Author Archives: editor

Sikap Berjalan dan Berpakain yang Terlarang

ADAB BERPAKAIAN

Sikap Berjalan dan Berpakain yang Terlarang
Allah Taala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ [لقمان: ١٨،  ١٩] 

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [Luqman/31: 18-19]

وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ [النور : ٣١] 

Janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.  [An Nuur/24 : 31]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: نَهَى رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- عَنْ لِبْسَتَينِ: أَنْ يَحْتَبِيَ الرَّجُلُ فِي الثَّوبِ الوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى فَرْجِهِ مِنْهُ شَيْءٌ، وَأَنْ يَشْتَمِلَ بِالثَّوبِ الوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى أَحَدِ شِقَّيهِ. أخرجه البخاري.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu `anhu ia berkata : Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  melarang dua cara berpakain: seseorang memakai sehelai kain dan duduk ihtiba’ ( duduk dengan cara menempelkan pantat ke lantai sambil menegakkan kedua betis dan menyandarkan tangan ke belakang ) tak ada kain yang menutupi kemaluannya, dan memakai sehelai kain dengan cara melilitkannya ke seluruh badan ( sehingga bila ingin mengeluarkan tangannya harus mengangkat kainnya ) yang tidak tertutup kain tubuh bagian yang lain”. HR. Bukhari. [1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إذْ خَسَفَ الله بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Ketika seseorang  berjalan dengan pakainnya yang membuat dirinya merasa takjub, rambutnya di sisir rapi, berjalan dengan angkuh, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam (bumi), maka ia menyelam di perut bumi hingga hari kiamat.” Muttafaq ’alaih . [2]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: لَعَنَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ. أخرجه البخاري.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” HR. Bukhari. [3]

Wanita Dilarang Tabarruj Dengan Pakaian atau Perhiasan.
Allah Taala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا [الاحزاب : ٥٩] 

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  [Al Ahzab: 59]

Allah Taala berfirman:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ [النور : ٣١] 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. [An Nuur/24 : 31]

Allah Taala berfirman:

وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ [النور : ٦٠] 

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.  [An Nuur/24 : 60]

Memberikan Perhatian Terhadap Kebersihan dan Keindahan

عن أبي الأحوص عن أبيه قال: أَتَيْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- فِي ثَوبٍ دُونٍ فَقَالَ: «أَلَكَ مَالٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «مِنْ أَيِّ المَالِ؟» قَالَ: قَدْ آتَانِي الله مِنَ الإبِلِ وَالغَنَمِ وَالخَيلِ وَالرَّقِيقِ. قَالَ: «فَإذَا آتَاكَ الله مَالاً فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ الله عَلَيكَ وَكَرَامَتِهِ». أخرجه أبو داود والنسائي.

Dari Abu Ahwash dari ayahnya , ia berkata : aku menemui Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  dengan berpakaian yang sangat lusuh, maka beliau bersabda: Apakah engkau memiliki harta ? Ia berkata : Allah telah memberiku rizki, berupa; unta, kambing, kida dan budak . beliau bersabda : bilamana Allah telah memberimu rizki maka perlihatkanlah bekas nikmat Allah dan karunia-Nya atasmu”. H.R Abu Daud dan Nasa’i. [4]

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: أتَاَناَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- فَرَأَى رَجُلاً شَعِثاً قَدْ تَفَرَّقَ شَعْرُهُ فَقَالَ: «أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ»؟ وَرَأَى رَجُلاً آخَرَ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ فَقَالَ: «أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوبَهُ». أخرجه أبوداود والنسائي.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu `anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  mendatangi kami , lalu beliau melihat seseorang yang rambutnya kusut, maka beliau bersabda: Apakah orang ini tidak punya sesuatu untuk merapikan rambutnya? Dan beliau melihat seseorang yang pakaiannya kotor, maka beliau bersabda: Apakah orang ini tidak memiliki air untuk membasuh pakaiannya?. H.R Abu Daud dan Nasa’i. [5]

Kain Penutup Kepala

عن عمرو بن حُريث رضي الله عنه قال: كَأَنِّي أَنْظُرُ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- عَلَى المِنْبَرِ وَعَليَه ِعِمَامَةٌ سَوْدَاءُ، قَدْ أَرْخَى طَرَفَيْهَا بَينَ كَتِفَيهِ. أخرجه مسلم

Dari Amru bin Huraits Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “Sepertinya aku melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, beliau memakai sorban berwarna hitam dan mengulurkan dua ujung sorban tersebut di antara dua bahunya”. HR. Muslim. [6]

Doa saat Memakai Pakaian Baru

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- إذَا اسْتَجَدَّ ثَوباً سَمَّاهُ بِاسْمِهِ: إمَّا قَمِيصاً أَوْ عِمَامَةً ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ مِن خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ» قَالَ أَبُو نَضْرَةَ: فَكَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- إذَا لَبِسَ أَحَدُهُمْ ثَوباً جَدِيداً قِيلَ لَهُ: تُبْلِي وَيُخْلِفُ الله تَعَالَى. أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Sa’id Al Kudri Radhiyallahu `anhu , ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bila memakai pakaian baru baik sorban, gamis, beliau mengucapkan:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Ya Allah, segala puji untukku Engkau yang memberiku pakaian, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan itu dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan pakaian itu dibuat”.

Abu Nadhrah berkata : Para sahabat Nabi , bila salah seorang diantara mereka memakai pakaian baru mereka mengucapkan kepadanya:

تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى.

Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah ta’ala memberikan gantinya kepadamu. HR Abu Daud dan Tarmizi. [7]

Doa yang Diucapkan Kepada Orang yang Memakai Pakaian Baru

عن أم خالد بنت خالد قالت: أُتِيَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيْصَةٌ سَودَاءُ فَقَالَ: «مَنْ تَرَونَ نَكْسُوهَا هَذِهِ الخَمِيصَةَ؟» فَأُسْكِتَ القَومُ. فَقَالَ: «ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ» فَأُتِيَ بِيَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- فَأَلْبَسَنِيهَا بِيَدِهِ، وَقَالَ: «أبْلِي وَأخْلِقِي» مَرَّتَينِ .أخرجه البخاري.

Dari Ummu Khalid binti Khalid Radhiyallahu `anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dihadiahkan untuk nya pakaian yang terbuat dari wol , lalu beliau bersabda : Siapakah menurut kalian yang pantas memakai ini . para sahabat terdiam , maka beliau bersabda : Panggil Ummu khalid ! maka Ummu khalid dibawa ke hadapan Nabi. Lalu beliau mengambil pakaian tersebut dan memakaikannya kepada Ummu Khalid, seraya bersabda : Pakailah sampai lusuh 2 x ! HR. Bukhari. [8]

Cara memakai Terompah/Sandal

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِي غَزْوَةٍ غَزَوْنَاهَا: «اسْتَكْثِرُوا مِنَ النِّعَالِ؛ فَإنَّ الرَّجُلَ لا يَزَالُ رَاكِباً مَا انْتَعَلَ» . أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu `anhu ia berkata : aku mendengar Nabi shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda dalam sebuah peperangan: “Pakailah terompah ! karena orang yang memakai terompah sepertinya dia sedang naik kendaraan“. HR. Muslim . [9]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «إذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأ بِاليَمِينِ، وَإذَا انْتَزَعَ فَلْيَبْدَأ بِالشِّمَالِ، لِتَكُنِ اليُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وآخِرَهُمَا تُنْزَعُ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : “Bila salah seorang kalian memakai terompah mulailah dari kanan dan beliau menanggalkannya mulailah dari kiri, hendaklah terompah yang kanan yang pertama dipakai dan yang terakhir ditanggalkan”. Muttafaq ’alaih. [10]

Cincin Laki-laki Dipakai di mana?

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: «أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ» متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam  bahwa Nabi melarang memakai cincin emas. Muttafaq alaih . [11]

عن أنس رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ خَاتَمُهُ مِنْ فِضَّةٍ وَكَانَ فَصُّهُ مِنْهُ. أخرجه البخاري

Dari Anas Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memakai cincin terbuat dari perak dan permatanya juga. H.R. Bukhari . [12]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ، فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ، كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ. أخرجه مسلم.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  memakai cincin perak di jari kanannya, permatanya permata Habasyah, permatanya di tempatkan di arah telapak tangan. H.R. Muslim . [13]

عن أنس رضي الله عنه قال: صنع النبي- صلى الله عليه وسلم- خاتماً، فقال: «إنَّا اتَّخَذْنَا خَاتَماً وَنَقَشْنَا فِيهِ نَقْشاً، فَلا يَنْقُشْ عَلَيهِ أَحَدٌ» قَالَ: فَإنِّي لأَرَى بَرِيقَهُ فِي خِنْصَرِهِ. أخرجه البخاري.

Dari Anas Radhiyallahu `anhu ia berkata: Nabi shallallahu `alaihi wa sallam membuat cincin , lalu bersabda: ” Kami mebuat cincin dan diukir pada bagian atasnya ( nama Nabi ) maka jangan ada seorangpun yang mengukir ( nama Nabi pada cincinnya ). Anas berkata: sungguh aku melihat kilapan cincin tersebut di jari manis beliau. H.R. Bukhari . [14]

Perhiasan apa saja yang Dibolehkan bagi Wanita.

