Category Archives: A4. Syarat Diterimanya Ibadah

Mengetahui Hadits-Hadits yang Menjelaskan Tentang Adzab Neraka

MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(3/6)

3. Mengetahui hadits-hadits yang menjelaskan tentang adzab Neraka
Ketahuilah wahai saudaraku sesama muslim, bahwa bab ini sangat luas pembahasannya, dan setiap kali keilmuan seorang muslim itu bertambah, maka akan bertambah pula rasa takutnya dan ikhlasnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan sedikit saja tentangnya, dengan harapan semoga Allah Yang Mahaagung memberikan manfaat dengannya bagi hamba-hamba-Nya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ مَنْكِبَيِ الْكَافِرِ فِي النَّارِ مَسِيرَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ لِلرَّاكِبِ الْمُسْرِعِ.

Tidaklah jarak antara dua pundak seorang kafir di Neraka melainkan sejauh perjalanan tiga hari bagi seorang penunggang kendaraan yang cepat.”1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضِرْسُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيْرَةُ ثَلاَثٍ.

Gigi taring seorang kafir (besarnya) bagaikan gunung Uhud, sedangkan tebal kulitnya sejauh perjalanan tiga hari.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُرْسَلُ الْبُكَاءُ عَلَى أَهْلِ النَّار،ِ فَيَبْكُونَ حَتَّى يَنْقَطِعَ الدُّمُوعُ، ثُمَّ يَبْكُونَ الدَّمَ، حَتَّى يَصِيرَ فِي وُجُوهِهِمْ كَهَيْئَةِ اْلأُخْدُوْدِ لَوْ أُرْسِلَتْ فِيهَا السُّفُنُ لَجَرَتْ.

Tangisan dikirimkan kepada penghuni Neraka, maka mereka menangis sehingga habislah air mata mereka, lalu mereka menangis dengan mengeluarkan darah sehingga wajah-wajah mereka bagaikan parit-parit, yang jika kapal-kapal ditarik padanya, niscaya akan berjalan.”3

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ.

Sesungguhnya akan datang seseorang yang bertubuh besar lagi berbadan gemuk pada hari Kiamat, tetapi di sisi Allah dia tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk pun.” [Muttafaq ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى حُجْزَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى تَرْقُوَتِهِ

Di antara mereka ada yang ditarik oleh api sampai dua mata kakinya, di antara mereka ada yang ditarik oleh api sampai dua lututnya, di antara mereka ada yang ditarik oleh api sampai pinggangnya dan di antara mereka ada yang ditarik oleh api sampai tulang leher.” [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي اْلأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ

Manusia berkeringat pada hari Kiamat sehingga keringat mereka menggenang di permukaan bumi setebal tujuh puluh hasta dan menenggelamkan ereka sampai telinga.” [Muttafaq ‘alaihi].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ اْلآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا فَسَمِعْتُمْ وَجْبَتَهَا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba kami mendengar ada sesuatu yang jatuh, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Tahukah kalian suara apakah ini?’ Kami menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,’ beliau berkata, ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam Neraka semenjak tujuh puluh tahun yang lalu, batu itu jatuh ke dalam Neraka sehingga sampai ke dasarnya dan kalian mendengarkan suaranya.’”4

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Tidaklah di antara kalian kecuali dia akan berbicara dengan Rabb-nya, dan tidak ada antara dia dengan Rabb-nya seorang penerjemah, dia akan melihat ke kanan, lalu dia tidak melihat sesuatu kecuali amal yang telah dilakukannya, kemudian dia melihat ke sebelah kiri, lalu dia tidak melihat sesuatu kecuali amal yang telah dilakukannya, kemudian dia melihat apa yang ada di hadapannya, lalu dia tidak dapat melihat sesuatu kecuali api yang berada di hadapan wajahnya, maka jagalah diri kalian dari api Neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sebelah kurma.”5

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا َلأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ تَكُونُ طَعَامَهُ

Seandainya satu tetes saja dari pohon Zaqqum6 dipercikkan ke dunia, niscaya ia akan merusak semua kehidupan penghuni dunia, maka apalagi jika ia dijadikan sebagai makanan bagi penghuni Neraka.”7

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا! فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا! فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ، أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَدْخُلَهَا أَحَدٌ، قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللهُ النَّارَ قَالَ: يَا جِبْرِيْلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا! فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَـاءَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ. ثُمَّ قَالَ: يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا.

Ketika Allah menciptakan Surga, Dia berkata kepada Jibril, ‘Pergilah dan lihatlah ia!’ Akhirnya Jibril pergi untuk melihatnya, lalu Jibril datang dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku, demi keagungan-Mu tidak ada seorang pun yang mendengarkannya kecuali dia memasukinya.’ Lalu Allah menghiasinya dengan sesuatu yang dibenci, setelah itu Allah berkata kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah ia!’ Lalu Jibril pergi untuk melihatnya, kemudian dia datang dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku takut jika tidak ada seorang pun yang memasukinya.’ Rasul bersabda, ‘Maka ketika Allah menciptakan Neraka, Dia berkata kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah ia!’ Akhirnya Jibril pergi untuk melihatnya, lalu dia datang dan berkata, ‘Ya Rabb-ku, demi keagungan-Mu tidak ada seorang pun yang mendengarkannya ingin memasukinya.’ Lalu Allah menghiasinya dengan syahwat, kemudian Dia berkata, ‘Wahai Jibril, pergi dan lihatlah ia!’ Akhirnya Jibril pergi untuk melihatnya, lalu dia bekata, ‘Wahai Rabb-ku, demi keagungan-Mu aku takut jika tidak ada seorang pun yang tertinggal kecuali memasukinya.’”8

4. Mengetahui segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa di Surga

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Muttafaq ‘alaihi.
2  HR. Muslim dan yang lainnya.
3  HR. Ibnu Majah, Shahiihul Jaami’ (no. 7939) dengan sanad yang hasan.
4  HR. Muslim.
5  Muttafaq ‘alaihi.
6  Pohon Neraka
7  HR. Ahmad di dalam Musnadnya, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan yang lainnya, disebutkan di dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 5126).
8  HR. Ahmad di dalam Musnad-nya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disebutkan di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 5086).

Mengetahui Yang Dijanjikan Oleh Allah Bagi Orang-Orang Yang Bertakwa

MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(4/6)

4. Mengetahui segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa di Surga sesuai dengan kemampuannya
Di antara sebab seseorang bersikap riya’ dan syirik adalah merasakan nikmat dengan pengagungan dan pujian orang lain, dan mendahulukannya daripada nikmat Surga, hanya kepada Allah kita memohon keselamatan. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan akan nilai Surga, karena itu saya melihat sangat perlu untuk mengungkapkan beberapa hadits yang berkenaan dengan nikmat Surga, juga segala sesuatu yang dijanjikan bagi orang yang bertakwa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat dengannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي.

Jika seorang mukmin menginginkan anak di dalam Surga, maka (isterinya akan) hamil, menyusui dan anak itu tumbuh besar hanya sesaat saja sesuai dengan yang diinginkannya.”1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُـمْ سَبْعُونَ أَلْفًا تُضِئُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ.

Satu kelompok dari umatku yang masuk ke dalam Surga dengan jumlah tujuh puluh ribu, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya bagaikan rembulan di malam purnama.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ مِائَةٍ فِي النِّسَاءِ.

Seorang mukmin laki-laki akan diberikan kekuatan untuk berjima’ dengan seratus wanita di dalam Surga.”3

Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda:

اَلْجَنَّةُ لَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ.

Surga itu dibangun dari bata emas dan perak.4

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْجَنَّةُ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ.

Surga itu ada seratus tingkatan, jarak antara setiap tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi.”5

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا.

Sungguh indah pohon di dalam Surga yang tingginya sepanjang perjalanan seratus tahun, pakaian-pakaian penghuninya keluar dari kelopak bunganya.”6

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْكُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَمْخَطُونَ وَلاَ يَبُولُونَ، وَلَكِنْ طَعَامُهُمْ ذَاكَ جُشَاءٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ، يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالْحَمْدَ كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ.

