Author Archives: editor

Gambaran Sebagian Penghuni Neraka

SIFAT NERAKA

Gambaran Tentang Keadaan Sebagian Para Penghuni Neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗا [النساء : ٥٦] 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [An-Nisaa/4: 56]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُجۡرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ٧٤ لَا يُفَتَّرُ عَنۡهُمۡ وَهُمۡ فِيهِ مُبۡلِسُونَ ٧٥ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ وَلَٰكِن كَانُواْ هُمُ ٱلظَّٰلِمِينَ [الزخرف: ٧٤،  ٧٦] 

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka jahannam.  Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.  Dan tidaklah kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.[Az-Zukhruf/43: 74-76]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ لَعَنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمۡ سَعِيرًا ٦٤ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّا يَجِدُونَ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا ٦٥ يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ [الاحزاب : ٦٤،  ٦٦] 

“Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, Andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. [Al-Ahzaab/33: 64-66].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ [فاطر: ٣٦] 

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka jahannam. mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang sangat kafir”. [Faathir/35: 36]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ فَفِي ٱلنَّارِ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ١٠٦ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ [هود: ١٠٦،  ١٠٧] 

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi. “. [Huud/11: 106-107]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَوَرَبِّكَ لَنَحۡشُرَنَّهُمۡ وَٱلشَّيَٰطِينَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّهُمۡ حَوۡلَ جَهَنَّمَ جِثِيّٗا ٦٨ ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمۡ أَشَدُّ عَلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ عِتِيّٗا ٦٩ ثُمَّ لَنَحۡنُ أَعۡلَمُ بِٱلَّذِينَ هُمۡ أَوۡلَىٰ بِهَا صِلِيّٗا [مريم: ٦٨،  ٧٠] 

“Demi Tuhanmu, Sesungguhnya akan kami bangkitkan mereka bersama syaitan, Kemudian akan kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. Kemudian pasti akan kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Dan Kemudian kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka”. [Maryam/19: 68-70]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتۡ مِرۡصَادٗا ٢١ لِّلطَّٰغِينَ مَ‍َٔابٗا ٢٢ لَّٰبِثِينَ فِيهَآ أَحۡقَابٗا ٢٣ لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرۡدٗا وَلَا شَرَابًا ٢٤ إِلَّا حَمِيمٗا وَغَسَّاقٗا ٢٥ جَزَآءٗ وِفَاقًا [النبا: ٢١،  ٢٦] 

Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai.  Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.  Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman.  Selain air yang mendidih dan nanah.  Sebagai pambalasan yang setimpal”. [An-Naba/78: 21-26]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ٦ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا وَهِيَ تَفُورُ ٧ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ٨ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ [الملك: ٦،  ٩] 

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab jahannam. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.  Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”.  Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya Telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, Maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”.[Al-Mulk/67: 6-9]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلۡمُجۡرِمِينَ فِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٖ ٤٧ يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِي ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ ذُوقُواْ مَسَّ سَقَرَ [القمر: ٤٧،  ٤٨] 

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.  (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah sentuhan api neraka!”. [Al-Qamar/54: 47-48]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ ٤ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ ٥ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ٦ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ ٧ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ٨ فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ [الهمزة: ٤،  ٩] 

” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati.  Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.  (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”. [Al-Humazah/104: 4-9]

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu sesungguhnya ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ. فَيَدُوْرُ كَمَا يَدُوْرُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِاْلمُعْرُوْفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمُعْرُوْفِ وَلاَ آتِيْهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ. متفق عليه.

Didatangkan seorang laki-laki di hari kiamat, lalu dilemparkan ke neraka, maka keluarlah isi perutnya dari rongganya di dalam neraka. Lalu ia berputar seperti berputarnya keledai dengan pemutar gandumnya. Maka penghuni neraka berkumpul atasnya seraya bertanya: “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah engkau yang menyuruh kami berbuat ma’ruf dan melarang berbuat mungkar? Ia menjawab: “Aku menyuruh kalian berbuat yang ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari perbuatan mungkar sementara aku sendiri melakukannya.‘ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Tangisan dan Rintihan Penghuni Neraka

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 3267, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2989.

Tangisan dan Rintihan Penghuni Neraka

SIFAT NERAKA

Tangisan dan Rintihan Penghuni Neraka
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ ٨١ فَلۡيَضۡحَكُواْ قَلِيلٗا وَلۡيَبۡكُواْ كَثِيرٗا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ [التوبة:81، 82]

“…dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka Mengetahui.   Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. [At-Taubah/9: 81-82]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ أَوَ لَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُۖ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ [فاطر: ٣٧] 

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. [Faathir/35: 37]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ [الانبياء: ١٠٠] 

“Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar”. [Al-Anbiyaa/21`: 100].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ١٣ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا [الفرقان: ١٣،  ١٤] 

Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”. [Al-Furqaan/25: 13-14]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا [الفرقان: ٢٧] 

Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. [Al-Furqaan/25: 27].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ [البقرة: ١٦٧] 

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. [Al-Baqarah/2: 167]

Dari Abdullah bin Qais Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ لَيَبْكُوْنَ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتِْ السُّفُنُ فِى دُمُوْعِهِمْ لَجَرَتْ, وَإِنَّهُمْ لَيَبْكُوْنَ الدَّمَ –يَعْنِي- مَكَانَ الدَّمْعِ.

Sesungguhnya penghuni neraka terus menangis, sehingga seandainya kapal-kapal dilabuhkan pada air mata mereka, niscaya ia bisa berlabuh. Dan sesungguhnya meraka menangis darah –maksudnya- di tempat air mata.” HR. Ibnu Majah dan al-Hakim.[1]

Teriakan Para Penghuni Neraka.
Apabila para penghuni neraka sudah memasuki neraka dan merasakan siksaan berat, maka mereka meminta tolong dan berteriak barangkali mereka mendapatkan orang yang menolong dan memenuhi permintaan mereka. Maka mereka memanggil para penghuni surga, para penjaga neraka, dan Malik penjaga neraka. Dan mereka berseru kepada Rabb mereka. Maka mereka tidak mendapatkan jawaban kecuali apa yang menambah kerugian mereka. Sampai akhirnya mereka kehilangan harapan, dan terus berteriak dan merintih.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ [الاعراف: ٤٩] 

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang Telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah Telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”. [Al-A’raaf/7:50]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ يُخَفِّفۡ عَنَّا يَوۡمٗا مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٤٩ قَالُوٓاْ أَوَ لَمۡ تَكُ تَأۡتِيكُمۡ رُسُلُكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ قَالُواْ بَلَىٰۚ قَالُواْ فَٱدۡعُواْۗ وَمَا دُعَٰٓؤُاْ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٍ [غافر: ٤٩،  ٥٠] 

“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia meringankan azab dari kami barang sehari”. Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka”. [Ghafiir/40: 49-50]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ ٧٧ لَقَدۡ جِئۡنَٰكُم بِٱلۡحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَكُمۡ لِلۡحَقِّ كَٰرِهُونَ [الزخرف: ٧٧،  ٧٨] 

Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”.  Sesungguhnya kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. [Az-Zukhruf/43: 77-78]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ١٠٦ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ [المؤمنون : ١٠٦،  ١٠٧] 

“Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), Maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”  Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku”. [Al-Mukminun/23: 106-108]

Maka apabila para penghuni neraka sungguh telah kehilangan harapan bisa keluar dari neraka dan merasa putus asa dari segala kebaikan, mulailah mereka berteriak dan merintih, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ فَفِي ٱلنَّارِ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ١٠٦ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ [هود: ١٠٦،  ١٠٧] 

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),.  Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki”. [Huud/11: 106-107]

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kemurkaan, kebencian, dan siksa-Nya. Ya Allah, berilah kami rizqi surga dan selamatkanlah kami dari siksa neraka. Engkau adalah pelindung kami. Sebaik-baik pelindung dan penolong.