عن ابن عباس رضي الله عنهما: شَهِدتُّ العِيدَ مَعَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى قَبْلَ الخُطْبةِ، فَأَتَى النِّسَاءَ فَجَعَلْنَ يُلْقِينَ الفَتَخَ وَالخَوَاتِيمَ فِي ثَوْبِ بِلالٍ. متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu `anhuma ia berkata: Saya shalat ied bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, beliau shalat sebelum khutbah … lalu beliau mendatangi shaf wanita ( menganjurkan mereka bersedekah ) maka mereka meletakkan cincin mereka di atas kain Bilal. Muttafaq alaih . [15]

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسْمَاءَ قِلادَةً فَهَلَكَتْ، فَبَعَثَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً فَوَجَدَهَا، فَأَدْرَكَتْهُمُ الصَّلاةُ وَلَيسَ مَعَهُمْ مَاءٌ، فَصَلَّوْا فَشَكَوْا ذَلِكَ إلَى رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم- فَأَنَزْلَ الله آيَةَ التَّيَمُّمِ. متفق عليه.

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha bahwa ia meminjam kalung Asma’, ( dalam perjalanan ) kalung tersebut hilang. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  memerintahkan seseorang mencarinya. Dan waktu shalat tiba sedangkan mereka tidak memiliki persediaan air untuk shalat. Maka para sahabat mengadukan perihal tersebut kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam . lalu Allah menurunkan ayat tayammum. Muttafaq alaih. [16]

Bersikap Sederhana Dalam hal Pakain dan Hamparan.

عن أبي بردة قال: أخْرَجَتْ إلَيْنَا عَائِشَةُ كِسَاءً وَإزَاراً غَلِيظاً، فَقَالَتْ: قُبِضَ رُوحُ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فِي هَذَيْنِ. متفق عليه

Dari Abu Burdah Radhiyallahu `anhu, ia berkata : “`Aisyah Radhiyallahu `anha mengeluarkan sehelai pakaian dan sehelai sarung yang kasar, ia berkata : “Ketika Rasulullah wafat, ia memakai dua helai kain ini”. Muttafaq ’alaih. [17]

عن عائشة رضي الله عنها قالت: إنَّمَا كَانَ فِراشُ رَسُولِ الله- صلى الله عليه وسلم-، الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ، أَدَماً حَشْوُهُ لِيفٌ. أخرجه مسلم.

Dari Aisyah Radhiyallahu `anha ia berkata: Kasur tempat tidur Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terbuat dari kulit yang diisi sabut. H.R. Muslim . [18]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 2077.
[2] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5789 dan Muslim no hadist : 2088.
[3] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5885.
[4] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4063 dan Nasa’i no hadist : 5224.
[5] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4062 dan Nasa’i no hadist : 5236.
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 1359.
[7] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4020 dan Tirmizi no hadist : 1767.
[8] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5845.
[9] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2096.
[10] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5856 dan Muslim no hadist : 2097.
[11] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5864 dan Muslim no hadist : 2089.
[12] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5870.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2094.
[14] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5874.
[15] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5880 dan Muslim no hadist : 884.
[16] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 336 dan Muslim no hadist : 367.
[17] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 5818 dan Muslim no hadist : 2080.
[18] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist: 2082.

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

SIFAT NERAKA

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ٢٤ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٖ مُّرِيبٍ ٢٥ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَأَلۡقِيَاهُ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ [ق: ٢٤،  ٢٦] 

Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala.  Yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu. Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah Maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat “. [Qaaf/50: 24-26]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَحَاقَ بِ‍َٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ٤٥ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ [غافر: ٤٥،  ٤٦] 

“…dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.  [Ghafiir/40: 45-46]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدۡنَٰهُمۡ عَذَابٗا فَوۡقَ ٱلۡعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفۡسِدُونَ [النحل: ٨٨] 

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan“. [An-Nahl/16: 88]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا [النساء : ١٤٥] 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. [An-Nisaa/4:145]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَوَرَبِّكَ لَنَحۡشُرَنَّهُمۡ وَٱلشَّيَٰطِينَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّهُمۡ حَوۡلَ جَهَنَّمَ جِثِيّٗا ٦٨ ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمۡ أَشَدُّ عَلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ عِتِيّٗا ٦٩ ثُمَّ لَنَحۡنُ أَعۡلَمُ بِٱلَّذِينَ هُمۡ أَوۡلَىٰ بِهَا صِلِيّٗا [مريم: ٦٨،  ٧٠] 

“Demi Tuhanmu, Sesungguhnya akan kami bangkitkan mereka bersama syaitan, Kemudian akan kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. Kemudian pasti akan kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Dan Kemudian kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka”. [Maryam/19: 68-70]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ يَقُوْلُ: إِنِّي وُكِلْتُ بِثَلاَثَةٍ: بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ,  وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللهِ إِلهًا آخَرَ, وَبِالْمُصَوِّرِيْنَ.

Akan keluar suatu makhluk berbentuk leher dari neraka di hari kiamat, dia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar, lisan yang bertutur. Dia berkata: “Sesungguhnya aku diserahkan untuk (menyiksa) tiga macam orang: setiap orang yang sangat ingkar lagi keras kepala, setiap orang yang menyembah bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala sesembahan yang lain, dan orang-orang berkerja sebagai pelukis (makluk hidup).” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[1]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ المُصَوِّرُوْنَ

Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah para pelukis (makhlik hidup).[2]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saallam bersabda, ‘

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَتَلَهُ نَبِيٌّ أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا, وَإِمَامُ ضَلاَلَةٍ وَمُمَثِّلٌ مِنَ الْمُمَثِّلِيْنَ.

Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah laki-laki yang dibunuh oleh nabi atau membunuh nabi, pemimpin kesesatan, dan seorang yang bekerja sebagai pembuat patung“. HR. Ahmad dan ath-Thabrani.[3]

Penghuni Neraka yang Paling Ringan Siksanya.
Dari an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ بِالْقُمْقُمِ.

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya di hari kiamat adalah seorang yang di antara kedua telapak kakinya diberikan dua bara api yang dengannya mendidih otaknya, seperti mendidihnya bejana dengan air yang ada padanya.” Muttafaqun ‘alaih.[4]

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُوْ طَالِبٍ. وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ.

Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah Abu Thalib. Dia memakai dua sendal yang denganya otaknya mendidih disebabkan keduanya“. HR. Muslim.[5]

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda- dan disebutkan di sisi beliau tentang pamannya Abu Thalib, beliau bersabda:

لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَيُجْعَلُ فِى ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ

Semoga syafaatku bermanfaat untuknya di hari kiamat. Maka dia diletakkan di bagian paling ringan dari neraka yang mencapai kedua tumitnya, yang dengannya otaknya mendidih (karena siksaan tersebut).” Muttafaqun ‘alaih.[6]

Sapaan Terhadap Penghuni Neraka yang Paling Ringan Siksanya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ أَنَّ لَهُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لِيَفۡتَدُواْ بِهِۦ مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنۡهُمۡۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ [المائ‍دة: ٣٦] 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi Ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih”. [Al-Ma`idah/5:36]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى ِلأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِى اْلأَرْضِ مِنْ شَيْئٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ. فَيَقُوْلُ: أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِى صُلْبِ آدَمَ: أَنْ لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئًا فَأَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تُشْرِكَ بِي.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya: “Jika engkau memiliki semua yang ada di muka bumi, apakah engkau mau menebus dirimu dengannya?” Ia menjawab: “Ya”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku menghendaki darimu yang lebih mudah dari ini, sedang engkau masih berada di sulbi Adam u, bahwa engkau jangan menyekutukan-Ku  dengan sesuatu, namun dirimu enggan kecuali menyekutukanKu.’ Muttafaqun ‘alaih.[7]

Rantai dan Belengu Neraka Jahanam

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih HR. Ahmad  no. 8411, Lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 512, dan at-Tirmidzi no. 2574, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2084.
[2] HR. al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109, ini adalah lafazhnya.
[3] Sanadnya jayyid HR. Ahmad no. 3868, ini adalah lafazhnya, dan ath-Thabrani dalam al-Kabir (10/260), lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 281
[4] HR. al-Bukhari no. 6572, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 213.
[5] HR. Muslim no. 212
[6] HR. al-Bukhari no. 6564, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 210
[7] HR. al-Bukhari no. 6557, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2805

Rantai dan Belenggu Neraka Jahanam

SIFAT NERAKA

Rantai dan Belenggu Neraka Jahanam
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَلَٰسِلَاْ وَأَغۡلَٰلٗا وَسَعِيرًا [الانسان: ٤] 

“Sesungguhnya kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”. [Al-Insaan/76: 4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِٱلۡكِتَٰبِ وَبِمَآ أَرۡسَلۡنَا بِهِۦ رُسُلَنَاۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ٧٠ إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ وَٱلسَّلَٰسِلُ يُسۡحَبُونَ ٧١ فِي ٱلۡحَمِيمِ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ [غافر: ٧٠،  ٧٢] 

(yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab (Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul kami yang Telah kami utus. kelak mereka akan mengetahui.  Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret.  Ke dalam air yang sangat panas, Kemudian mereka dibakar dalam api“. [Al-Mu’min/40: 70-72]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ لَدَيۡنَآ أَنكَالٗا وَجَحِيمٗا ١٢ وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ وَعَذَابًا أَلِيمٗا [المزمل: ١٢،  ١٣]

“Karena Sesungguhnya pada sisi kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih”.[Al-Muzammil/73: 12-13]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ٣٠ ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ ٣١ ثُمَّ فِي سِلۡسِلَةٖ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعٗا فَٱسۡلُكُوهُ ٣٢ إِنَّهُۥ كَانَ لَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ ٱلۡعَظِيمِ ٣٣ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ [الحاقة: ٣٠،  ٣٤] 