Penghuni Surga makan di dalamnya dan minum, akan tetapi mereka tidak beringus, tidak buang air besar dan tidak kencing, makanan mereka hanya menjadi suara (seseorang yang kenyang) dan keringat yang wangi bagaikan wangi minyak kasturi, mereka semua diilhami untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana diri mereka yang diilhami untuk bernafas.” [HR. Muslim].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا.

Sesungguhnya di dalam Surga ada sebuah pohon, di mana seorang penunggang yang sangat lihai yang lari dengan cepat, tetapi dalam menempuh jarak seratus tahun dia tidak dapat melaluinya.” [Muttafaq ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي  َلأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا أَوْ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً، رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللهُ لَهُ: اِذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ: اِذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا، أَوْ: إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْـثَالِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ مِنِّي أَوْ: أَتَضْحَكُ مِنِّي وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟! فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ وَكَانَ يُقَالُ: ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً.

Sesungguhnya aku mengetahui penghuni Neraka yang terakhir keluar darinya atau yang terakhir masuk Surga, dia adalah seseorang yang keluar dari Neraka dengan merangkak, lalu Allah berkata, ’Pergi dan masuklah ke dalam Surga!’ Lalu dia mendatanginya dan digambarkan kepadanya seakan-akan Surga tersebut telah penuh, kemudian dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku mendapatinya telah penuh,’ lalu Allah berkata, ‘Pergi dan masuklah ke dalam Surga! Karena untukmu kenikmatan seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya, atau untukmu sepuluh kali lipat kenikmatan dunia,’ lalu dia berkata, ‘Apakah Engkau menghinaku atau menertawaiku sedangkan Engkau adalah Maha Raja?’ (perawi) berkata, ‘Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sehingga gigi gerahamnya kelihatan, beliau berkata, ‘Dia adalah penghuni Surga yang paling rendah derajatnya.’” [Muttafaq ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدْ اِزْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ! لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ وَاللهِ! لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً.

Sesungguhnya di dalam Surga ada sebuah pasar7 yang mereka datangi setiap hari Jum’at, lalu angin dari utara berhembus dan memberikan bekas di wajah dan pakaian mereka sehingga mereka semakin indah dan menawan, mereka semua kembali kepada keluarga mereka dengan wajahnya yang bertambah indah dan menawan, keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau bertambah indah dan menawan,’ dan mereka pun berkata, ‘Kalian pun bertambah indah dan menawan’” [HR. Muslim].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْأَسُوا أَبَدًا.

“Jika penghuni Surga masuk ke dalam Surga, maka berkata seorang penyeru, ‘Sesungguhnya kalian berhak untuk hidup, maka kalian tidak akan mati selamanya, sesungguhnya kalian berhak untuk sehat, maka kalian tidak akan sakit selamanya, sesungguhnya kalian berhak untuk hidup dalam keadaan muda, maka tidak akan pernah tua selamanya dan sesungguhnya kalian berhak untuk mendapatkan kenikmatan, maka tidak akan pernah sengsara selamanya.’” [HR. Muslim]

5. Mengingat kematian dan pendeknya harapan

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 6525).
2  Muttafaq ‘alaihi.
3  HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, di dalam Shahiihul Jamii’ (no. 7962) dengan sanad yang shahih.
4  Shahiihul Jaami’ (no. 3163).
5  Shahiihul Jaami’ (no. 3115).
6  HR. Ahmad di dalam Musnad, dan Ibnu Majah, di dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3813) dengan sanad yang hasan.
7  Sebuah tempat berkumpul, mereka semua berkumpul sebagaimana penduduk dunia berkumpul di pasar-pasar.

Mengingat Kematian Dan Pendeknya Harapan

MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(5/6)

5. Mengingat kematian dan pendeknya harapan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imran/3: 185]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan di-usahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Lukman/31:34]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ﴿٩٩﴾لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan.” [Al-Mu’-minuun/23: 99-100]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dengan berkata:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.

Hiduplah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau pengembara.’”

Dan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pun berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu waktu sore, manfaatkanlah kesehatanmu sebelum datang waktu sakit, dan hidupmu sebelum datang kematian.” [HR. Al-Bukhari]

6. Mengetahui nilai dunia dan kefanaannya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Al-Kahfi/18: 45]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakanmu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”[Faathir/35: 5]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ اْلآخِرَةِ.

Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang abadi) kecuali kehidupan akhirat.” [Muttafaq ‘alaihi].

Dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

Ada tiga hal yang mengikuti seorang mayit kekubur: keluarga, harta dan amalnya, yang dua kembali sedangkan yang satu tetap bersamanya, keluarga dan hartanya kembali sedangkan amal tetap bersamanya.” [Muttafaq ‘alaihi].

Dari beliau pula  Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَـمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ! هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لاَ وَاللهِ! يَا رَبِّ! وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ! هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ؟ لاَ وَاللهِ! يَا رَبِّ! مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Seseorang yang mendapatkan nikmat dunia terbesar dari penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat dan dicelupkan ke dalam Neraka satu celupan saja, lalu dia ditanya, ‘Wahai manusia! Apakah engkau pernah melihat kebaikan sedikit saja? Apakah pernah engkau merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabb-ku.’ Dan didatangkanlah seseorang yang paling sengsara di dunia dari penghuni Surga dan dicelupkan ke dalam Surga, lalu dia ditanya, ‘Wahai manusia! Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sedikit saja?’ Dia berkata, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabb-ku, aku sama sekali tidak pernah merasakan kesengsaraan dan tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’” [HR. Muslim]

Maka ketahuilah bahwa satu celupan saja di dalam Neraka akan melupakan semua nikmat yang Anda rasakan karena riya’ dan rasa cinta akan pujian orang lain atas diri Anda.

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَال:َ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ! لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ ِلأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ! لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ.

Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sebuah pasar sedangkan orang-orang ada di sekitarnya, lalu dia melalui seekor anak kambing yang telinganya kecil yang telah mati, lalu beliau mengambil dan memegang telinganya. Kemudian beliau berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang berani membeli ini dengan satu dirham?’ Mereka semua menjawab, ‘Kami sama sekali tidak berani membelinya, dan apa yang dapat kita buat darinya?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Inginkah kalian jika semua ini diberikan kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, jika hidup saja merupakan aib, karena ia adalah anak kambing dengan telinga yang kecil, maka apalagi jika dia telah menjadi bangkai.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Allah, sungguh dunia lebih hina di hadapan Allah dari bangkai kambing ini bagi kalian.’1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ.

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir.”2

Jika Anda ingin berada di dalam penjara dunia dan berada di dalam Surga akhirat kelak, maka penjarakanlah jiwa Anda agar tidak melakukan riya’ dan tidak mencintai ketenaran dan pujian orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ.

Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan mem-berikan seteguk air pun bagi seorang kafir.”3

7. Do’a

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  HR. Muslim.
2  HR. Muslim.
3  HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Lebih Cinta Diingat Oleh Allah Daripada Diingat Oleh Makhluk

MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(6/6)

7. Do’a
Obat ini merupakan satu cara yang paling baik untuk menghancurkan riya’ dan syirik, maka janganlah Anda berhenti untuk berdo’a selagi Anda mampu untuk melakukannya, dan ambillah selalu kesempatan untuk mempergunakan waktu-waktu yang mustajab di dalam berdo’a dengan disertai adab-adab dalam berdo’a.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita semua yaitu satu do’a agar terlepas dari syirik yang kecil maupun syirik yang besar, beliau bersabda, “Syirik yang menimpa kalian itu lebih tersembunyi daripada langkah semut, dan aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian melakukannya, maka Allah akan menghilangkan syirik yang besar maupun yang kecil dari kalian, ucapkanlah oleh kalian:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَ أَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadamu dari berbuat syirik yang tidak aku ketahui.”1

8. Rasa takut bahwa riya’ tersebut adalah kesempatan terakhir bagi amal Anda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُبْعَثُ النَّاسُ عَلَى نِيَّاتِهِمْ.