Para Penghuni Surga Mewarisi Tempat Tinggal Para Penghuni Neraka (yang ada di Surga).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ لَهُ مَنْزِلاَنِ: مَنْزِلٌ فِى الْجَنَّةِ وَمَنْزِلٌ فِى النَّارِ. فَإِذَا مَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ وَرِثَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنْزِلَهُ فَذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ  ﴾ [المؤمنون : ١٠،  ١١]  . أخرجه ابن ماجه

Tidak ada seorangpun di antara kalian kecuali dia mempunyai dua tempat: satu di surga dan satu tempat di neraka. Apabila seseorang meninggal dunia, lalu masuk ke dalam neraka, maka para penghuni surga mewarisi tempatnya. Maka itulah makna firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ [المؤمنون : ١٠،  ١١]

Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi.  (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya”. HR. Ibnu Majah.[2]

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Hasan HR. Ibnu Majah no 4324, dan al-Hakim no. 8791, ini adalah lafazhya. Lihat: as-Silsilah ash-Shahihah no. 1679.
[2] Shahih HR. Ibnu Majah no. 4341, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3503

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

SIFAT NERAKA

Keluarnya Orang-orang Beriman Pelaku Maksiat dari Neraka.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُعَذَّبُ ناسٌ مِنْ أَهْلِ التّوْحِيْدِ فِى النَّارِ حَتَّى يَكُوْنُوْا فِيْهَا حُمَمًا ثُمَّ تُدْرِكُهُمْ الرَّحْمَةُ فَيُخْرَجُوْنَ وَيُطْرَحُوْنَ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَرُشُّ عَلَيْهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْمَاءِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْغِثاَءُ فِى حِمَالَةِ السَّيْلِ ثُمَّ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ.

Segolongan manusia yang bertauhid disiksa di neraka sehingga mereka menjadi hitam di dalamnya. Akhirnya, mereka mendapat rahmat, lalu dikeluarkan dari neraka dan dilemparkan di hadapan pintu-pintu surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka penghuni surga memercikkan air kepada mereka, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya buih yang dibawa banjir, kemudian mereka masuk ke dalam surga“.[1]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً. ثُمَّ يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذُرَّةً. متفق عليه.

Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan: laailaaha illallah (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan dihatinya ada kebaikan sebarat biji gandum. Kemudian dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan: laailaaha illallah (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan di hatinya ada kebaikan seberat biji sawi.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya.
Kenikmatan yang paling utama di dalam surga adalah kesenangan dan kebahagiaan mereka melihat Rabb mereka dan ridha-Nya terhadap mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ [القيامة: ٢٢،  ٢٣] 

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. [Al-Qiyamah/75: 22-23]

Dan siksaan di neraka yang paling berat adalah terhijabnya penghuni neraka dari melihat Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّآ إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّمَحۡجُوبُونَ ١٥ ثُمَّ إِنَّهُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ [المطففين: ١٥،  ١٦] 

“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.  Kemudian, Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”. Muthaffifiin: 15-16

Kekalnya Penghuni Neraka
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ فَفِي ٱلنَّارِ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ١٠٦ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ١٠٧ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ [هود: ١٠٦،  ١٠٨] 

Adapun orang-orang yang celaka. Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).  Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”. [Hud/11: 106-108]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ أَنَّ لَهُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لِيَفۡتَدُواْ بِهِۦ مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنۡهُمۡۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٣٦ يُرِيدُونَ أَن يَخۡرُجُواْ مِنَ ٱلنَّارِ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنۡهَاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ [المائ‍دة: ٣٦،  ٣٧] 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.  Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal”. [Al-Maidah/5: 36-37]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِيْءَ بِاْلمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحَ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ وَياَ أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ. فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ.

Apabila penghuni surga sudah berada di surga dan penghuni neraka sudah berada di neraka, didatangkanlah kematian sehingga dijadikan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu terdengarlah suara seruan: “Hai penghuni surga, tidak ada lagi kematian! wahai penghuni neraka tidak ada lagi kematian” Maka bertambahlah kesenangan para penghuni surga atas kesenangan yang telah mereka rasakan dan bertambah kesedihan para penghuni neraka di atas kesedihan yang telah mereka rasakan .”Muttafaqun ‘alaih.[3]

Pemisah Antara Surga dan Neraka.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِاْلمَكَارِهِ

Neraka kelilingi oleh segala kenikmatan (hawa nafsu) dan surga dikelilingi oleh segala yang dibenci.”[4]

Dekatnya Jarak Antara Surga dan Neraka.
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذلِكَ.

Surga itu lebih dekat kepada seseorang dari kamu dari tali sendalnya, dan nerakapun seperti itu juga.”[5]

Perdebatan antara surga dan neraka serta keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala antara keduanya:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

تَحَاجَّتِ النَّارُ وَاْلجَنَّةُ فَقَالَتِ النَّارُ: أُوْثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِيْنَ وَالْمُتَجَبِّرِيْنَ. وَقاَلَتِ الْجَنَّةُ: فَمَالِي لاَ يَدْخُلُنِي إِلاَّ ضُعَفَاءُ النَّاسُ وَسَقَطُهُمْ وَعَجْزُهُمْ. فَقَالَ اللهُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِك مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْت عَذَابِي أُعَذِّبُ بِك مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمْ مِلْؤُهَا…

Surga dan neraka saling berdebat. Neraka berkata: “Aku diutamakan untuk orang-orang yang sombong dan orang-orang besar diri. Dan surga berkata: ‘Tidak ada yang memasukiku kecuali manusia-manusia yang lemah, rendah dan lemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada surga: “Engkau adalah rahmat-Ku. Aku memberi rahmat denganmu kepada hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada neraka: “Engkau adalah siksaan-Ku. Aku menyiksa denganmu hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki. Dan untuk setiap kalian akan mendapat penghuninya masing-masing…”[6]

Berlindung dari Neraka dan Berdo’a Meminta Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ١٣١ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ [ال عمران: ١٣١،  ١٣٢] 

Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. [Ali Imran/3: 131-132]

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang neraka, lalu beliau mengisyaratkan dengan wajahnya dan berlindung darinya. kemudian memalingkan wajahnya lalu berlindung darinya. kemudian beliau bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لمَ ْيَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah dirimu dari neraka sekalipun hanya dengan sebelah kurma, dan barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik.”[7]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ  وَمَنْ أبَى. قَالَ: َمنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali orang yang enggan. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?’ Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, berarti ia berbuat durhaka“.[8]

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon surga kepada Engkau dan apa yang mendekatkan kepada keduanya baik perkataan atau ucapan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik perkataan dan perbuatan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Ahmad no 15268, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 2451, dan at-Tirmidzi no. 2597, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2094.
[2] HR. al-Bukhari no 44 dan Muslim no. 197, ini adalah lafazhnya.
[3] HR. al-Bukhari no. 6548, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2850
[4] HR. al-Bukhari no. 6487, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 2823
[5] HR. al-Bukhari no. 6488.
[6] HR. al-Bukhari no. 4850 dan Muslim no. 2846, ini adalah lafazhnya.
[7] HR. al-Bukhari no. 6563, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1016.
[8] HR. al-Bukhari  no. 7280, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1835

Perkara yang Dimakruhkan yang wajib dan boleh

PERKARA YANG DIMAKRUHKAN BAGI ORANG YANG PUASA YANG WAJIB DAN BOLEH

Dimakruhkan bagi yang puasa berlebih-lebihan dalam berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, mencicipi makanan bukan karena kebutuhan, berbekam dan semisalnya bila melemahkannya.