(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.  Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.  Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. [Al-Haaqqah/69: 30-34]

Sifat Makanan Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ٤٣ طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ ٤٤ كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِي فِي ٱلۡبُطُونِ ٤٥ كَغَلۡيِ ٱلۡحَمِيمِ [الدخان: ٤٣،  ٤٦] 

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa.. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut.  Seperti mendidihnya air yang amat panas”. [Ad-Dukhaan/44:43-46]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَذَٰلِكَ خَيۡرٞ نُّزُلًا أَمۡ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ٦٢ إِنَّا جَعَلۡنَٰهَا فِتۡنَةٗ لِّلظَّٰلِمِينَ ٦٣ إِنَّهَا شَجَرَةٞ تَخۡرُجُ فِيٓ أَصۡلِ ٱلۡجَحِيمِ ٦٤ طَلۡعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَٰطِينِ ٦٥ فَإِنَّهُمۡ لَأٓكِلُونَ مِنۡهَا فَمَالِ‍ُٔونَ مِنۡهَا ٱلۡبُطُونَ ٦٦ ثُمَّ إِنَّ لَهُمۡ عَلَيۡهَا لَشَوۡبٗا مِّنۡ حَمِيمٖ ٦٧ ثُمَّ إِنَّ مَرۡجِعَهُمۡ لَإِلَى ٱلۡجَحِيمِ [الصافات : ٦٢،  ٦٨] 

 (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.  Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.  Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.  Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.  Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.  Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.  Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim”. [Ash-Shaaffaat/37:62-68]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٖ ٦ لَّا يُسۡمِنُ وَلَا يُغۡنِي مِن جُوعٖ [الغاشية: ٦،  ٧] 

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri”. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar”. [Al-Ghasyiyah/88:6-7]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَٰهُنَا حَمِيمٞ ٣٥ وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٖ ٣٦ لَّا يَأۡكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡخَٰطِ‍ُٔونَ [الحاقة: ٣٥،  ٣٧] 

“Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”. [Al-Haaqqah/69: 35-37]

Sifat Minuman Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱسۡتَفۡتَحُواْ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ١٥ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ١٦ يَتَجَرَّعُهُۥ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ وَمِن وَرَآئِهِۦ عَذَابٌ غَلِيظٞ [ابراهيم: ١٥،  ١٧] 

Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala.  Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.  Diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat”. [Ibrahim/14: 15-17]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ [محمد : ١٥]

“Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?”. [Muhammad/47: 15]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩ ﴾ [الكهف: ٢٩] 

“Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. [Al-Kahfi/18:29]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هَٰذَاۚ وَإِنَّ لِلطَّٰغِينَ لَشَرَّ مَ‍َٔابٖ ٥٥ جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَا فَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ ٥٦ هَٰذَا فَلۡيَذُوقُوهُ حَمِيمٞ وَغَسَّاقٞ ٥٧ وَءَاخَرُ مِن شَكۡلِهِۦٓ أَزۡوَٰجٌ [ص : ٥٥،  ٥٨] 

“Beginilah (keadaan mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk,. (yaitu) neraka Jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya; Maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), Biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam”. [Shaad/38: 55-58]

Sifat Pakaian Penghuni Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Sifat Pakaian Penghuni Neraka

SIFAT NERAKA

Sifat Pakaian Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ [الحج : ١٩] 

“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka”. [Al-Hajj/22: 19]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ يَوۡمَئِذٖ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ٤٩ سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٖ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ [ابراهيم: ٤٩،  ٥٠] 

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. . Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka “.  [Ibrahim/14: 49-50]

Tikar-tikar Penghuni Neraka
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادٞ وَمِن فَوۡقِهِمۡ غَوَاشٖۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ [الاعراف: ٤١] 

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka).  Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim”.[Al-A’raaf/7:41]

Kerugian Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ [البقرة: ١٦٧] 

Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. [Al-Baqarah/2: 167]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ, لِيَزْدَادُوْا شُكْرًا. وَلاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ النَّارَ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ لِيَكُوْنَ عَلَيْهِ حَسْرَةً.

Tidak ada seorangpun yang masuk surga kecuali diperlihatkan tempatnya di nereka, jika ia berbuat jahat, supaya dia bertambah syukur. Dan tidak ada seorangpun yang masuk neraka kecuali diperlihatkan tempatnya di surga, jika ia berbuat baik, agar menjadi penyesalan atas dirinya.” HR. al-Bukhari.[1]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِِنَّ اللهُ يَقُوْلُ ِلأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِى اْلأَرْضِ مِنْ شَيْئٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ. فَيَقُوْلُ: أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِى صُلْبِ آدَمَ: أَنْ لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئًا فَأَبَيْتَ إِلاَّ الشِّرْكَ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya: “Jika engkau memiliki semua yang ada di muka bumi, apakah engkau mau menebus dirimu dengannya?. Ia menjawab: “Ya”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku menghendaki darimu yang lebih mudah dari ini, sedang engkau masih berada di sulbi Adam u, untuk tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, namun engkau enggan kecuali berbuat syirik.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

Dialog Antara Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِي ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ لِأُولَىٰهُمۡ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَ‍َٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلّٖ ضِعۡفٞ وَلَٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ ٣٨ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ [الاعراف: ٣٨،  ٣٩] 

Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang Telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk Kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudiandi antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahul]: “Ya Tuhan kami, mereka Telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui”.   Dan Berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, Maka rasakanlah siksaan Karena perbuatan yang Telah kamu lakukan” [Al-A’raaf/7:38-39]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ [العنكبوت: ٢٥] 

“Kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela’nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali- kali tak ada bagimu para penolongpun“. [Al-‘Ankabuut/29: 25]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا [الفرقان: ١٤] 

“(akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”. [Al-Furqaan/25: 14]

Gambaran Orang-orang yang Disiksa di Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 6569
[2]  HR. al-Bukhari no. 3334, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2805

Zakat Fithri

ZAKAT FITHRI

Hikmah Disyari’atkannya Zakat Fithri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan zakat fithri sebagai pembersih bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor dan memberi makan untuk orang-orang miskin agar mereka tidak meminta pada hari lebaran dan turut serta bersama orang-orang kaya larut dalam kebahagiaan hari lebaran.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فَرَضَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. أخرجه أبو داود وابن ماجه.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor dan memberi makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat maka ia adalah zakat yang diterima dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat maka ia adalah salah satu sedekah.’ HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[1]

Hukum Zakat Fithri.
Zakat fithri hukumnya wajib kepada setiap muslim, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, kecil atau besar, yang memiliki satu sha’ makanan, lebih dari makanannya dan makanan orang yang berada di bawah tanggungannya dari kaum muslimin. Disunnahkan mengeluarkannya untuk janin.

Wajib zakat fithri dengan tenggelamnya matahari di hari terakhir Bulan Ramadhan kepada setiap orang dengan dirinya sendiri. Apabila seorang ayah mengeluarkannya untuk keluarganya atau selain mereka dengan izin dan ridha mereka hukumnya boleh, dan ia diberi pahala.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri.
Mulai waktu tenggelam matahari pada malam hari raya idul fitri hingga sebelum shalat ‘id. Yang paling utama adalah mengeluarkannya pada hari ‘Id sebelum shalat ‘id. Dan boleh mengeluarkannya sebelum ‘id, satu atau dua hari.

Dan barang siapa yang mengeluarkannya setelah shalat ‘id, maka hanya menjadi sedekah dan ia berdosa, kecuali jika ada uzur. Jika ia menundanya dari hari ‘id tanpa ada uzur, maka ia berdosa. Dan jika ada uzur, ia mengqadha`nya dan tidak ada dosa atasnya.

Ukuran Zakat Fithri.
Boleh mengeluarkan zakat fithri dari setiap jenis makanan yang merupakan makanan pokok bagi setiap negeri, seperti gandum, kurma, anggur, keju, beras, jagung, dan yang lainnya, dan yang paling utama adalah yang paling berguna bagi orang fakir.

Ukurannya bagi setiap orang adalah satu sha’ yang ditimbang sama dengan 2,4 kg. Ia memberikannya kepada orang-orang fakir di negerinya yang ia mengeluarkan wajib zakat padanya. Tidak boleh mengeluarkan nilai sebagai pengganti makanan. Dan orang-orang fakir  miskin lebih utama dengannya dari pada selain mereka.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: فَرَضَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعاً مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعاً مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّىَ قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إلَى الصَّلاةِ. متفق عليه.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum kepada setiap budak dan yang merdeka, laki-laki dan perempuan, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar ditunaikan sebelum keluarnya manusia menuju shalat (‘id).‘ Muttafaqun ‘alaih.[2]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Hasan  HR. Abu Daud no. 1609, ini adalah lafazdnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 1420, dan Ibnu Majah no. 1827, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1480.
[2]  HR. al-Bukhari no.1503, ini adalah lafazhnya dan Muslim no 983 dan 986

Mengeluarkan Zakat

MENGELUARKAN ZAKAT

Adab Mengeluarkan Zakat.
Mengeluarkan pada waktu wajibnya, mengeluarkannya dengan senang hati, memberikan dari hartanya yang terbaik, paling bagus, paling disenangi, paling dekat kepada yang halal, menyenangkan si penerima, menganggap kecil pemberiannya agar selamat dari sifat ujub, menyamarkannya agar selamat dari sifat riya, terkadang menampakkannya karena menghidupkan kewajiban ini dan karena mendorong orang-orang kaya agar mengikutinya, dan janganlah membatalkannya dengan menyebut pemberian dan menyakiti.

