بِهِ خَرَّ سَاجِداً شُكْراً للهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam apabila beliau mendapat kabar gembira, beliau bersujud mensyukuri nikmat Allah tabaraka wa ta’ala. H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. [13]

10. Apa yang diucapkan saat takjub dan gembira.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّهُ لَقِيَهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ المَدِيْنَةِ وَهُوَ جُنُبٌ فَانْسَلَّ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا جَاءَهَ قَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيرَةَ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ الله لَقِيْتَنِي وأَنَاَ جُنُبٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «سُبْحَانَ الله إنَّ المُؤْمِنَ لا يَنْجُسُ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa dia bertemu Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam di salah satu jalan kota Madinah sedangkan dia dalam keadaan junub, maka dia berlalu dan pergi lalu mandi. Maka Nabi shallallahu `alaihi wasallam mencarinya, tatkala Abu Hurairah muncul kembali, Nabi seraya bertanya: Dari mana engkau wahai Abu Hurairah ? ia berkata: Wahai Rasulullah, saat aku bertemu denganmu aku dalam keadaan junub, maka aku tidak enak duduk bersamamu sebelum mandi. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah ! sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis“.  H.R. muttafaq alaih. [14]

عن ابن عباس رضي الله عنهما-وفيه-.. قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ الله: أَطَلَّقْتَ نِسَاءَكَ، فَرَفَعَ إلَيَّ بَصَرَهُ فَقَالَ: «لا» فَقُلْتُ: الله أَكْبَرُ… متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma … Umar berkata : Apakah engkau menceraikan istri-istrimu ? maka Rasulullah mengangkat  pandangannya kepada ku seraya bersabda: Tidak. Aku berkata: Allahu Akbar … Muttafaq alaih. [15]

11. Apa yang harus diucapkan bila melihat awan dan hujan:

عن عائشة رضي الله عنها أن النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كانَ إذا رأى سَحَاباً مُقبلاً من أُفُقٍ منَ الآفاقِ ترَكَ ما هُوَ فيه وإنْ كانَ في صَلاتِهِ حَتَّى يَسْتَقْبِلَهُ فيقُولُ: «اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوذُ بكَ من شَرّ مَا أُرْسِلَ بِهِ» فإنْ أمطَرَ قالَ: «اللَّهُمَّ سَيْباً نَافِعاً» مَرَّتْينِ أو ثلاثةً، وإنْ كَشَفَهُ الله عزَّ وجلَّ ولمْ يُمطِرْ حَمِدَ الله على ذَلكَ. أخرجه البخاري في الأدب المفرد وابن ماجه.

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam  selalu saat melihat awan berkumpul menuju Madinah dari salah satu ufuk beliau meninggalkan pekerjaannya sekalipun dalam shalat, lalu beliau menghadapnya seraya berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ

Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari marabahaya yang dibawa awan ini.

Jika hujan turun beliau berdoa:

اللَّهُمَّ سَيْيَا نَافِعًا

Ya Allah, jadikanlah curahan hujan yang bermanfaat.

Beliau mengucapkannya 2 atau 3x. jika awan itu berlalu dan hujan tidak jadi turun maka beliau bertahmid (memuji Allah) . H.R. Ibnu Majah. [16]

12. Doa yang diucapkan saat angina bertiup kencang.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي- صلى الله عليه وسلم- إذا عصفت الريح قال: «اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ». أخرجه مسلم.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu `anha, ia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bila angin bertiup, beliau berdo’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang dibawanya, dan kebaikan dihembuskannya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya, dan kejahatan yang dibawanya, dan kejahatan yang dihembuskannya”. HR. Muslim. [17]

13. Doa untuk Pembantu.

عن أنس رضي الله عنه قال: قالت أمي: يا رسول الله خادمك ادع الله له، فقال: «اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ». متفق عليه.

Dari Anas Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Ibuku berkata: Wahai Rasulullah, ini Anas adalah pembantumu, maka doakanlah dia. Maka rasulullah shallallahu `alaihi wasallam  berdoa:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya  serta berkahi rezki yang Engkau berikan untuknya. Muttafaq alaih. [18]

14. Apa yang harus diucapkan bila hendak memuji seseorang.

عن أبي بكرة رضي الله عنه-وفيه-.. أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحاً صَاحِبَهُ لا مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً، وَالله حَسِيْبُهُ، وَلا أُزَكِّي عَلَى الله أَحَداً، أَحْسِبُهُ-إنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ- كَذَا وَكَذَا». متفق عليه.

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam  bersabda : “jika salah seorang kalian mesti memuji hendaklah ia mengatakan “menurut saya, ia begini dan begini (jika ia melihat hal tersebut darinya) dan cukuplah ia menurut Allah dan aku tidak mensucikan seseorang  dihadapan Allah”. Muttafaq ’alaih.[19]

15. Apa yang harus diucapkan oleh orang yang dipuji.

عن عدي بن أرطأة قال: كان الرجل من أصحاب النبي- صلى الله عليه وسلم- إذا زُكي قال: اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لا يَعْلَمُونَ. أخرجه البخاري في الأدب المفرد.

Dari Adi bin Arthah ia berkata : adalah para shahabat Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  bila dipuji ia berkata:

اللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَالاَ يَعْلَمُوْنَ

Ya Allah, jangan Engkau siksa aku atas pujian mereka dan ampunilah aku dari hal yang tidak mereka ketahui. H.R. Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. [20]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 3303 dan  Muslim  no hadist 2729.
[2] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist 14334 dan  Abu Daud  no hadist 5103.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist 10420 dan  Tirmizi  no hadist 3433.
[4] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Thabrani no hadist : 5320.
[5] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist  6396 dan  Muslim  no hadist 627.
[6] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist  1006 dan  Muslim  no hadist 675.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist 2021.
[8] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist  1006 dan  Muslim  no hadist 675.
[9] Muttafaq alaih, diriwayatkan oleh Bukhari no hadist  2478 dan  Muslim  no hadist 1781.
[10] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :2035.
[11] Hadist hasan diriwayatkan oleh Nasa’i no hadist : 4683 dan Ibnu Majah  no hadist : 2424.
[12] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist 1373.
[13] Hadist hasan diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist :143 dan Ibnu Majah  no hadist : 2477.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 283 dan  Muslim  no hadist 371.
[15] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 5191 dan  Muslim  no hadist 1479.
[16] Hadist sahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah  no hadist : 3889.
[17] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist 899.
[18] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 6344 dan  Muslim  no hadist 660.
[19] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist 2662 dan  Muslim  no hadist 3000.
[20] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adabuk mufrad  no hadist 782.