Apabila telah tiba azan Magrib, orang yang puasa wajib berbuka, dan wajib menahan diri dari segala yang membatalkan berupa makan dan minum serta yang lainnya, apabila sudah nyata terbir fajar kedua.

Wajib meninggalkan dusta, gibah (mengupat), dan mencela di setiap waktu, dan pada bulan Ramadhan lebih dianjurkan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، وَالجَهْلَ، فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ». أخرجه البخاري.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta kebodohan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak perduli dia meninggalkan makanan dan minumannya.’ HR. al-Bukhari.[1]

Hukum mengecup dan bermesraan dengan istri bagi yang puasa.
Laki-laki mengecup istrinya, menyentuh dan bermesraan dengannya dari balik pakaian, sedangkan dia puasa, semua itu hukumnya boleh, sekalipun syahwatnya bergerak, apabila dia percaya terhadap dirinya. Jika ia khawatir terjerumus pada sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keluarnya mani, maka hal itu diharamkan atasnya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كَانَ النَّبِيُ- صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ. متفق عليه

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecup dan bermesraan, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa, dan beliau adalah yang paling bisa menahan kebutuhannya.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

Bagi yang berpuasa dibolehkan memakai pasta gigi serta menjaga dari menelan sesuatu darinya, dan boleh pula mandi agar dingin dari kepanasan dan haus serta seumpama yang demikian itu.

Wishal, yang boleh dan yang haram darinya.
Wishal adalah puasa dua hari atau lebih tanpa makan dan minum di antara keduanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari hal itu dengan sabdanya,

لا تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ» قالوا: فإنك تواصل يا رسول الله قال: «لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إنِّي أَبِيتُ لِي مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِي، وَسَاقٍ يَسْقِينِ. أخرجه البخاري.

‘Janganlah menyambung puasa (wishal), maka siapa yang ingin menyambung puasa hendaklah ia menyambungnya hingga waktu sahur.’ Mereka bertanya, ‘Sesungguhnya engkau menyambung puasa, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Aku bukan seperti kamu, sesungguhnya aku selalu ada pemberi makan yang memberi makan kepadaku dan pemberi minuman yang memberi minum kepadaku.’ HR. al-Bukhari.[3]

Orang yang puasa boleh menelan air ludahnya, dan dimakruhkan menelan dahak bagi yang berpuasa dan yang lain, karena ia kotor, akan tetapi hal itu tidak membatalkan puasa. Apabila nampak darah dari lisan atau giginya, maka janganlah ia menelannya. Dan apabila orang yang berpuasa menelannya, maka puasanya batal.

Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbukanya:
1. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata,

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: مَا صَامَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- شَهْراً كَامِلاً قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ، وَيَصُومُ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: لا وَالله لا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: لا وَالله لا يَصُومُ. متفق عليه.

‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Bulan Ramadhan, dan beliau berpuasa sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbuka.’ Dan beliau berbuka sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah puasa.‘ Muttafaqun ‘alaih.[4]

2. Dari Humaid, sesungguhnya ia mendengar Anas Radhiyallahu anhu berkata,

عن حميد أنه سمع أنساً رضي الله عنه يقول: كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ مِنَ الشّهْرِ حَتَّى نَظُنَّ أنْ لا يَصُومَ مِنْهُ، وَيَصُومُ حَتَّى نَظُنَّ أنْ لا يُفْطِرَ مِنْهُ شَيْئاً، وَكَانَ لا تَشَاءُ تَرَاهُ مِنَ اللَّيْلِ مُصَلِّياً إلَّا رَأيْتَهُ، وَلا نَائِماً إلَّا رَأيْتَهُ. أخرجه البخاري.

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa dalam satu bulan sehingga kami menduga bagi beliau tidak berpuasa darinya, dan beliau puasa sehingga kami menduga bahwa beliau tidak berbuka sedikitpun darinya. Dan tidaklah engkau hendak melihat beliau sedang shalat di malam hari kecuali engkau melihatnya, dan tidaklah (engkau hendak melihat beliau) sedang tidur kecuali engkau bisa mendapatkannya.’ HR. al-Bukhari.[5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 6057
[2]  HR. al-Bukhari no. 1927, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1106
[3]  HR. al-Bukhari no. 1967
[4]  HR. al-Bukhari no. 1971, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1157
[5]  HR. al-Bukhari no. 1972

Puasa Sunnah

PUASA SUNNAH

Puasa terbagi dua:

  1. Wajib : Seperti puasa Bulan Ramadhan.
  2. Sunnah : Ada dua, sunnah mutlak dan sunnah terkait, dan sebagiannya lebih kuat dari yang lain.

Puasa sunnah mengandung pahala besar dan tambahan pahala, dan sebagai penambal kekurangan yang ada dalam puasa wajib.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-: «قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ». متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.’ Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Allâh yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Muttafaqun ‘alaih

Macam-macam Puasa Sunnah.

  1. Puasa sunnah paling utama adalah puasa Daud Alaihissallam, beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari.
  2. Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah Bulan Muharram. Yang terkuat adalah hari ke sepuluh, kemudian hari ke sembilan. Dan puasa hari ke sepuluh menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu. Dan disunnahkan puasa hari ke sembilan, kemudian hari ke sepuluh agar berbeda dengan kaum Yahudi.
  3. Puasa enam hari bulan Syawal.

 قال عليه الصلاة والسلام: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ». أخرجه مسلم.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa puasa Bulan Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di Bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun.‘ HR. Muslim.[1]

Yang paling baik adalah terus menerus setelah hari raya dan boleh memisah-misahnya.

  1. Puasa tiga hari setiap bulan, yaitu seperti puasa satu tahun. Di sunnahkan pada hari-hari putih, yaitu hari ke tiga belas, empat belas, dan lima belas. Atau puasa hari Senin, Kamis, dan senin sesudahnya. Dan jika ia menghendaki, ia puasa dari permulaan bulan dan akhirnya.
  2. Puasa hari Senin dan Kamis setiap pekan. Padanya diperlihatkan semua amal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka disunnahkan berpuasa, dan hari Senin lebih kuat dari pada hari Kamis.
  3. Puasa sembilan (9) hari dari permulaan Bulan Dzulhijjah, paling utama adalah hari ke sembilan, yaitu hari ‘Arafah, bagi orang yang tidak berhaji, dan puasanya menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.
  4. Puasa fi sabilillah.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: «مَنْ صَامَ يَوماً فِي سَبِيلِ الله بَعَّدَ الله وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفاً». متفق عليه

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang puasa satu hari fi sabilillah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh (70) tahun.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

  1. Disunnahkan memperbanyak puasa Sya’ban di awalnya.

عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- سُئل عن صومه……- وفيه- وسئل عن صوم يوم وإفطار يوم؟ قال: «ذَاكَ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلام» قال: وسئل عن صوم يوم الإثنين؟ قال: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدتُ فِيهِ، وَيَومٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ»، وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فقال: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ وَالبَاقِيَةَ»، وسئل عن صوْم يوم عاشوراء؟ فقال: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ». أخرجه مسلم

Dari Abu Qatadah al-Anshari Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa beliau … -dan padanya-, dan ditanya tentang puasa satu hari dan buka satu hari? Beliau bersabda, ‘Itu adalah puasa saudaraku Daud Alaihissallam.’ Ia (Abu Qatadah Radhiyallahu anhu) berkata, Dan beliau ditanya tentang puasa hari Senin? Beliau menjawab, ‘Itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya dan hari aku dibangkitkan (atau diturunkan wahyu kepadaku).’ Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.’ Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa tahun yang lalu.‘ HR. Muslim.[3]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ». متفق عليه

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari Bulan sya’ban’. Muttafaq ‘Alaihi[4]

Diharamkan menyendirikan puasa bulan Rajab semuanya, karena ini termasuk syi’ar jahiliyah. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak diharamkan. Dimakruhkan menyendirikan puasa hari Jum’at, karena ia termasuk hari besar umat Islam. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak dimakruhkan.