Yang afdhal, agar orang yang berzakat menyalurkan sedekahnya pada orang yang lebih bertaqwa, lebih dekat hubungan kekerabatannya, dan lebih membutuhkan. Dan agar ia berusaha memberikan sedekahnya pada orang yang berkembang zakat dengannya dari karib kerabat, orang-orang yang bertaqwa, para penuntut ilmu, orang-orang fakir yang tidak meminta-minta, keluarga besar yang membutuhkan dan semisal mereka. Dan agar ia mengeluarkan apa yang ada padanya berupa zakat atau sedekah dan semisalnya sebelum adanya halangan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ [المنافقون: ١٠] 

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.  [Al-Munafiqun/63:10]

Wajib bersegera mengeluarkan zakat apabila telah tiba waktu wajibnya kecuali karena darurat.

Boleh mendahulukan zakat sebelum waktu wajibnya setelah adanya penyebab wajib. Maka boleh mendahulukan zakat ternak, emas dan perak, dan barang perniagaan apabila telah mencapai nisab.

Boleh mengeluarkan zakat sebelum sebelum satu atau dua tahun dan menyalurkannya kepada fakir miskin dalam bentuk gaji bulanan, apabila mashlahat menuntut hal seperti itu.

Barang siapa yang mempunyai harta yang berbeda-beda waktunya seperti gaji, sewa properti dan warisan, ia mengeluarkan zakat setiap harta diatas setelah genap haulnya. Dan jika hatinya senang dan lebih mengutamakan kepentingan fakir miskin dan selain mereka, ia jadikan satu bulan dalam setahun seperti Ramadan untuk mengeluarkan zakatnya, maka hal ini lebih banyak pahalanya.

Barang siapa yang enggan mengeluarkan zakat karena ingkar terhadap kewajibannya, sedangkan dia tahu hukumnya, maka ia kafir dan diambil zakat itu darinya dan dibunuh jika tidak bertaubat, karena ia menjadi murtad. Jika ia tidak mengeluarkannya karena kikir, ia tidak kafir, dan diambil zakat itu darinya dan dihukum ta’zir dengan diambil separo hartanya.

Boleh memberikan jamaah (orang banyak) dari zakat sesuatu yang mengharuskan satu orang, dan sebaliknya. Yang paling utama agar ia sendiri yang membagikan zakat baik secara sembunyi maupun terang-terangan menurut mashlahatnya, dan pada asalnya secara sembunyi kecuali bila ada mashlahatnya.

Boleh bagi penguasa/pemimpin, apabila ia seorang adil dan amanah terhadap kepentingan kaum muslimin untuk mengambil zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya pada tempat-tempat penyaluran yang dianjurkan syara’. Ia harus mengutus petugas untuk mengambil harta yang nampak, seperti gembalaan hewan ternak, pertanian, buah-buahan, dan semisalnya, karena sebagian manusia ada yang tidak mengerti tentang kewajiban zakat, dan di antara mereka ada yang berpura-pura malas atau malas.

Apabila pemerintah meminta zakat dari orang-orang kaya, wajib menyerahkan zakat itu kepadanya dan terlepas tanggung jawab dengan hal itu dan untuk mereka pahalanya, dan dosa kepada orang yang menyalahgunakannya.

Setelah jatuh tempo kewajiban zakat, ia merupakan amanah di tangan orang yang berzakat. Maka apabila rusak, jika ia melampaui batas atau berlebihan, ia wajib mengganti. Dan jika tidak melampaui batas dan tidak berlebihan, ia tidak mengganti.

Yang paling utama adalah mengeluarkan zakat setiap harta kepada fakir miskin di negerinya. Boleh memindahnya ke negeri lain karena mashlahat, atau karib kerabat, atau sangat membutuhkan. Yang paling utama adalah mengeluarkannya sendiri dan boleh pula mewakilkannya kepada orang lain yang mengeluarkannya untuknya.

Harta yang berada di luar jangkauannya, tidak wajib zakat atasnya sampai ia menerimanya. Barang siapa yang mempunyai harta yang belum memungkinkan menerimanya karena suatu sebab yang tidak berpulang kepadanya berupa properti atau warisan, maka tidak ada zakat padanya sampai ia menerimanya.

Zakat harta berhubungan dengan harta, maka ia mengeluarkannya di negerinya. Dan zakat fitrah berhubungan dengan badan, maka seorang muslim mengeluarkannya di manapun ia berada.

Hukuman yang Tidak Mau Mengeluarkan Zakat.
Orang yang memiliki nisab wajib mengeluarkan zakatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ancaman siksaan yang pedih kepada setiap orang yang tidak mau mengeluarkannya.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ [التوبة: 34، 35]

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka:”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. [At-Taubah/9:34-35]

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَنْ آتَاهُ الله مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَومَ القِيَامَةِ شُجَاعاً أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَان، يُطَوِّقُهُ يَومَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ-يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ-، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا مَالُكَ، أَنَا كَنْزُكَ»، ثُمَّ تَلا {وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ} الآية. أخرجه البخاري.

‘Barang siapa yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala harta, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, niscaya digambarkan baginya pada hari kiamat ular yang bersulah, yang memiliki dua taring yang mengalunginya di hari kiamat. Kemudian ia mengambil dengan kedua rahangnya, kemudian ia berkata, ‘Aku adalah hartamu, aku adalah hartamu’. Kemudian beliau membaca: (Dan janganlah orang-orang yang kikir mengira…”  HR. al-Bukhari[1]

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لا يُؤَدِّي زَكَاتَهُ إلا أُحْمِيَ عَلَيْهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُجْعَلُ صَفَائِحَ، فَيُكْوَى بِهَا جَنْبَاهُ وَجَبِينُهُ، حَتَّى يَحْكُمَ الله بَيْنَ عِبَادِهِ، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ ألْفَ سَنَةٍ». أخرجه مسلم.

‘Tidak ada yang mempunyai simpanan harta yang tidak menunaikan zakatnya kecuali dipanaskan atasnya di neraka jahanam, lalu dijadikan kepingan-kepingan, lalu disetrika dengannya kedua lambung dan keningnya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan di antara hamba-hamba-Nya pada satu hari yang ukurannya 50.000 tahun’ HR.Muslim[2]

  1. Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، أوْ: وَالَّذِي لَا إلَهَ غَيْرُهُ-أوْ كَمَا حَلَفَ- مَا مِنْ رَجُلٍ تَكُونُ لَهُ إبِلٌ، أوْ بَقَرٌ، أوْ غَنَمٌ، لا يُؤَدِّي حَقَّهَا، إلا أُتِيَ بِهَا يَوْمَ القِيَامَةِ أعْظَمَ مَا تَكُونُ وَأسْمَنَهُ، تَطَؤُهُ بِأخْفَافِهَا، وَتَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا، كُلَّمَا جَازَتْ أُخْرَاهَا رُدَّتْ عَلَيْهِ أُولاهَا، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ». متفق عليه.

‘Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang jiwaku berada di tangan-Nya’ atau ‘Demi yang tidak ada Ilah selain Dia’ atau ‘sebagaimana beliau bersumpah, tidak ada seorang laki-laki yang mempunyai unta atau sapi atau kambing yang dia tidak menunaikan haknya (zakatnya) kecuali didatangkan dengannya pada hari kiamat yang paling besar dan paling gemuk, yang menginjaknya dengan kakinya dan menanduknya dengan tanduknya. Setiap kali berlalu yang terakhir dikembalikan atasnya yang pertamanya, sampai diputuskan di antara semua manusia” Muttafaqun ‘alaih.[3]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR Bukhari nomer 1403
[2] HR Muslim nomer 987
[3] HR al-Bukhari no 1460, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 987

Penyaluran Zakat

PENYALURAN ZAKAT

Para Penerima Zakat.
Para penerima zakat yang boleh menyalurkan zakat kepada mereka ada delapan golongan, yaitu yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ  [التوبة: 60]

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana” [At-Taubah/9:60]

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahnya terkadang menentukan yang berhak menerima dan kadar yang berhak dia dapatkan seperti faraidh dan para penerimanya, dan terkadang menentukan apa yang harus dilakukan tanpa menentukan orang yang berhak menerimanya, seperti pembayaran kafarat, seperti kafarat zhihar, sumpah dan semisalnya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala terkadang menentukan yang berhak menerima tanpa menyebutkan kadar yang berhak dia terima seperti para penerima zakat, dan mereka berjumlah delapan golongan:

  1. Orang-orang Fakir : Orang-orang yang tidak mendapat sesuatu, atau mendapatkan sebagian kecukupan.
  2. orang-orang Miskin : Orang-orang yang mendapatkan lebih banyak kecukupan atau separuhnya.
  3. Para Amil : Para penagihnya, pemeliharanya, dan yang membaginya. Jika mereka menerima gaji dari penguasa, maka mereka tidak diberi bagian dari zakat.
  4. Mu`allaf yang dibujuk hatinya : Orang-orang yang sudah muslim, atau orang-orang kafir, sedang mereka adalah para pemimpin kaumnya yang diharapkan keislamannya, atau menahan gangguannya, atau diharapkan dengan memberinya bertambah kuat imannya atau islamnya, atau islam teman sejawatnya. Mereka diberikan dari zakat sekadar apa yang diinginkan sudah terwujud.
  5. Untuk memerdekakan Budak: mereka adalah budak dan budak mukatab yang membeli diri mereka dari majikannya. Maka mereka dimerdekakan dan mendapat hak dari zakat. Termasuk dalam hal ini untuk menebus/membebaskan kaum muslimin yang tertawan di medan perang.
  6. Orang-orang yang berhutang : mereka terbagi dua:
    • Berhutang karena mendamaikan yang bermusuhan, maka ia diberi sekadar hutangnya meskipun ia kaya.
    • Berhutang untuk dirinya sendiri, yaitu menanggung banyak hutang dan tidak bisa membayarnya.
  7. Fisabilillah : Mereka adalah para pejuang fi sabilillah untuk meninggikan kalimah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semisal mereka adalah para da’i yang berdakwah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka diberikan zakat apabila mereka tidak memiliki gaji, atau gajinya tidak mencukupi.
  8. Ibnu Sabil : Musafir yang kehabisan biaya di tengah perjalanan dan ia tidak mempunyai biaya yang menyampaikannya ke negerinya, maka ia diberikan sesuatu yang menutupi kebutuhannya di perjalanannya, sekalipun dia orang kaya.