Seluruh manusia akan dibangkitkan atas niat-niat mereka.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ.

Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia mati.”3

9. Banyak melakukan amal kebaikan yang tidak disaksikan oleh orang lain, dan tidak memberitahukannya kepada orang lain kecuali jika dibutuhkan
Seperti melakukan shalat malam, menangis dalam keadaan menyendiri karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melakukan puasa sunnah, sedekah dengan sembunyi sembunyi, mendo’akan saudara dari kejauhan, dan melakukan shalat selain yang wajib di dalam rumah.

10. Bersahabat dengan orang yang tampak di pandangan Anda bahwa mereka adalah orang yang selalu melakukan keikhlasan, amal shalih dan ketakwaan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ. صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ، وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan antara teman yang baik dan yang buruk adalah bagaikan tukang minyak wangi dan tukang pandai besi, tidak akan ada yang terlepas dari tukang minyak wangi bisa jadi engkau membelinya, atau engkau akan mendapatkan wanginya yang harum. Dan dari tukang pandai besi bisa jadi ia bisa membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan baunya yang tidak sedap.”4

Orang yang ikhlas tidak akan pernah merugikan Anda sedikit pun, sedangkan orang yang bersikap riya’ atau melakukan kesyirikan, jika tidak akan membakar Anda di dalam Neraka pada hari Kiamat, maka Anda akan mendapatkan bau busuk penyakit riya’ yang tidak sedap, dan yang akan menjadikan Anda lebih menyukai sikap riya’ juga kesyirikan tersebut. Semoga Allah melindungi kita darinya.

11. Takut melakukan riya’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sebagian hamba-ham-ba-Nya yang shalih:

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴿٢٥﴾قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ﴿٢٦﴾فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ﴿٢٧﴾إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab).’ Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab Neraka. Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” [Ath-Thuur/52: 25-28]

Rasa takut akan perbuatan maksiat adalah yang memberikan manfaat bagi mereka dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang takut akan sesuatu, maka dia akan selalu berhati-hati darinya sehingga dia selamat, sedangkan orang yang merasa aman darinya, maka dia akan jatuh kepadanya, karena itu di antara do’a yang sering diucapkan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mencerminkan bahwa beliau takut dari perbuatan syirik, sehingga beliau banyak berdo’a:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, beliau berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdo’a dengan berkata: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah ha-tiku pada agama-Mu).”5

12. Menjauhi celaan Allah
Di antara rahasia yang menjadikan seseorang melakukan riya’ adalah lari untuk menjauhi celaan manusia, tetapi apakah Anda benar lari dari celaan? Maka larilah dari celaan Allah, jika Anda berusaha agar orang lain senang kepada Anda dengan sesuatu yang menjadikan Allah marah, maka Allah akan marah dan membenci Anda, apakah Anda takut akan kemarahan manusia? Sebenarnya Allah lebih berhak Anda takuti, maka manakah di antara keduanya yang lebih Anda dahulukan, apakah mendahulukan rasa takut akan celaan manusia? Atau rasa takut akan celaan Allah? Dan hayatilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka apakah (Allah) Yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” [An-Nahl/16: 17]

Lalu pilihlah apa saja yang Anda kehendaki, sungguh seluruhnya ada di dalam perhitungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

13. Lebih cinta diingat oleh Allah daripada diingat oleh makhluk
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al-Baqarah/2: 152]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika dia mengingat-Ku, jika dia mengingat-Ku di dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku, jika dia menyebut Nama-Ku di hadapan khala-yak, maka Aku akan menyebut namanya di hadapan khalayak yang lebih baik (Malaikat) darinya, jika dia mendekati-Ku dengan satu jengkal, maka Aku mendekatinya dengan satu hasta, jika dia mendekati-Ku dengan satu hasta, maka Aku akan mendekatinya dengan satu depa dan jika dia menghadap-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan lari-lari kecil.’”6

Apakah Anda tidak senang jika Allah menyebut nama Anda di hadapan makhluk yang lebih utama dari semua makhluk yang hidup di atas bumi (Malaikat)? Dan apakah Anda lebih mengutamakan pujian manusia daripada pujian Allah, atau apakah Anda lebih mengutamakan manusia daripada para Malaikat?

14. Mengetahui segala sesuatu yang dapat mengusir syaitan
Sesungguhnya syaitan adalah sumber sikap riya’ dan kesyirikan, bahkan semua kejelekan adalah kegiatannya -hanya kepada Allah kita semua berlindung darinya- dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa syaitan hadir bersama kita dalam setiap kesempatan, bahkan mereka mengirimkan pasukannya.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 3625) dengan sanad yang shahih.
2  Shahiihul Jaami’ (no. 7871).
3  Shahiihul Jaami’ (no. 7872).
4  HR. Al-Bukhari.
5  Shahiihul Jaami’ (no. 4677).
6  Shahiihul Jaami’ (no. 7993) dengan sanad yang shahih.

Hal-Hal yang Dapat Mengusir Syaitan

HAL-HAL YANG DAPAT MENGUSIR SYAITHAN

1. Dia (syaitan) akan lari dari Anda jika Anda membaca (sebanyak seratus kali di dalam sehari):

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya-lah kerajaan dan bagi-Nya-lah segala puji dan Dia-lah Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah satu hadits yang terdapat dalam ash-Shahiihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.

Barangsiapa yang membaca, ‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia-lah Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” Dalam sehari sebanyak seratus kali, maka dia bagaikan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dituliskan baginya seratus kebajikan dan dihapuskan untuknya seratus kejelekan, dan baginya benteng dari syaitan pada hari itu sampai sore dan tidak ada seorang pun yang melakukan suatu amal lebih baik daripada hal itu kecuali orang yang melakukan hal tersebut lebih banyak darinya.

2. Membaca ayat Kursi menjelang tidur
Hal ini sebagaimana terdapat di dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah telah menugaskan-nya untuk menjaga harta zakat, lalu datang seseorang yang menumpahkan sebagian harta zakat, beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam, pada malam ketiga (setelah kedatangan orang tersebut) dia (Abu Hurairah) berkata, “Aku akan laporkan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” dan dia pun berkata, “Biarkan aku! karena aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat yang bermanfaat bagimu,” -para Sahabat terkenal dengan keinginan besar mereka terhadap kebaikan- dia berkata, “Jika engkau hendak tidur bacalah ayat Kursi dari awal sampai akhir, maka senantiasa bagimu seorang penjaga dari Allah, dan syaitan tidak dapat mendekatimu sampai pagi.” Pada pagi harinya (Abu Hurairah) memberitakan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, walaupun dia pembohong ketahuilah yang datang kepadamu adalah syaitan.” [HR. Al-Bukhari]

3. Jika dia bermimpi dengan sesuatu yang dibenci, maka dia harus meludah ke sebelah kiri seba-nyak tiga kali dan berlindung kepada Allah dari segala kejelekan yang ia lihat dalam mimpi

Abu Salamah bin ‘Abdirrahman berkata, “Aku mendengar Abu Qatadah bin Rab’i berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلرُّؤْيَا مِنَ اللهِ وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَان،ِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ إِذَا اسْتَيْقَظََ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ، قَالَ أَبُو سَلَمَةَ: إِنْ كُنْتُ َلأَرَى الرُّؤْيَا أَثْقَلَ عَلَيَّ مِنْ جَبَلٍ فَلَمَّا سَمِعْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ، فَمَا كُنْتُ أُبَالِيهَا.

Mimpi yang baik itu datangnya dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk datangnya dari syaitan, jika se-seorang dari kalian melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka meludahlah ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali ketika dia bangun, dan mohonlah perlindunganlah kepada Allah dari kejelekannya, karena sesungguhnya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya insya Allah.’ Abu Salamah berkata, “Sebelumnya aku merasakan sebuah mimpi yang lebih berat daripada gunung, lalu ketika aku mendengar hadits ini, aku sama sekali tidak memperdulikannya.”