Disunnahkan puasa hari Sabtu dan Ahad, karena keduanya adalah hari besar orang-orang musyrik, dan dengan berpuasa kedua hari itu diperoleh perbedaan dengan mereka, dan disunnahkan bagi yang musafir puasa hari ‘Arafah dan hari ‘Asyura, karena waktu kedua akan berlalu.

Haram puasa hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha serta hari syakk (ragu-ragu), yaitu ke tiga puluh dari bulan Sya’ban, apabila tujuannya sebagai tindakan preventif untuk bulan Ramadhan, dan haram puasa hari tasyriq kecuali puasa untuk mengganti dam haji tamattu’ dan qiran saja, maka dibolehkan. Tidak disyari’atkan puasa satu tahun, dan dimakruhkan puasa hari ‘Arafah bagi yang berhaji.

Perempuan tidak boleh melaksanakan puasa sunnah, sedang suaminya ada, kecuali dengan ijinnya. Adapun puasa Ramadhan dan mengqadha` puasa Ramadhan, apabila waktunya sudah sempit, maka ia boleh puasa sekalipun tanpa ijin suami.

Barang siapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, lalu ia melaksanakan puasa enam hari bulan Syawal sebelum mengqadha`, ia tidak mendapatkan puasanya yang disebutkan (seperti puasa satu tahun, pent.), tetapi ia harus menyempurnakan puasa Ramadhan lebih dahulu, kemudian meneruskannya dengan puasa enam hari bulan Syawal, agar ia memperoleh pahala.

Hukum Memutuskan Puasa Sunnah.
Barang siapa yang melaksanakan puasa sunnah, kemudian ia ingin berbuka, maka ia boleh melakukan hal itu. Dan boleh puasa sunnah dengan berniat di siang hari, dan ia boleh memutusnya jika ia menghendaki, dan tidak wajib mengqadha`nya. Akan tetapi ia tidak selayaknya memutus puasanya tersebut kecuali bila memiliki sebab yang benar.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata :

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت: دخل عَلَيَّ النبي- صلى الله عليه وسلم- ذات يوم فقال: «هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» فَقُلْنَا: لا، قال: «فَإنِّي إذَنْ صَائِمٌ» ثم أتانا يوماً آخرَ فقلنا: يا رسول الله أُهدي لنا حَيْسٌ. فقال: «أَرِيْنِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِماً» فَأَكَلَ. أخرجه مسلم

‘Pada suatu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepadaku, seraya bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu?’ Kami menjawab,’Tidak ada.’ Beliau bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa.’ Kemudian beliau datang kepada kami pada suatu hari yang lain, lalu kami berkata, ‘Kami diberi hadiah makanan (terbuat dari kurma dan tepung, pent.).’ Beliau bersabda, ‘Perlihatkanlah ia kepadaku, sungguh tadi pagi aku berniat puasa,’ lalu beliau makan.’ HR. Muslim.[5]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. Muslim no. 1164
[2]  HR. al-Bukhari no. 2840, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1153
[3]  HR. Muslim no. 1162.
[4]  H.R Bukhari no. (1969), ini adalah lafadznya, dan Muslim no. (1156)
[5]  HR. Muslim no. 1154

I’tikaf

I’TIKAF

I’tikaf :  Yaitu selalu berada di masjid untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut caya khusus, baik laki-laki maupun perempuan.

I’tikaf adalah menahan diri beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dekat/senang dengannya, memutus hubungan dari makhluk, dan mengosongkan hati dari segala yang menyibukkan dari zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hukum i’tikaf:
I’tikaf boleh dilakukan setiap waktu dan sah walau tanpa puasa, dan wajib hukumnya dengan nazar dan disunnahkan di bulan Ramadhan, yang paling utama dan paling kuat adalah pada sepuluh terakhir dari Bulan Ramadhan, untuk mencari malam lailatul qadar.

I’tikaf di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha lebih utama dari pada masjid yang lainnya. Jika ia menentukan yang paling utama seperti Masjidil Haram, ia tidak boleh (i’tikaf) di tempat yang keutamaannya di bawahnya, dan jika ia menentukan yang keutamaannya lebih rendah, maka ia boleh i’tikaf pada masjid itu dan di mesjid yang lebih utama.

Disyaratkan untuk sahnya i’tikaf : Islam, niat untuk melakukan i’tikaf, di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, dan (i’tikaf dilakukan dalam keadaan) puasa adalah lebih utama.

Disyariatkan i’tikaf bagi wanita seperti halnya bagi laki-laki,  baik ia dalam keadaan suci, haidh, ataupun istihadhah. Akan tetapi hendaknya ia memakai pembalut, agar tidak mengotori masjid.

Disyaratkan bagi wanita yang hendak i’tikaf agar mendapat ijin dari walinya, dan agar i’tikafnya tersebut tidak menimbulkan fitnah/ godaan baginya maupun terhadap orang lain.

Masjid yang paling utama : Masjidil Haram, shalat di dalamnya senilai seratus ribu (100.000) kali shalat. Kemudian Masjid Nabawi, shalat di dalamnya senilai seribu (1.000) kali shalat. Kemudian Masjidil Aqsha, shalat di dalam senilai dua ratus lima puluh (250) kali shalat.

Barang siapa yang bernazar shalat, atau i’tikaf di salah satu masjid yang tiga, ia harus melaksanakannya seperti yang telah lalu.

Dan barang siapa yang bernazar shalat atau i’tikaf di masjid lainnya, maka ia tidak harus melaksanakan di masjid itu kecuali karena kelebihan syara’, maka ia boleh shalat dan i’tikaf di masjid manapun yang dikehendakinya.

Permulaan i’tikaf dan kesudahannya:

  1. Barang siapa yang bernazar i’tikaf di waktu tertentu, ia masuk tempat i’tikafnya sebelum malamnya yang pertama, sebelum terbenam matahari dan keluar setelah terbenam hari terakhir, seperti ia berkata, ‘Saya harus i’tikaf selama satu minggu dari bulan Ramadhan, umpamanya.
  2. Apabila seorang muslim ingin i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, ia memasuki tempat i’tikafnya sebelum terbenam matahari malam ke dua puluh satu (21), dan keluar setelah terbenam matahari hari terakhir Bulan Ramadhan.

Yang dilakukan orang yang I’tikaf.
Yang i’tikaf disunnahkan menyibukkan diri dan bersungguh-sungguh dengan berbagai macam ibadah, seperti membaca al-Qur`an, zikir, do’a, istigfar, shalat sunnah, shalat tahajjud, menjauhi yang tidak berfaedah dari perkataan dan perbuatan.