Tidak boleh menyalurkan zakat kepada selain delapan golongan tersebut, dan hendaknya memulai dengan orang yang lebih membutuhkan.

Boleh menyalurkan zakat kepada satu golongan penerima zakat, dan boleh memberikannya kepada satu orang penerima zakat dalam batas kebutuhannya, dan jika zakat itu banyak maka dianjurkan membaginya kepada golongan-golongan tersebut.

Orang yang menerima gaji bulanan sebanyak dua ribu riyal, akan tetapi ia membutuhkan tiga ribu riyal setiap bulannya untuk menutupi nafkahnya dan nafkah tanggungannya, maka sesungguhnya ia diberi zakat sekadar kebutuhannya.

Apabila seseorang memberikan zakat kepada orang yang disangkanya berhak menerima zakat, disertai kesungguhan dan penyelidikan, lalu nyata bahwa ia bukan termasuk penerima zakat, maka zakatnya sudah cukup.

Sesuatu yang wajib dari zakat harus disalurkan sesegera mungkin kepada para penerima zakat, dan tidak boleh menundanya karena ingin mengembangkannya dan perdagangan untuk kepentingan pribadi atau organisasi dan semisalnya. Dan jika harta itu bukan berasal dari zakat, maka tidak ada halangan melakukan perdagangan padanya dan menyalurkannya di jalan-jalan kebaikan.

Boleh memberikan zakat kepada orang yang ingin menunaikan kewajiban ibadah haji dan tidak mempunyai biaya yang cukup. Dan boleh menyalurkannya untuk membebaskan tawanan muslim, dan menyalurkannya untuk seorang muslim yang ingin menikah, sedang seorang fakir yang ingin menahan dirinya (dari yang haram), dan boleh menutup hutang mayit dari zakat.

Bagi orang yang mempunyai tagihan hutang kepada seorang fakir, boleh memberikan zakat kepada fakir itu dengan catatan tidak ada kesepakatan di antara keduanya bahwa ia memberikannya untuk membayar hutangnya, dan tidak boleh menggugurkan hutang dan menganggapnya sebagai zakat.

Sedekah kepada seorang miskin adalah sedekah dan kepada karib kerabat adalah sedekah dan silaturrahim.

Apabila seseorang mampu bekerja mengkhususkan dirinya untuk menuntut ilmu, maka ia diberi dari zakat, karena menuntut ilmu termasuk salah satu jenis jihad fi sabilillah dan manfaatnya muta’addi (transitif, bukan hanya untuk dirinya sendiri).

Disunnahkan memberikan zakat kepada orang-orang fakir dari karib kerabatnya yang dia tidak wajib memberi nafkah kepada mereka, seperti saudara laki-laki dan perempuan, saudara laki-laki dan perempuan dari ayah, saudara laki-laki dan perempuan dari ibu dan semisal mereka.

Boleh menyalurkan zakat kepada kedua orang tua dan seterusnya (kakek dst), kepada anak-anak dan seterusnya (cucu, dst.), jika mereka  dalam keadaan fakir sedang dia tidak mampu memberi nafkah kepada mereka selama tidak membayar kewajibannya. Dan demikian pula jikalau mereka menanggung beban hutang atau diyat, maka boleh membayar hutang mereka dan mereka lebih berhak dengannya.

Suami boleh memberikan zakatnya kepada istrinya apabila dia (istri) menanggung hutang atau kafarat. Adapun istri, dia boleh memberikan zakatnya kepada suaminya, jika suaminya itu termasuk yang berhak menerima zakat.

Tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Hasyim (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan budak-budak yang mereka merdekakan, karena memuliakan mereka, karena zakat itu adalah kotoran manusia.

Zakat tidak boleh diberikan kepada non muslim kecuali jika ia seorang muallaf, tidak boleh kepada budak kecuali budak mukatab.

Zakat tidak boleh diberikan kepada orang kaya, kecuali apabila dia seorang amil (petugas zakat), atau muallaf yang dibujuk hatinya, atau pejuang fi sabilillah, atau ibnu sabil yang kehabisan dana di tengah perjalanan.

Orang kaya : Orang yang mendapatkan kecukupan kehidupannya dan kehidupan tanggungannya sepanjangan tahun. Bisa jadi dari harta yang ada, atau perdagangan, atau industri, dan semisal yang demikian itu.

Yang Diucapkan Orang yang Menerima Zakat.
Disunnahkan kepada orang yang diberikan zakat agar berdoa untuk yang memberinya seraya berkata : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ. متفق عليه. Ya Allah, berilah rahmat kepada mereka.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Atau membaca : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلانٍ. متفق عليه  Ya Allah, berilah rahmat kepada keluarga fulan.‘ Muttafaqun ‘alaih.[2]

Atau membaca:  اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي إبِلِهِ. أخرجه النسائي ‘Ya Allah, berilah berkah padanya dan pada untanya.’ HR. an-Nasa`i.[3]

Barang siapa yang mengeluarkan zakat, apabila dia mengetahui bahwa fulan termasuk yang berhak menerima zakat dan dia menerima zakat, maka dia memberinya dan tidak perlu memberi tahu bahwa ia adalah zakat. Dan jika dia tidak tahu tentang orang itu atau orang itu tidak mau menerima zakat, maka di sini ia harus memberi tahu bahwa yang diberikan itu adalah zakat.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 4166 dan Muslim no. 1078
[2]  HR. al-Bukhari no. 1497 dan Muslim no. 1078
[3]  Shahih/ HR. an-Nasa`i no. 2458, Shahih Sunan an-Nasa`i no. 2306

Fadhilah Dzikir

BAB AZKAR

FADHILAH DZIKIR.
Sunah Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam berdzikir.
Nabi shallallahu `alaihi wasallam  adalah orang yang berdzikir paling sempurna, beliau berdzikir kepada Allah setiap saat dan keadaan, seluruh ucapannya hanya seputar dzikir, perintah, larangan dan syariatnya merupakan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meberitakan tentang Asma, sifat, perbuatan dan hukum Allah juga merupakan dzikir. Beliau bertahmid, bertasbih, mengagungkan, menyanjung, meminta, berdoa, takut dan harap kepada Allah semuanya itu merupakan dzikir kepada-Nya.

Dalam bab ini saya akan menjelaskan dzikir-dzikir yang terdapat dalam Al Quran dan Sunah Nabi.

Dzikrullah adalah ibadah yang paling ringan, paling mudah, paling agung dan paling utama. Karena gerak lidah adalah gerakan yang paling ringan. Dan Allah telah menjanjikan karunia dan pahala khusus yang tidak terdapat dalam amalan lain.

Sifat Dzikir dan Doa.
Hukum asal dzikir dan doa adalah dengan suara pelan. Maka menjaharkan dzikir dan doa merupakan pengecualian yang juga harus bedasarkan syariat.

Allah Taala berfirman:

وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ [الاعراف: ٢٠5] 

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raaf/7: 25].

Allah Taala berfirman:

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ [الاعراف: ٥5] 

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. [Al A’raaf/7: 55]

Faedah Dzikrullah Azza wa Jalla.
Berdzikir memiliki faedah yang sangat banyak dan besar, diantaranya:

  1. Allah menjadi ridha, mengusir setan, memudahkan hal yang sulit, meringankan hal yang berat, membuang keburukan, menghilangkan gundah gulana dalam jiwa, menguatkan jiwa dan raga, memberi cahaya kepada jiwa dan wajah, membawa rizki, menyirnakan rasa takut dan dzikir adalah tanaman di surga.
  2. Dzikir menghapus dosa serta melenyapkannya, menyelamatkan diri dari azab Allah, membuang tabir penghalang antara hamba dan Rabbnya, membuat hamba selalu ingat kepada Rabbnya, menimbulkan mahabbah kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, hampir dengan-Nya. Dzikrullah memberikan pelakunya kekuatan, wibawa, kebesaran jiwa dan cahaya. Dzikrullah juga sebab turunnya ketenangan dan rahmat untuk pelakunya, para malaikat mengitarinya, Allah membanggakan pelakunya di hadapan para malaikat. Karena itulah Allah memerintahkan kita agar selalu berdzikir.

Allah Taala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا [الاحزاب : ٤١،  ٤٢] 

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. [Al Ahzab/33: 41-42].

Al Baqiyat Shalihat.
Subhanallah (سبحان الله ) : Maknanya; mensucikan Allah dari segala aib dan kekurangan, menafikan sekutu-Nya dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah serta menafikan hal yang serupa dalam Asma dan sifat-Nya.

Alhamdulillah (الحمد لله) : Maknanya; menetapkan seluruh pujian untuk-Nya. Hanya Dia-lah yang terpuji dalam hal zat, Asma dan Sifat-Nya, Dia-lah yang terpuji atas perbuatan, nikmat agama dan syariat-Nya.