Di dalam riwayat yang lain:

قَالَ: إِنْ كُنْتُ أَرَى الرُّؤْيَا تَهُمُّنِي حَتَّى سَمِعْتُ أَبَا قَتَادَةَ يَقُوْلُ: وَأَنَا كُنْتُ  َلأَرَى الرُّؤْيَا فَتَمْرَضَنِي حَتَّى سَمِعْتُ رَسُـوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اَلـرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللهِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ، وَإِنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ، وَلْيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ شَرِّمَا رَأَى فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ.

Beliau berkata, ‘Sebelumnya aku sangat gundah dengan mimpi tersebut sehingga aku mendengar Abu Qatadah berkata, ‘Sebelumnya aku merasakan sebuah mimpi yang menjadikanku sakit sehingga aku men-dengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mimpi yang baik datangnya dari Allah, jika seseorang melihat sesuatu yang disukainya di dalam mimpi, maka janganlah dia memberitahukannya kecuali kepada orang yang dicintainya, sedangkan jika dia melihat sesuatu yang dibencinya, maka janganlah ia membicarakannya, lalu meludah kecil-lah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terlaknat, dari kejelekan apa yang dilihat, karena sesungguhnya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya.’” [Muttafaq ‘alaihi].

4. Berdzikir kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar dari rumah dengan membaca:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.

Dengan menyebut Nama Allah, aku berserah diri (bertawakkal) kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya melainkan dari-Nya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، يُقَالُ لَهُ كُفِيْتَ وَوُقِيتَ وَهُدِيْتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ، فَيَقُوْلُ لِشَيْطَانٍ آخَرَ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ.

Barangsiapa yang membaca (yakni ketika keluar dari rumahnya), ‘Dengan menyebut Nama Allah, aku berserah diri (tawakkal) kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya melainkan dari-Nya.’ Maka akan dikatakan kepadanya, ‘Kebutuhanmu di-penuhi, engkau dijaga, diberikan petunjuk dan syaitan akan menjauh,’ satu syaitan akan berkata kepada yang lainnya, ‘Bagaimana kalian bisa (mencelakakan) seseorang yang telah diberi petunjuk, kebutuhannya dipenuhi dan telah dijaga?!’”1

5. Dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika masuk ke dalam rumah dan sebelum makan
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَـمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُـمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَ لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Jika salah seorang di antara kalian masuk ke dalam rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika makan, maka syaitan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘Tidak ada tempat penginapan dan makan malam bagi kalian, sedangkan jika dia masuk tanpa berdzikir ke-pada Allah ketika masuk, maka syaitan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘Kalian semua mendapatkan tempat penginapan,’ dan saat dia tidak berdzikir kepada Allah ketika makan, maka syaitan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘Kalian mendapatkan tempat penginapan dan makan malam.’” [HR. Muslim]

6. Ketika Anda masuk ke dalam masjid dengan membaca:

أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya Yang Mahamulia dan dengan kekuasaan-Nya yang qadim (‘azali) dari syaitan yang terlaknat.

Dalil untuk hal ini adalah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، قَالَ: فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ، قَالَ الشَّيْطَانُ: حُفِظَ مِنِّي سَائِرَ الْيَوْمِ

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya jika beliau masuk ke dalam masjid, maka beliau berdo’a, ‘Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya yang Mahamulia dan dengan kekuasaan-Nya yang qadim dari gangguan syaitan yang terlaknat.’ Beliau bersabda, ‘Jika dia mengucapkannya, maka syaitan berkata, ‘Dia telah dijaga dari gangguanku sepanjang hari.’”2

7. Ketika adzan dikumandangkan
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ اُذْكُرْ كَذَا اُذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى.

Jika adzan shalat dikumandangkan, syaitan lari dengan suara kentutnya sehingga dia tidak mendengar suara adzan, ketika adzan sudah selesai, maka dia akan kembali dan jika iqamat diucapkan, maka ia kembali lari jika iqamat sudah selesai, maka dia akan kembali dengan membisikkan sesuatu kepada seseorang. Dia berkata, ‘Ingatlah itu dan ini!!’ yaitu kepada sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, sehingga pada akhirnya seseorang tidak tahu berapa raka’at dia sudah melakukan shalat.”3 [Muttafaq ‘alaihi]

8. Ketika memohon perlindungan darinya
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushshilat/41: 36]

9. Ketika Anda membaca di dalam shalat

أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ.

Aku berlindung kepada Allah dari gangguanmu, aku melaknatmu dengan laknat Allah.”

Do’a ini dibaca sebanyak tiga kali, hal ini sebagaimana diterangkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk melakukan shalat, dan kami mendengar beliau membaca:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ

Aku berlindung dari gangguanmu kepada Allah.’

Lalu beliau membaca:

أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ

Aku melaknatmu dengan laknat Allah.’ (tiga kali)

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjulurkan tangannya seakan-akan dia memegang sesuatu, setelah selesai shalat, kami bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, kami mendengar engkau membaca sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya, dan kami melihatmu menjulurkan tangan,’ beliau berkata, ‘Sesungguhnya musuh Allah adalah iblis, dia datang kepadaku dengan membawa batu meteor dari api untuk melemparkannya ke wajahku, lalu aku membaca:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ

‘Aku berlindung dari gangguanmu kepada Allah.’ Sebanyak tiga kali, dan aku membaca:

أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ التَّامَّةِ

Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna.’

Sebanyak tiga kali, tetapi dia sama sekali tidak mundur, lalu aku hendak menangkapnya, demi Allah seandainya bukan karena do’a Nabi Sulaiman Alaihissallam, niscaya dia sudah terikat dan menjadi bahan mainan bagi anak-anak di Madinah.’” [HR. Muslim].

Dan di dalam hadits lain yang diriwayatkan dari ‘Utsman bin Abi al-‘Ash Radhiyallahu anu, beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلاَتِي وَقِرَاءَتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا، قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي.

Wahai Rasulullah! syaitan telah menghalangi antara diriku dengan shalat dan bacaanku sehingga dia mengacaukan bacaanku itu? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Itu adalah syaitan yang bernama Khinzib, jika engkau merasakannya, maka memohonlah perlindungan kepada Allah darinya dan meludah kecillah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali,’ lalu aku melakukannya, dan Allah menghilangkannya dariku.” [HR. Muslim].

10.Ketika seorang hamba menemukan sesuatu (keraguan) di dalam jiwanya, maka dia membaca:

هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Dia-lah Allah Yang awal dan (Allah telah ada sebelum segala sesuatu ada), Yang akhir (disaat segala sesuatu hancur, Allah masih tetap kekal), Yang zhahir (Dia-lah Yang nyata, sebab banyak bukti yang menyatakan adanya Allah), Yang bathin (tidak ada yang menghalangi-Nya. Allah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada mereka kepada diriya) Dia-lah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.”

Diriwayatkan dari Abi Zumail, aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, “Apakah sebenarnya yang aku temukan di dalam jiwaku ini?” -yang beliau maksud adalah keraguan- lalu beliau berkata, ‘Jika engkau menemukan sesuatu darinya maka bacalah…(dan seterusnya).’”4

11. Ketika engkau tertimpa musibah dengan mengatakan:

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Ini adalah ketentuan Allah, dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.”

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ: فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing dari keduanya memiliki kebaikan, maka lakukanlah apa yang bermanfaat bagimu, memohonlah kepada Allah dan janganlah bersikap lemah, jika sesuatu menimpamu janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini adalah ketentuan Allah, dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi,’ karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ bisa membuka perbuatan syaitan.” [HR. Muslim].

12. Ketika Anda hendak berjima’ ucapkanlah:

بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah jauh-kanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَي أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا.

Jika salah seorang di antara kalian mendatangi isterinya dan membaca, ‘Dengan menyebut Nama Allah, ‘Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.’ Jika ditakdirkan dari keduanya menghasilkan seorang anak, maka anaknya itu tidak akan dapat dicelakakan oleh syaitan selamanya.” [Muttafaq ‘alaih]

13. Ucapan (do’a) Anda ketika sedang marah:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي َلأََعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ.