Orang yang beri’tikaf boleh keluar masjid untuk menunaikan hajat, wudhu`, shalat Jum’at, makan, minum, dan seperti yang demikian itu seperti mengunjungi orang yang sakit atau mengikuti jenazah orang yang ada hak baginya seperti salah satu dari kedua orang tua, atau karib kerabat, atau semisalnya.

Perempuan boleh mengunjungi suaminya di tempat i’tikafnya dan berbicara bersamanya selama satu waktu, dan semisalnya, begitu pula keluarga dan sahabatnya.

Waktu paling utama untuk I’tikaf.
I’tikaf paling utama adalah i’tikaf sepuluh hari bulan Ramadhan, dan jika ia memutuskannya atau memutuskan sebagiannya, maka tidak ada dosa atasnya kecuali i’tikafnya adalah nazar.

I’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan.

عن عائشة رضي الله عنها: أَنَّ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. متفق عليه

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf sesudahnya.’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

Sah i’tikaf perempuan di dalam masjid apabila walinya mengijinkannya dan aman dari fitnah, dan ia suci dari haid dan nifas. Ia harus memisahkan diri dari laki-laki, berada di tempat khusus untuk perempuan.

I’tikaf batal dengan keluar masjid tanpa adanya kebutuhan, berjima’ dengan istrinya, atau murtadnya, atau jika ia mabok.

Tidur di masjid kadang-kadang bagi orang yang membutuhkan seperti orang asing, orang fakir yang tidak memiliki tempat tinggal dibolehkan. Adapun menjadikan masjid sebagi tempat bermalam dan ….. maka hal ini dilarang kecuali bagi orang yang i’tikaf dan semisalnya.

Masa I’tikaf.
I’tikaf boleh kapan saja dan dalam masa berapapun, baik malam atau siang, atau beberapa hari.

  1. Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, ia berkata,

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قال: يَا رَسُولَ الله، إنِّي نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أنْ أعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَراَمِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم-: «أَوْفِ نَذْرَكَ». فَاعْتَكَفَ لَيْلَةً. متفق عليه

‘Wahai Rasulullah, Sesungguhnya aku pernah bernazar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Laksanakanlah nazarmu.‘ Muttafaqun ‘alaih.[2]

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: «كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً». أخرجه البخاري.

‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf pada setiap Bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Maka tatkala pada tahun yang beliau wafat padanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf selama dua puluh hari. HR. al-Bukhari.[3]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab : Ibadah  العبادات ) Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 2026, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1172.
[2]  HR. al-Bukhari no. 2042, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1656 dalam kitab Iman.
[3]  HR. al-Bukhari no. 2044.

Doa dan Zikir Sebagai Pelindung Diri Dari Setan

DOA DAN DZIKIR SEBAGAI PELINDUNG DIRI DARI SETAN

Penyakit : Jenis dan pengobatannya.
Penyakit ada dua macam; penyakit jiwa dan penyakit jasmani. Penyakit jiwa terbagi dalam dua macam:

  1. Penyakit syubhat. Seperti yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang munafik:

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ [البقرة: ١٠] 

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [Al Baqarah/2: 10].

  1. Penyakit syahwat. Sebagaiman dijelaskan oleh Allah kepada para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ [الاحزاب : ٣٢] 

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.[Al Ahzab/33: 32].

Adapun penyakit raga :  yaitu penyakit yang disebabkan bakteri atau virus yang menyerang tubuh.

Terapi penyakit hati hanya diketahui melalui para rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hati yang sehat adalah hati ( jiwa ) mengenal Rabb yang menciptakannya melalui Asma, sifat, perbuatan dan syariat-Nya, hati yang lebih mendahulukan keridhaan dan kecintaan-Nya, hati yang menjauhi larangan serta murka-Nya.

Terapi penyakit jasmani ada dua macam:
Pertama: Dapat diketahui secara naluri oleh semua makhluk hidup. Hal ini tidak membutuhkan konsultasi kepada dokter. Seperti menanggulangi rasa lapar, haus dan lelah dengan melakukan hal yang sebaliknya.

Kedua: Pengobatan yang membutuhkan ilmu dan pendidikan untuk mengetahuinya. Pengobatan ini biasanya melalui obat-obatan medis atau obat-obat yang dijelaskan dalam Al Quran dan sunah, atau gabungan keduanya.

Penyakit Hati
Hati yang sakit adalah hati yang tidak sehat, menyimpang dari jalan-Nya. Dan hati yang sehat adalah hati mengenal, mencintai dan mengutamakan kebenaran. Maka hati yang sakit bisa jadi disebabkan oleh keraguan akan sebuah kebenaran atau salah dalam memahami suatu argument dan bisa jadi pula disebabkan oleh lebih mendahulukan hal lain daripada kebenaran.

  • Orang-orang munafik mengidap penyakit hati yang disebabkan oleh keraguan dan syubhat.
  • Para pendosa mengidap penyakit syahwat.
  • Jenis lain dari penyakit hati adalah riya’, sombong, merasa diri lebih baik, dengki, angkuh dan ingin menang sendiri dan tinggi hati, ingin mengusai seluruhnya. Sesungguhnya penyakit- penyakit ini masih turunan penyakit syubhat dan syahwat. Semoga Allah memberikan kita kesehatan jiwa dan raga.

Mengusir gangguan setan baik jin maupun manusia.
1. Allah memerintahkan dalam menghadapi musuh dari kalangan manusia (hendaklah menghadapinya dengan) lemah- lembut dan berbuat baik kepadanya, semoga dirinya kembali kepada sifat dasarnya yang baik dan akhlak mulia. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ [فصلت: ٣٤،  ٣٥] 

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushshilat/41: 34-35]

2. Allah memerintahkan kita agar meminta perlindungan-Nya dari musuh berupa setan yang tidak menerima perlakuan baik dari kita, karena sifat dasarnya ingin menyesatkan anak cucu Adam dan memusuhi mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ [فصلت: ٣٦] 

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Fushshilat/41: 36].

Malaikat dan setan silih berganti mengusai hati manusia seperti silih bergantinya siang dan malam. Di antara manusia ada orang yang malamnya lebih panjang dari siangnya, di antara mereka ada orang yang siangnya lebih panjang dari malamnya, di antara mereka ada orang yang seluruh kehidupannya adalah malam dan diantara mereka ada orang yang seluruh kehidupannya adalah siang.

Malaikat memiliki kekuatan dalam jiwa manusia sebagaimana halnya setan. Dan setiap kali Allah memerintahkan kepada suatu hal bagi manusia maka setan selalu menebar perangkapnya, berupa penyakit sikap ghuluw, melampaui batas, kelalaian dan pelakasanaan secara tidak sempurna.

Permusuhan setan terhadap anak cucu Adam.
Allah memberikan tiga nikmat utama kepada makhluk (jin dan manusia) yang dibebankan hukum taklif, yaitu: akal, agama dan kebebasan menentukan pilihan.

Iblis adalah makhluk pertama yang menyalahgunakan nikmat di atas dengan menentang perintah Rabbnya. Lalu Iblis meminta diberi umur panjang hingga hari kiamat guna menggunakna nikmat tersebut untuk menyesatkan anak cucu Adam, dan memperindah maksiat sehingga mereka mau mengikutinya ke neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ [فاطر: ٦] 

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala“. [Faathir/35: 6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ [يوسف: ٥]

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia“. [Yusuf/12: 5]

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ عَرْشَ إبْلِيسَ عَلَى البَحْرِ فَيَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَيَفْتِنُونَ النَّاسَ، فَأَعْظَمُهُمْ عِنْدَهُ أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً». أخرجه مسلم.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya singgasana Iblis berada di lautan. Lalu dia mengirim pasukannya untuk menyesatkan manusia, maka prajurit yang paling di sisi Iblis adalah yang paling menyesatkan manusia“. H.R. Muslim. [1].