Laailaha illa Allah (لا إله إلا الله) : Maknanya; tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, kalimat ini menafikan beribadah kepada makhluk serta menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.

Allahu Akbar (الله أكبر) : Maknanya; menetapkan seluruh sifat keagungan , kebesaran dan keangkuhan pd Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.

Laa haula wala quwwata illa billah (لا حول ولا قوة إلا بالله) : Maknanya; bahwa Allah semata pemilik daya dan upaya, tidak ada yang dapat mengubah suatu keadaan selain Allah dan tidak mungkin kita melakukan suatu pekerjaan tanpa pertolongan Allah.

Fadhilah Dzikrullah.
Allah taala berfirman.

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ [البقرة: ١٥٢] 

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [Al Baqarah/2: 152]

Allah Taala berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ [الرعد: ٢٨] 

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.[Ar Ra’ad/13 : 28]

Allah Taala berfirman:

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا [الاحزاب : ٣٥] 

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al Ahzab/33: 35].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: يَقُولُ الله تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إذَا ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإنْ تَقَرَّبَ شِبراً إلَيَّ تَقَرَّبْتُ إلَيهِ ذِرَاعاً، وَإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إلَيهِ بَاعاً، وَإنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Dari Abu Huraira Radhiyallahu `anhu, dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, bahwa ia bersabda: ” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku memberi hamba-Ku balasan sesuai dengan dugaannya terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya bila dia berzikir kepada-Ku, jika ia berzikir kepada-Ku di saat sendiri, maka Aku menyebutnya  sendiri, dan jika ia berzikir kepada-Ku di khalayak ramai maka Aku menyebutnya di khalayak ramai yang lebih baik daripada mereka, Bila ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, aku akan mendekatinya sehasta, dan apabila ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan Aku mendatanginya dengan berlari.” Muttafaq ’alaih. [1]

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم-: «مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ». أخرجه البخاري

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berzikir seperti orang yang hidup dan mayit”. HR. Bukhari. [2]

Fadhilah Majlis Dzikir

عن الأغر أبي مسلم أنه قال: أشهد على أبي هريرة وأبي سعيد الخدري رضي الله عنهما أنهما شهدا على النبي- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «لا يَقْعُدُ قَومٌ يَذْكُرُونَ الله عَزَّ وَجَلَّ إلا حَفَّتْهُمُ الملائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمُ السَّكِينةُ، وَذَكَرَهُمُ الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ». أخرجه مسلم

Dari Al Aghar Abu Muslim bahwa ia bersaksi atas Abu Huraira dan dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu `anhuma bahwa keduanya bersaksi atas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  bahwa beliau bersabda: “Tidak suatu kaum duduk lalu berzikir kepada Allah melainkan para malaikat mengitari mereka dan rahmat meliputi mereka dan ketenangan turun di tengah mereka, dan Allah menyebut mereka dihadapan mahluk yang ada di sisi-Nya”. HR. Muslim. [3]

Wajib Dzikrullah dan Shalawat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam Dalam Setiap Majlis.
Allah Taala berfirman.

وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا [المزمل: ٨] 

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. [Al Muzammil/73: 8]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا جَلَسَ قَومٌ مَجْلِساً لَمْ يَذْكُرُوا الله فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إلا كَانَ عَلَيهِمْ تِرَةً، فَإنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ، وَإنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ». أخرجه أحمد والترمذي

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda : “Setiap kaum yang duduk di sebuah majelis, mereka tidak berzikir kepada Allah dalam majelis tersebut dan tidak bershalawat kepada nabi melainkan mereka bernilai kurang, jika Allah mau Ia mengazab mereka, dan jika Allah mau Ia mengampuni mereka”. HR. Ahmad dan Tarmizi. [4]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْ قَومٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لا يَذْكُرُونَ الله فِيهِ إلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ، وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً». أخرجه أبو داود والترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Setiap  suatu kaum yang berdiri dari sebuah majelis dan mereka tidak berzikir kepada Allah dalam majelis tersebut melainkan mereka berdiri seperti dari bangkai keledai dan mereka akan menyesal”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. [5]

Fadhilah Selalu Berdzikir Kepada Allah.
Allah taala berfirman:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ [ال عمران: ١٩٠،  ١٩١] 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imran/3: 190-191].

Allah Taala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ [الجمعة: ١٠] 

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al Jumu’ah/62: 10]

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلاً قال: يا رسول الله إنَّ شرائع الإسلام قد كثرت عَلَيَّ فأخبرني بشيء أَتَشَبَّثُ به قال: «لا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ الله». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu `anhu, bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat islam sangat banyak, beritahu aku satu yang bisa kupegang”, ia bersabda:  “Hendaklah lidahmu selalu basah dengan zikrullah”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [6]

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيرٌ لَكُمْ مِنْ إنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ» قَالُوا: بَلَى قَالَ: «ذِكْرُ الله تعالى». أخرجه الترمذي وابن ماجه

Dari Abu Darda Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: “Maukah aku beri kabar kalian dengan amalan kalian yang terbaik, paling suci di sisi penguasa kalian, paling meninggikan derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagii kalian daripada kalian bertemu musuh kalian (kafir) lalu kalian menebas leher mereka dan merekapun menebas leher kalian?”, para sahabat berkata : “Tentu”, ia bersabda :  “Berzikir kepada Allah Ta’ala”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [7]

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ الله عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. أخرجه مسلم.

Dari `Aisyah Radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan”. HR. Muslim. [8]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 7405 dan Muslim no hadist : 2675.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6407.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim  no hadist : 2700.
[4] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 9580 dan Tirmizi no hadist : 3380.
[5] Hadist shahih diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 4855 dan Tirmizi no hadist : 3380.
[6] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3375 dan Ibnu Majah no hadist : 3793.
[7] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3377 dan Ibnu Majah no hadist : 3790.
[8] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 373.

Dzikir Pagi dan Petang

DZIKIR PAGI DAN PETANG

Berikut ini adalah sebagian zikir yang berasal dari Al Quran dan hadist yang harus dibaca setiap muslim di waktu pagi dan petang untuk menlindungi dirinya dari berbagai hal.

Waktunya
Di waktu pagi : Mulai dari setelah shalat subuh hingga terbit matahari.
Di waktu sore : Setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari. Namun bagi yang berhalangan karena sibuk atau lupa boleh membacanya setelah waktu tersebut.

Allah Taala berfirman:

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ [ق: ٣٩] 

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). [Qaaf/50 : 39]

Dzikir Pagi dan Petang

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَومٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِاسْمِ الله الَّذِي لا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ». أخرجه الترمذي وابن ماجه.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidak seorang hambapun yang mengucapkan di setiap pagi hari dan setiap sore hari:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ الْأَرْضِ وَلاَ فِيْ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan di langit tidak akan memberikan marabahaya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui  3x, melainkan segala sesuatu tidak akan membahayakannya”. HR. Tarmizi dan Ibnu Majah. [1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: جاء رجل إلى النبي- صلى الله عليه وسلم- فقال: يا رسول الله ما لقيت من عقرب لدغتني البارحة، قال: «أَمَا لَو قُلْتَ حِينَ أَمْسَيتَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ تَضُرَّكَ». أخرجه مسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu , ia berkata : seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam  ia berkata: Wahai Rasulullah, kenapa tadi malam aku digigit kalajengking , maka beliau bersabda : ” Andai engkau baca di waktu sore:

أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ ما خَلَقَ

Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang maha Sempurna dari segala kejahatan makhluk-Nya 3x, niscaya dia tidak akan membahayakanmu”. HR. Muslim. [2]

عن أبيّ بن كعب رضي الله عنه أنه كان له جُرْنٌ من تمر، فكان ينقص، فحرسه ذات ليلة فإذا هو بدابة شبه الغلام المحتلم، فسلم عليه، فرد عليه السلام، فقال: ما أنت؟ جنيّ أو إنسيّ؟ قال: لا، بل جني…-وفيه- فقال أُبيّ: فما ينجينا منكم؟ قال: هذه الآية التي في سورة البقرة: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}من قالها حين يمسي أُجير منا حتى يصبح، ومن قالها حين يصبح أُجير منا حتى يمسي، فلما أصبح أتى رسول الله- صلى الله عليه وسلم- فذكر ذلك له، فقال: «صَدَقَ الخَبِيْثُ». أخرجه الحاكم والطبراني.

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu `anhu, bahwa dia memiliki tempat jemuran kurma. Kurmanya selalu berkurang. Maka dia mengawasinya di suatu malam. Tiba-tiba ada seekor binatang yang menyerupai anak-anak remaja. Lalu Ubay mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salam. Ubay berkata: Makhluk apakah engkau? Jin ataukah manusia? Dia menjawab: Jin … maka Ubay berkata: hal apa yang dapat melindungi kami dari kalian ? dia menjawab: satu ayat dalam surat Al Baqarah:

 ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ ……  [البقرة: ٢٥٥]

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). [Al Baqarah/2 : 255].