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad, beliau berkata, “Aku pernah duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ada dua orang yang sedang saling mencela, yang satu wajahnya merah dan telah naik pitam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sungguh aku mengetahui satu kalimat, jika dia mengucapkannya, maka akan hilanglah apa yang dia temukan, seandainya dia mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk,’ niscaya akan hilanglah apa yang dia temukan.” [Muttafaq ‘alaihi]

14. Ketika Anda membaca: بِسْمِ اللهِ “Dengan menyebut Nama Allah.”
Diriwayatkan dari Abul Malih, dari seorang Sahabat, ia berkata:

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ، فَقَالَ: لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ، فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ: بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ: بِسْمِ اللهِ، فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ.

Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba kendaraan itu tergelincir, aku berkata, ‘Celakalah syaitan,’ kemudian Rasulullah berkata, ‘Janganlah engkau mengatakan, ‘Celakalah syaitan!’ Karena jika engkau mengatakan seperti itu, maka dia akan menjadi besar hingga sebesar rumah, dan dia berkata, ‘Dengan kekuatanku,’ akan tetapi ucapkanlah bismillaah, karena jika engkau mengatakan seperti itu, maka dia akan mengecil hingga sekecil lalat.’”5

15. Ketika Anda berdo’a dengan keberkahan untuk sesuatu yang mengagumkan Anda
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam satu hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُعْجِبُهُ فِي نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ، فَلْيُبَرِّكْ عَلَيْهِ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ.

Jika seseorang di antara kalian melihat sesuatu yang mengagumkan di dalam dirinya atau hartanya, maka berdo’alah dengan memohon keberkahan atasnya, karena ‘ain6 itu adalah benar.”7

16. Ketika Anda membaca al-Muawwadzatain
Diriwayatkan dari Abi Sa’id Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الْجَانِّ وَعَيْنِ اْلإِنْسَانِ حَتَّى نَزَلَتِ الْمُعَوِّذَتَان،ِ فَلَمَّا نَزَلَتَا أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَا سِوَاهُمَا.

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah dari gangguan jin dan ‘ain manusia sehingga turun-lah al-Muawwidzatain (al-Falaq dan an-Naas), lalu ketika keduanya turun, maka beliau mengambil keduanya dan meninggalkan yang lainnya.”8

17. Ketika sujud tilawah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ أُمِرَ بِالسُّجُودِ، فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ.

Jika seorang manusia membacakan ayat sajdah, lalu dia bersujud, maka syaitan akan mengisolirkan dirinya dengan menangis, dia berkata, ‘Celakalah diriku, dia diperintahkan bersujud, lalu dia bersujud, maka dia mendapatkan Surga, sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud, lalu aku tidak bersujud, maka aku mendapatkan Neraka.’”9

18. Ketika Anda membaca surat al-Baqarah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyalalhu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian bagaikan kuburan10, sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.” [HR. Muslim].

19. Ketika membaca al-Qur-an

خَرَجَ رَسُوْلُ الله لَيْلَةً فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ رضي الله عنه يُصَلِّي يَخْفِضُ مِنْ صَوْتِهِ، قَالَ: وَمَرَّ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَهُوَ يُصَلِّي رَافِعًا صَوْتَهُ قَالَ: فَلَمَّا اجْتَمَعَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّي تَخْفِضُ صَوْتَكَ. قَالَ: قَدْ أَسْمَعْتُ مَنْ نَاجَيْتُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: وَقَالَ: لِعُمَرَ مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّي رَافِعًا صَوْتَكَ. قَالَ: فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أُوقِظُ الْوَسْنَانَ وَأَطْرُدُ الشَّيْطَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ اِرْفَعْ مِنْ صَوْتِكَ شَيْئًا وَقَالَ: لِعُمَرَ اخْفِضْ مِنْ صَوْتِكَ شَيْئًا

Pada suatu malam Rasulullah keluar, lalu beliau mendapati Abu Bakar Radhiyallahu anhu sedang melakukan sha-lat dengan suara yang pelan, (Abu Qatadah) berkata, ‘Dan melalui ‘Umar bin al-Khaththab yang sedang melakukan shalat dengan suara yang keras,’ (Abu Qatadah) berkata, ‘Ketika keduanya berkumpul bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, ‘Wahai Abu Bakar aku melewatimu sedang melakukan shalat dengan suara yang pelan,’ Abu Bakar berkata, ’Aku sedang bermunajat kepada Dzat yang aku bermunajat kepada-Nya wahai Rasulullah!’ Dan beliau berkata kepada ‘Umar, ‘Aku melewatimu sedang melakukan shalat dengan suara yang keras,’ ‘Umar berkata, ‘Ya Rasulullah! Aku sedang menghilangkan rasa kantuk dan mengusir syaitan,’ lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai Abu Bakar! Keraskan sedikit suaramu,’ dan beliau berkata kepada ‘Umar, ‘Pelankan suaramu sedikit!’”11

20. Ketika menggerakkan telunjuk di dalam shalat
Telah tetap di dalam satu hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan jari telunjuknya di dalam shalat sambil berdo’a,12 beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيدِ.

Sungguh ia lebih dahsyat menghantam syaitan daripada besi.”13

Maksudnya adalah jari telunjuk.

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, “Apakah sese-orang yang melakukan shalat harus berisyarat dengan jari telunjuknya?” Beliau menjawab, “Tentu saja.”14

21. Pada waktu dan keadaan mustajab
Perincian mengenai hal ini diungkapkan di dalam kitab saya tentang do’a, untuk lebih jelas silahkan baca buku tersebut.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiih al-Kaliimuth Thayyib (no. 45).
2  HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh guru kami al-Alba-ni sebagaimana terdapat dalam kitabnya Shahiih Abi Dawud (no. 485), dihasankan oleh an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
3  Mengumandangkan adzan disyari’atkan pada setiap waktu untuk mengusir syaitan, walaupun bukan pada waktu shalat, hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Suhail bin Abi Shalih, beliau berkata, “Bapakku mengu-tusku menuju Bani Haritsah, pada waktu itu aku bersama seorang Sahabat, lalu seseorang dari sebuah kebun berseru dengan namanya, lalu teman yang bersamaku melihat di kebun tersebut tetapi dia sama sekali tidak melihat sesuatu, setelah itu aku menceritakannya kepada bapakku, dia berkata, ‘Seandainya aku tahu bahwa engkau akan menjumpai hal seperti ini, maka aku sama sekali tidak akan mengutusmu, akan tetapi jika engkau mendengarkan suatu suara, maka kumandangkanlah adzan, karena aku pernah mendengar Abu Hurairah menyampaikan satu hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda, ‘Sesungguhnya syaitan, jika adzan dikumandangkan, maka dia akan kabur.’’”
4  HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh guru kami al-Albani di dalam kitab al-Kaliimuth Thayyib (no. 1345).
5  HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih, an-Nasa-i dalam kitab al-Yaum wal Lailah, Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, Imam Ahmad, dan ditakhrij oleh guru kami al-Albani dalam kitab al-Kaliimuth Thayyib (no. 237).
6  Al-‘Ain: akibat buruk yang ditimbulkan dari pandangan seorang yang dengki
7  Al-Kaliimut Thayyib, hal. 124 (no. 243).
8  HR. At-Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits hasan,” diriwaatkan pula oleh an-Nasa-i dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih.
9  HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah.
10  Ada dua makna yang terkandung dalam hadits ini:
Pertama: Tidak boleh seseorang menguburkan jenazah di-rumah dan pekarangannya.
Kedua: Tidak boleh menjadikan rumah sepi dari aktivitas ibadah seperti halnya lingkungan kuburan.-ed.
11  HR. Abu Dawud dan al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
12  HR. Abu Dawud, an-Nasa-i, Ibnul Jarud di dalam kitab al-Muntaqa dan yang lainnya, hadits ini tertera pula di dalam kitab Shifatush Shalaah, hal. 169 karya guru kami al-Albani.
13  HR. Ahmad dan yang lainnya, di dalam kitab Shifatush Shalaah, hal. 171.
14  Diungkapkan oleh Ibnu Hani di dalam kitab Masaa-il Imam Ahmad.