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no hadist : 2813.

Bentuk-bentuk Permusuhan Setan

BENTUK-BENTUK PERMUSUHAN SETAN

Permusuhan setan terhadap manusia sangat beragam baik dalam bentuk dan rupa, di antara yang ditunjukkannya terhadap bani Adam adalah:

  1. Menyesatkan anak cucu Adam dengan membuat indah (dalam pendangan mereka) suatu kejahatan dan dosa, kemudian setan berlepas tangan dari mereka.
  2. Menyesatkan anak cucu Adam dengan menebar perasaan was-was dalam beramal.
  3. Menyesatkan anak cucu Adam dengan mengumbar janji- janji dan harapan dan mengganggu hubungan sesama manusia.
  4. Mendorong manusia untuk melakukan maksiat dan seluruh perbuatan haram.
  5. Setan selalu siaga setiap manusia ingin melakukan kebajikan dengan menghalangi, melamperlambat, menghadang serta menakut-nakuti manusia jika terus melakukan kebajikan.
  6. Setan berusaha menghasut sesama manusia dan memunculkan permusuhan dan kebencian sesama mereka.
  7. Setan berusaha membangkitkan iri dan dengki di hati manusia.
  8. Menyakiti manusia dengan berbagai kejahatan dan penyakit serta memalingkan manusia dari jalan Allah semampunya.
  9. Setan mengencingi telinga seorang muslim saat dia tidur hingga tertidur sampai pagi, serta membuat ikatan di kepala manusia yang membuatnya tidak terjaga di waktu malam.

Maka barangsiapa yang mendengarkan, mentaati serta tunduk terhadap setan sesungguhnya dia telah berada di barisan setan, di mana di hari kiamat nanti akan dikumpulkan bersamanya di neraka. Dan barangsiapa yang mentaati Rabbnya, menentang setan maka dia akan dilindungi darinya dan Allah akan memasukkannya ke surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ [المجادلة: ١٩] 

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi“. [Al Mujadilah/58: 19].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ ٱذۡهَبۡ فَمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَآؤُكُمۡ جَزَآءٗ مَّوۡفُورٗا ٦٣ وَٱسۡتَفۡزِزۡ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتَ مِنۡهُم بِصَوۡتِكَ وَأَجۡلِبۡ عَلَيۡهِم بِخَيۡلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِ وَعِدۡهُمۡۚ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا ٦٤ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٞۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلٗا [الاسراء: ٦٣،  ٦٥] 

“Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. [Al Israa’/17: 63 – 65] .

 عن سبرة بن أبي فاكه رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لابْنِ آدَمَ بَأَطْرُقِهِ، فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الإسلاِم، فَقَالَ: تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الهِجْرَةِ فَقَالَ: تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ، وَإنَّمَا مَثَلُ المُهَاجِرِ كَمَثَلِ الفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الجِهَادِ، فَقَالَ: تُجَاهِدُ فَهُوَ جُهْدُ النَّفْسِ وَالماَلِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ المَرْأَةُ، وَيُقْسَمُ المَالُ، فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ» فَقَالَ رَسُولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقّاً عَلَى الله عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الجَنَّةَ..». أخرجه أحمد والنسائي.

Dari Saburah bin Abi Fakih Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setan duduk (menghalangi) manusia pada jalannya dia menghalanginya memluk Islam, dia membisikkan: “Kenapa engkau masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek-moyang mu? Maka hamba tersebut menentang bisikan setan itu lalu dia masuk Islam. Kemudian setan duduk (menghalangi manusia) di jalan hijrah seraya membisikkan: “Tidak ada gunanya bagimu berhijrah dan meniggalkan negrimu dan rumahmu, perumpamaan orang yang berhijrah bagaikan kuda yang dicocok hidungnya. Maka hamba tersebut menentang bisikan setan dan dia tetap berhijrah. Kemudian setan duduk ((menghalangi manusia) di jalan jihad seraya membisikkan: “Tidak ada gunanya engkau berjihad,  hal itu hanya menghabiskan harta dan jiwa, seandainya engkau terbunuh istrimu akan dinikahi orang dan hartamu akan diambil ahli waris. Maka hamba tersebut menentang bisikan setan itu dan pergi berjihad.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka barangsiapa yang terus melakukan kebajikan niscaya Allah mesti memasukkannya ke dalam surga …”. H.R. Ahmad dan Nasa’i. [1]

Jalan-jalan Setan:

  1. Arah jalan yang ditempuh oleh setan (dalam menggoda manusia) ada empat: Arah kanan, kiri, depan dan belakang. Jalan manapun yang akan ditempuh manusia di sana ada setan yang siap menghadang.
  2. Jika seseorang ingin menempuh jalan ketaatan maka dia mendapatkan setan memperlambat serta menghalangi langkahnya.
  3. Dan jika dia menempuh jalan maksiat niscaya dia mendapatkan setan mendukung, mendorong serta menganjurkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ [الاعراف: ١٦،  ١٧] 

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). [Al-A’raf/7 :16- 17].

Pintu-pintu masuk bagi Setan:
Setan masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga pintu: syahwat, marah dan hawa nafsu.

Syahwat kebinatangan menyebabkan manusia menganiaya dirinya sendiri, di antara akibatnya adalah sesorang besifat tamak dan bakhil.

Marah buas, ini suatu penyakit yang lebih berbahya dari syahwat. Yang menyebabkan seseorang menganiaya dirinya dan orang lain. Diantara akibatnya adalah merasa tinggi hati dan sombong.

Nafsu (karena tipu daya) setan, penyakit ini lebih berbahaya daripada marah. Yang menyebabkan seseorang berbuat melampaui batas hingga terhadap Rabbnya dalam bentuk kesyirikan dan kekufuran. Di antara akibatnya adalah terjadinya kekufuran dan bid’ah.

Dosa yang sering terjadi pada makhluk adalah dosa yang disebabkan karena sifat kebinatangan dan dari pintu ini dia terjerumus ke pintu-pintu yang lain.

Langkah-langkah Setan.
Seluruh bentuk kejahatan di muka bumi ini penyebab utamanya adalah setan melalui tipu dayanya yang dapat disimpulkan dalam tujuh langkah. Setan selalu menapakinya sampai seorang terjerumus ke dalam salah satu perangkapnya.

  1. Dosa terbesar yang sangat diinginkan setan untuk dilakukan oleh manusia adalah syirik, kafir serta menentang Allah dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Jika hal itu tidak berhasil maka setan masuk ke langkah berikutnya yaitu bid’ah.
  3. Jika tidak berhasil, maka setan menjerumuskannya agar dia melakukan salah satu dosa besar.
  4. Jika tidak mampu maka dia berusaha menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil.
  5. Jika tidak berhasil maka dia berusaha menyibukkan orang tersebut dengan hal yang mubah, yang tidak ada pahala dan siksa dengan melakukannya sehingga orang itu lalai melakukan hal- hal yang wajib.
  6. Jika tidak berhasil dia berusaha menyibukkan orang tersebut untuk melakukan hal- hal yang sunat yang menyebabkan orang tersebut lalai melakukan hal- hal yang fardhu.
  7. Jika cara ini juga tidak berhasil, maka setan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengusai orang tersebut dengan berbagai gangguan dan penindasan.