Maka siapa yang membacanya di waktu petang dia akan terhindar dari kami hingga pagi dan barangsiapa yang membacanya di waktu pagi dia akan terhindar dari kami hingga waktu sore. Keesokan harinya Ubay mendatangi Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Maka Nabi bersabda: Si jahat telah berkata benar”. H.R. Thabrani. [3]

عن أبي مسعود البدري رضي اللّه عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  ( منْ قَرَأَ بالآيتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورةِ البقَرةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Mas’ud Al Badri Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  ia bersabda :  “Siapa yang membaca 2 ayat terakhir surat Al Baqarah di suatu malam cukuplah baginya”. Muttafaq ’alaih. [4]

عن معاذ بن عبد الله عن أبيه قال : أصابنا طش وظلمة، فانتظرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليصلي بنا … فخرج رسول الله – صلى الله عليه وسلم- ليصلي بنا، فقال: (( قل )) فقلت: ما أقول ؟ قال: ((قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ والمعوِّذتينِ حينَ تُمسي وحينَ تُصبِحُ ثلاثًا يَكفيكَ كلَّ شيءٍ )). أخرجه الترمذي والنسائي.

Dari Muaz bin Abdullah dari bapaknya, ia berkata: di suatu malam hujan rintik-rintik dan sangat gelap kami menunggu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam datang ke masjid .. lalu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  datang untuk mengimami shalat. Kemudian beliau bersabda: ucapkanlah ? aku berkata: apa yang harus aku ucapkan? Beliau bersabda: “Bacalah surat:

 قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ  [الاخلاص: ١] 

(Katakalah Ia-lah Allah Yang Maha Esa) dan surat Mu’awwizatain (surat Al Falaq dan An Naas) 3x ketika engkau berada di sore hari dan pagi hari, niscaya mencukupkanmu (pahala, dan terhindar dari hal yang menyakiti) dari segala sesuatu”. HR. Tarmizi dan Nasa’i. [5]

عن أبي مالك رضي اللّه عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  (( إذا أصبح أحدكم فليقل: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ ، ثم إذا أمسى فليقل مثل ذلك )) أخرجه أبوداود.

Dari Abu Malik radhiyallahu `anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: Apabila kamu berada di waktu pagi maka bacalah:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Kami di waktu pagi, sedang kerajaan milik Allah, Tuhan penguasa alam. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat) pertolongan, cahaya, berkah, dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ada didalamnya dan kejahatan sesudahnya“ dan bila berada di waktu sore maka ucapkanlah doa yang serupa”. H.R. Abu Daud . [6]

عن ثوبان رضي اللّه عنه أن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم قال: (( مَنْ قالَ حِينَ يُمْسِي : رَضِيتُ باللّه رَبَّاً وَبالإِسْلامِ دِيناً وبِمُحَمَّدٍ صَلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَبِيَّاً كانَ حَقّاً على اللّه تعالى أنْ يُرْضِيَهُ يوم القيامة )) رواه أحمد وأبو داود.

Dari Tsauban Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : Barang siapa yang mengucapkan di waktu sore:

رَضِيتُ باللّه رَبَّاً وَبالإِسْلامِ دِيناً وبِمُحَمَّدٍ صَلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَبِيَّاً

“Aku rela Allah sebagai Tuhan-(ku), Islam sebagai agama-(ku) dan Muhammad  sebagai nabi-(ku)“ niscaya Allah pasti meridhainya di hari kiamat”. HR. Ahmad, Abu Daud. [7]

عن عبد الله بن مسعود رضي اللّه عَنهُ قال: كان نبي اللَّه صلى الله عليه وسلم إذا أمسى؛ قال: ( أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبْرِ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِيْ النَّارِ وَعَذَابٍ فِيْ الْقَبْرِ ) وإذا أصبح قال ذلك أيضاً: (أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لله) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Adalah nabi Allah shallallahu `alaihi wasallam bila masuk waktu sore beliau mengucapkan:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبْرِ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِيْ النَّارِ وَعَذَابٍ فِيْ الْقَبْرِ

(Kami berada di sore hari dan kerajaan Allah-pun di sore hari, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Ya Rabb, aku meminta kepada-Mu kebaikan yang ada di malam ini dan kebaikan setelah malam ini, aku berlindung  kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya, Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari malas dan buruknya sikap sombong, Ya Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan azab kubur), dan bila masuk waktu pagi beliau mengucapkan do’a yang sama kecuali dua kata di awal diganti dengan kata:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لله

(Kami berada di pagi hari, dan kerajaan Allah-pun berada di pagi hari)”. HR. Muslim.[8]

عن أبي هريرة  رضي اللّه عَنهُ قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا أصبح: ( اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ ) وإذا أمسى قال: ( اَللَّهُمَّ بِكَ وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ) رَوَاهُ البخاري في ألأدب المفرد وأبُو دَاوُدَ.

Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu, ia berkata adalah Nabi shallallahu `alaihi wasallam  di waktu pagi selalu mengucapkan:

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

(Ya Allah, dengan (kekuasaan)-Mu kami berada di pagi hari dan dengan-Mu kami berada di sore hari, dan dengan (kekuasaan)-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kembali)” dan bila masuk waktu sore beliau mengucapkan:

اَللَّهُمَّ بِكَ وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Ya Allah, dengan (kekuasaan)-Mu kami berada di sore hari, dan dengan (kekuasaan)-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kembali. HR. Bukhari dalam kitab Adabul mufrad dan Abu Daud. [9]

عن شداد بن أوس رضي اللّه عَنهُ عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ( سيد الاستغفار أن يقول العبد: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ؛ من قالها في النهار موقناً بها، فمات من يومه قبل أن يمسي، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو موقن بها، فمات قبل أن يصبح، فهو من أهل الجنة ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Syadad bin Aus Radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, ia bersabda :  Istighfar yang paling utama, seorang hamba mengucapkan :

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

( Ya Allah, Engkau Rabbku, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku dan aku hamba-Mu, dan aku tidak mampu memikul perjanjian dan janji-Mu, aku berlidung kepada-Mu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu terhadapku, dan aku mengakui dosaku, ampunilah aku karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau )

Siapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu di hari itu ia wafat sebelum masuk waktu malam, maka ia termasuk ahli surga, dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia wafat sebelum pagi maka ia termasuk ahli surga”. HR. Bukhari. [10]

عن عبد الله بن عمرو رضي اللّه عَنهُما  أن أبا بكر الصديق رضي الله عنه سأل النبي صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله علمني ما أقول إذا أصبحت وإذا أمسيت، فقال: يا أبا بكر ! قل: اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ ) رَوَاهُ البخاري في ألأدب المفرد.

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu `anhuma: Bahwa Abu Bakar Shidiq berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan aku doa yang harus aku ucapkan di waktu pagi dan sore . maka beliau bersabda:  “Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

(Ya Allah, pencipta  lamgit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Tuhan segala sesuatu dan penguasanya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dan kejahatan syetan dan perangkap kesyirikan dan berlindung agar diriku tidak melakukan dosa atau melakukan kejahatan terhadap seorang muslimpun) HR. Bukhari dalam kitab Adabul mufrad. [11]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم يدع هؤلاء الدعوات حين يمسي و حين يصبح: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِيْنِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي. أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu `anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  tidak pernah meninggalkan doa berikut ini di waktu petang dan pagi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِيْنِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan: dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku, hartaku. Ya Allah tutuplah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak di lihat orang lain) dan berilah ketentraman di hatiku. Ya Allah, peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari arah bawahku. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. [12]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ( من قال حين يصبح وحين يمسي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، مائة مرة؛ لم يأت أحد يوم القيامة بأفضل مما جاء به؛ إلا أحد قال مثل ما قال أو زاد) رَوَاهُ مُسلِمٌ. وفي لفظ : ( من قال سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ في يوم مائة مرة؛ حطت خطاياه؛ وإن كانت مثل زبد البحر ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan di waktu pagi dan petang:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

(Aku mensucikan Allah dan memuji-Nya) 100x, tidaklah seorangpun di hari kiamat membawa (amalan) lebih baik dari yang dibawanya, kecuali seseorang  yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan atau lebih”. HR. Muslim. [13]

Dalam riwayat yang lain : “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

(Aku mensucikan Allah dan memuji-Nya) dalam satu hari seratus kali, dihapuskan seluruh kesalahannya sekalipun sebanyak buih di lautan” Muttafaq ’alaih. [14]

عن عبد الله بن أبزى رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول إذا أصبح وإذا أمسى: أَصْبَحْنَا عَلىَ فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. أخرجه أحمد والدارمي.

Dari Abdullah bin Abza Radhiyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam  bahwa beliau selalu membaca doa berikut ini di waktu pagi dan petang:

أَصْبَحْنَا عَلىَ فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Diwaktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas, agama nabi kita, Muhammad  dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik“ H.R Ahmad dan Darimi. [15]

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: ( من قال لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب، وكتبت له مائة حسنة، ومحيت عنه مائة سيئة، وكانت له حرزاً من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي، ولم يأت أحد بأفضل مما جاء به؛ إلا رجل عمل أكثر من ذلك ) متق عليه.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) dalam satu hari seratus kali, niscaya untuknya pahala sebanding dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dan dituliskan untuknya seratus kebajikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia terlindungi dari syetan di hari itu hingga sore dan tidak seorangpun yang lebih utama daripada ia kecuali seorang lelaki yang mengamalkan lebih banyak darinya”. Muttafaq alaih. [16]

عن أبي عياش رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((  من قال إذا أصبح لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ كان له عدل رقبة من ولد إسماعيل وكتب له عشر حسنات وحط عنه عشر سيئات ورفع له عشر درجات وكان في حرز من الشيطان حتى يمسي وإن قالها إذا أمسى كان له مثل ذلك حتى يصبح )). أخرجه أبو داود وابن ماجه.