Buah yang Dihasilkan dari Sikap Ikhlas Kepada Allah

 BUAH YANG DIHASILKAN DARI SIKAP IKHLAS KEPADA ALLAH

1. Kemenangan umat
Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَإِخْلاَصِهِمْ

Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang lemah dari kalangan mereka, dengan do’a-do’a mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka.”1

2. Selamat dari adzab di akhirat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang bersikap ikhlas:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا﴿٨﴾إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴿٩﴾إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا﴿١٠﴾فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا﴿١١﴾وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

 “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang di-tawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepa-damu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) Surga dan (pakaian) sutera.” [Al-Insaan/76: 8-12]

3. Kedudukan yang tinggi di akhirat
Ayat dan hadits yang menjelaskan hal ini banyak sekali, di antaranya adalah ayat yang menceritakan tentang orang-orang yang baik di dalam surat al-Insaan:

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا﴿١١﴾وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا﴿١٢﴾مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۖ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا﴿١٣﴾وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا﴿١٤﴾وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا﴿١٥﴾قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا﴿١٦﴾وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا﴿١٧﴾عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا﴿١٨﴾وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) Surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kacakaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam Surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air Surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.” [Al-Insaan/76: 11-19]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْر،ِ وَالَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُولُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ وَلاَ يَتْفُلُونَ أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمُ اْلأَلُوَّةُ -عُوْدَ الطِّيْبِ- وَأَزْوَاجُهُمُ الْحُورُ الْعِينُ، عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ

Kelompok pertama yang masuk Surga adalah dengan seindah bulan purnama, dan yang setelahnya seindah bintang yang paling terang cahayanya di atas langit, mereka semua tidak akan buang air kecil, tidak akan buang air besar, tidak akan beringus, dan tidak akan meludah, sisir-sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka adalah minyak kasturi dan minyak wangi mereka adalah aluwwah -sebatang kayu wangi- sedang isteri-isteri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu bentuk dengan paras bapak mereka, Adam dengan tinggi enam puluh hasta menjulang ke langit.” [Muttafaq ‘alaihi]

4. Diselamatkan dari kesesatan di dunia
Salah satu contoh mengenai hal ini adalah kisah Nabi Yusuf Alaihissallam, sebagaimana telah dijelaskan.

5. Sebab ditambahkan petunjuk
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“…Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambah-kan kepada mereka petunjuk.” [Al-Kahfi/18: 13]

6. Penghuni langit mencintai orang yang ikhlas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ: ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ.

Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan berseru kepada Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia,” kemudian Jibril pun mencintainya dan berseru kepada penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia,” kemudian semua peng-huni langit mencintainya, lalu ditetapkan baginya keridhaan penduduk bumi kepadanya.” [Muttafaq ‘alaihi].

7. Ditetapkan baginya penerimaan (keridhaan) manusia terhadapnya di muka bumi
Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits sebelumnya.

8. Nama baik baginya di hadapan manusia
Sebagaimana yang diungkapkan di dalam hadits terdahulu dan sebagaimana yang diungkapkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ عَبْدٍ إِلاَّ وَلَهُ صَيْتٌ فِي السَّمَاء، فَإِنْ كَانَ صَيْتُهُ فِي السَّمَاءِ حَسَنًا وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ. وَإِنْ كَانَ صَيْتُهُ فِي السَّمَاءِ سَيِّئًا وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ

Tidak seorang hamba pun kecuali baginya sebuah reputasi (nama baik) di langit, jika reputasinya di langit itu baik, maka hal itu akan di tetapkan di bumi, dan jika reputasi di langitnya jelek, maka hal tersebut akan di tetapkan pula di bumi.”2

Dikeluarkan dari segala kegalauan (kesulitan) di dunia

Salah satu dalil mengenai hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua.

10. Ketenangan dan kebahagiaan hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati (berdzikir kepada) Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra’d/13: 28]

11.Keindahan iman di dalam jiwa dan kebencian akan perbuatan kefasikan juga kemaksiatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [Al-Hujuraat/49: 7]

Telah dijelaskan di muka bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan kebencian kepada Yusuf Alaihissallam akan perbuatan zina, kefasikan dan kemaksiatan, dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan kecintaan di dalam dirinya kepada keimanan, sehingga dia lebih memilih penjara daripada memenuhi hawa nafsunya dengan sesuatu yang diharamkan.

12. Pertolongan dari Allah untuk bersahabat dengan orang-orang yang ikhlas
Persahabatan yang terjalin antara para Sahabat Radhiyallahu anhum dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan persahabatan di antara mereka adalah dalil yang paling jelas akan hal ini.

13, Sanggup menghadapi berbagai kesulitan di dunia sebesar apa pun kesulitan tersebut
Di antaranya adalah ketegaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketegaran para Sahabat semuanya, sejarah mereka penuh dengan contoh-contoh di dalam masalah ini.

14. Akhir kehidupan yang baik
Di antara dalilnya adalah kisah seseorang yang telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan jiwa, lalu dia hendak bertaubat, karena ketulusan hatinya kepada Allah di dalam bertaubat, akhirnya dia meninggal dunia dengan hati yang menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

15. Do’a yang dikabulkan
Di antara dalilnya adalah kisah terdahulu tentang seorang pemuda yang beriman dan kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua, permasalahan ini sangatlah luas pembahasannya.

16. Kenikmatan di dalam kubur dan kabar gembira bagi dirinya dengan berbagai kesenangan
Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu anhu di dalam bab: Mengobati Penyakit Riya’ dan Ber-lepas Diri Darinya. Bagaimana amal shalih dapat men-jelma menjadi seseorang yang berparas indah dengan memakai pakaian yang indah dan harum semerbak, dia berkata, “Aku adalah amalmu yang shalih,” dan ketika memberikan kabar gembira, dia berkata, “Aku membawa kabar gembira dengan sesuatu yang dapat memberikan kesenangan bagimu.”3

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
_______
Footnote
1  Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib, jilid no. 1.
2  HR. Al-Bazzar dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam Shahiihul Jaami’ (no. 5608).
3  Lihat kitab saya al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu (Siksa dan Nikmat Kubur)

Akibat Buruk yang Disebabkan oleh Riya’

 AKIBAT BURUK YANG DISEBABKAN OLEH RIYA’

1. Kehancuran umat
Sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa keikhlasan adalah di antara sebab kemenangan umat ini, akhirnya jika tidak ada kemenangan, maka kehancuranlah yang akan timbul.

2. Siksa di akhirat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ﴿٤﴾الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴿٥﴾الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. [Al-Maa’uun: 4-6]

Telah dijelaskan sebelumnya hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tiga orang yang disiksa, yaitu seorang alim, seorang pembaca al-Qur-an dan seseorang yang mati di medan perang, di dalam hadits tersebut dijelaskan bagaimana mereka semua dicampakkan ke dalam Neraka karena sikap riya’ yang mereka lakukan.

3. Kesesatan yang selalu bertambah di dunia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah/2: 10]

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Penduduk Kufah mengadukan Sa’ad, yakni Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu anhu kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dan akhirnya beliau menjadikan ‘Ammar sebagai penggantinya. Mereka mengadukan sehingga menyebutkan bahwa beliau tidak bisa melakukan shalat dengan baik, kemudian ‘Umar mengirim seorang utusan, dia berkata, ‘Wahai Abu Ishaq mereka semua mengadu tentang dirimu, bahwa engkau tidak bisa melakukan shalat dengan baik.’ Lalu beliau berkata, ‘Demi Allah, aku melakukan shalat sebagaimana Rasulullah melakukannya dengan tidak menguranginya sedikit pun, aku melakukan shalat ‘Isya dengan memanjangkan dua raka’at pertama dan meringankan dua raka’at terakhir.’ ‘Umar berkata, ‘Itu hanya prasangka kamu saja, wahai Abu Ishaq.’ Akhirnya beliau mengirim seorang utusan (atau beberapa utusan ke Kufah) untuk bertanya kepada penduduk Kufah, sang utusan tidaklah melewatkan satu masjid pun di sana kecuali menanyakannya, sedangkan mereka selalu saja memujinya sehingga masuklah sang utusan ke Masjid Bani ‘Absin, seseorang dari mereka, yang bernama Usamah bin Qatadah dengan kunyah Abu Sa’dah berdiri dan berkata, ‘Jika Anda menuntut kami untuk berbicara, maka sesungguhnya Sa’ad sama sekali tidak bisa berjalan dengan pasukan, tidak bisa membagikan bagian dengan adil dan tidak bisa adil di dalam memutuskan sesuatu.’ Sa’ad berkata, ‘Sungguh demi Allah, Aku akan mendo’akannya dengan tiga hal; Ya Allah! Seandainya hambamu ini bohong, berdiri karena riya’ dan karena ingin didengar orang lain, maka panjangkanlah umurnya, dan langgengkanlah kefakiran dan segala fitnah kepadanya.’ Setelah itu jika orang tersebut ditanya, maka dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, do’a Sa’ad telah menimpaku.’” ‘Abdul Malik bin ‘Umar, seorang perawi dari Jabir bin Samurah berkata, “Setelah itu aku lihat dua bulu alisnya sudah jatuh ke mata karena tua, dan sesungguhnya jika dia bertemu dengan para gadis, dia suka menggodanya dengan kedipan mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