Seorang mukmin selalu berjuang melawan setiap godaan sehingga dia wafat dan bertemu Allah. Semoga Allah memberi keistiqamahan dan inayah-Nya kepada kita.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Fiqih Al-Qur’an dan Sunnah (Keutamaan Amal, Adab, Dzikir dan Doa-Doa) فقه القرآن والسنة في الفضائل والأخلاق والآداب والأذكار والأدعية ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] . Hadist shahih diriwayatkan oleh Ahmad no hadist: 16054 dan Nasa’i no hadist : 3134.

Iman Kepada Qadar

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Qadar: yaitu ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segala sesuatu, dan tentang apa saja yang dikehendakiNya ada atau dikehendaki terjadi dari setiap makhluk, alam semesta, segala sesuatu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mentaqdirkan hal itu, serta menulisnya di Lauhul Mahfudz. Al-Qadar adalah rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala terpadap makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dan tidak pula nabi yang diutus.

Iman Kepada Qadar.
Yaitu meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa segala kebaikan, keburukan segala sesuatu yang terjadi, adalah dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ [القمر: ٤٩] 

Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. [Al-Qamar/54: 49]

Beriman Kepada Qadar Mencakup Empat Perkara.
Pertama: Percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu secara umum dan terperinci. Baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan, dan semisal dengan yang demikian itu. Atau mengetahui perkara yang berhubungan dengan perbuatan makhluk, seperti semua ucapan, perbuatan dan keadaan manusia dan keadaan seluruh hewan, tumbuhan dan benda-benda padat serta segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا [الطلاق : ١٢] 

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu“.[Ath-Thalaq/65: 12]

Kedua : Percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis taqdir (ketentuan) segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh, yaitu ketentuan segala makhluk, keadaan, rizqi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menulis jumlahnya, tata caranya, waktunya dan tempatnya. Maka ketentuan itu tidak berubah dan tidak berganti. Tidak bertambah dan tidak berkurang, kecuali dengan perintah-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ [الحج : ٧٠] 

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [Al-Hajj/22: 70]

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Amr Radhiyallahu anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan ketentuan-ketentuan makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah bersabda: Dan arsy-Nya berada di atas air.”

Ketiga: Percaya bahwa semua makhluk tidak ada kecuali dengan kehendak dan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka semua itu terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi., baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan dan semisal yang demikian itu, atau  yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan makhluk berupa tingakh lakunnya, ucapan, dan keadaannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ [القصص: ٦٨] 

 Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. [Al-Qashash/28: 68]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ [ابراهيم: ٢٧] 

“..dan memperbuat apa yang dia kehendaki“. [Ibrahim/14: 27]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ [الانعام: ١٣٧] 

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. [Al-An’aam/6: 112]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [التكوير: ٢٨،  ٢٩] 

“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. [At-Takwiir/81: 28-29]

Keempat: percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu, menciptakan semua alam dengan zat, sifat, dan geraknya. Tidak ada pencipta dan Rabb selain-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ [الزمر: ٦١] 

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu”. [Az-Zumar/39: 62]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ [القمر: ٤٩] 

“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. [Al-Qamar/54: 49]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. [Ash-Shaaffat/37: 96]

Berhujjah (Beralasan) Dengan Qadar
Apa yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi manusia terbagi menjdi dua:

Pertama: Sesuatu yang ditaqdirkan dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa perbuatan dan keadaan yang keluar dari kehendak manusia: baik seperti tinggi dan pendeknya seseorang, baik dan buruknya (dalam penampilan lahiriyahnya), hidup dan matinya, atau apa saja yang terjadi atas dirinya di luar kehendaknya, seperti terjadinya musibah, penyakit, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan musibah-musibah lainnya yang terkadang sebagai hukuman terhadap hamba, dan terkadang sebagai cobaan baginya, dan terkadang pula untuk mengangkat derajatnya.

Perbuatan-perbuatan ini atau yang terjadi atas dirinya tanpa kehendaknya, maka seseorang tidak akan ditanya dan dihisab atasnya. Ia harus beriman kepadanya bahwa semua itu terjadi dengan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia harus sabar, ridha, dan berserah diri. Tidak ada satu peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta melainkan ada hikmah yang telah ditentukan oleh Yang Maha Mengetahui padanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ [الحديد: ٢٢] 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Al-Hadid/57: 22].

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Aku berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا غُلاَمُ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احَفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ. احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. إِذَا سَأَلْتَ فاَسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَاْعلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ. وَلَوْ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Wahai gulam, sesungguhnya aku mengajarkanmu beberapa kalimah: jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjagamu. Jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya engkau mendapatkan-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قاَلَ اللهُ تعالى: يُؤْذِيْنِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ, بِيَدِي اْلأَمْرُ, أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Manusia menyakiti-Ku, ia mencela masa, padahal Akulah masa itu. Ditangan-Ku semua perkara, Aku membalikkan malam dan siang.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Kedua: Sesuatu yang ditentukan dan taqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa segala perbuatan yang mampu dan bisa dilakukan oleh manusia, dengan bekal yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa akal, kemampuan dan kebebasan memilih, seperti memilih antara iman dan kafir, antara taat dan maksiat, juaga memilih antara perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Maka hal ini dan semisalnya manusia dihisab atasnya, dan dengan hisab itulah diadakannya pahala dan hukuman, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, mendorong kepada iman dan ketaatan dan memperingatkan dari perbuatan kafir dan maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membekali manusia dengan akal dan memberikannya kemampuan untuk memilih dengannya. Maka ia sebenarnya menempuh jalan yang dikehendaki menurut pilihannya. Namun, pilihan apapun yang diambilnya, ia termasuk dalam kehendak dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa pengetahuan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ [الكهف: ٢٩] 

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir. [Al-Kahfi/18: 29]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ [فصلت: ٤٦] 

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”. [Fushshilat/41: 46]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِأَنفُسِهِمۡ يَمۡهَدُونَ [الروم: ٤٤] 

Barangsiapa yang kafir Maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). [Ar-Ruum/30: 44]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ٢٧ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [التكوير: ٢٧،  ٢٩] 

Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta Alam.  (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.  Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. [At-Takwiir/81: 27-29]

Kapan Boleh Berhujjah Dengan Qadar

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Shahih/ HR. Ahmad no 2669, dan at-Tirmidzi no. 2516, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2043.
[2]  HR. al-Bukhari no. 4826, dan Muslim no. 2246.

Disyari’atkan Menolak Taqdir Dengan Taqdir

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Kapan Boleh Berhujjah Dengan Qadar.
1. Manusia boleh berhujjah dengan qadar pada musibah (yang menimpanya), seperti yang dijelaskan pada bagian pertama. Apabila seseorang sakit, atau meninggal dunia, atau mendapat musibah di luar kehendaknya, maka ia boleh berhujjah dengan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, Hendaklah dia mengucapkan:

َقَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukannya  dan apa yang dikehendakiNya mesti terjadi“.

Maka dia harus bersabar dan ridha jika ia mampu, demi untuk mendapatkan pahala. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ [البقرة: ١٥٥،  ١٥٧] 

“… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.  Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-Baqarah/2: 155-157]

2. Manusia tidak boleh beralasan dengan taqdir atas kemaksiatan yang dilakukannya, sebab mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban, atau melakukan apa yang diharamkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh berbuat taat dan meninggalkan maksiat, menyuruh bekerja dan melarang berpegang kepada taqdir. Jika taqdir boleh menjadi hujjah bagi seseorang, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyiksa orang-orang yang mendustakan para rasul, seperti kaum nabi Nuh u, kaum ‘Aad, kaum Tsamud, dan semisal mereka, dan tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan untuk menegakkan hukum kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran.