Dari Abu Ayyas Radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda : barang siapa yang di waktu pagi mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) maka pahalanya sama seperti memerdekakan budak dari keturunan Ismail, ditulis untuknya sepuluh kebajikan, dihapuskan sepuluh dosanya, diangkatkan dia sepuluh derajat, dikindungi dia dari gangguan setan hingga sore hari. Dan bila dia mengucapkan di waktu pagi dia mendapatkan keistimewaan yang sama hingga waktu pagi”. H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah . [17]

عن أبي الدرداء رضي اللّه عنه عن النبيّ صلى الله عليه وسلم قال : (( مَنْ قالَ فِي كُلّ يَوْمٍ حِينَ يُصْبحُ وَحِينَ يُمْسِي : حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ اللَّهُ تَعالى ما أهمَّهُ مِنْ أمْرِ الدُّنْيا والآخِرَةِ )) أخرجه ابن السني.

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda: Barang siapa yang di waktu pagi dan petang mengucapkan:

 حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

“Cukup bagiku Allah (sebagai pelindung), tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan ‘Arasy yang Agung “ niscaya Allah akan mencukupkan keinginanya di dunia dan akhirat”.HR. Ibnu Sunni. [18]

عن أنس بن مالك رضي اللّه عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لفاطمة : ما يمنعك أن تسمعي ما أوصيك به أن تقولي إذا أصبحت و إذا أمسيت: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ . أخرجه الحاكم.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu `anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah: Simaklah wasiat ! bila engkau berada di waktu pagi dan sore maka ucapkanlah:

 يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Terjaga, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walau sekejap mata“ HR. Hakim. . [19]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3388 dan Ibnu Majah no hadist : 3869
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2709.
[3] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Mu’jam kabir 1/201.
[4] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 4008 dan Muslim no hadist : 807.
[5] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi no hadist : 3575 dan Nasa’I  no hadist : 5428.
[6] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud  no hadist : 5084.
[7] Hadist hasan, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 23499 dan Abu Daud  no hadist : 5072.
[8] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2723.
[9] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adab mufrad no hadist : 1234 dan Abu Daud  no hadist : 5068.
[10] Diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6306.
[11] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Adab mufrad no hadist : 1239.
[12] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5074 dan Ibnu Majah no hadist 3871.
[13] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2692.
[14] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6405 dan Muslim no hadist : 2691.
[15] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no hadist : 15434 dan Darimi no hadist 2588.
[16] Muttafaq alaih diriwayatkan oleh Bukhari no hadist : 6403 dan Muslim no hadist : 2691.
[17] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud no hadist : 5077 dan Ibnu Majah no hadist 3867.
[18] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Sunny dalam kitab amalul yaum wa lailah no hadist 71.
[19] Hadist shahih, diriwayatkan oleh Al Hakim no hadist 2000.

Gambaran Orang-orang yang Disiksa di Neraka

SIFAT NERAKA

Gambaran Tentang Orang-orang yang Disiksa di Dalam Neraka.
1. Orang-orang kafir dan kaum munafik
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ هِيَ حَسۡبُهُمۡۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ  [التوبة: 68]

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal”. [At-Taubah/9: 68]

2. Orang yang membunuh jiwa yang dihormati secara sengaja.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا [النساء : ٩٣] 

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. [An-Nisaa/4: 93]

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرُحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةَ وَإِنَّ رِيْحَهَا يُوْجَدُ مَنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad (yang berada dalam perjanjian), maka ia tidak mendapatkan bau surga, dan sesungguhnya baunya bisa diperoleh dari perjalan empatpuluh tahun.” HR. al-Bukhari.[1]

3. Siksa bagi para pelaku zina laki-laki dan perempuan.
Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu berkata.

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال: كان رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يعني مما يكثر أن يقول لأصحابه: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ من رُؤْيَا؟»وفيه- أنه قال ذات غداة: «إنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإنَّهُمَا ابْتَعثَانِي وَإنَّهُمَا قَالا لِي انْطَلِقْ… فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ، فَإذَا فِيْهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ، قَالَ: فَاطَّلَعْنَا فِيْهِ، فَإذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، وَإذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، فَإذَا أَتَاهُمْ ذَلِكُ اللهَبُ ضَوْضَوْا، قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا مَا هَؤُلاءِ؟…-وَفِيهِ- فَقَالا: وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ فَهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي…». أخرجه البخاري.

Di antara hal yang sering ditanyakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya adalah “Apakah di antara kalian ada yang melihat sesuatu di dalam bermimpinya?. “Pada suatu hari beliau bersabda: “Sesungguhnya tadi malam telah datang dua orang kepadaku. Keduanya diutus kepadaku dan mengajakku: Marilah kita pergi…Lalu kami pergi dan melihat sesuatu seperti tungku. Tiba-tiba dari tempat itu terdengar pekikan dan teriakan. Ia berkata: “Maka kami melihat kepadanya. “Ternyata di dalamnya ada laki-laki dan perempuan yang telanjang. Nyala api datang kepada mereka dari arah bawah tungku. Apabila nyala api itu membakar mereka, merekapun berteriak. Beliau berkata: “Aku bertanya: “Siapakah mereka itu? “…dan disebutkan padanya: “..mereka berdua berkata: “Adapun laki-laki dan perempuan yang telanjang, yang berada pada tempat seperti tungku itu adalah para pezina, laki-laki dan perempuan…’ HR. al-Bukhari.[2]

4. Siksa bagi para pemakan riba.
Dalam hadits Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu yang terdahulu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال النبي- صلى الله عليه وسلم-: «فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسَطِ النَّهْر وعلى شَطِّ النَّهْرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهْرِ، فَإذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيْهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟… قَالَ والَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُو الرِّبَا». أخرجه البخاري.

Lalu kami pergi hingga kami mendatangi sungai dari darah, di dalamnya ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah sungai, dan di tepi sungai ada laki-laki yang di hadapannya ada batu besar. Lalu laki-laki yang ada di sungai itu menepi,  dan setiap kali hendak keluar laki-laki itu melemparnya dengan batu di mulutnya, sehingga mengembalikannya ke tempatnya yang semula. Maka setiap kali dia menepi untuk keluar, ia melempar orang itu pada mulutnya dengan batu, lalu ia kembali seperti semua. Maka aku bertanya: “Apakah yang terjadi ini? “… ia berkata, ‘Dan orang yang engkau lihat di sungai itu adalah pemakan riba.’HR. al-Bukhari.[3]

5. Pelukis (gambar yang bernyawa).
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مُصَوِّرٍ فىِ النَّارِ يجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِى جَهَنَّمَ

Setiap pelukis (makhluk hidup) di dalam neraka, dijadikan baginya untuk setiap lukisan (makhluk hidup) yang digambarnya satu jiwa, lalu dia menyiksanya di neraka Jahanam“. HR. Muslim.[4]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: دخل عليَّ رسول الله- صلى الله عليه وسلم- وقد سَتَرْتُ سَهْوَةً لي بِقِرَامٍ فيه تماثيل، فلما رآه هتكه وتلوَّن وجهه وقال: «يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَومَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ» قالت عائشة: فقطعناه فجعلنا منه وسادة أو وسادتين. متفق عليه.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumahku, dan aku telah menutup rumahku dengan tirai yang tipis di mana padanya terdapat lukisan (makhluk hidup). Lalu tatkala melihatnya, beliau menyobeknya dan raut wajahnya berubah seraya bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَذينَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ

Manusia yang paling berat siksaannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat adalah orang yang menandingi rupa makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Maka kami memotongnya dan menjadikannya satu bantal atau dua bantal.” Muttafaqun ‘alaih.[5]

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِى الدُّنْيَا كُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ.

Barangsiapa yang melukis satu lukisan (makhluk hidup) di dunia, maka ia dibebani untuk meniup ruh padanya di hari kiamat, dan pasti dia tidak mampu meniupnya.” Muttafaqun ‘alaih.[6]

6. Memakan harta anak yatim

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ أَمۡوَٰلَ ٱلۡيَتَٰمَىٰ ظُلۡمًا إِنَّمَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ نَارٗاۖ وَسَيَصۡلَوۡنَ سَعِيرٗا [النساء : ١٠] 

” Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. [An-Nisaa/4:10]

 7. Pendusta, pengumpat dan tukang adu domba:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ٱلضَّآلِّينَ ٩٢ فَنُزُلٞ مِّنۡ حَمِيمٖ ٩٣ وَتَصۡلِيَةُ جَحِيمٍ [الواقعة: ٩٢،  ٩٤] 

“Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat.  Maka dia mendapat hidangan air yang mendidih.  Dan dibakar di dalam jahannam”. [Al-Waqi`ah/: 92-94]

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan-dan disebutkan padanya- maka aku bertanya: “Wahai Nabiyullah, apakah kami disiksa karena ucapan kami? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَامُعَاذُ, وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’azd, tidakkah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka kecuali karena ucapan lisan mereka.” HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[7]

8. Orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَشۡتَرُونَ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ [البقرة: ١٧٤] 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (Tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api  dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih“. [Al-Baqarah/2: 174]

Pertengkaran Antara Para Penghuni Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 3166
[2] HR. al-Bukhari no. 7047
[3] HR. al-Bukhari no. 1386
[4] HR. Muslim no. 2110
[5] HR. al-Bukhari no 5954, dan Muslim no. 2107, ini adalah lafazhnya.
[6] HR. al-Bukhari no. 7042 dan Muslim no. 2107
[7] Shahih/ HR. Tirmidzi ni 2616, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi ni 2110, dan Ibnu Majah ni. 3973, Shahih Sunan Ibnu Majah no.3209.