4. Penghuni langit membenci orang yang bersikap riya’
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ: ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي اْلأَرْضِ

Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan berseru kepada Jibril, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia,’ kemudian Jibril pun mencintainya dan berseru kepada penghuni langit dengan berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia,’ kemudian semua penghuni langit pun mencintainya, lalu ditetap-kan baginya keridhaan manusia di muka bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, maka Dia akan berseru kepada Jibril, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah ia,’ lalu Jibril pun membencinya, dan berseru kepada penghuni langit dengan berkata, ‘Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah ia, kemudian ditetapkanlah baginya kebencian (manusia terhadapnya) di bumi.’” [HR. Muslim]

5. Kebencian penghuni bumi
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits terdahulu.

6. Kegoncangan hati dan kesengsaraan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”. [Thaaha/: 124]

7. Ancaman dengan Su-ul Khatimah (kesudahan hidup yang jelek)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada se-bagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah me-ngetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawan-nya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau di-timpa adzab yang pedih.” [An-Nuur/24: 63]

8. Keburukan orang yang berbuat riya’ akan ditampakkan di hadapan semua makhluk
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْمُ فِي الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَ رِيَاءٍ، إِلاَّ سَمَّعَ اللهُ بِهِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَ ئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Tidak seorang hamba pun yang melakukan (sebuah amal) di dunia  karena ingin didengar dan dilihat oleh orang lain, kecuali Allah akan memperdengarkan keburukannya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat.”1

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiih at-Targhiib, jilid pertama.

Yang Dianggap Sebagai Perbuatan Ikhlas Akan Tetapi Tidaklah Demikian

YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN IKHLAS AKAN TETAPI TIDAKLAH DEMIKIAN

  1. Terkadang keikhlasan bercampur dengan sesuatu keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang, ini sama sekali bukan kesempurnaan ikhlas kepada Allah.1
  2. Terkadang seseorang membenci riya’, akan tetapi ketika dia ingat akan amal perbuatannya dan memujinya, dia sama sekali tidak melawan sikap tersebut dengan kebencian, akan tetapi dia merasa senang dan merasakan bahwa itu adalah salah satu kesenangan untuknya sebagai balasan atas kepayahannya di dalam beribadah, ini adalah salah satu macam dari macam-macam syirik khafi (syirik yang tidak nampak).
  3. Terkadang seseorang melakukan riya tidak dengan menampakkan ibadahnya dengan ucapan, baik secara sendirian maupun terang-terangan, akan tetapi dengan tanda-tanda, seperti menampakkan kelesuan, muka pucat, suara yang dilemahkan, bekas air mata dan banyak mengantuk sebagai akibat dari banyaknya shalat malam.
  4. Terkadang seorang hamba selalu melakukan ibadah dengan bersembunyi karena tidak ingin dilihat oleh orang lain, akan tetapi dia ingin jika orang me-mulai salam untuknya, menebarkan senyum dan penghormatan kepadanya, membantu segala kebutuhannya, dan bertoleransi kepadanya di dalam tingkah laku, dan memberikan tempat di dalam majelis, jika ada seorang saja yang lalai akan hal itu, maka jiwanya akan merasakan berat, seakan-akan ibadah yang dia lakukan secara tersembunyi menuntut penghormatan untuknya.
  5. Terkadang seseorang merasa berat untuk melakukan Tahajjud setiap malam, tetapi ketika datang kepadanya seorang tamu, maka dia akan merasakan ringan dan mudah untuk melakukannya.2
  6. Merasa bangga dengan diri sendiri dan merasakan keikhlasan di dalam diri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُوْنَ، لَخُفَّتْ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ، الْعُجْبُ، الْعُجْبُ

Seandainya kalian tidak melakukan dosa, maka akan terasa ringan oleh kalian sesuatu yang sebenarnya lebih berat darinya, (ia adalah) membanggakan diri, membanggakan diri.”3

Ingatlah selalu satu perkataan yang sangat indah:

مَنْ شَاهَدَ فِي إِخْلاَصِهِ اْلإِخْلاَصَ فَقَدِ احْتَاجَ إِخْلاَ صُهُ إِلَى اْلإِخْلاَصِ.

Barangsiapa yang menyaksikan keikhlasannya di dalam keikhlasan amalnya, maka keikhlasannya tersebut sungguh membutuhkan keikhlasan.”

  1. Terkadang seseorang datang kepada suatu undangan, karena pengetahuannya bahwa makanan di tempat tersebut akan lebih baik daripada makanan di rumahnya, artinya yang mendorong dirinya untuk mendatangi undangan tersebut adalah kesenangan akan makan dan bukan karena melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memenuhi undangan.
  2. Terkadang seseorang datang untuk berkunjung kepada sebagian teman yang dia cintai karena Allah, tetapi sayangnya kunjungan tersebut didorong dengan keinginan untuk menikmati makanan dan minuman yang akan disuguhkan kepadanya.
  3. Terkadang seseorang menyuguhkan makanan kepada seseorang karena dia mengundangnya sebelum itu, yang dia suguhkan adalah makanan atau minuman sesuai dengan yang ia dapatkan dari temannya itu atau lebih sedikit, atau terkadang seseorang memberikan hadiah kepada yang lainnya sesuai dengan hadiah yang ia dapatkan dari temannya atau lebih sedikit. (Semuanya tidak disajikan dengan ketulusan, akan tetapi karena sesuatu yang ia dapatkan darinya-pent)4

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Lima point pertama diambil dari kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin dengan sedikit perubahan.
2  Ini berbeda dengan sekelompok orang yang rajin melakukan ibadah karena adanya pengaruh keimanan di dalam berjama’ah, dan pengaruh berjama’ah yang dapat mengusir rasa malas, lemah dan hawa nafsu. Dari nomor satu sampai lima dikutip dari kitab Minhaajul Qaashidiin dengan sedikit perubahan dan ringkasan.
3  Shahiihul Jaami’ (no. 5179) dengan sanad yang hasan.
4  Adapun seseorang yang memberikan hadiah kepada yang lainnya karena perbuatannya yang dilakukan kepadanya sebelumnya, maka sikap ini termasuk di dalam sabda Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ.

Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia sama sekali tidak berterima kasih (bersyukur) kepada Allah.

Maka sesungguhnya perbuatan ini sama sekali tidak bertentangan dengan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits ini shahih. HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dalam Musnadnya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahiihul Jaami’ (no. 6417).

Hadits di Dalam Kitab At-Targhiib wat Tarhiib yang Membahas Ikhlas dan Perhatian Atas Sikap Riya’

HADITS DI DALAM KITAB AT-TARGHIIB WAT TARHIIB1 YANG MEMBAHAS IKHLAS DAN PERHATIAN ATAS SIKAP RIYA2

  1. Diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada haji Wada’ beliau bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بفَقِيهٍ، ثَلاَثٌ لاَ يُغَلُّ عَلَيْهِنَّ، قَلْبُ امْرِئٍ مُؤْمِنٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ ِللهِ، وَالْمُنَا صَحَةُ  ِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ دُعَاءَهُمْ يُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Semoga Allah memberikan cahaya3 di wajah seseorang yang mendengarkan ucapanku lalu ia menjaganya (memahaminya), karena banyak sekali orang yang menghafal ilmu tetapi dia sama sekali tidak memahaminya, ada tiga hal yang menjaga seorang mukmin dari sifat khianat 4: ikhlas dalam beramal karena Allah, menasihati para pemimpin umat Islam dan selalu menyertai jama’ah, karena do’a-do’a mereka selalu menjaga mereka dari belakang.”