Dan barangsiapa yang menganggap taqdir sebagai hujjah bagi pelaku maksiat, maka hal itu  berarti akan menghapuskan kebolehan mencela dan menghukum manusia (yang berbuat buruk). Sehingga seseorang tidak boleh mencela dan menghukum orang yang melakukan aniaya terhadap dirinya, dan tidak pula boleh membedakan di antara orang yang melakukan perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan ini jelas merupakan pendapat yang batil.

Sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba, berupa kebaikan atau keburukan, tergantung pada sebab-sebabnya. Suatu kebaikan memiliki sebab-sebabnya yaitu keimanan dan ketaatan, dan bagi keburukan ada sebab-sebabnya, yaitu kufur dan maksiat. Dan manusia beramal menurut kehendak yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan berhak memilih apa yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Dan seorang hamba tidak bisa mencapai ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ditaqdirkan baginya, baik berupa keberuntungan atau kecelakaan, kecuali setelah menjalani sebab-sebab yang telah dilakukannya dengan ikhtiar yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Oleh karenanya, untuk memasuki surga ada sebab-sebabnya dan untuk memasuki neraka ada sebab-sebabnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ [الانعام: ١٤٨] 

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka Telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”. [Al-An’aam/6:148]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ [ال عمران: ١٣٢] 

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. [Ali ‘Imraan/3: 132]

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن علي رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ فَلِمَ نَعْمَلُ؟ أَفَلا نَتَّكِلُ؟ قَالَ: «لَا، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ» ثم قرأ: {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)} متفق عليه.

Tidak ada satu jiwapun darimu kecuali telah diketahui tempatnya, surga atau neraka.’ Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita mesti beramal?”. Tidakkah kita berserah diri tanpa beramal?. Beliau menjawab: ‘Tidak, beramallah, sebab setiap orang dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan untuknya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ٧ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ٨ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٩ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ [الليل: ٥، ١٠]

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, Serta mendustakan pahala terbaik,  Maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. [Al-Lail/92: 5-10]

Disyari’atkan Menolak Taqdir Dengan Taqdir.

  1. Menolak taqdir yang sungguh tersimpul sebab-sebabnya dan belum terjadi dengan sebab-sebab lain dari taqdir yang berlawanan, seperti menolak musuh dengan memeranginya, menolak panas dan dingin serta semisal yang demikian itu.
  2. Menolak taqdir yang telah terjadi dengan sesuatu yang ditaqdirkan bisa mengangkat dan menghilangkannya, seperti menolak taqdir sakit dengan taqdir berobat, menolak taqdir dosa dengan taqdir bertaubat, menolak taqdir berbuat jahat dengan taqdir berbuat baik dan seterusnya.
  3. Perbuatan baik dan buruk yang muncul dari hamba tidak menafikan penyandarannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menciptakan dan mengadakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu, yaitu menciptakan manusia dan perbuatannya. Namun, adanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala (pada sesuatu) bukan sebagai bukti atas keridhaan-Nya.

Kekafiran, perbuatan maksiat, dan kerusakan terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukainya, tidak meridhainya, dan tidak pula memerintahkannya. Bahkan, Dia membenci dan melarangnya. Keadaan bahwa sesuatu hal dibenci dan tidak diredhai tidak mengeluarkannya dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi penciptaan semua makhluk. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadung hikmah sesuai dengan apa yang diatur-Nya pada kerajaan dan ciptaan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia yang paling sempurna dan paling utama adalah manusia yang mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membenci apa saja yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak mempunyai rasa cinta dan benci kepada selainnya. Mereka menyuruh kepada apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan tidak memerintahkan kepada selain itu, begitulah seterusnya. Setiap saat, hamba selalu membutuhkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti dijunjungnya dan larangan yang dijauhinya, serta taqdir yang diridhainya.

Ridha Terhadap Taqdir Terbagi Menjadi Tiga:

  1. Ridha dalam melaksanakan ketaatan. Hal ini diperintahkan.
  2. Ridha dengan musibah yang menimpa. Perkara dianjurkan.
  3. Kekafiran, kefasikan dan maksiat. Hal ini tidak diperintahkan untuk meridhainya. Bahkan diperintahkan membencinya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai dan tidak meridhainya. Sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakannya dan tidak menyukainya, namun sesungguhnya hal itu membawa kepada sesuatu yang Dia cintai, sebagaimana Dia telah menciptakan syetan. Maka kita redha dengan  apa yang telah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun terhadap perbuatan yang tercela dan orang yang melakukannya, maka kita tidak ridha dan tidak menyukainya.

Oleh karenanya, suatu perkara, disukai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain, seperti obat yang tidak disukai, dia zat yang dibenci, akan tetapi membawa kepada hal yang disukai. Dan jalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan membuat Allah redha (kepada kita), dengan melaksanakan apa yang disukai dan diridhai, bukan ridha dengan segala yang terjadi dan terwujud. Kita tidak diperintahkan untuk meridhai setiap apa yang ditentukan dan ditaqdirkanNya. Akan tetapi kita diperintahkan untuk meridhai apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya untuk meridhainya.

Ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Baik dan Buruk Mempunyai Dua Sisi:

  1. Salah satunya: Hubungan dan penisbatannya kepada Allah. Dari sisi ini seorang hamba mesti ridha dengannya, sebab semua qadha Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah baik, adil, dan bijaksana.
  2. Kedua: Hubungan dan penisbatannya kepada hamba. Dalam hal ini, ada yang diridhai, seperti keimanan dan ketaatan, dan di antaranya ada yang tidak diridhai seperti kekafiran dan kemaksiatan. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meridhai, tidak menyukai, dan tidak pula memerintahkannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ [القصص: ٦٨] 

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). [Al-Qashash/28: 68]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ [الزمر: ٧] 

 Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. [Az-Zumar/39: 7]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.[Ash-Shaaffat/37: 96]

Perbuatan Hamba Adalah Makhluk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hamba dan menciptakan segala perbuatannya, Dia mengetahui hal itu, serta menulisnya sebelum terjadinya. Maka apabila hamba melakukan kebaikan atau keburukan, maka terbukalah bagi kita apa yang telah diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang telah diciptakan dan ditulis-Nya. Pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapperbuatan hamba adalah pengetahuan yang bersiafat menyeluruh. Ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu, tidak ada yang terlupakan dari-Nya seberat biji sawi di bumi dan tidak pula di langit.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” [Ash-Shaaffat/37: 96]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ [الانعام: ٥٩] 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).  [Al-An’aam/6: 59]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ [يونس : ٦١] 

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Yunus/10: 61]

  1. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kami, dan beliau adalah yang benar dan dibenarkan;

إَنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا, ثُمَّ يَكُوْنُ فِى ذلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ, ثُمَّ يَكُوْنُ فِى ذلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤمَرُ بِأَرْبَعُ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيْدٌ.   فَواَلَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ  حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu. Kemudian menjadi segumpal daging seperti itu. Kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu meniupkan padanya ruh dan dia disuruh dengan empat kalimat: menulis rizqinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau beruntung. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada di antaranya dan di antara surga kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu ia berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga dia memasukinya.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Adil dan Ihsan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643, ini adalah lafazhnya.