  1. Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad dari bapaknya Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya beliau menyangka bahwa dirinya mendapatkan harta rampasan yang lebih dari para Sahabat yang lainnya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَإِخْلاَصِهِمْ.

Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini hanya dengan orang-orang lemah dari kalangan mereka, dengan do’a-do’a mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka.”

  1. Diriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ مَا ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللهِ.

Dunia itu terlaknat, semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.”

  1. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَشِّرْ هَذِهِ اْلأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالدِّيْنِ وَالرِّفْعَةِ وَالتَّمْكِينِ فِي اْلأَرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ اْلآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ.

Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, agama, keluhuran, kemenangan dan kedudukan di muka bumi, lalu barangsiapa yang melakukan amal akhirat dengan tujuan dunia, maka tidak ada baginya satu bagian pun dari (kebahagiaan) di akhirat.

  1. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللهُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ.

Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada orang lain, maka Allah akan memperdengarkan semua (keburukannya) di hadapan semua makhluk, Dia juga akan menghinakannya dan merendahkannya.’”

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْمُ فِي الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَ رِيَاءٍ، إِلاَّ سَمَّعَ اللهُ بِهِ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَ ئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Tidak seorang hamba pun yang melakukan (satu amal) di dunia karena ingin didengar dan dilihat oleh orang lain, kecuali Allah akan memperdengarkan keburukannya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat.

  1. Diriwayatkan dari Rubaih bin ‘Abdirrahman bin Abi Sa’id al-Khudri dari bapaknya dari kakeknya Radhiyallahu anhum, beliau berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُـمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ الله فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, adapun kami sedang berbicara tentang al-Masihud Dajjal, lalu beliau berkata, ‘Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang lebih aku takuti terhadap kalian daripada fitnah al-Masihud Dajjal?’ Kami semua menjawab, ‘Tentu saja,’ lalu beliau bersabda, ‘Ia adalah syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang melakukan shalat, lalu dia memperindah shalatnya karena ada orang lain melihatnya.’”

  1. Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ، فَقَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ! وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: يَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ.

“Rasulullah keluar dan berkata: ‘Wahai Manusia! Berhati-hatilah kalian terhadap syirik yang tersembunyi,’ mereka semua bertanya, ‘Wahai Rasulullah apakah syirik yang tersembunyi itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Seseorang yang melakukan shalat, lalu memperindah shalat yang dilakukannya karena ada orang lain yang melihatnya, itulah syirik yang tersembunyi.’”

  1. Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid Radhiyallahu anhu pula, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّى لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَي النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: اِذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟

Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil,” para Sahabat bertanya, ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah riya’,’ Allah Azza wa Jalla berkata kepada mereka pada hari Kiamat ketika semua manusia dibalas atas amal perbuatannya, “Pergilah kalian kepada orang-orang di mana kalian semua melakukan amal karena mereka, apakah kalian menemukan balasan dari mereka?”

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللهُ اْلأَوَّلِيْنَ واْلآخِرِيْنَ لِيَوْمِ اْلقِيَامَةِ، لِيَوْمٍ لاَ رَيْبَ فِيْهِ، نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلِِهِ ِللهِ أَحَدًا فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِهِ، فَإِنَّ اللهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ

Jika Allah mengumpulkan orang terdahulu dan yang terakhir pada hari Kiamat, yaitu hari yang tidak diragukan lagi kebenarannya, berserulah seorang penyeru dengan berkata, ‘Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya di dalam amal yang seharusnya diperuntukkan kepada Allah, maka carilah pahala amalnya itu kepada sekutunya tersebut, karena sesungguhnya Allah sama sekali tidak membutuhkan sekutu.’

  1. Diriwayatkan dari Abu ‘Ali –seseorang dari Bani Kahil– dia berkata, “Abu Musa al-Asy’ari berkhutbah di hadapan kami dengan berkata, ‘Wahai manusia jagalah diri kalian dari syirik ini, karena ia lebih lembut daripada langkahnya semut,’ lalu ‘Abdullah bin Hazn dan Qais bin al-Mudharib menghadap kepadanya, mereka berdua berkata, ‘Demi Allah, engkau akan keluar karena apa yang engkau katakan, atau kami akan datang kepada ‘Umar dengan seizinnya maupun tidak,’ lalu beliau berkata, ‘Bahkan aku akan keluar karena apa yang aku katakan, pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, ‘Wahai manusia jagalah diri kalian dari perbuatan syirik, karena ia lebih tersembunyi dari langkahnya semut,’ lalu beliau mengatakan sesuatu, seseorang bertanya, ‘Bagaimana kita dapat menjaga diri kita dari-nya sedangkan ia lebih lembut dari langkahnya semut wahai Rasulullah?’ Rasul bersabda, ‘Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ.

Ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik kepada-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan dari-Mu terhadap yang tidak kami ketahui.’

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
_____
Footnote
1  Kitab at-Targhiib wa at-Tarhiib adalah sebuah karya al-Mundziri rahimahullah, kitab ini terdiri dari empat jilid, dan guru kami al-Albani rahimahullah telah mentahqiq hadits-haditsnya dengan mem-baginya menjadi dua bagian, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib dan Dha-iifut Targhiib wa Tarhiib.
2  Semua hadits ini dinukil dari jilid yang pertama, yaitu at-Targhiib fil Ikhlaash wash Shadaqah wan Niyyaatush Shaalihah, begitupula at-Tarhiib minar Riyaa’.
3  Dijelaskan di dalam kitab an-Nihaayah, makna kalimat tersebut adalah memberikan nikmat, makna asalnya adalah paras yang elok, sedangkan yang dimaksud dari ungkapan di sini adalah akhlak dan rizkinya yang baik.
4  Maknanya adalah orang tersebut tidak akan dimasuki oleh sifat iri dan dengki yang menjadikan dirinya keluar dari kebenaran.

Kata-Kata Mutiara Tentang Keikhlasan

KATA-KATA MUTIARA TENTANG KEIKHLASAN

  1. Jika syaitan datang kepadamu dan engkau sedang melakukan shalat, maka dia akan berkata, “Engkau sedang dilihat oleh orang lain, maka pan-jangkanlah shalatmu.”
  2. Seseorang bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku satu perbuatan yang menjadikan aku selalu beramal karena Allah!” Lalu dikatakan kepadanya, “Niatkanlah kebaikan, karena engkau akan selalu beramal walaupun sebenarnya engkau tidak melakukan apa-apa, karena niat akan selalu beramal walaupun amal tersebut tidak ada.”
  3. Aku ingin jika niat selalu menyertaiku di dalam segala hal, bahkan di dalam makan, minum, dan tidur.
  4. Seorang mukhlis adalah orang yang menutupi kebaikannya sebagaimana dia menutupi kejelekannya.
  5. Ikhlaskanlah niat dalam amal perbuatan Anda, niscaya Anda akan merasa cukup dengan amal yang sedikit.
  6. Menjadikan niat ikhlas untuk Allah lebih berat daripada amal itu sendiri.
  7. Ikhlas dapat membedakan suatu amal dari aib bagaikan susu yang dapat memisahkan dirinya dari kotoran dan darah.
  8. Allah menginginkan dari amal makhluk-Nya adalah keikhlasannya.
  9. Barangsiapa yang menyaksikan keikhlasan di dalam keikhlasan amalnya, maka keikhlasan tersebut sungguh membutuhkan keikhlasan.
  10. Ikhlas itu adalah lupa akan pandangan manusia dan selalu tertumpu kepada pandangan Sang Pencipta saja.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]